Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 31

 
Jilid 31

Ketika melihat kedatangan Bong Thian-gak, orang itu segera menggerakkan senjatanya langsung menusuk ke dada lawan dengan kecepatan luar biasa serta keganasan yang menggidikkan.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Bong Thian- gak, ia masih ingat di antara kawanan jago yang memasuki kuburan Bu-lim-bong ini, tak seorang pun yang mempergunakan senjata pendek macam begini. Orang itu sudah pasti adalah pembunuh yang telah disiapkan Hek-mo-ong Liu Khi sebelumnya untuk menyergap dan membunuh para jago yang kebetulan lewat di situ.

Berpikir begitu Bong Thian-gak segera membentak, rubuhnya bergerak ke muka dengan kecepatan tinggi dan menerobos lewat dari bawah cahaya kilat senjata pendeknya, kemudian tangan kanannya bergerak cepat dan menghantam pergelangan tangan kanan lawan yang menggenggam senjata itu.

Jerit kesakitan segera bergema, pergelangan tangan kanan orang itu segera termakan oleh bacokan tangan Bong Thian- gak yang tajam bagaikan golok itu hingga patah.

Sekalipun Bong Thian-gak sendiri berlengan tunggal, namun perubahan jurus serangannya amat cepat dan boleh dibilang nomor wahid di dunia ini.

Terlihat pergelangan tangan kirinya membalik dengan cepat, tahu-tahu kelima jarinya sudah mencengkeram jalan darah kaku di bahu orang itu.

Dengan dicengkeramnya jalan darah kaku di bahu, pada hakikatnya orang itu tak bisa berkutik lagi.

"Apakah kau sudah bosan hidup?" hardik Bong Thian-gak. Tampaknya orang itu menderita kesakitan yang luar biasa,

dia merintih tiada hentinya, tapi segera sahutnya, "Bagaimana

kalau masih ingin hidup? Bagaimana pula kalau sudah bosan hidup?"

Baru sekarang Bong Thian-gak dapat melihat bahwa orang itu seorang kakek yang telah berusia lanjut, dia tertawa dingin, "Bila ingin hidup, turuti semua perintahku tanpa membantah. Kalau sudah bosan hidup, cukup tanganku digerakkan ke bawah dan menghantam nadi penting di atas tengkukmu, nyawamu pasti akan dibereskan dengan segera." "Daripada hidup menderita, lebih baik aku minta kematian yang cepat," kata kakek itu lagi setengah merintih.

"Tapi sayang, aku tak akan membiarkan kau mati dalam waktu singkat," jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.

Kakek itu mendengus, "Hm, dari usiamu yang masih muda, tidak kusangka hatimu begitu keji dan buas."

Untuk sesaat Bong Thian-gak menjadi tertegun, segera ujarnya lagi, "Kau menyergapku secara tiba-tiba dari balik kegelapan, apakah tindakanmu ini bukan merupakan suatu perbuatan yang kejam?"

Bantahan itu membungkamkan si kakek.

Kembali Bong Thian-gak berkata dengan suara dingin, "Ayo cepat mengaku, apakah kau adalah begundal Hek-mo-ong?"

"Siapa itu Hek-mo-ong? Aku tidak tahu, kami hanya mengetahui pemilik kuburan Bu-lim-bong ini adalah Thio Kim- ciok."

"Kalau begitu kau adalah anak buah Thio Kim-ciok?" tanya Bong Thian-gak dengan perasaan terkesiap.

Sambil mengertak gigi menahan emosi, kakek itu berkata, "Bukan, kami bukan anak-buah si orang edan itu."

"Lantas kau berasal dari aliran mana?" tanya Bong Thian- gak.

"Kami adalah orang-orang mengenaskan yang dikurung oleh orang edan itu selama puluhan tahun di dalam Bu-lim- bong ini."

"Apa? Jadi kau pun dicelakai oleh Thio Kim-ciok?" Bong Thian-gak terkejut.

"Benar, Thio Kim-ciok sudah dua puluh tahun mengurung kami di dalam Bu-lim-bong ini. Siksaan lahir-batin dalam jangka waktu yang begini panjang membuat sebagian orang- orang kami menjadi orang yang tak waras lagi otaknya."

Bong Thian-gak sungguh merasa terkejut bercampur keheranan, kembali dia bertanya, "Apa sebabnya Thio Kim- ciok mengurung kalian di dalam Bu-lim-bong ini?"

"Kami sendiri pun tidak tahu apa sebabnya dia mengurung kami di sini."

"Lantas berapa banyak rekan-rekanmu yang ikut disekap oleh Thio Kim-ciok di tempat ini?" tanya Bong Thian-gak lagi agak tertegun. "Semua berjumlah tujuh puluh dua orang."

"Apakah ketujuh puluh dua orang ini semuanya adalah orang-orang persilatan?"

"Ya, tentu saja mereka semua adalah jago persilatan." Setelah berhasil mengetahui rahasia yang sangat aneh itu,

Bong Thian-gak merasa kaget, dia tidak habis mengerti

mengapa Thio Kim-ciok menyekap kawanan jago persilatan itu.

"Bagaimana ceritanya sehingga kalian dapat disekap di sini?" tanya Bong Thian-gak.

Sambil berkata, ia kendorkan cengkeramannya atas pergelangan tangan kakek itu.

Kakek itu memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu setelah menghela napas panjang, katanya dengan nada suara yang amat sedih, "Ai, hal ini terjadi pada dua puluh empat tahun berselang, aku she Kim bernama Toa-hay, sesungguhnya aku adalah seorang Piausu dari perusahaan An- wan-piau-kiok di wilayah Ho-pak. Suatu hari aku telah mengawal sejumlah barang yang diterima perusahaan, tetapi secara aneh tahu-tahu sudah ditawan ke tempat ini. Sejak memasuki kuburan Bu-lim-bong ini, tak pernah ada harapan lagi bagi kami untuk keluar dari sini." "Siapakah pemilik barang yang kau kawal waktu itu?" tanya Bong Thian-gak.

"Tentu saja pemilik barang kawalan kami adalah Thio Kim- ciok!"

Hingga kini Bong Thian-gak belum juga mengerti apa sebabnya Thio Kim-ciok mengurung orang-orang itu di dalam Bu-lim-bong, ia menggeleng sambil menghela napas, lalu katanya, "Kim-piauthau, apa sebabnya kau membokongku tadi?"

"Sebab aku mengira kau adalah komplotan Thio Kim-ciok." "Kalau begitu, kalian benar-benar amat membenci Thio

Kim-ciok?"

Mendadak Kim Toa-hay tertawa seram, "Siapa bilang tidak membencinya? Tanpa sebab-musabab Thio Kim-ciok telah menyekap kami sepanjang tahun di dalam neraka dunia yang tak kelihatan matahari ini, membuat kami semua harus jauh dari rumah, berpisah dengan anak istri dan sanak keluarga. Dendam sakit hati kami sudah begitu mendalam, kalau bisa kami ingin mendahar dagingnya dan menghirup darahnya."

Kembali Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai betul, walaupun Thio Kim-ciok tidak mencelakai jiwa kalian, tetapi telah menghancurkan masa depan kalian. Ai, siksaan hidup semacam ini pada hakikatnya memang lebih berat daripada kematian."

"Tapi apa sebabnya Thio Kim-ciok bersikap begitu kejam dan tidak berperi-kemanusiaan terhadap kalian?"

Tiba-tiba terdengar Kim Toa-hay berseru tertahan, lalu tanyanya dengan cepat, "Anak muda, bagaimana caramu memasuki Bu-lim-bong ini?"

Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba saja Bong Thian-gak teringat kembali dengan tugas dan kewajibannya memasuki Bu-lim-bong itu, maka katanya kemudian, "Kim-piauthau, aku hendak memberitahukan satu hal padamu, di Bu-lim-bong ini segera akan dilangsungkan suatu pembantaian secara besar- besaran dan kejam. Saat ini di sini telah hadir seorang yang bernama Hek-mo-ong, manusia itu bermaksud hendak membunuh sejumlah jago lihai, ia telah memancing banyak jago lihai memasuki Bu-lim-bong ini pada setengah jam berselang. Berhubung aku mendapat tahu intrik busuk Hek- mo-ong, maka aku bergerak menyusul kemari dengan tujuan hendak menyelamatkan jiwa pada jago itu."

"Yang menjadi Hek-mo-ong pastilah Thio Kim-ciok, si orang edan itu," teriak Kim Tao-hay.

"Dugaanmu keliru besar," Bong Thian-gak menggeleng. "Yang menjadi Hek-mo-ong bukan Thio Kim-ciok. Sekarang kau tak usah mencampuri urusan itu, aku ingin memohon sesuatu bantuan dari Kim-piauthau. Bila nasibku memang baik, aku yakin tak lama kemudian Kim-piauthau bisa meninggalkan kuburan Bu-lim-bong serta kembali ke alam bebas."

Kim Toa-hay termenung sambil berpikir beberapa saat lamanya, lalu bertanya, "Bantuan apakah yang kau harapkan dariku?"

"Sudah dua puluh tahun Kim-piauthau berdiam di dalam Bu-lim-bong ini, aku rasa kau pasti sudah hapal lorong rahasia dalam Bu-lim-bong ini. Karena itu, aku berharap Kim-piauthau suka membawaku berjalan-jalan melalui lorong rahasia yang terdapat di sini."

"Baik, aku menyanggupi permintaanmu itu," jawab Kim Toa-hay dengan cepat.

"Urusan ini tak bisa ditunda lagi, mari kita segera berangkat."

Ketika Kim Toa-hay hendak menggerakkan rubuhnya, tulang pergelangan tangan kanannya segera terasa amat sakit sehingga tanpa terasa dia merintih kesakitan. Melihat hal ini, Bong Thian-gak merasa sangat menyesal, karena sudah turun tangan kelewat berat sehingga mematahkan tulang pergelangan tangannya.

Setelah menghela napas, katanya, "Kim-piauthau, sekarang akan kutotok dulu jalan darah di atas lengan kananmu sehingga akan mengurangi rasa sakit yang kau derita. Setelah berhasil lolos dari Bu-lim-bong ini, pasti akan kucarikan akal untuk mengobati luka pada pergelangan tanganmu itu."

Seraya berkata dia segera turun tangan secepat kilat menotok semua jalan darah penting di atas lengan kanannya. Dengan begitu lengan itu berubah menjadi lemas, mati rasa dan sama sekali tak berfungsi lagi.

Baru sekarang Kim Toa-hay tahu bahwa Bong Thian-gak hanya memiliki sebuah lengan, tanpa terasa dia menghela napas, "Anak muda, rupanya kau pun cacat?"

"Ya, aku adalah seorang cacat, aku bernama Bong Thian- gak," kata pemuda itu sambil tertawa getir.

Baru selesai dia berkata, mendadak dari balik lorong rahasia itu secara lamat-lamat dia mendengar suara jerit kesakitan dan teriakan kalap yang bergema.

Suara itu tidak terlalu keras, namun nadanya amat mengenaskan dan penuh perasaan ngeri, bagaikan jeritan setan di tengah malam buta, membikin bulu kuduk siapa pun berdiri bila mendengarnya.

Dengan terkejut Bong Thian-gak bertanya, "Suara apakah itu?"

Kim Toa-hay memasang telinga pula mendengarkan suara itu dengan seksama, tiba-tiba paras mukanya hebat.

"Ah, ada orang sedang membantai saudara-saudaraku, mari kita segera berangkat!" Seusai berkata, ia telah membalikkan badan dan beranjak pergi dari sana.

Bong Thian-gak segera mengikut di sampingnya, dalam perjalanan ia bertanya, "Saudaramu? Siapakah saudaramu itu?"

"Rekan-rekan yang disekap di tempat ini bersamaku."

Bong Thian-gak terkejut, katanya, "Ya benar, seandainya kawanan jago yang memasuki Bu-lim-bong bertemu dengan rekan-rekanmu itu, sudah pasti akan timbul kesalah pahaman yang berakibat timbulnya pertarungan. Ayo cepat! Kita harus ke sana secepatnya."

Saat itu Kim Toa-hay nampak amat gelisah dan cemas, dia berlari dengan kecepatan tinggi.

Setelah melalui tiga buah tikungan, mendadak di depan sana muncul setitik cahaya lentera, jeritan ngeri dan teriak kesakitan yang bergema tadi ternyata berasal dari situ. Suara jeritan masih terdengar, bahkan jauh lebih jelas, keadaan di situ masih kalut dan seru.

Bong Thian-gak tak dapat menahan diri lagi, mendadak ia menyambar lengan kiri Kim Toa-hay, lalu secepat sambaran kilat berkelebat menuju ke depan.

Setelah keluar dari lorong bawah tanah, tempat itu berupa sebuah ruangan yang luas, saat itu ruangan itu telah berubah menjadi lautan darah, mayat bergelimpangan di atas lantai mendatangkan suatu pemandangan yang sangat mengerikan.

Beberapa buah lentera minyak tertempel di empat penjuru dinding menerangi suasana dalam ruangan itu dengan jelas.

Waktu itu dua orang jago lihai berpedang sedang bertarung seru melawan sekelompok orang aneh berambut panjang, berpakaian compang-camping serta berwajah tujuh bagian mirip setan. Kawanan orang aneh itu menyerang dengan buas, ganas dan menyeramkan. Tapi berhubung ilmu silat yang mereka miliki masih selisih jauh bila dibandingkan dengan kedua orang lawannya, maka setiap kali kedua orang itu mengayun pedangnya, seperti memotong sayur saja, batok kepala segera menggelinding dan jeritan mengerikan mencekam perasaan.

"Tio-pangcu, Liong-tayhiap, hentikan pembantaian itu!"

Waktu itu Bong Thian-gak telah melihat dengan jelas kedua pendekar itu tak lain adalah Tio Tian-seng serta Liong Oh-im. Sambil membentak, ia segera melompat maju ke muka.

Ketika mendengar bentakan itu, Tio Tian-seng dan Liong Oh-im segera menarik kembali pedang masing-masing dan mundur beberapa langkah ke belakang.

Akan tetapi puluhan orang aneh berambut panjang yang berada di hadapan mereka kembali berteriak aneh dan sambil mementang cakar mautnya menerjang maju lagi secara kalap.

Terlihat jelas betapa murkanya Liong Oh-im terhadap kawanan orang aneh itu, dia membentak dan pedangnya sekali lagi melancarkan bacokan maut ke depan.

Bong Thian-gak yang melihat hal ini, segera berteriak, "Hentikan pembantaian itu, mereka bukan orang jahat!"

Sambil mengendorkan kempitannya atas Kim Toa-hay, Bong Thian-gak melejit ke udara sambil menyambar ke depan, tapi sayang sudah terlambat.

Serangan Liong Oh-im yang dilancarkan sepenuh tenaga itu benar-benar amat dahsyat, apalagi belasan orang aneh itu sedang menyerbu ke depan secara bersama-sama.

Dimana cahaya pedangnya berkelebat, sebelas orang aneh itu roboh bergelimpangan ke atas tanah, semburan darah segar memancar kemana-mana bagaikan sumber mata air. Merah berapi-api sepasang mata Kim Toa-hay menyaksikan peristiwa itu, dia meraung keras, lalu menubruk ke arah Liong Oh-im dari belakang.

Waktu itu Liong Oh-im sudah setengah kalap, dia segera memutar ujung pedangnya dan menyongsong datangnya terjangan Kim Toa-hay.

Melihat kejadian ini, Bong Thian-gak segera membentak, "Liong-tayhiap, tindakanmu kali ini sungguh kelewat keji dan buas!"

Dari tengah udara Bong Thian-gak mengayun tangan kirinya serta melepaskan sebuah bacokan ke depan.

Angin pukulan yang dahsyat seperti amukan ombak di tengah samudra langsung menyapu ke depan dengan hebatnya.

Terhadang oleh angin pukulan yang begitu kuat, tubuh Liong Oh-im yang sedang menerjang ke muka itu segera terhenti dan sukar untuk maju barang selangkah pun, akan tetapi ia tidak berdiam diri saja, ujung pedangnya segera diputar, lalu menusuk Bong Thian-gak dengan jurus naga sakti mengibas ekor.

Bong Thian-gak membentak gusar, tubuhnya segera melayang turun ke atas tanah, kemudian dengan cekatan menggelincir maju ke muka, telapak tangannya menerobos lewat bawah cahaya pedangnya yang berkilauan, lalu secara ganas dan dahsyat menghantam dada Liong Oh-im.

Serangan yang sangat kuat dan dahsyat ini mendesak Liong Oh-im, mau tak mau ia harus menarik pedangnya sambil menyurut mundur, tapi saat itulah Kim Toa-hay telah berhasil menyelinap maju dari belakang dan melepaskan sebuah jotosan yang keras ke punggung lawan.

Tak ampun lagi punggung Liong Oh-im termakan oleh pukulan Kim Toa-hay yang amat keras itu. Untung saja tenaga dalam yang dimiliki Liong Oh-im cukup kuat dan sempurna. Biarpun begitu, jotosan Kim Toa-hay cukup membuatnya semakin kalap.

"Bajingan busuk, kau ingin mampus rupanya!" ia mengumpat dengan penuh gusar.

Kelima jari tangan kirinya dipentang lebar segera menyambar ke belakang dan persis mencengkeram pergelangan tangan kiri Kim Toa-hay.

Dengan gerakan cepat bagaikan kilat, Liong Oh-im segera membalik pedangnya langsung digorokkan ke leher Kim Toa- hay.

Walau urat nadi penting pada pergelangan tangan kiri Kim Toa-hay sudah dicekal sehingga seluruh tubuh tidak memiliki kekuatan untuk melawan lagi. Melihat datangnya sambaran pedang yang langsung menggorok ke arah lehernya, dia tidak dapat berbuat banyak kecuali mengejangkan wajah yang penuh penderitaan dengan pancaran amarah yang meluap- luap.

Pada saat yang kritis itulah, terdengar Bong Thian-gak menjerit kaget, "Tahan!"

Sambil berseru, ia segera mengeluarkan ilmu Kim-na-jiu- hoat tingkat tinggi, dia pergunakan jepitan kedua jari tangannya untuk menahan tusukan pedang Liong Oh-im.

Tindakan nekat yang dilakukan Bong Thian-gak itu kontan saja membuat kaget Tio Tian-seng serta Liong Oh-im.

Mimpi pun, mereka tidak menyangka Bong Thian-gak berani mengeluarkan tindakan semacam ini secara berani.

Liong Oh-im tertawa dingin, sambil mengerahkan tenaga dalam ke batang pedang, dia memilin pedangnya, lalu digesekkan lebih ke belakang. Dalam keadaan begini, seandainya Bong Thian-gak tidak segera melepas tangan, niscaya pergelangan tangannya akan tersayat putus.

Sebaliknya jika Bong Thian-gak mengendorkan cengkeraman, sudah pasti Kim Toa-hay tak dapat lolos dari bencana itu dan termakan oleh tusukan maut ini.

Dalam keadaan kritis dan sangat berbahaya inilah, tiba-tiba Bong Thian-gak membentak, dia segera mengeluarkan ilmu simpanannya yang paling dahsyat.

Kaki kanannya secepat sambaran kilat tahu-tahu menendang urat nadi penting pada pergelangan tangan kanan Liong Oh-im.

Sekalipun Liong Oh-im termasuk jago lihai dunia persilatan, namun sulit baginya untuk menghindarkan diri dari tendangan kilat yang dilancarkan Bong Thian-gak itu.

Seketika pedangnya tertendang hingga mencelat, menancap di atas dinding lorong rahasia itu. Sedemikian kerasnya tenaga serangan itu, terlihat betapa kerasnya getaran pedang itu setelah tertancap pada dinding gua.

Muka Liong Oh-im berubah hijau membesi, secara beruntun dia mundur tiga-empat langkah, lalu bentaknya, "Jian-ciat- suseng, hari ini jika bukan kau yang mati, biarlah aku yang mampus!"

Sembari berseru, dengan kecepatan bagai kilat ia mengeluarkan kipas kumalanya dari saku.

Cepat Bong Thian-gak berseru, "Tunggu dulu Liong- tayhiap, harap kau suka mendengarkan penjelasanku lebih dahulu."

Dalam pada itu Tio Tian-seng telah berjalan mendekat dengan pedang terhunus. Dilihat dari sikapnya waktu itu, jelas jago ini berdiri sepihak dengan Liong Oh-im. Sebaliknya Kim Toa-hay berdiri dengan wajah murung dan penuh rasa dendam, berulang kali dia bermaksud menerjang lagi ke depan.

Untung saja niat itu segera dicegah oleh Bong Thian-gak, serunya sambil menarik tangan, "Kim-piauthau, kau bukan tandingannya."

Dengan menahan tangis Kim Toa-hay berteriak, "Kalian telah membunuh saudara-saudaraku senasib sependeritaan yang telah hidup selama dua puluh tahun di tempat ini. Aku ... aku akan membalas dendam."

Memandang mayat yang bergelimpangan di atas tanah, tanpa terasa hati Bong Thian-gak terasa kecut dan turut melelehkan air mata.

Setelah menghela napas sedih, katanya kemudian, "Liong- tayhiap, terlalu kejam kalian, mengapa kau bantai orang-orang yang tak berdosa itu? Ai "

"Orang-orang ini sama sekali tak berdosa, justru hidup mereka sangat menderita karena sejak dua puluhan tahun berselang mereka telah disekap oleh Thio Kim-ciok dalam Bu- lim-bong ini. Kehidupan mereka sudah lama putus dengan alam kehidupan bebas, sungguh.tak disangka akhirnya mereka harus mati secara mengenaskan karena dibantai oleh kalian secara keji."

"Bong-laute, aku tidak mengerti dengan perkataanmu itu," kata Tio Tian-seng dengan wajah serius. "Ketika orang-orang itu bertemu kami, bagaikan siluman sesat dan setan iblis, mereka menyerang kami secara ganas dan kalap. Apakah kami berdua tidak boleh melakukan perlawanan melindungi keselamatan jiwa sendiri?"

Kembali Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, mereka mati secara mengenaskan, nasib mereka betul-betul mengibakan hati!" Mendadak Liong Oh-im tertawa ringan, jengeknya, "Jian- ciat-suseng, kau tak usah berlagak iba hati macam kucing menangisi tikus, sudah lama aku mencarimu untuk berduel!"

Bong Thian-gak segera menarik wajah secara tiba-tiba, lalu berkata, "Liong Oh-im, tanpa mempedulikan keselamatanku sendiri, aku telah masuk ke dalam Bu-lim-bong. Tujuanku tak lain adalah ingin mencegah Hek-mo-ong yakni Liu Khi turun tangan secara keji untuk membantai kalian."

Perkataan Bong Thian-gak itu diucapkan dengan nada berat dan tegas, setiap kata disertai kesungguhan wajah.

Mendadak Liong Oh-im terbahak-bahak, "Jian-ciat-suseng, kau tak usah berlagak mulia dan baik hati, Thio Kim-ciok tak lain adalah Hek-mo-ong. Barusan kami telah mencoba kelihaian ilmu silatnya dalam lorong rahasia itu."

"Bong-laute," dengan wajah serius Tio Tian-seng berkata, "bila aku mendengar perkataanmu itu semasa masih ada di luar Bu-lim-bong, mungkin hatiku akan ragu dan curiga. Tapi sekarang kami telah yakin, sesungguhnya Hek-mo-ong bukan lain adalah Thio Kim-ciok."

"Tio-pangcu, apa yang telah kalian alami sewaktu berada di Bu-lim-bong ini?" tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut kencang.

"Kami telah merasakan kehebatan serangan maut Hek-mo- ong."

"Ada yang terluka?" tanya Bong Thian-gak dengan terperanjat.

Kembali Liong Oh-im tertawa dingin, "Ilmu silat yang dimiliki sepuluh tokoh persilatan adalah nomor wahid di kolong langit, sekalipun Hek-mo-ong mempunyai tiga kepala enam lengan tak nanti bisa melukai kami." Dengan suara dalam Bong Thian-gak bertanya lagi, "Di saat kalian mendapat serangan brutal dari Hek-mo-ong, apakah Liu Khi hadir pula di tempat kejadian?"

'Tentu saja, Liu Khi pun hadir di arena," sahut Tio Tian- seng sambil mengangguk.

Bong Thian-gak termenung beberapa saat, lalu menjawab dengan lantang, "Orang yang melancarkan serangan kepada kalian waktu itu sudah pasti bukan Hek-mo-ong sesungguhnya."

"Kalau bukan, lalu siapa yang menjadi Hek-mo-ong sesungguhnya menurut pendapatmu?" jengek Liong Oh-im dengan suara dingin dan ketus.

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, Hek-mo-ong yang sesungguhnya tak lain adalah Liu Khi."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh, "Kini Liu Khi telah memancing kalian memasuki Bu-lim-bong. Hal ini tak lain karena Liu Khi dan Thio Kim-ciok telah melakukan persekongkolan secara diam-diam dengan tujuan membasmi kalian sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang dari muka bumi."

"Hm, pada hakikatnya perkataanmu itu hanya ngaco-belo tak keruan," jengek Liong Oh-im sambil tertawa dingin. "Andaikata Liu Khi adalah Hek-mo-ong, maka dia pasti bersumpah tidak akan hidup berdampingan secara damai dengan Thio Kim-ciok. Bagaimana mungkin mereka malah bersekongkol dengan suatu kerja sama yang begitu rapi?"

"Jian-ciat-suseng, kau jangan berbohong. Nah, katakan segera kepada kami, sebetulnya hari ini kau ingin bekerja sama dengan kami untuk membekuk Thio Kim-ciok atau tidak?' Bong Thian-gak tidak langsung menjawab pertanyaan itu, hanya katanya setelah menghela napas panjang, "Kalian enggan menuruti perkataanku, akhirnya kau akan menyesal."

Pada saat itulah mendadak terdengar Kim Toa-hay membentak, "Setelah membunuh tujuh puluh satu lembar nyawa manusia, apakah kalian akan menyudahi persoalan ini di sini saja?"

Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Kim Toa-hay, lalu katanya sambil menggeleng kepala dan menghela napas panjang, "Kim-piauthau, kau tak perlu membalas dendam bagi kematian rekan-rekan senasib sependeritaanmu lagi."

"Mengapa aku tidak boleh membalas dendam bagi kematian mereka?" teriak Kim Toa-hay sambil melotot, matanya merah membara karena kobaran api dendam dan amarah.

"Kedua orang yang kau hadapi sekarang, satu adalah Tio Tian-seng, yang lain adalah Liong Oh-im. Aku rasa kau pasti sudah pernah mendengar nama besar mereka sebelum memasuki Bu-lim-bong ini? Selama puluhan tahun terakhir ini, entah sudah berapa banyak jago persilatan yang tewas di ujung pedangnya. Coba bayangkan berapa orangkah di antara mereka yang berhasil membalas dendam?"

Ucapan itu diutarakan dengan wajar dan merupakan kenyataan, yang lemah memang sulit menghadapi yang kuat, sebab barang siapa nekat melakukannya juga, maka keadaan mereka ibarat telur yang diadu dengan baru cadas.

Tiba-tiba Kim Toa-hay memeluk kepala sendiri sambil menangis tersedu-sedu.

"Betul, aku memang tak berkemampuan untuk membalas dendam bagi kematian saudara-saudaraku itu karena ilmu silat yang kumiliki memang bukan tandingan orang. Sekalipun nekat membalas dendam, paling aku akan mengorbankan jiwaku dengan percuma. Oh, Thian, mengapa kau begini tak adil."

Sambil menangis tersedu-sedu, Kim Toa-hay membalikkan badan berlalu dari situ dengan langkah cepat.

Keadaannya saat ini tak ubahnya seperti orang gila, sambil menjerit dan menangis, dia berlari meninggalkan tempat itu.

Melihat hal ini Bong Thian-gak segera berteriak, "Kim- piauthau ... Kim-piauthau, kemana kau hendak pergi?"

Tapi dalam waktu singkat bayangan tubuh Kim Toa-hay sudah lenyap dari pandangan mata.

Sejak disekap dalam Bu-lim-bong selama dua puluh tahun, keadaan Kim Toa-hay sudah berubah menjadi setengah sinting. Apalagi saat ini mesti menerima pukulan batin yang begitu besar, tak heran ia menjadi gila sungguhan.

Tiba-tiba Tio Tian-seng berkata sambil menghela napas panjang, "Setiap korban yang tewas dalam ruangan ini, tak ubahnya seperti orang gila. Mereka menerkam dan berusaha membunuh lawan begitu bertemu orang asing, sikap dan tindakan mereka sangat mengerikan. Andaikata Bong-laute yang menjumpai keadaan semacam itu, aku yakin kau pun pasti akan terlibat dalam pembantaian secara besar-besaran terhadap mereka. Ai! Aku tidak mengerti, apa sebabnya dalam Bu-lim-bong ini bisa terdapat orang-orang macam itu?"

Bong Thian-gak menggeleng kepala seraya menghela napas panjang, "Walaupun tindakan yang dilakukan Tio- pangcu serta Liong-tayhiap terlalu kejam dan tak berperasaan, namun orang-orang itu pun patut dikasihani, siksaan batin yang dialami selama dua puluh tahun membuat orang-orang itu jadi gila dan kalap. Mereka memang lebih bahagia mengalami kematian daripada harus hidup tersiksa, tapi di antara kita yang memasuki Bu-lim-bong hari ini, mungkin akan mengalami nasib yang sama dengan mereka. Mati kelaparan dalam Bu-lim-bong atau terluka sepanjang hidup di sini hingga tiada kesempatan lagi untuk melihat terangnya matahari."

Berubah hebat paras muka Tio Tian-seng dan Long Oh-im setelah mendengar perkataan itu.

Liong Oh-im tertawa dingin, "Liu Khi telah membawa serta Tang-hay-tocu Long Jit-seng dalam perjalanan kali ini. Betapa pun hebatnya perubahan alat rahasia dalam Bu-lim-bong ini, aku yakin Long Jit-seng pasti dapat memecahkannya serta membawa kami keluar dari Bu-lim-bong dengan selamat."

"Betul, Long Jit-seng memang mempunyai kepandaian ilmu Pat-kwa, ilmu perbintangan, ilmu bangunan serta ilmu perangkap lainnya," kata Bong Thian-gak dingin. "Dan aku pun tahu bahwa Bu-lim-bong tak nanti bisa menyekapnya di sini, tapi sayang sekali Long Jit-seng adalah pembantu utama Hek-mo-ong Liu Khi. Bila kau tak percaya, tunggu saja sampai waktunya nanti!"

Baru selesai ia bicara, mendadak terdengar seseorang berkata pula dengan suaranya yang merdu, "Apa yang diucapkan Jian-ciat-suseng memang benar. Liu Khi telah mengkhianati kita semua."

Mendengar ucapan itu, serentak semua orang berpaling. Dari sudut ruangan bawah tanah itu muncul tiga orang.

Mereka adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, perempuan

tercantik dari wilayah Kanglam Ho Lan-hiang beserta kedua orang pembantu utamanya, Ji-kaucu serta Sim Tiong-kiu.

Melihat kemunculan Ho Lan-hiang, Tio Tian-seng dan Liong Oh-im segera maju ke muka dengan langkah cepat, tanyanya, "Liu Khi telah berkhianat? Apa yang dia lakukan?"

"Liu Khi memancing aku memasuki sebuah pintu mati yang dikenal sebagai telaga selaksa racun penghancur tulang, akhirnya Liu Khi bersama tabib sakti Gi Jian-cau dan Long Jit- seng lenyap secara tiba-tiba." "Apakah perbuatan mereka bisa dianggap sebagai pengkhianatan terhadap kita?" tanya Liong Oh-im hambar.

"Sewaktu berada di telaga selaksa racun penghancur tulang, kami telah bertemu Hek-mo-ong. Dia tidak menyerang kami, melainkan mengambil sikap menawarkan suatu perundingan secara damai."

Sampai di situ, tiba-tiba dia membungkuk dan tidak melanjutkan lagi perkataannya.

"Perundingan secara damai macam apakah yang ia tawarkan kepada kalian?" kembali Liong Oh-im bertanya.

"Ia minta kepadaku untuk menyerahkan bagian peta rahasia harta karun yang menjadi milikku," sahut Ho Lan- hiang sambil tertawa dingin.

Seketika itu juga hati semua orang bergetar keras. "Apakah kau telah menerima tawaran itu?" tanya Liong Oh-

im lagi.

"Masih di dalam pertimbanganku."

Tio Tian-seng menghela napas sedih, katanya kemudian, "Hekmo-ong telah menawarkan pula hal yang sama kepada kami."

"Sejak memasuki Bu-lim-bong ini, teka-teki sekitar identitas Hek-mo-ong yang sesungguhnya makin lama makin kentara. Thio Kim-ciok bukan Hek-mo-ong dan aku rasa setiap orang telah mengetahui hal ini secara jelas."

"Jadi maksudmu Hek-mo-ong adalah satu di antara lima jago tersisa dari sepuluh tokoh persilatan yang masih hidup saat ini?" ujar Liong Oh-im sambil tertawa dingin.

"Benar, satu di antara kelima orang yang masih hidup, malaikat sakti pedang iblis, delapan pedang salju beterbangan, tabib sakti, sastrawan berwajah tampan dan golok sakti berlengan tunggal pastilah Hek-mo-ong yang sedang kita cari."

"Jika ada orang menaruh curiga kepadamu bahwa kau adalah Hek-mo-ong. Bagaimana penjelasanmu tentang tuduhan itu?" jengek Liong Oh-im sambil tertawa dingin.

"Aku tidak menyalahkan, jika kalian berpendapat demikian. Kalian memang wajar mempunyai kecurigaan semacam itu."

"Padahal masalah siapakah Hek-mo-ong sesungguhnya sudah menjadi masalah basi dan tak ada artinya lagi. Sejak kita memasuki Bu-lim-bong, tujuan kita semua hanya satu, yakni melenyapkan Thio Kim-ciok dari muka bumi!"

"Tapi aku kuatir jusru Thio Kim-ciok yang akan melenyapkan kita dari muka bumi."

"Bagus, bagus sekali," kata Liong Oh-im tertawa. "Di saat Thio Kim-ciok sudah mampus nanti, di antara kita pun harus dicarikan suatu penyelesaian secara adil dan cepat, paling tidak harus ditentukan siapa yang lebih unggul di antara kita semua."

"Sekarang kalian masih bisa berkata akan membunuh Thio Kim-ciok. Padahal tahukah kalian, bahwa kita justru sudah terperangkap oleh tipu muslihat Thio Kim-ciok sehingga keselamatan jiwa kalian terancam bahaya maut," kata Bong Thian-gak dingin.

Ho Lan-hiang berpaling dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian katanya pula sambil tertawa ringan, "Apa yang diucapkan Jian-ciat-suseng memang benar, kita sudah terperangkap dalam Bu-lim-bong sehingga setiap salah langkah bisa mengakibatkan jiwa kita terancam bahaya maut."

"Ho Lan-hiang, apa rencanamu sekarang? Tak ada salahnya diutarakan secara blak-blakan," seru Tio Tian-seng tiba-tiba. Perempuan paling cantik dari wilayah Kanglam ini segera tertawa cekikikan, "Saat ini aku tak lain hanya ingin memberitahukan kepada kalian bahwa Liu Khi telah berhasil menarik Tan Sam-cing serta Gi Jian-cau berpihak kepadanya. Mereka berniat hendak melenyapkan kita dari muka bumi."

"Jadi kau pun berniat mengajak Lohu dan Liong Oh-im untuk bekerja sama menghadapi mereka?" kata Tio Tian-seng hambar.

"Aku rasa hanya dengan berbuat demikianlah kekuatan kita baru akan berimbang."

Tio Tian-seng mendengus dingin, "Ketika kita belum masuk ke dalam Bu-lim-bong, sudah kuduga kalau kau, Ho Lan-hiang akan melakukan pengacauan dari tengah. Ai, bila kita sampai berbuat begini, maka keselamatan jiwa kita semua yang berada dalam Bu-lim-bong ini benar-benar berbahaya sekali!"

Ho Lan-hiang menarik muka secara tiba-tiba seraya berseru, "Apa yang ingin kuutarakan telah kusampaikan, apa yang menjadi keputusan terserah pada pilihan kalian sendiri."

"Hm, dalam peristiwa pembunuhan yang dilakukan sepuluh tokoh persilatan terhadap Thio Kim-ciok pada tiga puluh tahun berselang, tak lain karena gara-gara dirimu."

Berubah hebat paras muka Ho Lan-hiang setelah mendengar perkataan itu, segera bentaknya, "Tio Tian-seng, kau hendak mencari kesulitan bagi dirimu sendiri?"

Dengan wajah serius Tio Tian-seng berkata lebih jauh, "Peristiwa itu telah berkembang menjadi begini sekarang, aku pun tak ingin melindungi lagi nama baik sepuluh tokoh persilatan. Ai, dulu sepuluh tokoh persilatan bukan cuma memperkosa istri orang lain, merampok harta kekayaan orang, bahkan membunuh pula korbannya. Perbuatan semena-mena ini boleh dibilang merupakan dosa besar yang tak akan dapat ditebus dengan kematian saja." "Tio Tian-seng," tiba-tiba Liong Oh-im membentak, "perbuatanmu ini benar-benar sudah keterlaluan."

Di Tengah bentakan itu, tiba-tiba saja Liong Oh-im menggerakkan pedangnya melancarkan sebuah tusukan kilat ke depan.

Bong Thian-gak segera membentak, sebuah bacokan dilepaskan pula ke muka, angin pukulan yang kuat dan dahsyat itu seketika menggetarkan tubuh Liong Oh-im hingga mundur sejauh tiga langkah.

Sementara itu Tio Tian-seng telah berkata dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh, "Liong-heng, kuanjurkan kepadamu janganlah mengulang lagi perbuatan salah yang pernah kita lakukan bersama pada tiga puluh tahun berselang."

Sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im tertawa dingin, "Tio Tian-seng, aku mau bertanya kepadamu, apa yang menjadi tujuan kedatanganmu ke Bu-lim-bong hari ini?"

Tio Tian-seng tidak langsung menjawab, melainkan tertawa seram, "Yang menjadi tujuan utama kedatanganku ke Bu-lim- bong hari ini tak lain adalah untuk mengetahui apakah Thio Kim-ciok benar-benar masih hidup di dunia ini."

Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak segera menyela dengan lantang, "Tio-locianpwe, Boanpwe dapat memberitahukan kepadamu, Thio Kim-ciok masih hidup segar bugar di dunia ini."

"Bagus, bagus sekali," Tio Tian-seng tertawa tergelak. "Kalau memang Thio Kim-ciok masih hidup segar bugar, maka kedatanganku ke Bu-lim-bong ini tanpa suatu maksud dan tujuan lagi. Andaikata dibilang ada maksud, maka maksudku tak lain adalah minta maaf kepada seseorang serta menyesali semua perbuatan yang pernah kulakukan dulu." "Apakah orang yang dimaksudkan Tio-pangcu adalah Thio Kim-ciok?" tanya Bong Thian-gak lebih lanjut dengan suara dalam.

"Benar, aku telah melakukan suatu perbuatan yang sangat memalukan dan amat salah terhadap Thio Kim-ciok."

Dengan wajah berat dan serius Bong Thian-gak mendesak lebih lanjut, "Tadi Tio-pangcu mengatakan sepuluh tokoh persilatan telah memperkosa istri orang dan merampok harta kekayaannya. Apakah hal ini benar-benar pernah terjadi?"

Tio Tian-seng menghela napas sedih.

"Dari kesepuluh tokoh orang persilatan yang ada, kecuali seorang di antaranya yang merupakan wanita, hampir semuanya sudah pernah melakukan hubungan senggama dengan Ho Lan-hiang."

Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak setelah mendengar ucapan yang terakhir ini, segera serunya, "Apakah Ku-lo Hwesio, si pendeta agung dari Siau-lim-pay pun tak lolos dari perbuatan ini?"

"Bila aku berbicara bohong barang sepatah kata saja, biar Thian menumpas diriku."

Bong Thian-gak benar-benar amat terkejut. Walaupun hingga detik ini dia masih belum mau mempercayainya seratus persen, tetapi bila teringat akan kejalangan serta daya pikat yang dimiliki Ho Lan-hiang, mau tak mau dia harus percaya juga akan hal itu.

Dengan wajah hijau membesi, Liong Oh-im tertawa seram, lalu serunya, "Tio Tian-seng, kau anggap setelah pengakuan dosamu itu lantas Thio Kim-ciok bakal mengampuni dosa- dosamu? Seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab dan selamanya tak kenal kata menyesal. Tak nyana kau adalah manusia pengecut semacam ini. Hm! Akulah orang pertama yang akan melenyapkan kau dari muka bumi."

Liong Oh-im segera menggerakkan pedangnya sambil bersiap-siap melancarkan serangan.

Mendadak pada saat itu di tengah ruangan terjadi getaran gempa bumi yang amat keras, sedemikian kerasnya hingga menggoyang semua dinding ruangan.

Semua jago tak mampu berdiri tegak lagi oleh getaran itu, masing-masing segera jatuh terjungkal ke atas tanah.

Bong Thian-gak sendiri merasa amat terperanjat atas terjadinya getaran keras yang muncul secara tiba-tiba itu, namun sepasang matanya yang tajam tetap mengawasi empat penjuru dengan seksama.

Begitu memandang, Bong Thian-gak segera menyaksikan suatu perubahan alat rahasia yang amat luar biasa.

Ternyata di tengah gempa bumi keras yang menggetar ruangan itu, keempat dinding ruangan besar dan semua pintu turut bergeser, bahkan permukaan ruangan pun pelan-pelan ikut bergerak naik ke atas.

Gempa bumi yang sangat kuat itu berlangsung kurang lebih seperempat jam lamanya sebelum akhirnya berhenti.

Namun pemandangan di sekeliling ruangan telah berubah sama sekali, kini dari sekeliling dinding ruangan telah muncul delapan buah lorong besar yang membentang jauh ke perut bumi sana. Tapi berhubung suasana di situ amat gelap, maka tiada seorang pun yang tahu betapa dalam setiap lorong yang ada di sana.

Sementara semua orang masih bimbang dan kaget oleh perubahan yang terjadi secara amat mendadak itu, tiba-tiba dari tengah ruangan berkumandang suara seseorang yang berkata dengan aneh, "Para jago dengarkan baik-baik, sekarang pintu Pat-kwa-bun dari Bu-lim-bong telah tertutup semua. Dalam keadaan begini, sekalipun kalian mempunyai sayap jangan harap bisa meninggalkan Bu-lim-bong ini barang selangkah pun."

Begitu mendengar suara ini, Bong Thian-gak segera melompat bangun dan membentak dengan suara keras, "Apakah kau adalah Hek-mo-ong?"

Gelak tawa itu terhenti sejenak, kemudian baru terdengar ia menjawab, "Benar, aku adalah Hek-mo-ong. Sebenarnya orang yang hendak dibunuh Thio Kim-ciok hanya sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang, tapi kalian orang-orang yang berada di luar garis ternyata ikut mencari kematian bagi diri sendiri dengan ikut masuk ke dalam Bu-lim-bong. Hal ini tidak dapat menyalahkan aku kelewat kejam, salah sendiri kalian tak mau menuruti perkataanku?"

Di tengah pembicaraan itu, dari balik delapan lorong yang tersebar di delapan penjuru itu bermunculan pula delapan orang.

Kedelapan orang itu tak lain adalah Biau-kosiu, nenek berambut putih serta Biau-han-thian suami-istri yang berada dalam satu kelompok, lalu Gi Jian-cau, Tan Sam-cing serta Long Jit-seng, pada rombongan ketiga adalah Kim Toa-hay yang sudah sinting itu.

Dari sekian jago yang memasuki Bu-lim-bong, hanya Liu Khi seorang yang tidak nampak hadir di situ sekarang.

Ho Lan-hiang memandang sekejap ke arah semua jago yang hadir, lalu tertawa cekikikan, gumamnya, "Hanya Liu Khi seorang yang tidak muncul di sini. Kalau begitu, dia adalah Hek-mo-ong sesungguhnya."

Sementara itu Gi Jian-cau sekalian berdelapan yang baru muncul dari balik lorong hampir semuanya dalam keadaan sangat mengenaskan dan ada yang terluka, di antaranya Long Jit-seng yang tampaknya menderita luka paling parah, tubuhnya harus dibimbing oleh Tan Sam-cing agar tidak roboh.

Dengan suara keras Bong Thian-gak segera membentak, "Hek-mo-ong, aku rasa setiap orang sudah mengetahui siapakah dirimu sekarang. Bukankah kau adalah Liu Khi?"

Dari balik ruangan bergema suara gelak tawa penuh kebanggaan, terdengar dia menyahut, "Dalam keadaan seperti ini, tentu saja kalian sudah tahu siapakah aku. Benar, Hek-mo- ong adalah Liu Khi. Tapi sayang, kalian terlalu lambat mengetahui akan hal ini."

Dengan suara dalam tabib sakti Gi Jian-cau berseru, "Betul, Liu Khi adalah Hek-mo-ong dan Hek-mo-ong adalah komplotan Thio Kim-ciok, sudah sejak dahulu Hek-mo-ong menerima permintaan Thio Kim-ciok untuk membunuh habis sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang. Hari ini kita sudah terjebak oleh perangkapnya."

"Hehehe," kembali terdengar suara tertawa licik Hek-mo- ong dari balik ruangan, "Gi Jian-cau, apa yang kau ucapkan memang benar. Sejak tiga puluh tahun berselang, Liu Khi sudah menerima permintaan Thio Kim-ciok untuk membinasakan kalian."

Kemudian Ho Lian-hiang berseru pula sambil tertawa cekikikan, "Liu Khi, apa balas jasa yang dijanjikan Thio Kim- ciok kepadamu sebagai imbalan dalam pembunuhan ini?"

"Peta rahasia dari bukit tambang emas."

"Akhirnya bukankah kau sendiri pun dikhianati oleh Thio Kim-ciok?" jengek Ho Lan-hiang lagi sambil tertawa.

"Tidak, aku sama sekali tidak dikhianati oleh Thio Kim- ciok."

"Bila kau tidak dikhianati oleh Thio Kim-ciok, mengapa Thio Kim-ciok merobek peta rahasia tambang emasnya menjadi sebelas bagian dan dibagikan kepada sepuluh tokoh persilatan serta aku?"

Hek-mo-ong tertawa seram,

"Tujuan Thio Kim-ciok berbuat demikian tak lain adalah untuk mengadu domba kalian, agar kalian saling gontok dan bunuh demi memperebutkan peta rahasia itu. Dengan cara begitu pula aku baru dapat membunuh kalian dengan mudah. Itulah sebabnya pembagian peta rahasia itu menjadi sebelas bagian sebetulnya merupakan salah satu rencanaku, hanya saja Thio Kim-ciok tak pernah menyangka kalau sepuluh tokoh persilatan bakal bekerja sama dengan Ho Lan-hiang untuk membinasakan dirinya."

"Kau benar-benar adalah Liu Khi?" tiba-tiba Tio Tian-seng membentak.

Hek-mo-ong tertawa tergelak.

"Tio-pangcu, apakah kau menemui kesulitan? Silakan sampaikan, aku pasti akan membantu memecahkan kesulitanmu itu."

"Benar, aku memang mempunyai banyak persoalan yang tidak kupahami. Pertama, kami ingin membuktikan lebih dahulu benarkah kau adalah Liu Khi yang asli? Untuk itu harap kau tampil lebih dahulu."

Hek-mo-ong tertawa licik, "Tio-pangcu, aku tidak akan tampil seperti apa yang kau inginkan, tetapi aku dapat memberitahukan kepadamu bahwa aku memang golok sakti berlengan tunggal yang asli. Bila kurang percaya, tanyakan saja kepada Gi Jian-cau."

"Benar, dia adalah Liu Khi. Tapi ada satu hal yang sulit dipercaya, yakni Thio Kim-ciok ternyata berada sekomplotan dengannya."

"Hm, mengapa aku tidak bisa berkomplotan dengan Thio Kim-ciok?" seru Hek-mo-ong lagi dengan tertawa dingin. "Pertama, aku Liu Khi tidak pernah berzinah dengan istrinya. Kedua, di saat sepuluh tokoh persilatan bekerja sama membunuh Thio Kim-ciok pada tiga puluh tahun berselang, aku pun tidak turut ambil bagian."

"Dalam peristiwa pengeroyokkan yang terjadi atas Thio Kim-ciok tempo hari, Tan Sam-cing tak turut ambil bagian," kata Tio Tian-seng.

"Sekalipun Tan Sam-cing tidak turut ambil bagian dalam peristiwa pengeroyokan dan pembunuhan atas Thio Kim-ciok dulu, namun secara diam-diam ia mencintai Ho Lan-hiang.

Jadi soal perempuan, ia tetap terlibat secara langsung."

Mendadak Bong Thian-gak membentak, "Liu Khi, walaupun kau tidak turut serta dalam peristiwa pengeroyokan dan pembunuhan atas Thio Kim-ciok, tapi sesungguhnya kaulah dalang yang mengatur peristiwa itu, kaulah otak dari peristiwa berdarah ini."

Hek-Mo-ong tertawa terbahak-bahak, "Justru aku adalah Hek-mo-ong, maka aku pula yang menjadi otak semua peristiwa ini. Biarpun begitu, nyatanya Thio Kim-ciok bersedia bekerja sama denganku."

Tiba-tiba Biau-kosiu membentak pula, "Hek-mo-ong, apakah ayahku Kui-kok Sianseng mati di tanganmu?"

Hek-mo-ong tidak menjawab, kemudian baru berkata, "Tidak, bukan aku yang membunuh."

"Lantas siapakah pembunuhnya?" bentak Biau-kosiu lebih jauh.

"Tio Tian-seng yang melakukan, tapi boleh dibilang juga Ho Lan-hiang yang telah membunuh ayahmu itu."

Paras muka Biau-kosiu kontan berubah hebat, keningnya berkerut dan hardiknya kepada Tio Tian-seng, "Tio-pangcu, benarkah apa yang dikatakan Hek-mo-ong?" Bong Thian-gak amat terperanjat, ditatapnya Thio Tian- seng tanpa berkedip. Dalam hati dia sangat berharap jago tua itu menyangkal tuduhan itu.

Akan tetapi Tio Tian-seng segera menghela napas panjang, "Ya benar, Kui-kok Sianseng memang tewas di ujung pedangku, tetapi pertarungan itu berlangsung secara jantan dan terbuka. Aku sama sekali tak menggunakan tipu- muslihat."

"Mengapa kau membunuh ayahku? Ayo cepat katakan!" bentak Biau-kosiu dengan marah.

Suara tertawa licik Hek-mo-ong sekali lagi bergema, terdengar ia berkata, "Tio Tian-seng membunuh Kui-kok Sianseng demi perempuan paling cantik di wilayah Kanglam Ho Lan-hiang, sebab waktu itu Kui-kok Sianseng sedang gila- gilanya mencintai Ho Lan-hiang, sedangkan Tio Tian-seng adalah seorang pelindung Ho Lan-hiang. Dalam situasi sama- sama cemburu dan ingin merebut hati sang pujaan hati, tidak heran mereka bertarung mati-matian."

"Hek-mo-ong," bentak Biau-kosiu dengan marah, "kau jangan ngaco-belo bicara sembarangan. Aku tidak percaya ayahku berbuat demikian."

Gelak tawa Hek-mo-ong kembali berkumandang, selanya tiba-tiba, "Bukan cuma Kui-kok Sianseng yang mampus gara- gara cemburunya terhadap perempuan ini, bahkan Oh Ciong- hu pun tewas di ujung pedang Tio Tian-seng karena alasan yang sama."

Paras muka Bong Thian-gak berubah hebat, dengan suara dalam ia segera bertanya kepada Tio Tian-seng, "Benarkah apa yang dikatakan Liu Khi barusan?"

"Ya, semua yang dikatakannya memang benar," Tio Tian- seng menghela napas panjang. Biau-kosiu tak mampu menahan gejolak emosinya lagi, dia segera membentak, "Tio Tian-seng, bersiap-siaplah kau menerima kematianmu!"

Sembari berkata gadis itu maju tiga langkah dan sepasang tangannya dengan cepat melolos dua bilah pisau belati yang bersinar tajam.

"Nona Biau," Tio Tian-seng segera berkata dengan suara dalam, "aku tak ingin membunuh orang lagi, harap kau jangan bergerak sembarangan."

"Siapa membunuh orang, dia harus membayar dengan nyawanya sendiri. Bagaimana pun juga aku tetap akan membalas dendam bagi kematian ayahku," bentak Biau-kosiu sambil melotot.

Di tengah pembicaraan, tubuhnya bergerak maju ke depan, seperti sebuah gasing yang sedang berputar dia mendesak maju, sementara sepasang pisau belatinya bagaikan dua titik cahaya bintang menusuk ke bagian mematikan di tubuh Tio Tiang-seng.

Segera Tio Tian-seng melompat ke belakang, kemudian bentaknya, "Nona Biau, dengarkan dulu perkataanku! Aku membunuh ayahmu serta Oh Ciong-hu tak lain karena tindakan melindungi diri sendiri, dalam suatu pertarungan yang tak bisa dihindarkan bisa jatuh korban di salah satu pihak."

"Kau tak usah banyak bicara," tukas Biau-kosiu sambil menahan geramnya. "Jika punya kepandaian, bunuhlah aku!"

Di tengah bentakannya, pisau belatinya kembali menyergap jalan darah mematikan di tubuh Tio Tian-seng dengan kecepatan bagaikan sambaran petir. Setiap jurus serangan dilakukan secara cepat dan merupakan ancaman serius.

Di bawah sergapan pisau belatinya yang bertubi-tubi, selangkah demi selangkah Tio Tian-seng mundur terus, namun ia sempat berbicara lagi, "Nona Biau, aku sudah merasa menyesal karena pernah diperalat oleh Ho Lan-hiang sehingga membunuh orang. Hari ini aku tak berkeinginan melukaimu."

"Tapi aku pun berharap kau jangan mendesak dan memojokkan aku. Jika kau ingin membalas dendam, tunggulah setelah kita keluar dari Bu-lim-bong ini dengan selamat, waktu itu aku pasti akan memberi keadilan kepadamu," tambah Tio Tan-seng.

Mendadak terdengar Bong Thian-gak membentak pula, "Nona Biau, harap kau hentikan dulu seranganmu itu."

Sambil berseru pemuda itu menerjang masuk ke dalam arena. Telapak tangan kanannya segera diayunkan ke muka melepaskan sebuah pukulan, angin serangan yang tajam segera membendung datangnya ancaman Biau-kosiu.

"Kau berniat membantunya?" bentak Biau-kosiu dengan marah, keningnya berkerut kencang.

Dengan wajah serius dan nada bersungguh-sungguh Bong Thian-gak berkata, "Nona Biau, dengarkan nasehatku, untuk sementara waktu janganlah kau menyerang secara sembarangan."

"Dendam kesumat terbunuhnya ayahku lebih dalam daripada samudra, aku tak bisa melepaskannya begitu saja."

"Biarpun Tio Tian-seng adalah musuh besar pembunuh ayahmu, tapi Ho Lan-hiang adalah otak di belakang layar yang memberi perintah kepadanya. Apakah perempuan ini tak pantas dibunuh?"

Biau-kosiu tertawa dingin, "Hm, setelah membunuh Tio Tian-seng nanti, Ho Lan-hiang pun tak bakal lolos dari kematian."

Ho Lan-hiang yang selama ini hanya menonton dari samping segera tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya, "Nona Biau, aku berani bertaruh kepadamu, orang-orangmu tak bakal mampu menandingi kehebatan Tio Tian-seng. Percaya tidak?"

"Hm, sekalipun bukan tandingannya, aku tetap akan mengadu kepandaian dengannya," jawab gadis itu.

Bong Thian-gak segera berkata dengan suara dalam, "Nona Biau, harap kau suka mendengarkan perkataanku baik-baik, semua jago persilatan yang hadir dalam Bu-lim-bong saat ini hampir semuanya mempunyai niat busuk, mereka berharap ada satu pihak yang bertarung lebih dulu, sementara mereka akan menjadi nelayan beruntung yang tinggal memungut hasilnya. Apakah kau tak dapat merasakan gejala itu?"

Biau-kosiu mendengus dingin, "Asal aku berhasil mengalahkan Tio Tian-seng, dengan sendirinya para jago lain pun dapat kutaklukkan. Nah, Jian-ciat-suseng, harap kau mundur dari situ."

Tio Tian-seng kembali menghela napas panjang, "Ai, sebenarnya aku ingin menyimpan sedikit tenaga untuk menghadapi Ho Lan-hiang lebih dulu, sungguh tak disangka nona Biau justru mendesakku terus-menerus. Kalau kau ingin cepat membalas dendam bagi kematian ayahmu, silakan segera turun tangan!"

Tio Tian-seng segera melintangkan pedangnya di depan dada dan berdiri dengan serius, sementara dari balik matanya memancar sinar tajam yang menggidikkan.

"Tunggu sebentar," tiba-tiba Bong Thian-gak membentak. "Aku ingin bertanya dulu kepada Tio-pangcu, apa sebabnya kau membunuh Oh Ciong-hu?"

Tio Tian-seng memandang sekejap ke arah Bong Thian- gak, lalu menghela napas, "Tentang segala budi dendam yang menyangkut sepuluh tokoh persilatan, tentunya Bong-laute sudah mengetahui sedikit banyak, bukan? Kalau ditanya apa alasanku membunuh Oh Ciong-hu, maka hal ini tak lain disebabkan karena perempuan jalang itu." "Apakah Oh Ciong-hu pernah mencintai Ho Lan-hiang?" "Ho Lan-hiang adalah perempuan jalang dan pandai

memikat perhatian lelaki."

"Sepuluh tokoh persilatan bukan orang suci, tentu saja mereka tak akan lolos dari rayuan mautnya, apalagi Oh Ciong- hu dan Ho Lan-hiang adalah saudara seperguruan, mereka pernah saling mencintai di masa lalu. Bagaimana mungkin Oh Ciong-hu bisa lolos dari perangkap mautnya?"

"Sekarang pun aku lihat masih ada juga mereka yang terpikat oleh rayuannya hingga rela menjual nyawa baginya."

"Apakah Tio-pangcu turun tangan membunuh musuh cintamu karena kuatir perempuan jalang itu terjatuh ke dalam pelukan orang lain?"

Tio Tian-seng sekali lagi menghela napas panjang, "Kemungkinan besar Bong-laute tidak akan percaya dengan perkataanku, tapi cerita yang sesungguhnya adalah Oh Ciong- hu yang kuatir aku merampas perempuan jalang ini hingga turun tangan lebih dulu membunuhku."

Bong Thian-gak menggeleng kepala. -

"Sekarang Oh Ciong-hu telah mati, tentu saja aku tak akan percaya dengan pengakuan dari seorang yang masih hidup seperti kau."

Kembali Tio Tian-seng menghela napas, "Seandainya Ho Lan-hiang tidak bohong, dia pasti akan membeberkan duduk persoalan yang sesungguhnya kepadamu."

Mendengar ucapan itu, tanpa terasa Bong Thian-gak mengalihkan sorot matanya ke arah Ho Lan-hiang.

Perempuan paling cantik dari wilayah Kanglam itu segera tertawa ringan, katanya cepat, "Alasan utama Tio Tian-seng membunuh Oh Ciong-hu tak lain disebabkan hendak membalas dendam atas sebuah pukulan yang pernah diterimanya dulu."

"Ho Lan-hiang, kau berbohong," bentak Tio Tian-seng.

Bong Thian-gak menghela napas seraya berkata, "Tio- pangcu, tak usah berdebat lagi tentang masalah kematian yang menimpa Oh Ciong-hu, sebab aku sudah tidak berhasrat untuk menyelidiki lebih lanjut Pertikaian antara sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok serta perselisihan kalian dengan Hek-mo-ong, lebih baik kalian sendiri yang menyelesaikannya!"

"Ai, saat ini aku justru merasa agak menyesal karena ikut terseret ke dalam persoalan ini."

Tiba-tiba Biau-kosiu mendengus dingin sambil mengumpat, "Huh, manusia tak becus, lelaki banci. Sudah tahu gurunya terbunuh, kau malah menyatakan cuci tangan dari persoalan itu. Andaikata arwah Oh Ciong-hu di alam baka tahu hal ini, ia pasti akan menyesal telah menerima murid yang tak bertanggung-jawab macam kau."

"Nona Biau, hati-hati kalau bicara," tegur Bong Thian-gak dengan serius.

"Memangnya aku salah mengumpatmu?" kembali Biau- kosiu menjengek secara sinis.

"Tentang pertikaian sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok, aku telah mengetahui persoalan itu sejelasnya.

Sepuluh tokoh persilatan telah terayu oleh kejelitaan Ho Lan- hiang, saling cemburu, saling membenci dan akhirnya saling membunuh. Perbuatan busuk semacam ini jelas merupakan perbuatan rendah dan memalukan, aku rasa hanya Tio Tian- seng seorang yang berani mengungkapnya. Oleh sebab itu aku merasa amat kagum atas keberanian Tio-pangcu."

"Dan kini aku sudah mengetahui dengan jelas bahwa guruku pernah melakukan perbuatan rendah yang sangat memalukan. Apakah aku harus mencari gara-gara lagi secara membabi-buta tanpa membedakan mana yang benar dan yang salah?"

"Ai, yang lebih menggemaskan lagi adalah dengan ilmu silat serta nama besar sepuluh tokoh persilatan, ternyata mereka rela dipikat dan dirayu oleh seorang perempuan jalang sehingga nama baik hancur, orangnya pun binasa. Peristiwa ini benar-benar amat tragis."

Perkataan Bong Thian-gak yang diutarakan secara blak- blakan ini kontan membuat paras muka Tio Tian-seng, Tan Sam-cing, Gi Jian-cau dan Liong Oh-im berubah merah padam, dengan mulut terbungkam mereka menundukkan kepala.

Sementara itu dengan wajah bimbang Biau-kosiu bergumam pula, "Mungkinkah ayah pun ikut terpikat oleh perempuan jahat itu?"

Ho Lan-hiang tertawa terkekeh-kekeh, dengan suara jalang ujarnya, "Bagus sekali umpatanmu itu Jian-ciat-suseng, tetapi kau tentu tahu bahwa bencana keluarnya dari mulut. Hari ini kau sudah dipastikan harus mati di sini."

Sampai di situ, dia segera mengulap tangan kanan. Kakek berbaju hitam yang berada di sampingnya yaitu Sim Tiong-kiu segera melangkah maju, sambil bentaknya, "Jian-ciat-suseng, bersiap-siaplah kau menerima kematian!"

Bong Thian-gak sudah pernah bertarung melawan Sim Tiong-kiu, dia tahu kakek itu memiliki ilmu jari yang lihai sekali. Oleh sebab itu segera dia menghimpun seluruh tenaga dan perhatiannya dengan memperhatikan jari telunjuk tangan kiri lawan.

"Sim Tiong-kiu!" katanya kemudian sambil tertawa dingin, "jika kau sudah mendengar kisah hubungan gelap sepuluh tokoh persilatan dengan Ho Lian-hiang, apakah kau masih terpikat oleh kegenitan dan kecantikannya hingga rela berbakti terus kepadanya? Padahal dengan tampangmu, wahai Sim Tiong-kiu, benarkah kau memperoleh kasih sayang sejati darinya?"

Ucapan Bong Thian-gak itu penuh dengan sindiran, membuat paras muka Sim Tiong-kiu seketika itu juga berubah merah padam dan untuk sesaat lamanya tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Berubah pula paras muka Ho Lan-hiang, segera bentaknya keras, "Sim Tong-kiu, kau berani melanggar sumpahmu?"

Tatkala mendengar teguran itu, tiba-tiba saja sekujur badan kakek berbaju hitam Sim Tiong-kiu gemetar keras, jari telunjuk tangan kirinya segera ditekuk, kemudian melakukan sentilan keras ke depan.

Serangan jari yang dahsyat dan luar biasa itu bagaikan sambaran halilintar segera meluncur ke muka dan langsung menyerang jalan darah kematian di dada Bong Thian-gak.

Bong Thian-gak memang sudah tahu Sim Tiong-kiu memiliki ilmu jari yang sangat hebat dengan daya penghancur yang luar biasa, maka di saat Sim Tiongrkiu baru saja menggerakkan jari tangannya, ia sudah menerjang ke muka.

Diiringi suara bentakan yang keras, pedang kayu di tangannya langsung dicabut dan menusuk iga kiri Sim Tiong- kiu.

Ilmu pedang yang diiringi terjangan kilat ini dilakukan dengan gerakan yang mengerikan, tak heran paras muka kawanan jago yang hadir berubah hebat.

Serta-merta Sim Tiong-kiu menggeser kaki kirinya ke samping, lalu meluncur mundur untuk meloloskan diri dari serangan pedang pemuda itu.

Menyaksikan serangan jari tangan Sim Tiong-kiu yang istimewa dan luar biasa itu gagal membunuh lawan, kembali paras muka Ho Lan-hiang berubah hebat, segera serunya, "Mundur kau, apakah sebelum ini kalian sudah pernah bertarung?"

Sim Tiong-kiu segera mengundurkan diri ke sampingnya, lalu menjawab, "Ya, ketika berada di kuil Hong-kong-si tempo hari, kami sudah pernah bertarung."

Setelah memukul mundur Sim Tiong-kiu dengan serangan pedangnya, Bong Thian-gak tidak melanjutkan dengan serangan kedua, sebaliknya sambil melintangkan pedang di depan dada, ia berkata dengan lantang, "Ho Lan-hiang, ilmu jarinya yang merupakan senjata maut pencabut nyawa sudah tak mampu melukai diriku lagi, bahkan rahasia pedang Cing- tong-kiam milik Ji-kaucu pun sudah kuketahui dengan jelas. Oleh karena itu kedua orang utusan pelindung bungamu sudah tidak sanggup lagi melindungi keselamatan jiwamu, mengapa kau tidak turun tangan sendiri untuk bertarung melawanku?"

Tantangan Bong Thian-gak yang diucapkan secara blak- blakan dan terus terang ini segera membuat Ho Lan-hiang mengernyitkan alis, hawa membunuh segera menyelimuti wajahnya, dia berseru, "Ji-kaucu!"

Ji-kaucu yang berada di sisi kirinya segera menyahut dengan suara lantang, "Siap!"

"Kau tampil ke muka dan bunuh keparat itu!"

"Harap Cong-kaucu jangan kelewat emosi," kata Ji-kaucu dengan kalem tanpa luapan perasaan. "Aku rasa waktu untuk membunuhnya belum tiba."

Ketika mendengar ucapan ini, hawa membunuh yang semula telah menyelimuti wajahnya mendadak lenyap, sebagai gantinya ia segera menampilkan wajah lembut dan ramah, setelah tertawa terkekeh, katanya, "Ji-kaucu, kau memang tak malu menjadi tangan kananku. Kecerdasan otakmu sungguh mengagumkan." Sebaliknya Bong Thian-gak segera menjengek sambil tertawa dingin, "Ji-kaucu, kau tidak usah mencoba menyimpan tenaga lagi. Hari ini aku ingin mencoba kelihaian ilmu silatmu."

Saat itu Bong Thian-gak telah berdiri dengan pedang dilintangkan di depan dada, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, sementara hawa membunuh telah menyelimuti wajahnya.

Setiap jago dalam arena dapat melihat bahwa pemuda itu telah menghimpun tenaga murninya dan siap melepaskan serangan pedang terbangnya.

Keadaan Bong Thian-gak yang sudah siap melepaskan serangan pedang terbangnya saat ini ibarat anak panah yang sudah berada di gendewa yang ditarik. Oleh karena itu Ji- kaucu yang menyaksikan keadaan itu segera mengerti bahwa dia tak bisa meloloskan diri lagi dari ancaman.

Kaki kiri Ji-kaucu segera maju setengah langkah, tangan kanannya secepat kilat mencabut pedang bercahaya hijau dari pinggang, lalu setelah tertawa seram, katanya, "Jian-ciat- suseng, hari ini kita memang harus bertarung!"

"Dendam sakit hati yang telah terjalin di antara kita berdua rasanya cepat atau lambat harus dituntaskan, pertarungan memang tak dapat dihindari lagi," sahut Bong Thian-gak sambil tersenyum.

"Selama ini kau tak lebih cuma panglima yang kalah perang, aku rasa hari ini pun kau tak akan lolos dari nasib kekalahan konyol."

Bong Thian-gak segera mendengus dingin, "Hm, seandainya aku menderita kekalahan lagi di tanganmu, biar mati pun aku tak menyesal!"

Selesai berkata Bong Thian-gak segera menggerakkan bahunya bergerak ke muka, pedangnya dengan jurus pelangi panjang menutupi matahari langsung meluncur. "Serangan bagus!" bentak Ji-kaucu.

Di tengah kilauan cahaya pedang berwarna hijau serta lejitan bintang merah berkilauan, tiba-tiba berkumandang suara gemerincingan

yang amat nyaring.

Serangan pedang Bong Thian-gak yang dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat itu tahu-tahu sudah terbendung.

Dalam pengaruh hawa murninya yang disalurkan ke tubuh pedang itu, pedang bambu yang lemah telah berubah menjadi keras dan tajam bagaikan pedang sungguhan.

Itulah sebabnya ketika bentrokan yang barusan terjadi, pedang bambunya tidak menjadi putus karena ketajaman pedang lawan.

Begitu pedang bambu Bong Thian-gak digetarkan terpental ke belakang, tangan kirinya segera diputar kencang, pedangnya seperti seekor naga sakti yang sedang membalik badan, menyambar dari bawah ke atas langsung merobek lambung Ji-kaucu.

Ilmu pedang yang sangat aneh dan luar biasa semacam ini pada hakikatnya di luar dugaan siapa pun juga.

Mimpi pun Ji-kaucu tidak mengira gerak serangan Bong Thian-gak yang berhasil dibendung itu dalam waktu singkat telah berubah arah, menyergap bagian mematikan di tubuhnya.

Sementara dia masih terperanjat menghadapi perubahan itu, tahu-tahu ujung pedang Bong Thian-gak sudah menempel di atas baju Ji-kaucu yang menutupi lambungnya. Dalam keadaan demikian, sekalipun ada malaikat turun dari kahyangan, rasanya tak mampu menolong Ji-kaucu lolos dari musibah ini. Bisa dibayangkan betapa cepatnya sambaran pedang jago- jago lihai yang sedang bertarung. Waktu itu tiada kesempatan lagi bagi Ji-kaucu untuk memutar otak, mendadak hawa membunuh memancar dari wajahnya, pedangnya segera dibalik, lalu ditusukkan pula ke dada Bong Thian-gak.

Dalam anggapan para jago, serangan pedang Ji-kaucu itu tak lebih cuma gerakan sia-sia, karena ancaman itu tak ada artinya.

Padahal waktu itu serangan pedang Bong Thian-gak sudah hampir mengenai tubuh Ji-kaucu, andaikata menyerang pun Ji-kaucu tentu akan tewas lebih dulu di ujung senjata Bong Thian-gak.

Itulah sebabnya serangan Ji-kaucu ini pada hakikatnya tidak akan memberikan manfaat apa pun.

Tapi siapakah yang dapat menduga kalau di balik serangan Ji-kaucu itu sesungguhnya ia sedang melakukan tindakan nekat mengajak lawan mengadu jiwa.

Pedang tembaga berwarna hijau itu bukan saja dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai kehendak hati, bahkan bagian tengah pedang yang kosong itu telah dia isi dengan semacam cairan beracun yang bisa menyembur keluar apabila tombol rahasianya dipencet

Di saat yang amat kritis itulah mendadak sesosok bayangan orang secepat sambaran kilat meluncur tiba, disusul segulung angin pukulan berpusing yang sangat kuat menumbuk tubuh Bong Thian-gak serta mementalkan tubuhnya hingga mencelat ke samping kanan.

Tenaga pukulan yang maha dahsyat itu memiliki kekuatan sangat mengerikan, Bong Thian-gak merasa tubuhnya tak mampu dikendalikan lagi, setelah mencelat ke belakang, dia mesti mundur sebelum berhenti. Suara semburan air beracun bergema, dari ujung pedang Ji-kaucu memancar tiga gulung cairan hitam.

Begitu jatuh ke atas tanah, segera tertampak asap hitam mengepul ke udara, dalam waktu singkat lantai berbatu itu sudah terbakar hangus hingga muncul bekas lekukan sedalam beberapa inci.

Sesudah menyaksikan itu, Bong Thian-gak baru sadar bahwa orang itu telah menyelamatkan jiwanya.

Tapi dia pun telah menyelamatkan jiwa Ji-kaucu.

Tatkala sorot mata para jago dialihkan ke wajah pendatang itu, mendadak air muka mereka segera berubah menjadi pucat.

Itulah mimik wajah kaget, ngeri, seram, tegang serta berbagai perubahan lainnya.

Pendatang itu seorang kakek berbaju hijau yang memelihara jenggot berwarna hitam, berwajah segar dan berwibawa, akan tetapi bagi pandangan para jago dalam arena justru lebih menyeramkan dan mengerikan daripada melihat setan atau memedi.

Bong Thian-gak menjerit kaget lebih dulu, "Thio Kim-ciok!

Thio-locianpwe!"

Kakek berjenggot hitam berbaju hijau itu memang tak lain adalah Thio Kim-ciok.

Sementara itu dari balik sebuah pintu rahasia di tengah ruangan pelan-pelan berjalan keluar Song Leng-hui serta Thay-kun.

Setelah suasana agak hening, Thio Kim-ciok baru berkata dengan suara hambar, "Bong-laute, tak ada artinya kau mengadu jiwa dengan lawan. Itulah sebabnya aku telah melancarkan Kun-goan-khi-kang untuk mendorongmu dari ancaman bahaya." Biarpun cuma beberapa patah kata yang sederhana, namun sudah menjelaskan betapa berbahayanya situasi waktu itu.

Kemunculan Thio Kim-ciok membuat para jago merasa kaget dan bergidik, tapi juga merubah suasana di arena menjadi tegang dan menyeramkan. Ancaman pertempuran setiap detik dapat meledak di situ.

Dari sekian jago yang hadir, kecuali Bong Thian-gak, Song Leng-hui serta Thay-kun tiga orang, empat orang dari sepuluh tokoh persilatan maupun Ho Lan-hiang serta Biau-kosiu sekalian sama-sama telah meraba senjata masing-masing, bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Bong Thian-gak melayangkan pandangannya dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan kening berkerut dia berpikir, "Tampaknya semua telah bekerja sama untuk menghadapi Thio Kim-ciok."

Dalam pada itu Thio Kim-ciok dengan mata yang memancarkan cahaya tajam telah memandang sekejap wajah orang-orang di situ, kemudian ujarnya dingin, "Mungkin kalian tak pernah mengira bukan kalau aku masih hidup di dunia ini?"

Tio Tian-seng segera menghela napas panjang dengan nada sedih, sahutnya, "Ya, kenyataan kau memang masih hidup!"

"Tio Tian-seng," kata Thio Kim-ciok lagi dengan suara dingin, "Aku tahu kau sudah menyesal, tapi Thio Kim-ciok tetap tak akan memaafkan dirimu."

Kembali Tio Tian-seng tertawa pedih, "Aku tahu, Thio Kim- ciok adalah seorang yang berhati kejam, buas dan membunuh orang tanpa berkedip. Jangankan terhadap musuh-musuh besarmu, bahkan terhadap orang yang tiada sangkut-pautnya dengan dirimu pun sudah berapa banyak yang tewas di tanganmu." "Kalian semua tak akan lolos dari kematian!" ujar Thio Kim- ciok lagi dengan suara dingin dan menyeramkan.

Tiba-tiba sinar matanya dialihkan ke wajah Ho Lan-hiang. Dalam pada itu sekulum senyum manis telah tersungging di ujung bibir Ho Lan-hiang, katanya dengan suara yang amat tenang, "Orang pertama yang hendak kau bunuh tentu diriku, bukan?"

"Aku akan menghancur-leburkan tubuhmu serta mencincangnya," sahut Thio Kim-ciok dengan wajah dingin dan suara hambar.

Kembali Ho Lan-hiang tertawa merdu, "Tiga puluh tiga tahun berselang kau tidak memiliki kemampuan untuk melukaiku. Tiga puluh tiga tahun kemudian, lebih-lebih jangan harap dapat melukai seujung rambutku."

Pada saat itulah Bong Thian-gak dapat melihat Tio Tian- seng, Tan Sam-cing, Liong Oh-im, Gi Jian-cau bersama Ho

Lan-hiang, Ji-kaucu, serta Sim Tiong-kiu sekalian secara pelan- pelan telah bergerak maju mengurung Thio Kim-ciok rapat- rapat.

Melihat itu, mendadak Bong Thian-gak mengayunkan pedangnya sambil membentak nyaring, "Berhenti kalian semua. Bila ada yang berani maju selangkah lagi, jangan salahkan pedangku akan segera melukai orang."

Tiba-tiba Tio Tian-seng berseru, "Bukankah Bong-laute telah mengambil keputusan untuk melepaskan diri dari kancah pertikaian yang penuh dengan budi dan dendam ini?"

Dengan suara dalam Bong Thian-gak membentak, "Mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak merupakan suatu perbuatan terkutuk serta memalukan."

Tiba-tiba Thio Kim-ciok berpaling ke arah anak muda itu, lalu berkata sambil tertawa, "Bong-laute, dari sikap serta perbuatan mereka itu, tentu kau tak akan menyalahkan aku andaikata kubunuh mereka dari muka bumi?"

"Thio-locianpwe berniat membantai semua orang yang ada di sini?" tanya Bong Thian-gak dengan perasaan bergetar keras.

"Aku tidak dapat melepaskan seorang pun di antara sepuluh tokoh persilatan serta perempuan jalang itu."

Bong Thian-gak menghela napas, kemudian katanya, "Thian maha penyayang. Apakah Thio-locianpwe tak merasa bahwa dendam yang kau perlihatkan sekarang telah melanggar ajaran Thian?"

Thio Kim-ciok tertawa dingin, "Andaikan setiap umat persilatan di dunia ini dapat memahami apa artinya ajaran Thian, aku rasa tidak bakal terjadi lagi badai pembunuhan serta mengalirnya anyir darah dalam persilatan. Sepuluh tokoh persilatan mempunyai kedudukan yang agung dan terhormat, tetapi nyatanya mereka bisa juga melakukan perbuatan terkutuk yang amat memalukan itu."

Bong Thian-gak sadar bahwa dia tak mampu lagi menghalangi niat Thio Kim-ciok untuk melampiaskan rasa dendam kesumatnya, maka setelah menghela napas panjang, dia pun bertanya, "Yakinkah Thio-locianpwe bahwa harapanmu itu bakal tercapai?"

"Walaupun aku tidak mempunyai keyakinan sepenuhnya, namun dapat kupertaruhkan dengan selembar nyawaku."

Mendadak terdengar Ho Lan-hiang yang berada di samping arena berseru sambil tertawa terkekeh-kekeh, "He si tua Thio, saat ini kau telah dikepung oleh semua jago. Aku tidak percaya kau masih mempunyai kesempatan untuk melarikan diri ke dalam alat rahasiamu."

Dalam sekejap di empat penjuru sudah berdiri Tio Tian- seng, Gi Jian-cau, Tan Sam-cing, Liong Oh-im, Ho Lan-hiang, Sim Tiong-kiu serta Ji-kaucu dengan senjata terhunus. Tampaknya pertarungan sengit tak bisa dihindari lagi.

Bong Thian-gak segera berpikir, "Sanggupkah Thio Kim- ciok menandingi kerubutan tujuh jago lihai dunia persilatan ini?"

Dengan pandangan sinis Thio Kim-ciok memperhatikan sekejap, kemudian berkata, "Kepungan kalian mirip barisan pembunuh yang dipakai untuk menghadapiku tiga puluh tiga tahun berselang, hanya sayang di sini sudah tak nampak beberapa wajah."

"Thio Kim-ciok!" dengan wajah serius dan nada bersungguh-sungguh Tio Tian-seng berkata, "sebenarnya aku merasa malu untuk mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak, tapi aku pun tahu bahwa kau adalah seorang licik yang berhati busuk serta banyak akal muslihatnya. Oleh karena itu mau tak mau terpaksa kami harus mempergunakan cara mengerubut yang tidak gagah ini untuk menghadapimu."

"Andaikata aku merasa takut untuk menghadapi kerubutan kalian, tidak nanti aku menampilkan diri," sahut Thio Kim-ciok dingin.

Liong Oh-im tertawa seram, "Thio Kim-ciok, kau mempunyai kemampuan seberapa besar hingga dapat menembus kepungan kami bertujuh?"

"Andaikata aku berniat membunuh kalian, maka hal ini bisa aku lakukan secara mudah dan tak usah membuang tenaga."