Pendekar Riang Jilid 06

 
Jilid 06

JARANG SEKALI ADA ORANG YANG bisa menghubung-kan itik panggang dengan perempuan, Kwik Tay-lok dapat.

Setelah arak mengalir masuk ke dalam perutnya, uang sudah masuk ke sakunya, maka dari benda apapun ia bisa menghubungkannya dengan perempuan . . . .

Kini arak sudah habis diminun, intan pertama juga sudah dibagi menjadi empat bagian. Sambil mengerdipkan matanya, tiba-tiba Kwik Tay-lok bertanya:
"Apa rencana kalian sekarang?"

Rencana apa? Siapapun tak punya rencana apa-apa.

"Apakah kau sudah mempunyai rencana?" tanya Yan Jit sambil melototi wajahnya.
 
Kwik Tay-lok menatap itik panggang tak berkulit itu lekat-lekat, kemudian jawabnya:

"Kita sudah terlalu lama mengendon di sini, hari ini kita harus pergi melemaskan otot, kalau tidak tulang-tulang kita bisa mulai karatan dan tua."

"Tulang kami tidak seperti tulangmu, baru ada sedikit uang lantas tangannya menjadi gatal." Kwik Tay-lok menghela napas panjang, kembali ia tertawa, katanya lebih jauh.
"Sekalipun tulangku ini tulang kere, paling tidak harus digerakkan juga agar lebih bergairah." "Apakah kau hendak melemaskan otot seorang diri?"
"Ehmm!"

Yan Jit segera tertawa dingin.

"Aku sudah tahu kalau ada sementara orang cuma berkawan disaat masih miskin, begitu punya uang, permainannya lantas banyak."

"Apakah kau tak pernah melemaskan otot seorang diri?" seru Kwik Tay-lok dengan mata melotot.

Yan Jit melengos ke arah lain.

"Kalau ingin pergi, pergilah sendiri, toh tak ada orang lain yang akan menahanmu !" serunya. Kwik Tay-lok yang sudah berdiri, segera duduk kembali, katanya sambil tertawa:
"Aku tak lain cuma ingin pergi satu setengah hari saja, besok malam kita bersua kembali." Tak seorangpun yang menggubrisnya.
Kwik Tay-lok mengangkat bahu, katanya: "Sekarang Moay Lo-kong sudah ditangkap, disini tak ada rumah makan lain, aku tahu di kota keresidenan terdapat sebuah rumah makan Gwe-goan- koan yang lumayan juga masakannya, untung saja kota Sian-sia tak jauh dari sini, bagaimana kalau kita bersua kembali di sana besok...? Aku akan mentraktir kalian!"

Masih belum ada orang yang menggubrisnya. Kwik Tay-lok menjadi sangat gelisah, serunya lagi:
"Apakah aku ingin berjalan-jalan seorang diri barang seharipun tak boleh ?" "Siapa bilang tak boleh?" seru Ong Tiong sambil membalikkan matanya. "Kalau begitu, besok kau akan pergi atau tidak?"
"Apakah kau tak bisa membeli arak dan sayur itu dari rumah makan Gwee-goan-koan kemudian membawanya pulang dan mentraktir aku di sini?"

"Aku mohon kepadamu, janganlah begini malas, mau bukan? Kau juga harus membeli beberapa stel pakaian baru, pakaian semacam itu kalau dipakai terus menerus, bahkan kau sendiripun mungkin akan ketimpa naas. . . mengerti ?"
 
Pelan-pelan Ong Tiong bangkit berdiri, kemudian pelan-pelan berjalan keluar dari situ. "Kau hendak kemana?" Kwik Tay-lok segera menegur.
"Ke ranjangnya Moay Lo-kong," "Mau apa ?"
"Ong Tiong menghela napas panjang.

"Kalau keatas ranjang mau apa? Tentu saja tidur, kalau kau naik keranjang, apakah hendak melakukan pekerjaan lain?"

Kwik Tay-lok tertawa, dia memang ingin melakukan pekerjaan lain, lagi pula pekerjaan itu memang harus dilakukan di atas ranjang.

la bangkit berdiri, lalu ujarnya sambil tertawa:

"Kalau ingin tidur di sana juga boleh, bah bagaimanapun besok masih harus ke Sian-sia, daripada bolak balik, berangkat separuh jalan dulu memang tak ada salahnya."

"Tepat sekali!"

Kwik Tay-lok melirik Yan Jit sekejap kemudian katanya:



"Besok, apa kalian juga ikut Ong lotoa?"

Lim Tay-peng mengangguk, sedang Yan Jit berkata hambar: "Hari ini juga aku berangkat bersamamu!"
"Tapi aku." Kwik Tay-lok agak tertegun.

"Kenapa ?" seru Yan Jit sambil melotot, "apakah setelah punya uang, temanpun tak maui lagi
?"

Sepanjang jalan, sambil melakukan perjalanan Kwik Tay-lok menghela napas, tiada hentinya. Yan Jit mengerling sekejap ke arahnya, lalu menegur:
"Hey, apa yang terjadi? Adakah sesuatu yang tidak enak dengan kesehatan badanmu?"

"Agaknya aku sudah salah makan, perutku mendadak mulas dan kurang enak." kata Kwik Tay- lok sambil meringis menahan sakit.

"Hmm, aku lihat yang kurang enak bukan perutmu." ujar Yan Jit dengan nada dingin. Tiba-tiba ia tertawa, kembali ujarnya:
"Padahal bagian mana dari tubuhmu yang kurang enak, telah kuketahui sedari tadi dengan amat jelas."

"Kau mengetahui dengan jelas ?"
 
Yan Jit memutar sepasang biji matanya, lalu berkata:

"Setiap orang yang berpengalaman tentu mengetahui akan sepatah kata yang mengatakan: "Bermain pelacur sendirian bermain judi berduaan, mengapa aku tidak tahu dengan jelas?"

Untuk sesaat lamanya Kwi Tay-lok merasa tertegun, akhirnya ia cuma bisa tertawa, tertawa getir.

"Jadi kau kira aku sengaja menyingkir dari kalian, hanya dikarenakan aku ingin ngeloyor sendirian mencari perempuan ?"
"Memangnya kau tidak bermaksud demikian?" Kwik Tay-lok tidak bisa berbicara lagi. "Padahal masalah semacam ini juga bukan suatu kejadian yang terlalu memalukan" kata Yan
Jit lagi, "setiap lelaki yang punya uang siapa yang tak ingin pergi mencari perempuan?."

"Apakah kau sendiri tidak bermaksud demikian?" Kwik Tay-lok balik bertanya sambit mengerdipkan matanya.

"Terus terang kuberi-tahu kepadamu, aku berharap kau bisa membawaku, aku tahu dalam bidang ini kau pasti sangat berpengalaman bukankah demikian?"

Kwik Tay-lok mendesis, tiba-tiba ia terbatuk-batuk.

"Lelaki yang romantis dan sok-aksi semacam kau pasti tahu ditempat mana kita bisa mencari perempuan yang terbaik."

Setelah mengerling sekejap wajah Kwik Tay-lok, katanya lebih jauh: "Kita kan sama-sama teman, bagaimanapun juga kau harus memberikan sebuah petunjuk kepadaku bukan?"

Agaknya paras muka Kwik Tay-lok berubah agak merah, gumamnya kemudian: "Tentu saja, tentu saja. "
"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Tentu saja... tentu saja kita harus ke kota lebih dulu. "

Yan Jit lagi-lagi tertawa lebar, katanya:

"Padahal seharusnya kau juga mengajak serta Ong lotoa sekalian, agar merekapun bisa membuka matanya lebar-lebar serta menyaksikan pelbagai atraksi menarik, aku betul-betul tidak habis mengerti mengapa kau harus mengelabui mereka?"

Kwik Tay Lok sedikitpun tidak bermaksud mengelabui orang lain, ia selalu beranggapan bahwa mencari perempuan bukan suatu perbuatan yang memalukan.

Tidak berhasil menemukan perempuan, itu baru memalukan namanya.

la mengelabui orang lain, karena ia sama sekali tak tahu harus pergi ke mana untuk mencari perempuan.

Pada hakekatnya ia belum pernah mencari perempuan, justru karena ia tak pernah maka dia ingin mencari, maka dia baru merasa ingin sekali, suatu keinginan yang luar biasa.
 
Dalam waktu yang cukup singkat, kota Sian-sia telah dicapai. Begitu masuk ke kota. Yan Jit lantas bertanya:
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kita akan menempuh jalan yang mana?"

Kata orang: "Dalam setiap sepuluh langkah, pasti ada rumput yang tumbuh. Setiap jengkal tanah tentu ada perempuan yang lewat."

Kwik Tay Lok mendehem beberapa kali, kemudian menjawab:

"Lewat jalan yang manapun saja" "Sama saja ?"
"Yaa, toh di setiap jalan pasti ada perempuan" Yan Jit segera tertawa, ujarnya:
"Aku juga tahu kalau di setiap jalanan tentu ada perempuan, tapi perempuanpun terdiri dari beberapa macam, persoalannya sekarang di jalanan yang manakah perempuan yang kau cari itu baru bisa ditemukan?"



Kwik Tay Lok menyeka keringat yang telah membasahi tubuhnya, tiba-tiba terlintas satu ingatan dalam benaknya, sambil menuding sebuah warung teh di tepi jalan, katanya:

"Kau boleh menunggu sejenak di situ, aku akan pergi mencarikan bagimu. . ."

"Kenapa aku harus menunggu di sini, apakah kita tak boleh berjalan bersama ?" kata Yan Jit sambil mengerdipkan matanya.

Dengan serius Kwik Tay-lok menjawab:

"Soal ini kau tak akan memahami, tempat tersebut amat rahasia sekali, semakin rahasia tempatnya semakin menyenangkan kita, tapi kalau melihat kedatangan orang asing, boleh jadi mereka lantas tidak mau."

Mendengar perkataan itu, Yan Jit segera menghela napas panjang.

"Baiklah !" ia berkata, "bagaimanapun kau memang lebih berpengalaman dari padaku, baiklah, aku akan menuruti semua perkataanmu"

Setelah menyaksikan Yan Jit masuk ke dalam warung teh, Kwik Tay-Lok baru menghembuskan napas lega.

Siapa tahu Yan Jit kembali berpaling, lalu berteriak keras:

"Aku akan menunggu kedatanganmu di sini, kau jangan kabur lho !"

"Tentu saja aku tak akan kabur !" jawab Kwik Tay Lok dengan suara yang tak kalah kerasnya.

Dia memang tidak bermaksud kabur, cuma dia harus mencari berita lebih dulu, agar Yan Jit merasa kagum kepadanya.
 
"Manusia romantis yang gagah dan ganteng seperti aku ini, kalau sampai tempat semacam itupun tak bisa menemukan, bukankah Yan Jit akan tertawa kegelian sampai gigipun ikut copot ? Siapa tahu dia akan kegelian lima tahun lamanya ?"

Dengan mempergunakan suatu gerakan yang paling cepat dia berbelok ke dalam sebuah tikungan jalan, ternyata jalanan di depan sana seperti pula jalanan pertama, disitu ada warung teh, toko, ada laki-laki, tentu saja ada perempuan.

"Tapi perempuan yang manakah baru merupakan perempuan yang sedang kucari ?"

la meneliti satu per satu, namun tak seorangpun yang mirip, ia merasa semua perempuan- perempuan itu seperti perempuan dari keluarga baik-baik.

"Orang yang melakukan pekerjaan semacam itu, masakah memasang papan nama di atas wajahnya ?"

Setengah harian lamanya Kwik Tay-lok berdiri termangu-mangu di tepi jalan, tak hentinya dia memberi semangat kepada diri sendiri diapun menghibur terus diri sendiri.

"Asal ada uang, masa kau takut tak bertemu perempuan ?"

Ia bermaksud untuk membeli satu stel pakaian baru lebih dulu.

Orang bilang, "kalau manusia adalah pakaiannya, kalau Budha adalah jubah emasnya"

Asal ia berpakaian perlente dan necis, paling tidak gengsinya akan naik tiga tingkat lebih dahulu.

Yang aneh, ternyata tokoh penjual pakaianpun seakan-akan tidak terlalu gampang di temukan.

Dengan susah payah akhirnya dia berhasil juga menemukan sebuah toko pakaian, tiba-tiba ia menyaksikan ada seseorang sedang memilih pakaian di situ, ketika di dekati ternyata orang itu adalah Yan Jit.

"Ternyata bocah itu tidak menunggu aku di warung teh!"

Terdengar Yan Jit yang berada dalam ruangan sedang berkata sambil tertawa:

"Aku menginginkan pakaian yang paling baik, harganya mahalan sedikit tak menjadi soal, hari ini aku punya janji dengan seorang cewek cakep, aku musti memakai yang agak bagus"

Diam-diam Kwik Tay-lok mengerutkan dahinya sambil berpikir:

"Masakah bocah muda ini berhasil mendahului diriku dengan menemukan tempat tersebut?"

Menyaksikan wajah Yan Jit yang berseri-seri, Kwik Tay-lok merasa yaa mendongkol, yaa jengkel.

"Kalau toh kau curang lebih dulu, kenapa aku musti pegang janji ? Sekarang kau tak bisa mengatakan kalau aku berusaha kabur dari sisimu.

Setelah mengambil keputusan, tanpa tukar pakaian lagi, dia bertekad untuk meninggalkan Yan Jit lebih dulu.
 
"Para gadis menyukai yang ganteng, para germo menyukai uang, asal aku cukup ganteng dan punya uang, tukar pakaian atau tidak toh bukan persoalan ?"

Di jalan raya itupun terdapat warung teh, seseorang yang membawa sebuah sangkar burung sedang berjalan keluar dari warung teh itu.

Usia orang itu tidak terlalu besar, tapi sepasang matanya tak bersinar dan wajahnya hijau kepucat-pucatan, mukanya keletihan dan kuyu, lagi pula setiap orang tahu pekerjaan apa yang membuat orang itu kelihatan lemas dan pucat.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok menghampirinya, setelah menjura katanya sambil tertawa:



"Aku she Kwik, aku tahu kau tidak kenal aku, akupun tidak kenal kau, tapi sekarang kita telah berkenalan."

Sebelum melakukan suatu pekerjaan ia suka mengemukakan cara yang berterus terang.

Untung saja orang itu agaknya sudah terbiasa melakukan pergaulan di luar, setelah tertegun sejenak, katanya pula sambil tertawa:

"Sobat Kwik, kau ada urusan apa?"

"Kalau orang tidak romantis sia-sialah masa mudanya, kau tentu mempunyai perasaan yang sama dengan kata-kata tersebut bukan"

"Oooh. kiranya saudara Kwik ingin berpelesiran !"

"Benar aku memang bermaksud demikian sayangnya aku tak tahu jalan mana yang harus kutempuh untuk mencapai tujuan"

"Saudara Kwik bisa ketemu aku, boleh di bilang sudah menjumpai orang yang benar" kata orang itu sambil tertawa, "tapi untuk berpelesiran, kau harus punya uang, kalau tak punya uang bisa jadi sebelum mendapat kenikmatan, badanmu sudah digebuki orang lebih dulu"

Kwik Tay-lok ternyata sudah digebuk orang.

Tiba-tiba ia merasa bahwa para perempuan tidak suka dengan ketampanan. Yang disukai perempuan-perempuan itu hanya uang.
Sesungguhnya Kwik Tay-lok bukan seseorang yang gampang dipermainkan orang, diapun tak akan sudi digebuk orang dengan begitu saja. Tapi bagaimanapun juga bagaimana mungkin baginya untuk berkelahi dengan perempuan-perempuan semacam itu ?

Lengannya kena digigit dua gigitan, kepalanya digebuk sampai keluar benjolan, sekarang ia sedang mengelus benjolan di kepalanya dengan tangan sebelah sedang tangan yang lain merogoh sakunya.

Saku itu kosong, jauh lebih kosong daripada perutnya yang lapar, Uang yang jelas berada dalam sakunya ternyata telah lenyap dengan begitu saja.

Kulit itik yang dimakan pagi tadi, sudah tak berbekas, arak yang di minumpun sudah berubah menjadi keringat.
 
Menanti malam hari tiba, keringatpun telah mengering.

Terpaksa Kwik Tay-lok mencari sebuah kuil bobrok, duduk di depan altar dia menendang patung sambil termangu-mangu, patung Pousat itupun seakan-akan sedang memandang pula ke arahnya sambil termangu-mangu.

Sebenarnya ia sudah menyusun rencana yang matang ia bermaksud makan dulu sekenyang- kenyangnya, kemudian mandi dulu sepuas-puasnya, bahkan ia membayangkan pula bagaimana sebuah tangan yang halus sedang menggosok-gosok punggungnya.

Tapi sekarang ?

Sekarang yang menggosok-gosok punggungnya cuma beberapa ekor kutu busuk, mungkin bukan cuma seekor, kasur duduknya seakan-akan merupakan markas besar pasukan kutu busuk, seakan-akan kutu busuk dari seluruh dunia pada berkumpul menjadi satu di sana, satu regu menyerbu punggung, regu lain menyerbu dada, seakan-akan seluruh badannya merupakan tempat mereka untuk berpesta pora.

Dengan jengkel Kwik Tay-lok menghantam punggungnya keras-keras, kalau bisa sekali gaplok mampus.

"Apakah aku memang sudah ditakdirkan untuk miskin terus? Masakah aku harus kelaparan terus menerus, seharipun tak boleh kenyang?"

Tiba-tiba ia teringat kembali akan kebaikan teman.

"Mengapa aku harus berpergian seorang diri? Kenapa aku harus kabur dari sisi Yan Jit?"

Terbayang berapa mereka sedang berpesta pora sekarang, ia merasa sedemikian kelaparan sampai-sampai kutu busukpun nyaris ditelan.

"Hidup sebagai seorang manusia memang tidak sepantasnya menjauhi teman, entah apapun yang hendak dilakukan, ada baiknya kalau berada bersama-sama teman, kecuali teman, masih ada apa lagi di dunia ini yang bisa disayangkan?"

Tiba-tiba Kwik Tay-lok merasakan betapa pentingnya arti teman dalam hati kecilnya. Siapa
saja yang ada di dunia ini, jika ia sedang berada dalam keadaan miskin dan kelaparan, ia pasti akan berubah menjadi begini.

Untung saja besok mereka akan berjumpa lagi, sekarang dia hanya berharap waktu bisa lewat dengan cepat, makin cepat semakin baik.

"Sekarang, aku demikian memikirkan mereka, siapa tahu mereka telah melupakan aku, Ong Tiong pasti sudah tidur sambil mendengkur, Yan Jit mungkin sedang berpacaran dengan cewek cakep"

Terbayang sampai di situ, tak tahan lagi Kwik Tay-lok menghela napas panjang, tiba-tiba ia merasa bahwa dirinya adalah seorang yang amat mementingkan arti persahabatan, ia merasa sikapnya terhadap teman, jauh melebihi sikap teman terhadap dirinya.

Maka diapun merasa agak terhibur, meski dibalik rasa terhibur itu terselip juga rasa sedih. Perasaan semacam ini membuat dia melupakan segala yang lain untuk sementara waktu.
 
Tiba-tiba ia terlelap dan tidur pulas. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali.
Begitu terbangun dari tidurnya, Kwik Tay-lok lantas mengambil keputusan untuk berangkat dulu ke rumah makan Gwee- goan-lo dan menunggu teman-temannya di sana.

la bertekad untuk makan dulu sekenyang-kenyangnya, kemudian menunggu teman-temannya membayarkan rekeningnya itu.

Diapun mengambil keputusan untuk mencari madu yang agak baik, untuk mengganti energinya yang terbuang dengan percuma sepanjang malam.

Ia merasa setiap orang harus baik-baik menjaga kondisi sendiri, karena dia hampir melupakan betapa ia sampai tersiksa semalam, kenapa harus menderita dengan sia-sia.

Mungkin hal ini dikarenakan rasa lapar yang luar biasa, dalam sadar tak sadar, ia seakan-akan merasa telah mengorbankan segala sesuatunya demi teman.

Ia amat menaruh simpatik terhadap diri sendiri.

Sayang tauke rumah makan "Gwee-goan-koan tidak berpikir demikian. Bukan saja pintu belum terbuka, jendelapun belum terbuka.

Tentu saja Kwik-Tay-lok tak akan menyalahkan dirinya yang datang terlalu awal, dia hanya menyalahkan orang-orang itu terlalu malas, kenapa sampai sekarang belum membuka pintu, apakah ia memang sengaja hendak menyusahkan dirinya.

Seorang yang sudah kelaparan biasanya memang tidak terlalu memikirkan soal cengli.

Baru saja dia hendak mengetuk pintu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang sambil menyapa.

"Selamat pagi !"

Yan Jit dengan mengenakan pakaian baru berdiri di situ dengan wajah berseri ia menunjukkan wajah yang segar karena makan yang kenyang dan tidur yang nyenyak.

Dengan penuh rasa mendongkol dan mencibir bibir Kwik Tay-lok bergumam:

"Huuh, sekarang masih dianggap pagi? Lihatlah, mataharipun sudah bersinar sampai ke pantat !"

"Waktu itu lebih berharga dari seribu kati emas, kalau memang merasakan kenikmatan semalaman suntuk, mengapa kau tidak berbaring dalam pelukan sang bidadari sampai tengah hari
?" kata Yan Jit sambil tertawa lebar. "Di situ banyak kutu busuknya"
"Kutu busuk? Masa di ranjang sang bidadari pun banyak kutu busuknya? Lucu amat!"

Kwik Tay-lok menyadari kalau ia telah salah bicara, maka setelah mendehem beberapa kali, katanya lagi sambil tertawa paksa:
 
"Bukan kutu busuk sungguhan, cuma tangannya yang selalu bergerak-gerak di badanku itu lebih menjemukan dari pada kutu busuk."

Yan Jit segera mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas katanya:

"Yang paling sukar ditahan adalah kehangatan tubuh sang bidadari, kau benar-benar tidak pandai menikmati keadaan, aku yang ingin mencari seekor kutu busuk di badanku saja tidak berhasil menemukannya. . . !"

"Hahahaha... hahaha. " Kwik Tay-lok ingin tertawa seriangnya, tapi suaranya justru seperti
keledai yang lagi cegukan, mana suaranya parau, tidak enak lagi didengar.

Yan Jit segera memperhatikannya dari atas sampai ke bawah, kemudian katanya lagi. "Apakah perutmu sedang merasa kurang enak? Yaa, pasti semalam kekenyangan." "Ehmm "
Yan Jit kembali tertawa cekikikan ujarnya:

"Kalau toh nona itu bersikap begitu baik kepadamu, mungkin juga menyiapkan hidangan yang paling baik agar membantu kesehatan badanmu betul tidak ?"

Kwik Tay-lok melirik sekeyap ke arahnya, kemudian sahutnya:
"Sungguh tak kusangka secara tiba-tiba kaupun berubah menjadi begitu berpengalaman." "Aaai. . . mama mungkin aku bisa memiliki rejeki sebagus dirimu itu. " keluh Yan Jit sambil
menghela napas lagi.

"Semalam kau pergi kemana ?"

"Hmmm kau tidak rikuh untuk bertanya kepadaku ? Sampai pusing kepalaku semalam
menunggu kedatanganmu di warung teh itu, tapi jangan toh kau datang menjemputku, bayangan setan pun tidak nampak, terpaksa aku bergelandangan seorang diri kesana kemari, hampir saja tempat untuk tidurpun tidak kutemukan"

"Kiranya bocah ini pandai berpura-pura" pikir Kwik Tay-lok.

Saking gemasnya gigi serasa bergemerutukan keras, apa mau dikata ia justru tak bisa membongkar rahasianya itu, terpaksa sambil tertawa paksa katanya:

"Siapa suruh kau tidak sabar menunggu?"

"Aaaai. akibatnya aku yang kepayahan setengah mati, habis sekaligus harus melayani
beberapa orang nona cantik"

Yan Jit menggelengkan kepalanya berulang kali, bahkan menghela napas panjang pendek seolah-olah merasa menyesalnya setengah mati.



Kwik Tay-lok kembali merasakan hatinya agak terhibur, katanya lebih jauh:
 
"Padahal kau juga tak usah bersedih hati, bila ada kesempatan lagi di kemudian hari aku pasti akan mengajakmu. Terutama sekali terhadap seorang nona cilik diantaranya, waaah... bukan cuma wajahnya cantik, pandai memberi kesenang buat kita, malahan apa yang kau pikirkan dihati tanpa kau katakan, ia sudah menyiapkannya bagimu."

"Waaahhh. kalau begitu dia kan seperti seorang Puosat batu yang suka menolong kaum
miskin yang sedang kesusahan?" teriak Yan Jit dengan mata melotot besar.

Kwik Tay-lok agak tertegun.

"Pousat batu ? Dari mana datangnya Pousat batu ?" serunya.

Tiba-tiba ia teringat kembali, bukankah dalam kuil yang di tempatinya semalam juga ada sebuah patung Pousat batu ?

Yan Jit telah berkata lagi sambil tertawa:

"Oooh maksudku adalah seorang Li-Pousat, seorang pousat perempuan yang senang
menolong kaum lelaki"

Kwik Tay-lok baru merasa lega setelah mendengar perkataan itu, dasar kalau tidak jujur, apa saja yang dikatakan orang bisa membuat jantung berdebar keras.

"Pagi tadi, hidangan lezat apa saja yang telah disiapkan Li-pousat itu untukmu ?" Sambil menelan air liurnya Kwik Tay-lok kembali mengibul.
"Kalau dibilang amat lezat sih tidak, dia cuma membuatkan Yan-oh, kuah ayam, bak mi, bakpao, daging ham, telur. "

Hampir semua makanan yang dia inginkan dan sedang dipikir dalam hatinya disebutkan satu persatu, kendatipun belum sampai mencicipi, paling tidak bisa mengurangi rasa laparnya yang semakin menghebat itu .. . .

Sayang sekali dia tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya, sebab bila ucapan tersebut dilanjutkan, bisa jadi air liurnya akan bercucuran dengan derasnya.

Yan Jit segera menghela napas panjang, katanya:

"Wah, tampaknya bukan saja kau sedang mujur dalam soal perempuan, mujur pula dalam soal makanan, padahal aku sudah kelaparan setengah mati, kalau bisa aku ingin mencari tampat untuk bersantap."

Belum habis dia berkata, Kwik Tay-lok telah menyela dengan cepat.

"Haah ! Mau makan. Hayo, kita berangkat sekarang juga, aku bersedia menemanimu!" "Bah, tidak usah, kau toh sudah kenyang, aku jadi rikuh kalau kau yang menemani."
Kwik Tay-lok mana gusar, gelisahnya setengah mati, kalau bisa dia hendak bicara terus terang, untung saja pada saat itulah pintu depan rumah makan Kiu-goan-koan telah di buka orang, menyusul seseorang melongok ke luar dengan mata setengah terpejam, agaknya masih mengantuk dan sudah setahun lamanya tak pernah tidur.

Sambil melirik ke arah mereka berdua, orang itu berseru:
 
"Kalau ingin makan, rumah makan kami menyediakan aneka macam hidangan, mengapa tuan tidak memilih yang dekat sebaliknya malah mencari yang jauh ?"

Melihat orang itu, Yan Jit dan Kwik Tay lok segera tertawa terbahak-bahak, ternyata orang itu adalah Ong Tiong.

Sambil tertawa lebar Kwik Tay-lok berseru:

"Cara kerjamu sungguh luar biasa hebatnya, sedari kapan sih kau sampai di sini ? Sedari kapan pula kau menjadi pelayannya rumah makan Kui-goan-koan?"

"Hari ini Kwik toa-sauya kan mau mentraktir kami, kalau sampai tidur kesiangan sehingga kehilangan kesempatan sebaik ini kan penasaran rasa hatiku ? Maka dari itu, aku lantas mengambil keputusan untuk berangkat semalam sebelumnya dan tidur di sini, sembari tidur sembari menanti, mana nyaman tidak takut terlambat lagi, kan sip namanya?"

"Betul!" sambung Yan Jit sambil tertawa, "selamanya cara kerja Ong Lo-toa memang selalu dapat dipercaya, bisa mengundang kedatangan seorang tamu yang bersungguh hati seperti kau, yang menjadi tuan rumah pasti akan merasa terharu sekali"

Sesungguhnya seisi perut Kwik Tay-lok telah dipenuhi oleh sumpah serapah yang tak mampu dilampiaskan keluar, seandainya di situ ada tali gantungan, mungkin ia sudah bunuh diri sedari tadi.

Dalam keadaan demikian, terpaksa dia cuma bisa tertawa serak sambil bergumam. "Yaa, aku memang sangat terharu, sampai maknya pun ikut terharu. !"
"Sekarang mah belum sampai waktunya kau merasa terharu" kata Ong Tiong, "bila kami sudah mulai bersantap nanti, nah waktu itulah kau baru akan terharu."

"Betul!" sambung Yan Jit sambil tertawa, "Bukan cuma dia saja yang akan terharu, mak nya juga akan turut terharu sehingga air mata ikut jatuh bercucuran"

Rumah makan Kui-goan-koan tidak terhitung rumah makan kecil, rumah makan itu terbagi menjadi loteng bagian atas loteng bawah, untuk bawah lotengpun paling tidak terdiri dari tujuh delapan belas buah meja.

Kalau malam sudah tiba, biasanya meja-meja itu akan digabungkan menjadi satu, pelayan rumah makanpun akan menggelar tikar dan tidur di atas meja tersebut.



Dalam rumah makan itu ada tujuh-delapan orang pelayan yang bekerja disitu, sekarang mereka semua sedang merangkak bangun dengan mata yang masih mengantuk, masing-masing pelayan dengan ramah dan hangat menyapa kepada Ong Tiong.

"Apakah orang-orang Ong toako telah datang semua ?"

"Mengapa tidak cepat bangun untuk melayani tamunya Ong toako ?"

Sepasang mata Kwik Tay-lok terbelalak lebar-lebar, dia ingin bertanya kepada Ong Tiong, sedari kapan ia telah menjadi toakonya orang-orang itu ?
 
Mendadak ia menyadari bahwa Ong Tiong bukan cuma cara kerjanya saja yang serba rahasia, diapun pandai bergaul dan menjadi teman, seperti misalnya dia selama hidup jangan harap bisa bersahabat dengan para pelayan dari rumah makan.

Yan Jit sudah tidak tahan untuk bertanya: "Dulu, apa kau seringkali berkunjung ke sini ?" "Tidak, kali ini baru pertama kalinya !" jawab Ong Tiong.
Sepasang mata Yan Jit pun terbelalak lebar, dalam hati kecilnya benar-benar merasa kagum, dalam semalaman saja ia sudah sanggup untuk menaklukan semua pelayan yang bekerja dalam rumah makan tersebut, sesungguhnya kejadian semacam ini amat jarang terjadi.

"Kalian ingin makan apa ?" tanya Ong Tiong, "hayolah pesan, akan kusuruh mereka menyiapkan hidangan."

"Aku ingin semangkuk mi ayam yang di beri tiga biji telur dan dua kerat daging baykut, tapi kedua potong bay-kut itu musti banyak dagingnya dan empuk,"

"Aku juga memesan semangkuk mie yang sama." kata Ong Tiong, "bagaimana dengan saudara Kwik ?"

Belum lagi berbicara, air liur Kwik Tay-lok serasa sudah menetes keluar, katanya agak tergagap:

"Aku. "

Belum sempat dia mengucapkan kata-katanya, Yan Jit telah menyerobot dari samping, teriaknya:

"Dia tidak perlu dipesankan, pagi tadi ia sudah sarapan beraneka macam hidangan lezat, saking kenyangnya hampir meledak perutnya yang buncit itu."

Kwik Tay-lok merasa gelisah yaa gemas, sampai giginya saling beradu, tangannya menjadi gatal, kalau bisa ia ingin menyumbat si mulut cerewet itu dengan kepalan tangannya.

Yan Jit memutar biji matanya seperti sedang tertawa geli, tiba-tiba ia bertanya: "Kemana perginya Lim Tay-peng ? Apakah ia sudah datang ?"
"Datangnya mah sudah datang, dia masih tidur di atas loteng."

"Tampak diapun jago tidur, tidak kalah hebatnya dengan kepandaianmu !" seru Yan Jit sambil tertawa.

Di atas loteng bukan cuma tak ada orang, bayangan setanpun tidak nampak.

Di sudut ruangan tampak beberapa buah meja yang dijajarkan menjadi satu, selimut masih ada di atas meja itu tapi orangnya entah ke mana perginya ?"

"Dimana orangnya ?" seru Yan Jit.

Ong Tiong juga tampak tertegun, serunya:

"Ketika aku turun dari loteng tadi, dia masih tertidur di sini, kenapa dalam waktu sekejap bayangan tubuhnya bisa lenyap tak berbekas ?"
 
"Kau tidak melihatnya turun dari loteng?"

Ong Tiong menggelengkan kepalanya, sementara matanya menatap daun jendela di seberang sana lekat-lekat.

"Tampaknya cara kerja orang inipun serba rahasia dan aneh, toh ia tak usah membayar rekening ? Kenapa musti ngeloyor pergi?" omel Yan Jit sambil tertawa.

Matanya juga mengikuti arah pandangan Ong Tiong mengawasi daun jendela di hadapannya sana.

Di atas loteng ini semuanya terdapat delapan buah daun jendela, salah satu diantaranya berada dalam keadaan terbentang lebar kini.

"Apakah jendela itu terbuka sedari tadi?" kembali Yan Jit bertanya.

"Tidak, aku paling benci tidur dengan jendela terbuka, aku takut kedinginan" Pelan-pelan dia berjalan ke tepi jendela.
Di bawah jendela tersebut merupakan pintu belakang rumah makan Kui-goan-lo, di seberang pintu adalah sebuah sungai kecil, di atas sungai terbentang sebuah jembatan.

Walaupun air sungai itu kotor lagi bau, walaupun jembatan kecil itu bobrok dan kuno, tapi sekarang fajar baru menyingsing, sinar matahari yang lembut menyinari air sungai dan memantulkan sinar tajam yang menyilaukan mata.

Kabut tipis meliputi permukaan tanah, angin berhembus lewat menggoyangkan pohon liu, sayup-sayup sampai kedengaran bunyi ayam berkokok, betul-betul merupakan suatu pemandangan yang sangat indah.

Sayangnya di seberang sungai sana tampak seorang nyonya yang membopong anaknya sedang mencuci tong berisi tinja di tepi sungai.



Yan Jit mengerutkan dahinya lalu mengerutkan pula hidungnya, kemudian dengan suara lantang teriaknya:

"Toaso, barusan ada orang melompat turun dari jendela dan lari ke sana, apakah kau melihatnya atau tidak"

Nyonya itu mendongakkan kepalanya dan melotot sekejap ke arahnya, kemudian sambil menundukkan kepalanya kembali dia bergumam:

"Pagi saja baru menjelang, jangan-jangan orang ini sudah ketemu setan . . . sialan !" Ketanggor batunya, Yan Jit bisa cuma tertawa getir, gumamnya:
"Entah kemana perginya bocah itu ? Jangan-jangan tenggelam di sungai itu dan mampus ?"

Kwik Tay-lok yang perutnya sudah kosong lagi lapar makin mendongkol dibuatnya, kalau bisa rasanya dia ingin mencari sasaran yang tepat untuk melampiaskan rasa marahnya itu.

Mumpung ada kesempatan, sambil menarik muka dia lantas mendamprat:
 
"Cerewet amat kau ini, mana bawel lagi! Biar saja kalau ada yang tenggelam di sungai, biar mampus sekalian agar mengurangi jatah, takutnya justru dia tak akan mampus tenggelam di sungai !"

"Waduh, hebat betul orang ini" gumam Ong Tiong sambil mengerling sekejap ke arahnya. "Sepagi ini hawa amarahnya sudah begitu gede, mungkin semalaman suntuk rasa mendongkolnya belum ada tempat penyaluran ?"

Yan Jit segera tertawa terkekeh-kekeh serunya cepat:

"Aaah, mana mungkin, semalam mana dia digigit kutu busuk, ketemu dengan li-pousat pula, sekalipun mendongkol juga semua rasa mendongkolnya sudah tersapu lenyap"

"Li-pousat ?" Kutu busuk ? Jangan-jangan semalam ia tidur dalam kuil bobrok? Wah, kan lebih enakan tidur di atas meja ditempat lain ini"

Kontan saja air muka Kwik Tay-lok berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, untung saja sang pelayan telah datang menghidangkan dua mangkuk bakmi.

Dua mangkuk besar bakmi kuah ditambah dengan dua piring daging bay-kut yang gemuk dan harum. Ketika mengendus bau harum semerbak yang terbawa oleh angin, Kwik Tay-lok pingin menerjang bakmi itu dan melahapnya dengan rakus.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok memusatkan semua perhatiannya ke bawah meja, seolah-olah di bawah meja sedang terdapat beberapa orang siluman kecil bermain sandiwara.

Yan-Jit dan Ong Tiong meski sedang makan bakmi, tanpa terasa matanya juga turut di alihkan ke bawah meja.

Kesempatan baik semacam inilah yang sesungguhnya sedang di tunggu oleh Kwik Tay-lok, secepat kilat tangannya menyambar ke atas sepotong daging bay-kut yang ada di meja.

Siapa tahu baru saja tangannya hendak mencomot daging tersebut, sepasang sumpit telah melayang datang dari tengah udara dan....

"Plak !" menghantam punggung tangannya keras-keras. Sambil mengerling ke arahnya dan tertawa Yan Jit berseru:
"Barusan kau toh sudah makan tujuh belas macam sayur, kenapa masih ingin mencuri daging orang? Apakah kau benar-benar kelaparan setengah mati ?"

Bocah ini betul-betul memiliki sepasang mata pencoleng yang kelewat tajam.

Merah padam selembar wajah Kwik Tay1ok karena jengah, dengan tersipu-sipu ia menarik tangan kembali sembari bergumam:

"Kalau orang bermaksud baik, jangan di tuduh yang jelek, aku toh bermaksud untuk mengusir lalat yang hinggap di atas daging itu? Bukan berterima kasih, kau malah menggigit aku ?"

"Aaah, hari ini udara dingin sekali, dari mana datangnya lalat?"

"Walaupun lalat tak ada, paling tidak kutu busuk mah masih ada beberapa ekor." kata Ong Tiong.
 
Hari ini, entah kedua orang itu sedang angot atau kambuh penyakit edannya, setiap saat setiap waktu selalu berusaha menyusahkan diri Kwik Tay-lok, agaknya kalau belum memusuhinya, hati serasa belum puas.

Terpaksa Kwik Tay-lok tidak melayani olok-olokan orang, seorang diri duduk tertegun setengah harian lamanya, tiba-tiba ia berkata sambil tertawa:

"Tahukah kalian apa yang sedang kupikirkan sekarang?"

Tak seorangpun berbicara, sebab mulut mereka sedang tersumbat penuh oleh daging bay-kut. Terpaksa Kwik Tay-lok melanjutkan sendiri perkataannya:
"Aku sedang berpikir, rasanya semangkuk mie campur daging bay-kut tentu lezaat ..!"

Yan Jit menghirup setegukan kuah dan menelan daging bay-kut yang telah dikunyah itu ke dalam perut, kemudian sambil tertawa sahutnya:

"Tepat sekali jawabanmu, kami memang amat jarang mencicipi bakmi seenak ini". "Tahukah kalian, apa sebabnya bakmi ini luar biasa lezatnya kalau dimakan ?"


"Kenapa ?" Yan Jit balik bertanya sambil mengerdipkan matanya.

"Sebab bakmi ini di masak dengan air sungai di belakang sana, air yang bekas dipakai mencuci tong berisi tinja tentu saja luar biasa lezat baunya. !"

Paras muka Yan Jit sama sekali tidak berubah, malahan sambil tertawa cekakakan dia berkata:

"Jangan toh baru air sungai bekas dipakai mencuci tong berisi tinja, sekalipun bakmi ini di masak dengan air bekas cuci kaki pun rasanya tentu lebih lezat daripada harus menahan lapar setengah mampus."

Kwik Tay-lok tertegun beberapa saat lamanya, tiba-tiba dia melompat bangun, sambil membentangkan tangannya dia berteriak:

"Aku ingin makan, harus makan. siapa melarang aku makan lagi, aku bersumpah akan
beradu jiwa dengannya."

Lim Tay-peng sedang duduk termangu-mangu.

Ia pulang sudah cukup lama, termangu-mangu juga cukup lama, seolah-olah sedang menunggu orang bertanya kepadanya:

"Mengapa kau hilang secara mendadak? Kemana saja kau pergi? Apa saja yang telah kau lakukan?"

Tapi sayang justru tak seorangpun yang bertanya, seolah-olah mereka menganggap ia tak pernah pergi meninggalkan tempat itu.

Terpaksa Lim Tay-peng mengatakannya sendiri, mula-mula dia melirik sekejap ke arah Kwik Tay-lok, kemudian pelan-pelan baru berkata:
 
"Tadi aku telah melihat seseorang, selama hidup jangan harap kalian bisa menduga siapakah dia."

Betul juga, Kwik Tay-lok segera tak kuat menahan diri, cepat dia bertanya: "Kenalkah aku dengan orang itu?"
"Sekalipun tidak kenal, paling tidak pernah bersua!" "Siapa sih orang itu"
"Aku sendiri juga tak tahu siapakah dia, sebab aku sendiripun tidak kenal dengannya" Kwik Tay-lok kembali tertegun, sesudah tertawa getir katanya:
"Dialek yang dipakai orang ini adalah dialek dari negeri mana sih? Apakah kalian mengerti apa yang sedang ia ngebacotkan sekarang ?"

Lim Tay-peng sama sekali tidak menggubris dirinya, ia berkata lebih jauh:

"Walaupun aku tidak kenal dengan orangnya, tapi kenal dengan pakaian yang dikenakannya
itu"

"Pakaian apa yang dia kenakan?" tak tahan kembali Kwik Tay-lok bertanya. "Baju berwarna hitam !"
Mendengar itu Kwik Tay-lok segera tertawa lebar.

"Tak terhitung jumlah orang berbaju hitam yang berjalan di atas jalan raya, setiap saat pun aku bisa menjumpai puluhan orang."

"Kecuali bajunya, aku masih kenal juga dengan pedangnya".

Sekarang Kwik Tay-lok baru merasakan sedikit keanehan, segera ia mendesak lebih jauh: "Macam apakah pedang itu?"
"Pedang yang panjangnya satu jengkal tujuh inci dikombinasikan dengan sarung pedang yang empat jengkal panjangnya"

Kwik Tay-lok segera menghembuskan napas:

"Kapan kau bertemu dengannya" ia berseru. "Ketika kalian datang tadi !"
"Apakah kau anggap kejadian ini aneh sekali?" tiba-tiba Kwik Tay-lok tertawa lebar. "Apakah kau tidak merasa heran?"
"Dia toh memang sedang pergi ke kota Sian-sia untuk memberi laporan, bila kita tidak menemuinya di sini, itu baru aneh namanya"
 
"Dia seharusnya membawa si anjing buldok, si tongkat dan Hong Si-hu serta barang rampokan itu menuju ke kantor pengadilan bukan?"

"Benar?"

"Tapi dari pihak pengadilan justru tidak mendengar tentang peristiwa itu, bahkan dalam dua hari belakangan ini sama sekali tak ada buronan yang digusur kemari."

Sekarang Kwik Tay-lok baru merasa rada terkejut, serunya:

"Darimana kau bisa tahu?"

"Aku telah berkunjung sendiri ke pengadilan untuk mengecek kebenaran dari berita ini." Kwik Tay-lok segera berpikir sejenak, kemudian katanya:
"Mungkin saja dia bermaksud untuk membawa para tawanan itu ke kota lain ?" "Tidak ada tawanan atau orang hukuman!"
Kwik Tay-lok segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian setelah termenung sejenak katanya:
"Hei, apa maksudmu? Apa yang kau maksudkan dengan tidak ada orang hukuman itu?" "Tidak ada orang hukuman artinya ialah si anjing buldok, si tongkat dan Hong Si-hu telah
lenyap tak berbekas bagaikan air yang menguap ke udara, sedangkan barang rampokan yang
dikatakan akan dipakai sebagai barang bukti pun turut lenyap tak berbekas, secara diam-diam aku menguntil terus di belakangnya sampai ia tiba di tempat pondokannya, tapi di situpun tak kujumpai orang-orang tersebut, karena dia hanya berdiam seorang diri di sana !"



Kali ini Kwik Tay-lok dibikin tertegun, malah mulutnya sampai melongo dan matanya terbelalak lebar-lebar.

Bukan cuma dia, Yan Jit dan Ong Tiong pun turut tertegun seperti sepasang patung arca.

Lim Tay-peng berhenti sebentar untuk mengatur napasnya yang agak tersengkal, kemudian setelah meneguk habis arak yang berada di depan Kwik Tay-lok itu, katanya lagi dengan hambar:

"Sekarang kau merasa kejadian ini rada aneh atau tidak?" "Yaa, aneh sekali !" teriak Kwik Tay-lok.
Yan Jit dan Ong Tiong juga turut manggut-manggut.

Meja sudah ditarik ke tengah ruangan, selimut juga sudah di gulung.

Tamu-tamu yang akan bersantap dirumah makan kui-goan-koan sebentar lagi akan berdatangan. Tapi saat itu di atas loteng cuma ada mereka berempat. Empat orang itu duduk tak berkutik ditempat semula, bagaikan empat buah patung kayu.

Patung-patung kayu yang bisa minum arak tentunya.
 
Arak didalam teko sudah lenyap tak berbekas seperti menguap mereka meneguk secawan demi secawan tanpa hentinya, memenuhi secawan sendiri dan meneguknya sampai habis, siapapun enggan untuk mengurusi rekan-rekan lainnya.

Kemudian Yan Jit, Ong Tiong dan Kwik Tay-lok seakan-akan telah berjanji sebelumnya, bersama-sama mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Sekalipun mereka semua goblok, sekarang pun tahu kali ini mereka lagi-lagi ditipu orang.

Sudah pasti manusia berbaju hitam itu bukan opas atau pegawai pengadilan, diapun bukan mata-mata yang diutus wali kota untuk menyelidiki tingkah laku si anjing buldok dan si tongkat. Rupanya diapun seseorang yang hitam makan hitam.

Bila ada orang ditipu mentah-mentahan oleh orang lain bahkan rugi besar, rasa mendongkol dan rasa mangkel yang berkobar dalam dadanya tentu besar sekali.

Tapi mereka tidak marah ataupun mendongkol, mereka malahan merasa kejadian ini menggelikan sekali.

Yan Jit sambil menuding ke arah Kwik Tay-lok berkata seraya tertawa tergelak:

"Perkataan Ong lotoa sedikitpun tak salah, sewaktu kau harus pintar sebaliknya malah berbuat goblok, bukan cuma goblok saja, bahkan gobloknya setengah mati."

"Bagaimana dengan kau sendiri?", kata Kwik Tay-lok pula sambil menuding ke arahnya dan tertawa, "kau sendiripun tidak lebih cerdik daripada diriku !"

Lim Tay-peng hanya duduk tenang disamping sambil mengawasi mereka, menunggu semua orang telah berhenti tertawa, dia baru bertanya:

"Sudah habiskah tertawamu itu?"

Kwik Tay-lok menghembuskan napas panjang, sahutnya:

"Belum habis tertawaku, cuma aku sudah tak punya tenaga lagi untuk tertawa lebih jauh" "Apakah kalian menganggap kejadian ini sangat menggelikan?" seru Lim Tay-peng lagi. Tiba-tiba Ong Tiong membalikkan matanya, kemudian berseru:
"Kalau tidak tertawa lantas bagaimana? Apakah harus menangis?"

Dia memang selalu beralasan kalau sedang berbicara, inilah kesimpulan yang diambilnya. Mereka bisa tertawa, mereka berani tertawa, merekapun mengerti untuk tertawa.
Tertawa bukan saja dapat membuat orang merasa girang, diapun bisa menambah rasa percaya serta keberaniannya terhadap orang lain.

"Bila orang tertawa terus, dia akan punya rejeki besar, karena kehidupan akan menjadi milik kita"

Lim Tay-peng tampaknya tak sanggup untuk tertawa.

"Mengapa kau tidak turut kami untuk tertawa tergelak ?" Kwik Tay-lok bertanya.
 
"Bila hanya tertawa bisa menyelesaikan persoalan, aku pasti akan tertawa lebih keras daripada kalian."

"Sekalipun tertawa tak bisa menyelesaikan persoalan, paling tidak bisa menghilangkan kemurungan dalam hatimu."

Setelah tertawa, dia berkata kembali:

"Apalagi bila kau belajar menggunakan tertawa untuk berhadapan dengan orang asing, lambat laun kau akan merasa bahwa dalam kehidupan manusia di dunia ini sesungguhnya tidak terdapat persoalan yang tak dapat diselesaikan".

"Bagaimanapun riangnya kalian tertawa, toh sama saja sudah tertipu orang . . ." kata Lim Tay- peng.

"Kau tidak tertawapun juga sama saja sudah tertipu orang, kalau toh sama-sama sudah tertipunya, mengapa kau tidak tertawa saja?"

Lim Tay-peng tidak berbicara lagi.

"Sebetulnya persoalan apakah yang sedang kau hadapi?" tanya Kwik Tay-lok kemudian. "Mengapa sih kau begitu menaruh perhatian terhadap persoalan ini?" seru Yan Jit pula. Lim Tay-peng termenung beberapa saat lamanya, kemudian menjawab:
"Karena orang itu adalah Lamkiong Cho!" "Darimana kau bisa tahu ?"
"Pokoknya aku tahu !"

"Apa pula hubungannya Lamkiong Cho dengan dirimu ?"

"Tak ada hubungan apa-apa.... justru karena tak ada hubungan apa-apa, maka aku baru..." "Kau baru apa?"
"Aku baru membunuhnya!"

Kwik Tay-lok memandang Yan Jit, kemudian memandang kearah Ong Tiong, sesudah itu serunya:

"Dengarkan kalian apa yang barusan dia katakan ?"
Ong Tiong sama sekali tidak berkutik, sebaliknya Yan Jit cuma manggut-manggut. "Bocah ini mengatakan dia hendak membunuh orang !" kata Kwik Tay-lok lagi, Ong Tiong
masih belum juga berkutik sedangkan Yan Jit kembali manggut-manggut.