Pendekar Riang Jilid 10

 
Jilid 10

KETIKA UCAPAN TERSEBUT Diutarakan keluar, semua orang menjadi terkejut, bahkan Kwik Tay-lok pun tak tahan menjerit keras.

Lim Tay-peng merasa sangat kecewa, serunya tertahan:

"Kakakmu? Mengapa ia lakukan perbuatan semacam ini?"

Bwe Ji lam menundukkan kepalanya rendah-rendah, kemudian sahutnya:

"Setiap umat persilatan menganggap keluarga Bwe kami adalah keluarga persilatan, mereka mengira keluarga kami pasti kaya raya sebab kesosialan dan keroyalan kami selalu besar, sobat yang datang mencari kami, belum pernah kami mengecewakan dirinya!"

Paras mukanya tiba-tiba berubah menjadi sangat sedih, terusnya lebih jauh:

"Padahal sejak mendiang ayah kami meninggalkan dunia, keluarga kami sudah jatuh bangkrut dan kehabisan uang, bukan saja tak mampu mendarma kepada orang lagi, bahkan kehidupan sendiri setiap harinya pun sudah menjadi masalah, oleh sebab itu. "

"Oleh sebab itu bukan saja kalian menghendaki nyawa Hong Si-hu, juga mengharapkan uangnya ?" sambung Ong Tiong.

Bwe Ji-lam manggut-manggut.

"Benar rencana kami ini sebetulnya sudah disusun secara rapi, ketika aku datang melakukan pencurian disini, kakakku juga telah menemukan si tongkat dan si anjing buldok dan telah menjadi pengawal mereka"

"Manusia yang begitu lihay seperti si tongkat dan si anjing buldok, mengapa secara sembarangan mereka lalu percaya kalau dia adalah Lam Kiong Cho? Mengapa pula secara sembarang mereka telah menggunakannya sebagai tukang pukul ?"

"Pertama karena mereka belum pernah bertemu dengan Lamkiong Cho, kedua kakakku membawa tanda pengenal dari Lamkiong Cho, ketiga kerena mereka tak mengira kalau ada orang telah menyaru sebagai Lamkiong Cho"

"Ke empat karena nasib kalian lagi mujur" sambung Kwik Tay-lok, "tapi bagaimana ceritanya sehingga kakakmu bisa membawa tanda pengenal dari Lamkiong Cho?"

"Kebetulan dia adalah sahabat kakakku!"

Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, setelah tertawa getir katanya:

"Aaaai. tampaknya kakakmu juga seorang yang sangat berbakat, terbukti ia bisa berteman
dengan manusia semacam itu"
 
Merah padam selembar wajah Bwe Ji-lam karena jengah, katanya kemudian:

"Sesungguhnya dia memang gemar berteman, bahkan suka membantu orang lain, tak sedikit jumlah orang dalam dunia persilatan yang pernah menerima kebaikan darinya. Justru karena temannya terlalu banyak, diapun terlalu sosial maka keluarga kami hari demi hari semakin jatuh miskin"

"Betul, hanya budak uang yang tak akan kekurangan uang" seru Kwik Tay-lok sambil tertawa, "tahu dia manusia begitu, semestinya pukulanku itu harus sedikit diperingan"

Bwe Ji-lam segera menarik wajahnya, lalu pelan-pelan berkata:

"Ada dua hal yang hendak kuberitahukan pula kepadamu" "Katakanlah !"
"Pertama aku tak senang ada orang menghina kakakku di hadapanku, kedua kalau bukan senjatanya tidak leluasa baginya, yang termakan oleh pukulan bukan dia melainkan kau sendiri"

"Sik-jin" si manusia batu Bwe Ji-ka tentu saja senjatanya juga terbuat dari batu, tentang soal ini Kwik Tay-lok juga pernah mendengar orang membicarakannya.

Terpaksa Kwik Tay-lok tertawa, tanyanya kemudian:

"Entah bagaimana pula dengan ilmu silat yang dimiliki Lamkiong Cho asli ?"

"Bila orang yang kau jumpai adalah Lamkiong Cho asli, sekarang mungkin kau tak bisa duduk di sini lagi"

"Kalau tidak duduk di sini lantas duduk dimana ?"

"Berbaring, sekalipun tidak berbaring dalam peti mati, paling tidak juga berbaring di atas ranjang"

Kwik Tay-lok tertawa tergelak, cuma sewaktu tertawa suaranya kedengaran kurang begitu leluasa.

Untung saja Bwe Ji-lam telah melanjutkan kembali kata-katanya:

"Rencana kami sejak awal sampai akhir semuanya berjalan dengan lancar, hingga. "

Ia melirik sekejap ke arah Lim Tay-peng, sebelum ia sempat berbicara, Lim Tay-peng telah berkata duluan:

"Hingga aku berjumpa dengannya tanpa sengaja?" Bwe Ji-lam menghela napas panjang.
"Aku sebetulnya berharap agar pada hari itu kalian tidak ke kota dan tidak berjumpa dengannya."

"Ia kuatir kita akan menyelidiki rahasianya, maka dia sengaja datang untuk membunuh kami dan menghilangkan saksi ?" kembali Lim Tay-peng menyindir.

Bwe Ji-lam menghela napas sedih.
 
"Dia adalah putra tunggal keluarga Bwe kami, tentu saja dia berharap agar nama baik keluarga Bwe kita yang telah berusia beberapa ratus tahun itu tidak sampai hancur di tangannya."

Ong Tiong menghela napas.

"Oleh karena itu dia lebih suka mengakui dirinya sebagai Lamkiong Cho, juga tak ingin mengucapkan asal usulnya sendiri, ia lebih suka mati daripada kehilangan muka, bukan begitu ?"



Bwe Ji-lam manggut-manggut, sepasang matanya sudah berubah menjadi merah padam. Tiba-tiba Ong Tiong menghela napas panjang lagi, katanya:
"Tampaknya untuk menjadi seorang putra tunggal dari suatu keluarga persilatanpun memiliki banyak penderitaan dan persoalan yang tak diketahui orang luar."

Di dunia ini mungkin hanya ada semacam manusia yang lebih menderita dari padanya." sela Kwik Tay-lok.

"Manusia macam apa ?" tanya Ong Tiong. "Adik perempuannya !"
Bwe Ji-lam mengerling sekejap ke arahnya, bibirnya senyum tak senyum tapi justru kelihatan makin mempersonakan hati.

Dengan termangu-mangu Lim Tay-peng memperhatikan-nya, tiba-tiba ia berkata: "Kaukah yang mengirim peti mati itu kemari ?"
"Ehmm. "

"Karena apa ?"

Bwe Ji-lam menghela napas:

"Aku tahu hatimu tentu amat sedih setelah membunuh orang, maka kukirim peti mati kosong itu dengan tujuan ingin memberitahukan kepadamu bahwa orang yang kau bunuh sebenarnya tidak mati"

Mimik wajah Lim Tay-peng kelihatan makin tertegun, kemudian gumamnya lirih: "Kalau begitu, bagaimanapun juga aku harus berterima kasih kepadamu. !"
Kwik Tay-lok memandang ke arahnya kemudian memandang pula ke arah Bwe Ji-lam, akhirnya dia turut menghela napas.

"Aku juga harus berterima kasih kepadamu, ia memang bersikap sangat baik kepadamu"

Yan Jit yang selama ini hanya membungkam terus, tiba-tiba menimbrung dengan suara dingin: "Tapi, bukankah di atas peti mati itu dengan jelas tertuliskan nama dari Lamkiong Cho?"
"Yaa, bagaimanapun juga, aku tak dapat menghianati kakakku."
 
Matanya semakin merah, lanjutnya:

"Walaupun aku tahu kalau perbuatannya salah, tapi akupun hanya bisa menghalanginya secara diam-diam"

"Maka selama ini kau tak berani menampakkan diri !" sambung Yan Jit. Dengan sedih Bwe Ji-lam mengangguk.
"Yaa, aku tak berani menampakkan diri dan tak bisa menampakkan diri. Tapi aku masih bisa menggunakan segenap kekuatan yang kumiliki untuk membaiki kalian, aku cuma berharap agar kalian sudi memandang di atas wajahku dan mengampuni dirinya."

"Sekarang dia berada di mana ?" "Pulang ke rumah."
"Apakah kau yang menolongnya ?"

"Tentu saja aku, dia adalah kakak kandungku, bagaimanapun juga aku toh tak bisa membiarkan dia tersiksa"

Tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya, lalu berkata:

"Seandainya kalian tidak bersedia mengampuninya, kalianpun tak usah pergi menjumpainya, kalian boleh mencari aku, sebab aku bersedia untuk menanggung segala sesuatunya."

Mendadak LimTay-peng melompat bangun lalu serunya dengan suara lantang:

"Perduli apapun yang akan dikatakan orang lain, aku tetap menganggap bahwa kau tidak bersalah."

"Siapa bilang dia bersalah?" sambung Kwik Tay-lok, "siapa berkata demikian, dia pastilah seorang telur busuk."

"Aku cuma bisa mengatakan bahwa pada hakekatnya dia bukan manusia" Ong Tiong menambahkan.

Paras muka Lim Tay-peng segera berubah menjadi merah membara, bahkan merah sampai ke telinganya, dengan mata melotot dia berteriak:

"Kau bilang dia bukan manusia?"

"Dia memang bukan manusia." Ong Tiong menghela napas, "karena belum pernah kujumpai manusia yang pemberani seperti dia."

Kwik Tay-lok segera bertepuk tangan, sambungnya:

"Sedikitpun tak salah, kata-kata semacam ini sesungguhnya ia tak usah memberitahukannya kepada kita, tapi ia tidak berniat untuk merahasiakannya, siapa lagi yang bisa menandingi keberanian semacam ini ?"

"Apakah kau juga tak mampu untuk menandinginya ?" tanya Yan Jit. Kwik Tay-lok segera menghela napas.
 
"Aaai... coba berganti aku, belum tentu aku berani untuk mengutarakan persoalan ini secara terus terang."

Tiba-tiba Yan Jit tertawa, katanya:

"Sekarang kau seharusnya mengerti, perempuan belum tentu berpikiran sempit seperti apa yang kau bayangkan bukan ?"

"Yaa, benar, bukan saja tidak berpikiran sempit, bahkan berjiwa mulia...!"

Sepasang mata Bwe Ji-lam kembali berubah menjadi merah, agak sesenggukan dia berkata: "Kalian... kalian benar-benar tidak menyalahkan aku ?"
"Menyalahkan kau? Siapa berani menyalahkan kau! Malah seharusnya kami berlutut di hadapanmu sambil berterima kasih."

"Benar !" Ong Tiong menambahkan, "coba bukan karena kau, sekalipun kami tak akan mati keracunan, paling tidak juga akan mati kelaparan."



Bwe Ji-lam menundukkan kepalanya semakin rendah. "Padahal kakakku juga belum tentu akan. "
"Kau tak usah memberi penjelasan lagi, pokoknya kami tak ada yang menyalahkan dia." tukas Kwik Tay-lok.

"Sungguh!"

"Seandainya aku menjadi dia, mungkin saja akupun akan berbuat demikian" "Kalau aku pasti akan berbuat lebih ganas lagi !" Ong Tiong menambahkan.
"Aku hanya kuatir andaikata di kemudian hari kakakmu mengetahui kalau kaulah yang mengacau rencananya, mungkin dia akan marah, marah setengah mati."

Bwe Ji-lam segera tertawa getir. "Sekarangpun dia sudah tahu !" katanya.
"Bagaimana sikapnya setelah mengetahui kejadian ini. ?" tanya Kwik Tay-lok.

"Marahnya setengah mati !" "Lantas apa yang kau lakukan ?" "Akupun kabur!"
"Tapi cepat atau lambat kau toh pasti akan pulang, sebab di sanalah rumahmu" kata Kwik Tay- lok dengan kening berkerut.

Sekali lagi Bwe Ji-lam menundukkan kepalanya dan tidak berbicara lagi.
 
Tiba-tiba Ong Tiong tertawa, katanya:

"Bila dia harus pulang, sudah pasti banyak penderitaan yang akan dialaminya, tapi dia toh bisa saja tak usah pulang."

"Kenapa?"

"Bila seorang gadis sudah menikah, tentu saja dia tak usah pulang ke rumah asalnya" kata Ong Tiong sambil tersenyum.

Seperti baru saja menyadari akan persoalan ini, Kwik Tay-lok segera berseru tertahan:

"Benar, jika ia sudah menikah maka diapun sudah bukan anggota keluarga Bwe lagi, kakaknya juga tak usah mengurusi dirinya lagi"

"Oleh karena itu dia tak bisa tidak harus lekas-lekas kawin" "Tapi kawin dengan siapa ?"
"Tentu saja kawin dengan orang yang disukainya, mungkin aku, mungkin juga kau" Tiba-tiba saja Kwik Tay-lok menjadi tertegun.
Tiba-tiba ia menemukan bahwa Bwe Ji-lam sedang mengerling ke arahnya sambil tertawa.

Bwe Ji-lam, menundukkan kepalanya dengan wajah merah dan duduk tenang di sana, seakan- akan merasa serba salah, merasa sedih sekali, tapi sekulum senyuman masih menghiasi terus ujung bibirnya. Senyuman itu bagaikan senyuman seekor rase kecil yang baru berhasil mencuri delapan ekor ayam.

Akhirnya Kwik Tay-lok menyadari, rupanya mereka berempat lelaki tanggung telah terkecoh oleh gadis tersebut.

Berada dalam keadaan demikian, siapapun yang dia sukai, rupanya terpaksa harus kawin juga dengannya.

Rupanya tanpa mereka sadari si rase kecil itu telah memasang jerat yang menjerat leher mereka semua, sekarang asal tangannya membetot ke belakang maka salah seorang diantaranya akan tergantung untuk selamanya.

"Tampaknya kaum perempuan memang jauh lebih pintar daripada apa yang dibayangkan kaum lelaki."

Cuma. siapakah orangnya yang bakal digantung olehnya itu?

Ong Tiong masih tertawa, tertawa bagainya seekor rase pula, seekor rase tua.

Dia seakan-akan sudah tahu kalau dirinya tak bakal kena digaet oleh perempuan itu. Bahkan dia masih mengetahui pula sebagian persoalan yang tidak diketahui Kwik Tay-lok. Mendadak sambil tertawa:
"Walaupun kami bukan manusia sebangsa toa-enghiong atau toa-haukiat, tapi kamipun bukan setan bernyali kecil yang melupakan budi kebaikan orang lain, bukan demikian ?"
 
"Betul!" jawab Lim Tay-peng cepat.

"Maka seandainya nona Bwe mempunyai kesulitan apa-apa, kamipun pasti akan mencarikan akal baginya untuk menyelesaikan persoalan itu, betul toh ?"

"Betul !"

Lagi-lagi Lim Tay-peng yang berbuat menjadi lebih dulu.

Kwik Tay-lok memandang ke arahnya, lalu diam-diam menghela napas. Pikirnya:

"Aaai. dasar anak muda, setiap saat setiap waktu selalu bersikap hangat yang berlebihan,
baru saja orang lain menyiapkan tali gantung, kau telah berebut untuk menjiratkan di atas leher sendiri."

Belum habis dia menghela napas, terasa olehnya Ong Tiong sedang melotot ke arahnya sambil menegur:

"Bagaimana dengan kau? Benar tidak perkataan ini ?"

Sekalipun Kwik Tay-lok ingin mengatakan tidak juga tak bisa, kalau ada sebutir telur ayam di situ, dia ingin menjejalkannya ke mulut Ong Tiong yang bawel itu.

Tiba-tiba Yan Jit menyela:

"Sesungguhnya kau tak usah bertanya kepadanya, soal mengasihani perempuan, menolong kaum yang lemah siapa lagi yang bisa menangkan Kwik sianseng kita ini?"

Ong Tiong manggut-manggut, seakan-akan ia sudah dibikin mengerti oleh ucapan dari Yan Jit tersebut, katanya dengan serius:

"Betul juga perkataanmu itu, tapi bagaimana dengan kau sendiri ?" Yan Jit tertawa, sahutnya hambar.
"Asal Ong lotoa sudah berkata satu patah kata, masa aku masih ada persoalan lagi ?"

Ong Tiong segera menghembuskan napas panjang, dengan wajah berseri ia lantas berkata:



"Nona Bwe, semua pembicaraan kami tentunya sudah kau dengar semua bukan ?"
Bwe Ji-lam menundukkan kepalanya sambil mengiakan, suaranya selembut suara nyamuk: "Kalau memang begitu, bila kau mempunyai kesulitan mengapa tidak diutarakan saja?" tanya
Ong Tiong.

Bwe Ji-lam menundukkan kepalanya semakin rendah, dengan wajah yang mengenaskan katanya lirih:

"Aku merasa rikuh untuk mengucapkannya keluar !" "Katakan saja, tak usah bimbang"
 
Dengan wajah merah jengah, rikuh dan patut dikasihani Bwe Ji-lam termenung beberapa saat lamanya, sampai setengah harian kemudian dia baru melanjutkan kembali kata-katanya:

"Ketika kakakku mengetahui aku telah berbuat demikian, rasa gusarnya hampir saja membuat ia menjadi gila, dia mendesak aku terus menerus mengapa aku sampai melakukan perbuatan semacam ini, mengapa membantu orang luar untuk mencelakai kakak sendiri ?"

"Lantas bagaimana kau jawab ?"
Paras muka Bwe Ji-lam berubah semakin merah membara karena rasa malu yang luar biasa. "Aku tidak berhasil menemukan alasan yang tepat." sahutnya, "maka terpaksa aku bilang....
terpaksa aku bilang... terpaksa aku bilang. "

Seperti otot disekitar mulutnya mendadak menjadi kejang, dia tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya kecuali ketiga patah kata tersebut.

Kwik Tay-lok merasa tidak sabar lagi, tak tahan dia lantas bertanya: "Kau bilang apa ?"
Bwe Ji-lam menggigit bibirnya menahan pergolakan emosi didalam hatinya, tampaknya ia sudah mengambil suatu keputusan dalam hatinya, dengan wajah memerah katanya:

"Terpaksa aku bilang, orang yang kubantupun bukan orang luar, dia lantas bertanya lagi, kalau bukan orang luar lantas siapa? Terpaksa akupun berkata bahwa dia adalah.... dia adalah. "

"Dia adalah apa ?" tanya Kwik Tay-lok lagi tidak tahan.

"Terpaksa aku bilang dia adalah Moayhu (suami adik) mu sendiri, karena aku telah mengikat tali perkawinan dengannya."

Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, sekujur badannya seolah-olah menjadi amat lemas sehingga hampir saja terjatuh dari atas kursi.

Kwik Tay-lok juga hampir terjatuh ke kolong meja.

"Bagaimana reaksi kakakmu setelah mendengar perkataan itu?" tanya Ong Tiong kemudian sambil mengerdipkan matanya.

Bwe Ji-lam menarik napas panjang, sesudah berhenti sejenak katanya:

"Sesudah mendengar perkataan itu, hawa amarahnya baru menjadi agak mereda, tapi dia memperingatkan diriku, andaikata aku sedang membohonginya, maka dia akan menghajarku setengah mati, diapun memaksa aku untuk. untuk mengajaknya pulang ke rumah."

"Apanya yang diajak pulang ke rumah?"

"Orangnya. " sahut Bwe Ji-lam sambil menggigit bibirnya kencang- kencang.

"Orang apa ?" "Moay.... moay-hu. "
"Moay-hu siapa ?"
 
"Moay-hu kakak kakakku"

Selesai mengucapkan perkataan itu, sekujur badannya sudah menjadi lemas hingga sama sekali tak bertenaga lagi.

Kwik Tay-lok juga merasakan sekujur badannya lemas tak bertenaga.

Sekali lagi Ong Tiong menghembuskan napas panjang, seolah-olah hingga kini ia baru memahami duduknya persoalan.

Dalam kenyataannya, memang bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk memahami ucapan dari seorang gadis.

Ong Tiong tertawa.

"Agaknya persoalannya sekarang tinggal satu !" "Persoalan apa ?" tanya Lim Tay-peng.
"Diantara kita berempat, siapakah yang akan menjadi Moay-hunya kakak nona Bwe ? Dan apakah ia bersedia atau tidak mengikuti nona Bwe pulang ke rumahnya ?"

"Aaaah, siapa yang tidak bersedia ? Masa dia tega menyaksikan nona Bwe dihajar oleh kakaknya?"

"Seandainya ada yang tidak bersedia?"

"Maka dia tak bisa dianggap sebagai teman kita lagi." seru Lim Tay-peng dengan suara lantang, "terhadap sobat yang tidak bersahabat macam itu, kita pun tak usah berlaku sungkan- sungkan lagi."

Ong Tiong segera bertepuk tangan kegirangan, sahutnya:

"Betul, sekalipun ada orang yang enggan pergi, tiga orang lainnya juga harus memaksanya untuk pergi, setujukah kalian?"

"Setuju !"

"Dan kau ?" Ong Tiong melirik sekejap ke arah Kwik Tay-lok. Dengan suara dingin tiba-tiba Yan Jit berkata:
"Tidak seharusnya pertanyaan semacam itu kau ajukan, masa kau menganggap Kwik Sianseng adalah seorang lelaki yang suka melupakan budi orang ?"

"Kalau begitu bagus sekali !" seru Ong Tiong sambil tertawa tergelak-gelak.



"Sekarang, semua masalahnya sudah beres, "nona Bwe, apa lagi yang masih kau nantikan ?"

Tapi Bwe Ji-lam belum juga menjawab, seakan-akan dia sengaja membiarkan mereka menunggu sebentar lagi.

Perempuan memang sukanya berbuat demikian, selalu membikin orang lelaki merasa gelisah.
 
Dengan sepasang biji matanya yang jeli, gadis itu memandang wajah ke empat orang lelaki tersebut silih berganti.

Dalam keadaan demikian, Kwik Tay-lok hanya berharap, sepasang biji mata yang jeli itu jangan sampai berhenti di atas wajahnya. .

Sesungguhnya ia sama sekali tidak jemu terhadap "Swan Bwe-thong" itu, seandainya pagi tadi ia mengatakan bahwa orang yang di sukai adalah orang lain bukan dia, mungkin dia akan marah- marah besar. Tapi suka adalah satu masalah, mencari bini adalah masalah lain.

Apalagi kalau mencari bini dalam keadaan yang dipaksakan, tentu saja keadaan ini jauh lebih berbeda lagi, seperti misalnya dia gemar minum arak, sekalipun demikian ia tak suka kalau ada orang memencet hidungnya sambil melolohkan arak ke dalam perutnya.

Dia cuma berharap semoga sepasang mata Bwe Ji-lam berpenyakit, bukan dia yang dituju melainkan orang lain.

Tapi sayangnya sepasang mata si "Swan Bwe-thong" ini justru sama sekali tak berpenyakit, bahkan pada waktu itu sedang menatap wajahnya lekat-lekat.

Bukan cuma memandang lekat-lekat, bahkan sedang tertawa, tertawanya begitu manis, begitu mempersonakan hati.

Siapapun orangnya, jika ia tahu kalau pancingnya sudah berhasil menangkap seekor ikan besar, senyuman yang menghiasi bibirnya tentu secerah ini.

Kwik Tay-lok ingin juga tertawa kepadanya, apa mau dikata justru ia tak sanggup untuk tertawa.

Ia menghela napas panjang dalam hatinya lalu berpikir:

"Aaaai. anggap saja aku lagi apes, siapa suruh tampangku jauh lebih ganteng dari pada
orang lain ?"

Tiba-tiba Bwe Ji-lam berkata:

"Masih ingatkah kau, bila aku sudah mengambil keputusan maka orang pertama yang akan kuberitahu adalah kau ?"

Mendengar perkataan itu, Kwik Tay-lok segera bergumam seorang diri:

"Padahal kau juga tidak usah begitu memegang janjimu itu, bukankah apa yang telah dijanjikan oleh kaum gadis, biasanya suka dilupakan kembali ?"

"Tapi aku tak pernah melupakan janjiku sendiri, apa yang telah kukatakan pasti akan kulaksanakan. nah, hayolah ikut aku keluar dari sini, akan kuberitahukan kepadamu siapakah
orang yang menjadi pilihanku itu."

Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, dia lantas bangkit berdiri dan beranjak dari tempat
itu.

Langkah tubuhnya tampak sangat enteng dan lincah, enteng bagaikan seekor burung walet.

Yaa, itulah seekor burung walet yang baru saja berhasil menangkap beberapa ekor ulat bulu yang besar.
 
Belum pernah mereka menjumpai gadis yang lincah semacam ini, begitu lincah dan riangnya sehingga mempersonakan hati orang.

Dalam waktu singkat ia sudah berada di depan pintu gerbang sana, melangkah dengan lemah gemulai bak bidadari yang baru saja turun dari kahyangan.

Kwik Tay-lok tertegun, sedang yang lain juga melongo besar. XXXXXXXXXX
Ketika tiba di pintu depan, gadis itu kembali berpaling menggape ke arah Kwik Tay-lok.
Menggape dengan tangannya yang putih dan halus.

Jika tengkukmu sudah dicekik oleh sepasang tangannya itu, bagaimanapun putih dan halusnya tangan tersebut, perasaannya pada saat itu tentu kurang sedap.

Terpaksa Kwik Tay-lok bangkit berdiri dan menengok ke arah Yan Jit. Tapi Yan Jit tidak memandang ke arahnya.
Kwik Tay-lok memandang ke arah Ong Tiong.

Ong Tiong sedang minum arak, cawan arak telah menghalangi sepasang matanya. Kwik Tay-lok pun memandang ke arah Lim Tay-peng.
Tapi Lim Tay-peng sedang duduk termangu-mangu seperti orang bodoh.
Akhirnya Kwik Tay-Iak menggigit bibirnya kencang-kencang, dengan gemas serunya: "Sudah pasti nenek moyangmu dulu sudah banyak hutang budi kepada orang, kalau tidak
mengapa aku bisa berteman dengan manusia-manusia macam kalian?" Terdengar Bwe Ji-lam yang berada di luar berseru:
"Hai, apa yang sedang kau ucapkan ? Kenapa belum juga menampakkan diri ?" Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang.
"Aaaai. aku bukan sedang berbicara, berkentut!" sahutnya.

"Akhirnya dia toh beranjak juga menuju ke luar ruangan. Kalau dilihat dari wajahnya yang bermuram durja dan sedih itu, tampang tersebut mirip dengan seorang terhukum yang sedang dibawa menuju ke pengadilan.

Lewat setengah harian kemudian, tiba-tiba Lim Tay-peng juga menghela napas panjang, kemudian bergumam:

"Tidak kusangka orang inipun pandai berlagak pilon, dihati kecilnya dia merasa gembira setengah mati, tapi wajahnya justru menunjukkan sikap bermuram durja, sungguh membuat orang yang melihat merasa mendongkol."

Omelan tersebut kedengaran rada kecut tak sedap didengar, arak yang berada dalam perutnya juga seolah-olah berubah menjadi cuka semua (maksudnya cemburu).
 


Ong Tiong segera tertawa:

"Lagi-lagi kau telah salah menduga !" serunya. "Salah menduga dalam soal apa ?" "Sesungguhnya dia tidak suka dengan nona itu."
"Tidak suka ? Apakah nona Bwe tidak pantas untuk mendampingi dirinya ?" "Pantas atau tidak adalah suatu urusan, suka atau tidak adalah urusan lain." "Darimana kau bisa tahu kalau dia tidak suka ?"
"Karena dia belum menjadi seorang bodoh dan dia belum menjadi orang bisu."

Lim Tay-peng segera mengerdipkan matanya berulang kali, rupanya ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan.

Agaknya Ong Tiong juga tahu kalau ia tidak mengerti, maka jelasnya lebih lanjut:

"Ada seorang yang sangat pintar pernah mengucapkan sepatah kata yang amat masuk diakal, dia bilang: "Bagaimana cerdiknya seseorang, bila ia benar-benar mencintai seorang gadis, maka selama berada dihadapannya maka dia pasti akan berubah menjadi ketolol-tololan, bahkan untuk bicarapun tak mampu."

Dengan pandangan sengaja tak sengaja dia melirik sekejap ke arah Yan Jit, kemudian sambil tertawa:

"Tapi selama berada di hadapan nona Bwe justru perkataan yang di ucapkannya paling banyak daripada orang lain..."

"Hal ini dikarenakan dia memang sudah dilahirkan dengan mulut yang sudah cerewet" tukas Yan Ji ketus.

Ong Tiang cuma tertawa dan tidak berbicara lagi.

Tak ada orang ingin menjadi orang yang cerewet, biasanya orang juga tak akan menganggap dirinya sebagai orang yang cerewet, tapi hari ini agaknya ia agak berubah, ucapannya juga lebih banyak beberapa kali lipat ketimbang biasanya.

Sesungguhnya Lim Tay-peng sudah merasa keheranan sendiri tadi.

Hari ini, mengapa orang ini bisa sedemikian cerewet ? Kata-kata, sebanyak itu sesungguhnya sengaja dia tunjukkan kepada siapa "

Lim Tay-peng hanya mengetahui satu hal:

Bila tiada sesuatu alasan yang istimewa, Ong Tiong tak akan sedemikian cerewetnya, bahkan untuk menggerakkan mulut pun enggan.

Rembulan bersinar dengan indahnya:
 
Mungkin jarang ada orang yang memperhatikannya, tapi rembulan di musim dingin belum tentu kalah indahnya dari pada rembulan di musim semi, rembulan di musim dinginpun masih sanggup untuk menggetarkan perasaan gadis.

Rembulan yang sedang bersinar purnama berada jauh di awang-awang, Bwe Ji-lam berdiri di bawah pohon yang rimbun. Cahaya rembulan menyoroti matanya yang jeli dan wajahnya yang cantik.

Sepasang matanya itu jauh lebih indah daripada rembulan.

Bahkan Kwik Tay-lok sendiripun tak bisa tidak untuk mengakui bahwa gadis itu benar-benar seorang gadis yang menawan hati, terutama potongan badannya yang ramping dan padat berisi itu, belum pernah Kwik Tay-lok menjumpai gadis cantik dengan potongan badan sebagus ini.

Ia tampak jauh lebih cantik daripada ketika dijumpai Kwik Tay-lok untuk pertama kalinya dulu, mungkin karena pakaiannya, mungkin juga karena senyumannya.

Pakaian yang dikenakannya hari ini sudah bukan pakaian dengan bahan kain yang kasar lagi, pinggangnya yang ramping ditutup oleh gaun yang panjang, membuat gadis itu tampak lebih cantik dan lebih menawan hati.

Kembali ia memandang ke arah Kwik Tay-lok sambil tertawa, tertawanya itu tampak lebih baik cantik dan manis.

Sesungguhnya Kwik Tay-lok paling menyukai senyuman-nya itu, tapi sekarang, hampir boleh dibilang ia tak berani memandang lagi ke arahnya barang sekejappun.

Senyuman seorang anak gadis ibaratnya pakaian atau perhiasan yang mereka kenakan, semuanya bertujuan untuk memancing perhatian orang lelaki. Lelaki yang pintar biasanya enggan untuk memperhatikan perhiasan atau pakaian atau senyuman yang diperlihatkan para wanita.

Seandainya dihari itu Kwik Tay-lok memahami teori tersebut, tentu tidak sebanyak ini kesulitan yang bakal dihadapinya.

Diam-diam ia menghela napas panjang, pelan-pelan maju menghampirinya dan tiba-tiba berkata:

"Benarkah takaran minum kakakmu sangat baik ?"
"Bohong !" Bwe Ji-lam sambil tertawa, "dihari-hari biasa ia hampir tak pernah minum arak." "Waaah... kalau begitu agak repot juga!" keluh Kwik Tay-lok sambil tertawa getir. "Sebenarnya aku ada rencana untuk melolohnya sampai mabuk begitu bersua muka nanti,
daripada ia menjadi teringat kembali dengan kejadian kemarin dan sengaja menjadi gara-gara denganku"

"Jika kau takut ia datang mencari gara-gara denganmu, tunggu sajalah beberapa hari lagi, setelah rasa mendongkolnya agak reda, kau baru pergi menjumpainya"

"Bukankah kau buru-buru hendak mengajakku untuk pulang menjumpainya?"

Tiba-tiba Bwe Ji-lam membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar dan memandang ke arahnya dengan mata mendelik.
 
"Kau kira.... kau kira...?"

Mendadak ia tertawa tergelak, tertawa terpingkal-pingkal sehingga membungkukkan badannya.

Menyaksikan keadaan dari gadis tersebut, Kwik Tay-lok menjadi tertegun, sepasang matanya terbelalak besar dan balas mendelik kearah gadis itu.



"Bukan aku. ?" gumamnya tergagap.

Bwe Ji-lam masih tertawa terpingkal-pingkal dengan kerasnya sehingga untuk berbicara tak sanggup, dia cuma bisa menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau bukan aku, lantas siapa ?" tanya Kwik Tay-lok kemudian tak tahan.

Dengan susah payah akhirnya berhasil Bwe Ji-lam menghentikan gelak tertawanya, dengan napas masih terengah sahutnya:

"Yan Jit !"

"Apa? Yan Jit.  ?" jerit Kwik Tay-lok, "orang yang kau cintai adalah Yan Jit ?"

Bwe Ji-lam manggut-manggut berulang kali.

Sekarang Kwik Tay-lok baru benar-benar dibuat tertegun.

Sesungguhnya dia memang tidak berhasrat untuk menikah dengan Bwe Ji-lam, bahkan dengan siapapun tidak ingin.

Sekarang terbukti kalau orang yang dicintai Bwe Ji-lam bukan dia, seharusnya dia musti menghembuskan napas lega, merasa bergembira karena tidak terpilih.

Tapi entah karena apa, tiba-tiba saja dia malah merasa amat sedih, amat kecewa, bahkan sedikit merasa cemburu.

Lewat lama sekali dia baru menghembuskan rasa mengkalnya itu keluar, sambil menggeleng gumamnya:

"Aku benar-benar tidak habis mengerti, mengapa kau bisa jatuh hati kepadanya?"

Bwe Ji-lam mengerling sekejap ke arah pemuda itu dengan sinar mata yang jeli, kemudian sahutnya sambil tertawa:

"Aku hanya merasa dia sangat baik, segala-galanya baik." "Bahkan tidak mandi pun terhitung baik?"
"Seorang lelaki yang gagah seringkali tak pernah memikirkan soal dirinya sendiri sebelum menikah, tapi bila sudah dirawat oleh isterinya, maka seringkali diapun akan berubah !"

Mencorong sinar tajam dari balik matanya, seperti lagi mengigau, katanya lebih lanjut sambil tertawa:
 
"Terus terang saja kukatakan, sedari kecil aku sudah menyukai lelaki yang tidak sok perlente seperti dia, sebab hanya lelaki semacam inilah baru betul-betul berjiwa seorang lelaki. Kalau memandang lelaki yang senang berdandan dan sok perlente, melihat saja aku sudah muak."

Ketika Kwik Tay-lok memandang sepasang matanya itu, mendadak ia merasa bahwa sepasang matanya itu sama sekali tidak indah, bahkan pada hakekatnya seperti mata orang buta saja.

"Aku juga tahu kalau selama ini dia selalu menghindariku, seakan-akan merasa muak kepadaku," terus Bwe Ji-lam, "padahal begitulah watak yang asli dari seorang lelaki sejati. Aku paling benci dengan laki-laki yang macam lalat saja begitu bertemu dengan perempuan...!"

Kwik Tay-lok merasa pipinya rada panas dan merah karena jengah, ia lantas mendehem beberapa kali, kemudian katanya:

"Kalau begitu, kau benar-benar mencintainya ?" "Masa kau sama sekali tidak mengetahuinya ?"
Kwik Tay-lok menghela napas panjang, lalu tertawa getir.

"Aku hanya merasa kau seakan-akan bersikap amat hangat dan mesra kepadaku." katanya. "Itu mah sengaja kulakukan agar dia menjadi panas hatinya dan cemburu."
"Kalau toh kau memang amat menyintainya, mengapa malah kau buat sehingga dia menjadi marah ?"

"Justru karena aku mencintainya maka aku harus membuatnya menjadi marah, masa teori semacam ini tidak kau pahami ?"

Kembali Kwik Tay-lok tertawa getir.

"Kalau begitu, menjadi seorang laki-laki lebih baik jangan sampai dicintai oleh perempuan, kalau selamanya tak dicintai oleh perempuan, bukankah hidupnya akan bertambah senang dan gembira?"

"Apakah sekarang kau merasa amat gembira?"

"Yaa, tentu saja gembira sekali, bahkan saking gembiranya aku ingin berteriak-teriak"

Ketika Kwik Tay-lok berjalan masuk kembali, sekalipun seorang buta juga tahu kalau hatinya sama sekali tidak merasa gembira.

Kalau disaat keluar dari ruangan tadi keadaannya seperti terhukum yang menuju ke lapangan penembakan. maka sekarang keadaannya tak bedanya seperti sesosok mayat.

Mungkin keadaan rada mendingan sedikit daripada mayat, karena ia masih bisa bernapas.

Keadaan didalam ruangan tersebut tidak jauh berbeda daripada suasana sewaktu dia ke luar tadi, Ong Tiong masih minum arak, Lim Tay-peng masih termangu-mangu dan Yan Jit seperti orang yang tidak melihat kedatangannya.

Kwik Tay-lok segera merampas cawan arak ditangan Ong Tiong itu, lalu berteriak dengan suara keras:
 
"Hei, mengapa kalian semua hari ini ? Apakah sudah menjadi guci arak semua ?" Ong Tiong tertawa, sahutnya:
"Untuk memperingati hari perkawinan dari teman karib kita, tentu saja kita harus minum beberapa cawan lebih banyak, masakah si pengantin lelaki merasa keberatan ?"

Sebetulnya Kwik Tay-lok juga ingin tertawa, namun ia tak mampu bersuara, dikerlingnya Yan- Jit sekejap, kemudian katanya:

"Di sini memang ada seorang pengantin baru, cuma orangnya bukan aku !"

Rupanya Ong Tiong sama sekali tidak menanggapi kejadian itu sebagai sesuatu yang di luar dugaan, hanya tanyanya dengan suara hambar:



"Kalau bukan kau, lantas siapa ?" Kwik Tay-lok tidak menjawab.
Dia telah membalikkan badannya, dengan sepasang mata yang mendelik besar ditatapnya Yan Jit tanpa berkedip.

"Hei, apa yang kau perhatikan ?" Yan Jit segera menegur. "Aku sedang memperhatikan kau ?"
"Apa yang baik dengan diriku ?" sahut Yan Jit sambil tertawa dingin, "apa kau tidak merasa salah melihat orang ?"

Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, katanya:

"Aaaai... aku memang sedang memperhatikan dirimu dengan seksama, aku ingin tahu keistimewaan apakah yang kau miliki sehingga orang lain bisa tertarik kepadamu."

"Tertarik kepadaku ? Siapa yang tertarik kepadaku ?" tanya Yan Jit dengan kening berkerut. "Siapa lagi ? Tentu saja si pengantin perempuan!"
Yan Jit baru merasa terperanjat setelah mendengar perkataan itu, teriaknya: "Apa hubungannya antara pengantin perempuan dengan diriku ?"
"Jika si pengantin perempuan tak ada hubungannya dengan si pengantin lelaki, lantas dia musti mempunyai hubungan dengan siapa?"

Kontan saja Yan Jit melototkan sepasang matanya bulat-bulat. "Siapa yang menjadi pengantin ?"
"Kau !"

Yan Jit menjadi tertegun.
 
Pada mulanya dia kelihatan agak terperanjat, kemudian secara tiba-tiba berubah menjadi gembira dan akhirnya tertawa terbahak-bahak, seakan-akan tiba-tiba ia tahu kalau lotre buntutnya tembus.

"Oooh... rupanya kau pun menyukainya" gumam Kwik Tay-lok kemudian sambil mengedipkan matanya.

Yan Jit tidak menjawab, ia cuma tertawa terus tidak hentinya. Kembali Kwik Tay-lok berkata:
"Bila kau tidak mencintainya pula, mengapa tertawamu begitu riang dan gembira ?" Yan Jit tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya:
"Dimanakah orangnya sekarang ?"

"Sedang menunggu pengantin lelakinya di halaman depan, lebih baik janganlah kau buat ia merasa gelisah karena harus menunggu terlalu lama"

Yan Jit memang tidak membiarkan ia menunggu lama, ketika ucapan Kwik Tay-lok baru selesai diucapkan, dia sudah melompat bangun dan lari ke depan.

Kwik Tay-lok memandang ke arahnya kemudian pelan-pelan menggelengkan kepalanya berulang kali, gumamnya:

"Tampaknya si pengantin lelaki jauh lebih terburu napsu daripada pengantin perempuannya." "Apakah kau tidak merasa puas?" tiba-tiba Ong Tiong menegur sambil tertawa.
Kwik Tay-lok melotot sekejap ke arahnya, kemudian menjawab dengan dingin: "Aku tak lebih hanya merasa agak heran."
"Apanya yang perlu diherankan ?"

"Aku cuma heran, kenapa mata setiap perempuan tentu ada penyakitnya ?"

"Jadi kau beranggapan nona Bwe tidak sepantasnya tertarik kepada Yan Jit ? Kau anggap dia amat jelek ?"

Kwik Tay-lok berpikir sejenak, kemudian:

"Padahal ia juga tak dibilang terlalu jelek paling tidak matanya tidak jelek."

Di dalam kenyataan, sepasang mata Yan Jit bukan cuma tidak jelek, bahkan menarik sekali, terutama bila ia sedang tertawa, keadaannya ibarat air telaga di musim semi yang syahdu.

"Jelekkah hidungnya ?" kembali Ong Tiong bertanya. Kwik Tay-lok berpikir sebentar, lalu menjawab:
"Juga tak bisa dianggap jelek, cuma dikala tertawa maka hidungnya jadi lebih mirip dengan bak-pao"
 
Jika Yan Jit sedang tertawa maka hidungnya selalu berkenyit lebih dahulu, bukan saja tidak mirip bak-pao bahkan malah kelihatan lebih nakal dan indah.

"Jelekkah bibirnya ?" kembali Ong Tiong bertanya. Mendadak Kwik Tay-lok tertawa.
"Aku jarang sekali dapat melihat bibirnya!" dia berseru. "Kenapa ?"
"Bibirnya jauh lebih kecil daripada bibir anjing cho-cho, mana aku bisa melihatnya ?" "Apakah mulut yang terlampau kecil jelek dipandang ?"
Terpaksa Kwik Tay-lok harus menggaruk-garuk kepalanya karena dia bukan berbicara dengan suara hatinya.
"Coba katakan, bagai mana dari tubuhnya yang jelek dipandang...?" desak Ong Tiong lagi. Kwik Tay-lok sudah berpikir lama sekali, tiba-tiba ia merasa bahwa dari kepala sampai kaki
Yan Jit sesungguhnya indah semua.

Bahkan sepasang tangannya yang selalu dekil dan kotor itupun jauh lebih ramping, runcing dan indah daripada jari tangan orang lain. Terpaksa Kwik Tay-lok menghela napas panjang, katanya:

"Andaikata dia sering mandi, mungkin dia bukan seorang yang tak sedap dipandang!" Tiba-tiba Ong Tiong tertawa, katanya:
"Seandainya dia benar-benar telah mandi, mungkin kau sendiripun akan merasa amat terperanjat."



"Aku mah sangat berharap sampai kapan dia baru akan mengejutkan diriku."

"Kalau toh kau sendiripun merasa dia tidak jelek, salahkah jika nona Bwe sampai jatuh hati kepadanya?"

"Ya, tidak salah, dia memang tidak salah. "

Mendadak dari arah ruangan depan sana mereka mendengar suara teriakan dari Bwe Ji-lam, seperti kucing yang ekornya tiba-tiba diinjak orang.

Kwik Tay-lok segera melompat bangun ingin melihat ke depan, tapi dengan cepat ia duduk kembali, sambil gelengkan kepalanya dan tertawa katanya:

"Aku tahu kalau pengantin lelaki biasanya sangat gelisah dan terburu napsu, tapi tidak kusangka kalau Yan Jit sedemikian lihaynya."

Baru habis dia mengucapkan kata-kata itu, tampaklah Yan Jit melangkah masuk. Dia masuk seorang diri.
 
"Dimana pengantin perempuannya?" Kwik Tay-lok segera menegur. "Tidak ada pengantin perempuan !"
"Kalau ada pengantin lelaki, tentu saja ada pula pengantin perempuan "

"Juga tak ada pengantin lelaki."

Kwik Tay-lok memandangnya tajam-tajam mendadak sambil tertawa katanya: "Apakah pengantin perempuannya sudah dibikin lari ketakutan oleh pengantin lelaki?"
Mendadak ia menjumpai di atas wajah Yan Jit terdapat tiga jalur bekas cakaran kuku yang memanjang, seperti bekas dicakar oleh kucing.

Yan Jit sama sekali tak acuh, malahan sebaliknya kelihatan amat gembira, sampai mengerdipkan matanya dan tertawa dia berkata:

"Dia memang sudah pergi, tapi bukan lari karena takut kepadaku" "Bukan? Kalau tanganmu tidak jahil, kenapa ia sampai berteriak?" Yan Jit tertawa.
"Seandainya tanganku benar-benar jahil, masa dia akan angkat kaki dari sini?" "Yaa, memang tidak bisa" terpaksa Kwik Tay-lok mengakui.
Karena diapun tahu, bila seorang perempuan telah mencintai seorang lelaki, maka dia tak akan takut menghadapi tangan jahil dari pasangannya.

"Tapi apa sebabnya dia sampai pergi?"

"Karena secara tiba-tiba ia telah berubah pikiran, dia tidak jadi kawin denganku!" "Dia sudah berubah pikiran? Mana mungkin ?"
"Karena. karena aku telah mengucapkan sepatah kata kepadanya"

"Aku tidak percaya" kata Kwik Tay-lok sambil menggelengkan kepalanya, "jika seorang perempuan sudah mengambil keputusan untuk kawin dengan seorang lelaki, sekalipun kau mengucapkan tiga ribu enam ratus kata, ia juga tak akan berubah pikiran."

Sesudah berhenti sebentar, sambil tertawa terusnya:

"Kapankah kau pernah menyaksikan ada orang yang membiarkan ikan yang berhasil dipancingnya itu kabur kembali dari tangannya?"

Yan Jit tertawa.

"Siapa tahu kalau secara tiba-tiba ia menemukan bahwa ikan tersebut banyak durinya, mungkin juga dia memang tidak suka makan ikan. "

"Tiada kucing di dunia ini yang tidak suka makan ikan"
 
"Tapi dia toh bukan kucing ?"

Kwik Tay-lok menatapnya tajam-tajam, kemudian katanya sambil tertawa: "Kalau bukan kucing, kenapa bisa mencakar orang ?"
Tentu saja Kwik Tay-lok juga tahu, bukan saja perempuan pandai mencakar orang bahkan bila sudah mulai mencakar, malahan jauh lebih ganas daripada kucing.

Jika kucing yang sedang mencakar orang, paling tidak ia mencakar karena ada alasannya, berbeda dengan perempuan.

Bila ia sedang gembira, maka ia bisa jadi mencakar dirimu. Hanya ada satu hal yang tidak dipahami Kwik Tay-lok.
"Sesungguhnya cara apakah yang kau pergunakan sehingga membuat ia berubah pikiran ?" "Cara apapun tidak kugunakan, aku cuma mengucapkan sepatah kata saja."
"Apa yang kau ucapkan ?"

"Itu mah urusanku, kenapa kau musti tau?" "Karena aku ingin belajar."
"Kenapa harus belajar ?"

"Asal dia adalah seorang lelaki, mengapa tak ingin belajar ?" jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa.

"Kalau memang begitu, aku lebih-lebih tak bisa mengajarkannya kepadamu." "Kenapa ?"
Yan Jit tertawa.

"Karena itu adalah rahasiaku, bila kaupun bisa, dengan apa pula aku musti mengandalkan diri
?"

Mendengar perkataan itu, Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, gumamnya: "Aaai... aku masih mengira kau adalah Sahabatku, ternyata cuma soal itu saja..." "Apakah diantara sesama teman tak boleh ada rahasia ?" tiba-tiba Ong Tiong menukas.
"Itu mah harus tergantung pada rahasia macam apakah itu ? Rahasia pribadi atau rahasia profesi ?"

"Aaaaaah. . . ! Rahasia yaa rahasia, semua rahasia adalah sama saja artinya." "Kalau begitu, kau juga ada rahasia?"
Ong Tiong manggut-manggut.
 
"Dan kau sendiri ?" ia balik bertanya, "apakah kau tidak punya rahasia ?"

Kwik Tay-lok termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, sejenak kemudian, akhirnya dengan memaksakan diri, dia manggut-manggut juga.



"Seandainya orang lain ingin mengetahui rahasiamu, bersediakah kau untuk menjawabnya ?" tanya Ong Tiong lagi.

Kembali Kwik Tay-lok berpikir akhirnya dengan memaksakan diri dia pun menggeleng. "Kalau memang demikian, kau tak usah bertanya pula rahasia orang"
Sesuai berkata, dia lantas membaringkan diri.

Biasanya bila ia sudah membaringkan diri, itu bertanda kalau pembicaraan telah berakhir. Hanya kesimpulan yang benar baru bisa menyelesaikan suatu pembicaraan.
Biasanya kesimpulan dari Ong Tiong adalah suatu kesimpulan yang benar. Setiap orang memang mempunyai rahasia.
Setiap orang mempunyai hak untuk menyimpan rahasia sendiri, sebab hal ini merupakan kebebasannya.

Kwik Tay-lok sedang duduk di bawah emper rumah, sudah lama sekali ia duduk di sana, asal masih ada pekerjaan lain yang masih bisa dilakukan olehnya, dia tak akan duduk terpekur di situ.

Ada orang lebih suka kelayapan di luar, melihat orang yang berlalu lalang, melihat anjing berkelahi dari pada mengurung diri didalam rumah.

Kwik Tay-lok adalah manusia semacam ini.

Tapi satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakukan olehnya sekarang hanyalah duduk termangu di situ.

Di bawah emper rumah sudah terbentuk tiang-tiang salju yang membeku, ada yang panjang ada pula yang pendek, entah berapa banyak jumlahnya.

Tapi Kwik Tay-lok tahu, semuanya berjumlah enam puluh tiga batang, dua puluh enam batang agak panjang, tiga puluh tujuh batang agak pendek.

Sebab sudah tujuh delapan belas kali dia menghitungnya.

Udara memang terlampau dingin, dijalan raya bukan saja tidak kelihatan manusia, anjing- anjing liarpun entah sudah bersembunyi di mana semua.

Ia sudah hidup dua puluh tahunan, sudah melewati dua puluh kali musim dingin, tapi belum pernah menjumpai udara sedingin hari ini.

Ia sering ketimpa sial, tapi belum pernah sesial hari ini.
 
Sial adalah semacam penyakit menular, bila seseorang lagi sial, maka orang yang berjalan bersamanyapun akan turut kebagian sialnya.

Oleh karena itu, bukan cuma dia seorang yang duduk di sana.

Yan Jit, Ong Tiong dan Lim Tay-peng semuanya duduk di sana, duduk sambil termangu- mangu.

Mendadak Lim Tay-peng bertanya:

"Kalian coba tebak, berapa banyak tiang salju yang ada di atas emper rumah itu ?" "Enam puluh tiga batang !" jawab Yan Jit cepat.
"Dua puluh enam batang panjang, tiga puluh tujuh batang pendek" sambung Ong Tiong. Kwik Tay-lok tidak tahan untuk tertawa geli, serunya pula:
"Rupanya kalian juga turut menghitung." "Hampir empat puluh kali kuhitung jumlahnya."
"Aku hanya menghitung sebanyak tiga kali, karena aku merasa sayang untuk menghitung terlalu banyak." sambung Ong Tiong.

"Apanya yang disayangkan ?"

"Karena kalau kebanyakan, entar aku tak bisa menghitungnya lagi." Kwik Tay-lok ingin tertawa, namun ia tak mampu tertawa.
Sekalipun ucapan tersebut sangat menggelikan, tapi juga amat patut dikasihani.

Mendadak Kwik Tay-lok bangkit berdiri, lalu membalikkan badan dan menghampiri satu- satunya meja di tengah ruangan.

Meja itu terbuat dari kayu jati yang bagus, di atas permukaannya berlapiskan batu granit yang keras dan berkilat.

Kwik Tay-lok segera bergumam:

"Entah saat ini aku masih mempunyai tenaga untuk menggotongnya ke rumah mertua kita atau tidak ?"

"Kau tak akan kuat !" seru Ong Tiong. "Bagaimana kalau dicoba dulu ?" "Kau tak usah mencoba."
"Kenapa ?"

"Aku juga tahu kalau kau masih sanggup untuk menggotong sebuah meja kosong, tapi barang yang berada di atas meja itulah yang berbeda."
 
"Tapi di atas meja ini tak ada apa-apanya." "Ada !"
"Ada apanya ?"

"Nama baik kita! Lagi pula bukan nama baikmu seorang, tapi nama baik kita semua." Sesudah berhenti sejenak, pelan-pelan terusnya dengan suara hambar:
"Bukan saja kita sudah menerima uang sewa orang, juga sudah menerima uang tanggungan, bila kita gadaikan barang milik orang sekarang, dengan muka apa kita akan berjumpa dengan orang di kemudian hari?"

Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir: "Benar, aku memang tak sanggup menggotong meja ini"
"Yang terberat di dunia ini adalah nama baik, oleh karena itu hanya semacam manusia yang sanggup menggotong keluar meja tersebut dari sini"

"Macam manusia apa ?" "Orang yang tak punya muka !"
"Manusia semacam itu biasanya justru paling kenyang perutnya" kata Lim Tay-peng sambil menghela napas.

"Babi biasanya juga selalu makan kenyang !" sambung Yan Jit. Lim Tay-peng segera tertawa.
"Itulah sebabnya bila seseorang ingin memikirkan soal nama baik, ada kalanya dia harus mengorbankan jeritan perut, sebab bagaimanapun juga muka lebih penting dari pada perut."

"Yaa, karena manusia bukan babi, hanya babi yang menganggap perut lebih penting daripada nama baik."

"Itulah sebabnya ada orang lebih suka mati kelaparan daripada melakukan pekerjaan yang memalukan."

"Tapi kita toh tidak mati kelaparan bukan?" ujar Ong Tiong. "Benar !"