Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 25

 
Jilid 25

Apalagi dia pun tahu sepasang tangannya telah berlumuran darah, dia sudah banyak melakukan kejahatan dan dosa.

Mungkinkah baginya untuk mengenyam hidup bahagia bersama Bong Thian-gak?

Sementara itu terdengar Bong Thian-gak bergumam, "Song Leng-hui adalah istriku, selama hidup aku tak akan melupakan dirinya. Namun mungkinkah aku bisa melupakan kekasihku yang kucintai sejak dahulu?"

"Ai, cinta memang sesuatu yang aneh, membuat orang tak bisa menduga dan memahaminya."

"Siapa kekasihmu yang pertama?" tiba-tiba Thay-kun bertanya dengan suara hambar.

Bong Thian-gak melirik sekejap ke arahnya, lalu menggeleng kepala sambil menghela napas, "Mencintai orang, namun tidak dicintai oleh orangnya. Kejadian macam ini paling memedihkan hati, sebaliknya mengucapkan nama dari orang yang kucintai justru lebih memedihkan hati. Thay-kun, harap kau jangan mendesakku."

"Bong-suheng," kata Thay-kun dengan air mata bercucuran, "kita adalah orang senasib sependeritaan, namun rasa sedihku mungkin jauh melebihi dirimu."

"Benar, aku memang lebih beruntung daripada dirimu," Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Bong-suheng, untuk sementara waktu lebih baik kita jangan membicarakan persoalan pribadi."

Bong Thian-gak mengangguk. "Kita tak usah membicarakan cinta muda-mudi lagi, sekarang akan kuceritakan semua pengalamanku selama beberapa hari ini."

Secara ringkas Bong Thian-gak mengisahkan pengalamannya selama beberapa hari ini, bagaimana dia dan Mo-kiam-sin-kun pergi ke Sam-cing-koan hingga akhirnya terjadi peristiwa di pekuburan ini.

Thay-kun mengerut dahi, tanyanya dengan wajah serius, "Bong-suheng, kau bilang telah menerima kartu kematian tengkorak hitam dari Hek-mo-ong?"

Bong Thian-gak tersenyum.

"Benar, di dalam kartu maut itu telah tercantum dengan jelas hari kematianku akan jatuh bulan delapan tanggal delapan tengah hari."

Paras muka Thay-kun segera berubah, katanya dengan suara dalam, "Kalau Hek-mo-ong berani menyebar kartu undangan mautnya untuk Tio Tian-seng, agaknya dia sudah bersiap untuk melangsungkan pertarungan melawan sepuluh jago persilatan." Bong Thian-gak menengok sekejap ke arah Thay-kun, kemudian tanyanya, "Apakah kau pun mengetahui persoalan ini?"

Thay-kun mengangguk.

"Ya, sejak dahulu aku sudah tahu Hek-mo-ong, hanya tidak diketahui siapakah orang itu?"

"Menurut Liu Khi, tampaknya Hek-mo-ong adalah seorang di antara sepuluh jago persilatan?"

Thay-kun manggut-manggut. "Benar."

"Menurutku, di antara kesepuluh jago itu, Gi Jian-cau paling besar kemungkinannya sebagai Hek-mo-ong. Thay-kun, kau pernah tahu Gi Jian-cau? Sesungguhnya manusia macam apakah dia?"

Thay-kun termenung beberapa saat, kemudian berkata, "Kenapa Bong-suheng mencurigai Gi Jian-cau sebagai Hek- mo-ong?"

Bong Thian-gak menghela napas, katanya pula, "Dari kematian yang menimpa Keng-tim Suthay, Gi Jian-cau sudah pasti bukan seorang baik. Kalau tidak, tak mungkin Keng-tim Suthay mencuri sebutir pil Hui-hun-wan miliknya dan secara diam-diam disembunyikan di dalam Hud-timnya."

Thay-kun manggut-manggut.

"Dugaanmu memang benar, sejak dulu pun aku menaruh curiga kepada Gi Jian-cau. Cuma saat ini kita tidak perlu menduga-duga siapa gerangan Hek-mo-ong, yang penting dimanakah dia berada sekarang."

"Apalagi setelah kudengar penuturan tentang orang berbaju hijau serta Sam-cing Totiang tadi, bisa jadi salah seorang di antara mereka adalah Hek-mo-ong." "Ah, memangnya salah seorang di antara mereka adalah Hek-mo-ong? Tapi yang mana?"

"Bisa jadi Sam-cing Totiang, cuma apa yang kukatakan hanya dugaan belaka. Bila dugaan ini benar, maka kau dan Tio Tian-seng sudah terkena serangan gelap Hek-mo-ong."

Berubah paras muka Bong Thian-gak, katanya, "Darimana kau bisa berkata demikian?"

Thay-kun menghela napas, "Sewaktu berada di dalam lorong gua Sam-cing-koan, kalian pernah berada cukup lama bersama Sam-cing Totiang. Andaikata orang itu adalah Hek- mo-ong, berarti kau dan Tio Tian-seng tak akan lolos dari serangan gelapnya."

"Tio Tian-seng kenal Tan Sam-cing. Seandainya Sam-cing Totiang adalah Tan Sam-cing gadungan, aku pikir Tio Tian- seng tak akan berhasil mengenali dirinya."

"Kita harus secepatnya menemukan Tio Tian-seng," kata Thay-kun kemudian dengan suara dalam. "Teka-teki ini mesti dibikin jelas lebih dahulu, andaikata kalian berdua benar-benar sudah terkena serangan gelap mereka, maka kita harus berusaha secepatnya mencari pertolongan guna menyembuhkan luka kalian itu."

Bong Thian-gak memandang sekejap keadaan cuaca, kemudian katanya, "Malam kembali akan berakhir. Berarti batas waktu yang ditentukan Hek-mo-ong dalam kartu undangannya tinggal dua malam lagi, mari kita berangkat!"

Bersama Thay-kun, berangkatlah dia meninggalkan pekuburan itu.

Kabut tebal masih menyelimuti permukaan bumi, sejauh mata memandang hanya warna putih.

Mendadak segulung angin berhembus, lalu terendus bau bunga anggrek yang menyebar kemana-mana. Paras muka Bong Thian-gak dan Thay-kun segera berubah hebat, serentak kedua orang itu menghentikan langkah, kemudian memeriksa keadaan sekeliling tempat itu.

Akhirnya mereka melihat tiga sosok bayangan yang berdiri di situ, tampaknya mereka sudah cukup lama menanti di sana.

Dengan wajah kaget dan ngeri Thay-kun memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu bisiknya dengan suara gemetar, "Mereka adalah Cong-kaucu, Ji-kaucu serta komandan pasukan pengawal nomor satu Sim Tiong-kiu."

Bong Thian-gak tertawa dingin, jengeknya, "Aku memang sudah dapat melihatnya."

Dalam pada itu jarak bayangan itu dengan mereka masih ada tujuh tombak lebih, namun kedua belah pihak sama-sama berdiri tak bergerak, kabut putih yang menyelimuti sekitar sana seakan-akan bertindak sebagai penyekat yang memisahkan kedua rombongan itu.

Mendadak terdengar Bong Thian-gak membentak, "Ho Lan- hiang, serahkan nyawa anjingmu!"

Cahaya pedang berwarna merah secepat kilat membelah angkasa, menembus lapisan kabut tebal dan membabat tubuh orang yang berdiri di tengah.

Ilmu pedang Bong Thian-gak sudah lama termasyhur.

Setiap kali senjatanya dilolos dari sarungnya, belum pernah ada orang yang mampu menghadang ataupun membendungnya.

Cahaya pedang berkelebat, bayangan orang segera menghindar ke samping.

Sekalipun serangan pedang yang dilancarkan Bong Thian- gak ini mengenai tempat kosong, namun sudah cukup menggetarkan sukma ketiga orang musuh tangguhnya itu. Ternyata separoh baju yang dikenakan orang di tengah sudah terpapas robek dan melayang turun dari udara.

Dengan gerakan cepat Thay-kun menyerobot pula ke sisi tubuh Bong Thian-gak, dengan demikian selisih jarak antara kedua orang itu tinggal tiga tombak saja. Mereka pun sudah dapat melihat raut wajah masing-masing dengan jelas.

Betul juga, ketiga orang di hadapan mereka adalah Ji-kaucu yang berdandan sebagai sastrawan berbaju hijau, si kakek berbaju hitam berlengan tunggal Sim Tiong-kiu serta seorang perempuan cantik yang berdandan anggun tapi bersikap tengik, dia adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.

Saat itu wajah Cong-kaucu diliputi penuh kesiap-siagaan, katanya dengan suara dingin, "Anak Kun, kau telah membocorkan namaku di hadapannya!"

"Tidak," sahut Thay-kun sambil tertawa seram. "Sekalipun aku hendak membunuhmu, tak nanti kusebutkan nama baumu itu."

Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, kembali dia menegur dengan suara rendah, "Jian-ciat-suseng, siapakah yang telah memberitahukan namaku kepadamu?"

Bong Thian-gak tertawa sinis.

"Hm, ternyata kau benar-benar perempuan tercantik dari Kanglam Ho Lan-hiang. Padahal entah berapa banyak jago persilatan yang sudah mengetahui nama serta asal-usulmu itu, hanya saja tak seorang pun di antara mereka yang berani mengutarakannya. Aku benar-benar tidak mengerti, dengan cara apakah kau berhasil menguasai mereka hingga mulut mereka tetap membungkam?"

Cong-kaucu tertegun, kemudian setelah terkekeh-kekeh, katanya, "Jian-ciat-suseng, tahukah kau apa yang akan menimpa dirimu setelah mengetahui nama serta asal-usulku?" "Semua kelicikan dan kekejianmu sudah cukup banyak yang kualami," kata Bong Thian-gak sambil tertawa dingin. "Namun tak satu pun di antaranya yang sanggup merenggut nyawaku, agaknya kau telah kehabisan akal."

Cong-kaucu tersenyum, "Jian-ciat-suseng, sudah tiga empat puluh tahun lamanya aku tak pernah bertarung melawan orang. Nampaknya hari ini aku harus melakukan pembunuhan."

Bong Thian-gak tertegun.

Sementara dia masih melongo, Cong-kaucu telah membentak, "Sastrawan cacat, sambutlah pukulanku ini!"

Telapak tangannya segera diayun ke depan dengan gerakan yang enteng dan seenaknya.

Sekali lagi Bong Thian-gak menggerakkan Pek-hiat-kiam untuk menyongsong datangnya ancaman itu dengan sebuah bacokan kilat.

Tapi ketika jurus serangan Bong Thian-gak itu membacok sampai di tengah jalan, tiba-tiba saja cahaya pedang yang berkilauan lenyap, nampak sekujur tubuh Bong Thian-gak gemetar keras dan Pek-hiat-kiam yang digunakan untuk melancarkan serangan terjatuh ke atas tanah.

Thay-kun terperanjat sekali, buru-buru serunya, "Bong- suheng, kenapa kau?"

Dengan paras muka pucat-pias, Bong Thian-gak berkata dengan suara gemetar, "Aku sudah terkena pukulannya. Kau

... cepat kau melarikan diri."

Baru saja perkataan itu selesai diutarakan, sepasang kaki Bong Thian-gak sudah lemas, kemudian dia roboh terjungkal.

Mimpi pun Thay-kun tidak menyangka Bong Thian-gak bakal menderita kekalahan dalam satu gebrakan saja.

Kekalahan semacam ini benar-benar aneh dan sama sekali di luar dugaan siapa pun, mungkin ilmu silat Cong-kaucu telah mencapai tingkatan yang luar biasa hingga tiada orang yang mampu menandinginya?

Agaknya Cong-kaucu sendiri pun merasa di luar dugaan, dipandangnya Bong Thian-gak dengan sorot mata tenang, tapi agak termangu.

Tiba-tiba sekilas hawa napsu membunuh mencorong dari balik mata Thay Kun. Ditatapnya Cong-kaucu sekejap, kemudian tanyanya hambar, "Cong-kaucu, kau telah melukainya dengan mempergunakan ilmu silat apa?"

Cong-kaucu tertawa hambar, "Budak liar, rupanya kau telah memperoleh kembali sukmamu. Hm, hal ini membuktikan si tabib sakti telah berhasil membuat pil Hui-hun-wan."

Thay-kun tertawa dingin.

"Tenaga pukulan yang dimiliki Cong-kaucu luar biasa lihai.

Namun ingin kuketahui, apakah sanggup menandingi ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang?"

Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, "Budak liar, sejak kecil kupelihara dirimu hingga dewasa, sama sekali tidak kusangka kau akan mengkhianatiku. Tempo hari aku masih memandang dirimu melakukan dosa pertama sehingga tak menghukum mati dirimu, tapi kali ini jangan harap kau bisa hidup terus."

Selesai berkata, dia lantas mengulap tangan kiri dan membentak dengan nada serius, "Komandan Sim, Ji-kaucu, kalian berdua turun tangan bersama menghukum mati pengkhianat ini."

Sejak tadi Sim Tiong-kiu serta Ji-kaucu sudah bersiap melancarkan serangan. Ketika mendengar perkataan itu, serentak mereka mendesak Thay-kun dari sisi kiri dan kanan.

Thay-kun sudah tahu kelihaian Sim Tiong-kiu serta Ji- kaucu, cepat dia mengayun tangan kiri melepaskan serangan, mempergunakan ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang. Namun sasaran penyerangannya adalah Sim Tiong-kiu.

Ketiga orang ini boleh dibilang sama-sama sudah mengetahui taraf kepandaian masing-masing. Sebab itulah tatkala Thay- kun baru saja melancarkan serangan, Sim Tiong-kiu telah melompat menghindarkan diri.

Pada saat bersamaan serangan pedang Ji-kaucu yang gencar dan dahsyat telah dilepaskan pula mengancam dada Thay-kun.

Bagi jago silat berilmu tinggi yang melangsungkan pertarungan, menang kalah seringkali ditentukan dalam sekejap mata. Bicara kepandaian silat yang dimiliki Thay-kun, untuk menghadapi kerubutan dua jago lihai ini, rasanya tiada harapan baginya meraih kemenangan.

Thay-kun pun sudah menduga akan serangan pedang Ji- kaucu itu, maka dari itu saat telapak tangan kirinya melancarkan bacokan tadi, tubuhnya ikut pula bergeser ke arah lain, otomatis serangan pedang Ji-kaucu mengenai sasaran kosong.

Tampaknya orang yang jadi sasaran utama dalam serangan maut Sim Tiong-kiu dan Ji-kaucu ini bukanlah Thay-kun, maka di saat Thay-kun menghindar ke samping, mereka menerjang ke arah Bong Thian-gak yang masih duduk bersila di atas tanah.

Thay-kun menjadi amat terperanjat, buru-buru teriaknya, "Jangan kalian lukai dirinya."

Namun sebelum ia sempat melancarkan terkaman, Cong- kaucu yang berdiri di dekatnya telah berseru dengan suara menyeramkan, "Lebih baik kalian berdua kembali ke akhirat!"

Bersama dengan selesainya perkataan ini, telapak tangan Cong-kaucu secepat kilat langsung menghantam punggung Thay-kun. Dalam situasi yang amat kritis inilah tiba-tiba dari balik kabut, terdengar suara seseorang berseru dengan nada aneh, "Berhenti semua!"

Entah mengapa hati Sim Tiong-kiu, Ji-kaucu dan Cong- kaucu bergetar keras. Bagaikan tersengat listrik, tahu-tahu lengan mereka jadi lemas tak bertenaga.

Pada detik inilah Thay-kun segera melompat ke samping tubuh Bong Thian-gak.

Suasana di padang rumput terasa hening dan sepi, kecuali kabut tebal menyelimuti angkasa, sekeliling tempat itu tidak nampak sesosok bayangan pun.

Namun Cong-kaucu dan Sim Tiong-kiu justru menunjukkan sikap terperanjat dan ngeri.

Tiba-tiba terdengar Cong-kaucu berseru dengan suara lirih, "Hekmo-ong kah di situ?"

Dari balik kabut tebal kembali bergema suara aneh, "Kecuali Hek-mo-ong, apakah di kolong langit ini masih ada orang kedua yang mampu mempergunakan ilmu pukulan cahaya petir?"

Sampai mati pun Bong Thian-gak dan Thay-kun tidak menyangka nyawa mereka telah ditolong Hek-mo-ong yang misterius itu.

Mengapa dia menyelamatkan mereka berdua?

Ilmu pukulan macam apa pula pukulan cahaya petir itu? Mengapa dapat mempengaruhi ketiga jago lihai itu hingga mereka seperti tersengat listrik dan kehilangan kekuatan?

Bong Thian-gak dan Thay-kun mulai memperhatikan sekitar tempat itu dengan seksama, akan tetapi tak sesosok bayangan pun yang nampak, terpaksa mereka hanya menanti perubahan selanjutnya dengan tenang. Tiba-tiba Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, lalu berseru keras, "Kalau memang Hek-mo-ong, kenapa kau malah menghalangi niat kami membunuh kedua orang itu?"

"Sastrawan cacat telah menerima kartu kematian tengkorak hitam, berarti jiwanya hanya bisa dicabut oleh Hek-mo-ong sendiri. Siapa pun dilarang mencelakai jiwanya, apakah Cong- kaucu tidak mengetahui kebiasaan ini?"

"Bagaimana pula dengan budak liar itu?" kembali Cong- kaucu bertanya.

"Tiga tahun berselang aku telah menurunkan perintah agar untuk sementara waktu tidak mencelakai jiwa Thay-kun, apakah Cong-kaucu telah melupakannya?"

Thay-kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak dengan wajah tidak mengerti dan penuh tanda tanya, dia tidak mengetahui apa sebabnya Hek-mo-ong membiarkan dia tetap hidup?

Cong-kaucu berkata pula, "Aku benar-benar tidak mengerti, apa sebabnya Hek-mo-ong menghendaki Thay-kun tetap hidup?"

"Sebab aku belum selesai menyelidiki asal-usul Thay-kun," jawab Hek-mo-ong dengan suara perlahan.

Thay-kun terkesiap, buru-buru dia bertanya, "Hek-mo-ong, mau apa kau menyelidiki asal-usulku?"

Namun suara aneh dan misterius itu tidak bergema lagi. Untuk beberapa saat suasana terasa begitu sepi, hening dan tak terdengar sedikit suara pun, sudah jelas Hek-mo-ong tidak mau memberitahu.

"Hek-mo-ong, apakah kau sudah pergi?" Cong-kaucu segera menegur.

"Belum!" suara aneh tadi kembali bergema. "Lantas petunjuk apakah yang hendak Hek-mo-ong tinggalkan?"

"Benarkah Cong-kaucu telah mengundang seorang pembunuh bayaran untuk membinasakan diriku?"

Bong Thian-gak yang mendengar perkataannya itu diam- diam lantas berpikir, "Lihai benar Hek-mo-ong, darimana bisa mengetahui hal itu? Entah bagaimana pula jawaban Cong- kaucu?"

Terdengar Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, lalu katanya, "Bukan hanya seorang pembunuh bayaran saja, hampir setiap jago lihai di dunia ini ingin membunuhmu."

"Tapi dalam Kangouw hanya seorang saja yang benar- benar bekerja sebagai pembunuh bayaran dan orang itu adalah Liu Khi."

"Kalau Hek-mo-ong sudah tahu Liu Khi adalah pembunuh bayaran, mengapa kau tidak turun tangan lebih dulu menyingkirkan dirinya?" jengek Cong-kaucu sambil tertawa mengejek.

"Aku tidak ingin termakan siasat meminjam golok membunuh orangmu itu."

"Di kolong langit dewasa ini hanya Liu Khi seorang yang tidak pernah melakukan hubungan denganmu."

"Tapi Liu Khi juga termasuk orang yang paling kau takuti bukan?" ejek perempuan itu sambil tertawa lagi.

Kali ini Hek-mo-ong termenung beberapa saat, kemudian baru berkata, "Sekarang kuperintahkan kalian bertiga agar mengundurkan diri selekasnya dari sini."

"Apabila aku tidak menuruti perintahmu itu?" "Cong-kaucu harus menuruti perkataanku ini!" Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, "Masih ingatkah Hek- mo-ong dengan perjanjian kita? Batas waktunya sudah lewat beberapa hari berselang, rasanya aku pun tidak usah menuruti perintahmu lagi."

"Hingga detik ini belum ada seorang pun di antara kalian yang mampu mematahkan serangan ilmu pukulan cahaya petirku. Lebih baik kau turuti saja perkataanku ini," kata Hek- mo-ong dengan suara dingin.

"Benar, aku memang harus menuruti perkataanmu. Tapi kau pun harus ingat, suatu ketika Hek-mo-ong pasti akan mampus di bawah telapak tanganku."

Tampaknya Hek-mo-ong sudah mulai kehabisan sabar, setengah mengancam dia berseru, "Bila kalian berdiam lebih lama lagi di sini, jangan salahkan bila aku lepaskan serangan pukulan cahaya petirku."

Baru selesai ia berkata, Cong-kaucu telah mengulap tangan kiri, lalu membalikkan badan dan mundur dari situ.

Ji-kaucu serta Sim Tiong-kiu dengan sikap tegang bagaikan menghadapi musuh tangguh, pelan-pelan mengantar Cong- kaucu mengundurkan diri dari sana.

Dalam waktu singkat bayangan mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Tiba-tiba saja suasana di padang rumput itu berubah menjadi hening, sepi, tak terdengar sedikit suara pun.

Thay Kun menunggu sampai lama sekali, ketika tidak mendengar lagi suara Hek-mo-ong, ia segera menegur, "Hek- mo-ong, apakah kau telah pergi?"

Tiba-tiba suara menyeramkan berkumandang, terdengar orang itu menjawab halus, "Belum."

Hati Bong Thian-gak maupun Thay-kun bergetar, dengan cepat mereka berpaling. Di belakang mereka tiba-tiba muncul seseorang bagaikan sukma gentayangan.

Setelah ragu sejenak, Thay-kun segera bertanya, "Apakah sejak tadi kau berdiri di situ?"

"Benar, selama ini aku berdiri di sini."

"Tapi mengapa kami tidak menemukan bayangan tubuhmu tadi?" tanya Thay-kun lagi dengan kening berkerut.

"Sekalipun aku berdiri di hadapanmu, belum tentu kalian melihatku."

"Memangnya kau bisa ilmu melenyapkan diri?"

"Bukan ilmu melenyapkan diri, melainkan ilmu pembingung pandangan."

"Apa itu ilmu pembingung pandangan? Dapatkah kau jelaskan kepada kami?"

"Oh, ini merupakan rahasiaku, aku tidak dapat menerangkan kepadamu."

Tiba-tiba Thay-kun menghela napas sedih, lalu katanya, "Aku lihat sikapmu terhadap kami berdua sama sekali tidak bermusuhan, apakah kau bersedia maju beberapa langkah lagi agar kami bisa berbincang-bincang dengan lebih akrab?"

"Maaf, aku tak bisa menuruti permintaanmu."

Thay-kun berkata, "Ai, aku dengar kau sedang menyelidiki asal-usulku, apakah kau telah berhasil mendapat sedikit keterangan?"

Hek-mo-ong termenung sebentar, kemudian sahutnya, "Ya, aku telah berhasil mendapatkan sedikit keterangan."

"Keterangan apa? Bersediakah kau menerangkan kepadaku?" "Kau adalah bayi buangan yang ditemukan seorang lelaki setengah umur penangkap ikan di tepi jembatan Kiu-ci-kiau, pantai timur telaga Se-oh pada tiga puluh tahun berselang. Baru diasuh dua bulan nelayan itu tewas di tangan Cong- kaucu, kemudian oleh Nyo Li-beng kau dibawa pulang, tapi akhirnya kau terjatuh ke tangan Cong-kaucu."

"Ai, tentang kejadian itu Keng-tim Suthay Nyo Li-beng pernah menceritakan kepadaku," kata Thay-kun sambil menghela napas sedih.

Hek-mo-ong termenung beberapa saat, katanya lagi, "Walau demikian bukan pekerjaan mudah untuk menyelidiki peristiwa itu, asalkan sudah kudapat sedikit keterangan, pasti aku akan berhasil menyelidiki asal-usulmu itu."

"Apa maksudmu?"

"Jika waktu, tempat dan orangnya sudah ditemukan, maka hasil penyelidikanku ini tak akan jauh lagi."

Tanyanya, "Tampaknya kau sudah mengetahui siapakah orang yang membuang bayi itu?"

"Tentu saja tahu." "Siapakah dia?"

"Untuk sementara waktu tidak dapat kukatakan kepadamu."

Thay-kun merasa kecewa, setelah menghela napas katanya, "Kalau kau sudah mengetahui siapakah orang yang telah membuang bayi itu, mungkin hanya kau yang mengetahui asal-usulku?"

"Aku tahu kau sangat ingin mengetahui asal-usulmu, tapi kau terpaksa harus menunggu lagi. Suatu ketika aku pasti membeberkan hasil penyelidikanku kepadamu."

Thay-kun menggeleng kepala, ujarnya, "Aku tak ingin mengetahui asal-usulku lagi." "Mengapa?"

"Aku kuatir bila sudah tahu hal ini akan menambah luka dalam hatiku."

Kembali Hek-mo-ong termenung dan membungkam.

Lama kemudian baru dia berkata, "Jian-ciat-suseng sudah terkena serangan gelapku. Sebenarnya hawa racun itu baru bekerja pada tanggal delapan bulan delapan nanti, tapi berhubung dia baru saja mengerahkan tenaga untuk menyerang Cong-kaucu, maka hawa racunnya telah menyusup sampai di tulang Liong-wi-kut sehingga mengakibatkan separoh tubuh bagian atas menjadi lumpuh. Sekarang akan kuberikan sebutir pil kepadanya, asalkan dia telah menelan pil ini kemudian mengatur pernapasan, niscaya luka itu akan sembuh dengan sendirinya." Selesai berkata, dia lantas menyentilkan jari tangannya ke depan. Sebutir pil berikut pembungkusnya terjatuh di depan kaki Thay-kun.

Dengan cepat Thay-kun memungut pil itu, kemudian bertanya, "Apabila dia sudah menelan pil ini, apakah tanggal delapan bulan m delapan nanti ia masih tetap akan mati?"

"Kalau memang begitu aku lebih suka membiarkan dia mati lebih awal daripada kuberikan pil itu kepadanya."

"Apakah kau hendak memaksa aku menarik kembali kartu kematian tengkorak hitamku?"

"Jian-ciat-suseng sama sekali tidak punya ikatan dendam sakit hati denganmu. Mengapa kau harus mengeluarkan kartu kematianmu untuk merenggut nyawanya?"

"Kecuali Jian-ciat-suseng bersedia mengundurkan diri dari keramaian dan mengasingkan diri. Kalau tidak, dia tak akan terlepas dari kematian."

Thay-kun kembali menghela napas sedih, "Ai, setelah menempuh perjalanan selama puluhan tahun dalam dunia persilatan, sesungguhnya kami pun tiada niat untuk berdiam lebih lama lagi. Apa salahnya kami mengundurkan diri?"

"Apalagi aku tahu Bong Thian-gak sudah bosan berkelana di dunia persilatan. Sesungguhnya dia muncul kembali hanya ingin membalas dendam bagi Thay-kun, tapi kini Thay-kun hidup segar-bugar. Sudah barang tentu dia pun tiada kepentingan dalam dunia persilatan lagi."

Hek-mo-ong manggut-manggut, katanya kemudian dengan suara pelan, "Jian-ciat-suseng, sekarang kau didampingi perempuan yang begini cantik. Apabila hidup mengasingkan diri di tempat terpencil menikmati kebahagian hidup, bukankah hal ini diharapkan banyak orang? Asal kau bersedia mengundurkan diri, aku pun berjanji tidak akan menyusahkan kalian lagi. Bagaimana pendapat kalian?"

Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Thay-kun, kemudian tanyanya, "Dapatkah perkataannya dipercaya?"

"Hek-mo-ong sudah tiga-empat puluh tahun bercokol dalam Kangouw, tapi umat persilatan cuma tahu dia adalah seorang misterius yang menakutkan. Apakah perkataannya dapat dipercaya, aku sendiri pun tidak yakin."

"Tetapi ada satu hal yang membuat aku menaruh curiga, mengapa dia meminta kepada kita mengundurkan diri dari dunia persilatan?"

Mendadak terdengar Hek-mo-ong tertawa dingin dengan suara seram, katanya, "Sekarang aku sudah tiada waktu bercokol lebih lama di sini, bilamana kalian memastikan mengundurkan diri dari dunia persilatan, maka sebelum tengah malam bulan delapan tanggal delapan, kalian harus sudah mengundurkan diri dari kota Lok-yang."

Begitu selesai berkata, Hek-mo-ong segera menggerakkan tubuh, hayangan orang itu segera mengundurkan diri dari balik kabut tebal. Thay-kun menghela napas sedih, kemudian katanya, "Hari ini seandainya dia tak datang menyelamatkan kita, mungkin kita akan mengalami nasib tragis di tangan Cong-kaucu seperti tempo hari."

"Menurutku Hek-mo-ong berbuat begitu karena ingin menolong dirimu, bisa jadi dia mempunyai hubungan dengan dirimu," kata Bong Thian-gak hambar.

Thay-kun menggeleng, "Tapi aku sama sekali tidak mengenal dirinya."

"'Bila dugaanku tidak keliru, bisa jadi asal-usulnya mempunyai hubungan erat denganmu."

"Suheng," kata Thay-kun dengan sedih. "Kita tak usah membahas hal ini lagi. Ayo cepat kau telan pil itu agar lukamu segera sembuh."

Sambil berkata Thay-kun sudah mengelupas kulit pembungkus obat itu, ternyata isinya adalah sebutir pil bewarna putih bagaikan mutiara, baunya harum semerbak.

Setelah menghela napas panjang, Bong Thian-gak berkata, "Hingga sekarang aku masih tetap menaruh prasangka, aku kuatir pil itu bukan pil penawar racun, melainkan obat racun yang lambat kerjanya."

"Apa maksudmu?"

"Aku tak percaya sudah terkena serangan gelap Hek-mo- ong."

"Ah, benar juga perkataanmu," Thay-kun berseru tertahan. "Tapi bagaimana pula dengan luka yang kau derita saat ini?"

Bong Thian-gak menggeleng kepala, "Aku sendiri pun tidak tahu, mengapa secara tiba-tiba separoh tubuhku bisa lumpuh."

"Berjaga-jaga atas niat busuk musuh memang tak boleh tak ada, apalagi sikap bersahabat Hek-mo-ong terhadap kita pun di luar dugaan, kalau begitu jangan kau telan dulu pil itu untuk sementara waktu."

"Sekarang Mo-kiam-sin-kun masih di rumah penginapan Ban-heng. Bila aku sudah terkena serangan gelap Hek-mo- ong, maka Tio Tian-seng pasti mengalami pula hal yang sama, mari kita tanyakan dulu persoalan ini kepadanya sebelum mengambil keputusan."

"Betul," Thay-kun manggut-manggut. "Mari kubimbing kau."

"Ai, terpaksa aku harus merepotkan Sumoay."

Dengan lengan kanan merangkul pinggang Bong Thian- gak, Thay-kun mengajak pemuda itu menuju ke dalam kota.

Pagi itu kabut luar biasa tebalnya, sejauh mata memandang hanya warna putih yang menyelimuti seluruh jagat, rumput dan pepohonan di hadapan mereka pun susah terlihat.

Dengan memapah tubuh Bong Thian-gak, akhirnya Thay- kun berhasil mengajak pemuda itu ke rumah penginapan Ban- heng.

Waktu itu fajar baru menyingsing, kabut pagi belum menghilang, mereka segera masuk dengan melompati pagar dan menuju ke kamar.

Tiba-tiba seseorang berkelebat dengan kecepatan bagaikan kilat, menghadang di hadapan Bong Thian-gak serta Thay- kun.

Sekilas pandang Bong Thian-gak mengenali orang di hadapannya, Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng, tanpa terasa serunya lirih, "Tio-pangcu!"

Sekilas perasaan tercengang dan tidak habis mengerti segera menghiasi wajah Mo-kiam-sin-kun, segera tanyanya, "Bukankah dia adalah Si-hun-mo-li?" "Benar, memang dia, tapi ia sudah kembali kejernihan otaknya, kini ia sudah bukan Si-hun-mo-li yang menakutkan lagi."

"Bagaimana keadaanmu, Bong-laute?" Tio Tian-seng kembali bertanya dengan penuh perhatian.

"Tio-pangcu," kata Thay-kun cepat, "tempat ini bukan tempat yang cocok untuk berbincang-bincang, apakah di dalam ada orang lain?"

"Cepat masuk," seru Mo-kiam-sin-kun.

Mereka bertiga segera masuk ke dalam, Tio Tian-seng menyulut lentera, sedang Thay-kun membimbing Bong Thian- gak ke bangku.

Setelah melirik sekejap ke arah Tio Tian-seng, Bong Thian- gak berkata, "Walaupun hanya semalam saja Boanpwe meninggalkan Tio-pangcu, namun pengalaman yang kuhadapi sungguh luar biasa."

Secara ringkas Bong Thian-gak menceritakan semua pengalaman yang dialaminya selama semalam kepada Tio Tian-seng.

Selesai mendengar cerita itu, dengan kening berkerut Tio Tian-seng berkata, "Apakah kau telah menelan pil itu?"

"Belum," pemuda itu menggeleng.

Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Ai, aku sendiri pun telah menerima sebutir pil dari Hek-mo-ong."

Sambil berkata, dia mengeluarkan sebutir pil berwarna putih bagaikan mutiara dari dalam sakunya.

Dengan cepat Thay-kun mengeluarkan pula pil yang diterimanya tadi, ternyata bentuk kedua pil itu serupa, semuanya menyiarkan bau harum semerbak. Dengan tidak mengerti Bong Thian-gak bertanya, "Bagaimana ceritanya hingga Hek-mo-ong memberikan pil itu kepadamu?"

Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Ai, Hek-mo-ong telah memerintahkan seorang pelayan rumah penginapan untuk mengantar pil itu kepadaku dengan pesan agar aku mengundurkan diri dari dunia persilatan, katanya pengundurkan diri ini merupakan syarat bagi keselamatan jiwaku."

"Lantas pil itu merupakan obat penawar racun? Ataukah obat racun?"

"Aku telah melakukan pemeriksaan terhadap pil itu, nyatanya pil ini sama sekali tak mengandung racun."

"Kalau memang bukan obat racun, mengapa Tio-pangcu tidak menelannya?" tanya Bong Thian-gak keheranan.

"Sebab aku pun tidak percaya sudah terkena serangan gelap Hek-mo-ong, selain itu aku pun beranggapan andaikata pil itu baru ditelan sebelum bekerjanya racun itu, hal ini pun belum terhitung terlalu terlambat"

"Seandainya kita benar-benar terkena serangan gelapnya, maka teka-teki siapakah Hek-mo-ong pun segera akan terbongkar."

"Bong-laute, apakah kau menduga Tan Sam-cing adalah Hek-mo-ong?" pelan-pelan Tio Tian-seng bertanya.

"Kecuali di saat kita berada dalam Sam-cing-koan tempo hari, aku benar-benar tak bisa membayangkan sejak kapan dan dimanakah kita terkena serangan gelap Hek-mo-ong."

"Masih ingatkah Bong-laute dengan gigitan nyamuk penghancur darah tempo hari?" tanya Tio Tian-seng.

"Bukankah racun nyamuk penghancur darah telah dipunahkan obat penawar racun pemberian Biau-kosiu?" "Yang menjadi persoalan sekarang adalah siapakah yang telah melepas nyamuk penghancur darah itu?"

"Orang itu tentu Biau-kosiu!"

"Atas dasar apakah kau dapat membuktikan perbuatan ini hasil karyanya?"

"Aku tak bisa membuktikan," Bong Thian-gak menggeleng. "Tapi kita kan bisa mencari Biau-kosiu dan menanyakan hal ini secara langsung kepadanya."

Mendadak dari luar halaman rumah terdengar seorang berkata dengan suara merdu, "Jian-ciat-suseng, persoalan apa yang hendak kau tanyakan kepadaku?"

Bersama dengan bergemanya pertanyaan itu, di depan pintu telah muncul seorang nona berbaju hijau yang cantik jelita, orang itu bukan lain adalah gadis Biau yang misterius dan licik itu, Biau-kosiu.

Begitu bertemu nona itu, Bong Thian-gak segera berkata dengan suara lantang, "Silakan duduk nona Biau, maafkan badanku kurang sehat sehingga tidak dapat menyambut kedatanganmu."

Dengan langkah lemah-gemulai, Biau-kosiu berjalan masuk ke dalam ruangan, kemudian setelah memandang sekejap wajah semua orang, dia duduk dan tertawa terkekeh-kekeh.

"Jian-ciat-suseng memang orang yang sangat hebat," serunya, "Terbukti kau sanggup merebut pil Hui-hun-wan."

Tio Tian-seng terkejut, segera tanyanya, "Ya, betul! Aku lupa menanyakan hal ini. Bong-laute, bagaimana ceritanya hingga kau bisa mendapatkan pil Hui-hun-wan."

Bong Thian-gak sendiri pun terkejut, segera pikirnya, "Haruskah kuceritakan pengalamanku ketika mendapatkan pil Hui-hun-wan?" Sementara dia masih berpikir, tiba-tiba Thay-kun telah menyela sambil tertawa geli, "Apakah kalian menganggap pulihnya kesadaran otakku ini dikarenakan aku telah menelan pil Hui-hun-wan buatan si tabib sakti?"

Bong Thian-gak tertegun, kembali dia berpikir, "Kenapa Thay-kun menyangkal dia telah menelan pil Hui-hun-wan."

Biau-kosiu melirik sekejap ke arah Thay-kun, kemudian setelah tertawa dingin jengeknya, "Benarkah kau tidak menelan pil Hui-hun-wan? Hm, aku kurang percaya."

Thay-kun tersenyum, "Apakah aku sudah menelan pil Hui- hun-wan atau tidak, apa hubungannya dengan dirimu?"

"Aku harus tahu siapakah yang telah memberi pil Hui-hun- wan itu kepadamu?" ucap Biau-kosiu dengan suara dingin.

"Bukan pemberian Bong Thian-gak, bukan juga si tabib sakti."

"Lantas siapa?" desak Biau-kosiu lebih jauh.

"Boleh saja kuberitahu hal ini kepadamu, tapi ada syarat yang harus kau penuhi lebih dulu, kau harus memberitahukan dulu kepadaku maksudmu menanyakan hal ini."

Sekarang Bong Thian-gak baru mengerti, rupanya Thay- kun menyangkal telah menelan pil Hui-hun-wan, sebab dia merasa perkataan Biau-kosiu sangat mencurigakan.

Biau-kosiu berkerut kening, katanya, "Hui-hun-wan merupakan benda mustika, semua orang ingin memperolehnya."

"Kalau begitu, kau juga berharap mendapatkan pil Hui-hun- wan itu?"

"Aku telah memberitahukan maksudku, sekarang kau harus memberitahukan pula kepadaku siapa yang memberikan pil Hui-hun-wan kepadamu." "Keng-tim Suthay Nyo Li-beng." "Dimana ia sekarang?" desak Biau-kosiu.

"Dia telah meninggal," Thay-kun menghela napas panjang.

Biau-kosiu mengerut dahi, ujarnya, "Kau benar-benar ngaco-belo. Bila kau tidak mengatakan dimanakah dia sekarang, aku tak akan bersikap sungkan lagi kepadamu."

Tiba-tiba Bong Thian-gak menghela napas sedih, selanya, "Nona Biau, Keng-tim Suthay memang sudah meninggal. Tio- pangcu telah memeriksa jenazahnya."

Mo-kiam-sin-kun yang berada di depan cepat menambahkan pula dengan suara dalam, "Keng-tim Suthay tewas di dalam gua Kiu-thian-tong di bawah kuil Sam-cing- koan. Siapa yang telah mencelakainya hingga kini masih merupakan teka-teki."

Mendadak hawa membunuh menyelimuti wajah Biau-kosiu, mendadak dia melepaskan pukulan dahsyat ke dada Thay-kun.

Menghadapi datangnya ancaman itu, Thay-kun tersenyum, telapak tangannya dibalik untuk memusnahkan serangan itu, kemudian katanya, "Di antara kita tiada dendam ataupun sakit hati, mengapa kau melancarkan serangan keji kepadaku?"

"Bila aku tidak berusaha membunuhmu sekarang, maka tiga tahun kemudian kau akan menjadi jago paling tangguh di dunia persilatan," kata Biau-kosiu dingin.

Sembari berkata, Biau-kosiu melejit ke tengah udara lalu dengan suatu gerakan aneh tapi sakti, dia melancarkan tiga serangan berantai.

Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng yang menyaksikan gerakan serangannya kontan berubah wajahnya, baru sekarang mereka tahu gadis suku Biau ini sesungguhnya memiliki ilmu silat yang amat lihai dan dia merupakan tokoh sakti yang amat tangguh dan tidak boleh dianggap enteng, sudah barang tentu Thay-kun sendiri bukan seorang lemah, tampak dia menggerakkan pinggangnya dengan lemah- gemulai, tahu-tahu semua ancaman berhasil dihindari.

Sambil tertawa ringan, katanya, "Bagaimana penjelasanmu atas perkataan yang telah kau ucapkan tadi? Apakah sebutir pil Hui-hun-wan saja dapat menciptakan diriku menjadi manusia super?"

Setelah melepaskan ketiga serangan dahsyat itu, mendadak Biau-kosiu menarik kembali serangannya sambil mundur selangkah, katanya tertawa dingin, "Ilmu silatmu lumayan juga, beranikah kau menyambut seranganku lagi?"

Bong Thian-gak cukup mengerti bahwa Biau-kosiu tentu akan menyiapkan serangan yang lebih dahsyat lagi dalam serangannya nanti, tepat ia berseru, "Nona Biau, harap jangan menyerang dulu, ada persoalan yang hendak kubicarakan kepadamu."

Sedang Tio Tian-seng dengan suara berat berkata pula, "Harap nona jangan melancarkan serangan lebih dulu, ada suatu persoalan ingin kutanyakan kepadamu."

"Apakah kau ingin menanyakan masalah nyamuk penghancur darah itu?" tukas Biau-kosiu.

"Benar, kami ingin tahu siapakah orang yang telah melepaskan nyamuk penghancur darah itu untuk mencelakai kami?"

"Aku."

"Jika kau, kami pun dapat merasa lega."

Biau-kosiu tertawa dingin, kembali berkata, "Tahukah kalian, siapa yang telah meminta bantuan kepadaku untuk melepaskan nyamuk penghancur darah guna mencelakai kalian?"

"Siapa?" tanya Bong Thian-gak tanpa terasa. "Hek-mo-ong. Obat penawar racun yang kuberikan kepada kalian sebagai penawar racun nyamuk penghancur darah itu pun merupakan pemberian Hek-mo-ong yang meminta kepadaku untuk disampaikan kepada kalian. Oleh sebab itu kalian berdua sebenarnya sudah terkena serangan gelap Hek- mo-ong, mati hidup kalian telah berada pada cengkeramannya."

Paras muka Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng menjadi pucat-pias.

Thay-kun tersenyum, katanya, "Rupanya kau punya hubungan cukup intim dengan Hek-mo-ong, sebenarnya siapakah Hek-mo-ong?"

"Tentu saja aku tahu siapa dia, tapi aku takkan memberitahukan kepada kalian."

Thay-kun segera tertawa dingin, "Padahal aku juga tahu kau pun tidak mengetahui siapakah Hek-mo-ong, seandainya tahu, sudah pasti dia Hek-mo-ong gadungan."

Biau-kosiu tersenyum, segera tanyanya, "Darimana kau bisa tahu kalau dia adalah gadungan?"

"Sebab aku sudah mengetahui sejak tadi bahwa apa yang kau ucapkan semua pada hari ini cuma perkataan bohong belaka."

"Bohong juga boleh, tidak bohong pun boleh juga, pokoknya yang pasti kalian bertiga sudah tidak jauh dari kematian."

Mendadak Bong Thian-gak berkata dengan suara dingin, "Mati bukanlah suatu kejadian yang menakutkan, biarpun manusia hidup seratus tahun lagi juga akhirnya akan mati juga."

Biau-kosiu berpaling dan memandang sekejap ke arahnya, lalu berkata, "Bila kau percaya padaku, aku pun dapat menyelamatkan jiwa, kalian dari kematian." "Syarat apa yang hendak kau ajukan kepada kami?" tanya Thay-kun sambil tertawa merdu.

Biau-kosiu tertawa dingin, katanya, "Menyelamatkan jiwa orang bagaikan mempunyai orang tua baru, aku tidak bisa menyelamatkan jiwa seseorang begitu saja."

"Apa yang kau inginkan, utarakan saja!"

"Aku hanya berharap kalian membantuku membunuh Liong Oh-im."

"Soal itu kami dapat menerimanya, tapi sekarang separoh badan Jian-ciat-suseng lumpuh. Pertama-tama, kau harus mengobati dirinya lebih dulu."

"Separoh badannya lumpuh, hal ini dikarenakan ada hawa murninya yang menyumbat sebagian jalan darahnya, asalkan sebuah pukulan menghantam persis di atas jalan darah Wi- liong-hiat, dia akan sembuh seperti sediakala."

Sembari berkata, tiba-tiba Biau-kosiu melepaskan tendangan kilat persis menghajar badan Bong Thian-gak, akibatnya tubuh anak muda itu mencelat ke belakang.

Ketika terjatuh ke atas tanah, Bong Thian-gak telah memperoleh kesegaran kembali, keempat anggota badannya dapat digerakkan bebas seperti sediakala.

"Suheng apakah kau telah sembuh?" Thay-kun segera bertanya.

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ya, aku telah sembuh, namun aku harus pergi membunuh orang."

Terhadap kemampuan Biau-kosiu dalam mengobati seseorang, baik Thay-kun maupun Tio Tian-seng merasa terkejut bercampur keheranan, sebenarnya mereka mengira Biau-kosiu hanya bicara secara ngawur tanpa bukti nyata, siapa pun tak menyangka tendangannya ternyata berhasil membebaskan Bong Thian-gak dari ancaman kelumpuhan. Tio Tian-seng menghela napas sedih, kemudian berkata, "Tidak kusangka ilmu pertabiban nona begitu hebat, sungguh membuat orang kagum, tapi tolong tanya apakah di dalam tubuh kami benar-benar sudah terkena serangan gelap Hek- mo-ong? Harap nona sudi memberi petunjuk."

Biau-kosiu tertawa ringan, "Tentu saja kalian terkena serangan gelap Hek-mo-ong, cuma saja sebelum batas waktu yang ditetapkan dalam kartu kematian tiba, kalian tidak bakal menemui ajal."

Bong Thian-gak bertanya, "Tolong tanya nona Biau, dimanakah Liong Oh-im sekarang?"

"Malam nanti Liong Oh-im bakal muncul di sekitar jembatan Lok-yang-kian. Kalian boleh menyergapnya di situ. Ingat!

Dalam tubuh kalian masih mengidap racun jahat dan hanya aku seorang yang mampu mengobatinya, harap kalian jangan menggunakan nyawa sendiri sebagai taruhan. Nah, aku pergi dulu!"

"Tunggu sebentar!" buru-buru Thay-kun berseru melihat Biau-kosiu akan pergi.

"Kau masih ada urusan apa lagi?"

"Liong Oh-im bukan jago silat biasa, seandainya kami tidak berhasil membunuhnya?"

"Bila tak mampu melukainya, kalianlah yang akan terluka, tentu saja dia bukan seorang lemah."

"Masih ada satu hal lagi, benarkah kau memiliki kemampuan memunahkan racun yang mengeram dalam tubuh mereka?"

Biau-kosiu tertawa dingin, segera dia berkata, "Mau percaya atau tidak terserah kepada kalian, nah aku pergi dulu." Dengan cepat ia beranjak keluar dari ruangan itu dan pergi meninggalkan tempat itu.

Sepeninggal nona itu, Tio Tian-seng berkata, "Ombak belakang sungai Tiang-kang mendorong ombak di depannya, orang baru akan menggantikan orang lama. Ai, aku memang sudah tua."

Teringat kembali kegagahannya semasa masih menjagoi dunia persilatan di masa lampau, Mo-kiam-sin-kun Tio Tian- seng menghela napas sedih dengan wajah masgul.

Thay-kun tersenyum dan berkata, "Tio-pangcu, mengapa kau menghela napas? Dalam dunia persilatan dewasa ini cuma beberapa gelintir manusia saja yang mampu menandingi permainan pedang iblismu?"

Sekali lagi Tio Tian-seng menghela napas sedih, "Aku menjadi malu sendiri setelah menyaksikan kalian angkatan muda ternyata rata-rata memiliki kepandaian silat yang amat lihai."

"Ai, andaikata To Siau-hou dan Han Siau-liong tidak terluka, aku pun tidak akan merasa diriku sebatangkara."

"Tio-pangcu, aku dan Thay-kun berdiri di pihakmu, selanjutnya bila kau membutuhkan bantuan kami, kami pasti akan membantumu sekuat tenaga," timbrung Bong Thian-gak.

Tio Tian-seng tertawa tergelak, "Setelah mendengar perkataan Bong-laute ini, semangatku kembali berkobar."

Bong Thian-gak bertanya, "Tio-pangcu, Boanpwe merasa bingung terhadap situasi kalut yang melanda dunia persilatan dewasa ini, aku benar-benar tak mengerti tujuan Hek-mo-ong merencanakan segala siasat liciknya menteror dunia persilatan?"

Mendapat pertanyaan ini, Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Bong-laute, agaknya Liu Khi telah membocorkan sedikit hal yang sebenarnya kepadamu. Ai, hingga sekarang belum ada seorang pun yang mengetahui siapa gerangan Hek-mo- ong."

"Menurut Liu Khi, Tio-pangcu pun kemungkinan besar adalah Hek-mo-ong. Bagaimana pendapat Tio-pangcu sendiri?"

Tio Tian-seng manggut-manggut sambil menghela napas panjang, "Benar, kemungkinan besar aku pun terhitung Hek- mo-ong, cuma Hek-mo-ong gadungan."

Sampai di sini dia berhenti sejenak, kemudian sambungnya, "Mengenai sepuluh jago yang dicurigai sebagai Hek-mo-ong, hal ini bersumber pada peristiwa yang telah terjadi tiga puluh tahun berselang."

Mendadak paras mukanya berubah hebat, kemudian bentaknya dengan suara dingin, "Siapa berada di luar? Mengapa mesti sembunyi-sembunyi dan mencurigakan?"

Belum habis dia berkata, seseorang sudah menyelinap dari luar pintu, Liu Khi telah masuk ke dalam ruangan sambil tertawa tergelak.

"Sejak kapan Tio-pangcu datang ke Lok-yang?" sapanya.

Kemunculan Liu Khi membuat hati Bong Thian-gak tergerak, pikirnya, "Mungkinkah di antara mereka akan terjadi bentrok?"

Sementara itu Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng telah menjawab dengan serius, "Setelah aku menerima surat pemberitahuan lewat pos merpati yang menerangkan To Siau- hou dan Han Siau-liong terluka serta jiwanya terancam bahaya, aku segera datang ke Lok-yang, maksudku hendak mencari tabib sakti Gi Jian-cau untuk mengobati luka Liong-ji dan Hou-ji." "Apakah Pangcu telah berhasil menemukan Gi Jian-cau?" tanya l.in Khi.

"Belum berhasil kutemukan."

"Aku telah menemukan Gi Jian-cau."

Ucapannya ini segera menggetarkan hati setiap orang.

Bong Thian-gak yang pertama-tama berseru terlebih dahulu, "Dimanakah tabib sakti Gi Jiau-cau sekarang?"

Pelan-pelan Liu Khi berjalan ke sisi Bong Thian-gak dan duduk di situ, kemudian baru sahutnya, "Dia berada di Lok- yang."

"Di Lok-yang bagian mana?" sela Thay-kun.

Liu Khi memandang sekejap ke arahnya, lalu tersenyum, katanya, "Rupanya kau telah memperoleh kembali kesadaranmu."

Semua orang ingin secepatnya mengetahui tempat persembunyian Gi Jian-cau, siapa tahu Liu Khi justru jual mahal dengan mengalihkan pembicaraan ke soal lain, tentu saja hal itu membuat semua orang gemas.

Setelah tersenyum manis, jawab Thay-kun, "Terima kasih banyak atas perhatian Liu-cianpwe. Di samping itu, mohon kepada Liu-cianpwe agar selekasnya memberitahukan kepada kami tempat persembunyian Gi Jian-cau."

Liu Khi tersenyum.

"Apabila aku memberitahukan tempat persembunyian tabib sakti Gi Jian-cau kepada kalian, maka hari ini kalian tak akan bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat."

Sambil berkata, sepasang matanya mengawasi Tio Tian- seng tanpa berkedip.

Bong Thian-gak yang menyaksikan hal ini diam-diam berpikir kembali, "Mungkinkah Liu Khi akan melancarkan serangan di saat musuh tak menyerang? Seandainya dia melancarkan serangan, dapatkah Tio Tian-seng melepaskan diri dari bacokan itu?"

Sementara itu Thay-kun dengan wajah berubah hebat berpaling dan memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng.

Tampak wajah Tio Tian-seng amat serius, jawabnya dengan suara berat, "Liu Khi, konon kau adalah seorang pembunuh bayaran?"

"Bukankah soal ini telah lama Pangcu ketahui?" sahut Liu Khi sambil tersenyum.

"Tapi tahukah kau, mengapa selama ini aku berlagak pilon seolah-olah tidak tahu," kembali Tio Tian-seng berkata.

Liu Khi tertawa dingin.

"Pangcu pernah tiga kali ingin menghadapiku dengan kekerasan, namun setiap kali niatmu itu kau urungkan."

"Kau pun sudah tiga kali bermaksud membunuhku," kata Tio Tian-seng pula dengan hambar.

"Yang seorang adalah anak buah yang tidak bisa dipercaya, sedangkan yang seorang lagi adalah atasan yang tidak setia. Tampaknya kita berdua memang setali tiga uang, sama-sama bobroknya."

Bong Thian-gak menghela napas sedih, katanya, "Liu- tayhiap dan Tio-pangcu, apakah bersedia mendengar nasehat Boanpwe? Dunia persilatan saat ini sedang dicekam teror kaum iblis, apabila kalian berdua saling percaya dan bekerja sama dengan baik, aku pikir nama Kay-pang tentu akan lebih termasyhur."

Liu Khi melirik sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian katanya, "Ada satu persoalan aku pun ingin memberitahukan kepadamu, jangan sekali-kali mau diperalat orang lain." "Diperalat siapa?" tanya Bong Thian-gak dengan wajah tidak habis mengerti.

"Oleh Hek-mo-ong."

"Hek-mo-ong hendak memperalat kami? Apa tujuannya?" "Memperalat kau dan Thay-kun untuk membunuh Liong

Oh-im."

Bong Thian-gak menjerit kaget, "Maksudmu Biau-kosiu adalah Hek-mo-ong?"

Liu Khi menggeleng kepala.

"Bukan, dia bukan Hek-mo-ong, dia kuku garuda Hek-mo- ong yang diandalkan."

"Benarkah perkataanmu itu?" tanya Bong Thian-gak agak tertegun.

"Aku tidak berbohong."

Thay-kun yang selama ini membungkam, segera menyela sambil tertawa ramah, "Tampaknya apa yang telah kami bicarakan dengan Biau-kosiu barusan telah kau dengar semua. Kalau memang begitu, mungkin kau pun sudah tahu bahwa kami telah menyanggupi untuk membunuh orang dan hal ini terpaksa kami terima karena keadaan terpaksa."

Dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh kembali Liu Khi berkata, "Apabila kalian bersedia mempercayai diriku, malam ini jangan kalian datangi jembatan Lok-yang-kian."

"Apakah Liu-tayhiap sudah tahu Suhengku telah menerima kartu undangan kematian Hek-mo-ong?" kata Thay-kun sambil tersenyum.

"Dia sudah terkena racun jahat dan kemungkinan besar racun itu akan bekerja setiap saat." Liu Khi tersenyum sambil berpikir sejenak, lalu berkata, "Bilamana duaanku tidak salah, saat ini Bong Thian-gak masih belum terkena serangan beracun Hek-mo-ong."

"Tapi dia pun ada kemungkinan keracunan, bukan?" tanya Thay-kun sambil tersenyum.

Tiba-tiba Liu Khi menghela napas panjang, "Benar, dia pun ada kemungkinan terkena racun."

"Apabila Liu-tayhiap dapat mengundang Gi Jian-cau melakukan pemeriksaan baginya, maka kita akan segera dapat membuktikan apakah dalam tubuhnya sudah keracunan atau belum."

Mendengar perkataan itu, Liu Khi berkata, "Ai, sayang sekali si tabib sakti Gi Jian-cau telah meninggal dunia."

"Dia sudah mati?" tanya Bong Thian-gak dengan terkejut.

Dalam pikiran Bong Thian-gak, di Kangouw orang yang paling, besar kemungkinannya sebagai Hek-mo-ong adalah Gi Jian-cau.

Tapi Gi Jian-cau telah mati, mau tak mau hal itu membuatnya setengah percaya.

Setelah menghela napas, kembali Liu Khi berkata, "Dia mati dalam keadaan amat mengerikan. Bilamana kalian tidak percaya, aku bersedia mengajak kalian melihat jenazahnya."

"Andaikata dia bukan Hek-mo-ong, mengapa dia meninggal surat yang menyuruhku membunuhnya?" terdengar Bong Thian-gak bergumam. "Benar-benar aneh, sungguh membuat orang bimbang di tidak mengerti."

Yang dimaksud Bong Thian-gak tentu saja Keng-tim Suthay.

"Sewaktu berada di dalam gua Mi-hun-kiu-thian-tong di baw kuil Sam-cing-koan, dia melihat tulisan di kaki Keng-tim Suthay yang telah menjadi mayat, ’Tabib sakti Gi Jian-cau harus dibunuh'. Ini pesan yang ditinggalkan olehnya."

Oleh karena hal ini Bong Thian-gak selalu mencurigai tabib itu kemungkinan besar dia adalah Hek-mo-ong yang misterius itu.

Thay-kun ikut menghela napas, katanya, "Berita kematian Gi Jian cau benar-benar membuat orang tidak percaya. Ai, semasa hidupnya, dia orang tua paling baik terhadapku, setelah dia mati sekarang, aku harus pergi menyambangi jenazahnya."

Thay-kun minta kepada Liu Khi agar mengajak mereka menjeng jenazah Gi Jian-cau.

Liu Khi manggut-manggut menyetujui.

"Kalau memang begitu, harap kalian mengikuti diriku." Tiba-tiba Tio Tian-seng berseru, "Bong-laute, aku rasa lebih baik kalian jangan pergi ke sana."

"Kenapa?" tanya pemuda itu keheranan.

Dengan suara dalam dan berat, Tio Tian-seng berkata, "Orang yang sudah mati tak akan bisa hidup kembali, kepergian kalian ke sana tak ada gunanya."

Thay-kun kembali menghela napas.

"Tabib sakti Gi Jian-cau tercantum namanya sebagai salah satu di milara sepuluh jago lihai persilatan, ilmu silat yang dimilikinya sangat lihai. Boanpwe benar-benar tidak percaya dia orang tua telah tertimpa musibah."

"Oh Ciong-hu juga memiliki kepandaian silat tangguh, tapi kenyataan dia juga mati terbunuh," kata Tio Tian-seng dengan suara sangat hambar.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Bong Thian-gak, segera tanyanya, "Tio-pangcu, tampaknya lamat-lamat kau telah mengetahui siapakah pembunuh guruku dulu?" "Kemungkinan besar orang itu adalah Hek-mo-ong." Tiba-tiba Liu Khi menyela sambil tertawa dingin,

"Sebenarnya kalian berdua bersedia ikut aku atau tidak? Kalau

tidak, aku akan segera mohon diri."

"Silakan Liu-tayhiap menjadi petunjuk jalan!" jawab Thay- kun dengan segera.

Sembari berkata, dia lantas mengikuti Liu Khi beranjak keluar dari ruangan itu.

Terpaksa Bong Thian-gak menjura kepada Tio Tian-seng seraya berkata, "Tio-pangcu, Boanpwe akan pergi sejenak."

Selesai berkata, dia pun membalikkan badan dan beranjak pergi pula dari situ.

Kini tinggal Tio Tian-seng seorang yang duduk dalam ruangan, dingin wajah tanpa emosi ia bergumam, "Mungkin kalian tak akan kembali lagi."

Sementara itu Liu Khi telah mengajak Bong Thian-gak dan Thay-Itiin meninggalkan rumah penginapan Ban-heng dan berangkat menuju keluar kota,

Saat itu fajar baru saja menyingsing, orang yang berlalu- lalang di jalanan pun masih sedikit, mereka berlarian menuju ke kota bagian barat.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Liu Khi menghentikan langkah, lalu tanyanya, "Sudah berapa lama kalian berdua bergaul dengan Tio Tian-seng?"

"Apa maksud Liu-tayhiap menanyakan hal ini?" tanya Bong Thian-gak berkerut kening.

Liu Khi melirik sekejap ke arahnya, tanyanya lagi, "Bagaimanakah pendapat kalian tentang watak serta tabiat Tio Tian-seng?" . Bong Thian-gak dapat menangkap di balik kata-kata Liu Khi ada maksud mengadu domba, maka sahutnya dengan hambar, "Tio-pangcu bukanlah orang yang susah didekati seperti apa yang diduga orang."

"Tentunya Liu-tayhiap lebih memahami watak serta tabiat Tio-pangcu daripada orang lain, bukan?" Thay-kun menyela sambil tertawa merdu.

Liu Khi menghela napas panjang.

"Sudah sepuluh tahun lamanya aku menyelundup dalam Kay-pang, tapi hingga kini aku masih belum dapat meraba secara jelas watak serta tabiat Tio Tian-seng sesungguhnya."

Bong Thian-gak tertegun, tanyanya lebih jauh, "Apakah maksud Liu-tayhiap menyelundup ke Kay-pang untuk menyelidiki watak serta tabiat Tio Tian-seng?"

"Benar," Liu Khi menghela napas panjang. "Sebenarnya aku ingin menyelidiki peristiwa berdarah itu."

"Peristiwa berdarah yang mana? Apakah Liu-tayhiap bersedia menjelaskan?" tanya Thay-kun sambil tersenyum.

Liu Khi berjalan menuju keluar kota yang sepi, sambil berjalan ujarnya, "Peristiwa berdarah ini terjadi tiga puluh tahun berselang!"

Sampai di situ tiba-tiba dia menghela napas panjang, kemudian mengalihkan pembicaraan ke soal lain.

"Peristiwa berdarah ini menyangkut situasi dunia persilatan serta nama baik jago kenamaan. Sebelum duduknya persoalan menjadi jelas dan terang, aku tidak berani bicara dulu secara sembarangan."

Bong Thian-gak merasa kecewa atas jawaban itu, katanya, "Entah sampai kapan teki-teki itu baru bisa terjawab?"

"Hek-mo-ong telah menampakkan diri di kota Lok-yang, berarti duduknya persoalan akan segera tertungkap." "Lagi-lagi Hek-mo-ong. Ai, sebenarnya manusia macam apakah dia?"

"Liu-tayhiap, entah jenazah Gi Jian-cau berada dimana?" Thay-kun menyela.

"Dalam Ban-jian-bong, tiga li di luar kota sebelah barat." "Ban-jian-bong (kuburan selaksa orang)? Bukankah tempat

itu merupakan tempat penitipan jenazah orang dari luar kota?"

"Setelah Gi Jian-cau tewas, jenazahnya telah dimasukkan ke dalam peti mati dan dikirim ke Ban-jian-bong untuk sementara waktu."

Mendadak Thay-kun bertanya, "Apakah Liu Khi kenal wajah asli si tabib sakti?"

Liu Khi menghela napas panjang.

"Aku justru mengajak nona mendatangi Ban-jian-bong, karena aku berharap kau bisa mengenali wajah korban, apakah benar tabib sakti atau bukan, sebab aku tahu di kolong langit ini hanya kau serta Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau dan Keng-tim Suthay yang mengenali wajah asli Gi Jian-cau."

"Ah, kalau begitu kedatangan Liu-tayhiap ke rumah penginapan Ban-heng adalah untuk mencari diriku?" Thay-kun berseru pelan.

"Masih ada satu alasan lagi, yaitu mengajak kalian meninggalkan Tio Tian-seng sejauh-jauhnya."

"Mengapa?" tanya Bong Thian-gak heran.

"Sebab Tio Tian-seng dicurigai sebagai Hek-mo-ong." Mendengar itu, Bong Thian-gak tersenyum.

"Bukankah Liu-tayhiap sendiri dicurigai sebagai Hek-mo- ong?" "Benar, kemarin malam aku sudah bilang di antara sepuluh jago lihai persilatan, hampir semuanya dicurigai sebagai Hek- mo-ong, kini aku sengaja mengajak kalian untuk mengenali jenazah Gi Jian-cau karena aku ingin kepastian apakah salah seorang yang dicurigai telah hilang. Bila demikian, lambat-laun kita akan mendekati pembunuh yang sebenarnya, siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya."

"Dari sepuluh orang jago lihai persilatan, entah sudah berapa orang yang dapat Liu-tayhiap buktikan bukan Hek-mo- ong?" tiba-tiba Thay-kun bertanya.

"Sudah ada lima orang." "Siapa saja kelima orang itu?"

"Ku-lo Sinceng, Oh Ciong-hu, Kui-kok Sianseng serta Song- ciu suami-istri."

"Bila termasuk kau dan Gi Jian-cau, bukankah berarti sudah ada tujuh orang?"

Liu Khi manggut-manggut.

"Benar, yang tersisa tinggal tiga orang saja yaitu Tio Tian- seng, Tan Sam-cing serta Liong Oh-im."

Thay-kun memandang sekejap hutan bambu di depan situ, lalu katanya, "Kita sudah sampai di Ban-jian-bong."

Bong Thian-gak memandang sekeliling tempat itu. Tampak sebuah hutan bambu, di balik hutan bambu nan hijau secara lamat-lamat kelihatan pekarangan.

Liu Khi mendatangi lebih dulu pekarangan pertama, lalu berhenti. Tanyanya kemudian sambil berpaling, "Apakah kalian pernah datang kemari?"

"Ban-jian-bong merupakan tempat termasyhur, aku sudah tiga kali berkunjung kemari." Saat itu tampaknya Bong Thian-gak terkesima oleh pemandangan yang terbentang di hadapannya. Dengan mata mendelong, dia mengawasi peti-peti mati yang berjajar di bawah pohon bambu itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ternyata tempat penitipan peti mati adalah di bawah pohon bambu di halaman yang luas itu.

Sejauh mata memandang, sekeliling halaman pertama penuh ditumbuhi pepohonan bambu yang hijau. Peti-peti mati bercat merah terletak di bawah pohon bambu yang rindang itu, jumlahnya mencapai ratusan buah sehingga mendatangkan suasana seram dan menggidikkan. 

Ban-jian-bong terdiri dari tujuh belas halaman, apakah semua dipergunakan untuk menyimpan peti mati? Lantas berapa mayat yang tersimpan di situ?

Liu Khi memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian katanya, "Bong-siauhiap belum pernah mendatangi Ban-jian-bong, kuharap kau jangan sembarangan bergerak daripada akhirnya tersesat dan tak tahu jalan pulang."

Liu Khi mengajak kedua orang itu berjalan menuju ke dalam halaman pertama.

Ternyata dari tujuh belas halaman Ban-jian-bong itu, setiap halaman dijaga dan diurus oleh delapan belas pendeta.

Setelah memasuki halaman pertama, Liu Khi mengemukakan maksud kedatangannya kepada Hwesio penerima tamu, selanjutnya mereka diajak menuju ke halaman kesembilan.

Hwesio yang mengepalai halaman itu adalah Hwesio berjubah kuning yang gemuk, berusia empat puluh tahun dan membawa sebuah tasbih di lehernya. Tampaknya Hwesio itu sangat mengenal Liu Khi, ketika melihat kedatangan jago ini, dia segera memberi hormat seraya menyapa, "Liu-sicu, sepagi ini kau telah datang?"

Liu Khi manggut-manggut membalas hormat, jawabnya, "Aku membawa sobat dari sang jenazah yang hendak menyambangi. Harap Taysu sudi mempersiapkan hio, lilin dan uang pengorbanan bagi kami."

"Silakan Sicu bertiga duduk dulu, Pinceng akan menyuruh orang menyiapkannya."

Ruang tengah itu merupakan ruang terima tamu. Liu Khi, Bong Thian-gak serta Thay-kun terpaksa duduk menanti.

Lebih kurang sepeminuman teh kemudian, Hwesio gemuk berjubah kuning itu sudah muncul kembali sambil membawa dua orang Hwesio muda berjubah kuning yang membawa keranjang kecil, katanya, "Maaf bila menanti lama, Pinceng mengutus kedua muridku ini untuk melayani kalian."

Bong Thian-gak mengerti isi keranjang yang dibawa kedua Hwesio itu tentu uang pengorbanan, hio, lilin dan alat sembahyang lainnya.

Dari dalam sakunya Liu Khi mengeluarkan sedikit uang perak yang diserahkan kepada Hwesio gemuk itu sambil ujarnya, "Harap Siau-suhu berdua sudi membuka jalan."

"Terima kasih banyak atas derma Liu-sicu," Hwesio gemuk itu menerima uang tadi sambil mengucapkan terima kasih.

Dalam pada itu kedua orang Hwesio muda tadi telah mengajak Liu Khi bertiga keluar dari ruang tamu dan memasuki hutan bambu yang penuh dengan deretan peti mati itu.

Pagi hari sudah lewat, matahari bersinar cerah di angkasa, namun suasana di balik hutan bambu dalam Ban-jian-bong ini tampak remang-remang, seperti suasana senja, sepanjang tahun seakan-akan tak pernah tersorot matahari. Bong Thian-gak mengikut di belakang kedua Hwesio itu dengan ketat, setelah melewati jalanan kecil yang membentang di balik hutan bambu itu, akhirnya kedua Hwesio itu berhenti di depan sebuah gundukan tanah.

Dengan ketajaman mata Bong Thian-gak, sekilas pandang saja dia telah melihat di depan gundukan tanah itu terdapat sebuah batu nisan yang berukirkan beberapa tulisan: "Tempat bersemayam Gi Jian-cau".

Tanpa terasa Thay-kun bertanya, "Siapa yang telah mengukir tulisan di atas batu nisan itu?"

Setelah menghela napas, sahut Liu Khi, "Orang yang menitipkan jenazah itu berpesan kepada petugas di sini agar mengukir huruf itu di atas batu nisannya."

Sementara mereka sedang berbicara, kedua Hwesio muda itu sudah bekerja sama menggeser batu nisan itu ke samping, ternyata di balik gundukan tanah itu merupakan sebuah gua, sebuah peti mati berwarna merah tampak membujur di dalam gua itu.

Thay-kun berseru tertahan, "Suhu berdua, harap letakkan saja hio dan alat sembahyang itu ke atas tanah. Di sini sudah tak ada urusan kalian, satu jam kemudian kalian boleh mengajak kami berlalu dari sini."

Kedua Hwesio itu segera melaksanakan seperti yang diminta Thay-kun, setelah meletakkan keranjang kecil itu, mereka pun segera mengundurkan diri.

Pada saat itulah Thay-kun mengeluarkan alat sembahyang, katanya, "Liu-tayhiap, dimana kau bisa tahu jenazah Gi Jian- cau disimpan di tempat ini?"

Liu Khi menghela napas panjang, "Ai, aku berhasil mendapatkan keterangan ini dari mulut seorang anak buah Hek-mo-ong yang kusiksa."

"Mana orang itu sekarang?" kembali Thay-kun bertanya. "Sudah mati karena keracunan hebat."

"Kalau begitu Liu-tayhiap pernah datang kemari satu kali?" Sekali lagi Liu Khi mengangguk.

"Benar, kemarin aku sudah datang kemari dan memeriksa pula keadaan jenazah dalam peti mati itu."