Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 30

 
Jilid 30

Mendadak dari balik ruangan dalam gedung terdengar seorang menjerit kaget dan membentak, "Siapa di situ? Berhenti!" Disusul kemudian terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan. Jeritan itu sangat keras dan bergema memecah keheningan malam, membuat siapa pun yang mendengar berdiri bulu kuduknya.

Dengan wajah berubah Thay-kun berseru, "Aduh celaka! Jeritan itu berasal dari kedua orang dayang itu, ada orang yang hendak mencelakai jiwa Thio Kim-ciok!"

Perubahan yang terjadi amat tiba-tiba ini membuat Bong Thian-gak segera mengurungkan niatnya melancarkan serangan ke arah Hek-mo-ong.

Sementara itu Hek-mo-ong yang berada di atas gunung- gunungan berseru sambil tertawa dingin, "Sekarang aku akan memberikan sebuah kesempatan lagi bagi kalian untuk menyelamatkan hidup. Bila kalian bertiga mengundurkan diri sekarang juga, maka aku pun berjanji tak akan mencelakai kalian, tapi bila kalian berniat mencampuri urusan kami lagi, hm! Jangan salahkan aku turun tangan keji dan tak kenal ampun."

Tiba-tiba Bong Thian-gak membentak, "Sumoay, adik Hui, kalian segera masuk ke dalam ruangan untuk menyambut kedatangan mereka, biar aku menghadapi Hek-mo-ong seorang diri."

Selesai berkata Bok Thian-gak segera berpekik panjang, tubuhnya melambung ke udara dan sekali lagi melangkah ke arah gunung-gunungan untuk menyerang Hek-mo-ong.

Song Leng-hui yang menyaksikan kejadian itu segera berteriak, "Cici, kau cepat membantu Thio-locianpwe, biar aku berada di sini membantu engkoh Gak menghadapi Hek-mo- ong."

Sambil berkata Song Leng-hui menggerakkan pula tubuhnya, bagaikan burung walet yang terbang di angkasa, dia menerjang ke arah gunung-gunungan itu. Di luar dugaan, kali ini Hek-mo-ong sama sekali tidak menyambut serangan mereka, sekali berkelebat bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik kegelapan malam.

Bong Thian-gak dan Song Leng-hui serentak melayang turun dari gunung-gunungan itu, tapi malam itu amat hening, bayangan tubuh Hek-mo-ong telah lenyap.

Mendadak suara jeritan ngeri yang memilukan dan menggidikkan berkumandang dari balik halaman gedung.

Song Leng-hui, Bong Thian-gak serta Thay-kun seperti baru mendusin dari impian saja, serentak melompat naik ke atas pagar pekarangan dan menerjang masuk ke dalam gedung.

Ujung baju yang terhembus angin bergema tiada hentinya.

Dari atas pagar pekarangan tahu-tahu melayang turun dua orang kakek berjenggot hitam yang menghadang jalan mereka dengan pedang terhunus.

Begitu melihat jelas kedua orang itu, Bong Thian-gak segera menjerit kaget, "Tio-pangcu, Tan-locianpwe, rupanya kalian berdua!"

Ternyata kedua kakek berjenggot hitam yang berdiri dengan pedang terhunus itu tak lain adalah malaikat sakti pedang iblis Tio Tianseng serta delapan pedang salju beterbangan Tan Sam-cing.

Waktu itu mereka berdiri dengan hawa membunuh menyelimuti wajah masing-masing, mereka berdiri dengan serius dan pedang siap melancarkan serangan.

"Bong-laute," terdengar Tio Tian-seng berkata dengan suara dalam, "kumohon kepada kalian agar tidak mencampuri urusan ini, cepatlah pergi meninggalkan tempat ini!"

Sementara itu secara lamat-lamat Thay-kun sudah dapat menduga apa gerangan yang telah terjadi, ia segera tertawa cekikikan, "Tio-pangcu, bukanlah kalian kemari untuk membunuh Thio Kim-ciok?" .

"Kalau nona sudah mengetahui bahwa Thio Kim-ciok berada di sini, harap nona segera mengundurkan diri dari tempat ini," ucap Tio Tian-seng dengan suara dalam.

Kembali Thay-kun berkata sambil tersenyum, "Berita tentang masih hidupnya Thio Kim-ciok telah membuat kalian merasa amat terkejut dan segera menganggap Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok. Tapi sekarang aku hendak memberitahukan sebuah berita yang amat mengejutkan kepada kalian, Hek-mo-ong yang sesungguhnya bukan Thio Kim-ciok melainkan Liu Khi. Bila kalian tidak percaya, aku hendak bertanya, lagi kepada kalian, apakah si golok sakti berlengan tunggal datang bersama kalian?"

Belum selesai perkataan itu diutarakan, dari balik kegelapan dalam halaman itu terdengar seseorang menyahut sambil tertawa seram, "Nona Thay-kun, harap kau tidak memfitnah orang semaumu sendiri, apalagi mencoba mengadu-domba di antara kami. Bukankah aku orang she Liu berada di sini?"

Dalam pembicaraan itu, tampak seorang lelaki berjubah hitam bertubuh jangkung kurus dan berlengan tunggal, dengan sebilah golok panjang tersoreng di pinggangnya pelan-pelan menampakkan diri dari kegelapan.

Orang itu tak lain adalah si golok sakti yang berlengan tunggal Liu Khi adanya.

Bong Thian-gak serta Song Leng-hui segera dibuat tertegun oleh kejadian itu.

Hanya Thay-kun seorang yang tersenyum, pelan-pelan ujarnya,

"Liu-tayhiap, cepat amat gerakan tubuhmu, tak nyana dalam sekejap mata saja kau dapat memerankan dua peranan yang berbeda." "Perkataan nona benar-benar membuat orang merasa kebingungan dan tidak habis mengerti," ujar si golok sakti yang berlengan tunggal dengan suara dingin.

Mendadak Tio Tian-seng berkata dengan wajah serius dan suara dalam, "Tentunya nona Thay-kun sudah pernah mendengar, tiga puluh tahun berselang sepuluh tokoh persilatan bekerja sama membunuh Thio Kim-ciok."

"Sekarang terbukti Thio Kim-ciok masih hidup dan tak diragukan lagi Hek-mo-ong yang telah mencelakai jiwa Kui-kok Sianseng, Song-cui suami-istri, Oh Ciong-hu serta Ku-lo Hwesio, tak lain tak bukan adalah Thio Kim-ciok."

Thay-kun tersenyum.

"Betul, sampai sekarang Thio Kim-ciok memang belum dapat melupakan dendam kesumat sedalam lautan terhadap kalian sepuluh tokoh persilatan, karena perbuatan kalian yang telah mencelakai jiwanya pada tiga puluh tahun berselang, tapi menurut apa yang kuketahui, Thio Kim-ciok belum pernah melakukan tindakan untuk mewujudkan harapannya membalas dendam."

"Darimana nona bisa tahu kalau ia belum melakukan sesuatu tindakan?" tanya Tio Tian-seng dengan suara dalam, wajahnya berubah hebat.

"Sebab sejak menderita luka keracunan pada tiga puluh tahun lalu, hingga kini luka itu belum pernah sembuh, kematian Kui-kok Sianseng sekalian sepuluh tokoh persilatan pasti bukan perbuatan Thio Kim-ciok."

"Kalau bukan, siapa pula yang telah membunuh mereka?"

Thay-kun melirik sekejap ke arah Liu Khi, lalu sahutnya merdu, "Hek-mo-ong!"

"Mengapa pula Hek-mo-ong harus membunuh Kui-kok Sianseng sekalian?" "Tujuan utama Hek-mo-ong membunuh sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang tak lain adalah untuk merampas peta rahasia tambang emas milik Thio Kim-ciok."

"Tatkala Thio Kim-ciok menerima surat undangan kematian dari Hek-mo-ong tempo hari, secara diam-diam dia telah memotong peta rahasia tambang emasnya menjadi sebelas bagian yang dihadiahkan kepada sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang."

"Baik Tio-pangcu maupun Tan Sam-cing Locianpwe adalah termasuk orang-orang yang tergabung dalam sepuluh tokoh persilatan, bukankah kalian pun pernah menerima satu bagian peta rahasia tambang emas itu?"

Pertanyaan yang diajukan Thay-kun segera membuat wajah Tio Tian-seng dan Tan Sam-cing berubah hebat.

Hanya Liu Khi seorang yang tertawa dingin tiada hentinya, katanya, "Budak setan, sungguh tak kusangka begitu banyak persoalan yang telah kau ketahui. Hehehe! Benar, pada tiga puluh tahun berselang sepuluh tokoh persilatan telah menerima satu bagian peta rahasia tambang emas dan sejak saat itu pula kesepuluh tokoh persilatan dan Ho Lan-hiang telah berubah menjadi orang yang dicurigai sebagai Hek-mo- ong, masing-masing saling mencurigai dan gontok-gontokan. Sejak saat itu pula sepuluh tokoh dunia persilatan tidak pernah merasakan hari yang tenteram. Bila dipikir sekarang, aku sungguh merasa kagum dengan siasat pinjam golok membunuh orang dari Thio Kim-ciok."

Thay-kun tersenyum, segera ia berkata pula, "Thio Kim-ciok bisa melaksanakan rencana balas dendam dengan siasat meminjam golok membunuh orang, hal ini jelas membuktikan bahwa Thio Kim-ciok sudah lama tahu kesepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang memang berencana hendak membinasakan dirinya." "Waktu itu dengan jelas Thio Kim-ciok mengetahui bahwa sulit baginya untuk meloloskan diri dari musibah itu, akan tetapi dia pun tak rela mati dengan membawa dendam sakit hati. Itulah sebabnya dia pun mulai menyusun rencana kejinya, agar setelah kematiannya nanti, para pembunuh yang telah mencelakai jiwanya saling gontok dan bunuh untuk memperebutkan peta rahasia tambang emas itu."

"Ai, andaikata dugaanku tak salah, Ku-lo Hwesio dan Song- ciu suami-istri telah merasakan betapa lihainya siasat meminjam golok membunuh orang Thio Kim-ciok waktu itu sehingga mereka putuskan untuk hidup mengasingkan diri di pegunungan terpencil sambil berusaha menghindari musibah itu. Tapi darimana mereka dapat menduga Hek-mo-ong yang dimaksud Thio Kim-ciok itu sebenarnya adalah salah seorang di antara kesepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang?

Itulah sebabnya mereka pun tak dapat meloloskan diri dari nasib tragis di tangan Hek-mo-ong yang sedang berusaha merebut peta rahasia tambang emas yang berada di tangan mereka."

Mendengar sampai di sini, Tio Tian-seng menghela napas panjang, katanya kemudian, "Benarkah nona beranggapan bahwa Hek-mo-ong adalah salah seorang di antara kesepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang?"

"Aku yakin dugaanku ini tak akan salah," jawab Thay-kun dengan wajah bersungguh-sungguh.

Liu Khi tertawa dingin, katanya, "Yang masih hidup di dunia ini hingga sekarang tinggal enam orang, apakah kita harus saling gontok dan bunuh terus-terusan?"

"Andaikata aku tidak bertemu dengan Gi Jian-cau di Ban- jian-bong, rasanya kita masih akan terus saling bunuh!" sambung Tan Sam-cing.

Dari perkataan Tan Sam-cing, sudah jelas ia memberi dukungan kepada Liu Khi. Dalam keadaan begini agaknya Tio Tian-seng pun dihadapkan pada suatu pilihan yang sangat berat, ia membungkam dan memandang bintang yang tersebar di angkasa sambil memutar otak.

Mendadak Thay-kun tertawa cekikikan, "Masih ada satu persoalan yang belum sempat kusampaikan kepada kalian, yaitu sampai sehari sebelum hari ini, antara Thio Kim-ciok dan Hek-mo-ong sesungguhnya masih terjadi kontak dan hubungan yang akrab, justru kedua orang itulah yang telah menyusun rencana untuk membunuh sepuluh tokoh persilatan beserta Ho Lan-hiang."

Perkataan ini seketika mengejutkan Tan Sam-cing, ia segera bertanya, "Nona apa maksudmu?"

Thay-kun tersenyum.

"Dengarkan perkataanku ini dengan pikiran tenang." Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih lanjut,

"Barusan sudah kubilang, hingga sekarang Thio Kim-ciok masih belum dapat melupakan dendam kesumatnya terhadap sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang yang telah bekerja sama mencelakakan jiwanya. Sudah barang tentu tidak dapat disalahkan jika Thio Kim-ciok berkeinginan membalas sakit hatinya itu, tapi siapa orang yang mampu membunuh kesepuluh tokoh persilatan yang sangat lihai itu? Lagi pula Thio Kim-ciok masih menderita luka racun sehingga sama sekali tak mampu membalas dendam."

"Itulah sebabnya Thio Kim-ciok segera memanfaatkan maksud tujuan Hek-mo-ong yang ingin mengangkangi peta rahasia tambang emas itu seorang diri dengan membunuh musuh-musuhnya. Padahal sesungguhnya Thio Kim-ciok sudah mengetahui siapakah otak dari semua ini, yaitu Hek-mo-ong, tapi rahasia itu tetap dijaganya hingga kini."

Ketika pembicaraan baru berlangsung sampai di situ, sambil tertawa dingin Liu Khi menukas, "Budak setan, perkataanmu barusan pada hakikatnya cuma ngaco-belo. Jadi menurut pendapatmu, Hek-mo-ong membunuh sepuluh tokoh persilatan karena tujuannya hendak mengangkangi peta rahasia tambang emas yang berada di tangan kesepuluh tokoh persilatan itu? Tapi aku ingin bertanya tentang satu hal kepadamu, apa sebabnya Hek-mo-ong tidak secara langsung pergi mendesak Thio Kim-ciok supaya dibuatkan peta rahasia tambang emas yang baru?"

"Kau harus tahu, Hek-mo-ong bukan orang bodoh, dia cukup tahu bagaimana harus menghadapi Thio Kim-ciok. Aku rasa bila dia mau turun tangan terhadap Thio Kim-ciok, maka hal ini mempermudah baginya untuk mencapai apa yang diharapkan ketimbang harus menghadapi sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang."

Bantahan Liu Khi itu kembali menggetarkan pikiran semua orang, diam-diam mereka pun berpikir, "Ya, betul, apa sebabnya Hek-mo-ong tidak langsung membunuh Thio Kim- ciok?"

Padahal Thay-kun sendiri pun belum dapat memecahkan masalah itu, maka untuk sementara waktu dia hanya membungkam.

Sementara itu sosot mata semua orang telah dialihkan ke wajah Thay-kun menantikan jawabannya.

Namun sikap Thay-kun waktu itu amat tenang dan santai, senyum manis tetap menghiasi ujung bibirnya yang terbungkam.

Sikap semacam ini segera mendatangkan perasaan misterius bagi siapa pun yang melihatnya.

Bahkan Liu Khi sendiri pun tak dapat menduga apa gerangan yang sedang diperbuat Thay-kun.

Suasana hening dan sepi, tiba-tiba dipecahkan oleh suara ledakan keras yang amat memekakkan telinga. Ledakan itu begitu dahsyatnya sampai menggetarkan seluruh permukaan bumi, mengejutkan pula segenap jago yang berada di sana.

Suara ledakan itu berasal dari balik ruang gedung, menyusul segulung asap yang sangat tebal menggulung keluar dari balik jendela.

Mendadak dari balik jendela melompat keluar sesosok bayangan orang yang tubuhnya terjilat kobaran api.

Dalam genggaman orang itu memegang sebatang Boan- koan-pit. Begitu muncul dari jendela, ia segera menjatuhkan diri dan berguling beberapa kali di atas tanah hingga kobaran api yang menjilat tubuhnya padam, setelah padam dia baru melompat bangun dari atas tanah.

Walaupun ia berhasil menghindarkan diri dari bencana tubuh terbakar, namun keadaan orang itu sungguh sangat mengenaskan.

Jubah panjang berwarna birunya telah terbakar hangus hingga compang-camping tak keruan, wajahnya hitam terkena hangus dan asap yang tebal. Biarpun begitu, orang yang pernah kenal dengannya masih dapat mengenali raut wajah itu.

"Ah, dia adalah si tabib sakti Gi Jian-cau!" Thay-kun yang pertama-tama menjerit kaget.

Ketika Bong Thian-gak mendengar Thay-kun mengatakan orang itu adalah tabib sakti Gi Jian-cau, terbayang jeritan ngeri perempuan yang terdengar tadi, tanpa terasa ia mulai berpikir apa gerangan yang sedang dilakukan tabib sakti Gi Jian-cau di dalam gedung itu?

Bong Thian-gak berkelebat ke depan, kemudian secara tiba-tiba menerobos masuk lewat daun jendela.

Baru saja tubuhnya bergerak, seseorang telah membentak pula, "Berhenti!" Tio Tian-seng dengan pedang terhunus telah mendesak ke depan, pedangnya seperti naga sakti yang keluar dari air segera menusuk ke tubuhnya serta menghalangi jalan pergi anak muda itu.

"Bong-laute," ujarnya kemudian. "Bila kau bermaksud memasuki halaman gedung, jangan salahkan pedangku ini tak kenal dirimu lagi!"

Bong Thian-gak mundur selangkah, lalu sahutnya sambil tertawa dingin, "Tio-pangcu, rupanya kalian sudah bersekongkol hendak membunuh Thio Kim-ciok!"

"Tiga puluh tahun berselang, sepuluh tokoh persilatan tidak memperkenankan Thio Kim-ciok hidup di dunia, maka tiga puluh tahun kemudian pun kami tetap tak akan mengizinkan dia hidup terus!" kata Tio Tian-seng dengan suara dalam.

Tiba-tiba Bong Thian-gak berpaling dan memandang sekejap ke arah tabib sakti Gi Jian-cau yang masih berdiri dengan Boan-koan-pit terhunus, tanyanya dengan dingin, "Apakah kalian berhasil?"

Jawaban tabib sakti itu justru merupakan jawaban yang sangat ingin diketahui Tio Tian-seng, Tan Sam-cing serta Liu Khi, maka sorot mata semua orang pun dialihkan ke wajah Gi Jian-cau yang amat mengenaskan itu.

Dengan gerakan yang amat santai Gi Jian-cau membersihkan tubuhnya dari debu, lalu ujarnya dengan hambar, "Thio Kim-ciok telah mendirikan sebuah benteng di bawah tanah yang kuat dan tangguh, ibarat sarang naga gua harimau di dalam gedung ini."

Biarpun cuma sepatah kata yang sederhana dan biasa, namun justru mencakup seluruh jawaban dari pertanyaan yang diajukan.

Paras muka Tio Tian-seng sekalian segera berubah hebat. Liu Khi tertawa dingin dan mengejek, "Huh! Biarpun sarang naga gua harimau, memangnya mampu membendung serbuan sepuluh tokoh persilatan."

Ketika mendengar ucapan itu, tabib sakti Gi Jian-cau segera memandang sekejap ke arah Liu Khi, kemudian ujarnya pelan, "Selama ini banyak sudah ilmu Ngo-heng dan berbagai ilmu lain yang kupelajari, aku pun mengerti ilmu bangunan dan ilmu jebakan api, tapi barusan hampir saja tak sanggup keluar dari gedung itu dengan selamat."

Dalam deretan sepuluh tokoh persilatan, Gi Jian-cau terhitung tokoh yang berkepandaian tinggi serta berpengetahuan luas, hal ini cukup diketahui setiap umat persilatan, tapi beberapa patah kata yang barusan diucapkan olehnya itu membuat Tio Tian-seng sekalian berkerut kening.

Dengan suara dalam Tan Sam-cing berkata, "Bila kita tak mampu menyerbu masuk ke dalam ruang bawah tanahnya, bagaimana cara kita membekuk Thio Kim-ciok?"

Liu Khi tertawa dingin, "Bagaimana pun juga Thio Kim-ciok tak mungkin bersembunyi terus di ruang bawah tanah. Hm, sekalipun dia bersembunyi terus di situ, aku yakin mampu menerobos masuk ke dalam ruang rahasianya."

Pembicaraan beberapa orang ini segera membuat Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui merasa gembira. Mimpi pun mereka tidak mengira kecerdikan Thio Kim-ciok demikian mengagumkan sehingga dia telah melengkapi gedung yang luas ini dengan ruangan bawah tanah yang penuh dengan alat rahasia.

Thio Kim-ciok sudah lama menduga suatu waktu para jago akan berkumpul di situ untuk membekuknya, maka jauh hari sebelumnya dia telah mempersiapkan tindakan jitu untuk menanggulangi keadaan itu.

Bong Thian-gak berdehem pelan, kemudian tanyanya kepada Gi Jian-cau dengan suara dalam, "Gi-locianpwe, tadi kudengar dua kali jeritan ngeri dua perempuan yang berada di dalam ruangan gedung. Tolong tanya apakah kedua dayang itu ajal di tanganmu?"

Agaknya baru sekarang Gi Jian-cau memperhatikan kehadiran Bong Thian-gak bertiga. Ia mendongakkan kepalanya yang hitam pekat oleh hangus, Lalu diawasinya mereka bertiga dengan sorot mata tajam.

"Mungkin kau yang disebut Jian-ciat-suseng?" katanya ketus.

Mendadak Thay-kun mendorong ke depan dan serunya, "Gi-locianpwe, kau masih ingat aku?"

"Tentunya kesadaran pikiranmu telah pulih kembali, bukan?"

Thay-kun tertawa cekikikan, "Betul, aku sudah sadar seutuhnya, banyak terima kasih atas pemberian Hui-hun- wanmu itu."

"Hm!" Gi Jian-cau mendengus dingin. "Kalau begitu sudah lama kau bersekongkol dengan Thio Kim-ciok!"

"He, atas dasar apa kau menuduh aku telah lama bersekongkol dengan Thio Kim-ciok?" seru Thay-kun agak tertegun .

Dengan gemas dan rasa benci Gi Jian-cau berkata, "Dengan mengorbankan segenap pikiran dan tenagaku selama setengah umur hidupku, aku berhasil membuat tiga butir Hui- hun-wan, tapi akhirnya dicuri sebutir di antaranya oleh Keng- tim Suthay yang bersekongkol dengan Thio Kim-ciok. Akibat perbuatannya itu, aku gagal mewujudkan suatu masalah besar yang kucita-citakan."

"Tapi satu hal yang tidak kumengerti adalah perbuatan Thio Kim-ciok, mengapa dia bersedia memberikan pil Hui-hun-wan itu untukmu?" "Thio Kim-ciok menderita luka cukup parah serta membutuhkan sebutir pil Hui-hun-wan untuk menyembuhkannya, aku tidak percaya Thio Kim-ciok memberikan pil Hui-hun-wan itu untukmu."

Perkataannya ini segera menggerakkan pikiran Bong Thian- gak, tiba-tiba ia teringat kejadian di Sam-cing-koan dimana Keng-tim Suthay serta jago-jago lihai Hiat-kiam-bun terbunuh secara mengenaskan.

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba saja pemuda itu mengernyitkan alis, kemudian membentak, "Gi Jian-cau, aku ingin bertanya kepadamu. Apakah Keng-tim Suthay sekalian jago lihai Hiat-kiam-bun tewas di tanganmu?"

"O, jadi Keng-tim Suthay telah mampus?" kata Gi Jian-cau dingin. "Kalau begitu Keng-tim Suthay pasti bermaksud mengangkangi pil Hui-hun-wan sehingga dibunuh Thio Kim- ciok lebih dahulu."

Bong Thian-gak yang mendengar ucapan itu jadi termangu, diam-diam ia pun berpikir, "Benarkah Keng-tim Suthay mati terbunuh di tangan Thio Kim-ciok?"

"Tapi jelas Sam-cing Tosu yang berada di dalam kuil Sam- cing-koan adalah hasil penyaruan Thio Kim-ciok, sedang sekarang tabib sakti bilang Thio Kim-ciok telah bersekongkol dengan Keng-tim Suthay untuk mencuri sebutir pil Hui-hun- wan untuk menyembuhkan penyakitnya. Kalau begitu mungkinkah Keng-tim Suthay dibunuh oleh Thio Kim-ciok?"

Sementara dia masih berpikir, tiba-tiba terdengar Thay-kun yang berada di sampingnya berkata sambil menghela napas sedih, "Kematian Keng-tim Suthay sungguh mengenaskan, tapi andaikan Gi-locianpwe tidak berubah pikiran, Suthay pun tak akan mati secara mengenaskan."

Waktu itu Bong Thian-gak merasakan darah yang mengalir dalam tubuh bagaikan mendidih. Dengan penuh perasaan dendam ia berkata, "Thay-kun, lebih baik kita urungkan saja niat kita menyembuhkan luka yang diderita Thio Kim-ciok."

"Bong-suheng!" Thay-kun tersenyum, "sekalipun Keng-tlm tutttiy sekalian jago-jago Hiat-kiam-bun tewas di tangan Thio Kim-ciok kita tetap harus berupaya menyembuhkan luka yang diderita Thio Kim ciok”

Bong Thian-gak menjadi tertegun untuk beberapa saat, kemudian katanya, "Thio Kim-ciok telah membantai anak murid Hiat-kiam-bun. Dendam sakit hati ini lebih dalam dari samudra. Bilamana sakit hati Itu tidak dibalas, bagaimanakah kita bisa menghibur arwah anggota Hiat-kiam-bun yang telah berada di alam baka?"

"Bila ada dendam, sudah barang tentu kita wajib menuntut balas,”sahut Thay-kun dengan suara dalam, "tapi paling tidak kita wajib melakukan penyelidikan lebih dulu sejelas-jelasnya, siapakah pembunuh yang sesungguhnya dalam peristiwa itu?"

Ucapan nona itu segera menggerakkan pikiran Bong Thian- gak segera dia berpikir pula, "Ya betul, kenapa aku harus mempercayai perkataan Gi Jian-cau begitu saja? Ah benar, bukankah Keng-tim Suthay pernah meninggalkan pesan yang mengatakan agar aku berusah membunuh tabib sakti itu."

Gi Jian-cau berdehem pelan, katanya lagi dengan suara dingin, "Dalam perselisihan kami sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim ciok, kalian para angkatan muda sama sekali tak tersangkut. Kuanjurkan kepada kalian lebih baik tak usah mencampuri urusan ini, kalau tidak, aku kuatir kalian akan mampus tanpa liang kubur."

Kembali Thay-kun tersenyum. "Gi-locianpwe, tahukah kau siapa Hek-mo-ong itu?" dia bertanya.

"Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok!" sahut Gi Jian-cau sambil tertawa dingin. Liu Khi segera berseru pula sambil tertawa licik, "Nona Thay-kun, kuperingatkan sekali lagi kepadamu, di sekitar gedung ini sekarang telah berdatangan begitu banyak jago lihai persilatan, kedatangan mereka pada malam ini tak lain hendak membunuh Thio Kim-ciok."

"Oleh sebab itu biarpun kali ini Thio Kim-ciok memiliki sepuluh lembar nyawa cadangan pun, jangan harap bisa mempertahankan hidupnya. Bilamana kau ingin membantu Thio Kim-ciok, maka hal ini sama artinya sudah bosan hidup di dunia."

Thay-kun tersenyum.

"Sejak tadi sudah kuduga Ho Lan-hiang dan Biau-kosiu sekalian bersembunyi di sekitar gedung ini bersama-sama jago andalannya, malah bisa jadi sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im beserta jago-jagonya pun telah berdatangan. Cuma aku pikir belum tentu kawanan jago persilatan yang begini banyak itu akan tunduk dan menuruti perintahmu."

"Siapa tahu orang yang sedang mereka cari bukan Thio Kim-ciok, melainkan Liu Khi serta Gi Jian-cau!"

Berubah hebat paras muka Liu Khi, dia segera membentak, "Budak setan, rupanya arak kehormatan kau tampik, arak hukuman kau cari. Sudah bosan hidup rupanya kau!"

Di tengah bentakan itu, Liu Khi telah mencabut senjatanya, lalu dengan kecepatan luar biasa dia langsung membacok pinggang gadis itu.

Baru saja golok Liu Khi bergerak, dua bilah pedang yang muncul secara tiba-tiba dari sisi arena, seperti sepasang naga yang muncul dari samudra, satu dari kiri dan yang lain dari kanan, segera mencegat dari arah berlawanan dengan kecepatan tak kalah dari gerakan Liu Khi.

Kedua bilah pedang itu tahu-tahu sudah menangkis sambaran golok panjang itu. Ternyata kedua bilah pedang itu adalah pedang iblis Tio Tian-seng serta pedang bambu Bong Thian-gak.

Dengan satu gerakan yang tak kalah cepatnya Liu Khi segera memutar kembali mata goloknya dan ditarik ke belakang.

Kemudian sambil melotot ke arah Tio Tian-seng, dia membentak penuh gusar, "Tio-pangcu, sesungguhnya apa maksudmu?"

Dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh Tio Tian- seng berkata, "Kepandaian silat Jian-ciat-suseng bertiga tidak berada di bawah kepandaian silat tokoh mana pun dari sepuluh tokoh persilatan di masa lalu. Bila kita harus bertarung melawan mereka, maka tanpa kita sadari perbuatan itu telah memenuhi harapan Thio Kim-ciok."

"Kalau bukan begitu, lantas dengan cara apakah kita harus menghadapi beberapa orang yang tak tahu diri ini?" seru Liu Khi sambil tertawa dingin.

Tiba-tiba Tio Tian-seng berpaling ke arah Bong Thian-gak, lalu katanya, "Bong-laute, ada satu patah kata yang ingin kusampaikan kepadamu, yaitu soal dendam kesumat sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok, kau tahu perselisihan ini sudah terjalin sejak tiga puluh tahun berselang, oleh karena itu selama sepuluh tokoh persilatan masih ada yang hidup, kami tak akan membiarkan Thio Kim-ciok tetap hidup, pertarungan kami dengan Thio Kim-ciok tak pernah bisa dileraikan lagi."

"Sebaliknya kalian adalah orang-orang yang berada di luar garis, mengapa kalian mesti menjerumuskan diri ke dalam kancah perselisihan itu? Hasilnya tak menguntungkan bagi kalian? Karena itu kuanjurkan kepada kalian, lebih baik tinggalkan tempat ini secepatnya."

"Boanpwe merasa berterima kasih atas nasehat Tio- pangcu," kata Bong Thian-gak dengan lantang, "tapi ada satu hal yang perlu Locianpwe mengerti, walaupun antara kami bertiga dengan Thio Kim-ciok tidak mempunyai hubungan budi dan dendam secara langsung, namun hubungan kami adalah anak murid atau keturunan langsung sepuluh tokoh persilatan, maka kami wajib mengetahui sampai jelas siapa gerangan

Hek-mo-ong yang sesungguhnya."

"Ah betul, hampir saja aku lupa bahwa Bong-laute adalah anak murid Oh Ciong-hu serta Ku-lo Hwesio," segera kata Tio Tian-seng.

Sampai di situ, sorot matanya segera dialihkan ke wajah Song Leng-hui sambil tanyanya pula, "Siapa pula dia?"

"Dia adalah istriku, putri tunggal sepasang kekasih persilatan Song-ciu suami-istri."

Tio Tian-seng menghela napas sedih, ujarnya kemudian, "Kalau memang begitu Bong-laute sekalian memang berhak untuk tetap tinggal di sini."

"Tio-pangcu," kata Bong Thian-gak, "sesungguhnya musuh besar yang sedang Boanpwe cari saat ini adalah Hek-mo-ong, bukan Thio Kim-ciok. Andaikata Thio Kim-ciok adalah Hek-mo- ong, maka di antara kami dengannya terjadi pula hubungan sakit hati."

"Jadi kau beranggapan Thio Kim-ciok bukan Hek-mo-ong?" tiba-tiba Tio Tian-seng bertanya dengan suara dalam.

"Barusan kami telah bertarung melawan Hek-mo-ong asli dan bilamana pandanganku belum lamur, Boanpwe masih teringat dengan jelas bahwa Hek-mo-ong adalah seorang berlengan tunggal."

Liu Khi tertawa kering, katanya, "Dalam Kangouw dewasa ini, orang berlengan tunggal yang cukup pantas menjadi Hek- mo-ong hanya Jian-ciat-suseng serta aku dua orang."

"Bong-laute mengatakan orang yang paling dicurigai sebagai Hek-mo-ong adalah Liu Khi, tapi aku tak akan mempercayai begitu saja," kata Tio Tian-seng dengan suara dalam.

Tiba-tiba Thay-kun menghela napas panjang, lalu katanya, "Tidak percaya pun tak ada gunanya. Bila dugaanku tidak salah, maka untuk membuktikan siapakah Hek-mo-ong yang sesungguhnya, maka jawaban itu tidak dapat diperoleh sebelum sepuluh tokoh persilatan dan Ho.Lan-hiang mampus semua hingga tinggal orang terakhir. Saat itulah wajah asli Hek-mo-ong baru akan ketahuan."

Mendadak Bong Thian-gak tertawa keras, serunya, "Liu Khi, mudah sekali bila kau ingin membuktikan bahwa kau bukan Hek-mo-ong, cukup kau singkap baju kananmu yang kutung itu dan perlihatkan kepada semua orang, apakah di situ telah kau sembunyikan tangan tengkorakmu atau tidak. Jika tak ada, maka terbukti kau memang bukan Hek-mo-ong."

"Tangan tengkorak andalan Hek-mo-ong untuk membunuh sudah cukup menggetarkan setiap orang, namun tak seorang pun di dunia ini yang mengetahui bahwa tangan tengkorak andalan Hek-mo-ong disembunyikan di lengan kanannya yang kutung."

Tidak heran perkataan Bong Thian-gak itu mengejutkan para jago, masing-masing segera berpikir dalam hati, "Betulkah tangan tengkorak Hek-mo-ong tersembunyi di balik lengannya yang kutung?"

Dengan hati berdebar dan perasaan amat tegang, sorot mata kawanan jago itu serentak dialihkan ke lengan kutung Liu Khi.

Sambil mengerut dahi Tio Tian-seng bertanya pula dengan suara dalam, "Bong-laute, benarkah kau pernah bersua dengan Hek-mo-ong?"

"Bukan hanya bersua, malahan dada kiriku sempat dihajar olehnya dengan tangan tengkoraknya. Jika kalian tak percaya, silakan diperiksa tanda yang berada di tubuhku ini." Sembari berkata, tiba-tiba pemuda itu membuka pakaian yang menutupi dadanya.

Biarpun suasana malam itu sangat gelap, namun dengan ketajaman mata Tio Tian-seng sekalian, sekilas pandang saja mereka dapat melihat dengan jelas bahwa di atas dada sebelah kiri Bong Thian-gak terdapat sebuah cap tangan tengkorak yang sembab membengkak dan berwarna hitam seperti yang biasanya ditemukan, justru karena itulah Bong Thian-gak tak sampai menemui ajal.

Pada saat itulah tiba-tiba berkumandang suara gelak tawa yang amat keras, menyusul terdengar seseorang berkata, "Tio Tian-seng, benarkah di atas tubuhnya terdapat bekas tangan tengkorak?"

Sesosok bayangan orang berbaju putih telah melompat datang dengan cepatnya.

Orang ini bukan lain adalah sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im, salah seorang di antara sepuluh tokoh persilatan.

Liong Oh-im muncul dengan pedang tersoreng di punggung dan kipas tulang kemala di tangan, dia berjalan ke hadapan Bong Thian-gak dengan langkah amat santai.

Setelah memeriksa sekejap bekas tangan tengkorak di dada Bong Thian-gak, dengan wajah berubah ia berseru keras, "Ah, ternyata memang bekas tangan tengkorak yang asli, cuma warnanya saja yang berbeda."

Sampai di sini sorot matanya segera dialihkan ke wajah Liu Khi.

Liu Khi tertawa seram, katanya, "Liong Oh-im, sungguh tak disangka kau pun datang kemari!"

Liong Oh-im tertawa ringan, sahutnya, "Dari kesepuluh tokoh persilatan yang belum mampus, hampir semuanya telah muncul di sini. Termasuk Ho Lan-hiang pun mungkin sudah berada di sekitar tempat ini." Belum selesai perkataan itu diucapkan, terendus bau harum semerbak bunga anggrek yang tersebar di sekitar tempat itu, lalu terdengar seseorang berkata dengan suara lembut dan halus, "Lan-hiang sudah tiba sejak tadi!"

Semua orang segera berpaling ke arah asal suara ini, tampaklah tiga sosok bayangan orang berdiri di atas gunung- gunungan.

Tak disangkal lagi orang yang berada di tengah adalah Ho Lan-hiang, sedangkan di sisi kirinya adalah Ji-kaucu, sedang orang yang berada di sebelah kanan adalah Sim Tiong-kiu.

Liu Khi tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya, "Sungguh tak kusangka semua orang telah berdatangan kemari. Hm, kalau begitu kita pun tak usah menunggu lebih lanjut, sekarang juga kita dapat turun tangan terhadap Thio Kim-ciok."

"Tunggu sebentar!" mendadak Liong Oh-im berseru keras sambil tertawa.

"Liong-suseng, apalagi yang kau ragukan?" tegur Liu Khi sambil tertawa dingin.

Liong Oh-im tertawa terbahak-bahak, "Tiga puluh tahun lalu, sepuluh tokoh persilatan hendak membunuh Thio Kim- ciok dan tiga puluh tahun kemudian Thio Kim-ciok yang hendak membunuh sepuluh tokoh persilatan untuk membalas dendam. Kedua belah pihak telah bersumpah tak akan hidup berdampingan secara damai lagi, namun di balik dendam kesumat yang berlangsung selama ini terselip pula seorang sutradara yang misterius. Dialah yang sesungguhnya menjadi dalang peristiwa berdarah ini, yakni Hek-mo-ong. Sebelum kita melangkah lebih jauh, aku pikir ada baiknya menyelidiki lebih dulu siapa sesungguhnya orang yang telah berperan sebagai Hek-mo-ong?"

Berubah hebat paras muka Liu Khi, segera tegurnya dengan suara dingin, ”Jadi Liong-heng mencurigai aku sebagai Hek-mo-ong?" Liong Oh-im tersenyum, "Sekarang persoalan telah berkembang menjadi begini rupa, aku rasa Liu-sianseng wajib memperlihatkan lengan kananmu yang kutung itu kepada semua orang."

"Liu Khi," Tio Tian-seng berseru pula dengan lantang. "Kau harus bertindak untuk menghilangkan kecurigaan orang terhadap dirimu."

Mendadak terdengar Thay-kun berseru dengan suara merdu, "Tidak usah diperiksa lagi, dalam keadaan dan waktu seperti ini, di balik lengan tunggalnya itu tak akan ditemukan tangan tengkoraknya."

"Sumoay, apa maksudmu berkata demikian?" tanya Bong Thian-gak dengan wajah termangu.

"Seandainya aku menjadi Hek-mo-ong, jika muncul sebagai orang lain, aku tak akan melengkapi diriku dengan tangan tengkorak itu."

Kobaran hawa amarah yang membara telah menyelimuti wajah Liu Khi, tiba-tiba ia membentak dengan geram, "Budak setan, rupanya kau sudah menuduh aku habis-habisan. Hm, bila aku harus menerima penghinaan hari ini tanpa balas, perbuatanmu ini sama artinya dengan memberi aib sepuluh tokoh persilatan, hm Sekarang pentang mata kalian lebar-

lebar, lihat dengan jelas, benda apakah yang kusembunyikan di balik lengan kutungku ini?"

Seraya berkata Liu Khi segera menggulung ujung baju kanannya yang kosong sampai ke batas bahu kanannya sehingga lengannya yang kutung itu dapat terlihat dengan jelas dan nyata.

Kecuali bekas kutungan lengan akibat bacokan pisau, ternyata tidak nampak tangan tengkorak seperti apa yang dicurigakan. Mendadak pada saat itu terdengar Liu Khi membentak dengan penuh rasa geram, "Bocah keparat yang berani menghina aku, kalian harus menyerahkan nyawamu."

Golok saktinya kembali dilontarkan ke muka dengan hebatnya.

Serangan golok itu langsung ditujukan ke arah Bong Thian- gak.

Serangan itu meluncur dari bawah berbalik membacok ke arah atas. Selain dilepaskan dengan kecepatan luar biasa, jurus serangan pun luar biasa, dalam waktu singkat telah mencapai sasarannya.

Terdengar bunyi robekan, di tengah kilauan cahaya putih yang terpancar dari mata golok, Bong Thian-gak melayang pergi ke samping, sekalipun ia sudah bergerak cukup cepat, ujung baju sebelah kirinya terpapas juga dan terjatuh ke atas tanah.

Andaikata lengan kanan Bong Thian-gak tidak kutung sejak dulu, hari ini lengan itu pasti akan kutung juga termakan oleh sambaran golok kilat itu.

Bersamaan waktunya dengan gerakan menghindar tadi, Bong Thian-gak telah mengayunkan pula pedang bambunya melancarkan sebuah bacokan kilat.

Serangan itu langsung mencegah serangan golok kedua Liu Khi yang berusaha menyerobot posisi. Itulah sebabnya di saat mata golok Liu Khi menyambar tiba untuk kesekian kalinya, serangan pedang Bong Thian-gak pun turut membabat tiba dari arah samping.

Begitu pertarungan berlangsung, para jago yang hadir di arena segera mengerti bahwa pertarungan antara kedua orang itu tak akan berakhir dalam waktu singkat.

Bila jago-jago lihai sedang bertarung, sekalipun terdapat sedikit selisih kepandaian mereka, asalkan kemampuan itu hampir berimbang, maka bukan pekerjaan mudah bagi mereka untuk menentukan menang kalah dalam waktu singkat.

Tampaknya Liu Khi bermaksud melangsungkan pertarungan kilat, makin menyerang semakin cepat. Tujuannya tentu ingin membinasakan Bong Thian-gak.

Oleh sebab itu setiap jurus serangan yang dilontarkan, hampir semuanya merupakan jurus maut yang ganas dan buas, kecepatannya pun bagaikan sambaran kilat.

Sebaliknya permainan pedang Bong Thian-gak pun cepat, ganas dan buas untuk mengimbangi permainan lawan.

Kendati ia dipaksa oleh gerak serangan Liu Khi sehingga berada dalam posisi di bawah angin, namun ia tetap menghadapi serangan musuh dengan tenang, jurus dilawan dengan jurus, gerakan dipatahkan dengan gerakan, gerak- geriknya sama sekali tidak kalut.

Untuk sementara waktu Thay-kun dan Song Leng-hui merasa agak lega.

Sebaliknya kawanan jago lainnya menjadi bingung dan tak tahu bagaimana harus menyelesaikan pertikaian itu.

Tiba-tiba terdengar si tabib sakti Gi Jian-cau berkata dengan suara dingin, "Tujuan kedatangan kita hari ini adalah membekuk Thio Kim-ciok. Barang siapa berani menentang usaha kita membunuh Thio Kim-ciok adalah musuh kita juga, apakah kita mesti membuang waktu lagi dengan percuma?"

"Gi Jian-cau," bentak Thay-kun dengan suara dingin, "jika kau berani maju selangkah lagi, silakan mencicipi dahulu kelihaian ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang."

Sambil berkata gadis itu menyiapkan telapak tangan kirinya dan ditujukan ke arah si tabib sakti di hadapannya.

Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan ilmu pukulan yang amat dahsyat dan sudah lama termasyhur di seantero persilatan, sekalipun si tabib sakti Gi Jian-cau terhitung salah seorang yang tercantum dalam sepuluh tokoh sakti persilatan, namun dia pun tak berani bertindak secara gegabah.

"Budak setan," Gi Jian-cau segera mengumpat, "biarpun kau memiliki ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang yang maha dahsyat, tetapi kemampuanmu itu hanya sanggup menandingi aku seorang."

"Seorang pun sudah lebih dari cukup," kata Thay-kun sambil tertawa merdu. "Sebab sampai detik ini, hanya kau serta Liu Khi yang berniat melenyapkan kami dari sini."

Baru selesai perkataan itu diucapkan, mendadak Ho Lan- hiang yang berada di atas gunung-gunungan berkata dengan suara dingin, "Budak busuk, aku pun tak akan melepaskan kau."

Belum sempat Thay-kun menanggapi, tiba-tiba terdengar pula seorang berseru dengan suara merdu, "Ho Lan-hiang, jika orang-orang Put-gwa-cin-kau berani bergerak, aku pun akan segera turun tangan menghadang kalian."

Semua jago segera berpaling ke arah asal suara itu, entah sejak kapan ternyata dalam halaman itu telah bertambah dengan Biau-kosiu beserta rombongan.

Adapun rombongan Biau-kosiu ini terdiri dari Biau-han-thian suami-istri serta nenek berambut putih.

Betapa senang Thay-kun mengetahui Biau-kosiu serta rombongan mendukung pihaknya, ia segera tertawa cekikikan, katanya, "Nona Biau, apakah kau sudah mengetahui siapa Hek-mo-ong yang sebenarnya?"

"Setiap orang yang hadir di arena saat ini mempunyai kecurigaan sebagai Hek-mo-ong dan kedatanganku kali ini adalah khusus untuk menyelidiki siapa Hek-mo-ong yang sesungguhnya sehingga dendam sakit hati ayahku bisa dibalas," ucap Biau-kosiu dingin. Sembari berkata, ia bersama rombongannya pelan-pelan berjalan masuk ke dalam arena.

Dalam pada itu pertarungan antara Bong Thian-gak melawan Liu Khi telah mencapai puncak yang paling kritis.

Pertarungan di antara mereka berdua yang semula berlangsung amat cepat dan ganas, kini telah berubah menjadi lambat, bahkan gerakannya amat sederhana dan bersahaja.

Walaupun begitu, setiap orang yang hadir tahu bahwa di balik setiap jurus serangan yang digunakan kedua orang itu terselip intisari segenap kepandaian yang mereka miliki.

Tiba-tiba terdengar Bong Thian-gak membentak, "Liu Khi, sambut dulu jurus serangan 'bianglala panjang menutup sang surya' ini!"

Pedang diangkat sejajar dada, kaki kiri maju selangkah dan pedangnya seperti semburan air yang kuat menusuk dada Liu Khi dengan kekuatan maha dahsyat.

Begitu Bong Thian-gak mengeluarkan jurus serangan ini, berubah hebat paras muka para jago yang menonton dari samping, mendadak terdengar Tio Tian-seng berteriak keras, "Liu Khi, jangan bertindak gegabah, jangan kau sambut serangan itu."

Tio Tian-seng meluncur ke depan dari sisi kiri sambil mengayun pedangnya dengan kecepatan luar biasa.

Dengan bertindaknya Tio Tian-seng secara di luar dugaan ini, suasana dalam arena menjadi kalut, bentakan nyaring, hardikan lantang bergema silih berganti.

Thay-kun, Soh Leng-hui, Biau-kosiu dan Tan Sam-cing serentak melompat ke depan dan terjun ke dalam arena. Di tengah gelak tawa yang amat keras, Liu Khi melejit ke tengah udara bagaikan seekor burung elang raksasa dan melayang ke belakang.

Terdengar suara benturan keras. Tahu-tahu pedang bambu di tangan Bong Thian-gak telah terpapas kutung oleh bacokan pedang Tio Tian-seng

Bong Thian-gak mendengus tertahan, tubuhnya mencelat jauh dan jatuh terduduk di atas tanah.

Thay-kun dan Song Leng-hui sama-sama menjerit kaget, serentak mereka melompat ke hadapan Bong Thian-gak.

Sementara itu Bong Thian-gak memutar biji mata, lalu sambil melompat bangun dari atas tanah, bentaknya, "Tio- pangcu, sebenarnya serangan pedangku dapat memaksa Liu Khi mengungkap identitasnya. Sungguh tak disangka, kau telah menggagalkan usahaku itu."

Dengan wajah serius Tio Tian-seng berkata, "Ilmu pedang Bong-laute telah mencapai puncak kesempurnaan. Aku merasa amat kagum atas kemampuanmu itu, tetapi aku tak bisa membiarkan Liu Khi terluka di ujung pedangmu begitu saja."

Sementara itu Song Leng-hui telah bertanya dengan penuh kuatir, "Engkoh Gak, apakah kau terluka?"

"Tidak," Bong Thian-gak menggeleng.

Dalam pada itu Liu Khi yang sudah berdiri, katanya dengan senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya, "Malam ini aku orang she Liu telah memperoleh pengalaman baru. Hm, hampir saja aku terluka di ujung pedangmu itu."

"Sungguh menyesal aku gagal membuka kedok palsumu pada malam ini," kata Bong Thian-gak hambar. Mendadak terdengar Biau-kosiu berseru dengan suara lantang, "Bong-siauhiap, mengapa kalian harus menjual tenaga untuk Thio Kim-ciok?"

"Sebab kami tahu Thio Kim-ciok bukan Hek-mo-ong yang sedang kita cari."

Biau-kosiu tertawa dingin, "Peduli Thio Kim-ciok adalah

Hek-mo-ong atau bukan, dari ambisi serta tekad Thio Kim-ciok untuk melampiaskan rasa benci dan dendamnya, tak mungkin dia melepaskan setiap orang yang berhubungan dengan sepuluh tokoh persilatan begitu saja. Oleh sebab itu bila kalian bersikap membela Thio Kim-ciok secara membabi-buta, pada hakikatnya perbuatan kalian itu merupakan perbuatan yang sangat tolol."

"Bong-laute," Tio Tian-seng segera menambahkan, "apa yang dikatakan nona Biau tepat sekali. Thio Kim-ciok adalah seorang buas yang berhati sempit dan munafik, dia seorang pendendam dan tak pernah melepaskan musuhnya begitu saja, padahal Bong-laute serta nona Song mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan sepuluh tokoh persilatan, pada akhirnya Thio Kim-ciok juga tak bakal melepas kalian begitu saja."

Baru saja Tio Tian-seng selesai berkata, mendadak terdengar suara ledakan keras yang memekakkan telinga, menyusul gedung yang amat besar dan megah itu roboh berantakan ke atas tanah.

Di tengah robohnya gedung itu, terdengar pula beberapa kali jeritan ngeri yang memilukan. Beberapa sosok bayangan orang nampak melarikan diri terbirit-birit dari balik reruntuhan bangunan.

Dengan ketajaman mata Bong Thian-gak, sekilas pandang saja ia sudah mengenali orang yang sedang melarikan diri itu, seorang kakek berbaju hitam serta tiga orang lelaki kekar berbaju hitam pula. Mendadak hatinya bergetar keras, tanpa sadar serunya tertahan.

"Hek-ki-to-cu Long Jit-seng."

Ketika kakek berbaju hitam yang kabur menyelamatkan diri itu sampai di hadapan Bong Thian-gak dan melihat kehadiran si anak muda itu, ia tertawa licik, sapanya, "Jian-ciat-suseng, sungguh tak disangka kita bersua lagi di sini."

Sebagaimana diketahui, dalam pertempuran di kuil Hong- kong-si, Long Jit-seng berhasil menyelamatkan jiwanya dari kematian.

Kemunculan orang ini membuat Bong Thian-gak segera teringat perkataan Liu Khi barusan.

"Sesungguhnya aku sudah menyiapkan selembar kartu raja untuk menghancurkan semua peralatan rahasia yang berada dalam gedung ini."

Dari sini bisa diduga kartu raja yang dimaksud Liu Khi tadi tak lain adalah Hek-ki-to-cu Long Jit-seng.

Sementara itu di saat Long Jit-seng berempat menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan rumah tadi, Gi Jian-cau memperhatikan bangunan yang roboh itu dengan seksama.

Tiba-tiba wajahnya berubah hebat, dari balik matanya mencorong sinar penuh rasa kaget. Sambil mengawasi Long jit-seng sekalian, katanya dengan suara dingin, "Sungguh tak disangka, kalian berhasil menemukan pintu masuk Kiu-kiong- pat-kwa, sungguh mengagumkan."

Liu Khi tertawa terbahak-bahak, katanya pula, "Gi-heng, mari kuperkenalkan, dia adalah Long Jit-seng dari lautan timur. Aku pernah bilang bukan, betapa pun lihai serta rumitnya alat rahasia Thio Kim-ciok, persiapannya itu takkan bisa menghalangi kita untuk pergi mencarinya." Long Jit-seng tertawa seram pula, ujarnya, "Sungguh tak disangka, para jago seluruh kolong langit berkumpul di sini pada malam ini. Sungguh kejadian ini merupakan suatu keberuntungan bagiku. Kini pintu masuk Pat-kwa-kiu-kiong sudah berhasil ditemukan, mengapa kalian tidak masuk ke dalam untuk membekuk Thio Kim-ciok?"

Gi Jian-cau tertawa dingin, "Walaupun pintu masuk barisan Kiu-kiong-pat-kwa telah berhasil ditemukan, namun alat rahasia yang terdapat di ruang bawah tanah sana masih banyak dan berlapis-lapis. Dalam hal ini rasanya kita masih memerlukan bantuan Long-tocu."

Long Jit-seng tertawa tergelak, "Aku tak lebih cuma melaksanakan perintah untuk membukakan pintu masuk barisan Kiu-kiong-pat-kwa yang berada dalam gedung ini. Sekarang tugas telah selesai, aku tak sudi menyerempet bahaya lagi dengan percuma."

Sampai di situ Long Jit-seng segera mengulap tangan kanannya dan bersiap mengajak ketiga anak buahnya pergi meninggalkan tempat itu.

Mendadak terdengar Biau-kosiu membentak, "Berhenti!"

Long Jit-seng memandang sekejap ke arah nona itu, lalu bertanya, "Siapakah kau? Ada urusan apa memanggil aku?"

"Aku bernama Biau-kosiu, aku meminta padamu untuk mengajak kami memasuki barisan Kiu-kiong-pat-kwa yang berada di bawah tanah itu."

"Seandainya aku keberatan?" tanya Long Jit-seng menantang.

"Kalau begitu, silakan kau mampus di tempat ini."

"Bila aku mati, kalian pun jangan berharap bisa menangkap Thio Kim-ciok untuk selamanya." Tiba-tiba Biau-kosiu memandang sekejap ke arah Liu Khi yang berada di samping arena, lalu tegurnya dingin, "Dia ini anak buahmu?"

Liu Khi tertawa, "Aku pernah menyelamatkan jiwanya satu kali, maka dia pun hanya membantuku sekali. Waktu itu aku hanya meminta kepadanya utnuk membantuku menemukan pintu masuk menuju barisan Kiu-kiong-pat-kwa yang berada dalam bangunan bawah tanah itu dan sekarang tugasnya telah selesai, tentu saja aku pun tak bisa mengekang dirinya lagi."

Biau-kosiu tertawa dingin, tiba-tiba ia berjalan ke muka dan pelan-pelan menghampiri Long Jit-seng.

Setiap jago yang berada dalam arena mengetahui bahwa Biau-kosiu bermaksud memaksa Long Jit-seng memenuhi keinginannya.

Mendadak terdengar Long Jit-seng membentak, telapak tangannya segera diayunkan ke depan membacok dada Biau- kosiu yang sedang berjalan mendekat.

Dengan suatu gerakan yang amat cepat dan lincah, Biau- kosiu menghindar ke samping, kemudian pergelangan tangannya diputar sambil menyambar, tanpa mengeluarkan sedikit tenaga pun, dia telah berhasil mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan Long Jitseng.

Pada saat itulah ketiga lelaki kekar berbaju hitam yang berdiri di belakang Long Jit-seng menerjang maju secara bersama-sama.

Biau-kosiu segera mengayun tangan kirinya siap meluncurkan sebuah bacokan mematikan, tiba-tiba terdengar Long Jit-seng berteriak, "Nona, jangan kau lukai pembantu utamaku." Di tengah seruan itu, golok Liu Khi telah tercabut, kemudian diayunkan sejajar dada menghadang jalan pergi ketiga lelaki kekar itu serta niat Biau-kosiu untuk menyerang.

Melihat Liu Khi menghalangi niatnya, Biau-kosiu segera menegur sambil tertawa dingin, "Liu-tayhiap, apakah kau berniat melepaskannya pergi dari sini?"

Liu Khi tertawa terbahak-bahak, "Apabila nona Biau bermaksud minta bantuan Long-tocu, aku rasa kau harus memohonnya secara baik-baik."

"Tapi sayang dia enggan menerima arak kehormatan, sebaliknya justru mencari arak hukuman," jengek Biau-kosiu sambil tertawa dingin.

Liu Khi tak menggubris Biau-kosiu lagi, dia segera menggerakkan badan dan memberi hormat kepada Long Jit- seng sambil katanya, "Long-tocu, kau pun terhitung seorang pintar, kau juga tahu bahwa setiap orang yang mengepung gedung ini merupakan jago-jago persilatan yang pernah menggetarkan persilatan, lagi pula mereka bertekad hendak membekuk Thio Kim-ciok, padahal Thio Kim-ciok pernah belajar ilmu bangunan dan ilmu alat rahasia dari Susiokmu."

"Berarti selain dirimu yang mampu memecahkan alat rahasia yang dipasang Thio Kim-ciok, tidak ada orang kedua di dunia ini yang mampu melakukannya. Oleh sebab itu bagaimana pun juga mereka tak akan melepaskan dirimu begitu saja pada malam ini."

Long Jit-seng tertawa dingin.

"Sungguh tidak disangka Liu-tayhiap telah menyingkap semua rahasiaku di hadapan umum."

"Itulah sebabnya kau harus membantu usaha kami membekuk Thio Kim-ciok."

Long Jit-seng tertawa licik, "Oh, tentu saja…” Liu Khi tersenyum, dia melirik sekejap ke arah Biau-kosiu, lalu ujarnya, " Nona Biau, sekarang kau boleh melepaskannya."

Biau-kosiu mendengus dingin. Sambil mengendorkan tangan kanannya ia berkata dingin, "Seharusnya sejak tadi kau memerintahkan kepadanya untuk berbuat demikian."

Mendadak Liu Khi berseru dengan suara lantang, "Dengarkan baik-baik saudara sekalian, sekarang Thio Kim- ciok telah berada dalam ruang bawah tanah gedung ini yang telah dilengkapi dengan alat-alat rahasia yang tangguh dan kuat. Selama puluhan tahun terakhir ini, dia selalu mengeram di situ untuk merawat lukanya, sampai dimanakah ketangguhan alat-alat rahasianya serta rahasia apa yang terkandung di balik semua ini, aku rasa kita harus masuk sendiri serta menggalinya."

Baru saja Liu Khi selesai berkata, tiba-tiba dari balik kegelapan malam berkumandang suara seorang tua yang serak tapi lantang, "Apa yang diucapkan Liu Khi memang benar. Di balik ruang bawah tanah dalam gedung ini memang tersimpan banyak sekali rahasia, cuma kalian harus ingat, tempat ini pun merupakan perangkap kematian yang bisa menghabisi riwayat hidup kalian."

Beberapa patah kata itu bergema dengan lantang dan dapat didengar oleh setiap jago dengan jelas, namun semua orang hanya bisa mendengar suaranya tanpa berhasil melihat sang pembicara.

Berubah hebat paras muka semua jago.

Tio Tian-seng segera menghardik dengan suara dalam, "Siapakah kau? Harap sebutkan namamu."

Suara yang serak tapi nyaring itu tertawa terbahak-bahak, "Aku adalah Thio Kim-ciok yang hendak kalian bekuk pada malam ini. Pintu neraka menuju ke barisan Kui-kiong-pat-kwa telah terbuka lebar dan siap menyambut kalian, mengapa kalian ragu-ragu memasukinya?"

Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui telah mengenali suara itu, suara Thio Kim-ciok yang bermaksud menantang sepuluh tokoh persilatan untuk berduel.

Perubahan yang berlangsung sangat tiba-tiba ini segera membuat gedung itu diliputi suasana misterius, tegang dan menyeramkan.

Sementara itu para jago telah melangkah menghampiri bangunan yang roboh itu.

Ketika semua orang sudah melihat jelas keadaan di situ, berubah hebat paras muka mereka.

Ternyata di atas bekas gedung yang megah dan mentereng, kini telah muncul sebuah kuburan yang mengerikan.

Di atas batu nisan di muka kuburan yang sangat besar dan sangat aneh itu muncul sebuah pintu berbentuk rembulan, di atasnya terpajang tujuh huruf besar berwarna merah darah:

"Kuburan umat persilatan Kiu-kiong-pat-kwa".

Di sebelah kiri dan kanan batu nisan itu terpancang pula sepasang nisan yang bertuliskan:

"Pintu neraka menyambut umat manusia dengan tubuh hancur tulang remuk naik ke surga."

Bergidik perasaan para jago menyaksikan semua ini, untuk beberapa saat lamanya mereka hanya bisa mengawasi liang kuburan yang terbuka lebar itu dengan mata terbelalak dan wajah termangu.

Liong Oh-im berseru lantang, "Thio Kim-ciok, benarkah kau berada di dalam liang kuburan itu?" Gelak tawa nyaring segera berkumandang, "Liong Oh-im, aku memang berada di liang kuburan. Aku telah membuang pikiran dan tenaga selama tiga puluh tahun untuk mempersiapkan liang tempat peristirahatan yang paling nyaman untuk kalian sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan- hiang si perempuan rendah itu. Mengapa kalian tidak cepat masuk kemari?"

Kalau tadi sepuluh tokoh persilatan yang masih hidup serta Ho Lan-hiang amat bernapsu untuk menangkap Thio Kim-ciok, maka sekarang setelah Thi Kim-ciok menantang mereka, orang-orang itu malah ragu menyambut tantangan itu.

Semua orang tahu bahwa Thio Kim-ciok telah bertekad hendak membalas dendam. Perangkap yang telah ia siapkan selama tiga puluh tahun dengan susah-payah ini merupakan sarang naga gua harimau yang amat berbahaya dan sukar untuk dilewati.

Dengan suara setengah berbisik, Bong Thian-gak segera bertanya kepada Thay-kun, "Sumoay, apakah kita akan turut masuk ke dalam?"

"Tentu saja kita harus ikut masuk. Hanya saja, bila kita sudah masuk ke dalam, mungkin tak akan bisa keluar lagi untuk selamanya."

"Apa maksudmu berkata demikian?"

"Aku merasa tempat ini seperti juga apa yang dikatakan Thio Kim-ciok tadi, merupakan kuburan yang paling besar untuk mengubur jago-jago lihai dunia persilatan."

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, dugaan Sumoay memang benar, Thio Kim-ciok belum dapat melupakan dendam sakit hati yang pernah dialaminya tiga puluh tahun berselang. Ai, buat apa kita mesti ikut serta dalam persoalan ini?" "Ya benar, kita memang tak usah melibatkan diri dalam perselisihan itu, tapi perselisihan antara sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok pada malam ini, terutama menang kalah mereka akan mempengaruhi nasib dan keadaan persilatan di masa mendatang."

Sementara kedua orang itu masih berbincang-bincang, kawanan jago lainnya secara beruntun telah memasuki pintu di muka kuburan besar itu.

Liu Khi berjalan paling akhir, ketika kakinya baru saja akan melangkah masuk, tiba-tiba ia menariknya kembali. Kemudian sambil berpaling ke arah Bong Thian-gak sekalian, tanyanya sambil tertawa, "Apakah kalian tidak bermaksud memasuki kuburan umat persilatan?"

Thay-kun tertawa dingin.

"Setelah kau masuk nanti, kami bisa masuk sendiri." "Bila kalian berniat ikut masuk, paling baik jika berjalan

mengikut di belakang kami. Kalau tidak, pasti akan sulit untuk meneruskan perjalanan," kata Liu Khi sambil tertawa seram.

"Terima kasih atas maksud baikmu, silakan kau pergi lebih dulu!"

Sementara itu dari balik liang kubur terdengar suara Tio Tian-seng berteriak, "Liu Khi, semua orang sedang menantikan kedatanganmu. Mengapa kau tidak segera masuk ke dalam?"

Liu Khi tertawa terbahak-bahak, dia segera masuk ke dalam liang kubur.

Waktu itu pintu neraka menuju ke kuburan masih terbuka lebar, pada mulanya masih terdengar suara langkah kaki para jago serta suara pembicaraan mereka, tapi lambat-laun semakin jauh, makin jauh ... akhirnya tidak terdengar lagi sedikit suara pun. Bong Thian-gak yang menjumpai keadaan itu menjadi sangat terkejut, segera ujarnya, "Wah, liang kubur ini nampaknya mempunyai lorong yang amat panjang dan dalam."

Paras muka Thay-kun berubah juga, katanya pula, "Bila seseorang berjalan di lorong bawah tanah, biarpun sudah mencapai jarak sejauh satu li pun, seharusnya masih bisa mendengar suara langkah kakinya. Tapi mereka baru masuk selama seperempat jam, nyatanya suara mereka lenyap, kejadian seperti ini benar-benar aneh sekali."

Belum lagi mereka selesai berkata, mendadak terlihat seseorang berkelebat keluar dari balik liang kubur, tahu-tahu seorang kakek berbaju hijau telah berdiri di depan pintu liang kubur itu.

"Ah, Thio-locianpwe."

Ternyata orang tua yang berdiri di depan pintu liang kubur itu tak lain adalah Thio Kim-ciok. Waktu itu ia berdiri dengan wajah kereng dan serius, ujarnya tiba-tiba, "Bong-siauhiap, bila bersedia menyembuhkan penyakit yang kuderita, silakan ikut masuk ke dalam. Bila menolak, harap secepatnya pergi meninggalkan tempat ini."

Satu ingatan segera melintas dalam benak Bong Thian-gak, tanyanya dengan suara dalam, "Dengan cara apakah Thio- locianpwe hendak menghadapi Liu Khi sekalian?"

Dengan wajah serius dan nada bersungguh-sungguh, Thio Kim-ciok menjawab, "Agaknya sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang telah bertekad membunuh diriku. Demi melanjutkan hidup, terpaksa aku harus memberikan perlawanan dengan sepenuh tenaga dan berjuang sampai titik darah penghabisan."

"Apakah Locianpwe mempunyai kekuatan yang cukup untuk menghadapi orang-orang itu?" kembali Bong Thian-gak bertanya. "Sudah barang tentu kekuatan yang kumiliki tidak mampu melawan kemampuan mereka, tapi sampai akhirnya hanya Hek-mo-ong seorang yang akan berduel melawan diriku."

Sebelum Bong Thian-gak dapat menangkap arti di balik perkataan Thio Kim-ciok itu, Thay-kun telah berhasil menangkap arti ucapan itu, sambil menghela napas ia segera berkata, "Jadi kalau begitu Thio-locianpwe benar-benar telah memperalat kemampuan Hek-mo-ong untuk membunuh sisa kesepuluh tokoh persilatan? Ai, apakah tindakan dan cara yang ditempuh Thio-locianpwe ini tidak terlampau kejam?"

Hijau membesi wajah Thio Kim-ciok.

"Umpatan nona Thay-kun memang tepat sekali," sahutnya. "Nah, katakan sekarang, apakah kalian bersedia membantuku? Saat ini Hek-mo-ong telah berada di dalam kuburan untuk membunuh sepuluh tokoh persilatan yang tersisa serta Ho

Lan-hiang, aku pun harus selekasnya mempersiapkan segala sesuatunya."

Thay-kun menghela napas sedih.

"Kini badai pembunuhan sudah berada di depan mata, apakah Thio-locianpwe bersedia mengungkap siapa gerangan Hek-mo-ong yang sebenarnya?"

Thio Kim-ciok termenung dan berpikir beberapa saat, setelah itu baru menghela napas panjang.

"Nona Thay-kun memang seorang nona yang cerdas dan berotak encer, aku benar-benar merasa kagum atas kepintaranmu itu. Memang benar, Hek-mo-ong adalah Liu Khi."

"Hah, jadi benar adalah Liu Khi?" seru Bong Thian-gak terperanjat.

"Ya, sejak tiga puluh tahun berselang, aku sudah tahu Liu Khi adalah Hek-mo-ong." "Kalau Thio-locianpwe sudah mengetahui bahwa otak dari semua kejahatan ini adalah Liu Khi, mengapa kau tidak secara langsung mencarinya untuk membalas dendam?" tanya Bong Thian-gak dengan suara keras.

Tiba-tiba Thio Kim-ciok mendongakkan kepala dan tertawa tergelak dengan suara menyeramkan.

"Walaupun Liu Khi dan aku terikat dendam sakit hati sedalam lautan, tapi sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan- hiang pun punya dendam sakit hati denganku, aku sangat membenci mereka, begitu benciku hingga bertekad akan membasmi mereka satu per satu, tapi ... aku sudah tidak memiliki kekuatan sedemikian besar, maka aku...”

Berbicara sampai di sini, suara Thio Kim-ciok terdengar amat sedih, murung dan terputus-putus karena menahan emosi.

Thay-kun menghela napas sedih, segera ujarnya pula, "Maka Thio-locianpwe pun memperalat Hek-mo-ong Liu Khi untuk membinasakan kesepuluh tokoh persilatan itu satu per satu?"

Thio Kim-ciok mengangguk pelan.

"Ya, meskipun begitu, akhirnya Liu Khi akan turun tangan juga terhadapku."

"Bukankah kau sangat berharap bisa membunuh Liu Khi?" jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.

Thio Kim-ciok menghela napas sedih.

"Tapi yang pasti aku tak akan mampu menandingi Hek-mo- ong Liu Khi."

"Ai, selama tiga puluh tahun terakhir ini, aku harus berusaha keras mengendalikan rasa dendam dan benciku yang terbesar untuk bekerja sama dengan Liu Khi serta berusaha melenyapkan sepuluh pesilat tangguh dari muka bumi ini. Terus terang kukatakan, aku memang sengaja mengulur waktu agar luka yang kuderita bisa disembuhkan lebih dulu."

Mata Thio Kim-ciok yang sedih dan penuh duka itu dialihkan ke Song Leng-hui. Itulah pandangan penuh harapan.

Hingga detik ini Bong Thian-gak baru mulai memperoleh sedikit pengertian atas budi dendam serta musibah yang terjadi dalam dunia persilatan selama ini, sesungguhnya persoalan ini memang terlalu rumit dan memusingkan kepala.

Tentu saja yang patut dikasihani adalah mereka yang telah keburu mati secara mengenaskan.

Satu masalah pelik yang dihadapi mereka sekarang, yaitu apakah mereka harus membantu kakek yang berhati kejam dan buas ini untuk mengembalikan kekuatannya sehingga ia dapat memuaskan napsunya untuk membalas dendam sakit hatinya?

Tapi seandainya mereka tidak membantu kakek ini untuk memulihkan kembali kekuatannya, Hek-mo-ong Liu Khi pasti akan membinasakan pula Thio Kim-ciok setelah ia berhasil menghabisi nyawa Tio Tian-seng sekalian.

Tiba-tiba terdengar Thay-kun menghela napas panjang, "Sudahlah, kami bersedia membantu memulihkan kembali kekuatanmu itu."

Thio Kim-ciok amat gembira.

Sebaliknya paras muka Bong Thian-gak berubah hebat, ia segera menegur, "Sumoay, apakah kita harus menyetujui permintaannya?"

"Bicara soal dosa dan kekejaman, Hek-mo-ong Liu Khi otak dari semua kekejian ini. Apabila kita berniat menyingkirkan dalang semua kekejian dan kebuasan itu, maka kita harus berbuat demikian. Hanya satu masalah yang dikuatirkan adalah sehabis sembuh dari lukanya nanti, apakah Thio- locianpwe benar-benar mampu melawan kekuatan Liu Khi." Thio Kim-ciok menghela napas panjang, "Sekalipun tidak dapat membunuhnya, paling tidak aku mempunyai kekuatan untuk beradu jiwa dengannya."

Mendadak Thay-kun berkata dengan serius, "Thio- locianpwe, aku ingin mengucapkan sesuatu kepadamu, yaitu Thian adalah maha pengasih dan penyayang, kecuali menghadapi seorang buas yang dosanya sudah menumpuk dan tidak terampuni lagi, kita harus menolong mereka yang terancam bahaya."

"Kini Liu Khi telah memancing Tio Tian-seng sekalian para jago memasuki kuburan itu serta membantai mereka secara brutal. Apakah Thio-locianpwe akan berpeluk-tangan tanpa berusaha menolongnya?"

Thio Kim-ciok menghela napas panjang.

"Ai, dendam sakit hatiku kepada mereka sudah mencapai titik puncaknya, ibarat air dengan api, aku tak akan hidup berdampingan lagi dengan mereka secara damai. Dengan sendirinya mati hidup mereka pun tak usah kupusingkan lagi, sebab daripada membiarkan mereka tetap hidup di dunia ini, lebih baik membiarkan mereka saling gontok. Apakah nona berniat memaksaku menyelamatkan mereka?"

"Aku tidak suruh Locianpwe pergi menolong mereka, kami hanya minta kepada Locianpwe untuk menerangkan pintu masuk dan keluar kuburan ini."

"Ai, baiklah! Mari kalian ikuti aku," ucap Thio Kim-ciok kemudian sambil menghela napas.

Selesai berkata, ia membalikkan badan dan berjalan kembali ke arah kuburan.

Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui segera mengikut di belakangnya.

Terdengar Thio Kim-ciok yang berada di depan berkata lagi, "Pintu masuk menuju ke kuburan Bu-lim-bong ini terbagi menjadi dua buah lorong yang masing-masing adalah lorong kehidupan dan lorong kematian. Tadi lorong kematian sudah ditutup, sedang jalan yang kita lalui sekarang adalah lorong kehidupan."

"Perlu kalian ketahui, lorong kehidupan ini berada dalam suasana gelap-gulita, tak nampak jari sendiri, ditambah dengan perubahan Kiu-kiong-pat-kwa, maka akan timbul kesan seperti munculnya badai, kilat, setan atau makhluk aneh. Tapi kalian tak usah takut, kalian pun jangan berusaha turun tangan memukul atau menyerang benda yang dijumpai."

Belum selesai perkataan Thio Kim-ciok, Bong Thian-gak sekalian telah mendengar timbulnya suara angin puyuh yang menderu-deru, suara angin itu begitu dahsyatnya sehingga menggidikkan siapa pun yang mendengar, bahkan seolah-olah menggulung ke arah tubuh mereka.

Bong Thian-gak sekalian menjadi sangat terperanjat, andaikata Thio Kim-ciok tidak berpesan lebih dulu, niscaya mereka akan mundur.

Dengan membusungkan dada dan langkah lebar, Bong Thian-gak meneruskan perjalanan ke depan. Anehnya, walaupun mereka mendengar suara hembusan angin puyuh yang menderu-deru dan memekakkan telinga, namun tubuh mereka sama sekali tidak terasa seperti terhembus angin puyuh.

Perubahan aneh yang sama sekali tak terduga ini benar- benar sangat luar biasa, baru sekarang Bong Thian-gak mengagumi betapa hebatnya ilmu Ngo-heng itu.

Pada saat itulah terdengar Thio Kim-ciok yang berada di depan berkata, "Setelah hembusan angin lewat, hujan dan guntur akan datang silih berganti, tapi semuanya hanya khayalan belaka, kalian tak perlu merasa kuatir." Baru selesai peringatan itu diberikan, Bong Thian-gak segera merasakan menyambarnya halilintar yang menusuk mata di depannya, kemudian disertai ledakan guntur yang menggelegar, terasa hujan turun dengan derasnya.

Padahal semuanya itu hanya merupakan khayalan belaka, Bong Thian-gak merasa tubuhnya kering dan sama sekali tidak ada setetes air pun yang membasahi tubuhnya, namun telinganya justru menangkap suara air hujan yang turun sangat deras.

Lama kelamaan Bong Thian-gak tak dapat mengendalikan rasa ingin tahunya lagi, ia segera bertanya, "Thio-locianpwe, sesungguhnya darimanakah datangnya suara khayalan itu?"

"Di sinilah letak kelihaian ilmu rahasia barisan Ngo-heng serta Kiu-kiong-pat-kwa, padahal suara-suara khayalan itu justru timbul dari dalam tubuh kita sendiri."

"Timbul dari dalam tubuh sendiri? Apa artinya?"

"Tak mungkin kujelaskan hal ini dalam waktu singkat. Nah, hati-hatilah, bayangan setan yang lebih menakutkan akan segera muncul, ingat baik-baik, jangan turun tangan menyerang makhluk apa pun yang datang menyerang kalian!"

Baru selesai ia berkata, suara tangisan setan dan jeritan kuntilanak bergema silih berganti.

Bersamaan Bong Thian-gak seolah-olah melihat munculnya kepala setan berambut panjang dan berwajah bengis menyeramkan menerjang ke arahnya.

Andaikata Thio Kim-ciok tidak berpesan sekali lagi, sudah pasti Bong Thian-gak akan menyingkir jauh-jauh dari situ.

Benar juga, ternyata bayangan setan yang menerkam datang tadi hanya khayalan semu belaka.

Dengan perasaan terkejut bercampur keheranan Bong Thian-gak segera bertanya, "Thio-locianpwe, jika aku turun tangan melancarkan serangan atau menghindar ke samping, apakah akibat yang akan terjadi?"

"Bong-laute, kau juga jangan bergurau secara sembarangan," seru Thio Kim-ciok dengan perasaan gelisah, "bila kau bergerak hingga rubuhmu menyentuh alat rahasia, maka tubuhmu akan terseret masuk ke dalam lorong kematian."

"Bukankah Tio Tian-seng sekalian masih berada di dalam lorong kematian sekarang?"

"Benar, sejak memasuki kuburan Bu-lim-bong tadi, mereka sudah menempuh jalan yang salah, yaitu lorong kematian."

"Apa yang bakal terjadi bilamana seorang berjalan melalui lorong kematian?"

"Bila orang yang memasuki lorong kematian itu tidak menguasai perubahan Kiu-kiong-pat-kwa, maka selama hidup dia tak akan bisa kembali dalam keadaan selamat, apalagi keluar dari kuburan Bu-llm bong ini."

"Kalau begitu, seandainya Tio Tian-seng sekalian tidak memahami rahasia perubahan Kiu-kiong-pat-kwa, maka selama hidup dia akan terkurung di dalam lorong kematian itu?"

"Hek-mo-ong telah bertekad akan membunuh seluruh orang di dalam kuburan Bu-lim-bong ini, aku rasa nasib mereka lebih banyak bencananya daripada selamat."

"Tio Tian-seng Locianpwe mempunyai hubungan yang paling akrab denganku, aku tak bisa membiarkan mereka tewas terbunuh tanpa berusaha menolongnya."

Di tengah pembicaraan itu, Bong Thian-gak segera mengerahkan tenaga pukulannya dan membacok ke sisi kirinya. Baru saja dia akan melancarkan pukulan, Thio Kim-ciok telah menyadari perbuatannya itu, ia segera menjerit kaget, "Jangan kau lakukan...”

Dengan cepat dia menggerakkan tangannya balas mencengkeram tangan pemuda itu.

Tahu-tahu serangan yang dilancarkan Bong Thian-gak sudah menghantam di dinding batu itu

Di tengah suara ledakan keras yang memekakkan telinga, Bong Thian-gak merasakan permukaan tanah dimana ia berdiri terasa berputar kencang, tidak bisa ditahan lagi tubuhnya segera terjatuh ke sisi kanan

Bersamaan waktunya pula Bong Thian-gak mendengar Thay-kun berteriak, "Bong-suheng, apa yang hendak kau lakukan?"

Walaupun Bong Thian-gak tak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya lagi hingga berputar dan terjatuh ke kanan, namun kesadaran pikirannya masih tetap utuh.

Mendengar teriakan itu, ia segera menyahut dengan lantang, "Aku hendak menyelamatkan jiwa Tio Tian-seng sekalian, kalian segera mendesak Thio Kim-ciok."

Belum habis perkataan itu, kembali terdengar suara ledakan keras menggelegar, tubuh Bong Thian-gak terjerumus ke dalam sebuah jurang yang tak nampak dasarnya, angin tajam terasa menderu di sekelilingnya.

Berada dalam keadaan begini, Bong Thian-gak tak sanggup melanjutkan perkataannya lagi, cepat dia menghimpun tenaga dalam untuk memperingan bobot tubuhnya agar dirinya yang sedang meluncur ke bawah bisa bergerak lebih lamban.

Tiba-tiba saja Bong Thian-gak merasakan kaki telah menyentuh permukaan tanah, suasana di sekitar sana terasa hening, suasana gelap mencekam sekelilingnya membuat kelima jari sendiri pun tak terlihat. Baru sekarang Bong Thian-gak merasa sangat menyesal, dia menyesal karena bertindak gegabah hingga terperosok ke tempat itu.

Di samping itu dia pun merasa amat terkejut bercampur keheranan terhadap peralatan ganda dalam kuburan Bu-lim- bong yang mempunyai perubahan sedemikian rupa, ia tidak habis mengerti apa sebabnya serangan yang dilancarkan olehnya tadi bisa mengalihkan dirinya sampai ke tempat semacam ini.

Di tengah keheningan yang mencekam, tiba-tiba Bong Thian-gak menangkap suara langkah kaki berjalan mendekat dari hadapannya.

Diam-diam Bong Thian-gak menghimpun tenaga murninya sambil bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu suara langkah kaki tadi makin mendekat.

Bong Thian-gak dapat menangkap suara langkah itu terdiri dari dua orang.

"Siapa di situ?" Bong Thian-gak segera membentak.

Tapi begitu suara teguran diutarakan, Bong Thian-gak segera merasakan datangnya dua gulung desingan senjata rahasia yang amat tajam ke arah tubuhnya.

Walaupun Bong Thian-gak dalam lorong bawah tanah yang gelap, namun sepasang telinganya sangat tajam, serta-merta dia menggerakkan tubuhnya dan bergeser ke sisi sebelah kanan.

Baru saja tubuhnya berdiri tegak, dua orang itu telah menerjang dari kiri dan kanan dengan kecepatan luar biasa, bahkan melancarkan serangan bersama-sama.

"Siapa di situ?" kembali Bong Thian-gak membentak. "Bila tidak menyebutkan nama kalian, jangan salahkan bila aku menyerang secara keji." Sekali lagi anak muda itu berkelebat menghindar ke sisi sebelah kiri.

Agaknya kedua orang yang gagal dalam serangannya itu merasa terperanjat sekali, serentak mereka menghentikan serangannya.

Dalam pada itu jarak antara kedua belah pihak sudah dekat, Bong Thian-gak dapat mendengar dengan jelas suara napas kedua orang yang berada di hadapannya itu sangat berat disertai suara rintihan dan dengusan tertahan.

Dengan perasaan terkejut bercampur keheranan Bong Thian-gak segera bertanya lagi, "Kenapa kalian? Apakah terluka?"

Setelah suara rintihan dan hembusan napas memburu agak mereda, terdengar orang itu menjawab dengan suara parau, "Kau adalah orang Thio Kim-ciok ataukah salah seorang di antara para jago yang memasuki kuburan Bu-lim-bong ini?"

Sekarang Bong Thian-gak sudah dapat melihat wajah kedua orang yang berada di hadapannya ini, walaupun secara lamat-lamat. Dia berseru tertahan, lalu bergerak lebih ke depan, tegurnya segera, "Bukankah kalian berdua adalah anak buah Biau-kosiu ... Biau-han-thian suami-istri?"

Benar, kedua orang itu memang kedua anak buah Biau- kosiu, lelaki dan perempuan kekar bermata tunggal itu.

Tampaknya Biau-han-thian suami-istri masih belum mengenali Bong Thian-gak, segera bentaknya, "Berhenti! Jika kau berani maju selangkah lagi, kedua puluh empat peluru emas akan kami lancarkan secara bersama."

Bong Thian-gak menghentikan langkah, lalu berseru lagi dengan lantang.

"Aku adalah Jian-ciat-suseng, apakah kau masih belum mengenali diriku?" Biau-han-thian suami-istri berseru tertahan, lalu berkata, "Ya benar, kau adalah Jian-ciat-suseng, tapi kau adalah teman atau musuh?"

Bong Thian-gak tertawa ringan, "Aku adalah sahabat kalian, senasib sependeritaan yang sama-sama berkurung di dalam Bu-lim-bong ini."

Biau-han-thian segera mendengus, "Hm, selagi berada di halaman tadi, kau berpihak kepada Thio Kim-ciok. Selama berada dalam kuburan Bu-lim-bong, kau pun termasuk salah satu pembantu untuk membunuh para jago. Hm! Hari ini, kami akan mengadu jiwa denganmu." 

"Tunggu dulu!" bentak Bong Thian-gak dengan suara keras.

"Apalagi yang hendak kau katakan?" seru Biau-han-thian sambil tertawa seram.

"Apa yang menyebabkan kalian terluka? Dimanakah Biau- kosiu serta para jago lainnya?" tanya pemuda itu dengan suara dalam.

Biau-han-thian tertawa seram, "Apa yang mengakibatkan kami terluka? Masakah kau belum tahu? Apalagi kalau bukan dilukai oleh begundal-begundalmu."

"Tutup mulutmu!" bentak Bong Thian-gak sambil berkerut kening. "Sekarang kalian sudah termakan oleh siasat busuk Hek-mo-ong. Keselamatan jiwa kalian terancam, masakah kalian belum menyadari akan hal ini? Dimanakah para jago lainnya saat ini? Harap kau segera mengajakku ke sana."

Mendadak Biau-han-thian tertawa seram, "Aku tidak bakal mengajakmu ke sana. Kami suami-istri bisa bertemu dengan kau saat ini, hitung-hitung kami lagi sial. Jika kau memang berkepandaian, ayo cepatlah bunuh kami berdua." Sekarang Bong Thian-gak sudah tahu bahwa kedua orang itu telah salah mengira dia sebagai musuh. Padahal dalam keadaan seperti ini, ia tak bisa merubah sikap serta pandangan mereka yang keliru itu, tapi bila dilihat dari keadaan Biau-han-thian suami-istri yang menderita luka, bisa diduga Liu Khi sudah mulai melakukan pembantaian secara besar-besaran.

Tindakan paling baik sekarang adalah secepatnya menemukan para jago dan menyingkap tabir rahasia bahwa Liu Khi adalah Hek-mo-ong.

Sementara dia masih termenung memikirkan persoalan itu, tiba-tiba Biau-han-thian suami-istri telah menerjang datang lagi dari sisi kiri dan kanan.

Bong Thian-gak segera membentak, tubuhnya bagai gangsingan segera berputar, serunya, "Dengarkan baik-baik kalian berdua! Liu Khi adalah Hek-mo-ong, dalang semua kekejaman dan kekejian selama ini, dia sengaja memancing para jago memasuki kuburan Bu-lim-bong ini tak lain bertujuan untuk membunuh setiap jago lihai persilatan. Apa yang aku ucapkan ini adalah sesungguhnya dan fakta, percaya atau tidak terserah kepada kalian sendiri!"

Selesai mengucapkan perkataan itu, Bong Thian-gak segera menyelinap ke samping dan melanjutkan perjalanannya menuju ke arah depan.

Waktu itu Biau-han-thian suami-istri sudah menderita luka parah sehingga sama sekali tak berkekuatan lagi untuk mengejar Bong Thian-gak, namun kata-kata Bong Thian-gak sebelum pergi serta tindakan si anak muda yang tidak membunuh mereka, membuat kedua orang itu merasa curiga bercampur ragu, tanpa terasa pikirnya, "Mungkinkah dia adalah orang baik-baik?"

Suasana di dalam lorong bawah tanah itu gelap-gulita dan lembab, dengan langkah cepat Bong Thian-gak bergerak maju, namun masih belum juga ditemukan ujung lorong bawah tanah itu.

Tiba-tiba hati Bong Thian-gak bergetar keras, ia teringat lorong bawah tanah ini ada beberapa bagian mirip lorong bawah tanah Kiu-kiong-mi-hun-to di dalam kuil Sam-cing- koan. Bagi orang yang tidak memahami kunci rahasia lorong itu, walaupun sudah berjalan pulang pergi akhirnya kembali lagi ke posisi semula.

Teringat sampai di sini, hatinya menjadi bergidik, segera pikirnya lagi, "Aduh celaka! Thio Kim-ciok pernah bilang, lorong kematian di dalam kuburan Bu-lim-bong ini dibangun menurut perubahan barisan Kiu-kiong-pat-kwa. Bagi mereka yang tak memahami kunci rahasia ilmu barisan itu, dengan cara apakah baru dapat keluar dari tempat ini?"

Sementara dia masih termenung memikirkan hal itu, mendadak dari kejauhan sana terdengar suara seseorang sedang menghela napas sedih.

Secepat kilat Bong Thian-gak segera bergerak ke muka mendekati sumber suara itu, segera tegurnya, "Siapa yang berada di depan?"

Bong Thian-gak memiliki sepasang mata tajam, ia bisa melihat ada seseorang dengan sepasang mata tajam sedang berdiri bersandar di dinding lorong di hadapannya. Tampak orang itu menggenggam sebatang senjata yang pendek bentuknya.