Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 10

 
Jilid 10

Cui-im-hong merupakan nama sebuah bukit yang terletak di luar kota Lok-yang sebelah utara, di depan bukit itu terdapat sebuah sungai yang berhubungan dengan sungai Lok-sui, di balik bukit merupakan rangkaian gunung berlapis- lapis dan sambung-menyambung tiada ujungnya.

Menyusuri tepi sungai terbentang sebuah jalan raya yang amat lebar, semakin ke arah bukit semakin sedikit pula manusia berlalu lalang di sana.

Di tengah keheningan malam yang mencekam jagad, tiba- tiba terdengar suara roda kereta yang bergema di jalan raya, lalu muncul sebuah kereta mendekati tempat itu. Akhirnya kereta ini berhenti di sebuah rumah.

Bangunan itu meliputi suatu daerah yang sangat luas, empat penjuru sekeliling tempat itu penuh ditumbuhi aneka macam bunga yang beraneka warna, dari kejauhan pun sudah. dapat terendus bau harum bunga yang semerbak.

Setelah berhenti sejenak, dari balik kereta kemudian berjalan keluar seorang sastrawan pincang, dalam bopongannya menggelendot seorang gadis cantik yang lumpuh sepasang lengannya. Dari sakunya Bong Thian-gak mengeluarkan sekeping uang perak untuk membayar ongkos kereta, kemudian dia mengangkat kepala dan memandang sekejap bangunan itu, katanya pelan, "Tampaknya orang sudah tidur."

Thay-kun ikut mengangkat kepala memandang keadaan cuaca, kemudian menyahut, "Sekarang tak lebih kentongan pertama."

Bicara sampai di situ, tiba-tiba firasat jelek melintas di benaknya.

Ternyata suasana di dalam bangunan besar di kaki bukit ini gelap gulita, tiada cahaya lentera, tiada suara manusia, keadaan tak jauh berbeda dengan kota mati.

Sementara itu kereta sudah pergi jauh, di bawah kaki bukit tinggal mereka berdua saja.

Mendadak paras muka Bong Thian-gak berubah hebat, bisiknya, "Ada orang datang."

Tampak tiga bayangan orang muncul di situ, mereka bukan keluar dari balik pintu gerbang, melainkan melompat turun dari atas atap iimiah, dalam dua kali lompatan saja mereka sudah melayang turun di hadapan Bong Thian-gak.

Ketiga orang itu terdiri dari dua orang lelaki berperawakan tinggi besar dan seorang berkerudung berbaju hitam.

Berhadapan dengan orang berkerudung berbaju hitam itu, kontan mencorong sinar berapi-api dari balik mata Bong Thian-gak.

Sedangkan paras Thay-kun juga berubah hebat, tanyanya dengan suara gemetar, "Berapa orang di antara kalian yang telah datang?"

Orang berkerudung berbaju hitam itu tertawa dingin. "Racun yang dilepaskan Ji-kaucu mungkin saja kehilangan kehebatannya di tubuh kalian berdua, namun perhitunganku tak akan pernah meleset."

"Jit-kaucu, apabila kau tahu diri, ikutlah aku pulang, siapa tahu Cong-kaucu akan meninggalkan sebuah jalan kehidupan bagimu!"

Sementara itu berbagai pikiran telah berkecamuk dalam benak Bong Thian-gak, dia lantas berpikir, "Sanggupkah aku seorang melawan mereka bertiga?"

Seandainya dalam keadaan biasa, Bong Thian-gak percaya masih sanggup bertarung melawan ketiga orang itu, seandainya kalah, ia masih sanggup melarikan diri.

Tapi sekarang dia menyadari tak mempunyai kekuatan seperti itu.

"Gi Jian-cau berada di dalam," sahut orang berkerudung berbaju hitam hambar.

"Kau telah melukainya?"

"Dia pernah menyelamatkan jiwaku, dia masih terhitung tuan penolongku sendiri, karenanya aku tak mungkin berbuat demikian, kau pun tak usah berbuat demikian."

Mendengar ucapan itu, Thay-kun menghela napas panjang, "Ai, kenapa aku tak pernah berpikir kau pun pernah menjadi tamu di rumah kediaman tabib sakti Gi Jian-cau."

Orang berkerudung tertawa dingin, "Betul, ilmu pertabiban G i Jian-cau memang luar biasa, terutama kemampuannya membuat obat, boleh dibilang tiada duanya di dunia ini dan hal ini rasanya hanya diketahui oleh Cong-kaucu, kau dan aku bertiga saja."

"Tapi sekarang telah bertambah banyak orang yang mengetahui rahasia ini." Mencorong sinar tajam dari bilik mata orang berbaju hitam itu, ujarnya kemudian sambil tertawa, "Apakah malam ini kalian masih ingin meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup?"

Mendadak Bong Thian-gak berseru, "Siau Cu-beng, aku hendak membunuhmu!"

Tergetar keras perasaan orang berbaju hitam itu setelah namanya disebut Bong Thian-gak, kemudian setelah tertawa dingin, serunya, "Sungguh tak kusangka Jit-kaucu telah mengingkari sumpah sendiri dengan membocorkan rahasia terbesar partai kita, kalau begitu dosa dan kesalahan Jit-kaucu sudah tak bisa dimaafkan lagi!"

Ternyata rahasia terbesar Put-gwa-cin-kau adalah menghilangkan nama asli tokoh-tokohnya dengan mengganti namanya memakai urutan nomor, itulah sebabnya hingga kini orang-orang yang berkumpul dalam Put-gwa-cin-kau sebagai pemimpin jarang diketahui asal-usulnya oleh orang lain, bahkan dianggap misterius sekali.

Perbuatan pertama yang harus dilakukan setiap orang yang bergabung dengan Put-gwa-cin-kau adalah bersumpah untuk tidak membocorkan rahasia tokoh-tokoh dalam perkumpulan itu, barang siapa berani melanggar sumpah itu, maka dosanya tidak terampuni lagi, malah bisa dijatuhi siksaan yang paling keji.

Thay-kun sendiri pun terperanjat sekali mendengar Bong Thian-gak menyebutkan nama Siau Cu-beng, serunya pula, "Suheng, kau ... kau tidak boleh "

Mendengar seruan itu Bong Thian-gak amat terperanjat, ia tahu gadis itu melarang dirinya mengungkap asal-usulnya yang sebenarnya.

Akan tetapi gerak-gerik mereka ini semakin mencurigakan Siau Cu-beng, dia segera berpikir, "Siapakah dia? Bukankah dia adalah Ko Hong?" Berpikir demikian, orang berkerudung kemudian berkata, "Pandai amat saudara menyaru, sebenarnya siapakah dirimu?"

"Ko Hong!" jawab Bong Thian-gak hambar.

"Kau bukan Ko Hong!" bentak orang berkerudung. "Hm! Aku mempunyai cara untuk mengetahui asal-usulmu yang sebenarnya!"

Begitu selesai berkata, dia lantas mengulap tangan kirinya, kedua orang yang berdiri di sisinya serentak maju dengan langkah lebar.

Kepandaian silat pasukan berbaju perlente pengawal tanpa tanding telah dilihat dan dicoba oleh Bong Thian-gak beberapa hari lalu, di saat mereka menyerbu ke dalam gedung Bu-lim Bengcu tempo hari.

Waktu itu Goan-ko Taysu dari Siau-lim-si serta Wan-pit- kim-to (Golok emas berlengan monyet) Ang Thong-lam dari Tiam-jong-pay melakukan pertarungan sengit melawan mereka, hal ini menunjukkan betapa hebatnya ilmu mereka.

Pada hari biasa tentu Bong Thian-gak tak takut terhadap mereka, namun berbeda sekarang ini.

Dia sendiri telah keracunan hebat, walaupun telah menelan Tok-liong-wan yang bisa mencegah beredarnya racun menyerang isi perut, hingga pikirannya tetap jernih dan tak ubahnya seperti keadaan sehat.

Padahal Bong Thian-gak sendiri tahu lengan kanannya yang terluka bacokan masih terasa linu dan kaku, tenaganya sama sekali tak mampu dikerahkan ke situ.

Tapi menghadapi musuh yang semakin mendesak, dia pun sadar, bila musuh tak segera dibinasakan, akibatnya tak bisa dibayangkan.

Ingatan itu melintas di benaknya, Bong Thian-gak segera meraung gusar, telapak tangan kiri diayun ke depan dan langkah kakinya bergeser berulang kali, kemudian melepaskan sebuah bacokan maut ke depan.

Dimana serangannya dilancarkan seakan-akan sama sekali tak bertenaga, karena tak terdengar sedikit suara pun.

Padahal siapa menduga dalam serangan ini Bong Thian-gak telah mengerahkan segenap kekuatannya.

Tiba-tiba saja terdengar dua kali jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecah keheningan.

Dua orang pengawal tanpa tanding yang maju ke muka berhenti di tengah jalan, tiba-tiba badannya berubah seperti tak bertulang, dengan lemas dan tak bertenaga mereka roboh terduduk ke tanah.

Namun setelah terduduk, mereka pun tak pernah merangkak bangun kembali.

Seluruh tulang mereka telah terhajar hancur oleh tenaga maha dahsyat itu, bagaimana mungkin mereka bisa merangkak bangun? Mereka tewas seketika, tewas tanpa penderitaan sedikit pun. Bong Thian-gak sendiri sempoyongan setelah melancarkan dua buah serangan itu, matanya berkunang-kunang dan kepala amat pening, hampir saja ia roboh tak sadarkan diri, dadanya menjadi sesak dan tak

mampu bernapas.

Sungguh suatu penderitaan yang hebat, dia sampai terbungkuk-bungkuk dibuatnya.

Jit-kaucu Thay-kun menjerit keras, "Ke ... kenapa kau?" Dengan susah payah dia menggeser tubuh mendekati Bong

Thian-gak, sementara air mata bercucuran membasahi

wajahnya yang cantik.

Kulit Bong Thian-gak mengencang keras, lalu serunya dengan suara gemetar, "Kau ... kau mundurlah ke sisiku, aku

... aku ... aku sudah tak sanggup mempertahankan diri lagi " Dalam pada itu orang berkerudung sudah dibuat terpukau dan terkesiap oleh kedahsyatan serangan Bong Thian-gak yang berhasil membunuh kedua anak buahnya dalam sekali pukulan.

Dia berdiri tak berkutik, sementara sepasang matanya mengawasi kedua sosok mayat yang tergeletak lemas di tanah tanpa berkedip.

Dia pernah terhajar oleh serangan Bong Thian-gak, dia pernah menyaksikan pula Liok-kaucu terkena pukulannya hingga jatuh dari lengah udara dan sekarang dia menyaksikan pula bagaimana musuh membinasakan kedua pengawal tanpa tanding yang berilmu tinggi dalam sekali gebrakan saja.

Tenaga pukulan yang begitu dahsyat  dan  mengerikan ini membuat hatinya terkesiap.

Mendadak ia menyaksikan penderitaan yang dialami Bong Thian-gak, segera pikirnya dalam hati, "Mungkin dia pura-pura kesakitan untuk memancing keteledoranku, lalu secara tiba- tiba melancarkan serangan mematikan?"

Oleh karena bersangsi, maka untuk beberapa saat orang itu tak berani berkutik, dia hanya berdiri diam.

Thay-kun yang berada di sisinya dapat membaca suara hati orang berkerudung itu, ia memang kuatir orang itu benar- benar melancarkan serangan pada saat demikian.

Maka sambil tertawa dingin jengeknya, "Siau Cu-beng, mengapa kau tidak melancarkan seranganmu?"

Orang berkerudung tertawa dingin, "Jit-kaucu, berani amat kau menyebut namaku secara langsung?"

"Mengapa tidak? Sekarang aku sudah mengundurkan diri dari Put-gwa-cin-kau, sejak kini semua perbuatan terkutuk dan memalukan yang dilakukan orang-orang Put-gwa-cin-kau akan segera terbeber di Bu-lim Belum selesai dia berkata, segulung angin berhembus membawa segulung bau harum yang aneh, bau harum mirip bau harum bunga anggrek, tapi seperti juga aroma tertentu.

Bau harum itu datangnya sedikit aneh, seolah-olah disebarkan dari angkasa hingga permukaan bumi dipenuhi bau harum itu.

Bong Thian-gak yang sedang duduk bersila di atas tanah pun ikut menghirup bau itu, hanya saja ia tak menaruh perhatian.

Berbeda dengan Thay-kun, paras mukanya segera berubah pucat-pias seperti mayat, sekujur tubuhnya gemetar keras, sementara dari balik matanya memancar rasa kaget, seluruh wajahnya diliputi perasaan ngeri.

Siau Cu-beng segera menunjukkan reaksi yang berlawanan, dari balik sorot matanya segera memancar perasaan girang, bangga dan lega.

Pada saat itulah dari tengah kebun bunga tabib sakti Gi Jian-cau telah bertambah dengan sebuah tandu. Tandu yang luar biasa besarnya.

Di kedua sisi tandu berdiri dua baris orang, ada lelaki ada pula perempuan, mereka berjumlah dua puluh empat orang, tapi berhubung jaraknya kelewat jauh, apalagi suasana di sekitar tempat itu gelap-gulita, sulit baginya untuk melihat dengan jelas.

Padahal Thay-kun dan Siau Cu-beng tak perlu memeriksa lagi juga sudah tahu siapa gerangan yang akan muncul.

Bong Thian-gak mendongakkan kepala, dia pun melihat bayangan tandu besar serta bayangan orang itu.

Dengan perasaan bergetar, keluhnya dalam hati, "Mungkinkah dia?"

"Siapakah dia?" Tentu saja yang dimaksud adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin- kau.

Suasana sekeliling tempat itu sunyi-senyap, sedemikian heningnya sampai-sampai suara Thay-kun yang gemetar keras dapat terdengar dengan jelas.

Pada saat inilah Thay-kun menyadari nasibnya, betapa gawai situasi yang sedang dihadapinya sekarang.

Kematian bukan sesuatu yang menakutkan, yang patut disedihkan adalah Bong Thian-gak bakal mati pula bersama dia.

Mendadak terdengar suara lembut dan halus berkumandang memecah keheningan.

"Kun-ji, setelah bertemu diriku, mengapa kau malah ketakutan setengah mati?"

Suara lembut itu berasal dari balik tandu, besar di hadapan mereka, bukan saja suaranya lembut bahkan sangat jelas, seakan-akan sedang berbicara berhadapan.

Thay-kun yang dipanggil menggigit bibir, dengan suara penuh kebimbangan dia berkata, "Apa yang hendak kau lakukan, silakan saja dilaksanakan atas diriku, bagiku kematian bukan sesuatu yang terlalu menakutkan, dua puluh tahun lagi aku akan muncul kembali sebagai manusia "

"Murid murtad!" tiba-tiba Siau Cu-beng membentak. "Berani kau bicara seperti itu terhadap Cong-kaucu."

Sementara itu suara lembut dan merdu kembali berkumandang, "Kun-ji, kau benar-benar seorang yang lupa budi, sia-sia aku mendidik dan merawatmu selama dua puluh tahun, ai perbuatanmu membuat hatiku pedih."

Mendadak Thay-kun mendongakkan kepala sambil tertawa terkekeh-kekeh, suaranya penuh dengan kepedihan dan penderitaan. Selesai tertawa, dengan suara dingin ucapnya, "Dua puluh tahun belakangan ini, sudah amat besar pengorbanan yang Thay-kun perbuat untuk membayar budi kebaikanmu itu.

Thay-kun merasa sudah tidak berhutang budi lagi kepadamu, sekarang satu-satunya persoalan yang membuatku tak dapat melupakan adalah asal-usulku ... mungkinkah aku adalah putrimu?"

Hingga sekarang Thay-kun masih belum tahu nama marganya, seingatnya dia sudah di sisi Cong-kaucu sejak kecil, tapi dia tahu bahwa dirinya pasti bukan putri perempuan itu.

Kendati dia tahu, Thay-kun masih tetap bingung dan kuatir.

Tampaknya Cong-kaucu enggan menjelaskan pertanyaan itu, sampai lama sekali belum terdengar juga jawabannya.

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah bangkit, sambil menepuk bahunya dengan tangan kiri, dia berbisik lirih, "Sumoay, segala sesuatunya Thian yang menentukan, kematian bukan sesuatu yang mengerikan, aku gembira sekali dapat mati bersamamu."

Sekujur badan Thay-kun gemetar keras, bisiknya kemudian, "Suheng, kau tak boleh mati begitu saja, kau harus membalas dendam, balas dendam bagiku, kau pun harus membalas dendam bagi mereka yang telah dibunuh oleh orang-orang Put-gwa-cin-kau."

Bong Thian-gak tertawa pedih.

"Nasib kita terlalu tragis, terlalu mengenaskan "

"Kau kan bisa melarikan diri."

"Dengan kondisi sekarang, mustahil! Aku dapat melarikan diri cuma sejauh tujuh langkah!"

Tiba-tiba Thay-kun berbisik lirih, "Di dalam sakuku masih terdapat empat buah butir Tok-liong-wan, pil itu memang sengaja aku sediakan untukmu. Cepat ambil dari dalam sakuku dan telanlah keempat butir itu sekaligus, siapa tahu setelah menelan keempat butir pil itu, kau akan mati seketika, tapi kemungkinan juga akan membangkitkan kekuatan dan hawa murni dalam tubuhmu."

"Aku tahu, meskipun demikian sungguh berbahaya sekali, namun kita harus mencobanya."

"Andaikan nasib kita kurang beruntung sehingga setelah menelan Tok-liong-wan ini kau mati, aku pun akan segera menggigit lidahku untuk bunuh diri, aku dapat mati di sisimu. Bila kau beruntung tidak mati, maka kau dapat berusaha menerjang keluar dari kepungan ini, sedangkan aku akan berusaha keras melanjutkan hidup, apabila masih ada harapan, tak nanti kau membiarkan aku begitu saja."

Mendengar ucapan itu, ibarat orang di tengah gurun yang tiba-tiba menemukan air, walaupun harapan itu sedikit sekali, namun Bong Thian-gak dapat merasakan betapa besarnya harapan itu.

Perkataan Thay-kun sudah cukup jelas, seandainya dia tidak berbuat demikian, berarti dia mempunyai satu jalan untuk mati. Atau dengan perkataan lain, persoalan sudah gawat, tiada pilihan lain lagi.

Maka Bong Thian-gak segera menggeser tangan kirinya ke arah pinggang Thay-kun, kemudian merogoh ke dalam sakunya dan mengambil keluar botol obat itu.

Dia tidak ragu-ragu lagi, dengan cepat tutup botol dibuka, lalu hendak menuang seluruh isi botol ke dalam mulutnya.

Belum selesai dia mengerjakan hal itu, tiba-tiba terdengar Cong-kaucu berseru, "Wakil komandan Siau, bunuh dulu yang pria, sedangkan Jit-kaucu akan kuhukum sendiri."

Siau Cu-beng bermata jeli, dapat melihat perbuatan Bong Thian-gak, secepat kilat dia melolos pedang pendeknya, kemudian secepat sambaran kilat membacok ke depan. Ilmu silat Siau Cu-beng sudah pernah disaksikan Bong Thian-gak beberapa hari berselang, dia pun tahu jurus pedangnya sangat aneh, ganas dan cepat.

Bahkan beberapa hari yang lalu, karena bersikap kurang waspada, Bong Thian-gak telah merasakan tusukan pedang Siau Cu-beng, apalagi sekarang tangan kirinya sedang meraih obat untuk ditelan, sedang serangan musuh sudah meluncur tiba.

Siau Cu-beng memang tak malu disebut seorang berakal busuk, dalam melancarkan sergapannya ini, pedang yang satu menyerang Thay-kun, pedang yang lain menyapu tubuh bagian tengah Bong Thian-gak, sekaligus menutup jalan mundurnya.

Sebenarnya Bong Thian-gak masih dapat melompat mundur menghindar, tetapi dengan demikian Thay-kun pasti akan termakan tusukan pedang itu.

Dalam keadaan gelisah dan cemas, Bong Thian-gak sama sekali tidak menyadari tusukan musuh terhadap Thay-kun hanya serangan tipuan saja.

Maka dalam kaget dan cemasnya, Bong Thian-gak menumbuk tubuh Thay-kun dengan sikut kirinya, bersamaan itu pula tangan kanannya melayang ke atas menyampuk pedang musuh yang membabat ke arah urat nadi pergelangan tangan kirinya.

Waktu itu sepasang tangan Thay-kun telah cacat, bagaimana mungkin dia dapat menghindarkan diri dari sikutan anak muda itu.

"Aduh!"

Di tengah teriakan kerasnya, tubuh Thay-kun roboh terjengkang. Namun dengan mata terbelalak Thay-kun dapat melihat tusukan pedang Siau Cu-beng yang semula ditujukan ke arahnya itu kini sudah miring ke samping, bahkan secepat kilat membacok ke arah lengan kanan Bong Thian-gak.

Waktu itu lengan kanan Bong Thian-gak telah menjadi kaku, untuk bergerak pun tak dapat, apalagi untuk menghadapi perubahan jurus serangan Siau Cu-beng yang dilancarkan dengan begitu cepat, ganas dan berbahaya.

Thay-kun menjerit kaget.

Di tengah jeritan itulah, lengan kanan Bong Thian-gak telah terpapas kutung sebatas bahu.

Darah segera mengucur dengan derasnya, sedang Bong Thian-gak sendiri pun mundur sejauh tiga langkah dengan sempoyongan.

Mimpi pun dia tak menyangka setelah dua buah otot kaki kirinya dikutungi Siau Cu-beng pada tujuh tahun berselang hingga membuatnya pincang, tujuh tahun kemudian dia harus kehilangan lengan kanannya di tangan orang yang sama.

Pada hakikatnya keadaannya sekarang tak ubahnya orang cacat.

Dalam gusar dan sedihnya, cepat dia menelan empat butir Tok-liong-wan itu ke dalam mulut, kemudian telapak tangan kiri melepaskan sebuah pukulan dahsyat dari jarak jauh.

Selama ini Siau Cu-beng cukup tahu kelihaian ilmu pukulan lawan, dia paling jeri menghadapi serangan maut Bong Thian- gak.

Begitu angin pukulan lawan dilancarkan ke depan, cepat dia menenteng pedangnya melompat ke samping untuk menghindar.

Segulung angin pukulan yang amat dahsyat dengan membawa debu dan pasir yang beterbangan di angkasa langsung menyapu ke depan dan menyambar sejauh puluhan kaki. Angin pukulan yang sangat dahsyat itu benar-benar mengerikan, membuat setiap orang bergidik.

Gagal dengan serangannya yang maha dahsyat itu, cahaya sinar pedang Siau Cu-beng segera menyusul tiba, bagaikan dua ekor naga sakti yang terbang di angkasa hebatnya.

Pertarungan antara jago lihai, yang diutamakan adalah kelihaian memanfaatkan kesempatan, kali ini terpaksa Bong Thian-gak mundur dari balik kepungan cahaya pedang itu.

Darah segar masih bercucuran deras dari lengannya yang kutung itu, kini Bong Thian-gak telah berubah menjadi manusia darah.

Thay-kun merasa sakit hati menyaksikan kejadian itu, segera teriaknya keras, "Suheng, kenapa kau tidak melarikan diri saja?"

Meski lengan kanan Bong Thian-gak baru kutung, darah masih bercucuran dengan amat derasnya, namun dia sama sekali tak merasa sakit karena lengannya itu sesungguhnya sudah kaku dan hilang rasa.

Sambil mengertak gigi, untuk kesekian kalinya dia melancarkan pukulan menggunakan telapak tangan kiri.

Tentu saja Siau Cu-beng tak berani menyambut serangan itu dengan kekerasan.

Kali ini Bong Thian-gak bertindak lebih cerdik, baru saja dia melancarkan pukulan, tubuhnya sudah melompat ke samping Thay-kun, cepat tangan kirinya menyambar tubuh Thay-kun dan memeluknya kencang.

Thay-kun tahu pemuda ini hendak mengajaknya kabur, dia tidak membiarkan anak muda itu mewujudkan keinginannya.

Setelah melepaskan diri dari pelukan Bong Thian-gak, mendadak gadis itu bergulingan di tanah, teriaknya, "Suheng, bila kau tidak pergi, terpaksa aku menggigit lidah dan bunuh diri lebih dulu."

Suaranya mengenaskan seperti jeritan monyet di selat Wa- sia atau lolongan serigala di tengah malam, keadaannya sungguh menyeramkan.

Sementara itu Siau Cu-beng telah menerjang maju, kali ini dia mengubah taktik permainan pedangnya, sepasang pedangnya bagaikan dua buah pisau belati melepaskan serangan dengan teknik menggaet, membabat dan menjojoh.

Dalam waktu singkat dia telah melancarkan delapan serangan dahsyat.

Menghadapi serangan gencar musuh, Bong Thian-gak terdesak hebat hingga tiada kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.

Berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa dia harus berkelit sambil mundur berulang-kali.

Tampaknya Cong-kaucu telah mengetahui pemuda ini memiliki kepandaian silat melebihi orang lain, mustahil bagi Siau Cu-beng untuk menaklukkan dirinya. Maka dengan cepat perintahnya, "Dua belas pengawal, cepat bantu wakil komandan Siau membunuh jahanam itu!"

Thay-kun cukup mengetahui ketangguhan kedua belas pengawal lelaki-perempuan di samping tandu Cong-kaucu, kepandaian silat mereka aneh, lihainya bukan kepalang.

Dengan perasan cemas dan gelisah, kembali gadis itu berteriak, "Suheng, bila kau tidak pergi, kita akan mati bersama di sini!"

Sementara itu dua belas sosok bayangan orang telah melompati dinding pendek secara beruntun dan menerjang tiba dengan kecepatan luar biasa. "Baik!" seru Bong Thian-gak emosi. "Aku akan pergi! Kau tak boleh mati!"

Tampaknya Bong Thian-gak telah berkeputusan, tubuhnya segera meloloskan diri dari kepungan cahaya pedang, kemudian melompat jauh.

Tapi dua belas sosok bayangan orang yang menerjang tiba itu seperti sudah menduga Bong Thian-gak akan meloloskan diri dari kepungan, maka enam di antara mereka menghadang ke arah selatan, sedang enam sisanya mengepung dari arah utara.

Mereka adalah dua orang perempuan dan seorang laki-laki, yang perempuan bersenjata pedang pendek, sedang yang

laki-laki bersenjata tombak panjang.

Pengawal bersenjata tombak melancarkan tusukan lebih dahulu.

Tusukan itu dilancarkan dengan dahsyat.

Waktu itu Bong Thian-gak sudah bertekad menerjang keluar dari kepungan untuk melarikan diri, tiada ingatan untuk mundur, diiringi bentakan gusar, telapak tangan kirinya segera diayunkan ke depan.

Meskipun jurus serangan baru saja dilancarkan, namun hawa pukulan tak berwujud sudah meluncur ke depan dengan cepat.

Pengawal bertombak itu sama sekali tak menyangka musuh bakal melancarkan serangan di saat tombak itu sudah berada di hadapannya, pertarungan ini untuk mengadu jiwa.

Asalkan gerak serangan Bong Thian-gak selangkah lebih lambat, sudah pasti dia tak akan lolos dari tusukan tombak itu, tentu saja serangan pukulan pun ada kemungkinan membunuh lawannya. Hanya saja pengawal bertombak itu sudah melalaikan kecepatan angin pukulan yang dilancarkan Bong Thian-gak.

Dengusan tertahan berkumandang, tahu-tahu pengawal itu sudah terkena pukulan tak berwujud hingga tubuh berikut tombak mencelat, tak dapat disangsikan lagi isi perutnya hancur tak keruan.

Baru saja serangan itu dilepaskan, sepasang pedang pendek kedua pengawal perempuan sudah menyerang tiba dari kiri dan kanan.

Keadaan Bong Thian-gak kini ibarat binatang buas yang terluka, di antara putaran telapak tangan kirinya, segulung angin pukulan telah meluncur ke depan dan menghajar orang di sebelah kanan, sedangkan kaki kanan menendang orang yang berada di sebelah kiri. 

Jurus serangan yang digunakan merupakan jurus-jurus tangguh yang jarang ditemui dalam Bu-lim.

Benar juga, kedua orang pengawal itu segera menjerit tertahan, kemudian roboh terjengkang di atas tanah.

Ilmu silat yang mengerikan itu menggetarkan hati, dalam waktu singkat beruntun tiga pengawal lelaki perempuan sudah roboh binasa.

Saat pembantaian agak terhenti inilah sebilah pedang telah menyusup datang dari arah belakang punggung Bong Thian- gak tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

Penyergapnya adalah Siau Cu-beng, hanya dia yang bisa mencapai sasaran dalam waktu singkat.

Walau Bong Thian-gak merasakan datangnya serangan pedang itu, sayang tiada kesempatan lagi baginya untuk menghindar, terpaksa dia harus menerjang ke depan dengan sepenuh tenaga. Tahu-tahu pinggang kirinya sudah terasa dingin dan panas. Di atas tubuh Bong Thian-gak telah bertambah dengan sebuah luka memanjang, untung hanya luka ringan, namun darah segera bercucuran dengan derasnya.

Karena terhenti, dua orang pengawal bertombak segera menyerbu, ?..itu dari kiri dan yang lain dari kanan.

Bong Thian-gak benar-benar terdesak hebat, sambil mengertak gigi, pukulan tanpa tandingannya sekali lagi dilontarkan ke depan.

Dimana angin pukulannya menyambar, selalu ada yang roboh lei kapar, namun setiap kali Bong Thian-gak berhasil membunuh orang, tubuhnya bertambah pula dengan sebuah tusukan pedang Siau Cu-beng.

Secara beruntun Bong Thian-gak telah membinasakan delapan orang pengawal lelaki perempuan, namun tubuhnya pun sudah tidak ada bagian yang utuh.

Keadaannya sekarang sudah tidak berwujud manusia lagi, dia lebih mirip sesosok manusia darah, iblis berwajah menyeramkan.

Namun semangatnya untuk mempertahankan hidup membuat dia tak sampai roboh.

Pertempuran yang mendebarkan hati masih berlangsung terus, berlangsung dan berkembang dengan hebatnya.

Bayangan mereka pun makin lama semakin tertarik jauh di bawah sinar rembulan.

Thay-kun yang menyaksikan keberanian serta kenekatan Bong Thian-gak dalam melakukan perlawanan, segera bergumam, "Dia pasti dapat menerjang keluar kepungan, dia pasti dapat hidup lebih jauh "

Ucapan itu diulang-ulang, sementara air matanya bercucuran membuat pandangan matanya menjadi kabur, ia tak dapat menyaksikan jalannya pertarungan lagi, tidak mendengar pula suara apa pun.

0oo0

Cahaya rembulan menyinari tanah perbukitan. Air mengalir deras menyusuri sungai yang meliuk-liuk di antara celah bukit.

Di bawah sinar rembulan, tampak sesosok bayangan sedang merangkak di atas jalanan batu di tepi sungai.

Dia adalah sesosok manusia darah, hampir sekujur tubuhnya tubuhnya berlepotan darah.

Darah sudah hampir mengering dari sekujur tubuhnya, mulut luka yang memenuhi sekujur tubuhnya seperti sarang lebah, sedang mulut luka pada lengan kanannya yang kutung kini sudah tidak nampak darah meleleh.

Setiap orang yang memandang luka-luka itu pasti tak akan percaya kalau dia masih bisa hidup.

Benar, dia masih hidup, bahkan sedang merayap di sisi sungai berusaha mencari air.

Namun keadaan tubuhnya yang begitu lemah, membuatnya sukar untuk menggerakkan badannya barang sejengkal.

Dia hanya bisa mencengkeram sebuah batu kecil dengan kelima jari tangan kirinya yang dijulurkan ke depan, bibirnya ternganga lebar penuh noda darah, sementara sepasang matanya mengawasi air sungai tanpa berkedip.

Dia sangat haus, luka yang memenuhi seluruh badannya membuat suhu badannya meningkat, dia membutuhkan air untuk menghilangkan dahaganya, namun dia telah kehabisan tenaga untuk maju. Akhirnya dia putus-asa, dia tahu ajalnya sudah berada di depan mata, segala macam penderitaan tak akan menyiksa dirinya lagi.

Berada dalam keadaan dan situasi seperti ini, dia tidak terpengaruh oleh perasaan benci dan dendam, dia pun tak terpengaruh oleh napsu atau angkara murka.

Dia hanya tahu kelima jari tangan kirinya makin melemas, matanya semakin kabur dan berat.

Di saat yang kritis inilah mendadak telinganya seperti menangkap serangkaian irama nyanyian yang merdu lincah dan penuh gairah.

Bong Thian-gak tahu dirinya sudah hampir mencapai suatu dunia yang lain, entah neraka, entah surga.

"Ah, mungkin inilah nirwana, kalau tidak, mengapa terdengar suara nyanyian yang merdu merayu."

Suara nyanyian itu kian lama kian bertambah dekat, namun suara itu makin lama semakin lemah dan samar-samar.

Kejernihan otaknya makin lama semakin membuyar.

Tak selang lama kemudian, dari ujung sungai sana benar- benar muncul seorang gadis berjalan mendekat.

Sambil membawakan nyanyian yang merdu dan penuh gembira, dia berjalan menyusuri sungai dan menuju ke arah pemuda itu.

Meendadak ia menjerit kaget.

Ternyata dia telah menyaksikan Bong Thian-gak dengan sekujur tubuhnya yang penuh berlepotan darah, sepanjang hidupnya belum pernah ia jumpai darah sebanyak ini, maka saking kaget dan cemasnya, sekujur tubuhnya gemetar keras.

Bila suatu ketika menemukan sesosok tubuh manusia yang bermandikan darah di tengah hutan belantara yang jauh dari keramaian, siapakah yang tak terperanjat? Jangankan seorang yang bernyali kecil, betapa pun besarnya nyali seorang, akan dibikin ketakutan setengah mati, apalagi seorang gadis muda.

Tanpa banyak bicara, gadis itu membalikkan badan dan segera melarikan diri.

Namun baru berlari empat-lima langkah, dia menghentikan langkahnya, kemudian pelan-pelan berpaling memandang tubuh Bong Thian-gak yang tak berkutik.

"Dia kan manusia " gumamnya, "mengapa aku harus

takut "

Setelah merasa yakin yang dihadapinya adalah manusia, perasaan takutnya sedikit berkurang, bahkan pelan-pelan dia menghampiri Bong Thian-gak.

Kejernihan pikiran Bong Thian-gak waktu itu sudah mulai pudar, sekali pun dia tahu ada orang sedang menghampirinya, namun dia sama sekali tidak punya kekuatan untuk membuka mata, apalagi kekuatan untuk bicara.

Gadis itu membelalakkan matanya yang jeli, setelah mengawasi tubuh Bong Thian-gak, ia lihat pemuda itu masih bernapas.

Maka sambil menghela napas, gumamnya, "Begini parah luka yang diderita orang ini, apakah dia masih bisa hidup."

Dia lantas berjongkok sambil memegang jidat Bong Thian- gak, namun dengan terperanjat serunya, "Ah, panas sekali tubuhnya."

Bila panas, air dingin bisa menghilangkan panas itu, inilah cara kuno untuk menurunkan suhu panas tubuh manusia.

Dengan cepat gadis itu mengambil sapu-tangannya, setelah direndam air sungai segera ditempelkan ke atas jidat Bong Thian-gak. Sebenarnya kesadaran Bong Thian-gak sudah mulai memudar, namun memperoleh rangsangan air dingin itu, sekujur tubuhnya segera bergetar dan pikirannya pun jernih kembali.

"Air ... air " serunya lirih.

Walaupun dia mencoba berteriak, sesungguhnya tiada sedikit suara pun yang terdengar.

Gadis itu pun dapat menyaksikan bibir orang bergetar, namun dia tak tahu apa yang diucapkan olehnya, dia hanya menunggu hingga sapu-tangan itu menjadi panas dan segera direndam kembali ke dalam air, lalu setelah sapu-tangan itu menjadi dingin, dia pun menempelkan pada jidatnya kembali.

Akhirnya Bong Thian-gak dapat berbisik lirih, "Air ... air "

Gadis itu berseru tertahan, dengan cepat dia berjalan menuju ke sungai, digayungnya segenggam air, kemudian dengan hati-hati sekali mengalirkan air ke mulut si pemuda melalui celah-celah jari tangannya. "Aku haus ... aku haus sekali air

... air "

Suara teriakan Bong Thian-gak makin lama semakin keras.

Dengan cepat gadis itu menggayung air lagi dengan telapak tangannya dan mengalirkan ke mulut pemuda itu.

Demikian seterusnya hingga tujuh kali sebelum akhirnya pelan-pelan Bong Thian-gak membuka matanya.

Waktu itu kentongan kelima sudah lewat, dari ufuk timur muncul cahaya keemas-emasan, namun suasana dalam lembah itu masih agak redup dan samar-samar, namun secara lamat-lamat masih dapat melihat keadaan di sekitarnya.

Pemuda itu tahu gadis muda itulah yang telah menyelamatkan jiwanya, dia memakai baju tipis berwarna biru. "Nona ... kau ... kaukah yang telah menyelamatkan jiwaku."

"Ssst! Jangan bicara dulu, parah sekali lukamu," cepat si nona menukas dengan suaranya yang merdu.

Sembari berkata, gadis itu kembali mencelupkan sapu- tangannya ke sungai, kemudian mengompres kembali jidat anak muda itu.

Lambat-laun hari semakin terang, kini si nona dapat melihat jelas keadaan luka di sekujur tubuh Bong Thian-gak.

Menyaksikan semua itu, si gadis terbungkam saking terperanjat, t.mpa terasa dia membatin, "Ah, mana mungkin dia dapat hidup dalam keadaan semacam ini? Benar-benar suatu kejadian yang luar biasa?"

Kini kesadaran Bong Thian-gak benar-benar telah jernih, dengan penuh rasa terima kasih katanya, "Nona, banyak terima kasih atas pertolonganmu, andai aku dapat hidup lebih lanjut, budi kebaikanmu ini pasti akan kubalas."

"Kau telah berkelahi dengan orang?" tanya si nona lembut. "Ai, orang-orang Put-gwa-cin-kau hendak membunuhku,"

sahut

Bong Thian-gak dengan menghela napas panjang.

"Apa itu Put-gwa-cin-kau?" si nona membelalakkan mata.

Segera Bong Thian-gak sadar dia sedang berhadapan dengan seorang gadis biasa, yang sama sekali tidak mengenal dunia persilatan.

Maka sembari menghela napas, katanya kemudian, "Bila lukaku telah sembuh nanti, pasti akan kuceritakan semua kejadian yang sebenarnya kepadamu."

"Aku berdiam dalam lembah sana dekat air terjun, bagaimana kalau kau merawat lukanmu di gubukku saja?" "Mungkin hidupku tak akan lama lagi," suara Bong Thian- gak agak pilu.

"Kau pasti dapat hidup terus," hibur si nona dengan suara lembut. "Aku tahu kau amat kuat dan gagah, kalau tidak, dengan luka yang begini parah, kau pasti sudah tewas sejak tadi."

Dengan cepat Bong Thian-gak menggeleng.

"Aku bukan hanya menderita luka bacokan di sekujur tubuhku, namun juga keracunan."

Begitu mendengar tentang keracunan, gadis itu berseru pelan, "Ah, orang tuaku pun ajal karena keracunan."

Sampai di situ, mata gadis itu pun memerah, hampir saja air matanya jatuh bercucuran.

Agak tertegun Bong Thian-gak oleh ucapan itu, cepat dia bertanya, "Orang tuamu telah meninggal? Lantas kau tinggal bersama siapa?"

"Sejak tiga tahun lalu, ketika kedua orang tuaku meninggal, aku tinggal seorang diri di tempat ini."

Bong Thian-gak makin terharu mendengar ucapan itu, seorang gadis yang lemah ternyata berdiam seorang diri di tengah lembah yang jauh dari keramaian, sungguh kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang aneh.

Tiga tahun bukan jangka waktu yang pendek, namun dia dapal hidup menyendiri di sana.

Bong Thian-gak tidak ingin memikirkan hal itu, segera sahutnya, "Bila nona bersedia menerimaku, untuk sementara waktu aku akan berteduh di rumahmu."

Gadis itu gembira sekali, dengan cepat dia berseru, "Aku merasa kesepian hidup seorang diri di sini, bila kau bersedia menemaniku, hal ini memang jauh lebih baik." Tanpa mengindahkan darah yang mengotori sekujur tubuh Bong Thian-gak, ia segera memapah tubuh pemuda itu, kemudian mereka pelan-pelan berjalan menuju ke arah utara.

0oo0

Sebuah air terjun yang mengalir dari sembilan puncak, pelan-pelan memuntahkan airnya ke dasar lembah yang dalam.

Air mengalir mengikuti sebuah sungai yang berliku-liku dan membentang jauh ke depan.

Di tepi sungai di sebelah kiri air terjun, berdiri tiga buah gubuk.

Dalam gubuk itu, berdiamlah seorang lelaki dan seorang perempuan.

Yang lelaki adalah pemuda berlengan buntung, berkaki pincang dan berwajah tampan, hanya sayang wajahnya agak pucat.

Sedang yang perempuan adalah seorang nona berkulit putih dan berwajah cantik.

Setiap hari selain menebang kayu mencari kayu bakar, pemuda berlengan tunggal berkaki pincang itu menghabiskan sebagian besar waktunya duduk melamun di atas batu karang di tepi air terjun.

Selama tiga tahun ini siang-malam dia selalu duduk menyendiri, entah apa saja yang sedang dipikirkan olehnya?

Senja ini pemuda berlengan tunggal itu kembali duduk bersila di atas batu karang sambil memejamkan mata memikirkan sesuatu.

Mendadak pemuda cacat itu menggerakkan lengan kirinya bagaikan kerasukan setan, gerakan itu dilakukan ke arah air terjun itu. Seandainya di situ hadir jago persilatan, niscaya akan terperanjat menyaksikan tingkah-laku si anak muda itu.

Ternyata setiap pukulan, setiap bacokan, totokan jari maupun cengkeraman yang dilancarkan pemuda cacat itu hampir semuanya mengandung jurus yang tiada-taranya.

Selain jurus serangan maha dahsyat yang dilancarkan pemuda itu sangat banyak, tenaga dalamnya pun sangat mengerikan, setiap terkena pukulannya, air terjun yang sedang muntah ke bawah, selalu arah arusnya berubah dari posisi semula.

Ada kalanya air yang mengalir terpotong menjadi dua, ada kalanya muncul ruang di balik air terjun itu. Pukulan tak berwujud yang dilancarkan olehnya bisa mengendalikan curah air terjun di hadapannya.

Tenaga dalam semacam ini pada hakikatnya mengerikan.

Tiba-tiba suara pekikan nyaring menggema memecah keheningan, pemuda itu melompat bangun dari atas batu karang, tahu-tahu pada genggaman tangan kirinya telah bertambah dengan sebilah pedang kayu.

Tubuhnya melejit ke udara, kemudian menerjang ke arah air terjun itu.

Dalam waktu singkat pemuda itu telah melancarkan tujuh buah bacokan berantai dengan menggunakan pedang kayunya, memainkan tujuh jurus serangan yang berbeda.

Kemudian dalam waktu singkat dia telah melayang kembali ke atas batu karang.

Ia dengan cepat mengangkat pedangnya dan memandang sekejap pedang kayunya itu.

Memang sukar untuk dipercaya, ternyata pedang kayunya itu sama sekali tidak terkena percikan air. Tadi jelas pemuda cacat itu telah melancarkan tujuh buah bacokan kilat ke arah air terjun itu, namun kenyataan pedang kayu itu sama sekali tidak basah oleh butiran air yang memercik, dari sini dapat diketahui betapa cepatnya serangan pedang yang dilancarkan pemuda itu.

Sedemikian cepatnya hingga pada hakikatnya kecepatannya tak bisa dibandingkan dengan apa pun.

Tatkala pemuda cacat itu tidak menemukan bekas air di atas kayunya, sekulum senyuman segera menghiasi wajahnya yang tampak pucat-pias.

Itulah senyuman penuh kegembiraan dan kepuasan.

Selama tiga tahun memeras otak, akhirnya dia berhasil memahami ilmu pukulan yang maha dahsyat.

Kedua macam kepandaian sakti itu berhasil dipahami olehnya sesudah lengannya kutung dan hidup terpencil di lembah itu, dengan dasar tenaga Tat-mo-khi-kang dari Siau- lim-pay tingkat sepuluh sebagai dasar kekuatan yang dikombinasikan dengan ilmu sakti berbagai perguruan, ia berhasil menciptakan kepandaian sakti itu.

Selama tiga tahun berjuang berlatih dengan rajin dan tekun, akhirnya dia berhasil, perjuangannya selama ini tidak sia-sia, ia merasa amat puas.

Tapi saat itulah si gadis berdiri di belakangnya dengan wajah termangu, dari balik matanya yang jeli nampak dua baris air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

Pemuda cacat itu menarik kembali pedang kayunya, lalu membalikkan badan, tiba-tiba saja dia lihat gadis itu berdiri di situ.

"Siau-hui, kau menangis?" kata pemuda cacat itu dengan suara pilu dan menghela napas sedih. Dengan cepat nona baju biru itu menyeka air mata yang membasahi pipinya, kemudian berkata dengan lembut, "Bong- toako, aku tidak menangis."

Selama tiga tahun, beratus-ratus kali Bong Thian-gak menyaksikan gadis itu diam-diam melelehkan air mata, namun setiap kali dia selalu mengatakan dirinya tidak menangis.

Mengapa dia menangis?

Tentu saja Bong Thian-gak mengetahui perasaan gadis itu, namun dia hanya bisa menghela napas secara diam-diam, lalu menghibur dan membujuknya dengan nada seorang kakak yang mencintai adik perempuannya.

Bong Thian-gak turun dari batu cadas itu, lalu merangkul bahunya dengan mesra, bisiknya lembut, "Leng-hui, nasinya sudah matang?"

"Sudah! Aku memang hendak memanggilmu untuk bersantap," sahut si nona tersenyum manis.

Sambil berpelukan mesra, pelan-pelan mereka berdua berjalan menuju ke gubuk.

Malam telah menyelimuti seluruh jagad, terutama di dalam lembah yang terpencil itu.

Di ruang tengah gubuk itu nampak lentera telah disulut, di atas sebuah meja nampak dihidangkan empat macam sayur, dua macam ayam dan bakpao.

Kecuali hidangan itu, di atas meja tersedia tiga botol arak wangi.

Menyaksikan botol arak di meja, Bong Thian-gak nampak tertegun, lalu sambil berpaling dan memandang sekejap ke arah si nona, tanyanya, "Leng-hui, darimana datangnya arak?"

Selama tiga tahun ia berdiam di situ, belum pernah dijumpai ada arak di situ, tentu saja dia pun tak pernah mengendus bau arak. "Arak itu peninggalan orang tuaku enam tahun lalu," kata Song Leng-hui. "Ayahku selalu menyimpan arak di gudang bawah tanah, besok kau hendak pergi meninggalkan aku, maka malam ini aku hendak mengantar kepergianmu."

Walaupun ucapan itu diutarakan dengan menahan gejolak perasaan dan emosi, namun ketika sampai pada ucapan yang terakhir, suaranya terdengar agak gemetar.

Bong Thian-gak menghela napas sedih.

"Aku pasti akan balik kemari, aku tak akan membiarkan kau hidup sebatang-kara di tengah bukit yang terpencil ini." Song Leng-hui tersenyum.

"Di saat Toako datang kemari, kau telah menentukan pula akan pergi meninggalkan tempat ini, tiada perjamuan di dunia ini yang tak bubar, apalagi hanya perpisahan sementara waktu?"

Walau hatinya merasa kacau, namun Song Leng-hui berusaha mengendalikan diri.

Dia tahu, bagaimana pun juga dia tak mungkin bisa menahan . Bong Thian-gak di sana, lantas buat apa dia mesti banyak bicara?

Tapi sikapnya yang berbeda itu membuat Bong Thian-gak merasa lebih sedih dan menderita.

Selama tiga tahun, siang-malam mereka hidup bersama, dalam hati Bong Thian-gak, Song Leng-hui sudah menempati posisi yang kuat dan tak bisa diganggu gugat lagi, sesungguhnya dia bukannya tak mencintainya, tetapi tak berani untuk mencintai dirinya.

Dalam hatinya, Song Leng-hui adalah bidadari, gadis suci bersih.

Ia belum dijangkiti kebiasan jelek dari masyarakat, dia nampak begitu suci, bersih dan menawan hati. Oleh sebab itu Bong Thian-gak selalu menganggapnya seperti adik kandung sendiri, ia tidak berani mempunyai pikiran sesat terhadap dirinya.

Sebab dia tahu dirinya tak lebih hanya seorang tukang silat kasar, dia hanya manusia yang sepanjang hidupnya luntang- lantung dalam Bu-lim, berduel dengan malaikat elmaut, dia tak pantas untuk mencintai gadis suci itu.

Karena bila dia sampai mencintainya, maka hal ini sama artinya dengan menyia-nyiakan dirinya, mencelakai dirinya, maka dia hanya berusaha keras mengendalikan perasaannya itu dan tidak membiarkan berkembang.

Seandainya Bong Thian-gak boleh memilih di antara tiga gadis yang pernah dijumpainya selama hidup, yakni Oh Cian- giok, Thay-kun dan Song Leng-hui, maka orang yang tak dapat dilupakan olehnya adalah Song Leng-hui.

Dia tak pernah belajar ilmu silat, dia tidak mempunyai kebiasaan jelek, dia nampak begitu lembut, begitu halus, tenang, luwes dan cantik.

Bong Thian-gak merasakan darah yang menggelora dalam dadanya bergolak keras, katanya, "Siau-hui, aku ... aku akan mengajakmu keluar dari tempat ini!"

Sudah berulang kali dia mengucapkan kata-kata itu, akan tetapi setiap kali Song Leng-hui selalu menggeleng kepala sambil berkata, "Aku telah bersumpah tak akan meninggalkan pusara orang tuaku untuk selamanya, lagi pula kehadiranku di sisimu hanya akan menyusahkan dirimu saja, aku tahu sepeninggalmu dari sini, kau akan membunuh banyak orang jahat. Memang bagi seorang lelaki yang berlatih silat tempat bergeraknya adalah dunia persilatan, sudah sewajarnya bila melakukan suatu pekerjaan besar."

"Pergilah, aku akan tetap menantimu hingga kau kembali," kata Song Leng-hui sambil memenuhi cawan Bong Thian-gak dengan arak, sedangkan dia sendiri pun memenuhi cawan sendiri dengan arak.

Setelah itu, sambil mengangkat cawan araknya dia berkata, ”Semoga Toako sehat walafiat selalu."

Selesai berkata, gadis itu segera meneguk habis cawannya. Bong Thian-gak pun segera meneguk cawannya sendiri.

Arak itu harum baunya, tak salah kalau dikatakan arak bagus.

Di luar ruangan hanya suara pohon cemara yang terhembus angin dan suara air terjun.

Cahaya lentera yang redup menyoroti wajah sepasang muda-mudi yang merah membara itu.

Besar sekali takaran minum Song Leng-hui, cawan demi cawan dia menemani Bong Thian-gak meneguk habis arak di hadapannya, hawa arak telah membuat wajahnya menjadi merah membara, namun justru karena itu dia jauh nampak lebih cantik dan menarik.

Waktu itu Bong Thian-gak sedang diliputi perasaan murung dan duka, arak memang merupakan kebutuhan yang penting dalam suasana seperti ini, dia hendak menggunakan arak untuk menghilangkan kemurungannya, namun kemurungan serasa makin bertambah, dia ingin menggunakan arak untuk membuatnya mabuk, apa mau dikata dia justru tak pernah menjadi mabuk.

Sementara itu Song Leng-hui telah bergeser duduk di sampingnya, lalu dengan suara manja bisiknya, "Toako, kau harus kembali dengan cepat, karena aku ... aku telah menjadi milikmu untuk selamanya."

Sudah tiga tahun lamanya dia menyimpan ucapan ini dalam hati, baru hari ini dapat diutarakan. Arak memang racun yang mudah mengacaukan jalan pikiran orang, apalagi tiga botol arak sekaligus, dengan cepat arak itu berubah menjadi obat perangsang cinta yang amat kuat.

Ketika Song Leng-hui bergeser dan duduk di sampingnya, pemuda itu segera mengendus bau harum khas seorang gadis.

Akhirnya Bong Thian-gak tak mampu mengendalikan gejolak hawa panas dalam tubuhnya lagi, tak tahan dia segera merangkul gadis itu dan memeluknya kencang.

"Ehm!" Song Leng-hui mengerang lirih, seluruh tubuhnya segera dijatuhkan ke dalam pelukannya.

Ketika rambutnya yang halus menempel di leher Bong Thian-gak, segera timbul perasaan gatal yang aneh.

Bong Thian-gak semakin tak sanggup mengendalikan gejolak perasaannya lagi, dengan cepat dia menundukkan kepala, mencium pipinya yang putih dan halus dengan hangat penuh kemesraan.

Tampaknya malam ini Song Leng-hui telah mengambil keputusan untuk....

Dia membalikkan tubuh, kemudian balas memeluk tubuh Bong Thian-gak dengan hangat, bibirnya yang merah membalas ciuman pemuda itu dan menghisap lidah Bong Thian-gak dengan lembutnya.

Perasaan mereka seakan hendak melompat keluar dari rongga dadanya, sukma mereka seakan-akan membumbung tinggi ke udara.

Selama tiga tahun terakhir ini, baru pertama kali ini mereka berdua berpelukan sambil berciuman dengan mesra, dan ciuman itupun merupakan ciuman pertama, mereka belum tahu apakah itu mesra, manis, hangat ataukah gembira. Udara serasa berputar, bumi bagaikan berguncang, mereka lupa apa akibatnya, lebih-lebih tak mengerti apa yang dinamakan menjaga batas kesopanan.

Napas Bong Thian-gak mulai memburu, dia memeluk tubuh si gadis dengan semakin bernapsu.

Akhirnya Song Leng-hui berbisik lirih, "Toako, apa yang ingin kau lakukan, lakukanlah sekehendak hatimu, aku sudah menjadi milikmu, seluruh tubuhku adalah milikmu."

Arak telah membuat Bong Thian-gak melupakan segala- galanya, dia mulai melangkah menuju ke tempat tidur.

Di sanalah terletak kamar tidur Song Leng-hui, tampaknya gadis itu sudah mempersiapkan segalanya, seprei, kasur, bantal, dan kelambu telah diatur dengan bersih dan menyenangkan.

Bong Thian-gak membaringkan tubuhnya di atas pembaringan, sedang Song Leng-hui seakan-akan sudah kaku pikirannya, dia memeluk lubuh Bong Thian-gak erat-erat dan menarik pemuda itu sehingga bergulingan di atas pembaringan.

Kini pakaian yang dikenakan Song Leng-hui sudah terlepas, kulit badannya yang putih halus bagaikan salju, setengah terlihat setengah tersembunyi di balik pakaian dalamnya.

Gemetar keras seluruh tubuh Song Leng-hui, mendadak dia mulai merintih, "Oh, Toako ... kau ... kau cepatlah."

Berada dalam keadaan seperti itu, sekalipun Bong Thian- gak berada dalam keadaan sadar pun, tak nanti bisa mengendalikan diri.

Apalagi sekarang pengaruh alkohol sudah menguasai kesadaran "laknya dan lambat-laun mengobarkan api napsu birahinya yang makin memuncak. Dengan penuh kegarangan dan kebuasan, Bong Thian-gak menerkam ke depan dan menindih tubuh gadis itu.

Rintihan lirih dan dengusan napas berdesis dari bibir Song Leng-hui yang mungil.

Tentu saja kegembiraan dan kenikmatan telah menghilangkan seluruh rasa sakit dan perih yang dirasakan olehnya.

Hujan badai pun segera datang menderu-deru dan menyapu seluruh jagat.

Cahaya lentera berkedip dimainkan angin dan memercikkan setitik cahaya menerangi sebuah pembaringan.

Titik-titik noda merah memercik di atas seprei berwarna putih dan menciptakan aneka bunga yang sangat indah.

Bong Thian-gak membelalakkan mata mengawasi tubuh Song Leng-hui yang bugil dan indah itu dengan termangu.

Pengaruh alkohol yang mempengaruhi benaknya telah hilang sebagian besar, sekarang dia sedang menyesal, mengapa dia secara keji harus merenggut kesucian tubuh gadis itu, yang sudah dipertahankan selama dua puluh tahun.

Song Leng-hui tidak menyesal, juga tidak malu, sesudah menghela napas sedih, ujarnya, "Toako, kau jangan bersedih, asalkan mencintaiku sesungguh hati, cepat atau lambat kita akan mengalami juga malam pertama seperti ini, aku takut kau tak akan kembali lagi untuk selamanya, maka aku telah bertekad mempersembahkan kesucian tubuhku padamu malam ini juga. Kau tak usah memikirkan persoalan ini, cukup kau ingat saja kalau di tengah sebuah lembah yang terpencil masih ada seorang gadis bernama Song Leng-hui yang setiap saat mengharapkan kembalinya dirimu, asal kau ingat hal itu, sudah lebih dari cukup!"

Bong Thian-gak ingin menangis, namun tak bisa mengeluarkan suara, tiba-tiba dia menubruk ke badan Song Leng-hui dan berkata lirih, "Siau-hui, mengapa kau berbuat begini? Mengapa kau harus berbuat begini? Aku ... aku merasa telah berbuat salah kepadamu, cinta kasih yang kau berikan untukku tak nanti bisa kubalas untuk selamanya."

Song Leng-hui memeluk tubuh Bong Thian-gak dengan mesra dan membelai lengannya yang kutung dengan penuh kasih sayang, lalu katanya lembut, "Setelah kepergianmu besok, kau harus baik-baik menjaga dirimu, kau sudah menjadi orang cacat, aku tahu kepandaian silatmu tinggi, namun di Bu-lim masih terdapat banyak persoalan yang tak dapat diselesaikan dengan mengandalkan kepandaian silat."

Keadaan Song Leng-hui sekarang bagaikan ibu yang penuh kasih sayang menasehati anaknya yang hendak pergi jauh.

Tiga tahun bukan jangka waktu yang pendek, dunia persilatan yang luas bagaikan awan di angkasa, berbagai perubahan sudah terjadi selama tiga tahun ini, bahkan boleh dibilang perubahan yang amat besar.

Sejak Bong Thian-gak lenyap dari dunia persilatan, Put- gwa-cin-kau, perkumpulan rahasia yang amat besar itu turut lenyap dari keramaian dunia persilatan.

Menyusul hilangnya perkumpulan itu, nama besar Kay-pang dan Hiat-kiam-bun pun semakin menanjak dalam Bu-lim.

Kay-pang adalah perkumpulan yang mempunyai sejarah paling lama di Bu-lim, cara kerja mereka antara jalan lurus dan sesat, konon ketuanya adalah seorang yang sangat lihai dan luar biasa.

Siapakah ketua Kay-pang? Tak seorang pun tahu.

Namun pedang milik ketua pengemis pernah menggidikkan hati setiap jago dunia persilatan.

Menurut kabar, sebab-musabab menghilangnya Put-gwa- cin-kau dari dunia persilatan akibat kelihaian pedang ketua Kay-pang. Hiat-kiam-bun (Perkumpulan pedang darah) adalah perguruan yang amat rahasia, keji dan buas. Gerak-gerik mereka di Bu-lim selalu dibarengi dengan pembunuhan berdarah.

Siapakah ketua Hiat-kiam-bun? Tentu saja lebih-lebih tiada orang yang tahu dengan jelas.

Para jago dari sembilan partai besar yang berkumpul dalam gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong pun sejak tiga tahun lalu sudah membubarkan diri.

Bubarnya persekutuan dunia persilatan ini aneh sekali, konon dalam satu malam saja segenap anggota yang berada dalam gedung itu lenyap, mati hidupnya sampai kini masih teka-teki. Peristiwa itu berlangsung tiga tahun berselang. Tiga bulan terakhir ini di Bu-lim lagi-lagi muncul dua peristiwa yang menggetarkan sukma.

Kedua peristiwa itu menyangkut seorang laki dan seorang wanita.

Yang perempuan adalah iblis yang berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Wajahnya yang begitu cantik dan menawan, pada hakikatnya banyak sudah lelaki yang dipikatnya, bahkan perempuan itu bersedia digauli semalam suntuk, cuma esok harinya lelaki itu ditemukan tewas.

Dalam tiga bulan belakangan ini sering tersiar berita tentang ditemukannya jenazah lelaki yang terkapar dengan telanjang bulat.

Sebaliknya yang lelaki berilmu sangat tinggi, selama tiga bulan terakhir ini sudah ada seratus orang lebih yang kalah di tangannya.

Kelihaian lelaki itu konon melebihi kedahsyatan Mo-kiam- sin-kun To Tian-seng yang pernah menggetarkan dunia persilatan puluhan tahun lalu. Asalkan pedangnya sudah dilolos dari sarungnya, tak pernah ada korban yang dibiarkan hidup.

Namun jago pedang yang muncul ini punya sedikit perbedaan dengan Mo-kiam-sin-kun To Tian-seng, karena pedang yang tersoreng di pinggangnya bukanlah pedang mustika, melainkan pedang kayu tumpul, bahkan jago pedang itu seorang cacat, berlengan tunggal dan pincang.

0oo0

Musim gugur sudah tiba, daun kering berguguran terhembus angin kencang.

Seekor kuda ras Mongolia yang tinggi besar pelan-pelan berjalan menelusuri jalan raya ibukota, penunggangnya adalah seorang pemuda berwajah pucat dan berlengan kanan kosong, agaknya seorang yang belum lama kehilangan lengannya.

Lelaki itu menjalankan kudanya ke bawah pohon di tepi jalan.

Rupanya waktu itu dari depan sana telah muncul empat ekor kuda yang dilarikan kencang, lelaki cacat itu kuatir kudanya tertumbuk, dia menyingkir ke samping.

Tatkala empat ekor kuda itu sampai di hadapan lelaki cacat ilu, mendadak mereka menarik tali kudanya secara serentak.

Penunggangnya adalah tiga orang lelaki dan seorang gadis.

Yang pria adalah Kongcu-kongcu tampan yang menyoreng pedang di punggungnya.

Sedang yang perempuan berparas cantik genit dan mengenakan baju merah menyala, dia pun menyoreng sepasang pedang di punggung.

Dilihat dari cara mereka menunggang kuda, ketiga pria dan seorang gadis ini memiliki kepandaian silat yang lumayan. Mereka berdiri berjajar di tengah jalan, persis menghadang jalan lelaki cacat itu.

Salah seorang Kongcu yang berparas kurus dan mempunyai tahi lalat di wajahnya tertawa terbahak-bahak, kemudian sembari menjura tegurnya, "Bolehkah aku tahu, apakah kau Jian-ciat-suseng (Sastrawan cacat)?"

Pria cacat itu tersenyum, "Tidak berani, tidak berani, tampaknya kalian berempat adalah Hui-eng-su-kiam (Empat pedang unggas terbang) yang namanya telah menggetarkan wilayah Kanglam."

Lelaki kurus bertahi lalat itu kembali tertawa tergelak, "Tajam benar pandangan saudara, hahaha, tiga bulan terakhir ini dunia persilatan telah dihebohkan oleh nama besarmu, hal ini membuat kami Hui-eng-su-kiam merasa risau dan tak enak sendiri, itu sebabnya malam ini aku ingin menantang kau berduel!"

"Berduel untuk mambuktikan siapa lebih unggul bukanlah suatu peristiwa luar biasa, cuma sayang malam ini aku tidak ada waktu, maka seandainya kalian Hui-eng-su-kiam ingin mencoba kepandaian silatku, tak ada salahnya dicoba sekarang!" kata Jian-ciat-suseng hambar.

Mendengar perkataan itu, si nona berkerut kening, lalu bentaknya penuh gusar, "Manusia cacat, besar amat lagakmu, orang lain boleh takut kepadamu, tapi kami Hui-eng-su-kiam tak takut menghadapi dirimu." Jian-ciat-suseng tertawa.

"Di antara empat pedang unggas terbang, aku dengar terdapat seorang yang bernama Hwe-im-eng (Burung api), wataknya konon serupa dengan julukannya, mungkin nonalah yang dimaksud?"

Di wilayah Kanglam, nama besar Hui-eng-su-kiam memang sangat termasyhur, setiap jago dari berbagai perguruan yang bertemu dengan mereka pasti akan menyebut Siauhiap atau Lihiap untuk menghormati mereka. Mimpi pun tak menyangka Jian-ciat-suseng tidak memandang sebelah mata pun kepada mereka, betapa gusarnya mereka menyaksikan kenyataan itu, terutama Burung api Yu Hong-hong yang dasarnya memang sombong, tinggi hati dan berangasan.

"Tutup mulut!" bentaknya nyaring. "Nama besar nonamu bukan sembarangan orang boleh menyebut, apalagi manusia cacat seperti kau."

Tiba-tiba Jian-ciat-suseng menarik muka dan menegur, "Nona, watak berangasan dan jahatmu harus mulai diubah, jika kau tak mampu mengubah diri, niscaya usiamu tak akan panjang."

Yu Hong-hong tertawa dingin.

"Hehehe, aku justru ingin tahu usia siapa yang tak panjang.

Manusia cacat, cepat lolos pedangmu, nona ingin memberi pelajaran setimpal padamu."

Sementara berbicara, Yu Hong-hong telah melolos sepasang pedang pendeknya dan siap melancarkan serangan.

Dengan suara hambar Jian-ciat-suseng berkata, "Begitu pedangku ini terlolos dari sarungnya, kepala manusia tentu akan menggelinding, aku tahu kalian Hui-eng-su-kiam cuma manusia berdarah panas yang ingin mencari nama, perbuatan kalian belum terhitung jahat."

Belum selesai dia berkata, sepasang kaki Yu Hong-hong sudah menjejak perut kudanya dan secepat kilat menerjang ke arah Jian-ciat-suseng.

Jian-ciat-suseng masih tetap duduk di atas pelana sekokoh batu karang, bergerak sedikit pun tidak.

Yu Hong-hong benar-benar merasa gusar sekali, sepasang pedangnya seperti dua naga yang muncul dari air, langsung mengancam dua jalan darah mematikan di tubuh Jian-ciat- suseng, sedemikian cepatnya serangan itu sehingga tak malu disebut jagoan kelas satu.

Jian-ciat-suseng sama sekali tak berkutik, lengan I^anannya yang kosong tiba-tiba dikebaskan ke muka dan memelintir sepasang tangan Yu Hong-hong.

Yu Hong-hong membentak gusar, "Belum tentu kungfumu sangat hebat!"

Rupanya jurus serangan Siang-liong-jut-cui (Sepasang naga keluar dari air) yang dipergunakan Yu Hong-hong adalah serangan tipuan, di tengah bentakan nyaring, sepasang pergelangan tangannya merendah ke bawah, pedangnya seperti naga sakti membentuk gerakan setengah lingkaran dan menciptakan beribu titik bintang di angkasa, seperti tusukan seperti pula bacokan dia menyerang Jian-ciat-suseng.

Kali ini Jian-ciat-suseng tidak bergerak sama sekali, ujung lengan baju kanannya yang kosong pun tak berkutik, sepasang pedang Yu Hong-hong secepat sambaran petir langsung menerobos masuk.

Tiga orang lainnya yang menyaksikan jalanya pertarungan dari sisi arena segera berpikir setelah menyaksikan kejadian itu.

"Seandainya Jian-ciat-suseng tidak jatuh dari kudanya, kendatipun ilmu silatnya lebih hebat pun tak nanti dia bisa lolos dari serangan Yu Hong-hong."

Belum habis mereka berpikir, tampak Jian-ciat-suseng sudah menggerakkan tangan kirinya.

Diiringi jeritan kaget Yu Hong-hong, sepasang pedang pendeknya tahu-tahu sudah berpindah tangan.

"Pletakk", diiringi suara nyaring, kedua pedang pendek yang terbuat dari kayu itu sudah digetarkan patah menjadi empat bagian oleh lengan kiri Jian-ciat-suseng dan terjatuh ke atas tanah. Demonstrasi tenaga dalam serta kepandaian silat semacam ini tentu akan menjerakan hati orang yang melihat.

Namun dasar si Burung api burung Yu Hong-hong, dari malu dia menjadi gusar, sambil membentak nyaring tubuhnya melesat ke depan, lalu telapak tangannya dengan mengerahkan segulung tenaga dahsyat langsung menghantam ke dada Jian-ciat-suseng itu.

Berkerut kening Jian-ciat-suseng menghadapi ancaman ini, tangan kirinya segera menyambar ke depan dan mencengkeram lengan kanan Yu Hong-hong, begitu si nona kehilangan tenaga, dia lantas mengangkat tubuh gadis itu ke tengah udara.

"Lepaskan aku, lepaskan aku!" teriak Yu Hong-hong dengan gusar.

Jian-ciat-suseng memutar lengan kirinya dan mengayunkannya ke depan.

Tak ampun lagi tubuh Yu Hong-hong terlempar ke udara dan persis terjatuh kembali ke atas pelana kudanya.

Sejak terjun ke dunia persilatan, belum pernah Yu Hong- hong menderita kekalahan seperti hari ini, dia segera menangis tersedu-sedu.

Tiga rekan lainnya dibikin terperanjat oleh kelihaian ilmu silat Jian-ciat-suseng, untuk beberapa saat mereka hanya bisa berdiri tertegun.

Mereka baru sadar mendengar isak tangis Yu Hong-hong yang memilukan.

Tapi apa pula yang dapat mereka lakukan? Kepandaian silat Jian-ciat-suseng terlampau lihai, sekali pun mereka bertiga turun tangan bersama pun tak ada gunanya.

Isak tangis Yu Hong-hong sungguh mengenaskan, air matanya bercucuran dengan amat derasnya. Agaknya si sastrawan paling takut melihat perempuan menangis, sambil menghela napas, pelan-pelan dia berkata, "Yang paling penting dalam ilmu silat adalah tenang dan gesit, tenang harus melebihi perawan, gesit harus melebihi kelinci, bila saat menyerang perasaan sudah diliputi napsu, ketenangan akan goyah dan kacau, kegesitan akan berubah menjadi lembek. Bila menyerang seperti itu, bukan musuh yang dihajar, salah-salah diri sendiri yang akan terluka."

Selesai mengucapkan perkataan itu, tanpa berpaling lagi dia menjalankan kudanya pelan-pelan berlalu dari tempat itu.

Yu Hong-hong berhenti menangis. Dalam benaknya terlintas perkataan terakhir Jian-ciat-suseng, kemudian dia merenung dan memikirkannya berulang kali.

Tiba-tiba dengan sikap seperti mengerti seperti tidak, dia bergumam lirih, "Hari ini aku menderita kalah, kekalahan yang benar-benar memilukan hatiku, ai! Ilmu silatnya terlampau tinggi, kepandaian silatnya benar-benar tinggi."

0oo0

Hong-tok-ciu-lau di barat daya kota terlarang merupakan penginapan dan rumah makan terbesar dan termegah di ibukota.

Di balik pintu gerbang, Hong-tok-ciu-lau tampak berdiri anggun dan berderet-deret mencapai ratusan ruangan.

Orang yang menginap di Hong-tok-ciu-lau pun meliputi berbagai lapisan masyarakat.

Waktu itu di sebuah meja yang berada di sudut selatan rumah makan termegah yang bagaikan keraton itu berduduk tiga orang perlente dan seorang gadis cantik berbaju merah menyala.

Mereka sedang bersantap dan minum arak sambil berbincang-bincang ke utara selatan. Mendadak terdengar si gadis berkata dengan suara merdu, "Tio-toako, tahukah kau siapa kedua orang tokoh silat yang paling tersohor di kolong langit dewasa ini?"