Pendekar Riang Jilid 11

 
Jilid 11

"WALAUPUN kita sudah beberapa hari tidak makan kenyang, tapi kita toh bisa bertahan sampai sekarang."

"Siapapun tak bisa mengakui kalau tulang kita jauh lebih keras daripada tulang orang lain" kata Kwik Tay Lok sambil membusungkan dada.
 
"Yaa, makanya asal kita bisa bertahan terus suatu ketika kita pasti akan menjumpai kesempatan baik."

Wajah Kwik Tay-lok berseri sahutnya:

"Benar, kini musim dingin sudah datang, memangnya musim semi masih jauh?"

"Asal kita dapat bertahan sampai saat itu, kita masih tetap bisa bertemu orang dengan kepala terangkat, sebab kita tak melakukan sesuatu yang memalukan kepada orang lain, juga terhadap diri sendiri."

Lim Tay-peng kelihatan ragu-ragu, akhirnya tak tahan ia bertanya: "Apakah kita dapat bertahan sampai waktu itu ?"
"Tentu saja bisa !" jawab Kwik Tay-lok cepat.

Ia berjalan ke depan dan merangkul bahu Lim Tay-peng, lanjutnya sambil tertawa: "Sebab walaupun kita tak punya apa-apa, paling tidak kita masih punya teman."
Lim Tay-peng memandang ke arahnya, mendadak dari dalam hatinya muncul setitik kehangatan.

Tiba-tiba saja ia merasa memiliki suatu keberanian yang cukup besar.

Bagaimanapun besarnya kesulitan, bagaimanapun dinginnya udara, dia tak ambil perduli. Tiba-tiba ia melompat bangun dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sampai malam dia baru pulang, ketika muncul kembali dalam ruangan itu, di tangannya telah bertambah dengan sebuah bungkusan besar.

Sambil mengangkat bungkusan itu tinggi-tinggi, serunya sambil tertawa: "Coba kalian tebak, apa yang kubawa ini?"
"Apa bukan bak-pao ?" tanya Kwik Tay-lok sambil mengerdipkan matanya. "Tepat sekali jawabanmu." seru Lim Tay-peng sambil tertawa.
Betul juga, isi bungkusan itu adalah bak-pao.

Empat biji bak-pao besar, dalam setiap bak-pao tersebut masih terselip sepotong daging besar.

"Hidup Lim Tay-peng. !" sorak Kwik Tay-lok kegirangan.

Diambilnya sebiji bak-pao, lalu katanya lagi sambil tertawa:

"Aku sungguh merasa amat kagum, sekarang walaupun kau hendak membunuh akupun aku tak bisa mendapatkan setengah potong bak-pao."

Yan Jit menatap Lim Tay-peng lekat-lekat, lalu katanya:
 
"Tentunya bak-pao ini bukan didapat dari menyulap bukan?"

"Mungkin datang dari langit." sahut Lim Tay-peng sambil tertawa, ia mengambil sebiji dan diberikan kepada Ong Tiong.

Dengan cepat Ong Tiong menggeleng. "Aku tak mau!" katanya.
"Kenapa ?"

"Aaai... sebab aku tak tega makan pakaianmu !" jawab Ong Tiong sambil menghela napas. Kwik Tay-lok baru menggigit secuwil, ketika mendengar kata-kata tersebut ia menjadi tertegun.
Sekarang ia baru menemukan bahwa pakaian yang dikenakan Lim Tay-peng telah berkurang satu stel. pakaian yang tertebal.

Pakaian yang dikenakan Lim Tay-peng dasarnya memang tidak banyak. sekarang bibirnya
telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

Tapi sekulum senyuman masih menghiasi bibirnya, dia berkata:

"Benar, aku memang sudah menggadaikan pakaianku untuk ditukar dengan empat biji bakpao.
Karena aku amat lapar, bila seseorang sedang lapar, tidak salah bukan untuk menggadaikan pakaian sendiri untuk ditukar dengan pengisi perut."

"Kalau memang begitu, seharusnya kau makan dulu bakpao-bakpaomu itu sebelum pulang dari pada kami.



"Aku tidak bersembunyi sambil makan sendiri karena aku ini orangnya terlalu mementingkan diri sendiri ?"

"Mementingkan diri sendiri ?"

"Yaa, aku selalu merasa makan berempat jauh lebih enak daripada makan sendirian" Inilah yang dinamakan teman.
Bila sedang susah mereka menanggulanginya bersama, bila sedang senang merekapun mencicipinya bersama.

Bila seseorang bisa mempunyai teman seperti ini, miskin sedikitpun tidak mengapa, dingin sedikitpun apa salahnya ?

Pelan-pelan Kwik Tay-lok mengunyah bakpao itu, kemudian sambil tertawa katanya: "Terus terang kukatakan, selama hidup belum pernah aku makan makanan seenak ini!"
"Ucapanmu itu tidak jujur." seru Lim Tay-peng sambil tertawa, "yang kau makan sekarang toh tidak lebih cuma sebiji bakpao yang sudah dingin"
 
"Walaupun cuma sebiji bakpao dingin, tapi walaupun ada orang hendak menukar bakpao ini dengan hidangan yang lezatpun aku juga tidak mau"

Sepasang mata Lim Tay-peng tampak memerah seperti mau menangis, ditangkapnya tangan Kwik Tay-lok dan digenggamnya erat-erat, serunya:

"Sesudah mendengar perkataanmu itu, akupun mulai merasa bahwa bakpao ini memang enak sekali."

Ada sementara perkataan memang menyerupai suatu mantera yang hebat, bukan saja dapat merubah makanan yang tak enak menjadi hidangan terlezat, bisa membuat udara yang dingin menjadi hangat, juga dapat membuat orang yang sudah layu menjadi berseri kembali.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

"Sayang aku tidak mempunyai baju bagus, bajuku ini terlampau jelek." "Pakaian yang jelekpun bukan sesuatu yang memalukan."
"Aaaaaai.... sayang si penyayat kulit itu ogah dengan bajuku ini, kalau tidak..."

"Kalau tidak kau akan menggadaikannya untuk ditukar dengan arak bukan ?" sambung Yan Jit sambil tertawa.

"Tepat sekali." sahut Kwik Tay-lok sambil tertawa. Tiba-tiba Yan Jit bangkit berdiri dan berjalan keluar.
"Tidak usah dicoba lagi, pakaianmu jauh lebih buruk dari pada pakaianku." Teriak Kwik Tay-
lok.

Yan Jit tidak menggubris teriakannya, ia pergi dengan cepat dan kembali lagi dengan cepat. Ketika ia kembali lagi, di tangannya membawa sepoci air.
"Orang bilang kalau ada tamu ditengah malam, air teh bisa dianggap sebagai arak, kalau toh teh bisa dianggap arak, kenapa tidak dengan air ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa:

"Sungguh tak kusangka kau juga tahu akan seni." Yan Jit turut tertawa.
"Jika seorang jatuh miskin, ingin tidak senipun tak bisa." Bagaimanapun juga arak, dan air memang ada bedanya.
Kalau arak, semakin diminum akan semakin panas, sebaliknya kalau air semakin diminum akan semakin dingin.

Apalagi kalau di udara sedingin ini minum air dingin.

Mendadak Kwik Tay-lok bangkit berdiri, kemudian ia mulai bersalto.
 
"Mau apa kau ?" tegur Yan Jit sambil tertawa.

"Aku sudah mempunyai pengalaman, bila badan digerakkan maka akan menimbulkan panas, mengapa kalian tidak menirukan aku?"

Yan Jit segera menggeleng.

"Karena akupun mempunyai pengalaman, semakin banyak bergerak, semakin cepat menjadi lapar." Kwik Tay-lok tertawa.

"Terlalu banyak yang kau pikirkan" serunya, "asal sekarang tidak kedinginan, buat. "

Ucapan itu tak pernah diselesaikan.

Mendadak ia menyaksikan ada sebuah benda terjatuh dari sakunya.

Itulah sebuah benda yang berwarna emas, sebatang emas murni yang amat berat. Emas itu bukan jatuh dari atas langit, melainkan terjatuh dari dalam saku Kwik Tay-lok.
Waktu itu dia baru mulai melakukan salto yang keenam, ketika kepalanya berada di bawah kakinya ada diatas, emas itu terjatuh dari dalam sakunya.



"Traanggg. !" emas itu segera menggeletak di atas tanah. Bila emas yang terjatuh di tanah
bisa menimbulkan suara gemerincing, hal ini menandakan kalau emas itu berat sekali bobotnya.

Sesungguhnya benda itu memang merupakan sebuah rantai emas yang amat besar, rantai dengan sebuah leontin berbentuk hati.

Hati-hatian itu besarnya paling tidak dua kali hati ayam, mana besar, berat lagi.

Seseorang yang sudah beberapa hari tidak makan, ternyata dari sakunya ditemukan emas seberat itu, sesungguhnya kejadian ini sama sekali tidak masuk di akal.

Tapi Ong Tiong sekalian mau tak mau harus mempercayainya, sebab mereka bertiga telah menyaksikannya dengan jelas sekali.

Mereka hanya berharap bahwa dirinya tidak melihat kejadian itu.

Mereka benar-benar tak mau percaya bahwa apa yang dilihat adalah suatu kenyataan.

Lim Tay-peng saja telah menggadaikan baju hangatnya, masa Kwik Tay-lok masih menyimpan emas sebesar ini.

Seseorang yang menyimpan rantai emas seberat gajah, tapi di depan teman-temannya berlagak miskin, malah begitu mirip lagaknya, teman macam apakah itu?

Mereka benar-benar tak ingin mempercayai bahwa Kwik Tay-lok adalah seorang teman semacam ini.

Tiba-tiba Ong Tiong menguap, lalu gumamnya:

"Bila seseorang sudah kenyang, kenapa mata selalu menjadi berat dan ingin sekali tidur?"
 
Ia berangkat untuk tidur, ketika lewat di hadapan Kwik Tay-lok ternyata ia seperti tidak melihat ada rantai emas seberat itu tergeletak di lantai, juga tidak melihat bahwa Kwik Tay-lok berada di situ.

Lim Tay-peng menguap pula, lantas bergumam:

"Udara begini dingin, tempat mana lagi yang tidak lebih nyaman daripada didalam selimut." Diapun pergi tidur, seakan-akan tak pernah menyaksikan apa-apa.
Cuma Yan Jit seorang masih duduk di situ, duduk sambil termangu-mangu.

Lewat lama sekali, kaki Kwik Tay-lok baru diturunkan dari udara, kemudian pelan-pelan bangkit berdiri.

Tubuhnya kelihatan seperti susah berdiri tegap lagi.

Langit tiada berbintang, tiada rembulan, di sana cuma ada sebuah lentera.

Sebuah lentera yang amat kecil, karena sisa minyak yang adapun tinggal tak banyak.

Tapi rantai emas tersebut kelihatan berkilauan, meski tertimpa sinar lampu yang amat sedikit. Kwik Tay-lok menundukkan kepalanya memandang ke arah rantai emas itu, lalu gumamnya:
"Heran, mengapa ditempat yang bagaimana gelappun, emas selalu memancarkan cahaya terang ?"

"Mungkin disinilah kegunaan dari emas" sahut Yan Jit hambar, "kalau tidak mengapa di dunia ini begitu banyak terdapat orang yang lebih memberatkan emas daripada teman."

Sekali lagi Kwik Tay-lok tertegun untuk beberapa saat lamanya, mendadak ia mendongakkan kepalanya sambil bertanya:

"Mengapa kau tidak pergi tidur ?" "Aku masih menunggu." "Menunggu apa ?"
"Menunggu penjelasanmu !"

"Aku tidak mempunyai penjelasan apa-apa, bila kalian menganggap aku sebagai manusia macam begitu, akupun manusia macam itu!" teriak Kwik Tay-lok dengan suara keras.

Yan Jit menatapnya tajam-tajam, lewat lama, lama sekali, pelan-pelan ia baru bangkit berdiri, kemudian pelan-pelan berlalu dari dalam ruangan tersebut.

Kwik Tay-lok tidak memperhatikan dirinya lagi.

Angin yang berhembus di luar ruangan sangat kencang, udara terasa dingin sekali.

Minyak lampu sudah hampir kering, ketika segulung angin berhembus lewat dan memadamkan cahaya lentera tersebut.
 
Meskipun suasana dalam ruangan itu berubah menjadi gelap gulita, ternyata emas itu masih memancarkan cahaya berkilauan.

Kwik Tay-lok menundukkan kepalanya memperhatikan rantai emas tersebut, entah berapa lama kembali lewat, akhirnya ia baru membungkukkan badan dan memungut kembali rantai emas tersebut.



Ketika memegang rantai emas tersebut di tangannya, tiba-tiba titik air mata jatuh berlinang membasahi telapak tangannya itu.

Rantai emas itu dingin, tapi air mata itu panas....

Tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut dan akhirnya menangis, dia berusaha keras untuk menahan isak tangisnya agar tidak sampai terdengar orang lain.

Sebab dia tak ingin orang lain mendengar isak tangisnya itu.

Inilah rahasianya, juga merupakan penderitaannya yang terbesar dalam sejarah hidupnya, dia tak ingin orang lain mengetahui rahasia ini, juga tak ingin menyaksikan orang lain ikut memikul penderitaannya itu.

Oleh sebab itulah tak pernah ada yang tahu berapa dalamkah penderitaannya itu, dan berapa dalam membekas dalam hatinya.

Sekalipun peristiwa itu sudah usang, sudah terjadi lama sekali, tapi tiap kali teringatnya, ia akan merasakan hatinya hancur lebur.

Ia tahu sepanjang hidupnya penderitaan tersebut akan selalu menempel di tubuhnya, sampai matipun tak akan terselesaikan.

Kejadian yang barusan dialamipun cukup menyiksa perasaannya. Sesungguhnya ia lebih suka mati daripada kehilangan sahabat-sahabatnya itu.
Tapi ia tidak memberi penjelasan apa-apa, sebab dia tahu mereka tak akan memaafkan dirinya, karena dia sendiripun tak dapat memaafkan dirinya sendiri.

Mungkin di dunia ini terdapat semacam penderitaan yang benar-benar menyiksa, yaitu penderitaan yang tak bisa disampaikan kepada orang lain.

"Aku tak bisa berbicara..... aku tak bisa mengatakannya. "

"Mengapa aku masih punya muka untuk tetap tinggal di sini?"

Angin yang berhembus di luar ruangan semakin kencang, udara semakin dingin, sambil menggigit bibir dia menyeka air matanya lalu bangkit berdiri, bagaimanapun keji dan tidak berperasaannya dunia luar, ia telah bersiap sedia untuk menerima dan merasakannya sendiri.

Ia telah melakukan kesalahan, tentu saja dia harus menanggungnya, tapi dia enggan memberi penjelasan, apalagi minta maaf.

Sekalipun di depan temannya, dia juga enggan.
 
Tapi Thian tahu, sesungguhnya dia menganggap sahabat lebih berharga daripada nyawa sendiri.

"Selamat tinggal teman-temanku, suatu hari kalian pasti akan memahami diriku. Sampai waktu itu kami masih tetap sebagai teman, tapi sekarang. "

Air matanya tak terbendung lagi dan jatuh bercucuran bagaikan sebuah anak sungai.

Ketika dia mengangkat tangannya hendak menyeka air mata di wajahnya, tiba-tiba ia melihat Yan Jit.

Bukan cuma Yan Jit saja, diapun melihat Ong Tiong serta Lim Tay-peng.

Entah sedari kapan mereka telah masuk kembali ke dalam ruangan itu dan berdiri di sana dengan tenang dan memandang ke arahnya dengan tenang.

Ia tidak melihat mimik wajah mereka bertiga, tapi dia dapat menangkap tiga pasang sinar mata yang jeli.

Diapun berharap agar mereka jangan melihat wajahnya, bekas air mata di atas wajahnya. Dia mendehem pelan, kemudian tegurnya:
"Bukankah kalian hendak pergi tidur ?" "Kami tak bisa tidur !" jawab Lim Tay-peng. Kwik Tay-lok tertawa paksa, katanya lagi:
"Sekalipun tak bisa tidur, seharusnya berbaring dibalik selimut, dalam udara sedingin ini tempat mana lagi yang lebih enak daripada dibalik selimut ?"

"Ada !" kata Ong Tiong.

"Tempat ini jauh lebih nyaman daripada dibalik selimut." sambung Yan Jit lebih jauh. "Apanya yang enak dengan tempat ini ?"
"Hanya satu hal !" kata Ong Tiong lagi.

"Di sini ada teman, dibalik selimut tidak ada." sambung Yan Jit.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok merasakan munculnya segulung hawa panas dari hati kecilnya yang mana seakan-akan membuat tenggorokannya menjadi tersumbat.

Lewat lama, lama sekali, dia baru bisa berbicara lagi, dengan kepala tertunduk katanya: "Disinipun tak ada teman, aku sudah tak pantas menjadi teman kalian lagi!"
"Siapa yang bilang" tanya Ong Tiong.



"Aku tidak bilang!" seru Yan Jit.
 
"Aku juga tidak!" sambung Lim Tay-peng.

"Kami semua datang kemari hanya ingin mengucapkan sepatah kata:

"Kaa. katakanlah" sahut Kwi Tay-lok sambil mengepal tangannya kencang-kencang.

"Kami semua dapat memahami dirimu dan percaya kepadamu, apapun yang telah terjadi, kau tetap adalah teman kami!"

Inilah yang dinamakan teman.

Mereka dapat membagikan kebahagiaannya kepadamu, merekapun bersedia memikulkan sebagian dari penderitaan-mu.

Bila kau ada kesulitan, mereka bersedia membantu. Bila kau ada bahaya, mereka bersedia menolong.
Sekalipun kau benar-benar melakukan kesalahan, mereka juga dapat mengerti. Berada di depan teman semacam ini rahasia apa lagi yang tak dapat kau utarakan. Angin masih berhembus kencang di luar ruangan, udara masih dingin sekali. . . . .
Suasana dalam ruangan itupun masih gelap gulita.

Tapi waktu itu yang mereka rasakan hanya kehangatan dan ketenangan. Sebab mereka tahu dirinya telah mempunyai teman, seorang teman yang sejati.

Dimana ada teman sejati, di situ ada kehangatan, di sana suasana terasa terang benderang. "Apapun yang bakal terjadi, kau adalah teman kami !"
Darah panas dalam tubuh Kwik Tay-lok terasa bagaikan sedang mendidih.

Sebenarnya, ia lebih suka mati dari pada mengucurkan airmata di depan mata orang lain, tapi sekarang air matanya sedang bercucuran dengan amat derasnya.

Sebenarnya dia lebih suka mati daripada mengungkapkan rahasia serta penderitaan yang terpendam dalam hatinya, tapi sekarang ia telah mengungkapkannya.

Tiada orang lain bisa membuatnya berbuat demikian selain sahabat sejati. Akhirnya dia menceritakan rahasianya...
Di desa kelahiran Kwik Tay-lok terdapat seorang gadis yang amat cantik jelita, dia bernama Cu
Cu.

Ia jatuh cinta kepada Cu cu dan Cu Cu juga jatuh cinta kepadanya.

Dengan tulus hati dan segala perasaannya dia mencintai Cu Cu, ia pernah berkata kepada gadis itu, ia bersedia mengorbankan segala-galanya, termasuk jiwa raganya demi cintanya kepada gadis itu.

Ia tidak seperti lelaki lain, hanya janji palsu atau ucapan di depan bibir saja.
 
Ia benar-benar sanggup melakukan seperti apa yang telah dia ucapkan itu.

Cu Cu amat miskin, tapi menanti sepasang orang tua Kwik Tay-lok sudah meninggal, ia tidak miskin lagi.

Karena dia tahu bahwa gadis itu miliknya, gadis itupun berkata bahwa seluruh badannya adalah miliknya juga.

Untuk membuat gadis itu percaya kepadanya, untuk menggembirakan hatinya, ia bersedia untuk melakukan perbuatan apapun.

Kemudian diapun menemukan suatu peristiwa yang memedihkan hatinya. Ternyata Cu Cu tidak mencintainya dengan setulus hati.
Seperti juga kebanyakan perempuan lain, apa yang dikatakannya hanya di bibir saja. Gadis itu pernah berjanji, kecuali kawin dengannya, dia tak akan kawin dengan siapapun. Bahkan mereka sudah menetapkan hari perkawinan mereka.
Tapi sehari sebelum pesta perkawinan mereka, gadis itu telah kawin lebih dulu, kawin dengan orang lain.

Ia telah menghianati semua cinta kasih yang diberikan Kwik Tay-lok kepadanya, gadis itu telah minggat bersama orang lain.

Rantai emas itu adalah tanda mengikat tali perkawinan yang di hadiahkan gadis itu kepadanya. Benda itu merupakan pula satu-satunya benda yang pernah diberikan gadis itu kepadanya.
Tak seorangpun yang bersuara, semua orang tak tahu bagaimana harus berkata.

Akhirnya Kwik Tay-lok sendiri yang memecahkan kesunyian tersebut, tiba-tiba katanya sambil tertawa.

"Selama hidup jangan harap kalian bisa menduga dengan siapakah ia minggat dari rumahku !" "Siapa ?" tanya Lim Tay-peng.
"Kacungku !"

Sesudah tertawa bergelak, terusnya:



"Selama ini aku memandangnya sebagai orang yang paling agung di dunia ini, bahkan kupandang dirinya bagaikan bidadari dari kahyangan, tapi akhirnya dia telah minggat dengan kacungku, haaahhh... haaahhh... haaahhh... coba bayangkan, lucu tidak kejadian ini ?"

Tentu saja tidak lucu, tak seorangpun yang merasa kejadian ini lucu dan menggelikan.

Hanya Kwik Tay-lok seorang yang masih saja tertawa terus, sebab dia kuatir bila tertawanya terhenti, bisa jadi dia akan menangis.
 
Lama sekali dia tertawa tergelak-gelak, mendadak katanya lagi:

"Kejadian ini benar-benar telah memberi suatu pelajaran yang sangat baik bagiku !" "Pelajaran apa ?" tanya Lim Tay-peng.
Sesungguhnya dia bukan benar-benar ingin bertanya, dia hanya merasa tidak seharusnya membiarkan Kwik Tay-lok berbicara seorang diri.
Dia merasa sudah sepantasnya kalau menunjukkan perasaan yang amat simpatik kepadanya. "Pelajaran ini adalah seorang lelaki janganlah terlalu mengagung-agungkan perempuan, bila
kau terlalu mengagungkan dirinya, dia akan menganggap dirimu sebagai orang bodoh,
menganggap kau sama sekali tak ada harganya. " kata Kwik Tay-lok..

"Kau keliru !" tiba-tiba Yan Jit menukas. "Siapa bilang aku salah ?"
"Gadis itu berbuat demikian, bukan lantaran kau terlalu mengagumkan dirinya. bila seorang
gadis sampai berbuat demikian, biasanya hanya satu alasannya." "Apa alasannya."
"Pada dasarnya dia memang seorang gadis yang jelek perangainya."

Kwik Tay-lok termenung sampai lama sekali, akhirnya pelan-pelan dia mengangguk, sahutnya sambil tertawa getir.

"Itulah sebabnya aku sama sekali tidak menyalahkan dirinya, aku hanya menyalahkan diriku sendiri, menyalahkan aku telah salah melihat orang. "

"Pandangan inipun tidak benar!" tiba-tiba Ong Tiong menyela. "Tidak benar ?"
"Selama ini kau menderita karena persoalan ini, hal mana dikarenakan kau selalu menganggap dia telah membohongi dirimu, kau selalu merasa kau telah dicampakkan orang dengan begitu saja."

"Sesungguhnya memang demikian, memangnya aku salah ?"

"Paling tidak kau harus membawa pandanganmu itu ke sudut yang lain." "Ke sudut yang bagaimana ?"
"Kau harus mengalihkan pandanganmu ke sudut yang baik."

Kwik Tay-lok termenung, lalu sambil tertawa getir gelengkan kepalanya berulang-ulang kali. "Sayang aku tak dapat berpikir sampai ke situ."
"Pernahkah kau menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri, ia sedang berpacaran atau melakukan sesuatu perbuatan yang tidak senonoh dengan kacungmu itu ?"
 
"Tidak pernah !"

"Lantas atas dasar apakah kau menuduhnya kabur bersama kacungmu ?" Kwik Tay-lok menjadi tertegun.
"Aku. aku bukan cuma aku seorang yang berpendapat demikian, hampir setiap orang yang
berada di desaku berpendapat demikian," katanya kemudian.

"Kalau orang lain berpendapat demikian, lantas kau berpendapat demikian ? kalau orang lain beranggapan kau harus makan tahi, kaupun akan turuti anggapan mereka dan makan tahi?"

Kwik Tay-lok terbungkam dan tak mampu berbicara lagi.

"Setiap orang tentu mempunyai pandangan yang sempit," kata Ong Tiong lebih jauh, "orang- orang itu pada hakekatnya tidak dapat memahami perasaan gadis itu, tanpa dasar yang kuat, bisakah dikatakan pandangan mereka pasti benar? Apalagi sesama sahabat karibpun, kadangkala juga akan terjadi kesalahan paham"

Setelah tertawa, pelan-pelan lanjutnya:

"Misalnya saja peristiwa yang barusan terjadi, besar kemungkinan kami akan salah paham kepadamu, bisa jadi kami akan menganggapmu si pelit, menganggapmu tidak bersetia kawan."

"Tapi kenyataannya dia dan kacungku telah lenyap secara tiba-tiba pada hari yang sama." seru Kwik Tay-lok.



"Mungkin saja hal ini merupakan suatu kebetulan."

"Aaah.... mana mungkin ada suatu kejadian yang begini kebetulannya. ?"

"Ada. Bukan saja ada, bahkan seringkali ada !"

"Lantas mengapa mereka bisa kabur pada saat yang bersamaan ?"

"Siapa tahu kacungmu itu merasa pekerjaannya selama ini tidak cukup berpenghasilan, maka dia ingin pindah ke tempat lain untuk mengembangkan bakatnya."

"Bagaimana dengan Cu Cu? Alasan apa yang dia miliki untuk minggat dari sana ? Bahkan tandu pengantin pun sudah kupersiapkan."

"Siapa bilang tiada alasannya untuk pergi? Siapa tahu pada malam itu secara tiba-tiba terjadi suatu peristiwa yang sama sekali di luar dugaanmu, siapa tahu karena persoalan tersebut dia dipaksa untuk segera angkat kaki dari sana ? Mungkin juga ia sudah tidak bebas lagi, atau diikat orang dan dibawa lari."

"Yaa, mungkin juga selama itu dia ingin menjelaskan sesuatu hal kepadamu, tapi ia tak mempunyai kesempatan tersebut," sambung Lim Tay-peng pula.

Yan Jit menghela napas panjang, katanya pula.
 
"Seringkali di dunia ini memang bisa terjadi peristiwa memedihkan hati, mungkin sekali dengan jelas mengetahui kalau orang lain sudah menaruh kesalahan padamu terhadap dirinya, sekalipun dirinya jelas sudah terfitnah, namun sulit untuk memberi penjelasan."

"Yang lebih memedihkan lagi jika orang lain sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk memberi penjelasan," terus Lim Tay-peng.

"Dan yang paling memedihkan lagi adalah ada sementara persoalan yang hakekatnya tak bisa dijelaskan kepada orang lain misalkan saja. "

"Misalkan saja kejadian tadi," sambung Kwik Tay-lok sambil menghela napas, "Sebenarnya aku tak ingin memberi penjelasan, bila kalian datang aku sudah pergi, mungkin saja kalian akan menaruh kesalahan-paham terus kepalaku."

"Benar, sekarang tentunya kau sudah mengerti bukan?" kata Ong Tiong. Kwik Tay-lok manggut-manggut.

"Makanya dalam mengungkap satu kejadian, seringkali harus dikupas dari pelbagai pandangan." kata Ong Tiong lebih lanjut.

"Bila kau mau mengupas masalahnya dari sudut yang baik, hidupmu di dunia ini baru akan terasa senang dan gembira."

Sayang ada orang justru tak mau berbuat demikian." seru Yan Jit, "justru orang lebih suka berpikir ke sudut yang jeleknya saja, justru suka mencari kemurungan buat diri sendiri."

"Orang semacam ini bukan saja gobloknya setengah mati, bahkan boleh dibilang sedang mencari kesulitan buat diri sendiri, mencari siksaan buat diri sendiri. Aku rasa tentunya kau bukan manusia semacam ini bukan."

Kwik Tay-lok segera tertawa sahutnya lantang:
"Siapa mengatakan aku adalah manusia semacam ini, kuhajar hidungnya sampai ringsek" Ong Tiong masih berbaring di atas pembaringan, ketika secara tiba-tiba mendengar Kwik Tay-
lok sedang berteriak dari luar sana: "Mertua datang !"
Kwik Tay-lok tak punya mertua.

Yang dimaksudkan "mertua" adalah penyayat kulit hidup, si pemilik rumah pegadaian.

Biasanya pemilik rumah pegadaian tentu bertampang saudagar, berbadan gemuk dan tersenyum berwajah kemerah-merahan.

Tapi si penyayat kulit hidup ini kering kerontang seperti kelinci kelaparan, mana matanya sipit, punggungnya bongkok kecil lagi orangnya, mengingatkan orang pada seekor tikus yang sedang mencuri ikan asin.

Walaupun selama ini Ong Tiong sering berkunjung ke rumahnya, baru kali ini dia berkunjung kemari.
 
Maka mau tak mau terpaksa Ong Tiong harus bangun dari tidurnya. Bila seorang penyayat kulit bersedia naik gunung untuk berkunjung kepada seseorang, biasanya hanya ada satu alasan baginya.

Alasan tersebut tak jauh berbeda daripada seekor musang yang berkunjung ke rumah sang ayam.

Ketika Ong Tiong masuk ke ruang tamu, kebetulan Kwik Tay-lok sedang bertanya sambil tersenyum:

"Angin apa yang membawamu sampai ke mari?"

Dia tahu paling tidak Ong Tiong sudah menggunakan dua puluhan macam cara untuk menjual rumah ini, sayangnya sekalipun rumah itu hendak diberikan kepada orang lain, belum tentu orang bersedia menerimanya.


Si penyayat kulit hidup gelengkan kepalanya berulang kali, lalu sahutnya sambil tertawa kering: "Mana aku mampu untuk membeli rumah sebesar ini? Sejak bertemu kalian, hampir saja
modalku ludas!, tidak menjual rumah sudah termasuk mujur."

"Kalau ia bersedia menjual murah, apakah kau bersedia membelinya. ?" desak Kwik Tay-lok.

"Buat apa kubeli rumah ini ?"

"Kau toh bisa memberikan lagi kepada orang lain, atau digunakan saja untuk diri sendiri." Si Hoat-liok-pi (penyayat kulit hidup) segera tertawa menyeringai.
"Orang yang tak punya penyakit sinting, tak nanti bersedia tinggal di rumah ini." Baru saja Kwik Tay-lok ingin mendesak lebih jauh, mendadak Hoat-liok-pi bertanya: "Apakah saat ini kalian sangat membutuhkan uang?"
Ong Tiong segera tertawa.

"Kapan sih kami pernah tidak butuh uang?" sahutnya.

"Nah, kalau memang begitu, bersediakah kalian mendapat untung sebesar lima ratus tahil perak?"

Tentu saja semua orang ingin.

Tapi siapapun tahu, tidak gampang untuk mencari untung sebesar itu dari tangan Hoat liok pi, bahkan akan jauh lebih susah dari mencabut rumput harimau.

Walau begitu, lima ratus tahil perak merupakan suatu daya tarik yang besar sekali. Maka sambil mengerdipkan matanya Kwik Tay-lok bertanya:
"Kau maksudkan lima ratus tahil perak"
 
"Yaa, lima ratus tahil perak?"

Kwik Tay-lok memperhatikannya sekejap dari atas sampai ke bawah, kemudian tegurnya: "Mungkin kau sedang mabuk?"
"Tidak, aku sadar sekali, asal kalian setuju, sekarang juga aku boleh membayar persekot dua ratus lima puluh tahil perak!"

Ia selalu percaya dengan beberapa orang ini, sebab dia tahu walaupun orang-orang itu miskin, tapi setiap patah katanya lebih bernilai daripada emas.

Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, katanya kemudian: "Bagaimana caranya untuk bisa mendapat untung sebesar itu?"
"Gampang sekali asal kalian bersedia turut aku pergi ke kota sian-sia sebentar saja, uang itu bisa kalian dapatkan"

"Sebentar saja? Bagaimana caranya ke sana?" Hoat-liok pi segera tertawa.
"Tentu saja berjalan dengan sepasang kaki" katanya.

Kwik Tay-lok coba maju dua langkah, kemudian tanyanya lagi:

"Apakah jalan dengan cara begini?" "Ehmm . . !"
"Kemudian ?"

"Kemudian kalian boleh membawa lima ratus tahil perak ini dan pulang kerumah!" "Tak ada pekerjaan lain?"
"Tidak ada!"
Kwik Tay-lok segera memandang ke arah Ong Tiong, kemudian ujarnya sambil tertawa: "Hanya berjalan sebentar saja bisa mendapat untung lima ratus tahil perak, pernahkah kau
dengar kejadian semacam ini" "Belum pernah!"
"Masih ada banyak persoalan yang belum pernah kalian dengar, tapi semuanya juga tidak bohong" sambung Hoat-liok-pi segera.

"Kau juga bukan bohong-bohong memberi uang kepada kami?" Hoat-liok-pi kembali menghela napas panjang.
 
"Aaai... belakangan ini usahaku memang makin lama semakin sulit untuk dikerjakannya, yang menggadaikan lebih banyak dari pada yang menebus, barang yang telah digadaikan pun susah dijual lagi, modal yang kubutuhkan tidak sedikit jumlahnya"

Ong Tiong manggut-manggut, sikapnya seperti menunjukkan rasa simpatik yang besar. Kwik Tay-lok tak bisa menahan diri lagi, kembali dia bertanya:
"Kalau memang dagangmu dagang yang melulu merugi, kenapa kau masih mengerjakannya." Hoat-liok-pi kembali menghela napas.


"Haaai. apa boleh buat" katanya, "siapa suruh aku memilih pekerjaan semacam ini sedari
dulu?"

"Oleh karena itu, uang yang lima ratus tahil perak itu lebih baik kau gunakan sendiri secara pelan-pelan."

"Itu mah berbeda" seru Hoat-liok-pi lagi, "kalau soal itu, aku sendiri yang bersedia memberi untung buat kalian"

"Uangmu tidak diperoleh secara gampang, sedang kami hanya pergi sebentar saja sudah mendapat lima ratus tahil, pekerjaan semacam ini mana dapat kulakukan?"

Di atas paras muka Hoat-liok-pi yang pucat kelihatan agak merah, sesudah mendehem beberapa kali, katanya lagi:

"Kenapa musti tidak enak? Apalagi aku suruh kalian menemani aku, tentu saja aku pun mempunyai tujuan tertentu"

"Apa tujuanmu?"
Sekali lagi Hoat-liok-pi mendehem beberapa kali, kemudian tertawa paksa, katanya: "Jangan kuatir, pokoknya aku tak akan menyuruh kalian menjadi perampok, juga tak akan
menyuruh kalian membunuh orang"

"Kau juga tak usah kuatir, pokoknya aku tak akan pergi" kata Ong Tiong. Mendengar jawaban tersebut, Hoat-liok-pi menjadi tertegun.
"Lima ratus tahil perak bukan jumlah yang kecil, apakah kau tidak menginginkannya ?" dia berseru.

"Tidak!"

"Kenapa?" "Tiada alasan"
Setelah termangu-mangu sekian lama, tiba-tiba Hoat liok-pi berkata lagi sambil tertawa: "Kalau kau seorang diri tak mau pergi juga tidak mengapa, aku masih ada. "
 
"Dia bukan seorang diri" tiba-tiba Yan Ji menyela. "Jadi kau juga tidak pergi?"
"Aku juga tidak pergi, lagi pula tiada alasan, pokoknya kalau tidak pergi yaa tidak pergi !." Sambil tertawa Lim Tay-peng berkata pula:
"Sebenarnya aku masih mengira hanya aku seorang yang tak ingin pergi, siapa tahu semua orang juga sama saja"

Hoat-liok pi menjadi amat gelisah, teriaknya keras-keras:

"Apakah uangku tidak baik? Apakah kalian belum pernah menerimanya dari tanganku?"

"Bila kami menginginkan uang kami pasti akan membawa barang untuk digadaikan" kata Ong Tiong hambar.

"Aku tidak mau dengan barang kalian, asal kamu sekalian mau ikut aku pergi sebentar, uang lima ratus tahil perak segera akan menjadi milik kalian tapi kalian justru tidak mau?

"Benar!"

Hoat liok pi, seakan-akan hendak melompat ke udara, teriaknya keras-keras:

"Sebenarnya kalian mengidap penyakit atau tidak...? Aku lihat cepat atau lambat suatu hari kalian bakal mati kelaparan.. manusia macam kalian bila dikatakan tidak miskin, itu aneh namanya."

Ong Tiong sekalian memang mengidap sedikit penyakit.

Mereka lebih suka mati karena kemiskinan atau mati karena kelaparan daripada menerima yang tidak jelas asal usulnya.

Mengambil barang untuk digadaikan bukan sesuatu yang memalukan, bahkan hampir berbagai macam barang sudah pernah mereka gadaikan.

Tapi mereka cuma menggadaikan barang, tidak menggadaikan orang.

Mereka lebih suka menggadaikan celana sendiri sekalipun, tapi mereka akan mempertahankan nama baik serta naluri mereka yang suci bersih.

Mereka hanya mau melakukan pekerjaan yang mereka bersedia lakukan, takkan merasa bahwa pekerjaan itu seharusnya dilakukan. .

Setiap orang tentu akan berkunjung ke kakus, bahkan setiap hari paling tidak juga tujuh delapan kali.

Perbuatan semacam ini tidak kotor, tidak pula lucu, tapi suatu kejadian yang umum dan lumrah, bahkan pasti dilakukan dan sesungguhnya tidak perlu disinggung lagi.

Jika ada orang hendak menulis hal tersebut, maka ceritanya akan berkepanjangan dan tak ada habisnya.

Tapi ada kalanya kejadian seperti inipun perlu disinggung, misalnya sekarang ini.
 


Ong Tiong memang baru saja keluar dari kakus, setiap pagi setelah bangun tidur pekerjaan pertama yang dilakukannya adalah berkunjung ke kakus.

Ketika ia kembali ke ruang tamu, dilihatnya paras muka Yan Jit dan Lim Tay-peng agak istimewa, seakan-akan dalam hati kecilnya ada persoalan yang hendak dikatakan, tapi tidak ingin pula diucapkan.

Maka Ong Tiong juga tidak bertanya, ia selalu pandai membawa diri, lagi pula dia juga tahu didalam keadaan seperti ini, bila mau ingin bertanya maka lebih baik menanti sampai mereka yang membicarakannya sendiri.

Benar juga, Yan Jit tak bisa menahan rasa hatinya, tiba-tiba ia berkata: "Mengapa kau tidak bertanya ?"
"Bertanya apa ?"

"Tidakkah kau melihat di sini telah kekurangan seseorang ?" Ong Tiong manggut-manggut.
"Agaknya memang kurang seorang!" sahutnya. Yang tidak nampak adalah Kwik Tay-lok.
"Mengapa tidak kau tanyakan kemana dan telah pergi?" tanya Yan Jit lagi. Ong Tiong segera tertawa.
"Kemanapun dia juga tak menjadi soal, tapi bila kau memaksa juga untuk bertanya kepadaku, tak ada halangannya pula bagiku untuk bertanya."

Pelan-pelan dia duduk, kemudian setelah berlagak mencari kian kemari, tanyanya seperti orang keheranan.

"Heeh... kemana perginya Siau Kwik?"

"Jangan harap kau bisa menebak untuk selamanya," tiba-tiba Yan Jit tertawa dingin. "Justeru karena aku tak bisa menebaknya, maka aku baru bertanya."
Yan Jit menggigit bibirnya kencang-kencang, lalu berkata:

"Sudah pasti ia menyusul Hoat liok-pi, begitu Hoat liok pi angkat kaki, dia segera mengejarnya dari belakang."

Sekarang Ong Tiong baru merasa agak keheranan, dengan kening berkerut ujarnya: "Mau apa dia mengejar Hoat liok pi.?"
Yan Jit membungkam, paras mukanya agak hijau membesi, Ong Tiong menatapnya sekejap, lalu bergumam:
 
"Masa dia bersedia berkomplot dengan Hoat liok pi gara-gara uang yang lima ratus tahil perak itu?"

Sesudah menggelengkan kepalanya berulang kali dia melanjutkan:

"Aku tak akan percaya dengan kejadian semacam ini, sebab Siau Kwik bukan manusia macam begitu?"

"Sesungguhnya akupun tak ingin mempercayainya, tapi mau tak mau aku harus mempercayainya juga."

"Kenapa?"

"Sebab aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri!" "Menyaksikan apa?"
"Menyaksikan dia berbicara hampir setengah harian lamanya dengan Hoat liok pi, kemudian Hoat liok pi mengeluarkan sekeping uang yang diserahkan kepadanya dan diapun pergi bersama Hoat Iiok pi."

Ong Tiong agak tertegun sesudah mendengar ucapan tersebut.

"Mengapa kau tidak menyusul dan bertanya kepadanya? Ia bertanya kemudian. Yan Jit tertawa dingin:
"Buat apa aku harus menyusulnya? Aku toh tidak berniat untuk menjadi komplotannya Hoat- liok-pi."

Tiba-tiba Lim Tay-peng menghela napas, katanya:

"Seandainya dia cuma menemaninya dia pergi sebentar ke kota, itu mah tak menjadi soal, tapi aku lihat persoalan ini tak akan sedemikian sederhananya"

Tentu saja tak akan sedemikian sederhananya...

Andaikata Hoat-liok-pi benar-benar hanya bermaksud mencari teman, tidak sedikit orang di tepi jalan yang bersedia menemaninya meski hanya di bayar lima tahil perak, mengapa pula dia musti datang kemari mencari mereka, bahkan bersedia membayar lima ratus tahil perak?

Sesudah berhenti sebentar, Lim Tay-peng berkata lebih jauh.

"Hoat-liok-pi sendiri juga telah berkata, dia berbuat sedemikian karena ada maksud tertentu, aku lihat perbuatan yang di lakukannya sudah pasti bukan perbuatan baik"

"Hanya ada semacam persoalan yang bisa membuat manusia macam Hoat-liok-pi bersedia mengeluarkan uang sebesar lima ratus tahil perak untuk diberikan kepada orang lain"

"Persoalan macam apakah itu?"

"Persoalan yang bisa memberi keuntungan lima ribu tahil perak kepadanya!"

"Betul!" seru Lim Tay-peng. "andaikata persoalan itu tidak menguntungkan, tak nanti ia bersedia merogoh kocek sendiri untuk mengeluarkan lima ratus tahil perak untuk orang lain"
 
"Persoalan yang bisa memberi untung besarpun biasanya hanya semacam persoalan" "Persoalan apakah itu?"
"Perbuatan yang malu diketahui orang"

"Benar, aku lihat kalau dia bukan pergi mencuri, tentu sedang pergi menipu, tapi kuatir orang lain tidak sungkan kepadanya setelah konangan, maka diapun datang mencari kita untuk menjadi tukang pukulnya..!"