Pendekar Riang Jilid 02

 
Jilid 02

DENGAN SEPASANG BIJI MATANYA yang jelita, gadis itu melirik sekejap ke arah Kwik Tay- lok, kemudian sambil tertawa genit serunya: "Waah, mata orang ini tidak jujur!"

"Aaai. aku memang bukan seorang yang jujur" kata Kwik Tay-lok sambil menghela napas,
"dari kepala sampai kakiku, tak sebuahpun yang jujur. "

"Kalau begitu kau adalah seorang setan perempuan?" seru si semut merah sambil tertawa cekikikan.

"Meskipun tidak cocok seratus persen, selisih pun tidak terlampau jauh, cuma sayang. "

"Sayang kenapa?" tiba-tiba senyuman di wajah semut merah lenyap seketika.

"Sayang orang yang bertubuh semacam aku tak bisa menyusut menjadi kecil, kalau tidak, ingin sekali aku merubah diriku menjadi semut kuning."

Semut merah menggigit bibirnya menahan emosinya, tiba-tiba sekulum senyuman menghiasi kembali ujung bibirnya.

"Besar amat nyalimu" serunya, "kau berani menggoda dan merayu aku? apa tidak kuatir kalau suamiku menjadi cemburu?"

"Siapa suamimu? Si Semut putih? Oya. konon semut putih dapat terbang, apa benar?"

Semut merah segera tertawa cikikikan.

"Sekali lagi tebakanmu benar, rupanya kau memang bocah yang berbakat!" serunya.

Di tengah suara tertawanya yang merdu merayu, sesosok bayangan hitam tiba-tiba menyambar masuk dari luar jendela.

Bayangan itu walau dilihat dari sudut manapun tidak mirip seorang manusia, begitu enteng seperti awan diangkasa, lagi putih bersih seperti salju, tahu-tahu "Weess !" menyambar lewat
dari atas kepala Kwik Tay-lok.

Untung saja Kwik Tay-lok berhasil mengigos dengan kecepatan luar biasa, ketika merasa ada hawa dingin mendekati batok kepalanya, ia segera mengigos, terlambat sedikit saja bisa berakibat batok kepalanya berpindah rumah.

"Weess !" benda itu kembali melayang balik.

Tentu saja benda itu bukan manusia, sebab tak mungkin ada manusia yang memiliki ilmu meringankan tubuh sedahsyat itu.

Tapi apa mau dikata justru bayangan itu adalah manusia, seorang manusia kerdil yang kurus lagi kecil, tingginya tiga jengkal setengah dengan lebar satu jengkal, dia memakai baju berwarna
 
putih salju yang ujung baju bagian lengannya lebar lagi besar hingga mirip sayap, andaikata ditimbang, mungkin bobot badannya cuma seberat seekor kelinci.

Kalau bukan manusia kerdil macam itu, mana mungkin bisa memiliki ilmu meringankan tubuh yang begitu hebatnya ?

Kwik Tay-lok kembali menghela napas, gumamnya: "Ternyata si semut putih betul-betul bisa terbang !"

Yan Jit segera menyambung: "Si Semut putih paling hebat dalam ilmu meringankan tubuh, si Semut merah penuh senjata rahasia, si semut emas hebat dalam pedang dan pukulan, si semut perak kebal terhadap senjata. Aku toh sudah mengatakan sedari tadi, tiap semut itu memiliki kungfu yang luar biasa hebatnya, sekarang, kau sudah percaya bukan!"

Kwik Tay-lok tertawa getir. "Kau minta aku merangkak sekarang juga atau nanti saja ?" tanyanya kemudian.

"Lebih baik merangkak pada saat ini saja, merangkak keluar dari tempat ini, sebab merangkak keluar sendiri lebih enakan dari pada digotong orang nanti!" kata semut putih dengan ketus.

Mendengar itu, si merah segera tertawa cekikikan.

"Nah, coba lihat sendiri, aku toh sudah bilang kalau dia cemburuan, sekarang sudah percaya bukan ?"

"Urusan kami tak ada hubungan atau sangkut pautnya dengan kalian, alangkah baiknya jika kalau segera merangkak keluar dari sini!" ujar si semut emas.

"Tapi aku tak pandai merangkak, tolong ajarkan dulu kepadaku!"

Semut merah kembali tertawa, katanya: "Waah, kalau dilihat gelagatnya, kita memang salah kalau cuma membawa sebuah peti mati saja, sepantasnya kita membawa tiga buah!"

"Oooh, jadi peti matipun sudah kalian gotong kemari? Kalian benar-benar hendak memanteknya ke dalam peti mati ?"

"Sedari tadi aku sudah bilang, setiap perkataannya tiada yang bohong. ?" kata semut emas.

Tiba-tiba Yan Jit menepuk-nepuk bahu Kwik Tay-lok, lalu katanya sambil tertawa:

"Gara-gara ini akulah yang menerbitkan, tak usah kau berlagak menjadi pahlawan untuk mencampuri urusanku."

"Betul" sambung semut merah sambil tertawa, "bagaimanapun toh kau pernah mati tujuh kali, apa salahnya untuk mati sekali lagi"

"Tapi tempat ini adalah rumah orang, sekalipun aku harus mati, tak boleh mati sini." "Kalau begitu, kau boleh keluar dari sini," kata si semut putih.
"Keluar yaa keluar. " ucap Yan Jit sambil menepuk bajunya dan tertawa, "nah saudara berdua,
bila aku kali ini tidak mampus sungguhan, pasti akan kucari kalian berdua untuk minum arak."

Ong Tiong masih berbaring terus di atas ranjangnya, sedikitpun tak berkutik, pada saat itulah tiba-tiba ia berseru: "Tunggu sebentar!"
 
"Tunggu apa?" bentak Semut emas.



"Kalian tahu, tempat apakah ini?"

"Aku tahu, ini adalah kandang babi!" jawab semut merah sambil tertawa cekikikan.

"Kalau tempat ini adalah kandang babi, berarti aku adalah Raja babi, siapa saja yang datang kemari harus mendengarkan perkataanku."

"Kurang ajar, mau apa kau?" teriak Semut emas makin gusar.

"Aku hendak menahan Yan Jit untuk menemani aku minum arak, kau tahu, tidak gampang untuk mencari seseorang yang bisa minum arak sambil berjungkir balik, bayangkan sendiri, masa aku rela membiarkan dia tidur dalam peti mati?"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh. rupanya kau sudah kepingin bergerak?" sera Kwik Tay-lok
sambil tertawa tergelak.

"Semut-semut ini mulai menggigit orang sekalipun tidak ingin berkutik rasanya tak mungkin lagi
!"

"Bagaimana bergeraknya ?"

"Semut merah milikku, semut putih milik Ong Tiong jarang bergerak, tapi sekali bergerak hebatnya bukan kepalang tanggung."

Baru selesai dia berkata, mendadak tubuhnya sudah melejit dari atas ranjang dan menerkam ke depan.

Ia sudah mengincar tepat sasarannya, si semut merah yang cantik.

Semut merah boleh dibilang tak sempat melihat musuhnya, dia cuma melihat ada segulung selimut berwarna hitam yang menerjang tiba dengan kecepatan luar biasa.

Begitu badannya berputar, ada tiga empat puluh macam senjata rahasia yang beraneka ragam telah menyebar ke udara, ada yang menyambar dengan kecepatan luar biasa, ada yang saling berbenturan, ada pula yang berputar-putar di udara.

Karena perawakannya kerdil, maka senjata rahasianya juga kelewat lembut.

Tapi justru lantaran senjata rahasianya lembut, maka tenaga serangannya juga kelewat dahsyat, susah buat orang lain untuk menghindarinya.

Tapi ia telah melupakan sesuatu hal, selimut bukan manusia.

Sekalipun ada seribu batang senjata rahasia menghajar di atas selimut, tak nanti selimut itu bakal mampus.

Dalam keadaan demikian, walaupun senjata rahasianya istimewa, caranya menyerang luar biasa, sedikitpun tak ada gunanya.

"Bluk, blukk, blukk. " diiringi suara mendebuk yang ramai, tiga empat puluh macam senjata
rahasia itu sudah menghajar telak ke atas selimut itu.
 
Di atas selimut ada lapisan minyak babi, minyak ayam, minyak itik, ada pula minyak goreng.

Hakekatnya selimut tersebut bagaikan direndam dalam minyak, mana licin, mana mengkilap, keras lagi. Anak panah saja belum tentu bisa menembusi lapisan selimut bercampur minyak itu, apalagi senjata rahasia selembut itu?

Menunggu si Semut merah sadar kalau dia tertipu, belum sempat badannya mundur ke belakang, selimut tersebut seperti selapis awan hitam telah mengurung ke atas kepalanya.

Ong Tiong jarang bergerak, tapi begitu bergerak siapapun tak menyangka kalau gerakan tubuhnya secepat itu.

Si Semut merah baru saja mengendus bau minyak tengik dan aneh, sekujur tubuhnya telah terbungkus didalam selimut tersebut. . .

Seandainya perawakannya agak tinggi besar belum tentu Ong Tiong bisa membungkus tubuhnya dengan selimut, apa mau dikata ia memang terlampau kerdil, begitu sepasang tangan Ong Tiong merangkul, sekujur badannya segera terbungkus dalam selimut bagaikan bak-cang.

Gerakan tubuh Ong-Tiong belum juga berhenti, ia mendengar dari belakang muncul segulung desing angin tajam, tahu-tahu si semut putih telah menerjang tiba dengan kecepatan luar biasa.

Sangat cepatnya Ong-Tiong bergerak, tak mampu menandingi kecepatan si semut putih. Dalam sekejap mata si semut putih telah menyusul tiba.
Tujuan Ong-Tiong memang berharap agar si Semut putih mengejarnya, karena dia tahu tak mungkin baginya untuk menyusul si semut putih.

Menunggu semut putih telah tiba, tiba-tiba ia berhenti berlari, membalikkan badan dan melemparkan bungkusan selimut itu ke depan.

Bungkusan selimut itu berisikan bininya sendiri, sudah barang tentu si semut putih harus menerimanya.

Bungkusan selimut itu satu kali lipat lebih besar dari badannya, bobotnya dua kali lipat, begitu ia menyambut, tubuhnya segera rontok ke tanah.

Waktu itu Ong Tiong telah menyelinap ke belakang punggungnya, sekali menutul tertotoklah jalan darah orang itu.

Si Semut putih menggeletak tak berkutik, otot-otot hijau pada keningnya pada menonjol keluar, dengan mata mendelik ia melotot ke arah musuhnya, sampai biji matapun hampir melompat keluar.

Ong Tiong tidak bergerak lagi, katanya sambil tertawa hambar:

"Kau dikalahkan secara tak memuaskan bukan? Karena kungfu yang kugunakan bukan kungfu asli? Terus terang kuberi tahu, kalau menggunakan kungfu asli berarti itu bukan suatu kepandaian, selamanya aku tak pernah berkelahi dengan menggunakan kungfu asli."

Saking mendongkolnya, hampir saja semut putih muntah darah.

Ong-Tiong memang seperti tak berilmu sama sekali, semua keberhasilannya seakan-akan berhasil diraih dengan mengandalkan kecerdikan otak.
 
Tapi, seandainya ia tidak memiliki kepandaian yang luar biasa, bagaimana mungkin bisa memiliki otak yang begitu cerdas? Kenapa pula ia bisa menggunakan waktu secara tepat? Serangannya kenapa pula begitu mantap dan kuat?

Ini menandakan bukan kungfunya saja yang hebat, otaknya juga sangat hebat.

Yaa, Ong-Tiong memang jarang bergerak, sekali bergerak kehebatannya betul-betul luar biasa.



Sementara itu, si semut emas sudah tak mampu bernapas lancar karena desakan-desakan serta kurungan angin pukulan Kwik-Tay-lok.

Sebaliknya Yan-Jit sedang bermain petak.

Meskipun perawakan Semut perak lebih besar, namun kungfu yang dipelajari adalah kepandaian keras, dengan kepandaian yang bersifat keras, berarti gerak geriknya sudah amat lamban.

Semakin cepat Yan Jit berputar-putar, semakin lamban gerakan tubuhnya.

Tiba-tiba Yan Jit melepaskan topinya dan dikenakan di atas kepalanya, dengan topi yang besar dan kepala yang kecil, serta merta seluruh kepalanya tertutup dibalik topi, apapun tidak terlihat olehnya.

Menggunakan kesempatan itu Yan Jit, menggaet kakinya membuat semut perak itu jatuh tertelungkup.

"Criing...!" ternyata ia menggunakan pakaian berlapis perak yang berat dan kuat, jangan harap tubuhnya bisa merangkak bangun lagi setelah tertangkap di tanah. .

Dia ingin melepaskan topi di atas kepalanya, tapi suatu benda yang berat segera menindih diatasnya, Ternyata pantat Yan Jit telah duduk di atas kepalanya.

"Bangku ini lumayan juga" gumamnya sambil cekikikan, "sayang terlalu kecilan sedikit!"

Bagaimana dengan si Semut emas ? Sedari tadi ia memang sudah susah bernapas, makin gelisah dia, udara makin mengganjal perutnya, lama kelamaan tanpa Kwik Tay-lok mesti turun tangan sendiri, ia sudah roboh tak sadarkan diri dengan mulut berbuih.

Melihat itu, Kwik Tay-lok segera menghela napas, katanya: "Waaah... rupanya orang ini mengidap penyakit ayan, kalau begitu aku telah salah mencari sasaran"

"Sedari tadi aku toh sudah bilang, si Semut putih untukmu, kenapa kau tak mau menurut?" 0ng Tiong menimpali.

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Kau mengucapkan kata-katamu, aku mencari sasaranku, kalau si Semut putih tidak mengejar diriku, mana aku bisa menyusulnya? Kalau ia bersikeras mencarimu, masa aku musti ngotot melulu? Yaaa, apa boleh buat? Terpaksa aku musti mencari Semut emas. Tapi bagaimanapun juga, kepalanku memang lebih besar dari padanya, otomatis tenagaku lebih besar darinya, bicara soal tenaga, hitam di atas putih aku pasti yang bakal menang!"
 
"Aaai. tak kusangka kalau kau pandai juga mencari untung" gumam Ong Liong sambil
menghela napas.

"Aku juga tidak menyangka kalau selimut itu masih ada kegunaan yang begini besar, kalau lain kali ada orang ingin belajar ilmu menyambut senjata rahasia, pasti akan kuanjurkan untuk makan ayam goreng dulu di atas ranjang"

"Jangan makan ayam goreng, suruh makan itik panggang saja, sebab minyak itik lebih tebal"

Tiba-tiba Yan Jit menghela napas panjang katanya pula: "Akupun tidak menyangka bila berjumpa dengan dua orang manusia macam kalian, mungkin nasib sialku sudah makin mendekati akhir."

"Mungkin itu disebabkan kau adalah betul-betul makhluk aneh, bukan si raja pengibul" kata Kwi Tay-lok sambil tertawa.

"Oooh, jadi kalian bersedia membantuku, lantaran aku berbicara sejujurnya?"

"Bukan, karena kau bisa minum arak sambil berjungkir balik!" Kwik Tay-lok membenarkan. Yan Jit segera tertawa.
"Coba kalau tidak melihat kau minum arak sambil berjungkir balik, masa aku bakal mengucapkan kata-kata seperti itu?"

Tiba-tiba ia menghela napas, terusnya: "Padahal masih ada sepatah kata ingin kuucapkan, cuma aku tak tahu sepantasnya ku utarakan atau tidak."

"Apakah kau ingin berterima kasih kepadaku?" tanya Ong Tiong.

Yan Jit kembali menghela napas: "Yaa, atas bantuan semacam ini, aku tak tahu bagaimana musti menyatakan rasa terima kasihku?"

"Jika kau serius ingin berterima kasih kepada kami, ada satu hal bisa kau lakukan" kata Ong Tiong.

"Apa yang musti kulakukan?"

Gotong aku kembali ke atas ranjang, aku sudah malas untuk bergerak lagi!"

* * *

Di dalam pandangan siapapun perkampungan Hok-kui-san-ceng bukan suatu tempat yang menarik, hakekatnya semacam barang yang bisa meninggalkan kesanpun tak punya.

Anehnya, ternyata sikap Yan Jit seperti Kwik Tay-lok, setelah tiba di sana ia enggan untuk pergi lagi.

Hal ini bukan dikarenakan mereka sudah tiada tempat lain yang bisa di datangi lagi, melainkan
. . . . . ."

Melainkan kenapa? Bahkan mereka sendiripun tidak jelas.
 
Ada sementara orang yang diantara mereka seakan-akan mempunyai suatu kekuatan daya tarik menarik yang aneh, bagaikan besi yang bertemu dengan besi sembrani, bila kedua belah pihak saling bertemu, maka masing-masing pihak akan segera terhisap oleh yang lain.

Manusia-manusia semacam ini merasa cukup gembira asal bisa berkumpul, biar tidur di lantai, biar lapar dua malam, bahkan sekalipun dunia bakal rontokpun mereka tak ambil perduli, seakan- akan berlaku prinsip dihati masing-masing bahwa makan tidak makan pokoknya kumpul.

Agaknya di dunia ini tinggal beberapa macam persoalan yang membuat mereka tak tahan, salah satu diantaranya adalah air mata.

Air mata perempuan, terutama air mata seorang perempuan kerdil yang tinggi badannya tak sampai empat jengkal.



Betul si Semut merah kerdil, tapi air matanya tidak kepalang tanggung banyaknya.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok merasa bahwa sedikit banyaknya air mata perempuan, sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan tinggi besarnya badan, semakin ceking tubuh seorang perempuan, kadang kala air matanya justru semakin banyak.

Di dalam banyak hal, perempuan juga memiliki ciri khas seperti itu.

Seperti misalnya semakin gemuk seorang perempuan makannya justru makin sedikit, makin jelek wajahnya makin banyak tingkahnya, makin tua orangnya makin tebal rupanya dan, makin banyak baju yang dimiliki makin tipis yang dikenakan.

"Aaai. perempuan memang sejenis makhluk yang sangat aneh !"

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, tangisan si semut merah yang terus menerus membuat ia hampir tak tahan.

Terpaksa dia hendak angkat kaki.

Tapi Yan Jit tidak membiarkan ia pergi.

Waktu itu Ong Tiong telah berbaring kembali, tidur sambil mendengkur, sekali ia sudah tertidur maka sekalipun ada orang mampus disisinya, ia juga tak ambil perduli.

Yan Jit menarik tangan Kwik Tay-lok dan mencegahnya pergi, ia berkata lirih: "Kalau kau pergi, bagaimana dengan ke empat orang ini ?"

"Toh kau yang mencari kesulitan sendiri, bukan aku !" jawab Kwik Tay-lok segera.

"Tapi kalau kalian tidak membantuku, mana mungkin aku bisa menangkap mereka, kalau mereka tidak kutangkap, mana mungkin aku bisa menghadapi kesulitan seperti ini ?"

Kwik Tay-lok menjadi tertegun.

Yan Jit kuatir penjelasannya kurang dimengerti pemuda itu, ia kembali berkata:

"Bila kalian tak membantuku, aku bakal ditangkap mereka, paling banter juga mati sekali lagi, tapi tiada kesulitan apapun. Tapi sekarang aku tak dapat membunuh mereka, tidak pula melepaskan mereka, coba katakan, apa yang bisa kulakukan ?"
 
Semakin jelas ia berbicara, semakin bingung Kwik Tay-lok dibuatnya.

Tiba-tiba Ong Tiong menongolkan kepalanya dari balik selimut, katanya sambil tertawa: "Aku punya akal bagus !"
"Oooh, kenapa tidak kau katakan sedari tadi ?" kata Yan Jit sambil menghela napas.

"Kau enggan membunuh mereka bukan, tapi enggan pula melepaskan mereka, lebih baik biarkan saja mereka tinggal di sini, kita pelihara mereka sepanjang masa."

"Betul, betul, ini memang ide yang bagus", saru Kwik Tay-lok segera sambil berkeplok tangan dan tertawa terbahak-bahak, "bagaimanapun juga, mereka toh kerdil dan kecil, pasti tidak banyak yang mereka makan."

Si Semut merah segera berhenti menangis, katanya: "Yaa, memang sedikit yang kumakan, setiap hari aku cuma makan dua butir mutiara yang ditumbuk menjadi bubuk, ditambah sedikit ikan laut dan beberapa tetes madu, kalau tak ada madu, Ha-an-kwa juga boleh !"

Yan Jit berdiri di situ dengan wajah tanpa emosi sedikitpun juga, gumamnya seorang diri: "Bubuk mutiara sebagai nasi? Ikan segar, madu ? Itu mah tidak susah !"
Tiba-tiba ia membalikkan badan dan pergi dari situ. "Hey, mau kemana kau ?" tegur Kwik Tay-lok.
"Mencari peti mati yang dibawa si Semut dan berbaring didalamnya, lalu mencari orang untuk menguburnya ke dalam tanah, aku rasa tindakanku ini paling tidak jauh lebih gampang daripada harus mencari mutiara dan madu setiap hari"

"Waah, kalau begitu demi menyelamatkan jiwamu, terpaksa aku musti melepaskan mereka pergi" kata Kwik Tay-lok sambil menghela napas, "paling tidak cara ini jauh lebih gampang dari pada mencari seorang lain yang bisa minum arak sambil berjungkir balik."

Dimulut dia berbicara, tangannya telah bekerja untuk membebaskan jalan darah dari semut- semut itu.

Sewaktu datang mereka datang cepat, sewaktu pergi merekapun pergi dengan tak kalah cepatnya.

Setelah bayangan tubuh mereka lenyap dari pandangan ketiga orang itu baru sama-sama berpaling dan saling berpandangan.

"Bukankah sedari tadi sudah berhasrat untuk melepaskan mereka pergi?" kata Kwik Tay-lok kemudian.

"O, ya ?"

"Tapi, kau kurang enak untuk mengutarakannya kepada kami, sebab kami berdua juga ikut keluar tenaga, bila mereka melepaskan dengan begitu saja, kau takut kami tidak puas bukan? Padahal. "

"Padahal sedari tadi kau sendiripun sudah berhasrat untuk melepaskan mereka?" sambung Yan Jit cepat.
 
Ketiga orang itu kembali saling berpandangan, lalu bersama tertawa tergelak.

"Kelihatannya melepaskan orang bukan cuma lebih gampang daripada membunuh orang, bahkan jauh lebih gampang daripada membunuh orang, bahkan jauh lebih menggembirakan" kata Kwik Tay-lok sambil tertawa.

"Benar, bila kita membunuh mereka, sekarang hati kita tak akan seriang ini !"

"Tapi kalau kita telah melepaskan mereka, dan mereka mencelakai orang lagi, itu baru suatu kejadian yang tidak menyenangkan!" Ong Tiong menyambung.
Kwik Tay-lok menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya dengan suara lantang: "Tidak mungkin, aku lihat mereka bukan orang yang terlalu jahat. Sekalipun dimasa lalu
pernah berbuat kurang baik, di kemudian hari pasti mereka dapat berubah sifat jahatnya itu!"

Tiba-tiba ia mengedipkan matanya, lalu sambil merendahkan suaranya berbisik:

"Sekalipun mereka betul-betul jahat, setelah mendengar perkataanku ini bagaimanapun tentu akan tak enak hati untuk berbuat jahat lagi"

"Kau kira mereka bisa mendengarkan perkataanmu itu?" Yan Jit.



"Tentu saja mendengar" kata Ong Tiong, "ia berteriak begitu keras, orang tuli yang berada sepuluh li dari sini pun bisa terdengar suaranya, apalagi telinganya belum tuli!"

"Betul" kata Kwik Toy-lok sambil tertawa, "teriakanku memang selamanya nyaring, dulu malah ada orang yang mengatakan aku punya suara emas, nanti kalau hatiku lagi senang pasti akan kubawakan dua buah lagu yang merdu untuk kalian dengar."

Ong Tiong segera menghela napas panjang, katanya: "Andaikata kau ingin menyanyi, lebih baik tunggu sampai aku tertidur lebih dulu?"

Sambil masukkan kepalanya ke balik selimut, ia menambahkan: "Asal aku sudah tertidur, sekalipun kau menjerit sampai rumah ini ikut bergetar, aku juga tak akan mendusin !"

Mereka memang merupakan manusia-manusia seperti itu, cara kerja mereka memang selalu istimewa.

Ada kalanya cara kerja mereka betul, ada kalanya merekapun bisa salah melakukan pekerjaan.

Tapi, bagaimanapun juga perbuatan mereka tak pernah membawa anyir darah, tak pernah memuakkan orang.

Perbuatan yang mereka lakukan, bukan cuma membuat diri sendiri gembira, orang lain pun ikut merasa gembira.

Dalam satu bulan, Yan Jit pasti akan ngeloyor pergi sampai dua tiga kali, siapapun tak tahu kemana ia pergi, lebih-lebih tak tahu apa yang telah dilakukan olehnya.

Tapi, setiap pulang dari berpergian, ia selalu pulang dengan membawa satu dua macam barang yang aneh-aneh.
 
Kadangkala dia pulang membawa sepasang sepatu baru, atau sapu tangan bersulam bunga, kadangkala juga membawa Ang-sio-bak atau arak beras ketan.

Malah kadangkala ia membawa pulang seekor kucing, seekor burung gereja, atau beberapa ekor ikan hidup.

Tapi, bagaimanapun juga, tak sebuahpun yang bisa menangkap keanehan dari barang yang dia bawa pulang kali ini.

Ternyata kali ini dia pulang membawa seorang manusia.

Orang itu bernama Lim Tay-peng, tapi semenjak kedatangannya, tak seorangpun diantara mereka bisa hidup dengan Tay-peng (aman).

Ada sementara orang gemar dengan musim dingin, karena dimusim dingin mereka dapat menikmati putihnya salju, menikmati indahnya bunga bwe (sakura), bisa bersantap Hwee-lo yang panas, bersembunyi dibalik selimut yang tebal sambil membaca buku porno, atau tidur dengan nyenyak.

Perbuatan-perbuatan semacam ini tak mungkin bisa dinikmati di musim panas yang gerah.

Orang yang suka dengan musim dingin tentu saja bukan orang-orang miskin, musim dingin adalah musim yang paling menyiksa bagi orang miskin, setiap orang miskin selalu berharap musim salju datang lebih lambat, atau paling baik kalau tak akan datang untuk selamanya.

Sayang musim dingin bagi orang miskin selalu datangnya kelewat awal...

Salju yang melapisi permukaan halaman perkampungan Hok-kui-san-ceng sama putihnya dengan tempat lain, bahkan ada pula beberapa batang pohon bwe yang tumbuh dengan indahnya di sana.

Tapi, jika pakaian yang dikenakan seseorang masih berisi bakmi semangkuk yang dimakan semalam, maka satu-satunya hal yang sedang menarik hatinya pada saat ini adalah makanan yang bisa mengganjal perut, bukan salju yang putih atau bunga bwe yang indah.

Dengan termangu-mangu Kwik Tay-lok mengawasi bunga bwe dan salju yang putih didalam halaman, lalu bergumam:

"Kalau bunga bwe ini bisa berubah menjadi lombok, tentu lebih bagus lagi!" "Apakah yang bagus?" kata Ong Tiong.
"Coba kau lihat, salju yang melapisi permukaan tanah bukankah mirip tepung beras? Kalau diberi beberapa batang lombok merah, tentu bisa dibuat semangkuk bubur pedas yang hangat."

Ong Tiong segera menghela napas, katanya:

"Kau betul-betul seorang yang tak tahu seni, andaikata Lim Hu mendengarkan perkataanmu itu, dia tentu akan mati karena mendongkol!" .

"Siapakah Lim Hu itu?"

"Masa Lim Hu pun tak pernah kau dengar"
 
"Aku cuma pernah mendengar ada Bak-Hu (daging kering) misalnya daging babi kering (Ti- bak-hu) daging sapi kering (Gou-bak-hu) serta daging menjangan kering (Lu-bak-hu), kalau dibuat teman arak tentu lezat sekali"

"Lim Hu adalah Lim Kun-hu, atau Lim Ho cing, dia adalah seorang seniman dari ahala Song yang tinggal dibukit Hu-san di telaga See ou, konon selama dua puluh tahun tak pernah turun gunung barang selangkahpun, kecuali menanam bunga bwe dan memelihara burung bangau, pekerjaan apapun tak pernah ia lakukan sehingga ia dikenal orang beristri bunga bwe beranak bangau, syair ciptaannya tersohor sampai dimana-mana!"

"Oooh, kalau begitu, Lim sianseng ini adalah seorang seniman yang luar biasa!" kata Kwik Tay-lok cepat.

"Yaa, dia memang seorang seniman yang luar biasa !"

"Tapi seandainya ia lagi kelaparan seperti aku sekarang, mungkinkah masih disebut luar biasa?"

Ong Tiong berpikir sebentar, tiba-tiba katanya sambil tertawa: "Setelah berada dalam keadaan begini, aku pikir besar kemungkinan kau lebih berseni darinya"

Kwik Tay-lok ikut tertawa tergelak.

Tiba-tiba ia merasakan, dikala seorang sedang kelaparan ataupun kedinginan, bila tertawa maka tubuhnya akan terasa jauh lebih nyaman.



Pada saat itulah, tiba-tiba Ong Tiong melompat bangun dari ranjangnya, kemudian berteriak: "Teringat akan Lim Ho-cing, aku menjadi teringat pula akan suatu hal !".
Bila Ong Tiong yang malas bisa sampai melompat bangun, tak bisa disangsikan lagi masalahnya tentu luar biasa.

Tak tahan Kwik Tay-lok lantas bertanya: "Apa yang kau ingat? Apakah ingin mempersunting bunga Bwe sebagai binimu?"

"Bukan bini yang kumaksudkan, arak . . "

"Arak?" bisik Kwik Tay-lok dengan mata terbelalak, "dari mana datangnya arak ?" "Dibawah pohon bunga bwe itu !"
Kwik Tay-lok sagera tertawa getir.

"Menganggap bunga bwe sebagai bini sudah cukup gila, tak nyana kau lebih gila lagi" Namun di bawah pohon bwe itu benar-benar tertanam seguci arak.
"Arak ini kupendam pada belasan tahun berselang" tutur Ong Tiong, "waktu itu kebetulan aku sedang mendengarkan cerita tentang Lim Ho-cing, aku ikut jatuh cinta kepada bunga Bwe, maka kupendam seguci arak dibawah pohon bwe agar ikut kecipratan bau harum bunga bwe."

Dimanapun kau tanam bila sudah belasan tahun lamanya, arak tentu harum baunya.
 
Kwik Tay-lok segera menghancurkan penutup yang menyegel guci itu, lalu sambil pejamkan mata dan menarik napas panjang, katanya seraya menghela napas:

"Ehmm... bukan wangi saja, baunya bahkan seperti bau dewa!"

"Nah, makanya kau musti berterima kasih kepada Lim sianseng" kata Ong Tiong sambil tertawa, "coba kalau bukan lantaran dia, tak nanti ku pendam seguci arak di situ, kalau bukan lantaran dia, akupun lupa kalau ada seguci arak telah kupendam disana."

Kwik Tay-lok tak ada waktu untuk berbicara lagi, dimana arak untuk diminum, mulutnya selalu repot dan tak mampu melakukan pekerjaan lainnya.

Ia sudah mengangkat guci arak itu siap diminum.

"Heeh.... heeh... nanti dulu!" Ong Tiong menarik tangannya. "Harus menunggu apa lagi?"
"Yan Jit sudah pergi selama dua hari, kalau dihitung-hitung ia sudah hampir pulang, paling tidak kita harus menunggu sampai kedatangannya. "

"Harus menunggu berapa lama? Ketika ia pulang nanti, siapa tahu kita sudah mampus kedinginan."

Ternyata mereka tak usah menunggu terlalu lama.

Suara Yan Jit telah kedengaran dari luar tembok rumah: "Kalau kalian mau mampus, lebih baik cepat-cepat mampus, jadi seguci arak itu bisa kunikmati seorang diri."

Sambil tertawa Ong Tiong segera berkata: "Agaknya orang ini bukan telinganya saja yang panjang, hidungnyapun juga panjang, aku sedari tadi sudah tahu, asal mendengus bau harumnya arak, ia pasti bisa cepat cepat pulang."

Kwik Tay-lok ikut tertawa, sambungnya: "Entah si hidung panjang ini membawa apa buat kita minum arak?"

"Teman arak sih tidak kubawa, tapi teman minum arak mah ada satu!"

Lim Tay-peng memang seorang yang pandai minum arak. Siapapun yang pernah bertemu dengannya, tak akan percaya kalau ia bisa minum arak sebanyak itu.

Ketika untuk pertama kalinya Kwik Tay-lok melihat orang itu, ia lebih tak percaya lagi.

Lim Tay-peng adalah seorang yang berwajah bagus, lemah lembut dan mempersona hati. Kalau dibilang Yan Jit mirip seorang gadis, maka dia hakekatnya seperti seorang gadis yang menyaru seperti pria.

Bibirnya kecil sekali, sekalipun diibaratkan bibir yang kecil mungil juga tidak keterlaluan.

Ketika Kwik Tay-lok melihat untuk pertama kalinya, bibir yang mungil itu terkatup rapat, warna bibirnya hijau pucat, dia harus menggunakan tenaga yang besar baru bisa membuka mulutnya serta meloloh secawan arak ke dalam perutnya.

Ia sudah kedinginan setengah hari, iapun kelaparan hingga tinggal segulung napas yang lirih.
 
Mimpipun Kwik Tay-lok tidak mengira kalau didunia masih terdapat orang yang lebih kedinginan, lebih kelaparan daripadanya, sambil tertawa getir ujarnya:

"Darimana kau dapatkan manusia ini ?" "Di tengah jalan !" jawab Yan Jit.
Kwik Tay-lok kembali menghela napas, gumamnya:

"Pertama kali kau membawa pulang seekor kucing dari tengah jalan, kedua kalinya membawa pulang seekor anjing, sekarang membawa pulang seorang manusia, Waah, kalau, begini terus- menerus, bisa jadi lain kau akan membawa pulang seekor kingkong."

"Yaa, lebih baik lagi kalau kingkong itu kingkong betina, jadi bisa dijodohkan dengan kau" seru Ong Tiong sambil tertawa.

Kwik Tay-lok tidak marah, malah sambil tertawa terkekeh sambungnya pula:

"Lebih celaka lagi kalau dia membawa monyet betina. Bukankah aku musti memanggil enso Ong kepadanya?"

Perawakan tubuhnya tinggi besar, paling tidak lebih tinggi satu kepala dibandingkan Ong Tiong, selamanya hal ini merupakan kebanggaan baginya.

Jika ada orang menggodanya dengan hal tersebut, bukan saja dia tidak marah, bahkan malah agak bangga.

Ia selalu beranggapan, perawakan semacam ini barulah merupakan perawakan yang ideal bagi seorang lelaki sejati.

Yan Jit telah mendapatkan sebuah mangkuk gumpil, dengan mangkuk itu dia penuhi separuh cawan arak, lalu melolohnya ke dalam mulut Lim Tay-peng.

Setelah diloloh dua mangkuk, paras mukanya yang pucat pias pelan-pelan baru nampak berwarna merah, tapi matanya masih terpejam, ketika sisa arak dimulut telah ditelan, ia baru berkata:



"Ehm... sedaap ! Inilah arak Tiok-yap-cing yang telah berusia tiga puluh tahun" Itulah kata-kata pertama dari Lim Tay peng.
Ong Tiong tertawa, Kwik Tay-lok juga tertawa, dengan dasar ucapan tersebut, mereka telah menganggap Lim Tay-peng sebagai sahabatnya.

"Tak kusangka sahabat inipun seorang ahli dalam minum arak" kata Kwik Tay lok sambil tertawa.

Pelan-pelan Lim Tay-peng membuka matanya, ketika melihat mangkuk gumpil di tangan Yan Jit, ia segera mengerutkan dahinya, lalu berseru: "Kalian minum arak dengan menggunakan mangkuk itu?"

Nada suaranya seperti ia melihat ada orang makan nasi dengan hidung, memegang sumpit dengan kaki, Kalau tidak dengan mangkuk, lantas harus diminum dengan apa?"
 
"Kalau ingin minum Tiok-yap-cing harus minum dengan cawan kemala hijau, kalau minum dengan mangkuk semacam itu, sama halnya dengan membuang percuma seguci arak bagus"

"Aku lihat kau gunakan saja apa adanya" ujar Kwik Tay-lok lagi sambil tertawa, "asal kau pejamkan mata, mau pakai mangkuk gumpil atau cawan kemala toh sama saja!"

Lim Tay-peng berpikir sebentar, kemudian menjawab:

"Benar juga perkataan itu, tapi aku lebih suka minum langsung dari gucinya."

Guci arak itu berada dihadapannya, ia betul-betul mengambilnya dan meneguk langsung dari guci.

Kwik Tay-lok mengawasinya dari samping dengan mata terbelalak, mulut melongo.

Ketika separuh guci arak itu sudah masuk perut, Lim Tay-peng baru menyeka mulutnya sambil berkata:

"Arak bagus, arak bagus, tapi mana sayurnya. ? Masa kalian minum arak tanpa ditemani
sayur atau masakan lain?"

"Nah, itu menandakan kalau kau kurang mengerti soal seni minum arak" kata Kwik Tay lok tertawa, "orang yang benar-benar minum arak hanya akan minum arak, tak perlu makan sayur atau masakan yang lain."

Lim Tay-peng berpikir sejenak, kemudian sahutnya: "Ehm, betul juga perkataan itu!"

Kembali ia mengangkat guci arak dan meneguk habis sisa setengah guci arak yang masih ada.

Bila seguci arak telah dipendam selama belasan tahun, selain araknya akan bertambah keras, biasanya isi arak itu tinggal separuh guci, tapi keras alkoholnya dua kali lipat dari keadaan biasa.

Namun paras muka Lim Tay-peng tetap tenang, seolah-olah tidak terpengaruh sama sekali, malah katanya:

"Masih adakah arak semacam ini?"

Kwik Tay-lok segera tertawa getir, sahutnya:

"Maaf, arak itu bukan cuma seluruh rangsum kami bertiga hari ini, arak itupun merupakan seluruh harta yang kami miliki."

Lim Tay-peng tertegun, kemudian bertanya: "Apakah kalian hanya minum arak, tak pernah makan nasi?"

"Jarang sekali!"

Mendengar itu Lim Tay-peng menghela napas panjang:

"Aaai. kalau begitu kalian benar-benar setan arak, ketahuilah minum arak melulu hanya
merusak perut, sedikit banyak kalian musti makan nasi sedikit."

Tiba-tiba ia menggeliat, lalu sambil memandang sekeliling tempat itu tanyanya:
 
"Biasanya kalian tidur diatas ranjang itu." "Ehmm!" Ong Tiong mengiakan.
"Masa ranjang itu bisa ditiduri?"

"Paling tidak lebih nyaman daripada tidur ditepi jalan!"
Lim Tay-peng kembali berpikir setengah harian lamanya, kemudian sambil tertawa ia berkata: "Masuk diakal juga perkataanmu itu, agaknya semua perkataan kalian sangat masuk diakal,
tampaknya aku memang pantas untuk bersahabat dengan kalian!"

"Terima kasih, terima kasih, tak usah sungkan-sungkan, tak usah sungkan-sungkan!"

"Tapi sekarang aku ingin tidur, sewaktu tidur aku paling tak suka kalau dibangunkan orang, lebih baik kalian bermain-main dulu diluar!"

Setelah menguap ia berbaring diatas ranjang, kemudian tak selang beberapa saat tertidur pulas.
Kwik Tay-lok mengawasi Ong Tiong sekejap, lalu katanya sambil tertawa getir. "Tampaknya ia bukan cuma lebih baik dalam soal arak, kepandaiannya untuk tidurpun jauh
lebih hebat dari padamu!"

Yan Jit memandang sekejap guci yang telah kosong lalu tertegun setengah harian, setelah itu gumamnya:

"Yang kubawa pulang sebetulnya manusia? Atau seekor kuda?"

"Sekalipun kuda, tak mungkin akan minum arak sebanyak itu" sambung Kwik Tay-lok sambil menghela napas.

"Kenapa kau tidak menyuruh ia minum rada sedikit ?"

"Sebab meskipun aku miskin, paling tidak aku bukan seorang yang pelit !" "Aku merasa orang ini sangat menarik hati" tiba-tiba Ong Tiong berkata. "Benar!"
"Selembar nyawa ditolong olehmu, ia menghabiskan pula ransum kita untuk hari ini, lalu mengangkangi pula satu-satunya pembaringan yang ada disini. Tapi bukan saja ia tidak berterima kasih kepada kita, malahan tanpa basa-basi menyatakan hendak bersahabat dengan kita, ia sangat memberi muka kepada kita bertiga."

Setelah tertawa, terusnya:



"Coba katakan, kita harus pergi kemana untuk menemukan manusia kedua macam dia?" Sebab itulah, Lim Tay-peng juga tinggal disana.
 
Oleh sebab itu, jika kau menyinggung soal perkampungan Hok-kui-san-ceng dalam dunia persilatan, maka yang dimaksudkan bukan suatu gedung dekat tanah pekuburan, sebuah rumah tanpa asap dapur atau sebuah rumah kosong yang kadangkala cahaya lampu pun tak nampak.

Bila kau singgung soal Hok-kui-sen-ceng, orang persilatan akan mengerti bahwa yang kau maksudkan adalah suatu kelompok manusia yang aneh, sebuah gedung besar dengan empat penghuni yang eksentrik.

Dalam hubungan diantara teman, mereka seperti mempunyai suatu perjanjian yang tak tertulis, yaitu diantara mereka tak pernah saling menanyakan kejadian di masa lalu, merekapun tak pernah membicarakan masa lalu kepada yang lain.

Tapi malam setelah Yan Jit membawa datang Lim Tay-peng, Kwik Tay-lok telah melanggar peraturan tersebut.

Malam itu, salju sudah mulai mencair.

Lim Tay-peng masih tertidur nyenyak, tentu saja Ong Tiong tidak mau menunjukkan kelemahannya, terpaksa Kwik Tay-lok mengajak Yan Jit untuk turun gunung "berburu"

Yang dimaksudkan berburu disini adalah mencari kesempatan untuk mencari uang. Ternyata tiada kesempatan.
Saat-saat dimana salju mencair ternyata jauh lebih dingin dari pada sewaktu turun salju, setelah kenyang naik tempat tidur adalah cara yang paling pintar untuk menghadapi hawa dingin, ditengah jalan hampir tiada manusia yang berlalu lalang.

Keadaan Kwik Tay-lok dan Yan Jit waktu itu seperti dua ekor kelinci liar yang tersesat, dengan langkah yang gontai mereka berjalan diantara tanah berlumpur yang kotor.

Sepanjang jalan, Kwik Tay-lok mengawasi terus sepatu yang dikenakan Yan Jit. . Sampai akhirnya, ia merasa tak tahan untuk menunggu lebih jauh, tiba-tiba tegurnya: "Sepatumu sudah beralas baru ?"
"Ehmm !"

"Aku tak pernah bertanya kepadamu kenapa sepasang sol sepatumu bisa laku ribuan tahil perak bukan ?"

"Benar !"

"Akupun tak pernah bertanya padamu kenapa pernah mati sebanyak tujuh kali bukan?" "Kau memangnya tak pernah bertanya."
"Bila aku bertanya, bersediakah kau untuk menjelaskan?" tanya Kwik Tay-lok penuh harapan.

"Mungkin bersedia. tapi aku tahu, kau tak akan bertanya kepadaku karena akupun tak
pernah bertanya apa-apa padamu."

Kwik Tay-lok menarik muka sekuat tenaga ia menggigit bibir sendiri untuk menahan diri.
 
Tiba-tiba Yan Jit berkata pula:

"Menurut pendapatmu, Lim Tay-peng adalah seorang manusia macam apa?" "Aku tidak tahu, akupun tak ingin tahu" jawab Kwik Tay-lok sambil menarik muka. Melihat itu, Yin Jit segera tertawa.
"Tentu saja aku tak bakal bertanya kepadanya, tapi menduga-duga sendirikan tidak mengapa." "Aku malas untuk menduga."
Yan Jit segera menghela napas.

"Tapi aku berhasil menduga sedikit tentang dirinya, mungkin dikala seseorang sedang kelaparan, tak urung akan timbul juga berbagai macam pikiran"

Kwik Tay-lok membungkam setengah harian lamanya, tapi lama kelamaan dia tak tahan juga, tanyanya:

"Apa yang berhasil kau duga?"

"Aku tebak dia pasti keturunan seorang yang kaya raya, oleh sebab itu lagaknya baru begitu besar."

"Kalau dia memang anak orang kaya, kenapa bisa setengah mati ditengah jalan karena kelaparan?"

"Mungkin disebabkan suatu masalah, terpaksa ia harus kabur dari rumah. Pakaiannya sangat tipis, ini menandakan kalau dia datang dari tempat yang hangat. Dalam sakunya, ia tidak membawa apa-apa, ini menandakan sewaktu pergi ia amat tergesa-gesa, kemungkinan besar ia keluar rumah karena harus melarikan diri."

"Tak kusangka kau begitu teliti."

Yan Jit tertawa, kembali ujarnya : "Bila seseorang harus menahan lapar dalam cuaca begini dingin, dia pasti tak akan tahan terlalu lama."

"Yaa, paling banter juga hanya dua-tiga hari" Kwik Tay-lok mengangguk sambil menghela napas.

"Kalau kau saja cuma bertahan tiga hari, dia paling banter cuma bisa bertahan sehari setengah."

"Betul" Kwik Tay-lok kembali tertawa, "aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, sedang dia adalah seorang toa-sauya yang sudah terbiasa dimanja oleh keadaan."

"Dalam cuaca begini dingin, dalam sehari setengah tak mungkin orang bisa melakukan perjalanan terlalu jauh"

"Maksudmu, dia datang dari sekitar wilayah ini?" "Ehmm!"
"Apakah disekitar tempat ini terdapat keluarga-keluarga kaya?"
 
"Tidak berapa banyak, keluarga persilatan lebih sedikit lagi."

"Kenapa harus dari keluarga persilatan? Apakah manusia yang lemah lembut semacam dia juga pandai bersilat?"

"Bukan cuma pandai bersilat, bahkan kungfunya tidak termasuk lemah!" "Dari mana kau bisa tahu?"


"Aku dapat melihatnya sendiri!"

Tidak menunggu Kwik Tay-lok bertanya lagi, ia menyambung lebih jauh:

"Menurut apa yang kuketahui, keluarga persilatan yang tinggal disekitar tempat ini cuma ada dua."

"Apakah diantara mereka ada yang she Lim ?"

"Kedua keluarga itu sama-sama tidak she Lim, Lim Tay-peng belum tentu she Lim, kalau dia memang berniat melarikan diri, masa nama aslinya yang akan diberitahukan kepada orang?"

"Dua keluarga yang manakah yang kau ketahui ?".

"Yang satu dari keluarga Him, kepala kampungnya bernama Tho-li-boan-thian-hee (nama harum diseluruh bumi) Him Sut-jin, dia adalah seorang jagoan yang lihay, meskipun nama harumnya sampai dimana-mana sayang hidupnya sebatang kara, bukan saja tiada keluarga, anak binipun tak punya."

"Sedang yang lain."

"Masih ada lagi dari keluarga Bwee, meskipun ia mempunyai seorang putra dan putri, tapi putranya "Sik-jin" (manusia batu) Bwe Ji-ka sudah lama termashur dalam dunia persilatan, usianya jauh lebih tua dari Lim Tay peng."

"Kenapa ia disebut orang sebagai Sik-jin (manusia batu)?"

"Konon kungfu aliran keluarganya sangat istimewa, senjata tajam maupun senjata rahasianya terbuat dari batu maka ayahnya di sebut Sik-sin (dewa batu) sedang dia sendiri bernama Sik-jin (manusia batu)."

Tiba-tiba Kwik Tay-lok tertawa, sambungnya, "Kalau dia beranak besok, mau dinamakan apa?
Mungkin tidak dinamakan Sik-kau (anjing batu)?"

Tempat ini adalah sebuah kota kecil diatas bukit yang sepi dan terpencil, jalanan dalam kota amat sempit, lagipula agak berliku-liku.

Bangunan rumah di kedua belah sisi jalan sangat bersahaja. Walaupun sekarang belum mendekati tengah malam, tapi kebanyakan lentera dalam rumah telah padam, para pedagang pun kebanyakan sudah menutup toko dan naik tempat tidur.

Sekalipun ada satu dua rumah masih bersinar lentera, namun sinar tersebut redup sekali. Kwik Tay-lok menghela napas panjang, keluhnya:
 
"Tempat ini benar-benar merupakan tempat yang miskin, bila terlalu lama orang mengendon disini, bukan saja makin lama semakin miskin, makin lama orang juga bisa semakin malas"

"Kau keliru, aku justru suka dengan semacam ini" "O, ya . . . ?"
"Entah kemanapun aku pergi, hatiku selalu merasa tegang, hanya disini aku merasa begini bebas, begitu merdeka tanpa dibebani oleh syak wasangka . . ."

"Yaa, karena orang-orang disini sedemikian miskinnya sampai untuk mengurusi diri sendiripun tak mampu, oleh sebab itu mereka tak punya waktu untuk mencampuri urusan orang lain."

"Kau lagi-lagi keliru besar, jangan kau anggap orang-orang disini miskin semua" "Kalau dibandingkan kita mah mereka tidak miskin" ujar Kwik Tay-loh sambil tertawa.
"Kau melihat orang-orang disini pada miskin, karena mereka tak mau memamerkan kekayaan sendiri" tukas Yan Jit, "misalnya saja tauke pegadaian yang menjadi langganan Ong Tiong, dia bukan saja tidak miskin, jelas memiliki asal usul yang luar biasa."

"Asal usul apa? Menurut pendapatku, dulunya kalau dia bukan seorang perampok kenamaan tentu seorang jago persilatan yang tersohor. Entah karena menghindari pennbalasan dendam, entah sudah jemu dengan kehidupan dunia persilatan, maka ia pindah kesini untuk hidup tenteram sebagai seorang rakyat biasa."

Setelah berhenti sejenak, terusnya: "Manusia semacam ini masih banyak ditempat ini, misalnya kalau aku sudah pensiun nanti, aku pun akan pindah kemari. Jadi kalau begitu, tempat ini adalah sarang naga gua harimau?"

"Tepat sekali"

"Kenapa aku tidak merasakan?"

"Bila seseorang pernah mati tujuh kali, otomatis pandangannya lebih tajam daripada orang lain" kata Yan Jit sambil tertawa.

"Tapi kau toh tidak berhasil untuk menebak asal-usul Lim Tay-peng, kalau dia memang bukan putra keluarga Bwe, juga bukan keturunan keluarga Him, bukankah pembicaraanmu selama setengah harian cuma kata-kata yang percuma?"

Yan Jit termenung sampai lama sekali, tiba-tiba ia berkata:

"Kau pernah mendengar tentang Liok-sang-liong-ong (raja naga di atas daratan)?"

Kwik Tay-lok segera tertawa: "Hanya orang tuli yang tak pernah mendengar nama orang itu, sekalipun pengalamanku picik, paling tidak aku bukan orang tuli

"Konon Liok-sang-liong-ong mempunyai sebuah villa disekitar tempat ini." "Jadi kau menaruh curiga kalau Lim Tay-peng adalah anaknya." "Kemungkinan begitu"
"Tidak mungkin, hal ini jelas tidak mungkin."
 
"Kenapa?"

"Setiap orang persilatan tahu kalau Liok-sang-liong-ong adalah seorang lelaki sejati, mana mungkin bisa mempunyai seorang putra macam nona cilik?"

"Apakah dia seorang lelaki sejati atau bukan tak bisa ditentukan hanya melihat dari luarnya saja" kata Yan Jit dingin.

Kwik Tay-lok memandang sekejap kearahnya kemudian sambil tertawa menyahut: "Tentu saja tak bisa, cuma. "

Tiba-tiba ia membungkam, sekujur tubuhnya seakan-akan menjadi kaku secara mendadak, ia tertegun macam orang bodoh.

Jalanan itu sebenarnya sudah tiada yang lewat, tapi saat itulah dengan lemah gemulai muncul sesosok manusia.



Begitu bertemu dengan orang itu, sepasang mata Kwik Tay-lok langsung melotot keluar.

Orang yang bisa membuat mata Kwik Tay-lok melotot keluar tentu saja seorang gadis, seorang gadis yang cantik jelita.

Gadis itu bukan cuma cantik boleh dibilang cantiknya luar biasa.

Betul baju yang dipakai sangat kasar dan sederhana, tapi bahan apapun yang dipakai sebagai pakaian tiba-tiba berubah menjadi menawan, belum pernah Kwik Tay-lok menjumpai gadis perawakan yang begini menawan hati.

Gadis itu membawa dua buah keranjang besar, siapapun yang membawa dua buah keranjang sebesar itu sewaktu jalan langkahnya pasti akan macam kepiting yang merangkak.

Tapi gayanya sewaktu jalan amat cantik dan indah, cukup membuat biji mata orang hampir melompat keluar, seandainya ia tidak membawa keranjang, mungkin sedari tadi biji mata Kwik Tay-lok sudah melompat keluar.

Sesungguhnya gadis itu tidak memperhatikan mereka berdua tapi ketika matanya menangkap sikap Kwik Tay-lok macam orang yang kehilangan sukma, tak tahan lagi ia segera menutupi bibirnya dan tertawa cekikikan.

Jantung Kwik Tay-lok segera merasa melompat-lompat dengan kerasnya, sampai gadis itu sudah lenyap ditikungan jalan sana, ia masih berdiri ditempat dengan termangu-mangu.

Entah lewat berapa saat lagi, ia baru menghela napas panjang, segera gumamnya. "Yaaa, betul, betul, tempat ini memang betul-betul sarang naga gua harimau. "
"Aaah, keliru besar" goda Yan lit sambil tertawa, "bukan sarang naga, yang betul adalah sarang burung hong."

"Betul ! Betul ! Betul sekali. Orang kuno bilang, setiap sepuluh langkah tentu ada gadis cantik, perkataan ini memang tepat sekali"
 
Kemudian sambil membusungkan dada ia berkata lagi: "Coba kau lihat, bagaimana tampangku?"
Dari atas sampai ke bawah Yan Jit memperhatikannya beberapa kejap, kemudian menjawab: "Lumayan juga, perawakanmu tinggi besar, matamu besar, hidungmu mancung, senyumanmu
simpatik, memang pantas untuk menjadi buaya darat. !"

"Seandainya kau seorang gadis, apakah kau tertarik padaku?" "Mungkin. " jawab Yan Jit sambil tertawa geli.
Tiba-tiba Kwik Tay-lok merasa senyuman rekannya bukan cuma genit, lagi pula mirip seorang gadis, maka tak tahan serunya sambil tertawa:

"Jika kau seorang gadis, mungkin tiada lelaki didunia ini yang bakal tahan." "Gadis yang bisa tahan menghadapi kau juga tidak seberapa." balas Yan Jit.
"Kenapa? Barusan kau toh masih memuji tampangku ganteng, badanku gagah hidungku mancung, senyumanku simpatik ?"

"Tapi kau jorok, malas dan tak bisa dipercaya, perempuan paling benci dengan laki-laki macam begitu."

"Yaa, itulah dikarenakan kau bukan gadis, padahal setiap gadis suka dengan tampang seperti aku ini, sebab tampang macam beginilah baru bisa disebut tampang seorang lelaki."

Yan Jit seperti mau tumpah setelah mendengar perkataan itu, sambil termuram kecut serunya: "Jadi kau mengira gadis tadi tertarik kepadamu ?"
"Tentu, kalau tidak kenapa ia tertawa kepadaku ?"

"Senyuman gadis ada banyak ragamnya" Yan Jit menerangkan sambil tertawa geli, "sewaktu mereka menjumpai seorang yang bertampang blo'on atau tolol, mereka akan tertawa, sewaktu melihat seorang yang bertampang seperti katak budukan atau bercongor seperti babi, merekapun akan tertawa."

"Oooohhhh, jadi kau anggap tampangku seperti. "

Saking marahnya hampir saja Kwik Tay-lok berteriak keras, tapi tiba-tiba ia membungkam, sebab gadis tadi telah muncul kembali dari balik tikungan sana.

Keranjang yang sebenarnya kosong, tapi kini sudah penuh berisi barang, maka ia kelihatan seperti kepayahan, macam jalanan penuh lumpur lagi, ini membuat kakinya terpeleset dan tubuhnya terjerembab ke depan, keranjang yang berada ditangannya juga ikut terbang.

Untung ia berjumpa dengan Kwik Tay-lok serta Yan Jit.

Reaksi Yan Jit selamanya memang cepat, reaksi Kwik Tay-lok juga tidak terhitung lambat, baru saja kakinya terpeleset, secepat anak panah mereka sudah menyusup ke depan.

Belum lagi keranjang itu terjatuh ke tanah Yan Jit telah menyambutnya, belum lagi gadis itu terjerembab memcium tanah, Kwik Tay-lok telah merangkul pinggangnya.
 
Dengan napas terengah-engah gadis itu bersandar di tubuh Kwik Tay-lok, sampai setengah harian kemudian ia baru bisa menenangkan kembali hatinya, tapi ketika melihat ada seorang lelaki asing sedang merangkulnya, kontan merasa paras mukanya berubah menjadi merah padam lantaran jengah, jantung Kwik Tay-lok juga berdebar keras, agak tergugup ia bertanya lirih:

"Nona tidak apa-apa bukan ?"

Dengan wajah memerah dan kepala tertunduk, gadis itu menjawab: "Aku. aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada kalian?"
Sementara itu Yan Jit telah menemukan bahwa isi keranjang tersebut semuanya adalah makanan, ada ayam panggang, ada daging sapi, masih ada pula pear besar yang berwarna kuning.

Kalau boleh, dia ingin sekali berkata demikian: "Gampang sekali jika kau ingin berterima kasih kepada kami, cukup dengan seekor ayam panggang dan dua biji pear besar"

Tapi setelah menyaksikan sikap Kwik Tay-lok yang begitu kesemsem, begitu terpesona oleh kecantikan orang ia merasa tak tega untuk membuat malu temannya.

Selain itu, Kwik Tay-lok juga sudah buru-buru berseru. "Aaah, itu mah urusan kecil, tidak mengapa".
Tiba-tiba gadis itu mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke arahnya, lalu sambil tertawa katanya:

"Kalian betul-betul orang baik."

Meskipun ia mengucapkan "kalian" namun sepasang matanya hanya menatap Kwik Tay-lok seorang.

Kwik Tay-lok betul-betul terkesima, seperti orang mabuk arak, bagaikan orang yang terserang penyakit secara tiba-tiba, sahutnya dengan terbata-bata