Pendekar Riang Jilid 20

 
Jilid 20

SANG SURYA lambat laun makin meninggi dan meninggalkan bayangan tubuh yang memanjang di atas tanah.

Punggungnya tampak sedikit membungkuk, seolah-olah di atas pundaknya telah diberi beban yang berat sekali.

Kwik Tay-lok serta Yan Jit belum pernah menyaksikan keadaannya semacam itu, mendadak merekapun merasakan hati sendiri turut menjadi berat dan gundah.

Entah berapa lama sudah lewat, mendadak mereka mendengar suara langkah kaki yang sangat ringan berkumandang datang ketika mendongakkan kepala, tampak Ang Nio-cu sudah berdiri tepat di hadapan mereka.

Sambil tertawa paksa Kwik Tay-lok segera berkata:

"Duduk, duduk, silahkan duduk!"

Ang Nio-cu segera duduk, diangkatnya cawan teh yang diberikan kepada Ong Tiong tadi dan meneguknya setegukan, kemudian pelan-pelan meletakkannya kembali ke meja, setelah itu, ujarnya:

"Apa yang barusan kalian bicarakan, telah kudengar semua dengan sejelas-jelasnya." "Oooh. "
Kecuali berkata "Oooh" Kwik Tay-lok tak tahu apa yang harus dibicarakan lagi....

Dengan suara pelan kembali Ang Nio cu.

"Aku merasa berterima kasih sekali atas kebaikan kalian terhadap diriku, akan tetapi. "

Kwik Tay lok dan Yan Jit sedang menunggu dia berkata lebih lanjut: Lewat lama sekali, Ang Nio-cu baru melanjutkan:
"Tapi hubunganku dengannya, tak nanti akan kalian pahami."
Baik Kwik Tay-lok maupun Yan Jit, kedua-duanya tidak menunjukkan pendapat apa-apa. Tentu saja mereka tak bisa mengatakan kalau dirinya mengetahui jelas urusan orang lain,
siapapun tak akan berkata demikian.

Ang Nio-cu menundukkan kepalanya, kemudian meneruskan:

"Dulu, sebenarnya.... sebenarnya kami sangat baik sekali, yaa sangat baik sekali. "
Suaranya kedengaran agak sesenggukan, setelah menghembuskan napas panjang, lanjutnya: "Kali ini aku tetap tinggal di sini, seperti juga apa yang kalian katakan, aku berharap dia bisa
berubah pikiran dan melangsungkan penghidupan seperti dulu lagi."

"Benarkah kau sangat merindukan kembalinya penghidupan seperti sedia kala?" tak tahan Kwik Tay lok bertanya.
 
Ang Nio cu mengangguk, jawabnya dengan sedih:

"Tapi sekarang aku baru tahu, kejadian yang sudah lewat telah lewat, seperti masa remaja seseorang, setelah pergi dia tak akan kembali lagi untuk selamanya."

Berbicara sampai di situ, tak tahan air matanya seperti hendak meleleh keluar.

Tiba-tiba Kwik Tay-lokpun merasakan hatinya menjadi kecut bercampur sedih, dia seperti hendak berbicara tak tahu apa yang musti diucapkan. Ditatapnya wajah Yan Jit, ia saksikan mata Yan Jit pun sudah berubah menjadi merah.

Dulu, walaupun Ang Nio-cu pernah mencelakai mereka, menyergap mereka, tapi sekarang mereka telah melupakannya, mereka hanya tahu bahwa Ang Nio-cu adalah seorang perempuan bernasib malang yang selalu ingin berjalan kembali ke jalan yang benar.
Dalam hati mereka hanya ada perasaan simpatik, tiada perasaan dendam ataupun sakit hati. Tiada orang lain yang begitu gampang melupakan dendam sakit hati orang lain seperti Kwik
Tay-lok sekalian.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Ang Nio-cu berhasil juga menahan lelehan air matanya, dengan suara pelan dia berkata:

"Tapi seandainya kalian menganggap dia berhati keras seperti baja, maka anggapan kalian itu keliru besar. Semakin kasar dia bersikap begitu kepadaku, hal ini berarti pula dia tak bisa melupakan perasaan kita dimasa lalu."

Tiba-tiba Yan Jit mengangguk. "Aku mengerti !" katanya.
Dia benar-benar mengerti. Hubungan antara manusia dengan manusia kadangkala memang begitu sensitip.

Semakin mendalam umat manusia saling mencelakai, kadang kala cinta kasih yang tertanam dihati mereka justru makin mendalam.

Dengan suara lembut Ang Nio-cu berkata lebih lanjut:

"Bila dia bersikap baik, bersikap sungkan kepadaku justru hatiku malah merasa sedih sekali." "Aku mengerti !" kata Yan Jit dengan lembut.
"Justru karena dahulu ia terlalu baik kepadaku, terlalu bersungguh hati, maka dia baru merasa amat sakit hati karena menganggap aku sudah membuatnya sangat menderita, itulah sebabnya dia merasa begitu mendendamnya kepadaku."

"Mana mungkin dia bisa membencimu ?" Ang Nio-cu tertawa sedih, ujarnya:
"Semakin besar bencinya kepadaku, aku malahan semakin gembira, sebab andaikata dulu ia tidak sungguh-sungguh baik kepadaku ?"

Akhirnya Kwik Tay-lok manggut-manggut.
 
"Aku mengerti" katanya.

"Seperti misalnya kau mengorek muka seseorang dengan pisau, semakin dalam kau menggoresnya muka codet yang membekas di atas wajah pasti semakin dalam pula bahkan mungkin tak akan pulih kembali seperti sedia kala."



Setelah berhenti sebentar dengan sedih dia melanjutkan:

"Bekas pisau yang berada dihati seseorang pun sama saja, oleh karena itu aku tahu bahwa hubungan kami selamanya tak bisa pulih kembali seperti sedia kala, semakin secara dipaksakan kami dapat berkumpul kembali, dalam hati masing-masing pasti terdapat selapis penyekat yang memisahkan kami berdua."

"Tapi. paling tidak kalian toh masih bisa menjadi teman."

"Teman. ?"

Suara tertawanya makin mengenaskan, lanjutnya:

"Siapapun itu orangnya, asal terdiri dari dua orang maka mereka kemungkinan besar dapat berteman, tapi bila dulunya mereka pernah saling mencinta, maka jangan harap mereka dapat menjadi teman lagi. Bukankah begitu?"

Terpaksa Kwik Tay-lok hanya mengakuinya. Mendadak Ang Nio-cu bangkit berdiri, lalu katanya lagi:
"Tapi bagaimanapun juga, kalian adalah teman-temanku, selama hidup aku tak akan melupakan kalian."

Sekarang Kwik Tay-lok baru melihat kalau di tangannya menenteng sebuah bungkusan kecil, dengan wajah berubah serunya:

"Kau hendak pergi ?"

"Bila kupaksakan diri untuk tinggal di sini, bukan saja dia akan merasa sedih sekali, akupun akan sangat menderita, maka setelah kupikirkan kembali, maka kuputuskan lebih baik pergi saja."

"Tapi, apakah kau. kau sudah mempunyai rencana pergi ke mana ?"

"Aku belum mempunyai rencana."

Tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara, dengan cepatnya dia menyambung lebih lanjut:

"Tapi kau tak usah kuatir, bagi orang semacam diriku ini masih banyak tempat yang bisa kukunjungi, oleh sebab itu demi aku, juga demi dia, lebih baik jangan menghalangi kepergianku."

Kwik Tay-lok memandang ke arah Yan Jit. Sedang Yan Jit sedang berdiri termangu-mangu...

Ang Nio-cu memandang sekejap ke arah mereka, sinar matanya penuh memancarkan rasa kagum, ujarnya dengan lembut:
 
"Seandainya kalian benar-benar menganggap diriku sebagai teman, kuharap kalian bersedia untuk mengingat-ingat perkataan ini."

"Katakanlah !"

Ang Nio-cu memandang ke tempat kejauhan, kemudian pelan-pelan berkata:

"Yang paling sulit di dunia ini bukan soal nama juga bukan soal harta kekayaan, tapi hubungan perasaan antara manusia dengan manusia. Bila kau berhasil mendapatkannya, maka harus kau sayangi hubungan tersebut dengan sebaik-baiknya, jangan sampai merugikan orang lain, jangan pula merugikan diri sendiri..."

Suaranya makin lama semakin rendah, semakin lirih lanjutnya:

"Sebab hanya seseorang yang pernah merasakan kehilangan rasa cinta yang akan memahami betapa berharganya rasa cinta tersebut, dia baru bisa memahami kesepian serta penderitaan seseorang yang kehilangan rasa cinta....

Sepasang mata Yan Jit berubah menjadi merah, tiba-tiba dia berkata:

"Bagaimana dengan kau? Dulu, apakah kaupun melayaninya dengan cinta kasih yang setia ?" Ang Nio-cu termenung sampai lama sekali, kemudian baru ujarnya:
"Aku sendiripun tak bisa mengatakannya secara jelas." "Dan sekarang ?"
"Aku hanya tahu, sejak dia meninggalkan aku, setiap saat aku selalu teringat akan dirinya, aku. sudah mencari banyak orang, tapi tak seorangpun yang bisa menggantikan kedudukannya
dalam hatiku."

Belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak ia menutupi wajahnya dengan tangan sendiri lalu lari meninggalkan tempat itu.

Kwik Tay-lok ingin maju ke depan untuk menghalanginya. Tapi Yan Jit segera mencegahnya, dia berkata dengan sedih:
"Biarkan saja dia pergi !"

"Biarkan dia pergi dengan begitu saja ?"

"Yaa, kalau dibiarkan pergi mungkin keadaan lebih baik, jika tidak pergi mungkin kedua belah pihak malah akan merasa lebih menderita dan tersiksa."

"Aku kuatir dia bisa.... bisa. "

"Jangan kuatir, dia tak akan melakukan sesuatu perbuatan yang mengambil keputusan pendek."

"Darimana kau bisa tahu ?"

"Sebab dia sudah tahu sekarang bahwa Ong lotoa menaruh perasaan serius kepadanya, hal ini sudah lebih dari cukup. "
 
"Sudah lebih dari cukup?"
"Paling tidak sudah cukup buat seorang perempuan untuk melanjutkan hidupnya." Sepasang matanya telah berkaca-kaca, dengan pelan katanya lebih lanjut: "Dalam kehidupan seorang perempuan, asal ada seorang lelaki yang benar-benar
mencintainya, maka penghidupannya di dunia ini boleh dianggap sebagai suatu penghidupan yang tidak sia-sia."

Kwik Tay-lok menatapnya lekat-lekat, lama, lama kemudian dia baru berkata: "Tampaknya kau cukup banyak memahami perasaan perempuan !"
Yan Jit segera melengos ke arah lain dan mengalihkan sorot matanya memandang jauh ke depan sana.

Langit biru, sang surya memancarkan cahaya keemas-emasannya ke seluruh permukaan tanah.

Di bawah cahaya sang surya yang indah, mendadak tampak serentetan cahaya api berwarna merah tua meluncur ke tengah udara dan memancar ke empat penjuru...



Dengan kening berkerut Yan Jit segera bergumam:

"Heran, dalam keadaan seperti ini, mengapa ada yang bermain kembang api?"

Ketika Yan Jit berpaling, maka terlihatlah Ong Tiong sedang berdiri di bawah wuwungan rumah sambil memperhatikan kembang api itu.

Ketika angin berhembus lewat, kembang api yang berwarna merah darah itupun segera menyebar ke empat penjuru.

"Pokoknya kalau orang lagi gembira, setiap saat dia bisa melepaskan kembang api, sedikitpun tak ada yang perlu diherankan." ucap Kwik Tay-lok cepat.

Yan Jit seperti lagi termenung, kemudian gumamnya pula:

"Apakah seperti juga seseorang yang setiap saat setiap waktu dapat menaikkan layang-layang
?"

Kwik Tay-lok tidak mendengar dengan jelas, baru saja dia bermaksud hendak bertanya apa yang dia katakan....

Mendadak Ong Tiong telah menyerbu ke hadapan mereka sambil berseru: "Dimana dia ?"
Yang dimaksudkan "dia" sudah barang tentu Ang Nio cu. "Dia sudah pergi." jawab Kwik Tay-lok.
"Karena dia merasa bahwa kau. "
 
"Kapan perginya ?" tukas Ong Tiong. "Barusan. "
Baru mendengar kata itu, Ong Tiong sudah melompat ke udara dan sekali berkelebat melewati dinding pekarangan.

Melihat itu, Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Ternyata dia masih begitu baik kepadanya, sesungguh-nya ia tak perlu pergi dari sini." Sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa, lanjutnya:
"Heran, mengapa perempuan selalu suka banyak curiga?"

Paras muka Yan Jit sedikitpun tidak dihiasi senyuman, malah ujarnya dengan suara dalam: "Kau mengira kembang api itu cuma dipasang sebagai mainan ?"
"Memangnya bukan ?"

Yan Jit menghela napas panjang, sahutnya:

"Tampaknya kau benar-benar tidak mengerti urusan tentang segala permainan busuk yang ada didalam dunia persilatan."

"Aku memang bukan seorang jago kawakan."

"Seandainya kita hendak menghadapi seseorang, kau berada di sini menunggu dia, sedang aku berada di bawah bukit, jika kau sudah memperoleh berita, dengan cara apakah kau memberi kabar kepadaku ?"

"Tidak mungkin !"

"Tidak mungkin? Apa maksudmu?"

"Maksudnya, keadaan semacam ini, tak mungkin bisa terjadi." "Kenapa ?"
"Sebab bila kau berjaga-jaga di bawah bukit, maka aku pasti berada di bawah bukit juga"

Dari balik mata Yan Jit segera terpancar keluar sinar mata yang amat lembut, tapi mukanya dengan membesi berseru:

"Sekarang kita sedang berbicara serius, dapatkah kau berbicara agak serius sedikit?" "Dapat !"
Setelah berpikir sebentar, dia baru melanjutkan:

"Jarak dari atas gunung dengan bawah gunung tidak dekat, sekalipun aku berteriak-teriak, belum tentu kau akan mendengarnya."

"Pintar, pintar, kau memang benar-benar sangat pintar" kata Yan Jit dingin.
 
Kwik Tay-lok tertawa lebar, setelah berpikir sebentar, dia baru berkata: "Aku toh bisa menyuruh orang untuk memberi kabar kepadamu." "Andaikata tiada orang lain ?"
"Aku sendiri yang akan turun gunung."

Yan Jit mendelik besar, sambil cemberut serunya:

"Aku heran, sebetulnya isi benakmu itu apa? Rumput atau kayu ?"

"Kecuali rumput dan kayu, aku masih memiliki akal muslihat yang bisa membangkitkan kemarahanmu" kata Kwik Tay-lok sambil tertawa, "sebab aku selalu merasa, bila kau lagi marah maka tampangmu persis seperti seorang nona cilik yang berusia tujuh-delapan belas tahunan."

Ia tidak membiarkan Yan Jit buka suara, kembali ucapnya:

"Padahal aku sudah memahami maksudmu, kau menganggap kembang api itupun persis seperti layang-layang, yakni tanda rahasia yang dipakai orang persilatan untuk menyampaikan kabar."

Yan Jit masih melotot besar, lewat lama kemudian dia baru menghembuskan napas panjang. "Aaaai suatu ketika, aku benar-benar bakal mati karena mendongkol."
Pada saat itulah tiba-tiba meluncur kembali kembang api dari bawah bukit sana. Dengan wajah berubah menjadi amat serius, Kwik Tay-lok berkata:
"Menurut pendapatmu, ada jago persilatan yang telah berkunjung kemari?" "Bahkan bukan cuma satu orang" Yan Jit menambahkan.
"Kau menganggap mereka datang untuk menghadapi Ang Nio cu ?"

"Aku tidak tahu, tapi Ong lotoa sudah pasti berpendapat demikian, sebab itu dia memburu ke sana."

Paras muka Kwik Tay-lok agak berubah, katanya kemudian:

"Kalau memang begitu, apa pula yang sedang kita tunggu di sini ?" "Aku masih harus merundingkan satu hal denganmu."
"Soal apa ?"

"Kali ini, dapatkah kau berdiam di sini saja, tak usah turut aku, biarkan aku pergi seorang diri. "

Belum habis dia berkata, Kwik Tay-lok. sudah menggelengkan kepalanya berulang tali.



"Tidak bisa !"
 
"Bila kita pergi semua, siapa yang akan berada di sini menemani siau-Lim ?" seru Yan Jit dengan kening berkerut.

Tentu saja mereka tak dapat meninggalkan Lim Tay-peng seorang diri.

Setelah memperoleh pelajaran yang cukup lumayan dimasa lalu, sekarang mereka selalu bertindak sangat berhati-hati, entah dalam menghadapi persoalan apapun.

Kwik Tay-lok termenung sejenak, kemudian berkata:

"Kali ini, dapatkah kau tinggal di sini, biar aku saja yang pergi ?" "Tidak bisa !" Yan Jit segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Kenapa ?"
Tiba-tiba suara Yan Jit berubah menjadi lembut sekali, sahutnya:

"Lukamu belum sembuh betul, apalagi kaupun orangnya nekad setengah mati, belum sampai lukanya sembuh, diam-diam sudah ngeloyor turun gunung minum arak..."

"Siapa yang bilang aku ngeloyor pergi secara diam-diam. Memangnya sewaktu pulang aku tidak membawa arak. "

"Perduli bagaimanapun juga, pokoknya sekarang kau masih belum boleh bertarung dengan orang lain." kata Yan Jit sambil menarik muka.

"Siapa yang bilang?"

"Aku yang bilang tidak puas!." seru Yan Jit. "Aku.... aku. "
"Kalau kau tidak puas, bagaimana kalau berkelahi dulu denganku?" Kwik Tay-lok segera merentangkan tangannya sambil tertawa getir. "Siapa bilang aku tidak puas ? Aku puasnya setengah mati." Sambil merentangkan kembali papan catur gumamnya:
"Cepatlah pergi, aku akan mencari siau-Lim untuk diajak bermain catur, kebetulan sekali permainan catur kencing anjingnya masih agak seimbang dengan kepandaianku."

Yan Jit memperhatikan dia berjalan lewat, sorot matanya kembali berubah menjadi lembut sekali, selembut angin musim semi yang mencairkan lapisan salju.

Sekarang adalah musim semi.

Musim semi adalah musim yang paling indah untuk muda mudi. Musim semi bukan musimnya orang membunuh orang.
Musim semi lebih cocok untuk mendengarkan kicauan burung dan bisikan syahdu, bukan mendengar cerita jeritan ngeri yang memilukan hati.
 
Tapi pada saat itulah mendengar suara jeritan ngeri. Suara jeritan seseorang yang hampir mendekati ajalnya. Di ujung golok selamanya tak pernah ada musim semi. Di tengah genangan darah juga tidak ada.
Seseorang tergeletak di tengah genangan darah, napasnya telah berhenti, jeritan ngeri menjelang saat kematiannya juga telah putus.

Golok masih digenggamnya erat-erat.

Sebilah golok kepala setan yang amat tajam, buas dan berat. Sembilan orang dengan sembilan bilah golok.
Sembilan orang manusia, sambil menggenggam goloknya sedang mengerubuti Ang Nio-cu.

Sembilan orang manusia baju hitam yang kekar, gesit dan bersinar mata buas... seseorang diantaranya terkapar di atas genangan darah.

Ang Nio-cu sedang memperhatikan mereka, wajahnya kembali menunjukkan senyuman genitnya yang khas, jari tangannya yang lentik sedang menuding ke tengah genangan darah, lalu tegurnya sambil tertawa:

"Dia adalah saudara ke berapa?"

Tujuh orang itu menggertak giginya kencang, hanya seorang lelaki baju hitam yang paling kurus yang menjawab:

"Lo-pat!"

"Bagus sekali, orang pertama yang mampus duluan adalah lo-liok, kemudian loji, lo-kiu, lo sip, ditambah lo-pat aaaai, tiga belas jago golok besar, kini tinggal delapan orang"

"Betul, tiga belas saudara kami sudah ada lima orang yang tewas di tangan kalian."

Dari tenggorokannya segera berkumandang suara raungan seperti suara binatang, kemudian bentaknya:

"Tapi delapan orangpun masih lebih dari cukup untuk mencincang tubuhmu sehingga hancur berkeping keping!"

Ang Nio-cu segera tertawa, suara tertawanya merdu bagaikan suara keleningan.

Dari antara delapan orang itu, ada tiga orang diantaranya yang tanpa sadar mundur setengah langkah ke belakang.

Kembali Ang Nio-cu tertawa merdu, katanya:

"Perempuan cantik baru kelihatan keindahannya bila masih segar bugar, apakah tidak terlampau sayang bila perempuan secantik dan sesegar aku ini dicincang sehingga hancur berkeping-keping ?"
 
Dengan biji matanya yang jeli dia mengerling sekejap ketiga orang yang mundur ketakutan itu, kemudian dengan genit katanya.

"Tentunya kalian juga tahu apakah kegunaanku, kenapa tidak diberitahukan kepada saudara saudaramu? Kalian benar-benar egois... kalau orang mati tak dapat berbicara, memangnya kalian juga tak bisa?"

Paras muka ke tiga orang itu berubah hebat, mendadak mereka ayunkan goloknya sambil menubruk ke depan.

"Tahan!" tiba-tiba lelaki kurus itu menghardik.

Jelas dia adalah pemimpin atau lotoa dari ketiga belas jago tersebut, begitu bentakan berkumandang, serentak ketiga orang itu menghentikan serangannya di tengah jalan.

"Coba kalian lihat" kata Ang Nio-cu lagi sambil tertawa, "aku sudah tahu kalau Tio lotoa kalian itu tak lega untuk membunuh diriku, walaupun dia bukan seorang lelaki yang menyayangi perempuan, tapi baik buruknya perempuan paling tidak masih dipahami olehnya"



Tio lotoa menarik mukanya sambil mendengus dingin.

"Kau memang betul sekali, aku pun tak lega membunuhmu, sebab aku tak ingin membiarkan kau mampus terlampau cepat!"

Ang Nio-cu memutar biji matanya dan tertawa makin genit, katanya dengan lembut:

"Kau menginginkan aku mati kapan, aku pun akan mati kapan, kau menginginkan aku mati dengan cara apa, akupun akan mati dengan cara apa, tahukah kau, persoalan apapun aku bersedia melakukannya bagimu."

"Bagus, bagus sekali !"

Sebagaimana seorang lotoa, memang tidak seharusnya terlalu banyak berbicara.

Karena semakin sedikit seseorang berbicara, kata-kata yang diucapkan baru semakin berharga.

Tio lotoa juga bukan seseorang yang suka banyak berbicara, apa yang diucapkan selalu berharga.

"Kau telah membunuh lima orang saudara kami, kamipun akan membacok lima kali di atas tubuhmu, dengan begitu hutang piutang diantara kitapun dianggap impas."

"Hanya lima bacokan ?" Ang Nio cu mengerdipkan matanya. "Ehmmm. "
"Kalian tak akan mengambil sekalian bunganya?" "Ehmmm. "
Ang Nio cu segera menghela napas panjang.
 
"Aaaai. kalau dibilang sesungguhnya tak bisa dibilang kurang adil, aku pun amat ingin
meluluskannya, apalagi sekarang kalian sembilan orang menghadapi aku seorang, sekalipun aku tak ingin meluluskan pun juga tak bisa."

"Jika kau sudah mengerti, itu lebih baik."

"Walaupun aku telah memahaminya, sayang masih ada satu hal." "Soal apa ?"
"Aku takut sakit !"

Setelah memperhatikan golok ditangan mereka wajahnya segera menunjukkan perasaan patut dikasihani, katanya lebih lanjut:

"Golok itu begitu besar, jika kena dibacok, sudah pasti sakit sekali rasanya !" "Tidak sakit !"
"Betul tidak sakit ?"

"Paling tidak pada bacokan yang kedua tak akan terasa sakit lagi"

Ang Nio-cu seperti tidak memahami ucapan tersebut, kembali dia berseru menegaskan: "Kau jamin?"

"Yaaa, aku jamin !"

"Asal kau bersedia menjamin, tentu saja akupun merasa lega, tapi akupun ada syarat" "Katakan !"
"Bacokan yang pertama ini harus kau sendiri yang melakukannya"

Dengan sepasang matanya yang jeli dia awasi Tio lotoa, kemudian melanjutkan: "Sebab aku tidak percaya kepada orang lain, aku hanya percaya kepada dirimu saja!" "Baik !"
Pelan-pelan ia berjalan ke depan, langkahnya amat berat, hampir terdengar suara langkah kakinya yang menginjak di atas permukaan tanah.

Golok itu masih dihadapkan ke bawah.

Tangannya lebar tapi kurus, otot-otot hijau pada punggung telapak tangannya pada menongol keluar semua.

Tampaknya dia mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya....

"Bacokan yang kedua pasti tak akan sakit!"

Bila bacokan tersebut terayun ke bawah, siapapun tak akan merasakan kesakitan lagi. tak
mungkin akan merasakan suatu siksaan atau penderitaan apapun.
 
Ternyata Ang Nio-cu memejamkan matanya, malah sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya.

"Marilah, hayo cepat !" demikian dia berseru.
Cahaya golok berkelebat lewat, angin bacokan yang tajam serasa memekakkan telinga. Mendadak Ang Nio cu menerobos dari bawah cahaya golok itu, diantara kilatan sinar terang,
rambut yang hitam berterbangan kemana-mana.

Sebagian besar rambutnya telah terpapas putus dan tersebar di seluruh tempat.

Tapi tangannya justru menyungging sikut Tio lotoa, sedangkan tangannya yang lain menekan di atas jalan darah di bawah iganya.

Tak ada yang tahu jalan darah apakah itu tapi setiap orang tahu, jalan darah tersebut sudah pasti adalah jalan darah kematian.

Paras muka setiap orang berubah hebat, keadaan mereka bagaikan seseorang yang perutnya kena ditendang keras-keras.

Ang Nio-cu masih saja tertawa, semacam tertawa yang merenggut sukma... Sambil tertawa merdu katanya:
"Sekarang tentunya kau mengerti bukan, mengapa aku menginginkan kau yang turun tangan, sebab sedari tadi aku sudah tahu kalau kau tak akan tega, aku tahu kalau kau sudah tertarik kepadaku."

Tio lotoa tentu saja bukan merasa tak tega, tangannya juga tidak lemas tak bertenaga, bahkan bacokan itu dilakukan dengan kecepatan luar biasa dan kebuasan yang mengerikan.

Cuma saja, ketika golok itu dibacokkan ke bawah, dia telah melupakan titik kelemahan di bawah goloknya berada di hadapan seorang perempuan yang memejamkan mata sambil menanti saat kematiannya, siapapun pasti akan berubah menjadi teledor dan gegabah.

Kembali dia memperoleh suatu pelajaran.

"Bila kau ingin membunuh orang, maka setiap detik setiap saat kau harus berjaga pula orang lain datang membunuhmu."
Tentu saja keadaan semacam ini bukanlah suatu keadaan yang terlampau menggembirakan. "Bila kau hendak membunuh orang, maka persiapkan dulu suatu penghidupan sepanjang
masa yang penuh ketegangan."



Tio lotoa menghela napas panjang, katanya kemudian:

"Kau ingin apa ?" Ang Nio-cu tertawa.
"Aku tak ingin apa-apa, aku hanya ingin mengajak kau untuk membicarakan suatu transaksi."
 
"Transaksi apa ?"

"Mempergunakan selembar nyawamu ditukar dengan selembar nyawaku. "

"Bagaimana cara menukarnya ?"

"Sederhana sekali." jawab Ang Nio-cu sambil tertawa, "bila aku mati, kaupun jangan harap bisa hidup."

"Bila aku telah mati ?"

Ang Nio-cu segera tertawa manis.

"Bila kau telah mati, tentu saja akupun tak bisa hidup lebih lanjut, tapi bagaimana mungkin aku akan membiarkan kau mati ?"

Tio lotoa berpikir sebentar, lalu katanya:

"Baik !"

Siapapun tak dapat memahami apa artinya dari kata "baik" itu, mereka hanya menyaksikan golok di tangannya mendadak dibacokkan ke bawah.

Bacokan golok itu mengarah batok kepala sendiri. Ang Nio cu adalah seorang jago kawakan.
Bila seorang jago kawakan memegangi tangan seseorang, tentu saja dia telah memperhitungkan kalau golok yang berada di tangannya itu tak mungkin bisa melukai orang.

Perhitungan dari Ang Nio-cu itu memang sangat tepat, cuma saja dia melupakan satu hal.

Walaupun golok yang berada ditangan Tio Lo-toa tak bisa membacok ke arahnya, tapi masih bisa dibengkokkan untuk membacok diri sendiri.

Dia hanya memikirkan untuk melindungi diri sendiri, tapi lupa untuk melindungi nyawa orang lain.

Dia mengira orang lain pun sama seperti dia, lebih mementingkan keselamatan diri sendiri dari pada keselamatan orang lain.

Tapi dia lupa, kadangkala ada sementara orang yang demi cinta atau dendam kesumat, seringkali melupakan keselamatan diri sendiri.

Kekuatan yang timbul karena cinta atau dendam kesumat, seringkali jauh lebih besar dari pada segalanya.

Sedemikian besarnya sehingga tak akan bisa dibayangkan perkataan apapun. Darah segar berhamburan kemana-mana.
Cairan darah yang berwarna merah gelap diantara titik cahaya putih susu memancar ke luar ke empat penjuru, dan seperti hujan gerimis menodai wajah Ang Nio cu.
 
Sepasang mata Ang Nio cu tertutup oleh cahaya darah. Dia hanya menyaksikan sepasang
mata Tio lotoa yang memancarkan rasa dendam, benci dan marah itu tiba-tiba melotot keluar seperti mata ikan, kemudian iapun tertutup sama sekali oleh cahaya darah.

Seketika itu juga ia mendengar suara auman kaget, marah dan benci seakan-akan ada sekelompok binatang buas terjerumus ke dalam perangkap.

Angin sambaran golok yang tajam berhamburan tiba dari empat arah delapan penjuru, bersama-sama membacok ke arah tubuhnya.

Apa yang terpikirkan oleh seseorang saat kematiannya. Pertanyaan ini mungkin tak akan terjawab oleh siapa saja.
Karena dalam keadaan demikian, apa yang terbayang oleh setiap orang selalu berbeda.

Yang dia pikirkan sekarang adalah Ong Tiong, teringat akan paras muka Ong Tiong yang dingin seperti es, juga teringat akan perasaan Ong Tiong yang membara seperti api.

Pada saat itulah, mendadak ia mendengar suara pekikan panjang yang sangat nyaring.

Tiba-tiba sekulum senyuman tersungging di ujung bibirnya, dia seperti merasa, asal bisa mendengar pekikan tersebut, soal mati atau hidup sudah tidak menjadi persoalan lagi.

Pekikan itu sangat nyaring, seperti seekor burung elang yang berpekik di angkasa dan menyambar ke bawah.

Seluruh tubuh Ang Nio-cu telah tenggelam ke bawah.

Dia melompat bangun, berusaha menghindar dan memaksakan diri untuk membuka sepasang matanya.

Tapi, jangankan manusia, bahkan cahaya golokpun tidak nampak, dia hanya bisa melihat selapis cahaya darah yang berwarna merah.

Dia melompat bangun lagi terasa kakinya menjadi dingin, sepertinya tidak terlalu sakit, akan tetapi kekuatan di atas paha itu tiba-tiba saja lenyap tak berbekas.

Seketika itu juga badannya terjerumus ke bawah.

Dia tahu, bila badannya terjerumus ke bawah, maka dia akan segera tenggelam ke kegelapan yang tiada taranya.

Anehnya, dia sama sekali tidak merasa takut atau ngeri, hanya merasakan semacam kepedihan yang aneh dan sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Mendadak ia teringat kembali akan diri Ong Tiong.

Mendadak ia merasa suatu perasaan yang sangat lega, ia merasa dirinya sudah terlepas dari segala-galanya, karena segala persoalan sudah tidak menjadi masalah baginya sekarang.

Diapun tenggelam dengan begitu saja, roboh terkapar di atas tanah, bahkan sepasang matanya pun enggan dipentangkan.
 
Andaikata ia menyaksikan keadaan yang dihadapinya sekarang, bukan cuma hatinya akan hancur lebur, mungkin ususnya akan putus dan nyalinya akan pecah.

Cahaya golok yang berkilauan berkumpul menjadi satu titik dan membacok ke atas badan Ang Nio-cu.

Mendadak, seseorang membawa pekikan yang nyaring menerjang datang dari balik hutan, langsung menyerbu ke dalam lingkaran cahaya golok.

Agaknya dia sudah lupa kalau dirinya adalah seorang manusia yang terdiri dari darah dan daging, juga lupa kalau golok itu bisa dipakai untuk membunuh orang.



Dia menerjang masuk ke balik lingkaran cahaya golok dengan begitu saja....

Diantara kelihatan cahaya golok, kembali tampak percikan darah berhamburan ke empat penjuru, kemudian, terdengar ada orang menjerit kaget:

"Eng-tiong-ong. !"

"Eng-tiong-ong belum mampus !"

"Sekarang juga kita akan membuatnya mampus !" ada orang memaki dengan gusar. Tentu saja Ong Tiong tak akan mati, soal ini dia cukup mengerti.
Tapi dia tahu, asal dia hidup tak akan ada orang bisa membunuh Ang Nio cu lagi di hadapannya.

Dengan badannya sendiri ia telah menahan golok pembunuh lawan yang sedang diayunkan ke bawah, menahan di hadapan Ang Nio-cu.

Sekalipun golok itu tajam dan berat, namun dia tak mundur barang selangkahpun.

Keberanian semacam ini bukan saja patut dihormati, lagi pula menakutkan, sangat menakutkan sekali.

Ketika Yan Jit tiba di sana, tubuhnya telah bertambah dengan tujuh-delapan buah bacokan golok, dari setiap mulut lukanya itu darah sedang mengucur keluar dengan derasnya.

Keberanian, siapapun kadangkala turut meluntur bersama mengalirnya darah dari badan. Tapi ia tidak !
Ketika Yan Jit menyaksikan keadaannya, itu, meski hati tidak hancur, usus tidak putus, namun darah segar telah menerjang sampai di atas batok kepala, menerjang tenggorokan.

Dalam detik itu, mendadak dia seperti melupakan pula akan mati hidup dirinya. Darimana datangnya keberanian.
Ada kalanya lantaran kebanggaan, ada kalanya lantaran dendam kesumat, ada kalanya lantaran cinta, adakalanya lantaran teman.
 
Entah dari manapun datangnya keberanian tersebut, semuanya pantas untuk dihormati, pantas untuk dihargai !

Kwik Tay-lok juga telah datang.

Entah karena apapun, entah betapa dalam keadaan apapun, dia tidak akan membiarkan temannya pergi beradu jiwa, sedang dia sendiri bermain catur didalam rumah.

Cuma sayang, ketika ia sampai ditempat tujuan, pertarungan berdarah telah berakhir. Di atas tanah cuma menggeletak sembilan bilah golok.
Ada yang menancap ditengah genangan darah, ada yang menancap di atas pohon, ada yang mata goloknya sudah melengkung, ada pula goloknya yang sudah patah.

Ong Tiong sedang memeriksa mulut luka di atas paha Ang Nio-cu, dia seolah-olah sudah melupakan luka yang berada di atas tubuh sendiri.

Yan Jit hanya memperhatikan mereka dengan tenang, sinar matanya entah memancarkan cahaya gembira, ataukah kesedihan.

Pelan-pelan Kwik Tay-lok menghampirinya, kemudian berbisik:

"Mana orangnya ?"

"Orangnya?" Yan Jit turut bergumam. "Siapa yang kau tanyakan ?"
"Siau-lim !"

"Tentu saja aku tak akan membiarkan Siau-lim berada didalam rumah seorang diri." "Kau telah membawanya datang kemari?"
Kwik Tay-lok mengangguk, sahutnya:

"Itu dia, dia sedang duduk di atas pohon besar itu."

Dari atas pohon besar itu, orang dapat menyaksikan semua gerak gerik ditempat ini dengan jelas, sebaliknya orang yang berada di sini tak dapat melihat ke sana.

Bersembunyi bukan saja harus mempunyai tehnik yang jitu, juga harus pandai memanfaatkan keadaan yang berada disekitar sana.

"Pada saat yang tepat, mencari tempat yang tepat!" itulah merupakan teori penting bagi ilmu "menyembunyikan diri".

"Yang kutanyakan adalah orang-orang yang membawa golok itu" kata Kwik Tay-lok. "Mereka telah pergi semua."
Kwik Tay-lok membungkukkan badannya dan memungut sebilah golok, menimangnya sebentar, lalu katanya sambil tertawa:
 
"Tak heran kalau mereka tinggalkan semua golok tersebut di sini, dengan membawa golok seberat ini, memang larinya tak akan bisa terlampau cepat. "

"Betul, karena mereka sebetulnya memang tidak sering melarikan diri." "Kau kenal dengan mereka !"
"Tidak kenal, tapi aku tahu tiga belas bilah golok sakti merupakan orang-orang yang termasyhur namanya baik di luar perbatasan maupun didalam garis perbatasan."

"Perampok-perampok kenamaan ?"

"Juga merupakan lelaki-lelaki keras yang tersohor." "Tapi laki-laki keras yang kabur kali ini. "
"Kau anggap mereka takut mampus ?"

"Kalau tidak takut mampus, kenapa harus melarikan diri ?"

Yan Jit memandang sekejap ke arah Ong Tiong, kemudian sahutnya:

"Yang mereka takuti bukanlah kematian, melainkan semacam keberanian yang dimiliki sementara orang sehingga mau tak mau menimbulkan perasaan ngeri didalam hatinya."

Pelan-pelan dia melanjutkan:

"Mungkin mereka sama sekali tidak takut melainkan terharu. mereka juga orang, setiap
orang kemungkinan besar akan dibikin terharu oleh orang lain."

Kwik Tay-lok termenung beberapa saat lamanya, mendadak dia bertanya lagi: "Dari mana mereka bisa tahu kalau Ang Nio-cu berada di sini ?"
"Berita tentang matinya Cui-mia-hu sekalian ditempat ini sudah diketahui banyak jago persilatan."

Mendengar itu Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang.

"Aaai. kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan betul-betul cepat sekali"



"Ketajaman pendengaran dari orang persilatan memang selalu mengagumkan, apalagi bagi orang yang mempunyai dendam, seringkali ketajaman pendengaran mereka jauh melebihi siapapun."

"Begitu dalamkah rasa dendam mereka terhadapnya ?"

"Tiga belas bilah golok sakti dengan Cui-mia-hu sebetulnya boleh dibilang termasuk dalam satu kelompok, tapi Ang Nio-cu telah menghianati mereka. Suatu ketika, sewaktu mereka sedang dikepung orang, ternyata Ang Nio-cu. "

Maka Kwik Tay-lok menukas pembicaraannya yang belum selesai itu:
 
"Soal anjing menggigit anjing semacam itu, segan aku untuk mendengarkannya." "Lantas kau ingin mendengarkan soal apa?"
Kwik Tay-lok memandang sekejap ke arah Ong Tiong dan Ang Nio-cu, sorot matanya lambat laun berubah lembut kembali, katanya:

"Sekarang, aku hanya ingin mendengarkan sedikit kejadian yang dapat menimbulkan kegembiraan dihati orang, seperti misalnya. "

Yan Jit turut memandang ke arahnya, sorot mata yang terpancar keluar lambat laun menjadi lembut, katanya:

"Misalnya apa ?"

"Misalnya, berita tentang datangnya musim semi."

"Kau tak usah menanyakan tentang berita datangnya musim semi lagi." kata Yan Jit. "Kenapa ?"
"Sebab musim semi telah tiba."

"Sudah tiba ? Dimana ? Kenapa aku tidak melihatnya ?"

Yan Jit mengalihkan pandangan matanya ke arah Ong Tiong dan Ang Nio-cu, lalu sahutnya lembut:

"Kau seharusnya sudah melihatnya, karena dia berada di sini."

"Yaa, benar, mereka memang berada di sini." bisik Kwik Tay-lok makin lembut. Dia memandang ke arah Yan Jit.
Tiba-tiba ia menemukan mata Yan Jit seakan-akan berubah bagaikan di musim semi. Manusia macam apakah yang dinamakan orang berpenyakit ?
Pertanyaan ini mungkin seperti juga pertanyaan lainnya, mempunyai penjelasan yang beraneka ragam. Ada yang menjelaskan:

Orang sakit adalah seseorang menderita suatu penyakit. Tentu saja penjelasan seperti ini bisa diterima dengan akal sehat, akan tetapi belum bisa dianggap sangat tepat.

Ada kalanya, orang yang menderita suatu penyakit pun disebut orang sakit.

Misalnya, orang yang terluka, atau orang yang keracunan, dapatkah kau anggap mereka sebagai orang yang menderita suatu penyakit ?

Tentu saja tidak.

* * *

Bulan ketiga, musim semi, rumput tumbuh amat subur, burung beterbangan dengan riang gembira.
 
Salju telah mencair, seluruh permukaan bumi berubah menjadi hijau, di atas bukitpun semuanya nampak hijau.

Kwik Tay-lok sedang duduk di bawah rimbunnya pohon sambil termangu-mangu...

Ia betul-betul lagi termangu, karena kedatangan Yan Jit pun tidak diperhatikan olehnya. Sebenarnya Yan Jit dapat mengejutkannya, sebetulnya ingin membuat pemuda itu terkejut. Tapi setelah menyaksikan keadaannya, Yan Jit menjadi tak tega untuk mengejutkan dirinya. Bagaimanakah tampangnya itu ?
Wajahnya kurus seperti kurang makan, letih seperti kurang tidur, lagi pula badannya lebih bertambah ceking.

Yan Jit menghela napas panjang, pelan-pelan menghampirinya, berjalan ke hadapannya dan sekulum senyum segera menghiasi ujung bibirnya, ia bertanya:

"Hei, kenapa kau duduk termangu ?"

Kwik Tay-lok mendongakkan kepalanya, memandang wajahnya sampai lama, tiba-tiba ia berkata:

"Tahukah kau, manusia macam apakah yang dinamakan orang sakit itu ?" "Tentu saja orang yang berpenyakit."
Kwik Tay-lok menggelengkan kepalanya. "Tidak betul ?" tanya Yan Jit.
"Paling tidak belum seluruhnya betul."

"Apa yang harus kukatakan baru bisa di katakan benar keseluruhannya. ?"

Kwik Tay-lok berpikir sebentar, lalu sahutnya:

"Dalam pandangan seorang bocah, asal seseorang yang berbaring di atas pembaringan dan tak bisa berkutik, orang itu disebut sakit, padahal manusia macam begini belum tentu mengidap suatu penyakit."

"Lagi pula kau bukan seorang bocah" sela Yan Jit. Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang.
"Didalam pandanganku, orang sakit tak lebih hanyalah sejenis manusia yang luar biasa pandainya menghambur-hamburkan uang."

"Apa maksudmu ?"

"Itulah kata-kataku yang sesungguhnya." Ia memang berbicara sesungguhnya.
 
Walaupun orang sakit tak bisa minum arak, tapi dia harus minum obat.

Bukan cuma harus minum obat saja, lagi pula harus makan segala macam obat penambah tenaga, "biasanya barang-barang semacam itu harganya lebih tinggi dari pada arak.

Tentu saja Yan Jit juga tahu kalau ucapan semacam itu adalah kata-kata yang sejujurnya, sebab di sana sekarang ada tiga orang sedang menderita sakit.

Luka yang diderita Lim Tay-peng belum lagi sembuh, sekarang bertambah lagi dengan Ang Nio-cu serta Ong Tiong.

Sambil menarik muka, Yan Jit berseru:



"Sekalipun perkataanmu adalah perkataan yang sejujurnya, tidak seharusnya kau berkata demikian."

"Yaa, aku memang tidak seharusnya berkata demikian, tapi mau tak mau aku harus mengutarakannya juga!" kata Kwik Tay-lok.

"Kenapa ?"

"Sebab sekarang, aku sudah hampir berubah menjadi orang mati." "Orang mati ?"
Kwik Tay-lok memperhatikan sekejap setumpuk barang di hadapannya, lalu berkata sambil tertawa getir:

"Kalau keadaan begini dibiarkan berlangsung terus, tak sampai dua hari lagi, sekalipun aku tidak melompat ke dalam sungai juga tak dapat..."

Yang tertumpuk di hadapannya tak lain adalah tumpukan bon berhutang.

Bon hutang artinya secarik kertas yang biasanya dipakai orang untuk menagih hutang. Kwik Tay lok mencabut selembar diantara bon-bon tersebut, kemudian membacakannya. "Yan-oh paling baik lima tahil, harga dua belas tahil perak."
Dengan gemas dia membanting bon tersebut ke atas tanah, kemudian gumamnya sambil menghela napas panjang.

"Tahu kalau sarang burungpun bisa dijual dengan harga semahal ini, lebih enakan kita jadi burung saja, dari pada didesak-desak orang terus untuk membayar hutang."

Yan Jit segera tertawa.

"Siapa bilang kalau kau bukan seekor burung, kau memang seekor burung tolol." Helaan napas Kwik Tay-lok semakin memanjang.
"Aaaai. aku percaya, sekalipun aku benar-benar adalah seekor burung tolol, juga tak akan
mengurusi hutang-hutang ini."
 
"Siapa yang suruh kau mengurusi hutang?"

Kwik Tay-lok segera menuding ke hidung sendiri sambil menjawab: "Aku. aku si burung tolol."
Memang kenyataannya dia sendiri yang berebut untuk mengurusi hutang-hutang tersebut.

Lim Tay-peng, Ang Nio-cu serta Ong Tiong sudah tak dapat berkutik tanpa dia dan Yan Jit berdua, pekerjaan yang harus mereka lakukan otomatis juga bertambah banyak.

Yan Jit kembali bertanya kepadanya:

"Sebetulnya kau hendak mengurusi rumah atau mengurusi hutang ?" Tanpa berpikir panjang, Kwik Tay-lok segera menjawab:
"Mengurusi hutang."

Dalam anggapannya, mengurusi hutang jauh lebih gampang dan gembira dari pada mengurusi orang sakit, seperti memasak bubur, memasak obat dan lain sebagainya.

Sekarang dia baru tahu kalau dirinya keliru, malah merupakan suatu kekeliruan yang amat besar.

Sambil tertawa getir Kwik Tay-lok lantas berkata:

"Sebenarnya aku mengira di dunia ini sudah tiada persoalan lain yang jauh lebih gampang dari pada mengurusi hutang-hutang."

"Ooooohhh. "
"Karena dulu selama beberapa bulan, kita sama sekali tak pernah mengurusi soal hutang." "Sekalipun ada hutang, juga hutang yang tak jelas asal-usulnya." sambung Yan Jit sambit
tertawa.

"Yaa, betul, tepat sekali."

Sesudah menghela napas panjang, sambungnya lebih jauh:

"Waktu itu kita punya uang, makan agak baikan, minum agak baikan, kalau tak punya uang, seharian tidak makan tidak minum juga tidak menjadi soal."

"Paling tidak, waktu itu kita bisa keluar bersama untuk mencari uang, atau mencari akal bersama untuk memperoleh uang."

"Yaa, tapi sekarang keadaan berbeda."

Pelan-pelan Yan Jit turut mengangguk, tanpa terasa dia turut menghela napas. "Yaa, sekarang keadaannya memang jauh berbeda."
Orang sakit selain tak boleh kelaparan, lebih-lebih tak boleh tak minum obat.
 
Oleh sebab itu, entah mereka mempunyai uang atau tak punya uang, setiap hari sudah ada target pengeluaran tetap yang tak bisa dihindari lagi. Pengeluaran tersebut memang tidak kecil jumlahnya. Sebaliknya orang yang mengeluarkan ide untuk mencari uang, justru seorangpun tak ada.

Yan Jit repot untuk mengurusi orang-orang yang sakit, sedangkan Kwik Tay-lok harus memeras otak untuk mengurusi hutang-hutangnya.

"Aku hanya mengherankan sesuatu." kata Kwik Tay-lok sambil menghela napas panjang. "Soal apa ?"
"Sekalipun aku belum bergerak dalam dunia persilatan, tapi seringkali mendengar cerita tentang orang-orang gagah di dalam dunia persilatan, tapi herannya belum pernah kudengar kalau orang-orang itu pernah menjumpai kesulitan uang ?"

Sesudah tertawa getir lanjutnya:

"Orang-orang itu sepertinya setiap saat bisa memperoleh uang yang banyak dan menghambur-hamburkan seenak hatinya sendiri, padahal mereka tidak bekerja apa-apa, memangnya uang itu bisa jatuh dari atas langit ?"

Yan Jit berpikir sebentar, lalu sahutnya:

"Di kemudian hari, bila ada orang yang menceritakan kisah kita, sudah barang tentu merekapun tak akan menceritakan kalau kita tak pernah murung karena kesulitan uang."

"Kenapa ?"

"Sebab si pengarang cerita biasanya mengira orang lain tak suka mendengarkan cerita semacam ini."

"Tapi ini toh suatu kenyataan."

"Sekalipun kejadian ini merupakan suatu kenyataan, tapi orang yang berani berbicara jujur di dunia ini tidak banyak jumlahnya."

"Kenapa tak berani mengatakannya ? Apa yang mesti ditakuti?" "Takut kalau orang lain tidak mendengarnya."


"Memangnya orang-orang yang mengarang cerita semuanya goblok? Apakah mereka tidak tahu kalau ada sementara orang lebih suka mendengarkan cerita yang menyinggung suatu kenyataan?"

Sesudah berpikir sebentar, dia melanjutkan:

"Mungkin cerita yang berbau dongeng jauh lebih mantap kedengarannya daripada suatu kenyataan, tapi kenyataan sudah pasti akan lebih mengharukan hati orang, hanya cerita yang dapat mengharukan hati orang saja yang akan selalu berada dihati orang."

Yan Jit segera tertawa, serunya:
 
"Kata-katamu itu lebih baik disampaikan kepada si empunya cerita saja. "

"Kaupun enggan untuk mendengarkannya" "Betul."
"Lantas apa yang ingin kau dengar:
"Aku hanya ingin mendengar, sebetulnya sekarang kita sudah berhutang berapa ?" "Tidak banyak. " sahut Kwik Tay-lok sambil menghela napas, panjang, "belum sampai
selaksa tahil."

Dalam pandangan sementara orang, selaksa tahil perak memang tak bisa dianggap amat banyak, tapi buat pandangan Kwik Tay-lok yang sepeser uangpun tak punya, hutang tersebut sudah mencapai setinggi langit.

Persoalannya sekarang sudah bukan berapa yang kau hutang, melainkan berapa yang kau miliki.

"Apakah nota hutang sebesar selaksa tahil perak ini harus dibayar semua secepatnya?" tanya Yan Jit.

"Para penagih hutang sudah mendesakku sampai menceburkan diri ke sungai, bayangkan sendiri hutang itu musti dibayar secepatnya atau tidak ?"

"Lantas, beberapa yang masih kita punyai sekarang ?" Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang.
"Tidak banyak, kalau ditambah tiga mata uang lagi, maka sudah cukup menjadi satu tahil perak"

Yan Jit mulai tertegun.

Satu tahil perak bila dibandingkan dengan selaksa tahil perak, maka terasa besar sekali selisihnya, sebab kekurangannya berarti mencapai sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan tahil perak.

Nota hutang semacam ini sudah pasti tak akan dilepaskan oleh para penagihnya. Maka Yan Jit hanya bisa berdiri tertegun.
Setelah tertegun beberapa saat lamanya, dia baru menghela napas panjang, katanya: "Sekarang aku. aku baru dapat memahami apa artinya kemiskinan."
"Sampai sekarangkah kau baru mengerti?" Yan Jit mengangguk.
"Karena dulu, meski kita tak punya uang, kitapun tak pernah berhutang kepada orang lain, maka saat itu kita masih belum bisa dianggap benar-benar miskin."
 
"Aaaai. sekarang aku hanya berharap jangan berhutang kepada orang lain, aku lebih suka
merangkak selama tiga hari tiga malam daripada harus berhutang kepada orang."

"Sayang, sekalipun kau merangkak selama tiga tahunpun, tak akan muncul selaksa tahil perak di hadapanmu."

"Tak perlu selaksa tahil perak, asal ada sembilan ribu sembilan ratus tahil perakpun sudah cukup."

"Persoalannya sekarang, dari mana kau bisa dapatkan ke sembilan ribu sembilan ratus tahil perak tersebut ?"

"Aku tak punya akal." Kwik Tay-lok tertawa getir. "Aku juga tak punya."
"Kenapa kita tak bisa menjadi perampok?" "Karena kita bukan perampok."
"Manusia macam apakah baru bisa menjadi perampok ?" "Manusia yang bukan termasuk seorang manusia."
"Dapatkah kita mencuri yang kaya untuk menolong fakir miskin ?" "Tidak dapat !"
"Mengapa tidak dapat? Mencuri yang kaya untuk menolong fakir miskin toh bukan perbuatan seorang perampok, kalau akan dianggap sebagai perampok maka perampok macam itu disebut perampok budiman, seorang enghiong."

"Kau hendak mencuri barang milik siapa?"

"Tentu saja para saudagar yang berhati licik, pembesar korup yang memeras rakyat." "Setelah mendapat hasil curian, harta itu akan kau bagikan kepada siapa saja?"
"Tentu saja untuk menolong kebutuhan kita yang mendesak, menolong kita sebagai fakir miskin."

"Itu bukan enghiong namanya, tapi anjing beruang !" Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan:
"Justru karena di dunia ini banyak terdapat manusia yang mempunyai cara berpikir macam anjing beruang, maka jadinya banyak sekali perampok dan pencoleng yang meraja lela di dalam dunia ini."

Mungkin kebanyakan orang yang menjadi perampok atau pencoleng, mulai berkarir dengan cara menipu diri sendiri, lagaknya saja untuk menolong orang, padahal di dalam kenyataannya kantung sendiri yang ditolong paling dulu. Kwik Tay-lok berpikir sejenak, lalu tertawa getir.

"Lantas kalau menurut pembicaraanmu itu tampaknya kita hanya bisa menempuh dengan sebuah jalan saja."
 
"Jalan yang bagaimana ?" "Tidak membayar hutang !"
"Tahukah kau manusia macam apakah baru tak mau membayar hutangnya. "

Tentu saja Kwik Tay-lok tahu dengan pasti, maka dia menghela napas panjang. "Tentu saja manusia yang tak tahu malu!" sahutnya lirih.
"Dapatkah kau menunggak hutang dan tidak membayarnya ?" "Tidak dapat !"
Apalagi sekalipun dia tak ingin membayar hutang juga tak mungkin dilaksanakan.

Luka yang diderita Ong Tiong, Ang Nio-cu serta Lim Tay-peng belum sembuh seratus persen, mereka masih membutuhkan obat untuk diminum, masih membutuhkan obat penambah darah, obat kuat penambah tenaga serta bahan makanan untuk melanjutkan hidupnya.

Betul kali ini kau bisa menunggak hutang itu dan tak mau membayarnya, tapi bagaimana selanjutnya ?

Siapa lagi yang bersedia memberi hutang kepadamu kemudian hari ?

Kalau sampai demikian, lantas bagaimana dengan Ong Tiong, Ang Nio-cu serta Lim Tay-peng yang belum sembuh dari lukanya?

Betul- betul suatu masalah yang pelik.