Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 12

 
Jilid 12

Bong Thian-gak tidak berkata lebih lanjut.

Tapi Thia Leng-juan telah salah mengartikan maksud Bong Thian-gak sebagai, "Aku tidak percaya, setelah bertemu Si- hun-mo-li, aku akan mati."

Maka gelak tertawanya semakin bertambah keras, ucapnya, "Hahaha, kalau kau tidak percaya, mengapa tidak mencobanya sendiri?"

Mendadak tergerak hati Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, segera tanyanya, "Bagaimana caraku menjumpainya?"

"Aku bukan si perantara, tentu saja aku tak dapat mengajakmu bertemu dengannya," kata Thia Leng-juan sambil tertawa. "Tapi aku pernah mendengar orang bilang, asal di hatimu berkeinginan bertemu Si-hun-mo-li, maka perempuan itu akan datang sendiri menjumpaimu."

"Ah, masa di kolong langit terdapat kejadian seaneh ini?" seru Bong Thian-gak dengan kening berkerut.

"Banyak kejadian aneh akan kau jumpai di dunia ini, sebab tidak percaya pun kau pasti akan menjadi percaya akhirnya."

"Baik! Aku memang ingin bertemu dengannya, bahkan maksud] kedatanganku kemari memang ingin bertemu dengannya."

"Wah, itu lebih baik lagi, siapa tahu tengah malam nanti Si- hu: mo-li akan berkunjung ke dalam kamarmu."

"Tengah malam nanti dia benar-benar akan datang?" kembali sepasang mata Bong Thian-gak berkilat.

Thia Leng-juan tertawa. "Asal kau ingin bertemu dengannya, perasaan halusnya pasti a merasakan hal itu."

"Kalau begitu aku mohon diri."

Sembari berkata Bong Thian-gak menjura, kemudian membalik badan dan berlalu dari situ.

Tiba-tiba saja Bong Thian-gak merasakan suatu firasat aneh terhadap Thia Leng-juan, dia dapat melihat sorot mata Thia Leng-juan berkedip tiada hentinya sepanjang pembicaraan, ini menunjukkan dalam hati mempunyai suatu maksud dan tujuan tertentu.

Sebenarnya Bong Thian-gak masih berniat mencari tahu kabar tentang Pa-ong-kiong Ho Put-ciang sekalian kakak seperguruannya, tapi sekarang niat itu harus diurungkan untuk sementara waktu.

Karena dia tahu dunia persilatan adalah suatu dunia yang penuh dengan mara bahaya, tiga tahun terakhir ini bisa jadi Thia Leng-juan telah berubah, berubah menjadi seorang laknat licik, kejam dan banyak akal muslihatnya.

Sambil berjalan Bong Thian-gak memutar otak.

Mendadak dari depan sana terdengar seseorang bersuara, "Lapor, Bong-hwecu!"

Dia lihat Yu Hong-hong sedang berlarian mendekat dengan wajah gugup dan kebingungan.

"Hong-hong, apa yang telah terjadi?" Bong Thian-gak segera menegur dengan wajah keheranan.

"Bu Siau-hong dan The Goan-ho telah ditangkap orang- orang Kay-pang."

"Hah? Apa yang telah terjadi hingga mereka tertangkap?" tanya Bong Thian-gak dengan perasaan bergetar. "Sewaktu melakukan pemeriksaan atas kamar nomor sembilan puluh sembilan, The Goan-ho menemukan di dalam kamar itu berdiam banyak orang, dia pun menghubungi Bu Siau-hong untuk melakukan penyelidikan, siapa tahu orang yang berdiam dalam kamar itu adalah anggota Kay-pang, sewaktu mereka menyaksikan munculnya Bu Siau-hong dan The Goan-ho di sana, dianggapnya ada musuh sedang memata-matai mereka, maka ditangkaplah kedua orang itu."

"Terjadi pertarungan?" tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut.

"Secara beruntun Bu Siau-hong dan The Goan-ho telah melukai lujuh orang Kay-pang, tapi akhirnya mereka dikalahkan oleh seorang Jago muda."

Mendengar sampai di sini, Bong Thian-gak menghela napas.

"Ai, Kay-pang merupakan perkumpulan yang sedang jaya- jayanya dalam Bu-lim dewasa ini, dengan tindakan Bu Siau- hong dan The Goan-ho yang telah melukai ketujuh anggota mereka, niscaya akan besar sekali kesulitan yang bakal dijumpai."

"Hwecu, sesungguhnya kami tak seharusnya mencari gara- gara untukmu, apa lagi dalam situasi seperti ini, tapi orang- orang Kay-pang tidak tahu aturan."

Diam-diam Yu Hong-hong merasa amat girang, namun ia tidak memperlihatkan rasa girangnya itu, katanya setelah menghela napas panjang, "Hwecu adalah seorang ketua perkumpulan, mana boleh kita jumpai mereka begitu saja?"

"Kemunculan Tiong-yang-hwe dalam Bu-lim, cepat atau lambat tentu akan berakibat bentroknya kita dengan orang- orang Kay-pang, tak usah banyak bicara lagi, sekarang juga kita harus pergi menemui orang-orang Kay-pang, kalau tidak, niscaya Bu Siau Bong dan The Goan-ho akan menderita." Yu Hong-hong tidak bicara lagi, lekas saja mereka pun berangkat menuju ke kamar nomor sembilan puluh sembilan.

Kamar nomor sembilan puluh sembilan adalah kamar terbesar di Hong-tok-ciu-lau, dalam halaman tersendiri itu terdapat tujuh buah bilik dan sekelilingnya terdapat pagar pekarangan yang tingginya mencapai beberapa kaki.

Ketika Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong tiba di depan pintu, terdengarlah suara yang amat mereka kenal sedang berseru dengan suara lantang, "Kalian orang-orang dari Kay- pang benar-benar kelewatan menghina orang, aku she Tio sudah minta maaf kepada kalian, mengapa kalian masih juga belum melepas orang?"

Bong Thian-gak tahu itu suara Gin-ho-eng Tio Im, maka dia mempercepat langkahnya menuju ke sudut dinding.

Pada saat itulah Yu Hong-hong berseru, "Ketua Tiong-yang- hwe telah tiba, harap orang-orang Kay-pang muncul untuk menyambut."

Di halaman terlihat ada sembilan orang berbaju putih penuh tambalan berdiri tegak, Tio Im sedang berdiri dikurung oleh mereka.

Ketika mendengar seruan Yu Hong-hong tadi, kesembilan orang berbaju putih itu nampak tertegun, lalu bersama-sama mengalihkan sorot matanya.

"Tiong-yang-hwe!"

Nama itu terasa sangat asing dalam Bu-lim, oleh sebab itu setelah memandang ke arah Bong Thian-gak dan Yu Hong- hong, tiba-tiba saja kepalanya mendongak dan terbahak- bahak dengan kerasnya.

Gelak tawa itu penuh dengan nada menghina, mengejek dan memandang rendah. Jelas keadaan Bong Thian-gak yang cacat dan buntung tangannya membuat mereka memandang hina kepadanya.

Menyaksikan kesembilan orang itu tertawa terbahak-bahak, tanpa terasa Yu Hong-hong mengerutkan dahi, kemudian bentaknya nyaring, "Hei, sudah tuli semua kalian? Hwecu kami telah datang, mengapa kalian tidak mengundang penerima tamu untuk menyambut kedatangan beliau?"

Tiba-tiba Bong Thian-gak berbisik, "Hong-hong, jangan gusar, mari kita saja yang menghampiri mereka."

Sembari berkata Bong Thian-gak berjalan mendekati mereka.

Tatkala Gin-ho-eng Tio Im menyaksikan Bong Thian-gak berjalan mendekat, dia segera membalikkan badan hendak memberi hormat kepadanya, tapi tiba-tiba saja salah satu orang berbaju putih itu telah membentak keras, "Mundur!"

Sebuah pukulan dahsyat langsung ditujukan ke arah dada Gin-ho-eng Tio Im.

Dengan cekatan Gin-ho-eng Tio Im berkelit ke samping sambil membalikkan pergelangan tangannya ke kanan, belum sempat pedang dilolos keluar, tiba-tiba Bong Thian-gak sudah berteriak, "Tio Im, jangan bertindak gegabah!"

Kemudian sambil menjura kepada kesembilan orang berbaju putih itu, katanya lagi, "Sembilan saudara pelindung hukum Kay-pang, bila aku Bong Thian-gak melakukan kesalahan sukalah memberi petunjuk."

Benar juga, kesembilan orang ini memang benar-benar pelindung hukum Kay-pang, salah seorang di antaranya berwajah putih dan gemuk pendek, agaknya merupakan komandan kesembilan orang itu.

Dia memutar sepasang mata elangnya mengawasi Bong Thian-gak beberapa kejap, kemudian tanyanya dengan suara dingin, "Jadi kau adalah ketua Tiong-yang-hwe?" "Benar memang aku!" jawab Bong Thian-gak tertawa. "Apakah Hui-eng-su-kiam adalah anak buahmu?" kembali

kakek gemuk pendek itu bertanya.

"Tiong-yang-hwe belum lama didirikan, jumlah anggota kami baru lima orang."

"Saudara sebagai ketua perkumpulan, mengapa memerintahkan anak buahmu melakukan perbuatan terkutuk dengan menyusup ke halaman rumah orang, kemudian mengintip rahasia orang?"

Senyum manis masih tetap menghiasi wajah Bong Thian- gak, katanya, "Kami tidak tahu tempat ini sudah disewa perkumpulan kalian, coba kalau tahu, tak nanti kami menyusup kemari."

Beberapa patah kata Bong Thian-gak ini boleh dibilang sudah cukup mengalah dan memberi muka kepada pihak Kay- pang.

Sayang kakek gemuk itu tak tahu diri, sambil tertawa dingin katanya lagi, "Setiap orang yang berani melanggar peraturan Kay-pang, maka dia harus menerima pemeriksaan lebih dahulu dan menjalani hukuman, walaupun kau adalah seorang ketua, sayang kami tidak memberi muka padamu, kuanjurkan lebih baik cepat tinggalkan tempat ini."

Mendadak Bong Thian-gak menarik muka dan menegur, "Siapa yang ditugaskan untuk mewakili perkumpulan kalian di kota ini?'

Kakek gemuk itu tertawa dingin.

"Seorang pelindung hukum Kay-pang mempunyai hak untuk bicara, setiap satu perkataan kami berarti perintah, kuharap kau segera angkat kaki."

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak, dengan suara dalam tanyanya lagi, "Siapa yang ditugaskan mengepalai tempat ini? Kalau kalian masih membungkam, terpaksa aku menggunakan kekerasan."

Sewaktu mengucapkan perkataan itu, dia sengaja mengerahkan tenaga dalam, setiap patah kata yang keluar dari mulutnya seperti guntur menggelegar, mendengung hingga jauh, membuat semua hadirin merasakan hawa darah di dada bergelora dan terasa tak nyaman.

Sembilan orang berbaju putih itu terhitung pelindung hukum yang tangguh, kepandaian silat mereka tidak lemah, akan tetapi mendengar perkataan Bong Thian-gak dengan suara auman singa itu, tak terlukis rasa terkejut di hatinya, sadarlah mereka kalau kepandaian silat orang ini cukup lihai.

Sambil tertawa dingin kakek gemuk pendek itu berkata, "Auman singa saudara tak akan mengejutkan Tongcu kami, Giok-bin-giam-lo To Siau-hou pun sudah cukup lama mendampingi Pangcu kami."

Begitu nama To Siau-hou disebut, Bong Thian-gak tertegun, pikirnya, "Oh, rupanya dia, To Siau-hou tidak tewas oleh pukulan Jit-kaucu Thay-kun, tentu saja kejadian ini merupakan suatu keajaiban, kalau begitu ketua Kay-pang benar-benar seorang yang maha sakti."

Sementara itu si kakek gemuk pendek yang menyaksikan paras muka Bong Thian-gak berubah tak menentu, disangkanya pemuda ini dibikin keder oleh nama besar To Siau-hou, tanpa terasa serunya dengan perasaan bangga, "Bagaimana? Bila saudara pernah mendengar nama besar To Siau-hou, lebih baik cepat mencawat ekor dan enyah dari tempat ini!"

Tiba-tiba Bong Thian-gak tertawa dingin, serunya, "Tio Im, beri pelajaran kepada manusia takabur ini, tapi jangan sampai merengut jiwanya, cukup melukainya saja." Sejak tadi Gin-ho-eng Tio Im sudah dibikin mendongkol oleh tingkah-laku pongah musuh, tapi tiada tempat untuk melampiaskan rasa dongkolnya.

Begitu mendengar perintah, dia segera membalikkan pergelangan tangan dan "Cring", ia melolos pedang dari sarungnya.

Di antara getaran pergelangan tangannya, tampak setitik cahaya bintang menusuk ke perut kakek gemuk itu dengan kecepatan luar biasa.

Agaknya kakek bertubuh gemuk pendek itu tidak menyangka serangan pedang Tio Im dilancarkan sedemikian cepatnya, dalam kaget dan ngerinya, cepat dia memutar badan sambil bergeser ke sisi kiri.

Siapa tahu Gin-ho-eng Tio Im sudah bertekad melukai musuhnya, maka dia sudah bersiap mengeluarkan ilmu Coa- tin-toh yang diwariskan Bong Thian-gak kepadanya.

"Kena!" bentaknya dengan lantang.

Gin-ho-eng Tio Im membungkukkan tubuh, sementara pedangnya yang berada di tangan kanan sudah bergerak dari bawah secara aneh langsung menusuk secepat kilat.

Jeritan tertahan bergema, bahu kiri kakek gemuk pendek itu benar-benar terkena tusukan, darah segar segera memancar keluar dan membasahi pakaiannya yang berwarna putih.

Betapa terkejut dan gusarnya delapan orang berbaju putih lainnya menyaksikan komandannya menderita kalah dalam dua gebrakan saja, diiringi bentakan nyaring, serentak kedelapan orang itu melabrak maju bersama.

Mendadak terdengar bentakan nyaring, "Kalian lekas mundur!" Kedelapan orang berbaju putih itu bersama-sama menghentikan gerakan tubuh mereka yang sedang menerjang ke muka, lalu berpaling ke samping.

Di atas undak-undakan pintu kamar telah berdiri seorang pemuda berbaju putih yang berwajah tampan, bertubuh kekar dan gagah perkasa, sebilah pedang bersarung bambu tersoreng di pinggangnya.

Sekilas pandang saja Bong Thian-gak segera mengenali pemuda di atas undak-undakan itu adalah Giok-bin-giam-lo To Siau-hou, raut wajahnya tidak banyak mengalami perubahan, tapi sikapnya jauh lebih tenang, serius dan kereng.

Dengan sorot mata tajam To Siau-hou mengawasi wajah Bong Thian-gak lekat-lekat, bahkan mengamati dari atas kepala sampai ke ujung kaki, setelah itu dia baru berkata sambil tertawa dingin, "Sungguh tak kusangka Jian-ciat- suseng telah menjadi ketua Tiong-yang-hwe."

Ketika kesembilan Huhoat Kay-pang mendengar nama Jian- ciat-suseng, serentak paras muka mereka berubah hebat, mimpi pun mereka tak pernah mengira ketua Tiong-yang-hwe ini bukan lain adalah Jian-ciat-suseng yang amat termasyhur dalam Bu-lim dewasa ini.

"Ah, syukur aku selamat!" seru kakek gemuk pendek itu. Dia bersyukur cukup bernasib baik hingga bukan Jian-ciat-

suseng yang dihadapinya tadi, kalau tidak, niscaya selembar

jiwanya sudah melayang meninggalkan raganya.

Sambil tersenyum, Bong Thian-gak berkata, "Tiong-yang- hwe baru didirikan tiga hari berselang, tentu saja bila nama dan kedudukan kami dibandingkan perkumpulan kalian, keadaannya ibarat rembulan dengan kunang-kunang."

Paras muka To Siau-hou berubah serius sekali, ujarnya kemudian, "Kalau Tiong-yang-hwe dipimpin Jian-ciat-suseng, sudah pasti masa depannya akan semakin cerah." "Terima kasih, terima kasih!" Bong Thian-gak tertawa. Dengan kening berkerut, kembali To Siau-hou berkata,

"Dengan kehadiran saudara sendiri untuk minta kembali

orangmu, semestinya To Siau-hou harus segera menyerahkannya kepadamu, namun aku tahu nama besar Jian-ciat-suseng akhir-akhir ini ibarat matahari di tengah angkasa, setiap umat persilatan yang berjumpa denganmu tak urung pasti akan menantangmu berduel, oleh sebab itu mumpung ada kesempatan, aku pun ingin minta petunjuk darimu."

"To-siauhiap masih muda dan berjiwa panas, masalah bertanding ilmu silat memang suatu hal yang tak bisa dihindari, cuma aku rasa pertarungan pada saat dan keadaan seperti ini kelewat sembrono dan tidak cocok, maka aku ingin memilih waktu lain saja untuk menantikan petunjuk darimu."

To Siau-hou termenung sebentar, tiba-tiba ucapnya kepada kesembilan orang berbaju putih itu, "Kalian lepaskan Boan Thian-eng serta Siau Hiang-eng!"

Buru-buru Bong Thian-gak menjura seraya katanya, "Kesediaan To-tongcu memberi muka padaku, tak pernah oraing she Bong lupakan."

"Tengah hari besok, kita bertemu di Hong-leng, pintu kota sebelah utara," ucap To Siau-hou dingin.

"Baik, sampai waktunya aku pasti datang."

Baru selesai berkata, Boan Thian-eng, Bu Siau-hong serta Siau-hiang-eng dan The Goan-ho sudah berjalan keluar dari ruang tengah. Selain pakaian mereka yang terkena percikan darah, segala sesuatunya tetap normal dan lengkap seperti sedia kala.

Dengan cepat mereka menemui Bong Thian-gak. "Mari kita pergi," ucap Bong Thian-gak dengan suara

dalam. Seusai berkata, dia melangkah keluar lebih dulu dari pintu halaman dan langsung kembali ke kamar nomor tiga puluh enam.

Hui-eng-su-kiam tidak banyak komentar, mereka membuntuti di belakangnya, lalu duduk di kamar mereka.

Sesudah duduk, Bong Thian-gak memandang mereka sekejap, lalu pelan-pelan berkata, "Tampaknya kota terlarang sudah menjadi pusat perkumpulan segenap jago lihai dari berbagai aliran dan perguruan yang ada saat ini, menurut apa yang kuketahui, dua perkumpulan raksasa dewasa ini, Hiat- kiam-bun dan Kay-pang telah menampakkan diri secara terang-terangan."

"Padahal Tiong-yang-hwe kita baru saja didirikan, anggotanya cuma kita berlima, dengan kekuatan ini, mustahil kita bisa menandingi kekuatan lawan yang begitu besar, karenanya kusarankan kepada kalian agar mengurangi segala tindak-tanduk yang menyolok mata, kalau tidak, kita bisa dikeroyok dan Tiong-yang-hwe bisa mati dalam rahim sebelum dilahirkan."

Ucapan Bong Thian-gak barusan membuat Hui-eng-su-kiam menundukkan kepala rendah-rendah, serentak mereka berkata, "Kami berempat merasa bersalah kepada Hwecu atas peristiwa yang terjadi, kami bersedia menerima hukuman dari Hwecu."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Kalian tidak membuat gara-gara, tiada kesalahan yang perlu dijatuhi hukuman. Apa yang barusan kuucapkan tidak lebih hanya memperingatkan kalian saja agar tahu diri."

Terhadap sikap terbuka, bijaksana dan kebesaran jiwa Bong Thian-gak, Hui-eng-su-kiam merasa amat kagum dan menaruh hormat, mereka betul-betul tunduk atas keagungan pemimpinnya ini. Tiba-tiba Hwe-im-eng Yu Hong-hong berkata, "Lapor Hwecu! Dari dalam kamar nomor seratus delapan, kutemukan banyak perempuan asing berkumpul di situ, sebelum aku melakukan penyelidikan, Jiko sudah terlibat dalam pertarungan, oleh karena itu aku belum sempat menyelidiki lebih jauh."

Tergerak hati Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian, "Hong-hong, mari ikut aku menengok ke situ, sedang Tio Im bertiga segera mencari berita ke kota!"

Dengan memisahkan diri dalam dua rombongan, berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu.

Yu Hong-hong dan Bong Thian-gak dengan langkah pelan berjalan menuju halaman besar paling belakang sana.

Kamar nomor seratus delapan merupakan kamar besar terpojok dalam rumah penginapan itu, letaknya di sudut barat dan sekeliling ruangan dilapisi dinding pendek.

Dinding perkarangan sebelah barat merupakan dinding yang paling tinggi, makin ke belakang makin rendah.

Kamar itu termasuk terpencil dan tersepi dalam penginapan itu.

Dengan pelan Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong berjalan menuju ke depan tembok pekarangan itu, sekeliling halaman itu sunyi senyap tak terdengar sedikit suara pun.

"Aneh!" Yu Hong-hong berbisik. "Baru saja kutemukan perempuan berlalu-lalang di sini, mengapa dalam waktu singkat sudah sepi?"

"Tentu mereka mengawasi gerak-gerik kita dari balik tembok pekarangan sana, kalau kita melakukan penyelidikan dengan cara begini, mustahil kita dapat memperoleh berita yang diperlukan, mari kita berjalan mengitari tembok pekarangan saja." Baru selesai dia berkata, tiba-tiba pintu halaman dibuka orang.

Dengan terbukanya pintu, dari balik halaman muncul seorang gadis muda, langsung berjalan menghampiri Bong Thian-gak dengan langkah cepat.

"Majikan kami mempersilakan saudara minum teh," ujarnya sambil tersenyum.

Yu Hong-hong berkerut kening, lalu bertanya, "Siapakah majikan kalian? Mungkin salah orang?"

"Tak bakal salah," sahut nona berbaju hijau itu sambil tertawa merdu. "Biarpun jago persilatan banyak berkumpul di kota terlarang ini, namun hanya seorang yang berlengan tunggal."

Waktu menjawab, nona itu tidak menyinggung sama sekali nama majikannya.

Bong Thian-gak tersenyum. "Harap nona menunjuk jalan!"

"Kita akan masuk?" Yu Hong-hong berbisik.

"Kita tak dapat menampik undangannya begitu saja?"

"Tapi undangan semacam ini tampaknya sedikit tak beres." Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Yu Hong-

hong, lalu sahutnya lagi, "Setelah datang, mengapa harus menolak?"

Yu Hong-hong tersenyum penuh arti, sementara dalam hati pikirnya, "Ilmu silat yang memiliki Hwecu sangat lihai, buat apa aku menguatirkan keselamatannya? Kalau tidak memasuki sarang harimau, bagaimana mungkin bisa memperoleh anak macan? Kita memang berniat mencari tahu siapa gerangan yang berdiam dalam halaman itu?" Sementara itu si nona berbaju hijau yang berjalan di muka sudah memasuki pintu halaman dengan langkah cepat.

Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong segera ikut masuk ke dalam, tiba-tiba saja pandangan mereka terasa silau.

Ternyata dalam ruangan itu dipasang tujuh batang lilin besar, terangnya seperti berada di siang hari bolong, setiap sudut dan orang yang berada dalam ruangan itu terlihat jelas.

Pada sisi dinding utara dan selatan masing-masing berderet delapan belas orang perempuan berbaju dan berkain cadar merah membawa pedang pendek berwarna merah darah pula.

Sementara itu dari arah belakang kembali terdengar suara langkah manusia, menyusul sembilan orang perempuan berkerudung merah dengan membawa pedang pendek berjalan masuk ke dalam ruangan.

Pintu ditutup rapat, sedang kesembilan perempuan berkerudung merah itu berdiri berjajar di depannya, menghadang jalan pergi orang.

Dari keadaan yang terpampang di depan mata, Yu Hong- hong segera tahu pihak lawan tidak berniat baik, namun berhubung dilihatnya sikap Bong Thian-gak masih tetap tenang seolah-olah seperti tidak pernah terjadi sesuatu, terpaksa dia harus menenteramkan perasaannya sambil menunggu perubahan selanjutnya.

Nona berbaju merah tadi menunjuk ke arah meja dan kursi di ruang tengah, lalu katanya, "Harap kalian berdua duduk lebih dulu, sebentar lagi majikan kami akan muncul."

Bong Thian-gak tersenyum, "Bila aku dapat bersua dengan ketua Hiat-kiam-bun hari ini, tidak sia-sia perjalananku kali ini."

Seraya berkata, dia dan Yu Hong-hong lantas duduk di kursi sudut tenggara. Baru saja duduk, dari bilik sebelah berat terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang.

Orang pertama yang berjalan masuk lebih dulu adalah seorang gadis berbaju merah berkerudung merah pula.

Perempuan itu tidak membawa pedang pendek, namun di balik bahunya tersoreng sepasang pedang panjang, rambutnya yang mulus terurai di bahu, tubuhnya ramping dan menawan hati, kalau dilihat dari umurnya mungkin tak lebih dari dua puluh empat tahun.

Mengikut di belakangnya bukan wanita, melainkan tiga orang aneh berperawakan tinggi besar berjubah merah darah dan berjalan kaku seperti mayat hidup.

Ketiga orang aneh berjubah merah itu tidak membawa senjata, namun tampang serta perawakannya mengerikan dan menggidikkan, mendatangkan daya pengaruh yang lebih mengerikan ketimbang perempuan-perempuan berkerudung merah lainnya.

Perempuan berkerudung merah yang menyoreng pedang berjalan menuju ke tempat duduk tuan rumah, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun duduk di situ, sementara ketiga orang aneh tadi berdiri berjajar di belakangnya.

Pikir Bong Thian-gak, "Perempuan inikah ketua Hiat-kiam- bun?

Belum habis berpikir, terdengar perempuan berkerudung merah yang menyoreng pedang berseru dingin, "Gotong kemari mayat itu!"

Bersama dengan suara mengiakan, dari halaman belakang muncul empat orang gadis berkerudung merah, mereka menggotong sebuah papan persegi panjang, di atasnya berbaring sesosok mayat perempuan berbaju merah pula. Di atas dada mayat tertancap sebilah kutungan pedang, sementara di antara belahan pahanya, tepatnya di atas kemaluanya tampak darah masih mengucur dengan derasnya.

"Oh, dia!" pekik Bong Thian-gak dalam hati.

Sang korban adalah nona berkerudung merah yang dibunuh secara keji oleh Thia Leng-juan dalam kamar nomor tujuh tadi, tapi mengapa secepat itu mayatnya sudah digotong kemari?

Bagaimana dengan Thia Leng-juan sendiri? Apakah dia telah lertimpa suatu musibah?

Ingatan itu dengan cepat melintas dalam benak Bong Thian-gak.

Dalam pada itu keempat gadis berkerudung merah itu sudah menggotong masuk mayat tadi dan diletakkan di tengah ruangan, kemudian mengundurkan diri ke samping.

Pada saat itulah si nona berkerudung merah yang menyoreng pedang mencorongkan sepasang matanya yang dingin mengawasi wajah Bong Thian-gak lekat-lekat, kemudian tegurnya dingin, "Hari ini, Hiat-kiam-bun telah kehilangan seorang pembantu setia, atas kematian yang mengenaskan itu segenap anggota Hiat-kiam-bun bertekad hendak membalas dendam baginya, benar-benar tak disangka arwah sang korban telah membantu usaha kita dan pembunuhnya bisa datang dengan segera."

Berubah paras muka Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, cepat tegurnya, "Maksud Buncu, aku yang telah membunuhnya?"

"Aku bukan ketua Hiat-kiam-bun, aku tak lebih hanya wakil ketua kedua, sedang yang tewas adalah wakil ketua kesembilan."

"Oh, kalau begitu siapakah Buncu Hiat-kiam-bun?" "Sampai sekarang kedudukan ketua Hiat-kiam-bun masih lowong, untuk sementara waktu semua persoalan perguruan ditangani oleh Cong-hubuncu. Aku adalah wakil ketua kedua, boleh dibilang pentolan nomor dua perguruan Hiat-kiam-bun, biarpun kau menjadi ketua Tiong-yang-hwe, namun kedudukanmu tak jauh dari kedudukanku sekarang."

"Mengapa kursi ketua Hiat-kiam-bun masih tetap lowong?" tanya Bong Thian-gak.

"Selama berkecimpung dalam Bu-lim, Hiat-kiam-bun tidak punya rahasia yang kuatir diketahui orang, apa sebabnya kedudukan ketua Hiat-kiam-bun masih kosong? Adalah karena pendiri Hiat-kiam-bun masih belum diketahui jejaknya sampai sekarang, maka kedudukan itu tetap lowong sampai saat ini, nah, semua keterangan sudah aku berikan, kau Jian-ciat- suseng pun termasuk manusia yang tahu keadaan, siapa membunuh orang dia harus membayar dengan nyawa, bersiaplah untuk menerima kematian!"

Tiba-tiba Yu Hong-hong membentak gusar, "Enak amat kalau bicara, kau anggap Tiong-yang-hwe bisa dipermainkan semaumu?"

Sebaliknya Bong Thian-gak bertanya sambil tersenyum, "Ji- hubuncu, tolong tanya, apakah kau saksikan sendiri aku orang she Bong yang membunuh Kau-hubuncu partai kalian?"

Agaknya pertanyaan ini mencengangkan Ji-hubuncu Hiat- kiam-bun, ia tertegun dengan berdiri melongo untuk beberapa saat, kemudian baru berkata, "Biar pun tidak kuketahui, namun Thia Leng-juan jelas tidak mempunyai kemampuan untuk membunuhnya."

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak berkerut kening sambil pikirnya, "Jika kukatakan Kau-hubuncu tewas di tangan Thia Leng-juan, dengan kemampuannya bagaimana mungkin Thia Leng-juan dapat menandingi sedemikian banyak jago- jago lihai Hiat-kiam-bun? Bila kuakui, maka mereka pun tak akan melepaskan diriku."

Saat ini Bong Thian-gak benar-benar dibuat serba susah dan tak mampu mengambil keputusan, tak heran dia membungkam.

Kembali Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun berkata, "Kau-hubuncu sedang mendapat tugas menyelidiki suatu rahasia besar, mungkin dia telah menemukan rahasia besar itu sehingga musuh membunuh secara keji."

"Mula pertama musuh menggunakan tendangan yang terkutuk Kou-im-tui untuk menendangnya, kemudian menancapkan kutungan pedang di jantungnya hingga menyebabkan kematian, cukup dilihat dari jurus serangan itu, jelas sudah pembunuh adalah manusia laknat yang buas dan biadab!"

Tiba-tiba mencorong sinar aneh dari mata Bong Thian-gak, tanyanya, "Bila aku mau membunuh Kau-hubuncu, perlukah kugunakan jurus Kou-im-tui?"

"Kalau memang bukan perbuatanmu, siapa pembunuhnya?"

Bong Thian-gak tertegun sejenak, lalu balik bertanya, "Dimana kau temukan jenazahnya?"

"Di dalam kamar nomor tujuh, Thia Leng-juan yang mengutus orang datang mengabarkan musibah ini."

"Menurut Thia Leng-juan, siapakah pembunuhnya?" "Kau, Jian-ciat-suseng!"

Jawaban Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun ini amat dingin dan hambar. "Apakah Ji-hubuncu percaya dengan perkataan Thia Leng-juan?" dengan tenang Bong Thian-gak tersenyum.

"Aku memang rada tak percaya!" Yu Hong-hong yang mendengar perkataan itu segera menyahut, "Kalau tidak percaya, mengapa kau menuduh Hwecu kami sebagai pembunuhnya?"

"Aku tidak mengatakan aku sama sekali tidak percaya," kata Jihubuncu dengan suara dingin.

"Terus terang saja kukatakan padamu, di saat Kau-hubuncu partai kalian tewas secara mengenaskan, aku orang she Bong memang hadir di arena, tapi bukan aku pembunuhnya, percaya atau tidak, terserah kepadamu."

"Mengapa tidak kau katakan siapa pembunuhnya?"

Bong Thian-gak menghela napas sedih, sahutnya kemudian, "Ai, aku hanya berharap kau percaya bahwa pembunuhnya bukan aku."

"Bila tak kau katakan siapa pembunuhnya, berarti kau pembunuh Kau-hubuncu kami," ujar Ji-hubuncu dengan suara menyeramkan. "Karenanya kau harus meninggalkan selembar nyawamu hari ini."

Kembali Bong Thian-gak tersenyum.

"Jika kalian ingin menahanku, maka hal ini harus kalian lakukan dengan membayar sangat mahal."

Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun manggut-manggut, sahutnya, "Ya, ucapanmu memang benar, itulah sebabnya sampai sekarang aku masih belum menurunkan perintah untuk menyerang,"

"Kau tidak memerintahkan penyerangan, karena kau ingin tahu lebih dulu rahasia apakah yang berhasil diselidiki oleh Kau-hubuncu, bukankah demikian?"

Bong Thian-gak tersenyum.

Ucapan itu mengejutkan Ji-hubuncu, namun ia mengangguk juga. "Dugaanmu benar, aku memang ingin mengetahui rahasia itu." Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Sayang sekali aku sendiri pun tak mengetahui rahasia itu, kecuali kau katakan dulu masalah apakah yang kau perintahkan kepada Kau-hubuncu untuk diselidiki, dari sana mungkin aku bisa menebaknya."

Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun termenung beberapa saat, kemudian ujarnya, "Aku memerintahkan Kau-hubuncu kami untuk menyelidiki jejak Buncu kami."

Kembali Bong Thian-gak berkerut kening.

"Dia sedang mencari jejak ketua Hiat-kiam-bun?" Ji-hubuncu itu mengangguk.

"Benar, Hiat-kiam-bun tak boleh tiada ketua, semenjak tiga tahun berselang setiap saat kami selalu mencari jejak ketua kami itu, namun hingga kini masih merupakan tanda tanya besar, oleh sebab itu aku bersikap sungkan kepadamu hari ini tak lain adalah berharap agar kau mau bicara sejelas-jelasnya, agar rahasia yang ditemukan Kau-hubuncu diketahui pula oleh kami, dari situ mungkin kami bisa menemukan jejak Buncu Hiat-kiam-bun."

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak segera berpikir, "Kalau begitu Thia Leng-juan mengetahui jejak ketua Hiat- kiam-bun, kalau tidak, mengapa Kau-hubuncu itu mencarinya untuk berbicara?"

Mendadak pemuda itu bertanya, "Siapakah nama ketua kalian? Bersediakah kalian ungkapkan, apakah kukenal dengannya atau tidak."

"Sebelum jejak ketua kami diketahui, tak akan kami sebutkan namanya," jawab Ji-hubuncu tegas.

Bong Thian Gak menghela napas panjang.

"Ai, tampaknya aku pun tak dapat membantu kalian." Dengan suara berat dan dalam Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun berkata lagi, "Bicara soal ilmu silat Jian-ciat-suseng memang sangat lihai, tapi jika segenap jago lihai Hiat-kiam-bun mengepungmu, biar kau punya sayap pun jangan harap bisa terbang meninggalkan ruangan ini, maka kunasehati, berpikirlah tiga kali sebelum bertindak."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Aku merasa logat bicara nona sangat kukenal, seperti pernah berjumpa di suatu tempat, bersediakah kau melepas kain kerudungmu agar dapat kulihat raut wajah aslimu?"

Tergerak hati Ji-hubuncu, katanya pula, "Betul, nada suaramu serta potongan badanmu seperti pernah kujumpai di suatu tempat, namun tak dapat kuingat secara pasti."

"Benar, mungkin tiga tahun lalu nona pernah bersua denganku," kata Bong Thian-gak dengan suara dalam. "Dan mungkin juga aku pun pernah bersua denganmu, cuma sekarang masing-masing merahasiakan paras muka yang dulu, maka biarpun sekarang bersua kembali, kedua belah pihak sama-sama tidak mengetahui siapakah lawan."

"Tak usah banyak bicara lagi," tukas Ji-hubuncu dingin. "Hari ini kau akan mati ataukah ingin hidup?"

"Tentu saja masih ingin hidup," jawab Bong Thian-gak dengan suara hambar.

"Kalau ingin hidup, cepat katakan siapa pembunuh Kau- hubuncu kami?"

"Boleh saja," Bong Thian-gak tertawa dingin. "Cuma kau harus memperlihatkan dulu paras mukamu." Ji-hubuncu mendengus dingin.

"Selamanya aku tak pernah bertukar syarat dengan orang lain." Mendadak Bong Thian-gak bangkit, kemudian katanya, "Kalau begitu terpaksa aku mohon diri lebih dulu."

Yu Hong-hong turut bangkit, kemudian bersama Bong Thian-gak membalikkan badan dan berjalan keluar ruangan itu.

Tiba-tiba Ji-hubuncu membentak nyaring, "Berhenti!" Pelan-pelan Bong Thian-gak membalikkan badan,

mendadak ia menyaksikan Ji-hubuncu sudah melolos pedang.

Pedang berwarna merah darah, jauh lebih menyolok daripada pedang-pedang lainnya, seolah-olah sebilah pedang yang baru saja digunakan membunuh orang dan masih berlepotan darah.

Dengan pedang itu Ji-hubuncu menuding ke langit sambil melakukan gerakan-gerakan aneh, menyusul gerakan itu, tiga orang aneh yang berdiri di belakangnya mengawasi pedang darah itu dengan sorot mata yang mengerikan dan menggidikkan.

Tampaknya apabila pedang Ji-hubuncu itu menunjuk ke depan, maka tiga orang aneh itu akan melaksanakan perintahnya seperti orang kalap.

Sambil tertawa dingin Ji-hubuncu berkata, "Hiat-kiam-bun bisa menggetarkan seluruh kolong langit antara lain karena kami ditunjang oleh lima algojo yang tangguh, bila pedang darah ini kutudingkan ke arahmu, maka penjagal-penjagal berbaju merah ini akan membunuhmu secara keji dan kalap."

"Algojo-algojo berbaju merah ini bukan manusia, melainkan setan iblis, biarpun kau Jian-ciat-suseng mempunyai kepandaian silat yang lebih hebat pun, jangan harap bisa membunuhnya, karena mereka mempunyai beribu lembar jiwa, mati satu tumbuh seribu dan setiap kali mati mereka bisa hidup kembali." Setengah percaya setengah tidak, Bong Thian-gak tanpa terasa bertanya, "Sungguhkah itu?"

"Aku tidak bohong."

Tiba-tiba Yu Hong-hong melolos pedang dan berdiri di sisi kiri Bong Thian-gak dengan siap siaga.

"Aku tak ingin bermusuhan dengan Hiat-kiam-bun, aku pun tak ingin mencoba kekuatan algojo-algojo berbaju merah itu, namun bila Ji-hubuncu mendesak terus, terpaksa kami harus membela diri sepenuh tenaga."

Sembari berkata dia mundur ke belakang selangkah demi selangkah, sedangkan Yu Hong-hong yang berada di sisi kirinya ikut mundur pula dengan hati-hati dan tak berani gegabah.

Menyaksikan hal ini, ujung pedang darah Ji-buncu Hiat- kiam-bun yang menuding ke langit pun pelan-pelan digerakkan turun ke bawah.

Tiga pasang mata orang berjubah merah itu pelan-pelan bergerak pula ke bawah mengikuti gerakan pedang darah itu.

Mendadak Ji-hubuncu berteriak keras, "Ma Kong, bunuh mereka!"

Berbareng dengan teriakan itu, pedang darahnya segera menuding ke arah Bong Thian-gak.

Jeritan keras seperti teriakan setan segera berkumandang.

Orang berjubah merah yang berada di posisi tengah melejit ke depan secepat terbang, kemudian dengan cepat menerkam tubuh Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong.

Yang mengerikan adalah gerak-gerik orang berjubah merah itu sedikit pun tidak mirip manusia, gayanya sewaktu menerkam seolah-olah sedang terbang. Yu Hong-hong membentak nyaring, pedangnya menciptakan titik cahaya bintang segera membacok tubuh orang berjubah merah itu.

Mendadak orang berjubah merah itu memutar lengan kanan menangkis datangnya bacokan pedang itu.

"Cring", Yu Hong-hong merasa pergelangan tangan kanannya sakit, senjatanya tahu-tahu sudah dipukul mental oleh tangkisan lawan.

Kejadian ini benar-benar menggidikkan, ternyata lengan si orang berjubah merah itu tidak mempan ditusuk atau pun dibacok,

Selesai mementalkan pedang lawan, orang berjubah merah itu segera mengayunkan pula telapak tangan kanannya mencengkeram tubuh Yu Hong-hong.

Yu Hong-hong segera melejit ke samping dan memutar tubuh, sekali lagi pedangnya melancarkan tusukan ke depan.

"Cring", bunyi dentingan nyaring kembali bergema.

Kali ini tusukan pedang Yu Hong-hong persis menusuk ke lambungnya, tapi pedang yang terbuat dari baja asli itu malah patah menjadi dua bagian.

Rupanya sekujur tubuh si algojo berbaju merah itu kebal tusukan senjata, kejadian ini kontan membuat Yu Hong-hong tertegun, dia lupa cakar kanan orang sudah berada tiga inci di depan tenggorokannya.

Bong Thian-gak yang menyaksikan mara bahaya itu segera membentak, secepat kilat tangan kirinya menyambar pinggang Yu Hong-hong sambil melompat mundur, dengan gerakan manis dia telah menyelamatkan si nona dari cengkeraman maut lawan. Gagal dengan cengkeraman mautnya, orang berjubah merah itu menjerit aneh, kali ini dia menerkam Bong Thian- gak .

Bong Thian-gak sudah menduga musuh akan menerkam ke arahnya, cepat dia menurunkan Yu Hong-hong. Sambil membentak gusar, segulung tenaga pukulan yang amat dahsyat segera dilontarkan.

"Blam", ledakan keras yang memekakkan telinga berkumandang.

Dada si orang berjubah merah terhajar telak, sedemikian dahsyat serangan itu membuat orang aneh itu terdorong mundur tiga-empat langkah.

Bong Thian-gak berkerut kening menyaksikan itu, padahal kekuatan tadi mengandung ribuan kati, betapa pun hebatnya seorang tokoh persilatan mustahil bisa menyambut dengan kekerasan.

Tapi kenyataan lawan malah menerima serangannya itu sambil membusungkan dada tanpa takut.

Agaknya pukulan yang maha dahsyat tadi telah mengobarkan api kebuasan dan keganasan orang berjubah merah itu, sambil berpekik keras, sekali lagi dia menyerang Bong Thian-gak.

Kali ini Bong Thian-gak sudah menggenggam gagang pedang kayunya, apabila orang berjubah merah itu menyerang lagi, dia akan membalas dengan mempergunakan jurus pedangnya.

Sejak Bong Thian-gak muncul di Bu-lim, belum pernah ada orang yang sanggup menerima jurus serangannya, maka setiap kali pedangnya digunakan, korban pasti berjatuhan.

Betul pedangnya hanya terbuat dari kayu, namun disaluri tenaga dalam yang sangat sempurna, pada hakikatnya pedang itu lebih tajam daripada pedang mestika. Mendadak Bong Thian-gak berkata dengan suara dalam, "Hong-hong, di bahumu masih terdapat sebilah pedang lain, cepat cabut keluar apabila pedangku tidak mendatangkan manfaat yang kuharapkan, terpaksa aku harus meminjam pedangmu itu."

Mendengar perkataan itu, dengan cepat Yu Hong-hong melolos pedangnya yang tersoreng di bahu.

Sementara itu si orang berjubah merah sudah menjerit keras dan menerkam dengan ganas.

Diiringi bentakan nyaring, Bong Thian-gak melolos pedangnya.

"Crit", desingan tajam mendesis, kemudian bergema teriakan setan yang menggidikkan hati.

Pedang kayu Bong Thian-gak telah menembus tiga inci di bawah pusar orang berjubah merah itu hingga tembus, menyusul dengan suatu gerakan cepat kaki kanan Bong Thian- gak melepaskan tendangan yang membuat tubuh musuh mencelat.

Orang berjubah merah itu tewas, namun dari mulut lukanya tiada cairan darah yang meleleh keluar.

Mencorong sinar aneh dari balik mata Ji-hubuncu Hiat- kiam-bun, tiba-tiba ujarnya, "Benar-benar jurus pedang yang luar biasa, tak nyana tubuh si algojo berbaju merah pun tembus. Namun jangan keburu bangga, sebentar lagi Ma Kong akan bangkit kembali, sekarang dia cuma jatuh semaput."

Paras muka Bong Thian-gak segera berubah serius, serunya, "Hong-hong, berikan pedangmu kepadaku."

Ternyata tusukan pedang kayu Bong Thian-gak dengan cepat sudah ditarik dan dimasukkan ke sarungnya, sementara lengannya menerima angsuran pedang dari Yu Hong-hong. Setelah menggenggam pedang baja, ia berseru lantang, "Ji-hubuncu, kau adalah seorang yang cerdik, pedang kayuku

saja bisa menembus tubuh si algojo berbaju merah itu apalagi dengan pedang baja di tangan. Aku orang she Bong percaya masih bisa mematahkan seluruh bagian tubuhnya. Aku tidak percaya bila seseorang sudah tercincahg menjadi tujuh- delapan bagian, dia masih dapat hidup kembali."

Sambil tertawa dingin, Bong Thian-gak berkata lebih lanjut, "Untuk mendididk dan melatih lima algojo berbaju merah ini, aku yakin pihak Hiat-kiam-bun telah banyak mengeluarkan pikiran dan tenaga, bila Ji-hubuncu menginginkan kerja kerasmu selama ini porak-poranda dalam sekejap mata, maka terpaksa aku akan memusnahkan mereka dari muka bumi."

"Padahal sesungguhnya, antara aku orang she Bong dengan perguruan kalian tidak mempunyai ikatan dendam ataupun sakit hati, aku pun tak ingin melenyapkan algojo- algojo kalian itu, nah Ji-hubuncu, aku sudah cukup memberi penjelasan, harap kau jangan mendesak diriku lebih jauh."

Setelah itu Bong Thian-gak berkata kepada Yu Hong-hong, "Ayo kita segera mundur dari sini!"

Mendadak kesembilan gadis berkerudung merah yang berdiri di depan pintu menggerakkan senjata dan maju menyambut kedatangan mereka.

Tiba-tiba terdengar Ji-hubuncu berseru nyaring, "Mundur, biarkan mereka mengundurkan diri dari sini!"

Mendapat perintah itu, kesembilan gadis berkerudung merah segera menyingkir ke kiri dan ke kanan.

Dengan suara lantang Bong Thian-gak berseru, "Terima kasih Ji-hubuncu atas kemurahan hatimu, sampai jumpa di lain waktu."

Dia membuka pintu dan bersama Yu Hong-hong mengundurkan diri dari situ. Setibanya di luar pagar halaman, Yu Hong-hong mendongakkan kepala memandang matahari yang bersinar terik, tak tahan lagi gumamnya, "Ai, seperti baru saja bermimpi buruk!"

"Siapa bilang bermimpi buruk? Kita mengalami semua sebagai kenyataan," kata Bong Thian-gak sambil mengembalikan pedang baja gadis itu.

"Tapi hakikatnya melebihi setan iblis dari neraka, benar- benar menggidikkan," bisik Yu Hong-hong dengan jantung masih berdebar. Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, seandainya tidak kusaksikan dengan mata kepalaku, aku benar-benar tak percaya akan peristiwa yang mengerikan ini."

Yu Hong-hong bertanya pula dengan polos, "Hwecu, bukankah kau dapat memusnahkan kelima setan iblis itu? Mengapa kau tidak memanfaatkan kesempatan tadi untuk membinasakan mereka?"

Bong Thian-gak kembali menghela napas panjang, "Tadi sebenarnya aku sendiri pun tidak yakin akan berhasil memotong-motong tubuh mereka dengan menggunakan pedangmu, sesungguhnya Ji-hubuncu termakan oleh gertak sambalku."

Yu Hong-hong mengedipkan mata berulang-kali, lalu bertanya lagi, "Bukankah pedang kayu Hwecu berhasil menembus tubuh setan iblis itu? Bila diganti dengan sebilah pedang baja, masakah tak mampu mencabik-cabik tubuh mereka?

Bong Thian-gak menggeleng kepala, "Untuk mengerahkan tenaga melepaskan tusukan, tenaga yang kita gunakan akan jauh lebih besar, terutama bagi seorang jago yang bertenaga dalam sempurna, memakai pedang kayu atau pedang sungguhan sebenarnya tidak berbeda jauh, kecuali pedang yang kita pergunakan adalah sebilah pedang mustika yang dapat mematahkan benda apa saja."

"Wah, jika di kemudian hari Hiat-kiam-bun melepas kelima algojonya malang-melintang dalam Bu-lim, bukankah akan tercipta bibit bencana besar bagi umat persilatan."

"Sekarang aku sedang berusaha menanggulangi kejadian itu, untung saja kita diberi kesempatan mengetahui rahasia Hiat-kiam-bun itu, kalau tidak, akibatnya di kemudian hari tentu akan semakin serius."

Bicara punya bicara, Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong sudah sampai di halaman kamar nomor tiga puluh enam.

0oo0

Malam semakin kelam, suasana amat sepi dan tidak terdengar suara apa pun.

Cahaya lentera masih memancar keluar dari bilik kamar nomor tiga puluh enam.

Bong Thian-gak duduk di depan meja sambil terpekur dan merenung seorang diri.

Tiba-tiba di luar kamar terdengar suara gemerisik yang amat lirih.

Biarpun ada daun kering yang rontok terhembus angin pun tidak akan lolos dari pendengaran Bong Thian-gak, apalagi suara gemerisik yang mengundang kecurigaan.

"Siapa di situ?" sambil membentak sorot mata Bong Thian- gak dialihkan keluar jendela dengan cepat.

Mendadak ia menyaksikan sesosok bayangan tubuh yang ramping dan indah berdiri di tengah halaman.

Bagaikan disambar geledek Bong Thian-gak membatin. "Ah! Si-hun-mo-li! Ia benar-benar telah datang." Sementara itu bayangan indah di luar jendela masih diam tak bergerak, namun sepasang matanya yang jeli justru memancarkan cahaya tajam yang indah, sorot mata itu sedang mengawasi Bong Thian-gak yang berada di balik jendela tanpa berkedip.

Dengan suara rendah Bong Thian-gak menegur, "Kalau sudah datang, mengapa tidak masuk? Pintu tidak ditutup!" v

Siapa tahu baru selesai perkataan itu diucapkan, terdengar suara cekikikan merdu, lalu bayangan indah di luar sana lenyap.

Bong Thian-gak terkejut, dengan cepat dia melompat keluar melalui jendela dan naik ke atas wuwungan rumah.

Di bawah cahaya bintang dan rembulan, tampak sesosok bayangan tubuh indah sedang bergerak di ujung atap rumah sebelah sana.

Bong Thian-gak mengembangkan Ginkangnya dan melakukan pengejaran secara ketat.

"Bagaimana pun juga aku tak boleh membiarkan dia lolos dari pengejaranku."

Inilah keputusan yang diambil Bong Thian-gak, oleh karena ia tak sempat melihat jelas paras muka Si-hun-mo-li, maka tidak diketahui olehnya apakah Si-hun-mo-li itu benar Thay- kun atau bukan.

Pengejaran dilakukan Bong Thian-gak dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Bayangan indah di depan sana pun berlari tak kalah cepatnya. Dalam waktu singkat keduanya sudah berada di luar kota, akan

tetapi Bong Thian-gak belum juga berhasil memperpendek jarak di antara mereka. Sekarang pemuda itu baru terperanjat, segera pikirnya, "Ai, tak nyana ilmu meringankan tubuh yang dia miliki begitu cepat, tapi aku tak boleh kehilangan jejak, tidak gampang mengundang kehadirannya ... bila kali ini aku tak berhasil menjumpainya, maka selamanya tak akan berjumpa lagi."

Sementara berbagai ingatan berkecamuk dalam benak Bong Thian-gak, ia semakin mempercepat gerak tubuhnya, seperti sedang terbang saja kaki tidak menempel tanah.

Akhirnya jarak antara mereka berhasil diperpendek.

Di hadapan mereka tiba-tiba muncul sebuah gedung berloteng yang amat megah.

Bayangan langsing di depan sana menerobos masuk ke dalam rumah yang berlapis-lapis itu dan sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap.

Bong Thian-gak menerjang masuk ke dalam bangunan itu, namun suasana di sekeliling sana sepi dan hening, seolah-olah sebuah kota mati saja.

Tentu saja bayangan Si-hun-mo-li turut lenyap, dia seolah- olah tertelan oleh kegelapan malam.

Ketika Bong Thian-gak menginjak daun-daun kering yang berserakan di tanah, segera disadari olehnya bahwa di perkampungan itu sudah lama ditinggalkan orang dan tak berpenghuni lagi.

Si-hun-mo-li tentu bersembunyi di dalam sana ... ya, dia pasti berada di dalam gedung itu.

Bong Thian-gak tidak putus-asa, pelan-pelan dia menelusuri bangunan itu dan melakukan pencarian dengan seksama.

"Heran, mengapa Si-hun-mo-li tak berani menjumpai diriku? Ya, dia sudah mengenali aku ... kalau begitu dia tentu Jit-kaucu Thay-kun." Teringat akan Thay-kun, dalam benak Bong Thian-gak terlintas kembali pengalamannya pada tiga tahun lalu, di kaki bukit Cui-im-hong di luar kota Lok-yang, dimana mereka berdua sama-sama mengunjungi rumah si tabib sakti Gi Jian- cau.

"Ai, bila Thay-kun sampai tertimpa sesuatu musibah, tanggungjawabku akan bertambah berat."

Diam-diam Bong Thian-gak menghela napas, sementara tubuhnya sudah melalui tiga lapis halaman dan hampir setiap ruangan sudah diperiksa dengan seksama, namun ia belum juga menemukan bayangan perempuan itu.

Biarpun saat ini Bong Thian-gak sudah jadi suami Song Leng-hui, namun dalam hati masih tetap dipenuhi bayangan Thay-kun.

Semua peristiwa yang dialami, tubuhnya yang indah dan cantik, serta pesan wanti-wanti Ku-lo Sinceng, pendeta agung Siau-lim-si itu.

Biarpun suasana dalam Bu-lim dewasa ini sudah mengalami perubahan besar, tapi Bong Thian-gak percaya Put-gwa-cin- kau tak akan lenyap begitu saja.

Selama tiga bulan terakhir ini, dia sudah menyelidiki keadaan dunia persilatan secara diam-diam, Bong Thian-gak tahu Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau memang telah berkunjung ke markas besar Kay-pang di wilayah Sucwan.

Itulah sebabnya tersiar berita yang mengatakan Cong- kaucu Put-gwa-cin-kau telah dikalahkan oleh Pangcu kaum pengemis dalam suatu duel yang sengit, akibatnya dia terikat dan tak berani mengembangkan sayapnya lagi.

Ikatan itu adalah pihak Put-gwa-cin-kau wajib mengasingkan diri dan tak boleh muncul kembali di Bu-lim.

Bisa jadi ikatan itu berlaku dalam batas waktu tiga tahun. Sebab dari kemunculan Si-hun-mo-li yang baru tiga bulan, Bong Thian-gak mengambil kesimpulan bahwa Si-hun-mo-li bisa jadi adalah salah satu alat Put-gwa-cin-kau untuk melenyapkan umat persilatan dari dunia ini.

Pada tiga tahun berselang, Thay-kun telah ditangkap oleh Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.

Tak mungkin Cong-kaucu melepaskan Thay-kun begitu saja, bisa jadi Thay-kun dijadikan iblis wanita pembetot sukma.

Walaupun semua peristiwa itu merupakan dugaan Bong Thian-gak, namun apa yang diduganya itu memang cukup beralasan, untuk membuktikan kebenaran dugaannya itu terpaksa dia harus menemui Si-hun-mo-li.

Gedung itu sangat besar, bisa jadi pemiliknya di masa lampau adalah seorang pembesar kaya, biarpun sudah lama gedung itu ditinggal penghuninya, namun semua gunung- gunungan, gardu, loteng dan pagar, masih mencerminkan keindahan dan kemegahan seperti dulu. 

Setiap sudut bangunan telah diperiksa Bong Thian-gak dengan seksama, namun dia tak berhasil menemukan bayangan perempuan itu.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Bong Thian- gak, bagaikan sukma gentayangan Bong Thian-gak melompat naik ke atas loteng tertinggi, kemudian menyembunyikan diri di situ.

Pemandangan di bawah loteng terbentang luas, ia dapat dengan jelas mengawasi setiap gerak-gerik sekeliling bangunan itu.

Mendadak Bong Thian-gak seperti mengendus selapis bau harum bunga anggrek yang amat tipis.

Bau harum itu seolah-olah datangnya dari ujung langit sana yang menyebar kemana-mana. Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling tempat itu, namun di seputar sana tiada bunga anggrek, tiada pula bunga lain, tapi bau harum itu makin lama makin tajam, Bong Thian-gak merasa seolah-olah pernah mengendus bau harum itu. Mendadak pula paras muka Bong Thian-gak berubah hebat. Ia teringat sekarang, bau anggrek itu pernah diendusnya tiga tahun berselang, tatkala dia berada di kaki bukit Cui-im-hong di luar kota Lok-yang, tepatnya di rumah tabib sakti Gi Jian-cau. Waktu itu Cong- kaucu Put-gwa-cin-kau muncul. Belum habis ingatan itu lewat, Bong Thian-gak telah menyaksikan munculnya sebuah tandu besar di tengah kebun di depan sana, tandu itu berhenti di atas sebuah gardu.

Apa yang dilihat sekarang sungguh mengejutkan Bong Thian-gak hingga jantungnya berdebar keras.

"Mungkin Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau muncul." Dendam kusumat yang dipendam sejak tiga tahun lalu segera berkobar kembali, Bong Thian-gak merasakan darah dalam tubuhnya mendidih, hampir saja dia hendak menerkam ke depan.

Untung selama tiga tahun melatih diri secara tekun di bukit terpencil membuat wataknya lebih tenang dan pandai mengendalikan diri, akhirnya ia berhasil mengendalikan gejolak perasaan benci dan dendam yang berada di dalam dadanya.

Rupanya pada saat itu Bong Thian-gak menyaksikan munculnya berpuluh sosok bayangan orang di sekeliling tandu.

Biarpun ilmu silat Bong Thian-gak sekarang sudah mencapai tingkat yang luar biasa, namun dia belum yakin dapat menandingi kekuatan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, apalagi musuh berjumlah lebih banyak, ia semakin tak berani bertindak gegabah.

Tiga tahun berselang, hampir saja ia tewas di tangan lawan. Sungguh tak disangka kemunculan kembali tiga tahun kemudian dengan cepat mempertemukan dia dengan Cong- kaucu Put-gwa-cin-kau.

Tiba-tiba dari balik tandu besar berkumandang suara seseorang dengan nada merdu.

"Sam-kaucu, selama tiga bulan ini, tugas yang kau laksanakan amat memuaskan hatiku, bertambahnya pembantu semacam kau di dalam Put-gwa-cin-kau, hakikatnya seperti harimau tumbuh sayap."

Mendengar panggilan "Sam-kaucu", Bong Thian-gak terkejut, pikirnya, "Bukankah Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau sudah terbunuh tiga tahun lalu di pagoda Leng-im-po-tah di luar kota Kay-hong? Waktu itu aku bersama Toa-suheng Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang melaksanakan pembunuhan ini, dimana jenazahnya dihancurkan Thia Leng- juan dengan obat penghancur mayat. Mengapa bisa muncul Sam-kaucu lagi sekarang? Jangan-jangan dia adalah Sam- kaucu baru yang belum lama bergabung dengan mereka."

Berpikir sampai di sini, Bong Thian-gak segera mengarahkan pandangan matanya ke arah depan sana.

Di muka tandu besar itu berlutut seorang berperawakan biasa sedang menjura pada Cong-kaucu yang berada di dalam tandu besar, lalu katanya dengan hormat, "Terima kasih, Cong-kaucu."

Mendengar logat suara orang itu, Bong Thian-gak tertegun, pikirnya dalam hati, "Heran, suara ini amat kukenal, sebenarnya siapakah Sam-kaucu yang baru itu?"

Sementara itu Cong-kaucu yang berada di dalam tandu telah berkata kembali, "Sam-kaucu, mengenai tugas yang kau lakukan di kota terlarang, sudah sebagian besar kau rampungkan, saat ini sebagian jago lihai dari berbagai perguruan telah muncul di dalam kota, yang masih tersisa pun tinggal beberapa pentolan saja, mungkin tak sampai setengah bulan lagi, sebagian besar akan berkumpul di wilayah Hopak ini."

"Bukan suatu tugas yang sederhana bagi Put-gwa-cin-kau kita menghadapi jago lihai sedemikian banyak, maka aku sengaja berkunjung ke wilayah Hopak untuk memberi komando inti kekuatan Put-gwa-cin-kau kita. Ji-kaucu serta komandan pertama pasukan pengawal tanpa tanding sekalian dalam waktu singkat akan datang semua ke Hopak, sampai waktunya orang yang akan memberi komando adalah aku, Ji- kaucu, Sam-kaucu, komandan pertama pasukan pengawal tanpa tanding serta komandan kedua pasukan tanpa tanding."

"Baik, terima kasih banyak atas perhatian Cong-kaucu yang telah mencantumkan pula diri hamba dalam kelompok komandan," jawab Sam-kaucu dengan hormat.

Kembali Cong-kaucu berkata, "Sam-kaucu, belakangan ini di Bu-lim telah muncul Jian-ciat-suseng, apakah kau tahu asal- usul orang itu?"

Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu menjadi amat terperanjat, segera pikirnya, "Benar-benar tak kusangka Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau telah menaruh perhatian kepadaku."

Sementara itu Sam-kaucu termenung sejenak, kemudian sahutnya, "Lapor Cong-kaucu, malam ini Si-hun-mo-li berangkat mengunjungi Jian-ciat-suseng, hamba rasa dia tak akan lolos dari cengkeraman Si-hun-mo-li."

Mendengar perkataan itu, pelan-pelan Cong-kaucu menyahut, "Sam-kaucu, dalam melaksanakan pekerjaanmu kali ini kau bertindak kelewat gegabah dan menyerempet bahaya, dewasa ini Jian-ciat-suseng sudah termasuk di antara deretan jago lihai dalam Bu-lim, sebelum kau selidiki dengan jelas asal-usul Jian-ciat-suseng, sudah kau utus Si-hun-mo-li menghadapinya, jika Si-hun-mo-li tak mampu menyelesaikan tugasnya atau menemui celaka di tangan Jian-ciat-suseng, bukankah usaha kita selama ini akan sia-sia belaka."

Teguran itu membuat Sam-kaucu menundukkan kepala, tanpa menjawab ia berdiri kaku di tempat.

Setelah berhenti sesaat, Cong-kaucu berkata lagi, "Sam- kaucu, aku tahu, kau percaya setiap lelaki yang bertemu Si- hun-mo-li, dia tak akan mampu memberi perlawanan, bukankah demikian?"

"Lapor Cong-kaucu, hamba memang berpendapat begitu," jawab Sam-kaucu agak tergagap.

"Tak heran Sam-kaucu mempunyai pendapat begitu, terus terang kukatakan, sepasang mata Si-hun-mo-li sebetulnya sudah melatih ilmu Si-hun-tay-hoat (Ilmu pembetot sukma) yang merupakan kepandaian rahasia perguruan Mi-tiong-bun di Tibet, setiap umat persilatan yang memandang sepasang matanya pasti akan terpikat dan terpengaruh pikirannya, tapi di Bu-lim ini masih terdapat dua tokoh silat yang memiliki kemampuan untuk mematahkan pengaruh Si-hun-tay-hoat itu."

"Siapakah kedua orang itu?" tiba-tiba Sam-kaucu bertanya. "Dia adalah Kay-pang Pangcu dan Cengcu Kim-liong-kian-

san-ceng!"

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan, "Aku rasa Jian-ciat-suseng pun bisa jadi memiliki kemampuan untuk mematahkan pengaruh Si-hun-tay-hoat itu."

"Darimana Cong-kaucu bisa tahu Jian-ciat-suseng memiliki kemampuan itu?" tanya Sam-kaucu

Cong-kaucu termenung sejenak, kemudian ujarnya, "Senjata yang digunakan Jian-ciat-suseng adalah pedang, bagi seorang jago lihai ahli pedang, kepandaian yang harus dilatih terlebih dahulu adalah melatih ketajaman mata dan ketepatan hati, ditinjau dari kemampuan Jian-ciat-suseng mengalahkan begitu banyak jago lihai dalam tiga bulan terakhir ini, sudah jelas ilmu pedangnya tidak kalah dibanding ilmu pedang Cengcu Kim-liong-kian-san-ceng Mo Hui-thian dan Kay-pang Pangcu. Ketiga orang ini sama-sama mengandalkan ilmu pedang mereka yang lihai."

"Biarpun aku belum tahu dengan jelas asal-usul Jian-ciat- suseng, namun aku memuji kehebatan ilmu pedangnya, dia merupakan salah satu musuh tangguh Put-gwa-cin-kau kita."

"Nasehat Cong-kaucu akan hamba camkan dalam hati," sahut Sam-kaucu dengan hormat

Tiba-tiba Cong-kaucu bertanya lagi, "Beberapa bulan lalu, Sam-kaucu pernah mengatakan bahwa perkampungan ini punya peralatan lengkap dan bisa digunakan sebagai kantor cabang perkumpulan kita di wilayah Hopak, harap Sam-kaucu mengajak diriku melihat-lihat keadaan di sekitar sini!"

"Perkampungan ini adalah bekas istana raja muda Mo-lay- cing-ong di masa lampau, biarpun bangunan megah ini enak dipandang, namun belum merupakan yang terhebat, karena bangunan utama terletak di bawah tanah."

Pelan-pelan Cong-kaucu berkata pula, "Raja muda Mo-lay- cing-ong, adik sepupu kaisar Ching Ko-cou, orang ini berotak cerdas dan kepandaiannya jauh melampaui kaisar Ching Ko- cou sendiri. Tatkala kaisar Ching Ko-cou melakukan pembersihan terhadap bekas-bekas pembesar setianya, hanya Mo-lay-cing-ong yang lolos dari pembersihan itu, ia tidak pergi jauh, melainkan bersembunyi di dalam istana bawah tanah ini?"

"Cong-kaucu memang cerdas dan cermat, jauh melampau siapa pun, betul waktu itu Mo-lay-cing-ong bersembunyi di istana bawah tanah ini."

"Aku pernah berkunjung ke dalam istana itu serta menemukan delapan belas sosok kerangka, satu di antaranya berperawakan tinggi besar, sedang yang lain berperawakan kecil dan lembut, kemungkinan adalah kerangka raja Mo-lay- cing-ong beserta ketujuh belas selirnya."

"Aku dengar kekayaan raja muda Mo-lay-cing-ong tiada taranya, apakah Sam-kaucu berhasil menemukan sesuatu di bawah istana sana?"

"Menurut daftar yang dibuat kaisar Ching Ko-cou atas orang-orang yang dikehendakinya, nama raja muda Mo-lay- cing-ong terdaftar sebagai musuh nomor satu, konon yang paling menakutkan adalah harta kekayaan raja muda itu."

"Setelah kusaksikan bangunan istana dalam perkampungan ini, terpikir olehku bisa jadi semua harta kekayaan raja muda Mo-lay-cing-ong berada di istana bawah tanahnya, tapi karena istana itu dilengkapi alat rahasia, aku belum sempat menggeledah setiap ruangan yang berada di situ, itulah sebabnya hingga kini aku belum menemukan harta karun peninggalan raja muda Mo-lay-cing-ong itu."

"Sam-kaucu tak usah kuatir, aku telah mengundang seorang ahli bangunan dan ilmu tanah untuk menangani persoalan ini, mungkin dalam beberapa hari mendatang rahasia istana tanah Mo-lay-cing-ong akan berhasil kita temukan."

"Cong-kaucu telah mengundang seorang ahli bangunan dan ilmu tanah?"

Baru selesai ucapan itu diutarakan, mendadak terdengar seseorang menyambung dengan suara dingin, "Aku Ji- kauculah orangnya!"

Bersama dengan selesainya ucapan itu, dari balik bangunan lain tiba-tiba muncul sekelompok bayangan orang yang langsung berjalan menuju ke arah gardu itu.

"Oh, cepat amat kedatangan Ji-kaucu!"

Cong-kaucu yang berada dalam tandu berseru kegirangan, "Aku malah menduga besok malam Ji-kaucu baru akan tiba di Hopak, tak disangka kau bisa datang sehari lebih awal, mari ... mari ... mari ... Sam-kaucu belum pernah bicara dengan Ji- kaucu, biar kuperkenalkan dahulu kalian berdua."

Sementara pembicaraan berlangsung, Ji-kaucu beserta ketujuh-delapan anak buahnya telah berkumpul di depan tandu besar itu.

Ji-kaucu memberi hormat lebih dulu kepada tandu besar itu, ujarnya, "Ji-kaucu menyampaikan salam sejahtera untuk Cong-kaucu."

"Tak usah banyak adat, kedatangan Ji-kaucu memang sangat kebetulan, baru saja aku tiba di Hopak dan belum mencari tempat pemondokan, harap Ji-kaucu mencarikan sebuah ruangan dalam istana ini sebagai tempat pemondokan."

Sementara itu Sam-kaucu telah memberi hormat kepada Ji- kaucu, "Sam-kaucu menyampaikan selamat bertemu pada Ji- kaucu."

"Tak usah banyak adat," kata Ji-kaucu pula dingin. "Sudah begini lama Cong-kaucu tiba di sini, mengapa Sam-kaucu belum mencarikan tempat pemondokan bagi Cong-kaucu?"

"Hamba memang mengundang Cong-kaucu untuk memasuki ruang bawah istana."

"Mengapa Sam-kaucu masih belum menunjuk jalan?" tegur Ji-kaucu dingin.

"Kalau begitu dipersilakan Cong-kaucu dan Ji-kaucu mengikuti diriku."

Selesai berkata, dia beranjak lebih dulu menuju ruangan sebelah barat.

Tandu besar serta kedua puluh orang serentak mengikut di belakangnya, tak selang beberapa saat kemudian bayangan mereka telah lenyap di balik kegelapan sana. Dengan menyembunyikan diri di atas wuwungan loteng, Bong Thian-gak dapat menyaksikan rombongan itu memasuki sebuah ruangan gedung kecil di tengah halaman lapis keempat.

Sementara itu cahaya lentera memancar keluar dari gedung tadi.

Menyaksikan rahasia besar itu, berbagai pertanyaan yang mencurigakan dan tidak dipahami olehnya bermunculan menyelimuti benak anak muda itu.

Sebenarnya siapakah Sam-kaucu itu? Mengapa suaranya begitu dikenal?

Berhubungan jarak mereka kelewatan jauh, maka Bong Thian-gak tidak sempat menyaksikan dengan jelas paras muka setiap orang yang hadir di sana.

Dari pembicaraan mereka, bisa jadi Si-hun-mo-li, si momok perempuan yang disegani dan ditakuti setiap umat persilatan tak lain adalah Jit-kaucu Thay-kun.

Tapi mengapa Thay-kun bisa berubah jadi manusia seperti itu?

Tatkala Jit-kaucu Thay-kun belum mengkhianati Put-gwa- cin-kau, kedudukannya dalam partai begitu tinggi dan terhormat sehingga pada hakikatnya hanya berada pada urutan kedua setelah Cong-kaucu, tapi kini dia justru dikendalikan oleh Sam-kaucu, dari sini dapat disimpulkan bahwa gadis itu memang sudah dicelakai oleh ketuanya sendiri.

Bila jadi Thay-kun yang sekarang hanya robot hidup tanpa pikiran dan kesadaran.

Yang paling mengejutkan Bong Thian-gak adalah di gedung itu ternyata masih terdapat sebuah istana yang konon sangat megah. Mo-lay-cing-ong adalah seorang panglima perang kenamaan ketika tentara Ching menyerbu daratan Tionggoan, konon sewaktu raja muda Mo-lay-cing-ong membawa tentara menyerbu daratan, dia telah merampok semua harta kekayaan rakyat kecil hingga dalam waktu singkat dia telah menjadi panglima perang terkaya di seluruh negeri.

Ketika Ching Ko-cou naik tahta, dia mendapat laporan bahwa raja muda Mo-lay-cing-ong sedang mencari tentara dan membeli kuda dengan niat melakukan pemberontakan, kejadian ini mengejutkan sang raja sehingga dia bertindak lebih dulu dengan menjatuhi hukuman pancung kepala atas semua keluarga raja muda itu.

Tapi kaisar Ching Ko-cou tak pernah berhasil membunuh raja muda Mo-lay-cing-ong, karena tak seorang pun yang tahu dimanakah dia menyembunyikan diri.

Ketika Mo-lay-cing-ong hilang, tahta kerajaan waktu itu telah beralih ke tangan kaisar Yong Cing, ini membuat sang kaisar tak pernah tenang dan memerintahkan anak buahnya lebih giat melakukan pencariannya atas jejak si raja muda itu.

Dari pembicaraan Cong-kaucu dengan Sam-kaucu, tampaknya raja muda Mo-lay-cing-ong telah menyembunyikan diri di istana bawah tanahnya ketika itu.

Bila rahasia besar ini sampai tersiar, bisa dibayangkan betapa gemparnya seluruh dunia.

Intan permata dan emas perak hasil rampokan raja muda Mo-lay-cing-ong dari rakyat bangsa Han bisa jadi disimpan juga di dalam istana bawah tanah ini, siapakah yang tidak silau menyaksikan harta karun yang tak ternilai harganya itu?

Barang siapa berhasil menemukan harta karun itu, dia akan segera menjadi jutawan yang tiada bandingannya di seluruh negeri. Bila harta karun itu sampai dikuasai pihak Put-gwa-cin-kau, maka Put-gwa-cin-kau akan segera menguasai seluruh dunia persilatan dan menjadi pemimpin dunia.

Itu berarti kekacauan dan kekalutan akan merajarela di seluruh negeri, hidup rakyat kecil tak pernah tenang, bencana manusia pun akan muncul berulang-ulang.

Bong Thian-gak segera menyadari betapa beratnya kewajiban dan tugasnya setelah berhasil menyadap rahasia besar itu, karena bukan cuma menyangkut dunia persilatan saja, tapi sudah mencapai kolong langit.

Bagaimana pun juga, dia tak boleh membiarkan pihak Put- gwa-cin-kau mendapatkan harta karun raja muda Mo-lay-cing- ong itu.