Pendekar Riang Jilid 04

 
Jilid 04

TAPI BAGI SEMENTARA ORANG, sehari seakan-akan setahun, waktu seakan-akan merambat seperti siput, mau dilewatkan juga susahnya bukan kepalang.

Tongkat, bukan suatu benda yang disukai setiap orang. Tapi tongkat justru besar sekali kegunaannya.
Tongkat lebih menguntungkan daripada pedang, jika sebuah tongkat diayunkan ke bawah, kadangkala akan dilihat dulu apa yang dipukul.

Jika pedang diloloskan dari sarung, biasanya dia akan mengincar bagian lemah yang mematikan.

Terutama pedang tersebut.

Sewaktu pedang itu diloloskan keluar, dia ada harganya, sewaktu di sarungkan kembali, diapun ada harganya.

Harga sewaktu dicabut adalah uang, sedang harga sewaktu di sarungkan adalah darah!

Satu jam sudah lewat, si anjing buldok dan manusia berbaju hitam itu, masih duduk di situ, Kwi Tay-lok sekalian juga masih duduk di tempat.

Mereka enggan pergi, juga tak bisa pergi.

Bila Kwik Tay-lok mengeluarkan uang mas itu untuk membayar rekening, bukankah hal ini sama artinya dengan memberitahukan kepada orang lain bahwa dirinya adalah penyamun.

Akhirnya si tongkat penjepit kembali juga, sekarang Kwik Tay-lok bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Raut wajahnya ibarat tinggal kulit pembungkus tulang, tiada perasaan tiada luapan emosi, tiada pula daging.

"Bagaimana ?" tanya si anjing buldok.

"Orang itu bukan she Ko, dia she Song, sebetulnya adalah kasir dari perusahaan Liau-tang- gou-yo-hau milik keluarga Thio, setelah berhasil menggaet sejumlah uang milik majikannya, ia melarikan diri kemari, oleh sebab itu meski uang emasnya dicuri orang, mereka tak berani berkaok-kaok."

Si anjing buldok segera tertawa dingin, katanya:
 
"Tampaknya cara ini merupakan cara yang lazim dia pergunakan, menangkap dulu titik kelemahan orang kemudian baru turun tangan"

"Yaa, sewaktu beroperasi pun cara yang dipergunakan juga sama, lagi pula cara kerjanya bersih dan indah, tanpa membuka pintu atau jendela, emasnya sudah terbang."

"Kapan terjadinya peristiwa itu?" "Semalam !"
"Asal dia sudah turun tangan, paling tidak ada tiga belas buah peristiwa yang dilakukan secara bersamaan, biasanya ini adalah peraturannya. "

"Kecuali orang she Song itu, aku telah memeriksa pula lima keluarga lagi." si tongkat penjepit menerangkan lebih jauh.

"Apakah kelima keluarga itupun pernah berbuat kriminil sehingga kehilangan tersebut tak berani diluarkan kepada orang ?"

"Betul, malah salah satu diantaranya dulu adalah bekas komandan regu anak buah Liok-san- liong-ong sebelum cuci tangan dulu, sekarang ia telah berbini dan punya anak."

"Mereka bisa bertemu dengan orang itu, boleh dibilang itulah kesialan mereka, lepaskan saja orang-orang itu"

Si tongkat penjepit tidak berbicara, dia hanya memperhatikan tangan sendiri sambil tertawa dingin.

Sambil tertawa si anjing buldok berkata:

"Padahal aku juga tahu kalau kau tak akan lepas tangan, setiap orang yang pernah berhubungan dengan Liok-sang-liong-ong, bila sampai bertemu dengan kau berarti dia lagi naas. Tapi kau sendiripun harus berhati-hati, jika benar-benar sampai berjumpa dengan Liok sang-liong- ong serta ular beracun itu, orang yang sial waktu itu kemungkinan sekali adalah kau sendiri."

Si tongkat penjepit masih tertawa dingin, ia tidak berbicara apa-apa.

"Bagaimanapun juga, kabar yang kita terima agaknya tidak keliru" ujar si anjing buldok lagi, "rupanya selama banyak tahun ini dia selalu bersembunyi disini."

"Orang yang memberitahukan kabar ini kepadaku memang dapat dipercaya, kalau tidak kenapa aku suruh kau membayar sepuluh ribu tahil kepadanya?"

"Kalau betul ia sudah bercokol selama tujuh-delapan tahun di sini, kenapa secara tiba-tiba turun tangan lagi ?"

"Itulah yang dinamakan tangan gatal."

Semua pembicaraan tersebut diucapkan dengan terang-terangan, sedikitpun tidak kuatir didengar orang, tentu saja Kwik Tay-lok dapat mendengar semua pembicaraan itu dengan jelas.

Bagaimanapun juga, mau tak mau dia harus mengakui bahwa si tongkat penjepit memang betul-betul punya kepandaian.

Tapi, siapa yang mereka maksudkan dengan "Dia" itu ?
 
Tiba-tiba si tongkat penjepit kembali tertawa dingin, katanya lagi:

"Kalau betul ia masih melakukan pencurian disini semalam, berarti sampai sekarang ia masih mengendon di sini. Setiap orang yang ke luar kota pagi ini telah kuperiksa semua, kecuali serombongan penjual akrobatik yang agak mencurigakan, yang lain boleh dibilang adalah orang- orang yang tahu aturan".

"Mungkinkah hasil perampokan itu berada pada penjual akrobatik itu, dan diangkut keluar kota
?"

"Tidak mungkin, kalau dilihat dari debu yang dibawa oleh alas kaki mereka, paling banter uang yang mereka bawa cuma tak lebih dari sepuluh tahil perak".



Tiba-tiba si anjing buldok itu memperlihatkan sekulum senyuman bengis yang menyeramkan, kemudian katanya:

"Jadi kalau begitu, dia pasti masih berada dalam kota !"

Setelah mendengar sampai di situ. Kwik Tay-lok betul-betul tak tahan untuk bertanya kepada mereka:

"Dari mana kau bisa tahu kalau ia tidak kabur melalui jalan setapak ? Darimana pula kau bisa tahu kalau ia tidak kabur pada saat ini ?"

Tentu saja Kwik Tay-lok tak bisa mengajukan pertanyaan itu.

Untung saja tanpa ditanya olehnya si tongkat penjepit telah mengatakannya sendiri.

"Sekali turun tangan, hasilnya paling tidak diatas sepuluh laksa tahil emas, aku telah menyebarkan penjagaan di sekeliling tempat ini, bagaimanapun juga, jangan harap ia akan berhasil kabur dari sini dengan membawa uang sebesar sepuluh laksa tahil emas".

"Sudah barang tentu dia juga bukan seseorang yang mau menumpahkan hasilnya setelah ditelan ke perut. Orang ini selalu memandang uang bagaikan nyawa sendiri, dia tersohor sebagai seorang yang menelan sekulit setulangnya, sekali sudah ditelan, sampai matipun tak akan ditumpahkan kembali"

Si tongkat penjepit segera tertawa dingin.

"Itulah penyakit lamanya" dia berkata, "aku tahu sendiri dulu, suatu ketika penyakitnya itu pasti akan merenggut selembar jiwa sendiri!"

"Tapi orang ini betul-betul terlalu licik, ilmu penyamarannya juga sangat lihay, ditambah lagi pandai mengecilkan tulang, bahkan tinggi rendahnya perawakanpun dapat dirubah, belum tentu kita mampu untuk membongkar sarangnya"

Tiba-tiba si tongkat penjepit menggebrak meja sambil berseru:

"Kalau sampai kali ini dia bisa kabur lagi, aku akan menukar nama margaku" "Kau sudah menemukan jalannya ?"
 
"Sekalipun harus bertanya satu per satu, sekalipun harus berkorban selama tiga bulan, aku bersumpah akan menggusurnya keluar dari sarang serigalanya".

Si anjing buldok mengerling sekejap ke arah manusia baju hitam itu, kemudian dengan alis yang berkerenyit katanya:

"Apakah kau akan menanyai setiap orang yang berdiam dalam kota ini ?"

"Akupun tahu kalau caraku ini adalah cara seorang bodoh, tapi cara yang bodoh kadang kala malah akan mendatangkan hasil"

"Kau bersiap-siap akan mulai dari mana ?" tanya si anjing buldok kemudian setelah menghela napas.

"Dari sini !"

Tiba-tiba matanya, melotot ke arah wajah Kwik Tay-lok.

Seandainya berganti orang lain, apalagi kalau dalam hatinya memang ada yang tak beres, bila dipelototi semacam ini meski tidak ketakutan setengah mati, paling tidak paras mukanya akan berubah hebat.

Si tongkat penjepit tetap adalah si tongkat penjepit, barang siapa bertemu dengannya maka jangan harap kau tak akan bicara jujur.

Tetapi Kwik Tay-lok masih tertawa haha hihi tanpa berubah sedikipun wajahnya seakan-akan ia sama sekali tak ambil peduli.

Sesungguhnya dia memang seseorang yang acuh tak acuh, apalagi dalam perutnya sekarang sudah dipenuhi arak Tiok-yap-cing dari warung Yan-biau-gwan yang berusia tua.

Paras muka si tongkat penjepitpun amat tawar, tanpa emosi, sepasang matanya melototi mata Kwik Tay-lok tajam-tajam, pelan-pelan ia bangkit kemudian pelan-pelan berjalan menghampirinya.

Dengan mukanya yang hijau menyeramkan, setiap orang yang bernyali kecil tentu tak akan berani berjumpa dengannya, jangan toh baru di suruh mengaku terus terang, mungkin celana dalampun sudah basah lantaran terkencing-kencing.

"Orang ini tidak pantas disebut tongkat penjepit, ia lebih pantas kalau dinamakan si mayat hidup"

Perkataan tersebut hampir saja meluncur keluar dari mulut Kwik Tay-lok, hampir saja diucapkan dengan lantang... jangan kau anggap ia tak berani berbicara, asal arak sudah masuk keperut, kata "tidak berani" mungkin sudah menjauhinya sejauh sepuluh laksa delapan ribu li.

Ong Tiong sekalian juga tidak ambil perduli: "Sekali kau bersahabat dengan Kwik Tay-lok, maka setiap saat kau harus bersiap-siap untuk berkelahi baginya."

Berkelahi bagi mereka tak lebih hanya suatu kejadian yang lumrah, seperti tiap manusia harus makan setiap hari.

Sekalipun sepasang mata si tongkat penjepit tidak melototinya, tapi sepasang matanya justru melototi si tongkat penjepit dengan penuh rasa gusar.
 
Agaknya, baik Kwik Tay-lok yang salah berbicara, atau si tongkat penjepit yang salah berbicara, suatu pertarungan setiap saat bakal terjadi.

Siapa tahu, pada saat itulah tiba-tiba sianjing buldok berseru:

"Beberapa orang itu tak usah ditanyai." "Kenapa ?"
"Kalau dalam perut mereka ada suatu yang tak beres, mana mungkin ada kegembiraan untuk membicarakan soal hidungku ?" katanya sambil tertawa lebar.
Ternyata orang ini bukan cuma daya penciumannya tajam, telinganya juga tajam sekali. "Oooh, jadi semua pembicaraan kami telah kau dengar?" tak tahan lagi Kwik Tay lok menegur
sambil tertawa geli.

"Bagi kami yang pekerjaannya begini, bukan cuma pandangan matanya harus luas, telinganya juga musti mendengarkan suara yang berada di delapan penjuru."

"Kau tidak marah?"

"Kenapa harus marah?" si anjing buldok tertawa, "sekalipun hidung yang kegedean tak sedap didengar, toh hal itu bukan suatu kejadian yang memalukan."

Kesan Kwik Tay-lok terhadap orang ini segera membaik, ujarnya kemudian sambil tertawa:



"Bukan saja tidak memalukan, juga tidak terlalu jelek. Hidung orang lelaki harus besar, semakin besar semakin baik, perempuan yang tahu urusan pasti menyukai orang lelaki yang berhidung besar"

"Aku lihat hidungmu juga tidak termasuk kecil" seru si anjing buldok sambil tertawa keras. Kwik Tay-lok segera meraba hidungnya sendiri, lalu katanya sambil tertawa:
"Yaa. kalau cuma dipaksakan mah memang masih rada lumayan" "Apakah kalian tinggal didalam kota ?"
"Ooh tidak, tidak di dalam kota, diatas bukit sana" "Banyakkah yang tinggal diatas bukit itu?"
"Kalau orang hidup mah cuma kami berempat, kalau orang mati tak terhitung banyaknya" "Orang mati ?"
"Yaa, tempat tinggal kami dekat tanah pekuburan, tempat itu dinamakan Hok-kui-san-ceng, kalau ada kesempatan mampirlah kesana"

"Kami pasti akan berkunjung ke situ"

Tiba-tiba ia bangkit berdiri sambil berseru:
 
"Ciangkwe, mana rekeningnya, rekening beberapa orang ini dihitungkan sekalian dalam rekeningku."

"Aaaah, hal ini mana boleh jadi" seru Kwik Tay-lok sambil melompat bangun, "kami adalah tuan rumah, kau harus membiarkan kami menjadi tuan rumah yang baik"

Dia bukan cuma gemar berteman, ia lebih gemar menjamu orang.

Tak ada orang yang lebih cepat berteman daripadanya, tak ada pula orang yang lebih cepat membayar rekening daripadanya. Tapi setelah tangannya merogoh ke dalam saku, ia tak dapat menariknya lagi.

Bagaimanapun juga ia tak bisa mengeluarkan kepingan emas itu di hadapan orang banyak. Ternyata si anjing buldok juga tidak berebut untuk membayar, malah katanya sambil tertawa: "Kalau begitu, biarlah kami menurut saja, terima kasih, terima kasih."
Tiba-tiba si tongkat penjepit menepuk-nepuk bahu Kwik Tay-lok sambil berkata dengan dingin:

"Selama dua hari ini situasi dalam kota pasti kacau, kalau tak ada urusan lebih baik mengendon dalam rumah saja, dari pada mencari kesulitan sendiri."

Kemudian tanpa memberi kesempatan berbicara untuk Kwik Tay-lok, dia menekan bahunya keras-keras, terusnya:

"Kau tak usah repot-repot menghantar kami, silahkan duduk!"

Hiihhhhh.... hiihhhhh.... hiihhhh. aku tidak lelah, masih pingin berdiri lagi", jawab Kwik Tay-lok
sambil cekikikan.

Padahal si tongkat penjepit telah menggunakan tenaganya sebesar delapan bagian, tapi sedikitpun tidak menghasilkan apa-apa, dengan mata melotot dia mengawasi pemuda itu dari atas sampai ke bawah, beberapa kejap kemudian tanpa berpaling lagi dia berlalu dari situ.

"Kenalkah kalian dengan orang yang ada di seberang jalan itu ?" tiba-tiba si anjing buldok bertanya.

Yang dimaksudkan adalah seorang kakek kurus yang rambutnya telah beruban, ia sedang membawa seember air kotor dan keluar dari pintu rumahnya, kemudian menuangkan air itu ketengah jalan.

"Tentu saja kenal" jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa, "dia adalah pemilik pegadaian Lip-gwan, kami semua memanggilnya sebagai Hoat-po-pi (si penyayat kulit hidup)"

Mencorong sinar tajam dari balik mata si anjing buldok, diawasinya kakek itu tanpa berkedip.

Menanti kakek itu sudah membalikkan badan dan berjalan masuk, ia baru berkata sambil tertawa:

"Kalian tak usah repot-repot, kami hendak memohon diri lebih dulu"

Ia lantas menyusul si tongkat penjepit, membisikkan sesuatu ke sisi telinganya dan kemudian bersama-sama menuju ke rumah pegadaian tersebut. "
 
Saat itulah, si orang baju hitam baru pelan-pelan bangkit berdiri dan pelan-pelan berjalan melewati hadapan Kwik Tay-lok sekalian.

Semua orang masih minum arak sambil menundukkan kepala, tak seorangpun yang memperhatikannya. Karena setiap kali berjumpa dengannya, mereka seakan-akan melihat seekor ular berbisa, suatu perasaan tak enak yang sukar dilukiskan dengan kata-kata tentu akan muncul di dasar hati setiap orang.

Si orang berbaju hitam itu sama sekali tidak berhenti, hanya secara tiba-tiba ia menyapa: "Ui Giok-ji, baik-baikkah engkau ?"
Semua orang tertegun, siapapun tak tahu dia sedang menegur siapa.

Dalam pada itu, si orang berbaju hitam itu sudah keluar dari warung tersebut dengan langkah lebar.

Kwik Tay-lok segera menggelengkan kepalanya berulang kali, gumamnya: "Heran, jangan-jangan pikiran orang ini kurang waras ?"
Lim Tay-peng memperhatikan pula pedang yang tergantung di punggung orang itu lalu, gumamnya pula:

"Pedang itu paling tidak panjangnya empat jengkal tujuh inci !"

"Aku lihat ketajaman matamu cukup hebat" kata Yan Jit, "agaknya kau adalah seorang ahli dalam ilmu pedang?"
Lim Tay-peng seakan-akan tidak rnendengar perkataan itu, kembali dia berkata: "Menurut apa yang kuketahui, hanya tiga orang dalam dunia persilatan yang bisa
menggunakan pedang sepanjang itu."

"Oooh, siapa saja ?" seru Kwik Tay-lok.

"Orang pertama bernama Ting Gi-long, konon dia adalah anak haram dari seorang petualangan yang berasal dari negeri Hu-sang (Jepang) Mitsu Hanada dengan Hong-san-li-kiam- kek (jago pedang perempuan dari bukit Hong-san) Ting Li, menurut kata orang, Mitsu Hanada adalah seorang samurai terkenal dinegeri Hu-sang yang berjulukan Samurai kilat, oleh sebab itu ilmu pedang yang dimiliki Ting Gi-long merupakan kombinasi antara ilmu pedang aliran Hong-san dengan aliran negeri Hu-sang."



Yan Jit menatapnya lekat-lekat, lalu serunya:

"Tak kusangka pengetahuanmu tentang dunia persilatan jauh lebih banyak daripada diriku." Lim Tay-peng agak sangsi sejenak, kemudian katanya:
"Aku sendiripun mengetahuinya dari orang lain."

"Lalu siapakah dua orang lainnya?" Kwik Tay-lok segera menyela.
 
"Orang kedua adalah satu-satunya ahli waris dari Kiong Tiang-hong, ia bernama Kiong Hong- hun."

"Kiong Hong-hun ? Seperti nama seorang perempuan!"

"Dia memang seorang perempuan" Yan Jit menerangkan, "apakah kau menganggap perempuan tak dapat menggunakan pedang sepanjang itu ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Aku hanya merasa bahwa orang berbaju hitam itu besar kemungkinan bukan seorang perempuan."

"Konon Ting Gi-long telah berangkat ke negeri Hu-sang beberapa waktu berselang, katanya hendak pergi mencari ayah kandungnya, oleh sebab itu si orang berbaju hitam ini jelas bukan dia"

"Siapa orang ketiga?"
"Orang itu bernama Kiam-te-yu-hun (sukma yang lolos dari ujung pedang) Lamkiong-Cho." "Sukma yang lolos dari ujung pedang ? Jelas kata-kata itu merupakan suatu kata ejekan,
kenapa dia malah memakainya sebagai nama julukan kebanggaan ?"

"Banyak tahun berselang, dalam dunia persilatan muncul seorang manusia aneh yang bernama Kong-bong-sip-ci-kiam (pedang sepuluh kata kalap), setiap orang yang bertemu dengannya tak seorangpun berhasil lolos dalam keadaan hidup, malah See-san-sam-yu (tiga serangkai dari see-san) serta Kanglam Tit-it-kiam (pedang nomor wahid dari Kanglam) yang termashur namanya ketika itupun terbunuh olehnya, Lamkiong Cho berhasil lolos dalam keadaan hidup. Sebab itulah Lamkiong Cho merasa bangga dengan prestasinya itu, diapun menamakan dirinya sebagai Sukma yang lolos dari ujung pedang"

"Sudah kalah diujung pedang orang masih merasa bangga, orang ini betul-betul menarik" kata Kwik Tay-lok sambil tertawa.

"Orang ini bukan saja tidak menarik, bahkan tidak menarik sekali" Lim Tay-peng membenarkan.

"Kenapa ?"

"Konon orang ini gemar sekali membunuh orang, ada kalanya ia membunuh orang cuma lantaran dirinya lagi senang, adakalanya dia pun bisa menbunuh orang lantaran uang. Sekalipun ia berhasil lolos dari ujung pedang Sip-ci-kiam, sebuah codet berbentuk huruf silang empat menghiasi wajahnya, oleh sebab itu dia tak pernah mau menjumpai orang dengan wajah aslinya".

"Kalau begitu, besar kemungkinan orang berbaju hitam itu adalah dia "

"Belum tentu demikian" tiba-tiba Ong Tiong menyela. "Belum tentu?"
"Darimana kalian bisa tahu kalau dia bukan seorang perempuan, bukan Kiong Hong Hun ?" "Tentu saja bukan !"
 
"Kenapa ? Kau sudah melihat wajahnya? Sudah melihat tangannya ? Sudah melihat kakinya.? Bahkan seinci tubuhnya saja belum kau lihat, apa yang bisa kau saksikan tak lebih hanya pakaian berwarna hitam, masa pakaian yang bisa dipakai orang lelaki tak bisa dikenakan oleh perempuan?"

Kwik Tay-lok tertegun, lama sekali ia baru berkata sambil tertawa:

"Kalau dia seorang perempuan, ini lebih menarik lagi, aku ingin melihat bagaimanakah raut wajahnya."

"Agaknya asal perempuan, kau pasti merasa tertarik sekali ?" seru Yan Jit kesal. Kwik Tay-lok tertawa terbahak-bahak..
"Bagaimanapun juga perempuan memang jauh lebih menarik daripada lelaki, tentu saja yang terlalu jelek dan terlalu tua dikecualikan."

Yan Jit segera menghela napes panjang, katanya:

"Aaai...! Manusia macam dia kalau tak mau mengaku sebagai setan perempuan, siapa yang mau mengaku ?"

"Paling tidak aku punya sedikit kemiripan pula dengan setan perempuan " sela Ong Tiong
sambil menguap.

"Kemiripan dalam hal apa ?"

"Setiap waktu, setiap saat aku selalu teringat dengan ranjang."

* * * Pembaringan.
Ke empat buah peti yang berisi emas dan permata itu berada di kolong pembaringan.

Sekalipun seseorang yang kaya raya di dunia ini, tak nanti akan menyimpan empat buah peti yang berisi emas intan dan mutu manikam yang tak terhitung jumlahnya itu di bawah kolong ranjang, apalagi tanpa mengunci pintu meninggalkan rumah.

Tapi mereka telah berbuat demikian, sebab kecuali mereka sendiri, mimpipun orang lain tak akan menyangka kalau di bawah kolong ranjang yang rongsok dan dekil itu bisa terdapat harta karun sedemikian besarnya, apalagi rumah itu dasarnya memang kosong melompong, kecuali kolong ranjang, memang tak ada tempat lain yang bisa dipakai untuk menyimpan ke empat buah peti itu lagi.

"Kenapa tidak ditanam saja ke dalam tanah?" Yan Jit pernah mengajukan usul tersebut, tapi Ong Tiong yang pertama-tama menampik.

"Sekarang dengan susah payah kita menanam peti-peti itu ke dalam tanah, dua hari kemudian dengan susah payah menggali kembali, kalau toh akhirnya harus digali keluar, apa sebabnya kita memendamnya sekarang ?"
 
Orang malas selalu mempunyai alasan yang cukup untuk menolak melakukan suatu pekerjaan.

Alasan dari Ong Tiong tentu saja cukup kuat.

Sekarang, tentu saja ia telah berbaring kembali di atas ranjangnya.

Kwik Tay-long sedang berlatih tekun minum arak sambil berjungkir balik, ketika diketahui bahwa minum arak ada banyak ragamnya, ia bertekad untuk menguasai dulu cara minum sambil berjungkir balik.

Seandainya di dunia terdapat orang yang bisa minum arak dengan mata, sekalipun cuma seorang, dia tak akan pantang menyerah, baik buruk dia pasti akan berlatih dari orang itu sampai berhasil.

Lim Tay-peng duduk di atas undak-undakan pintu sambil bertopang dagu, entah sedang melamun? Entah sedang memikirkan persoalan yang memenuhi benaknya?

Sekalipun usianya jauh lebih muda dari pada siapapun, tapi persoalan yang dihadapinya justru lebih banyak dari yang lain.

Yan Jit entah sudah kemana lagi? Gerak-gerik orang ini selalu diliputi oleh kemisteriusan, sering kali dia ngeloyor pergi seorang diri, siapapun tak tahu apa yang sedang dilakukan olehnya.

Malam seakan-akan sudah larut, seakan-akan pula masih pagi.

Orang bilang: "Waktu adalah pokok dari semua benda di alam semesta, hanya waktu yang selamanya langgeng."

Tapi ditempat ini, kata-kata tersebut boleh dibilang tidak terlalu cocok.

Walaupun orang-orang disini tak pandai memanfaatkan waktu, merekapun tak mau diperbudak oleh waktu.

Ketika Kwik Tay-lok menghabiskan arak cawan ketiga, tiba-tiba Lim Tay-peng bangkit berdiri dari undak-undakan.

Paras mukanya begitu riang juga begitu serius, seakan-akan seorang panglima perang yang hendak mengumumkan suatu berita penting kepada anak buahnya.

Cuma, bagaimanapun seriusnya wajah seseorang, bila dilihat secara terbalik maka wajah itu tentu kelihatan sangat lucu dan menggelikan.

Secawan arak yang baru saja diteguk Kwik Tay-lok, hampir saja menyembur keluar dari hidungnya.

"Aku hendak mengatakan sesuatu !" kata Lim Tay-peng. "Aku telah menduganya !" sahut Kwik Tay-lok sambil tertawa.
"Dalam kota terdapat seseorang yang bukan saja kungfunya sangat tinggi, akhli pula dalam menyaru serta ilmu menyusutkan tulang, ia pernah melakukan banyak kasus pencurian yang membuat para pejabat pengadilan pusing kepala."
 
"Agaknya persoalan itu bukan cuma diketahui olehmu seorang, agaknya akupun pernah mendengar persoalan itu", kata Kwik Taylok sambil mengerdipkan matanya.

"Bukan cuma kau yang tahu, Swan Bwe-tong juga tahu !" Lim Tay-peng menyambung. "Oya ?"
"Dia bukan saja tahu, lagi pula pasti ada dendam dengan orang ini !" "Ada dendam ?"
"Cuma diapun sama seperti kami, hanya tahu kalau orang itu bersembunyi dalam kota, tapi tak tahu bersembunyi dimana? Melindungi dirinya dalam indentitas apa ? Sekali pun dia ingin membalas dendam, namun tak berhasil menemukannya, maka. "

Tiba-tiba Kwik Tay-lok merasa tidak segeli tadi lagi, sambil berjumpalitan turun ke bawah, dia berseru:

"Maka kenapa?"
"Maka dia menggunakan akal untuk meminta orang lain yang mencarikan orang itu baginya" "Tentu saja dia tahu kalau orang yang paling pandai mencari orang di dunia ini adalah si
tongkat serta si anjing buldok"

"Diapun tahu kalau mereka sudah berada disekitar tempat ini, maka dicarinya akal untuk mengabarkan berita ini kepada mereka, bahwa penyamun ternama itu bersembunyi di kota ini"

"Yaa, kemudian ia sendiri mendahului mereka dengan melakukan pencurian berganda dalam semalam, bahkan sengaja menirukan cara kerja pencuri ulung itu, agar si tongkat dan si anjing buldok mengira peristiwa ini adalah hasil perbuatannya"

"Kesemuanya itu masih bukan bagian yang paling penting" "Lantas yang terpenting apa ?"
"Dengan peristiwa tersebut, si tongkat dan si anjing buldok baru percaya kalau pencuri ulung itu benar-benar berada dalam kota ini, dengan demikian mereka baru mencarinya dengan bersungguh-sungguh. Manusia semacam mereka, tentu saja tak akan menjual tenaga sedikit berita yang belum pasti kebenarannya".

"Tapi dia masih ada sebuah persoalan lagi!" sambung Kwik Tay-lok.

"Yaa, persoalan itu menyangkut harta curian yang tak mungkin bisa dibawa keluar kota, merekapun tak sanggup menyembunyikannya, sebab dia tahu kalau si tongkat dan si anjing buldok telah datang".

"Betul, barang yang begitu menyolok dan begitu menyengat tangan memang tidak gampang untuk disembunyikan !"

"Bukan tidak gampang saja, lagipula sangat makan tenaga dan pikiran, oleh sebab itu. "

Kwik Tay-lok segera tertawa getir, katanya:
 
"Oleh sebab itu diapun mencari seseorang yang bisa membantunya untuk menyembunyikan barang-barang itu, tapi kenapa ia tidak mencari orang lain sebaliknya justru mencari diriku ?"

"Tentu saja dia tahu kalau kau berdiam di sini, dia juga tahu kalau setanpun enggan mendatangi tempat ini, kalau barang curian tersebut disembunyikan disini, maka ibaratnya....
ibaratnya. "

"Ibaratnya arak yang disimpan dalam perut, aman dan bisa dipercaya".

"Aku pikir hal itu bukan merupakan alasan yang terpenting" tiba-tiba Ong Tiong menyela.



"Oya ?"

"Yang paling penting, orang yang dicari untuk melakukan perbuatan semacam ini harus seorang yang acuh tak acuh dan seorang telur busuk goblok yang ketemu kucing bersahabat dengan kucing, bertemu dengan anjing bersahabat dengan anjing."

Ong Tiong bukan saja jarang bergerak diapun jarang berbicara. Kadangkala apa yang dia katakan merupakan suatu kesimpulan, Tapi orang yang membuat kesimpulan kali ini bukan dia, melainkan Kwik Tay-lok sendiri:

Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir:

"Berjumpa dengan kucing bersahabat dengan kucing, bertemu dengan anjing bersahabat dengan anjing mah bukan menjadi soal, lebih celaka lagi kalau bertemu dengan gadis cantik lantas tak mampu berjalan, itu baru betul-betul telur busuk yang dogol"

"Hey, siapa yang kau maksudkan ?" tegur Lim Tay-peng mengerutkan dahi.

"Yang kumaksudkan adalah diriku sendiri!" sahut Kwik Tay-lok sambil menunjuk hidung sendiri.

Padahal Kwik Tay-lok bukan sungguh-sungguh tolol, dia cuma merasa enggan untuk memikirkan banyak persoalan secara serius, andaikata dia mau saja, mungkin jauh lebih pintar dari siapapun.

Tiba-tiba Lim Tay-peng berkata lagi:

"Kau masih melakukan sebuah kesalahan lagi !"

""Aaaai. Kwik sianseng salah melakukan perbuatan bukan suatu kejadian aneh, kalau
berbuat betul baru berita yang aneh!"

"Tadi kau tidak seharusnya membayar dengan kepingan uang emas tersebut."

"Kalau tidak membayar dengan uang emas itu, apakah aku harus membayar dengan jari tanganku ? Jangan lupa, arak yang kau minum tadi tidak lebih sedikit dariku !"

"Kalau si tongkat dan si anjing buldok tahu kalau kita membayar rekening dengan uang emas, dia pasti akan keheranan, dari mana si setan miskin itu peroleh uang emas sebesar itu? Nah, kalau sampai begini, kitalah yang bakal berabe."

"Bolehkah aku memberitahukan pula beberapa hal kepadamu ?" seru Kwik Tay-lok kemudian.
 
"Boleh saja !"

"Pertama, si tongkat dan si anjing buldok tak akan tahu, karena Moay Lo-kong bukan seorang yang cerewet !"

"Setelah ada nomor satu, tentu ada nomor dua bukan, apa nomor yang kedua?"

"Nomor dua, kalau dalam saku Kwik sian seng kedapatan beberapa tahil perak, kejadian ini bukan suatu kejadian yang aneh dan tidak diherankan. Apalagi di atas kepingan uang emas itu tak ada tandanya, aku telah memeriksanya dengan teliti, siapa berani menuduh aku pencuri, akan kutampar dulu bibirnya"

"Masih ada yang lain ?"

"Masih, setiap orang harus makan, kita kalau ingin makan maka uang emas itulah yang akan kita pakai untuk membayar rekening"

"Hal inilah yang paling penting" tiba-tiba seseorang menanggapi, "orang yang dicari Swan Bwe-tong bukan saja seorang ulat tolol yang suka perempuan, lagi pula dia juga seorang miskin yang edan, seekor ulat tolol yang menjadi sinting lantaran kelaparan!"

Inipun suatu kesimpulan.

Yang membuat kesimpulan kali ini bukan Ong Tiong, melainkan Yan Jit.

Setiap kali munculkan diri, gerak-geriknya selalu misterius dan tidak dirasakan oleh siapa pun, seperti halnya sewaktu dia melenyapkan diri....

Kwik Tay-lok gelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa getir:

"Kalau orang ini sedang berbicara dengan siapapun, suaranya tentu sedap didengar, tapi entah apa sebabnya dia justru paling suka menyindir diriku."

"Andaikata kau bukan temanku, sekalipun kau suruh aku menyindirmu, belum tentu aku mau mengabulkan permintaanmu itu" jawab Yan Jit sambil tertawa.

"Ong Tiong toh sahabatmu juga, kenapa itu kau tidak menyindir dirinya."

"Kata-kata yang bisa dipakai untuk menyindir diriku sudah habis kau pakai, buat apa orang lain musti berbicara lagi ?" kata Ong Tiong sambil tertawa.

Kwik Tay-lok ikut tertawa, ia menghampiri Yan Jit dan menepuk-nepuk bahunya. "Kali ini kau ngeloyor kemana lagi?" tegurnya.
"Aku. aku pergi bermain."

Ia seperti tidak suka orang lain menyentuh tubuhnya, setiap kali Kwik Tay-lok menyentuhnya, ia menunjukkan sikap seakan-akan tidak terbiasa, mungkin hal ini dikarenakan kecuali Kwik Tay- lok, jarang ada orang yang menyentuh dirinya.

Asal melihat pakaian yang dikenakan itu, nasi yang dimakan semalampun mungkin akan tertumpah keluar.

"Kau bermain kemana ?" kembali KwikTay-lok bertanya.
 
"Ke bawah bukit, dalam kota"

"Apanya yang bagus dilihat dalam kota" "Siapa bilang tak ada?"
"Jadi ada?"

"Semalam bukankah kau telah menyaksikan seorang gadis cantik membawa dua buah keranjang besar ?"

"Malam ini, apa yang telah kau lihat?" "Penjagalan manusia"
"Penjagalan manusia? Siapa yang melakukan pembunuhan itu ?" tanya Kwik Tay-lok kuatir. "Si tongkat !"
"Si tongkat membunuh orang ? siapa yang dibunuh !" "Semua orang yang dicurigai"
"Siapa yang dicurigai ? apa yang perlu di curigai?"

"Si tongkat sedang mencari seorang lelaki berusia lima puluh tahunan lebih yang sudah sepuluh tahun datang kemari, maka semua lelaki yang pindah kemari pada sepuluh tahun berselang adalah orang yang mencurigakan, kemungkinan sekali dialah Hong Si-hu".



"Siapakah Ho Si-hu itu?"

"Hong Si-hu adalah orang yang sedang dicari si tongkat"

"Hong Si-hu yang kau maksudkan apakah Thi-hu-gut-siu (ayam dan anjing tak tersisa) Hong Si-hu?" tiba-tiba Lim Tay-peng menyela.

"Yaa, betul orang itulah yang dimaksudkan." Sambil tertawa Kwik Tay-lok berseru:
"Orang yang mempunyai nama sebagus itu, kenapa justru memilih julukan yang tak sedap didengar?"

"Sebab setiap kali turun tangan, ia pasti akan menguras seluruh harta yang dimiliki korbannya, kadang kala uang setengikpun tidak disisakan, sering kali orang yang menjadi korban keganasannya harus mengakhiri nyawanya di atas tiang gantungan, oleh karena itulah walaupun dia tak pernah membunuh orang, tak sedikit orang yang dipaksa mati akibat ulahnya..."

"Konon orang itu bukan saja berhati hitam dan bertangan keji, diapun memandang uang lebih berharga dari pada nyawa sendiri, uang hasil curiannya tak pernah dipakai untuk berfoya-foya" kata Lim Tay-peng.
 
"Siapa tahu kalau semua hasil curiannya dipakai untuk menolong orang lain, atau berbuat kebajikan?" sela Kwik Tay-lok.

"Orang ini, sepanjang hidupnya sering kali melakukan perbuatan jahat, perbuatan apapun pernah dilakukannya, hanya tak sekalipun ia berbuat kebaikan."

"Kalau begitu dia simpan dimanakah semua harta kekayaannya itu ?" "Tak seorangpun yang tahu."
Kwik Tay-lok termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia bertanya lagi: "Dalam kota, ada berapa banyak manusia macam begini yang dicurigainya...?" "Sebetulnya tidak banyak, sekarang lebih sedikit lagi."
"Berapa banyak yang telah dibunuh si tongkat?" "Lima atau enam orang, mungkin juga tujuh orang."
"Dia membunuh orang, kau cuma menonton dari samping?" teriak Kwik Tay-lok dengan mata melotot.

"Sekarang kalau suruh aku menonton lagi pun segan".

Kwik Tay-lok kontan saja melotot besar, tiba-tiba ia melompat bangun dan menerjang keluar dari situ.

Ong Tiong menghela papas panjang, gumamnya:

"Heran, sejak berkenalan dengannya, kenapa setiap kali dia bergerak aku selalu merasa harus bergerak pula?"

Meskipun Kwik Tay-lok bukan seorang yang dungu, tapi dia berangasan sekali. Sebenarnya dia harus bertanya dulu kepada Yan Jit:
"Sesungguhnya manusia-manusia macam apa yang telah dibunuh oleh si tongkat?"

Ia tidak bertanya, karena dia tahu manusia-manusia yang dibunuh si tongkat sudah pasti bukan manusia-manusia baik.

Ia memahami, tapi tak tahan untuk mengendalikan emosi. Walaupun hal ini bukan merupakan suatu kebiasaan yang baik, paling tidak jauh lebih baik daripada mereka-mereka yang berperasaan sedingin es atau perasaan kaku.

Si orang berbaju hitam itupun mempunyai suatu kebiasaan... selamanya dia tak mau untuk berjalan mendahului siapapun.

Tentu saja hal ini bukan disebabkan ia terlalu ketat memegang adat istiadat atau tata kesopanan, sebaliknya karena ia lebih suka memandang orang dengan matanya bukan dengan punggung.

Walaupun kebiasaan semacam inipun tidak terlalu baik, paling tidak telah memberi kesempatan hidup selama beberapa tahun kepadanya.
 
Sekarang, dia masih berjalan di belakang si tongkat dan si anjing buldok.

Kedua orang itu tak pernah kuatir kepadanya, sebab mereka tahu pedangnya tak pernah menusuk dari punggung orang!

Walaupun wajahnya ditutup dengan selembar kain hitam, tapi dia jauh lebih menjaga muka dari pada kebanyakan orang.

Jalanan dalam kota amat sepi, cuma ada dua tiga rumah yang masih memancarkan sinar lampu yang redup.

Ketika tiba di rumah ke empat di sebelah kiri jalan, merekapun berhenti...

Gedung rumah itu seperti juga rumah-rumah lain dalam kota itu, bangunannya sederhana dan jelek, pintu yang sempit lagi tebal dengan jendela yang kecil lagi tinggi, kertas jendela yang tebal serta sinar lentera yang redup.

Pintu dan jendela semuanya berada dalam keadaan tertutup rapat.

"Rumah ini ?" tegur si anjing buldok dengan suara dalam. Si tongkat mengangguk.

Tiba-tiba si anjing buldok itu melejit ke udara. Meskipun perawakan tubuhnya tinggi besar, gerak-geriknya gesit sekali, ilmu meringankan tubuhnya juga tidak lemah, baru saja ujung kakinya menutul di atas wuwungan rumah, ia sudah melewati bangunan rumah tersebut dan lenyap dari pandangan mata.

Si tongkat berpaling dan memandang si orang berbaju hitam itu sekejap, kemudian dengan suara lantang ia berseru:

"Kami adalah petugas pengadilan yang hendak melakukan pemeriksaan, semua rakyat diminta tetap ditempat, barang siapa membangkang segera dibunuh sampai mati!"

Baru selesai seruan itu, cahaya lentera dalam ruang rumah itu telah padam.

Kemudian: "Blam !" agaknya ada orang sedang menjebol jendela belakang dan berusaha melarikan diri.

Sayang si anjing buldok telah berjaga-jaga atas kejadian itu. Kembali terdengar jeritan kaget.
"Mau lari kemana kau. !" bentak si anjing buldok dengan suara nyaring.

Menyusul kemudian terlihatlah sesosok bayangan manusia melompat naik ke atas wuwungan rumah, meskipun ilmu meringankan tubuhnya tidak berada di bawah si anjing buldok, namun perawakan tubuhnya jauh lebih kecil dan ceking.



Setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, ia lantas melarikan diri ke arah tenggara. Si tongkat tidak bergerak.
Si orang baju hitam itu seperti juga tidak bergerak.
 
Tapi secara tiba-tiba ia sudah berada di atas wuwungan rumah dan menghadang jalan pergi bayangan manusia itu.

Agaknya orang itu merasa terperanjat, sepasang kepalanya, segera diayunkan bersama ke depan.

Agaknya si orang berbaju hitam tidak melakukan gerakan apa-apa, tapi tahu-tahu orang yang melepaskan pukulan itu sudah terguling dari atas atap rumah dan terjatuh ke atas jalanan.

Pada saat itulah pelan-pelan si tongkat baru menghampirinya, sambil bergendong tangan ia menunduk dan mengawasi wajahnya.

Angin dingin berhembus kencang, suasana terasa amat menyeramkan.

Dari balik kegelapan malam, sepasang matanya bagaikan sepasang gurdi, sepasang gurdi yang telah dilapisi salju.

Sudah lama Kwik Tay-lok mengikuti jalannya peristiwa itu dari sudut jalanan, sebenarnya sedari tadi ia sudah bermaksud untuk menerjang keluar.

Tapi setelah menerjang keluar dari sana, apa pula yang hendak dilakukan ?

Ia sendiripun tak tahu apa yang dilakukan. Semisalnya orang yang ditangkap si tongkat adalah seorang penyamun berhati kejam, apakah dia harus membantu seorang penyamun untuk buron dari atas bukit sampai ke dalam kota, sepanjang jalan sudah cukup angin dingin yang menerpa wajahnya, kobaran api dalam dadanya telah jauh lebih mengecil.

Oleh sebab itu dia masih menunggu dibalik tikungan jalan.

Orang yang terbanting ke tengah jalan itu masih berbaring melingkar disitu, ia seperti seonggokan lumpur, bergerakpun tidak.

Tiba-tiba si tongkat menariknya bangun, lalu sambil mencengkeram kerah bajunya, sepatah demi sepatah dia berseru: "Pandanglah aku !"

Walaupun orang itu telah berdiri, kepalanya masih terkulai lemas.

Si Tongkat segera mengendorkan tangan kanannya, kemudian dengan suatu kecepatan luar biasa menempelengnya beberapa puluh kali.

Darah mulai meleleh keluar dari ujung bibirnya, tapi orang itu masih menggertak gigi menahan diri, mendenguspun tidak.

"Bagus, punya semangat!" puji si tongkat sambil tertawa dingin.

Lututnya segera diangkat kemudian di tumbukkan ke tubuh orang itu keras-keras.

Saking sakitnya paras muka orang itu berubah hebat, dia ingin membungkukkan badannya, namun tak bisa membungkuk lagi.

Hanya tubuh bagian bawahnya yang berkerut, sekujur badannya berkerut menjadi satu gumpalan dan tergantung ditangan si tongkat, sekujur badannya gemetar keras seakan-akan semua tulangnya telah terlepas.
 
"Aku mempunyai banyak cara untuk menghadapi orang yang tidak penurut" kata si tongkat, "barusan adalah salah satu diantaranya yang paling sederhana, kau ingin mencoba cara yang kedua?"

Akhirnya orang itu mendongakkan kepalanya dan menatap wajah si tongkat tajam-tajam, sorot matanya penuh memancarkan api kemarahan dan rasa dendam kesumat yang tebal.

Tiba-tiba sikap si tongkat berubah kembali, ia berubah menjadi lebih ramah dan halus. ""Kau bukan Hong Si-hu ?" tegurnya.
Sambil menggertak giginya keras-keras, orang itu menjerit:
"Kalau sudah tahu kalau aku bukan, kenapa kau masih menghadapi diriku dengan cara ini ?" "Karena aku masih belum yakin, kecuali kau memberitahukan siapakah dirimu yang
sesungguhnya, dengan begitu aku baru bisa membuktikan kalau kau bukan Hong Si-hu".

"Aku bukan siapa-siapa, aku tidak lebih hanya seorang pedagang kecil yang menjual barang kelontong"

Si tongkat segera menarik muka, katanya setelah tertawa dingin:

"Kalau kau bukan orang lain, terpaksa aku akan menganggapmu sebagai Hong si-hu !" Orang itu menggigil semakin keras.
"Kau takut salah menangkap orang, takut disalahkan atasanmu, maka walaupun kau sudah tahu kalau aku bukan Hong Si-hu, tapi kau tak mau juga melepaskan aku. Cara kerjamu itu sudah lama kuketahui".

"Kau keliru" ujar si tongkat dengan wajah lembut. "yang kucari kali ini hanya Hong Si-hu seorang, urusan ini tak ada sangkut pautnya dengan orang lain, asal kau bersedia untuk mengucapkan asal usulmu yang sebenarnya, aku segera akan melepaskan dirimu".

"Melepaskan aku? kau bisa melepaskan aku ?" Si tongkat kembali tertawa.
"Kenapa aku tak dapat melepaskan? Sekalipun kau pernah melakukan suatu peristiwa di tempat lain, apa sangkut pautnya dengan aku ? kenapa aku musti mencari banyak urusan dengan mencampuri urusanmu ?"

Orang itu berpikir sampai lama sekali, akhirnya sambil menggigit bibir katanya: "Aku she Han, orang yang menyebutku It-ceng-hong (segulung angin)"
"Segulung angin? Apakah kau yang telah membunuh Ui wangwe sekeluarga pada musim semi tahun berselang?"

"Kau toh sudah berjanji, asal aku bukan Hong Si-hu, urusan yang lain tak akan kau campuri" protes si gulung angin.

"Tentu saja aku tak akan mencampuri, tapi dari mana aku bisa tahu kalau kau adalah si gulung angin, bukan Hong Si-hu ?"
 
"Diatas badanku terdapat tato. "

"Sreet" pakaiannya segera terobek, betul juga diatas dadanya terdapat tato yang berbentuk segulung angin puyuh.

Itulah lambang khas dari si Segulung angin.

"Si gulung angin tak mungkin dapat menyaru sebagai Hong Si-hu, sebaliknya Hong Si-hu dapat menyaru sebagai si segulung angin" kata si tongkat hambar.



"Apa yang harus kuperbuat sehingga kau bisa mau percaya?" Si tongkat termenung dan berpikir sejenak, lalu jawabnya:
"Konon, Ui wangwe mati lantaran tertusuk oleh pedang" "Tidak, aku tak pernah menggunakan pedang"
"Lantas apa yang menyebabkan kematiannya?"

"Kugunakan obat racun untuk meracuninya sampai mati, kemudian melemparkan tubuhnya ke dalam sumur"

Si tongkat segera tertawa.

"Kalau begitu, kau memang betul-betul si segulung angin" katanya. "Aku memang!"
"Bagus, bagus sekali. "

Tiba-tiba ia mengeluarkan tangannya, kemudian membacok tengkuk si segulung angin. Dalam waktu singkat, si segulung angin berubah menjadi segumpal tanah liat.
Sinar kebencian dari bola matanya pelan-pelan menongol keluar, mukanya beringas penuh rasa benci dan dendam yang tebal, seakan-akan ia sedang bertanya:

"Kau toh sudah setuju untuk melepaskan aku ? Kenapa kau bunuh diriku sekeji ini ?"

Meskipun si tongkat tidak berkata apa-apa tapi sorot mukanya seolah-olah menjawab pertanyaan itu.
Sorot mata tersebut penuh pancaran sinar bangga, seolah-olah sedang berkata demikian: "Inilah cara kerjaku, kalau toh aku tidak mempercayai dirimu, kenapa kau harus percaya
kepadaku ?"

Sinar mata, Kwik Tay-lok sudah mulai berapi-api.

Tapi dia hanya menonton saja, sebab si Segulung angin memang pantas dibunuh.

Petugas hukum membunuh penyamun, hal ini sudah merupakan suatu kejadian yang lumrah.
 
Kedengaran seseorang berbisik di belakangnya:

"Oooh, kiranya kaupun cuma menonton belaka disaat ia sedang membunuh orang." Tanpa berpalingpun Kwik Tay-lok sudah tahu siapa yang barusan berbicara itu.
Dia cuma menghela napas panjang belaka, sebelum bisiknya:

"Tapi aku masih harus menonton lebih lanjut."

"Kau suka melihat dia membunuh orang?" tanya Yan Jit. "Aku hendak menunggu sampai dia salah membunuh orang." "Kenapa ?"
"Saat itulah aku baru punya alasan untuk membunuhnya". "Kau ingin membunuhnya ?"
"Sekalipun si Segulung angin pantas mati, dia lebih pantas lagi untuk mati." "Kau anggap dia telah melakukan kesalahan ?"
"Perbuatan yang dilakukan siapapun tak dapat mengatakan salah, tapi caranya turun tangannya terlalu rendah, terlalu menggemaskan!"

"Kalau selamanya ia tak pernah salah membunuh ?" Kwik Tay-lok menjadi tertegun.
Yan Jit segera tertawa, ujarnya lagi:

"Ada sementara persoalan memang kadang kala tak mungkin bisa dicampuri orang lain, Apalagi meski si tongkat jahat, ia sangat berguna, ada sementara orang memang harus dihadapi oleh manusia-manusia semacam dia".

Tiba-tiba Kwik Tay-lok tertawa pula:

"Kau kira manusia semacam dia itu tak ada yang bisa menghadapinya ?" "Siapa yang bisa menghadapinya? Kau ?"
"Mungkin aku, mungkin orang lain, siapa pun itu orangnya tak menjadi soal, aku hanya tahu kalau hukum karma itu selalu berlaku cepat atau lambat pasti ada orang yang akan menghadapinya".

Itulah Kwik Tay-lok, itulah jalan pemikirannya.

Ia bukan saja menaruh rasa sayang terhadap sesama manusia, lagi pula menaruh kepercayaan penuh.

Ia percaya kebenaran selamanya tak akan berubah, keadilan selalu akan tetap utuh.
 
Iapun percaya kebenaran tentu bisa menangkan kejahatan, bagaimanapun pukulan batin yang akan dihadapinya, rasa percayanya pada diri sendiri tak akan berubah.
Si Anjing buldok sedang menepuk bahu si tongkat dan berkata sambil tertawa: "Kionghi, kionghi, lagi-lagi ada sebuah kasus misteri yang berhasil kau bongkar, dalam
semalam tujuh kasus berhasil dibongkar, kecuali kau, siapa lagi yang bisa membuat rekor sebesar itu?"

"Kau !"

Si Anjing buldok segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhhh... haaahhhhhh... hahhh... aku tak bakal mampu, hatiku kurang keji, makin lama pekerjaan seperti ini sudah semakin tak bisa dipertahankan lagi"..

Paras muka si tongkat segera berubah, tapi luapan emosi tersebut berhasil juga diatasi. "Berikutnya rumah siapa?" tanya si anjing buldok kemudian.
Si tongkat mendongakkan kepalanya, sorot matanya yang tajam segera tertuju ke atas sebuah papan nama di seberang sana.

Sebuah papan nama yang berdasar warna hitam dengan tulisan berwarna emas. Rumah pegadaian Lip-gwan.
Tauke dari rumah pegadaian Lip-gwan meski amat menyayat kulit, namun ia tidak terlalu menggerogoti tulang, bahkan seringkali masih meninggalkan sedikit daging diatas tulang untuk diberikan kepada orang lain.

Selama ini Kwik Tay-lok mempunyai kesan yang cukup baik terhadap orang itu, ketika dilihatnya si tongkat dan si anjing buldok memasuki rumah pegadaian tersebut, tak tahan lagi dia siap menyusul kesana.

Ong Tiong hanya berdiri membungkam terus di belakangnya, tapi saat itulah tiba-tiba ia berseru:

"Jangan bergerak"



"Aku toh bukan bernama Ong Tiong, kenapa tak boleh bergerak ?" sahut Kwik Taylok sambil tertawa.

"Kalau kau bergerak sekarang, maka banyak kesulitan yang bakal kita hadapi " "Sedari kapan kau takut dengan kesulitan?"
"Sejak sekarang, bahkan takut dengan kesulitan semacam ini"

"Jangan lupa, dia adalah "mertua" kita semua setiap saat kita bakal pergi mencarinya" "Tak ada mertua mah tak menjadi soal, kalau tak punya kakek moyang itu baru berabe."
 
"Kau punya kakek moyang ?" ulang Kwik Tay-lok dengan wajah tertegun.

"Jika mertua kita itu betul-betul penyamun yang sedang bernyanyi, dan kita membantu dirinya, bukankah sama halnya dengan menjual nama baik kakek moyang kita?"

"Kau tak usah pergi, biar aku pergi seorang diri!" seru Kwik Tay-lok, Ong Tiong segera menghela napas.

"Kalau aku membiarkan kau pergi seorang diri, sekarang mengapa tidak mendengkur saja diatas ranjang ?"

Kwik Tay-lok menatapnya lekat-lekat, memandang sinar matanya yang dingin, memandang wajahnya yang dingin, tiba-tiba dari hati kecilnya muncul segulung rasa persahabatan yang hangat.

Bila dia ingin melakukan suatu pekerjaan, tak ada seorangpun yang bisa menghalanginya. Yang dapat membatalkan niatnya hanya sahabat.
Sementara itu, si anjing buldok dan si tongkat telah tiba di depan pintu rumah pegadaian tersebut.

Pintu itu sebenarnya tertutup rapat, tapi belum sempat mereka mengetuk pintu, tiba-tiba pintu itu membuka dengan sendirinya.

Si penyayat kulit menongolkan kepalanya dari balik pintu, lalu berseru dengan lirih:

"Sedari tadi aku sudah tahu kalau kalian bertiga akan datang kemari, silahkan masuk, silahkan masuk".

Si tongkat dan si anjing buldok saling berpandangan sekejap, kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan.

Si orang berbaju hitam itu segera berjaga-jaga di depan pintu. Sambil menggigit bibir, Kwik Tay-lok segera bergumam:
"Entah si tongkat akan menghadapinya dengan cara apa ? Agaknya lebih baik kutengok sendiri"

Tapi ia tak usah melihat lagi, sebab pada saat itulah si tongkat dan si anjing buldok telah melangkah keluar.

Terdengar tauke penyayat kulit berkata dari dalam pintu:

"Apakah kalian bertiga akan pergi? Selamat jalan, selamat jalan. "

"Tak usah sungguh-sungguh, tak perlu dihantar lagi". kata si anjing buldok sambil menjura dengan senyum dikulum.

Kwik Tay-lok yang menyaksikan kejadian itu menjadi tertegun, gumamnya kemudian: "Apa yang terjadi? Kenapa sikap mereka berdua berubah menjadi demikian sungkan?
 
"Dikala tongkat hendak memukul orang, dia tak akan sembarangan saja memukul, kalau tidak sedari dulu tongkatnya sudah patah menjadi dua" kata Ong Tiong.

"Lantas siapakah tauke penyayat kulit ini? Dengan mengandalkan apa ia bisa memaksa mereka bersikap begitu sungkan?"

Ong Tiong termenung sebentar, kemudian sahutnya:

"Mungkin dia bukan siapa saja, karena itu orang baru bersikap sungkan kepadanya"

Kwik Tay-lok berpikir sebentar, tapi dia tak tahu bagaimana harus mengartikan perkataan tersebut.

Ia tak sempat untuk berpikir lebih lanjut, ternyata sasaran berikutnya dari si anjing buldok serta si tongkat adalah warung makannya Moay-lo-kong.

Dengan kening berkerut Kwik Tay-lok segera berkata.

"Tak kusangka terhadap Moay Lo-kong pun mereka menaruh curiga, agaknya penyakit curiga mereka tidak kecil".

"Kali ini kau tak usah kuatir lagi, pada Moay Lo-kong tak bakal ada penyakit apapun yang bisa mereka temukan" seru Yan Jit.

"Tentu saja aku tidak kuatir, tapi bukan alasan itu yang kupikirkan." "Lantas karena apa ?"
"Mereka juga manusia, perlu makan, tanpa Moay Lo-kong, besok mereka hendak makan apa?"

"Makan kentut !" seru Ong Tiong.

Kwik Tay-lok segera tertawa, tapi baru saja senyuman itu tersungging, dengan cepatnya lenyap kembali.

Dari dalam warung makan itu tiba-tiba berkumandang jeritan kaget, suara itu berasal dari Moay Lo-kong.

Menyusul kemudian terdengar suara dari si tongkat sedang bertanya: "Hayo cepat jawab, darimana kau dapatkan kepingan uang emas ini ?"
Begitu mendengar soal "kepingan uang emas", bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya Kwik Tay-lok segera menerjang ke muka.

Kali ini Ong Tiong tidak menghalanginya lagi.

Tampaklah si tongkat sedang mencengkeram anak ayam saja....

Moay Lo-kong dengan wajahnya yang basah oleh keringat sedang gemetar tiada hentinya, saking gemetarnya sampai tak sepatah katapun yang mampu diucapkan.

"Mau bicara tidak ? Darimana kau dapatkan emas ini?" bentak si tongkat dengan suara keras.
 
Kali ini Moay Lo-kong tak usah menjawab sendiri.

Kwik Tay-lok telah menerjang masuk sambil berteriak keras:

"Akulah yang memberikan uang emas itu kepadanya, untuk membayar tiga puluh kati daging, empat puluh kati arak ditambah tujuh ekor itik dan delapan ekor ayam, siapa yang ingin merugi kalau berdagang.

Pelan-pelan si tongkat menurunkan Moay Lo-kong, pelan-pelan membalikkan badan dan melotot ke arah Kwik Tay-lok.

Dengan garangnya Kwik Tay-lok berdiri disana, berbicara dari dandanannya dia memang tidak mirip dengan seseorang yang mampu membayar rekening dengan uang emas.

"Emas itu milikmu?" tegur si tongkat. "Benar!"
"Kau mendapatkannya dari mana?"

"Bila seseorang mempunyai uang emas, apakah dia salah? Melanggar hukum? Kalau memang begitu, tak terhitung banyaknya orang yang melanggar hukum di dunia ini, mungkin termasuk pula kalian berdua"

Walaupun paras muka si tongkat tanpa emosi, namun kelopak matanya makin lama makin menyusut kecil.

Tiba-tiba dia menjulurkan tangannya ke depan.

Ia bukan saja lebih tinggi dari pada orang lain, tangannya juga lebih panjang, ke sepuluh buah jari tangannya yang kurus dan kering bagaikan sepasang cakar baja yang tajam dan mengerikan.

Tapi Kwik Tay-lok justru hendak mencoba ketajaman dari sepasang cakar bajanya itu.

Dia tidak berkelit tidak pula menangkis, "Wes!" sepasang kepalannya diayunkan bersama menyambut datangnya cengkeraman maut itu dengan keras lawan keras.