Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 15

 
Jilid 15

"Sret, sret", dua kali desingan nyaring berkumandang. Akhirnya Bong Thian-gak tiba di depan kedua orang itu,

pedang pendeknya dengan sangat ringan membacok ke dada

Ji-kaucu serta Han Siau-liong.

Pada saat bersamaan pedang baja Han Siau-liong membacok pula ke depan, sedang pedang hijau Ji-kaucu meluncur secepat petir.

Dalam waktu singkat cahaya pedang menyelimuti hawa dingin yang menusuk tulang, serasa menyakitkan.

Dua kali dengusan tertahan segera bergema. Bayangan orang menyambar dan berkelebat ke samping ... diikuti lenyapnya cahaya pedang.

Bong Thian-gak berjumpalitan dan mundur, cahaya tajam dari balik matanya sudah berkurang, sementara pedangnya entah sudah mencelat kemana.

Pedang baja yang semula berada di tangan kanan Han Siau-liong kini sudah menancap di atas tanah, bahu kirinya tertancap sepotong kutungan pedang, darah segar bercucuran keluar dengan derasnya.

Pedang kanan Ji-kaucu masih tersilang di depan dada, namun di dada kanannya tertancap sepotong kutungan pedang berikut gagangnya, darah segar pun bercucuran membasahi pakaian.

Rupanya Ji-kaucu dan Han Siau-liong sama-sama terluka, kedua orang itu terkena pedang pendek Bong Thian-gak yang patah menjadi dua dan menusuk dua sasaran yang berbeda.

Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun mengikuti dengan jelas bagaimana Bong Thian-gak mematahkan pedangnya jadi dua, dan secara terpisah menancapkan di bahu kiri Han Siau-liong dan dada kanan Ji-kaucu.

Ji-kaucu dan Han Siau-liong sendiri pun tidak ada tahu cara bagaimana Bong Thian-gak melukai mereka.

Dalam pertarungan sengit yang berlangsung tadi, Ji-kaucu dan Han Siau-liong sama-sama menggetarkan pedang menyambut ancaman itu, mereka pun merasa seakan-akan pedang pendek Bong Thian-gak terpapas kutung oleh senjata mereka.

Tapi ketika lengan tunggal Bong Thian-gak digetarkan, tahu-tahu Han Siau-liong dan Ji-kaucu telah terluka oleh tusukannya. Agaknya di saat pedang patah menjadi dua, Bong Thian- gak telah mencengkeram kedua kutungan pedang itu dengan lengan tunggalnya, kemudian disambitkan ke depan.

Han Siau-liong mencabut kutungan pedang dari bahunya, lalu setelah tertawa, dia berkata, "Lihai, benar-benar amat lihai, Jian-ciat-suseng memang terhitung manusia tangguh. Kalau ditanya senjata apa di dunia ini yang tercepat, maka itulah golok sakti si lengan tunggal, tapi kulihat ilmu pedang Jian-ciat-suseng masih berada di bawah To-pit-coat-to Liu Khi."

"Rupanya Liu Khi terhitung jago nomor dua perkumpulan kalian?" jengek Bong Thian-gak tertawa dingin.

Biarpun bahu kirinya sudah basah oleh darah, Han Siau- liong masih tetap tertawa, "Hahaha, benar-benar, Liu Khi memang jago nomor dua Kay-pang, Ji-kaucu sendiri pun pernah keok di tangannya."

Dalam pada itu Ji-kaucu telah mencabut kutungan pedang dari dadanya, tampaknya dia terluka parah, secara beruntun beberapa buah jalan darahnya telah ditotok hingga darah tidak mengalir lagi.

Setelah tertawa seram, dia berkata, "Serangan yang kau lancarkan benar-benar cepat, pedang Ji-kaucu memang tak akan bisa melukaimu untuk selamanya."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Ah, mana, aku telah mengerahkan segenap kemampuanku, namun kenyataannya tak sanggup merenggut nyawamu, setelah berpisah malam ini, entah kapan aku baru bisa membinasakan kalian."

Di tengah pembicaraan, dengan suatu gerakan cepat Bong Thian-gak telah memungut kembali sebilah pedang pendek dari atas tanah. Suasana di sekeliling tempat itu segera berubah kembali menyusul gerak-gerik Bong Thian-gak, selapis hawa membunuh dengan cepat menyelimuti tempat itu.

Dengan perasaan tegang dan serius Han Siau-liong dan Ji- kaucu sekali lagi bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Jelas Bong Thian-gak telah diliputi oleh hawa membunuh.

Rupanya dalam bentrokan tadi, Bong Thian-gak telah berhasil mengetahui rahasia pedang panjang Ji-kaucu, dia yakin kemampuannya sanggup melenyapkan Ji-kaucu, bagaimana pun juga Ji-kaucu adalah musuh besarnya yang harus dibunuh.

Kini kekuatan Put-gwa-cin-kau sudah meningkat hebat, mumpung dia masih berkeyakinan melenyapkan kekuatan lawan, mengapa tidak ia manfaatkan peluang itu untuk menggerogoti kekuatan musuh? Itulah sebabnya Bong Thian- gak memusatkan kembali kekuatan melepaskan serangan berikut.

Kali ini Bong Thian-gak berdiri sambil memeluk pedang di depan dada, pelan-pelan ia berkata, "Han Siau-liong, kau sudah keok di ujung pedangku, bila ingin membalas dendam, kesempatan masih cukup banyak, kuanjurkan kepadamu cepatlah meninggalkan tempat ini!"

Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak, "Biarpun aku sudah terluka, aku masih mampu untuk merobohkan dirimu."

"Kau telah membunuh banyak orang, aku memang tak akan melepas kau begitu saja," ucap Bong Thian-gak dingin, "apalagi pihak Kay-pang memang tidak mengizinkan aku menancapkan kaki dalam Bu-lim, maka boleh dibilang setiap saat bisa jadi kita akan berduel kembali."

"Hahaha, bagus, bagus sekali," Han Siau-liong tertawa nyaring. "Malam ini Han Siau-liong terpaksa harus menuruti nasehatmu untuk mengundurkan diri." Selesai berkata, Han Siau-liong segera menggerakkan badan beranjak pergi.

Jangan dilihat perawakannya yang tinggi besar, kehebatan ilmu meringankan tubuhnya tidak malu disebut jago lihai kelas satu dari dunia persilatan, dengan dua kali lompatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Sepeninggal Han Siau-liong, Bong Thian-gak baru berkata sambil tertawa dingin, "Ji-kaucu, hari kematianmu sudah tiba!"

"Bukan hari kematianku, tapi hari kematianmu," sahut Ji- kaucu dengan suara menyeramkan.

"Benar, siapa unggul siapa kalah memang susah untuk diketahui, tapi aku percaya kau sudah berada di tepi jurang kematian."

"Selamanya Ji-kaucu bukan orang yang gampang mati, percaya atau tidak terserah padamu."

Bong Thian-gak tertawa.

"Gerak pedangmu jauh lebih lamban daripada aku, ilmu racunmu susah untuk dikembangkan lagi, bahkan rahasia pedangmu sudah dapat kuketahui, kepandaian apa lagi yang akan kau andalkan? Memangnya kau masih memiliki ilmu menyusup ke tanah atau terbang ke langit?"

Pucat keabu-abuan paras muka Ji-kaucu mendengar perkataan itu, dia seperti belum mau percaya begitu saja, kembali tanyanya, "Apa benar kau sudah mengetahui rahasia pedangku?"

"Apa sebabnya pedangmu bisa merenggut nyawa musuh? Kan karena pedangmu itu dapat menusuk setengah kaki lebih ke depan, karena di balik pedangmu itu kau sengaja menyisipkan sebilah pedang kecil setipis daun, bila tombol rahasianya kau pencet, pedang kecil itu akan melejit keluar dari ujung pedang dan menusuk korban." Rasa kaget dan tercengang dengan cepat menyelimuti wajah Ji-kaucu, dia terbungkam dan hanya bisa memandang anak muda itu dengan termangu.

Malam ini merupakan kali kedua Bong Thian-gak bertarung melawan Ji-kaucu.

Sesungguhnya yang lebih banyak bahayanya daripada selamat bukan Ji-kaucu, melainkan Bong Thian-gak.

Sebab Bong Thian-gak masih belum mengetahui pasti akan rahasia dan kehebatan pedang Ji-kaucu itu.

Bong Thian-gak memang tidak seharusnya kalah untuk kedua kalinya di tangan Ji-kaucu, namun pada saat itulah Si- hun-mo-li yang berada di dalam tandu kecil sudah mulai membuka matanya.

Bagaikan segulung angin perempuan itu melompat keluar dari balik tandu.

Sepasang matanya yang jeli segera berputar kian kemari sebelum akhirnya berhenti pada tubuh Bong Thian-gak.

"Thay-kun!" bisik Bong Thian-gak.

Ia merasa perempuan itu seperti orang baik, wajahnya cantik, matanya jeli dan manis menawan hati, terutama sekulum senyum manis yang menghiasi wajahnya.

Begitu cantik dan lembut gadis itu, bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Panggilan lembut Bong Thian-gak tentu dapat terdengar olehnya, tapi gadis itu tidak menjawab ataupun menunjukkan suatu perubahan sikap, sekulum senyuman yang menawan masih menghiasi wajahnya.

Sepasang matanya seolah-olah sedang tertawa pula, tampak begitu indah, lembut dan menawan hati. Bong Thian-gak menghela napas lirih, serunya, "Thay-kun, kau tidak kenal aku?"

Senyum dan pancaran sinar mata Si-hun-mo-li semakin memikat, dengan langkah gemulai dia berjalan menghampiri Bong Thian-gak.

Pat-hubuncu yang menyaksikan hal itu menjadi sangat terkejut, segera serunya, "Bong-siangkong, kesadaran otaknya sudah punah ....kau ... kau cepat lari "

Jeritan yang begitu keras dan melengking ini cepat menyadarkan Bong Thian-gak bahwa orang yang dihadapi bukan Thay-kun melainkan Si-hun-mo-li.

Dengan langkah lembut gadis itu makin lama semakin mendekati Bong Thian-gak.

Bong Thian-gak sendiri tidak tahu bagaimana harus menghadapi semua ini, bagaimana tidak? Paras muka gadis itu sama sekali tidak memancarkan rasa gusar ataupun permusuhan, yang ada cuma senyum yang memukau.

Siapa lelaki di dunia ini yang mampu melawan daya pesonanya? Lebih-lebih tiada seorang pun yang tega turun tangan dan menghabisi nyawa seorang gadis yang polos.

"Cepat mundur ... cepat mundur dia akan

membunuhmu," sekali lagi Pat-hubuncu menjerit keras.

Bong Thian-gak terkejut, tanpa sadar ia menggeser langkahnya dan mundur setengah tindak.

Pada saat itulah Si-hun-mo-li dengan gerakan seperti hendak menjatuhkan diri ke dalam pelukannya telah menerjang tiba.

Pada saat yang bersamaan pula Bong Thian-gak dapat melihat betapa merah membaranya telapak tangan kirinya itu, kelima jari tangan yang direntangkan lebar langsung diarahkan ke tubuh bagian bawahnya. Bong Thian-gak benar-benar sangat terperanjat, dia menjatuhkan diri ke belakang, lalu melejit ke samping.

Dengan gerakannya itu, maka serangan Kau-ji-ti-tho (monyet sakti memetik buah Tho) Si-hun-mo-li mengenai tempat kosong.

Padahal selama ini belum pernah ada lelaki di dunia ini yang sanggup melepaskan diri dari cengkeraman tangan mautnya.

Si-hun-mo-li kelihatan agak tertegun, lalu sambil mendongakkan kepala dia tertawa cekikikan, suaranya begitu merangsang membuat napsu birahi orang bangkit.

Siapa pun yang mendengar suara tawa itu, hatinya pasti akan bergejolak, darahnya mendidih dan tanpa sadar akan terbayang kembali adegan hubungan mesra antara laki dan perempuan.

Begitulah di tengah suara cekikikan yang penuh kejalangan, Si-hun-mo-li mulai melepas kancing bajunya dan membentangkannya hingga terbuka lebar.

Yang mengejutkan adalah di balik baju luarnya ternyata ia tidak mengenakan secuwil baju pun, kulit badannya yang putih menawan, serta liukan badannya yang aduhai....

Pokoknya Bong Thian-gak dapat menyaksikan semua bagian rahasia tubuh Si-hun-mo-li secara jelas.

Dengan suatu gerakan cepat mendadak Bong Thian-gak mengegos ke samping, lalu melompat ke sisi tubuh Pat- hubuncu, dengan suatu gerakan cepat ia menyambar pinggangnya dan siap melarikan diri.

Tapi bayangan orang kembali berkelebat, tahu-tahu Si-hun- mo-li sudah mengejar ke muka.

Terpaksa Bong Thian-gak harus bergeser ke samping kiri dan kabur kembali. Tapi untuk kesekian kalinya Si-hun-mo-li kembali mendesak ke muka, kali ini Bong Thian-gak sempat melihat telapak tangan gadis itu sudah muncul di hadapannya, bahkan segulung angin pukulan yang membuat sesak napas menekan ke arah dadanya.

Bong Thian-gak merasa sekujur badannya menjadi dingin, dada kanannya termakan pukulan itu secara telak, saking sakitnya hampir saja tubuh Pat-hubuncu yang berada dalam bopongannya terjatuh ke tanah.

Walaupun Bong Thian-gak sudah termakan oleh pukulan Si- hun-mo-li, namun dia tak sampai roboh, malahan dengan memanfaatkan tenaga pantulan itu dia melejit jauh dan melarikan diri dari sana.

Di tengah kegelapan malam, terdengar suara Ji-kaucu berseru dengan suara bangga, "Wahai Jian-ciat-suseng, kau tak bakal hidup melampaui satu jam lagi, sekarang kau telah termakan sebuah pukulan maut Si-hun-mo-li."

Benar, memang tiada seorang pun di dunia yang mampu menahan serangan maut Si-hun-mo-li, bahkan Ku-lo Hwesio yang termasyhur pun akhirnya tewas setelah terkena pukulan itu tiga tahun berselang.

Sebab pukulan yang melukainya adalah Soh-li-jian-yang- sin-kang yang tiada duanya di dunia ini.

0oo0

Di tengah keheningan yang mencekam, terdengar seorang dengan nada lirih dan lemah berkata, "Siangkong, kau sudah terkena pukulan."

Di bawah sebatang pohon di sisi hutan, duduk bersandar seorang gadis berkerudung berbaju merah.

Di hadapannya berjongkok seorang pemuda berlengan tunggal. "Benar," Bong Thian-gak manggut-manggut, "aku memang sudah terkena pukulannya."

Dua baris air mata bercucuran membasahi wajah Pat- hubuncu yang tertutup kain kerudung, katanya sesenggukan, "Siangkong, gara-gara aku, kau harus mengorbankan nyawamu."

"Aku tak bakal mati!" Bong Thian-gak tersenyum. "Aku tahu, di dunia ini belum ada seorang pun yang

mampu bertahan atas pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang

Buncu."

Sekali lagi Bong Thian-gak mengangguk.

"Benar, Soh-li-jian-yang-sin-kang memang ilmu pukulan hebat."

"Oh, Siangkong," Pat-hubuncu menangis tersedu-sedu, "mengapa kau kabur tadi? Kau kan tahu, kepandaian silat Buncu begitu lihai."

"Sudah kubilang, aku tak bakal mati!" Bong Thian-gak tersenyum.

"Kau membohongi aku."

"Soh-li-jian-yang-sin-kang memang sangat lihai," Bong Thian-gak kembali berkata dengan wajah bersungguh- sungguh, "setiap orang yang terkena pukulannya akan merasa kesakitan pada sekujur badannya, dia akan menggigil kedinginan, wajah memucat dan seluruh kulit badan berkerut kencang, tapi kenyataan aku tetap sehat walafiat sekarang, mengapa kau belum mau percaya?"

Pat-hubuncu segera membuka mata lebar-lebar dan mengamati paras muka Bong Thian-gak dengan seksama, lalu katanya dengan wajah tidak mengerti, "Dengan jelas kulihat dada kananmu terhajar oleh serangannya, mengapa kau " Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Sesungguhnya aku telah berhasil melatih ilmu Tat-mo-khi-kang yang sangat dahsyat, daya serangan Soh-li-jian-yang-sin-kang tak akan mampu melukai isi perutku, itulah sebabnya aku sama sekali tidak terluka tadi."

"Benarkah itu?" Pat-hubuncu kegirangan.

"Aku tidak bermaksud membohongimu, sekarang kau tak perlu kuatir, yang perlu dirisaukan sebenarnya adalah nyawamu sendiri." Pat-hubuncu tertawa rawan.

"Tiada berharga untuk merisaukan nyawaku, karena nyawaku memang tiada harganya."

"Nyawa setiap manusia adalah sama, tidak dibedakan mana yang berharga dan yang tidak. Lepaskan kain kerudungmu, akan kulihat apakah kau keracunan atau tidak."

Pelan-pelan Pat-hubuncu melepas kain kerudungnya, kemudian menjawab, "Perut bagian bawahku terkena pukulan."

Dengan menggunakan sepasang matanya yang mampu melihat dalam kegelapan, ujarnya sambil tertawa, "Wajahmu amat cantik, beruntung sekali kau pun tidak terkena serangan racun Ji-kaucu."

"Ah, Siangkong pandai menggoda orang."

"Ayo kemarilah, kubantu dirimu mengobati luka yang kau derita."

Sambil berkata pemuda itu lantas menempelkan telapak tangan kirinya ke atas perut bagian bawah nona itu, segulung hawa panas segera memancar keluar dari telapak tangannya dan menyusup serta menyebar ke dalam tubuh Pat-hubuncu.

Tindakan yang diambil anak muda itu kontan saja membuat berdebar jantung Pat-hubuncu, merah padam wajahnya lantaran jengah. Selama hidup belum pernah dia berdempetan dengan lelaki mana pun, apalagi telapak tangan Bong Thian-gak menempel di atas perut bagian bawahnya yang merupakan daerah rawan dan menimbulkan napsu birahi.

Dengus napas Pat-hubuncu segera bertambah cepat, dia pejamkan matanya dan hampir lupa dengan rasa sakit yang dideritanya, suatu perasaan yang tak terlukiskan dengan kata- kata segera menyelimuti perasaannya.

Secara diam-diam ia menyambut kenikmatan itu tanpa berkata-kata, sayang sekali keadaan itu tidak berlangsung lama karena Bong Thian-gak menarik kembali tangannya sambil berbisik, "Nah, sudah selesai, keadaan lukamu sekarang sudah tidak membahayakan lagi, kau boleh pulang."

Merah padam wajah Pat-hubuncu, untung saja pada waktu itu malam sangat gelap sehingga keadaannya tidak kentara.

Diam-diam ia menarik napas panjang, "Betul juga, hawa sudah dapat berjalan lancar tanpa hambatan." Hal itu membuatnya sangat kagum.

"Budi pertolongan Siangkong takkan kulupakan untuk selamanya, aku "

"Kau tak perlu memikirkan hal itu dalam hati," tukas Bong Thian-gak sambil menggeleng kepala, "korban yang jatuh pada malam ini cukup besar, hal itu membuat hatiku amat tak enak oya betul! Aku belum bertanya siapa nama nona dan

jabatanmu dalam perguruan Hiat-kiam-bun."

"Aku adalah Pat-hubuncu, sejak kecil sudah mendampingi Cong-hubuncu, dia memanggil aku Siau Gwat-ciu!"

"Selama ini Cong-hubuncu kalian selalu mengosongkan jabatan ketua, kesetiaan kalian benar-benar mengagumkan."

"Siangkong," tiba-tiba Pat-hubuncu bertanya. "Darimana kau tahu tentang asal-usul perguruan Hiat-kiam-bun kami dengan begitu jelas?" Bong Thian-gak tersenyum.

"Gwat-ciu, kau cepat pulang saja, kita pasti akan bersua kembali di masa mendatang, maaf kalau aku harus mohon pamit terlebih dahulu."

Seusai perkataannya, dia lantas pergi dari situ. Tentu saja dia lantas pulang ke kuil Hong-kong-si.

Setelah menempuh perjalanan semalam suntuk, ditambah pula menderita pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Si-hun- mo-li secara telak, kendati tidak mengakibatkan Bong Thian- gak terluka, dia belum lega rasanya sebelum bersemedi barang setengah jam.

Oleh karena itu begitu usai bersemedi dia tertidur nyenyak saking lelahnya.

Ketika ia mendusin beberapa waktu kemudian, suara ketukan pintu bergema dari luar ruangan. "Siapa?" tegurnya kemudian.

"Aku, Hong-hong," suara merdu terdengar dari luar. "Ada urusan apa?"

"Lapor Hwecu," kata Yu Hong-hong dengan merdu, "di luar ada orang mohon berjumpa dengan Hwecu."

Bong Thian-gak terkejut mendengar ucapan itu, tanyanya dengan kening berkerut, "Siapakah dia?"

"Orang itu sudah berada di ruang tamu, dia telah menunggu dua jam lamanya."

Dengan cepat Bong Thian-gak membereskan pakaiannya, lalu membuka pintu, Yu Hong-hong sudah berdiri di luar pintu dengan senyuman aneh menghias bibirnya.

Begitu Bong Thian-gak muncul, dia berbisik, "Hwecu, jodohmu memang sangat baik." "He, Hong-hong! Apa maksudmu?" tanya Bong Thian-gak.

Yu Hong-hong tertawa cekikikan. "Ada seorang gadis yang datang berkunjung, katanya dia tak akan beranjak dari situ sebelum bertemu dengan Hwecu, bayangkan sendiri, bukankah jodoh Hwecu memang amat baik?"

"Seorang gadis? Siapakah dia?" pikir Bong Thian-gak. "Mengapa dia bisa tahu aku berdiam di sini?"

Berpikir demikian, dengan dahi berkerut kencang Bong Thian-gak bertanya lagi, "Dia berasal dari golongan mana?"

"Aku tidak kenal, dia pun tidak mau menerangkan asal-usul perguruannya, tapi wajahnya cantik, potongannya tinggi semampai, pinggangnya langsing lagi."

Mengikut di belakang Yu Hong-hong, Bong Thian-gak menuju ke ruang tamu, dari kejauhan dia sudah melihat seorang gadis tinggi semampai berambut panjang sedang berdiri di depan jendela, ketika mendengar suatu langkah mendekat, ia segera berpaling.

Bong Thian-gak baru benar-benar tertegun sesudah melihat jelas paras muka gadis itu, sebab wajah itu sangat asing baginya dan belum pernah berjumpa sebelumnya.

Gadis cantik itu segera menjura dalam-dalam begitu bertemu pemuda itu, lalu dengan senyum di kulum katanya, "Bong-hwecu, rupanya kedatanganku mengganggu?"

"Ah, mana ... mana " sahut Bong Thian-gak tersenyum,

"silakan duduk, silakan duduk!"

Sementara mulutnya menjawab, dalam hati kembali dia berpikir, "Heran, siapa orang ini?"

Sesudah menempati kursinya, gadis cantik itu baru menundukkan kepala dan berkata agak tersipu-sipu, "Adapun kedatanganku pada hari ini adalah ingin menyampaikan rasa terima kasihku atas pertolongan yang telah Hwecu berikan semalam."

"Oh, rupanya kau adalah Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun," Bong Thian-gak berseru tertahan sesudah mendengar perkataan itu.

Memang benar gadis ini tak lain adalah Pat-hubuncu yang lelah diselamatkan Bong Thian-gak tadi malam.

Sesudah berhenti sejenak, sambil tertawa Bong Thian-gak berkala, "Pat-hubuncu, darimana kau bisa tahu bahwa aku berdiam di sini?"

"Harap Hwecu sudi memaafkan, sesungguhnya telah kukuntit Hwecu secara diam-diam semalam?" sahut Pat- hubuncu agak tersipu.

Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, Pat- hubuncu memang betul-betul cerdas, aku orang she Bong sungguh merasa amat kagum."

Kemudian sambil menunjuk ke arah Yu Hong-hong yang berdiri di sampingnya, ia memperkenalkan, "Dia adalah Hiangcu perkumpulan kami, Hwe-im-eng Yu Hong-hong!"

Buru-buru Yu Hong-hong memberi hormat kepada Pat- hubuncu sambil menyapa, "Pat-hubuncu, baik-baikkah kau?"

Setelah berhenti sejenak, tanyanya lagi sambil tersenyum, "Pat-hubuncu, kunjunganmu sepagi ini tentu bukan khusus menyampaikan rasa terima kasihmu kepada Hwecu kami atas pertolongannya bukan?"

"Ucapan Yu-hiangcu memang benar," Pat-hubuncu manggut-manggut, "kedatanganku ini, di samping hendak menyampaikan rasa terima kasihku atas pertolongan Hwecu, juga kami mendapat perintah untuk mengundang Hwecu agar bersedia mengunjungi perkumpulan kami guna suatu perbincangan." "Pat-hubuncu, bila kau ada persoalan, katakan saja terus terang," ucap Yu Hong-hong dingin.

Pat-hubuncu segera menunjukkan sikap serba susah, katanya kemudian, "Aku hanya mendapat perintah untuk mengundang Bong-hwecu saja."

"Apakah Ji-hubuncu partai kalian yang menyuruh kau datang kemari?" tukas Bong Thian-gak.

Pat-hubuncu menggeleng. "Bukan Ji-hubuncu, tapi Cong- hubuncu."

"Oh, jadi Cong-hubuncu pun sudah tiba di Hopak?" Bong Thian-gak keheranan.

"Benar," Pat-hubuncu manggut-manggut, "dia orang tua memang telah tiba di Hopak."

"Ada urusan apa Cong-hubuncu mencariku?" "Entahlah, soal ini aku sendiri pun tak tahu." "Sekarang dia ada dimana?"

"Aku akan mengajak Bong-hwecu menghadapnya."

"Baiklah," Bong Thian-gak mengangguk, "harap Pat- hubuncu suka menjadi petunjuk jalan."

Tiba-tiba Yu Hong-hong menimbrung, "Pat-hubuncu, aku rasa sebaiknya Cong-hubuncu kalian yang datang ke Hong- kong-si!"

"Sesungguhnya Cong-hubuncu kami mempunyai kesulitan yang tak bisa diungkapkan, mustahil baginya menempuh perjalanan jauh," kata Pat-hubuncu serba susah.

Kontan saja Yu Hong-hong tertawa dingin, "Jadi kau anggap

Hwecu kami bisa menempuh perjalanan jauh semaunya?" "Hong-hong," tiba-tiba Bong Thian-gak menyela, "kau tak usah kuatir, aku akan menjumpai Cong-hubuncu Hiat-kiam- bun itu."

Yu Hong-hong mengangkat kepala dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu katanya, "Bong-hwecu, pihak Hiat-kiam-bun pernah mempergunakan siasat yang amat licik hendak mencelakai Hwecu, menurut pendapatku bisa jadi mereka berniat jelek terhadapmu, apalagi mereka hanya mengundang Hwecu seorang."

"Hong-hong, kau tak usah kuatir," kata Bong Thian-gak sambil menggeleng kepala berulang kali, "kau pun boleh ikut bersamaku."

Pat-hubuncu berkerut kening mendengar perkataan itu, cepat dia menyela, "Bong-siangkong, Ji-hubuncu telah berpesan, mereka hanya mengharapkan kehadiran Bong- siangkong seorang diri."

"Nah, sekarang ketahuan sudah belangnya, bukankah kalian memang berniat jahat terhadap Hwecu kami?" dengus Yu Hong-hong dingin.

Agaknya Pat-hubuncu mengerti bahwa hal itu tak mungkin bisa dipaksakan lagi, maka akhirnya ia menghela napas panjang, "Ai, kalau begitu baiklah, silakan nona ikut bersama kami."

Sebagaimana diketahui, Bong Thian-gak sudah mengetahui jelas asal-usul perguruan Hiat-kiam-bun, dia pun tahu kedatangan Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun untuk menjumpainya tanpa disertai niat jahat.

Dalam pada itu Pat-hubuncu telah bangkit dan berkata lagi, "Siangkong, bila kau tak ada urusan lagi, mari kita segera berangkat!"

"Silakan Pat-hubuncu!" Bong Thian-gak manggut-manggut. Dengan langkah perlahan Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu bersama Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong meninggalkan kuil Hong-kong-si, sepanjang jalan mereka bergerak tanpa berbicara, arah yang dituju mula-mula adalah kota terlarang, tapi di tengah jalan tiba-tiba Siau Gwat-ciu berbelok ke arah tenggara.

"Hei, bukankah kita akan pergi ke kota terlarang?" Yu Hong-hong segera menegur.

Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu tersenyum.

"Jejak Cong-hubuncu perguruan kami tak menentu, setibanya di wilayah Hopak, masa dia akan berdiam dalam rumah penginapan yang begitu gaduh dan bising?"

"Lantas dia berdiam dimana?" tanya Yu Hong-hong dengan kening berkerut.

"Sebentar kau bakal mengetahui."

Yu Hong-hong memang sama sekali tidak mengetahui asal- usul Hiat-kiam-bun, hal itu semakin menimbulkan kecurigaan dalam hatinya, segera ia berbisik kepada Bong Thian-gak, "Hwecu, apakah kita harus mengikutinya?"

"Hong-hong, bukankah kita sudah sampai di sini?" sahut Bong Thian-gak sambil tersenyum, "kalau tidak mengikutinya, kita harus ikut siapa?"

"Tapi... Hwecu, aku sangat kuatir."

"Hong-hong, baiklah kuberitahukan satu hal kepadamu," tukas Bong Thian-gak, "ketahuilah, Cong-hubuncu Hiat-kiam- bun sekarang bisa jadi adalah sahabat karibku di masa lampau, oleh sebab itulah aku perlu menjumpainya."

"Seandainya Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun bukan sahabat seperti yang kau duga lantas bagaimana?" tanya Yu Hong- hong. Tiba-tiba Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu berpaling dan ikut berbicara, "Perkataan Bong Thian-gak rasanya sudah menghilangkan kecurigaan yang semula mencekam Siauli, betul tampaknya Cong-hubuncu kami memang kenal denganmu."

Kembali Bong Thian-gak tersenyum.

"Aku hanya berbicara menurut dugaanku saja, bisa juga Cong-hubuncu kalian bukan orang yang kuduga."

Paras muka Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu segera berubah sesudah mendengar itu, mendadak ia menghentikan langkah seraya berpaling dan berkata, "Siangkong telah menanam budi pertolongan kepadaku, tak nanti Siauli membiarkan Siangkong mendapat ancaman bahaya sekecil apa pun."

"Apa maksud Pat-hubuncu?"

"Andaikata Siangkong adalah sahabat karib Cong-hubuncu kami, maka perjalanan ini jelas tak ada bahaya apa pun, tapi seandainya Cong-hubuncu kami bukan orang yang Siangkong duga, maka bisa jadi Siangkong bakal dicelakai olehnya."

"Mengapa hal ini tidak kau jelaskan sedari tadi?" bentak Yu Hong-hong dengan wajah berubah.

Siau Gwat-ciu menghela napas sedih, "Ai, aku telah mengkhianati Hiat-kiam-bun ... sekali pun kuungkap rahasia itu pada saat ini, rasanya itu pun belum kelewat terlambat, coba Siangkong pikir kembali dengan seksama, apakah kita perlu meneruskan perjalanan ini?"

"Pat-hubuncu tak perlu kuatir," Bong Thian-gak tersenyum manis, "sebelum kuambil keputusan untuk datang kemari, segala sesuatunya telah kupertimbangkan masak-masak, andaikata Cong-hubuncu kalian bukan orang yang kuduga, bisa jadi dia akan berusaha membunuhku sepenuh tenaga serta berusaha melenyapkan seorang musuh tangguh dari muka bumi ini." "Lantas Siangkong tetap bertekad akan berangkat ke sana juga?" tanya Siau Gwat-ciu tertegun.

"Tentu aku harus ke sana," Bong Thian-gak manggut- manggut.

"Bong-hwecu, kita hanya berdua," ujar Yu Hong-hong, "apakah kita harus menelan kerugian? Menurut pendapatku, lebih baik kita

"Hong-hong," tukas Bong Thian-gak lantang, "bila Tiong- yang-hwe kita ingin muncul di Bu-lim, kita wajib menyingkirkan segenap partai atau pun aliran yang memusuhi kita, cepat atau lambat Hiat-kiam-bun pasti akan bertemu Tiong-yang-hwe, andaikata Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun memang bukan orang yang kuduga, maka aku memutuskan untuk melenyapkan organisasi ini terlebih dulu."

Paras muka Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu segera berubah, serunya cepat, "Jago-jago dalam Hiat-kiam-bun kami sangat banyak, terutama Cong-hubuncu kami, boleh dibilang kepandaian silatnya lihai sekali. Kendati Siangkong tangguh dan hebat, namun kekuatannya sangat sedikit."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Aku merasa berterima kasih sekali atas maksud baik Pat- hubuncu yang telah memberi petunjuk dengan bersungguh hati, Tiong-yang-hwe baru beberapa hari didirikan, kami memang tidak memiliki banyak anggota, tapi setiap anggota perkumpulan kami rata-rata memiliki daya tempur kuat dan tangguh serta semangat juang yang sangat tinggi."

Mendengar perkataan itu, diam-diam Siau Gwat-ciu mengagumi keberanian Bong Thian-gak, meski demikian ia masih tetap menaruh perasaan kuatir atas perjalanannya kali ini, kembali ia berkata, "Siauli sudah pernah melihat sampai dimana taraf kepandaian silat Siangkong, kau memang boleh disebut jagoan kelas satu dalam Bu-lim, cuma Bong Thian-gak tak membiarkan perempuan itu melanjutkan kata-katanya, sesudah tertawa dia berkata, "Mari kita lanjutkan perjalanan."

Yu Hong-hong cukup mengetahui watak Bong Thian-gak, setiap persoalan yang telah ditetapkan atau diputuskan, bagaimana pun juga tidak akan pernah diubah, oleh sebab itu dia pun tidak berusaha untuk membujuk, meski di hati ia tetap merasa tidak tenteram.

Sementara itu Siau Gwat-ciu telah melanjutkan perjalanan tanpa bicara, mereka bertiga berjalan lebih kurang setengah jam lamanya sebelum di depan sana muncul sebuah hutan yang mengelilingi sebuah bayangan air beriak.

Yu Hong-hong mengangkat kepala dan memperhatikan sekejap keadaan di depan sana, kemudian bisiknya, "Di depan sana adalah telaga Kun-beng-oh!"

"Ya, Cong-hubuncu kami tinggal di dalam sebuah kuil kecil di tepi telaga itu," Siau Gwat-ciu menyambung.

Selama pembicaraan berlangsung, mereka bertiga telah berjalan ke tengah hutan, di depan sana tampak sebuah kuil kecil.

Suasana di tempat itu amat sepi, hening, tak nampak sesosok bayangan pun, beberapa li di seputar tepi telaga pun tak nampak rumah lain selain kuil itu, tempat itu benar-benar sebuah tempat yang tenang, tersendiri dan berpemandangan alam sangat indah.

Ketika mereka bertiga tiba di depan pintu, tiba-tiba Siau Gwat-ciu berbisik kepada Bong Thian-gak, "Harap Siangkong menanti sebentar, biar Siauli masuk dulu untuk memberi laporan."

"Silakan!" sahutnya Bong Thian-gak manggut-manggut. Dengan langkah ringan dan cepat, Pat-hubuncu Siau Gwat-

ciu segera masuk ke dalam kuil. Sepeninggal Siau Gwat-ciu, Bong Thian-gak segera berpaling dan ujarnya pada Yu Hong-hong, "Hong-hong, saat bertemu Cong-hubuncu nanti, kuminta kau tetap tenang dan jangan membuat keonaran secara gegabah."

"Aku akan turut perintah," gadis itu manggut-manggut.

Meski sudah menyahut, tapi nada suaranya tidak gembira. Baru saja Bong Thian-gak hendak menjelaskan, tampak

Siau Gwat-ciu telah muncul, nona itu berseru, "Siangkong, silakan masuk!"

Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong bersama-sama masuk ke dalam halaman kuil Nikoh yang berpintu empat.

Semua halaman dan ruangan nampak bersih, tiada setitik debu atau pun daun kering yang berceceran di sana, agaknya memang sering dibersihkan orang, hanya anehnya, tak nampak sesosok bayangan pun yang berlalu-lalang di sana.

Pintu ruang pertama terbuka lebar, waktu itu dari dalam ruangan tampak muncul tiga orang, yang berada di tengah adalah seorang rahib setengah umur berwajah kereng dan berwibawa, berkulit putih, bersih dan matanya saleh penuh welas kasih, memancarkan cahaya tajam.

Di samping kanan rahib setengah umur itu berdiri seorang Nikoh tua kurus kering dan berwajah amat jelek.

Sedang di sebelah kirinya seorang gadis berambut panjang yang berwajah terlebih jelek daripada rahib tua itu.

Dengan sorot mata Bong Thian-gak yang tajam, dalam waktu singkat ia telah melihat jelas paras muka ketiga orang itu, wajahnya tetap tenang dan sama sekali tiada luapan emosi, sementara dalam hati ia berpikir, "Ah! Ternyata dia memang Keng-tim Suthay Nyo Li-beng ... sebaiknya tidak kukenali mereka dulu untuk sementara waktu." Dalam pada itu Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun sekalian bertiga, dengan sorot matanya yang tajam sedang mengawasi pula wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip, akhirnya paras muka Keng-tim Suthay Nyo Li-beng memperlihatkan perubahan serius bercampur bingung.

Siau Gwat-ciu dan Yu Hong-hong yang berada di samping dapat melihat pula gerak-gerik dan perubahan wajah orang secara jelas. Perasaan Yu Hong-hong berat sekali, sebab dia tahu Bong Thian-gak bukanlah orang yang dicari Cong- hubuncu, berarti Bong Thian-gak serta Yu Hong-hong akan sulit lepas dari pembantaian.

Sementara semua orang masih termenung, tiba-tiba Bong Thian-gak tertawa ringan, suara tawanya segera menyadarkan semua orang dari lamunan.

Sembari berkata, ia lantas menjura ke arah Keng-tim Suthay Nyo Li-beng, "Aku Bong Thian-gak merasa bangga mendapat undangan Cong-hubuncu."

Seperti baru sadar dari lamunan, Keng-tim Suthay manggut-manggut seraya tertawa, "Tak usah banyak adat, silakan Siangkong masuk ke dalam untuk minum teh."

Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong jalan bersanding, masuk ke ruang dalam, tempat itu merupakan ruang tamu yang luas, di bagian tengah ada beberapa kursi, sementara empat orang gadis berbaju merah berambut panjang siap melayani mereka di samping.

Dengan sorot mata tajam Yu Hong-hong mengawasi sekejap setiap orang yang hadir di sini dengan seksama, yang membuat hatinya agak lega adalah orang-orang itu ternyata tak membawa senjata, penampilan mereka pun tidak menunjukkan sesuatu gejala yang mencurigakan.

Dengan wajah serius Keng-tim Suthay Nyo Li-beng menempati kursinya, sementara empat gadis berbaju merah yang semula berdiri di samping menuangkan secawan air teh bagi Bong Thian-gak berdua.

Setelah suasana hening beberapa saat, barulah Keng-tim Suthay berkata, "Belakangan ini saudara telah menggetarkan dunia persilatan, nama besar Jian-ciat-suseng ibarat guntur yang memekakkan telinga, beruntung Pinni bisa bertemu denganmu hari ini."

Bong Thian-gak tersenyum, "Kau kelewat sungkan, selama Suthay memimpin Hiat-kiam-bun, justru kaulah ibarat naga sakti yang nampak kepala tak kelihatan ekor, aku yang merasa sangat beruntung karena hari ini bisa melihat raut wajah aslimu!"

Keng-tim Suthay tertawa, "Aku rasa Pat-hubuncu perguruan kami tentu sudah menyampaikan maksud Pinni mengundangmu bukan!"

"Pat-hubuncu hanya menyampaikan undangan Suthay saja, soal lain sama sekali tidak disinggungnya, karena itu aku mohon petunjuk darimu," Bong Thian-gak tersenyum.

Dalam pada itu Siau Gwat-ciu telah berdiri di samping bersama keempat gadis berbaju merah lainnya, ia berdiri dengan wajah serius dan dahi bekernyit.

"Ada satu hal ingin Pinni tanyakan," kata Keng-tim Suthay Nyo Li-beng, "dalam perjumpaan kita pertama kali tadi bagaimana mungkin kau bisa mengetahui Pinni adalah Cong- hubuncu Hiat-kiam-bun."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Seorang pemimpin selamanya mempunyai kewibawaan sebagai pemimpin, hal itu tidak sulit untuk diketahui."

Tiba-tiba Keng-tim Suthay menghela napas panjang. "Ai, sebenarnya maksud Pinni mengundangmu tak lain

adalah ingin melihat raut wajah aslimu." "Hanya soal itu?"

"Pinni ingin tahu, apakah Jian-ciat-suseng yang namanya telah menggetarkan seluruh kolong langit ini memang seorang yang pernah kukenal dulu."

"Setelah bertemu, bagaimanakah pendapat Suthay?" Bong Thian-gak bertanya.

Keng-tim Suthay menggeleng kepala, "Rasanya seperti pernah kenal tapi seperti juga tidak kenal."

"Siapa orang yang Suthay maksudkan?" "Dia she Ko bernama Hong."

Ketika mendengar nama itu, hati Yu Hong-hong bergetar keras, hampir saja ia berseru tertahan.

Sepasang mata Keng-tim Suthay memang benar-benar amat tajam, ia segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Yu Hong-hong, kemudian tanyanya, "Lisicu kenal dengannya?"

"Nama besar Ko Hong Tayhiap sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan pada tiga tahun berselang, sayang aku hanya pernah mendengar namanya tapi belum pernah bertemu orangnya," sahut Yu Hong-hong cepat.

"Lapor Suthay," Bong Thian-gak menyambung, "aku kenal dengan manusia yang bernama Ko Hong itu."

Sekilas rasa gembira menghiasi wajah Keng-tim Suthay, tanyanya dengan wajah berseri, "Sekarang dia berada dimana? Bersediakah kau memberitahukan kepadaku?"

Bong Thian-gak termenung sejenak, lalu jawabnya, "Bila Suthay ingin kukatakan jejak Ko Hong, sebenarnya hal itu tidak sulit, tapi pertama-tama ingin kuketahui dulu ada urusan apa Suthay mencarinya?"

Keng-tim Suthay menghela napas panjang. "Ai, bukankah kau sudah tahu, hingga sekarang perguruan kami masih belum mempunyai ketua?"

"Ya, aku memang mengetahui hal ini," pemuda mengangguk.

Sekali lagi Keng-tim Suthay menghela napas, "Sebetulnya Hiat-kiam-bun mempunyai seorang ketua, tapi nasib ketua kami ini belum diketahui, sebab itu jabatan itu selalu kami kosongkan hingga sekarang."

"Bukankah ketua perguruan kalian adalah Si-hun-mo-li?" tanya Bong Thian-gak dengan suara dalam.

Keng-tim Suthay mengangguk, "Kemarin malam kau sudah menyelamatkan jiwa Pat-hubuncu, maka kau pun seharusnya tahu Si-hun-mo-li, ya, betul! Dia adalah ketua Hiat-kiam-bun kami, cuma alasan di balik semua ini tak mungkin bisa aku jelaskan kepadamu."

"Aku mengetahui jelas asal-usul Si-hun-mo-li itu," pelan- pelan Bong Thian-gak, berkata.

Keng-tim Suthay terkejut sekali.

"Kau mengetahui asal-usul Si-hun-mo-li dengan jelas?"

"Ya, bukankah dia adalah Jit-kaucu Put-gwa-cin-kau?" Dengan nada tidak percaya Keng-tim Suthay bertanya lagi,

"Kalau begitu kau pun tahu dia adalah ketua Hiat-kiam-bun?"

"Oleh karena dia adalah pendiri Hiat-kiam-bun, maka kalian mengangkatnya sebagai ketua, bukankah begitu?"

"Betul, Si-hun-mo-li adalah pendiri Hiat-kiam-bun, darimana kau bisa tahu persoalan ini sedemikian jelasnya?"

Bong Thian-gak tersenyum. "Semua ini aku tahu dari Ko Hong." "Ehm, memang masuk akal, kalau begitu kau memang benar-benar kenal Ko Hong Tayhiap." Bong Thian-gak tertawa.

"Suthay, kau belum menjelaskan kepadaku ada urusan apa kau mencari Ko Hong?"

"Ai ... Pinni mencari Ko Hong Tayhiap karena aku ingin dialah yang memangku jabatan sebagai ketua Hiat-kiam-bun," ucap Keng-tim Suthay setelah menghela napas panjang.

Bergetar perasaan Bong Thian-gak mendengar itu, ujarnya, "Ketua Hiat-kiam-bun adalah Si-hun-mo-li, mengapa Suthay mencari Ko Hong untuk diangkat sebagai ketua?"

Untuk kesekian kali Keng-tim Suthay menghela napas panjang, "Padahal ketua Hiat-kiam-bun yang sebenarnya adalah Ko Hong, di saat Si-hun-mo-li mendirikan Hiat-kiam- bun tempo hari, dia telah menunjuk Ko Hong sebagai ketua Hiat-kiam-bun."

Bong Thian-gak segera merasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya mendidih, peristiwa yang terjadi pada tiga tahun berselang pun satu demi satu melintas dalam benaknya.

Ketika ia berhasil menguasai kembali perasaannya, dengan sedih ia berkata, "Sekarang aku ingin menceritakan sebuah kisah kepadamu, ini terjadi pada tiga tahun berselang di sebuah dusun petani di luar kota Kay-hong, dusun petani itu merupakan kantor cabang Put-gwa-cin-kau untuk kota Kay- hong. Pada saat itu segenap jago lihai Put-gwa-cin-kau telah terhimpun, konon mereka hendak menyerang perkampungan Bu-lim Bengcu, padahal bukan gedung Bu-lim Bengcu yang akan diserang, yang menjadi sasaran utama mereka waktu itu adalah seorang pengkhianat perkumpulan yakni Jit-kaucu Thay-kun ....

"Rupanya pentolan barisan pengawal tanpa tanding nomor dua berhasil mendapat kabar bahwa Jit-kaucu Thay-kun masih mempunyai hubungan dengan komandan pasukan pengawal tanpa tanding nomor tiga Nyo Li-beng, bahkan secara diam- diam sedang membentuk organisasi Hiat-kiam-bun yang cara kerjanya menentang Put-gwa-cin-kau, itulah sebabnya Thay- kun menjadi sasaran pembunuhan.

"Cong-kaucu segera mengutus Ji-kaucu dan sekalian jago lihai untuk bersiap di dusun petani itu guna menghabisi nyawa Thay-kun."

Sampai di sini, Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Keng-tim Suthay, setelah itu sambungnya, "Aku yakin Suthay juga mengetahui peristiwa ini bukan? Sebab ketika itu Suthay pernah memberi petunjuk kepada Ko Hong agar berangkat ke dusun petani itu."

"Ya, cepat kau lanjutkan ceritamu!" seru Keng-tim Suthay dengan perasaan sedih gembira bercampur aduk.

Setelah menghembuskan napas panjang, Bong Thian-gak berkata lebih jauh, "Ko Hong serta Jit-kaucu Thay-kun tak bisa menghindar dari pertarungan darah melawan kawanan iblis Put-gwa-cin-kau ... dengan dikerubut musuh yang berjumlah banyak, Thay-kun serta Ko Hong terluka, terutama sesudah terkena racun Ji-kaucu, tapi mereka masih tetap bertarung mati-matian untuk meloloskan diri dari kepungan.

"Thay-kun dan Ko Hong dengan membawa luka segera kabur ke Lok-yang dengan maksud mohon pengobatan tabib sakti Gi Jian-cau, tapi Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau serta komandan pasukan kedua pengawal tanpa tanding telah menunggu kedatangan mereka di kaki bukit Cui-im-hong ... dalam pertarungan itu Ko Hong kehilangan sebuah lengannya dan tertusuk dua puluh luka pedang di badannya.

"Dalam keadaan terluka parah, beruntung Ko Hong mendapat pertolongan dari seorang gadis lemah sehingga mendapatkan kembali nyawanya, tiga tahun ... ya ... tiga tahun kemudian, Ko Hong kembali muncul dalam Bu-lim, akan tetapi situasi dalam Bu-lim telah berubah." Bicara sampai distu, Keng-tim dan sekalian anggota Hiat- kiam-bun menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, semua orang mendengarkan penuturan Bong Thian-gak itu dengan air mata bercucuran.

Ketika menyaksikan semua orang berlutut, dengan terkejut Bong Thian-gak segera menegur, "Suthay, mengapa kalian?"

Dengan kesedihan luar biasa Keng-tim Suthay berkata, "Buncu, sudah amat lama kami mencarimu! Tiga tahun belakangan ini, setiap saat kami selalu mencari jejakmu, ternyata Thian melindungi Hiat-kiam-bun, akhirnya kami berhasil menemukan kembali ketua kami." 

"Ayo bangun, ayo bangun semua, kalau ada urusan, mari kita rundingkan baik-baik," seru Bong Thian-gak berulang kali.

Sambil berkata, pemuda itu segera membangunkan Keng- tim Suthay sambil berkata, "Memang benar, akulah Ko Hong, tapi Ko Hong bukan nama asliku, wajah yang kalian jumpai sebagai Ko Hong dahulu pun bukan wajah asliku."

Ketika Keng-tim Suthay dan semua orang sudah duduk kembali, si gadis jelek baru berseru merdu, "Ketua, kau benar- benar telah menipu kami habis-habisan, kita sudah berjumpa beberapa kali, namun tak pernah kusangka kau adalah ketua Ko Hong yang sedang kami cari-cari siang dan malam, ai! Aku merasa gembira sekali."

"Nona," kata Bong Thian-gak sambil tertawa, "andaikata kau tidak berkerudung hitam, asal-usul Hiat-kiam-bun pasti sudah dapat kuduga sejak semula."

Si gadis jelek tertawa cekikikan.

"Justru karena Hiat-kiam-bun belum menemukan ketuanya, maka kami malu berjumpa orang dengan wajah asli, itulah sebabnya kami selalu menggunakan kain kerudung hitam." Bong Thian-gak menghela napas," Ai, di bawah bimbingan ibumu, Hiat-kiam-bun sudah cukup menggetarkan dunia persilatan, hasil yang diperoleh pun sudah bagus sekali."

"Ketua, selanjutnya segala masalah yang menyangkut Hiat- kiam-bun adalah menjadi wewenang ketua, kami semua akan mengikuti perintah ketua," ucap Keng-tim Suthay dengan sikap hormat.

Bong Thian-gak termenung sambil berpikir sejenak, kemudian dia baru berkata, "Ternyata Thay-kun menunjuk aku untuk menjabat ketua Hiat-kiam-bun, kejadian ini benar-benar di luar dugaanku, bila tugas dan beban yang amat berat ini harus kupikul sendiri, sesungguhnya aku akan kepayahan, ai... kekuatan yang ada di Bu-lim sekarang tercerai-berai dan masing-masing menempuh jalan sendiri-sendiri, kita kaum pemegang kebenaran apabila tak dapat bersatu-padu, memang sulit rasanya untuk menghadapi kenyataan, baiklah! Kalau begitu akan kuterima jabatan ini."

0oo0

Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak ternyata ketua Hiat-kiam- bun, kejadian itu benar-benar merupakan suatu kejadian yang tak pernah disangka sebelumnya.

Tiba-tiba Keng-tim Suthay berkata, "Cho-ji cepat ambil keluar Pek-hiat-kiam."

"Baik!" si gadis jelek mengiakan.

Dengan cepat ia masuk ke ruang dalam, tak lama kemudian gadis itu telah muncul kembali sambil membawa sebilah pedang, sarung pedangnya terbuat dari batu pualam hijau, cukup dilihat dari sarungnya saja sudah dapat diketahui benda itu adalah sebilah pedang yang tak ternilai harganya.

Setibanya di depan Keng-tim Suthay, dengan sikap yang sangat menghormat gadis itu menyerahkan pedang tadi kepada ibunya. Dengan memegang pedang tadi, Keng-tim Suthay berkata kepada

Bong Thian-gak, "Pek-hiat-kiam ini merupakan tanda kepercayaan ketua Hiat-kiam-bun, harap ketua sudi menerima pedang ini."

Ketika Bong Thian-gak menerima Pek-hiat-kiam itu, sekali lagi Keng-tim Suthay sekalian menjatuhkan diri berlutut seraya berkata, "Ketua, Tecu sekalian siap menerima perintah."

Bong Thian-gak tidak mengira semua orang bakal berlutut di hadapannya, buru-buru dia berkata, "Ayo cepat, semua bangun, harap kalian tak usah banyak adat."

Sesudah mendengar perkataan itu, Keng-tim Suthay sekalian baru bangkit.

Dengan suara dalam Bong Thian-gak berkata lagi, "Hari ini, aku baru pertama kali memangku jabatan yang amat berat ini, oleh sebab aku kurang jelas terhadap semua orang dan persoalan yang ada di sini, maka aku perintahkan Keng-tim Suthay agar tetap memimpin dan memberi petunjuk kepada segenap anggota partai."

"Terima perintah," Keng-tim Suthay berkata dengan hormat.

"Tentang jabatan dan sebutan segenap anggota untuk sementara waktu masih tetap berlaku seperti keadaan semula," Bong Thian-gak menambahkan.

Tiba-tiba Yu Hong-hong bertanya, "Lapor Bong-hwecu, bagaimana selanjutnya dengan nasib saudara-saudara kita dalam Tiong-yang-hwe?" Bong Thian-gak tersenyum.

"Jumlah anggota Tiong-yang-hwe kita baru enam orang, kecuali aku dan Long Jit-seng, hanya Hui-eng-su-kiam kalian berempat saja, karena itu bila kalian berempat tidak merasa keberatan, mari kuajak kalian untuk masuk menjadi anggota Hiat-kiam-bun saja." Dengan sorot mata mengandung nada cinta, Yu Hong-hong menyambut lirih, "Hui-eng-su-kiam sudah bertekad akan mengikuti Bong-hwecu, biar badan hancur, biar harus naik ke bukit golok atau terjun ke kuali minyak mendidih, kami tak akan menampik."

"Adikku dari keluarga Yu," tiba-tiba si nona jelek tertawa cekikikan, "sejak hari ini, kau mesti menyebut ketua kita sebagai Bong-buncu."

"Ah, betul, Bong-buncu!" Yu Hong-hong tertawa.

Bong Thian-gak bertanya kepada Keng-tim Suthay, "Tolong tanya Suthay, bagaimana dengan keadaan perguruan kita?

Dapatkah Suthay menerangkan secara ringkas?"

Keng-tim Suthay segera mengeluarkan sejilid kitab kecil dari dalam sakunya, kemudian berkata, "Kitab kecil ini mencantumkan semua nama jabatan dan kedudukan anggota kita, silakan Buncu memeriksanya."

Setelah Bong Thian-gak menerima daftar anggota Hiat- kiam-bun itu, Keng-tim Suthay berkata lebih jauh, "Secara garis besarnya, susunan perguruan kita terbagi dalam sembilan wakil ketua setelah ketua sendiri, di bawah setiap wakil ketua adalah anggota perguruan, semua anggota berjumlah seratus delapan orang, tapi dengan kematian tiga puluh orang akhir-akhir ini, mungkin jumlah kita tinggal tiga puluh orang."

Bong Thian-gak menghela napas sedih.

"Ai, kemarin malam saja kita sudah kehilangan belasan orang anggota, semoga saja selanjutnya tiada anggota Hiat- kiam-bun yang menjadi korban lagi."

Belum habis perkataan itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang setengah li di luar gedung. Dengan wajah berubah Keng-tim Suthay berseru, "Di luar sana telah terjadi peristiwa, Khi Cho (si nona jelek) cepat kau periksa!"

"Jeritan ngeri tadi suaranya tinggi melengking dan amat menusuk pendengaran," kata Bong Thian-gak dengan suara dalam, "jelas jeritan orang menjelang kematian."

Belum habis ia berkata, dari kejauhan sana kembali berkumandang dua kali jeritan ngeri yang memilukan hati, dari suaranya, jeritan-jeritan itu berasal dari kaum wanita.

"Biar Pinni pergi melihat keadaan!" buru-buru Keng-tim Suthay berseru.

Sebelum ia bergerak, sesosok bayangan orang telah berkelebat masuk dari luar, tahu-tahu Khi Cho sudah melayang masuk sambil berseru dengan gelisah, "Orang-orang Kay-pang telah menyerbu sampai di luar hutan Ang-hong-lim."

"Berapa orang yang datang?" tanya Keng-tim Suthay. "Hanya empat orang, tapi salah seorang di antaranya

berilmu silat sangat hebat, ketika memasuki hutan Ang-hong-

lim, dalam waktu singkat dia telah membabat habis tujuh orang penjaga kita yang ditempatkan di atas pohon."

Dengan wajah berubah Bong Thian-gak berseru, "Cepat turunkan perintah, lepaskan musuh masuk kemari."

"Anggota perguruan kita sama sekali tak bermaksud menghalangi jalan mereka," kata Khi Cho gelisah, "tapi musuh berhati kejam dan buas, satu per satu dia telah menghabisi anggota kita yang bersembunyi di pohon."

Mendengar perkataan ini, secepat sambaran petir Bong Thian-gak meluncur keluar dari ruang kuil.

Keng-tim Suthay segera menyusul di belakangnya. Gerakan Bong Thian-gak sangat cepat, badan bergerak seakan-akan melayang di atas dahan pohon, dalam waktu singkat pemuda itu sudah mencapai puluhan tombak jauhnya.

Pada saat itulah kembali terdengar jeritan ngeri yang memilukan bergema dari depan sana.

Bong Thian-gak kembali berjumpalitan dan meluncur ke depan, kebetulan sekali tampak segulung bayangan orang menggelinding lewat dari tepi pohon, lalu "Blak", terkapar

di depannya.

Ternyata bayangan itu adalah perempuan berkerudung merah.

Gadis itu terkapar lemas di atas tanah, sebilah pisau kecil yang amat tipis menancap di tenggorokannya, darah masih meleleh, tapi jiwanya sudah melayang.

Sepasang mata Bong Thian-gak segera berubah menjadi merah berapi-api karena gusar, pelan-pelan dia bergerak ke depan sambil melakukan pencarian.

Akhirnya sorot mata itu berhenti di depan sana, terhenti pada sepasang kaki yang berdiri kaku di atas tanah.

Pelan-pelan pula sorot mata Bong Thian-gak beralih dari sepasang kaki itu bergerak naik ke atas.

Di depan sana berdiri seorang berbaju hitam yang kurus kering.

Dia berjubah panjang warna hitam, lengan baju kanannya berkibar terhembus angin, rupanya seorang berlengan tunggal.

Paras muka orang berlengan tunggal itu dingin kaku, sama sekali tidak menunjukkan hawa kehidupan, namun sepasang matanya yang bulat besar justru memancarkan sinar tajam yang menggidikkan. Sementara itu Keng-tim Suthay sudah memburu ke tempat itu.

Pada saat bersamaan dari balik pohon di belakang orang baju hitam berlengan tunggal itu muncul lagi tiga orang lelaki berpakaian pengemis berwarna hitam, mereka bertiga berdiri berjajar di belakang orang berlengan tunggal itu.

Dengan seksama Bong Thian-gak mengawasi paras muka orang berlengan tunggal itu, katanya dalam hati, "Ah, dia! To- pit-coat-to Liu Khi!"

Pada saat itulah orang berbaju hitam berlengan tunggal itu tertawa terkekeh-kekeh, katanya, "Cepat amat gerakan tubuh saudara, hehehe, mungkin kau adalah Jian-ciat-suseng!"

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Kalau begitu, kau pastilah To-pit-coat-to Liu Khi!"

Tatkala Liu Khi mendengar Bong Thian-gak menyebut namanya, dia kelihatan agak tertegun, tapi kemudian sahutnya sambil tertawa, "Lihai, sungguh amat lihai, tidak heran Han Siau-liong memujimu setinggi langit."

Dalam pada itu Khi Cho dan Yu Hong-hong serta Siau Gwat-ciu sekalian telah tiba di sana.

Sejak Keng-tim Suthay tahu musuh adalah jago lihai nomor dua Kay-pang, si golok sakti berlengan tunggal Liu Khi, dengan cepat dia perintahkan kepada Khi Cho sekalian agar mundur.

Sementara itu Bong Thian-gak telah berkata dingin, "Menurut cerita orang persilatan, Liu Khi adalah manusia berhati kejam dan gemar membunuh, setiap golok terbangnya dilepas, tentu akan mematikan lawan, ternyata nama besarmu memang bukan nama kosong."

Liu Khi tertawa seram, "Mana, mana! Semuanya ini hanya berkat kasih sayang sobat-sobat persilatan saja." Bong Thian-gak tertawa dingin.

"Sebenarnya aku berusaha menghindari bentrok secara langsung dengan pihak Kay-pang, tapi anggota Kay-pang kelewat sombong dan jumawa, oleh sebab itu terpaksa aku menanggapi secara wajar."

Liu Khi mendengus dingin, "Hm, Liu Khi sudah membunuh beribu-ribu orang, selama ini tak pernah kukerutkan dahi, tapi untuk membunuhmu hari ini, aku merasa sedikit rada sayang."

Bong Thian-gak kembali tertawa dingin, "Walaupun engkau selalu menjadi panglima yang menang perang, tapi aku percaya hari ini kau akan menghadapi suatu cobaan yang sangat berat."

"Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau juga pernah berkata seperti apa yang kau katakan sekarang," kata Liu Khi.

"Tapi kau tak mampu membunuh Ji-kaucu," jengek Bong Thian-gak.

"Dia adalah satu-satunya orang yang bisa lolos dari ujung golokku dalam keadaan selamat."

"Tapi hari ini akan ada orang kedua."

Liu Khi menarik muka, kemudian berkata, "Kedatanganku hari ini sedang mengemban tugas lain, pertarungan di antara kita lebih baik ditunda sampai hari mendatang."

"Aku ingin tahu, apa tujuanmu datang ke Kun-beng-oh?" kata Bong Thian-gak.

"Aku datang untuk mencari ketua Hiat-kiam-bun." "Ada urusan apa kau mencarinya?"

"Akan kutanya dimanakah Long Jit-seng saat ini." "Kau tahu siapakah ketua Hiat-kiam-bun?" Liu Khi mengalihkan sorot matanya yang tajam dan menggidikkan ke wajah Keng-tim Suthay yang berdiri di sebelah kanan, kemudian ujarnya, "Sepanjang hidupku, aku Liu Khi paling membanggakan daya penciuman, daya penglihatan, serta daya pendengaran yang kumiliki, dia adalah ketua Hiat-kiam-bun."

Bong Thian-gak tertawa seram, "Hanya bermaksud mencari tahu persoalan orang lain saja kau telah pamer kekuatan dengan membunuh anggota Hiat-kiam-bun, cara keji dan busuk ini sungguh membuat orang gusar."

"Sejak tiga tahun lalu, pihak Hiat-kiam-bun sering turun tangan keji terhadap anggota perkumpulan kami," ujar Liu Khi dengan suara hambar, "kekejaman dan kebuasan mereka rasanya jauh lebih busuk dari perbuatan yang dilakukan kami."

Ucapan Liu Khi itu kontan membuat paras muka Keng-tim Suthay serta Khi Cho yang berada di sisinya berubah hebat.

Tiba-tiba Bong Thian-gak teingat akan peristiwa yang berlangsung tiga tahun berselang, saat itu Khi Cho telah membunuh anggota Kay-pang secara keji.

Waktu itu pihak Kay-pang telah mengirim orang melakukan penyelidikan, atas hasil kerja tiga orang Huhoat Kay-pang, mereka beranggapan Khi Cho merupakan orang yang paling mencurigakan, sebab itu mereka menyusul sampai ke kuil Keng-tim-an.

Pada saat Khi Cho melakukan pembantaian atas jago-jago Kay-pang guna melenyapkan jejak mereka, alhasil ketiga orang pelindung hukum Kay-pang itu turut terbunuh.

Atas persoalan ini, Bong Thian-gak boleh dibilang mengetahui dengan amat jelas, oleh sebab itu hatinya menjadi terperanjat mendengar Liu Khi menyinggung kembali masalah itu, ia tidak tahu dengan cara apakah pihak Kay-pang berhasil menyelidiki masalah itu sedemikian jelasnya. Dalam pada itu Liu Khi telah mengalihkan sorot matanya yang tajam ke wajah Bong Thian-gak, Keng-tim Suthay dan Khi Cho secara bergantian, lalu katanya, "Kay-pang bisa membedakan antara budi dan dendam secara jelas, belum pernah kami melepas orang yang punya dendam dengan kami, permusuhan antara Hiat-kiam-bun dan Kay-pang pada hakikatnya makin lama semakin mendalam."

Bong Thian-gak tertawa dingin, katanya, "Bila Hiat-kiam- bun ingin merebut nama dan kedudukan dalam Bu-lim, maka cepat atau lambat pasti akan bermusuhan juga dengan pihak Kay-pang."

"Kalau memang begitu, mengapa kau menuduh aku membunuh sembilan orang anggota Hiat-kiam-bun?" tanya Liu Khi sambil tertawa seram.

"Liu Khi," Bong Thian-gak segera menukas, "percuma kita banyak bicara, bersiap-siaplah kau menyambut jurus pedangku!"

Sementara itu Bong Thian-gak dengan Pek-hiat-kiam terhunus di tangan tunggalnya, selangkah demi selangkah bergerak maju, siap melancarkan serangan.

"Tunggu dulu!" bentak Liu Khi.

"Hm, ibarat panah yang sudah direntangkan di atas gendewa, mau tak mau harus kulepaskan juga."

Liu Khi mundur selangkah, kemudian bentaknya, "Bila burung bangau dan kutilang saling bertarung, nelayanlah yang bakal beruntung, apakah kau tidak kuatir orang-orang Hiat- kiam-bun bakal merebut keuntungan dari pertarungan kita."

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Liu Khi, kau salah besar, akulah Hiat-kiam-buncu!"

Hati Liu Khi bergetar keras mendengar itu, mimpi pun dia tak mengira Jian-ciat-suseng bukan lain adalah ketua Hiat- kiam-bun. Tiba-tiba ia lihat sekilas cahaya pedang, seperti terbitnya sang surya di ufuk timur, memercikkan cahaya kemerahan- merahan yang amat menyilaukan mata.

Ternyata Bong Thian-gak telah melolos Pek-hiat-kiam sambil melancarkan sebuah bacokan.

Sejak terjun kembali ke dalam Bu-lim, baru pertama kali ini Bong Thian-gak melancarkan serangan lebih dulu terhadap musuhnya.

Latihan tekun selama tiga tahun membuat ilmu pedang Bong Thian-gak mencapai puncak kesempurnaan, serangan pedangnya boleh dikata disertai kekuatan yang sangat mengerikan.

Liu Khi terhitung jagoan lihai kelas satu di Bu-lim saat ini, sudah barang tentu ia cukup tahu kelihaian serangan itu.

Diiringi jeritan kaget, tubuh Liu Khi melejit ke tengah udara.

Pada saat itulah tiga titik cahaya tajam tiba-tiba meluncur secara beruntun ke depan.

Daya serangan ketiga titik cahaya putih itu sedemikian cepatnya, seakan-akan melebihi cahaya pedang berwarna merah darah itu.

Semua gerakan ini boleh dibilang tidak berselisih banyak, kalau dibilang berselisih, maka selisih itu hanya beberapa detik saja.

Di tengah seruan kaget, terdengar jeritan ngeri yang menyayat hati, bayangan orang segera bergeser.

Tiga batok kepala anggota Kay-pang menggelinding ke atas tanah, tiga sosok tubuh tanpa kepala sambil menyemburkan darah segera roboh ke atas tanah.

Di pihak lain, Khi Cho sudah tergeletak di atas tanah. Bahu sebelah kanan Keng-tim Suthay juga berlumuran darah, dengan langkah sempoyongan ia berjalan menghampiri Khi Cho.

Bong Thian-gak dengan pedang disilangkan di depan dada, berdiri dengan wajah penuh gusar, sepasang matanya melotot besar mengawasi Liu Khi yang berada di hadapannya.

Waktu itu, Liu Khi berdiri dengan wajah sedih dan kecewa, dia hanya berdiri kaku di tempat tanpa berkutik.

Di saat Liu Khi menghindarkan diri dari serangan Bong Thian-gak tadi, dia telah melepaskan tiga buah golok terbang yang masing-masing menyerang Bong Thian-gak, Keng-tim Suthay serta Khi Cho.

Nama besar Liu Khi sudah menggetarkan dunia persilatan, ilmu sakti golok terbang boleh dibilang tak pernah meleset dari sasaran selama ini, tapi kenyataannya pisau terbang itu tidak memperlihatkan kelihaiannya di depan Bong Thian-gak.

Di saat Bong Thian-gak menghindarkan diri dari serangan pisau terbang tadi, secara beruntun Pek-hiat-kiam berhasil pula membinasakan tiga orang anak buah Liu Khi.

Dua pisau terbang Liu Khi yang lain agaknya tidak menghasilkan apa-apa. Keng-tim Suthay hanya terkena bahu kanannya, sedang Khi Cho roboh terkena pisau terbang.

Karena serangannya meleset dari sasaran yang dikehendaki itulah Liu Khi merasa kecewa bercampur terkejut.

Sebaliknya Bong Thian-gak sendiri pun dibuat terperanjat oleh kelihaian Liu Khi dalam melepaskan pisau terbang.

Dengan kepandaian silat yang begitu lihai seperti Keng-tim Suthay, ternyata ia berhasil dipecundangi juga, peristiwa ini benar-benar membuatnya merasa terkesiap.

Mendadak Liu Khi memperdengarkan suara tawa panjang yang membetot sukma, menyusul tubuhnya segera melejit ke atas dahan pohon. Bentakan dan hardikan marah bergema di sana sini, para anggota Hiat-kiam-bun yang bersembunyi di seputar sana serentak muncul dan menghadang jalan perginya.

Tiba-tiba Bong Thian-gak berseru, "Segenap anggota Hiat- kiam-bun harap mundur, biarkan musuh pergi dari sini."

Dari kejauhan sana terdengar suara Liu Khi berkumandang, "Jian-ciat-suseng, di kemudian hari aku pasti akan minta petunjuk ilmu pedangmu yang sangat lihai itu."

Sementara bicara, bayangan Liu Khi tahu-tahu sudah lenyap.

Dengan cepat Bong Thian-gak menarik kembali pedangnya, lalu berjalan ke sisi Khi Cho.

Waktu itu Khi Cho sudah tergeletak dalam pangkuan Keng- tim Suthay tanpa bergerak, sebilah pisau terbang kecil telah menancap di tenggorokannya, darah mengucur membasahi sekujur tubuhnya.

Para anggota Hiat-kiam-bun maupun Keng-tim Suthay sendiri sama-sama berdiri dengan air mata bercucuran.

Bong Thian-gak maju mendekat, kemudian tanyanya, "Bagaimana keadaan Khi Cho?"

"Jantungnya telah berhenti berdenyut, ia sudah meninggal dunia," sahut Keng-tim Suthay pedih.

Bong Thian-gak segera memegang urat nadi tangan kiri Khi Cho, setelah diperhatikan beberapa saat, tiba-tiba katanya, "Dia belum tewas!"

Sembari berkata, tiba-tiba Bong Thian-gak mengayunkan telapak tangan kanannya menghantam dada Khi Cho.

Jeritan ngeri yang menyayat hati segera berkumandang dari mulut Khi Cho. Pisau terbang kecil yang menancap di tenggorokannya itu segera terpental keluar, menyusul tersembur darah yang amat deras.

Cepat Bong Thian-gak berseru kembali, "Segera kau totok jalan darah Keng dan Tiong-mehnya, cegah, jangan sampai banyak darah mengalir keluar."

Sebenarnya Keng-tim Suthay menyangka putri kesayangannya telah tewas, mendengar perkataan itu, jari tangannya segera bergerak menotok dua jalan darah penting di tubuh Khi Cho itu, darah pun segera berhenti mengalir.

"Sekarang totoklah jalan darah tidurnya, ai, seandainya pisau terbang itu bergeser sedikit saja lebih ke atas, niscaya nyawa Khi Cho sudah melayang, sekarang suruh orang menggotongnya masuk untuk beristirahat."

Keng-tim Suthay menurut dan segera menotok jalan darah tidur Khi Cho. Siau Gwat-ciu dan Yu Hong-hong segera maju pula ke depan untuk membopong tubuh si gadis jelek.