Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 03

 
Jilid 03

Pengemis itu tidak berpaling, juga tidak mengangkat kepala, sambil meneruskan pekerjaannya dia berkata, "Hihihi, silakan duduk, silakan duduk sobat aku tahu perutmu lapar."

Mendengar perkataan itu, dengan perasaan rikuh Bong Thian-gak berkata, "Aku ingin membeli separoh ayam panggangmu itu, berapa pun harganya pasti kubayar." Tiba-tiba pengemis itu mendengus dingin, "Hm, harta kekayaan seperti awan di angkasa, uang seperti kotoran manusia, kalau berbicara soal uang, lebih baik tidak kujual saja!"

Bong Thian-gak tertegun, "Kita tak pernah mengenal satu sama lain, bagaimana boleh kuminta "

Belum selesai dia berkata, pengemis itu sudah menukas dengan suara dingin, "Kalau begitu lebih baik pergi saja dengan menahan lapar!"

Bau harum yang semerbak membuat Bong Thian-gak harus menelan air liur berulang-kali, sebagai orang jujur, dia kasihan kalau harus meminta makanan yang mungkin didapat dari dermaan orang, berpikir sampai di situ ada baiknya bilamana diberi sedikit uang sebagai imbalan separoh ayam itu, bagaimana pun juga ia tetap merasa rikuh untuk minta makanan dari seorang pengemis.

Karena ragu-ragu, untuk sesaat dia hanya berdiri di tempat.

Mendadak terdengar pengemis itu berseru dengan gembira, "Sudah matang, sudah matang!"

Ia segera membuang ranting itu dan mencengkeram panggang ayam yang masih panas itu dengan tangannya.

Bong Thian-gak yang menyaksikan kejadian itu segera berteriak, "Hati-hati, jangan sampai menyengat tangan!"

Belum habis dia berkata, pengemis itu sudah menyobek paha ayam dan dimakan dengan lahapnya.

Saat itulah Bong Thian-gak melihat dengan jelas paras muka pengemis itu, tanpa terasa keningnya berkerut kencang.

Ternyata usia pengemis itu sangat muda, kurang lebih dua puluh tiga-empat tahun,wajahnya amat tampan, telinga besar dan mata jeli, bukan saja hidungnya mancung, kulit tubuhnya juga putih, halus dan bersih. Coba kalau dia tidak mengenakan jubah panjang yang penuh tambalan, siapa yang percaya kalau orang ini adalah pengemis? Orang tentu akan menganggapnya sebagai seorang Kongcu yang romantis!

Pengetahuan Bong Thian-gak cukup luas, sekarang dia sudah menduga, besar kemungkinan pengemis muda ini adalah anggota Kay-pang yang termasyhur di Bu-lim selama seratus tahun belakangan ini.

Kay-pang atau perkumpulan pengemis merupakan perkumpulan terbesar di Bu-lim, selain anggotanya sangat banyak, jumlah mereka pun tersebar rata di setiap pelosok dunia.

Mereka tidak pernah menggabungkan diri dengan persekutuan dunia persilatan, selamanya bekerja sendiri tanpa terikat oleh perguruan lain, selain jarang mengadakan hubungan dengan berbagai perguruan silat, perkumpulan ini pun merupakan satu-satunya perkumpulan yang berdiri antara aliran lurus dan sesat.

Belasan tahun berselang, ketika guru Bong Thian-gak masih menjadi Bengcu persekutuan dunia persilatan, pihak Kun-lun-pay sebagai anggota persekutuan pernah bentrok dengan orang-orang Kay-pang.

Gara-gara peristiwa itu hampir saja pihak Kay-pang melakukan pertarungan terbuka dengan pihak persekutuan dunia persilatan.

Akhirnya Bu-lim Bengcu harus berkunjung ke markas besar Kay-pang untuk minta maaf kepada ketua perkumpulan itu sebelum urusan bisa didamaikan.

Ditinjau dari kejadian itu, dapat disimpulkan bahwa pengaruh Kay-pang dalam Bu-lim waktu itu sama sekali tidak berada di bawah kemampuan sembilan partai besar daratan Tionggoan. Sementara itu si pengemis muda menyaksikan Bong Thian- gak hanya berdiri termangu, mendadak dia menyambar sepotong paha ayam dan dilempar ke depan Bong Thian-gak, serunya, "Nih, sambutlah!"

Paha ayam itu meluncur dengan kecepatan tinggi, Bong Thian-gak dengan gugup segera menerimanya.

Kini dia sudah menduga pengemis itu kemungkinan besar adalah anggota Kay-pang, maka sikapnya pun tidak sungkan- sungkan lagi.

Dia lantas berjongkok dan melalap paha ayam itu dengan lahapnya malah lebih lahap daripada pengemis muda itu, dalam waktu singkat paha ayam tadi sudah disikat hingga tinggal tulangnya.

Dengan mata melotot dan tertawa cekikikan, pengemis muda rtu berkata ”Ujung langit seperti tetangga, empat samudra adalah saudara sendiri silakan makan, silakan makan!"

Bong Thian-gak tertawa bodoh, tanpa sungkan lagi dia pentang kelima jarinya dan merobek sepotong daging ayam gemuk itu, langsung dikirim ke dalam mulutnya.

Hanya dalam waktu singkat seekor ayam gemuk seberat tiga-empat kati itu sudah tinggal tulang.

Setelah kenyang, Bong Thian-gak baru bertanya dengan suara lantang, "Bolehkah aku tahu siapa namamu?"

Pengemis muda itu melototkan matanya, kemudian sahutnya, "Dilihat dari tampangmu, sama sekali tidak menunjukkan sikap seorang pelajar, tapi heran, tingkah- lakumu justru penuh dengan segala tetek-bengek, siapa namamu sendiri?"

Bong Thian-gak menaruh kesan baik terhadap pengemis muda itu, setelah tertawa nyaring dia menyahut, "Aku she Ko bernama Hong." "Nama palsu, shenya juga palsu!"

Bong Thian-gak jadi tertegun, "Maksudmu?" "Tiada manusia yang bernama demikian di Bu-lim."

Diam-diam Bong Thian-gak terperanjat, pikirnya kemudian, "Pengemis muda ini sudah pasti seorang yang punya kedudukan tinggi dalam Kay-pang, kalau dilihat dari kemampuannya merobek daging ayam tadi, pasti tenaga dalamnya telah sempurna!"

Berpikir demikian, sambil tersenyum Bong Thian-gak berkata, "Kalau begitu kau pun seorang dari dunia persilatan?"

"Jika kau sudah tahu aku anggota Kay-pang, buat apa kau mesti banyak bertanya?"

"Tapi kau belum memberitahukan namamu kepadaku?" "Aku she To bernama Siau-hou!"

"Oh, rupanya To-heng, terima kasih banyak atas hidangan daging ayammu pada malam ini!"

"Ayam gemuk itu dapat kucuri dari dalam gedung Bu-lim Bengcu, jadi berterima kasihlah kepada mereka!"

Bong Thian-gak tertegun mendengar itu, segera serunya, "Jadi kau pun telah berkunjung ke gedung Bu-lim Bengcu?"

"Aku pun telah menyaksikan pertarunganmu melawan Yu Ciang-hong. Hm, orang-orang dari sembilan partai memang benar-benar tak tahu malu, sudah kalah masih menghadiahkan tusukan kepada orang!"

Bong Thian-gak terkejut mendengar ucapan terakhir itu, To Siau-hou ini selain sudah menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu tanpa diketahui siapa pun, bahkan setiap gerakan serangan yang digunakan sewaktu bertarung melawan Hian- thian-koancu pun dapat diketahuinya, dari sini dapat disimpulkan kepandaian silatnya benar-benar sangat lihai. To Siau-hou memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian tanyanya, "Bukan memujimu, ilmu silatmu memang sangat tinggi, orangnya juga jujur dan terbuka, kami orang- orang Kay-pang paling suka dengan orang macam dirimu, apakah kau ingin masuk menjadi anggota?"

Bong Thian-gak tersenyum, "Sekarang aku tak punya beban tak punya ikatan, hidup bebas tanpa terikat oleh suatu apa pun, buat apa To-heng mesti memberi belenggu padaku?"

To Siau-hou ikut menghela napas panjang, "Cara untuk menjadi anggota perkumpulan kami selamanya sangat ketat, justru lantaran aku merasa amat berkesan kepada Ko-heng sejak pertemuan pertama, seakan-akan kita seperti sudah berteman lama saja, maka ... sudahlah! Ko-heng, di kemudian hari bila kau bersedia menjadi anggota perkumpulan kami, katakan saja kepadaku."

"To-heng memiliki watak yang gagah, terbuka, berjiwa besar dan hangat terhadap setiap orang, Siaute benar-benar telah mendapat seorang sahabat sehati."

Tiba-tiba To Siau-hou bangkit, kemudian katanya, "Kini aku sedang mendapat tugas rahasia dari Pangcu kami untuk menyelidiki beberapa persoalan di kota Kay-hong, tugas yang amat berat itu mesti kulakukan secepatnya, hingga tak ada waktu buat kita untuk banyak bicara, kalau begitu kita bersua lagi di lain waktu saja!"

Selesai berkata dia lantas menjura dalam-dalam kepada Bong

Thian-gak, setelah itu membalik badan dan beranjak pergi dari situ.

"Baik-baiklah menjaga dirimu To-heng, sampai jumpa lain waktu," seru Bong Thian-gak lantang.

Setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba To Siau-hou berhenti dan membalik tubuh, katanya, "Ko-heng, kini Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay telah menurunkan perintah untuk mencari dan membunuh dirimu, kau harus lebih waspada untuk menjaga diri!"

Mendengar itu Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Terima kasih banyak atas peringatan To-heng, aku bisa menghadapinya dengan hati-hati."

To Siau-hou tidak banyak bicara lagi, dia membalik badan dan melompat pergi, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.

Memandang bayangan punggung To Siau-hou yang menjauh, tiba-tiba Bong Thian-gak seperti kehilangan sesuatu, sobat barunya ini seakan-akan meninggalkan kesan yang amat mendalam dalam hatinya.

Pesan sebelum kepergian To Siau-hou tadi membuat Bong Thian-gak makin bertambah kesal, perintah yang diturunkan Ku-lo Hwesio itu kemungkinan besar bisa mengakibatkan dia saling bentrok dengan sesama saudara seperguruannya.

"Ai, apakah sebaiknya aku mengundurkan diri dan mengasingkan diri di tengah gunung yang terpencil?"

Bintang-bintang bertaburan di angkasa dan berkelip tiada henti, persis seperti perasaan Bong Thian-gak yang tak menentu sekarang, dia tidak tahu harusnya dia tetap tinggal di Kay-hong ataukah melanjutkan penyelidikannya atas pembunuh yang membinasakan gurunya itu?

Dia tahu, meski dunia persilatan kehilangan dia, namun dia bertekad tetap melakukan penyelidikan terhadap kematian gurunya. Agar mereka jangan sampai salah sasaran, dia memang sepantasnya mengundurkan diri dari keramaian dunia.

Angin dingin berhembus mengibarkan ujung baju Bong Thian-gak, dengan pikiran kusut pelan-pelan dia berjalan meninggalkan tempat itu. Malam terasa aneh dan penuh misteri.

Mendadak terdengar suara keliningan yang nyaring, membuat suasana malam menjadi bertambah misterius.

Mendengar suara itu, Bong Thian-gak segera berpaling, di tengah kegelapan malam segera terlihat olehnya bayangan sebuah tandu yang muncul dari balik kegelapan.

Rupanya suara keliningan itu berasal dari tandu itu.

Dengan kening berkerut Bong Thian-gak segera menyelinap ke balik semak belukar dan menyembunyikan diri, tampak olehnya tandu itu makin lama makin mendekat.

Itulah sebuah tandu kecil yang digotong dua orang, yang lebih mengherankan lagi, pemikul tandunya adalah dua orang gadis yang masih berusia muda, di sisi kanan tandu tampak pula seorang gadis mengiringi.

Tirai tandu ditutup rapat, sehingga tidak diketahui siapakah yang duduk dalam tandu itu.

Sekilas pandang kedua gadis muda itu nampak lemah- gemulai dan halus sekali, meski sedang memikul tandu, langkah mereka tetap cepat dan ringan, jelas orang-orang itu mempunyai kepandaian silat sangat tinggi.

Dengan cepat tandu misterius itu lewat di hadapan Bong Thian-gak dan bergerak menuju ke arah barat daya.

Memandang bayangan tandu yang menjauh, pelan-pelan Bong Thian-gak berjalan keluar dari balik semak belukar, kemudian dengan perasaan tidak mengerti ia menggeleng kepala berulang kali, pikirnya, "Pada umumnya pemikul tandu adalah laki-laki kekar, mana ada gadis muda yang menggotong tandu? Hendak kemanakah mereka?"

Perasaan ingin tahu yang meluap membuat anak muda itu segera mengerahkan tenaga dan mengejar ke arah bayangan tandu itu lenyap. Kurang lebih empat li sudah lewat, tapi anehnya bayangan tandu itu tidak nampak juga, malah suara keliningan yang amat nyaring itu pun sudah tak terdengar lagi.

Dengan tertegun Bong Thian-gak segera berpikir, "Masa secepat itu pemikul tandu itu berjalan? Mengapa bayangan mereka bisa lenyap? Ah, mungkinkah aku telah salah arah!"

Berpikir demikian, Bong Thian-gak segera membalik badan dan mencari kembali ke tempat semula.

Sekali pun dia sudah kembali ke semak belukar dimana dia menyembunyikan diri tadi, tandu itu belum juga ditemukan.

"Benar-benar aku sudah bertemu setan," gumam Bong Thian-gak dalam hati, untuk sesaat dia berdiri termangu di situ.

Mendadak di tengah heningnya suasana, lagi-lagi muncul seorang pejalan malam, ilmu meringankan tubuh orang itu hebat sekali, berjalan di tengah kegelapan seakan-akan segulung hembusan angin saja.

Dengan cekatan kembali Bong Thian-gak menyembunyikan diri di balik semak belukar.

Tak selang lama kemudian, pejalan malam itu sudah berhenti di hadapannya, sepasang matanya yang tajam tiada hentinya celingukan ke sana kemari melakukan pemeriksaan.

Melihat itu Bong Thian-gak berpikir, "Mungkin dari kejauhan orang ini melihat di sini ada bayangan orang!"

Ternyata dugaannya benar, terdengar orang itu bergumam, "Mungkin bayangan pohon cemara!"

Dia lantas mengembangkan Ginkangnya dan lewat di hadapan liong Thian-gak, orang itu bergerak menuju ke arah barat daya. Dengan sepasang mata Bong Thian-gak yang tajam, dia dapat melihat pakaian yang dikenakan orang itu adalah pakaian seragam pengawal gedung Bu-lim Bengcu.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Bong Thian-gak.

Dengan cepat ia mengembangkan Ginkang pula dan melakukan pengejaran.

Ginkang Bong Thian-gak telah mencapai puncak kesempurnaan, dengan selisih jarak puluhan depa, bagaikan sukma gentayangan saja dia menguntit dari belakang.

Setengah jam kemudian mendadak ia menyaksikan orang itu menyelinap ke balik hutan lebat di sisi jalan.

Bong Thian-gak segera melanjutkan penguntitannya melalui arah lain.

Hutan itu gelap gulita tak ada setitik sinar pun, tentu saja sulit bagi pemuda itu untuk mengawasi orang itu dengan lebih seksama.

Untung Bong Thian-gak memiliki ketajaman pendengaran, dari suara langkah kaki si pejalan malam menginjak dedaunan, ia bisa menduga orang itu berada di depannya dan sedang menerobos ke arah selatan hutan itu.

Setelah berjalan masuk ke dalam, tiba-tiba dari depan sana muncul setitik cahaya, ternyata di situ berdiri sebuah kuil.

Mimpi pun Bong Thian-gak tidak mengira dalam hutan lebat ini bisa tersembunyi sebuah kuil, dengan perasaan ingin tahu ia segera bersembunyi dalam hutan itu sambil menanti perkembangan selanjutnya yang akan terjadi.

Tampaknya kuil itu tidak berpenghuni, di dalam ruang gelap gulita tak nampak setitik cahaya lentera pun, lagi pula sebagian tembok pekarangannya sudah roboh, rumahnya juga kuno dan bobrok, suasana amat menyeramkan. Dengan memperingankan langkah kakinya, orang itu langsung bergerak menuju ke dalam kuil bobrok itu.

Mendadak dari ruang tengah kuil berkumandang suara teguran seorang perempuan, "Apakah kau adalah utusan yang dikirim Sam-kaucu (ketua ketiga)?"

Ketika mendengar teguran itu, orang itu nampak terperanjat, lalu buru-buru menjawab, "Be ... benar, hamba adalah Huhoat (pelindung) di bawah pimpinan Sam-kaucu, apakah Jit-kaucu (ketua ketujuh) sudah datang?"

Sekali lagi dari dalam ruang kuil berkumandang suara dengusan dingin perempuan itu, "Hm, Jit-kaucu telah datang sedari tadi, mengapa kau tidak segera berlutut menerima perintah?"

Lelaki berbaju hitam itu benar-benar bertekuk lutut mendengar perkataan itu, wajahnya nampak gugup dan tegang.

Sementara itu Bong Thian-gak yang bersembunyi dalam hutan pun diam-diam merasa terperanjat, "Sam-kaucu, Jit- kaucu, sebenarnya perkumpulan macam apakah itu? Kalau lelaki berbaju hitam itu salah satu di antara pengawal gedung Bu-lim Bengcu, penemuanku pada malam ini boleh dibilang penting sekali."

Dalam pada itu, dari dalam ruang kuil berkumandang lagi suara pembicaraan perempuan lain, perempuan itu sedang bertanya dengan suara hambar, "Kau adalah Huhoat nomor berapa di bawah Sam-kaucu?"

Suara perempuan ini merdu bagaikan burung nuri yang sedang berkicau, tapi di balik suara yang merdu itu terselip kewibawaan yang menggidikkan.

Dengan suara gemetar, lelaki berbaju hitam itu segera menjawab, "Hamba adalah pelindung nomor dua puluh sembilan Lo Gi." "Lo Gi?" kembali suara perempuan itu bertanya. "Tahukah kau di antara Kaucu dalam perguruan kita, Kaucu nomor berapakah yang mempunyai peraturan paling ketat?"

"Jit-kaucu!"

Perempuan dengan suara berwibawa itu kembali berkata, "Aku telah menunggu hampir setengah jam lamanya di tempat ini, persoalan apakah yang membuat kedatanganmu terlambat tiga perempat jam?"

"Secara tiba-tiba di gedung Bu-lim Bengcu diadakan pemeriksaan pasukan, oleh sebab itu hamba datang terlambat, harap Jit-kaucu sudi memaafkan dosa hamba ini."

Kepala Bong Thian-gak serasa mendengung keras sesudah mendengar tanya jawab itu, apa yang didengarnya ini ternyata benar, orang adalah mata-mata musuh yang sengaja diselundupkan ke dalam gedung Bu-lim Bengcu.

Ini berarti perguruan rahasia itulah yang sesungguhnya musuh umum seluruh umat persilatan.

Sementara itu dari dalam ruang kuil kembali terdengar Jit- kaucu berkata, "Perintah apakah yang diberikan Sam-kaucu untuk disampaikan kepadaku? Cepat katakan."

"Sam-kaucu hanya menyerahkan tiga hal, pertama, ia minta pada Jit-kaucu untuk menyelidiki seorang yang bernama Ko Hong."

"Manusia macam apakah Ko Hong itu? Mengapa harus Kaucu yang melakukan penyelidikan ini?" tegur Jit-kaucu dari dalam ruangan dengan suara sedingin es.

"Sam-kaucu yang mengharapkan demikian, menurut Sam- kaucu, Ko Hong mempunyai ciri khas, dia berwajah kuning macam orang penyakitan, kaki kirinya pincang, ilmu silatnya amat lihai dan usianya antara dua puluh tujuh-delapan tahunan." "Sam-kaucu menitahkan kepada Jit-kaucu untuk menyelidiki asal-usulnya dan berusaha menariknya agar bergabung dengan perkumpulan kita, apabila usaha ini mustahil, mumpung belum menimbulkan ancaman, dia mesti cepat disingkirkan dari muka bumi."

Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu menjadi amat terkesiap, dia tidak menyangka perkumpulan ini pun akan turun tangan keji terhadapnya.

Jit-kaucu yang berada dalam ruangan kuil nampaknya sedang termenung, selang beberapa saat kemudian ia baru bertanya, "Masih ada persoalan apa lagi, cepat katakan."

"Kedua, menurut Sam-kaucu, beberapa hari mendatang mungkin Yu Heng-sui hendak menuju ke kantor cabang kita untuk melakukan penyelidikan, bila perlu Jit-kaucu boleh mengambil keputusan sendiri untuk menentukan mati hidupnya."

Berita ini lagi-lagi membuat Bong Thian-gak terperanjat, cepat pikirnya, "Entah dimanakah letak kantor cabang mereka? Bila aku tidak berusaha keras memberitahu kabar ini kepada Ji-suheng, bisa jadi keselamatan Ji-suheng akan terancam mara bahaya!"

Sementara itu lelaki berbaju hitam berkata lagi, "Soal ketiga, kata Sam-kaucu, Cap-go-kaucu (ketua kelima belas) pernah mengirim pembunuh ke gedung Bu-lim Bengcu untuk melenyapkan jiwa Ko Hong, tapi usaha pembunuhan itu menemui kegagalan, malah rahasia Sin-li-tui (pasukan gadis suci) perkumpulan kita ikut bocor, kemungkinan hal itu akan mempengaruhi rencana kita secara keseluruhan, Sam-kaucu minta Jit-kaucu menyampaikan berita ini kepada Cong-kaucu untuk menetapkan langkah selanjutnya dari Cap-go-kaucu."

"Hanya tiga soal inikah yang dipesankan Sam-kaucu?" tanya Jit-kaucu hambar.

"Benar!" Pelan-pelan Jit-kaucu berkata lagi, "Peraturan perkumpulan kita amat ketat, tak mengizinkan anggota partai melakukan kesalahan?"

Lelaki berbaju hitam itu nampak tertegun, kemudian sahutnya, "Bagi yang melakukan kesalahan berat hukumannya mati, sedangkan yang ringan disekap untuk menyesali dosanya."

"Lo Gi, kemari kau," tiba-tiba Jit-kaucu berkata dengan suara pelan.

Tampaknya lelaki berbaju hitam itu belum tahu bencana besar sudah berada di ambang mata, dengan menurut sekali dia berjalan m.isuk ke dalam ruangan.

Ruangan itu gelap gulita tak nampak setitik cahaya pun, semenjak lelaki berbaju hitam itu masuk ke dalam, suasana sekeliling tempat itu hei ubah menjadi hening, sepi dan tak terdengar sedikit suara pun ....

Dengan mengerahkan segala kemampuannya, Bong Thian- gak mencoba memeriksa sekeliling ruang itu, namun belum juga ditemukan suatu gerakan pun, lama-kelamaan timbul juga rasa curiga dalam hatinya, dia segera berpikir, "Aneh!

Paling tidak dalam ruangan itu terdapat dua orang atau lebih, ditambah orang berbaju hitam yang masuk ke dalam, mengapa dalam waktu singkat suasana berubah menjadi hening dan tak terdengar sedikit pun suara?"

Bong Thian-gak menunggu lagi hingga setengah jam lamanya, akan tetapi suasana dalam ruangan tetap hening.

"Jangan-jangan mereka sudah kabur melalui ruang belakang?" Ingatan itu dengan cepat melintas dalam benaknya.

Berpikir sampai di situ, Bong Thian-gak segera menyumpah dalam hati, "Siluman rase, benar-benar licik kau!" Dia segera melompat keluar dari dalam hutan dan berlari ke arah gedung utama dengan kecepatan tinggi.

Mendadak Bong Thian-gak menyaksikan lelaki berbaju hitam itu masih berlutut di depan pintu kuil itu.

"Jangan-jangan mereka belum pergi?" diam-diam Bong Thian-gak hrrpikir.

Tapi untuk menyelidiki asal-usul perkumpulan lawan dan untuk membalas dendam bagi kematian gurunya, bagaimana pun juga dia harus menawan musuh dalam keadaan hidup.

Tanpa rasa jeri barang sedikit pun, selangkah demi selangkah Bonng Thian-gak berjalan menuju ruang kuil.

Siapa tahu kendati dia sudah berdiri di belakang lelaki berbaju hitam itu, suasana dalam ruangan kuil masih tetap hening tak terdengar suara apa pun, lelaki berbaju hitam yang sedang berlutut itu pun tak berpaling.

Bong Thian-gak tertawa dingin, dengan satu lompatan lebar dia menerjang masuk ke dalam ruangan tengah, lalu tangan kirinya secepat kilat mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan lelaki itu.

Siapa tahu tangannya yang berhasil mencengkeram nadi lawan hanya menyentuh tubuh yang telah dingin dan kaku, tubuh lelaki itu tahu-tahu roboh terjengkang ke tanah.

Di bawah cahaya bintang yang menyinari sekitar situ, Bong Thian-gak menemukan wajah yang amat tak sedap dipandang dari lelaki berbaju hitam itu, saking kagetnya ia sampai melepas cengkeramannya dan mundur.

Ternyata lelaki itu sudah tewas, wajahnya pucat-pias, seluruh daging wajahnya telah lenyap sehingga wujudnya sekarang tinggal kulit membungkus tulang.

"Ah, keadaan seperti ini agaknya seperti amat kukenal!" pikir pemuda itu kemudian. Tapi dengan cepat Bong Thian-gak teringat mayat Kongsun Phu-ki, mayat mereka berdua pada hakikatnya mirip sekali.

Menurut penilaian Ku-lo Hwesio, sebab kematian Kongsun Phu-ki adalah kehabisan sumsum akibat hubungan senggama yang kelewat batas, tapi lelaki berbaju hitam ini tak melakukan hubungan senggama, mengapa dia pun tewas akibat kehabisan sumsum?

"Ilmu silat apakah itu? Ya, ilmu silat apakah itu? Mengapa dia bisa menghisap sari tubuh lelaki kekar yang nampak bertubuh segar menjadi sesosok mayat yang bertubuh kulit membungkus tulang hanya dalam sekejap mata?"

Betul-betul suatu peristiwa yang amat mengerikan. Sebetulnya perempuan macam apakah Jit-kaucu itu?

Dari sini dapat disimpulkan bahwa kematian Kongsun Phu- ki pun. disebabkan perbuatan Jit-kaucu ini.

Dengan cepat Bong Thian-gak masuk ke ruang tengah, menembus dua halaman dan di belakang kuil dia menemukan sebuah hutan yang amat lebat.

Tanpa pikir panjang lagi, dia segera memasuki hutan lebat itu.

Dari balik hutan yang sangat lebat dan seakan-akan tak bertepian itu, mendadak terdengar suara bentakan nyaring.

Bagaikan seorang yang tersesat di padang gurun pasir dan secara tiba-tiba menemukan sumber mata air saja, Bong Thian-gak segera mengerahkan Ginkangnya menyusul ke depan.

Di tengah semak belukar yang lebat, akhirnya ia temukan sebuah landu kecil diparkir di sana, dua gadis muda berbaju hijau memikul tandu itu, sedang gadis berbaju hijau lainnya berdiri di muka tandu dengan senjata terhunus. Di depan gadis berbaju hijau yang bersenjata terhunus itu berdiri seorang pemuda berbaju compang-camping yang berwajah tampan.

Dengan cepat Bong Thian-gak dapat mengenali pemuda itu sebagai To Siau-hou, anggota Kay-pang yang baru saja dikenalnya semalam.

Sementara itu To Siau-hou juga sudah mengenali Bong Thian-gak, paras mukanya segera berubah hebat.

Rupanya To Siau-hou salah mengira Bong Thian-gak berasal sealiran dengan gadis-gadis itu, sambil tertawa dingin ia menyindir, "Sungguh tak kusangka kau adalah pelindung bunga. Hahaha, bila begitu aku telah salah memilih teman."

"To-heng, jangan salah paham," buru-buru Bong Thian-gak berkata. "Aku sama sekali tak punya hubungan apa-apa dengan mereka."

"Kalau memang demikian, harap Ko-heng berpeluk tangan saja di sisi arena!"

Sementar itu si gadis bersenjata pedang telah menuding ke arah To Siau-hou sambil membentak, "Hei, kau si pengemis, mengapa berdiri menghadang di tengah jalan? Memangnya telah bosan hidup?"

To Siau-hou tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, tidak sulit bila tandu nona ingin lewat tempat ini, cuma aku harus memeriksa dulu orang macam apakah yang sedang duduk di dalam tandu itu."

Bong Thian-gak menyaksikan semua itu, dengan cepat ia dapat menduga orang yang berada dalam tandu itu pasti adalah Jit-kaucu yang keji dan tak berperi-kemanusiaan itu.

Ketika nona baju hijau selesai mendengarkan ucapan itu, alisnya segera bekernyit, hawa membunuh menyelimuti wajahnya, dia segera membentak, "Rupanya kau ingin mampus!" Mendadak dia menekuk pinggang, lalu secepat sambaran petir menerjang ke muka dan melepas bacokan kilat.

To Siau-hou menggoyang bahu berkelit tiga kali ke samping, kemudian melangkah maju menghampiri tandu kecil itu

Gadis berbaju hitam itu membentak nyaring, jurus pedangnya segera berubah, beruntun dia melancarkan tiga buah serangan berantai, cahaya tajam yang berkilau bagaikan beribu bintang dengan cepat menyapu ke depan dan mengurung sekujur badan To Siau-hou.

Terdesak oleh tiga serangan berantai itu, To Siau-hou mundur dua langkah, bayangan orang berkelebat, lagi-lagi gadis berbaju hitam itu sudah melintangkan pedangnya menghadang di depan tandu.

Rupanya To Siau-hou dibikin gusar pula oleh perbuatan musuh, keningnya berkerut dan matanya memancarkan cahaya berkilauan, pelan-pelan tangan kanannya mencabut sebatang tongkat bambu dari balik bahunya.

Dengan tangan kiri menggenggam tongkat bambu, tangan kanan pelan-pelan bergerak ke muka, sebilah pedang tajam tahu-tahu sudah dilolos pula dari sarungnya.

Pada saat itulah dari dalam tandu berkumandang suara merdu dan lembut menegur hambar, "Aku duga kau pastilah Giok-bin-giam-lo (Raja akhirat berwajah kemala) To Siau-hou, salah satu di antara Cho-yu-siang-siau (Sepasang muda kiri kanan) yang mendampingi Liong-thau Pangcu dari Kay-pang!"

Cho-yu-siang-siau dari Kay-pang jarang melakukan perjalanan di Bu-lim, oleh sebab itu nama mereka jarang diketahui orang, agak terperanjat juga hati To Siau-hou setelah nama dan julukannya berhasil disebut orang secara tepat. Sambil melintangkan pedang di depan dada, ia segera membentak dengan suara dalam, "Siapakah kau?"

"Jit-kaucu!"

"Bagus sekali, Jit-kaucu. Sebelum Bu-siang-long-hou-ciang dari perkumpulan kami menemui ajal, ia pernah menyinggung nama besar Jit-kaucu, sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apakah saudara kami ini tewas di tanganmu?"

"Dia tewas di tangan Ji-kaucu (ketua kedua)!" jawab Jit- kaucu dengan suara dingin.

"Siapakah Ji-kaucu itu?" bentak To Siau-hou dengan kening berkerut.

"Pertanyaanmu itu terlalu lampau bersifat kekanak- kanakan, Jikaucu adalah Ji-kaucu, kau tak usah banyak bertanya lagi."

Bong Thian-gak berkerut kening mendengar ucapan itu, belum pernah ia jumpai suatu perkumpulan dengan sejumlah pimpinan begini aneh, ditinjau dari pembicaraan malam ini, lalu dianalisa kembali, dapat disimpulkan bahwa pimpinan tertinggi organisasi rahasia ini mungkin disebut "Kaucu!".

Sedang orang yang paling berkuasa di antara deretan Kaucu-kaucu itu tentulah Cong-kaucu (Kaucu nomor satu), tapi berapa banyak Kaucu yang terdapat dalam perkumpulan itu?

Dari pembicaraan malam ini, agaknya angka terbesar yang pernah disebut adalah kelima belas, yakni Cap-go-kaucu.

Sementara itu Giok-bin-giam-lo To Siau-hou tertawa dingin, lalu ujarnya, "Jika aku berhasil membekuk kau malam ini, aku tak kuatir anak murid perguruanmu itu tak akan menampakkan batang hidungnya."

"Begitu yakin akan kemampuanmu?" "Mengapa tidak dibuktikan saja!" seru To Siau-hou sambil tertawa nyaring.

Mendadak terdengar Jit-kaucu berseru, "Turunkan tandu, kalian bertiga boleh segera mengundurkan diri!"

Begitu perintah diturunkan, kedua gadis berbaju hitam segera menurunkan tandu, lalu bersama gadis berpedang mengundurkan diri dengan cepat ke sisi kiri, kanan dan belakang tandu.

Giok-bin-giam-lo To Siau-hou segera merentangkan pedang di depan dada, kemudian tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, kalau begitu aku ingin mencoba sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang kau miliki!"

Mendadak terdengar Bong Thian-gak membentak dengan suara dalam, "Tunggu dulu!"

Dengan langkah lebar dia berjalan mendekat, lalu sambil menjura kepada To Siau-hou, katanya, "To-heng, harap kau bersedia memberi kesempatan bagiku mengajukan beberapa pertanyaan dulu kepadanya sebelum pertarungan dilakukan!"

Giok-bin-giam-lo To Siau-hou memandang sekejap ke arah Bong Ihian-gak, kemudian katanya, "Silakan Ko-heng!"

Dengan suara lantang Bong Thian-gak berseru, "Jit-kaucu, dengar baik-baik! Aku punya beberapa persoalan yang tak kupahami dan ingin minta petunjuk darimu, aku harap kau sudi memberi petunjuk!"

"Soal apa? Katakan saja!" ucap Jit-kaucu dari dalam tandu dengan suara hambar.

"Aku ingin bertanya, Bu-lim Bengcu Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu tewas dalam keadaan bagaimana?"

"Ada hubungan apa antara kau dan Oh Ciong-hu?" Jit- kaucu balik bertanya.

"Kami adalah sahabat!" Jit-kaucu termenung beberapa saat lamanya, setelah itu baru berkata lagi, "Sebab kematian Oh Ciong-hu hanya diketahui satu orang saja dan orang itu bukan diriku sehingga aku pun tak bisa memberikan keterangan apa-apa kepadamu."

"Apakah orang itu adalah Cong-kaucu perkumpulan kalian?" "Benar!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak, kembali dia bertanya, "Apa nama perkumpulan kalian?"

Jit-kaucu yang berada di dalam tandu tertawa riang, "Sejak saat ini nama perkumpulan kami akan berkumandang di seluruh penjuru dunia dan membekas dalam hati setiap orang, kuberitahukan kepadamu pun tak ada salahnya, perkumpulan kami bernama Put-gwa-cin-kau!"

"Put-gwa?" seru Bong Thian-gak terperanjat.

"Put-gwa (tiada aku) merupakan persembahan kita terhadap partai, demi kepentingan partai, kami tak akan mempersoalkan hati sendiri, tubuh dan hati kami semua adalah milik partai."

"Benarkah Cong-kaucu kalian adalah Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng!"

"Benar atau tidak, maaf aku tak bisa memberitahukan kepadamu."

Tiba-tiba Bong Thian-gak menghela napas panjang. "Baiklah, terima kasih banyak atas jawabanmu!" katanya kemudian.

Selesai berkata, dia lantas mengundurkan diri ke samping To Siau-hou sambil berbisik, "To-heng, orang ini memiliki ilmu pukulan yang amat sakti dan jahat sekali, kau harus berhati- hati."

"Andai aku mati, tolong Ko-heng sudi mengirim jenazahku kembali ke markas Kay-pang!" Dalam pada itu Jit-kaucu hanya duduk diam di dalam tandu, tirai tandu masih tertutup rapat sehingga secara lamat- lamat cuma nampak bayangan orang saja.

Dengan pedang terhunus To Siau-hou berjalan ke muka dan baru berhenti di depan tandu, kemudian tegurnya, "Jit- kaucu, dengan cara inikah kau hendak menerima seranganku?"

"Hm, tak usah banyak bicara, lancarkan saja seranganmu!" seru Jit-kaucu dingin.

Dengan kening berkerut To Siau-hou segera mengayun pedang menyambar tirai tandu.

"Kau ingin mampus rupanya!" bentakan nyaring berkumandang.

Bagaikan sukma gentayangan tiba-tiba muncul sebuah lengan putih mulus dari balik tandu, kemudian jari tangannya yang ramping menyentil ke muka.

Pedang To Siau-hou terpental oleh suatu kekuatan maha dahsyat.

"Aduh, celaka!" pekik To Siau-hou.

Dia ingin membuang pedangnya sambil mundur, siapa tahu telapak tangan membalik ke atas. Sekilas cahaya merah segera memancar keluar, segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat bagaikan gelombang ombak di tengah samudra langsung menghajar tubuh To Siau-hou. 

Dengusan tertahan bergema, To Siau-hou berikut pedangnya terpental oleh tenaga pukulan yang maha dahsyat itu.

Sekali pun sepasang kakinya dapat mencapai tanah lebih dahulu hingga tubuhnya tidak terbanting, tak urung tubuhnya berguncang keras, lutut gemetar dan hampir saja tak sanggup menahan diri.

Dengan cepat Bong Thian-gak memburu ke muka, serunya dengan cemas, "To-heng, parahkah lukamu?"

Sementara itu peluh dingin telah bercucuran membasahi wajah To Siau-hou, kulit mukanya mengejang menahan penderitaan yang luar biasa, katanya dengan suara gemetar, "Ilmu silat perempuan ini teramat hebat, harap Ko-heng jangan menghadapinya dengan kekerasan."

Kedua gadis muda itu sudah menggotong kembali tandunya dan siap berlalu dari situ.

Dengan cepat Bong Thian-gak melompat ke depan sambil membentak nyaring, "Tunggu sebentar!"

Sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan melepas dua gulung angin pukulan dahsyat ke tubuh kedua gadis muda itu.

"Turunkan tandu dan cepat mundur!" seruan nyaring Jit- kaucu berkumandang dari balik tandu.

Tapi sayang, keadaan terlambat, kedua gulung angin pukulan Bong Thian-gak secepat sambaran petir telah menyapu ke depan.

Dua jeritan kaget segera berkumandang memecah keheningan.

Kedua gadis pemikul tandu terhantam oleh kedua gulung angin pukulan itu hingga badannya terpental dan roboh terjengkang ke atas tanah.

Tandu kecil itu pun terjatuh ke tanah.

Begitu berhasil menyapu kedua gadis itu, dengan serangan bagaikan naga sakti bermain di udara, Bong Thian-gak segera menerjang tandu itu. Mendadak sebuah pergelangan tangan menerobos keluar dari balik tandu, dengan cepat Bong Thian-gak mengayun telapak tangan kanannya melepaskan sebuah bacokan dengan kecepatan tinggi.

Tetapi telapak tangan lawan bergerak sangat lincah, sedikit menggeser tahu-tahu sudah terhindar dari bacokan, kemudian dengan lima jari dibentangkan bagaikan kaitan, dia balik mematuk pergelangan tangan kanan Bong Thian-gak.

Begitulah, kedua jago lihai masing-masing melepas serangan dengan menggunakan tangan sebelah, kedua belah pihak bergerak dengan kecepatan luar biasa serta kelincahan yang mengagumkan. Pertarungan berlangsung bertambah sengit.

Perlu diketahui, arah ancaman serangan kedua orang itu selalu berkisar antara jalan darah Huo-ko-hiat dan Meh-bun- hiat, padahal kedua jalan darah itu merupakan Hiat-to mematikan di tubuh manusia, sekali salah perhitungan maka akibatnya akan mengenaskan.

Bong Thian-gak membentak keras, tiba-tiba dia mengayun kaki kanannya menendang urat nadi pergelangan tangan lawan, kemudian tangan kanan menyambar ke bawah mencengkeram tirai yang menutup tandu itu.

Agaknya Jit-kaucu yang berada dalam tandu pun sudah dibikin berkobar amarahnya, tangannya bagaikan ular lincah yang keluar dari gua bergerak kian kemari dengan teramat cepat, secara lincah dan cekatan dia selalu berhasil meloloskan diri dari serangan gencar Bong Thian-gak.

Mendadak Jit-kaucu menarik telapak tangannya ke dalam, tapi secara tiba-tiba dikeluarkan kembali, selisih waktunya hanya beberapa detik saja.

Ketika telapak tangannya keluar dari balik tirai, sekilas cahaya merah segera memancar keempat penjuru. Bong Thian-gak segera tahu perempuan itu hendak mengeluarkan ilmu pukulan maha saktinya, dia membentak keras, segenap tenaga dalamnya dihimpun pada tangan kiri, lalu diayun ke muka mengikuti gerakan tubuhnya yang menyelinap keluar.

Dalam waktu singkat dua gulung tenaga pukulan telah saling bentur, ledakan nyaring menggelegar, pusaran angin disertai desingan angin tajam menderu-deru di angkasa.

Bong Thian-gak melayang turun, berbareng tangan kanannya telah bertambah dengan sebuah kain cadar hitam, akhirnya wajah asli Jit-kaucu kelihatan juga di depan mata.

Setelah tirai tandu terlepas, tampaklah di dalam tandu duduk seorang gadis cantik berbaju biru, sepasang matanya jeli memancarkan sinar tajam membetot sukma, saat itu sorot matanya sedang memandang wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.

Sebaliknya Bong Thian-gak yang dapat melihat wajah cantik dalam tandu itu segera merasa tubuhnya gemetar keras tanpa terasa, cadar itu sudah terlepas ke atas tanah.

Ternyata raut wajah si nona cantik ini amat dikenal olehnya, sekali pun memejamkan mata Bong Thian-gak pun bisa melukiskan setiap bagian tubuhnya secara nyata dan jelas.

"Ah, rupanya dia!" pekik anak muda itu dalam hati.

Dia menggeleng kepala berulang kali sambil memejamkan mata, kemudian sekali lagi menatap wajah gadis itu lekat- lekat.

"Ya, betul! Memang dia, dialah si gadis telanjang bulat di rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau."

Sementara itu perempuan cantik dalam tandu itu seolah teringat pula akan sesuatu persoalan setelah menyaksikan sikap Bong Thian-gak yang melongo itu, dia pun berseru tertahan, lalu mukanya berubah merah padam, tubuhnya gemetar keras karena emosi.

Suasana hening menyelimuti tempat itu, sepasang muda- mudi itu dengan membawa rahasia masing-masing hanya termenung sambil membungkam.

Dalam keadaan demikian, bukan cuma To Siau-hou saja, bahkan ketiga gadis berbaju hijau pun tidak habis mengerti apa sebabnya kedua orang itu tertegun dan termangu-mangu seperti orang kehilangan sukma setelah saling bertatap muka.

Mendadak terdengar Jit-kaucu yang berada dalam tandu berkata, "Sialan, bocah keparat yang tidak tahu malu!"

Ucapan itu membuat Bong Thian-gak merasa malu sekali sehingga menundukkan kepala, namun dia tak mengucapkan sepatah kata pun.

Mendadak terdengar Jit-kaucu membentak keras, "Ing Soat, kalau tidak pergi mau tunggu apa lagi?"

Kedua gadis pemikul tandu dan gadis baju hijau yang membawa pedang buru-buru mengangkat tandu kecil itu dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun berlalu dari situ.

Suara keliningan nyaring berkumandang makin menjauh.

Menanti suara keliningan itu menjauh, Bong Thian-gak seolah baru mendusin dari lamunannya, ia berseru tertahan sambil berpaling.

Dijumpainya Giok-bin-giam-lo To Siau-hou telah menempelkan pedang di atas pinggang kiri sendiri.

"To-heng, apa maksudmu?" tegur Bong Thian-gak. Dengus napas To Siau-hou agak tersengal, katanya,

"Siapakah perempuan itu?"

"Siapa lagi, tentu saja Jit-kaucu!" sahut Bong Thian-gak dengan wajah tertegun. To Siau-hou tertawa dingin, "Ko-heng, kau tak usah berlagak pilon, sewaktu mata kalian saling bertemu, paras muka kalian berdua segera berubah tak menentu, sudah jelas kalian adalah kenalan lama, mengapa Ko-heng mengatakan tidak tahu?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, betul, sebelumnya aku memang pernah sekali berjumpa dengannya, tapi aku tidak tahu siapakah dia. Ucapan Siaute adalah sejujurnya bila aku bohong biar Thian mengutuk aku!"

Mendadak To Siau-hou menarik kembali pedangnya, kemudian dia muntah darah sebanyak dua kali, setelah mundur sempoyongan, tubuhnya roboh terjengkang ke tanah.

Menanti Bong Thian-gak membalik tubuhnya, To Siau-hou sudah tergeletak dengan wajah pucat-pias seperti mayat, tanpa terasa teriaknya dengan terkejut, "To-heng, mengapakah kau?"

"Ko-heng, maafkanlah aku, aku telah salah sangka kepadamu," bisik To Siau-hou dengan lemah. "Aku.mungkin sudah tak bisa ditolong lagi! Ilmu pukulannya sangat jahat dan lihai ... sekarang tubuhku mulai terasa berkerut kencang, sekujur tubuhku kedinginan setengah mati."

Bong Thian-gak pernah menyaksikan bagaimana cara Jit- kaucu membunuh orang, ia menjadi terperanjat sekali, segera pikirnya, "Entah apa nama pukulan ilmu saktinya itu? Aku tak bisa ilmu pengobatan. Ai, apa yang mesti kulakukan sekarang?"

Makin dipikir hatinya semakin gelisah sehingga tanpa terasa dia menghentakkan kaki ke tanah, serunya kemudian, "To- heng, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Agaknya To Siau-hou sudah tahu tiada harapan baginya untuk hidup, sikapnya malah tampak jauh lebih tenang, katanya, "Ko-heng, setelah aku mati, tolong antarkan jenazahku ke markas besar Kay-pang di Sucwan, kemudian ceritakanlah nasib yang kualami ini kepada guruku, ketua Kay- pang. "

"To-heng, cepat kau pikirkan sebentar apakah di sekitar sini ada tabib pandai!" seru Bong Thian-gak gelisah.

Sambil tertawa getir To Siau-hou menggeleng kepala berulang kali, "Tidak ada! Sebelum menemui ajal Bu-siang- long-hou-ciang pernah berkata bahwa Jit-kaucu telah berhasil memiliki sejenis ilmu pukulan maha sakti yang tiada tandingan di dunia ini, barang siapa terkena pukulannya itu, hanya kematian yang akan dialaminya, tiada obat yang hisa menyembuhkannya!"

"Ai, aku memang kelewat tinggi hati dan gegabah, sekali pun tahu kelihaian ilmu pukulan lawan, aku tetap nekat menghadapinya, aku memang patut mampus!"

Cepat Bong Thian-gak menggeleng, katanya, "Tiada pukulan yang tak bisa disembuhkan di dunia ini, asal diketahui namanya, aku bisa mengusahakan penyembuhan bagimu.

Cuma aku kuatir waktu tidak mengizinkan lagi."

"Aku pun mengerti sedikit ilmu pertabiban, menurut keadaan luka yang kuderita sekarang, mungkin tak akan bisa bertahan sampai tengah malam nanti."

Tiba-tiba Bong Thian-gak berkata, "To-heng, mari kubimbing kau pergi ke tempat sepi, kemudian aku akan mencari Jit-kaucu, aku akan bertanya kepadanya ilmu pukulan apa yang telah dia pergunakan untuk melukai dirimu."

"Terima kasih Ko-heng!" To Siau-hou tertawa sedih. "Ilmu silat Jit-kaucu sudah kau ketahui sendiri, bila Ko-heng mengalami hal-hal yang tak diinginkan gara-gara urusanku, bagaimana mungkin arwahku di alam baka bisa tenteram?"

Mencorong sinar tajam di balik mata Bong Thian-gak, serunya, "Kecuali berbuat demikian, tiada cara lain yang bisa dipakai untuk menyelamatkan nyawa To-heng." Meski hanya beberapa patah kata yang singkat, namun terpancar sifat ksatria dan kegagahan Bong Thian-gak.

"Ko-heng, budi kebaikanmu sungguh sangat mengharukan, sampai mati pun Siaute tak akan melupakanmu."

Bong Thian-gak tak bicara lagi, dia segera memayang To Siau-hou dan membawanya ke balik semak yang agak tersembunyi, lalu katanya, "Harap To-heng menunggu di sini, Siaute akan segera mengejar Jit-kaucu, paling lambat satu setengah jam aku akan balik ke sini."

"Tidak usah! Lebih baik menemani aku saja di sini!" "To-heng!" seru Bong Thian-gak dengan suara dalam.

"Meski kau menganggap kematian bagaikan pulang ke rumah,

tapi pernahkah kau bayangkan kematianmu merupakan hilangnya seorang Enghiong bagi dunia Kangouw? Pihak manusia laknat akan kehilangan musuh tangguh?"

Air mata meleleh membasahi wajah To Siau-hou, serunya pelan, "Ko-heng, bila kepergianmu mengundang bencana bagimu sendiri, dunia persilatan lebih-lebih akan kehilangan seorang pendekar berjiwa ksatria, apa lagi dengan kematian kita berdua maka tak ada yang tahu siapakah pembunuh kita itu."

"Tak usah kuatir, To-heng” ucap Bong Thian-gak sambil menahan rasa pedih dalam hati. "Aku tak bakal mati di tangan Jit-kaucu, nah, aku pergi dulu."

Tidak menanti jawaban To Siau-hou lagi, dia segera melompat bangun dan berlalu dari situ dengan mengerahkan Ginkangnya.

Sejak dapat melihat jelas raut muka Jit-kaucu, Bong Thian- gak yakin dia adalah gadis yang pernah dijumpainya di Kang- san-bi-jin-lau, maka dia segera mengerahkan Ginkangnya menuju ke Kay-hong. Tak lama kemudian Bong Thian-gak telah masuk ke kota Kay-hong, buru-buru dia menuju ke tempat hiburan dan berhenti di luar rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau.

Setelah ragu sejenak, dia membalik badan menuju ke halaman belakang, dari situ dia masuk dengan melompati pagar, ketika tiba di luar loteng, ia saksikan cahaya lentera menerangi seluruh ruangan, sesosok bayangan bertubuh indah sedang duduk di dekat jendela.

Bong Thian-gak memeriksa sekeliling tempat itu, ia jumpai cahaya lampu pun menerangi hampir setiap jendela, suara pembicaraan tiada hentinya berkumandang, tapi di halaman kecil yang terpencil itu justru suasananya amat hening, tak seorang pun ditemukan di situ.

Tanpa ragu lagi dia melompat naik ke atas pagar loteng, agaknya perempuan cantik di balik jendela telah mengetahui kedatangannya, dia menggoyang sedikit kepalanya untuk berpaling, sementara tubuhnya masih tetap duduk di kursi.

Setelah berdehem pelan, Bong Thian-gak segera menyapa, "Jit-kaucu di dalam?"

Perempuan cantik di balik jendela tidak bergerak, tapi terdengar ia menegur dengan suara sedingin es, "Kau adalah berandal hidung htingor, besar betul nyalimu!"

"Jit-kaucu, aku bukan berandal cabul "

Tidak menanti Bong Thian-gak menyelesaikan kata- katanya, kembali perempuan itu mengumpat, "Kalau kau bukan berandal cabul hidung bangor, mengapa di tengah malam buta mengintip kamar tidur kaum wanita?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, pada peristiwa kemarin dulu, biar kujelaskan nanti secara pelan- pelan, malam ini aku ”

"Ada urusan apa?" "Aku ingin bertanya kepada Jit-kaucu, dengan ilmu pukulan apakah kau melukai Giok-bin-giam-lo?"

"Dia belum mampus?" tanya perempuan itu hambar. "Belum, tapi sudah tak jauh dari ambang pintu kematian."

"Kalau sudah mampus lebih baik lagi, buat apa kau menanyakan ilmu pukulan yang kupakai untuk membunuhnya?"

Bong Thian-gak mengerut dahi, lalu menjawab dengan suara dalam, "Mengapa kau memandang enteng nyawa manusia? Ketahuilah, Thian menciptakan manusia dengan harapan banyak berbuat kebajikan, kegemaran Jit-kaucu membunuh orang benar-benar telah melanggar perintah Thian."

Tiba-tiba perempuan cantik itu tertawa dingin, suaranya amat menyeramkan penuh dengan nada membunuh, membuat orang yang mendengar berdiri bulu kuduknya.

Mendadak suara tawa itu sirap, lalu terdengar perempuan cantik itu bertanya lagi dengan hambar, "Kau berani masuk kemari?"

Terkesiap hati Bong Thian-gak, segera sahutnya, "Mengapa tidak?"

Sambil berkata, pelan-pelan Bong Thian-gak berjalan menuju ke pintu dan mendorongnya.

Pintu itu tidak terkunci dan segera terbuka ketika didorong, Bong Thian-gak yang berilmu tinggi dan bernyali besar segera melangkah masuk dengan dada dibusungkan.

Waktu itu Jit-kaucu sedang duduk membelakangi pintu, sekali pun tahu Bong Thian-gak masuk, namun sama sekali ia tidak berpaling, hanya tangan kirinya yang putih bersih menuding ke sebuah kursi bulat di sampingnya, katanya, "Duduklah!" Dengan sorot mata tajam Bong Thian-gak memandang sekejap kursi bulat itu, setelah tidak melihat sesuatu gejala aneh, dia pun menurut dan berduduk.

Kini separoh wajah nona yang cantik sudah kelihatan dengan jelas.

Di bawah cahaya lentera, terlihat jelas perempuan itu memang berwajah cantik jelita, kecantikannya ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Diam-diam Bong Thian-gak menghela napas, pikirnya, "Dengan wajah yang begitu cantik, mengapa justru dilahirkan dengan hati yang busuk, jelek dan jahat? Ai, benar-benar patut disayangkan!"

Mendadak terdengar Jit-kaucu menegur, "Hei, apa yang sedang kau pikirkan?"

Suaranya merdu bagai kicau burung nuri, sungguh mempesona hati siapa pun.

Entah sedari kapan Jit-kaucu telah membalikkan badan, kini jarak kedua orang itu dekat sekali, ketika angin berhembus, terendus bau harum semerbak yang membuat hati menjadi mabuk.

Bong Thian-gak menarik napas, kemudian berkata dengan suara nyaring, "Aku sedang berpikir, mengapa Kaucu berwajah begitu cantik."

"Dan kau pun sedang berpikir, mengapa hatiku begitu kejam tak kenal perasaan begitu, bukan?" sela Jit-kaucu sambil tersenyum.

Bong Thian-gak tertegun, kemudian ujarnya, "Benar-benar amat lihai! Darimana kau tahu akan jalan pikiranku?"

Tiba-tiba paras muka Jit-kaucu berubah hebat, serunya lagi, "Nyalimu sungguh besar, mungkin di kolong langit dewasa ini belum ada orang kedua yang berani duduk sedemikian dekat denganku."

"Bila Jit-kaucu hendak turun tangan keji kepadaku, tadi kau sudah turun tangan!"

Jit-kaucu segera bangkit, lalu pelan-pelan berjalan menuju ke depan pintu, dia mendongakkan kepala memandang kegelapan malam, sambil membetulkan rambutnya yang panjang terurai ia berjalan kembali.

Langkah kakinya yang lemah gemulai itu sangat menawan dan mendatangkan daya pikat, pada hakikatnya kecantikan maupun gerak-gerik perempuan itu dapat membuat orang lupa daratan.

Pelan-pelan dia berjalan ke hadapan Bong Thian-gak, kemudian secara tiba-tiba menempelkan telapak tangannya ke jalan darah Pek-kwe-hiat di ubun-ubun Bong Thian-gak.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Jit-kaucu menyingkirkan kembali telapak tangannya, lalu berkata, "Ko Hong, sebelumnya kau sudah tahu bila aku tidak berniat membunuhmu, maka kau bersikap begini tenang dan bernyali!"

"Apa maksud perkataanmu itu?"

"Ketika di hutan depan kuil, bukankah kau telah mendengar banyak rahasia perkumpulan kami?"

Mendengar itu, Bong Thian-gak menjadi terkejut, pikirnya, "Kalau begitu dia sudah tahu aku sudah menyadap pembicaraannya dari dalam hutan! Jadi kematian Lo Gi, pelindung Sam-kaucu adalah gara-gara perbuatanku ."

Sementara itu Jit-kaucu telah berkata lagi sambil tersenyum, "Kalau kau sudah mendengar sebagian besar rahasia kami, maka sekarang hanya ada dua jalan yang bisa kau pilih, pertama adalah jalan kematian, sedang kedua adalah masuk menjadi anggota Put-gwa-cin-kau. Asal kau bersedia, aku dapat memberi kedudukan sebagai seorang Kaucu."

"Kau mengundang aku masuk menjadi anggota Put-gwa- cin-kau, apakah kau tidak kuatir aku akan menyusahkan dirimu?"

"Apa maksudmu?"

"Kau belum tentu tahu riwayat hidupku dan lagi setelah menjadi anggota perkumpulan, belum tentu aku setia pada perkumpulan dengan tulus hati, apalagi menyuruh aku mencapai Put-gwa (tanpa aku)?"

Jit-kaucu manggut-manggut, "Benar, kalau begitu kau hanya ingin menempuh jalan kematian?"

Kembali Bong Thian-gak tersenyum, "Dari dulu hingga kini tiada seorang pun yang bisa lolos dari kematian, apa yang kutakuti? Cuma "

"Cuma kenapa?"

"Aku tak akan mati muda," sahut Bong Thian-gak dengan sinar mata mencorong tajam.

Mendadak Jit-kaucu menatap wajah Bong Thian-gak lekat- lekat.

Bong Thian-gak tertegun, lalu berpikir, "Mungkinkah dia akan turun tangan keji kepadaku?"

Maka secara diam-diam dia lantas menghimpun tenaga dalamnya untuk bersiap.

Lewat setengah jam kemudian, terdengar Jit-kaucu berkata lagi dengan suara hambar, "Hampir saja aku kena kau kelabui, rupanya wajahmu telah kau ubah dengan obat penyamar, kalau begitu Ko Hong pun bukan namamu yang sebenarnya!"

Bong Thian-gak merasa perempuan ini lihai sekali, "Padahal obat penyaruan yang kugunakan merupakan obat paling baik di dunia, malah penyaruanku amat sempurna, buktinya Ku-lo Hwesio dan Toa-suheng serta para jago tiada yang tahu, tak nyana dia berhasil mengetahui sekali pandang saja."

Jit-kaucu berkata, "Sebenarnya kau telah melakukan perbuatan apa yang malu diketahui orang hingga tak berani memperlihatkan raut wajah aslimu?"

"Bukankah Jit-kaucu pun demikian?"

Jit-kaucu tertegun, lalu serunya, "Tapi aku tidak menyaru!" "Walaupun kau tak menyaru, tapi gerak-gerikmu sangat

rahasia, tanpa nama, tanpa asal-usul, bukankah kau pun sudah melakukan suatu perbuatan yang takut diketahui orang?"

"Siapa bilang aku tak punya nama?" teriak Jit-kaucu gusar. "Kalau begitu siapa namamu?"

"Kau tidak berhak mengetahui namaku."

Mendadak Bong Thian-gak menunjukkan wajah serius, katanya, "Apa nama ilmu pukulanmu?"

"Buat apa kau menanyakan soal ini?"

"Aku hendak mengobati luka To Siau-hou."

Mendengar itu, Jit-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, "Kau anggap setelah mengetahui ilmu pukulanku, maka nyawa To Siau-hou bisa diselamatkan? Hehehe, kalau begitu kuberitahu kepadamu!"

"Apa namanya?" kembali Bong Thian-gak bertanya dengan cemas.

"Itulah pukulan Jian-yang-ciang (Pukulan cacat) salah satu jurus dari ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang!"

"Soh-li-jian-yang-sin-kang," seru Bong Thian-gak terkejut. Dengan wajah berubah hebat dia melompat bangun, kemudian bagaikan burung walet menembusi jendela, dia lantas berlalu.

Bong Thian-gak tidak menunjukkan pertanda hendak berlalu, ditambah pula gerakan tubuhnya kelewat cepat, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya tahu-tahu sudah lenyap.

Jit-kaucu yang menyaksikan kejadian itu tertegun dan duduk melongo, seperti merasa kehilangan sesuatu dia duduk dengan wajah bingung.

Sementara itu Bong Thian-gak dengan suatu gerakan yang amat cepat telah meninggalkan loteng itu, dia segera mengembangkan ilmu meringankan tubuhnya keluar kota Kay- hong langsung menuju ke pinggir kota.

Malam sudah semakin kelam, tengah malam pun sudah menjelang tiba, di tengah keheningan yang mencekam terasa suatu kemisteriusan yang menyeramkan.

Dengan hati risau dan gelisah Bong Thian-gak menuju tempat persembunyian To Siau-hou, siapa tahu suasana di sekeliling tempat itu sangat hening dan tak nampak bayangan orang pun.

Dengan kening berkerut dan sorot mata tajam, Bong Thian- gak memandang sekejap sekeliling tempat itu.

Angin malam berhembus menggoyang rumput dan dedaunan, kecuali bunyi jangkrik dan binatang kecil, suasana di situ amat hening hingga terasa menakutkan, ternyata tak nampak bayangan To Siau-hou.

Bong Thian-gak menjadi amat gelisah, segera teriaknya, "To-heng! Dimana kau?"

Ia berteriak berulang kali, tapi malam tetap hening, tiada jawaban. Bong Thian-gak tahu To Siau-hou sudah menderita luka sangat parah, mustahil dia bisa meninggalkan tempat itu, maka dia mulai berjalan mengelilingi tempat itu melakukan pencarian dengan seksama.

Aneh! Sudah beberapa kali dia melakukan pencarian, tapi tetap tak nampak bayangan To Siau-hou?

"Jangan-jangan dia sudah ditolong orang?" "Tapi siapakah yang menolongnya?"

Bong Thian-gak memeras otak memikirkan ini.

Pencarian pun kembali dilakukan ke sekeliling tempat itu. Akhirnya di atas sebuah batu cadas di pinggir jalan, Bong

Thian-gak menemukan sesosok bayangan sedang duduk

bersila di sana.

Dengan dua kali lompat saja Bong Thian-gak sudah mencapai depan batu cadas itu.

Ternyata adalah Hwesio tua berbaju abu-abu, sepasang kakinya tertekuk membentuk sikap bersila, di atas lututnya terletak sebuah Hud-tim, sedang di atas dadanya tergantung seuntai tasbih.

Waktu itu si Hwesio duduk sambil memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

Sesudah melihat jelas raut wajah Hwesio tua itu, Bong Thian-gak mefnbatin, "Ah, Ku-lo Sinceng."

Ternyata Hwesio tua yang duduk di atas batu cadas itu adalah Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay.

Dia menjadi teringat peringatan To Siau-hou, "Ku-lo Hwesio telah menurunkan perintah untuk membunuhmu".

Dengan terkesiap dan tanpa mengucap sepatah kata pun, Bong Thian-gak segera membalikkan badan dan berlalu dari situ. "Omitohud! Harap Sicu tunggu sebentar," suara sapaan lembut berkumandang.

Bong Thian-gak membalikkan badan dengan kecepatan bagaikan kilat.

Tampak mencorong sinar lembut dari balik mata Hwesio tua itu, meski lembut tapi tajam sekali hingga menggetarkan perasaan orang.

"Sinceng ada petunjuk apa?" tanya Bong Thian-gak dengan suara nyaring.

Hwesio tua itu tetap duduk di atas batu cadas tanpa bergerak, tapi wajahnya agak bergetar, ujarnya, "Sicu, usiamu masih muda, tapi tenaga dalammu sudah sampai puncak kesempurnaan, tolong tanya, Siauhiap berasal dari perguruan mana?"