Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 20

 
Jilid 20

Kain kerudung hitam yang menutupi wajah Siau Cu-beng segera tersambar oleh cukilan pedang hingga terlepas.

Muncul seraut wajah yang pucat-pias bagaikan kertas, potongan serta mimik mukanya tidak jauh berbeda seperti keadaan pada sepuluh tahun berselang, hanya bedanya sekarang wajah itu mengejang keras dan penuh diliputi perasaan takut, ngeri, sakit dan seram.

Bong Thian-gak mendongakkan kepala tertawa seram, kemudian katanya, "Siau Cu-beng, andaikata kubunuh kau dengan sebuah tusukan, hal ini keenakan bagimu, karenanya aku hendak mengutungi keempat anggota tubuhmu terlebih dahulu, kemudian membiarkan darahmu mengalir keluar sampai kering dan rasakanlah bagaimana enaknya mati secara perlahan-lahan." Cahaya pedang kembali berkelebat, jeritan ngeri yang menyayat hati bagaikan jeritan babi yang mau disembelih segera berkumandang.

Sepasang kaki Siau Cu-beng sebatas lutut kini sudah terpapas kutung menjadi dua.

Ia mulai terguling-guling di atas tanah, meraung-raung seperti singa sekarat, mulai mengeluh dan merintih, bagaikan pengemis yang meminta belas kasihan, mengenaskan sekali keadaannya waktu itu.

Dalam waktu singkat ia telah berubah menjadi seorang berdarah.

Pada saat itulah bunyi seruling yang aneh dan amat tak enak didengar berkumandang dalam ruangan.

Hek-coa-li-liong memainkan seruling pendeknya dengan tiupan Iembut, namun irama yang dihasilkan justru tinggi melengking dan amat tidak sedap didengar, kemudian katanya, "Aku telah memainkan irama Iblis penakluk ular. Sebentar kawanan ular beracun akan bergerak merayapi tubuhnya dan akan mulai mengisap darah yang mengalir dari tubuhnya, dia akan mati karena darahnya diisap oleh ular- ularku. Biar siksaan semacam ini terhitung kejam dan tidak berperi-kemanusiaan, Namun termasuk pembalasan yang setimpal bagi dosa dan kejahatan yang, telah dilakukannya selama ini. Bong-siangkong, mari kita segera berangkat!"

Belum selesai dia berkata, segulung bau amis sudah berhembus, enam tujuh ekor ular berbisa menampakkan diri di depan pintu ruangan.

Hek-coa-li-liong segera menarik ujung baju Bong Thian- gak, lalu mereka berdua bersama-sama melompat keluar ruangan melalui jendela.

Kawanan manusia yang semula mengepung sekeliling loteng itu secara rapat dan ketat, kini justru telah membubarkan kepungan mereka, malah tak nampak seorang pun di situ.

Belum jauh mereka pergi, dari dalam ruang loteng terdengar lagi suara jeritan ngeri Siau Cu-beng yang memilukan di tengah keheningan malam yang mencekam seluruh jagat, jeritannya sungguh menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya.

Seorang berhati buas bagai ular berbisa yang sepanjang hidupnya banyak melakukan kejahatan kini telah memperoleh pembalasan yang setimpal, dia harus merasakan siksaan dan penderitaan yang amat berat dimana sisa darah di dalam tubuhnya diisap oleh ular-ular beracun hingga mengering sebelum akhirnya ajal merenggut kehidupannya.

Mendengar jeritan yang begitu menyayat hati, Bong Thian- gak menghela napas sedih, kemudian setelah menyarungkan pedangnya ke pinggang, ia menarik tangan Hek-coa-li-liong dan diajak melewati tiga-empat halaman rumah.

Sepanjang perjalanan mereka sama sekali tidak menjumpai suatu hadangan pun.

Tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya, "Kita hendak kemana?" "Bukankah kau hendak pergi mencari adik

seperguruanmu?" Hek-coa-li-liong balik bertanya.

"Dimana dia berada? Berapa lamakah yang kita butuhkan untuk sampai di sana?"

"Bila jadi dia disekap di dalam istana cinta iblis, jaraknya dari tempat ini kurang lebih satu jam perjalanan."

"Mengapa tempat itu dinamakan istana cinta iblis?" tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut.

"Sebab tempat itu merupakan tempat hiburan bagi anggota Put-gwa-cin-kau." "Jadi dia sudah dinodai oleh kawanan iblis itu?" BongThian- gak merasa sedih sekali.

"Tak seorang pun bisa lolos dari perkosaan setelah berada di dalam istana cinta iblis."

Membara hawa amarah dan perasaan dendam di hati kecil Bong Thian-gak, sambil mengertak gigi menahan rasa bencinya, ia bersumpah, "Selama Bong Thian-gak masih hidup di dunia ini, aku pasti akan menyuruh Cong-kaucu Put-gwa- cin-kau merasakan pembalasan yang paling kejam."

Hek-coa-li-liong melirik sekejap ke arah Bong Thian-gak, ujarnya, "Walaupun orang yang paling berkuasa dan memegang tampuk pimpinan tertinggi dalam perkumpulan Put-gwa-cin-kau adalah Cong-kaucu, namun aku rasa bila benar-benar ingin meleyapkan Put-gwa-cin-kau dari muka

bumi, bukan Cong-kaucu yang harus dibunuh terlebih dahulu."

"Apakah kita harus membunuh kuku-kuku garudanya terlebih dahulu?"

Hek-coa-li-liong mengangguk membenarkan.

"Betul, kita harus membunuh kuku-kuku garudanya lebih dahulu, tapi tahukah kau siapa saja yang merupakan kuku- kuku garuda andalannya?"

"Sim Tiong-kiu, Ji-kaucu, dan lain sebagainya."

Sambil tertawa, Hek-coa-li-liong menggeleng kepala berulang-kali.

"Dugaanmu keliru besar, Cong-kaucu masih mempunyai tiga orang utusan pelindung bunga yang sangat misterius identitasnya, maka bisa jadi kau akan terperanjat."

Bong Thian-gak menjadi sangat keheranan, segera tanyanya, "Ia masih mempunyai tiga orang utusan pelindung bunga yang misterius identitasnya, siapa sebenarnya ketiga orang itu?" "Kau jangan bertanya dulu siapakah ketiga orang yang kumaksud, sekarang aku hendak bertanya dulu satu hal, saat ini si tabib sakti Gi Jian cau berada dimana?"

"Di suatu tempat rahasia di kota Lok-yang."

"Bila kau berhasil menjumpai Gi Jian-cau, kau harus segera membunuhnya," mendadak gadis itu berpesan.

"Apa maksudmu berkata demikian?" tanya Bong Thian-gak sambil berkerut kening, ia merasa tak habis mengerti.

"Sebab dia merupakan satu di antara ketiga utusan pelindung bunga Cong-kaucu yang misterius itu."

"Ah, tidak mungkin," pemuda itu menggeleng kepala berulangkah. "Tabib sakti Gi Jian-cau tak mungkin menjadi kuku garuda Cong-kaucu."

Ketika mendengar jawaban itu, Hek-coa-li-liong nampak merasa sedih, kembali dia berkata, "Bila kau tidak mempercayai perkataanku ini, cepat atau lambat kau akan terbunuh di tangannya."

"Gi Jian-cau adalah pelindung hukum perguruan kami," kata Bong Thian-gak kemudian dengan suara dalam. "Biarpun sampai sekarang aku belum berjumpa dengannya, namun Keng-tim Suthay dari perguruan kami sangat menaruh kepercayaan kepadanya, sudah barang tentu aku pun amat mempercayai dirinya."

"Tapi sekarang secara tiba-tiba saja kau mengutarakan kata-kata seperti ini, sungguh hal ini membuatku keheranan setengah mati."

"Kini di dalam tubuhmu masih mengeram racun yang sangat jahat, padahal batas waktunya tinggal empat hari lagi, mari sekarang juga kita berangkat ke Lok-yang dan minta Gi Jian-cau mengobati racun itu." "Aku tahu dan memang sudah kuduga sejak tadi bahwa kau tak akan percaya pada perkataanku ini, namun tujuanku tak lebih hanya ingin membuat kau tahu bahwa Gi Jian-cau adalah salah satu di antara ketiga pelindung bunga Cong- kaucu yang misterius."

"Asal kau mengikuti aku sampai di kota Lok-yang, segera akan kau ketahui sendiri Gi Jian-cau termasuk orang baik atau jahat."

"Tidak, aku takkan pergi ke Lok-yang."

"Kalau kau tidak ke Lok-yang, lantas hentak pergi kemana?"

"Aku ingin mempergunakan sisa waktu empat hari ini untuk mencari tempat yang ideal dan indah bagi tempat kuburku."

"Asal kita berhasil mencapai kota Lok-yang dalam empat hari, aku pun yakin Gi Jian-cau dapat mengobati racun jahat yang mengeram dalam tubuhmu itu. Kau harus tahu nyawa seorang berharga sekali, mengapa kau melepas kesempatan yang sangat baik untuk melanjutkan hidup?"

Hek-coa-li-liong menggeleng kepala berulang-kali. "Aku sudah merasakan malaikat maut sudah mendekati diriku. Itulah sebabnya aku harus berpisah secepatnya darimu, kalau tidak, kau bakal terseret ke dalam masalah ini gara-gara aku."

"Ai, perkataanmu ini semakin membuat aku bingung dan tak habis mengerti," Bong Thian-gak menghela napas panjang. "Bila bukan disebabkan menghargai jiwamu, mengapa kau mesti berkhianat untuk menyelamatkan jiwaku?"

Sekali lagi Hek-coa-li-liong menggeleng kepala. "Sejak dulu aku memang sudah berniat berkhianat,

mengapa pula aku mesti mencelakai jiwamu? Ai, terus terang

saja kuberitahukan kepadamu, aku tidak akan ke Lok-yang, bukannya disebabkan aku tidak percaya kepada Gi Jian-cau." "Tapi bukankah kau pernah berkata kepadaku bahwa racun jahat yang bersarang di dalam tubuhmu itu tak akan bisa diobati siapa pun selain obat penawar racun bikinan Gi Jian- cau? Kalau kedua pihak sama-sama menjumpai jalan buntu, mengapa kita tak berangkat ke Lok-yang untuk mengadu untung? Siapa tahu dewi rezeki masih berada di pihakmu?"

Dengan pancaran mata penuh rasa terima kasih, Hek-coa- li-liong memandang sekejap ke arah pemuda itu, kemudian katanya, "Asalkan aku masih dapat mempertahankan hidupku, pasti akan kusumbangkan segenap pikiran dan tenagaku demi kepentinganmu."

Dengan cepat Bong Thian-gak bisa menangkap arti sebenarnya perkataan itu, ia berseru tertahan, kemudian tanyanya, "Kau menolak pergi ke Lok-yang, apakah karena kau sudah punya jalan kehidupan yang lain?"

Hek-coa-li-liong tertawa rawan.

"Antara hidup dan mati masing-masing setengah kesempatan."

Akhirnya Bong Thian-gak menghela napas panjang. "Ai, kalau kau bersikeras tak akan pergi ke Lok-yang, biarlah aku mendampingimu kemana pun kau hendak pergi." Cepat Hek- coa-li-liong menggeleng kepala.

"Siangkong adalah seorang ketua perguruan besar, aku tahu musuhmu sangat banyak dan berbagai masalah masih menantikan penyelesaian darimu. Buat apa kau mesti membuang waktu yang sangat berharga cuma dikarenakan urusanku?"

"Aku hanya ingin menemani kau selama empat hari saja, sebab bila aku tidak berbuat begini, hatiku tak akan merasa tenang."

Agaknya Hek-coa-li-liong tahu keinginan si anak muda itu tak bisa ditolak lagi, setelah menghela napas panjang katanya, "Baiklah! Bila seandainya kau gagal mengobati racun jahat yang mengeram dalam tubuhku, paling tidak kau masih bisa membantu mengubur jenazahku nanti."

"Sekarang kita hendak kemana?" tanya anak muda itu. "Kita cukup mencari sebuah tanah pegunungan yang

terpencil dan jauh dari keramaian orang."

Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan mencoba memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, kurang lebih setengah li di depan sana, ia melihat tanah perbukitan, dengan kening berkerut tanyanya kemudian, "Dengan cara apakah kau hendak mengobati lukamu itu?"

"Aku bermaksud menggunakan racun melawan racun."

Kedua orang itu bergerak menuju ke kaki bukit dengan cepat.

Hek-coa-li-liong memilih tanah lapang berumput dan duduk di situ, kemudian sambil tersenyum katanya, "Siangkong, tahukah kau dengan cara apa aku hendak melakukan racun melawan racun itu?"

"Aku memang berniat meminta keterangan darimu," sahut Bong Thian-gak sambil menggeleng.

"Aku hendak menggunakan irama seruling untuk memancing datangnya beribu-ribu ekor ular berbisa, kemudian dengan memilih tujuh ekor ular berbisa di antaranya yang memiliki kadar racun paling tinggi untuk memagut tubuhku."

"Tapi mungkinkah kau akan berhasil dengan cara itu?" tanya Bong Thian-gak terkejut.

Hek-coa-li-liong segera tersenyum.

"Asal waktunya tepat dan caranya benar, aku rasa kemungkinan berhasil mencapai lima puluh persen." "Rasanya cara ini tak bisa ditanggung keberhasilannya, mengapa kau enggan mengikuti aku pergi ke Lok-yang?"

Hek-coa-li-liong menggeleng kepala, sahutnya, "Aku tahu, selama hidup Gi Jian-cau jangan harap bisa menolong jiwaku."

Sekali lagi Bong Thian-gak menghela napas panjang. "Sekarang baiklah kuberitahukan suatu hal kepadamu, saat

ini Gi

Jian-cau sedang membuat semacam pil pengembali sukma di kota Lok-yang. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan Thay-kun serta kawanan jago persilatan lainnya, oleh sebab itu kau harus percaya bahwa Gi Jian-cau sebenarnya adalah seorang pendekar dari golongan lurus."

Berubah hebat paras muka Hek-coa-li-liong mendengar perkataan Itu, serunya dengan cepat, "Kemungkinan besar dia bukan lagi membuat pil pengembali sukma yang kau maksudkan."

"Aku mengetahui persoalan ini dari Keng-tim Suthay, aku yakin dia tak bakal salah mendengar."

Tiba-tiba Hek-coa-li-liong teringat akan sesuatu, serunya tertahan, "Siangkong, kau harus selekasnya berangkat ke Lok- yang melakukan pemeriksaan, bisa jadi di tempat itu sudah terjadi suatu musibah besar."

"Tidak, aku harus merawat dirimu, tak mungkin aku memisahkan diri dalam dua persoalan yang berbeda."

"Aku bukan sedang bergurau," kata Hek-coa-li-liong dengan nada gelisah. "Malah kemungkinan besar Keng-tim Suthay serta segenap anggota Hiat-kiam-bun lain telah tertimpa musibah yang mengenaskan."

Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak, mendadak ia peluk pinggang Hek-coa-li-liong, lalu mengerahkan Ginkangnya meninggalkan tempat itu. "Hei, mau apa kau?" Hek-coa-li-liong segera menegur. "Setelah mendengar perkataanmu tadi, mau tak mau kita

harus berangkat ke Lok-yang, namun aku pun tak bisa

meninggalkan dirimu begitu saja, karenanya terpaksa aku harus membawa serta dirimu."

"Sekalipun hendak berangkat ke Lok-yang aku kan masih punya sepasang kaki untuk berjalan sendiri," seru si nona agak mendongkol.

"Ah, maaf, aku takut kau enggan mengikuti aku." Cepat pemuda itu menurunkan tubuh si nona.

Setelah berdiri kembali, Hek-coa-li-liong mendongakkan kepala dan memeriksa sekejap keadaan sekeliling tempat itu, kemudian ia bertanya, "Tahukah kau kita berada dimana sekarang?"

Bong Thian-gak melongo, lalu menggeleng kepala berulang-kali.

"Tidak tahu."

"Tempat ini adalah Leng-juan di San-say, asal kita bisa melewati perbukitan Tay-heng-san yang melintang, maka kita sudah sampai di wilayah Ho-lam, berarti perjalanan dari sini sampai Lok-yang paling hanya satu hari perjalanan."

"Wah, itu lebih baik lagi," kata Bong Thian-gak gembira. Dengan suara hambar kembali Hek-coa-li-liong berkata, "Gi

Jian-cau adalah seorang licik, jahat, kejam dan berhati busuk. Sejak puluhan tahun berselang, ia sudah bersekongkol dengan Cong-kaucu. Di saat Put-gwa-cin-kau mulai meracuni umat persilatan dan meneror umat manusia, racun jahat bikinan Gi Jian-cau boleh dibilang merupakan pendukung utamanya."

Bong Thian-gak menghela napas sedih.

"Dari dulu sampai sekarang, selain Nabi, siapakah umat manusia di dunia ini yang bisa luput dari kesalahan? Ai, bila ia bersedia menggunakan kemampuannya membuat obat guna menolong umat manusia, hal ini tentu akan lebih baik lagi."

"Jika Gi Jian-cau masih mempunyai jiwa yang baik dan perasaan welas asih, sejak permulaan ia tak akan membuat obat racun untuk mencelakai jiwa manusia."

Bong Thian-gak tahu gadis itu sudah telanjur mempunyai kesan buruk terhadap Gi Jian-cau, oleh sebab itu dia pun tidak mengajaknya berdebat lebih jauh, sambil mengalihkan pokok pembicaraan ke masalah lain, tanyanya, "Hingga sekarang aku masih belum mengetahui namamu, boleh aku tahu siapa namamu?"

"Aku she Han bernama Siau-cing," sahut Hek-coa-li-liong sambil tersenyum.

"Nona Han, luka pada lenganmu belum sembuh, mampukah kau menempuh perjalanan malam?" Han Siau-cing tertawa.

"Aku adalah seorang anak gadis, tidak mungkin aku menyuruhmu menggendong diriku terus menerus."

Merah padam wajah Bong Thian-gak, cepat ia menerangkan, "Aku tak bermaksud seperti itu. Bila kau lelah, marilah kita beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan kita."

"Aku tidak lelah."

Maka berangkatlah Bong Thian-gak dan Han Siau-cing melewati perbukitan Tay-heng-san, lalu melalui pesisir utara sungai Huang-ho, menyeberangi sungai dan tiba di Beng-kim selewat lohor.

Menjelang magrib, di sebuah kuil bobrok di luar kota Lok- yang di dusun Cho-keh-po, muncul sepasang muda-mudi berlengan tunggal. "Bong-siangkong, apakah kau tidak salah mencari tempat?" tanya si gadis bermantel ular.

Si pemuda mengangkat kepala dan memandang sekejap kuil bobrok itu, kemudian menjawab dengan suara dalam dan berat, "Tak bakal salah, mari kita masuk untuk melihat!"

Dengan berjalan bersanding, mereka masuk ke kuil bobrok itu.

Daun kering berserakan di halaman, rumput liar tumbuh dimana-mana. Tampaknya kuil itu memang sudah lama terbengkalai.

Apalagi setelah melangkah masuk ke dalam ruang tengah, sarang laba-laba tampak memenuhi sudut ruangan, debu menebal, meja altar dan segala peralatan rusak dan hancur, tak mungkin ada orang yang berdiam di tempat itu.

Ketika angin lembut berhembus, lamat-lamat terendus bau amis yang menusuk penciuman.

"Bong-siangkong apakah kau mengendus bau busuk mayat?" tiba-tiba Han Siau-cing bertanya.

Paras pemuda itu berubah hebat, ia balik bertanya, "Bau bangkai? bau ini adalah bau mayat yang membusuk."

Gadis berlengan tunggal alias Han Siau-cing segera mengendus sekeliling tempat itu, kemudian bertanya lagi, "Tampaknya bau busuk itu berasal dari gedung belakang di sebelah barat laut."

Pemuda berlengan tunggal tak lain adalah Bong Thian-gak segera menggerakkan tubuh meluncur ke gedung belakang.

"Bong-siangkong, tidak usah diperiksa lagi," Han Siau-cing segera berseru.

Tapi Bong Thian-gak sama sekali tidak menghentikan langkahnya, karena itu terpaksa si nona menyusul ke belakang. Waktu itu Bong Thian-gak sedang berdiri di depan pintu sambil mengawasi ruang dalam dengan pandangan mendelong dan wajah termangu-mangu.

Sambil menutup hidung, Han Siau-cing mendekati pemuda itu serta menengok ke dalam.

Mayat-mayat berserakan di dalam gedung itu, bau busuk yang amat menusuk tersebar luas, membuat orang hampir muntah.

Bila dilihat dari rambut mayat-mayat itu, dandanan dan pakaian yang dikenakan, agaknya semua mayat itu terdiri dari kaum wanita.

Sambil menghela napas sedih Han Siau-cing berkata, "Bong-siangkong, yang kukatakan tidak salah bukan, Gi Jian- cau memang seorang laknat."

Bong Thian-gak sama sekali tidak menjawab, dia beranjak dan melangkah masuk ke ruangan itu, kemudian setelah memeriksa sekejap semua mayat yang terkapar di situ, ia keluar lagi dari ruangan sambil bergumam, "Semua yang menjadi korban adalah anggota perempuan Hiat-kiam-bun dan tak salah lagi, tapi ... mengapa tidak terlihat mayat Keng-tim Suthay serta Gi Jian-cau."

"Sudah kau periksa apa yang menyebabkan kematian mereka?" tanya Han Siau-cing tiba-tiba.

Dengan wajah berubah hebat, sahut Bong Thian-gak, "Aku tidak menemukan satu titik luka pun di tubuh mayat itu."

"Nah, itulah dia!" Han Siau-cing kembali menghela napas. "Mereka semua tentu mati diracun, jadi pembunuh kejinya sudah pasti Gi Jian-cau."

"Nona Han," ujar Bong Thian-gak kemudian dengan wajah serius. "Sebelum aku selesai dengan pemeriksaanku, janganlah menuduh siapa pun dengan sembarangan." Tiba-tiba Han Siau-cing tertawa terkekeh-kekeh, "Berada dalam keadaan dan situasi semacam ini pun kau masih menganggap Gi Jian-cau sebagai orang baik?"

Mendadak Bong Thian-gak membentak, "Siapa di situ?"

Sambil membentak, tubuhnya seperti seekor elang raksasa segera melompat ke depan.

Reaksi Han Siau-cing jauh lebih lamban. Tatkala dia menyusul ke halaman depan, Bong Thian-gak telah bentrok satu gebrakan melawan pendatang itu dan sebagai akibat dari bentrokan ini, sepasang bahunya terguncang keras, langkahnya gontai dan selangkah demi selangkah ia sedang mundur ke belakang.

Kemudian darah menyembur dari mulut Bong Thian-gak.

Sementara itu di hadapan Bong Thian-gak telah berdiri seorang kakek berjenggot hitam yang menggunakan baju berwarna hijau.

Ia menggembol sebilah pedang antik, rambutnya sudah memutih, namun matanya yang memancarkan sinar tajam sedang mengawasi anak muda itu tanpa berkedip.

Sambil membentak, Han Siau-cing bersiap hendak menerjang ke depan, tapi Bong Thian-gak segera memegang lengannya sembari berbisik, "Jangan bertindak gegabah nona Han, ilmu silat yang dimiliki orang ini hebat sekali, kau tak akan mampu membendung serangannya."

Tiba-tiba terdengar kakek berjenggot hitam itu bertanya dengan suara nyaring, "Kau adalah Jian-ciat-suseng?"

Bong Thian-gak terkejut, bukan karena orang itu dapat menyebut julukannya, tapi dikarenakan dalam bentrokan yang berlangsung tadi, ia bisa merasakan kekuatan dan kedahsyatan tenaga serangan kakek itu. Sejak dia berlatih tekun selama tiga tahun di bawah air terjun, Hong Thian-gak selalu menaruh kepercayaan yang amat besar pada kemampuan ilmu silatnya, dia menganggap tiada orang yang bisa mengungguli dirinya.

Tapi hari ini untuk pertama kalinya ia menderita kekalahan di tangan orang.

Getaran tenaga pukulan yang dilancarkan kakek berjenggot hitam tadi telah melukai isi perutnya serta mengguncang rasa percayanya terhadap kemampuan sendiri.

Dengan perasaan agak tegang, gugup dan panik dia menegur, muaranya terdengar agak gemetar, "Siapakah kau?"

Han Siau-cing sendiri pun tidak mengenal siapa gerangan kakek berjenggot hitam yang berada di hadapannya sekarang.

Kakek berjenggot hitam itu sama sekali tidak menyebut nama serta julukannya, hanya tanyanya lagi dengan suara hambar, "Apakah kau murid Oh Ciong-hu?"

Bong Thian-gak tak mengerti mengapa ia mengajukan pertanyaan itu, segera jawabnya, "Benar, aku adalah anak muridnya."

Paras muka kakek itu berubah, katanya, "Kesempurnaan tenaga dalam yang kau miliki benar-benar jauh mengungguli kemampuan Oh Ciong-hu sendiri."

"Aku rasa kau tentunya sudah boleh menyebut identitasmu, bukan?" kata Bong Thian-gak kemudian dengan kening berkerut.

"Asal kau berani melancarkan sebuah serangan pedang lagi kepadaku, aku bersedia menyebut nama serta julukanku," sahut si kakek hambar.

Bong Thian-gak melolos pedang dan siap melancarkan serangan, katanya, "Aku bersedia melancarkan serangan pedang lagi atas dirimu, namun perlu kujelaskan, serangan pedangku ini bisa jadi merupakan akhir dari kehidupanku, tapi mungkin juga merupakan titik hancur bagi kehidupanmu, karena itu kuanjurkan lebih baik serangan kubatalkan saja."

"Bila kau tidak berani melancarkan serangan, aku akan menyerang dirimu lebih dulu," ancam si kakek.

Sembari berkata, kakek itu pelan-pelan melolos pedang antiknya, pedang itu sama sekali tidak memercikkan setitik cahaya pun, juga tidak nampak mata pedang, karena pedang itu tak lebih hanya sebilah pedang kayu, pedang kayu yang sama sekali tumpul. Menyaksikan bentuk pedang itu, paras muka Bong Thian-gak justru berubah semakin serius. Pedang kayu sebagai senjata andalan, Bong Thian-gak tahu ilmu pedang kakek itu sudah mencapai taraf kemampuan yang luar biasa.

Berapa orang dalam Kangouw dewasa ini yang memiliki ilmu pedang begitu sempurna?

"Ah! Kau adalah ketua Kay-pang," Bong Thian-gak menjerit kaget.

Sebelum pemuda itu berbicara, pedang kayu yang berada dalam genggaman kakek itu sudah menusuk ke arah dadanya. Tusukan itu dilancarkan sangat lamban tapi sangat berat.

Sekilas serangan itu amat lamban, sama sekali tidak mengandung hawa napsu pembunuh, tetapi Bong Thian-gak justru menghadapinya dengan wajah serius dan tegang.

Dalam sekejap dia seakan-akan menghadapi bahaya ancaman

maut.

Bentakan keras menggeledek di angkasa.

Kemudian berkumandang suara benturan yang memekakkan telinga. Pedang Bong Thian-gak berhasil memapas kutung pedang kayu si kakek berjenggot hitam itu.

Sebaliknya pedang kayu si kakek juga berhasil mematahkan pedang Bong Thian-gak.

Dalam pada itu Bong Thian-gak sudah berjumpalitan, lengan tunggalnya masih menggenggam kutungan pedang, sementara matanya mengawasi si kakek di hadapannya tanpa berkedip.

Suasana tegang kembali menyelimuti seluruh arena. Tiba-tiba terdengar kakek itu menghela napas sedih,

kemudian katanya, "Serangan pedangmu itu ternyata mampu menembus hawa pedangku, ternyata kau pun berhasil melatih hawa pedang yang maha sakti. Sungguh tak nyana, dengan usiamu yang begitu muda, ternyata mampu melatih hawa pedang yang hebat, betul-betul tak kuduga."

Cucuran darah berlinang dari ujung bibir Bong Thian-gak, namun ia menjawab sambil tersenyum, "Bila Locianpwe melancarkan serangan lagi kepadaku, niscaya Boanpwe tak bakal lolos dari ancaman bahaya maut."

"Bila serangan yang pertama tak mampu membunuhmu, hari ini aku tak akan melepaskan serangan kedua," ucap si kakek hambar.

Kakek itu membuang kutungan pedangnya, kemudian berkata, "Bila kau masih mampu, sekarang silakan membunuhku."

"Locianpwe," kata Bong Thian-gak lantang, "sebetulnya di antara kita sama sekali tak terikat dendam sakit hati apa pun, mana berani Boanpwe menyerang dirimu lagi."

Bong Thian-gak pun membuang kutungan pedangnya, kemudian melanjutkan, "Cuma Boanpwe ingin mencari tahu beberapa hal, harap Iocianpwe sudi memberi penjelasan." "Persoalan apa yang hendak kau ketahui?"

"Aku ingin tahu, sesungguhnya siapakah Locianpwe?" "Ketua angkatan ketujuh Kay-pang, Mo-kiam-sin-kun Tio

Tian-seng."

Mimpi pun Bong Thian-gak tidak menyangka Tio Tian-seng adalah ketua Kay-pang saat ini. Rahasia itu boleh dibilang jarang di ketahui umat persilatan.

Bong Thian-gak berdiri tertegun dan melongo mendengar jawaban itu.

Dengan wajah serius Tio Tian-seng bertanya lagi, "Apakah kau masih ada pertanyaan lain? Ayo, cepat utarakan."

Bagaikan baru sadar dari impian, cepat Bong Thian-gak bertanya, "Ada keperluan apa Locianpwe datang kemari?"

"Mencari si tabib sakti Gi Jian-cau untuk mengobati luka yang diderita muridku, To Siau-hou."

"Apakah Locianpwe telah berhasil menemukan si tabib sakti?" tanya Bong Thian-gak lagi.

"Belum."

Bong Thian-gak berkerut kening, lalu katanya, "Boanpwe juga sedang mencari Gi Jian-cau, mungkin Locianpwe sudah melihat mayat-mayat yang terkapar di ruang belakang itu!"

Tio Tian-seng mendengus, "Hm, pertanyaanmu sudah selesai diutarakan, sekarang aku hendak pergi. Ingat pada saat kita bersua lagi bisa jadi aku akan membunuhmu."

Seusai berkata, dia menggerakkan tubuh beranjak pergi dari situ.

Belum sempat Bong Thian-gak memanggilnya, Tio Tian- seng sudah lenyap dari pandangan mata. Keadaan Bong Thian-gak saat ini benar-benar bagaikan berada dalam alam impian, dia seperti kurang percaya dengan apa yang dialaminya barusan, dia tak percaya baru saja habis bertarung melawan jagoan paling tangguh yang diakui umat persilatan selama enam puluh tahun belakangan ini, Tio Tian- seng.

Dia pun tak menyangka orang paling tangguh di kolong langit dewasa ini, Tio Tian-seng tak lain adalah ketua Kay- pang.

Han Siau-cing berseru kaget, "Jadi dia adalah Tio Tian- seng?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, tentu saja dalam dunia persilatan dewasa ini, bukan hanya Tio Tian-seng seorang yang mampu mematahkan pedangku dengan hanya menggunakan sebilah pedang kayu."

"Dia termasuk juga utusan pelindung bunga Cong-kaucu?" "Bong-siangkong, masih ingat dengan perkataanku tempo

hari tentang ketiga orang utusan pelindung bunga Cong-kaucu

yang misterius identitasnya?"

Paras muka Bong Thian-gak menjadi amat serius, katanya, "Kecuali Gi Jian-cau serta Tio Tian-seng, siapakah orang

ketiga?"

"Agaknya orang ketiga bernama Hek-mo-ong (raja iblis hitam)."

"Hek-mo-ong? Mana mungkin dalam Bu-lim terdapat manusia dengan julukan itu?"

"Bong-siangkong," kata Han Siau-cing dengan nada bersungguh-sungguh, "sebenarnya aku sendiri kurang percaya, tapi bila teringat kata-kata terakhir seorang Bu-lim Locianpwe yang sedang mendekati ajalnya, ucapan itu memang sangat masuk akal." "Bu-lim Locianpwe manakah yang berkata kepadamu? Apa pula yang dia katakan?"

Han Siau-cing termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, .setelah itu baru ujarnya, "Orang itu adalah gurumu

... Oh Ciong-hu."

"Kau benar-benar telah berjumpa dengan guruku menjelang ajalnya?" Bong Thian-gak berseru kaget.

Han Siau-cing manggut-manggut.

"Menjelang ajalnya, mendiang Bu-lim Bengcu Oh Ciong-hu telah bicara banyak denganku."

"Dapatkah kau memberitahukan kepadaku semua kejadian yang dialami Suhuku menjelang ajalnya?" pinta sang pemuda cemas.

Han Siau-cing menghela napas sedih, katanya kemudian, "Peristiwa ini berlangsung pada tiga tahun berselang, waktu itu aku termasuk salah seorang di antara kawanan jago yang diutus Cong-kaucu untuk mencelakai jiwa Bu-lim Bengcu Oh Ciong-hu yang amat lihai itu."

Mencorong sinar tajam penuh hawa napsu membunuh dari balik mata Bong Thian-gak, ditatapnya wajah Han Siau-cing lekat-lekat, kemudian tanyanya dingin, "Apakah kau juga termasuk salah seorang di antara pembunuh keji yang telah mencelakai guruku?"

Sekali lagi Han Siau-cing menghela napas sedih.

"Justru karena aku tidak turut menyerang Oh-locianpwe, maka Cong-kaucu menaruh curiga padaku serta menyekapku, bila Siangkong tidak percaya, aku pun tidak dapat berbuat apa-apa."

"Kalau begitu, tentunya kau masih ingat dengan jelas bukan, siapa-siapa saja yang terlibat dalam peristiwa keributan itu?" Han Siau-cing termenung sambil berpikir sejenak, kemudian ia baru berkata, "Coba kau dengar dulu cerita peristiwa itu."

"Cepatlah kau ceritakan!"

Han Siau-cing menarik napas panjang, kemudian katanya, "Tiga tahun berselang kami telah mengepung Oh-locianpwe di sebuah tanah padang rumput, hampir segenap jago lihai yang tergabung dalam Put-gwa-cin-kau telah dikerahkan ke sana, maka terjadilah pertarungan berdarah yang sangat mengerikan. Oh-locianpwe almarhum dengan kemampuan seorang diri bertarung dan menerjang musuh dengan buas, ketika pertarungan berakhir, beliau telah menghabisi nyawa kedua ratus jago lihai Put-gwa-cin-kau tanpa ampun.

"Aku masih ingat ketika kujumpai Oh-locianpwe, waktu itu ia sedang duduk bersila di bawah sebatang pohon waru, di sampingnya berdiri seekor kuda berbulu emas.

"Belum sempat aku menghampiri Oh-locianpwe, beliau yang semula memejamkan mata mendadak membuka mata, kemudian setelah memandang sekejap ke arahku, ia pun menegur sambil tertawa, 'Apakah kau orang yang datang untuk memenggal batok kepalaku?'.

"Aku tertegun mendengar teguran itu, kemudian menggeleng kepala dengan mulut tetap membungkam. Saat itulah Oh-locianpwe dengan tertawa pedih berkata kembali, 'Aku sudah hampir mati, bila kau memang menginginkan batok kepalaku, silakan mencabut pedang serta memenggalnya, sebab aku tak punya bertenaga lagi untuk memberikan perlawanan ... namun sebelum ajalku tiba, aku ingin memberitahukan satu hal kepada kalian, yakni segenap anggota Put-gwa-cin-kau, kecuali Cong-kaucu, pada akhirnya akan mati dalam keadaan mengenaskan.'.

"Sewaktu mendengar keterangan itu, dengan cepat aku pun bertanya, 'Mengapa?'. "Tampaknya kejernihan otak Oh-locianpwe mulai kabur, tapi aku mendengar ia berkata, 'Bila kau percaya, berusahalah mencari daya-upaya melepaskan diri dari belenggu Put-gwa- cin-kau secepatnya. Walaupun tatkala kalian memasuki perkumpulan sudah dicekoki obat racun yang berdaya kerja lambat, tapi aku beri tahukan kepadamu bahwa seseorang masih bisa menyelamatkan jiwa kalian ... dia adalah Ku-lo Sinceng dari Siau-lim-pay. Sewaktu kau bertemu beliau nanti, katakan kepadanya ketiga orang pelindung bunga Cong-kaucu yang misterius itu adalah tabib sakti Gi Jian-cau, Tio Tian-seng dan Hek-mo-ong.'.

"Tatkala bicara sampai di situ, nada suaranya terputus, ternyata Oh-locianpwe telah berpulang ke akhirat."

"Apakah kau sudah pergi menjumpai Ku-lo Sinceng?" tanya Bong Thian-gak.kemudian dengan wajah amat serius.

"Belum," Han Siau-cing menggeleng. "Sebab tak lama setelah Oh-locianpwe meninggal dunia, Siau Cu-beng beserta segenap jagoan lihai Put-gwa-cin-kau telah berdatangan ke situ, mereka mendesakku untuk memberitahukan apa yang telah disampaikan Oh-locianpwe menjelang ajalnya tadi."

"Apakah kau telah berterus terang kepada mereka?" tanya Bong Thian-gak cepat.

"Tidak, aku tak pernah mengucapkan sepatah kata pun kepada mereka, justru karena itu Cong-kaucu segera menaruh curiga kepadaku dan sejak itu pula aku dikurung olehnya di loteng itu."

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, kalau menjelang ajalnya Suhu telah mengatakan bahwa Gi Jian-cau, Tio Tian-seng serta Hek-mo-ong bertiga adalah utusan pelindung bunga Cong-kaucu, aku rasa hal itu tak bakal salah lagi... tapi peristiwa itu sungguh membuat orang tidak habis mengerti. Ai, bila aku tidak menghilangkan kantung ketiga yang telah disiapkan Ku-lo Sinceng tempo hari dan membukanya sekarang, bisa jadi teka-teki itu dapat dipecahkan."

Bong Thian-gak teringat bahwa Ku-lo Sinceng telah menyerahkan tiga buah kantung kepadanya menjelang ajalnya tempo hari, waktu yang ditetapkan untuk membuka kantung yang terakhir ini tak lain adalah saat Tio Tian-seng menampakkan diri.

Sekarang Tio Tian-seng telah menampakkan diri, namun kantung ketiga itu telah hilang entah dimana?

Sementara itu Han Siau-cing menghela napas sedih seraya berkata, "Sekarang Gi Jian-cau bersembunyi entah dimana, tentu saja aku sudah tidak bisa menunggu dirinya lagi untuk memperoleh pengobatan."

"Seandainya Gi Jian-cau benar-benar sudah berubah pendirian, entah berapa banyak jago persilatan yang bakal berkorban di dunia saat ini. Ai! Dari tumpukan mayat yang tergeletak di sana, tampaknya mereka sudah mati belasan hari lamanya, dari pakaian yang dikenakan mayat-mayat itu tidak salah lagi mereka adalah anggota Hiat-kiam-bun, tapi mengapa tidak kutemukan jenazah Keng-tim Suthay di antara tumpukan mayat itu? Bukankah ini berarti terdapat setitik harapan."

Bong Thian-gak segera menarik tangan Han Siau-cing sambil katanya, "Mari kita melakukan pemeriksaan di tempat lain!"

"Kita hendak pergi kemana lagi?" tanya Han Siau-cing tidak habis mengerti.

"Tempat yang sebenarnya untuk membuat obat." "Kalau begitu tempat ini bukan tempat pembuatan obat

yang sesungguhnya?" tanya Han Siau-cing terperanjat.

"Masalah pembuatan pil pengembali sukma oleh Gi Jian-cau sesungguhnya menyangkut nasib segenap umat persilatan. Sekalipun tempat ini sudah diserang musuh, tapi aku percaya orang-orang Hiat-kiam-bun masih mempunyai cara lain untuk memindahkan tabib sakti meninggalkan tempat ini."

Han Siau-cing tertegun, serunya, "Bong-siangkong, apakah kau masih percaya bahwa Gi Jian-cau membuatkan pil pengembali sukma untukmu?"

"Peristiwa ini belum mencapai jalan buntu, tentu saja masih ada setitik harapan."

Mendadak Han Siau-cing berseru tertahan, air mukanya segera berubah pucat-pias seperti mayat, sekujur badannya ikut bergetar keras.

Bong Thian-gak terkejut, buru-buru ia bertanya, "Mengapa kau? Apakah racun yang mengeram dalam tubuhmu mulai kambuh?"

"Tidak," Han Siau-cing segera menggeleng.

Pada saat itulah segulung angin berhembus, Bong Thian- gak segera mengendus bau harum semerbak yang tipis, inilah bau bunga anggrek yang amat dikenal olehnya, bau yang bukan untuk pertama kali ini terendus olehnya.

"Ah! Rupanya dia telah datang!" Bong Thian-gak berseru kaget.

"Bong-siangkong, kau cepat kabur," buru-buru Han Siau- cing berseru dengan gelisah. "Ia mengejar sampai di sini, tujuannya adalah hendak membunuh aku, kau cepatlah lari!"

Tiba-tiba Bong Thian-gak tertawa, teriaknya, "Cong-kaucu, kalau kau sudah datang, mengapa tidak segera menampakkan diri?"

Baru selesai dia berkata, dari halaman gedung berkumandang suara irama musik yang lembut, kemudian nampak sebuah tandu besar yang megah dan mentereng digotong oleh enam belas orang perempuan kekar pelan-pelan muncul.

Di belakang tandu besar itu mengikut pula sekelompok orang.

Rombongan itu berjumlah lebih kurang dua puluh orang, tapi yang membuat Bong Thian-gak merasa terkejut adalah turut hadirnya seorang perempuan cantik, seorang sastrawan baju hijau serta seorang kakek baju hitam berlengan tunggal.

Han Siau-cing dapat melihat pula kehadiran ketiga orang itu, ia segera berseru dengan suara gemetar, "Si-hun-mo-li, Ji- kaucu serta Sim Tiong-kiu ... ah, habis sudah nyawa kita kali ini!"

Bong Thian-gak juga merasa tegang, seram dan ketakutan sehabis melihat rombongan itu.

Dalam gerakannya kali ini Put-gwa-cin-kau telah mengerahkan segenap kekuatan inti terhebat yang mereka miliki. Bagaimana pun juga dengan kekuatannya seorang diri tak mungkin bisa melawan kawanan sebanyak itu.

"Kabur!"

Ingatan itu mendadak lewat dalam benak Bong Thian-gak.

Ia tak tahu, ingatan semacam itu apakah merupakan pilihan yang bodoh atau cerdik.

Namun ia tahu, dia tak boleh mengalami nasib tragis seperti apa yang dialaminya tiga tahun berselang.

Oleh sebab itulah Bong Thian-gak segera melarikan diri.

Ia meninggalkan Han Siau-cing begitu saja, melarikan diri sendirian.

Dengan cepat bagaikan sambaran kilat, Bong Thian-gak melejit ke lengah udara kemudian kabur menuju ke arah barat daya. Umpatan marah, sindiran sinis dan bentakan nyaring dengan cepat bergema memenuhi angkasa.

Walaupun Bong Thian-gak dapat mendengar semua itu, namun ia sama sekali tidak berpaling. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, pemuda itu melarikan diri terbirit-birit.

Jeritan perempuan yang sangat mengerikan hati bergema dari kejauhan, seperti teriakan Thay-kun pada tiga tahun berselang.

Hancur luluh perasaan Bong Thian-gak waktu itu, ia merasa betapa hinanya perbuatan yang dilakukan olehnya sekarang, ia merasa dirinya adalah seorang pengecut yang tak berani bertanggung-jawab.

"Mengapa aku harus kabur? Mengapa aku mesti melarikan diri? Aku bukan seorang lelaki sejati, aku adalah seorang lelaki pengecut yang takut mampus. Bong Thian-gak, wahai Bong Thian-gak, dengan perbuatan yang memalukan ini, mungkinkah kau masih bisa tampil di Kangouw?"

Seperti kelinci yang melarikan diri dari terkaman harimau, Bong Thian-gak melarikan diri menembus hutan, menyeberangi jurang.

Sepanjang jalan ia merasa sedih, menyesal dan mengutuk diri sendiri.

Lalu ia berhenti secara tiba-tiba, duduk bersimpuh di atas tanah dan menangis tersedu-sedu.

Matahari tenggelam di balik bukit, sinar keemas-emasan masih menyinari padang rumput yang luas.

Saat itulah muncul seorang kakek baju hijau berjenggot hitam dari ujung padang rumput sana.

Pelan-pelan ia berjalan menghampiri Bong Thian-gak dan berhenti di hadapannya. Bong Thian-gak mengangkat kepala, ia tersentak kaget dan melompat bangun dari atas tanah.

Sekulum senyuman menghiasi bibir kakek berbaju hijau itu, dia mengangguk pelan, lalu berkata, "Kau memang seorang lelaki pintar yang pemberani, benar-benar hebat kau, lelaki jempolan."

Bong Thian-gak tertunduk malu, mukanya merah seperti babi panggang.

"Aku tahu, aku memang seorang pengecut, seorang lelaki konyol," ia berbisik lirih, "Tio-locianpwe tak usah menggodaku!"

"Orang yang berani melakukan perbuatan yang tak berani dilakukan orang lain dan tak terpikir orang lain. Dia barulah seorang laki-laki pintar yang pemberani, terus terang saja, siapa di kolong langit ini yang berani mengambil keputusan dan tindakan semacam kau? Apa salah kalau kukatakan kau adalah lelaki pemberani yang pintar?"

"Kau ... kau maksudkan ... tindakanku melarikan diri tadi adalah perbuatan seorang lelaki pemberani yang pintar?" tanya Bong Thian-gak gugup.

Kakek itu manggut-manggut.

"Coba kau tidak kabur, sudah pasti kau akan menjadi lelaki konyol dan mata gelap yang akibatnya ... hm, mati konyol!

Asal gunung tetap menghijau, masa takut kehabisan kayu bakar? Yang penting memang kabur dulu."

Perasaan sedih, hina dan menyesal yang semula menggeluti pikiran Bong Thian-gak kini terhapus dari perasaannya, tapi ia belum bisa melenyapkan semua perasaan sesalnya.

Kembali dia berkata, "Aku telah kabur meninggalkan seorang gadis lemah begitu saja, cara dan tindakan yang kulakukan ini bukan cara dan perbuatan seorang lelaki sejati." Kakek tua tertawa hambar, "Barang siapa berani mengkhianati Put-gwa-cin-kau, cepat atau lambat ia pasti akan mati."

Tiba-tiba mencorong sinar aneh dari balik mata Bong Thian-gak, di tatapnya kakek baju hijau itu lekat-lekat, kemudian tanyanya, "Tio-locianpwe ada urusan apa kau datang kemari?"

"Mengajak kau mengantarku menemui Gi Jian-cau." "Parah sekali luka To Siau-hou?"

"Nyawanya sudah berada di ujung tanduk."

"Tio-pangcu," tiba-tiba Bong Thian-gak berkata, "ada suatu hal ingin kutanyakan kepadamu."

"Soal apa? Cepat katakan."

"Aku dengar dewasa ini terdapat tiga orang Enghiong yang disegani orang ternyata menjadi utusan pelindung bunga Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau."

Paras muka kakek baju hijau itu segera berubah hebat, dengan gugup ia bertanya, "Kau tahu siapakah ketiga orang itu?"

"Tentu saja tahu."

"Apakah satu di antaranya adalah Gi Jian-cau?"

"Ya, termasuk juga Tio Tian-seng," sambung pemuda itu. Paras muka kakek baju hijau itu segera berubah tak sedap dipandang, cepat ia berseru, "Tahukah kau Tio Tian-seng hanya berjanji tak akan mencampuri urusan dunia persilatan selama sepuluh tahun?" Bong Thian-gak menggeleng.

"Bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya, aku memang tidak terlalu jelas. Aku hanya tahu ada tiga tokoh tangguh yang telah menjadi utusan pelindung bunga Cong- kaucu Put-gwa-cin-kau." Kakek baju hijau tertawa dingin.

"Tiga hari berselang, janji sepuluh tahun sudah habis batas waktunya, sekarang aku sudah tidak terikat lagi dengan dirinya."

"Bagaimana dengan Gi Jian-cau?"

"Gi Jian-cau pun ada ikatan janji sepuluh tahun dengannya," jawab Tio Tian-seng hambar, "Tapi aku yakin selamanya Cong-kaucu tak bakal melepas dirinya begitu saja."

"Apakah dia akan mencelakai jiwa Gi Jian-cau?" "Bukan tabib sakti Gi Jian-cau saja, dia pun akan

mencelakai jiwaku."

Mendengar penjelasan itu, Bong Thian-gak tertawa tergelak, "Siapa dewasa ini yang masih berkemampuan membunuh dirimu."

Tio Tian-seng menghela napas sedih, kemudian baru ia berkata, "Hek-mo-ong. Dia adalah satu-satunya lawan tandingku."

"Siapakah Hek-mo-ong itu?" tanya Bong Thian-gak terkejut. Tio Tian-seng menggeleng.

"Aku sendiri pun tak tahu siapa Hek-mo-ong, aku hanya tahu orang ini bisa membunuh korbannya tanpa menampakkan wujud aslinya, gerak-geriknya selalu rahasia dan sesungguhnya dia otak di belakang layar yang menyetir Put-gwa-cin-kau selama ini."

"Sesungguhnya Hek-mo-ong inilah yang menjadi pimpinan besar Put-gwa-cin-kau, dialah dalang kekacauan dunia persilatan."

”Tio-pangcu, bila kau tak menampik, seluruh anggota Hiat- kiam-bun bersedia bekerja sama dengan perkumpulan kalian menentang kekuasaan dan kelaliman Put-gwa-cin-kau." "Mengikuti perubahan situasi dan perkembangan persilatan, antara Hiat-kiam-bun dengan Kay-pang memang tak mungkin dapat dipisahkan lagi."

"Bagus kalau begitu, tetapkan dengan sepatah kata ini saja."

"Masalahnya tak bisa ditunda-tunda lagi, ayo segera antarkan aku menjumpai Gi Jian-cau."

Bong Thian-gak segera bangkit, kemudian ujarnya, "Tio- pangcu, harap ikuti diriku!"

Kuil Sam-cing-koan adalah kuil kaum Sam-cing yang terletak di sebelah utara kota Lok-yang.

Kuil itu dibangun di kaki bukit, bangunannya megah dan mentereng, tak ubahnya seperti istana.

Matahari sudah lama tenggelam, keremangan pun menyelimuti

seantero jagat.

Dalam suasana seperti ini, tiba-tiba di depan pintu gerbang kuil muncul seorang pemuda berlengan tunggal serta seorang kakek baju hijau berjenggot hitam.

Pintu gerbang tertutup rapat, suasana dalam gedung pun sunyi senyap tak terdengar sedikit suara pun.

Sambil mengepal tinju tangan kirinya, pemuda berlengan tunggal itu mengetuk pintu gerbang tiga kali.

Mendadak pintu gerbang dibuka orang, empat orang Tosu berbaju kuning segera muncul, sebilah pedang tersoreng di punggung masing-masing, sementara orang yang berjalan paling depan segera menyapu pandang sekejap wajah kedua orang tamunya dengan sinar mata tajam.

"Sicu berdua hendak mencari siapa?" tegurnya. Pemuda berlengan tunggal tersenyum, "Aku she Bong bernama Thian-gak, ingin berjumpa Koancu kalian."

Sekilas perubahan aneh tampak menghiasi wajah Tosu berbaju kuning itu, dengan cepat ia mengalihkan sorot matanya dan mengamati sekujur badan pemuda itu dari atas sampai ke bawah.

Kemudian baru berkata dengan dingin, "Jadi kau adalah ketua Hiat kiam-bun Jian-ciat-suseng."

"Ya, memang aku," Bong Thian-gak tersenyum.

Tiba-tiba Tosu berbaju kuning itu menarik muka dan menegur dengan serius, "Tolong tanya, sesungguhnya dalam Hiat-kiam-bun berapa orang Jian-ciat-suseng?"

Pertanyaan ini segera menyentak hati Bong Thian-gak, cepat ia menegur, "Totiang, tolong tanya apa maksudmu?"

Setelah tertawa dingin, sahut Tosu berbaju kuning itu, "Terus terang aku beritahukan kepadamu, setengah jam berselang telah datang Jian-ciat-suseng yang berkunjung dalam kuil kami." Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak.

Paras muka Tio Tian-seng yang berada di sampingnya turut berubah, sekali berkelebat ia sudah menerobos masuk ke dalam.

Ternyata reaksi ketiga orang Tosu lain yang berjaga-jaga di sisi pintu cukup cepat, serentak mereka melolos pedang masing-masing, kemudian di antara kilatan cahaya tajam, tiga bilah pedang berkelebat menghadang jalan pergi Tio Thian Seng.

Agaknya Bong Thian-gak sendiri pun sudah merasakan keadaan gawat dan seriusnya peristiwa ini, mendadak ia mengayun telapak tangannya melancarkan pukulan ke arah dada Tosu berbaju kuning itu. Sesungguhnya Tosu berbaju kuning itu telah bersiap menghadapi serangan, ia tak mengira serangan musuh ternyata begitu cepat bagaikan sambaran kilat.

Tahu-tahu dadanya terasa sakit dan napasnya menjadi sesak, tak sempat lagi mengeluh, peredaran darahnya telah tersumbat dan ia pun roboh tak sadarkan diri.

Tiga orang Tosu yang mencoba menghadang jalan pergi Tio Tian-seng juga telah dirobohkan semua dengan jalan darah tertotok.

"Bong-laute, apakah Gi Jian-cau berada di dalam kuil ini?" tanya Tio Tian-seng dengan suara dalam.

"Benar, dia berada di ruang peracikan obat."

"Sekarang sudah ada musuh yang menyaru sebagai dirimu memasuki kuil, bisa jadi hendak mencelakai jiwa Gi Jian-cau."

Belum selesai ia berkata, dari arah kuil tiba-tiba berkumandang suara genta yang dibunyikan bertalu-talu, suaranya keras dan nyaring memenuhi seluruh bukit dan menggetarkan angkasa. Berbareng dari balik gedung utama yang megah serentak menyerbu puluhan Tosu berpedang yang segera menuju ke arah pintu gerbang.

Bong Thian-gak mengerti, perkembangan saat ini telah berubah gawat, kecuali dia masuk ke dalam kuil dan menjumpai Sam-cing Koancu untuk menerangkan duduk permasalahan yang sebenarnya, kalau tidak, pertumpahan darah tentu akan berlangsung di situ.

Demi keselamatan Gi Jian-cau, Bong Thian-gak merasa tak mampu lagi menghindarkan diri dari bentrokan dengan orang- orang Sam-cing-koan.

"Tio-pangcu!" dengan suara dalam ia berseru, "kita serbu ke dalam, tapi kumohon kau jangan melukai jiwa mereka." Bong Thian-gak segera melompat ke muka dan menyongsong kedatangan kawanan Tosu itu.

Puluhan orang Tosu berbaju kuning itu seperti daun kering yang terhembus angin kencang, begitu termakan pukulan Tio Tian-seng dan Bong Thian-gak, segera berjatuhan ke lantai dan roboh tak sadarkan diri.

Sementara itu Tio Tian-seng telah melompat ke atas atap rumah, lalu dengan kecepatan luar biasa meluncur ke arah gedung halaman kedua.

Dalam pada itu suara genta telah berkumandang di seluruh kuil, bayangan orang berkelebat, kembali muncul serombongan Tosu yang bersenjata lengkap dari balik gedung.

Bong Thian-gak langsung meluncur masuk ke dalam gedung utama, kemudian dengan suara keras teriaknya, "Totiang sekalian, harap dengarkan baik-baik. Aku adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak, ketua Hiat-kiam-bun. Aku datang untuk berjumpa dengan Koancu kalian, harap kalian jangan menghalangi jalanku, bawalah aku menjumpai ketua kalian secepatnya!"

Namun kawanan Tosu itu sama sekali tidak menggubris, diiringi hentakan keras, serentak mereka menyerbu ke arah Bong Thian-gak sambil mengayunkan senjata!

Dalam keadaan begini, terpaksa Bong Thian-gak harus memutar lengan tunggalnya, dimana angin pukulannya menyambar, kawanan losu itu satu demi satu segera roboh bergulingan.

Soal tenaga dalam, kemampuan Bong Thian-gak sudah mencapai puncak kesempurnaan, berat-ringannya serangan bisa dilancarkan sekehendak hati. Oleh sebab itu meski kawanan Tosu itu terguling terkena serangan, mereka hanya roboh dengan jalan darah tertotok, sama sekali tak mempengaruhi keselamatan jiwa mereka. Bong Thian-gak bergerak secepat hembusan angin, makin bertarung makin mendesak ke depan, dalam waktu singkat ia sudah memasuki halaman kelima.

Halaman kelima adalah lapangan tempat berkumpul dalam kuil Sam-cing-koan.

Tatkala Bong Thian-gak menyerbu masuk ke dalam lapangan itu, dengan cepat pemuda itu dibikin tertegun dan berdiri termangu-mangu.

Ternyata empat penjuru sekeliling tanah lapang itu sudah dipenuhi Tosu baju kuning dengan senjata terhunus, jumlah mereka mencapai tiga ratusan orang.

Tio Tian-seng sedang terkepung, waktu itu ia sudah menghunus sebilah pedang yang penuh berlepotan darah, sedang di sekeliling arena terlihat ada tujuh kutungan lengan berceceran, darah telah membuat tanah lapang itu menjadi merah.

Dari sorot mata ketujuh Tosu yang cacat lengannya, tampaknya mereka memiliki kepandaian silat sangat tinggi, namun sekarang mereka duduk bersila di atas tanah dengan wajah diliputi perasaan sedih, gusar dan penuh penderitaan.

Bong Thian-gak segera menerjang ke sisi Tio Tian-seng, kemudian setelah menghela napas sedih, katanya, "Tio- pangcu, seranganmu kelewat berat!"

"Aku tidak menyangka dalam kuil Sam-cing-koan terdapat tujuh orang jago pedang yang amat lihai, hampir saja aku menderita kalah oleh kepungan barisan pedang Jit-sing-kiam- tin mereka," sahut Tio Tian-seng dingin.

Baru saja selesai berkata, dari balik rombongan di sebelah timur sana tiba-tiba berjalan keluar Sam-cing Tosu yang membawa Hud-tim (kebutan).

Di sisi kiri dan kanannya mengikut empat Tosu kecil yang masing-masing membawa dua bilah pedang pendek. Tosu itu berjalan dengan sangat lambat, selangkah demi selangkah berjalan ke tengah arena.

Malam sudah menjelang tiba, kegelapan mencekam seluruh jagat, Bong Thian-gak baru bisa melihat jelas paras muka Tosu itu setelah berhadapan.

Tosu ini berjenggot hitam sepanjang dada, rambutnya digulung dengan tusuk konde, sementara sepasang matanya memancarkan sinar tajam bagaikan bintang timur.

Terutama sikap si Tosu yang begitu anggun dan berwibawa, membuat setiap orang yang bertemu dengannya segera akan muncul perasaan kagum dan hormat.

Setelah Bong Thian-gak melihat Tosu tadi, segera dia menjura seraya berkata, "Aku Bong Thian-gak, tampaknya saudara adalah Sam-cing Koancu."

Sementara itu Tosu berbaju kuning itu sudah menghentikan langkahnya, tatkala sinar matanya dialihkan dari wajah Bong Thian-gak ke wajah Tio Tian-seng, tiba-tiba saja paras mukanya berubah hebat.

Paras muka Tio Tian-seng sendiri pun agak berubah melihat wajah tosu itu, segera katanya, "Sungguh tak kusangka Pat-kiam-hui-hiang (delapan pedang salju beterbangan) Tan Sam-cing yang telah lenyap dari dunia persilatan sejak empat puluh tahun berselang, ternyata sudah menetap dalam kuil Sam-cing-koan di kota Lok-yang ini."

Mendengar nama Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing, hati Bong Thian-gak bergetar, diam-diam ia berpikir, "Tan Sam- cing? Bukankah dia adalah jago pedang Bu-tong-pay yang amat termasyhur namanya pada empat puluh tahun berselang?"

Konon kesempurnaan ilmu pedang yang dimiliki orang ini luar biasa sekali sehingga disebut sebagai orang kedua tertangguh dalam Bu-tong-pay setelah Thia Sam-hong, Cosu pendiri Bu-tong-pay.

Empat puluh tahun lalu dalam Bu-lim terdapat empat orang paling termasyhur. Mereka adalah Ku-lo Sinceng, Oh Ciong-hu, Tio Tian-seng dan Tan Sam-cing.

Tosu berbaju kuning itu segera mengebas Hud-timnya beberapa kali, kemudian sambil tertawa ringan katanya, "Sebenarnya aku sedang ragu dan curiga, jagoan darimanakah yang mampu melukai ketujuh muridku, tidak kusangka orang itu adalah Tio Tian-seng."

Tiba-tiba suaranya menjadi berat, sambungnya, "Suatu serangan vang bagus, serangan yang bagus sekali, nyatanya pedang Tio Tian-seng masih kejam, buas dan tak mengenal ampun."

"Tan Sam-cing," ujar Tio Tian-seng dingin, "seandainya kita harus melangsungkan pertarungan, bisa jadi kita harus bertarung selama tiga hari tiga malam sebelum bisa ditentukan siapa lebih unggul di antara kita."

Paras muka Tan Sam-cing berubah amat serius, pelan- pelan ia berseru, "Kiam-tong, siapkan pertarungan!"

Serentak keempat Tosu yang berdiri di kiri kanan Tan Sam- cing melolos pedang pendek, begitu pedang dilolos dari sarungnya, delapan jalur sinar pedang yang tajam bagai lapisan kabut segera menyelimuti angkasa.

Melihat itu, seru Bong Thian-gak, "Harap jangan bertarung." Tan Sam-cing memandang Bong Thian-gak sekejap, lalu tegurnya, "Siapa kau?"

"Aku bernama Bong Thian-gak, ketua Hiat-kiam-bun.

Berhubung Gi Jian-cau dan Keng-tim Suthay dari perguruan kami pernah berpesan kepadaku, bahwa mereka meminjam tempat dalam kuil kalian untuk membuat obat, maka aku datang kemari untuk meninjau mereka." Berubah hebat paras Tan Sam-cing, segera tegurnya, "Dengan cara apakah kau bisa membuktikan kau adalah Jian- ciat-suseng?"

"Tan-koancu," dengan cepat Bong Thian-gak berseru, "sebenarnya apa yang telah terjadi di sini? Apakah ada musuh yang telah mencatut namaku untuk mengunjungi kuil ini?"

"Sebelum kita bicara lebih jauh, alangkah baiknya bila kau bisa membuktikan dulu identitasmu. Bila kau tak mampu, berarti kau adalah manusia jahanam yang menyaru sebagai Jian-ciat-suseng."

"Apa yang Koancu inginkan?"

"Keng-tim Suthay pernah menjelaskan wajah dan identitas Jian-ciat-suseng kepadaku, tapi yang paling penting adalah terdapatnya benda kepercayaan Hiat-kiam-bun yakni Pek-hiat- kiam."

Berubah paras muka Bong Thian-gak, ia segera bertanya, "Apakah sudah ada orang datang kemari dengan membawa pedang Pek-hiat-kiam?"

"Bukan cuma membawa Pek-hiat-kiam saja, bahkan ia mempunyai raut muka dan ciri yang sama dengan dirimu."

"Sekarang orang itu berada dimana?" "Sudah pergi menjumpai Keng-tim Suthay."

"Aduh celaka," seru Bong Thian-gak dengan gelisah. "Tolong tanya Keng-tim Suthay berada dimana sekarang? Bagaimana kalau sekarang juga Koancu mengajakku pergi menjumpainya."

"Boleh saja, asal kau sudah membuktikan kaulah Jian-ciat- suseng yang sesungguhnya,"

"Setelah bertemu Keng-tim Suthay nanti, siapa yang asli dan yang palsu akan segera diketahui." Tan Sam-cing tertawa dingin.

"Aku telah mendapat pesan wanti-wanti dari Keng-tim Suthay bahwa pembuatan obat oleh si tabib sakti mempengaruhi keselamatan |iwa banyak orang. Kejadian ini amat penting dan tak boleh terjadi kesalahan sekecil apa pun, tentu saja aku tak berani mengambil resiko."

Bong Thian-gak menjadi gelisah sehingga mendepak- depakkan kaki berulang-kali, serunya, "Kini musuh tangguh telah memasuki tempat pembuatan obat, bila keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung lerus, mungkin suatu peristiwa yang sama sekali di luar dugaan bakal terjadi. Tan-koancu, bila kau menganggap masalah pembuatan obat oleh Gi Jian-cau adalah masalah besar, kau harus bertindak secepatnya."

Tio Tian-seng turut menimbrung pula, "Pokoknya jika Gi Jian-cau sampai mengalami suatu musibah, jangan harap kau Tan Sam-cing bisa berdiam terus di tempat ini."

Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing tertawa dingin, katanya, "Kau lelah melukai tujuh orang muridku, hari ini kau pun jangan harap bisa meninggalkan kuil Sam-cing-koan dalam keadaan aman dan selamat."

Di antara sekian orang, Bong Thian-gak yang merasa paling gelisah, cepat dia berseru lagi dengan lantang, "Dendam permusuhan Locianpwe berdua lebih baik disingkirkan lebih dulu, hal terpenting yang harus segera kita atasi sekarang adalah menghalangi usaha kaum laknat untuk mencelakai Gi Jian-cau."

Tan Sam-cing memandang sekejap ke arah Bong Thian- gak, kemudian ujarnya, "Tempat dimana si tabib sakti Gi Jian- cau mengolah obat adalah gua yang amat rahasia letaknya, orang biasa tak mungkin bisa masuk ke dalam secara mudah, apalagi di luar gua pun dijaga oleh banyak jago lihai. Bila Keng-tim Suthay merasakan hal yang tidak beres, dia pasti akan mengirim tanda rahasia kepadaku."

"Pinto justru kuatir kalian berdualah yang sesungguhnya hendak mencelakai si tabib sakti, bila kuajak kalian memasuki gua rahasia itu, tak bisa kubayangkan bagaimana akibatnya."

"Kalau begitu kau tak akan mengajak kami bertemu Gi Jian- cau?" tegur Tio Tian-seng dengan suara dingin. Tan Sam-cing tertawa dingin pula.

"Aku akan mengajak kalian berjumpa dulu dengan Keng- tim Suthay."

"Hanya dia yang dapat membuktikan keaslian kalian." "Harap Tan-koancu segera mengajak kami menjumpainya,"

seru Bong Thian-gak gelisah.

"Ayo ikut aku!" seru Tan Sam-cing kemudian sambil mengebas Hud-tim yang berada di tangan kirinya.

Ia membalik badan, lalu berjalan menuju ke arah timur. Keempat Tosu kecil yang mendampinginya, dengan delapan bilah pedang masih terhunus segera mengikut di sekitar Tan Sam-cing dengan kewaspadaan tinggi.

Setiap langkah kaki keempat Tosu kecil itu selalu berirama dan menjaga jarak mereka dengan Tan Sam-cing, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat, biarpun lima orang berjalan bersama-sama, namun langkahnya bagaikan langkah satu orang.

Bong Thian-gak dan To Tian-seng mengikut di belakangnya, melihat cara keempat Tosu kecil dan Tan Sam- cing berjalan, mereka dibuat terkejut, segera pikirnya, "Dari cara mereka berjalan, tampaknya kepandaian silat yang dimiliki keempat Tosu kecil ini sudah mencapai puncak kesempurnaan, terutama dari langkah mereka yang seirama dengan Tan Sam-cing, sudah jelas keempat Tosu kecil ini akan menjadi pembantu utama Tan Sam-cing bila melancarkan serangan nanti."

Sam-cing-koan adalah kompleks kuil yang amat luas, gedungnya dibangun searah dengan tanah perbukitan.

Ketujuh orang itu menembus tiga gedung lagi sebelum akhirnya tiba pada gedung kesembilan.

Sepanjang perjalanan Bong Thian-gak tiada hentinya mengawasi sekeliling tempat itu, tak ada bayangan manusia, agaknya segenap Tosu dalam kuil itu telah dihimpun seluruhnya ke tanah lapang di depan gedung kelima.

Gedung yang kesembilan ini berbeda corak dengan delapan gedung lainnya. Dari kejauhan gedung itu hanya dinding melulu seputarnya tidak terdapat gedung tambahan ataupun pintu keluar, mirip sebuah gedung manunggal yang berdiri sendiri.

Tan Sam-cing serta keempat Tosu kecil menuju ke gedung itu, tak tahan Bong Thian-gak bertanya, "Tan-koancu, apakah Keng-tim Suthay sekalian berada di dalam gedung itu?"

"Benar," Tan Sam-cing mengangguk, "mereka memang berada dalam gedung ini."

Sembari berkata, ketujuh orang itu menelusuri undak- undakan batu dan naik ke atas.

Setibanya pada undak-undakan terakhir, Bong Thian-gak berdua baru dapat melihat gedung itu ternyata kosong.

Sebelum Bong Thian-gak mengajukan pertanyaan, Tan Sam-cing telah menjelaskan lebih dahulu, "Di dalam gedung terdapat gua besar yang tembus ruang bawah tanah, gua itu terbagi menjadi sembilan buah lorong yang saling bersilangan dalam perut bumi. Bila seseorang yang tidak mengenal jalan masuk ke situ, mereka akan memasuki sebuah barisan yang membingungkan dan jangan harap dapat keluar lagi dengan selamat." Tiba-tiba Tio Tian-seng berseru, "Tunggu dulu, jangan masuk."

"Ada apa?" tanya Tan Sam-cing seraya berpaling. "Mengapa tak kulihat seorang pun dalam ruangan?" Tan Sam-cing tertawa dingin.

"Sebelumnya kita telah melewati daerah terlarang, bagaimana mungkin bisa bertemu orang?"

"Tan Sam-cing, kami akan menunggu di sini sampai kau mengajak keng-tim Suthay keluar serta membuktikan kebenaran identitas kami, sebelum kami memasuki gedung rahasia dengan barisanmu itu."

"Tio-pangcu," kata Tan Sam-cing sambil tertawa dingin, "bila kau takut masuk, lebih baik menunggu di luar saja atau kau memang takut tak bisa keluar lagi dalam keadaan selamat?"

Tio Tian-seng segera tertawa.

"Aku berani membunuh ketujuh orang muridmu, berarti aku tak takut menghadapi balas dendammu."

"Empat puluh tahun berselang, meskipun Tio Tian-seng adalah seorang raja iblis pembunuh manusia yang ditakuti orang, namun Tan Sam-cing masih berani menantangmu bertarung secara blak-blakan."

"Tapi kenyataan tempo hari kau menghindari tantanganku untuk berduel," jengek Tio Tian-seng sambil tertawa dingin.

"Sepuluh tahun sudah cukup merubah segalanya, siapa tahu justru kaulah yang akan menghindari tantanganku pada hari ini."

"Kalau begitu, tunggu saja nanti!"

Tan Sam-cing segera memimpin keempat Tosu kecil melanjutkan perjalanan memasuki gedung. Di ujung gedung terdapat dinding bukit yang rata bagaikan cermin, tiba-tiba Tan Sam-cing menarik sebuah gelang besi tempat obor yang terdapat di dinding.