Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 23

 
Jilid 23

Tio Tian-seng termenung dan berpikir sesaat lamanya, kemudian buru menjawab, "Keempat orang yang mencurigakan itu adalah Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing, si tabib sakti Gi Jian-cau, Giok-gan-suseng Liong Oh-im serta To- pit-coat-to Liu Khi," sebab hanya keempat orang inilah yang memiliki kepandaian silat cukup tangguh untuk memegang peranan sebagai Hek-mo-ong." "Tio-pangcu, mengapa kau mencantumkan nama wakil ketuamu, Liu Khi, dalam daftar orang-orang yang kau curigai?" tanya Bong Thian-gak-

"Ya, setiap orang yang kucurigai sesungguhnya mempunyai alasan dan bukti yang cukup kuat," kata Tio Tian-seng seraya manggut-manggut. "Walaupun Liu Khi sempat memangku jabatan sebagai wakil ketua Kay-pang, namun gerak-gerik, ilmu silat dan kecerdasannya, rasanya lebih dari cukup untuk memegang peranan sebagai Hek-mo-ong."

Bong Thian-gak menghela napas, "Ai, keempat orang yang Tio-pangcu sebutkan tak begitu kukenal secara akrab. Oleh sebab itu aku tak herani berkomentar apa-apa tentang mereka, cuma Gi Jian-cau seorang yang hingga kini belum pernah kulihat raut wajahnya, seperti apakah wajah si tabib sakti Gi Jian-cau?"

"Saat-saat Hek-mo-ong tampil mungkin tidak akan terlalu lama lagi, sebab orang yang paling dia segani satu per satu telah disingkirkan olehnya. Pada akhirnya Hek-mo-ong yang asli akan segera diketahui orangnya."

"Tio-pangcu," Bong Thian-gak bertanya, "hingga sekarang aku masih belum tahu asal-usul Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau. Dapatkah Tio-pangcu memberi keterangan kepadaku?"

Berubah paras Tio Tian-seng, dia nampak ragu, tapi akhirnya berkata, "Bong-laute, aku telah bersumpah takkan membocorkan asal-usulnya selama hidup. Sebagai umat persilatan yang memegang janji, aku tak ingin mengingkari sumpahku sendiri. Benar, aku berdiri pada pihak yang bermusuhan dengan dirinya, tapi aku tak bisa melanggar sumpahku."

Bong Thian-gak tertegun, katanya, "Ai, sungguh tak kusangka Tio-pangcu begini memegang janji."

"Harap Bong-laute sudi memaafkan," suara Tio Tian-seng amat sedih dan pilu. "Boanpwe tak akan menyalahkan dirimu, bagaimana pun juga aku telah menyaksikan paras asli Cong-kaucu."

"Kehadiran Cong-kaucu dalam Kangouw, sedikit banyak masih dapat menandingi gerak-gerik Hek-mo-ong. Oleh sebab itu hingga sekarang kau belum melihat perlunya bentrokan secara langsung pihak mereka dan di sinilah letak hubungan yang sensitif di antara kami."

Bong Thian-gak menjadi bingung, tanyanya kemudian, "Hek-mo-ong adalah otak di belakang layar yang mengatur semua perbuatan dan tindakan orang-orang Put-gwa-cin-kau, hanya Hek-mo-ong yang dapat memberi perintah kepada Cong-kaucu. Mengapa kau mengatakan Cong-kaucu justru merupakan biji catur yang sanggup menghadapi Hek-mo-ong serta membatasi gerak-geriknya?"

"Keadaan ini tak ubahnya seperti keadaanku yang mencurigai Liu Khi, biarpun Cong-kaucu hanya seorang anak buah Hek-mo-ong, namun sesungguhnya Cong-kaucu pun punya kemungkinan merebut jabatan pimpinan tertinggi."

Bong Thian-gak setengah mengerti arti kata-katanya itu, katanya pula, "Sejak dulu berapa banyak menteri setia yang akhirnya berontak terhadap kaisar dan merebut kedudukan terhormat itu. Apabila dunia persilatan memang dipenuhi berbagai orang yang berambisi besar, siapa bilang keadaan demikian tak akan terjadi?"

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya, "Ai, ambisi dan rasa lak puas seseorang memang tak bisa dipenuhi untuk selamanya. Banyak peristiwa sedih dan tragis yang terjadi di dunia selama ini, bukankah sebagian besar disebabkan oleh watak manusia yang serakah, berambisi dan perasaan tak puas?"

Semangat Tio Tian-seng berkobar, segera katanya, "Bila Hek-mo-ong telah disingkirkan, aku akan segera mengumumkan kepada seluruh umat persilatan bahwa aku akan mengundurkan diri dari keramaian dan selama hidup tidak akan mencampuri urusan duniawi lagi."

Untuk kesekian kalinya Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Selama ini Boanpwe pun tidak mempunyai ambisi untuk menjadi pimpinan besar dunia persilatan atau pun ambisi untuk menguasai «eluruh jagat. Asal dendam sakit hati perguruanku sudah terbalas dan Put-gwa-cin-kau bubar, Boanpwe pun berniat mengasingkan diri di suatu tempat terpencil dan tak akan lagi mencampuri urusan dunia ramai lagi."

"Bong-laute, mari kita beristirahat. Kemungkinan besar kita akan disuguhi pertunjukan bagus malam nanti, kita tak boleh ketinggalan menyemarakkan keramaian itu."

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Benar, siang hari memang merupakan waktu beristirahat bagi orang persilatan, mari kita beristirahat."

Maka kedua orang itu pun kembali ke kamar masing- masing untuk beristirahat.

Bagi manusia-manusia yang berilmu tinggi seperti Tio Tian- seng dan Bong Thian-gak, duduk bersemedi pun sudah cukup bagi mereka untuk menggantikan tidur, terutama Tio Tian- seng yang mempunyai dasar tenaga dalam yang amat sempurna, baginya setiap hari hanya cukup bersemedi dua jam saja untuk menggantikan tidur semalam suntuk.

Demikianlah mereka duduk bersemedi, dua jam sudah berlalu tanpa terasa.

Waktu itu Bong Thian-gak sudah berada dalam keadaan lupa akan segalanya, hawa murni beredar dengan lancar dan napas berembus sangat beraturan. Tiba-tiba di luar jendela muncul seseorang, seorang gadis berbaju hijau telah menyusup masuk dari jendela.

Ilmu yang dipelajari Bong Thian-gak adalah Tat-mo-khi- kang. Selama ia duduk bersemedi, indra perasaannya amat sensitif dan tajam, sejak nona berbaju hijau muncul di luar jendela, dia telah mengetahui kehadirannya.

Pemuda itu membuka mata, sedang si nona berbaju hijau segera menempelkan jari tangannya di depan mulut memberi tanda agar jangan bersuara, kemudian dia mengayun tangan kirinya melemparkan sepucuk surat ke arah Bong Thian-gak, setelah itu si nona melompat keluar jendela dan lenyap di balik wuwungan rumah sana.

Bong Thian-gak tertegun, kemudian mengawasi surat yang dilemparkan ke arahnya dengan termangu, pikirnya, "Aneh, siapakah perempuan ini? Mengapa dia datang menyampaikan surat untukku?"

Pemuda itu segera memungut surat itu dan membukanya, di atas surat berwarna biru tertera tiga baris tulisan hitam, gaya tulisannya indah dan lembut, sudah jelas tulisan seorang wanita.

Di atas surat itu tertera tulisan:

"Ditujukan kepada Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak. Surat ini disampaikan oleh seorang kepercayaanku. Harap setelah menerimanya Siangkong segera berangkat keluar kota dan menjumpai seorang perempuan berbaju hijau di sebuah kuil dewa gunung yang terletak tiga li dari barat kota."

Selesai membaca surat itu, Bong Thian-gak merasa ragu sejenak, kemudian setelah merobek-robek surat itu hingga hancur berkeping-keping, ia berpikir, "Aku sudah menerima budi pertolongan darinya, berarti aku harus membantunya."

Bong Thian-gak segera turun dari pembaringan dan menuju ke pintu. Pada saat itulah dari ruang tengah terdengar suara Tio Tian-seng menegur, "Bong-laute, kau sudah bangun?"

"Ya, sudah bangun!" pemuda itu mengiakan. Ia membuka pintu kamar dan menuju ke ruang tengah.

Tio Tian-seng sedang duduk di ruang tengah, dia menengok sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu bertanya, "Apakah Bong-laute telah menjumpai seseorang memasuki tempat tinggal kita?"

Bong Thian-gak terkesiap, tapi buru-buru menjawab, "Oh, dia adalah nona berbaju hijau, tapi dengan cepat telah meninggalkan tempat ini."

Sementara itu paras muka Tio Tian-seng diliputi hawa dingin, pelan-pelan ia mengeluarkan sepucuk surat sampul putih dari dalam sakunya dan diserahkan kepada Bong Thian- gak sambil berkata, "Hek-mo-ong telah mengirim kartu undangan kematian buat kita."

"Kartu undangan kematian?" Bong Thian-gak bertanya dengan kening berkerut.

"Kartu itu berada di dalam sampul surat ini, lihatlah sendiri!"

Bong Thian-gak membuka sampul itu dan mengeluarkan isinya yang ternyata berupa dua lembar kartu undangan berwarna putih pula.

Pada bagian tengah kartu itu, tertera huruf-huruf besar. Yang satu berbunyi:

"Dipersembahkan untuk Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak." Sedangkan yang lain berbunyi:

"Dipersembahkan untuk Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng."

Tulisan itu dibuat dari tinta merah darah, sehingga kelihatannya amat menyolok pandangan mata. Bong Thian-gak membuka sampul undangan yang ditujukan kepadanya dan membaca isinya, ternyata isinya berupa sebuah kalimat dengan tulisan berwarna merah:

"Usia Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak akan berakhir pada tahun Sim-cho, bulan delapan, tanggal delapan tengah hari tepat."

Sedangkan bagian bawahnya tertera sebuah lambang tengkorak berwarna putih.

Sambil tersenyum Bong Thian-gak segera berkata, "Tio- pangcu, apa yang tertera pada undanganmu itu?"

"Dia menetapkan usiaku akan berakhir pada bulan delapan tanggal sembilan persis selisih sehari darimu."

Sekali lagi Bong Thian-gak tertawa, "Hari ini baru bulan delapan tanggal lima menjelang tengah hari, wah, kalau begitu usiaku masih ada tiga hari enam jam."

"Bong-laute, selama ini kartu kematian dari Hek-mo-ong bukanlah gurauan," kata Tio Tian-seng serius.

"Selama puluhan tahun belakangan ini, setiap orang yang telah menerima undangan kematian Hek-mo-ong belum pernah dapat hidup melebihi batas waktu yang ditentukannya di dalam kartu undangan itu."

Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak, "Kapan Tio- pangcu mendapatkan kartu undangan ini?"

"Di saat aku sedang keluar ruangan tadi, kutemukan sampul undangan itu di atas meja."

"Kalau begitu tunggu saja sampai saatnya tiba nanti." "Bong-laute, tampaknya kau tidak terlalu serius

menghadapi kartu undangan kematian ini?" keluh Tio Tian- seng sambil menggeleng kepala dan menghela napas. "Sebenarnya kartu undangan kematian Hek-mo-ong ini sangat kuharapkan, sebab dengan demikian aku dapat mengenali manusia macam apakah Hek-mo-ong itu, ingin kulihat apakah benar-benar seorang yang berkepala tiga berlengan enam."

"Selamanya Hek-mo-ong tak perlu menunjukkan wujudnya saat hendak membunuh orang," kata Tio Tian-seng lagi dengan suara dalam.

"Bila kau melihat kemunculannya, berarti ajalmu sudah berada di depan mata, oleh sebab itulah sampai sekarang belum ada seorang pun yang mengetahui macam apakah wajah Hek-mo-ong yang sesungguhnya."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Sekarang aku ingin keluar sebentar, tak ada salahnya Tio- pangcu memanfaatkan kesempatan ini untuk menyusun cara guna menghadapi lawan."

"Kau hendak pergi kemana?" "Mau jalan-jalan ke kota."

Sekali lagi Tio Tian-seng berkata dengan suara dalam, "Di saat Hek-mo-ong mengirimkan kartu undangan kematian itu, dia sudah lama menguntit gerak-gerik kita. Tiap saat dia menanti datangnya kesempatan baik untuk turun tangan keji terhadap kita. Bong-laute, bila kau tidak ada urusan yang penting, lebih baik tak usah keluar rumah dulu."

"Maksudmu selama batas waktu yang ditentukan belum lewat, kita harus tetap berdiam di sini dan tak boleh meninggalkan ruangan barang selangkah pun?"

"Satu-satunya cara untuk menghadapi ancaman kartu undangan kematian itu adalah mulai sekarang kita berdua mengurung diri di dalam ruangan dan jangan keluar dulu untuk sementara waktu, kita pun tak usah makan, minum atau pun tidur sampai batas waktu yang ditentukan lewat." "Ah, Boanpwe tak percaya dengan segala macam takhayul," seru Bong Thian-gak menggeleng berulang-kali.

"Cara membunuh orang yang paling diandalkan oleh Hek- mo-ong adalah membunuh dengan jalan meracuni. Selama puluhan tahun terakhir ini, setiap saat aku selalu putar otak dan berdaya upaya untuk mencari jalan guna menghadapi Hek-mo-ong, namun usahaku selama ini lak memberikan hasil yang diharapkan."

Menyaksikan keseriusan, kekuatiran, sikap tegang dan berat yang menyelimuti wajah Tio Tian-seng, diam-diam Bong Thian-gak berpikir, ”Betulkah Hek-mo-ong sedemikian hebatnya?"

Sementara itu, Tio Tian-seng segera berkata lagi sambil menghela napas sedih, "Aku kuatir Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing lah Hek-mo-ong. Kalau tidak, caraku menutup diri menantikan kedatangannya ini pasti berhasil mendesak Hek- mo-ong menampakkan diri."

"Batas waktu yang ditentukan bagi kematianku masih sehari lebih cepat ketimbang Tio-pangcu. Andai kata aku benar-benar tewas, Tio-pangcu pun masih mempunyai waktu satu hari satu malam untuk bersiap menghadapinya. Buat apa kau mesti gelisah dan panik mulai sekarang?"

Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Ai, apabila Bong- laute tidak percaya perkataanku ini, aku kuatir kau akan dimanfaatkan oleh Hek-mo-ong."

"Tak usah kuatir, Boanpwe pasti sanggup menghadapinya dengan hati-hati. Bagaimana pun juga aku tak punya rencana untuk menutup diri menantikan datangnya saat kematian. Bisa juga sebelum batas waktu bulan delapan tanggal delapan tiba, aku telah tewas dibunuh Hek-mo-ong."

Seusai berkata, pemuda itu segera membalik badan dan beranjak keluar ruangan. Sepeninggalnya dari penginapan Ban-heng, dia langsung menuju ke barat kota.

Tatkala ia melangkah keluar rumah penginapan Ban-heng, Bong Thian-gak yang cekatan dan teliti segera merasakan bahwa dirinya sedang dikuntit seseorang.

Tapi Bong Thian-gak berlagak seolah-olah tak merasa jejaknya diikuti, dengan langkah tetap dan tenang dia melanjutkan perjalanan menuju ke kota bagian barat.

Tak selang beberapa saat ia sudah tiba di pintu kota sebelah barat. Sekeluarnya dari pintu kota, Bong Thian-gak menelusuri dinding kota menuju ke arah utara, benar juga ia saksikan seseorang sedang mengikutinya di belakang sana.

Diam-diam ia tertawa dingin, mendadak di depan situ muncul sebuah tikungan yang menjorok ke dalam, maka Bong Thian-gak segera mempercepat langkahnya melewati tikungan itu, kemudian melompat naik ke atas dinding kota, dari situ ia berlari balik, kemudian dari dalam dia melompat keluar dinding kota itu.

Seperti malaikat sakti yang turun dari kahyangan, dengan tepat Bong Thian-gak melayang turun di hadapan si penguntit.

Kemunculannya yang mendadak ini tentu saja membuat si penguntit gugup dan gelagapan, kemudian ia mundur selangkah dan mengawasi lawannya dengan wajah kaget, gugup, panik dan cemas.

Bong Thian-gak mengamatinya sekejap, dia adalah seorang laki-laki setengah umur bertubuh ceking dan bertampang seperti monyet, tidak nampak membawa senjata.

Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak menegur, "Sejak dari rumah penginapan Ban-heng kau telah mengikuti diriku sampai di sini. Ingin kuketahui siapa yang telah mengirimmu untuk mengikuti diriku?" Dalam anggapan Bong Thian-gak orang ini paling cuma seorang kurcaci yang dibayar seseorang untuk mengikutinya, oleh karenanya dia tidak segera turun tangan membekuknya.

Lelaki setengah umur berwajah monyet itu melototkan sepasang matanya yang kecil dan memperhatikan Bong Thian- gak sekejap, kemudian tanyanya kebingungan, "Toaya, apa kau bilang?"

"Hm, aku menuduh kau telah mengikuti diriku," dengus Bong Thian-gak dingin.

Tiba-tiba lelaki itu tertawa cekikikan, lalu serunya, "Toaya gemar bergurau, jalan yang kulewati kan jalan pemerintah, memangnya orang lain tak boleh mempergunakannya selain kau seorang?"

"Tajam benar mulut orang ini," pikir Bong Thian-gak sambil tertawa dingin. Lalu katanya, "Kalau memang benar jalan ini adalah jalan raya milik pemerintah. Silakan kau segera angkat kaki dari sini!"

Ucapannya ini segera membikin lelaki itu tertegun, kemudian sambil menggeleng kepalanya yang gundul dia pun mengeluyur pergi ke arah utara. Bong Thian-gak masih tetap berdiri di tempat sambil mengawasi orang itu pergi, kemudian baru ia menyelinap ke balik tikungan dan mengerahkan Ginkangnya menuju keluar kota.

Dengan Ginkangnya yang sempurna sekalipun lelaki itu membalik badan dan menguntitnya lagi juga belum tentu dapat menyusulnya.

Padahal Bong Thian-gak tidak pernah menyangka lelaki itu sesungguhnya bukan orang sembarangan, dia adalah Jian-li- kau (monyet seribu li) Cu Ciong yang amat termasyhur namanya di Kangouw.

Di balik sebuah hutan waru yang sangat lebat, Bong Thian- gak melihat sebuah bangunan kuil kecil. Kuil itu berdiri di antara bebatuan yang berserakan, daun kering berceceran, rumput ilalang memenuhi halaman, tampaknya kuil itu sudah lama terbengkalai dan tak pernah dijamah manusia lagi.

Dengan langkah pelan Bong Thian-gak menuju ke ruang kuil, dia lihat sarang laba-laba memenuhi setiap sudut ruangan, debu menebal, dinding tembok banyak yang rontok, sedang ruang kuil itu kosong tak nampak sesosok bayangan pun.

Dengan kening berkerut Bong Thian-gak berpikir, "Ah, tak mungkin Biau-kosiu sengaja mengajakku bergurau. Mungkin orang itu Mi i m datang."

Tiba-tiba dari arah hutan terdengar suara langkah menginjak tumpukan daun kering.

Dengan cepat Bong Thian-gak membalik badan memandang kemuka.

Tampak seorang perempuan cantik berbaju hijau berperawakan badan aduhai muncul di hadapannya dan berjalan menuju ke hadapan Bong Thian-gak dengan langkah lemah-gemulai.

Dengan suara lantang Bong Thian-gak segera berkata, "Aku Bong Thian-gak, Biau-kosiu yang memintaku datang menjumpai perempuan berbaju hijau, apakah kau?"

Perempuan itu tidak membiarkan Bong Thian-gak menyelesaikan perkataannya, dengan cepat ia menukas, "Begitu lambat kau sampai di sini, apakah sudah terjadi sesuatu di tengah jalan?"

"Ya, karena ada persoalan pribadi aku datang agak terlambat. Harap nyonya sudi memaafkan."

Tiba-tiba perempuan itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah gulungan yang di luarnya dibungkus dengan kain hijau, dilihat dari bentuknya mirip kitab atau lukisan.

Dengan wajah serius perempuan itu berkata, "Tolong serahkan benda itu kepada nona, jangan sampai hilang atau direbut orang."

Bong Thian-gak menerima benda itu dan dipandang sekejap, kemudian katanya, "Tampaknya bungkusan ini berisi sejilid kitab!"

Perempuan berbaju hijau itu memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu ujarnya dengan suara dalam, "Cepat kau simpan ke dalam saku. Selain nona seorang, jangan sekali-kali kau perlihatkan kepada orang lain."

"Tak usah kuatir, aku pasti menyerahkan sendiri benda ini ke tangan Biau-kosiu."

Dengan cepat ia masukkan gulungan kitab itu ke dalam sakunya.

Perempuan itu memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya lagi, "Berdiam lebih lama di sini berarti menambah ancaman bahaya, cepatlah kau pergi meninggalkan tempat ini!"

"Apakah nyonya tidak mempunyai pesan-pesan lain?" "Tidak ada."

"Kalau begitu aku mohon diri lebih dulu."

Setelah memberi hormat, ia membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu.

Sambil berjalan Bong Thian-gak berpikir, "Mungkin kitab yang dititipkan padaku ini adalah kitab pusaka, tapi mengapa Biau-kosiu tidak datang mengambil sendiri? Atau si perempuan berbaju hijau ini mengantarkan sendiri sampai ke dalam kota?" Bong Thian-gak benar-benar tidak mengerti apa sebabnya secara begitu misterius Biau-kosiu meminta padanya untuk mengambil kitab itu, mendapat pesan berarti diberi kepercayaan orang itu, maka pemuda itu berpikir lagi, "Ah, buat apa aku memikirkan hal itu? Pokoknya kuserahkan kitab ini ke tangan Biau-kosiu, urusan kan beres."

Tiba-tiba pemuda itu menghentikan langkah.

Ternyata di hadapannya telah muncul seseorang menghadang jalan perginya, seorang lelaki setengah umur bertubuh ceking, berbaju abu-abu dan bertampang seperti monyet, ia mengawasi sambil tertawa bodoh.

Berjumpa kembali orang ini, hati Bong Thian-gak bergetar keras, pikirnya, "Aduh celaka, barusan aku telah salah melihat, tampaknya orang ini memiliki ilmu silat yang amat tangguh."

Bong Thian-gak mendengus dingin seraya katanya, "Sungguh tak kusangka kita bersua kembali."

Lelaki bermuka monyet tertawa dingin, "Bumi itu bulat, aku pun tidak menyangka kita bersua kembali di sini."

Bong Thian-gak tertawa dingin pula, "Tadi aku benar-benar telah salah melihat, boleh aku tahu siapakah kau?"

"Cu Ciong," sahut lelaki itu sambil tertawa kering penuh ejek.

Bong Thian-gak berseru kaget, "Ah, tak kusangka kau adalah seorang kenamaan."

Cu Ciong tertawa seram lagi, "Di hadapan orang yang mengerti, lebih baik bicara blak-blakan. Boleh kau tunjukkan benda yang baru saja diserahkan kepadamu?"

Diam-diam Bong Thian-gak dibuat terperanjat, pikirnya, "Wah, ternyata dia telah menyaksikan semua peristiwa tadi, tapi mengapa aku tak menemukan jejaknya?" Sambil tersenyum dia lantas berkata, "Aku benar-benar tidak mengerti perkataanmu itu."

Cu Ciong menarik muka, kemudian dengan nada serius katanya, "Kau berada di luar persoalan ini, aku tak mengerti mengapa kau melibatkan diri?"

"Hei, semakin bicara aku semakin bingung dan tidak mengerti perkataanmu itu."

Cu Ciong tertawa seram lagi, "Barusan nyonya berbaju hijau telah menyerahkan bungkusan kepadamu, maka aku cuma berharap kau mengeluarkan bungkusan itu, serahkan padaku dan segala urusan tidak ada sangkut-pautnya lagi denganmu."

Bong Thian-gak tahu semua sudah diketahui lawan, maka sambil tertawa dingin katanya, "Ehm, tak kusangka kau memiliki mata yang amat jeli, aku betul-betul merasa kagum kepadamu. Cuma gulungan kitab itu sudah di sakuku, bila kau menginginkannya silakan datangi kemari mengambilnya sendiri."

Sekarang Bong Thian-gak teringat pesan wanti-wanti perempuafll berbaju hijau itu, pikirnya kemudian, "Sekarang dia telah mengetahui semua persoalan ini, maka aku tak boleh membiarkan dia pergi dari sini dalam keadaan hidup."

Apalagi lawan bermaksud merampas kitab itu dengan kekerasan, pemuda itu bertekad akan membunuhnya bilamana perlu.

Cu Ciong memutar matanya yang bulat kecil, lalu setelah tertawa licik, ia bertanya, "Tahukah kau benda apakah itu?"

"Aku tidak tahu dan aku pun tak ingin tahu, yang kuketahui! hanya menyerahkan benda itu kepada orang yang berhak."

"Kau hendak menyerahkan itu kepada Biau-kosiu rupanya?" "Benar."

Cu Ciong terbahak-bahak, "Apabila kau tidak segera menyerahkan! kitab itu kepadaku, aku yakin kau tak akan berhasil memasuki kota Lok-yang dalam keadaan hidup. Percaya atau tidak?"

"Aku bisa membuktikannya sendiri nanti!"

Bong Thian-gak membusungkan dada dan melangkah ke depan.

"Berhenti!" dengan suara keras seperti guntur membelah bumi di tengah hari bolong Cu Ciong membentak, tubuhnya bergerak maju dan menghadang di hadapan Bong Thian-gak.

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Di tengah hari bolong pun kau berniat merampok aku?"

Cu Ciong tertawa seram, "Membunuh, membakar atau merampok merupakan kejadian lumrah di dunia persilatan. Sekarang aku hendak memberitahu kepadamu, di sekeliling kota Lok-yang telah berkumpul ratusan jago persilatan.

Sekalipun kau berhasil melewati diriku, jangan harap kau bisa lolos dari cegatan rombongan jago lihai lainnya."

"Kau sudah melepaskan tanda bahaya?" tanya Bong Thian- gak sambil mengerutkan dahi.

"Benar, sewaktu masih berada di hutan tadi, aku telah melepaskan merpati pos mengabarkan kejadian yang telah berlangsung di sini kepada mereka."

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Sebenarnya aku tidak berniat membunuhmu, tetapi sekarang tampaknya mau tak mau aku harus menghabisi nyawamu."

Begitu selesai berkata, lengan tunggal Bong Thian-gak sudah membacok ke arah depan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat. Angin pukulan yang maha dahsyat langsung menggulung ke depan dengan sangat hebatnya, ancaman itu membuat Cu Ciong yang kurus dan ceking terlempar ke udara bagai layang- layang putus benang.

Ia terguling sampai tiga kali di tengah udara, namun ketika melayang turun, ternyata tidak mengalami apa-apa, kecuali mukanya sedikit berubah.

Gagal dengan serangan dahsyatnya, Bong Thian-gak tertawa dingin, lalu katanya, "Aku benar-benar merasa kagum dengan Ginkangmu yang lihai, tak nyana kau sanggup menghindarkan diri dari sergapanku tadi."

Cu Ciong tertawa aneh, "Kedahsyatan dan kehebatan angin pukulanmu tidak kalah dari kemampuan Bu Seng. Tapi bila kau berniat membunuhku, ini bukan suatu pekerjaan yang gampang bagimu."

Selesai berkata Cu Ciong menerjang maju pula dengan kecepatan luar biasa dan langsung menyerang Bong Thian- gak.

Bagi tokoh sakti yang sedang bertarung, dalam satu gebrakan saja akan diketahui sampai dimana kemampuan seseorang, ketika Bong Thian-gak lihat musuh bisa menghindar dan langsung menerjang ke depan, ia segera sadar musuh adalah seorang jago lihai yang berilmu tinggi. Jika dia tidak melancarkan serangan mematikan, sulit rasanya menaklukkan musuhnya itu.

Oleh sebab itu di kala Bong Thian-gak menyaksikan musuh menerjang datang, dia sama sekali tidak menghindar atau menyingkir.

Ditunggunya serangan lawan hingga di depan dada, saat itulah Bong Thian-gak mencabut pedangnya serta melepaskan babatan, pedang Pek-hiat-kiam telah menyambar. Dimana cahaya pedang itu berkelebat, jerit kesakitan yang memilukan segera berkumandang.

Tubuh Cu Ciong yang sedang melayang di udara terbanting jatuh ke tanah dan tidak berkutik lagi, percikan darah segar menggenangi permukaan tanah padang rumput itu.

Siapa jago di Kangouw saat ini yang paling cepat mencabut dan melepaskan serangan?

Mungkin serangan yang dilancarkan Bong Thian-gak barusan dapat menandingi kemampuan Liu Khi.

Ketika Bong Thian-gak selesai membacok mati Cu Ciong, Pek-hiat-kiam telah kembali ke dalam sarungnya.

Ketika Bong Thian-gak mendongakkan kepala, Giok-gan- suseng Liong Oh-im yang berwajah kereng dan gagah sudah berada di hadapannya.

Sepasang mata Liong Oh-im yang amat tajam sedang mengawati genangan darah segar yang mengucur dari tubuh Cu Ciong, kemudian katanya, "Benar-benar tak kusangka, Cu Ciong yang termasyhur karena kehebatan Ginkangnya ternyata tak berhasil lolos dari bacokan pedang Jian-ciat- suseng. Peristiwa ini benar-benar mengejutkan!"

Begitu bertemu Liong Oh-im, paras muka Bong Thian-gak segera berubah hebat.

Sementara itu Liong Oh-im itu sudah memberi hormat, kemudian ujarnya lantang, "Bong-tayhiap, kita telah bersua kembali, aku pun dapat melihat kecepatan dan kehebatan permainan pedang Bong-tayhiap, aku benar-benar kagum sekali."

Bong Thian-gak tersenyum, "Kedatangan Liong-sianseng sungguh teramat cepat."

Liong Oh-im kembali tertawa ringan. "Bong-tayhiap," katanya, "diam-diam kita pun rasanya tak usah menyembunyikan sesuatu lagi, kedatanganku sesungguhnya karena mendapat surat yang dikirim Cu Ciong dengan merpati posnya."

Ketika mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak berlagak seolah-olah terkejut, ujarnya kemudian, "Oh, tidak kusangka Cu Ciong satu aliran dengan Liong-sianseng."

Tiba-tiba Liong Oh-im menarik muka dan berkata dengan hambar, "Cu Ciong adalah salah seorang pengawal andalanku, sayang sekali dia mati terlampau cepat."

"Apakah Liong-sianseng berniat membuat perhitungan padaku atas kematiannya?"

Liong Oh-im tersenyum.

"Soal itu tergantung sikap Bong-tayhiap sendiri, aku ingin melihat bagaimana sikapmu terhadap diriku!"

"Apa maksudmu?"

"Kematian Cu Ciong disebabkan kitab pusaka Kui-hok-khi- liok, apabila Bong-tayhiap bersedia menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, maka kematian Cu Ciong pun tidak perlu disesalkan lagi."

"Jadi Biau-kosiu adalah ahli waris Mi-tiong-bun?" tanya Bong Thian-gak terkejut.

"Aku pun ahli waris Mi-tiong-bun, boleh dibilang aku dan Biau-kosiu adalah sesama saudara seperguruan."

Sekarang Bong Thian-gak baru tahu asal-usul perguruan mereka, tapi yang membuatnya tidak mengerti adalah sebagai sesama saudara seperguruan, mengapa mereka berebut kitab pusaka perguruannya.

Bong Thian-gak berkata, "Kalau Liong-sianseng berasal satu perguruan dengan Biau-kosiu, maka bila kitab pusaka Kui-hok-khi-liok ini diserahkan ke tangannya atau di tanganmu kan sama saja, apa bedanya?"

"Aku telah menjelaskan asal-usul kami berdua, maka ingin kuingatkan bahwa perselisihanku dengan Biau-kosiu tidak lebih hanya perselisihan sesama anggota Mi-tiong-bun, oleh karena itu kuharap Hong-tayhiap berada di luar garis, tak usah melibatkan diri pula dalam persoalan ini."

"Sebagai orang luar, tentu saja aku tidak berhak mencampuri urusan perguruan kalian, aku memang tidak berhasrat mencampurinya."

"Kalau demikian, Bong-tayhiap harap mengambil keputusan yang cepat dan pintar."

"Liong-sianseng, harap kau suka memaafkan kesulitan yang sedang kuhadapi, aku tak dapat menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok ini kepadamu."

Berubah paras muka Liong Oh-im, tapi sejenak kemudian telah pulih menjadi lembut dan ramah, katanya kemudian dengan suari tenang dan kalem, "Rupanya Bong-tayhiap masih belum mengetahui kitab pusaka macam apakah Kui- hok-khi-liok itu?"

"Benar, aku sama sekali tidak mengetahui tentang kitab itu, namun aku pun tidak ingin mengetahuinya."

"Andaikata kau mengetahui kitab macam apakah Kui-hok- khi-liok itu, kau tentu akan menyerahkannya kepadaku."

"Ah, belum tentu demikian."

Liong Oh-im menghela napas sedih, kemudian katanya, "Apabila Bong-tayhiap menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi- liok itu kepada Biau-kosiu, maka Mi-tiong-bun kami akan terancam bahaya maut."

"Apa maksudmu?" tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut. Sekali lagi Liong Oh-im menghela napas panjang, "Sebenarnya pesoalan ini merupakan rahasia pribadi Mi-tiong- bun kami, aku tidak ingin mengutarakan kepada orang lain."

Saat itu dalam hati Bong Thian-gak mulai muncul kebimbanga andaikata apa yang dikatakan Liong Oh-im itu memang sunggu sungguh dan benar, maka dia memang seharusnya menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadanya, tapi....

Tampaknya Liong Oh-im dapat mengetahui suara hati Bo Thian-gak, kembali dia menghela napas sedih sambil melanjutkan "Apabila Bong-tayhiap menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadaku, maka bagimu sama sekali tak akan menimbulkan kerugian apa-apa, malah sebaliknya tanpa kau sadari, kau telah menyelamatku jiwa banyak anggota Mi- tiong-bun yang terancam maut. Budi dan jasa semacam ini boleh dibilang tiada taranya, segenap anggota Mi-tiong-bun pasti akan berterima kasih kepadamu dan tak akan melupakan jasa» jasamu itu untuk selamanya."

Perkataan yang terakhir ini benar-benar mengandung daya tarik yang amat besar, tanpa disadari Bong Thian-gak merogoh ke dalam saku untuk mempersembahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadanya. Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring, "Siangkong, kau harus memegang teguh kepercayaan orang yang meminta tolong padamu, jangan kau serahkan kitab itu kepada orang lain."

Saat Bong Thian-gak mendongakkan kepala, dia lihat perempuan cantik berbaju hijau sedang berlari mendekat, bau harum semerbak berhembus, ia telah berdiri di samping anak muda itu.

Ketika Liong Oh-im bertemu nyonya cantik berbaju hijau ini, paras mukanya segera berubah menjadi amat tak sedap dipandang, rasa gusar dan mendongkol menyelimuti seluruh wajahnya. Andaikata perempuan itu tidak muncul tepat pada waktunya, niscaya Bong Thian-gak telah menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadanya.

Dengan sorot mata tajam Liong Oh-im mengawasi perempuan itu lekat-lekat, kemudian setelah mendengus dingin, tegurnya, "Thamcu, kau berani mengkhianati aku?"

"Aku tidak berani mengkhianati Liong-huhoat," jawab perempuan itu merdu.

Liong Oh-im segera tertawa dingin, "Selama puluhan tahun ini, aku telah mencari dirimu kemana-mana dan menelusuri semua pelosok tempat, tidak kusangka ternyata kau berada di Lok-yang."

"Apakah dikarenakan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok inilah Liong-huhoat mencari jejakku kemana-mana?"

Dari pembicaraan kedua orang itu, Bong Thian-gak mengambil kesimpulan bahwa kedua orang itu bukan saja sudah saling mengenal, juga berasal dari satu perguruan yang sama.

Bong Thian-gak benar-benar tak mengerti persoalan apakah yang sebenarnya menjadi pangkal perselisihan mereka sebagai sesama anggota Mi-tiong-bun?

Pikirnya kemudian, "Kalau aku terlibat dalam persoalan semacam Ini, wah, tidak ada harganya sama sekali."

Sementara itu Liong Oh-im telah berkata sambil tertawa dingin, ”Thamcu, sudah belasan tahun kau menghindari diriku, tujuanmu hanya ingin melindungi kitab pusaka Kui-hok-khi-liok agar tidak sampai aku dapatkan, tapi hari ini aku justru minta kepadamu untuk menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadaku, mengerti?"

Perempuan itu tertawa cekikikan, "Sayang sekali kedatangan liong-huhoat terlambat satu langkah, kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu sudah tidak berada di dalam sakuku lagi." "Aku akan memerintahkan kepadamu untuk meminta kembali kitab itu dari tangannya."

Perempuan itu tertawa cekikikan, "Kecuali Kui-kok Buncu hidup kembali. Kalau tidak, tiada seorang pun yang dapat memberi perintah kepadaku!"

"Oh, jadi kau tak percaya kalau aku sanggup memberi perintah kepadamu?" tanya Liong Oh-im sambil tersenyum.

Selesai berkata, tiba-tiba ia mengeluarkan tongkat naga kemala putih dari sakunya dan diangkat tinggi-tinggi, kemudian bentaknya, "Thamcu, coba kau lihat benda apakah ini?"

Menyaksikan tongkat kemala putih itu, gemetar keras sekujur badan perempuan itu, tiba-tiba saja dia menjatuhkan diri berlutut ke atas tanah dan katanya dengan suara gemetar keras, "Benda kekuasaan Buncu ... tongkat naga kemala putih."

Dengan perasaan ingin tahu Bong Thian-gak memperhatikan pula tongkat kemala itu dengan penuh perhatian, tongkat sebesar lengan anak-anak, di atas tongkat terukir seekor naga darah kecil dalam gaya siap terbang ke angkasa.

Sekilas pandang saja ia dapat mengetahui bahwa tongkat naga kemala putih itu amat berharga dan tak ternilai harganya, tapi Bong Thian-gak tidak menyangka tongkat naga kemala itu memiliki daya pengaruh yang begitu besar sehingga perempuan berbaju hijau itu segera menjatuhkan diri berlutut setelah melihat tongkat tadi.

Sambil mengangkat tongkat naga itu tinggi-tinggi, Liong

Oh-im membentak, "Thamcu, sekarang kuperintahkan padamu untuk merebut kembali kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu dari tangannya." Bong Thian-gak menjadi terperanjat, pada saat itulah perempuan cantik berbaju hijau melompat bangun dan mengayun telapak tangannya membabat dada Bong Thian- gak.

Serangan yang dilancarkan itu amat cepat dan gencar, benar-benar ancaman yang berbahaya.

Serta-merta Bong Thian-gak menghindar ke samping. Meski begitu, nyaris tubuhnya termakan juga oleh bacokannya ini, maka bentaknya, "Nyonya, benarkah kau ingin meminta kembali kitab pusaka Kui hok-khi-liok itu?"

Nyonya itu tidak menjawab, namun wajahnya menunjukkan penderitaan dan kegelisahan yang luar biasa, kembali telapak tangan kirinya diayunkan ke depan menghajar Bong Thian- gak.

Berada dalam keadaan begini, Bong Thian-gak benar-benar tidak tahu bagaimana dia mesti bertindak, namun dari mimik perempuan itu dapat diketahui bahwa dia telah didesak oleh keadaan sehingga terpaksa dan mau tak mau harus menyerang dirinya.

Kepandaian silat yang dimiliki perempuan itu benar-benar lihai, jurusnya aneh tapi sakti, biarpun Bong Thian-gak berhasil menghindar dari ketiga serangannya, namun ia dapat melihat musuh sama sekali tidak menggunakan tenaga penuh.

Pada saat itulah kembali terdengar Liong Oh-im membentak lagi, "Thamcu, kuperintahkan padamu untuk menaklukkan lawan hanya dalam sepuluh gebrakan saja."

"Terima perintah," jawab perempuan itu cepat.

Tiba-tiba permainan pukulannya berubah seperti kupu-kupu yang berterbangan di antara aneka bunga, serangan demi serangan dilancarkan secara beruntun dan tiada hentinya. Dalam waktu singkat tampak bayangan telapak tangan berlapis-lapis, begitu dahsyat dan gencarnya serangan itu, membuat Bong Thian-gak harus mundur berulang kali.

Bong Thian-gak terkejut oleh keanehan dan kehebatan jurus serangan lawan, dalam waktu singkat perempuan itu sudah melancarkan sembilan serangan berantai.

Mendadak ia menghentikan gerakannya, namun sepasang telapak tangannya disiapkan satu di muka dan yang lain di belakang dengan posisi menyerang dan bertahan.

Bong Thian-gak memandang perempuan itu sekejap, wajahnya yang semula cantik jelita tiba-tiba dilapisi cahaya berkilau, sementara matanya yang jeli mengawasi wajah pemuda itu lekat-lekat.

Sudah jelas dia sedang memberi kode agar Bong Thian-gak secepatnya pergi meninggalkan tempat ini.

Pada saat itulah suara Liong Oh-im menggelegar kembali, "Thamcu, kalau kau sudah menghimpun tenaga saktimu.

Mengapa tidak kau lancarkan?"

Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak membentak keras, "Lio Oh-im, cepat suruh dia menghentikan serangannya. Bila ada persoalan kita rundingkan secara baik-baik."

Belum selesai berkata, perempuan itu sudah mendesis dan mengayunkan telapak tangannya.

Serangan yang dilepaskan olehnya itu dilancarkan amat sederhana dan enteng, bagaikan segulung angin hangat yang berhembus.

Tiba-tiba saja Bong Thian-gak merasakan sekujur badann gemetar lemas, sepasang bahunya bergetar keras dan tanpa terasa dan mundur selangkah.

Sebaliknya perempuan cantik berbaju hijau itu seakan-akan kehabisan tenaga dan segenap tulang belulangnya terlepas, ia terduduk di atas tanah dengan tubuh lemas tidak bertenaga, cahaya merah yang menyinari wajahnya telah hilang, pucat- pias menghiasi mukanya.

Dalam kesepuluh jurus serangan itu, Bong Thian-gak sama sek tidak melancarkan serangan balasan.

Sekulum senyuman bangga menghiasi wajah Liong Oh-im di sisi arena, pelan-pelan ia berkata, "Bong-tayhiap, kau sudah terkena ilmu pukulan Sau-yang-sin-kang."

Mendengar "Sau-yang-sin-kang", berubah paras muka Bong Thia gak, ia mengangkat kepala memandang sekejap ke arah perempuan berbaju hijau itu.

Sementara itu mata perempuan itu sudah dipenuhi oleh air mata dia seperti merasa bersalah terhadap Bong Thian-gak sehingga membu ia sedih dan pedih.

Bong Thian-gak menghela napas sedih, lalu katanya, "Konon Sau yang-sin-kang adalah semacam ilmu pukulan yang teramat hebat, yang khusus melukai delapan nadi penting di tubuh manusia, korbannya tidak dapat hidup melebihi dua belas jam. Kalau begitu, aku pun tak jauh dari lembah kematian."

Liong Oh-im tertawa terbahak-bahak, sahutnya, "Bong- tayhiap setelah mengetahui umurmu hampir berakhir, mengapa kau tidak mempersembahkan kitab pusaka Kui-hok- khi-liok itu kepadaku?"

Bong Thian-gak menarik muka dan menjawab dingin, "Apabila kuserahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu sekarang juga, maka kematianku akan sama sekali tak ada artinya lagi."

Liong Oh-im kembali tertawa, "Memangnya kau masih dapat lolos dari cengkeramanku?"

Sementara itu hawa membunuh menyelimuti wajah Bong Thian-gak, katanya tiba-tiba dengan dingin, "Liong-sianseng, bila kau yakin dapat merampas kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu dari tanganku, silakan saja mencoba!"

Liong Oh-im berpaling dan memandang sekejap ke arah perempuan itu, kemudian tanyanya, "Thamcu, sudahkah kau lukai kedelapan nadi pentingnya dengan ilmu pukulan Sau- yang-sin-kang?"

"Liong-huhoat," kata perempuan cantik berbaju hijau itu penuh penderitaan. "Kau telah memaksaku mencelakai seseorang yang sama sekali tiada sakit hati ataupun dendam kesumat denganku."

Liong Oh-im kembali tertawa dengan suara keras, "Thamcu dapat membunuh Jian-ciat-suseng yang termasyhur, engkau telah menjadi pahlawan Mi-tiong-bun. Mengapa kau malah sedih dan menyesal?"

Sembari bicara, langkah demi langkah Liong Oh-im menghampiri Bong Thian-gak, kemudian terusnya, "Barang siapa sudah terhajar oleh Sau-yang-sin-kang hingga terluka delapan nadi pentingnya, maka hawa darah dalam Mi-bun-hiat akan pudar dan tenaga murni akan musnah. Bong Thian-gak, kau sudah tak mampu menghimpun tenaga dalammu."

Mendadak ia mengayunkan telapak tangannya dan langsung dibacokkan ke tubuh Bong Thian-gak.

Baru saja angin pukulannya berhembus ke depan, Bong Thian-gak lelah melolos Pek-hiat-kiam, cahaya pedang bagaikan bianglala dan hawa pedang bagaikan sayatan, serentak menggulung ke muka.

Barang siapa dapat melihat hawa pedang yang terpancar dari «erangan itu, dia akan mengetahui Bong Thian-gak sama sekali tidak terluka oleh pukulan Sau-yang-sin-kang.

Ketika perempuan berbaju hijau melihat itu, wajahnya segera nampak berseri dan amat gembira. Sebaliknya Liong Oh-im menjerit kaget dan cepat menerobos keluar dari lapisan hawa pedang seperti seekor burung walet.

Setelah melayang turun, ia baru berkata, "Ilmu pedang yang amat bagus, aku benar-benar dibikin melek dan bertambah pengetahuan.

Gagal dengan serangan pedangnya, Bong Thian-gak melayang turun dengan bahu agak bergetar, katanya kemudian dengan suara dingin, "Apakah kau ingin mencoba serangan pedangku yang kedua?"

"Oh, tentu saja," jawab Liong Oh-im sambil tertawa paksa. Bong Thian-gak menyarungkan kembali Pek-hiat-kiam,

kemudian katanya, "Maaf."

Lalu dia melompat ke depan dan melesat cepat ke depan sana.

Liong Oh-im tertawa terbahak-bahak, bagaikan kuda terbang di angkasa, dia melesat ke depan dan mengejar dari belakang dengan ketat.

Sejak awal Bong Thian-gak sudah menduga Liong Oh-im bakal melakukan pengejaran, maka ketika berada di udara dia melolos pedangnya, cahaya bianglala yang amat tajam secepat kilat langsung menusuk ke tubuh Liong Oh-im.

Berada di tengah udara, Liong Oh-im mengebas ujung bajunya ke depan, segulung angin pukulan tak berwujud yang sangat kuat segera menyapu ke muka.

Siapa tahu serangan yang dilancarkan oleh Bong Thian-gak cuma serangan tipuan, di saat angin pukulan Liong Oh-im yang maha dahsyat itu menyapu tiba, dia sudah menarik kembali senjatanya dan melompat ke muka. Lompatannya atas bantuan angin serangan Liong Oh-im yang kuat, tak heran gerakannya sangat cepat dan selisih jarak di antara mereka pun semakin bertambah jauh.

Setelah menjejak tanah sekali lagi, Bong Thian-gak melompat ke depan, dalam waktu singkat ia sudah puluhan tombak di depan sana, lalu lenyap.

Menyadari dirinya tertipu oleh siasat musuh, Liong Oh-im merasa sangat jengkel dan mendongkol sekali, dia mendepak- depakkan kakinya berulang kali ke atas tanah, lalu serunya sambil tertawa seram, "Bocah keparat, tidak kusangka hari ini aku Liong Oh-im bakal dipecundangi anak muda macam kau. Hm, ingin kulihat dengan cara apa kau hendak menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepada Biau-kosiu."

Seusai berkata ia memandang sekejap ke arah perempuan berbaju hijau, kemudian membalikkan badan dan mengejar ke arah Lok-yang.

Sementara itu Bong Thian-gak mengerti bahwa Liong Oh- im pasti midah menyiapkan jaring dan perangkap untuk menghalangi dirinya memasuki rumah penginapan Ban-heng, karena itu setelah masuk ke dalam kota, ia tidak menuju ke rumah penginapan itu, melainkan pergi ke kota sebelah selatan.

Sesudah keluar pintu kota sebelah selatan dan tiba di tanah pekuburan yang terpencil dan sepi, dia memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, lalu sambil duduk bersila, gumamnya, "Setelah terluka oleh pukulan Sau-yang-sin-kang, mungkin sekali jiwaku tak akan tertolong lagi. Ai, saat ini dari kedelapan nadi pentingku, ada dua di antaranya yang secara lamat-lamat mulai terasa sakit."

Bong Thian-gak duduk di depan sebuah batu nisan sambil mendongakkan kepala memperhatikan awan di angkasa, hatinya teramat masgul. "Ai, sebenarnya kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu berisi apa?"

Berpikir begitu, tanpa terasa dia mengeluarkan kitab itu dari dalam sakunya, tapi setelah berpikir sebentar, pemuda itu memasukkan kembali gulungan kitab itu ke dalam sakunya.

Matahari sudah tenggelam ke langit barat, Bong Thian-gak hampir satu jam lamanya duduk di kuburan itu.

Selama satu jam dia sudah mencoba untuk mengatur pernapasan dan menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh, namun yang aneh sama «ekali dia tidak merasakan cidera atau luka apa pun pada nadi-nadi penting di dalam tubuhnya, bahkan rasa sakit yang semula mencekam tubuhnya pun lambat-laun lenyap.

Rasa gembiranya ini membuat Bong Thian-gak segera melompat bangun dari atas tanah dan berseru, "Aha, ternyata aku tidak menderita luka apa pun oleh serangan Sau-yang-sin- kang itu."

Sekonyong-konyong terdengar suara dingin dan menyeramkan di belakangnya.

"Sekalipun Sau-yang-sin-kang tidak melukaimu, namun ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang akan merenggut selembar nyawamu."

Ucapan itu bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, dengan terperanjat Bong Thian-gak segera berpaling ke samping.

Tapi dengan cepat dia dibuat tertegun.

Di belakang tubuhnya, di depan sebuah kuburan yang amat besar, telah berdiri seorang perempuan cantik bagai bidadari dari kahyangan berbaju biru.

Perempuan itu bukan lain adalah Si-hun-mo-li Thay-kun. Di samping Si-hun-mo-li Thay-kun, berdiri pula seorang berbaju hijau.

Orang berbaju hijau itu berwajah pucat-pias, dingin, kaku dan sama sekali tiada warna darah, bahkan tiada berbau hawa manusia.

Bong Thian-gak berkerut kening, rasanya orang berbaju hijau itu mengenakan topeng kulit manusia sehingga menutupi wajah aslinya. Tapi siapakah orang itu?

Bong Thian-gak kaget, tercengang, bingung dan tidak habis mengerti. Mengapa ia bisa berada bersama Si-hun-mo-li Thay- kun?

Bong Thian-gak memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, cahaya matahari yang berwarna kuning keemas-emasan menyinari tanah pekuburan itu, namun di sana tidak nampak manusia lain kecuali mereka berdua.

Bong Thian-gak telah memperoleh sebutir pil Hui-hun-wan dan persoalan pertama yang ingin segera diselesaikan olehnya adalah menemukan Si-hun-mo-li dan memberi pil Hui-hun-wan itu kepadanya agar Thay-kun bisa memperoleh kembali pikiran dan kesadarannya seperti semula.

Sekarang Thay-kun sudah berada di depan mata, asal dia menelan pil Hui-hun-wan, berarti usahanya akan berhasil.

Namun hal ini bukanlah perbuatan yang amat gampang.

Dia tahu untuk menyelesaikan tugas itu, kemungkinan besar dia harus membayar mahal, bahkan bisa kehilangan selembar nyawanya.

Orang berbaju hijau yang berada di hadapannya sekarang terlalu menyeramkan dan menggidikkan.

Mungkinkah orang ini adalah Hek-mo-ong? Berpikir sampai di sini, Bong Thian-gak segera menghimpun pikiran dan perhatian mengawasi gerak-gerik orang berbaju hijau itu.

Orang itu tertawa dingin, ujarnya, "Apabila kau ingin meloloskan diri dari ancaman kematian, lebih baik serahkan saja kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadaku."

Tertegun Bong Thian-gak, segera tanyanya, "Apa? Jadi kau pun menghendaki kitab pusaka Kui-hok-khi-liok dari Mi-tiong- bun?"

Paras muka orang berbaju hijau itu masih tetap tenang tanpa perubahan sedikit pun, sahutnya, "Apabila kau mengerti rahasia kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, setiap orang yang berada di dunia ini rasanya ingin mendapatkannya."

"Siapakah kau?" tanya Bong Thian-gak sambil tersenyum. "Kau tak perlu mengetahui siapakah aku. Yang penting

bagimu hanya memilih dua jalan yang kutawarkan kepadamu, mau hidup atau mati, silakan segera tentukan!"

"Aku ingin mengetahui lebih dulu dengan mengandalkan ilmu silat apakah kau hendak menghukum mati diriku?"

"Serangan Si-hun-mo-li dan sergapan mendadak yang kulancarkan nanti!"

Bong Thian-gak kembali tersenyum.

"Yakinkah kau pasti akan dapat merenggut nyawaku?" "Bila kau yakin dapat meloloskan diri dari cengkeraman

mautku, maka kau tak perlu mengeluarkan kitab pusaka Kui- hok-khi-liok."

Bong Thian-gak termenung dan berpikir beberapa saat, tiba-tiba ia bertanya, "Dari kemampuanmu memberi perintah kepada Si-hun-mo-li, tentunya kau pun dapat membuat Si- hun-mo-li jatuh tak sadarkan diri bukan?" "Apa maksudmu?"

"Oh, itu rahasia pribadiku dan merupakan syarat yang hendak kuajukan sebagai pertukaran."

"Harap kau suka memberi penjelasan secara terperinci." "Boleh saja kuserahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok

kepadamu, namun kau harus dapat merobohkan Si-hun-mo-li

lebih dulu hingga tak sadar kan diri."

"Setelah Si-hun-mo-li tak sadarkan diri, maka kau bisa menandingi diriku bukan?"

"Ya, terpaksa harus dicoba," Bong Thian-gak tersenyum. "Kitab pusaka Kui-hok-khi-liok sudah berada di sakumu, aku

bisa turun tangan merampasnya dari tanganmu."

"Kau tetap harus menguatirkan sesuatu." "Apa yang mesti kukuatirkan?" "Kekalahan."

Orang berbaju hijau itu tertawa dingin. "Ehm, nampaknya kau masih mempunyai sedikit otak untuk berpikir."

"Ah, seandainya tiada suatu yang dikuatirkan, sedari tadi kau telah turun tangan merebutnya dari tanganku."

"Kau keliru besar," ujar orang berbaju hijau itu sambil tertawa seram.

"Yang kukuatirkan justru tindakanmu menghancurkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok sebelum penyerahan nanti, itulah sebabnya aku tidak turun tangan hingga detik ini."

"Terima kasih banyak atas petunjukmu itu," Bong Thian- gak tertawa. "Aku benar-benar tak berpikir begitu."

Orang berbaju hijau itu mendengus dingin, "Hm, belum pernah aku bicara sebanyak ini dengan orang lain, kau harus mengambil keputusan secepatnya?" "Aku yang mesti mengambil keputusan sendiri ataukah kau yang menyuruh aku mengambil keputusan?"

"Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu dengan merobohkan Si hun-mo-li hingga tak sadarkan diri, tapi pada saat bersamaan kau harus melemparkan kitab pusaka Kui-hok- khi-liok jauh ke sana."

"Baik, aku setuju dengan usulmu itu."

"Masih ada satu hal lagi, apakah kau sudah melihat kitab pusakm Kui-hok-khi-liok?"

"Belum."

"Bagus sekali, sekarang aku akan menghitung sampai angkal sepuluh dan kau harus melemparkan kitab pusaka Kui- hok-khi-liok itul ke depan sana."

"Di saat kulihat Si-hun-mo-li roboh tak sadarkan diri nanti, aku pasti akan melemparkan kitab pusaka itu ke depan."

"Aku akan menghitung sampai angka sepuluh, saat itu Si- hun-mo li pasti sudah roboh tak sadarkan diri!"

Demi menyelamatkan selembar jiwa Thay-kun, Bong Thian- gak telah mengambil keputusan hendak mengingkari janjinya dengan Biau-kosiu. Biarpun saat ini kitab pusaka Kui-hok-khi- liok diserahkan kepada lawan, namun ia yakin masih memiliki kemampuan untuk merebutnya kembali.

Sebaliknya bila Si-hun-mo-li kabur lagi, usahanya menyelamatkan jiwa perempuan itu akan menemui kesulitan yang lebih banyak lagi.

Itulah sebabnya Bong Thian-gak mengambil keputusan akan mengingkari janji terhadap Biau-kosiu.

Tiba-tiba sepasang mata orang berbaju hijau itu memancarkan cahaya dingin kehijau-hijauan, pelan-pelan dia mulai memanggil, "Si-hun-mo-li!" Panggilan itu penuh diliputi nada menyeramkan, aneh dan menggidikkan.

Ketika mendengar suara yang menggidikkan itu, pelan- pelan Si-hun-mo-li membalik badan, namun ketika sinar matanya saling bentur dengan sorot mata orang berbaju hijau itu, ia nampak seperti tersengat lebah.

Seketika itu juga sukma dan pikirannya seolah-olah terbetot oleh pandangan mata itu, dia berdiri melongo seperti sebuah patung.

Sementara itu orang berbaju hijau sudah menghitung dengan cara melengking tapi lambat, "Satu ... dua ... tiga ... empat "

Pada saat itulah dari balik kuburan tiba-tiba muncul seseorang yang menerjang ke punggung orang berbaju hijau dengan kecepatan tinggi.

Dengan sorot mata Bong Thian-gak yang amat tajam, ia sudah melihat dengan jelas bahwa orang yang baru saja muncul itu bukan lain adalah perempuan berbaju hijau yang menyerahkan kitab pusaka Kui-hok khi-liok kepadanya itu.

Kemunculannya yang sangat mendadak ini segera menggetarkan perasaan Bong Thian-gak, ia tahu persoalan bakal runyam.

Belum habis ingatan itu, suara orang berbaju hijau yang sedang menghitung itu pun terhenti secara mendadak.

Kemudian secepat kilat dia membalik badan seraya melancarkan bacokan kilat ke depan.

Angin pukulan yang kuat dan tajam secara telak menghantam tubuh perempuan berbaju hijau itu.

Jerit kesakitan bergema, tubuh perempuan berbaju hijau itu segera terlempar bagaikan layang-layang yang putus benang. Dengan cepat Bong Thian-gak melejit ke udara dan melayang turun di hadapan perempuan berbaju hijau itu.

Sementara itu paras muka perempuan berbaju hijau itu sudah berubah pucat-pias seperti mayat, darah segar muntah dari mulutnya.

Dengan cepat Bong Thian-gak membimbing bangun, kemudian menempelkan telapak tangannya di atas jalan darah Mi-bun-hiat di punggungnya.

Segulung hawa panas segera menyusup ke tubuh perempuan itu melalui jalan darah Mi-bun-hiat, hawa darah bergolak dengan kuat dalam tubuhnya, perempuan itu pun segera berkata, "Bong-siangkong, kau tak boleh menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepada orang lain, kau tak boleh mengingkari janjimu terhadap Biau-kosiu."

"Ai, harap kau sudi memaafkan aku," ujar Bong Thian-gak sambil menghela napas panjang.

Saat itu Bong Thian-gak benar-benar menyesal dan tidak keruan rasanya.

Perempuan berbaju hijau itu memandang sekejap ke arahnya, kemudian dengan air mata bercucuran katanya, "Bong-siangkong, kemungkinan besar aku akan segera mati. Sebelum ajalku tiba, aku minta kau bersedia menyanggupi keinginanku, kau harus melindungi kitab Kui-hok-khi-liok itu hingga diserahkan terhadap Biau-kosiu. Apabila kau tak mampu menyerahkan kepadanya, tolong hancurkan dan musnahkan kitab itu."

Paras muka perempuan berbaju hijau itu pucat-pias seperti mayat, dari balik matanya memancar sinar permohonan, ditatapnya wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.

Dia hendak menanti jawaban Bong Thian-gak, sebab dia tahu asalkan pemuda yang berada di hadapannya sudah menganggukkan kepala memberikan persetujuan, biar langit ambruk pun, pendiriannya tak pernah akan berubah.

Tapi Bong Thian-gak masih tetap termenung dan sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Sebab perasaan dan pikirannya saat ini sangat kalut, dia tak bisa mengambil keputusan dengan segera, bagaimana pun menyelamatkan

Thay-kun merupakan harapannya yang terbesar. Sekarang dia telah mendapat kesempatan baik yang tak mungkin bisa dijumpai lagi di kemudian hari. Apakah dia harus melepaskan kesempatan yang sangat baik itu begitu saja?

Melihat pemuda itu hanya membungkam tanpa menjawab, perempuan berbaju hijau itu menjadi sangat kecewa, air matanya segera bercucuran membasahi wajahnya.

Diiringi jeritan yang memilukan, perempuan berbaju hijau itu sekali lagi memuntahkan darah segar, tiba-tiba saja dia tewas dalam keadaan penuh kecewa.

Tak terlukiskan rasa terkejut Bong Thian-gak, sementara dia masih tertegun, tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar orang berbaju hijau itu berkata dengan dingin, "Dia bukan mati karena mendongkol kepadamu. Ketahuilah, barang siapa sudah termakan oleh pukulanku, maka dia tak akan mampu hidup lebih seperempat jam."

Pelan-pelan Bong Thian-gak membalikkan badan dan menatap orang itu lekat-lekat, kemudian ujarnya, "Tenaga pukulan yang kau miliki memang benar-benar amat dahsyat dan tajam, tapi yakinkah kau bahwa seranganmu pasti dapat menghabisi nyawaku?"

"Sebelum mendapatkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu, aku tak nanti turun tangan melukaimu."

"Sekarang aku sudah berubah pikiran," ucap Bong Thian- gak dengan suara dingin. "Aku tak jadi menyerahkan kitab pusaka itu kepadamu, akan kulindungi kitab Kui-hok-khi-liok ini hingga saat penyerahan nanti."

Orang itu tertawa seram mendengar perkataan itu, "Bagus sekali, kau mencari jalan kematian bagi dirimu sendiri."

Mendadak Bong Thian-gak melolos Pek-hiat-kiam, kemudian berkata, "Apabila kau bermaksud mencabut nyawaku, maka tak ada salahnya kau mencoba menerima beberapa buah tusukanku ini."

Pemuda itu melompat ke muka dan melepaskan sebuah tusukan kilat.

Sekilas cahaya tajam yang menyilaukan mata segera berkelebat ke depan.

Orang itu sama sekali tidak menggeser badan menghindarkan diri, sebaliknya Si-hun-mo-li yang berada di sisinya bagaikan sesosok arwah gentayangan telah menyelinap ke depan dan menghadang di hadapan orang itu, sementara telapak tangannya yang putih bersih ditolakkan ke muka menghantam mata pedang itu.

Sebenarnya Bong Thian-gak bisa saja berganti jurus dengan membacok pergelangan tangannya, namun ia sama sekali tidak berbuat demikian. Menghadapi ancaman itu, dia menarik balik pedangnya.

Si-hun-mo-li sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk banyak bertindak, kembali tubuhnya berkelebat maju dan menerjang sisi kiri Bong Thian-gak, sementara telapak tangannya yang lain segera dihantamkan ke bahu kiri anak muda itu.

Sejak bertemu Si-hun-mo-li, ilmu silat yang dimiliki Bong Thian-gak seolah-olah mengalami kemunduran yang amat pesat. Dalam keadaan demikian, seharusnya ia dapat menggerakkan pedangnya untuk melepaskan tusukan, namun ia tidak berbuat demikian, tubuhnya malah melompat mundur untuk menghindarkan diri dari ancaman itu.

Siapa tahu pada saat itulah telapak tangan kiri Si-hun-mo-li telah diayun ke depan dan membacok tubuh Bong Thian-gak dengan mempergunakan Soh-li-jian-yang-sin-kang.

Cahaya tajam yang berwarna merah darah segera menyambar, pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang yang maha dahsyat bagaikan putaran roda kereta langsung menggulung ke muka.

Bong Thian-gak segera membentak, mendadak Pek-hiat- kiam diputar kencang menciptakan kabut pedang yang tebal, bukannya mundur dia malah maju.

Ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan ilmu pukulan yang maha dahsyat dan amat termasyhur dalam Bu- lim. Mimpi pun orang berbaju hijau itu tak mengira permainan kabut pedang yang diciptakan Bong Thian-gak itu mampu mementalkan sergapan tenaga Sinkang itu.

Benar-benar di luar dugaannya, serangan maut yang begitu tajam dan dahsyat dari Soh-li-jian-yang-sin-kang berhasil dipunahkan begitu saja oleh putaran hawa pedang Bong

Thian-gak.

Sebaliknya tubuh Bong Thian-gak sendiri berputar ke hadapan Si-hun-mo-li dengan kecepatan luar biasa, lalu kaki kanan Bong Thian-gak diayunkan ke muka dan menendang jalan darah kaku di pinggang Si-hun-mo-li.

Tendangan yang dilancarkan olehnya itu benar-benar dilepaskan secara jitu dan manis, diikuti jeritan tertahan, tubuh Si-hun-mo-li segera roboh terjungkal ke atas tanah.

Pada saat itulah Bong Thian-gak membuang Pek-hiat-kiam, lalu mementang kelima jari tangannya, dia cengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri Si-hun-mo-li. Bong Thian-gak tahu ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang yang dimiliki Si-hun-mo-li terletak pada tangan kirinya, oleh sebab itu ia langsung mencengkeram bagian vital itu dengan harapan dapat mengendalikan gerak-gerik perempuan itu.

Sejak Bong Thian-gak memutar pedang sambil mendesak maju hingga dia merobohkan Si-hun-mo-li dengan tendangan, beberapa gerakan itu dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat dan dilakukan secara beruntun.

Menanti orang berbaju hijau tahu Si-hun-mo-li tak mungkin mampu menghadapi serangan Bong Thian-gak, urat nadi pergelangan tangan kiri Si-hun-mo-li sudah berhasil dicengkeraman Bong Thian-gak.

Orang berbaju hijau itu mendengus penuh amarah, dari kejauhan dia lepaskan bacokan maut ke tubuh pemuda itu.

Tapi Bong Thian-gak dengan membopong tubuh Si-hun- mo-li malah melompati dua buah kuburan besar untuk menghindarkan diri.

Ketika tenaga pukulan yang dilancarkan orang berbaju hijau itu menghantam batu nisan, terjadilah suara ledakan yang amat keras disusul robohnya batu nisan dan debu pasir beterbangan ke udara.

Gagal dengan serangan mautnya, orang itu bagaikan sukma gentayangan mendesak maju, sewaktu berada di muka Bong Thian-gak, kembali tangan kanannya diayunkan siap melepaskan pukulan maut lagi.

Padahal Bong Thian-gak baru saja berhasil berdiri tegak ketika musuh telah berdiri di hadapannya, gerakan tubuh yang sedemikian cepatnya ini membuat anak muda itu tertegun.

Sambil tertawa dingin, orang berbaju hijau itu berkata, "Asal kau berani menggerakkan tubuhmu, tenaga pukulan yang telah kuhimpun ini secepat kilat akan menghajar tubuhmu." Waktu itu tangan Bong Thian-gak sedang mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri Si-hun-mo-li. Ketika mendengar ancaman itu, ia segera tertawa dingin sambil ujarnya, "Tenaga pukulanmu itu mungkin akan menghajar Si- hun-mo-li."

Agaknya rahasia hati orang berbaju hijau itu berhasil ditebak Bong Thian-gak secara tepat. Ia segera berpikir beberapa saat, setelah itu baru ujarnya dengan suara dingin, "Apa yang ingin kau lakukan terhadap dirinya?"