Pendekar Riang Jilid 09

 
Jilid 09

WALAUPUN ia tidak melihat pedang orang berbaju hitam itu, tapi ia telah menemukan titik kelemahan di tubuh lawannya, bahkan ia melihat dengan jelas sekali.

"Blaaamm!" suatu benturan keras bergema di udara, menyusul kemudian tubuh orang berbaju hitam itu mencelat ke belakang.

Kalau tubuhnya mencelat ke belakang, maka cahaya pedang itu menyambar ke muka, tubuhnya tertumbuk di atas dinding tembok sedang pedangnya menancap di atas sebatang pohon di depan sana.

Begitu roboh terjungkal ke tanah, orang berbaju hitam itu tidak berkutik lagi.

Kwik Tay-lok masih berdiri termangu di situ sambil memperhatikan kepalannya, dia seperti agak tercengang dan keheranan.

Tampaknya dia sendiripun tidak menyangka kalau sebuah tonjokannya telah berhasil merobohkan lawan.

Ia saja tidak menyangka, tentu saja orang lain lebih tidak menyangka lagi.

Yan Jit sendiripun tidak menyangka, setelah termangu-mangu sekian lama, ia baru menyerbu ke depan, dengan perasaan yaa kaget, yaa girang yaa ngeri, katanya sambil tertawa:

"Aku toh suruh kau berdiri agak dikejauhan, mengapa sengaja menyerbu ke muka?" "Mungkin karena aku ini tolol" jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa.
Sewaktu tertawa, ia memang kelihatan agak ketolol-tololan.

Tetapi, tentu saja ia sama sekali tidak tolol... dikala kau menganggap dia tolol, dia justru berubah menjadi pintarnya bukan kepalang, bahkan jauh lebih pintar daripada kebanyakan orang.

"Siapa yang mengatakan kau bodoh?" kata Yan Jit sambil tertawa. "Aku hanya merasa tidak habis mengerti, kau dari mana bisa tahu kalau pedang yang akan digunakan bukan pedang pendek ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa lebar.

"Aku sama sekali tak dapat melihatnya, aku cuma berhasil menebaknya secara jitu." "Kalau tebakanmu itu keliru ?" tanya Yan Jit setelah tertegun sejenak.
"Aku tak bakal salah tebak !" "Kenapa ?"
"Sebab kemujuranku didalam hal ini selamanya selalu baik!" sahut Kwik Tay-lok sambil tertawa haha hihi.

Kembali Yan Jit turut tertegun, tapi beberapa saat kemudian ia tertawa lebar pula, katanya:
 
"Walaupun kau tidak bodoh, tapi kaupun tidak jujur, sedikitpun tidak jujur." Kwik Tay-lok memang tidak jujur, sebab dia pandai berlagak pilon.
Tentu saja ia dapat melihat kalau senjata yang akan dipakai si orang berbaju hitam kali ini adalah pedang pendek.

Sebab gagang pedang si orang berbaju hitam itu berada di bahu kiri sedang ia mencabut pedangnya dengan tangan kanan, ketika meloloskan senjata dada serta perutnya menyusut ke belakang, segenap tenaganya tidak digunakan semua.

Maka antara bagian dada dengan perutnya segera muncul sebuah titik kelemahan.

Kwik Tay-lok dengan jelas menyaksikan titik kelemahan tersebut, itulah sebabnya kepalan itu secara telak menghajar titik kelemahan yang ada.

Asal kau bisa menyaksikan secara tepat, bisa mengambil keputusan secara jitu, satu pukulan saja sudah cukup, tak usah pukulan yang kedua.

Bila ada dua jago lihay sedang bertarung, biasanya yang paling menentukan segala sesuatu adalah pukulan yang pertama.

Bila dalam pukulan yang pertama ini kau gagal merobohkan, maka besar kemungkinan dirinya yang bakal dirobohkan orang.

Selisih antara menang dan kala kadangkala hanya terpaut dalam sedetik... kadangkala juga terpaut dalam satu kilatan ingatan.

Tiba-tiba Yan Jit berkata lagi:

"Masih ada satu hal yang tidak kupahami" "Oya ?"
"Tangannya jauh lebih pendek daripada pedangnya, mengapa begitu menggerakkan tangannya ia telah meloloskan pedang tersebut ?"

Kwik Tay-lok berpikir sebentar, lalu jawabnya sambil tertawa: "Aku sendiri juga tidak mengerti"
"Aku mengerti !" sela Ong Tiong.

Ia berjalan mendekat, tangannya telah membawa sarung pedang milik si orang berbaju hitam
itu.

Yan Jit menyambut sarung pedang itu dan dilihat sebentar, kemudian katanya pula sambil tertawa:

"Aku juga mengerti sekarang !"

Barang siapa memeriksa sarung pedang itu, maka dengan cepat mereka akan menjadi mengerti.
 
Dalam sarung pedang itu semuanya terdapat dua bilah pedang, sebilah pedang panjang dan sebilah pendek. Dalam hal ini Yan Jit sudah menduganya sampai ke situ.

Tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau sarung pedang itu bukan sarung pedang yang sesungguhnya, melainkan hanya sebuah jepitan belaka.



Pedang itu bukan "dicabut" keluar dari atas, melainkan "ditarik" keluar lewat samping. "Ini mah caranya seperti sebutir telur ayam!" kata Yan Jit sambil tertawa.
"Seperti telur ayam?" tanya Kwik Tay-lok dengan wajah tertegun.

"Tahukah kau, dengan cara apakah telur ayam itu baru bisa diberdirikan di atas meja?" "Tidak tahu."
"Goblok!" seru Yan Jit sambil tertawa: "asal kau membuat lubang di ujung telur itu, maka telur ayam itu kan bakal bisa berdiri sendiri di meja."

"Kau benar-benar pintar, tak kusangka cara inipun bisa kau dapatkan..." seru Kwik Tay-lok sambil tertawa.

Banyak persoalan di dunia ini memang mirip dengan telur ayam itu.

Seringkali persoalan yang kau rasakan begitu pelik dan rumit, sesungguhnya bisa diselesaikan secara mudah.

Ada sementara orang juga seperti telur ayam itu.

Bagaimanapun tak bergunanya seseorang, asal kau menotok kepalanya sampai berlubang, maka dia akan bisa berdiri sendiri.

Di tengah halaman kini telah bertambah dengan sebuah kuburan anjing.

Dengan tangan sendiri Yan Jit memasukkan bangkai anjing itu ke dalam peti mati, lalu sambil menghela napas sedih gumamnya:

"Kau datang dari peti mati, sekarang pergi lewat peti mati lagi, tahu begini, kenapa kau harus datang?"

Kwik Tay-lok segera tertawa getir, sahutnya:

"Bila ia tidak datang, kitalah yang akan pergi lewat peti mati pergi ke akhirat !"

Lim Tay-peng menghela napas panjang:

"Aaaai. ketika ia datang untuk pertama kali dulu, aku malah sempat menendangnya sekali,
siapa tahu ia justru telah menyelamatkan jiwa kita semua."

"Anjing tidak mirip manusia," kata Ong Tiong, "anjing juga tidak mengingat dendam, dia hanya teringat akan budi kebaikan dari orang lain."
 
"Benar" Kwik Tay-lok manggut-manggut, "asal kau pernah memberi sekerat tulang kepada anjing, bila lain kali ia bertemu denganmu, ekornya tentu digoyang-goyangkan, tapi ada sementara manusia yang justru lupa budi orang, seberapa besarpun kebaikan yang pernah kau berikan kepadanya, kadangkala ia malah membalikkan kepala untuk menggigit dirimu, oleh karenanya. "

"Oleh karenanya anjing lebih setia kawan daripada manusia, paling tidak lebih setia kawan daripada sekelompok manusia," sambung Lim Tay-peng.

"Maka dari itu, kita harus membuatkan batu nisan untuknya." "Tapi, apa yang harus ditulis di atas batu nisan itu?" "Disinilah bersemayam teman kita anjing"
Yan Jit segera menggelengkan kepalanya.

"Teman kita anjing masih belum cukup." katanya, "jangan lupa, dia juga merupakan tuan penolong kita. "

"Yaa, lebih baik ditengah batu nisan ditulis: Disinilah bersemayam teman kita anjing. kemudian disampingnya kite buatkan sebait syair untuk peringatan" usul Ong Tiong.

"Kau juga bisa membuat syair peringatan?"

Ong Tiong manggut-manggut, mendadak ia bangkit berdiri seraya bersenandung dengan lantang:

"Anjing dalam peti,

sahabat karib tuan penolong, bila kau tak datang,
kami telah pergi,

bulan satu tanggal lima belas,

bunga berguguran arak dipersembahkan, kau pergi untuk selamanya."
Kalau babi janganlah terlalu gemuk, sedang kalau manusia jangan terlalu pintar.

Babi yang gemuk tentu lamban gerak geriknya dan malas sekali, bila seseorang manusia ingin hidup agak senang, kau harus membawa sifat ketolol-tololan dan melakukan beberapa pekerjaan yang ketolol-tololan.

Tapi itu semua bukan menandakan kalau mereka itu bodoh.

Tentu saja mereka tahu kalau kucing tak bisa menanak nasi, anjing juga tak bisa masuk sendiri ke dalam peti mati.

Baik sang kucing maupun sang anjing, sudah pasti mempunyai majikannya. Tapi siapakah orang itu ?
 
"Ketika orang itu menghantar peti mati tersebut kemari, dia pasti sudah tahu kalau Lam-kiong Cho belum mati." ujar Yan Jit.

"Benar," Kwik Tay-lok menyambung, "mungkin tujuannya menghantar peti mati itu kemari adalah untuk memberi tahu kepada kita bahwa Lamkiong Cho belum mati."

Yan Jit kembali manggut-manggut.

"Dia pasti sudah mengetahui tipu muslihat dari Lamkiong Cho tersebut...!" serunya. "Tapi mengapa ia tidak menerangkan kepada kita ?"
"Sebab dia masih belum ingin bertemu dengan kita."

"Kenapa ?" tanya Lim Tay-peng, "kalau dia memang tidak berniat buruk, mengapa cara kerjanya harus bersembunyi-sembunyi macam takut bertemu dengan orang saja?"

"Aku lihat orang ini sudah pasti seorang perempuan" seru Kwik Tay lok tiba-tiba. "Darimana kau bisa tahu ?"
"Hanya perempuan yang suka melakukan perbuatannya secara sembunyi-sembunyi, hanya perempuan pula .yang suka melakukan perbuatan yang membingungkan hati"



Yan Jit kontan menarik mukanya, lalu berseru:

"Sekalipun perempuan sampai melakukan perbuatan semacam itupun dikarenakan orang lelaki lebih membingungkan hati lagi"

"Jangan lupa kau juga seorang lelaki!" seru Kwik Tay lok tertawa. "Jangan lupa kau juga dilahirkan oleh seorang perempuan !" Ong Tiong menatap tajam wajah Yan Jit tiba-tiba katanya:
"Orang lelaki seringkali memandang rendah kaum perempuan, sebaliknya perempuan juga seringkali memandang rendah kaum lelaki, sesungguhnya kejadian semacam ini adalah suatu keadaan yang wajar, sejak beribu-ribu tahun yang lalu sudah begini, beribu-ribu tahun kemudian juga begini...!"

"Maka kenapa ?"

"Maka kejadian semacam ini sebetulnya tak ada manfaatnya untuk diperdebatkan, aku tidak habis mengerti mengapa kalian selalu memiliki minat yang besar dan istimewa untuk menyinggung persoalan semacam itu ?"

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Persoalan yang sedang kita hadapi sudah cukup banyak, tapi sekarang justru telah bertambah lagi dengan suatu persoalan baru"

"Persoalan apa ?"
 
Soal Lamkiong Cho !"

Lamkiong Cho belum mati, karena tak seorangpun diantara mereka yang mau membunuhnya.

Mereka semua tak ingin membunuh orang terutama membunuh seseorang yang telah mereka robohkan. Paling tidak Lamkiong Cho tidak salah mengucapkan sesuatu:

"Ada sementara orang yang sejak dilahirkan sudah tidak berbakat membunuh orang, bahkan selama hidup tak akan mampu melakukannya"

"Yaa, benar ! Dia memang merupakan suatu persoalan buat kita" kata Kwik Tay-lok. "Apakah ia sudah kita sekap ?" tanya Lim Tay peng.
"Yaa benar !"

"Kau tidak kuatir ia berhasil melarikan..."

"Dia tak akan mampu untuk melarikan diri"Jika seseorang telah dibelenggu macam bakcang, jangan harap ia dapat meloloskan dirinya lagi.

"Kalau memang tak mampu melarikan diri, persoalan apa pula yang akan kita hadapi?" tanya Lim Tay-peng lagi.

"Disinilah letak persoalannya, bila ia tak sanggup melarikan diri, bukankah kita harus mengawasinya terus ?"

Lim Tay-peng mengangguk.

Kwik Tay-lok segera tertawa getir.

"Untuk memelihara kita sendiripun sudah kepayahan, mana mungkin kita bisa memelihara orang lain?"

"Kalau begitu, lebih baik dilepaskan saja" "Manusia semacam dia tak dapat dilepaskan."
"Lantas apakah kita harus memeliharanya sampai tua ?"

"Itulah sebabnya masalah ini baru merupakan suatu persoalan untuk kita semua"
"Kita toh bisa menyuruh dia untuk memelihara dirinya sendiri ?" tiba-tiba Yan Jit mengusulkan. "Mencorong sinar tajam dari balik mata Kwik Tay-lok segera mendengar perkataan itu,
serunya:

"Benar, dia lebih kaya dari pada kita"

"Paling tidak ia baru saja berhasil menggaet sejumlah uang dari tangan Hong Si-hu" Kwik Tay-lok segera beranjak dari tempat duduknya.
"Akan kutanyai dirinya, dimana ia sembunyikan harta karun tersebut" katanya.
 
"Masa ia mau menjawab ?"
"Walaupun aku bukan si tongkat penjepit, tapi akupun mempunyai cara yang jitu" "Tampaknya kau berhasil mempelajari beberapa macam permainan dari si tongkat penjepit ?"
kata Yan Jit tertawa geli.

Di kebun belakang sana terdapat sebuah kamar kayu bakar.

Tapi kamar kayu bakar itu agaknya bukan untuk menyimpan kayu bakar melainkan dipakai untuk menyekap orang, entah penyamun atau pencuri macam apapun, tentu akan disekap dalam kamar kayu jika berhasil ditangkap.

Dalam kamar kayu itu ada laba-laba, ada tikus, ada kotoran anjing, ada kotoran kucing, ada mangkuk gumpil, ada pula sisa batu arang, hampir benda rongsokan apapun terdapat di sana, tapi justru tak ada kayu bakar, sebatangpun tak ada.

Lamkiong Cho yang telah diikat seperti bakcang itu, kini sudah lenyap tak berbekas. Di atas lantai hanya tinggal setumpuk tali.
Setengah harian lamanya Kwik Tay-lok berdiri tertegun di sana, kemudian setelah memeriksa bekas tali pengikat itu, katanya:

"Tali-tali ini dipotong dengan pisau"

"Bahkan dengan pisau yang tajam" sambung Yan Jit.

Hanya pisau yang tajam baru akan meninggalkan bekas potongan yang rapi di atas tali tersebut.

Lim Tay-peng segera berkerut kening, katanya kemudian:

"Kalau begitu, ia pasti bukan kabur sendiri, tentu ada orang yang telah datang menolongnya." Kwik Tay-lok tertawa getir.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau manusia semacam itupun bisa mempunyai teman"



"Mungkinkah kedua orang setan cilik itu?"

"Tidak mungkin, sekalipun mereka mempunyai kemampuan sebesar ini juga tak akan mempunyai keberanian sebesar itu, apalagi "

Tiba-tiba ia tertawa, terusnya:

"Bocah cilik rada mirip dengan kaum perempuan !" "Bagian mana yang mirip ?"
"Bocah cilik tak akan membicarakan soal setia kawan, pada hakekatnya mereka tidak mengerti."
 
Yan Jit kontan mendelik besar, tapi sebelum ia mengucapkan sesuatu, Lim Tay-peng telah berseru lebih dulu.

"Mungkinkah perbuatan dari si anjing buldok ?" "Mengapa kau bisa teringat akan dirinya?"
"Hari itu aku tidak menjumpai si anjing buldok berada di sana, mungkin Lamkiong Cho telah melepaskannya, mungkin juga mereka telah bersekongkol sebelumnya."

Kwik Tay-lok gelengkan kepalanya berulang kali.

"Sekalipun manusia semacam Lamkiong Cho bisa melakukan perbuatan macam apapun, paling tidak ada satu hal yang tak mungkin bisa dilakukan olehnya"

"Perbuatan macam apakah itu ?"

"Dia tak akan membagi harta rampasannya dengan orang lain." Setelah tertawa, katanya lebih lanjut:
"Seandainya di meja ada tiga mangkuk nasi, sekalipun ia tidak habis makan, sisanya juga tak akan diberikan kepada orang lain, bahkan sekalipun bakal mampus kekenyangan, dia juga akan tetap melahapnya sampai habis."

"Jadi kau beranggapan bahwa si tongkat dan si anjing buldok sudah mampus di bunuhnya ?" Kwik Tay-lok manggut-manggut.
"Aku lapar !"

Ucapan yang terakhir ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan apa yang mereka bicarakan sekarang, bahkan sedikitpun tak ada sangkut pautnya.

Siapapun tak akan menyangka kalau dia bisa mengucapkan kata-kata semacam itu dalam keadaan demikian.

Lim Tay-peng menatap wajahnya lekat-lekat sepasang matanya terbelalak lebar. Ong Tiong serta Yan Jit juga sedang memperhatikan dirinya, seakan-akan mereka sedang menyelidiki apakah orang ini mempunyai susunan badan yang berbeda dengan orang lain ?

Kwik Tay-lok tertawa katanya lagi:

"Ketika membicarakan soal tiga mangkuk nasi, tiba-tiba aku merasa perutku sangat lapar, ketika berbicara soal makan, aku baru teringat kalau kita sudah setengah harian lamanya belum bersantap apa-apa"

"Jadi setiap kali kau membicarakan sesuatu, maka kaupun akan teringat untuk melakukan sesuatu ?" tanya Ong Tiong kemudian.

"Agaknya memang begitu !"

"Jadi kalau kau sedang "membicarakan soal kencing anjing, apakah kaupun berpikir. "
 
Belum habis perkataan itu, tiba-tiba Kwik Tay-lok membalikkan badan dan lari meninggalkan tempat itu.

Arah yang dituju adalah kakus di ujung rumah sana.

Ong Tiong yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa melototkan matanya lebar-lebar, tampaknya ia seperti dibuat tertegun.

Yan Jit menghela napas panjang, tak tahan ia tertawa geli, katanya kemudian: "Orang ini benar-benar seorang yang berbakat bagus."
"Orang yang berbakat demikian bagusnya mungkin tidak banyak jumlahnya di dunia ini" sambung Lim Tay-peng sambil tertawa.

"Bukan cuma tidak banyak, mungkin cuma dia seorang." Akhirnya Ong Tiong menghela napas panjang juga, gumamnya:
"Untung saja cuma seorang" Inilah kesimpulannya.
Jika dalam dunia ini terdapat beberapa orang manusia semacam Kwik Tay-lok lagi, mungkin dunia ini akan berubah makin ramai dan gembira.

Dari sekian banyak binatang peliharaan, mungkin hanya anjing dan kucing yang paling akrab hubungannya dengan manusia.

Ada sementara orang yang suka memelihara kucing, ada pula sementara orang yang lebih suka memelihara anjing, tapi ada juga yang beranggapan bahwa memelihara kucing maupun memelihara anjing sesungguhnya tidak jauh berbeda.

Padahal mereka berbeda sekali.

Kucing tidak seperti anjing, tidak suka ngeloyor pergi dari rumah, tidak suka berkeliaran kemana-mana.

Kucing suka mengendon di rumah, paling banyak membaringkan diri di dekat perapian. Kucing suka makan ikan, apalagi kepala ikan.
Kucing juga suka berbaring dalam pelukan orang, apalagi kalau ada orang membelai tengkuknya dan telinganya.

Bila saban hari kau memberi makan tepat pada waktunya, sering membopongnya dan membelai tengkuknya, maka diapun akan sangat menyukai dirimu, menjadi sahabat karibmu.

Tapi kau jangan lantas mengira kalau dia hanya menyukai kau seorang, hanya menjadi milikmu seorang.

Kucing tak akan sesetia anjing, jika di rumahmu tiada ikan lagi, sering kali dia akan menyelinap ke rumah lain, bahkan dengan cepat akan menjadi sahabat karibnya orang itu.
 
Jika lain kali berjumpa lagi denganmu, mungkin ia sudah tidak mengenali dirimu lagi, mungkin sudah melupakan dirimu sama sekali.

Kucing kelihatannya tidak segalak anjing tapi jauh lebih kejam daripada anjing, bila ia berhasil menangkap seekor tikus, sekalipun perutnya sedang lapar, dia juga tak akan sekaligus menelan tikus itu ke perut.

la pasti akan mempermainkan dulu korbannya sampai pusing dan setengah mati, kemudian pelan-pelan baru menikmati.

"Tangan dan kaki" kucing sangat empuk, kalau berjalan tidak menimbulkan suara apa-apa, tapi bila kau mengganggunya, "Tangan" nya yang lunak dan empuk itu tiba-tiba akan memperlihatkan cakarnya yang tajam, bahkan mungkin akan mencakarmu sampai berdarah.

Lantas kalau kucing tidak mirip anjing, mirip apa dia ?

Pernahkah kau bertemu dengan perempuan ? Pernahkah kau melihat perempuan makan ikan
? Pernahkah kau melihat perempuan sedang berbaring dalam pelukan suami atau kekasihnya ?

Tahukah kau cakar yang tinggal di atas wajah kebanyakan lelaki adalah hasil perbuatan siapa
?

Tahukah kau mengapa ada sementara lelaki sampai bunuh diri ? Menjadi sinting ? Maka kalau aku bertanya kepadamu. Kucing itu mirip siapa ?
Jika kau mengatakan kucing mirip perempuan, maka pendapatmu itu keliru besar.

Sesungguhnya kucing tidak mirip perempuan, hanya saja ada sementara perempuan yang justru mirip kucing.

Kucing itu berwarna hitam, kulitnya berkilat dan halus, hitam yang bercahaya. Kwik Tay-lok sedang memperhatikan kucing tersebut dengan seksama.
Bila seseorang sedang kelaparan hebat, biasanya dia tak akan berminat untuk memperhatikan kucing. Seseorang yang sedang kelaparan hebat, ia sama sekali tak akan berminat untuk memperhatikan benda apapun.

Tentu saja Kwik Tay-lok sudah kenyang. Seperti juga kemarin pagi, ketika sayur dan nasi telah tersedia di atas meja, mereka mendengar si kucing membunyikan suara keleningan.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok berkata:

"Kucing ini tentu kenyang sekali. Bahkan selalu diberi makan sampai kenyang, sebab kucing yang sering kelaparan tak akan memiliki tubuh seindah ini."

Yan Jit segera tertawa, tanyanya:

"Sudah setengah harian lamanya kau melakukan penyelidikan, persoalan itukah yang kau selidiki ?"

Kwik Tay-lok tidak menanggapi perkataan itu, kembali ujarnya:
 
"Kalau dibilang semua perabot, semua sayur dan arak, serta peti mati itu adalah pemberian dari Hau-hau sianseng (tuan berbaik hati) tersebut, itu berarti kucing inipun dipelihara olehnya, maka..."

"Maka kenapa ?"

"Maka rumah Hau-hau sianseng pasti sangat nyaman, amat sosial dan kaya, kalau tidak kucing ini tidak akan terpelihara segemuk ini dan sekuat ini."
"Kalau memang demikian lantas kenapa?" kata Yan Jit sambil mengerdipkan matanya. "Bila aku ini kucing dan mempunyai majikan yang begitu baik hati, maka aku takkan mau
mengikuti orang lain." "Maka..."
"Maka seandainya kita lepaskan kucing ini, sudah pasti dengan cepat ia akan kembali ke rumah majikannya."

Mencorong sinar tajam dari balik mata Yan Jit, serunya dengan cepat: "Kalau memang begitu, mengapa kau masih membopongnya?"
Kwik Tay-lok segera menepuk-nepuk tengkuk kucing itu, lalu katanya sambil tertawa:

"Saudaraku kucing... wahai saudaraku kucing, jika kau dapat membawa kami untuk menjumpai majikanmu, setiap hari aku tentu akan mengundangmu makan ikan"

Ia lepaskan tangan dan menghantar kucing itu keluar dari pintu.

Siapa tahu kucing itu mengeong lalu melompat balik ke dalam pelukannya lagi, bahkan menjilati tangannya...

Melihat itu, Yan Jit lantas berseru sambil tertawa:

"Tampaknya kucing ini adalah kucing betina, buktinya sudah jatuh cinta kepadamu" Kwik Tay-lok segera memegang tengkuk kucing itu dan menurunkannya kembali.
Tapi kucing itu masih berputar-putar saja di sekelilingnya. Melihat itu dengan kening berkerut Kwik Tay-lok segera berseru:
"Hei, kenapa kau belum juga pergi? Apakah kau tidak ingin bertemu dengan majikanmu?
Bukankah ia selalu baik kepadamu?"

Tiba-tiba Ong Tiong tertawa, kemudian berkata:

"Sekalipun daya ingat kucing kurang baik, tapi otaknya cukup jelas..." "Otaknya cukup jelas ?"
"Dia tahu kalau disinipun ada ikan untuk dimakan, mengapa harus bersusah payah untuk pergi ke tempat lain ?"
 
"Tapi aku toh bukan majikannya, mengapa dia musti menyulitkan diriku...?" "Bukankah tadi kau memberi seekor ikan kepadanya ?"
Kwik Tay-lok mengangguk:

"Nah itulah dia !" seru Ong Tiong, "barang siapa memberi ikan kepadanya, maka dia pula majikannya."

Kwik Tay-lok segera menghela napas:

"Aaai... kalau begitu, kucing ini betul-betul adalah seekor kucing betina."



"Seandainya di sini sudah tiada ikan yang bisa dimakan lagi?" tiba-tiba Lim Tay-peng bertanya. "Mungkin saja dia akan kembali ke tempat asalnya."
"Aku hanya berharap kucing ini masih kenal jalan!" kata Lim Tay-peng kemudian sambil tertawa.

Kucing memang mengenal jalan.

Jika ia tidak mendapatkan makanan di luar, entah berada dimanapun dia, dengan cepat ia pasti dapat pulang kembali ke rumah.

Sore pun menjelang tiba.

Jika sejak pagi sampai sore tidak makan apa-apa, entah dia manusia atau kucing, tentu akan sukar menahan rasa lapar.

Sekarang, sekalipun Kwik Tay-lok masih ingin membopong kucing itu, belum tentu sang kucing mau dibopong olehnya.

Dengan suatu gerakan yang sangat cepat dia lari keluar dari rumah. Kwik Tay-lok segera mengikuti dari belakangnya.

Yan Jit mengikuti di belakang Kwik Tay-lok, sedang Lim Tay-peng mengikuti di belakang Yan
Jit.

"Lebih baik kalian jangan terlalu dekat !" seru Ong Tiong memperingatkan: "Bagaimana dengan kau sendiri ?"
Ong Tiong tidak menjawab, ia cuma menghela napas, seakan-akan merasa bahwa pertanyaan dari Lim Tay-peng itu terlampau bodoh.

Pelan-pelan ia membaringkan dirinya kembali.

Di sebelah kiri bukit adalah sebuah tanah pekuburan yang luas, sekalipun diwaktu Ceng-beng, jarang sekali ada orang yang berziarah ke sana, orang yang dikubur di sana, dikala masih hidupnya saja sudah tidak mendapat perhatian, setelah mati tentu saja dengan cepat akan dilupakan orang, Sanak keluarga jarang, miskin pun tidak terlampau banyak, apalagi orang miskin yang telah mati.
 
Kwik Tay-lok seringkali merasa gembira hati, setiap kali berkunjung ke situ, hatinya akan terasa semakin iba.

Tapi sekarang, ia tak punya waktu untuk beriba hati lagi. Kucing itu larinya cepat sekali.
Dalam waktu singkat ia sudah menembusi tanah kuburan itu kemudian menyusup keluar, dipandang dari kejauhan sana, mirip segulungan asap hitam.

Mengejar seekor kucing bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, entah siapapun itu orangnya kecuali kau mengejarnya secara khusus, dan tidak mencabangkan pikirannya untuk memikirkan soal yang lain.

Mengejar perempuan pun tak jauh berbeda.

Mungkin karena kau tak ada waktu untuk memikirkannya, maka baru pergi mengejarnya. Padahal jika kau telah memikirkannya kembali, mungkin kau segera akan balik kembali. Di tepi tanah pekuburan itu terdapat sebuah hutan.
Didalam hutan terdapat sebuah rumah kayu kecil.

Dulu Kwik Tay-lok sering berkunjung ke dalam hutan ini, tapi belum pernah menjumpai rumah kayu tersebut.

Tampaknya rumah kayu ini baru selesai dibuat dua hari berselang.

Ketika kucing itu menyusup masuk ke dalam hutan, tiba-tiba bayangan tubuhnya lenyap tak berbekas. Menyusul kemudian terendus bau harum dari dalam rumah kayu itu.

Itulah bau harumnya Ang-sio-bak.

Kwik Tay-lok mengendus bau itu dalam-dalam, sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibirnya.

Dalam rumah ada api, di atas api terpanggang sekerat daging babi.

Seorang kakek tua berjongkok di tanah sambil mengipasi api itu, sedang seorang nenek sedang menuang kecap ke dalam kuali.

Selain itu masih ada seorang gadis yang berambut panjang sedang berjongkok di sana sambil tiada hentinya memerintah kepada kedua orang tersebut.

Begitu masuk ke dalam rumah, kucing itu segera menyusup ke dalam pelukannya. Sekarang sudah jelas diketahui, gadis itu adalah pemilik kucing tersebut.
Akhirnya Kwik Tay-lok berhasil menemukan orang yang dicarinya. ketika ia sampai di depan pintu, kebetulan gadis itupun sedang berpaling.

Ketika sinar mata mereka berdua saling berjumpa, maka kedua-duanya merasa terperanjat. Akhirnya Kwik Tay-lok yang berteriak lebih dulu:
 
"Swan Bwe-thong, kiranya kau ?"

Ang-sio-bak itu empuk dan harum, setiap potong dibentuk persegi empat dan beratnya paling tidak empat tahil.

Dengan mulut Kwik Tay-lok yang besar, ia dapat menelan sepotong daging setiap kali makan.

Si kucing berbaring di bawah kaki Swan Bwe-thong sambil memejamkan mata, ia memang seekor kucing yang penurut, ia tidak selalu menurut, harus ada ikan, dia tak pernah menampik untuk mencicipi daging ang-sio-bak.

Baik manusia maupun kucing, apabila perutnya sudah lapar, mereka tak akan menampik untuk makan ang-sio-bak.

Setelah menyikat tujuh-delapan potong daging, Kwik Tay-lok baru menghela napas panjang, katanya:

"Mimpipun tak pernah kusangka kalau kaulah orangnya!" Swan Bwe-thong hanya mencibirkan bibirnya sambil tertawa.
"Apakah kau selalu bekerja dengan cara yang begitu rahasia dan misterius?" tanya Kwik Tay- lok lagi.



Swan Bwe-thong menundukkan kepalanya dan menjawab sambil tertawa:

"Sebenarnya aku ingin menghantar sendiri kepada kalian, tapi akupun kuatir kalian enggan untuk menerimanya."

"Sesungguhnya kau tak perlu menghantar benda-benda tersebut kepada kami." kata Yan Jit ketus.

"Kalian telah membantu banyak sekali kepadaku, bagaimanapun juga akupun harus menunjukkan sedikit perasaan terima kasih kepada kalian."

"Tapi barang-barang tersebut kami masih tetap tak bisa menerimanya," kata Kwik Tay-lok pula. "Kenapa ?"
"Karena karena kau adalah perempuan"

"Tapi perempuan juga manusia !"

Kwik Tay-lok mengerling sekejap ke arah Yan Jit, kemudian serunya sambil tertawa: "Caramu berbicara hampir tidak berbeda dengan ucapannya!"
Yan Jit segera menarik muka, katanya:

"Sekalipun orang lelaki yang memberi begitu barang kepada kami, kami juga sama saja tak dapat menerimanya."
 
"Apalagi kami sudah makan beberapa kali hidangan yang kau hantar ke rumah, sesungguhnya kami sudah merasa terlampau rikuh" sambung Kwik Tay-lok lebih lanjut.

Swan Bwe-thong segera mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian katanya:

"Kalau begitu, anggap saja barang kami dititipkan di rumah kalian, begitu tentu boleh bukan ?" "Kalau begitu, kau musti bayar uang sewa!" sela Ong Tiong tiba-tiba.
"Akan kubayar !"

"Selain itu juga harus memberi uang tanggungan." "Akan kubayar !"
"Setiap hari sepuluh tahil perak." "Baik !"
"Bayar dimuka dan tak boleh menunggak"

"Bagaimana kalau aku membayar sepuluh hari lebih dulu ?" tanya Swan Bwe-tong sambil tertawa.

Ia benar-benar mengeluarkan seratus tahil perak.

Ong Tiong tidak bergerak, dia cuma melototi uang perak itu tanpa berkedip, seakan-akan terpesona dibuatnya.

Sebaliknya Kwik Tay-lok sekalian mengawasi Ong Tiong tak berkedip.

Tiba-tiba saja mereka merasakan Ong Tiong adalah manusia yang aneh sekali, bahkan sedikit tak tahu aturan.

Orang lain dengan maksud baik memberi arak kepadanya untuk minum, menghantar hidangan kepadanya untuk makan, menghantar kursi baginya untuk duduk, menghantar ranjang kepadanya untuk tidur, bahkan rumah yang bobrok pun sudah diperbaiki sana sini.

Tapi ia masih menagih uang sewanya, bahkan harus membayar dulu di muka. "Maknya betul orang ini, ia betul-betul telur busuk hidup"
Kwik Tay-lok melotot kepadanya dan hampir saja mencaci maki.

Sorot mata Ong Tiong sudah mulai bergeser, dari atas uang perak itu pelan-pelan di alihkan ke wajah Swan Bwe-thong, tiba-tiba serunya dengan mata melotot:

"Kau punya penyakit."

"Aku punya penyakit ?" seru Swan Bwe-thong tertegun. "Bukan cuma berpenyakit, bahkan penyakitmu rada parah." Suan Bwe-thong segera tertawa.
 
"Soal makan, aku bisa makan dengan kenyang, soal tidur akupun bisa tidur dengan nyenyak, mengapa kau mengatakan aku punya penyakit?"

"Mungkin penyakitmu itu timbul karena kekenyangan" Dengan wajah tanpa emosi, katanya lagi:
"Kau sudah membuang uang banyak untuk membeli barang sebanyak ini, kemudian menggunakan banyak tenaga untuk menghantarkan kemari, sekarang kau rela juga membayar uang sewa kepadaku, bila seseorang tidak lagi sakit, masakah dia akan melakukan perbuatan semacam ini ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa.

Ia mulai merasakan juga bahwa Suan Bwe thong memang mengidap penyakit, bahkan penyakitnya memang agak parah.

Biji mata Suan Bwe-tong yang jeli berputar-putar lalu katanya:

"Jikalau kukatakan bahwa aku berbuat demikian tak lain karena merasa berhutang banyak kepada kalian, mau mempercayai kah kalian semua?"

Ong Tiong segera berpaling ke arah Kwik Tay-lok, kemudian bertanya: "Percayakah kau ?"
"Aku tidak percaya!"

"Kalau sampai dia saja tidak percaya, mungkin di dunia ini sudah tiada orang lain yang mau percaya lagi !"

Suan Bwe-thong menghela napas panjang.

"Aaaai...! oleh sebab itu akupun tidak berkata demikian" "Lalu, apa yang hendak kau katakan?"
Sepasang biji mata Suan Bwe-tiong berputar tiada hentinya, lalu sambil menggigit bibir dia menjawab:

"Jika seorang lelaki jatuh cinta kepada seorang perempuan dan ingin mengawininya, apakah dia bisa melakukan banyak perbuatan yang membingungkan hati?"



"Yaa, mungkin" sahut Ong Tiong.

Bila seorang lelaki sudah jatuh cinta kepada seorang perempuan, pada hakekatnya perbuatan apapun bisa dilakukan.

"Perempuan pun demikian juga" kata Suan Bwe-thong lebih jauh. "Sama saja? Bagaimana sama sajanya?"
 
"Bila seorang perempuan sudah jatuh hati kepada seorang pria dan ingin kawin dengannya, diapun sama saja dapat melakukan banyak sekali perbuatan-perbuatan yang membingungkan hati."

Tiba-tiba paras mukanya berubah menjadi merah padam karena jengah, dengan kepala tertunduk terusnya:

"Tahun ini aku... aku telah berusia delapan belas !"

Gadis yang telah berusia delapan belas tahun, biasanya akan teringat akan suatu hal, yakni kawin.

Gadis delapan belas tahun manakah yang tidak ingin mempunyai kekasih dan suami ? Sesungguhnya kejadian ini adalah suatu peristiwa yang lumrah.
Kembali Kwik Tay-lok tertawa, katanya:

"Kalau begitu kau tidak berpenyakit, lelaki yang telah dewasa akan menikah, gadis yang telah dewasa akan dinilai, siapapun tak dapat mengatakan kalau kau berpenyakit."

Lalu sambil membusungkan dada, ia bertanya lagi:

"Entah lelaki manakah yang telah berkenan di hatimu ?" Yan Jit segera melotot besar, katanya dingin:
"Tentu saja kau !?" "Aaaah, belum tentu !"
Walaupun dimulut ia bilang "belum tentu" tapi mimik wajahnya telah menunjukkan keyakinan yang seratus persen.

Sekalipun memukul gembrengan, belum tentu orang bisa menemukan lelaki ganteng seperti
dia.

Jika Suan Bwe-thong tidak jatuh cinta kepadanya, ia bisa jatuh hati kepada siapa lagi ?

Suan Bwe-thong memang sedang memandang ke arahnya, tapi ia gelengkan kepalanya sambil mencibir bibir.

"Mungkin orang itu adalah kau, mungkin juga bukan," katanya seraya tertawa, "sekarang aku belum bisa mengatakannya kepadamu."

"Kenapa ?"

"Sebab sekarang masih belum tiba pada saatnya." "Kapan saatnya baru tiba ?"
Suan Bwe-thong memutar sepasang biji matanya yang jeli, kemudian dengan kepala tertunduk sahutnya:
 
"Aku harus memperhatikan lebih dulu apakah dia benar-benar baik atau tidak, sebab hal ini menyangkut hidupku sepanjang masa, bagaimanapun juga aku harus berhati-hati !"

"Apakah sekarang kau belum bisa mengetahuinya ?" tanya Kwik Tay-lok.

"Aku. aku masih ingin menanti beberapa waktu lagi dan memperhatikan beberapa saat lagi."

"Aku rasa lebih baik kau cepatan sedikit kalau hendak memperhatikan, ada orang sudah ingin kebelet sangat macam monyet kena terasi" seru Yan Jit dingin.

"Tidak menjadi soal" Kwik Tay-lok tertawa, "silahkan kau perhatikan pelan-pelan, orang baik selamanya tetap baik, makin dipandang makin menarik."

"Bila aku sudah merasa cukup untuk memperhatikannya, aku pasti akan memberitahukan kepadamu lebih dahulu."

Tiba-tiba Yan Jit bangkit berdiri, kemudian tanpa berpaling beranjak keluar dari situ.

"Hei, kenapa kau pergi?" tegur Kwik Tay lok, "Bukankah enakan kita bercakap-cakap bersama
?"

"Apanya yang akan dibicarakan lagi ?"

"Apakah kau tak ada persoalan lagi untuk dibicarakan ?" ""Aku hanya ingin mengucapkan sepatah kata. "
Tanpa berpaling lanjutnya dengan suara dingin:

"Anak gadis sekarang, kulit mukanya makin lama agaknya semakin tebal. "

Memandang punggung Yan Jit hingga lenyap dari pandangan, Kwik Tay-lok baru menggelengkan kepalanya berulang kali. katanya sambil tertawa:

"Walaupun tabiat orang ini rada aneh, sesungguhnya dia adalah orang baik, nona Suan, harap kau jangan marah"

"Aku tidak she Suan, aku she Bwe !" Suan Bwe-thong cepat menerangkan sambil tertawa. "Bwe ? Bwe dari huruf Bwe-hoa (bunga sakura) ?"
Suan Bwe-thong manggut-manggut. "Aku bersama Bwe Ji-lam !"
"Mana sudah bunga sakura, ditambah bunga anggrek lagi, wah rupanya kau ingin membuka toko bunga ?"

"Aku bukan bernama Ji-lan, lan dari arti kata bunga anggrek, aku bernama ji-lam, dengan arti lelaki."

"Bwe Ji-lam? Aneh benar namamu itu"

"Ketika mendiang ayahku memberi nama tersebut kepadaku, dia ingin memberitahukan kepadaku agar aku seperti seorang lelaki, tak boleh aleman atau manja, apa yang ingin kulakukan
 
harus kulakukan dengan terbuka, apa yang ingin kukatakan juga harus kukatakan secara terang- terangan."

"Jika arwah ayahmu dialam baka bisa mengetahui akan hal ini, dia pasti akan merasa gembira" tiba-tiba Ong Tiong berseru.



"Kenapa ?"

"Sebab kau memang tidak menyia-nyiakan harapannya"

Agak memerah paras muka Bwe Ji-lam karena jengah, katanya:

"Kau. kau menganggap pekerjaan yang kulakukan lebih banyak mirip perbuatan kaum pria ?"

"Kau adalah perempuan ?" Ong Tiong balik bertanya.

Bwe Ji-lam tak bisa menahan gelinya lagi, ia tertawa cekikikan. Kwik Tay-lok juga tertawa, katanya pula:
"Caramu bertindak memang lebih kelaki-lakian daripada kebanyakan lelaki, misalkan saja. "

Ia merendahkan suaranya serendah-rendahnya, kemudian melanjutkan:

"Teman kita yang bernama Yan Jit, kadangkala ia mirip seorang gadis, bukan saja gerak geriknya agak kewanita-wanitaan, bahkan seringkali bisa marah-marah tanpa sebab."

"Apakah kau menganggap perempuanpun seringkali menjadi marah tanpa sebab ?" Kwik Tay-lok cuma tertawa, dan tidak berbicara apa-apa.
Bwe Ji-lam berkata lagi:

"Perempuan pun seperti juga lelaki, bila sedang marah, itu pasti ada alasannya, cuma saja kaum lelaki belum tentu mengetahui alasan tersebut."

Setelah tertawa, lanjutnya:

"Sesungguhnya lelaki belum tentu sepintar apa yang dibayangkan sendiri. "

Kwik Tay-lok ingin berbicara lagi, tapi akhirnya ia berusaha menahan diri.

Ia bertekad tak akan ribut dengannya, seandainya ingin mendebat, diapun baru akan mendebat setelah mengetahui siapakah orang yang dipilih olehnya nanti.

Sampai waktunya dia akan memberitahukan kepadanya, paling tidak lelaki jauh lebih pintar daripada apa yang dia bayangkan.

Sampai waktunya nanti, dia pasti akan percaya.

Sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibir Kwik Tay-lok, agaknya dia sedang membayangkan kejadian pada waktu itu, Bwe Ji-lam berbaring dalam rangkulannya dan memberitahukan kepadanya bahwa "orang itu" adalah dia.
 
"Pada waktu itu, dia akan mengetahui sesungguhnya siapakah yang lebih pintar." Hampir tertawa tergelak Kwik Tay-lok setelah membayangkan sampai ke situ.
Lim Tay-peng juga sedang tertawa.

Apakah ia juga sedang memikirkan kejadian yang sama ?

Bila seseorang tak dapat mengkhayalkan diri sendiri, mungkin ia tak bisa dikatakan sebagai seorang lelaki sejati.

Mungkin dia tak bisa terhitung sebagai seorang manusia.

Manusia bisa lebih hebat dari binatang, mungkin dikarenakan orang bisa berkhayal diri, sementara binatang tidak bisa.

Tiba-tiba Bwe Ji-lam berkata lagi:
"Padahal sekalipun orang lelaki agak kewanita-wanitaan, hal inipun tidak ada salahnya" "Paling tidak orang semacam itu tak akan kasar, tak akan liar, bahkan pasti akan lemah
lembut."

Tiba-tiba Kwik Tay-lok melompat bangun kemudian selangkah demi selangkah berjalan ke luar, tiba-tiba ia berpaling sambil bertanya kepada Ong Tiong:

"Coba kau lihat, apakah aku juga rada keperempuanan ?" "Kau seorang lelaki ?"
Kwik Tay-lok tertawa tergelak.

"Sebenarnya aku mengira demikian, tapi sekarang bahkan aku sendiripun kurang jelas." Rembulan sedang bersinar purnama.
Rembulan yang bundar tergantung di atas awang-awang....

Yan Jit seorang diri duduk di bawah pohon dan memandang ke tempat kejauhan dengan wajah termangu.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok juga berjalan mendekat dan duduk disampingnya. Yan Jit mengerutkan dahinya, kemudian dengan mata melotot tegurnya: "Mau apa kau datang kemari ?"
"Berbincang-bincang !"

"Apa enaknya berbincang-bincang dengan aku ? Mengapa kau tidak mencari nona Bwe saja
?" kata Yan Jit sambil menarik muka.

Kwik Tay-lok mengelus dagunya lalu berkata: "Agaknya kau seperti tidak terlalu suka dengannya."
 
"Orang yang menyukainya sudah terlalu banyak, aku tak usah dimasukkan ke dalam bilangan lagi."

Kwik Tay-lok membungkam diri.

Yan Jit mengerling sekejap ke arahnya, kemudian berkata lagi:

"Sore tadi, kalian tampak bergembira sekali." "Ehhhmmmmm !"
"Kalau memang kalian bisa berbincang-bincang dengan begitu gembira, buat apa lagi kau datang mencariku ?"

"Rupanya kau sedang cemburu?" tiba-tiba Kwik Tay-lok tertawa.

Paras muka Yan Jit segera berubah memerah padam seperti kepiting rebus. "Cemburu?" serunya "aku cemburu kepada siapa?"
Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Kau tahu orang yang dia cintai adalah aku, sedang kau juga mencintainya, maka. "

Tidak menunggu sampai ia menyelesaikan kata-katanya, Yan Jit segera bangkit berdiri dan beranjak dari situ.

Ketika Kwik Tay-lok menarik tangannya, ia mengipatkan dengan sekuat tenaga, Kwik Tay-lok kembali menariknya seraya berseru:



"Aku datang kemari untuk mengajakmu membicarakan soal serius." Yan Jit berkerut kening.
"Urusan serius?" katanya, "masakah di ujung bibir masih ada persoalan yang serius?"

"Bukankah kau pernah mengatakan bahwa disekitar tempat ini terdapat suatu keluarga besar She Bwe yang mempunyai seorang toa-sauya bernama Sik-jin (manusia batu) Bwe Ji-ka?"

"Yaa, aku memang pernah berkata demikian"

"Coba pikirlah, mungkinkah Bwe Ji-lam adalah adik perempuannya Bwe Ji-ka ?" "Yaa atau tidak, semuanya tak ada hubungan dengan diriku"
"Apakah keluarga Bwe mempunyai ikatan dendam dengan Hong Si-hu ?" "Tidak begitu jelas"
"Aku rasa pasti ada, karena itu Bwe Ji-lam baru menggunakan akal untuk menyingkirkan Hong Si-hu, tapi bukankah antara dia dengan Lamkiong Cho juga ada dendam? Bukankah Lamkiong Cho juga ditolong olehnya? Dia menolong Lamkiong Cho apakah dengan maksud untuk mendapatkan harta karun itu?"
 
"Mengapa kau tidak menanyakannya secara langsung kepada orang yang bersangkutan?" Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang.
"Kalau ia sendiri tak mau membicarakannya, sekalipun aku bertanya juga percuma." Yan Jit segera tertawa dingin.
"Aku lihat rupanya kau tak berani bertanya" ejeknya. "Tidak berani?" cetus Kwik Tay-lok dengan mata melotot.
"Kau takut berbuat salah kepadanya, takut dia menjadi marah, oleh sebab itu. "

Tiba-tiba ia menutup mulutnya rapat-rapat dan menarik muka.

Ketika Kwik Tay-lok berpaling, dilihatnya Bwe Ji-lam sedang berjalan mendekat.

Sekulum senyuman manis masih menghiasi ujung bibirnya, dengan mata yang besar dan jeli ia berkata sambil tertawa:

"Sebenarnya persoalan-persoalan tersebut harus kalian tanyakan kepadaku, mengapa aku musti marah ?"

Yan Jit semakin menarik mukanya, lalu berseru:

"Kalau begitu semua pembicaraan kami tadi sudah kau dengar ?" Bwe Ji-lam menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Aku bukan sengaja datang untuk menyadap pembicaraan kalian, aku hanya datang untuk memberitahukan kepada kalian bahwa hidangan malam telah siap."

"Kebetulan amat kedatanganmu itu."

Sesungguhnya ia sudah bangkit berdiri, maka sekarang dia melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan tempat itu.

Memandang hingga bayangan tubuhnya sudah pergi jauh, Bwe Ji-lam baru menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir.

"Aku toh tidak menyalahi dia, mengapa begitu berjumpa denganku dia lantas pergi dari sini ?" "Mungkin karena dia amat mencintaimu," jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa.
Bwe Ji-lam mengerdipkan matanya, lalu berseru:

"Menyukai aku? Kenapa dia malah menghindarkan diri dariku" "Mungkin dia merasa bahwa orang yang kau cintai bukan dirinya."
Bwe Ji-lam menundukkan kepalanya, lewat lama sekali tiba-tiba ia baru tertawa. "Apa yang kau tertawakan?" tanya Kwik Tay-lok.
 
Sambil mencibir bibir Bwe Ji-lam tertawa.

"Aku mentertawakan kalian orang laki-laki, persoalan yang seharusnya ditanyakan tidak ditanyakan, persoalan yang tidak seharusnya di tanyakan malah kau tanyakan."

Tentang beberapa persoalan yang kutanyakan tadi, apakah kau. "
Bwe Ji-lam segera menukas ucapan itu, sambil menarik tangannya, ia berseru seraya tertawa: "Hayo jalan kita bersantap dulu, selesai bersantap nanti aku baru akan memberitahukan hal ini
kepadamu"

"Mengapa tidak kau katakan sekarang juga ?"

"Aku kuatir setelah mendengar perkataan itu kau malah tak tega untuk makan" sahut Bwe Ji- lam sambil tertawa.

Ia menarik tangan Kwik Tay-lok dan diajak masuk ke dalam rumah, erat sekali genggamannya, bahkan setelah dudukpun masih menggenggamnya erat-erat.

Ong Tiong masih menatap tajam tangannya, Lim Tay-peng juga menatap tangan itu tanpa berkedip, sedang Yan Jit seakan-akan bergerak tak mau melihat, tapi urung toh melirik juga beberapa kejap.

Tak terlukiskan perasaan Kwik Tay-lok pada saat ini, maka diapun bisa bersantap luar biasa banyaknya.

Ketika ia menyeka mulutnya, tiba-tiba Bwe Ji-lam berkata:

"Dugaanmu memang tidak salah, aku adalah adik perempuannya Bwe Ji ka, keluarga kami memang ada dendam dengan Hong Si-hu. Cuma sayang aku tak pernah berhasil menjumpainya, maka terpaksa aku harus menggunakan akal ini."

Setelah tertawa, lanjutnya:

"Sejak permulaan kami sudah mengetahui kalau si tongkat dan si anjing buldok, pasti dapat menyeret keluar Hong Si hu dari sarangnya, mereka adalah petugas hukum, sudah barang tentu lebih gampang buat mereka untuk mencari orang"

Berbicara sampai di sini, tiba-tiba ia menghela napas, kemudian sambungnya: "Hingga sampai di situ, dugaan kalian memang tidak salah"
"Selanjutnya ?"

"Kejadian selanjutnya, kalian telah salah menebak !"

Persoalan yang mana saja yang telah salah ditebak ?" tanya Kwik Tay-lok dengan wajah tertegun.

"Pertama orang berbaju hitam itu bukan Lamkiong Cho !" "Kalau bukan Lamkiong Cho lantas siapa?"
 
Bwe Ji-lam menggigit bibirnya kencang-kencang, setelah lewat lama sekali, dia baru mengambil ketetapan dihatinya:

"Dia adalah kakakku !"