Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 22

 
Jilid 22

kemudian dengan cepat melepas pula sepatu kirinya.

Ternyata pada kaki kiri pun tertera pula kedua baris tulisan itu.

Pada saat inilah dari luar ruangan terdengar suara bentrokan senjata yang bergema amat keras. Bong Thian-gak segera mengambil Hud-tim Keng-tim Suthay dan menyembunyikannya di balik pakaian, lalu dengan cepat memburu ke ruang depan.

Di ruang muka, suasana benar-benar tegang dan mengerikan.

Hawa pedang menyelimuti ruangan, cahaya perak berkilauan seperti sambaran petir.

Bayangan tubuh Tio Tian-seng serta Tan Sam-cing telah terkurung rapat di balik cahaya pedang itu.

Kedua orang jago yang sangat lihai itu, masing-masing sedang mengembangkan ilmu pedang yang dimilikinya serta melangsungkan pertarungan mati-hidup yang amat sengit.

Pedang pendek di tangan Tan Sam-cing berputar memercikkan bayangan pedang tajam, membacok, menyapu dan membabat penuh dengan kedahsyatan.

Mendadak bentakan keras bergema, Tio Tian-seng melepaskan sebuah tusukan balasan dari arah samping.

Tusukan itu dilepaskan dengan sepasang tangan menggenggam pedang bersama-sama. Jurus serangannya aneh, namun amat tangguh, merupakan jurus serangan lain daripada yang lain.

Tampaknya Tan Sam-cing cukup mengetahui kelihaian serangan itu. Sambil membentak, cahaya pedang yang semula membentuk lingkaran bulat kini lenyap, sebagai gantinya muncul sekilas sinar bening yang pelan-pelan mendorong ke depan.

Bunyi gemerincing nyaring memenuhi angkasa.

Sepasang pedang Tio Tian-seng serta Tan Sam-cing telah saling bentur.

Kali ini pedang pendek Tan Sam-cing yang tajam ternyata tidak mampu mengurungi pedang Tio Tian-seng. Setelah kedua belah pihak saling mengadu senjata sebanyak tiga kali, kedua belah pihak tidak segera menarik kembali senjatanya, namun mereka saling mengerahkan tenaga mengisap pedang lawan.

Akibatnya kedua bilah pedang itu saling menempel bagai besi sembrani.

Pantangan terbesar jago persilatan yang saling bertarung adalah adu tenaga dalam.

Dengan saling menempelkan pedang, hakikatnya Tan Sam- cing maupun Tio Tian-seng sudah melangkah menuju ke suatu pertarungan tenaga dalam mengadu jiwa.

Berada dalam keadaan begini, kedua belah pihak sama- sama tak berani mencabut pedang, bila satu pihak mencabut pedang, maka pedang lawan akan menusuk dan langsung menghujam ke tubuh lawan secara mematikan.

Oleh sebab itu kedua belah pihak terpaksa harus mengerahkan tenaga dalam yang disalurkan ke batang pedang untuk mempertahankan senjata.

Pertarungan semacam ini sukar menentukan menang-kalah secara cepat, seringkali di saat menang kalah ditentukan, kedua belah pihak sudah sama-sama terluka, kehabisan tenaga dalam dan akhirnya tewas bersama.

Pada saat itulah suara benturan nyaring berkumandang.

Bong Thian-gak sudah mencabut Pek-hiat-kiam dan secepat kilat menusuk ke tengah-tengah antara kedua pedang yang masih saling menempel itu.

Tio Tian-seng serta Tan Sam-cing segera terpisah dan masing-masing mundur tiga langkah.

Pedang Tio Tian-seng kembali putus sebagian, sebaliknya pedang Tan Sam-cing masih tetap utuh. Bong Thian-gak dengan masih memegang Pek-hiat-kiam yang memancarkan sinar merah memberi hormat kepada Tan Sam-cing serta Tio Tian-seng, lalu ujarnya dengan lantang, "Locianpwe berdua, buat apa kalian saling bertarung mati-matian?"

Paras muka Tio Tian-seng kelihatan amat kereng dan serius, tiba-tiba ia berkata dengan suara pelan, "Bong-laute, tidakkah kau merasa bahwa Tan Sam-cing sangat mencurigakan?"

"Apanya yang mencurigakan?" tergerak hati Bong Thian- gak.

"Sudahkah Bong-laute periksa, telah berapa lama para korban itu menemui ajalnya?"

"Ah! Betul, tampaknya mereka sudah tewas paling tidak satu hari sebelumnya."

"Betul! Orang-orang itu sudah mati semalam sebelumnya, tapi menurut Tan Sam-cing waktu musuh menyusup masuk kemari, baru tiga jam berselang."

Sambil tertawa dingin, Tan Sam-cing segera berkata, "Sejak kapan mereka menemui ajal? Apa hubungan serta sangkut-pautnya dengan diriku?"

"Tentu saja besar sekali hubungannya," jawab Tio Tian- seng dingin. "Andaikata Sam-cing Koancu hanya seorang jago lihai biasa saja, hal ini lain ceritanya. Tapi kau adalah Pat- kiam-hui-hiang yang amat termasyhur, apakah tidak mengetahui sama sekali terdapat banyak musuh tangguh yang sudah memasuki kuilmu? Apa ini tidak lucu namanya?"

"Tio-pangcu," kata Bong Thian-gak dengan kening berkerut. "Sekalipun begitu, aku rasa masih belum cukup alasan untuk menuduh Tan-koancu sebagai komplotan kawanan pembunuh itu."

"Bong-sicu, sudahkah kau saksikan apa yang menyebabkan kematian orang-orang itu?" tanya Tio Tian-seng tawar. "Soal itu belum Boanpwe lihat."

"Mereka tewas akibat saling bunuh sendiri. Bila tak percaya, silakan Bong-laute periksa dengan seksama semua korban itu, kau akan jumpai luka di tubuh para korban sesuai dengan kesimpulanku tadi."

Bong Thian-gak berseru tertahan, dengan cepat ia berpaling dan ujarnya kepada Tan Sam-cing, "Tan-koancu, bagaimanakah penjelasanmu terhadap keterangan yang disampaikan Tio-pangcu?"

"Memang tak salah, orang-orang itu tewas karena saling bunuh, tapi kematian Keng-tim Suthay serta kedua bocah itu adalah disebabkan tertotok jalan darahnya oleh seseorang. Keadaan inilah yang membuat orang bingung serta tak habis pikir."

Setelah mendengar kata-katanya itu, mendadak Bong Thian-gak teringat akan sesuatu, ia segera bertanya, "Cianpwe berdua, tahukah kalian dalam Bu-lim terdapat semacam obat pembingung sukma?"

"Bong-laute, maksudmu para korban telah dicekoki semacam obat pembingung sukma terlebih dahulu sehingga kejernihan otak mereka terganggu, akibatnya mereka mati karena saling bunuh di antara rekan sendiri?"

"Boanpwe hanya ingin tahu, benarkah dalam Bu-lim terdapat obat sejenis itu."

"Tentu saja ada."

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, Tio-pangcu, jika aku menduga pembunuhnya adalah si tabib sakti Gi Jian- cau, bagaimana menurut pendapatmu?"

"Aku pun menduga begitu," sahut Tio Tian-seng dengan suara dalam. "Ada seorang jago lihai yang telah menyerbu masuk kemari, pertama-tama ia membunuh Keng-tim Suthay serta kedua bocah itu, kemudian mencuri obat pembingung sukma milik Gi Jian-cau serta mencekokkan obat tadi kepada kawanan jago lainnya, akibatnya terjadilah peristiwa saling bunuh yang mengerikan ini, entah bagaimana pula menurut pendapatmu atas dugaanku ini?"

"Tentu saja masuk akal juga," Tan Sam-cing menanggapi. "Dan menurut dugaanku, bisa jadi si pembunuh adalah

orang-orang Sam-cing-koan."

"Betul, bisa jadi si pembunuh sudah mengenal keadaan dalam kuil Sam-cing-koan," katanya membenarkan.

Paras muka Tio Tian-seng berubah kereng dan serius, kembali ia berkata, "Tan-koancu, bila kau gagal menemukan sang pembunuh, maka kau sendiri sulit untuk meloloskan diri dari kecurigaan kami."

Tan Sam-cing tertawa dingin, "Rupanya Tio-pangcu menuduh Pinto sebagai Hek-mo-ong?"

"Kecuali kau dapat menunjukkan siapakah Hek-mo-ong yang sesungguhnya," sahut Tio Tian-seng sambil tertawa dingin pula.

"Tio-pangcu, berulang kali kau menuduhku sebagai Hek- mo-ong, sesungguhnya apa yang terkandung di balik tuduhan jahatmu itu?"

"Berdasarkan berbagai kecurigaan dan bukti yang kudapat, Tan-koancu memang patut dicurigai sebagai gembong iblis terkutuk itu."

"Seandainya aku adalah Hek-mo-ong, maka kalian berdua anggap masih bisa hidup sampai sekarang?"

"Hari ini, seandainya aku memasuki kuil Sam-cing-koan seorang diri, besar kemungkinan sudah mengalami musibah dan terbunuh mati," kata Tio Tian-seng dingin, "tapi sayangnya kehadiranku sekarang justru ditemani oleh seorang jago lihai lain yakni sastrawan cacat, biarpun Hek-mo-ong berkepala tiga enam lengan, belum tentu ia mampu menghadapi diriku serta sastrawan cacat bersama-sama. Inilah yang menyebabkan kami bisa hidup sampai sekarang dalam keadaan selamat."

"Hek-mo-ong bisa membunuh orang tanpa menunjukkan wujud serta bayangan tubuhnya," kata Tan Sam-cing dingin. "Seandainya Pinto adalah Hek-mo-ong, maka kalian berdua tak akan bisa lolos dari kuil Sam-cing-koan ini."

Sementara itu Bong Thian-gak sedang memikirkan kedua baris kata yang ditinggalkan Keng-tim Suthay menjelang ajalnya. Berdasarkan kedua kalimat itu, bisa jadi Keng-tim Suthay telah menduga sebelumnya akan terjadi suatu peristiwa di situ.

Itulah sebabnya dia menyembunyikan sebutir pil pengembali sukma dalam Hud-timnya sebelum dia ajal, Keng- tim Suthay berpesan pula agar Gi Jian-cau dibunuh, mungkinkah si tabib sakti adalah jelmaan Hek-mo-ong?

Tapi ada persoalan lain yang membingungkannya, andaikata Gi Jian-cau benar-benar adalah otak di belakang layar yang menyetir Put-gwa-cin-kau dan juga adalah Hek-mo- ong, lantas mengapa pula dia mesti mengolah obat pengembali sukma?

Bong Thian-gak tidak berani mengutarakan peristiwa itu kepada siapa pun, dia tak ingin orang lain mengetahui pesan terakhir Keng-tim Suthay.

Menurut pendapatnya, tuduhan Tio Tian-seng kepada Tan Sam-cing sebagai Hek-mo-ong memang terdapat pula beberapa bagian yang mencurigakan.

Maka sekarang untuk menyingkap teka-teki siapakah sebenarnya Hek-mo-ong, rasanya hanya bisa terungkap setelah Hek-mo-ong muncul. Apa yang dikatakan Tan Sam-cing memang benar, Hek-mo- ong tak akan melepaskan dia serta Tio Tan-seng begitu saja, oleh karena itu mereka berdua tak perlu berdiam lebih lama lagi di sini.

Bong Thian-gak menghela napas, kemudian katanya, "Tio- pangcu, sekarang jejak Gi Jian-cau masih misterius, kita tak usah berdiam lebih lama lagi dalam kuil ini."

"Justru yang kukuatirkan adalah Gi Jian-cau masih bercokol dalam Sam-cing-koan."

"Seandainya dia masih berada dalam kuil Sam-cing-koan, sudah pasti Tan-koancu dapat mengatasinya."

Sementara itu Tan Sam-cing masih berdiri termenung, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, kemudian ia menghela napas panjang dan beial, pelan-pelan katanya, "Hai tua bangka, sejak hari ini Pinto akan terjun kembali ke dunia Kangouw."

Tatkala mengucapkan kata-katanya itu, mukanya memperlihatkan tanda sedih dan menderita yang tak terkirakan.

Kata-katanya diucapkan sangat lambat seakan membutuhkan dorongan kekuatan.

Sekulum senyuman segera menghiasi wajah Tio Tian-seng. Tan Sam-cing memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng,

lalu melanjutkan, "Namun di saat Pinto mengetahui siapakah

Hek-mo-ong yang sebenarnya, maka seorang di antara kita berdua akan mampus dan pulang ke neraka."

Tio Tian-seng tersenyum.

"Sejak dulu, pedang lurus dan pedang sesat memang tak bisa hidup berdampingan, ibarat api dan air."

"Kalau kau sudah mengetahui akan hal itu, mengapa mesti menggunakan berbagai akal muslihat untuk memaksaku terjun kembali ke dunia persilatan?" seru Tan Sam-cing dengan penuh kepedihan.

"Sebab untuk membunuh Hek-mo-ong, kecuali pedang lurus dan pedang sesat bersatu, rasanya tiada yang mampu membendungnya."

"Kalau begitu tujuanmu adalah memaksaku terjun kembali ke dunia persilatan?"

"Selain itu masih ada satu hal lagi, yakni untuk membuktikan benarkah kau bukan Hek-mo-ong."

"Sejak puluhan tahun berselang, Pinto sudah menduga asal-usul Hek-mo-ong, di antara empat orang yang kucurigai, kau Tio Tian-seng termasuk salah seorang di antaranya."

"Bagus, bagus sekali!" kata Tio Tian-seng sambil tertawa. "Tan Sam-cing juga termasuk satu di antara empat orang yang kucurigai."

Bong Thian-gak hanya mengetahui sedikit hal yang menyangkut kedua orang Bu-lim Cianpwe ini, karenanya sikap permusuhan dan bersahabat yang ditunjukkan kedua orang ini membuatnya melongo kebingungan dan tak habis mengerti.

Setelah menghela napas panjang, kembali Tan Sam-cing berkata, "Apakah kalian berdua hendak meninggalkan kuil Sam-cing-koan?"

"Aku memang menunggu Tan-koancu bertindak sebagai petunjuk jalan," sahut Tio Tian-seng.

Di bawah petunjuk Tan Sam-cing, Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng keluar dari gua bawah tanah dan meninggalkan kuil Sam-cing-koan.

Di saat keduanya memasuki kuil Sam-cing-koan, waktu mendekati senja, tatkala meninggalkan tempat itu, waktu sudah tengah malam. Mereka berada dalam gua bawah tanah selama tiga jam lebih. Pengalaman yang dialaminya selama tiga jam lebih yang singkat itu penuh diliputi perasaan tegang, seram, sedih, mengenaskan serta berbagai macam perasaan lainnya.

Kematian Keng-tim Suthay membuat Bong Thian-gak sedih, murung dan kesal atas masa depan Hiat-kiam-bun.

Hiat-kiam-bun dari tangan Keng-tim Suthay telah diserahkan ke Bong Thian-gak. Walaupun hanya dalam tujuh hari yang singkat, namun sejak pertarungan berdarah di kuil Hong-kong-si, tampaknya anak murid Hiat-kiam-bun telah menderita kerugian cukup parah, hampir separoh anggota tewas dan terluka parah, terutama kematian Keng-tim Suthay dan Ang Teng-sui sekalian jago-jago tangguh saat ini, Hiat- kiam-hun sedang berada di ambang kehancuran.

"Ai!" helaan napas berat dan pedih akhirnya keluar dari mulut Hong Thian-gak.

Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng menengok sekejap ke arahnya, lalu menegur, "Bong-laute, mengapa kau menghela napas panjang?"

"Tidak apa-apa," sahut Bong Thian-gak sambil menggeleng. "Entah Tio pangcu hendak pergi kemana?"

"Aku hendak pergi mengejar si tabib sakti." "Darimana kita bisa mengetahui jejaknya?"

"Bila jejaknya sudah ketahuan, urusan akan bisa diselesaikan dengan mudah. Bong-laute, kau hendak kemana?"

Bong Thian-gak termenung beberapa saat lalu sahutnya pula, "Boanpwe bermaksud berpisah dengan Locianpwe untuk sementara waktu."

"Mau kemana? Apakah pergi ke Ho-pak?"

"Benar, aku ingin menuju Ho-pak dan memberitahu kematian Keng tim Suthay kepada putrinya." "Bong-laute, aku hendak memberitahukan satu hal kepadamu, dalam pertarungan di kuil Hong-kong-si tempo hari, terdapat banyak sekali jago lihai yang terluka parah, keselamatan jiwanya terancam dan mereka sedang menunggu kehadiran si tabib sakti Gi Jian-cau untuk mengobati lukanya. Apakah Bong-laute bersedia meninggalkan dulu urusan pribadimu untuk mendampingi diriku mencari si tabib sakti?"

"Ah, siapa saja yang terluka dalam pertarungan itu?" tanya Bong Thian gak berseru tertahan.

"Mereka yang lolos dari kematian adalah Hong-kong Hwesio, Mo Mui Thian, Han Siau-liong, To Siau-hou, tiga puluh empat jago kami kecuali itu Khi, yang lain terkena racun jahat yang dilepaskan Ji-kaucu sekarang keselamatan jiwa mereka terancam."

"Ah, jika mereka gagal mendapatkan pengobatan dari si tabib sakti, bukankah jiwa mereka akan hilang?" seru Bong Thian-gak sangat terkejut.

"Ya, tentu saja sulit bagi mereka meloloskan diri dari musibah itu."

"Lantas bagaimana cara kita menemukan si tabib sakti?" tanya Bong Thian-gak sesudah temenung sebentar.

"Lebih baik kita menunggu kabar Tan Sam-cing di kota Lok- yang."

"Apakah Tan Sam-cing mengetahui jejak si tabib sakti itu?"

"Si tabib sakti lenyap dalam kuil Sam-cing-koan, tentu saja Tan Sam-cing seorang yang bisa mengejar dan mendapatkan jejaknya."

Bong Thian-gak menghela napas panjang,

"Andaikata Tan Sam-cing tidak menyampaikan kabar itu kepada kita?" "Kecuali Tan Sam-cing adalah Hek-mo-ong atau dia enggan terjun kembali ke dunia persilatan. Kalau tidak, dalam tiga hari mendatang sudah pasti kita akan memperoleh kabar dari Tan Sam-cing."

"Tio-pangcu," kata Bong Thian-gak menghela napas panjang, "aku dapat merasakan bahwa di antara kau dan Tan Sam-cing, rasanya terjalin suatu hubungan budi dan dendam yang rumit."

Mendadak Tio Tian-seng menghentikan langkah, jawabnya, "Benar di antara kami berdua memang terjalin hubungan budi dan dendam yang tak bisa disampaikan kepada siapa pun."

Tio Tian-seng berhenti, Bong Thian-gak pun ikut menghentikan langkah, kemudian memandang sekeliling tempat itu. Malam itu kabut sangat tebal, sejauh mata memandang hanya warna putih menyelimuti padang rumput itu. Suasana begitu hening, sepi, tiada angin yang berhembus, tiada suara, rumput pun seakan-akan turut tak bergoyang.

Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Tio Tian- seng, dia mengawasi hutan di hadapannya tanpa berkedip.

Tergetar hati Bong Thian-gak melihat hal ini, segera tegurnya, "Tio-pangcu, apa yang kau temukan?"

"Bau musuh."

"Musuh?" semangat Bong Thian-gak berkobar kembali. "Dimana mereka?"

"Tunggu dulu! Jika mataku belum kabur, aku yakin musuh yang kita hadapi sekarang adalah tokoh persilatan yang menakutkan."

"Kau maksudkan Hek-mo-ong?" tanya Bong Thian-gak terkejut. Tio Tian-seng manggut-manggut.

"Ya, sebaiknya kita duduk bersila di sini menunggu datangnya fajar." Seusai berkata, Tio Tian-seng segera duduk bersila di atas tanah.

"Benarkah kita akan menunggu sampai datangnya fajar?" Bong Thian-gak bertanya lagi dengan kening berkerut.

"Tengah malam sudah tiba, rumah penginapan di kota sudah tutup pintu, jangan harap kita bisa mendapatkan rumah penginapan dalam keadaan begini. Apa salahnya kita menginap semalam di udara terbuka?"

Mendengar jawaban itu, Bong Thian-gak segera berpikir, "Aneh, mengapa Tio Tian-seng begitu takut terhadap Hek-mo- ong? Hanya angin yang menghembus rumput saja sudah membuatnya tegang dan salah mengira sebagai kehadiran Hek-mo-ong."

Walaupun dalam hati dia merasa geli, namun ia pun duduk bersila di samping Tio Tian-seng.

Padahal satu jam kemudian fajar telah menyingsing sehingga mereka tak perlu mencari tempat penginapan.

Sementara itu suara di sekeliling sana terasa begitu hening dan sepi hingga tampak mengerikan, dua orang tokoh sakti duduk bersila di atau tanah sambil mengatur napas. Dalam keadaan begini, jangankan kehadiran manusia, daun rontok pun dapat mereka dengar dengan jelas.

Namun kedua orang itu tidak mendengar sedikit suara pun, Tio Tian seng mulai berpikir, "Ah, mungkin aku salah melihat tadi."

Mendadak telinganya menangkap suara dengingan nyamuk di sisi tubuhnya.

Cepat Tio Tian-seng membuka mata.

Bong Thian-gak yang berada di sampingnya sudah menepuk wajah sendiri, jelas ia sudah menepuk mati seekor nyamuk. Pada saat itu pula Tio Tian-seng merasa pipi kanannya digigit pula seekor nyamuk.

la segera membunuh nyamuk itu.

Perbuatan yang dilakukan kedua orang itu bersamaan waktunya dan kebetulan sekali, tapi justru itu menimbulkan kecurigaan Mo-kiamsin-kuh Tio Tian-seng yang banyak akal dan matang pengalaman ini.

Perasaannya kontan bergetar keras, dengan cepat ia berkat "Bong-laute, tidak kau rasakan datangnya kedua ekor nyamuk tadi rada aneh."

"Di tengah padang rumput memang banyak lalat dan nyamuk, apa yang aneh?"

"Malam ini kabut sangat tebal, udara pun lembab, darimana bisa muncul nyamuk? Dan pula cuma dua ekor saja."

Belum habis berkata, terdengar lagi suara dengingan nyamuk, kali ini muncul tiga ekor.

Tio Tian-seng segera mengebas ujung bajunya melepas pukulan ke depan.

Agaknya leher Bong Thian-gak telah tergigit oleh seekor nyamuk dia mengayun tangan dan membunuh seekor lagi.

Mendadak Tio Tian-seng berdiri, lalu serunya dengan sua dalam, "Bong-laute, mari kita cepat pergi."

"Tio-pangcu hendak kemana?" tanya Bong Thian-gak tertegun.

"Kita sudah terkena serangan gelap musuh," kata Tio Tian- sen dengan paras muka berubah hebat.

"Tio-pangcu, kau maksudkan beberapa ekor nyamuk tadi?" tany sang pemuda keheranan.

"Benar, nyamuk itu adalah nyamuk beracun yang dilepas musuh untuk menyerang kita." Bong Thian-gak tersenyum.

"Bukankah Tio-pangcu telah tergigit oleh nyamuk itu?

Apakah kau merasakan sesuatu gejala aneh dalam tubuhmu?"

"Tubuhku tidak merasakan sesuatu gejala aneh, namun aku tahu nyamuk itu bukan nyamuk biasa yang banyak terdapat di padan rumput. Bong-laute, lebih baik turuti kata-kataku, mari kita tinggalkan tempat ini secepatnya."

Bong Thian-gak tertawa ringan sambil berdiri, sahutnya, "Kau hendak kemana? Harap Tio-pangcu membuka jalan!"

Tio Tian-seng mengerahkan ilmu meringankan tubuh meluncur ke arah kota Lok-yang, Bong Thian-gak mengikut di belakangnya dengan ketat.

Sesudah menempuh perjalanan sejauh tiga li lebih, tiba-tiba Bong Thian-gak menjerit kaget.

Tio Tian-seng segera menghentikan langkah seraya berpaling, tegurnya, "Kenapa kau, Bong-laute?"

"Boanpwe mulai merasa gatal dan panas sekali di sekitar tempat yang tergigit nyamuk tadi."

Berubah hebat paras Tio Tian-seng, serunya gelisah, "Benarkah perkataanmu itu?"

"Bukankah kau sendiri juga tergigit nyamuk? Apakah kau tidak merasakan gejala itu."

"Oh, belum."

"Mungkin kita bukan terkena serangan musuh." "Lebih baik kita duduk bersemedi, kita coba mendesak

keluar racun yang mengeram dalam tubuh dengan mengandal

tenaga dalam."

Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling tempat itu, dia merasa jaraknya dengan kota Lok-yang sudah tidak jauh lagi, bahkan di depan situ sudah tampak rumah penduduk.

Maka dia pun menjawab, "Rasa gatal dan panas tidak kurasakan, lebih baik kita berangkat ke kota Lok-yang!"

"Nyamuk itu tak salah lagi adalah nyamuk beracun.

Mumpung racunnya belum mulai bekerja, lebih baik kita coba mendesaknya keluar dengan tenaga dalam, siapa tahu masih belum terlambat."

Siapa tahu baru selesai dia mengucapkan perkataan itu, mendadak dari belakang tubuh mereka terdengar seorang menyambung, "Sayang sudah terlambat, kalian sudah tergigit nyamuk beracun. Nyamuk itu merupakan nyamuk penghancur darah yang berasal dari wilayah Biau. Seandainya di tempat ini ada sinar lentera, maka kalian pasti sudah melihat kulit kalian pucat sekali."

Mendengar perkataan itu, Tio Tian-seng dan Bong Thian- gak negera membalikkan badan.

Di belakang mereka, di bawah sebatang pohon di tepi jalan, tampak seseorang berdiri di situ.

Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak segera membentak, "Siapa

Kau ”

Pelan-pelan orang itu berjalan ke depan, lalu sahutnya, "Wanita

Biau dari bukit Bong-san, Biau-kosiu!"

Begitu selesai berkata, ia sudah tiba di hadapan Bong Thian-gak berdua.

Di bawah cahaya rembulan, tampak gadis suku Biau ini berwajah cantik, mengenakan pakaian pendek dan sempit, lengannya telanjang, kulit tubuhnya halus dan putih, potongan badannya tinggi semampai, mendatangkan rangsangan bagi siapa pun yang memandangnya.

Wajah bulat telur dengan mata jeli, hidung mancung dan bibir kecil mungil, wajah yang cantik menawan hati.

Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng tertegun melihat kemunculan gadis muda itu, dalam hati mereka merasa keheranan.

Sesudah tertegun beberapa saat, Bong Thian-gak menegur, "Kau yang melepaskan nyamuk-nyamuk beracun itu untuk melukai kami?"

Gadis Biau yang cantik jelita itu mengedipkan matanya yang jeli, kemudian setelah memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, ia menggeleng, "Bukan."

"Kalau begitu kau tahu siapa yang telah turun tangan mencelakai kami?"

"Tentu saja tahu."

"Siapakah dia? Cepat katakan."

"Mengapa aku mesti memberitahukan kepadamu?"

Tio Tian-seng menghela napas sedih, kemudian menimbrung, "Nona mengetahui begitu jelas tentang sifat dan kemampuan nyamuk penghancur darah, berarti nona pun dapat menyembuhkan racun akibat gigitan nyamuk itu bukan?" *

Biau-kosiu atau gadis Biau yang cantik jelita itu memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng, kemudian menyahut, "Sebagai suku Biau, jangankan aku, bocah tiga tahun pun dapat menyembuhkan, cuma sayang nyamuk penghancur darah yang menggigit kalian merupakan nyamuk penghancur darah peliharaan orang lain, jadi sifat racunnya tidak mudah disembuhkan begitu saja." "Bila nona dapat menolong kami menyembuhkan gigitan nyamuk ini, budi kebaikanmu tak akan kulupakan selamanya," ucap Tio Tian-seng dengan sedih.

Mimpi pun Bong Thian-gak tidak menyangka Tio Tian-seng akan memohon pertolongan gadis itu.

"Boleh saja kutolong kalian, cuma aku tak bakal menolong kalian berdua begitu saja," ucap si nona suku Biau dengan suara merdu.

"Nona mempunyai syarat? Apa syaratnya?"

"Bila aku beri obat penawar racun pada kalian, besar kemungkinan ada orang hendak turun tangan jahat kepadaku. Oleh sebab itu aku minta kalian berdua melindungi keselamatan jiwaku."

"Syarat ini sangat gampang, kami menyanggupi permintaanmu itu," sahut Tio Tian-seng cepat.

"Orang persilatan paling mengutamakan pegang janji, kalian jangan menyesal di kemudian hari."

Dengan suara lantang Bong Thian-gak segera berseru, "Sekalipun nona tidak menghadiahkan obat kepada kami, seandainya jiwa nona terancam oleh manusia laknat, kami juga bersedia membantumu."

Gadis suku Biau itu menggeleng kepala berulang-kali. "Yang kumaksudkan melindungi keselamatan jiwaku adalah

kalian berdua mesti selalu mendampingiku, mengawal aku kemana pun aku pergi dan mengikuti perintahku."

"Ah, kalau soal ini sulit kukabulkan," ucap Bong Thian-gak. "Kalau tidak setuju, ya sudah, selamat tinggal!" kata gadis

suku Biau itu ketus. Seusai berkata, ia membalikkan badan dan segera beranjak pergi. Dengan suara dalam Tio Tian-seng berseru, "Nona, harap tunggu sebentar!"

"Kalian setuju?" tanya si gadis sambil berpaling.

Tio Tian-seng tertawa rawan, ia tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya bertanya, "Apakah nona membawa obat penawar racun itu?"

"Apakah kalian berniat merampas dengan kekerasan?" "Tidak berani, aku hanya ingin bertanya dimanakah nona

berdiam?"

"Buat apa kau tanyakan hal ini?"

"Jika suatu ketika kami berubah pendirian, kami bisa langsung pergi mencari nona!"

"Dengan mengetahui tempat tinggalku, bukankah kalian pun mempunyai peluang untuk mencuri."

"Nona begitu cermat, hati-hati dan cerdik. Sekalipun kami berniat mencuri, mana mungkin akan berhasil?"

Gadis Biau itu tertawa dingin.

"Aku berdiam di rumah penginapan Ban-heng di kota Lok- yang. Selewat dua belas jam jika kalian belum juga mendapatkan obat penawar racun itu, maka racun yang mengeram dalam tubuh kalian tak akan terobati lagi."

Habis berkata, gadis Biau itu menggoyang pinggul dan berkelebat pergi, bayangannya lenyap di balik kegelapan sana.

Memandang bayangan tubuhnya, Tio Tian-seng menghela napas panjang, kemudian ujarnya, "Bong-laute, apakah kita mesti menunggu datangnya malaikat maut mencabut nyawa kita?"

"Kecuali memenuhi syarat yang diajukan olehnya, terpaksa memang kita hanya bisa menunggu datangnya ajal." Tio Tian-seng tertawa pedih.

"Sekarang kita cuma ada dua jalan saja yaitu menggertaknya agar mau menyerahkan obat penawar racun atau pura-pura menyanggupi permintaannya."

"Aku takut berbuat begitu, kita akan kehilangan pamor sebagai umat persilatan."

Sekali lagi Tio Tian-seng tertawa sedih, "Dalam persilatan banyak terjadi peristiwa yang merugikan pihak lain seperti ini. Bila kita berhasil merenggut nyawanya pun, aku rasa hal ini bukan suatu dosa besar, mengingat tindakannya berpeluk tangan melihat jiwa orang terancam sudah melanggar peraturan dunia persilatan."

"Tio-pangcu," kata Bong Thian-gak kemudian sesudah menghela napas sedih, "sudah kau saksikan bahwa perempuan ini sangat cerdik, teliti dan seksama, caranya bicaranya pun sangat diplomatis dan tajam, aku lihat dia bukan perempuan biasa."

"Aku memang dapat merasakan, gadis ini berbeda sekali dengan kebanyakan gadis lain, tapi kita kan tak bisa berpeluk tangan menanti tibanya ajal bukan?"

Sekali lagi Bong Thian-gak menghela napas, setelah mengangkat kepala dan memandang cuaca, dia berkata, "Sekurangnya kentongan kelima telah tiba, lebih baik kita berdiam dulu di rumah penginapan Banheng sambil menunggu perkembangan situasi!"

Tio Tian-seng menyetujui usul Bong Thian-gak, maka dengan langkah pelan berangkatlah mereka ke kota Lok-yang.

Sambil berjalan Bong Thian-gak bertanya, "Tio-pangcu, apakah kau sudah merasakan sesuatu perubahan di dalam tubuhmu?"

"Ya, pipiku mulai terasa panas." "Ai, aku pun mulai merasa kaku pada sekeliling mulut luka itu."

"Berarti kita benar-benar sudah terkena racun. Bisa jadi satu jam kemudian, sekujur badan kita akan menjadi kaku dan tidak dapat bergerak lagi, mari kita percepat perjalanan kita!"

Sambil berkata, kedua orang itu menggunakan Ginkang menuju ke arah dinding kota.

Dalam perjalanan, tiba-tiba dari balik kegelapan sana terdengar suara bentakan nyaring, "Kalian kawanan manusia laknat darimana? Ayo cepat kalian sebutkan namamu!"

Bong Thian-gak menjadi tertegun mendengar suara itu, katanya kemudian, "Tio-pangcu, nada suara ini sangat kukenal, apakah suara gadis suku Biau itu?"

"Benar," Tio Tian-seng mengangguk, "memang suaranya, mari kita tengok ke sana!"

Kedua orang itu segera mengubah arah dan menuju ke sudut kota sebelah utara.

Di sisi dinding kota, di bawah beberapa batang pohon besar, tampak delapan lelaki kekar berbaju hitam dengan pedang terhunus sedang mengepung gadis suku Biau.

Sedang di balik kegelapan di sisi dinding kota rasanya masih berdiri pula sekelompok orang sedang mengawasi arena.

Sebenarnya Bong Thian-gak hendak melompat keluar, tapi Tio Tan seng segera menarik tangannya sambil berbisik, "Tunggu dulu, mari kita selidiki dulu asal-usul gadis suku Biau itu!"

Mereka berdua lantas menyelinap ke balik pohon besar.

Dalam pada itu kedelapan lelaki kekar berpedang itu sudah mulai melancarkan serangan, tiga orang pertama dengan ketiga pedangnya secepat kilat melancarkan tusukan ke gadis itu.

Dari kecepatan mereka melancarkan serangan, dapat dilihat kepandaian silat orang-orang itu cukup hebat.

Siapa sangka baru saja ketiga lelaki itu melancarkan serangannya, tiba-tiba bergema jerit kesakitan yang memilukan seperti jeritan babi yang disembelih.

Ketiga orang itu tahu-tahu sudah membuang pedang mereka dan menutup wajah dengan kedua belah tangan dan bergulingan di atas tanah, tak lama kemudian mengejang keras dan tak berkutik lagi untuk selamanya.

Kejadian di depan mata ini kontan membuat semua jago lainnya berkerut kening, sebab barusan tak seorang pun di antara mereka yang melihat bagaimana gadis Biau melepaskan serangan.

Dengan terkejut Bong Thian-gak segera bertanya, "Tio- pangcu, sudahkah kau lihat dengan kepandaian apakah ia melukai musuh-musuhnya?"

Tio Tian-seng menggeleng.

"Sepasang tangannya sama sekali tidak bergerak, tapi musuh segera menjerit kesakitan. Mungkin ada orang lain yang membantunya secara diam-diam?"

"Tempat persembunyian kita letaknya cukup strategis, semua penjuru arena bisa terlihat dengan jelas, tapi kenyataan kita tidak melihat kehadiran orang lain di seputar arena yang telah membantunya."

"Aku rasa ketiga orang itu seperti tewas oleh serangan senjata rahasia beracun yang kecil dan lembut bentuknya, bisa jadi sebangsa jarum bunga Bwe atau sebangsanya yang melukai mata mereka. Kalau begitu gadis itu melepaskan senjata rahasia dengan menggunakan semburan mulut." Belum selesai ia berkata, lima lelaki berbaju hitam lainnya sudah menggerakkan pedang memainkan selapis kabut pedang, kemudian bersama-sama melancarkan bacokan kilat yang sangat hebat.

Kali ini gadis Biau itu melakukan putaran badan satu lingkaran, jeritan demi jeritan ngeri yang menyayat hati sekali lagi berkumandang.

Yang lebih mengerikan lagi adalah gadis Biau itu masih belum juga menggerakkan tangan melancarkan serangan, tapi hasilnya kelima orang itu sudah roboh bergulingan sambil menjerit kesakitan, bahkan jiwa mereka melayang.

Bong Thian-gak pun berseru tertahan, lalu bisiknya, "Perkataan Tio-pangcu memang benar, jarum beracun itu disemburkan lewat mulut."

Dalam pada itu rombongan orang yang berdiri di sisi dinding kota mulah menerjang tiba dengan gerakan cepat, mereka terdiri dari delapan orang lelaki berbaju hitam pula.

Mendadak bergema suara bentakan, "Mundur!"

Kedelapan orang yang sudah menerjang ke depan tadi serentak menghentikan langkah.

Dari balik kegelapan pelan-pelan muncul seorang, setelah tertawa terbahak-bahak ia berkata, "Jarum beracun nona memang lihai sekali. Malam ini aku benar-benar memperoleh pengetahuan yang sangat berharga, rasanya di kolong langit dewasa ini hanya satu orang yang mampu menyebarkan racun melalui mulut, dia adalah Kui-kok Sianseng dari bukit Bong- san."

Gadis Biau itu tertawa kecil.

"Kau mampu melihat semburan jarum beracunku lewat mulut, ketajaman matamu memang pantas disebut jagoan persilatan. Ayo sebutkan siapa namamu!" Kakek bungkuk itu kembali tertawa. "Aku she Bu bernama Seng."

Begitu si kakek bungkuk menyebut namanya, Tio Tian-seng segera berbisik lirih, "Ah, dia adalah si pukulan tanpa wujud Bu Seng."

"Tio-pangcu apakah dia adalah pukulan tanpa wujud Bu Seng yang angkat nama bersama guruku Thi-ciang-kan-kun- hoan Oh Ciong-hu pada empat puluh tahun berselang?" tanya Bong Thian-gak.

Tio Tian-seng mengangguk membenarkan.

"Betul, kalau dibilang siapa-siapa saja yang termasyhur dalam Bu-lim karena ilmu pukulannya, maka orang pertama adalah gurumu Oh Hong hu almarhum, kemudian Bu Seng. Sungguh tak kusangka Bu Seng masih hidup."

Sementara itu setelah kakek bungkuk itu menyebut namanya, sambil tersenyum gadis Biau itu berkata, "Pukulan tanpa wujud Bu Seng memang termasyhur dalam persilatan, namun malam ini di sini masih hadir pula seorang yang mempunyai nama besar lebih termasyhur daripadamu dan orang itu sudah menjadi pengawalku sekarang."

Mendengar itu, si kakek bungkuk tertawa terbahak-bahak, "Siapa nama besar pengawal nona itu?"

Agaknya dia belum percaya atas perkataan gadis Biau itu.

Sesungguhnya berapa orangkah yang mempunyai nama dan kedudukan yang lebih tinggi daripada dirinya saat ini?

"Si tua Bu, rupanya kau tidak percaya perkataanku ini," seru gadis itu sambil tertawa. "Coba jawab, cukup tenarkah nama besar Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng dalam dunia persilatan?"

Mendengar kata-katanya itu, Bong Thian-gak segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng. Tampak Tio Tian-seng menggeleng kepala sambil tertawa getir, "Wah, agaknya dia telah menganggap kita berdua sebagai pengawalnya."

Sementara itu si kakek bungkuk sudah dibuat serba salah oleh perkataan lawan, dengan wajah meringis katanya, "Tio Tian-seng adalah Kay-pang Pangcu, masakah dia pengawalmu? Benar-benar melantur dan tak bisa dipercaya."

"Hei, si tua Bu, bagaimana kalau kita bertaruh?" tantang si gadis suku Biau itu dengan suara merdu.

"Bagaimana caranya bertaruh?"

"Seandainya Tio Tian-seng adalah benar-benar pengawalku, kau mesti segera mengundurkan diri dan tidak lagi mencari gara-gara kepada nonamu ini, setuju?"

Kakek bungkuk itu tertawa keras, "Hahaha, bagaimana caramu membuktikan bahwa Tio Tian-seng adalah pengawalmu? Apakah cuma mengandalkan bibirmu yang pandai bicara itu?"

"Oh, soal itu mudah untuk dibuktikan. Asal aku mau, dapat kuperintahkan Tio Tian-seng menuruti perintahku."

"Bagaimana seandainya kau yang kalah?"

"Kalau aku kalah, maka terserah kepada perintahmu, aku tak akan melawan sedikit pun juga."

Kakek bungkuk itu memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu ujarnya, "Nona, kau sudah kalah."

"Mau bertaruh atau tidak, terserah pada keputusanmu sendiri," jengek si nona Biau sambil tertawa dingin.

"Nona telah membunuh delapan orang anak buahku, aku tak sudi bergurau denganmu lagi," tukas si kakek bungkuk itu ketus. "Aku tahu, sepasang telapak tanganmu itu lihai dan tiada tandingannya. Sekali turun tangan, maka sudah pasti aku akan tewas di tanganmu."

Sampai di situ, tiba-tiba ia menghentikan perkataannya.

Sudah jelas perkataan itu memang sengaja diucapkan agar terdengar oleh Tio Tian-seng.

Pada saat itulah dengan suara lirih Bong Thian-gak bertanya, "Tio-pangcu, bagaimana keputusanmu?"

"Tampaknya ia sudah tahu kita telah menyembunyikan diri di sekitar sini, maksud tujuannya jelas hendak memaksa kita menampakkan diri."

"Tio-pangcu adalah seorang terhormat dengan kedudukan mulia, kau tak boleh memberi kesan kepada orang lain bahwa dirimu adalah pengawalnya. Biar Boanpwe saja yang tampil melihat keadaan."

Selesai berkata, pemuda itu segera melompat ke udara dan melayang turun di sisi kiri gadis Biau itu bagaikan malaikat yang turun dan kahyangan, setibanya di situ dia membungkam.

Diam-diam si kakek bungkuk itu terkejut menyaksikan gerakan Bong Thian-gak yang amat sempurna, diawasinya pemuda itu beberapa saat. kemudian tegurnya, "Apakah orang ini adalah pengawalmu?"

Dengan matanya yang jeli, gadis Biau mengerling sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu dengan senyuman bangga yang menghiasi ujung bibirnya ia menyahut, "Benar, dia adalah pengawalku!"

"Kalau begitu biar kubunuh pengawalmu ini terlebih dahulu," seru si kakek bungkuk sambil tertawa dingin.

Tiba-tiba si kakek bungkuk mengayun telapak tangan kanannya ke depan, segulung angin pukulan yang tak berwujud bagaikan amukan ombak di tengah samudra langsung menggulung ke arah anak muda itu.

Bong Thian-gak tidak menyangka lawan segera melepas serangan begitu selesai mengatakan akan turun tangan.

Sambil mendengus pemuda itu mengayun lengan tunggalnya menyambut datangnya ancaman kakek bungkuk itu dengan keras melawan keras.

Sementara itu dalam pikiran si kakek bungkuk ia justru kuatir apabila Bong Thian-gak berkelit dan tak berani menyongsong datangnya serangannya dengan kekerasan.

Maka begitu melihat lawannya menyambut ancaman itu dengan kekerasan, ia segera berpikir sambil tertawa geli, "Bocah keparat, kau sudah ingin mampus rupanya."

Belum habis ingatan itu melintas, dua gulung angin pukulan tanpa wujud sudah saling bentur.

Gelombang angin pukulan yang saling bentur itu seketika menimbulkan pusaran serta desingan angin tajam yang mengerikan dan melontarkan pasir serta debu hingga memenuhi angkasa.

Akibat benturan yang amat keras itu sepasang bahu kakek itu bergetar keras hingga tak dapat dicegah lagi tubuhnya terdorong mundur sejauh tiga langkah.

Sebaliknya Bong Thian-gak juga mendengus tertahan, lalu secara beruntun dia mundur tiga langkah dengan sempoyongan.

Ketika kakek bungkuk itu melihat Bong Thian-gak masih berdiri segar bugar di tempat, paras mukanya kontan berubah hebat, setelah tertawa dingin katanya, "Ehm, dari kemampuanmu menyambut seranganku tadi, bisa kuduga tenaga dalam yang kau miliki benar-benar amat sempurna." Pada saat itu Bong Thian-gak harus menerima semuanya itu tanpa menjawab, karena itu dia berlagak bisu dan tuli serta tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Sesudah tertawa bangga, gadis suku Biau itu berkata kembali, "He, si tua Bu, kau jangan keburu bangga dulu dengan mengira ilmu pukulanmu sudah tiada taranya di dunia ini. Ketahuilah pada malam ini kau telah bertemu dengan lawan tandingmu, tentunya kemampuan yang dimiliki anak buahku itu tidak lebih lemah daripada kemampuan yang kau miliki bukan?"

Sebenarnya kakek bungkuk ini memang agak bergidik dibuatnya, tapi di luar ia tetap berkata sambil tertawa dingin, "Siapa nama besar pengawalmu ini?"

Gadis suku Biau itu tersenyum.

"Jika kusebut namanya, besar kemungkinan kau akan terperanjat."

Sekali lagi si kakek bungkuk mengawasi Bong Thian-gak sekejap, lalu dengan kening berkerut katanya, "Jangan kuatir, nyaliku cukup besar, coba katakan orang ternama darimanakah pengawalmu itu hingga rela bertekuk lutut menjadi budak orang."

Bong Thian-gak kontan mengerut dahi, hawa napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya.

Kembali gadis suku Biau itu berkata sambil tersenyum, "Dia adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak, pernah kau dengar nama orang ini?"

Berubah hebat paras muka si kakek bungkuk itu, segera ia berpaling ke arah Bong Thian-gak dan bertanya, "Benarkah kau adalah Jian-ciat-suseng?"

"Benar, akulah orangnya," untuk pertama kalinya Bong Thian-gak bersuara dan menjawab dengan suara hambar. Tiba-tiba kakek bungkuk itu tertawa terbahak-bahak, kemudian serunya lantang, "Aku dengar kau telah mendirikan sebuah partai yang dinamakan Hiat-kiam-bun. Sungguh tak kusangka malam ini kau justru mengikat hubungan dengan perempuan liar ini, bahkan bersedia menjadi budaknya.

Peristiwa ini benar-benar tidak kusangka."

"Apa yang hendak kuperbuat, lebih baik kau tak usah ikut campur," kata Bong Thian-gak dengan suara dingin. "Bagaimana pun juga malam ini, Jian-ciat-suseng tak akan mengizinkan kau melukainya barang seujung rambut pun."

Sekali lagi kakek bungkuk itu tertawa terbahak-bahak, "Sudah puluhan tahun aku belum pernah bertemu seorang lawan tanding. Malam ini Jian-ciat-suseng memang perlu merasakan kemampuan sepasang telapak tanganku ini."

"Bu Seng, ilmu pukulan tanpa wujudmu meski sudah termasyhur di seluruh kolong langit belum tentu aku bukan tandinganmu, tapi malam ini orang yang melindungi keselamatannya bukan cuma aku seorang. Oleh sebab itu kuanjurkan kepada Bu-locianpwe agar segera mengundurkan diri, kesempatan bagi kita untuk bertarung di kemudian han masih cukup banyak."

"Siapa lagi yang berada di sini?" desak kakek bungkuk itu cepat.

Dengan suara dalam Bong Thian-gak menjawab, "Jangan kau tanya siapa orangnya, yang jelas dia adalah seorang tokoh sakti dari persilatan yang memiliki ilmu silat lebih tangguh daripada aku."

"Tahukah kau apa yang menjadi sengketa antara diriku dengan perempuan itu?" tegur si kakek bungkuk lagi.

"Walaupun aku tak tahu, namun kuharap Bu-locianpwe sudi memberi muka untuk kali ini saja, di kemudian hari aku pasti akan memohon maaf kepada Locianpwe." Kakek bungkuk itu tertawa terbahak-bahak, "Baiklah kalau begitu, aku mengundurkan diri untuk sementara waktu."

Selesai berkata, dia lantas mengulap tangan, kedelapan lelaki berbaju hitam tadi serentak menggotong jenazah rekan- rekannya dan berlalu mengikut di belakang kakek bungkuk itu.

Dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap di balik kegelapan sana.

Pada saat itulah dari bawah rindangnya pepohonan pelan- pelan berjalan keluar Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng.

Dengan suara rendah dan berat, Bong Thian-gak segera berkata kepada gadis suku Biau itu, "Nona, sekarang aku hendak bicara secara blak-blakan padamu. Kami bersedia membantumu menghadapi musuh mana pun, tetapi enggan menuruti perintah dan menjalankan tugas yang kau berikan."

"Tentunya nona tahu meskipun aku dan Tio-pangcu sudah keracunan, namun masih memiliki kekuatan untuk bertempur melawan musuh mana pun juga, tetapi demi keselamatan kami berdua, besar kemungkinan kami akan berbuat sewenang-wenang terhadapmu."

Biau-kosiu tertawa, "Kau menyebut diri sebagai pendekar, apakah kalian benar-benar akan turun tangan keji terhadap seseorang yang sama sekali tidak ada ikatan dendam maupun sakit hati terhadap dirimu?"

"Nona tak sudi menolong orang yang sedang susah, tiada setia kawan serta ingkar janji. Apakah kami pun akan membiarkan kau bertindak sewenang-wenang untuk keuntungan dirimu sendiri?"

Tiba-tiba Biau-kosiu menghela napas panjang, "Ai, semua itu gara-gara aku telah cerewet sehingga membocorkan kepada kalian bahwa aku dapat menyembuhkan racun sengatan nyamuk penghancur darah." "Bila nona bersedia membantu kami, Bong Thian-gak tak akan melupakan budi kebaikanmu itu."

"Baiklah, aku bersedia menghadiahkan obat penawar racun untuk kalian berdua," ucap Biau-kosiu kemudian.

"Apakah obat penawar racun berada di rumah penginapan?"

"Ya, silakan kalian ikut aku kembali ke rumah penginapan Ban-heng!"

Rumah penginapan Ban-heng adalah rumah penginapan terbesar di kota Lok-yang, bangunan rumahnya bersusun- susun dan kamarnya terdiri dari ratusan bilik, letaknya di sebelah barat dekat dinding kota.

Oleh karena itu Bong Thian-gak, Tio Tian-seng dan Biau- kosiu menelusuri dinding kota menuju ke bagian barat, kemudian melompati dinding benteng dan melayang masuk ke halaman rumah penginapan Ban-heng.

Waktu itu kentongan kelima baru saja bergema, bintang dan rembulan telah tenggelam, langit dicekam kegelapan.

Dengan gerakan tubuh yang enteng, Biau-kosiu menelusuri halaman menuju gedung lapisan kedua dan pada akhirnya melayang turun ke muka sebuah pintu.

Baru saja mereka muncul, dari balik gedung sudah terdengar seorang perempuan menegur tapi penuh kasih sayang, "Anak Siu di situ?"

Menyusul cahaya lentera menerangi ruangan kamar.

"Nenek, Siu-ji yang datang," Biau-kosiu berseru manja.

Dari balik ruangan terdengar perempuan tua itu menegur lagi, "Siapakah kedua orang lainnya?"

Ketika mendengar teguran itu, paras muka Tio Tian-seng dan Hong Thian-gak sama-sama berubah hebat, pikir mereka, "Hebat, tajam dan cekatan benar pendengaran perempuan itu, padahal langkah kami sudah diusahakan seringan mungkin, sudah tidak menimbulkan sedikit suara pun, tapi anehnya mengapa pihak lawan bisa membedakan berapa orang yang telah datang?"

Dapatlah diduga perempuan di dalam ruangan itu adalah seorang jagoan yang berilmu sangat tinggi.

Diam-diam Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng jadi kuatir, andaikata Biau-kosiu ingkar janji dan tak bersedia menyerahkan obat penawar racun, sanggupkah mereka berdua menandingi Biau-kosiu beserta perempuan tua itu?

Dalam pada itu Biau-kosiu termenung sesaat, tidak langsung menjawab, mendadak dari kegelapan muncul bayangan orang, tahu-tahu ada tiga orang telah mengurung Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng.

Ketiga orang itu terdiri dari seorang nenek berambut putih berwajah merah, membawa toya kepala setan yang besarnya selengan bocah dan berwarna hitam pekat.

Di sisi nenek itu adalah seorang perempuan setengah umur yang tinggi kekar bermata tunggal berparas jelek serta bertelanjang kaki yang bentuknya sebesar gajah.

Sedang di sebelah kanannya adalah seorang lelaki kekar setengah umur yang hitam dan jelek, bermata tunggal dan berperawakan tinggi kekar, dia pun bertelanjang kaki.

Pada hakikatnya kedua orang terakhir ini merupakan pasangan yang amat serasi, baik lelaki maupun yang perempuan sama-sama berwajah bengis, buas, bermata tunggal dan bertelanjang kaki.

Dari kemampuan ketiga orang yang muncul tanpa menimbulkan sedikit suara, bahkan sanggup menyelinap dengan kecepatan tinggi, jelas kemampuan mereka sungguh hebat dan tak bisa dianggap enteng. Seketika itu juga Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng dicekam oleh ketegangan yang luar biasa.

Sementara itu Biau-kosiu telah bersandar dalam pelukan si nenek berambut putih itu sambil berkata dengan manja, "Nenek, berilah dua butir pil penawar nyamuk beracun untukku, anak Siu telah berjanji akan menghadiahkan untuk mereka berdua."

Dengan penuh kasih sayang nenek berambut putih itu membelai rambut Biau-kosiu, lalu katanya, "Anak Siu, siapa kedua orang ini? Mengapa kau berjanji hendak menghadiahkan pil penawar nyamuk beracun itu kepada mereka?"

"Nenek janganlah bertanya terus, Siu-ji telah berjanji, tentu saja aku tidak ingin ingkar janji. Nenek, ayolah ambil pil itu!"

Tampaknya nenek berambut putih itu sangat menyayangi Biau-kosiu, ia segera menjawab, "Baik, nenek akan memberikan dua butir untuk mereka."

Seusai berkata, tiba-tiba nenek berambut putih itu mengeluarkan dua pil berwarna merah dari dalam sebuah botol berwarna putih porselen, kemudian diserahkan ke tangan nona itu.

Setelah menerima pil itu, Biau-kosiu segera menyerahkan kepada Bong Thian-gak sambil ujarnya manja, "Cepat kalian telan pil itu dan tinggalkan tempat ini secepatnya!"

Bong Thian-gak menerima pil itu, baru saja hendak mengucapkan beberapa patah kata merendah, nona itu di bawah bimbingan si nenek berambut putih dan diikuti sepasang laki perempuan bermata tunggal itu sudah berlalu dari sana.

Bong Thian-gak hanya bisa menghela napas dan menyerahkan sebutir pil ke tangan Tio Tian-seng, kemudian mereka menelan pil itu. Begitu pil itu masuk ke dalam mulut, bau harum semerbak memancar kemana-mana, pil segera mencair dan membaur dengan liur mengalir ke dalam perut.

Tak lama kemudian mereka berdua merasakan semangatnya berkobar kembali, dada terasa lapang dan segar.

Tio Tian-seng pun menarik Bong Thian-gak untuk diajak pergi dari situ.

"Kita hendak kemana?" tanya Bong Thian-gak. "Mari kita memesan kamar dan tinggal di rumah

penginapan ini."

Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng pun menginap di rumah penginapan Ban-heng, jaraknya dari situ ke gedung yang ditempati Biau-kosiu sekalian cuma selisih sebuah beranda lebar.

Di dalam gedung yang mereka pesan terdapat dua buah kamar dengan bagian tengahnya merupakan ruang tamu. Ketika Tio Tian-seng pergi meninggalkan penginapan, dalam ruangan itu tinggal Bong Thian-gak seorang.

Perjalanan yang jauh semalam suntuk membuat Bong Thian-gak merasa agak lelah, ketika ia bersiap-siap masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, mendadak dari halaman muka bergema suara langkah kaki, lalu seseorang berkelebat dan di muka pintu sudah berdiri seorang sastrawan berbaju putih.

Dengan terkejut Bong Thian-gak menegur, "Kau mencari siapa?"

Tampang sastrawan berbaju putih itu ganteng, mata jeli dan hidung mancung, mukanya putih bersih, ia menggenggam kipas putih dan menggembol sebilah pedang di punggungnya.

Dengan sorot mata tajam ia mengawasi wajah Bong Thian- gak lekat-lekat. Sekulum senyuman yang angkuh menghiasi ujung bibirnya, ia ganti menegur dengan lantang, "Kau yang bernama Jian-ciat-suseng?"

"Benar," Bong Thian-gak manggut-manggut. "Ada urusan apa kau datang mencariku?"

Sastrawan berbaju putih itu tersenyum. "Aku she Liong bernama Oh-im."

Sekalipun Bong Thian-gak merasa agak bingung dan heran atas kedatangan tamu tak diundang ini, namun ia segera menyahut dengan nada gembira, "Oh, rupanya Liong-heng.

Silakan duduk."

Tanpa sungkan sastrawan berbaju putih Liong Oh-im melangkah masuk ke dalam dan duduk di kursi tamu.

Bong Thian-gak menuang secangkir teh untuk tamunya, kemudian baru bertanya lagi, "Apakah Liong-heng mencari aku?"

"Benar," Liong Oh-im tertawa dingin. "Adapun kedatanganku tak lain adalah menanyakan beberapa persoalan kepada Bong-tayhiap."

"Liong-heng ada urusan apa, silakan saja utarakan secara terus terang," jawab Bong Thian-gak tertegun.

Kembali Liong Oh-im tertawa.

"Sebenarnya kita memang tidak saling mengenal.

Karenanya bila kedatanganku telah mengganggu Bong- tayhiap, harap sudi memaafkan."

"Ah, empat penjuru adalah tetangga, empat samudra adalah saudara."

Tiba-tiba sastrawan berbaju putih merendahkan suara, kemudian berbisik, "Bong-tayhiap, sebenarnya persoalan yang hendak kutanyakan adalah masalah yang menyangkut hubungan Bong-tayhiap dengan Biau-kosiu." "Kau maksudkan gadis suku Biau itu?" tanya Bong Thian- gak terperanjat.

Liong Oh-im tersenyum.

"Konon Bong-tayhiap menjadi salah satu pengawal Biau- kosiu? Apa benar kabar ini?"

Bong Thian-gak tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat, kemudian balik bertanya, "Ada urusan apa Liongheng menanyakan hal ini?"

Kembali Liong Oh-im tertawa kering, "Aku hanya ingin tahu, benarkah Bong-tayhiap sudah menjadi pengawalnya?"

"Tidak," Bong Thian-gak menggeleng dengan tegas. "Kalau memang Bong-heng bukan pengawal Biau-kosiu,

buat apa kau tetap berada di sini untuk menyerempet

bahaya?"

Bong Thian-gak tersenyum.

"Dengan berdiam dalam rumah penginapan ini, mungkinkah aku akan menjumpai ancaman maut?"

"Sudah banyak jago-jago lihai persilatan yang beranggapan bahwa Bong-tayhiap adalah orang Biau-kosiu. Dengan tetap berada di sini, bukankah sama artinya menjajakan diri menjadi sasaran kemarahan orang?"

Tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya, "Apakah kau berasal dari satu aliran dengan si pukulan tanpa wujud Bu Seng?"

"Betul, Bu Seng si tua itu tak lebih adalah panglima andalanku."

Bong Thian-gak sangat terkejut, segera pikirnya, "Jadi dia adalah anak buahnya? Lantas orang macam apakah Liong Oh- im?"

Bu Seng adalah tokoh silat yang pernah menggemparkan Bu-lim pada empat puluh tahun berselang, tapi sekarang dia tak lebih cuma seorang anak buah Liong Oh-im yang masih begitu muda.

Tentu Liong Oh-im adalah seorang yang mempunyai asal- usul luar

biasa.

Bong Thian-gak berpikir beberapa saat, kemudian katanya sambil tersenyum, "Apakah kau hendak membuat perhitungan dengan Biau-kosiu serta rombongannya?"

"Boleh dibilang begitu," sahut Liong Oh-im sambil tertawa ringan.

Bong Thian-gak segera tertawa.

"Aku rasa Biau-kosiu bukan manusia yang mudah dihadapi, lagi pula di sekelilingnya dilindungi oleh beberapa jago silat berilmu tinggi. Untuk menghadapi perempuan itu, kau mesti banyak membuang tenaga dan pikiran."

"Justru karena agak sulit dihadapi, maka aku sengaja datang menjumpai Bong-tayhiap dan berharap kau tidak mencampuri urusan ini," kata Liong Oh-im sambil tertawa.

Bong Thian-gak juga tertawa.

"Ah, aku cukup terang pikiran untuk membedakan mana budi dan mana dendam. Bila ada orang melepas budi kepadaku, aku pun akan membalas kebaikan kepadanya, tapi bila orang memberi kejahatan padaku, aku pun bersumpah akan menuntut balas. Jika persoalan tiada sangkut-paut dengan budi dan dendam, maka aku pun akan berpeluk tangan."

Liong Oh-im terbahak-bahak, "Jika Bong-tayhiap memang benar memegang ketat perkataanmu itu, aku pun tak usah kuatir lagi. Baiklah, aku mohon diri lebih dulu."

Selesai berkata, dia lantas berdiri, memberi hormat dan segera membalikkan badan berlalu dari situ. Bong Thian-gak mengawasi bayangan Liong Oh-im lenyap dari pandangan, kemudian menghela napas seraya bergumam, "Sebenarnya orang macam apakah Liong Oh-im? Dilihat dari gerak-geriknya, dia seperti memiliki jiwa seorang pemimpin. Mungkinkah dia benar-benar seorang tokoh terkenal yang memiliki kedudukan tinggi?"

Belum habis ingatan itu melintas, tiba-tiba dari luar pintu sudah muncul Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng.

Begitu memasuki ruangan, Tio Tian-seng segera bertanya, "Bong-laute, apakah ada tamu yang telah berkunjung kemari?"

Sekali lagi Bong Thian-gak tertegun, kemudian baru jawabnya, "Ya, memang ada seorang tamu tak diundang yang telah berkunjung kemari. Dia mendatangkan kebimbangan, kecurigaan dan kemisteriusan bagiku."

"Oya? Tamu macam apakah dia?"

"Seorang sastrawan berbaju putih yang berusia dua puluh tujuh-delapan tahun, dia mengaku bernama Liong Oh-im."

Mendengar nama itu, paras Tio Tian-seng berubah, kemudian serunya terkejut, "Liong Oh-im? Dia adalah Giok- gan-suseng (sastrawan berwajah kemala) Liong Oh-im yang namanya amat tersohor di seputar wilayah Se-ih."

Bong Thian-gak belum pernah mendengar tentang Giok- gan-suseng. Oleh sebab itu dia tidak terpengaruh oleh nama ini, malah tanyanya, "Menakutkankah orang itu, Tio-pangcu?"

"Mungkin Bong-laute belum begitu mengenal dan belum pernah mendengar tentang Giok-gan-suseng Liong Oh-im ini. Ketahuilah, sejak delapan belas tahun berselang, nama besar Giok-gan-suseng sudah amat termasyhur, bahkan amat menggetarkan wilayah Se-ih."

"Delapan belas tahun berselang?" Bong Thian-gak terkejut. "Tapi aku rasa Liong Oh-im masih berusia dua puluh delapan tahunan. Ah, mana mungkin? Masakah sejak usia sepuluh tahun sudah terkenal dan menggemparkan persilatan?"

"Bong-laute, kau salah taksir. Liong Oh-im tidak terhitung anak muda lagi, usianya sekarang sekitar empat puluh tahunan, tapi oleh karena dia telah memakan obat mustika yang disebut Ho-siu-uh yang berusia seribu tahun, maka wajahnya tetap awet muda dan menyerupai anak muda berusia dua puluh tahun, ditambah lagi parasnya memang termasuk tampan. Itulah sebabnya orang menyebut Giok-gan- suseng kepadanya."

"Ah, masakah di dunia ini benar-benar terdapat sejenis obat mustika yang bisa membuat orang awet muda?" seru Bong Thian-gak heran.

"Barusan aku telah berkunjung ke kantor cabang perkumpulan di l.ok-yang dan mendapat tahu bahwa Lok-yang telah dijadikan arena perkumpulan jago lihai dari seluruh kolong langit, seakan-akan bakal terjadi suatu peristiwa yang mengerikan di kota Lok-yang ini."

Bong Thian-gak menghela napas ringan.

"Setelah mendengar perkataan Liong Oh-im tadi, kemudian dicocokkan dengan perkataanmu barusan, maka aku rasa berkumpulnya para jago persilatan di kota Lok-yang ini bisa jadi hendak mencari gara-gara kepada pihak Biau-kosiu."

Secara ringkas lantas Bong Thian-gak menceritakan apa yang dibicarakannya bersama Liong Oh-im belum lama berselang.

Kata Tio Tian-seng dengan suara dalam, "Bong-laute, untuk menghadapi seorang Hek-mo-ong saja kita sudah cukup dibuat pusing dan kewalahan. Apakah kau hendak menanam bibit bencana lagi dengan mencari musuh baru macam Giok- gan-suseng Liong Oh-im?" "Biau-kosiu telah melepas budi pertolongan kepada kita berdua, apakah kita harus berpeluk tangan membiarkan dia dipermainkan dan dianiaya orang lain?"

"Bong-laute," Tio Tian-seng berkata, "pernahkah kau bayangkan siapakah sebenarnya orang yang telah menyergap kita dengan nyamuk-nyamuk penghancur darah itu?"

"Apakah hasil perbuatan Hek-mo-ong?"

Tio Tian-seng menggeleng kepala berulang-kali.

"Aku rasa bukan Hek-mo-ong, melainkan perbuatan Biau- kosiu."

"Bagaimana penjelasanmu tentang persoalan ini? Antara kita dengan Biau-kosiu sama sekali tidak terikat dendam sakit hati apa pun?"

"Apabila perbuatan Hek-mo-ong, maka dia pasti tidak hanya melepaskan nyamuk penghancur darah saja dan lebih- lebih tidak akan mengizinkan Biau-kosiu menyelamatkan jiwa kita. Sekarang kota Lok-yang sudah menjadi pusat jagoan dari bermacam-macam aliran dan kedatangan mereka pun untuk membuat gara-gara kepada Biau-kosiu serta rombongannya, posisi Biau-kosiu sudah terjepit dan menghadapi ancaman dari mana-mana. Betul, dia masih dilindungi nenek berambut putih serta laki-perempuan bermata tunggal itu, tapi mungkinkah baginya membendung serangan Liong Oh-im bersama kawanan jago lihai lainnya?"

"Oleh sebab itu Biau-kosiu yang licik dan banyak tipu muslihat itu melepas nyamuk-nyamuk penghancur darah untuk mencelakai kita, kemudian menguntit dan memaksa kita menjadi pengawalnya."

"Entah bagaimanakah pendapat Bong-laute tentang keteranganku ini? Apakah masih dapat diterima?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, apabila Tio- pangcu tidak mengatakan lebih dahulu bahwa Hek-mo-ong bisa menyergap kita berdua, aku pun menduga seperti apa yang baru saja kau kemukakan. Cuma peristiwa ini sudah lewat, entah Biau-kosiu benar-benar melepas nyamuk-nyamuk penghancur darah secara sengaja untuk mencelakai kita atau tidak, Boanpwe sudah tidak mengingat lagi masalah itu dalam hati."

"Bong-laute, hari ini kita masih berdiam di Lok-yang karena menunggu kabar Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing. Kita hanya secara kebetulan bertemu perselisihan antara golongan Biau- kosiu dengan Giok-gan-suseng Liong Oh-im. Perkataan Bong- laute terhadap Liong Ohi m kunilai tepat sekali, kita memang tak usah mencampuri urusan orang lain, lebih baik berpeluk tangan menyaksikan mereka saling gontok."

"Tio-pangcu," tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya, "sekarang aku makin bingung. Betulkah dalam Bu-lim terdapat seorang tokoh yang disebut Hek-mo-ong?"

"Tak heran Bong-laute merasa ragu dan sangsi terhadap peristiwa Ini. Nama Hek-mo-ong memang tidak diketahui oleh sebagian besar umat persilatan, seperti pula keberhasilan perkumpulan Put-gwa-cin-kau menguasai dunia persilatan. Hal ini pun disebabkan kemisteriusan yang menyelimuti setiap tokoh mereka."

"Tio-pangcu, kau mempunyai dugaan atas empat orang yang kemungkinan besar adalah Hek-mo-ong, bolehkah kuketahui keempat orang yang manakah menurut kau kemungkinan besar adalah Hek-mo-ong ?”