Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 11

 
Jilid 11

Pemuda kurus bertahi lalat yang duduk di sisinya segera menyahut sambil tertawa, "Yu-sumoay, masa kau tidak tahu? Kedua orang itu adalah Si-hun-mo-li (Iblis perempuan pembetot sukma) dan Jian-ciat-suseng."

"Tio-toako," kembali si gadis berbaju merah bertanya manja. "Konon Jian-ciat-suseng sudah sampai di ibukota, ada urusan apa orang itu mendatangi kota terlarang?"

"Konon Jian-ciat-suseng mengejar Si-hun-mo-li, karena iblis perempuan ini berada di ibukota, padahal bukan hanya Jian- ciat-suseng saja yang sudah sampai di Hopak, konon segenap jago lihai secara berbondong-bondong sudah datang ke wilayah Hopak sini."

"Ada urusan apa para jago Bu-lim berkumpul di ibukota?" "Apalagi? Tentu saja karena Si-hun-mo-li dan Jian-ciat-

suseng," sahut pemuda kurus itu tertawa.

"Ah, apa maksudmu?" seru gadis berbaju merah itu terkejut. Tiba-tiba pemuda kurus itu berpaling dan memandang sekejap ke arah meja di sudut kiri ruangan, lalu katanya dengan lantang, "Hanya tiga bulan Jian-ciat-suseng muncul di Bu-lim, berbagai jago lihai dari berbagai perguruan besar telah keok di tangannya, orang bilang, pohon tinggi mengundang datangnya angin, nama termasyhur mengundang datangnya bencana, maka para jago persilatan berbondong-bondong datang ke ibukota untuk membalas dendam atau ingin merobohkannya sehingga sekali gebuk memperoleh nama besar."

Sampai di sini pemuda kurus itu berdehem pelan, entah sengaja atau tidak dia kembali mengalihkan sorot matanya ke meja sebelah kiri. Ternyata di tempat itu duduk pemuda berlengan buntung dan berbaju hitam, dia berdandan seorang sastrawan, namun sebilah pedang tersoreng di pinggangnya.

Mendadak gadis berbaju merah itu berkata lagi, "Tio-toako, menurut pendapatmu dapatkah Jian-ciat-suseng mengalahkan begitu banyak jago persilatan?"

Pemuda kurus tersenyum.

"Menurut penilaianku, ilmu silat Jian-ciat-suseng sudah terhitung wahid di kolong langit, mana mungkin kawanan jago yang mencari gara-gara padanya mampu menyambut sebuah serangannya?"

Baru saja dia berkata, mendadak dari sisi meja sebelah kanan terdengar suara orang berseru sambil tertawa dingin tiada henti.

"Hehehe, boleh saja Hui-eng-su-kiam tak mampu menerima satu gebrakan Jian-ciat-suseng, namun orang lain tidaklah demikian."

Ucapan itu seketika membuat paras pemuda perlente dan gadis berbaju merah itu berubah hebat sehingga mereka bersama-sama berpaling ke arah meja di samping mereka.

Di situ duduk seorang kakek dan seorang pemuda.

Yang tua berperawakan kurus dan hitam dengan baju berwarna hitam, jenggot kambingnya panjang dan sepasang matanya macam mata ikan, berkedip tajam, jelas tenaga dalamnya telah sempurna.

Sedang yang muda berpakaian perlente dengan sebilah pedang berwarna kuning emas tersoreng di pinggangnya, tampan dan gagah, cuma sayang di antara kerutan dahinya terbayang setitik hawa cabul.

Suara tertawa seram tadi tak lain berasal dari pemuda berbaju perlente itu. Serentak Hui-eng-su-kiam melompat bangun, hawa amarah menyelimuti sekujur wajah mereka dalam waktu singkat, pertarungan sengit bakal berlangsung di tengah ruangan itu.

Pada saat itulah mendadak dari tengah ruangan berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring, kemudian dari sudut ruangan sebelah utara pelan-pelan berjalan keluar sastrawan berbaju biru yang berusia tiga puluh tahun.

Orang ini memiliki wajah kereng dan lamat-lamat memancarkan kewibawaan besar.

Ketika sastrawan buntung yang duduk di sudut kiri menyaksikan kemunculan sastrawan yang mengenakan baju biru itu, paras mukanya berubah hebat, hampir saja dia berteriak.

Dengan tergelak nyaring sastrawan berbaju biru itu mengambil tempat duduk di depan kursi Hui-eng-su-kiam, kemudian berkata, "Hui-eng-su-kiam, mari! Aku orang she Thia ingin memperkenalkan kalian, Su-hiap yang duduk di kursi utama itu tentunya Siaucengcu dari perkampungan Kim- liong-kiam-san-ceng yang berjuluk Kiu-liong-sin-kiam (Pedang sakti sembilan naga) Mo Siau-pak."

"Sedangkan yang tua adalah Congkoan dari Kim-liong- kiam-san-ceng (perkampungan pedang naga emas) yang

berjuluk Hek-kut-siu (Kakek tulang hitam) Siangkoan-lotoa "

Begitu sastrawan berbaju biru itu menyebutkan nama-nama itu, tak sedikit sorot mata yang dialihkan ke sana.

Setelah diperkenalkan, agaknya Hui-eng-su-kiam terpengaruh oleh nama besar lawan, paras mereka pelan- pelan berubah agak lembut.

Kim-liong-kiam-san-ceng merupakan keluarga persilatan yang termasyhur di Bu-lim, nama besar mereka sudah merata di wilayah utara sungai Kuning. Bahkan boleh dibilang setiap orang tahu di wilayah itu terdapat Kim-liong-kiam-san-ceng yang dikepalai Im-tiong- liong (Naga di balik mega) Mo Hui-thian.

Begitu lihainya ilmu pedang tokoh sakti ini sehingga orang menyebutnya sebagai Bu-lim-te-it-kiam (Jago pedang nomor wahid dunia persilatan).

Pemuda berbaju perlente itu yang bernama Mo Siau-pak agaknya tak berani menunjukkan sikap angkuh ataupun tinggi hati terhadap sastrawan berbaju biru itu, dengan cepat dia melompat bangun dan berkata sambil tertawa terbahak- bahak, "Hahaha, kukira siapa, sungguh tak disangka Im-ciu- tay-ji-hiap Thia Leng-juan adanya."

"Mana ... mana ... aku orang she Thia baru saja datang ke ibukota dan dimana-mana kujumpai teman-teman lama, nampaknya di sini akan terjadi sebuah pertemuan puncak para jago."

Mo Siau-pak tertawa dingin.

"Hm, apa sebabnya berbagai jago berdatangan ke kota terlarang, aku rasa tak usah dibilang pun semua orang sudah tahu dengan jelas."

Sembari berkata, dia mengangkat kepala dan menengok ke arah sudut selatan.

Siapa tahu Jian-ciat-suseng yang duduk di tempat itu, entah sedari kapan sudah pergi meninggalkan tempat itu.

Berubah hebat paras Mo Siau-pak, dengan cepat dia melompat bangun, kemudian serunya, "Thia-heng, maaf aku tak bisa menemani lebih lama."

Agak tergopoh-gopoh dia berlalu dari ruangan itu.

Ketika melihat Mo Siau-pak beranjak pergi, kakek berbaju hitam itu tanpa berbicara sepatah kata pun turut menguntit di belakangnya meninggalkan ruangan. Hui-eng-su-kiam yang menyaksikan kejadian itu, dalam hati segera mengerti apa sebabnya Mo Siau-pak pergi meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa, dengan cepat mereka berempat saling bertukar pandang sekejap, lalu katanya kepada Thia Leng-juan, "Kami pun ingin segera mohon diri."

Hui-eng-su-kiam buru-buru keluar ruangan dan menyusul di belakang Mo Siau-pak.

Ketika Mo Siau-pak dan Siangkoan-lojin menyusul keluar dari Hong-tok-ciu-lau, terlihat sesosok bayangan hijau dengan ujung lengan baju kanan berkibar terhembus angin sedang bergerak di depan.

Sambil tertawa dingin, Mo Siau-pak mempercepat langkahnya dan mengejar dari belakang.

Siapa tahu kendati sudah menyusul sampai keluar kota, namun Mo Siau-pak belum juga berhasil mengejar orang itu.

Sasaran yang sedang mereka kejar masih tetap berjalan lambat, lebih kurang tiga puluh depa di depan sana.

Mo Siau-pak segera mendengus dingin, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dia mengejar semakin kencang.

Pada saat itulah, pemuda di depan sana tahu-tahu lenyap tanpa bekas di sebuah tikungan hutan kecil.

Dengan beberapa kali lompatan saja Mo Siau-pak telah menyusul sampai di tikungan hutan, lalu sambil memutar badan dia menghentikan gerakan.

Rupanya di balik hutan terbentang sebuah sungai, jembatan kayu membentang di tengah sungai, di sana berdiri tegak seorang sastrawan yang buntung tangannya. Waktu itu dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu, dia sedang mengawasi Mo Siau-pak yang berada di bawah jembatan.

"Mo-siaucengcu, ada urusan apa kau menyusul diriku?"

Mo Siau-pak tertawa dingin, sahutnya, "Bukankah kau adalah Jian-ciat-suseng?"

"Benar, lengan kananku buntung, kaki kiriku pincang, orang persilatan menyebutku Jian-ciat-suseng dan aku pun senang sekali dengan nama indah ini."

Sementara itu Siangkoan-lotoa telah menyusul tiba dan segera berdiri di sisi kiri Mo Siau-pak.

Dengan wajah senyum tak senyum Mo Siau-pak berkata, "Untuk merobohkan seratus jago lihai dunia persilatan, apakah pedang kayu yang tersoreng di pinggangmu itu yang kau gunakan?"

"Masih ada di antara mereka yang tidak perlu kuhadapi dengan pedang kayuku ini."

"Lantas pantaskah aku menghadapimu dengan pedang kayu itu?"

"Seandainya ayahmu, Mo Hui-thian, hadir di sini, mungkin dia masih pantas untuk kuhadapi dengan pedang kayu ini."

Ucapan ini sudah jelas artinya, yaitu Mo Siau-pak masih belum cukup berharga baginya untuk dihadapi dengan pedang kayu.

Anehnya, ternyata Mo Siau-pak tidak menjadi gusar, setelah tertawa dingin dia malah bertanya, "Jadi kau menyuruh aku yang melolos pedang?"

"Bila Siaucengcu melolos pedang, bisa jadi nama besarmu akan hancur di ujung jembatan ini, aku mengerti kau seorang pintar, tentunya kau tahu bukan, seharusnya pedang itu harus dicabut atau tidak?" Mo Siau-pak tidak menjawab, bungkam dalam seribu bahasa.

Mendadak Siangkoan-lojin berseru lantang, "Majikan muda harap mundur, biar Lohu yang mencoba beberapa jurus serangannya."

Sembari berkata, Siangkoan-lojin maju ke ujung jembatan dan melepaskan sebuah bacokan dahsyat ke dada lawan.

Jangan dilihat Siangkoan-lojin berperawakan kurus kecil, ternyata angin pukulan yang dilancarkannya sangat dahsyat dan mengerikan.

Berdiri di ujung jembatan, Jian-ciat-suseng tak bergerak sedikit pun, dia menunggu sampai telapak tangan kanan Siangkoan-lojin berada setengah kaki di depan dadanya, saat itulah telapak tangan kirinya baru secepat kilat membabat urat nadi tangan musuh.

"Bocah keparat, ternyata kau memiliki kepandaian juga!" bentak Siangkoan-lojin.

Sembari berkata, sepasang lengannya yang hitam dan kering-kerontang bagai sambaran petir meluncur ke muka dan mengembangkan serangkaian serangan berantai.

Serangan yang dilancarkan itu selain cepat bagaikan sambaran kilat, juga disertai tenaga yang amat dahsyat.

Pukulan demi pukulan dilancarkan bagaikan ombak menggulung ke tepian dan memecah terkena batu karang, benar-benar mengerikan.

Dalam waktu singkat Siangkoan-lojin sudah melepaskan tiga belas pukulan telapak tangan dan delapan jotosan kilat.

Dalam menghadapi kedua puluh satu serangan itu, Jian- ciat-suseng masih tetap berdiri tegak tak bergerak, dia hanya membendung dan menangkis setiap ancaman yang datang dengan lengan tunggalnya. Kendati demikian, ternyata Siangkoan-lojin tak sanggup maju barang selangkah pun.

Siangkoan-lojin mestinya tahu diri dan mengundurkan diri, namun sebagai Congkoan Kim-liong-kiam-san-ceng yang mempunyai kedudukan tinggi dan sudah lama termasyhur dalam Bu-lim, sudah barang tentu tak mungkin baginya untuk mundur begitu saja, apa lagi di hadapan majikan mudanya sekarang.

Mendadak terdengar Siangkoan-lojin membentak, mendadak tubuhnya mundur tiga langkah, sementara kepalan tangan kanannya pelan-pelan dihantamkan ke arah dada musuh.

Serangan ini tampaknya seperti tidak disertai tenaga, namun dalam pandangan seorang ahli silat, akan segera diketahui pukulan itu disertai tenaga yang sangat hebat.

Berubah hebat paras muka Jian-ciat-suseng, mendadak telapak tangan kirinya diayunkan ke depan.

Dengusan tertahan segera menggema memecah keheningan.

Dengan sempoyongan Siangkoan-lotoa mundur tujuh langkah, kemudian darah kental menyembur dari mulutnya.

Paras muka Mo Siau-pak berubah hebat, cepat dia memburu ke depan untuk membimbing tubuh Siangkoan-lojin, lalu tegurnya, "Siangkoan-lotoa, kau masih sanggup bertahan?"

Kulit wajah Siangkoan-lotoa mengejang keras, menahan derita yang sedang dialaminya, dia berkata, "Majikan muda, harap kau jangan bertindak gegabah. Ilmu silat orang ini benar-benar kelewat dahsyat."

Sementara itu Jian-ciat-suseng telah membalikkan badan dan menuruni jembatan itu ke arah lain. Sambil tertawa dingin Mo Siau-pak berseru, "Hm, aku akan mencoba sampai dimanakah kelihaiannya."

Sembari berkata, lekas dia mengejar ke ujung jembatan sana, sementara tangan kanannya meraba gagang pedang yang tersoreng di pinggangnya.

Pada saat itulah mendadak Jian-ciat-suseng menghentikan langkah, tanpa berpaling katanya, "Aku tinggal di rumah penginapan Hong-tok-ciu-lau, kapan saja aku akan menantikan kedatanganmu. Sekarang Siangkoan-lojin sudah terluka, terutama pada sekitar urat nadi Liau-lok-keng-meh, jika kau tidak segera mengurut jalan darahnya dengan menggunakan tenaga dalam, seperempat jam lagi dia akan muntah darah tiada hentinya, dalam keadaan seperti itu, meski ada obat dewa pun jangan harap bisa menyelamatkan jiwanya."

Dingin perasaan Mo Siau-pak mendengar itu, meski tangan kanannya sudah meraba gagang pedang, namun senjata itu tak dicabut.

Dia tertawa dingin, lalu ujarnya, "Baiklah! Aku Mo Siau-pak pasti akan menyambangimu."

Dalam pada itu Jian-ciat-suseng sudah berada sejauh tujuh-delapan depa dari tempat semula, dia tidak mungkin

berpaling atau memberikan reaksi, dengan langkah tetap terus menelusuri sungai.

Dari kejauhan dia nampak begitu menyendiri dan kesepian.

Benar, sejak dia terjun kembali ke dunia persilatan, selama tiga bulan terakhir ini dia telah mengunjungi gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong. Dia pun telah berkunjung ke kuil Nikoh Keng-tim-an.

Namun tak seorang ditemukan, pada dasarnya dia sudah seorang diri, sekarang semakin merana dan menyendiri lagi. Hari ini, sewaktu berada di Hong-tok-ciu-lau, dia telah bertemu dengan seorang kenalan lama, pendekar sastrawan dari kota Im-ciu Thia Leng-juan, sebenarnya dia ingin sekali bercakap dengannya, namun satu ingatan lain membuatnya harus mengurungkan niatnya itu.

Dia tahu dengan tenaga dalam maupun ilmu silatnya sekarang, cukup baginya untuk menjagoi dunia persilatan, namun meski dia berhasil meraih gelar tokoh nomor wahid di kolong langit, apakah artinya semua itu?

Nama Jian-ciat-suseng sudah cukup menggetarkan sukma setiap umat persilatan di kolong langit, dia tahu saat guntur menggelegar dan hujan badai berhembus akan tiba, oleh sebab itu dia harus secepatnya menyelesaikan masalah- masalah yang mengganjal hatinya, kemudian secepatnya mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan dan mencicipi kehidupan yang penuh bahagia.

Seseorang yang sangat mencintainya kini hidup sebatangkara di rumah gubuk di tengah bukit yang terpencil, dia tak boleh meninggalkan dirinya terlalu lama.

Dalam perjalanannya ke ibukota kali ini, seandainya jejak orang-orang Put-gwa-cin-kau belum juga ditemukan, terpaksa dia harus pulang ke gunung secepatnya, sebab perjalanan di Bu-lim telah membuatnya jemu, bosan dan muak.

Entah sejak kapan Jian-ciat-suseng telah berhenti di tepi sungai, menundukkan kepala dan memandang arus air dengan terpesona.

Mendadak dia mengangkat kepala dan menegur dengan suara sedingin salju, "Mengapa kalian berempat mengikutiku terus?"

Sewaktu bicara, mata Jian-ciat-suseng masih saja memandang arus air sungai dengan termangu, berpaling pun tidak. Rupanya entah sedari kapan, di belakangnya telah muncul tiga orang pemuda berbaju perlente dan seorang gadis berbaju merah, mereka berempat bukan lain dari Hui-eng-su- kiam.

Pemuda kurus bertahi lalat yang merupakan pimpinan Hui- eng-su-kiam yakni Gin-ho-eng (Burung sungai perak) Tio Im segera menuju ke depan dan menyahut dengan hormat," Hui- eng-su-kiam membuntuti. saudara karena kami ada satu persoalan yang hendak dibicarakan!"

Jian-ciat-suseng belum juga berpaling, hanya tanyanya dengan suara hambar, "Masalah apa?"

"Kami empat bersaudara memohon padamu untuk menerima kami sebagai anak buahmu."

Ketika mendengar perkataan itu, pelan-pelan Jian-ciat- suseng membalik badan dan mengawasi wajah Hui-eng-su- kiam dengan sorot mata tajam bagaikan sembilu, dia mengawasi orang-orang itu dari atas sampai ke bawah, namun mulutnya tetap membungkam.

Dengan suara merdu Yu Hong-hong berkata, "Ilmu silat Tayhiap sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, tentu saja kemampuan kami berempat tak banyak membantu, namun kami empat bersaudara amat mengagumi sepak terjang Tayhiap dan ingin sekali membaktikan diri padamu, entah sebagai pembawa barang atau pesuruh sekali pun, hal ini akan merupakan suatu kebanggaan bagi kami. Itulah sebabnya kami memohon kepada Tayhiap sudilah menerima kami."

Tiba-tiba Jian-ciat-suseng menghela napas panjang, ujarnya pelan-pelan, "Ai, baiklah aku bersedia menerima kalian."

"Sungguhkah itu?" Yu Hong-hong tak kuasa menahan rasa gembiranya, dia segera berteriak, "Kau ... kau tidak membohongi kami?" Sekali lagi Jian-ciat-suseng menghela napas panjang, "Ai, aku tak membohongi kalian, yang kubutuhkan sekarang adalah melakukan suatu usaha besar yang akan menggemparkan dunia persilatan."

Dia berhenti sejenak dan mengangkat kepala memandang sekejap ke arah Hui-eng-su-kiam, kemudian lanjutnya, "Aku bukan menerima kalian sebagai pesuruhku, melainkan mengundang kalian berempat untuk menggabungkan diri dalam perkumpulanku, yakni perkumpulan Tiong-yang-hwe!"

Pelan-pelan Jian-ciat-suseng mengangguk, "Benar, hari ini adalah bulan sembilan tanggal sembilan dari Tiong-yang, perkumpulan kami ini merupakan perkumpulan yang didirikan pada saat ini di kala kalian Hui-eng-su-kiam menggabungkan diri, oleh sebab itu kunamakan perkumpulan ini sebagai Tiong- yang-hwe."

Kemudian setelah termenung sejenak, dia menyambung lebih lanjut, "Di balik semua itu, sebetulnya masih mengandung satu makna lain, yakni aku pernah mati sekali dan sekarang bangkit kembali ke alam semesta. Entah bagaimana pendapat kalian tentang nama ini?"

Lo-sam dari Hui-eng-su-kiam yakni Siau-hiang-eng (Burung harum) The Goan-ho segera bertepuk tangan sambil berseru lantang, "Bagus, bagus! Nama Tiong-yang-hwe memang bagus, tidak perlu memakai 'pang' cukup memakai 'hwe', menunjukkan kesan halus dan berseni, sehingga tidak ada hawa kekerasan sama sekali."

Dan perkumpulan Tiong-yang-hwe pun secara resmi didirikan pada saat itu, dunia persilatan pun bertambah lagi dengan satu organisasi baru.

Ketua Tiong-yang-hwe dijabat oleh Jian-ciat-suseng, kecuali ketua, untuk sementara waktu tidak diangkat jabatan lain.

Tiba-tiba Jian-ciat-suseng mengunjuk sikap serius, katanya dengan suara dalam, "Setiap perkumpulan yang didirikan pasti mempunyai peraturan perkumpulan, cita-cita, maksud tujuan, serta tata-cara, namun sekarang karena belum ada waktu untuk menyelesaikan hal ini, maka yang kita pegang sebagai prinsip sekarang adalah kepercayaan, mulai hari ini Hui-eng- su-kiam sudah merupakan bagian dari Tiong-yang-hwe, aku harap kalian suka memegang prinsip hidup kita, yaitu setia, berbakti, bajik, cinta kasih, dapat dipercaya, setia-kawan, kerukunan dan kedamaian. Asalkan kalian melaksanakan kedelapan prinsip ini, sudah pasti perbuatan kalian benar."

"Orang yang bergabung dengan perkumpulan kita, bilamana melakukan pelanggaran, sudah tentu akan memperoleh hukuman yang sangat berat."

"Tugas utama perkumpulan sekarang adalah mengembangkan pengaruh organisasi serta menerima anggota baru, tapi perkumpulan kita tidak memandang perlu mencari anggota sebanyak-banyaknya, yang penting adalah mereka yang berhati murni dan benar-benar berkemampuan tinggi, jadi setiap orang yang bergabung harus memiliki ilmu silat dan watak yang baik, sebelum dilakukan penyelidikan yang seksama, siapa pun tak akan diterima menjadi anggota."

Dengat sikap hormat dan serius, Hui-eng-su-kiam mendengar wejangan Jian-ciat-suseng, tak seorang pun yang bersuara.

Ketika pemuda itu telah menyelesaikan kata-katanya, Yu Hong-hong baru menghela napas panjang, katanya lirih, "Kami berempat merasa bangga bisa menjadi anggota Tiong-yang- hwe, namun ada satu hal yang membuat kami malu untuk menjadi bagian Tiong-yang-hwe." 

Dengan sorot mata tajam Jian-ciat-suseng memandang sekejap ke arah gadis itu, tukasnya, "Apakah kalian merasa ilmu silat yang kalian miliki terlalu cetek?" "Benar!" Yu Hong-hong manggut-manggut. "Ilmu silat Hui- eng-su-kiam terlalu cetek, sesungguhnya kami masih belum pantas untuk bergabung dengan Tiong-yang-hwe."

Jian-ciat-suseng tersenyum.

"Ilmu silat yang kalian miliki sekarang sudah boleh dibilang mencukupi, untuk menjadi seorang jago persilatan yang berilmu tinggi, maka harus memiliki tiga syarat utama, yakni guru yang pandai, waktu yang cukup, serta kecerdasan yang melebihi orang lain. Bilamana ketiga syarat itu kurang satu, maka sekali pun dia merupakan jago yang berilmu tinggi, mustahil dapat mencapai tingkatan sempurna."

"Sekarang akan kukatakan asal-usulku kepada kalian agar kalian tahu kisah perjalananku menempuh pelajaran ilmu silat, cuma orang persilatan belum mengetahui jelas tentang asal- usulku ini, aku harap setelah kalian tahu nanti, janganlah disebar-luaskan kepada orang lain. Perlu kalian catat, dalam menghadapi persoalan, semakin kita dapat merahasiakan sesuatu, sesungguhnya hal ini semakin baik."

"Petunjuk Hwecu memang sangat tepat, kami pasti akan menuruti petunjuk Hwecu," kata Gin-ho-eng Tio Im dengan suara lantang.

Perlahan Jian-ciat-suseng berkata, "Guruku yang pertama adalah almarhum Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu, Bengcu persekutuan dunia persilatan."

Mendengar nama itu, dengan terkejut Yu Hong-hong segera bertanya, "Kalau begitu kau adalah si Toan-jong-hong- liu Yu "

Sambil menggeleng kepala, Jian-ciat-suseng menghela napas panjang, sahutnya, "Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui adalah Ji-suhengku, aku adalah murid terakhir Bu-lim Bengcu, mungkin kalian tak mengenal namaku, sebab sebelum aku terjun dan berkelana di Bu-lim, aku sudah diusir dari perguruan oleh guruku. Di bawah bimbingan Oh Ciong-hu bengcu almarhum, aku sudah memperoleh pendidikan ilmu silat selama dua belas tahun, aku mulai belajar ilmu silat sejak berusia tujuh tahun."

"Setelah dikeluarkan dari perguruan, aku telah berjumpa dengan seorang tokoh berilmu tinggi dimana aku memperoleh pelajaran berbagai ilmu silat dari aliran yang ada di dunia ini selama tujuh tahun, siapakah tokoh ini untuk sementara waktu namanya aku rahasiakan lebih dulu, tapi dia adalah guruku yang kedua."

"Guruku yang ketiga adalah Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay, dia hanya sempat memberi pelajaran silat semalam kepadaku, namun kepandaian silat yang diwariskannya kepadaku justru merupakan rahasia ilmu silat kaum lurus, itulah sebabnya dalam waktu singkat aku telah berhasil menguasai ilmu berbagai aliran."

Mendengar sampai di sini, Hui-eng-su-kiam merasa terperanjat, Oh Ciong-hu dan Ku-lo Hwesio merupakan dua tokoh yang maha sakti dalam Bu-lim, tak disangka dua tokoh sakti itu ternyata guru Hwecu mereka, tak heran ilmu silat ketua mereka lihai sekali.

Tapi siapakah nama yang sebenarnya dari ketua mereka?

Dari balik mata Hui-eng-su-kiam segera terlintas sinar mata penuh tanda tanya.

Pelan-pelan Jian-ciat-suseng melanjutkan kembali, "Sekali pun aku telah berjumpa dengan tiga orang guru pandai dan mempelajari hampir seluruh ilmu silat yang ada di dunia ini, namun berhubung waktu yang kurang, aku belum dapat meresapi seluruh intisari kepandaian itu."

"Akibatnya tiga tahun berselang aku telah dibunuh orang." "Tapi Thian memang maha pengasih, nampaknya ajalku

belum tiba sehingga nyawaku dikembalikan lagi ke alam semesta ini. Tiga tahun lamanya kuselami dan kupelajari semua kepandaian silat yang pernah kupelajari, akhinya jerih- payahku tidak sia-sia, aku berhasil menemukan kunci ilmu silat sesungguhnya."

"Sejak mulai belajar silat hingga mencapai keberhasilan seperti saat ini, aku membutuhkan waktu dua puluh tiga tahun lamanya, coba bayangkan sendiri baru berapa tahun kalian berlatih ilmu silat? Itulah sebabnya seperti apa yang kukatakan tadi, untuk menjadi seorang jago silat yang berilmu tinggi, tak mungkin bisa dibina dan dipupuk dalam waktu singkat."

Tiba -tiba Yu Hong-hong bertanya, "Bolehkah aku bertanya, bukankah nama Hwecu adalah Ko Hong?"

Jian-ciat-suseng tersenyum.

"Nama Ko Hong adalah nama samaran yang telah kugunakan tiga tahun lalu, nama itu bukan namaku yang sesungguhnya."

Mendengar hal ini, Hui-eng-su-kiam bersama-sama menjerit kaget.

"O, rupanya kau adalah pendekar misterius Ko Hong yang amat termasyhur namanya tiga tahun lalu, kami benar-benar merasa gembira, sungguh tak disangka kami telah bertemu pemimpin tulen yang ampuh dan benar-benar berkemampuan."

Jian-ciat-suseng menghela napas panjang, katanya kemudian, '"Dikarenakan berbagai alasan, tiga tahun berselang bukan saja aku telah berganti nama menjadi Ko Hong, bahkan telah mengubah pula wajah asliku, maka semua orang tak mengetahui asal-usul dan nama asliku."

"Sesungguhnya nama asliku adalah Bong Thian-gak. Di kemudian hari kalian boleh memanggil namaku ini secara langsung." Rupanya Jian-ciat-suseng ini bukan lain adalah Bong Thian- gak.

Rupanya setelah meninggalkan Song Leng-hui, Bong Thian- gak langsung berangkat dari kota Lok-yang menuju ke gedung Bu-lim Hengcu di kota Kay-hong.

Siapa tahu gedung Bu-lim Bengcu telah berubah menjadi gedung kosong yang tak berpenghuni.

Dia pun berangkat ke kuil Keng-tim-an untuk mencari Keng-tim Suthay, siapa tahu kuil pun dalam keadaan kosong tak berpenghuni.

Hanya dalam tiga tahun, situasi dunia persilatan telah mengalami perubahan besar.

Padahal cita-cita serta tujuan yang utama kemunculan Bong Thian-gak kali ini adalah melenyapkan Put-gwa-cin-kau dari muka bumi.

Siapa tahu gerak-gerik maupun jejak Put-gwa-cin-kau seakan-akan punah begitu saja dari muka bumi.

Dalam putus asanya dan tiada cara lain yang bisa diperbuat, akhirnya Bong Thian-gak mulai menantang semua jago lihai dari berbagai partai dan perguruan untuk merobohkan mereka satu per satu.

Hanya dalam tiga bulan saja ia telah berhasil merobohkan ratusan jago persilatan, nama besar Jian-ciat-suseng pun semakin membekas dalam hati para jago persilatan.

Sesungguhnya dia berbuat demikian karena terpaksa, tak bisa disangkal lagi dia ingin memancing kemunculan rekan- rekan lamanya yang telah menyembunyikan diri agar tampil kembali ke dalam Bu-lim.

Di samping itu, tentu saja dia ingin memancing munculnya orang-orang Put-gwa-cin-kau. Pada saat bersamaan dengan munculnya kembali Bong Thian-gak, dalam Bu-lim dihebohkan oleh munculnya seorang iblis perempuan yang amat lihai, Si-hun-mo-li (Iblis wanita perenggut nyawa).

Berdasar penuturan orang, Bong Thian-gak menduga perempuan itu adalah Jit-kaucu Thay-kun.

Oleh sebab itu di kala Bong Thian-gak mendengar kabar bahwa Si-hun-mo-li telah muncul di ibukota, maka dia pun segera berangkat ke kota terlarang dengan tujuan hendak membuktikan apakah Si-hun-mo-li itu benar Thay-kun atau bukan.

Dalam hati Bong Thian-gak, Thay-kun telah menempati posisi yang amat penting, walau antara mereka belum pernah mengucapkan kata cinta, namun dalam hati kecil kedua orang itu sesungguhnya sudah bersemi setitik bunga cinta.

Cuma sayang bibit cinta itu sudah hancur dan musnah sejak tiga tahun berselang.

Dengan kesetia-kawanan, demi peri-kemanusiaan, Bong Thian-gak merasa wajib untuk menyelidiki mati-hidup Thay- kun.

Apalagi mati hidup Thay-kun menempati pula posisi yang maha penting dalam Bu-lim.

Bong Thian-gak berkata lagi, "Sejak kini kedudukan kalian berempat dalam Tiong-yang-hwe menempati posisi yang amat penting, tentu saja apabila ilmu silat yang kalian miliki tidak lihai dan melebihi orang lain, sulit untuk menanggung tugas berat ini."

"Oleh sebab itu aku mengambil keputusan hendak mewariskan semacam ilmu pedang maha sakti yang bisa dikuasai dalam waktu singkat untuk kalian berempat."

Tak terlukiskan rasa kaget dan gembiranya Hui-eng-su- kiam mendengar janji itu, pertama-tama Yu Hong-hong yang menjatuhkan diri berlutut lebih dulu, katanya, "Budi kebaikan yang Hwecu berikan tak pernah kami berempat lupakan."

Dengan suara dalam Bong Thian-gak berkata lagi, "Seseorang yang berlatih ilmu silat bukanlah bertujuan untuk mencari nama atau merobohkan orang lain, baik-buruknya kepandaian silat pun tergantung mental dan watak seseorang, jika orang itu berangasan atau buas dan kejam, maka mustahil ilmu silatnya dapat mencapai kesempurnaan, dalam hal ini kalian belum dapat memahami secara keseluruhan, namun di kemudian hari bila ilmu silat yang kalian miliki sudah memperoleh kemajuan pesat, sudah pasti akan kalian sadari ucapan ini bukan omong kosong belaka."

"Ilmu pedang yang hendak kuwariskan kepada kalian sekarang sebenarnya hanya terdiri dari satu jurus saja, namun di balik satu jurus itu sebenarnya mengandung tiga gerakan yang berbeda."

"Dari ketiga gerakan itu, hanya terdapat satu gerakan yang merupakan jurus serangan, sedang dua gerakan yang lain merupakan jurus pertahanan."

"Ilmu pedang satu jurus dengan tiga gerakan ini walaupun cuma satu gerakan yang merupakan gerak serangan, tapi serangan itu sangat ganas, dahsyat dan luar biasa, begitu serangan dilepaskan, korban pasti roboh, oleh sebab itu aku ingin berpesan kepada kalian, andaikata keadaan tidak terpaksa, jangan sekali-kali kalian gunakan gerak serangan itu secara sembarangan."

Serentak Hui-eng-su-kiam berkata, "Kami akan menuruti perintah Hwecu, bila melanggar, kami bersedia menerima hukuman."

Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling tempat ini, lalu berkata pula, "Sekarang mari kita mundur ke balik hutan sebelah sana dan mulai berlatih ilmu pedang." Selesai berkata, Bong Thian-gak segera mengajak Hui-eng- su-kiam berjalan menuju ke dalam sebuah hutan kecil di sebelah kanan jalan.

Bong Thian-gak memungut sebatang ranting kering, kemudian pelan-pelan berkata, "Jurus pedang dinamakan Coa- tin-toh (Peta barisan ular), dari namanya tentu kalian sudah memahami, cara menggunakan jurus serangan ini adalah sambil bertahan melancarkan serangan."

"Gerakan pertama disebut Coa-tin-in-sian (Barisan ular mulai tampak), menghadapi jurus serangan macam apa pun, kaki kiri mundur selangkah sambil memutar badan setengah lingkaran, pedang bergerak dari ketiak kiri melintang ke depan."

"Gerakan kedua disebut Siu-heng-gi-wi (Cabut badan bergeser tempat), merupakan gerak lanjutan, kaki kanan bergeser selangkah ke kanan, tanpa mengubah posisi pedang, badan berganti posisi, pedang kanan pun berubah ancaman, dengan mata pedang menusuk permukaan tanah."

"Sedangkan gerakan ketiga disebut Coa-si-ci-toh (Lidah ular menjulur keluar), menjatuhkan badan ke arah lawan, namun pedang yang menusuk ke arah bawah tiba-tiba meletik dan menusuk ke arah belakang."

"Jurus Coa-tin-toh ini boleh dipergunakan secara beruntun, boleh juga digunakan tersendiri, tapi daya pengaruh yang dipancarkan tentu saja jauh lebih besar bila kita menggunakannya secara beruntun."

"Satu jurus dengan tiga gerakan ini kelihatannya seperti sederhana sekali, namun untuk memahami intisarinya kalian harus berlatih puluhan kali, dengan begitu kalian bisa maju setapak lebih ke depan dan melatihnya hingga mencapai kesempurnaan, pengaruhnya akan jauh lebih besar lagi."

"Asal satu jurus dengan tiga gerakan ini sudah kalian kuasai, sekali pun menghadapi seorang jago pedang yang berilmu sangat tinggi, tidak susah untuk menusuk hulu hatinya."

"Nah, sekarang aku akan pulang dulu ke Hong-tok-ciu-lau, aku berdiam di kamar nomor tiga puluh enam, selesai berlatih nanti kembalilah ke sana."

Begitu selesai berkata, Bong Thian-gak membalikkan badan keluar dari hutan kecil itu dan kembali ke penginapan Hong- tok-ciu-lau.

0oo0

Bulan sembilan di wilayah utara, udara terasa sangat dingin merasuk tulang.

Rembulan tertutup awan, bintang menyembunyikan diri, malam itu sangat gelap-gulita.

Dalam kamar nomor tujuh puluh sembilan Hong-tok-ciu- lau, nampak cahaya lentera masih bersinar terang, kendati tengah malam sudah lewat.

Kamar itu ditempati dua orang berbaju putih, wajah kedua orang itu aneh sekali, yakni berwarna hitam dan putih yang bercampur aduk, jelek dan aneh bukan kepalang.

Perawakan tubuh mereka kurus kering dan jangkung, matanya melotot besar dan menyinarkan sinar kebuasan.

Waktu itu kedua orang itu sedang duduk di ruang tamu, agaknya mereka sedang menantikan seseorang.

Mendadak orang di sebelah kiri berkata, "Kentongan ketiga sudah lewat, aneh, mengapa mereka belum juga datang?"

Orang yang di sebelah kanan menyahut dengan suara yang menyeramkan pula, "Menurut keterangan si perantara, tengah malam nanti dia pasti datang."

Baru selesai dia berkata, cahaya lentera berguncang keras, lalu terendus bau harum yang menyegarkan. Serentak kedua orang aneh itu mendongakkan kepala. Kedua orang itu terperanjat dengan mata terbelalak lebar.

Rupanya di ruang tamu itu sudah berdiri seorang gadis cantik rupawan, sepasang biji matanya yang sangat jeli dan membetot sukma sedang mengawasi kedua orang berbaju putih yang jelek dan aneh itu tanpa berkedip.

Tiba-tiba sekulum senyum manis menghiasi wajahnya yang cantik hingga terlihat sepasang lesung pipinya yang indah.

Pada dasarnya dia memang berwajah cantik bak bidadari dari kahyangan, ditambah pula dengan senyuman yang menawan, boleh dibilang siapa pun pasti akan terpikat olehnya.

Terutama senyumannya itu, begitu indah dan cantik membuat sukma orang serasa mau terbang rasanya.

Kedua orang aneh berbaju putih itu seakan-akan tak berani mempercayai apa yang terpampang di depan matanya, mereka berpaling bersama, kemudian salah seorang di antaranya segera menegur pelan, "Kau ... kau ... kau ... adalah Si-hun-mo-li?"

Sesungguhnya pertanyaan orang aneh itu berlebihan, sebab Si-hun-mo-li tidak akan sembarangan menampakkan diri, dia memerlukan perantara untuk mencari langganannya.

Si-hun-mo-li baru akan muncul bagai sukma gentayangan apabila si perantara sudah mengaturkan segalanya.

Kedua orang aneh berbaju putih ini merupakan bajingan cabul yang termasyhur di kolong langit, mereka memang gemar main perempuan, tapi setelah berjumpa dengan Si- hun-mo-li hari ini, mereka berdua ketakutan, ngeri dan jeri menghadapi kecantikannya itu.

Menurut kabar yang tersiar di Bu-lim, barang siapa bermain cinta dengan Si-hun-mo-li, maka sukmanya akan lenyap. Berita yang tersiar itu menggidikkan siapa pun yang mendengar.

Tapi sungguhkah itu? Atau cuma isapan jempol belaka? Oleh karena mereka berdua belum membuktikan sendiri,

maka kedua orang ini pun belum tahu.

Si-hun-mo-li tidak menjawab pertanyaannya, sekulum senyuman kembali menghiasi wajahnya yang cantik.

Senyuman untuk kedua kalinya ini membuat kedua orang aneh berbaju putih itu tak dapat menggeser matanya.

Sebab pada saat itulah Si-hun-mo-li telah melepas mantel luarnya sehingga nampak pakaian dalamnya yang tipis dan berwarna kuning menerawangkan tubuh bagian dalamnya yang putih mulus dan membetot sukma itu ....

Ya, gadis itu memang memiliki tubuh yang indah, memukau hati, merangsang napsu birahi dan membuat hati orang berdebar keras.

Orang aneh yang bersuara seperti jeritan setan itu berseru lantang, "Loji, apakah kau sanggup bersabar? Perempuan ini benar-benar menggairahkan, sekali pun seperti apa yang dikabarkan orang. Semalam bercinta sukma melayang, kita patut mencobanya, cuma apakah dia bersedia melayani kita secara bergilir?"

Orang berbaju putih lainnya segera menyahut, "Lotoa, aku sudah tak mampu menahan diri, selama hidup belum pernah kujumpai wanita yang begitu cantik dan menawan hati seperti dia."

Si-hun-mo-li tersenyum lagi, senyuman untuk ketiga kalinya.

Menyusul kemudian pakaian tipis pun pelan-pelan terlepas dari atas badannya. Tampaknya kedua orang berbaju putih itu sudah tak mampu menahan diri lagi, secepat kilat mereka bertindak, "Blam", pintu ruangan sudah ditutup rapat-rapat.

Di bawah cahaya lentera, terlihatlah tubuh pfempuan yang bugil dan indah terpapar di depan mata.

Mata kedua orang berbaju putih itu melotot memancarkan napsu birahi, tiada hentinya mengawasi tubuh bugil Si-hun- mo-li.

Biar besok harus mati, malam ini mereka merasa wajib mencari kepuasan.

0oo0

Keesokan harinya, di kamar nomor tujuh puluh sembilan Hok-tok-ciu-loo telah ditemukan dua sosok mayat.

Mereka tewas dalam keadaan telanjang bulat, tertutup oleh kain dan baju yang kotor.

Yang lebih menggemparkan masyarakat adalah kedua orang itu bukan lain adalah Hek-liong-kang-siang-cho (sepasang manusia jelek dari Hek-liong-kang) yang termasyhur namanya di Bu-lim.

Kepandaian silat serta kecabulan kedua orang jelek dari Hek-liong-kang ini sudah cukup membuat orang persilatan pusing dan bergidik, tapi nyatanya mereka berdua ditemukan tewas dalam keadaan menyedihkan.

Bahkan tewas di tangan Si-hun-mo-li yang cantik tapi berhati keji.

Selama tiga bulan ini, belum pernah ada seorang lelaki pun di Bu-lim yang lolos dalam keadaan hidup setelah bermain cinta semalam suntuk dengan Si-hun-mo-li.

Tentu saja tiada orang tahu macam apakah Si-hun-mo-li itu hingga memukau hati orang. Di kolong langit ini sesungguhnya hanya seorang saja yang pernah melihatnya, baik wajah maupun tubuh bagian rahasianya sekali pun.

Tapi siapakah dia?

Orang itu tak lain adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak.

Dalam benak Bong Thian-gak, dia hanya berpendapat bahwa Si-hun-mo-li adalah Thay-kun.

Sebab di kolong langit dewasa ini, tidak mungkin ada perempuan kedua yang memiliki perawakan badan begitu memukau perasaan laki-laki dan memiliki kekuatan yang begitu besar sehingga lelaki mana pun bersedia mengorbankan jiwanya.

Bong Thian-gak yang berada dalam kamar nomor tiga enam Hong-tok-ciu-lau sedang duduk di ruang tamunya dengan wajah serius, sedang di empat kursi lainnya duduklah Hui-eng-su-kiam.

Lima orang dari Tiong-yang-hwe hanya duduk termenung saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tiba-tiba terdengar Bong Thian-gak menghela napas panjang, lalu berkata, "Benar, aku ingin bertemu dengan Si- hun-mo-li, sebab tujuanku kemari adalah ingin bertemu dengannya."

"Tentu saja kami tak berani memaksa Hwecu membatalkan niat itu," kata Yu Hong-hong dengan sedih. "Cuma ... bila Hwecu ingin bertemu dengannya, jangan berangkat seorang diri."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Tak usah kuatir," katanya, "Si-hun-mo-li tak bakal melahapku."

Sewaktu mendengar ucapan ini, merah padam wajah Yu Hong-hong karena jengah, bibirnya yang sudah bergetar hendak bicara segera diurungkan, sementara kepala pelan- pelan ditundukkan rendah-rendah.

Tio Im berkata, "Kepandaian silat maupun ketenangan Hwecu memang melebihi siapa pun, cuma aku tidak tahu dengan cara apakah Hwecu ingin bertemu Si-hun-mo-li? Konon dia tidak muncul setiap saat."

Bong Thian-gak menyahut, "Ai, sesungguhnya persoalan inilah yang membuatku kesulitan, tentu aku harus mencari dulu si perantara."

Siau-hiang-eng The Goan-ho yang selama ini cuma membungkam tiba-tiba menimbrung, "Menurut pendapatku baik si perantara maupun Si-hun-mo-li, bisa jadi semuanya berdiam pula dalam rumah penginapan ini"

"Samte, tersiar di Hong-tok-ciu-lau ini terdapat seratus delapan buah kamar, dengan cara apa kita bisa memeriksa semua kamar?" seru Boan-thian-eng (Burung pembalik jagad) Bu Siau-hong.

"Sekali pun tidak bisa juga harus diperiksa, kita tak boleh berpeluk tangan membiarkan Si-hun-mo-li mencelakai laki-laki lain lagi, siapa tahu suatu ketika dia akan mencari kita semua?"

"Tio Im," tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya. "Apakah kau sudah berhasil memperoleh daftar tamu yang menginap di tempat ini?"

"Lapor Hwecu," jawab Gin-ho-eng Tio Im dengan hormat, "daftar nama para tamu sudah kuperoleh, tapi sebagian besar orang yang punya nama, mencantumkan nama palsu mereka di buku, misalkan saja Mo Siau-pak dari Kim-liong-kiam-san- ceng serta Siangkoan-lojin, mereka tinggal di sini, namun di daftar tidak ditemukan namanya."

"Nama asli mereka tentu saja tak akan tercantum dalam daftar itu," Bong Thian-gak tertawa. Mendengar itu, semua orang lantas tertawa saling berpandangan penuh pengertian.

Tiba-tiba Yu Hong-hong berseru dengan manja, "Bong- hwecu "

Karena sorot mata nona itu berkedip dan mengawasi dirinya tanpa henti, tanpa tetasa Bong Thian-gak bertanya, "Hong-hong, kau ada urusan apa?"

"Ada satu masalah ingin kutanyakan kepada Hwecu, tapi apakah Hwecu mengizinkan?"

"Katakan saja terus terang, kita kan sudah orang sendiri." "Apakah Hwecu kenal dengan dengannya?" tanya Yu

Hong-hong agak tergagap.

Tergetar perasaan Bong Thian-gak mendengar pertanyaan itu, sahutnya, "Aku hanya menduga saja, tidak terlalu pasti, itulah sebabnya aku harus melihat dengan mata kepala sendiri sebelum memastikan."

Tanya jawab kedua orang ini mengejutkan Gin-ho-eng Tio Im bertiga, serentak mereka berpikir, "Yang dimaksud Sumoay sebagai dia, sudah pasti Si-hun-mo-li."

Sementara mereka masih berpikir, Yu Hong-hong telah berkata lagi dengan merdu, "Hwecu teliti dan cermat, kecerdikanmu melebihi siapa pun, aku percaya apa yang kau duga tak akan meleset, bisa jadi Si-hun-mo-li benar adalah orang yang diduga oleh Hwecu."

"Hong-hong, apa yang hendak kau ucapkan? Tak usah ragu-ragu, katakan saja semuanya!"

Setitik air mata tampak menggenang di kelopak mata Yu Hong-hong, katanya, "Aku kuatir setelah Hwecu bertemu dengannya, dia akan mencelakai jiwa Hwecu."

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Andaikan Si- hun-mo-li benar-benar orang yang kuduga, dia tak akan mencelakai jiwaku, bahkan siapa tahu dia enggan bertemu denganku."

"Ai, sebenarnya aku boleh saja mengatakan siapa dia, tapi meski sudah kusebut namanya pun belum tentu kalian kenal, lebih baik tak usah dikatakan saja."

Kembali Yu Hong-hong bertanya, "Seandainya Si-hun-mo-li betul-betul adalah orang yang telah diduga Hwecu, maka apakah tindakan yang akan Hwecu lakukan?"

Bong Thian-gak mengangkat kepala dan termenung beberapa saat, lalu gumamnya, "Semoga saja bukan dia."

"Berita yang tersiar di Bu-lim, dia dilukiskan sebagai setan iblis, perempuan siluman, gadis cabul, tapi aku meragukan kebenarannya. Itulah sebabnya aku harus bertemu dengannya, aku perlu membicarakan persoalan ini dengannya, sebab di saat kami berpisah dulu, dia adalah seorang gadis pemurung dan mudah putus asa, besar kemungkinan dia sudah tak bebas lagi."

Seandainya Si-hun-mo-li adalah Thay-kun, Bong Thian-gak tahu gadis itu patut dikasihani, sebab dia tahu Cong-kaucu tak menanti akan melepaskan dirinya begitu saja.

Bila Thay-kun masih hidup, sekali pun tubuhnya adalah tubuh kasar miliknya, namun roh dan jiwanya sudah pasti bukan miliknya.

Tentu saja segala sesuatunya itu baru dapat menjadi jelas bila Bong Thian-gak telah bersua dengannya.

Untuk beberapa saat lamanya Hui-eng-su-kiam berdiri kaget, tertegun dan kebingungan mendengar perkataan Bong Thian-gak itu, mereka tidak tahu hubungan apakah yang pernah terjalin antara Hwecunya ini dengan Si-hun-mo-li.

Menyaksikan kesedihan dan kemurungan yang menghiasi wajah Bong Thian-gak, Yu Hong-hong menghela napas panjang, katanya, "Harap Hwecu sudi memaafkan kelancanganku menanyakan masalah itu hingga mengungkap kembali kenangan pahit Hwecu di masa lampau."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Hong-hong, aku tak menyalahkan dirimu, aku hanya berharap agar kalian berempat mempercayai diriku, Bong Thian-gak tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan untuk berbakti kepada Tiong-yang-hwe."

"Kami empat bersaudara sejak tiga tahun lalu membentuk Huieng-su-kiam, selama ini kami selalu bersama, ada kesulitan dipikul berbareng, hari ini kami telah menyerahkan diri untuk berbakti kepada Tiong-yang-hwe, berarti mati-hidup kami telah diserahkan pada Hwecu, sejak kini bila Hwecu ada perintah, maka baik mendaki bukit golok maupun terjun dalam minyak mendidih, kami empat bersaudara tak akan menampik."

Ucapan Tio Im ini diutarakan dengan tegas dan penuh kegagahan.

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Aku sangat bangga dapat memperoleh bantuan kalian berempat, semoga saja Tiong-yang-hwe bisa termasyhur di Bu-lim."

Setelah berhenti sejenak, dia menyambung lagi, "Sekarang aku mempunyai suatu tugas yang hendak kuserahkan pada kalian berempat, sebelum matahari terbenam hari ini, kita berlima memisahkan diri ke lima arah melakukan pemeriksaan seksama terhadap setiap umat persilatan yang tinggal dalam Hong-tok-ciu-lau ini, tapi ingat! Apabila keadaan tidak memaksa, jangan sampai bentrok secara kekerasan."

"Baik," sahut Hui-eng-su-kiam serentak.

Begitu perintah diturunkan, Hui-eng-su-kiam dan Bong Thian-gak berlima segera berpencar ke lima penjuru untuk mulai bertugas. Bong Thian-gak menuju ke arah tengah, dia berjalan lebih dulu menuju ke kamar nomor tujuh, dia tahu ruangan ini ditempati oleh Thia Leng-juan.

Kamar itu yang termegah di Hong-tok-ciu-lau, satu di antara dua belas kamar istimewa, empat penjuru dikelilingi dinding rendah, pada arah timur dan barat dinding terdapat dua buah kebun bunga kecil, ada gunung-gunungan, gardu dan air mengalir.

Bong Thian-gak berdiri di luar dinding di halaman belakang di sebelah utara.

Rumah itu tertutup rapat, tampaknya Thia Leng-juan sedang keluar kamar.

Bong Thian-gak berdiri termenung beberapa saat, mendadak dia melompati dinding rendah itu dan langsung menuju ke kamar bagian belakang.

Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara teguran dengan suara dingin seperti es, "Thia-tayhiap sedang keluar, memasuki kamar tanpa permisi, apakah kau tak kuatir disebut orang kurang adat?"

Suara teguran itu cukup dikenalnya, pelan-pelan Bong Thian-gak membalik badan.

Terlihat majikan muda Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Siau- pak sedang berdiri di belakang tubuhnya.

"Mo-siaucengcu mencari aku?" tegur Bong Thian-gak hambar.

Mo Siau-pak tertawa dingin.

"Kau telah melukai Siangkoan-lotoa, karena itu Mo Siau-pak tak akan melepas dirimu begitu saja."

Bong Thian-gak mengangkat kepala dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ujarnya dengan suara hambar, "Di sini tiada orang, bila ingin bertarung, cabutlah pedangmu dan lancarkan seranganmu!"

"Pedangku tak pernah disarungkan tanpa hasil, kau tidak melolos pedangmu?"

"Sudah kukatakan, kalau ayahmu Mo Hui-thian mungkin masih pantas bagiku untuk mempergunakan pedang, bila kau menganggap tindakanku ini suatu penghinaan, lebih baik kau jangan turun tangan."

Berubah hebat paras muka Kiu-liong-sin-kiam Mo Siau-pak, bentaknya, "Baik, kalau kau enggan menggunakan senjata, terpaksa aku akan mengalah tiga jurus, sekarang lancarkan dulu seranganmu."

"Hanya cukup dengan satu gebrakan saja kau akan keok, percaya tidak dengan perkataanku? Makanya aku selalu memberi kesempatan kepada orang lain untuk melancarkan serangan lebih dulu."

Mo Siau-pak benar-benar dibikin gusar oleh ucapan itu, sambil tertawa dingin secepat kilat tubuhnya menerjang ke muka.

Tatkala tubuhnya berada berhadapan dengan Bong Thian- gak, pedang naga sembilannya dilolos dengan tangan kanan.

Cahaya pedang menyambar bagaikan bianglala lewat di sisi tubuh Bong Thian-gak.

"Cring", dentingan nyaring berkumandang memecah keheningan. Akibat bentrokan itu, Mo Siau-pak mencelat.

Sedangkan pedang sembilan naganya rontok ke atas tanah, meski hawa pedang masih memancar, sayang sudah kehilangan kemampuan untuk melukai orang.

Jian-ciat-suseng benar-benar hanya menggunakan satu jurus serangan saja dan Mo Siau-pak telah menderita kekalahan total. Bukan hanya menderita kekalahan saja, Mo Siau-pak bahkan tak sempat mengetahui jurus serangan apakah yang telah dipergunakan lawan untuk merontokan pedang dalam genggamannya itu.

Dia hanya merasa pergelangan tangannya sakit sekali, tahu-tahu pedangnya sudah rontok ke atas tanah.

Mo Siau-pak benar-benar tidak percaya dia menderita kekalahan dalam satu gebrakan saja, tapi kenyataan sudah di depan mata, Jian-ciat-suseng memang tidak bergeser selangkah pun.

"Bret", pakaian bagian lengan kanan Jian-ciat-suseng rontok secara tiba-tiba ke atas tanah dan robek menjadi dua.

Pada saat itulah terdengar Bong Thian-gak berkata, "Kelihaian ilmu pedangmu sungguh di luar dugaanku, andaikata lenganku ini masih utuh, niscaya lenganku ini sudah pasti kau kutungi."

Perkataan Bong Thian-gak ini sama sekali tidak membuat paras muka Mo Siau-pak berubah, sebab dia tahu serangan pedangnya bukan menyerang melalui sisi sebelah kanan, ujung lengan baju kanan lawan tersayat putus oleh karena dia berhasil merontokkan pedangnya lebih dulu, saat tubuhnya berputar, ujung lengan baju kanan yang berkibar tak terkendali dan tersayat putus oleh mata pedangnya.

Beberapa patah kata Jian-ciat-suseng barusan, tidak lebih hanya sebagai hiburan bagi seorang yang baru menderita kekalahan.

Mendadak terdengar suara tawa bergema, dengan perasaan kaget Bong Thian-gak dan Mo Siau-pak berpaling.

Dari balik halaman rumah pelan-pelan berjalan keluar seorang sastrawan berbaju biru, dia bukan lain adalah pendekar sastrawan Im-ciu Thia Leng-juan. Sambil tersenyum Thia Leng-juan berjalan menghampiri mereka, lalu membungkukkan badan mengambil pedang sembilan naga yang tergeletak di tanah, katanya, "Hari ini mata orang she Thia baru terbuka, serangan pedang Mo- siaucengcu benar-benar dahsyat, sedangkan pukulan Cuangcu ini pun hebat. Kalian berdua sama-sama tangguh dan hebat, setali tiga uang, siapa pun tak ada yang kalah."

Sembari berkata dia membawa pedang sembilan naga itu dan diangsurkan ke depan Mo Siau-pak.

Tiba-tiba Mo Siau-pak menghela napas panjang, lalu berbisik, "Ai, aku telah kalah, cuma yang membikin hatiku tak puas adalah mengapa saudara membiarkan aku kalah dalam satu gebrakan, tiada jago lihai yang mampu mengalahkan aku dalam satu gebrakan, kecuali ... kecuali ayahku sendiri."

Setelah menyerahkan pedang, Thia Leng-juan membalik badan dan mengalihkan pembicaraan ke soal lain, kepada Bong Thian-gak dia bertanya, "Mungkinkah saudara datang untuk mencari aku orang she Thia!"

Tergerak hati Bong Thian-gak ketika dilihatnya Thia Leng- juan tidak mengenali dirinya, pikirnya, "Ya, benar! Dulu aku telah menyaru wajah dan sekarang muncul dengan wajah asli, tak heran Thia Leng-juan tak mengenali diriku lagi!"

Kemudian sambil tersenyum dia menyahut, "Benar, aku memang ingin menyambangi pendekar sastrawan dari Im-ciu!"

Thia Leng-juan tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, kepandaian silat yang kau miliki sangat hebat, tak usah bertarung pun aku orang she Thia mengakui aku bukan tandinganmu."

Rupanya Thia Leng-juan mengira Bong Thian-gak mencarinya untuk menantang duel.

Perbuatan Thia Leng-juan sebelum bertarung sudah mengaku kalah pun merupakan perbuatan yang mustahil dilakukan orang lain, mungkin di kolong langit ini tiada manusia yang bisa berbuat seperti ini.

"Ai," Bong Thian-gak menghela napas. "Jian-ciat-suseng bukan seorang yang gemar mencari gara-gara tanpa alasan, harap Thia-tayhiap jangan salah sangka."

"Kalau begitu, ada urusan apa kau mencariku? Aku orang she Thia siap mendengar penjelasanmu," kata Thia Leng-juan sambil tertawa.

Pelan-pelan Bong Thian-gak berkata, "Seingatku, tiga tahun lalu Thia Leng-juan pernah berada di gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong."

Sampai di situ, dia lantas membungkam dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya.

Sementara paras muka Thia Leng-juan berubah hebat, tapi hanya sebentar saja sekulum senyuman sudah kembali menghiasi wajahnya, dia berkata pula, "Ya, aku pun merasa seakan-akan pernah bersua denganmu di suatu tempat."

Hati Bong Thian-gak bergetar, sebenarnya ia ingin mengungkap asal-usul sendiri, tapi entah mengapa tiba-tiba saja dia merasa di balik sorot mata Thia Leng-juan seakan- akan terpancar serentetan sinar membunuh yang mengerikan.

Maka dengan kening berkerut, sahutnya hambar, "Tengah hari kemarin, kita pernah bersua di tempat makan."

"Bukan hanya kemarin."

"Kalau begitu, dapatkah Thia-tayhiap menerangkan dimanakah kita bersua lagi?" Bong Thian-gak balik bertanya.

Thia Leng-juan tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, justru aku orang she Thia tak bisa mengingatnya kembali."

"Padahal kita baru bersua pertama kali di kota terlarang ini." "Hahaha, aku orang she Thia memang tidak pandai melayani tamu, silakan saudara dan Mo-siaucengcu masuk untuk minum teh!"

Sembari berkata, Thia Leng-juan segera berjalan lebih dulu menuju ke ruang tamu.

Tapi secara tiba-tiba Mo Siau-pak merangkap tangan menjura seraya berkata, "Mo Siau-pak masih ada urusan lain yang mesti diselesaikan, karena itu ingin mohon diri."

Begitu selesai berkata, dia lantas membalik badan dan melompat keluar tembok pekarangan.

Thia Leng-juan tidak bermaksud menahan tamu, dia meneruskan perjalanannya menuju ke halaman depan diikuti Bong Thian-gak di belakangnya.

Tak selang lama mereka berdua sudah tiba di depan undak-undakan pintu kamar.

Sembari membuka pintu, Thia Leng-juan berkata, "Tahukah kau, semalam di rumah penginapan ini sudah terjadi peristiwa besar?"

"Soal direnggutnya dua sukma sepasang manusia jelek dari Hek-liong-kang oleh Si-hun-mo-li?" sahut Bong Thian-gak hambar.

Thia Leng-juan tertawa ringan, kemudian mendorong pintu dan mendonggakkan kepala.

Tiba-tiba saja suara tawa Thia Leng-juan terhenti.

Bong Thian-gak mendonggakkan kepala, tapi apa yang kemudian terlihatnya membuat dia terperanjat.

Rupanya sembilan pedang darah yang berwarna menyala telah mengancam tenggorokan Thia Leng-juan.

Pedang darah itu muncul dari balik kamar dan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun. Oleh karena peristiwa ini terjadi sangat mendadak dan sama sekali di luar dugaan, lagi pula teknik yang digunakan si penyergap untuk melancarkan serangan terlampau lihai, oleh karena itu pada hakikatnya tidak sempat lagi bagi Thia Leng- juan untuk menghindar, dia segera kena ditawan.

Orang yang memegang pedang Hiat-kiam adalah perempuan berkerudung kain merah.

Rambutnya yang hitam memanjang terurai ke belakang bahu, kecuali matanya yang jeli, sepasang tangan yang putih halus, hampir anggota tubuh lainnya terbungkus di balik kain berwarna merah itu.

"Kau adalah anggota perguruan pedang darah?" Thia Leng- juan menegur dengan tenang.

Hiat-kiam-bun atau Perguruan pedang darah merupakan suatu organisasi paling rahasia yang muncul di Bu-lim semenjak lenyapnya Put-gwa-cin-kau dari peredaran dunia.

Kay-pang dan Hiat-kiam-bun merupakan dua perkumpulan yang paling termasyhur di Bu-lim saat ini.

Hiat-kiam-bun termasyhur di Bu-lim karena penyergapannya dan teknik membunuh orang yang tidak meninggalkan bekas, membuat orang tak menduga sebelumnya.

Siapakah ketua mereka? Ternyata tak seorang pun tahu.

Anggota mereka selalu membawa pedang berwarna merah darah dan mengenakan pakaian berwarna merah, sehingga nampak begitu menyeramkan dan menggidikkan.

Terdengar perempuan berkerudung merah memerintah dengan suara sedingin es, "Cepat masuk ke dalam atau pedang ini akan segera menembus tenggorokanmu!" Oleh karena ancaman itu, Thia Leng-juan tak bisa berkutik, terpaksa dia harus menurut perintah dan masuk ke dalam kamar.

Pelan-pelan perempuan itu ikut mundur ke dalam, namun ujung pedang merahnya tetap menempel di tenggorokan Thia Leng-juan.

Bong Thian-gak ikut melangkah masuk, mendadak terdengar perempuan berkerudung merah memerintah, "Tutup pintu dan jangan punya pikiran lain atau tenggorokan orang ini akan segera berlubang."

Perkataan itu jelas merupakan peringatan, terpaksa Bong Thian-gak harus turut perintah dan menutup pintu, kemudian berdiri di samping sambil menanti perubahan situasi.

Dia merasa anggota Hiat-kiam-bun selain memiliki kepandaian silat lumayan, orangnya pun amat cekatan, tenang dan pandai melihat gelagat.

Dengan suara masih tenang, Thia Leng-juan bertanya, "Apakah Hiat-kiam-bun hendak merenggut nyawaku?"

"Bila Buncu kami menghendaki nyawamu, kau sudah tak dapat bicara sedari tadi," sahut perempuan itu dingin.

Thia Leng-juan tersenyum.

"Kalau begitu, mengapa pedang nona masih menempel terus di tenggorokanku?"

"Buncu menginginkan kau mengucapkan beberapa patah kata, bila menolak, nyawamu akan segera kurenggut!"

"Mana Buncu kalian?"

"Buncu kami bukan sembarangan orang dapat menjumpainya." Thia Leng-juan tertawa ringan.

"Sekarang nona menempelkan pedang di tenggorokanku, apakah bermaksud hendak memaksaku berbicara?" Baru selesai dia berkata, mendadak dia meringankan kepalanya ke samping dengan maksud hendak menghindari tudingan ujung pedang lawan.

Siapa tahu baru saja ia menggerakkan kepala, tahu-tahu terasa tenggorokan sakit sekali.

"Jika kau berani bergerak lagi secara sembarangan, pedangku tidak akan kenal ampun."

Rupanya pedang pendek yang berada di tangan perempuan berkerudung merah itu sudah menggores luka kulit tenggorokannya,

darah segar segera memancar keluar.

Agak berubah paras muka Bong Thian-gak menyaksikan kejadian itu, dia merasa perempuan ini memiliki kecerdasan luar biasa.

Kenyataan sukar bagi Thia Leng-juan untuk melepaskan diri dari ancaman bahaya begitu saja.

Berpikir sampai di sini, diam-diam timbul keinginan Bong Thian-gak untuk membantu Thia Leng-juan terlepas dari cengkeraman lawan.

Terdengar perempuan berkerudung merah berkata, "Thia- tayhiap pentang matamu lebar-lebar, orang-orang Hiat-kiam- bun berani datang mencarimu, berarti kami memiliki kemampuan menghadapimu, oleh sebab itu baik-baiklah menjawab pertanyaanku, kemungkinan besar kau masih dapat mempertahankan selembar nyawamu."

Dengan senyum manis masih menghiasi wajahnya, Thia Leng-juan berkata, "Nona, kau ada urusan apa? Katakan saja terus terang."

Mendadak terdengar Bong Thian-gak berkata, "Nona, pedangmu belum dapat dipakai membunuh orang." "Mengapa belum dapat dipakai membunuh orang?" tanyanya dengan tertegunnya.

Paras Bong Thian-gak sama sekali tidak mengunjuk perubahan, hanya katanya dengan suara hambar, "Pedang nona kalau memang bisa dipakai untuk membunuh orang, apa salahnya coba ditusukkan ke depan?"

Sembari berkata pemuda itu berjalan mendekat ke arahnya.

"Berhenti!" bentak perempuan itu dengan suara menggelegar. "Bila kau berani maju selangkah lagi, dia "

Belum habis dia berkata, Bong Thian-gak sudah mendesak ke arahnya dengan kecepatan bagaikan sukma gentayangan.

Perempuan itu terperanjat, belum pernah dia saksikan kepandaian silat semacam ini, cepat dia menggerakkan tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan yang amat dahsyat ke arah jalan darah Ciang-tay-hiat di dada Bong Thian-gak.

Bong Thian-gak segera menggerakkan lengan kirinya, tangan yang kuat seperti jepitan baja itu mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dengan kencang, sementara lengan kosongnya melancarkan bacokan.

"Cring", dentingan nyaring bergema memecah keheningan.

Dengan terperanjat gadis berkerudung merah itu mundur tiga-empat langkah, sementara matanya mengawasi pedang pendeknya yang kutung sebagian dengan wajah tertegun dan melongo.

Rupanya pedang pendek yang berada di tangan kanannya itu sudah digetarkan oleh pukulan Bong Thian-gak hingga patah menjadi dua bagian.

Demonstrasi tenaga dalam ini kontan membuat setiap orang yang hadir di situ menjadi terperanjat dan pecah nyalinya. "Siapa kau?" dengan terkesiap dan kaget gadis itu menegur.

Thia Leng-juan tertawa, mewakili Bong Thian-gak sahutnya, "Dia adalah Jian-ciat-suseng."

Sambil bicara, secepat kilat Thia Leng-juan berkelit ke samping.

Kepandaian silat Thia Leng-juan memang sudah lama termasyhur di Bu-lim, kalau tidak bergerak, tubuhnya tetap kaku seperti batu karang, namun jika sudah bergerak, kecepatannya melebihi sambaran petir.

Dalam terkejut dan terkesiapnya, cepat perempuan itu memutar pedang kutung di tangan kanannya menciptakan serentetan cahaya pelangi berwarna cerah, kemudian langsung membacok ke bahu kanan Thia Leng-juan.

Di tengah gelak tertawa yang memekakkan telinga, Thia Leng-juan mengeluarkan ilmu simpanan Siau-lim-pay yang disebut Poh-liong-jin (Ilmu menangkap naga).

Dengan gerakan yang luar biasa, dia mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan gadis itu, sementara kaki kanan pada saat bersamaan menendang alat kelamin gadis itu.

Satu serangan terdiri tiga gerakan berbeda, serangan Thia Leng-juan ini selain cepat, sempurna juga keji dan tidak berperi-kemanusian.

Terutama yang membikin orang terperanjat adalah tendangan Thia Leng-juan yang secara langsung mengarah bagian rahasia gadis itu, pada hakikatnya tindakan keji ini tak mungkin bisa dilakukan oleh seorang pendekar besar sejati, sebab serangan itu selain terkutuk, rendah, sadis, juga amoral. Lawan adalah seorang wanita, bila pria, maka perbuatan Thia Ieng-juan mengarah alat kelamin lawan masih belum terhitung amoral.

Berubah wajah Bong Thian-gak menyaksikan kejadian itu, serunya dengan suara dalam, "Thia-tayhiap, jangan bertindak keji."

Dari jurus serangan yang digunakan Thia Leng-juan, Bong Thian-gak mengerti orang berniat menghabisi nyawa musuhnya.

Sayang seruan Bong Thian-gak ini agak terlambat, walaupun gadis itu dapat menghindari cengkeraman dan pukulan ke arah dadanya, namun gagal menghindari tendangan ke arah kelaminnya.

"Aduh!" jeritan kesakitan yang menyayat hati berkumandang.

Gadis berkerudung merah berikut pedangnya tahu-tahu sudah mencelat hingga menumbuk dinding, kemudian pelan- pelan terduduk di tanah.

Bong Thian-gak dapat menyaksikan dengan jelas semburan darah segar memancar dari tubuh bagian bawahnya.

Dia belum mati, sepasang matanya yang sayu mengawasi Bong Thian-gak tanpa berkedip, dilihat dari mimik wajahnya, gadis itu seperti hendak mengutarakan sesuatu kepada anak muda itu.

Bong Thian-gak berjalan ke depan, namun Thia Leng-juan telah mendahului, dengan menggenggam kutungan pedang di tangan kanan dia tusuk dada gadis itu hingga tembus.

Dengusan tertahan kembali bergema, dengan sorot mata penuh kebencian, gadis itu menatap wajah Thia Leng-juan lekat-lekat, lalu serunya tertahan, "Kau ... kau sungguh amat keji." Dengan dua serangan yang mematikan bersarang di tubuhnya, gadis berkerudung merah itu tak mampu bertahan lagi, kepalanya segera terkulai lemas dan putus nyawa.

Bong Thian-gak segera maju ke muka dan pelan-pelan melepas kain kerudung yang menutupi wajah gadis berbaju merah itu.

Dia berwajah bersih dan cantik, tapi sekarang tewas dengan wajah penuh perasaan dendam dan benci.

Menyaksikan semua ini, Bong Thian-gak menghela napas sedih, ujarnya, "Thia-tayhiap, mengapa kau harus membunuhnya?"

Thia Leng-juan tertawa dingin.

"Hehehe, orang-orang Hiat-kiam-bun termasyhur karena kebuasan dan kekejamannya, mereka senang menyergap dan membunuh orang, salahkah jika kulenyapkan seorang pembunuh dari muka bumi? Hahah..selama tiga bulan lebih malang melintang dalam Bu-lim, orang yang terbunuh di tangan Jian-ciat-suseng pun mencapai ratusan orang lebih!"

Ketika mendengar perkataan itu, pelan-pelan Bong Thian- gak membalikkan badan, tiba-tiba saja ia menyaksikan selapis perasaan licik dan sinis menghiasi wajah Thia Leng-juan, tergerak hatinya, diam-diam dia berpikir, "Thia Leng-juan telah berubah, dia sudah tidak mirip Thia Leng-juan tiga tahun lalu."

Menyaksikan kenyataan ini, Bong Thian-gak semakin tak berani mengungkap keadaan yang sebenarnya.

Mendadak dia membalikkan badan dan beranjak pergi. "Eeh, saudara! Harap tunggu sebentar," tiba-tiba Thia

Leng-juan berteriak.

"Masih ada urusan apa?" tanya Bong Thian-gak sembari berpaling. Thia Leng-juan tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, saudara memang seorang aneh, bukankah kau sengaja kemari untuk mencariku orang she Thia?" Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Benar, tapi sekarang aku sudah tidak memerlukan hal ini lagi."

"Apakah saudara marah lantaran menyaksikan aku membunuh seorang anggota Hiat-kiam-bun?"

"Tendanganmu itu terus terang sangat memuakkan."

Sekali lagi Thia Leng-juan tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, aku tidak memiliki kepandaian silat selihai

saudara, oleh sebab itu dalam melancarkan serangan mau tak mau harus kupakai nerangan keji yang mematikan, padahal orang-orang Hiat-kiam-bun "

Dia tidak berkata lebih lanjut, sedangkan Bong Thian-gak tahu dia hendak berkata, "Terhadap orang-orang Hiat-kiam- bun, kita tak perlu membicarakan peraturan dunia persilatan lagi."

Bong Thian-gak menengok sekejap ke arahnya, lalu berkata, "Aku lihat gadis ini berwajah bersih dan menarik, tampaknya bukan jenis penjahat berhati keji."

"Paras muka Si-hun-mo-li cantik jelita seperti bidadari, orangnya pun mulus dan cerah, tapi kenyataannya dia justru perempuan berhati ular yang membunuh orang tanpa berkedip."

"Kau pernah bersua Si-hun-mo-li?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak. Thia Leng-juan tertawa.

"Kalau pernah bertemu, aku tak akan hidup sampai sekarang." Bong Thian-gak menghela napas panjang. "Ai, aku rada tidak percaya."

"Tidak percaya apa?"