Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 18

 
Jilid 18

bertanya.

"Tiga kali."

"Taysu, apakah setiap kali kalian bertarung Ji-kaucu selalu hadir di arena?"

Pertanyaan ini membingungkan Hong-kong Hwesio, dia menggeleng sambil berkata, "Ji-kaucu tak pernah hadir di arena. Bong-sicu, apa maksudmu menanyakan hal ini?"

Sebelum Bong Thian-gak menjawab, terdengar Ji-kaucu tertawa dingin sambil katanya, "Dia curiga kalau aku telah melepaskan racun dan meracuni orang secara diam-diam."

Rupanya Bong Thian-gak menaruh curiga atas kejadian itu, hingga kini dia masih belum dapat melihat dengan jelas bagaimana Sim Tiong-kiu melukai lawannya.

Maka dia pun mulai berpikir, "Mungkinkah Ji-kaucu yang telah melepaskan racunnya secara diam-diam dari tepi arena untuk membantu Sim Tiong-kiu sehingga akibatnya orang yang diserang Sim Tiong-kiu selalu menderita luka secara membingungkan?"

Tapi jalan pikiran itu dengan cepat tersapu lenyap dalam tanya-jawab dengan Hong-kong Hwesio, sekarang dia yakin Sim Tiong-kiu benar-benar memiliki sejenis ilmu silat maha sakti.

Bong Thian-gak termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata lagi, "Hwesio tua, mungkin aku dapat menyambut sebuah pukulannya tanpa harus mati. Harap Hwesio tua memerintahkan kepada kedua muridmu agar segera mengundurkan diri!"

"Bong-sicu, kau tak usah keras kepala," tampik Hong-kong Hwesio sambil menggeleng.

Bong Thian-gak kembali tersenyum, "Biarpun aku belum punya keyakinan untuk bisa mematahkan jurus serangan lawan, tapi aku percaya tak bakal tewas di bawah telapak tangannya," kata Bong Thian-gak sambil tersenyum. "Bila kulangsungkan pertarungan jarak dekat, mungkin bisa kupatahkan jurus serangannya yang tangguh itu."

Sim Tiong-kiu tertawa seram, "Ji-kaucu, orang inikah yang bernama Jian-ciat-suseng?" "Ya, dialah orangnya."

"Bukankah Cong-kaucu telah menurunkan perintah agar kita membekuknya hidup-hidup?"

"Benar, tapi kepandaian silat yang dimiliki orang ini sangat lihai, tampaknya komandan Sim membutuhkan tenaga yang cukup besar untuk dapat membekuknya."

Mendadak Bong Thian-gak berkata sambil tertawa dingin, "Saudara, bersiap-siaplah menerima seranganku!"

"Kalau berniat melancarkan serangan, lancarkan saja seranganmu itu," kata Sim Tiong-kiu hambar. Bong Thian-gak menggenggam Pek-hiat-kiam dengan tangan tunggalnya, kemudian maju selangkah demi selangkah mendekati lawan.

Gerak langkah kakinya lamban sekali, ternyata Bong Thian- gak telah mengerahkan tenaga dalam Tat-mo-khi-kang untuk melindungi badannya.

Paras muka Bong Thian-gak yang semula pucat penyakitan, kini telah berubah merah bercahaya.

Sim Tiong-kiu tetap berdiri tegak, matanya bersinar tajam bagai bintang timur mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.

Tiba-tiba bergema suara gelak tertawa yang menyeramkan, Sim Tiong-kiu bagaikan sambaran kilat cepatnya langsung menerjang ke arah Bong Thian-gak.

Sejak tadi Bong Thian-gak sudah mengetahui Sim Tiong-kiu memiliki ilmu silat yang amat hebat, tapi demi menjaga teknik 'dengan tenang mengatasi gerak', Bong Thian-gak sama sekali tidak melepaskan serangan pedangnya.

Oleh sebab itu Sim Tiong-kiu segera mendesak lebih ke depan dan sebuah pukulan yang maha dahsyat dilontarkan ke dada Bong Thian-gak.

Bong Thian-gak memang telah bersiap menerima serangan itu, ia tidak menghindar maupun berkelit, dadanya malah dibusungkan untuk menyambut datangnya ancaman itu. "Blam", diiringi benturan yang keras sekali, serangan itu bersarang di dada anak muda itu.

Ilmu Tat-mo-khi-kang yang memancarkan daya kemampuan dahsyat itu segera menciptakan selapis tenaga pantulan tanpa wujud yang segera menggetarkan tubuh Sim Tiong-kiu sehingga tergetar mundur sejauh tiga langkah. Pada detik yang bersamaan itulah Pek-hiat-kiam yang berada dalam genggaman Bong Thian-gak segera dibabatkan dan menusuk ke dada Sim Tiong-kiu.

Padahal taktik yang diambil Bong Thian-gak ini telah berhasil ditebak musuh secara tepat.

Tentu saja serangan yang dilancarkan olehnya itu amat cepat bagaikan sambaran kilat, hawa sakti Tat-mo-khi-kang yang melindungi badannya pun tak mampu lagi melindungi seluruh tubuhnya.

Serangan dahsyat musuh pun dilontarkan lagi.

Bong Thian-gak hanya merasakan jari telunjuk tangan kiri musuh menyambar pelan ke atas dadanya, serangan jari tangan tanpa wujud bersarang telak di atas bahu kanannya.

Dengusan tertahan bergema, Bong Thian-gak tidak mampu lagi melawan serangan jari itu, tubuhnya segera terbanting ke tanah.

Gelak tawa seram penuh kebanggaan bergema memecah keheningan malam, tubuh Sim Tiong-kiu bagaikan sukma gentayangan mendesak maju ke muka, bersamaan itu pula cakar tangan kanannya mencengkeram urat nadi pada lengan tunggal Bong Thian-gak.

"Crit, crit", dua kali desingan tajam bergema.

Tahu-tahu Liu Khi telah melepaskan dua bilah pisau terbangnya ke depan.

Golok terbang Liu Khi memang sangat termasyhur di kolong langit, khususnya mengancam tenggorokan orang, barang siapa terserang tak mungkin tertolong lagi.

Itulah sebabnya Sim Tiong-kiu tidak berkesempatan lagi untuk melanjutkan ancamannya atas urat nadi Bong Thian- gak. Tangan kirinya cepat diputar, ternyata kedua pisau terbang itu sudah terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah.

Pada saat itulah terdengar Liu Khi berseru lagi dengan suara lantang, "Sekarang silakan kau rasakan bacokan golokku yang sesungguhnya."

Selesai bicara Liu Khi segera melolos golok panjangnya, To- pit-coat-to yang membuat Liu Khi termasyhur di kolong langit.

Begitu serangan golok dilancarkan, ancaman itu benar- benar menggetarkan perasaan setiap orang.

Jerit kesakitan segera berkumandang memecah keheningan.

Darah segar menyembur, telapak tangan kanan Sim Tiong- kiu sebatas pergelangan tangan tahu-tahu sudah terpapas kutung oleh bacokan golok itu.

Tapi bersamaan dengan terpapas kutungnya pergelangan tangan kanan Sim Tiong-kiu, tangan kirinya telah melancarkan serangan pula ke depan.

Liu Khi menjerit kaget, tubuhnya terlempar dan jatuh terduduk di atas tanah.

Ia sama sekali tidak pingsan, akan tetapi luka yang dideritanya cukup parah, dia terduduk di atas tanah dengan sekujur badan gemetar keras, untuk beberapa saat tak mampu bangkit kembali.

Sorot mata Liu Khi penuh dengan pancaran sinar kaget dan keheranan, hingga detik ini dia masih belum mengetahui dengan jelas bagaimana hal ini bisa terjadi hingga ia terluka oleh jurus serangan lawan.

Beberapa kejadian beruntun itu berlangsung hampir bersamaan, berhubung gerak tubuh mereka kelewat cepat. Sejak pergelangan tangannya terpapas kutung, Sim Tiong- kiu menaruh perasaan dendam yang amat besar, ia menerkam lagi ke arah Liu Khi yang masih tergeletak di depan sana.

Dalam pada itu Liu Khi sudah lemas dan tidak berkekuatan lagi untuk memberikan perlawanan setelah tubuhnya terhajar oleh serangan jari lawan, kulit mukanya segera mengejang keras, pikirnya, "Habis sudah riwayatku kali ini, sungguh tak nyana Liu Khi harus mampus di tangannya."

Belum habis ingatan itu melintas, sekilas cahaya pedang berwarna merah telah berkelebat di depan mata.

Liu Khi segera memusatkan perhatian dan menengok.

Ternyata Pek-hiat-kiam di tangan kanan Bong Thian-gak sedang diarahkan ke tubuh Sim Tiong-kiu, dia melancarkan tiga buah serangan berantai, memaksa Sim Tiong-kiu terdesak mundur.

Baik Liu Khi maupun Sim Tiong-kiu sama sekali tidak menyangka Bong Thian-gak masih memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan walaupun sudah terkena pukulan dahsyat Sim Tiong-kiu secara telak.

Pertarungan cepat akhirnya terhenti dan hening kembali.

Pek-hiat-kiam di tangan Bong Thian-gak terkulai menghadap tanah, dengan senjata itu dia mempertahankan keseimbangan tubuhnya.

Sementara itu Ji-kaucu telah menghampiri Sim Tiong-kiu dan secara beruntun menotok urat nadi pada lengan kanan Sim Tiong-kiu yang kutung untuk mencegah agar tidak banyak darah yang mengalir dari mulut lukanya.

Hong-kong Hwesio menghampiri Bong Thian-gak serta Liu Khi, ia segera bertanya, "Parahkah luka yang kalian derita?" "Hwesio tua, aku sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menangkis ataupun mematahkan jurus serangan musuh," kata Liu Khi sambil tertawa pedih.

Bong Thian-gak berkata pula sambil menghela napas sedih, "Hwesio tua, jurus serangan lawan yang hebat itu terletak pada jari telunjuk tangan kirinya, berhubung serangan itu tidak memperlihatkan gejala apa-apa, maka hampir tiada orang yang berhasil mengetahui rahasia itu dengan jelas."

Mendengar penjelasan itu, Hong-kong Hwesio menghela napas panjang, katanya kemudian, "Lolap memang pernah menduga, bahwa jurus serangan dahsyat lawan bisa jadi berasal dari satu di antara sepuluh jari tangannya, namun aku tak pernah bisa menebak dengan cara bagaimana dia merobohkan lawan-lawannya, sebab pada saat serangan dilancarkan, hal ini merupakan suatu masalah yang tak bisa dipecahkan."

Liu Khi menyesal setengah mati setelah mendapat penjelasan ini, dia menghela napas dan mengeluh, "Seandainya serangan golokku tadi membacok pergelangan tangan kirinya, urusan pasti akan beres dengan sendirinya."

"Seandainya tanpa serangan golokmu tadi, mungkin aku sudah tewas terhajar serangannya," kata Bong Thian-gak dengan perasaan amat berterima kasih.

Liu Khi lebih berterima kasih lagi, katanya, "Serangan pedang Bong-laute yang benar-benar telah menyelamatkan jiwaku, aku merasa berterima kasih sekali."

Bong Thian-gak menengok sekejap ke arah Hong-kong Hwesio, kemudian katanya, "Hwesio tua, sekarang tergantung pada dirimu."

"Sekarang pergelangan tangan Sim Tiong-kiu telah terpapas kutung, semangat tempurnya sudah luluh, agaknya Lolap mampu menandinginya." Liu Khi menghela napas sambil berkata, "Keadaan saat ini, kekuatan pihak Put-gwa-cin-kau sama sekali belum menderita kerugian apa-apa, agaknya nasib kita malam ini lebih banyak buruknya daripada untungnya."

Betul, dari pertarungan yang berlangsung barusan, pihak Put-gwa-cin-kau hanya menderita kerugian Sim Tiong-kiu seorang yang telah kehilangan pergelangan tangannya, sedangkan Ji-kaucu beserta Si-hun-mo-li dan ketiga belas orang berjubah hitam itu pada hakikatnya belum turun tangan.

Sebaliknya di pihak lain, Han Siau-liong dan Mo Hui-thian secara beruntun telah terluka oleh serangan jari tangan Sim Tiong-kiu dan hingga kini belum sadarkan diri, sedangkan Liu Khi dan Bong Thian-gak telah menderita luka pula.

Pada saat ini mereka yang sanggup melangsungkan pertarungan dengan musuh tinggal kedelapan pelindung hukum Hiat-kiam-bun, Hong-kong Hwesio beserta murid serta Long Jit-seng.

Bila diperbandingkan kemampuan yang dimiliki kedua belah pihak, tampaknya Hong-kong Hwesio bertiga sulit untuk menandingi kemampuan Sim Tiong-kiu, Ji-kaucu serta Si-hun- mo-li.

Mendadak Liu Khi memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian bertanya, "Bong-buncu, masih mampukah kau melanjutkan pertarungan?"

"Bahu kananku makin lama semakin kaku, agaknya sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi, mungkin sampai waktunya aku sudah tak mampu lagi menggenggam pedang," ucap Bong Thian-gak sambil tersenyum.

Paras muka Liu Khi berubah hebat, katanya kemudian, "Kalau begitu kita benar-benar akan tewas di tempat ini." Bong Thian-gak kembali tertawa, "Sebelum ajal tiba, aku rasa masih ada sisa kekuatan untuk membunuh beberapa orang musuh lagi, apakah Liu-locianpwe sudah tidak mempunyai kemampuan lagi?"

Hati Liu Khi bergetar keras, ia tertawa terbahak-bahak, "Apakah Bong-buncu tidak percaya aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk melanjutkan pertarungan?"

"Kalau tadi, mungkin benar-benar sudah tak punya lagi, tapi sekarang aku lihat Liu-locianpwe seperti telah menemukan cara untuk mengobati luka yang kau derita."

"Bila Bong-buncu tidak mempercayai diriku lagi, aku pun tak bisa berkata apa-apa lagi," ucap Liu Khi sambil tertawa.

Sambil menarik muka Bong Thian-gak berkata lagi, "Sebentar lagi Sim Tiong-kiu dan Ji-kaucu akan melancarkan serangan terhadap kita, bila Liu-locianpwe tidak segera mengobati luka yang diderita Han Siau-liong serta Mo Hui- thian, bisa jadi kita benar-benar akan tewas hari ini di sini."

Liu Khi kembali menggeleng kepala berulang kali.

"Saat ini aku benar-benar sudah tidak mempunyai kekuatan lagi sekalipun untuk menyembelih ayam, bila beruntung bisa memulihkan kembali kekuatanku, mungkin hal ini baru kualami beberapa jam kemudian. Sekarang terpaksa aku harus menggantungkan perlindungan terhadap Hong-kong Hwesio sekalian serta Bong-buncu."

Mendengar perkataan ini, Bong Thian-gak mengerutkan dahi, kemudian pikirnya, "Barusan tampaknya aku seperti melihat Han Siau-liong telah membuka mata satu kali setelah memperoleh pertolongan Liu Khi."

Mendadak terdengar suara dingin yang menggidikkan hati dari Ji-kaucu bergema memotong jalan pikiran Bong Thian- gak, "Ko Hong, hari ini jangan harap kau bisa meloloskan diri dari jaringan langit yang diatur oleh Put-gwa-cin-kau." i Pedang di tangan Bong Thian-gak masih tetap tergeletak di tanah, ketika mendengar perkataan itu dia tertawa dingin, "Ko Hong adalah nama samaranku pada tiga tahun berselang, pada saat ini aku adalah ketua Hiat-kiam-bun, Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak."

Dia tertawa dingin tiada henti, kemudian melanjutkan, "Ji- kaucu, bila kalian ingin membunuhku pada hari ini, mungkin pengorbanan yang sangat besar harus kalian bayar untuk itu, jika kau tidak percaya, silakan saja bertindak!"

Bong Thian-gak dengan memancarkan sinar mata tajam yang menggidikkan mengawasi wajah Ji-kaucu dengan penuh gusar dan perasaan dendam yang membara.

Tak terkira rasa terkesiap Ji-kaucu menyaksikan sorot mata Bong Thian-gak itu, pikirnya, "Sekarang dia sudah terkena pukulan Ji-gwat-soh-hun-ci dari Sim Tiong-kiu, namun luka yang diderita nampaknya tidak begitu parah, oh ... sungguh mengejutkan tenaga dalam orang ini... bukan hanya Ji-gwat- soh-hun-ci yang tidak berhasil melukainya, ilmu pukulan Soh- li-jian-yang-sin-kang dari Si-hun-mo-li pun tampaknya tak dapat melukainya, entah kepandaian silat apakah yang berhasil dilatih olehnya."

Bukan hanya Ji-kaucu seorang yang berpendapat demikian, bahkan Hong-kong Hwesio serta sekalian jago pun merasa curiga di samping kagum atas kelihaian ilmu silat Bong Thian- gak.

Tiba-tiba Sim Tiong-kiu melompat bangun dari atas tanah, kemudian berseru, "Lohu tidak percaya kalau kau masih mempunyai kemampuan untuk melukai musuh dengan pedangmu itu."

"Kalau tidak percaya, mengapa tidak datang kemari mencobanya sendiri?" jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin. Waktu itu Sim Tiong-kiu telah kehilangan telapak tangan kanannya, sehingga dengan demikian dia menjadi manusia cacat.

Dengan begitu Bong Thian-gak, Sim Tiong-kiu dan Liu Khi tiga orang berlengan tunggal saling berdiri berhadapan dengan sikap bermusuhan.

Sorot mata Sim Tiong-kiu memancarkan sinar kebencian dan perasaan dendam ditujukan ke arah Liu Khi yang duduk bersila di atas tanah, sebaliknya Bong Thian-gak mengawasi gerak-gerik Sim Tiong-kiu tanpa berkedip.

Dia tahu tujuan serangan yang mematikan Sim Tiong-kiu saat ini tak lain adalah Liu Khi.

Di pihak lain,  Hong-kong  Hwesio  telah  berseru memuji keagungan sang Buddha, lalu berkata, "Sim-sicu, di antara kita berdua masih terjalin dendam dan hutang lama, apakah Sim-sicu tidak akan menagih hutang itu kepada aku si Hwesio tua?"

Sim Tiong-kiu memandang sekejap ke arah Hong-kong Hwesio, kemudian bertanya, "Kau tak usah berharap bisa meninggalkan kuil Hong-kong-si lagi dalam keadaan hidup, biar kau punya sayap pun jangan mimpi bisa meninggalkan tempat ini. Buat apa aku memusingkan diri dengan hutang lama kita?"

"Sim-sicu, tentunya kau tidak akan memberikan keuntungan yang amat besar kepada aku si Hwesio tua bertiga bukan?"

"Biarpun lenganku kutung semua, aku masih mampu melayani kalian bertiga," jengek Sim Tiong-kiu dengan suara sedingin es.

"Sim-sicu, tidakkah kau merasa bahwa perkataanmu itu kelewat takabur?" "Kau si Hwesio tua termasuk juga seekor rase tua yang licik dan banyak tipu muslihat, siapakah yang tidak tahu kau memang lebih suka membiarkan orang lain turun ke gelanggang lebih dulu, sedangkan kalian guru dan murid akan duduk sebagai si nelayan mujur yang tinggal memungut hasilnya?"

Ketika mendengar perkataan kedua orang itu, hati Bong Thian-gak bergetar keras, segera pikirnya, "Ya, sejak awal hingga sekarang Hong-kong Hwesio bertiga tak pernah menggerakkan tangan biar satu gebrakan saja, mungkinkah si Hwesio tua ini seperti apa yang dikatakan Sim Tiong-kiu barusan. Berakal busuk, banyak tipu muslihat dan mempunyai tujuan pribadi tertentu? Siapa tahu dia memang sengaja membiarkan aku serta pihak Kay-pang turun gelanggang terlebih dulu sebagai panglima pembuka jalan untuk menghadapi Put-gwa-cin-kau?"

"Omitohud!" Hong-kong Hwesio berkata, "setelah Sim-sicu berkata demikian, rasanya aku si Hwesio tua bertiga tidak boleh cuma berpeluk tangan belaka."

"Soal dendam dan permusuhan yang terjalin di antara kita, sesungguhnya kau harus sudah mulai melancarkan serangan sejak tadi," jengek Sim Tiong-kiu dingin.

Sembari berkata, Sim Tiong-kiu mengulap tangan kirinya ke tengah udara.

Tiga belas orang yang selama ini berdiri mengepung arena itu serentak menyiapkan tombak dan bergerak mempersempit kepungan mereka.

Biarpun langkah ketiga belas orang berbaju hitam itu dilakukan sangat lambat, akan tetapi Bong Thian-gak yang menyaksikan kejadian itu paras mukanya berubah hebat.

Ternyata dia telah mengetahui ketiga belas orang berbaju hitam yang bersenjata tombak itu rata-rata memiliki kepandaian yang sangat tinggi, bahkan kemampuan mereka rasanya tidak di bawah kemampuan seorang tokoh Bu-lim.

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Bong Thian-gak ... dia tahu dalam pertarungan malam ini, sukar bagi pihaknya untuk mengungguli lawan, berarti satu-satunya jalan yang tersedia bagi pihaknya adalah berusaha meloloskan diri dari kepungan.

Berpikir sampai di sini tiba-tiba Bong Thian-gak berbisik kepada Ang Teng-siu, "Ang-huhoat, dengarkan, tatkala aku menyerang Si-hun-mo-li nanti, kalian harus menghimpun segenap kekuatan untuk melindungi aku agar lolos dari kepungan."

Baru saja perkataan itu selesai, mendadak tampak Sim Tiong-kiu dan Ji-kaucu telah mengundurkan diri ke arah timur, sebagai gantinya ketiga belas orang berbaju hitam bertombak itu membentuk sebuah barisan yang sangat aneh dan mengepung para jagoan di tengah gelanggang.

Mendadak Ji-kaucu yang telah berada di luar arena berteriak aneh, "Mo-li, mengapa kau tak mengundurkan diri?"

Teriakan itu diutarakan dengan suara tinggi melengking dan menusuk pendengaran, diutarakan dengan sangat lamban.

Tatkala mendengar suara itu, bagi Si-hun-mo-li seruan itu seakan-akan mengandung daya iblis yang luar biasa, sekujur badannya gemetar keras, dengan cepat dia membalikkan badan dan berjalan menuju ke arah Ji-kaucu.

Pada saat itulah tubuh Bong Thian-gak secepat sambaran kilat telah berkelebat ke depan dan mendorong tubuh Si-hun- mo-li ke belakang.

Kini Pek-hiat-kiam telah disarungkan kembali. Bong Thian- gak dengan lengan tunggalnya yang lebih cepat daripada kilat dan lebih tajam daripada pedang telah menyambar ke muka. Sementara itu telapak tangan kanannya sudah menyentuh tiga buah jalan darah penting di punggung Si-hun-mo-li.

Seruan tertahan bergema, jalan darah Mi-bun-hiat di punggung Si-hun-mo-li sudah kena terhajar.

Tapi pukulan itu tidak membuatnya tak sadarkan diri, setelah bergemanya jeritan kaget, Si-hun-mo-li membalikkan badan sambil melepaskan sebuah pukulan pula ke jalan darah Ciang-hiat di dada Bong Thian-gak.

Mimpi pun Bong Thian-gak tidak menyangka Si-hun-mo-li sama sekali tidak terpengaruh oleh serangan Hut-hiat-seng- meh-jiu-hoat yang dilepaskan olehnya, dalam tertegunnya lekas dia mengegos ke samping untuk menghindarkan diri.

Tentu saja serangan balasan Si-hun-mo-li mengenai tempat kosong, tapi dia pun segera melompat ke depan dan melayang pergi.

Dalam pada itu empat tombak panjang telah menusuk ke tubuh Bong Thian-gak. Hong-kong Hwesio beserta kedua muridnya yang gagu dan tuli turut menerima serangan pula, sudah jelas para jago dikepung dalam pusat barisan tiga belas orang berbaju hitam.

Bong Thian-gak memang sudah mengetahui kelihaian ketiga belas orang baju hitam itu, bila mereka sampai terkurung dalam barisan itu, biarpun dia dan Hong-kong Hwesio belum tentu terkena musibah, namun para pelindung hukum perguruannya bakal menemui celaka atau tertumpas sama sekali.

Itulah sebabnya Bong Thian-gak segera membentak keras, secepat kilat tangan kanannya melolos Pek-hiat-kiam, lalu "Trang", percikan bunga api beterbangan ke empat penjuru.

Biarpun keempat tombak itu berhasil ditangkis ke samping, namun sebatang tombak yang lain meluncur ke punggung Bong Thian-gak dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya.

Sedemikian cepatnya tombak itu hingga pada hakikatnya hampir tiada orang yang bisa menghindarkan diri.

Ang Teng-siu yang berada di sisinya segera berteriak kaget, "Hati-hati Buncu!"

Padahal teriakan Ang Teng-siu itu tidak ada gunanya, biarpun Bong Thian-gak bermaksud menghindar, namun sudah dapat dipastikan ia akan tewas di ujung tombak itu sejak tadi.

Kepandaian silat Bong Thian-gak benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan, tanpa berpaling lagi kaki kirinya maju setengah langkah ke samping, tombak tadi segera menyambar lewat dari bawah ketiaknya.

Jeritan ngerl yang memilukan hati segera berkumandang memecah keheningan, sebutir batok kepala orang berbaju hitam segera terbang ke udara.

Tapi dengan bergemanya suara jeritan itu, secara beruntun bergema pula empat kali jeritan ngeri dan dengusan tertahan lainnya.

Bong Thktn-gak memandang ke arena, ternyata empat orang pelindung hukumnya tertembus oleh empat tombak tajam pada bagian dadanya, darah segar segera berhamburan kemana-mana, jiwa mereka pun lenyap seketika.

Tak terlukiskan rasa kaget Bong Thian-gak, ia segera membentak, "Ang Teng-siu, kalian tak usah bertarung lagi!"

Di tengah bentakan, Bong Thian-gak melompat mundur, pedang segera diayunkan membabat empat orang berbaju hitam.

Gerakan keempat orang berbaju hitam itu cepat tak terlukiskan, baru saja serangan Bong Thian-gak dilancarkan, tombak mereka sudah dicabut dari tubuh mayat, kemudian serentak diayunkan ke muka untuk menangkis datangnya ancaman pedang Bong Thian-gak itu.

Di satu pihak Bong Thian-gak terancam mara bahaya, di pihak lain Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya juga mengalami nasib yang sama, mereka menghadapi serangan demi serangan dari orang-orang baju hitam dan tombaknya yang menyerang secara gencar.

Sedemikian bertubi-tubinya ancaman yang datang, membuat ketiga orang itu hanya bisa menangkis belaka, pada hakikatnya sudah tidak memiliki kemampuan lagi untuk melancarkan serangan belasan.

Sesungguhnya kepandaian silat Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya sangat hebat, tenaga dalam yang mereka miliki pun mengejutkan orang, tapi serangan tombak musuh amat gencar, ini membuat suasana segera dikuasai lawan.

Jurus-jurus serangan tombak kawanan jago berbaju hitam memang hebat dan tangguh, serangan-serangan mereka atas lawan bukan serangan tunggal yang terpotong-potong, melainkan serangan berantai yang betul-betul hebat.

Setelah tusukan itu lewat, tusukan lain kembali meluncur datang dengan kecepatan tinggi, gerakan mereka yang berantai seakan-akan ada seribu batang tombak yang menyerang tiada hentinya.

Kepandaian silat yang dimiliki Bong Thian-gak termasuk amat lihai, seandainya dia berniat meloloskan diri dari kepungan musuh, hal itu dapat dilakukan secara mudah, tapi dia tak bisa berbuat begitu, dia wajib melindungi keselamatan jiwa keenam anak buahnya yang saat itu sudah terkepung di tengah barisan lawan.

Dalam sengitnya pertarungan yang sedang berlangsung, tiba-tiba Bong Thian-gak mengendus segulung bau harum yang aneh sekali. Dengan terkejut dia pun segera berteriak, "Hati-hati dengan racun jahat!"

Baru saja bentakan itu dikumandangkan, Ang Teng-siu berenam sudah bertumbangan ke tanah.

Hong-kong Hwesio dan muridnya turut sempoyongan pula seakan-akan setiap saat bakal roboh.

Dari luar lingkaran pengepungan, dengan cepat bergema gelak tawa menyeramkan dari Ji-kaucu, kemudian ia berseru penuh kebanggaan, "Untuk membekuk kalian, merupakan pekerjaan yang amat mudah. Hahaha, sekarang seluruh halaman gedung ini telah dipenuhi oleh asap dupa beracun Khi-hiang-gi-tok, akan kulihat siapa lagi yang mampu meninggalkan halaman ini barang selangkah pun."

Sementara itu Bong Thian-gak telah menutup pernapasannya, tapi berhubung dia sudah mengendus segulung bau racun, benaknya mulai terasa kalut dan rasa pusing tiba secara bertubi-tubi.

Diiringi pekik nyaring yang menusuk pendengaran, Bong Thian-gak menghimpun tenaga dalamnya terus melejit ke udara, lalu dengan cepat dia menerjang keluar lingkaran pekarangan.

Bayangan orang segera berkelebat di udara, tiga orang berbaju hitam dengan menyilangkan tiga batang tombak menghadang jalan pergi anak muda itu.

Hawa napsu membunuh telah menyelimuti benak Bong Thian-gak sekarang, pedangnya kontan dibacokkan kian kemari.

Pek-hiat-kiam memancarkan cahaya tajam yang menyilaukan mata, hujan darah pun berhamburan.

Tiga sosok mayat orang berbaju hitam segera rontok dari tengah udara, sedangkan Bong Thian-gak sendiri juga ikut terjatuh. Ternyata serangan pedang yang dilancarkan Bong Thian- gak tadi merupakan serangan hawa pedang tujuh langkah melukai musuh, merupakan ilmu tingkat paling tinggi dalam ilmu pedang. Begitu serangan pedang dilancarkan, biarpun ada seratus orang terkumpul dalam lingkungan tujuh langkah dari posisinya, semua akan tewas dengan kepala terpenggal dan darah bercucuran, kelihaiannya luar biasa.

Tapi ilmu pedang semacam ini juga boros dalam penggunaan tenaga dalam, itulah sebabnya Bong Thian-gak turut terjatuh.

Dengan mengendorkan hawa murni secara tiba-tiba, Bong Thian-gak kembali menghirup segulung udara.

Pada saat itulah Liu Khi yang berada di sisi arena berseru sambil tertawa, "Kebenaran satu depa lebih tinggi, satu tombak lebih tebal, biarpun racun dupa harum Ji-kaucu sangat lihai, sayang sekali tidak manjur bagi orang she Liu."

Bong Thian-gak menyaksikan beberapa titik cahaya putih memancar dari tangan Liu Khi dengan kecepatan tinggi.

Dimana cahaya putih berkelebat, jeritan ngeri bergema susul-menyusul.

Dalam pada itu tubuh Bong Thian-gak sudah mulai gontai, namun dia masih dapat menyaksikan sisa kesembilan orang berbaju hitam itu satu demi satu terhajar golok terbang dan tergeletak di atas tanah.

Tenaga dalam Liu Khi yang begitu mengejutkan membuat Bong Thian-gak merasa terperanjat sekali.

"Hahaha, Liu Khi, sekarang tinggal kau seorang. Rasanya kau tak akan mampu menandingi kami, bukan?"

Liu Khi tertawa dingin, balasnya, "Ji-kaucu, perhitunganmu salah besar, Toa-cengcu Kim-liong-seng-kiam-ceng Mo Hui- thian serta Han Siau-liong dari partai kami telah sehat walafiat kembali, kekuatan kami cukup untuk bertarung melawan kalian."

Ketika mendengar itu, Bong Thian-gak mendongakkan kepalanya, benar juga Han Siau-liong serta Mo Hui-thian telah bangkit semua.

Sambil tertawa dingin Mo Hui-thian berkata, "Sim Tiong- kiu, Ji-gwat-soh-hun-ci (ilmu jari pengunci sukma) tak bisa membunuh orang. Hehehe, padahal kau terlalu percaya pada kemampuanmu sendiri, kau anggap Mo Hui-thian itu siapa? Memangnya bisa dibunuh oleh serangan jarimu itu?"

Sekarang Bong Thian-gak baru sadar bahwa Liu Khi dan Mo Hui-thian memang benar-benar mempunyai tujuan pribadi, rupanya dia dan Hong-kong Hwesio sekalian memang sengaja diatur agar bisa menahan kekuatan Put-gwa-cin-kau paling dulu, kemudian merekalah yang akan menjadi si nelayan mujur yang tinggal memungut hasilnya.

Kelicikan dan kemunafikan orang-orang di dunia persilatan memang sungguh menakutkan.

Secara lamat-lamat Bong Thian-gak menyaksikan pula bagaimana Liu Khi, Mo Hui-thian serta Han Siau-liong sekalian melangsungkan pertarungan sengit melawan Ji-kaucu dan Sim Tiong-kiu sekalian.

Sayang racun dupa sudah semakin menyerang kesadarannya, lambat-laun Bong Thian-gak mulai pudar kesadarannya sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

Bagaimana hasil pertarungan berdarah antara Liu Khi sekalian dengan Put-gwa-cin-kau? Tentu saja dia tak dapat melihat dengan mata kepala sendiri.

0oo0

Angin berhembus kencang, putaran roda kereta bergema memecah keheningan. Ketika Bong Thian-gak sadar dari pingsannya, dia lihat keempat anggota badannya sudah dirantai orang, rantai yang amat besar dan berat. Kini dia sedang berbaring dalam kereta kuda yang gelap-gulita hingga tak nampak kelima jari tangannya.

Tatkala baru mendusin dari pingsannya tadi, Bong Thian- gak merasakan sekujur badannya linu dan sakit. Badannya terasa kaku dan kesemutan, maka itu dia berbaring saja tanpa bergerak untuk sementara waktu, telinganya menangkap suara derap kaki dan roda kereta, segera menyadarkan dia bahwa dirinya sedang berada dalam perjalanan.

Selang beberapa saat, Bong Thian-gak coba untuk menyalurkan hawa murninya mengelilingi badan, ternyata semuanya berjalan normal. Semua ini membuat hatinya lega.

Dia mencoba untuk duduk, ternyata rantai yang membelenggu anggota tubuhnya diikat pada lantai kereta, karena itu biarpun dia bisa duduk tegap, namun sama sekali tak sanggup menggeser tubuh barang setengah langkah pun.

Dengan mengerahkan ketajaman matanya, Bong Thian-gak mencoba memperhatikan rantai yang besarnya seibu jari itu. Dia tahu, dengan tenaga dalam yang dimilikinya sulit rasanya untuk mematahkan rantai itu.

Maka setelah menghela napas panjang, terpaksa dia hanya duduk tenang dalam kereta, pikirnya, "Orang-orang Put-gwa- cin-kau berhasil membekukku, hendak dibawa kemanakah diriku?"

Membayangkan hal itu, tanpa terasa Bong Thian-gak memicing mata dan mengintip lewat sela-sela lantai kereta.

Yang terlihat olehnya hanya padang rumput yang sangat luas, tiada sesuatu yang aneh atau luar biasa sehingga timbul perasaan jemu bagi siapa pun yang melihatnya. Bong Thian-gak segera mengalihkan sorot matanya, mengintip dari sudut lain.

Kali ini dia berhasil melihat kereta yang ditumpanginya dihela oleh enam kuda yang tinggi besar dan gagah, tampak di bagian kusir duduk tiga orang sais.

"Hei, mengapa aku tidak mencoba bertanya kepada mereka?" satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya.

Belum lenyap ingatan itu, suara bentakan bergema, menyusul terdengar pula suara ringkik kuda.

Kereta kuda yang sedang dipacu kencang itu seketika terhenti.

Dengan cepat Bong Thian-gak mengalihkan pandangan matanya keluar celah-celah dinding kereta.

Mendadak dia saksikan dua titik cahaya putih menyambar datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Menyaksikan kedua titik cahaya itu, Bong Thian-gak menjadi amat terkejut, diam-diam dia berpekik dalam hati, "Golok sakti berlengan tunggal!"

Ternyata dia mengenali kedua titik cahaya putih itu sebagai sambaran pisau terbang milik Liu Khi yang menggetarkan seluruh jagat.

"Bila pisau terbang Liu Khi sudah disambit keluar, sudah pasti kedua kusir di atas kereta akan tewas dalam keadaan mengerikan!" pikir Bong Thian-gak dalam hati.

Kenyataan suasana di sekeliling tempat itu memang amat sepi dan hening.

Tapi selang beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar suara Liu Khi, "Kalian berdua bisa menghindarkan diri dari sambaran pisau terbangku, ini membuktikan ilmu silatmu pasti luar biasa, ayo cepat sebutkan siapa namamu?" Bong Thian-gak terkejut bercampur keheranan setelah mendengar ucapan itu, pikirnya, "Aku sudah pernah menyaksikan kehebatan pisau terbang Liu Khi, kenyataan sekarang kedua kusir itu mampu menghindar dari sambaran pisau terbangnya, terbukti ilmu silat mereka memang hebat."

Dalam pada itu satu di antara kedua kusir kereta itu telah berkata diiringi suara tawanya yang menyeramkan, "Tampaknya kau adalah Liu Khi."

Bong Thian-gak yang mengintip dari balik celah-celah kereta dapat melihat dengan jelas bahwa di antara jalan raya, berdiri tegak seorang jangkung bertubuh ceking dan berjubah hitam, orang itu jelas Liu Khi adanya.

Cahaya mata yang tajam dan menggidikkan mencorong dari balik mata Liu Khi, diawasinya kedua orang yang berada di atas kereta itu, kemudian setelah tertawa seram, katanya, "Betul, akulah Liu Khi, kau anggap ada orang yang berani menyaru sebagai diriku?"

Baru selesai perkataan itu, dari atas kereta bergema lagi gelak tawa panjang, "Sudah lama kudengar pisau terbang Liu Khi konon akan membawa bencana bila dilepaskan, selamanya tidak pernah meleset, tapi kenyataannya pada malam ini ... hahaha "

Suara gelak tertawa panjang yang sinis dan mengandung nada penghinaan segera bergema.

Sementara itu Liu Khi menanti dengan tenang, sampai gelak tawa mereka reda, dia berkata dengan hambar, "Biarpun kalian berdua bisa menghindarkan diri dari pisau terbangku, apakah dapat juga menghindarkan diri dari bacokan golok yang terselip di pinggangku sekarang?"

"Silakan saja dibuktikan," ucap orang yang berada di atas kereta itu seram.

"Bagus sekali." Begitu kata terakhir diutarakan, Liu Khi sudah berkelebat ke depan dengan kecepatan tinggi.

Mendadak dari atas kereta berkumandang suara seruan kaget serta jerit kesakitan.

"Blam", diiringi suara benturan keras, papan kereta bagian depan telah jebol sebuah lubang besar, percikan darah segar segera berhamburan dari dalam kereta, menyusul hancuran kayu berserakan kemana-mana.

Sekarang Bong Thian-gak bisa menyaksikan wajah Liu Khi yang berdiri di depan kereta dengan lebih jelas, dua sosok mayat yang berlumuran darah kelihatan tergeletak di sisi sebelah kiri.

Tampaknya satu di antara mereka belum menemui ajal, dengan suara mengerikan ia berseru, "Golok saktimu ... sungguh cepat, aku "

Sebelum selesai perkataan itu, orangnya sudah menghembuskan napas penghabisan.

Bong Thian-gak duduk dalam ruangan kereta tanpa bergerak, rupanya dia pun dibuat terperanjat oleh kecepatan golok Liu Khi.

"Sebenarnya dengan cara bagaimanakah dia menghabisi nyawa kedua orang itu?" berbagai ingatan menyelimuti benak Bong Thian-gak.

Pada saat itu Liu Khi masih berdiri tanpa menggenggam goloknya, ini membuktikan setelah ia mencabut senjatanya membunuh kedua lawannya tadi, golok itu disarungkan kembali ke sisi pinggangnya.

Dalam pada itu Liu Khi dengan sorot mata yang menggidikkan juga sedang mengawasi Bong Thian-gak yang berada dalam kereta, ujarnya hambar, "Bong-buncu, kalau kau sudah sadar, mengapa tidak berusaha melepas dirimu sendiri?" Bong Thian-gak tertawa dingin. "Memangnya kau datang kemari untuk menolongku?" dia balik bertanya.

"Aku datang untuk membunuhmu."

"Kalau demikian, mengapa belum juga turun tangan?" "Aku sedang mencari kesempatan."

"Kini anggota tubuhku dirantai, bukankah kesempatan baik ini sukar dijumpai?"

Ketika mendengar ucapan itu, Liu Khi segera mengawasi badan Bong Thian-gak dengan lebih seksama, kemudian dia baru manggut-manggut seraya ujarnya, "Aku tidak melihat kaki tanganmu dirantai orang, andaikata kulancarkan serangan dengan membabi-buta tadi, sudah pasti akan kusesali sepanjang zaman."

"Mengapa menyesal?"

"Kau anggap membunuh orang yang sama sekali tak bisa berkutik adalah suatu perbuatan yang membanggakan?" Bong Thian-gak tersenyum.

"Kalau dibicarakan soal untung-ruginya, aku rasa hal itu tak perlu diperhatikan lagi."

Mendadak Liu Khi menarik wajah dan berkata dengan suara sedingin es, "Bong Thian-gak dengarkan baik-baik. Selagi berada dalam kuil Hong-kong-si, kau pernah menyelamatkan jiwaku satu kali, malam ini aku telah membantumu pula lolos dari kesulitan dengan menghabisi nyawa mereka, berarti di antara kita berdua sudah impas, siapa pun tidak berhutang kepada siapa."

"Tapi kau belum membantuku membuang semua belenggu yang membebani tubuhku?"

"Betul!" Liu Khi tertawa dingin. "Sekarang juga aku akan memapas kutung rantai itu." Selesai berkata, cahaya golok kembali berkelebat tiga kali.

Bong Thian-gak merasa kulit badannya tersambar angin dingin, disusul suara gemerincing nyaring, tahu-tahu rantai yang membelenggu kaki tangannya sudah rontok ke atas tanah.

Ketika ia mendongakkan kepala, tampak golok panjang itu sudah tersoreng kembali di pinggang Liu Khi.

Dengan perasaan kaget dan heran Bong Thian-gak menghela napas panjang, katanya, "Ilmu golokmu benar- benar tidak ada tandingannya, lagi pula golok yang tersoreng di pinggangmu itu sudah pasti senjata mustika yang dulu diandalkan panglima kenamaan."

Sembari berkata, pelan-pelan Bong Thian-gak berdiri dari lantai kereta.

Mendadak Liu Khi berkata dengan suara dalam, "Perhatikan baik-baik, setiap saat aku akan melolos lagi golokku untuk mencabut nyawamu."

"Sungguhkah itu?" tanya Bong Thian-gak dengan wajah tertegun.

"Buat apa aku berbohong?" Liu Khi tertawa dingin.

Untuk kesekian kalinya Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, sikapmu yang sebentar bersahabat sebentar bermusuhan, benar-benar membuat aku tidak habis mengerti."

"Asalkan Bong-buncu bersedia mempersembahkan harta- karun itu, aku bersedia bekerja sama dengan pihak kalian," kembali Liu Khi berkata dengan suara hambar.

"Peta harta-karun?" Bong Thian-gak mengerutkan dahi. "Kau maksudkan peta harta-karun peninggalan Mo-lay-cin- ong?" "Betul, peta harta-karun inilah yang kumaksudkan," Liu Khi berkata sambil tertawa dingin, "Hong-kong Hwesio bilang, benda itu sudah berada di tangan Bong-buncu."

Sambil tertawa Bong Thian-gak menggeleng kepala.

"Liu-sianseng telah dibohongi Hong-kong Hwesio rupanya, aku berani bersumpah tak pernah mendapatkan peta harta- karun itu."

"Bong-buncu adalah orang yang pertama kali datang di kuil Hong-kong-si, kenyataan sekarang peta harta-karun itu tidak berada di tangan Hong-kong Hwesio dan muridnya lagi.

Lantas berada di tangan siapa kalau bukan berada di tanganmu?" kata Liu Khi.

Bong Thian-gak menggeleng kepala lagi.

"Sewaktu berada di kuil Hong-kong-si, bukankah Liu- sianseng telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana aku terkena racun dupa Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau dan roboh tak sadarkan diri, hingga setengah jam berselang aku baru mendusin dari pingsanku. Ai, apakah Liu-sianseng bersedia menerangkan bagaimana akhir pertarungan di kuil Hong-kong- si?"

"Hong-kong Hwesio, Mo Hui-thian, Han Siau-liong, dan aku berempat berhasil menerjang keluar kepungan," ucap Liu Khi dingin.

"Bagaimana dengan para pelindung hukum perkumpulan kami?"

"Enam orang pelindung hukum bersama kedua murid Hong-kong Hwesio telah menemui ajal dalam pertarungan."

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak menghela napas panjang dengan sedih, "Ai, kerugian yang diderita partai kami semalam betul-betul besar sekali!"

Liu Khi tertawa dingin. "Kecuali kau dan aku berdua yang tidak menderita luka dalam yang parah, Hong-kong Hwesio beserta Han Siau-liong dan Mo Hui-thian terluka parah."

"Kalau begitu pertolongan yang Liu-sianseng berikan sekarang adalah demi peta harta-karun itu?"

"Boleh dibilang begitu."

"Kalau begitu aku Bersedia mengajakmu pergi mencari peta harta-karun itu."

"Kau hendak membawa aku kemana?"

"Soal ini tak perlu kau tanyakan, kini Hong-kong Hwesio berada dimana?"

"Bong-buncu, bila kau tidak bersedia untuk bekerja sama denganku, jangan salahkan bila aku orang she Liu turun tangan keji kepadamu!" ancam Liu Khi sambil tertawa dingin.

Bong Thian-gak kembali menghela napas panjang. "Seandainya peta harta-karun itu benar-benar berada di

sakuku, dan aku sudah dibekuk orang sekian lama, kau anggap peta itu masih utuh di sakuku?"

"Betul!" Liu Khi manggut-manggut, "Orang-orang Put-gwa- cin-kau mustahil tidak melakukan penggeledahan atas dirimu, tapi kau pun tak bakal sebodoh ini dengan menyembunyikan peta harta-karun itu dalam sakumu!"

Bong Thian-gak segera menggeleng kepala.sambil tertawa getir, "Liu-sianseng benar-benar sudah ditipu habis-habisan oleh Hong-kong Hwesio. Bila kau tidak percaya, mari kita bersama-sama berangkat ke tempat tinggalnya untuk menanyakan persoalan ini kepadanya."

"Tidak usah," tampik Liu Khi sambil tertawa dingin.

Untuk kesekian kalinya Bong Thian-gak menghela napas panjang. "Ai, benda mustika di kolong langit hanya dimiliki oleh mereka yang berjodoh, aku sama sekali tidak berniat mendapatkan harta karun itu."

"Hehehe, siapa yang mau percaya ucapanmu itu?"

"Bila Liu-sianseng tidak percaya, aku pun tak bisa berbuat apa-apa."

Mendadak Liu Khi menarik wajah, lalu berkata, "Sebenarnya aku ingin membunuhmu, tapi aku selalu kuatir tak mampu menghabisi nyawamu dalam sekali ayunan golok."

"Di antara kita berdua boleh dibilang tiada dendam sakit hati apa pun, aku rasa kita tak perlu menyelesaikan persoalan ini dengan mempergunakan kekerasan."

"Tapi bagi umat persilatan pun tidak selalu harus membunuh orang dikarenakan ada hubungan permusuhan ataupun dendam."

"Betul," Bong Thian-gak mengangguk, "tapi aku rasa tiada kepentingan bagi kita berdua melangsungkan duel menentukan mati-hidup."

"Memang begitulah kenyataannya, maka dari itu aku harus mohon diri dulu.".

Selesai berkata, Liu Khi segera melejit ke tengah udara dan berlalu dari sana.

Mimpi pun Bong Thian-gak tak pernah menyangka kalau Liu Khi bakal angkat kaki begitu selesai mengatakan hendak pergi, sementara dia masih tertegun, bayangan tubuh Liu Khi sudah lenyap dari pandangan mata.

Menanti Bong Thian-gak berjalan keluar dari ruang kereta, mendadak muncul seseorang di hadapannya.

Di bawah cahaya bintang, tampak orang itu mengenakan pakaian berwarna putih bersih, rambutnya juga berwarna putih, rambut yang panjang itu hampir menyentuh permukaan tanah.

Melihat kemunculan orang tak diundang ini, Bong Thian- gak merasa amat terperanjat, dia segera menghardik, "Siapakah kau?"

Bong Thian-gak kuatir lawan itu setan atau sukma gentayangan.

Padahal kemunculan orang itu amat misterius dan sama sekali tidak menimbulkan suara, apalagi rambut putihnya yang terurai hampir menyentuh tanah, membuat bentuk orang itu mirip bayangan setan yang muncul di tengah kegelapan.

Tanpa mengeluarkan sedikit suara pun, orang berambut putih itu berdiri di hadapannya, kendati begitu sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan, sinar tajam itu mencorong dari matanya yang tertutup rambut putih dan mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.

Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak segera menegur, "Hei, mengapa kau tidak bersuara?"

Orang berbaju putih itu masih saja membungkam, namun Bong Thian-gak dapat melihat tubuhnya bergerak seperti sukma gentayangan, tubuhnya tidak bergoyang, lututnya tidak menekuk, namun dia bergerak mendekatinya.

Melihat cara lawan menggerakkan tubuh, Bong Thian-gak terkesiap, dia sadar lawan memiliki ilmu silat yang sangat dahsyat.

Dalam terkesiapnya, cepat Bong Thian-gak mengerahkan hawa sakti Tat-mo-khi-kang untuk melindungi seluruh badannya.

Pada saat itulah tiba-tiba orang itu bergerak maju lagi. Ketika segulung angin berkelebat, rambut putih yang panjang dan terurai ke bawah itu tiba-tiba bergerak dan langsung menggulung ke tubuh anak muda itu.

"Blam", bunyi ledakan yang keras bergema.

Rambut panjang yang menggulung datang mengikuti hembusan dingin tadi segera terhajar oleh segulung hawa sakti tanpa wujud yang membuatnya terpental balik.

Orang berbaju putih itu segera memutar tubuhnya sebanyak tiga kali seperti gangsingan, lalu jeritnya. "Siapakah kau?"

"Ban-lau-loan-sin-kang (tenaga lembut selaksa serat) milikmu betul-betul pantas disebut ilmu manunggal di kolong langit," ucap Bong Thian-gak sambil tersenyum. "Seandainya aku tidak mempersiapkan diri sebelumnya, saat ini tubuhku pasti sudah penuh lubang berdarah dan tewas sejak tadi."

Ternyata sapuan rambut putih yang menggulung cepat tadi merupakan sejenis ilmu silat yang sangat hebat dalam persilatan, ketika lawan melontarkan rambutnya yang lembut tadi, sesungguhnya ibarat beribu-ribu batang jarum lembut dan pedang tajam yang menyapu tiba.

Dengan pandangan terkejut bercampur keheranan, orang itu segera bertanya, "Hawa Sin-kang apakah yang telah kau pergunakan untuk mematahkan Ban-si-ciam (selaksa jarum lembut) tadi?"

Sekarang Bong Thian-gak dapat melihat jelas raut wajah lawan, ternyata orang itu berwajah pucat seperti salju, bentuk mukanya mirip monyet dan usianya antara enam puluh tahun.

Sambil berkerut kening Bong Thian-gak bertanya, "Siapakah nama besarmu?"

"Mengapa kau tidak menjawab dulu pertanyaanku?" kata orang berambut putih. Bong Thian-gak tertawa dingin, "Hm, dilihat dari caramu melancarkan serangan keji tadi, mungkin kau telah mengetahui asal-usulku. Mengapa aku mesti memberitahukan lagi kepadamu?"

Orang berambut putih itu tertawa terkekeh-kekeh, "Hehehe, betul, kau pasti Jian-ciat-suseng atau si Golok sakti berlengan tunggal, bukan?'

"Aku adalah Jian-ciat-suseng," jawab Bong Thian-gak. "Ehm, aku sendiri adalah Pek Kau-kim (siluman monyet

putih) dari gunung Thian-san," orang berambut putih itu

memperkenalkan diri.

"Kau bernama Pek Kau-kim?" tanya Bong Thian-gak sambil berkerut kening.

"Aku she Pek bernama Kau-kim, kalau tidak bernama Pek Kau-kim, lantas mesti bernama apa?"

"Rasanya di antara kita tak pernah terikat dendam kusumat atau sakit hati apa pun, bukan?" tanya Bong Thian-gak.

Sekali lagi Pek Kau-kim tertawa terkekeh, "Kau bukan yang membunuh kedua orang itu?"

"Bukan, bukan aku pembunuhnya," Bong Thian-gak menggeleng.

"Kalau bukan kau, lantas siapa yang telah membunuh mereka?" tiba-tiba Pek Kau-kim membentak.

Bong Thian-gak termenung sebentar, kemudian dia balik bertanya, "Boleh aku tahu, apa hubungan antara kedua korban itu dengan dirimu?"

"Mereka adalah muridku."

"Aduh celaka!" keluh Bong Thian-gak dalam hati. "Kalau kedua orang itu adalah muridnya, bisa celaka!" Berpikir sampai di situ, katanya kemudian sambil menghela napas panjang, "Locianpwe, murid-muridmu bukan tewas di tanganku, bila kau tidak percaya, silakan meneliti kembali bekas-bekas luka mereka."

Pek Kau-kim tertawa seram.

"Kedua orang muridku ini diam-diam kabur turun gunung ketika aku sedang menutup diri, mereka memang pantas mampus. Cuma dengan kematian mereka, aku harus mencari seorang murid yang lain untuk menggantikan mereka berdua. Hm, Lohu ingin menerima kau sebagai muridku, ayo cepat ikut aku pulang ke gunung!"

Mendongkol bercampur geli Bong Thian-gak setelah mendengar perkataan itu, kemudian ujarnya, "Walaupun aku merasa sangat gembira dapat menjadi muridmu, tapi hatiku bergidik sendiri melihat sikapmu yang acuh tak acuh dan sama sekali tidak menaruh perasaan iba mengetahui murid-muridmu mati terbunuh."

Mendadak Pek Kau-kim melotot, ia mengawasi Bong Thian- gak tanpa berkedip, lalu tanyanya, "Apakah kau menyuruh aku membalas dendam kematian mereka?"

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Bila murid terbunuh, sebagai guru kau wajib membalas dendam bagi kematian muridmu."

"Kalau begitu, kau memang benar-benar harus mati."

Di tengah pembicaraan itu, Pek Kau-kim segera menggetarkan tubuh, rambutnya yang panjang dengan dahsyat dan kecepatan tinggi langsung menusuk Bong Thian- gak dari atas ke bawah. Mimpi pun Bong Thian-gak tidak menyangka lawan bakal melancarkan serangan sekali lagi, kali ini dia belum sempat menghimpun hawa murni Tat-mo-khi- kang untuk melindungi seluruh badan, maka ia terpaksa menghindar. Tiba-tiba Bong Thian-gak merasakan dadanya amat sakit, dia menjerit kesakitan.

Bong Thian-gak terguling jatuh dari atas kereta dan tergeletak di atas tanah.

Gelak tertawa yang aneh memanjang dan penuh nada kebanggaan bergema, Pek Kau-kim mendesak maju dengan cepat, tangan kanannya secepat kilat menyambar tubuh Bong Thian-gak sambil bentaknya, "Aku tidak percaya kau masih bisa meloloskan diri dari serangan jarum serat Pek Kau-kim!"

Baru selesai perkataan itu, Bong Thian-gak yang sudah tergeletak di atas tanah itu, mendadak melompat sambil melepaskan sebuah tendangan dengan kaki kanannya.

Jeritan aneh seperti pekikan monyet segera berkumandang, tubuh Pek Kau-kim mencelat, lalu "blam", roboh terjungkal di tanah.

Pek Kau-kim tak pernah bisa merangkak bangun kembali dari tanah.

Sebaliknya Bong Thian-gak sendiri pun tak mampu merangkak bangun untuk sementara waktu, lengan tunggalnya digunakan untuk memegangi dada, sedangkan wajahnya pucat memperlihatkan rasa kesakitan, dia harus bergerak beberapa kali ke kiri dan kanan sebelum dapat merintih.

Setelah suara rintihan itu, rasa sakit yang menusuk dada Bong Thian-gak pun mereda dengan sendirinya. Ia sadar bahwa dirinya selamat.

Ternyata setelah terkena babatan rambut panjang Pek Kau- kim tadi, ada tujuh-delapan buah jalan darah di dada Bong Thian-gak yang nyaris tersumbat, ini menyebabkan hawa darah yang berada dalam dada berhenti untuk sesaat, napas pun ikut berhenti, membuat anak muda itu nyaris roboh tak sadarkan diri. Ketika Bong Thian-gak berhasil menghirup udara, mendadak dari kejauhan sana muncul sesosok bayangan manusia.

Belum lagi bayangan tubuhnya berjalan mendekat, bau harum aneh yang amat menusuk penciuman telah berhembus mengikuti angin gunung.

Tatkala Bong Thian-gak menghirup udara lagi, ia sudah merasakan bau harum seperti bau bunga anggrek, air mukanya berubah hebat, dengan cepat ia melompat bangun.

Sorot matanya segera dialihkan ke arah datangnya bau harum bunga anggrek tadi.

Beberapa tombak di hadapannya kini berdiri seorang perempuan cantik bertubuh montok.

Ia mengenakan pakaian puth yang halus, rambutnya disanggul dan di atasnya dilingkari tiga butir mutiara yang memancarkan sinar gemerlapan.

Wajah perempuan itu tampak begitu angker dan serius, angkuh dan berwibawa seperti seorang ratu, terutama sorot matanya yang jeli dan tajam.

Gemetar keras sekujur tubuh Bong Thian-gak menyaksikan kehadiran perempuan itu, serunya dengan suara gemetar, "Kau ... kau adalah Cong-kaucu."

Bong Thian-gak sudah pernah bersua dengannya, malah bagian lubuhnya yang paling rahasia pun pernah dilihatnya dengan jelas dan nyata, sudah barang tentu dia kenal Cong- kaucu Put-gwa-cin-kau yang amat termasyhur.

Perempuan cantik itu tertawa, tertawa amat manis.

Setelah itu ia mulai tertawa cekikikan, suaranya kian lama kian jalang, seperti suara pelacur yang sedang memperoleh puncak kenikmatan. "Jian-ciat-suseng, kau masih mengenali aku, mengapa wajahmu pucat-pias? Hihihi, jangan harap kau dapat meloloskan diri dari cengkeramanku hari ini."

Dengan lemah-gemulai dan pinggul bergoyang, selangkah demi langkah ia berjalan mendekati Bong Thian-gak.

Sekarang Bong Thian-gak sadar, biar dia punya sayap pun, jangan harap bisa lolos dari cengkeramannya.

Dengan sorot mata tajam tanpa berkedip, ia mengawasi perempuan itu berjalan hingga tiba di hadapannya, mendadak perempuan itu mengayun tangan kanannya.

Tiga jalan darah penting di tubuhnya seketika tertotok, kemudian upa yang terjadi tak teringat lagi olehnya.

Dalam lamat-lamatnya suasana, Bong Thian-gak menangkap suara seorang perempuan yang sedang berkata dengan lembut, merdu dan manis, "Jian-ciat-suseng, kau telah menelan sebutir pil Siau-hun-wan. Siau-hun-wan merupakan pil dewa bagi manusia, khasiatnya boleh dibilang tak terlukiskan dengan kata-kata."

Dalam keadaan tubuh yang lemah-lunglai dan kesadaran yang masih samar-samar, Bong Thian-gak membuka mata lebar-lebar.

Ternyata dia sedang berbaring di atas ranjang yang terletak dalam sebuah kamar dengan cahaya lentera berwarna merah. Selembar wajah cantik, tapi memancar senyuman genit dan jalang terpapar tepat di depan mata.

Bong Thian-gak masih mempunyai kesadaran yang jernih, dia dapat mengenali raut wajah itu, Cong-kaucu Put-gwa-cin- kau.

Tatkala sinar matanya dialihkan ke bawah, hatinya kembali berdebar, ternyata perempuan itu hanya menutupi tubuhnya yang telanjang dengan selembar kain sutera berwarna putih yang amat tipis. Dengan cepat Bong Thian-gak mengalihkan kembali sorot matanya ke arah lain, tanyanya cepat, "Obat apa yang telah kau cekokkan kepadaku?"

Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh dengan suaranya yang amat jalang, "Hihihi, pil Siau-hun-wan. Satu jam kemudian kau akan mengetahui dengan sendirinya manfaat obat itu."

Pucat-pias wajah Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, dia menghela napas sedih, lalu katanya, "Kumohon kepadamu, bunuhlah aku!"

Rupanya Bong Thian-gak tahu Siau-hun-wan merupakan sejenis obat perangsang yang bisa mengalutkan orang.

Sebagai orang pandai, sudah tentu dia tahu akibat obat itu bila mulai bekerja, dia bakal menjadi seorang berhati binatang yang kehilangan akal budi, saat itu dia hanya tahu bagaimana melampiaskan napsu birahi.

Sambil tertawa merdu Cong-kaucu kembali berkata, "Membunuh kau? Oh, tak semudah itu. Aku harus mempermainkan dirimu sampai puas sebelum menghabisi nyawamu, sebab aku kelewat membenci dirimu, boleh dibilang kau adalah lelaki yang paling kubenci di kolong langit dewasa ini."

Dalam keadaan demikian, Bong Thian-gak terbayang kembali bagaimana dia menghina dan mencemooh perempuan itu.

Tiba-tiba Bong Thian-gak meronta bangun, tapi entah mengapa sekujur badannya terasa lemas seolah-olah tak bertenaga, keempat anggota badannya lemas, tak setitik tenaga pun yang tersisa dalam tubuhnya.

Merasakan hal itu, Bong Thian-gak baru tahu segala sesuatunya bakal berakhir.

Diiringi gelak tertawa merdu, Cong-kaucu melanjutkan kata-katanya, "Tempo hari kau telah membiarkan aku merasakan bagaimana tersiksanya oleh kobaran api birahi, maka hari ini aku pun menyuruh kau merasakan juga bagaimana enaknya penderitaan itu."

"Siau-hun-wan adalah pil perangsang yang akan membuktikan hawa napsu kaum lelaki. Satu jam kemudian obat itu akan mulai bekerja, saat itu kau akan berubah seperti binatang yang sedang birahi, kau hanya tahu bagaimana melampiaskannya, tapi kau tak akan pernah bisa memadamkan kobaran api birahimu itu, sebab Siau-hun-wan adalah sejenis obat perangsang yang mengandung racun jahat, barang siapa berani mengadakan hubungan kelamin denganmu, maka perempuan itu akan mengisap sari racun tubuhmu yang akan berakibat kematian baginya. Oleh karena itu kau harus merasakan penderitaan kobaran api birahi untuk waktu lama tanpa memperoleh kesempatan melampiaskan.

"Penderitaan akan datang berulang-ulang. Saat kau menelan Siau-hun-wan ketiga, api birahi akan merusak semua syarafmu, saat itu kau pun akan berubah menjadi manusia tanpa sukma, tanpa pikiran, kau hanya akan menuruti perintahku, selama hidup akan tunduk dan menuruti perkataanku."

Peluh dingin jatuh bercucuran membasahi badan Bong Thian-gak srtelah mendengar perkataan itu, dia menghela napas sedih, lalu kitanya, "Apakah Thay-kun juga menderita akibat perbuatanmu ini?"

"Benar," Cong-kaucu tertawa cekikikan. "Dia pun pernah merasakan siksaan itu hingga menyebabkan kejernihan otaknya punah."

"Aku kuatir obat beracunmu itu bakal ketemu batunya dan tidak manjur seperti yang kau harapkan," jengek Bong Thian- gak sambil tertawa dingin.

Sekali lagi Cong-kaucu cekikikan. "Siau-hun-wan adalah obat mujarab yang diciptakan Gi Jian-cau, khasiatnya luar biasa dan selama hidup tidak akan meleset."

Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak menghela napas panjang, biarpun ia belum pernah bersua Gi Jian-cau, tapi dia pun termasuk anggota Hiat-kiam-bun. Mengapa orang itu bersedia menciptakan obat beracun dan membantu Cong- kaucu mencelakai umat persilatan?

Tiba-tiba Cong-kaucu bangkit, lalu dengan lemah-gemulai beranjak keluar dari dalam kamar.

Bong Thian-gak berbaring di atas pembaringan dengan tenang, sedang benaknya mencari akal bagaimana caranya melepaskan diri dari cengkeraman iblis itu.

Dia meronta dan berusaha merangkak kabur, akan tetapi sayang sekali tubuhnya lemas dan sama sekali tidak bertenaga.

Mendadak terdengar suara derap kaki manusia mendatangi, Bong Thian-gak segera menoleh.

Dari balik ruangan tiba-tiba muncul tiga orang perempuan, dua gadis berdandan genit dan seorang lagi perempuan berusia empat puluh, tubuhnya montok dan bahenol.

Sorot mata Bong Thian-gak seolah-olah tertarik atas kehadiran perempuan berbaju hijau itu, dia menatap tubuh perempuan itu tanpa berkedip.

Ketika perempuan setengah umur berbaju hijau itu melihat jelas wajah Bong Thian-gak yang berbaring di atas ranjang, dia pun nampak terkejut dan serentak menghentikan langkahnya.

Dalam pada itu kedua gadis berbaju hijau yang genit tadi telah tiba di depan pembaringan Bong Thian-gak, keempat mata mereka melirik sekejap ke wajah anak muda itu dengan pandangan memikat, kemudian tertawa cekikikan. Setelah itu kedua gadis tadi mulai menari dengan lemah- gemulai.

Sambil menari mereka melepas pakaian satu per satu. Walaupun kedua gadis itu tidak termasuk berwajah cantik,

namun potongan badan mereka betul-betul memukau siapa saja.

Apalagi kedua wanita itu membawakan tarian erotik yang sangat menggiurkan, bisa dibayangkan bagaimana menariknya keadaan itu.

Dihidangi pemandangan yang begitu erotik dan merangsang napsu birahi, lambat-laun Bong Thian-gak mulai terpengaruh, suatu perasaan aneh mendadak meliputi dirinya, dia seperti membutuhkan sesuatu yang amat mendesak.

Mendadak Bong Thian-gak memejamkan mata, lalu membentak, "Kalian cepat mengenakan pakaian dan mengundurkan diri dari sini, aku telah menelan Siau-hun-wan, tak bisa mengadakan hubungan dengan kalian."

"Mereka memang sudah tahu kau telah menelan Siau-hun- wan, tak seorang pun di antara mereka berani mengadakan hubungan dengan dirimu," ucap perempuan berbaju hijau itu hambar.

Ketika mendengar perkataan itu, untuk kedua kalinya Bong Thian-gak membuka mata, kali ini dia dapat melihat raut wajah perempuan itu dengan jelas, tanpa terasa jeritnya kaget.

"Kau ... kau adalah Subo."

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Bong Thian-gak, perasaan sedih, duka, marah dan benci dengan cepat menyelimuti perasaannya.

Peristiwa lampau, ketika sepuluh tahun berselang dia dikeluarkan gurunya dari perguruan ... ketika kaki kirinya berubah menjadi pincang, semua musibah yang menimpa dirinya itu tak lain berkat hasil karya perempuan berbaju hijau itu.

Dia tidak lain adalah istri muda gurunya, almarhum Bu-lim Hengcu, si telapak tangan baja yang menggetarkan jagat Oh Ciong-hu yang bernama Pek Yan-ling.

Dengan emosi Bong Thian-gak berseru, "Subo, kau masih kenal diriku?"

"Aku masih ingat kau adalah Bong Thian-gak. Sungguh tak kusangka Jian-ciat-suseng adalah kau."

"Dendam sakit hati apakah yang terjalin antara kita berdua? Mengapa kau mencelakai diriku hingga begini rupa?" teriak Bong Thian-giik sedih.

Sambil berkata, pelan-pelan perempuan itu melepas pakaian yang dikenakannya satu demi satu.

Tak terlukiskan rasa terkejut Bong Thian-gak setelah menyaksikan pel Istiwa ini, segera hardiknya, "Apa yang hendak kau lakukan?"

"Bugil, untuk membawakan tarian erotik agar api birahimu bangkit."

"Bunuhlah aku, kalian bunuh aku saja!" teriak Bong Thian- gak.

Sambil berteriak, Bong Thian-gak segera memejamkan mata.

Pada saat itulah berkumandang dua kali dengusan, untuk kedua kalinya Bong Thian-gak membuka matanya kembali.

Ternyata kedua gadis yang bugil tadi sudah tergeletak lemas di tanah, cairan darah masih nampak meleleh keluar dari ujung bibir mereka. Sementara Pek Yan-ling sudah menggerakkan tubuhnya dengan cepat mencengkeram dua sosok mayat itu dan diletakkan di sudut ruangan, setelah itu dia mendekati Bong Thian-gak.

Sementara itu Bong Thian-gak merasakan timbulnya gulungan hawa panas di bawah perutnya, hal itu membuat peredaran darah dalam tubuhnya mengalir semakin cepat.

Kendatipun demikian, kesadaran otaknya masih tetap jernih, tiba-tiba ia bertanya, "Kau yang telah menghabisi nyawa mereka berdua?"

"Betul!" Pek Yan-ling mengangguk pelan. "Akulah yang telah membunuh mereka berdua."

"Apa yang hendak kau lakukan atas diriku?" tanya Bong Thian-gak lagi dengan kening berkerut.

Pek Yan-ling menghela napas sedih.

"Ai, aku ingin menyelamatkan jiwamu. Tindakanku sudah tentu di luar dugaanmu, bukan?"

"Kau hendak menyelamatkan jiwaku?"

Bong Thian-gak membelalakkan mata lebar-lebar mendengar perkataan itu.

Dengan sedih Pek Yan-ling berkata, "Di masa lalu, aku sudah banyak melakukan kesalahan dan kejahatan, dosaku telah berlapis-lapis, biarlah aku mati untuk menolongmu, saat ini kendati kematianku belum tentu dapat menebus semua dosa yang pernah kulakukan, namun setidak-tidaknya dengan menolong jiwamu hari ini, aku bisa mengurangi atau memperingan dosa yang pernah kuperbuat."

Saat itu kejernihan otak Bong Thian-gak sudah makin memudar, perasaannya makin kalut, matanya melotot dan kian memerah, tanyanya, "Dengan cara apa kau akan menyelamatkan jiwaku?" Tiba-tiba Pek Yan-ling melepas semua pakaian yang dikenakan hingga telanjang bulat, kemudian katanya pelan, "Siau-hun-wan adalah sejenis obat perangsang yang aneh dan luar biasa, kecuali mengorbankan diriku, tiada cara lain untuk menyelamatkan jiwamu dari bahaya anaman maut."

Gemetar keras sekujur badan Bong Thian-gak menyaksikan semua Itu, kembali dia berteriak, "Kau tidak boleh berbuat begitu untuk menolong aku."

Tapi sayang sekali, pil Siau-hun-wan sudah mulai bekerja dalam tubuh pemuda itu.

Dalam waktu singkat kejernihan otak Bong Thian-gak sudah terbakar oleh nafsu birahi sehingga tak ampun lagi anak muda itu jadi kaap dan kehilangan akal budinya lagi.

Biarpun demikian ia tidak seperti lelaki lain, biarpun nafsu birahi sudah mengusainya, ia belum melakukan sesuatu gerakan apa pun, hanya matanya melotot memandang tubuh Pek Yan-ling yang bugil tanpa berkedip.

Sedangkan Pek Yan-ling sendiri hanya ingin menyelamatkan jiwa Hong Thian-gak, tapi dia melupakan sesuatu, bagaimana pun juga dia adalah Subo Bong Thian- gak, istri gurunya.

Bagaimana mungkin Bong Thian-gak bisa melakukan hubungan dengan Subonya sendiri?

Bila takdir telah mengatur nasib manusia, siapa pula yang bisa menghindar.

Pek Yan-ling adalah seorang yang tidak bersih perbuatannya dan hari ini kembali dia lakukan kesalahan besar.

Dosa dan kesalahan yang dilakukan hari ini boleh dibilang tak terampuni lagi. tapi kobaran api birahi membuat orang melupakan segalanya. Bong Thian-gak telah melupakan siapa dirinya, dia hanya tahu bagaimana melampiaskan nafsu birahinya secepat mungkin. Ketika hujan badai telah berlalu.

Racun jahat Siau-hun-wan telah terhisap oleh tubuh Pek Yan-ling.

Sekujur tubuh Pek Yan-ling gemetar keras, paras mukanya segera berubah pucat-pias, ternyata bagian bawah perutnya mulai terasa sakit seperti diiris pisau, sedemikian sakitnya membuat dia mulai merintih.

Setelah hujan badai lewat, semua sari racun yang mengeram dalam tubuh Bong Thian-gak telah tersapu lenyap, kobaran api birahi yang padam membuat akal budinya jernih kembali.

Dengan jernihnya pikiran, anggota badannya yang semula lemas tak bertenaga kini telah pulih seperti sedia kala.

Mendadak dia menperdengarkan jeritan kaget yang keras dan penuh nada seram.

Sebuah pukulan dahsyat langsung dilontarkan ke tubuh Pek Yan-ling.

Akibat serangan itu, tubuh Pek Yan-ling yang telanjang segera menjelat ke udara dan terbanting ke tanah.

Pek Yan-ling yang dihantam pemuda itu menjadi terheran- heran, ia segera meronta bangun, dengan noda darah membasahi ujung bibirnya dan suara yang gemetar keras, bisiknya, "Aku ... aku telah menyelamatkan jiwamu, racun keji Siau-hun-wan telah tersalur ke dalam tubuhku, kau ... mengapa kau malah menghajar aku?"

Bong Thian-gak menutupi wajah dengan tangan tunggalnya, mendadak ia menangis tersedu-sedu, katanya, "Kau ... mengapa kau berbuat demikian? Tahukah kau, siapakah dirimu, kau ini apaku?" Sekarang Pek Yan-ling baru teringat bahwa Bong Thian-gak adalah seorang lelaki jujur yang mengutamakan budi-pekerti dan tata-krama, dia pun mulai berpikir, "Ya benar, aku adalah Subonya. Biarpun aku berbuat demikian demi menyelamatkan jiwanya, tapi baginya justru merupakan suatu perbuatan terkutuk, baginya peristiwa ini sama saja berbuat berzina dengan Subonya sendiri ... aduh celaka, andaikata dia memandang serius peristiwa ini, sudah dapat dipastikan dia akan menghabisi nyawanya sendiri."

Berpikir demikian, sambil tertawa pedih Pek Yan-ling segera berkata, "Pada waktu itu, kejernihan akal budimu telah hilang. Apa pun yang telah kau lakukan tidak perlu kau pertanggung- jawabkan."

"Kati telah mencelakai aku. Aku ... aku tak punya muka untuk hidup terus," pekik Bong Thian-gak sedih.

Sambil berteriak, dia segera menyambar pakaiannya dan dikenakan dengan cepat.

Dalam pada itu paras muka Pek Yan-ling telah berubah pucat-pias neperti mayat, tubuhnya gemetar keras, sementara peluh bercucuran «lengan deras. Seakan-akan menahan penderitaan yang luar biasa, akhirnya dia berkata, "Bong Thian-gak, kau harus hidup terus, kau harus melanjutkan hidupmu di dunia ini, racun jahat Siau-hun-wan telah tersalur ke dalam tubuhku, sekarang aku tak lebih hanya seorang yang sudah mendekati ajal, perbuatanku ini sama sekali tidak keliru, sebab hanya kau seorang di dunia ini yang bisa membunuh iblis perempuan itu, kau harus mempertahankan hidupmu, kalau tidak, pengorbanan nyawaku ini benar-benar pengorbanan yang tak ada artinya."

Bong Thian-gak mengawasi wajah Pek Yan-ling dengan kesedihan yang luar biasa, gumamnya tanpa terasa, "Betul, kau berbuat demikian karena menolong jiwaku ... bila kau tidak berbuat demikian, aku pasti akan menjadi boneka Cong- kaucu, aku pasti akan melenyapkan gembong iblis perempuan itu dari muka bumi, kau bukan saja telah menolong aku dengan perbuatanmu tadi, kau pun telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa umat persilatan ... tapi dapatkah aku hidup lebih lanjut dalam keadaan seperti ini?"

"Kau dapat melupakan kejadian itu," Pek Yan-ling berkata dengan sedih. "Anggap saja peristiwa ini tidak pernah kau alami."