Pendekar Riang Jilid 03

 
Jilid 03

"EEEH . . . . NONA . . . EEH . . . KAU kau eeh. . . kau tak usah sungkan-sungkan . . . . eeh. . .
heehhhh. . . hhehh "

Gadis itu telah menerima kembali keranjangnya, setelah berpaling dan tertawa lagi dengan manis, ia baru melanjutkan langkahnya dengan kepala tertunduk.

Kalau dibilang sukma Kwik Tay-lok masih ada dalam raganya, maka senyuman itu benar- benar telah membetot selembar jiwanya.

Sekalipun orangnya masih terpantek ditempat, tapi sukmanya seakan-akan sudah terbawa berikut keranjang itu.

Sampai orang itu pergi jauh, Yan Jit baru menggerutu: "Bertemu dengan kesempatan sebaik ini, kenapa kau tidak cepat-cepat mengejarnya dari belakang ?"

"Kau anggap aku benar-benar adalah seorang setan perempuan ?" kata Kwik Tay-lok sambil menghela napas.
 
"Sekalipun bukan, cuma sudah hampir."

Gadis itu sesungguhnya memang belum pergi jauh, tiba-tiba ia berhenti sambil berpaling, lalu tertawa dan katanya:

"Kebetulan aku membeli banyak sayur, bersediakah kalian berdua untuk memberi muka kepadaku dan ikut minum barang secawan?"

Permohonan semacam ini yang diucapkan seorang gadis cantik untuk dua orang lelaki yang sedang kedinginan dan kelaparan, mungkin disambut sepuluh kali lipat lebih hangat daripada mendengar irama musik yang paling indah sekalipun di dunia ini.

Jika masih ada orang menampik permohonan semacam ini, orang itu kalau bukan seorang dungu baru aneh namanya.

Yan Jit bukan orang dungu, Kwik Tay-lok lebih-lebih bukan seorang dungu, meskipun begitu di bibir mereka masih berkata:

"Aaaah . . . apa tidak mengganggu ketenangan nona ?"

Tapi sepasang kakinya sudah maju kemuka dengan langkah lebar, malah kalau bisa cepat- cepat sampai ditempat tujuan.

Aaai, kenapa setiap lelaki tak dapat menghindarkan diri dari soal perempuan ? Apalagi seorang perempuan yang cantik jelita baik bidadari dari kahyangan ? Kenapa Kwik Tay-lok tidak memutar otak lebih dulu untuk memikirkan niat gadis itu ?
Atau paling tidak, sepantasnya kalau ia bertanya dulu kepada gadis itu, hendak diajak kemanakah mereka berdua ?

Benarkah mereka akan diajak ke rumahnya untuk dijamu?

Tampaknya jangan toh baru diajak ke rumahnya untuk diajak bersantap dan minum arak, sekalipun mereka bakal dijualpun Kwik Tay-lok tak akan menampik.

Yaa, lelaki siapakah di dunia ini yang bisa menampik ajakan seorang gadis ? Apalagi gadis cantik seperti itu ?
- 0000000 -

ADA orang bilang: "Perempuan adalah sumber dari segala bencana."

Ada pula yang berkata : "Tanpa perempuan dunia serasa sepi, ada perempuan dunia menjadi kacau."

Tentu saja, kata-kata semacam ini keluar dari mulut kaum lelaki, tapi apapun yang di katakan kaum lelaki, perempuan memang makhluk yang tak bisa kekurangan di dunia ini.

Dari sepuluh ribu orang lelaki, paling tidak ada sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang lelaki yang rela hidup sepuluh tahun lebih pendek daripada hidup tanpa perempuan.
 
Ada orang bilang : "Uang bisa dipakai untuk membeli dunia."

Ada pula yang berkata : "Uang adalah sumber dari segala keonaran."

Tapi bagaimanapun juga, setiap orang memang tak bisa kekurangan uang.

Jika seseorang tak punya uang, sakunya kosong melompong seperti baru keluar dari penatu, maka selamanya dia tak akan mampu berdiri tegak.

Akibat dari kedua macam hal tersebut, orang yang paling pintar pun bisa menjadi bodoh, orang yang paling akrabpun bisa menjadi musuh bebuyutan.

Bila diantara empat orang pria jejaka tiba-tiba bertambah dengan seorang gadis perawan, maka keadaan tersebut ibaratnya seperti sebuah sumpit yang tiba-tiba berada dalam sebuah mangkuk berisi empat butir telur ayam, mana yang dituju lebih dulu mana yang belakangan, pasti akan merupakan suatu persoalan yang memusingkan kepala. .

Ong Tiong, Yan Jit, Kwik Tay-lok dan Lim Tay-peng empat orang, sesungguhnya melewatkan kehidupan mereka dengan bebas merdeka tanpa rintangan apa-apa, sebab mereka tak punya uang, tak punya pula perempuan.

Setiap pagi setelah bangun tidur, mereka selalu merasa riang dan gembira, karena "kemarin" yang sial sudah lewat, dan hari ini yang penuh harapan telah tiba.

Tapi secara tiba-tiba, dua macam barang tersebut telah datang berbarengan, bayangkan saja bagaimana paniknya mereka ?

Ong Tiong mungkin sudah lama bangun dari tidurnya, tapi ia masih berbaring di tanah, bergerak sedikitpun tidak.

Ia membuat dulu sebuah gulungan bulat dari gulungan selimutnya yang dekil, kemudian pelan- pelan menerobos masuk ke dalam, membuat seluruh tubuhnya terbungkus didalam tabung bulat itu tanpa terhembus angin barang sedikitpun.

Sang tikus berlarian kesana-kemari melalui sisi tubuhnya, mula-mula masih rada takut, tak berani menaiki tubuhnya, tapi lambat laun kawanan tikus itu telah menganggapnya sebagai orang mati, hampir saja mereka menaiki kepalanya.

Ong Tiong masih belum juga bergerak.

Lim Tay peng sudah lama memperhatikannya, tapi lama kelamaan ia tak tahan pelan-pelan ia mendekatinya, menempelkan jari tangannya dekat lubang hidung dan ingin memeriksa apakah dia masih bernapas atau tidak.



"Aku belum mampus!" tiba-tiba Ong Ting berteriak.

Dengan terkejutnya Lim Tay-peng menarik kembali tangannya, kemudian berkata: "Kau toh merasa kalau ada tikus menaiki badanmu, kenapa kau tidak ambil perduli?"
"Aku tak pernah bertegur sapa dengan tikus-tikus itu, aku enggan berurusan dengan mereka....
hanya kucing yang suka bertengkar dengan tikus!"
 
Jawaban ini membuat Lim Tay-peng tertegun, katanya kemudian: "Tempat ini memang seharusnya memelihara seekor kucing !"
"Sebenarnya tempat ini ada seekor kucing, Yan Jit yang membawanya kemari" "Kemana larinya kucing itu?".
"Minggat ke bawah bukit bersama si kucing jantan".

Lim Tay-peng membelalakkan matanya lebar-lebar, lama, lama sekali ia mengawasinya tanpa berkedip.

Salju telah berhenti turun, rembulan te1ah muncul di atas awang-awang.

Cahaya rembulan telah menyorot masuk lewat depan jendela dan menyoroti wajah mereka.

Paras mukanya terlihat amat jelas, keningnya lebar dengan hidung yang mancung sekalipun tidak terhitung seorang lelaki yang terlalu tampan, paling tidak ia bersifat kelaki-lakian.

"Orang ini tidak mirip orang sinting, tapi tidak pula seperti orang dungu, kenapa otaknya justru rada miring?"

Lim Tay-peng menghela napas panjang, setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu tegurnya: "Kemana perginya kedua orang temanmu itu ?"

Dia ingin mencari orang yang tidak sinting otaknya untuk diajak berbicara: "Lagi turun gunung untuk berburu"

"Berburu? Dalam cuaca begini mereka masih berburu ?" "Ehmm !!"
Lim Tay-peng tak mampu berbicara lagi, tiba-tiba ia berhasil menarik suatu kesimpulan. Teman seorang sinting sudah pasti adalah orang sinting pula.
Lewat sesaat kemudian, tiba-tiba dari balik kegelapan berkumandang suara aneh....

"Kruuuk...!" menyusul kemudian suara itu berbunyi sekali lagi, "Kruuuk. !"

"Heran !" Ong Tiong segera bergumam, "kenapa jerit tikus pada hari inipun berbeda dari hari- hari biasa."

Merah padam selembar wajah Lim Tay-peng lantaran jengah, sahutnya tergagap: "Bukan suara tikus, suara itu adalah suara.... suara. "
"Suara apa ?"

"Suara nyanyian dari perutku !" teriak Lim Tay-peng keras-keras, "apakah kalian tak pernah bersantap ?"

Ong Tiong segera tertawa:
 
"Kalau ada yang dimakan tentu saja makan, kalau tak ada yang dimakan ya terpaksa cuma menikmati nyanyian perut yang merdu."

Sekali lagi Lim Tay-peng tertegun dibuatnya, ia benar-benar tidak habis mengerti, kalau seseorang untuk makanpun tak punya, mengapa ia masih kelihatan begitu riang gembira ?

"Tapi aku lihat nasibmu hari ini masih agak mujur" tiba-tiba Ong Tiong berkata lagi. "Aku ? Nasibku lagi mujur?" bisik Lim Tay-peng sambil tertawa getir.
"Hari ini aku seperti mendapat firasat bahwa hasil buruan mereka lumayan sekali, barang yang dibawa pulangpun mungkin bisa membuatmu. " sebetulnya dia ingin berkata "makan besar", tapi
belum lagi ucapan tersebut dilanjutkan, ia sendiri sudah "dibuat terkejut".

Kwik Tay-lok telah kembali, sewaktu masuk pintu, ia memang membawa semacam barang, semacam barang yang bisa lari bisa melompat bisa memanjat pohon, bahkan masih bisa "cit, cit" berkaok-kaok tiada hentinya.

Barang itu tak lain adalah seekor monyet !

Kalau dibilang paras muka Ong Tiong ada saatnya berubah pucat, maka sekaranglah saatnya
!

Menyaksikan mimik wajah Ong Tiong, hampir meledak gelak tertawa Kwik Tay-lok, sambil tertawa berderai-derai katanya:

"Kau tak usah takut, monyet ini seekor monyet jantan, bukan betina !"

"Temanmu takut dengan monyet betina?" serentetan suara yang merdu dan lembut segera berkumandang dari belakang.

Gelak tertawa Kwik Tay-lok semakin keras: "Dia memang agak takut" sahutnya: "coba bayangkan sendiri, ada berapa orang di dunia yang tidak takut dengan bininya?"

"Lucu, sungguh amat lucu !" teriak Ong Tiong sambil menarik muka, "Heran, kenapa di dunia masih ada manusia sinting semacam dia ? Betul-betul mengherankan."

Lim Tay-peng tak tahu persoalan apakah yang begitu menggelikan, diapun tak ingin tahu.

Dia hanya merasa pandangan matanya menjadi silau, ruangan yang gelap seolah-olah diterangi oleh beribu-ribu lentera secara tiba-tiba.

Seluruh cahaya tajam itu memancar keluar dari tubuh seseorang. Orang itu mengenakan baju yang kasar dengan membawa dua buah keranjang, ia sudah masuk ke dalam ruangan mengikuti di belakang Kwik Tay-lok.

Di belakangnya mengikuti tiga orang manusia, seorang dewasa dan dua orang anak-anak.

Kanak-kanak itu memakai baju yang amat rapi, sedang si orang dewasa hanya mengenakan kulit harimau yang menutupi sebagian tubuhnya.

Beberapa orang ini sudah cukup untuk diperhatikan semakin lama, tapi mereka masih belum komplit. Selain itu masih terdapat dua ekor anjing, sebongkot golok dan tombak yang diikat menjadi satu, tiga-empat buah gembrengan dan lima-enam batang bambu.
 
Melihat kesemuanya itu, Ong Tiong segera bergumam:

"Aku tahu kau selalu ingin beradu kepandaian dengan Yan Jit, kau ingin melihat siapa yang paling banyak membawa pulang barang, tapi paling tidak kau harus memberi sedikit muka kepadanya, mau mengalahkan dia juga tak usah mengalahkannya secara begini mengenaskan."



Yan Jit yang bersandar di pintu segera menanggapi sambil tertawa:

"Sekalipun kekalahanku suatu kekalahan yang tragis, tapi aku kalah dengan perasaan puas, barang yang kubawa pulang dalam dua puluh kali kepergianku masih belum bisa melebihi hasil yang di dapat sekali perjalanannya."

Sambil tertawa Kwik Tay-lok cepat-cepat menukas:

"Beberapa orang temanku ini meski busuk dimulut, baik hati. Mari, kuperkenalkan kalian kepadanya, nona ini adalah. "

"Lebih baik aku memperkenalkan diriku sendiri" sela si nona sambil tertawa, "aku bernama Swan Bwe-tong (kuah bwe kecut), dia adalah engkoh tongku yang bernama Hui Pa-cu (macan tutul terbang), sedangkan mereka berdua adalah adik misanku, yang seorang bernama Siau Ling- long (si kecil mungil), sedang yang lain bernama Siau Kim-kong ( orang kuat kecil)"

Siapakah Hui Pa-cu itu, sekalipun tidak ditunjuk orangnya, setiap orang bisa mengenali dalam sekejap mata.

Berbeda dengan kedua orang bocah itu, paras muka mereka berdua ibaratnya pinang di belah dua. Bukan saja wajahnya sama, potongan badannya sama, biji matanya sama besar, rambutnya di kepang dua, sewaktu tertawa kedua-duanya punya sepasang lesung pipi yang sangat dalam.

Malah lesung pipi mereka bukan yang satu di kiri yang lain di kanan, lesung pipi mereka berdua sama-sama berada di pipi sebelah kanan.

Tak tahan Ong Tiong bertanya:

"Mana yang bernama Siau Ling-long ? Mana yang bernama Siau Kim-kong ?" "Coba kau terka !" seru dua orang bocah itu bersama.
Ong Tiong mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian katanya:

"Disamping Siau Kim-kong adalah Siau Ling-long, disamping Siau Ling-long adalah Siau Kim- kong, betul bukan?"

Dua orang bocah itu segera tertawa cekikikan.

Tiba-tiba salah seorang diantaranya lari mendekat dan membisikkan sesuatu di sisi telinga Ong Tiong, setelah itu sambil tertawa katanya:

"Itu rahasia kami berdua, jangan diberitahukan kepada orang lain yaa. ?"

Gelak tertawa bocah itu amat merdu, rupanya dia adalah seorang bocah perempuan. Kwik Tay-lok segera menarik tangan seorang bocah yang lain, kemudian katanya:
 
"Siau Ling-long adalah cicimu bukan?" Bocah laki-laki itu segera menggeleng. "Bukan, dia adalah adikku!" sahutnya.
Baru habis dan berkata, Siau Ling-long sudah berteriak mendongkol.

"Telur busuk, goblok kau! Aku memang sudah tahu, bocah laki semuanya tolol, baru ditipu orang, rahasia sendiri sudah ketahuan!"

Merah padam selembar wajah Siau Kim kong karena jengah, segera bantahnya:

"Kalau kau tidak goblok, kalau kau pintar, kenapa kau musti menyaru sebagai bocah pria?"

Perkataan bocah itu betul-betul ibaratnya sekali tusukan darah meleleh keluar. . . "orang perempuan selalu memandang enteng kaum lelaki, mereka menganggap lelaki adalah orang goblok, tapi mereka sendiri justru berharap dirinya bisa menjadi seorang laki-laki, inilah penyakit yang terutama dari kaum perempuan.

Lim Tay-peng menatap terus wajah Swan Bwe-tong lekat-lekat, tiba-tiba ia berkata: "Semua nama tersebut tentunya bukan nama mereka yang asli bukan ?"
Si Kuah bwe kecut menghela napas panjang, sahutnya dengan pedih: "Bagi kami orang-orang yang bekerja sebagai pemain akrobatik, nama baik nenek moyangpun sudah kami jual, mana mungkin masih memiliki nama asli ?"

Lim Tay-peng ikut menghela napas: "Apa jeleknya sebagai pemain akrobatik yang berkelana dalam dunia persilatan? Ada sementara orang yang ingin berkelana dalam dunia persilatanpun tak bisa".

Swan Bwe-tong memandang sekejap lagi ke arahnya, kemudian berkata: "Aku lihat kau seperti mempunyai banyak rahasia dalam hati kecilmu. . ."

"Orang ini memang mirip sekali dengan seorang gadis" tukas Kwik Tay-lok tiba-tiba. Lim Tay-peng segera melotot sekejap ke arahnya, paras mukanya ikut pula berubah.
"Aaah, masa cuma kaum gadis yang boleh mempunyai rahasia dalam hati. " Kata Swan Bwe-
tong sambil tertawa, "kalau memang begitu, bukankah semua laki-laki akan menjadi telur-telur busuk goblok yang tak punya perasaan?"

Lim Tay-peng memandang sekejap ke arahnya, pancaran rasa terima kasih menyorot dari balik matanya.

Melihat itu Kwik Tay-lok mengangkat bahunya seraya berkata:

"Sekalipun setiap laki-laki tak punya hati dan perasaan, paling tidak mereka masih punya perut"

"Oya, kalau tidak kau ingatkan, hampir saja aku lupa. " seru Swan Bwe-tong, sambil tertawa
cekikikan.

Cepat-cepat ia menurunkan keranjangnya, menyingkap kain penutup dan merobek dulu sebuah paha ayam, setelah itu katanya sambil tertawa:
 
"Padahal perut kaum wanitapun tidak lebih kecil dari perut kaum laki-laki, cuma ada kalanya mereka enggan untuk makan terlalu banyak, takut kegemukan !"

"Tapi, kenapa kau tak pernah merasa takut untuk makan banyak-banyak ?" sela Siau Kim- long.

Swan Bwe-tong segera mengetuk kepala bocah itu dengan paha ayam tersebut, Siau Kim- kong segera merebut separuh ekor ayam dan dibawa kabur.

Sang monyet di tanah berlompat-lompat tiada hentinya, sedang kedua ekor anjing itu menggonggong amat ramai.

Menyaksikan kesemuanya itu, Ong Tiong menggelengkan kepalanya sambil bergumam: "Tempat ini sudah ada belasan tahun lamanya tak pernah seramai ini."


"Tak usah kuatir" seru Kwik Tay-lok, "tempat ini bakal ramai selama beberapa hari" "Beberapa hari ?"
"Yaa, beberapa hari..." Kwik Tay-lok manggut-manggut sambil mengawasi bayangan punggung Swan Bwe-tong yang menjauh, "ketika aku mendengar kalau mereka sedang mencari tempat pemondokan, maka akupun lantas menyewakan sederet ruangan yang terdiri dari lima kamar di sebelah belakang itu kepada mereka."

Hampir tumpah arak yang baru diminum Ong Tiong, serunya cepat-cepat: "Berapa uang sewanya ?"
Kwik Tay-lok segera melototkan matanya bulat-bulat.

"Kau anggap aku ini manusia apa?" teriaknya, "si setan pelit? Masa aku tega minta uang sewa darinya ? Coba kalau bukan lantaran aku, untuk mengundang datang tamu seperti merekapun tak mungkin bisa."

Ong Tiong mengawasinya lekat-lekat, lama, lama sekali, ia baru menghela napas panjang, serunya sambil tertawa getir:

"Dalam satu hal, makin lama aku merasa semakin tidak mengerti." "Dalam hal apa?"
"Rumah ini sebetulnya kepunyaanmu? Atau kepunyaanku?"

Kalau ditanya persoalan apakah di dunia yang bisa membuat seorang lelaki yang jorok dan malas menjadi rajin dan bersih, maka jawabnya adalah perempuan.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali, ketika Ong Tiong masih berbaring dalam "tabungnya" Kwik Tay-lok sudah pergi menimba air, sedang Lim Tay-peng sedang mencari sesuatu di dalam kamar.

"Hey, apa yang sedang kau cari ?" tak tahan Ong Tiong segera menegur.

"Baskom untuk mencuci muka, handuk pencuci muka dan cangkir untuk mencuci mulut"
 
Ong Tiong segera tertawa.

"Barang-barang yang kau sebutkan itu bukan saja sudah lama tak pernah kujumpai, mendengarpun belum pernah"

Bagaikan tubuhnya dicambuk orang secara tiba-tiba, Lim Tay-peng membelalakkan matanya dengan mulut melongo, lalu bisiknya agak tergagap:

"Kaa. kalian tak pernah mencuci muka?"

"Tentu saja mencuci, cuma tiap tiga hari mencuci kecil satu kali, tiap lima mencuci besar satu kali."

"Bagaimana yang dimaksudkan mencuci kecil? Bagaimana pula mencuci besar ?" "Yan Jit, praktekkan untuknya !" seru Ong Tiong segera.
Yan Jit segera menggeliat malas, lalu ujarnya:

"Kemarin aku baru saja mencuci, hari ini adalah giliranmu."

"Aaai. kalau begitu, paling tidak kau harus bawa kemari semua alat untuk mencuci muka"
kata Ong Tiong sambil menghela napas.

Kebetulan Kwik Tay-lok sedang memikul masuk dua gentong air, Yan Jit segera mengambil setengah mangkuk air, lalu dari atas tembok mengambil pula selembar kain yang berwarna yaa kuning yaa hitam, entah apa warna sesungguhnya.

Saat itulah dengan aras-arasan Ong Tiong bangun berduduk, diteguknya sedikit air, lalu jari tangannya dibungkus dengan kain kumal itu, setelah digosok-gosokan atas giginya keras-keras, ia menyemburkan air dalam mulutnya itu ke atas kaki, disekakan seenaknya di atas wajah sendiri.

Sesudah itulah sambil menghela napas ia baru berkata: "Nah, selesai !"

Bagaikan melihat setan disiang hari bolong, saking kagetnya paras muka Lim Tay-peng berubah menjadi hijau membesi.

"Ini. inikah yang dinamakan mencuci kecil?" bisiknya terbata-bata lantaran gugup.

"Bukan mencuci kecil, ini sudah terhitung mencuci besar,kalau mencuci kecil mah tak usah repot-repot begini".

Sepasang bibir Lim Tay-peng sudah berubah agak menghijau, tampaknya dia segera akan jatuh tak sadarkan diri.
Lewat lama, lama sekali, ia baru menghembuskan napas panjang, katanya pelan: "Jika masih ada orang lain yang lebih jorok daripada kalian semua, aku bersedia untuk
menyembah di hadapannya".

"Kalau begitu menyembahlah sekarang juga" kata Ong Tiong sambil tertawa, "sebab orang yang lebih jorok daripada kita banyaknya tak terhitung!"

"Aku tidak percaya!" Lim Tay-peng sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
 
"Walaupun kami orang jorok, hati tak jorok, bukan saja tidak jorok bahkan bersih sekali. Bila hati seseorang telah menjadi jorok, maka sekalipun setiap hari dicuci dengan sabun sebanyak sepuluh kali juga tak akan menjadi bersih."

Sambil melirikkan kepalanya Lim Tay-peng termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba sambil berkeplok tangan serunya:

"Masuk akal, masuk akal, jika seseorang bisa hidup dengan riang gembira tanpa melakukan kesalahan yang malu diketahui orang, makan tidak makan tak menjadi soal, cuci muka atau tidak juga tak menjadi soal."

Ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, lalu lari ke halaman, menjatuhkan diri bergelindingan di tanah dan berseru:

"Sekarang aku sudah mengerti, sekarang aku sudah mengerti. dulu kenapa aku tak berhasil
memahami teori ini ?"

Ong Tiong dan Yan Jit hanya memandang tingkah lakunya sambil tersenyum, seakan-akan mereka ikut bergembira atas keberhasilannya memahami teori tersebut, karena merekapun dapat melihat bahwa dalam hati kecil orang itu sesungguhnya tersimpan suatu rahasia hati yang berat sekali.

Selama ini ia selalu tak tahu apakah perbuatannya betul atau salah, sekarang baru diketahui bahwa ia sama sekali tidak salah.

Seseorang kalau ingin hidup senang di dunia, maka dia harus berhati bersih tanpa melakukan sesuatu perbuatan yang bisa membuatnya malu kepada orang lain, sebab disinilah letak kunci yang paling utama.



Waktu itu Kwik Tay-lok sedang mencuci muka, sementara mulutnya masih bergumam seorang
diri:

"Tidak cuci muka tidak mengapa, mencuci muka juga tidak mengapa, betul bukan ?"

Selesai mencuci muka, dia menggosok badannya dengan kain, lalu menggosok pula sepatunya dengan kain.

Dengan pandangan dingin Yan Jit menatap sekejap ke arahnya, lalu berkata: "Kenapa kau tidak melepaskan sepatumu, kemudian mencuci kaki !"
Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Aku memang bermaksud untuk melakukan hal itu, sayang waktu sudah tidak mengijinkan." Tiba-tiba ia menerjang keluar dari pintu sambil berseru kembali:
"Mereka tentu sudah mendusin semua, biar kutengok orang-orang itu ke belakang." "Aku ikut !" sera Lim Tay-peng.
Kedua orang itu bersama-sama menerjang keluar dari pintu, demikian terburu-burunya se akan-akan sedang pergi menolong kebakaran.
 
Ong Tiong segera melirik sekejap ke arah Yan Jit, lalu katanya sambil tertawa: "Gadis cantik incaran setiap pria, kenapa kau tidak ikut ?"
"Aku bukan seorang lelaki sejati" jawab Yan Jit menarik muka.

"Aku lihat kau seperti rada tak suka dengan nona Swan Bwe-tong itu ?" Yan Jit termenung beberapa saat lamanya: tiba-tiba ia bertanya:
"Menurut pendapatmu, apa yang hendak mereka lakukan ?"

"Bukankah mereka rombongan penjual akrobatik yang mencari uang dalam dunia persilatan?" Ong Tiong balik bertanya sambil memutar biji matanya.

"Kalau kaupun menganggap mereka sebagai penjual akrobatik yang mencari uang dalam dunia persilatan, itu berarti kau juga seorang manusia tolol yang tak punya otak"

"Kenapa ?"

"Masa tidak lihat bahwa si monyet dan kedua ekor anjing itu sedikitpun tidak menuruti perkataan mereka? Jelas binatang-binatang itu diperoleh secara mendadak sebagai pelengkap penyaruan mereka. Masih ada Hui Pa-cu itu, ia sengaja mengenakan dandanan yang aneh dan eksentrik, padahal yang betul adalah seorang lelaki yang tahu aturan serta sopan santun, bicarapun tak berani banyak bicara, ditambah pula sepasang tangannya putih lembut, mana mungkin mirip sepasang tangan yang tiap hari kerjanya menggotong peti dan menuntun anjing?"
Dengan tenang Ong Tiong mendengar semua perkataan itu, akhirnya dia manggut-manggut. "Tidak kusangka kau begitu teliti. Tapi kalau mereka bukan rombongan penjual akrobatik yang
berkelana dalam dunia persilatan, apa pekerjaan mereka?"

"Siapa yang tahu? Siapa tahu kalau mereka adalah perampok?"

"Kalau mereka sungguh-sungguh rombongan perampok, tak nanti akan mengunjungi tempat ini" kata Ong Tiong sambil tertawa "barang apa di sini yang bisa menarik perhatian mereka untuk di rampok?"

Belum sempat Yan Jit berkata, mereka sudah menangkap jeritan kaget yang berkumandang datang dari belakang sana.

Jelas suara jeritan dari Kwik Tay-lok.

Bagi manusia macam Kwik Tay-lok, sekalipun bertemu dengan setan belum tentu dia akan menjerit kaget seperti ini.

Mungkin hanya sedikit persoalan didunia yang bisa membuatnya menjerit kaget seperti itu. Yan Jit pertama-tama yang menerjang keluar lebih dulu.
Ong Tiong yang malas bergerakpun kini telah bergerak.

Halaman di belakang sana jauh lebih kecil daripada halaman depan, ditengah halaman penuh tumbuh pohon bambu. Dulu, setiap malam musim panas tiba, tuan rumah tentu akan pindah ke situ untuk menikmati suara mendesisnya daun-daun bambu.
 
Oleh karena itu halaman inipun seperti pula halaman lain yang penuh ditanami pohon bambu, disebut Ting-tiok-siau-wan (halaman kecil pendengar bambu), sedang lima buah ruangan yang berderet itu dinamakan serambi Ting-tiok-sian.

Tapi setelah Ong Tiong menjadi tuan rumah tempat itu, ia telah merubah namanya menjadi Yu-tiok-bo-bak-sian (serambi ada bambu tiada daging), karena ia merasa meski nama Ting-tiok (pendekar bambu) cukup berseni, tapi sekarang sudah usang rasanya.

Ia merasa, meski orang pertama yang menggunakan nama "Ting-tiok" adalah seorang seniman yang pintar, tapi orang ke delapan puluh yang menggunakan pula nama "Ting-tiok" bagi halamannya tak lebih cuma seorang manusia goblok yang sudah ketinggalan jaman.

Itulah sebabnya dalam halaman itu bukan saja Bo-bak (tiada daging), pohon bambunya pun hampir sudah habis ditebas.

Bambu bisa digunakan sebagai tiang jemuran, bisa dipakai untuk membuat tenda, maka seringkali Ong Tiong menggunakan bambu, untuk ditukar dengan daging.

Jika seseorang sudah lapar, seringkali dia akan lupa apa yang dinamakan seni.

Swan Bwe-tong, Hui Pa-cu dan dua orang bocah mungil itu semalam tinggal di situ, tapi sekarang manusia berikut anjing dan monyetnya sudah angkat kaki dari situ, yang masih tertinggal di sana hanya Kwik Tay-lok serta Lim Tay-peng yang masih berdiri termangu-mangu.

Disamping kaki mereka masih terdapat beberapa buah peti besar, peti-peti yang masih baru. "Tamumu sudah pergi tanpa pamit ?" tegur Ong Tiong.
Kwik Tay-lok manggut-manggut.

"Pergi yaa pergi, kenapa musti berteriak-teriak macam orang ketemu setan saja," seru Yan Jit ketus.

Kwik Tay-lok tidak berkata apa-apa, dia hanya mengangsurkan selembar kertas kepada mereka.



Di atas kertas itu tertera beberapa huruf yang ditulis dengan arang.

"Lima buah peti sebagai ganti ongkos kamar, harap diterima dan sampai jumpa" Seusai membaca tulisan itu, Yan Jit segera berkata:
"Menyewa kamar memang wajar kalau di bayar, tiada sesuatu yang patut diherankan."

"Mengherankan mah tidak, tapi bayarannya terlampau banyak" ujar Kwik Tay-lok sambil menghela napas.

"Apa isi peti itu ?" tanya Ong Tiong.

"Tak ada yang lain, cuma beberapa peti barang bau !"

Kalau dibilang uang adalah barang yang bau, maka isi lima peti tersebut sudah cukup untuk membuat kelengarnya tiga puluh ribu delapan ratus orang lebih.
 
Isi empat buah peti yang pertama tak ada yang lain kecuali uang emas. Besar kecil dan beraneka ragam emas yang tak terlukiskan dengan kata-kata, setiap kepingnya paling sedikit berbobot sepuluh tahil lebih, sekalipun tak sampai mampuskan orang karena baunya, paling tidak bisa menindih orang sampai mampus.

Sedang isi peti peti yang kelima ternyata intan permata serta mutu manikan yang beragam, ada mutiara, ada Ma-nau, ada berlian ada pula aneka macam batu mulia lain yang tak bisa disebutkan namanya satu-persatu.

Isi peti yang manapun dari kelima buah peti tersebut, sudah cukup untuk dipakai membeli seluruh perkampungan Hok-kui-san-ceng tersebut.

Ong Tiong dan Yan Jit sama-sama tertegun setelah menyaksikan semua benda itu. Lewat lama sekali, Yan Jit baru menghembuskan napas panjang, ujarnya:
"Semalam, ketika mereka datang kemari rasanya tidak membawa kelima buah peti ini." "Yaa, memang tak ada," jawab Kwik Tay-lok.
"Lantas dari mana datangnya peti ini?" tanya Lim Tay-peng keheranan. Yan Jit segera tertawa dingin.
"Dari mana lagi, kalau bukan hasil merampok tentu hasil mencuri !"

"Tapi catatan yang ada di belakang Goan-po tersebut tak ada yang sama. "

"Tentu saja tidak sama, dalam rumah siapa saja tak akan tersimpan uang emas sebanyak ini, mereka tentu berhasil mendapatkannya dengan mencuri dari beberapa rumah sekaligus."

"Bisa mencuri banyak rumah dalam semalaman, kepandaian mereka betul-betul luar biasa" ujar Ong Tiong sambil menghela napas.

"Aaah, itu tidak mengherankan, buat seorang pencuri ulung, dalam sehari mencuri dalam seribu rumah juga bukan suatu kejadian yang mencengangkan."

"Dengan susah payah mereka mencuri barang-barang itu, tapi kemudian memberikan kepada kita semua, belum pernah kujumpai ada seorang pencuri yang begini budiman."

"Huuh, siapa tahu kalau tujuan mereka hanya ingin memfitnah kita."

"Memfitnah?" seru Kwik Tay-lok tidak percaya: "kenapa harus memfitnah kita? Toh kita tak punya ikatan dendam atau sakit hati dengan orang-orang itu?"

"Kau anggap dia benar-benar tertarik padamu? Dan sengaja menghantar lima peti tersebut sebagai mas kawinnya ?"

"Soal itu mah kita tak usah menggubrisnya dulu" tukas Lim Tay-peng dengan cepat, "persoalannya sekarang, apa yang harus kita lakukan dengan kelima buah peti tersebut?"

"Apa yang musti dilakukan? setelah orang lain menghadiahkan kepada kita, tentu saja harus kita terima" kata Kwik Tay-lok.
 
"Aku lihat orang ini mempunyai suatu kepandaian yang paling besar, betapapun rumit dan kalutnya suatu persoalan, setelah diucapkan olehnya segera urusannya berubah menjadi begitu gampang dan sederhana " kata Yan Jit sambil menghela napas.

"Siapa bilang kalau persoalannya tidak gampang ?"

"Aku! Aku bilang urusannya tidak sesederhana itu" kata Ong Tiong. "Apanya yang tidak sederhana?"
"Mereka tak mungkin menghantar harta yang begini banyak untuk kita tanpa sebab, pasti mereka mempunyai tujuan atau maksud-maksud lain."

"Yaa, apalagi kalau barang-barang itu didapatkan dari jalan mencuri, jika kita menerimanya, bukankah secara otomatis kita akan menjadi tukang tadah"

"Pekerjaan apapun boleh kita lakukan.. hanya menjadi pencoleng tak boleh kita pikirkan.
Sekali kau menjadi pencoleng dan merasa kan enaknya hasil yang diperoleh, selanjutnya jangan harap bisa melakukan pekerjaan baik lagi, sepanjang masa kau akan menjadi pencuri terus."

"Yaa, betul ! Kalau punya anak besok, anaknya juga menjadi pencuri, pencuri tua melahirkan pencuri besar, pencuri besar melahirkan pencuri kecil."

Kwik Tay-lok segera tertawa, "Kau tak usah menyindir diriku. " serunya, "betul aku pernah
menjadi pencuri, tapi bukan saja tak pernah merasakan hasilnya, malah pedangku yang terakhirpun ikut kugadaikan."

"Untuk menjadi seorang pencuri harus mempelajari pula teori dan pelajarannya" kata Ong Tiong, "kalau bukan begitu, "setiap orang tentu bisa menjadi pencuri ulung."

"Aku lihat lebih baik kita mengembalikan saja semua barang itu kepada orang lain" Lim Tay- peng mengusulkan.

"Kembalikan kepada siapa ?" tanya Kwik Tay-lok, "Siapa tahu barang-barang ini dicuri dari mana ?"

"Sekalipun tidak tahu, kita kan bisa mencari info" ujar Yan Jit. "Mencari info dimana?"
"Bawah gunung. Kalau memang benar barang-barang itu merupakan hasil curian semalam, sudah pasti mereka mendapatkannya dari bawah bukit sana."

Kwik Tay-lok memandang sekejap kepingan-kepingan emas yang menggunung dalam peti, lalu sambil menghela napas katanya:

"Perkataanmu memang benar, tempat ini memang bukan suatu tempat yang miskin. setiap
tempat yang kedapatan begini banyak uang emas, jelas bukan suatu tempat yang miskin."

Tiba-tiba sambil tertawa dia berkata lagi: "Oleh sebab itu perkampungan Hok-kui-san-ceng paling tidak hari ini benar-benar merupakan perkampungan Hok-kui-san-ceng sungguhan."
 
Sekalipun nama Hok-kui-san-ceng sesuai dengan kenyataan tidak berlangsung terlalu lama, tapi mereka masih bisa hidup dengan riang gembira....

Sebab mereka telah melakukan suatu pemilihan yang paling pintar. Mereka meninggalkan harta kekayaan dan menahan liangsim sendiri.
Mungkin itulah saat yang paling dekat Hok-kui (kaya dan terhormat) dari mereka, tapi mereka tak akan kemaruk oleh harta kekayaan serta kehormatan, merekapun tak ingin menggunakan cara yang licik, rendah dan terhina untuk meraih kekayaan dan kehormatan, oleh sebab itu mereka selalu riang gembira, seperti rumput dan bebungahan yang mandi ditengah sinar matahari musim semi.

Mereka tahu kegembiraan dan kebahagiaan jauh lebih menyenangkan daripada kekayaan serta kehormatan.

* * *

Moay Lo-kong.

Moay Lo-kong adalah nama sebuah warung makan yang amat kecil, juga nama orang.

Daging sosis bikinan "Moay Lo-kong" konon sedemikian lezat dan harumnya sehingga manusia maupun anjing yang berada sepuluh li disekitar tempat ini pada tertarik semua.

Moay Lo-kung juga tauke dari warung makan itu, dia merangkap menjadi koki merangkap pula sebagai pelayan.

Kecuali menjual sosis, Moay Lo-kong hanya menjual nasi putih serta bubur. Bila ingin minum arak, mereka harus pergi membeli sendiri di warung penjual arak Yan-biau-goan yang terletak beberapa rumah dari warung tersebut, atau langsung minum di warung Yan-biau-goan.

Ada orang menganjurkan Moay lo-kong, kenapa tidak sekalian menjual arak, bukankah akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Tapi Moay Lo-kong adalah seorang yang keras kepala, "Lo-kong" kebanyakan memang orangnya kuno, keras kepala dan kaku, oleh sebab itu bila ingin minum arak, terpaksa kau harus pergi membeli sendiri, kalau kau tidak puas dengan tempat itu, maka tiada tempat yang lain lagi."

Sebab Moay Lo-kong bukan cuma lezat masakannya, dia merupakan satu-satunya warung yang berada disekitar tempat itu.

Penduduk kota itu membeli minyakpun harus mengirit, bagaimana mau menghamburkan uang untuk bersantap diluar? Oleh sebab itu, sekalipun ada orang ingin merampas dagangan Moay Lo- kong, lewat beberapa hari kemudian serta merta mereka menutup sendiri pintu besarnya.

Terhadap Ong Ting dan Kwik Tay-lok sekalian, Moay Lo-kong tak pernah menaruh kesan jelek, dia tahu meskipun beberapa orang itu miskin, mereka tak pernah menunggak rekening.

Setiap kali mereka berkunjung ke warungnya, beberapa tahil perak tentu siap dalam saku mereka, lagi pula setiap kali bersantap tentu makan dalam jumlah yang amat banyak.

Pemilik warung makan manapun tak akan menaruh kesan jelek terhadap tamunya yang suka makan banyak.
 
Tepat di sebrang warung Moay Lo-kong terletaklah tempat tinggal "mertua" Ong Tiong sekalian.

"Mertua" adalah istilah untuk rumah pegadaian.

Setiap kali sebelum berkunjung ke warung makannya Moay Lok-kong, hampir boleh dibilang mereka selalu berkunjung dulu ke rumah "mertua" sebelum dengan gaya gagah dan bersemangat melangkah masuk kewarung makan itu.

Tapi hari ini mereka bertindak di luar kebiasaan.

Sewaktu lewat dirumah "mertua" ternyata mereka sama sekali tidak berhenti, malah dadanya dibusungkan tinggi-tinggi.

Ditinjau dari cara mereka berjalan, bisa diduga kalau saku mereka tak mungkin berada dalam keadaan kosong.

Moay Lo-kong merasa lega juga keheranan, segera pikirnya:

"Heran, jangan-jangan mereka sudah menjadi pembegal ? Kenapa secara tiba-tiba punya uang ?"

Kali ini yang berkunjung tiba ada empat orang, belum lagi melangkah masuk ke dalam ruangan, Moay Lo-kong telah menyambut kedatangan mereka sambil menyapa dengan dialek Kwang-tongnya yang tidak hapal:

"Hari ini datang pagi benar?"

Beberapa orang ini tidak takut langit, tidak takut bumi, mereka hanya takut kalau ada orang mengajak berbicara dengan dialek Kwang-tong.

Untung saja Kwan Tay-lok sudah terbiasa mendengar dialek semacam itu, sekalipun tidak mengerti, ia juga dapat menduganya.

Maka sahutnya sambil tertawa:

"Bukan orangnya datang terlalu pagi, adalah uangnya yang datang lebih awal, buatkan dulu dua ekor itik panggang, lima kati daging dan dua ekor ayam goreng."

"Minum arak?" tanya Moay Lo-kung sambil mengedipkan matanya. "Tentu saja, ambilkan dulu sepuluh kati, nanti sekalian diperhitungkan !"
Nada suaranya juga ikut bertambah nyaring, sebab dalam sakunya sekarang paling tidak mengantongi uang emas seberat sepuluh tahil.

Bukankah tujuan mereka untuk mencari kabar rumah siapa yang kebobolan pencuri semalam?
Apa salahnya untuk menghamburkan uang seberat sepuluh tahil emas?

Bila perut lagi lapar, mau bicarapun malas, bagaimana mungkin bisa mencari berita ?

Oleh sebab itu, dalam liangsim mereka sedikitpun tidak terasa ada beban sekalipun telah mempergunakan uang hasil curian.
 
Tapi setelah arak dalam guci mulai mengalir lewat tenggorokan, perasaan tanggung jawabpun pelan-pelan mulai muncul pula dalam hati mereka.

Setelah minum arak orang, sudah sewajarnya kalau mereka bekerja untuk orang.



Mereka enggan untuk makan kepunyaan orang dengan begitu saja.

Maka Kwik Tay-lok mulai buka suara: "Dalam dua hari belakangan ini, apakah kau berhasil mendengar sesuatu berita besar ?"

Ternyata tak ada.

Berita yang paling menggemparkan seluruh kota adalah Ong Toa-nio dari toko kelontong telah melahirkan sepasang bayi kembar.

Semua orang mulai keheranan.

"Mungkin mereka bukan beroperasi disini" Kwik Tay-lok mulai mengemukakan dugaannya. "Sudah pasti di sini !" Yan Jit membantah.
"Kalau memang di sini, kenapa tak ada orang yang mengaku kecurian ? Dalam semalam ada beberapa ratus rumah kecurian, ini berita besar, sepantasnya kalau seluruh kota sudah menjadi gempar."

"Bukannya tidak ada, cuma tidak diutarakan, mereka tak berani mengutarakannya." "Kecurian bukan suatu kejadian yang memalukan, kenapa tak berani diutarakan?"
"Kalau sumber harta situ datangnya secara lurus, jujur, orang tentu berani bicara, tapi kalau datangnya tidak jujur, secara curang, korupsi atau mencuri, ibaratnya orang bisu yang makan empedu, sekalipun kepahitan, rasa pahitnya hanya bisa dipendam didalam hati."

Mendengar perkataan itu, Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Kalau memang begitu, urusan tidak menyangkut diri kita lagi, toh kita sudah berusaha dengan sekuat tenaga, bukan begitu ?"

Waktu itu, seguci arak sudah hampir seluruhnya berpindah ke dalam perut mereka, rasa tanggung jawabnyapun dengan cepatnya sudah hampir terlupakan.

Tiba-tiba ia merasa hatinya begitu enteng, begitu santai, dengan suara keras segera serunya: "Lo-kong, ambilkan sepuluh kati arak lagi buat kami !"
Belum lagi Moay Lo-kong melangkah keluar dari warungnya, tiba-tiba dari luar pintu berjalan masuk tiga orang.

Orang pertama berperawakan tinggi, memakai baju berwarna emas dan kelihatan sangat perlente.

Orang kedua lebih tinggi perawakannya, tapi cekingnya bukan kepalang.
 
Tapi sayang bagaimanakah tampang mereka berdua, orang lain tak sempat melihat dengan jelas.

Sebab sinar mata semua orang sudah tertarik oleh orang ketiga.

Orang itu sekujur badannya berwarna hitam, bajunya hitam, celana hitam, sepatu hitam, tangannya memakai sarung tangan hitam, kepalanya memakai topi lebar warna hitam yang dikenakan rendah sekali hingga menutupi wajahnya.

Padahal sekalipun topi lebarnya tidak dikenakan rendah-rendah, orang juga tak dapat melihat wajahnya, sebab kepala berikut wajahnya dibungkus pula oleh sebuah kain berwarna hitam, yang tampak hanya sepasang matanya yang lebih tajam dari sembilu.

Dandanan untuk berjalan malam ini hanya cocok untuk dipakai ditengah malam buta dan melakukan pekerjaan yang takut diketahui orang, tapi secara terang-terangan ia telah mengenakannya untuk melalui jalan raya.

Bagaimanakah tampang mukanya? Sebenarnya manusia macam apakah dia ?
Siapapun tidak melihat, siapapun tidak tahu, dari atas sampai ke bawah pada hakekatnya tak seinci pun tubuhnya yang bisa dilihat orang.

Tapi entah mengapa, ternyata dari sekujur tubuh orang itu, dari tiap inci badannya seakan- akan penuh mengandung hawa pembunuhan yang mengerikan.

Yang paling berbahaya sudah barang tentu pedang yang tersoren di pinggangnya. Sebilah pedang bersarung hitam yang panjangnya empat jengkal tujuh inci.
Jarang ada orang yang menggunakan pedang semacam ini, karena pedang yang kelewat panjang susah untuk dicabut, kecuali orang itu memiliki kepandaian khusus dan cara mencabut yang istimewa.

Orang yang bisa mempergunakan pedang semacam ini, jelas bukan seseorang yang bisa dihadapi dengan gampang. Setelah ia meloloskan pedang dengan bersusah payah, tentu saja tak akan melepaskan korbannya dengan begitu saja.

Ketika pedangnya di sarungkan kembali, biasanya mata pedang sudah basah oleh darah. Tentu saja darah orang lain!
Setelah masuk ke dalam ruangan, tiga orang itu lantas menempati sebuah meja yang letaknya di sudut paling belakang ruangan itu, agaknya mereka tak ingin mengganggu orang lain, lebih tak ingin diganggu orang.

Pesanan mereka: "Hidangan apa saja yang ada."

Ini menandakan kalau mereka datang ke situ bukan untuk "makan", dan tidak terlalu mementingkan soal "makan".

Yang tidak terlalu memperhatikan soal makan biasanya kalau bukan hatinya sedang bermuram durja, tentunya disebabkan lagi memikirkan persoalan lain.
 
Perduli apapun yang sedang mereka pikirkan, sudah jelas persoalan itu adalah suatu persoalan yang tidak menyenangkan hati.

Lim Tay peng memperhatikan terus pedang orang yang berbaju hitam itu, kemudian berguman:

"Pedang belum lagi diloloskan, hawa pembunuhan yang terbawa sudah begini tebal"

"Bukan hawa pembunuhan dari pedangnya, melainkan hawa pembunuhan dari manusianya!" Ong Tiong membenarkan.

"Tahukan kalian, siapakah orang ini?"

"Tidak tahu?", Kwik Tay-lok menghela napas panjang, "aku cuma tahu, sekalipun berada dalam keadaan mabok hebat, aku tak akan mencari orang ini untuk diajak berkelahi".

"Aku kenal dengan dua orang lainnya." tiba-tiba Yan Jit berbisik. "Tapi mereka tidak kenal dengan kau."


Yan Jit segera tertawa, katanya dengan hambar:

"Aku ini terhitung manusia apa, sudah barang tentu orang-orang kenamaan seperti mereka tak akan kenal dengan aku."

"Mereka sangat ternama ?"

"Yaa, orang yang duduk dibagian luar, bertubuh jangkung lagi ceking itu bernama Sia-kun (tongkat penjepit), dinamakan pula Kun-cu (si tongkat) !"
"Si tongkat? Ehmm, memang mirip dengan perawakannya, tapi Sia-kun rada istimewa." "Sia-kun atau tongkat penjepit adalah semacam alat siksaan yang sangat hebat,
bagaimanapun licik dan bandelnya pencoleng, bila sudah berada dalam tongkat penjepit ini, apa yang kau katakan akan dikatakan pula oleh mereka, sekalipun kau suruh dia menyebut nama nenek moyangnya, dia tak akan berani membangkang."

"Demikian hebatkah kepandaiannya ?" Kwik Tay-lok tidak percaya.

"Yaa, konon siapa saja yang bertemu dengannya, tak bisa tidak harus bicara terus terang, sekalipun orang mati, dia pun punya kepandaian untuk mengorek keterangan darinya."

"Cara kerja orang ini pasti ganas dan kejam." kata Ong Tiong.

"Dia masih mempunyai julukan lain yang disebut Kun-cu atau si tongkat, ini diartikan Kian-jin- ciu-to (bertemu dengan orang lantas memukul). Siapa saja yang terjatuh ke tangannya, tak ayal hidung dan matanya mesti akan bengkak-bengkak diberi bogem mentah dulu olehnya. Sobat- sobat golongan hitam yang bertemu dengannya, pada hakekatnya seperti bertemu dengan setan perenggut nyawa atau Raja akhirat saja."

"Apa pekerjaannya?"

"Polisi dari keresidenan Cing-ho-sian."
 
"Keresidenan Cing-ho-sian bukan suatu tempat yang terlampau besar, bukankah hal ini sama halnya dengan memendam sebuah bakat bagus untuk pengadilan?"

"Oleh karena cara kerjanya ganas dan kejam, maka ia tak pernah naik pangkat. Tapi bagaimanapun besarnya persoalan yang tak terselesaikan ditempat lain, orang pasti akan datang ke keresidenan Ching-ho-sian untuk meminta bantuannya"

"Siapa pula saudara yang berbaju kuning warna emas itu!" tanya Kwik Tay-lok kemudian.

"Dia she Kim dan suka warna emas, maka orang sebutnya sebagai Kim-say (singa emas), tapi di belakang orang lebih suka memanggilnya sebagai Kim-mao-san-cu-kau (Anjing buldog berbulu emas)!"

Mendengar nama itu Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Yaa, kalau suruh aku berbicara yang jujur, tampang orang ini memang mirip dengan anjing Buldog !"

"Kau pernah melihat anjing buldog?"

"Segala macam anjing pernah kulihat !" jawab Kwik Tay-lok dengan bangga. "Tentu saja, kan bangsa anjing serumpun dengannya !" sela Ong Tiong.
Kontan saja Kwik Tay-lok melotot besar tapi urung marah.

Yan Jit segera berkata kembali: "Coba kalian bayangkan, bagian mana dari anjing buldog yang paling besar?"

"Hidungnya paling besar!" Lim Tay-peng segera menyela. "Bagian mana yang terkecil ?"
"Mulut !"

Setelah tertawa, Lim Tay-peng menjelaskan lebih jauh: "Bukannya aku juga seperti saudara Kwik, serumpun dengan mereka, melainkan secara kebetulan diwaktu kecil dulu, aku memelihara beberapa ekor anjing buldog."

"Nah, sekarang coba kalian saksikan kembali tampang orang itu !"

Kalau menengok dari sebelah sini, kebetulan tampang si "anjing buldog" itu kelihatan amat jelas.

Siapa saja yang memandang wajahnya, tak seorangpun yang tidak berhasil melihat hidungnya.

Kalau boleh diambil perbandingan, maka hidung orang itu sudah menduduki sepertiga dari luas permukaan wajahnya.

Bibir, siapapun tentu akan lebih lebar dari hidung, tapi hidungnya justru lebih besar dari bibirnya, ini menyebabkan jika kita tengok dari atas kepalanya, sudah pasti bibirnya tak akan terlihat, karena bibir itu terhadang oleh hidungnya yang besar.

Hampir meledak gelak tertawa Kwik Tay lok, sambil tertawa terbahak-bahak katanya:
 
"Yaa, benar, dia memang mempunyai hidung ukuran king-size!" "Matanya tentu tidak-tajam!" kata Ong Tiong.
"Darimana kau bisa tahu ?" tanya Kwik Tay-lok dengan keheranan.

"Karena sepasang matanya terhadang oleh hidungnya yang besar, maka mata yang sebelah kiri cuma bisa melihat barang-barang di sebelah kiri, sedangkan mata yang kanan cuma bisa melihat barang-barang yang ada di sebelah kanan"
Baru selesai berbicara, bahkan Yan Jit pun tak tahan untuk ikut tertawa terpingkal-pingkal. "Tapi sampai sekarang aku masih belum berhasil menemukan letak bibirnya" kata Kwik Tay-
lok kemudian.

Sambil menahan geli Yan Jit menerangkan:

"Coba kau perhatikan lagi, di bawah hidungnya bukankah ada lubang kecil ? Nah, itulah bibirnya"

"Ooooh. lubang kecil itu bibirnya ? Aku masih mengira kalau lubang hidung"

"Aaah, kau ini juga aneh, masa di atas lubang hidung bisa tumbuh kumisnya ?" seru Lim Tay- peng.

"Siapa tahu kalau bulu itu bukan kumis tapi bulu hidung ?"

"Itulah sebabnya, dikala ia sedang makan, kadangkala orang lain tak tahu makanan itu hendak ditelan lewat mana"

Walaupun mereka berusaha menahan rasa gelinya, tak urung meledak juga gelak tawa mereka berempat.

Saking terpingkal-pingkalnya, hampir saja Kwik Tay-lok terpeleset jatuh ke kolong meja.



Tiba-tiba si anjing buldok itu berpaling dan memandang sekejap ke arah mereka. Tapi hanya sekejap saja, ia segera berpaling kembali.
Walaupun cuma sekejap, tapi lebih dari cukup.

Setiap orang merasakan bahwa sorot matanya begitu tajam bagaikan pisau belati, kalau hendak dibandingkan maka mata itu seperti mata singa jantan, bahkan biji matanyapun berwarna kuning.

Suara pembicaraan mereka sebenarnya sudah amat rendah, sekarang bertambah rendah lagi. "Apa pula pekerjaan orang ini?" tanya Kwik Tay-lok kemudian.
"Dia juga seorang opas, dua tahun berselang masih menjadi opas di ibukota, tapi belakangan ini konon sudah naik pangkat menjadi komandan opas untuk sembilan propinsi di utara sungai besar."
 
"Jika dilihat dari dandanannya macam laki-laki hidung bangor, ia tidak pantas untuk menjadi seorang opas kenamaan".

"Kau sendiripun tidak mirip si rudin" Ong Tiong menimpali. "Dimanakah letak kehebatannya ?" tanya Lim Tay-peng pula. "Pada hidungnya !"
"Pada hidungnya ?"

"Meskipun hidungnya besar, bukan berarti besar tapi tak berguna. Konon daya penciumannya jauh lebih tajam daripada anjing, bila seseorang kena diendus bau-bau badannya, maka bagaimanapun kau menyamar, jangan harap bisa lolos dari daya penciumannya."

"Waaah. kepandaian semacam ini memang terhitung hebat sekali"

"Kedua orang ini boleh dibilang merupakan jago-jago kelas satu dari pihak pengadilan, kalau bukan lantaran suatu peristiwa besar, tak mungkin mereka bisa sampai di sini, oleh sebab itu. "

"Oleh sebab itu kau merasa heran, kenapa secara tiba-tiba mereka bisa sampai di sini ?" sambung Ong Tiong.

"Yaa, aku memang merasa sangat keheranan, kalau dibilang mereka datang lantaran peristiwa pencurian yang terjadi semalam, kenapa mereka bisa menerima kabar dengan begitu cepat?"

Pada saat itulah, tiba-tiba dari tengah jalan berkumandang suara jeritan lengking seorang perempuan, suaranya seperti ayam yang kena diinjak tengkuknya.

Kemudian merekapun menyaksikan ada seorang perempuan yang rambutnya terurai tak karuan menerjang keluar dari rumah di seberang jalan sana, seorang laki-laki yang gemuk pendek sedang menariknya dengan sepenuh tenaga.

Sampai pada akhirnya, perempuan itu duduk di atas tanah sambil menangis meraung-raung, sambil menangis teriaknya keras-keras:

"Uangku untuk membeli peti matipun sudah dicuri orang, kenapa aku tak boleh berbicara ?
Kenapa aku harus membungkam? Aku sengaja hendak berkata."

Semakin berbicara ia semakin sedih, akhirnya sambil membentur-benturkan kepalanya di atas tanah serunya seraya menangis tersedu-sedu:

"Oooh. Thian, kenapa kau begitu tak adil, oooh bajingan yang kejam, hatimu betul-betul hitam
seperti hati serigala, kenapa kau tidak meninggalkan sedikit untukku. ? Tiga ribu tahil emas murni
ditambah dengan seluruh perhiasanku telah kau larikan. Ooh, jika kau adalah seorang yang
berhati baik, kembalikanlah semuanya kepadaku, aku rela membagikan separuh untukmu."

Paras muka laki-laki gemuk pendek itu berubah menjadi merah sejenak, pucat sejenak, dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya ia baru berhasil menyeretnya masuk ke dalam rumah, kemudian sambil tertawa paksa katanya:

"Secara tiba-tiba biniku kambuh penyakit gilanya, mana mungkin kami memiliki uang emas tiga ribu tahil? Apalagi dicuri orang?"
 
Kwik Tay-lok dan Yan Jit saling berpandangan sekejap, baru saja mereka hendak bertanya kepada Moay Lo-kong:

"Siapakah orang itu ?"

Rupanya si tongkat penjepit jauh lebih cepat daripada mereka.

Suaranya beret tapi pelan, seakan-akan untuk mengucapkan setiap kata itu dia harus mengerahkan tenaga besar.

Hal mana mendatangkan kesan bahwa lebih baik kau perhatikan secara serius setiap perkataannya.

Moay La-kong segera menerangkan:

"Konon sepasang suami istri ini berasal dari kota Kay-hong, sebenarnya berdagang kain di situ, setelah berhasil menabung beberapa tahil perak, mereka bermaksud untuk hidup menghemat dan sederhana sampai tua. Kalau dari rumah mereka bisa dicuri tiga ribu tahil emas, ini baru suatu berita aneh namanya."

Sebenarnya ia bukan seorang yang banyak bicara, tapi mulutnya sekarang seakan-akan telah berminyak, bahkan dialek Kwang-tongnya yang tidak karuanpun sekarang kedengaran lebih tepat dan enak didengar.

Si Tongkat penjepit mendengar dengan seksama.

Sewaktu berbicara tadi ia bisa bicara perlahan, maka sekarang ia dapat pula mendengarkan dengan seksama, seakan-akan setiap patah kata yang didengar dikunyah lebih dulu dalam bibirnya kemudian ditelan ke dalam perut.

Bahkan sekali ditelan ke dalam perut, maka selamanya tak akan ditumpahkan kembali. Menanti Moay Lo-kung telah selesai berkata, ia baru bertanya kembali dengan suara dalam: "Mereka dari marga apa?"
"Yang lelaki dari marga Ko, yang perempuan agaknya berasal dari keluarga Lo." Tiba-tiba si tongkat penjepit bangkit berdiri dan berjalan keluar dengan langkah lebar.
Sejak awal sampai akhir, manusia berbaju hitam itu tak mengucapkan sepatah katapun, saat itulah tiba-tiba ia bertanya:

"Apakah tengah hari sudah lewat ?" "Baru saja lewat !" jawab Moay Lo-kong.
"Bawa kemari!" manusia berbaju hitam itu segera berseru.

Si anjing buldok seperti rada sangsi, bisiknya: "Aku pikir tempat ini kurang leluasa!" "Siapa yang bilang?"
 
Si anjing buldok itu seperti menghela napas panjang, dari sakunya dia lantas merogoh keluar sekeping emas murni yang beratnya kira-kira dua puluh tahil, setelah diletakkan di meja lantas pelan-pelan didorong ke muka.

Manusia berbaju hitam itu segera mengambil dan menyimpannya, ia tidak berbicara lagi.

Si anjing buldok menghembuskan napas panjang, setelah memandang sekejap cuaca di luar jendela, ia bergumam:

"Sehari sungguh cepat berlalu !"