Pendekar Riang Jilid 15

 
Jilid 15

MEREKA cuma berharap Lim Tay peng bisa hidup dengan bebas merdeka persis seperti ketika berada di rumah dulu, maka dalam keadaan demikian dia pasti akan berubah menjadi lebih teguh, lebih matang dam lebih pintar...

Sebab kesemuanya itulah merupakan apa yang diharapkan Wi hujin selama ini. Sambil tertawa kembali Kwik Tay Lok berkata:
"Selama beberapa hari ini kami juga tidak melakukan apa-apa, cuma kami pernah diracuni sampai mati satu kali, bertemu dengan raja akhirat satu kali, ditembak dengan meriam satu kali dan akhirnya orang itu mengundang kami makan minum sepuas-puasnya sebelum kami pulang kemari..."

Lim Tay-peng melompat kearahnya, sampai lama, lama sekali, tiba-tiba ia tertawa terbahak- bahak.

"Haaahhh... haaahhhh..... haaahhh aku tahu kau pandai sekali mengibul, tapi kali ini
bualanmu terlalu besar, mungkin bocah cilik yang berumur tiga tahunpun tak akan mempercayai."

Dengan tangannya Kwik Tay-lok membaringkan diri, memejamkan mata dan menghembuskan napas panjang, lalu ujarnya sambil tersenyum manis:

"Aku juga tahu, tak akan ada seorang manusiapun yang mau percaya dengan ceritaku ini." Setiap orang tentu punya rahasia.
Ong Tiong adalah orang.

Maka Ong Tiong juga punya rahasia.

Manusia seperti Ong Tiongpun ternyata punya rahasia, sesungguhnya hal ini merupakan suatu yang tak bisa dipercaya.

Dia tak pernah pergi sendirian, bahkan waktu untuk turun dari pembaringan amat jarang. Sebenarnya mimpipun Yan Jit tidak menyangka kalau diapun memiliki rahasia.
Tapi orang pertama yang menemukan bahwa Ong Tiong juga ada rahasia adalah Yan Jit.
 
Bagaimana ceritanya ?

Ternyata suatu ketika dia menemukan suatu benda yang aneh sekali. Yang ditemukan olehnya adalah sebuah layang-layang.
Layang-layang sesungguhnya bukan sesuatu yang aneh, tapi dari atas layang-layang itulah justru akan muncul banyak sekali kejadian aneh dengan manusia-manusia yang menakutkan sekali.

Menurut perhitungan almanak, semestinya saat itu sudah tiba saatnya musim semi, tapi kemanapun kau lihat sama sekali tidak menjumpai bayangan musim semi.

Udara masih hangat dingin, angin masih amat kencang, timbunan salju di tanah sudah mencapai tujuh delapan inci tebalnya.

Hari ini ternyata matahari sudah terbit.

Ong Tiong, Yan Jit, Kwik Tay-lok dan Lim Tay-peng sedang berjemur badan dalam halaman.

Sekalipun mereka miskin dan tak beruang tak pernah disia-siakan kesempatan untuk berjemur badan.

Di musim dingin yang menggigilkan seperti ini, berjemur badan dibawah sinar matahari boleh dibilang merupakan salah satu kenikmatan yang bisa dirasakan oleh kaum miskin secara gratis.

Ong Tiong telah mencari sebuah kursi yang paling nyaman sedang berbaring dibawah atap rumah sambil menjemur diri.

Lim Tay-peng duduk diatas undak-undakan batu sambil bertopang dagu dan sinar mata mendelong, entah apa yang sedang dipikirkannya ketika itu.

Sebenarnya Kwik Tay-lok selalu merasa heran, dengan usia semuda itu, kenapa dia seperti banyak urusan dan dalam hatinya seperti tersimpan banyak sekali rahasia yang tak boleh diketahui orang.

Sekarang dia sudah tidak merasa heran lagi, dia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan Lim Tay-peng.

Tapi bagaimana dengan rahasia Yan Jit ?

Tak tahan lagi Kwik Tay-lok segera menarik Yan Jit sambil bisiknya merintih: "Sekarang, tentunya kau sudah boleh memberitahukan rahasia itu kepadaku bukan ?"
Sejak kembali kesana, kali ini adalah untuk ketujuh puluh delapan kalinya dia mengajukan pertanyaan yang sama kepada Yan Jit.

Tapi jawaban Yan jit selalu sama seperti dulu. "Tunggu !"
"Kau suruh aku menunggu sampai kapan?" "Menunggu sampai aku ingin mengatakannya !"
 
Kwik Tay-lok menjadi sangat gelisah, serunya lagi:
"Apakah kau harus menunggu sampai aku hampir mati baru bersedia untuk mengatakannya?." Yan Jit mengerling sekejap ke arahnya, sinar mata itu kelihatan aneh sekali, lewat lama,
kemudian baru ujarnya dengan sedih:

"Kau benar-benar tak tahu rahasia apakah yang hendak kuberitahukan kepadamu itu?" "Kalau aku tahu, buat apa aku mesti bertanya kepadamu ?"
Yan Jit memandangnya lagi beberapa saat, kemudian tertawa cekikikan, katanya sambil menggelengkan kepala:



"Ucapan Ong lotoa memang betul, bila kau harus bodoh ternyata menjadi pintar, dikala harus pintar ternyata bodohnya bukan main..."

"Aku toh bukan cacing pita dalam perutmu, mana aku tahu rahasiamu itu ?" Tiba-tiba Yan Jit menghela napas panjang!
"Mungkin lebih baik buatmu jika tidak tahu !" "Baik dalam hal apa ?"
"Ada satu hal yang tidak baik, bukankah hidup kita sekarang jauh lebih menyenangkan?" "Apakah aku bisa menjadi tak senang bila mengetahui rahasia tersebut ?"
Kembali Yan Jit menghela napas.

"Mungkin. mungkin waktu itu setiap hari kita akan cekcok, setiap hari akan bertengkar."

Kwik Tay-lok segera melotot ke arahnya, kemudian mendepakkan kakinya keras-keras ke tanah, serunya dengan gemas:

"Aku benar-benar tidak mengerti, sesungguhnya kau adalah seorang yang suka berterus terang, kenapa kadang kala lebih sempit pikirannya daripada seorang perempuan?"

"Yang sempit pikirannya bukan aku, tapi kau ?" "Kenapa pikiranku sempit ?"
"Perbuatan yang tak ingin orang lain lakukan, kenapa kau justru memaksa orang lain untuk melakukannya ?"

"Siapakah orang lain itu ?" "Orang lain itu adalah aku !"
Kwik Tay-lok menghela napas panjang, dipegangnya kepala dengan kedua belah tangannya sendiri, kemudian bergumam:
 
"Sudah jelas adalah dia, tapi dia justru mengatakan orang lain. Cara berbicara orang ini makin lama semakin mirip perempuan, coba bagaimana jadinya ?"

Tiba-tiba Yan Jit tertawa, sengaja dia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, ujarnya: "Menurut pendapatmu apa sebabnya secara tiba-tiba Hoat-liok-pi angkat kaki dari sini?"
Sebenarnya Kwik Tay-lok tak ingin menjawab pertanyaannya itu, tapi setelah termenung sebentar, tak tahan katanya juga:

"Bukan dia sendiri yang ingin pergi, si nenek itulah yang memaksanya untuk pergi ?" "Kenapa ?"
"Sebab nenek itu kuatir kita akan menyelidiki rahasia asal usulnya"

"Kalau begitu, asal usulnya tentu amat rahasia, dengan Hoat-liok-pi juga pasti mempunyai hubungan yang sangat luar biasa."

"Ehmm !"

"Kenapa kau tidak pergi mencari kabar, sebenarnya mereka telah menyembunyikan diri dimana ?"

"Kenapa musti di selidiki ?"

"Tentu saja untuk mengorek rahasia mereka !"

"Kenapa aku harus mengorek rahasia orang ? Ada sementara rahasia yang tak akan berhasil kau gali sekalipun sudah diusahakan dengan cara apapun, tapi bisa saatnya sudah tiba tanpa digalipun rahasia itu akan tersingkap dengan sendirinya.."

Yan Jit segera tertawa:

"Kalau kau sudah memahami akan teori tersebut, kenapa pula kau selalu memaksaku untuk mengatakannya?"

Kwik Tay-lok melotot besar ke arahnya, kemudian menghela napas panjang,

"Aaaai. sebab aku tidak memperhatikan si nenek itu, yang kuperhatikan hanya kau !"

Pelan-pelan Yan Jit berpaling ke arah lain, rupanya sengaja hendak menghindarkan diri dari sinar mata Kwik Tay-lok.

Baru saja berpaling, dia telah menjumpai sebuah layang-layang...

Sebuah layang-layang berbentuk kelabang buatannya sangat indah dan manis, ketika bergerak di udara, pada hakekatnya seperti hidup.

Yan Jit segera bertepuk tangan sambil bersorak:

"Cepat kau lihat, apakah itu ?"

Kwik Tay-lok juga sudah melihat, meski merasa amat tertarik, tapi sengaja katanya sambil menarik muka:
 
"Itu kan tak lebih cuma layang-layang, apanya yang lucu ? Apakah kau belum pernah melihat layang-layang ?"

"Tapi dalam suasana seperti ini, mana mungkin ada orang yang bermain layang-layang?" "Hmm. asal lagi senang, setiap saat toh boleh saja menaikkan layang-layang ?"
Padahal dia juga tahu, sekarang belum tiba saatnya untuk bermain layang-layang, sekalipun ada orang ingin menaikkan juga tak akan menaikkan setinggi itu, sebab tak mungkin layang- layang itu bisa dinaikkan setinggi itu.

Tapi layang-layang itu dinaikkan sangat tinggi, amat lurus dan tenang, jelas orang itu adalah seseorang yang ahli.

"Kau bisa membuat layang-layang ?" tanya Yan Jit. "Tidak, aku hanya bisa makan !"
Yan Jit melotot sekejap kearahnya, kemudian berkata sambil tertawa:

"Ong lotoa tentu bisa. Ong lotoa, bagaimana kalau kitapun membuat sebuah layang-layang?"

Tapi ketika tiba di depan Ong Tiong, dengan cepat wajahnya berubah menjadi tertegun.

Ong Tiong sama sekali tidak mendengarkan apa yang sedang diucapkan olehnya, dia cuma membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar sambil mengawasi layang-layang tersebut, sinar matanya aneh sekali, seakan-akan dia belum pernah menyaksikan layang-layang.



Akan tetapi kalau dilihat dari mimik wajahnya, dia seakan-akan telah menganggap layang- layang tersebut sebagai kelabang sungguhan.

Seekor kelabang raksasa yang bisa makan manusia.

Yan Jit turut menjadi tertegun, sebab dia tahu Ong Tiong bukankah seorang manusia yang gampang dibikin ketakutan.

Sekalipun dia benar-benar menyaksikan ada tujuh delapan puluh ekor kelabang sedang berjalan dihadapannya-pun, paras muka Ong Tiong tak akan berubah menjadi begini rupa.
Apa lagi selembar wajahnya, sekarang telah berubah menjadi pucat melebihi mayat. Mendadak saja kelopak matanya seperti berdenyut keras, seakan-akan tertusuk oleh beribu-
ribu batang jarum.

Yan Jit segera mendongakkan kepalanya, sekarang dia menyaksikan diatas langit telah bertambah menjadi empat buah layang-layang.

Sekarang telah bertambah dengan sebuah layang-layang berbentuk ular, sebuah berbentuk kala dan sebuah lagi berbentuk burung elang....

Yang paling besar berbentuk segi empat, diatas kertas yang berwarna kuning itu tampak sebuah lukisan Hu yang berliuk entah apa artinya, seperti "hu" untuk pengusir setan.
 
Mendadak Ong Tiong bangkit berdiri lalu masuk ke dalam rumah dengan sempoyongan, dia seperti tak tahan dan setiap saat bakal jatuh tak sadarkan diri.

Kwik Tay-lok segera memburu datang, dengan wajah keheranan segera tegurnya: "Ong lotoa, apa yang telah terjadi ?"
Yan Jit menghela napas panjang, sahutnya:

"Siapa tahu apa yang terjadi dengannya, ketika menyaksikan layang-layang tersebut mendadak seluruh tubuhnya seakan-akan telah mengalami perubahan".

Kwik Tay-lok merasa semakin keheranan lagi.

"Hanya melihat layang-layang, tampangnya lantas berubah menjadi begitu rupa ?" serunya. "Ehmm !"
"Apakah layang-layang itu mempunyai suatu keistimewaan ?" seru Kwik Tay-lok dengan kening berkerut.

Dia lantas mendongakkan kepalanya dan mencoba untuk mengamati layang-layang tersebut dengan seksama, akan tetapi tiada sesuatu hasilpun yang berhasil diperoleh.

Siapapun tak akan menemukan apa-apa dari layang-layang tersebut....
Layang-layang adalah layang-layang, tiada bedanya dengan layang-layang lainnya. "Lebih baik kita masuk dan tanyakan kepada Ong lotoa saja, tanya kepadanya apa yang
sebenarnya telah terjadi !" usul Kwik Tay-lok kemudian dengan lirih.

Yan Jit menggelengkan kepalanya berulang kali, setelah menghela napas katanya: "Ditanyapun percuma, kemungkinan besar dia tak akan mengatakannya"
"Tapi layang-layang itu. "

"Apakah kau tak pernah berpikir, persoalannya bukan terletak pada layang-layang itu?" tukas Yan Jit.

"Lantas dimanakah letak persoalannya ?"

"Pada orang yang melepaskan layang-layang tersebut !"

"Betul !" seru Kwik Tay-lok sambil bertepuk tangan, "Mungkin Ong lotoa tahu siapakah yang melepaskan layang-layang tersebut."

"Kemungkinan besar orang itu adalah musuh besar dari Ong lotoa di masa lalu."

Selama ini Lim Tay-peng hanya mendengarkan pembicaraan itu dari samping mendadak dia berseru:

"Aku akan ke sana untuk melihat-lihat, kalian tunggu saja di sini, menantikan kabat beritaku." Belum habis perkataan itu diucapkan, tubuhnya sudah meluncur keluar dari tempat itu.
 
Biasanya dia selalu kemalas-malasan dan lamban sekali cara kerjanya, tapi begitu terjadi peristiwa, maka gerak geriknya selalu jauh cepat dari pada siapapun.

Kwik Tay-lok memandang kearah Yan Jit, kemudian katanya:

"Kenapa kita harus menunggu kabar beritanya disini ?"

Tidak mungkin menunggu ucapan tersebut selesai diucapkan, Yan Jit sudah mengejar ke depan.

Demi persoalan temannya, siapa saja tak ingin tertinggal dari rekan-rekannya lainnya. Layang-layang, itu dilepaskan sangat tinggi dan lurus.
Yan Jit memperhatikan sekejap arahnya, kemudian berkata:

"Tampaknya Iayang-layang itu berasal dari tanah pekuburan sana!"

Kwik Tay-lok mengangguk, "Betul, sewaktu masih kecil dulu aku sering melepaskan layang- layang dari kuburan."

Jarak dari perkampungan kaya dan anggun mereka dengan tanah pekuburan itu tidak terlalu jauh, dengan cepatnya mereka sudah sampai di tempat tujuan.

Dalam tanah pekuburan itu cuma ada satu orang, dia adalah Lim Tay-peng yang berangkat duluan.

"Kau menjumpai sesuatu ?" tegur Kwik Tay-lok. "Tidak, bayangan setanpun tidak nampak!" Lantas siapa yang menaikkan layang-layang itu? Lima buah orang-orangan.
Kelima buah orang-orangan itu semuanya memakai pakaian berkabung, ditangan sebelahnya membawa tongkat kesedihan.



Sedangkan benang layang-layang tersebut terikat ditangan yang lain dari orang-orangan, didepan rumah kayu kecil dibawah tebing sana.

Dalam rumah kayu itulah mereka menemukan Swan Bwe- thong tempo hari....

Tentu saja orang-orangan tak akan bisa menaikan layang-layang. Orang-orangan juga, tak akan memakai pakaian berkabung.
Lantas siapa yang melakukan kesemuanya itu.

Kwik Tay-lok berkata saling berpandangan tanpa berbicara, mereka merasa persoalan itu makin lama semakin tidak sederhana.

Kata Yan Jit kemudian:
 
"Layang-layang ini belum lama dinaikkan, mungkin orangnya juga belum pergi jauh." "Betul, mari kita lakukan pencarian keempat penjuru."
"Aku rasa mereka pasti berlima, lebih baik, kita jangan sampai terpisah satu lama lainnya." Mereka mengitari tanah berkuburan itu satu kali, dan kemudian sampailah.
"Mungkinkah orang yang melepaskan layang-layang itu bersembunyi di dalam rumah kayu tersebut ?"

Tanpa terasa ketiga orang itu berpikir demikian.

Kwik Tay-lok yang pertama-tama menyerbu ke dalam bangunan rumah tersebut. "Hati-hati !" teriak Yan Jit.
Baru selesai dia berteriak, Kwik Tay-lok sudah menendang pintu dan menerjang masuk ke dalam.

Rumah kayu itu masih tetap berupa rumah kayu cuma bentuknya sama sekali telah berubah.

Wajan dan tungku yang pernah dipakai Swan Bwe-tong untuk menanak nasi tempo hari, kini sudah lenyap tak berbekas, rumah kecil yang sebetulnya kotor dan acak-acakan sekarang telah dibersihkan dari debu, mana rajin nyaman lagi.

Di tengah ruangan terdapat meja, di atas meja siap lima pasang sumpit, lima buah cawan arak dan lima bilah pisau kecil yang memancarkan sinar tajam.

Pisau itu tipis tapi tajam, tubuhnya berliuk-liuk dengan bentuk yang aneh sekali. Kecuali itu, dalam ruangan tersebut sudah tidak ada benda yang lainya lagi.
Baru saja Kwik Tay-lok memegang gagang pisau itu, Yan Jit telah memburu masuk, serunya sambil mendepak-depakan kakinya berulang kali.

"Mengapa sih aku selalu gegabah didalam melakukan perbuatan apapun? Bagaimana coba seandainya dalam ruangan ada orangnya? Apakah, kau tidak kuatir dicelakai orang?"

"Aku tidak takut !" jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa. "Kau tidak takut, aku takut !"
Baru saja mengucapkan kata itu, mendadak paras mukanya berubah menjadi merah padam, merah sekali.

Untung saja orang lain tidak memperhatikannya.

Lim Tay-peng sebetulnya sedang menyelidiki pisau diatas meja, mendadak katanya: "Pisau ini dipakai untuk memotong daging !"
"Darimana kau bisa tahu !" tanya Kwik Tay-lok.
 
"Aku pernah melihat suku Oh diluar perbatasan seringkali memakai pisau semacam ini untuk memotong daging."

"Masa mereka adalah suku Oh yang datang dari luar perbatasan?" Lim Tay- peng termenung sebentar, kemudian sahutnya:
"Mungkin saja demikian, cuma orang suku Oh hanya memakai pisau, tidak memakai sumpit. Mendadak mencorong sinar kaget dan ngeri dari balik mata Yan Jit, serunya tiba-tiba: "Disini cuma ada pisau, tiada daging, mereka bermaksud hendak memotong daging siapa?"
"Tak mungkin dipakai untuk memocong daging Ong Tiong bukan?" sahut Kwik Tay-lok sambil tertawa.

Sekalipun dia sedang tertawa, tapi suara tertawanya kelihatan tidak leluasa.

Yan Jit bersin beberapa kali, sekujur badannya menggigil keras, katanya kemudian:

"Lebih baik kita cepat-cepat pulang, kalau membiarkan Ong lotoa berada dirumah seorang diri, aku. sesungguhnya aku merasa agak kurang lega."

Paras muka Kwik Tay-lok segera berubah.

"Betul !" serunya, "lebih baik kita jangan sampai terkena siasat memancing harimau turun gunung."

Teringat sampai kesitu, mereka bertiga menerjang keluar dari ruangan itu.

Kemudian dengan mempergunakan gerakan yang paling cepat menyeberangi tanah pekuburan itu.

Mendadak Yan Jit berhenti, kemudian serunya tertahan:

"Aaaah! Ada yang tidak benar." "Apanya yang tidak benar ?"
Dengan wajah memucat sahut Yan Jit.

"Barusan kelima buah orang-orangan, itu masih berada di sini, tapi sekarang. " mendadak
Kwik Tay-lok merasakan pula hatinya bergidik, bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Orang-orangan yang semula berada disitu kini sudah lenyap tak berbekas. Awan putih melayang di udara dan biru, hari ini cuaca sangat cerah dan baik. Tapi layang-layang di angkasa itu kini sudah lenyap tak berbekas.
Menggunakan gerakan tubuh ysng paling cepat mereka balik kembali ke rumah, tapi baru sampai di depan pintu, lagi-lagi mereka tertegun.
 
Kelima buah orang-orangan itu sekarang telah berdiri di depan pintu, mereka masih memakai baju berkabung, membawa tongkat dan segala sesuatunya masih tetap seperti sedia kala, satu- satunya yang berbeda adalah diatas dada mereka telah menempel secarik kertas, di atas kertas itu seperti bertulisan beberapa huruf.

Tulisan itu sangat kecil dan sukar dilihat jelas.

Ketika angin behembus lewat, kertas itu segera berkibar kencang, agaknya dijahit dengan tubuh orang-orangan itu.

Lim Tay-peng yang sampai ditempat tujuan paling dulu, dengan cepat dia menyambar kertas tadi.

Ternyata kertas itu dijahit kuat sekali, dia harus menariknya keras-keras sebelum berhasil membetotnya.

Tapi pada saat itulah, mendadak tongkat ditangan orang-orangan itu melejit keudara kemudian menghantam keatas perut Lim Tay-peng keras keras!

Untung saja meski pengalaman Lim Tay-peng amat cetek, reaksinya tidak lambat, dia melompat keudara dan menghindarkan diri dari bacokan benda itu.

Siapa tahu bersamaan dengan melejitnya tongkat tersebut, setitik cahaya hitam ikut meluncur pula ke depan.

Lim Tay-peng hanya menghindari ayunan toyanya saja tapi lupa untuk berkelit dari sambitan senjata rahasia tersebut.

Tahu-tahu dia merasakan lutut kanannya menjadi sakit bagaikan digigit nyamuk, kemudian menjadi kaku dan kesemutan.

Menanti tubuhnya melayang balik ke tanah, dia sudah tak mampu berdiri tegak lagi.

Dalam waktu singkat, kaki kanannya telah menjadi kaku dan mati rasa, tubuhnya segera roboh terkapar ke atas tanah.

"Jarum beracun !" pekik Kwik Tay-lok dengan paras muka berubah sangat hebat.

Baru dua patah kata dia berbicara, Yan Jit sudah turun tangan secepat sambaran kilat, secara beruntun dia menotok empat buah jalan darah penting disekitar lutut kanan Lim Tay-peng, sementara tangan yang lain mencabut keluar pisau belati dibalik sepatunya. 

Cahaya pisau berkelebat lawat, pakaian Lim Tay-peng sudah robek, kemudian ketika disambar lagi, kulit badan Lim Tay-peng yang terluka itu sudah terpapas, darah segera muncrat keluar dengan derasnya.

Darah yang bercucuran keluar ternyata darah hitam.

Terbelalak lebar sepasang mata Kwik Tay-lok menyaksikan ke semuanya itu.

Mimpipun dia tidak menyangka kalau gerakan tangan Yan Jit begitu cepatnya sehingga sukar diikuti dengan pandangan mata.

"Aku sudah pernah mati tujuh kali !"
 
Hingga sekarang, Kwik Tay-lok baru percaya bahwa ucapan dari Yan Jit itu tidak bohong.

Hanya orang yang pernah mati sebanyak tujuh kali akan memiliki kecepatan reaksi sehebat itu dan pengalaman seluas itu.

Lim Tay-peng sudah merasa kesakitan setengah mati, peluh dinginpun telah jatuh bercucuran, tapi dia belum lupa unluk memeriksa kertas di tangannya itu.

Sambil menggigit bibir dan napas terengah-engah, katanya:

"Coba kau lihat tulisan apakah diatas kertas itu ?"

Diatas kertas itu tertera beberapa huruf yang kecil dan lembut : "Seandainya kau bukan Ong Tiong, maka kaulah setan sial yang akan menggantikannya untuk mampus!"

Angin masih berhembus lewat.

Orang-orangan itu bergoyang-goyang terhembus angin, seakan-akan merupakan suatu tantangan bagi mereka.

Mendadak Kwik Tay-lok naik pitam, tiba-tiba dia mengayunkan tinjunya menghantam orang- orangan itu.

Tentu saja orang-orangan tak bisa membalas, juga tak bisa menghindarkan diri.

Baru saja Kwik Tay lok mengayunkan tinjunya, Yan Jit segera merangkul pinggangnya, tinjunya tak sampai telak bersarang ditubuh orang-orangan itu, tapi toh kena juga.

Dikala bogem mentahnya mampir didada orang-orangan itu, tangannya segera merasa bagaikan digigit nyamuk pula.

Seketika itu juga kepalanya terasa gatal sekali, bahkan rada kaku rasanya, setitik warna hitam muncul pada ruas jari tengahnya....

Ketika Yan Jit mencukil dengan ujung pisaunya, darah berwarna hitam segera jatuh bercucuran.

Darah yang mengandung racun, bahkan terendus bau amis yang sangat memuakkan.

Tapi Yan Jit tidak takut bau, tidak takut kotor, dengan mulutnya dia hisap keluar semua darah beracun itu.

Air mata Kwik Tay-lok hampir saja jatuh bercucuran membasahi pipinya....

Mendadak dia merasakan bahwa Yan Jit terhadapnya bukan sikap seorang sahabat saja, bahkan semacam hubungan yang lebih dalam dari pada persahabatan, lebih akrab dan hangat dari pada sahabat biasa.

Tapi dia sendiripun tak dapat menerangkan perasaan yang bagaimanakah itu.

Hingga Yan Jit berdiri, dia masih tidak berbicara apa-apa, sepotong kata terima kasihpun tidak.

Bukan berarti dia tidak merasa berterima kasih, rasa terima kasihnya waktu itu pada hakekatnya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
 
Yan Jit menghembuskan napas panjang, kemudian pelan-pelan berkata: "Sekarang, bagaimana rasamu?"


Kwik Tay-lok tertawa getir.

"Aku merasa diriku adalah seorang tolol, seratus persen seorang manusia tolol!"

Lim Tay-peng menatap mereka terus menerus, mendadak dia menghela napas dan bergumam:

"Yaa, kau memang tolol sekali !"

Air mukanya jauh lebih menarik dari pada tadi, cuma kakinya sama sekali tak mampu berkutik.

Yan Jit sama sekali tidak menghisapkan darah beracun dari mulut lukanya, tapi dia sama sekali tidak bermaksud untuk menggerutu, apa lagi tak senang hati, seakan-akan hal tersebut sudah merupakan sesuatu yang wajar.

Apakah dia telah melihat sesuatu ? Menemukan sesuatu rahasia yang tak dapat dilihat oleh Kwik Tay-lok ?

Paras muka Yan Jit tampak agak memerah, tapi dengan cepat dia melengos ke samping, kemudian menggunakan pisaunya mencongkel baju dari orang orangan itu...

Sekarang Kwik Tay lok baru melihat bahwa seluruh badan orang-orangan itu penuh berisikan jarum-jarum tajam, dibawah teriknya matahari, ujung-ujung jarum itu kelihatan bersinar gelap dan berkilap, sekalipun orang dungu juga tahu kalau setiap batang jarum itu sangat beracun dan mematikan.

Tadi, seandainya Yan Jit tidak menariknya, dan bila kepalan tersebut menghajar telak badan orang-orangan itu sekalipun jiwanya masih bisa diselamatkan, paling tidak tangannya juga bakal musnah. Sekarang, tentu saja Lim Tay-peng juga mengerti bahwa kertas surat itu merupakan
kunci tombol untuk menggerakkan semua alat rahasia dari orang-orangan tersebut, bila kertasnya ditarik maka alat rahasia itupun ber jalan.

Dari atas sampai kebawah dari orang-orangan itu ternyata tersembunyi siasat busuk seperti itu, sesungguhnya kejadian ini sama sekali diluar dugaan siapapun.

Kwik Tay-lok menghembuskan napas panjang, katanya sambil tertawa geli:

"Sebuah orang-orangan ternyata mampu merobohkan dua orang manusia hidup, andaikata kejadian ini tidak kualami sendiri, siapapun yang bercerita aku juga tak akan percaya."

"Aaaai. kalau orang-orangnya saja sudah sedemikian lihaynya, bukankah itu berarti orang
yang membuat orang-orangan itu jauh lebih menakutkan lagi ?"

"Kalau tidak amat menakutkan, masa Ong lotoa bisa begitu terperanjatnya ?" Paras muka Yan Jit berubah memucat, serunya kemudian:
"Sekarang, orang-orangannya sudah muncul, entah mereka sendiri sudah datang belum?"
 
"Aaaah ! Mari kita masuk menengok Ong lotoa" teriak Lim Tay-peng, "jangan pedulikan aku, tanganku masih dapat bergerak."

Kwik Tay-lok tidak berkata apa-apa, dia hanya memayang tubuhnya dan menyeretnya masuk. Yan Jit telah menyerbu ke dalam sambil berteriak keras:
"Ong lotoa... Ong Tiong !"

Tiada jawaban, tiada suara barang sedikitpun jua. Ong Tiong telah lenyap tak berbekas!
Selimut diatas ranjangnya Ong Tiong tidak berada diatas ranjangnya, juga tak ada dalam rumah.

Kwik Tay-lok sekalian sudah mencarinya dari depan sampai belakang, namun tak berhasil menemukan orangnya.

Mereka semua cukup memahami watak Ong Tiong. Persoalan yang bisa membuat Ong Tiong bangun dari ranjangnya sudah tidak banyak, apalagi menyuruhnya pergi sendirian.

"Jangan-jangan disini telah terjadi suatu peristiwa ? Dan Ong Tiong sudah "

Untuk berpikir lebih jauhpun Kwik Tay-lok tidak berani.

Lima Tay-peng berbaring diatas ranjangnya Ong Tiong, muka yang pucat sudah berubah menjadi merah karena gelisah, teriaknya keras-keras:

"Aku toh sudah bilang kepada kalian, tak usah urusi aku, cepat mencari Ong lotoa. "

Kwik Tay lok juga amat gelisah, teriaknya segera keras keras:

"Tentu saja harus dicari, tapi kau suruh kami pergi mencarinya ke mana. "

Lim Tay-peng tertegun.

Dia mencoba untuk menengok ke arah Yan Jit, tapi Yan Jit juga tertegun.

Sekarang, dua diantara mereka sudah terluka, tapi siapakah musuhnya hingga kini masih belum diketahui.

Malahan setitik cahaya terangpun tidak di temukan. Sekarang, mereka hanya mengetahui akan satu hal.
Orang-orang itu sudah pasti punya dendam dengan Ong Tiong, bahkan dendam itu lebih dalam dari lautan.

Tapi, sekalipun sudah tahu apalah gunanya ? Pada hahekatnya sama halnya dengan tidak tahu.

Pada saat itulah mendadak mereka mendengar suara langkah kaki diatas beranda. Langkah kaki itu pelan dan sangat lambat.
 
Hampir saja tersirat darah panas dalam tubuh Kwik Tay-lok, jantung mereka serasa berhenti berdetak.

Yang datang bukan orang-orangan. Orang orangan tak mungkin bisa berjalan.

Yan Jit memberi tanda kepada Kwik Tay-lok dengan kerlingan mata, kedua orang itu segera menyelinap ke samping dan bersembunyi dibelakang pintu.

Suara langkah kaki itu kian lama kian mendekat, akhirnya berhenti didepan pintu. Yan Jit sudah menyiapkan pisau belatinya yang siap diayunkan setiap saat.
Pintu pelan-pelan dibuka orang tangan seseorang pun mendorong pintu.

Yan Jit membalikkan badannya, secepat kilat pisau belatinya diayunkan ke depan siap membabat urat nadi orang itu.

"Tahan!" tiba-tiba Lim Tay-peng membentak. 00000000000


Bentakan begitu menggelegar, Yan Jit segera menghentikan gerakan tangannya ditengah jalan, mata pisau tinggal setengah inci saja dari urat nadi dipergelangan tangan orang itu.

Tapi tangan itu masih tetap tenang, masih melanjutkan gerakannya pelan-pelan membuka pintu.

Tangan itu seolah-olah berurat kawat yang terbuat dari baja murni.....

Pintu sudah dibuka, Ong Tiong pelan-pelan berjalan masuk ke dalam, tangannya yang lain membawa sebuah guci arak.

Mata pisau ditangan Yan Jit masih berkilauan tajam.

Lim Tay-peng masih berbaring diatas ranjang, siapapun tahu kalau dia sedang menderita luka.

Tapi Ong Tiong seolah-olah tidak melihat apa-apa, wajahnya masih tanpa emosi. Seolah-olah seluruh badan orang ini terbuat dari baja murni.

Pelan-pelan dia berjalan masuk, pelan-pelan meletakkan araknya diatas meja.

Orang pertama yang tak mampu mengendalikan diri adalah Kwik Tay-lok, dengan suara keras dia bertanya:

"Kau pergi kemana ?"

"Pergi membeli arak !" jawab Ong Tiong hambar.

Jawabannya amat santai dan biasa, seakan-akan apa yang dilakukan adalah sesuatu yang wajar.

"Pergi membeli arak ?" ternyata dalam keadaan beginipun dia masih sempat meluangkan waktu untuk membeli arak ?
 
Kwik Tay lok memandangnya dengan terbelalak, hampir boleh dibilang ia dibikin tertawa tak bisa, menangispun tak dapat.

Sekali tepuk Ong Tiong membuka penutup guci arak tersebut, diendusnya sebentar, kemudian tampaknya ia merasa puas sekali, sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibirnya.

"Lumayan juga arak ini, mari kita masing-masing meneguk dua cawan arak. !"

"Sekarang aku tak ingin minum!" kata Kwik Tay-fok tak tahan.

"Tidak inginpun harus minum, pokoknya kalian harus minum arak ini barang dua cawan." "Mengapa?"
"Sebab inilah arak perpisahan untuk kalian dengan diriku."

"Perpisahan! Kenapa harus memberi salam perpisahan kepada kami?" jerit Kwik Tay-lok. "Karena sebentar lagi kalian akan berangkat meninggalkan tempat ini. "
Kwik Tay-lok segera melompat bangun, teriaknya keras-keras:

"Siapa yang bilang kalau kami akan pergi ?" "Aku yang bilang."
"Tapi kami toh tak ingin pergi !" teriak Yan Jit.

Sambil menarik muka Ong Tiong berkata dengan dingin:

"Tidak ingin pergi juga harus pergi, apakah kalian ingin tinggal disini sepanjang hidup?"

Yan Jit memandang ke arah Kwik Tay-lok, Kwik Tay-lok segera mengerdipkan matanya, lalu sahutnya sambil tertawa:
"Tepat sekali jawabanmu, kami memang ingin berdiam terus disini sepanjang jaman!" "Selama tinggal disini, pernahkah kalian membayar uang sewa?" seru Ong Tiong dengan
wajah hijau membesi. "Belum pernah."
"Akukah yang suruh kalian pindah kemari ?" "Bukan, kami yang datang sendiri."
Ong Tiong segera tertawa dingin.

"Heeehhh.... heeehhhh...... heeehhh kalau memang begitu, atas dasar apa kalian tak mau
pergi dari sini?"

"Baik, pergi yaa pergi !" tiba-tiba Yan Jit berseru.

Begitu bilang akan pergi dia lantas pergi, cuma sewaktu lewat dihadapan Kwik Tay-dok, dia segera mengerdipkan matanya.
 
Kwik Tay-lok memutar biji matanya, lalu berseru pula:

"Betul, pergi yaa pergi, apanya yang luar biasa."

Ternyata dia bilang pergi lantas pergi, seakan-akan sedetikpun sudah tidak tahan lagi. Lim Tay-peng yang menyaksikan kejadian itu menjadi tertegun, serunya kemudian: "Hei, apakah minum arakpun tidak kalian tunggu?"
"Kalau memang sudah diusir, masa punya muka untuk minum arak lagi. ?" jawab Kwik Tay-
lok.

Lim Tay-peng segera berpaling dan memandang ke arah Ong Tiong.

Paras muka Ong Tiong masih sama sekali tidak berperasaan, katanya dengan dingin: "Tidak minum yaa tidak minum, memangnya kalau arak ini disimpan lantas bakal busuk?" "Bagaimana kalau aku tinggal disini saja?" Aku tak mampu berjalan lagi. !"
"Tak mampu berjalan memangnya tak bisa merangkak ?" tukas Ong Tiong sambil menarik muka.

Lim Tay-peng tertegun beberapa saat lamanya, akhirnya dia menghela napas panjang kemudian dengan terpincang-pincang turut mereka keluar dari situ.

Ong Tiong masih berdiri disitu, memandang mereka dengan pandangan dingin, tubuhnya sama sekali tak berkutik.

Lewat beberapa saat kemudian terdengar. "Blaam!" entah siapa yang melakukannya, tahu-
tahu pintu gerbang dibanting keras-keras hingga tertutup.



Mendadak Ong Tiong menyambar guci arak dimeja lalu meneguknya tujuh delapan tegukan baru berhenti, kemudian sambil menyeka mulut gumamnya lirih:

"Arak bagus, arak wangi, ternyata ada juga manusia yang enggan minum arak wangi seperti ini, kalau bukan orang tolol, apa pula namanya.."

Memandang guci arak yang berada di tangannya, sepasang mata yang dingin itu mendadak berubah menjadi merah, seolah-olah sstiap saat kemungkinan besar air matanya akan jatuh bercucuran.

Tanpa berpaling Yan Jit berjalan keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba ia berhenti. Kwik Tay-lok yang berjalan ke sisinya juga tiba-tiba berhenti.
Lim Tay-peng turun ke luar, "Blaaam !" ia membanting pintu itu keras-keras, lalu sambil mendelik ke arah mereka, teriaknya:

"Sungguh tak kusangka kalian mengatakan pergi lantas pergi !"
 
Kwik Tay-lok memandang ke arah Yan Jit, Yan Jit tidak mengucapkan sepatah katapun, melainkan duduk di undak-undakan di luar pintu persis saling berhadapan dengan orang-orangan itu.
Kwik Tay-lok segera duduk pula sambil mengawasi orang-orangan itu, kemudian gumamnya: "Setiap tahun tentu ada kejadian aneh, tapi tahun ini paling banyak, bukan saja orang-orangan
bisa main layang-layang juga pandai membunuh orang, coba katakan aneh tidak ?" "Aneh !" jawab Lim Tay-peng.
Dia pun telah duduk, tangannya yang sebelah masih memegangi mulut lukanya kencang- kencang.

Sekarang ia sudah memahami maksud Yan Jit dan Kwik Tay-lok, maka diapun tidak berkata apa apa lagi.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya terdengar suara langkah kaki Ong Tiong pelan-pelan berjalan keluar, menyeberangi halaman dan menuju kepintu gerbang, kemudian memalang pintu itu dari dalam.

Mendadak palang pintu itu dicabut kembali, kemudian pintu gerbangpun dibuka lebar-lebar.

Ong Tiong berdiri didepan pintu, memandang kearah mereka dengan sepasang mata terbelalak lebar-lebar.

Yan Jit, Kwik Tay-lok, Lim Tay-peng tiga orang rekannya itu duduk diluar pintu seorangpun tak ada yang berpaling.

Ong Tiong tak kuasa menahan diri, segera teriaknya keras-keras: "Kenapa kalian belum pergi ? Mau apa kalian duduk disini ?"
Tak seorangpun diantara mereka bertiga yang memperdulikan dirinya. Yan Jit hanya melirik sekejap kearah Kwik Tay-lok, lalu bertanya: "Melanggar hukumkah jika kita duduk disini ?"
"Tidak !"

"Yaa, orang-orangan saja boleh duduk di sini, kenapa kita tak boleh. ?" sambung Lim Tay-
peng.

Dengan suara keras Ong Tiong segera berteriak kembali:

"Tempat ini adalah pintu gerbang rumahku, kalau kalian duduk disitu, berarti telah menghalangi jalan pergiku!"

Kembali Yan Jit melirik sekejap kearah Kwik Tay-lok, lalu katanya: "Orang bilang kita menghalangi jalan lewatnya !"
"Kalau begitu mari kita duduk bergeser kesamping, sedikit !" kata Kwik Tay-lok.
 
Tiga orang itu segera bangkit berdiri lalu pindah ke seberang sana, dengan duduk berjajar, kali ini mereka duduk menghadap ke pintu gerbang rumah.

"Boleh tidak kita duduk di sini ?" tanya Yan Jit kemudian.

"Kenapa tidak" sahut Kwik Tay-lok, "tempat ini toh bukan tempat orang, juga tidak menghalangi jalan lewat orang."

"Betul" sambung Lim Tay-peng.. "Siapa yang suka duduk di sini, dia boleh duduk seenaknya di sini."

"Lagi pula suka duduk berapa lama, dia boleh duduk berapa lama pula." Yan Jit menambahkan.

Ong Tiong semakin mendelik ke arah mereka.

Tapi ketiga orang itu menengok ke sana ke mari, tak seorangpun yang memandang ke arah Ong Tiong.

Dengan suara keras kembali Ong Tiong berteriak: "Kalian mau apa duduk disitu ?"
"Mau apa? Apapun tidak kami lakukan, kami cuma ingin duduk-duduk saja. " kata Kwik Tay-
lok.

"Yaa, kami senang duduk disini, kamipun duduk disini, tak ada orang yang biasa mengurusi kami."

"Tempat ini nyaman sekali." Lim Tay-peng berkata. "Mana nyaman, segar lagi !" Yan Jit menimbrung.
"Lagi pula tak bakal ada orang yang akan memungut uang sewa kepada kita"

Mendadak Ong Tiong membalikkan badan dan masuk ke dalam, "Blaaam!" ia membanting pintu gerbang dan menutupnya rapat-rapat.

Yan Jit segera memandang ke arah Kwik Tay-lok, Kwik Tay-lok memandang kearah Lim Tay- peng, lalu ketiga-tiganya tertawa tergelak.

Walaupun tertawa, namun dibalik tertawa tampak wajah yang murung dan kesal.



Matahari telah tenggelam dibalik bukit.

Bagaimanapun juga musim semi memang belum waktunya tiba, terang hari masih terlalu pendek.

Begitu sang surya sudah tenggelam, cuaca pun berubah menjadi gelap gulita.

Bila cuaca mulai gelap, berarti segala sesuatu kemungkinan bakal terjadi, siapa pun tak tahu, siapa pun tak bisa menebak, peristiwa apakah yang bakal terjadi?
 
Diam-diam Yan Jit menarik tangan Kwik Tay-lok, kemudian tanyanya: "Bagaimana dengan lukamu ?"
"Tidak menjadi soal, seperti sediakala, mampu untuk menghajar orang..." "Dan kau ?" Yan Jit baru berpaling ke arah Lim Tay-peng.
"Mulut lukaku secara lamat-lamat sudah mulai terasa sakit." Yan Jit segera menghembuskan napas panjang.
"Kalau begitu sudah tidak berbahaya lagi." katanya.

Jika mulut luka yang terkena sambitan senjata rahasia beracun sudah mulai terasa sakit itu menandakan kalau sari racun sudah mulai bersih dari tubuh.

Kwik Tay-lok masih kurang lega, maka kembali dia bertanya:

"Hebatkah sakitnya ?" Lim Tay-peng tertawa:
"Masih mendingan, meskipun belum tentu bisa dipakai untuk melompati pagar, tapi masih bisa menghantam orang."

"Laparkah kalian ?" tanya Yan Jit lagi.

"Saking laparnya sampai ingin menelanmu hidup-hidup"

"Tapi dikala sedang lapar, kau pun masih mampu untuk menonjok hidung orang, betul bukan
?"

"Tepat sekali !"

Dengan cepat cuaca telah menjadi gelap.

Sikap dan perasaan ketiga orang itupun makin lama semakin menjadi tegang. Tapi sekarang mereka sudah mempunyai persiapan, siap untuk menghajar orang.
Kwik Tay-lok mengepal sepasang tinjunya kencang-kencang, dengan mata melotot besar serunya:

"Sekarang kita boleh dibilang siap sedia secara komplit dan menunggu datangnya angin timur
!"

"Apakah yang dimaksud angin timur itu?" tak tahan Lim Tay-peng bertanya. "Angin timur adalah orang yang hendak kita tonjok hidungnya !"
Pada saat itulah, dia telah menyaksikan seseorang. Seorang yang membopong seguci arak.
 
Tiba-tiba pintu gerbang terbuka lagi, sambil membopong guci arak Ong Tiong berjalan keluar.

Kali ini diapun memperdulikan mereka, sebaliknya duduk diatas undak-undakan pintu gerbangnya.

Empat orang duduk saling berhadapan, siapapun tak ada yang mulai berbicara.

Orang pertama yang tak kuasa menahan diri tentu saja masih tetap Kwik Tay-lok adanya. Dia menghela napas panjang, kemudian bergumam:
"Aku masih ingat, agaknya tadi ada orang yang hendak mengundang kami minum arak."

Ong Tiong tidak menjawab, juga tidak memandang kearahnya, tiba-tiba guci arak itu digelindingkan ke hadapannya.

Bila kau melemparkan sesuatu benda ke arah Kwik Tay-lok, mungkin saja ia tak mampu untuk menerimanya, tapi kalau guci arak...

Bila guci arak yang dilemparkan kepadanya, sekalipun selagi tidur, ia juga sanggup untuk menerimanya.

Dalam waktu singkat ia sudah meneguk beberapa tegukan diberikan kepada Yan Jit, Yan Jit meneguk kemudian diserahkan kepada Lim Tay-peng.

Mendadak Ong Tiong berkata:

"Orang yang sudah terluka masih ingin minum arak, itu berarti dia sudah bosan hidup." "Siapa bilang aku terluka? Aku tidak lebih cuma terpagut oleh binatang kecil." "Binatang apa?" tak tahan Ong Tiong kembali bertanya.
"Seekor kelabang kecil !"

Mendadak Ong Tiong merebut ke depan dan merampas guci arak itu kemudian dengan wajah hijau membesi serunya:

"Sebenarnya kalian hendak duduk sampai kapan disini ?" Kwik Tay-lok tidak sabar, teriaknya:
"Duduk sampai ada orang yang datang mencarimu." "Siapa bilang ada orang hendak mencariku ?" "Aku!"
"Dari mana kau bisa tahu ?"

"Orang-orangan itu yang memberitahukan kepadaku."

Diliriknya Ong Tiong sekejap dengan ekor matanya, kemudian melanjutkan sambil tertawa:
 
"Orang-orangan ini selain bisa main layang-layang, juga pandai berbicara, coba kau katakan lucu tidak?"

Mendadak paras muka Ong Tiong berubah hebat, pelan-pelan ia mundur kembali ke undak- undakan batu didepan pintu gerbangnya.

Suasana disekeliling tempat itu amat sunyi, hanya arak dalam guci yang masih kedengaran berbunyi.

Tiba-tiba Yan Jit berkata:



"Hei, coba dengar ! Arak didalam guci pun pandai berbicara, sudah kalian dengar belum?" "Apa yang dia katakan!" tanya kwik Tay- lok.
"Dia bilang ada tangan seseorang sedang gemetar, bahkan gemetar sampai kepalanya ikut pusing."

Mendadak Ong Tiong melompat bangun lalu mendelik ke arahnya.

Tapi ia tidak ambil perduli, menengok ke arah Ong Tiong pun tidak. Mereka bertiga masih celingukan kesana kemari, memandang ke semua tempat kecuali ke arah Ong Tiong.

Mendadak meluncur datang setitik cahaya api dan tepat menghajar telak di atas tubuh orang- orangan yang pertama.

"Bluuuummm. !" orang-orangan itu segera terbakar hebat.

Dibalik cahaya api yang menjilat-jilat tampak warna hijau yang membawa bau aneh tersiar ke mana-mana.

Paras muka Ong Tiong segera berubah hebat, teriaknya tiba-tiba: "Cepat mundur, mundur ke dalam rumah"
Dia melemparkan guci arak itu ke arah Kwik Tay-lok, kemudian membalikkan badan membopong Lim Tay-peng dan menyerbu masuk ke dalam pintu gerbang.

Ong Tiong akhirnya bergerak juga.

Bila sedang tidak bergerak ia tampak malas, tapi begitu bergerak ternyata jauh lebih cepat dari siapapun.

Kwik Tay-lok juga bergerak, dia letakkan dulu guci arak itu kemudian baru bergerak.

Karena dia tidak mundur ke arah rumah, sebaliknya menerjang ke arah mana berasalnya cahaya api itu.

Begitu dia menubruk ke sana, tentu saja Yan Jit juga mengikuti dibelakangnya. 0ng Tiong segera berteriak keras:
"Cepat mundur kembali, tempat itu tak boleh didatangi ?"
 
Kwik Tay-lok tidak menggubris, seakan-akan secara tiba-tiba berubah menjadi orang tuli. Ia tidak mendengar, tentu saja Yan Jit juga tidak mendengar.
Lim Tay-peng segera menghela napas panjang, katanya:

"Orang ini tampaknya paling suka pergi ketempat yang tak boleh dikunjungi, sekarang apakah kau masih belum paham dengan penyakitnya itu. "

Jika sebuah gedung, rumah bisa disebut orang sebagai ""perkampungan," paling tidak dia harus mempunyai beberapa syarat yang harus terpenuhi dulu.

Rumah itu pasti tidak terlampau kecil.

Sekalipun rumah itu tidak didirikan di atas bukit, paling tidak harus berada di kaki gunung. Di luar gedung tersebut, besar atau kecil harus terdapat sebidang hutan yang rimbun.
Meskipun Hok-kui-san-ceng sedikitpun tidak kaya raya, paling tidak masih termasuk juga sebuah "san-ceng" (perkampungan).

Oleh karena itu, diluar gedung juga terdapat sebuah hutan, dari hutan itulah cahaya api tadi dibidikan.

Dengan suara dalam Kwik Tay-lok, berseru:

"Apakah titik api itu dibidikan dari belakang pohon tersebut?" "Aku tidak melihat jelas" jawab Yan Jit "dan kau ?"
"Aku juga tidak terlalu jelas."

Cuaca memang sudah gelap, hutan itu tampak lebih gelap lagi, tidak nampak bayangan manusia, juga tidak kedengaran sedikit suarapun.

Kembali Yan Jit berkata:
"Aku rasa lebih baik kita kembali dulu untuk merundingkan persoalan ini dengan Ong lotoa." "Orang lain enggan berunding dengan kita, mau apa kita berunding dengannya ? Berunding
soal kentut ?"

Jika ia sudah mulai mengeluarkan kata-kata kotor, itu menandakan kalau hawa amarahnya sudah mulai berkobar.

"Bila bertemu hutan jangan masuk. Apakah peraturan dunia persilatan inipun tidak kau pahami
?"

"Aku tidak paham. Aku memangnya bukan jago kawakan, segala macam peraturan dunia persilan tak sebuahpun yang kupahami."

Mendadak tubuhnya menerjang kedepan, langsung menerjang masuk kedalam hutan. . Dari dalam hutan itu seakan-akan ada cahaya tajam yang berkilauan.
 
Sebelum mata Kwik Tay lok melihat jelas, tubuhnya sudah menerjang ke dalam. Kemudian diapun menyaksikan sebilah pisau.
Sebilah pisau untuk memotong daging.

Pisau itu menancap di atas pohon, memantek secarik kertas.

Di atas kertas itu tentu saja ada tulisannya, tapi tulisan itu lembut sekali, sekalipun berada ditengah hari yang terang benderang juga belum tentu bisa melihatnya dengan jelas.

Baru saja Kwik Tay-lok hendak mencabut pisau itu, Yan Jit telah menariknya. Dengan wajah pucat pias Yan Jit melotot sekejap ke arahnya, kemudian menegur: "Kau toh sudah tertipu satu kali, apakah sekarang ingin tertipu untuk kedua kalinya ?" Dia gelisah dan jengkel, sebaliknya Kwik Tay-lok malah tertawa tergelak:
"Hei, apa yang kau tertawakan ?" Yan Jit segera menegur. "Aku sedang mentertawakan kau !"
"Tertawa kentutmu!"

Jika dia sudah turut sertakan kata kotor dalam makiannya, itu menandakan kalau ia sudah jengkelnya setengah mati.

Kwik Tay-lok tidak tertawa lagi, katanya dengan bersungguh-sungguh:

"Sekalipun mereka masih menginginkan aku tertipu, pasti cara lain yang lebih segar yang akan dipakai, kenapa musti mengulangi lagi dengan cara itu, memangnya mereka anggap aku ini seorang bego yang tololnya bukan kepalang ?"

"Kau anggap kamu ini bukan bego ?" teriak Yan Jit sambil menarik mukanya. Kwik Tay-lok menghela napas panjang lalu tertawa getir.
"Baik!" katanya, "kau suruh aku tidak turun tangan, akupun tak akan turun tangan, tapi maju mendekat toh tidak menjadi soal bukan ?"

Ternyata ia benar-benar menggendong tangan sambil maju kedepan.

Tangan tidak bergerak, kalau cuma memandang dengan mata tentunya tak menjadi soal.

Tapi huruf diatas kertas itu benar-benar terlalu kecil, mau tak mau terpaksa dia harus maju lagi lebih mendekat.