Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 34. Hari Terakhir

Bab 34. Hari Terakhir

Selama ini Cia Siau-hong tak pernah takut mati.

Setiap orang, di kala ia masih kanak-kanak tak akan takut dengan kematian, karena waktu itu siapapun tak tahu bagaimana menakutkannya kematian tersebut.

Apalagi Cia Siau-hong.

Di kala masih kanak-kanak dulu, sudah banyak ia dengar kisah cerita tentang pahlawan-pahlawan gagah serta orang-orang berjiwa ksatria, seorang pahlawan, seorang laki-laki ksatria, tak pernah takut menghadapi sesuatu kematian.

Enghiong   tidak   takut   mati,   kalau   takut   mati   berarti   bukan   Enghiong.  Sekalipun. "Kraaaas!", batok kepala lantas bergelinding di tanah, juga tidak terhitung

seberapa, toh dua puluh tahun kemudian tetap seorang hohan.

Pandangan semacam ini sudah berakar dan mendarah daging dalam hatinya semenjak dulu.

Menanti ia sudah menginjak dewasa, ia lebih-lebih tidak takut mati lagi, karena yang mati biasanya selalu orang lain, bukan dia.

Asal pedangnya masih berada dalam genggamannya, maka mati hidup pun selalu berada dalam cengkeramannya.

Sekalipun dia bukan malaikat, tapi ia dapat memutuskan mati atau hidup orang lain. Kenapa ia musti takut mati?

Kadangkala bahkan dia sendiripun berharap bisa merasakan bagaimana rasanya seseorang yang menghadapi kematian, sebab rasa semacam itu belum pernah dialaminya selama ini.

Cia Siau-hong juga tak ingin mati.

Ia mempunyai keluarga yang terhormat, nama yang termashur dan kedudukan yang tinggi, kemanapun ia pergi orang selalu menghormatinya.

Semenjak masih kecil, ia sudah mengetahui akan hal ini.

Otaknya memang cerdas, sejak berusia empat tahun ia telah disebut orang sebagai bocah ajaib. Ia menawan hati.

Dalam pandangan kaum wanita ia selalu adalah seorang malaikat yang suci bersih tanpa dosa, entah dalam pandangan perempuan terhormat atau hanya seorang babu pencuci pakaian.

Dia adalah seorang manusia yang berbakat alam untuk belajar silat. Ilmu pedang yang bagi orang lain sepuluh tahun pun belum tentu berhasil dilatihnya, ia hanya cukup menggunakan waktu sepuluh hari untuk menguasainya secara sempurna.

Selama hidup belum pernah ia menderita kekalahan.

Orang-orang yang pernah bertarung dengannya adalah kawanan jago pedang yang menakutkan, ada pula para petaruh yang cekatan.

Tapi ia belum pernah kalah.

Baik dalam bertaruh pedang, bertaruh arak, bertaruh gundu, bertaruh apapun, ia belum pernah kalah.

Manusia semacam ini, mana mungkin dia ingin mati?

Dia tidak takut mati, mungkin dikarenakan ia belum pernah menerima ancaman kematian.

Hingga hari itu, pada detik itu, sewaktu mendengar ada orang yang mengatakan bahwa paling banter dia hanya akan hidup tiga hari lagi.

Pada detik itulah, dia baru tahu akan betapa menakutkannya kematian tersebut. Walaupun dia masih tak ingin mati, tapi ia sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi.

Mati hidup seseorang memang bukan bisa ditentukan oleh diri sendiri, entah siapapun juga sama saja.

Ia dapat memahami akan hal itu.

Maka walaupun dia tahu kalau bakal mati, diapun hanya menantikan tibanya saat kematian tersebut.

Sebab diapun sama juga seperti orang lain, apa boleh buat!. Tapi sekarang keadaannya jauh berbeda.

Ketika seseorang yang mengetahui dirinya pasti akan mati, tiba-tiba mendapat tahu kalau masih ada harapan untuk hidup lebih jauh, harapan itupun secara tiba-tiba dipotong pula oleh orang di tengah jalan, maka luapan rasa gembira sampai luapan rasa sedih yang dialaminya boleh dibilang berlangsung semua pada saat yang bersamaan.

Siapakah yang sanggup menerima pukulan batin seberat ini?

Kian Po-sia masih berdiri tak berkutik di tempat itu, seakan-akan sedang menunggu Cia Siau-hong mencekik lehernya.

.......Kau tidak memberi kesempatan hidup kepadaku, tentu saja akupun tak akan memberi kesempatan hidup untukmu.

Sesungguhnya teori tersebut adalah teori kerja yang dipegang teguh orang-orang persilatan, akibat semacam inipun, ia telah bersiap-siap untuk menerimanya.

Siapa tahu Cia Siau-hong tidak berkutik, dia hanya berdiri tenang di sana, memandangnya dengan dingin. "Kau boleh membunuh aku, tapi sekalipun kau bunuh aku sampai mati, akupun tak akan bicara!", demikian Kian Po-sia berkata.

Suaranya telah berubah menjadi gemetar karena tegang.

"Karena sampai kini aku baru benar-benar mengerti manusia macam apakah dirimu itu" "Manusia macam apakah aku ini?", tanya Cia Siau-hong.

"Kau jauh lebih tidak berperasaan daripada apa yang dibayangkan oleh orang lain!" "Oya?"

"Bahkan mati hidup diri sendiripun tidak kau pikirkan di hati, tentunya kau lebih-lebih tidak memandang berharga nyawa orang lain"

"Oya?"

"Bila kau merasa berkepentingan dengan seseorang, setiap saat kau dapat mengorbankan orang lain, tak perduli siapapun orang tersebut!"

Tiba-tiba Cia Siau-hong tertawa ujarnya:

"Oleh sebab itu daripada aku hidup terus di dunia, lebih baik aku mati saja"

"Aku tidak ingin menyaksikan kau mati, aku tak ingin menyebutkan namanya, karena aku melindungi keselamatan orang itu"

"Untuk melindungi keselamatannya?", Cia Siau-hong mengulangi dengan tidak habis mengerti.

"Aku tahu kalau dia pasti akan menolongmu, tapi jika kau tidak mati, maka dia pasti akan mati di tanganmu!"

"Kenapa?"

"Sebab bila kalian berdua saling bertemu muka, maka salah seorang di antaranya harus mati di ujung pedang lawan, tentu saja orang yang bakal mampus tak mungkin adalah kau!"

Pelan-pelan ia melanjutkan:

"Karena aku tahu di dalam keadaan macam apapun kau tak akan mengaku kalah, sebab selama Sam-sauya dari keluarga Cia masih hidup, dia tak akan kalah di ujung pedang orang lain!"

Cia Siau-hong termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian plan-pelan dia mengangguk.

"Perkataanmu memang betul, aku lebih baik mati sebab tak nanti aku akan membiarkan diriku kalah di ujung pedang orang lain"

Sambil memandang ke tempat kejauhan, dia menghembuskan napas panjang, seraya tambahnya: "Karena aku adalah Cia Siau-hong!" Kemungkinan besar perkataannya itu adalah perkataannya yang terakhir karena sekarang kemungkinan sekali adalah hari terakhir baginya untuk hidup di dunia ini.

Setiap saat setiap waktu kemungkinan sekali dia akan roboh terkapar di atas tanah.

Sebab sehabis mengucapkan perkataan itu, tanpa berpaling lagi ia telah pergi meninggalkan tempat itu.

Walaupun dia tahu dengan jelas, dengan kepergiannya itu, maka tak akan ditemui lagi kesempatan baik yang bisa memberikan kehidupan lebih lanjut baginya.

Tapi dia tidak memaksa, lebih-lebih tidak merengek.

Seperti juga ia sedang menggapai-gapai tangannya menghantar kepergian sang senja, tidak terasa sedih, pun tidak merasa berat hati.

Karena meski ia tak dapat dikalahkan, ia bisa mati.

Malam semakin kelam, kabut makin tebal menyelimuti seluruh permukaan tanah.

Dengan termangu-mangu Kian Po-sia menyaksikan bayangan punggungnya yang kurus dan letih itu lambat laun lenyap di balik kegelapan malam yang mencekam.

Ternyata ia tidak berpaling untuk memandang sekejap lagi kepadanya.

Seseorang yang terhadap diri sendiripun dapat begitu tak berperasaan, apa lagi terhadap orang lain?

Kian Po-sia mengepal sepasang tangannya kencang-kencang, kemudian sambil mengertak gigi, katanya:

"Aku tak dapat bicara, aku tak boleh memberitahukan kepadanya. "

Ucapan tersebut amat tegas dan teguh, tapi tubuhnya telah menerjang ke muka sambil berteriak keras:

"Cia Siau-hong, harap tunggulah aku sebentar!"

Dari balik kegelapan malam yang diliputi kabut, tak nampak sesosok manusiapun, tak terdengar pula suara jawaban.

Tiada hentinya ia berlarian ke depan, berteriak, hingga ia merasa hampir roboh ke tanah. Tanah lumpur itu becek dan lembab, membawa rasa asin seperti air mata.......

Tiba-tiba ia menjumpai sepasang kaki manusia, berdiri tetap di depan matanya.

Cia Siau-hong berdiri tegak dihadapannya menundukkan kepala dan sedang menatap wajahnya. Kian Po-sia tidak bangkit berdiri, dia berkata dengan air mata bercucuran:

"Aku tak dapat bicara, karena jika kukatakan kepadamu, maka berarti aku telah berbuat salah kepadanya!" "Aku mengerti!"

"Tapi jika tidak kukatakan kepadamu, berarti aku telah berbuat salah kepadamu!"

Ia tak bisa menyaksikan Cia Siau-hong mati lantaran dirinya, ia tak bisa berpeluk tangan belaka membiarkan dia mati tanpa ditolong.

Bukan saja tindakan ini telah melanggar liangsim-nya, berarti dia mengingkari pula nasehat yang tak pernah dilupakan barang seharipun selama dua puluh tahun belakangan ini.

Dikarenakan rontaan dan pergulatan hati kecilnya, ia mulai mengejang keras menahan penderitaan, katanya kembali:

"Untung saja kau berhasil menemukan sebuah cara yang paling baik untuk mengatasi semuanya ini"

"Apakah caramu itu?"

"Hanya ada satu cara yang dapat membuat hatiku menjadi tenang, dan hanya satu cara pula yang dapat membuat aku menyimpan rahasia tersebut untuk selamanya!"

Pisau belatinya tahu-tahu sudah menembus ulu hatinya.

Cahaya pisau yang lemah dan redup hanya melintas lirih di tengah kabut yang tebal.

Sebilah pisau belati yang pendek, tipis tapi tajam dengan mata pisau sepanjang tujuh inci telah menembusi ulu hatinya dalam-dalam.

Seseorang jika mempunyai liangsim biasanya sampai matipun tak sudi melakukan perbuatan yang mengingkari bisikan hatinya.

Dia masih mempunyai liangsim.

Kabut masih tebal, air dalam selokan mengalir tenang.

Beraneka macam bunga tumbuh dengan suburnya di sepanjang tepi sungai.

Air sungai mengalir tenang di balik kegelapan, kabut tebal menyelimuti sungai bagaikan asap, sungai yang suram, udara yang mendatangkan kemurungan......

Seorang diri Cia Siau-hong duduk di tepi sungai di antara bebungaan yang tumbuh di sekitar sana.

Suara air yang mengalir pelan seakan-akan dengusan napas seseorang yang telah mendekati ajalnya.

Ia sedang mendengarkan suara air yang mengalir, sedang mendengarkan dengusan napas sendiri.

Air mengalir itu tak akan berhenti untuk selamanya, tapi napasnya setiap saat kemungkinan sekali bisa berhenti. Betapa suram dan sedihnya suasana seperti itu........

Siapa yang bisa menduga Cia Siau-hong yang termashur namanya bisa duduk seorang diri di tepi sungai untuk menantikan datangnya ajal?

Kematian bukan suatu kejadian yang patut disedihkan. Yang pantas disedihkan adalah caranya menemui ajal.....

Ia memilih cara kematian semacam ini lantaran ia sudah terlalu letih, semua kekuatan untuk berjuang dan meronta bagi kehidupannya, kini sudah lenyap tak berbekas.

Konon bila seseorang sudah mendekati saat-saat kematiannya, maka dia selalu akan terkenang kembali banyak kenangan-kenangan lama yang aneh, persoalan-persoalan yang sebenarnya telah ia lupakan pun seringkali bisa akan terkenang kembali dalam keadaan seperti ini.

Tapi ia untuk berpikir pun tak berani.

Sekarang dia hanya ingin mencari seseorang untuk di ajak berbicara entah siapapun itu orangnya. Tiba-tiba saja ia merasakan kesepian yang luar biasa.

Kadangkala kesepian akan dirasakan jauh lebih menyiksa daripada kematian itu sendiri, kalu tidak mana mungkin ada orang di dunia ini yang mati karena kesepian?

Angin malam berhembus sepoi-sepoi.

Di tengah sungai di antara kabut tebal yang menyelimuti angkasa, tiba-tiba melayang datang sebercak sinar cahaya yang lemah dan bergoyang-goyang terhembus angin.

Itu bukan cahaya lentera, hanya cahaya obor.

Sebuah sapuan sampan yang kecil sekali berlayar mendekat, sebuah obor kecil memancarkan sinarnya yang redup menyinari seorang kakek yang duduk di ujung perahu, dia telah berambut uban, memaki topi lebar terbuat dari bambu dan baju jas hujan.

Ketika angin berhembus lewat, terendus bau harum yang segar, tapi membawa kegetiran, entah air teh atau obat yang sedang di masak di atas tungku?

Sebuah sampan dan setitik cahaya obor serta seorang kakek yang kesepian.

Baginya semua kesepian kesenangan perpisahan berkumpul telah dirasakan secara komplit dalam kehidupannya, tapi sekarang kesemuanya sudah lewat tinggal segulung asap tipis.

Apakah diapun sedang menantikan kematian?

Menjumpai kakek tersebut tiba-tiba Cia Siau-hong merasakan suatu sentuhan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Mendadak ia melompat bangun kemudian sambil menggapai teriaknya: "Lotiang di atas perahu, dapatkah kau jalankan perahumu datang kemari. ?"

Kakek itu seakan-akan tidak mendengar teriaknya, tapi terdengar suara jawabannya: "Mau apa kau?"

"Kau duduk termenung seorang diri di ujung perahu, sedang aku duduk termenung seorang diri di atas daratan, kenapa kita berdua tidak duduk bersama sambil bercakap-cakap? Siapa tahu dapat mengusir malam yang gelap dan panjang ini!"

Kakek itu menjawab tapi diiringi suara ombak yang memecah ke tepian, sampan itu pelan-pelan bergerak mendekati pantai.

Cia Siau-hong tertawa.

Dari balik kabut tebal yang dingin dan lembab, tiba-tiba saja dalam hatinya timbul kembali suatu perasaan hangat yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Air di dalam teko kecil di atas tungku sudah mulai mendidih, bau harum yang segar tapi membawa kegetiran itu terendus makin tebal.

"Air tehkah? Atau obatkah yang sedang kau masak?", tanya Cia Siau-hong tiba-tiba. "Air teh!. Air teh yang amat getir!"

Ia memandang sekejap bunga api yang sedang berkedip-kedip itu, kemudian dengan wajahnya yang tua menunjukkan suatu perubahan sikap yang aneh, pelan-pelan ia melanjutkan:

"Kau masih muda, mungkin masih belum mengerti untuk merasakan pahit getirnya air teh" "Tapi aku sudah tahu harus merasa getir lebih dulu kemudian baru muncul rasa manisnya"

Kakek itu berpaling memandang ke arahnya dan tiba-tiba tertawa, setiap kerutan di atas wajahnya seakan-akan telah dihiasi semua oleh senyuman tersebut.

Kemudian sambil mengangkat teko tembaga itu dia berkata:

"Baik, minumlah secawan!" "Kau sendiri?"

"Aku tidak minum!" "Kenapa?"

Kakek itu memicingkan matanya kemudian menjawab:

"Sebab pahit getirnya kehidupan yang beraneka macam di dunia ini telah kurasakan semua!"

Sesungguhnya kata-kata tersebut adalah suatu kata-kata kesedihan namun sewaktu diucapkan keluar dari mulutnya ternyata membawa suatu perasaan yang lain daripada yang lain.

"Kalau toh kau tidak ingin meminumnya, kenapa harus memasak air teh. ?, tanya Cia Siau-hong.

"Orang yang membuat air teh belum tentu harus meminumnya" Matanya yang sipit seakan-akan kerdipan cahaya api, pelan-pelan ia melanjutkan:

"Banyak kejadian di dunia ini adalah demikian, kau masih muda tentu saja belum kau pahami hal- hal semacam itu"

Cia Siau-hong menyambut cawan yang berisi teh getir itu, hampir saja ia tak tahan ingin tertawa terbahak-bahak.

Dia tidak tertawa, diapun tak ingin mendebat ataupun membantah.

Dianggap sebagai seorang pemuda oleh orang lain bukan suatu kejadian yang tidak menguntungkan, yang tidak menguntungkan justru adalah pemuda tersebut sudah hampir mati.

Air teh itu panas sekali, cawan air tehpun kecil sekali, sekali teguk dia telah menghabiskan isinya.

Entah minum air teh atau arak, ia selalu meneguknya dengan cepat, entah melakukan pekerjaan apapun, dia selalu mengerjakannya pula dengan amat cepat.

Apakah kesemuanya ini dikarenakan ia sudah merasa kalau jiwanya juga akan berakhir dengan cepatnya pula?

Akhirnya ia tak tahan juga untuk tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba ujarnya:  "Ada sepatah kata, bila kuucapkan nanti kau pasti akan merasa sangat terkejut"

Kakek itu memandang ke arahnya dengan senyum penuh ejekan, ia sedang menunggu Siau-hong melanjutkan kata-katanya:

"Aku sudah merupakan seorang manusia yang hampir mati!", kata Cia Siau-hong.

Kakek itu sama sekali tidak terkejut, paling tidak rasa kaget barang sedikitpun juga tidak diperlihatkan di atas wajahnya.

"Aku berbicara sesungguhnya", kata Cia Siau-hong lagi. "Aku dapat melihatnya", jawab kakek itu.

"Kau tidak bermaksud untuk mengusirku turun dari sampan ini?" Kakek itu menggeleng.

"Tapi setiap saat aku bisa mati di sini, mati tepat di hadapan mukamu!", seru Cia Siau-hong lebih jauh.

"Akupun sudah pernah bertemu dengan orang yang mati"

"Jika aku adalah kau, aku pasti tak ingin membiarkan seorang manusia asing untuk mati di atas perahuku"

"Aku bukan kau, dan kaupun bukan aku, kau tak akan mati di atas sampanku" "Kenapa?" "Sebab kau telah berjumpa denganku!"

"Setelah berjumpa denganmu, apakah aku tak akan mati?" "Benar!"

Suaranya tetap dingin dan hambar, tapi nada ucapannya amat meyakinkan. "Setelah berjumpa denganku, sekalipun ingin mati juga tak akan berhasil. "

"Kenapa?"

"Karena akupun tak ingin membiarkan seorang asing mati di atas perahuku ini!" Cia Siau-hong segera tertawa.

"Kau anggap aku tak sanggup menyelamatkan dirimu. ?", tanya kakek tersebut.

"Kau hanya melihat lukaku, tidak melihat racun yang bersarang di tubuhku, maka dari itu kau baru menganggap kau bisa menolong jiwaku"

"Oya?"

"Walaupun lukaku hanya berada di kulit depan, tapi racunnya sudah merasuk ke dalam tulang" "Oya?"

"Tak seorangpun dapat memunahkan racun yang bersarang di tubuhku ini. !"

"Seorangpun tak ada?", kakek itu bertanya. "Mungkin masih ada seorang lagi!"

Cia Siau-hong menepuk bajunya dan bangkit berdiri, pelan-pelan sambungnya lebih jauh: "Tapi yang pasti orang itu tak mungkin adalah kau!"

"Sebab itu kau hendak pergi?" "Ya, terpaksa aku harus pergi!"

"Kau tak akan berhasil pergi meninggalkan tempat ini!"

"Apakah setelah berjumpa denganmu, maka untuk pergi dari sinipun tak mungkin?" "Tak mungkin"

"Kenapa?"

"Sebab kau telah meneguk secawan air teh getir milikku!"

"Apakah kau hendak menyuruh aku untuk mengganti air teh tersebut?" "Kau tak akan mampu untuk membayarnya" Cia Siau-hong kembali ingin tertawa, namun ia tak mampu mentertawakannya.

Tiba-tiba ia merasa jari tangan serta pangkal kakinya sudah mulai menjadi kaku, bahkan lambat laun mulai merambat semakin ke atas.

"Tahukah kau air teh macam apakah yang telah kau minum tadi?", tanya si kakek. Cia Siau-hong menggeleng.

"Itulah bubuk Ngo-mo-san!", kakek itu menerangkan. "Bubuk Ngo-mo-san?"

"Resep obat ini merupakan resep rahasia dari Hoa To, setelah kematiannya resep ini sudah banyak tahun lenyap dari dunia pertabiban"

Pelan-pelan ia melanjutkan kembali:

"Tapi ada seseorang ternyata bertekad untuk menemukan kembali resep yang sangat rahasia itu, ia telah membuang waktu selama tujuh belas tahun untuk merasakan setiap macam rumput obat yang dijumpainya di seluruh kolong langit, bahkan tidak sayangnya untuk mempergunakan isteri dan puterinya sebagai bahan percobaan!"

"Ia berhasil?"

Kakek itu mengangguk dengan pelan.

"Ya, dia memang berhasil, tapi sepasang mata putrinya telah menjadi buta, sedangkan istrinya juga sudah mulai menjadi gila"

Dengan terkejut Cia Siau-hong memandang ke arahnya, kemudian bertanya pelan: "Orang itu apakah kau?"

"Orang itu bukan aku, cuma sebelum ia terjun ke sungai, resep rahasia ini telah diwariskan kepadaku"

"Jadi dia telah melompat ke dalam sungai?"

"Istrinya, putrinya menderita menjadi begitu rupa karena ulah dan perbuatannya, jika kau mengalami keadaan yang sama, maka kaupun akan terjun pula ke sungai"

Dengan dingin ia menanti datangnya jawaban Cia Siau-hong sekejap, lalu lanjutnya: "Secawan air teh semacam ini, sanggupkah kau untuk membayarnya?"

"Aku tidak sanggup!"

Setelah tertawa getir, katanya kembali:

"Cuma seandainya aku tahu kalau air teh ini adalah air teh macam begitu, aku tak akan meneguknya sampai habis"

"Sayang kau telah meneguknya sampai habis!" Cia Siau-hong tertawa getir.

"Oleh sebab itu", kata si kakek lebih lanjut, "saat ini ke empat anggota badanmu tentu sudah mulai menjadi kaku, sekalipun ku iris kulit tubuhmu, kau juga tak akan merasakan sakit"

"Kemudian?"

Kakek itu tidak menjawab, tapi pelan-pelan mengeluarkan sebuah kotak kulit yang berwarna hitam.

Kotak kulit itu gepeng tapi datar, meskipun sudah kuno tapi lantaran seringkali tergosok oleh tangan sehingga memantulkan semacam cahaya yang sangat aneh.

Pelan-pelan kakek itu membuka kotak kulit tersebut, dari dalam kota segera memancar keluar semacam cahaya tajam yang berwarna hijau muda.....

Itulah sinar tajam dari mata pisau. Tiga belas bilah pisau kecil.

Tiga belas macam pisau yang berbentuk aneh dan istimewa, ada yang berbentuk kaitan, ada yang berbentuk bergerigi, ada pula yang berbentuk sempit lagi panjang, ada pula yang berbentuk melengkung.

Hanya ada satu persamaan dari ke tiga belas macam pisau tersebut. mata pisaunya tipis sekali,

tipis tapi tajam.

Kakek itu menatap mata pisau dari ke tiga belas bilah pisau tersebut tajam-tajam, sinar matanya yang redup dan tua tiba-tiba memancarkan sinar yang jauh lebih tajam daripada mata pisau, katanya lebih jauh:

"Kemudian aku akan mempergunakan benda-benda itu untuk menghadapimu" Ia berhenti sejenak, lalu terusnya:

"Menggunakan ke tiga belas bilah pisau ini!" Cia Siau-hong telah duduk kembali.

Rasa kaku yang menakutkan itu seakan-akan telah menjalar ke seluruh tubuhnya, hanya sepasang matanya yang masih bisa digunakan untuk memandang.

Diapun dapat memandang ke tiga belas bilah pisau tersebut. Ia tidak bisa tidak harus melihatnya.

Air sungai mengalir dengan tenangnya, api di dalam tungku sudah mulai menjadi lemah.

Kakek itu mengambil pisaunya yang sempit dan panjang. sebilah pisau sepanjang sembilan inci

dengan lebar tujuh hun.

"Pertama-tama aku hendak mempergunakan pisau ini untuk memotong daging disekitar tubuhmu"

,kata si kakek, "memotong daging-daging yang sudah mulai membusuk itu" "Kemudian?"

"Kemudian aku akan menghadapimu dengan pisau yang ini!" Kakek itu memperlihatkan pisau yang berbentuk kaitan tersebut. "Kugunakan pisau ini untuk membelah daging dalam kulitmu!" "Selanjutnya?"

"Kemudian kugunakan pisau ini untuk membelah tulang tubuhmu", ujar kakek itu sambil memperlihatkan pisau yang lain, "akan kukorek keluar semua racun yang berada dalam tulangmu, sampai seakar-akarnya. "

Sekalipun ada orang ingin merobek kulitnya, memotong dagingnya dan mengorek-ngorek tulangnya, ternyata Cia Siau-hong tetap tenang, bahkan matanya berkedip pun tidak.

Kakek itu memandang ke arahnya, lalu berkata lagi:

"Tapi aku jamin pada saat itu kau tak akan merasakan kesakitan, sedikitpun tidak!"

"Oleh sebab aku telah minum secawan bubuk Ngo-mo-san tersebut?", tanya Cia Siau-hong. "Benar, di sinilah kegunaan dari bubuk Ngo-mo-san itu!"

"Hanya dengan cara ini saja racun dalam tubuhku baru dapat dipunahkan. ?"

"Sampai detik ini, agaknya cuma ada sebuah cara ini saja"

"Kau sudah tahu kalau aku terkena racun ini, maka kau telah mempersiapkan pula cara tersebut?" "Benar!"

"Darimana kau bisa tahu?"

"Karena selama ini aku selalu menguntit dirimu!" "Kenapa?"

"Sebab aku hendak menggunakan selembar nyawamu untuk ditukar dengan selembar nyawa yang lain"

"Bagaimana caranya tukar itu dilangsungkan?"

"Aku hendak menyuruh kau untuk membantuku membunuh seseorang" "Siapa yang harus kubunuh?"

"Seseorang yang gemar membunuh orang!" "Siapa? Siapa saja yang telah dibunuhnya?"

"Ada yang seharusnya pantas dibunuh, ada pula yang seharusnya tidak pantas untuk dibunuh!" "Oleh karena itu dia harus dibunuh?"

"Orang yang tidak seharusnya dibunuh, aku tidak akan suruh kau untuk pergi membunuhnya, kaupun tak akan pergi membunuhnya!"

Suatu sorot mata yang sangat aneh memancar keluar dari balik matanya, ia melanjutkan: "Kujamin setelah kau bunuh dirinya, kau tak akan merasa menyesal"

Cia Siau-hong tidak berbicara lagi.

Tiba-tiba ia merasakan kaku yang menakutkan itu sudah menjalar ke otaknya, menjalar ke dalam hatinya.

Ia masih sempat mendengar kakek itu bertanya:

"Kau ingin mati atau tidak?"

Diapun masih sempat mendengar suara jawaban sendiri:

"Aku tak ingin!"

Suara terakhir yang terdengar olehnya adalah semacam suara ketika pisau yang tajam sedang mengorek tulang tubuh.

Tentu saja tulang tubuhnya sendiri.

Tapi sedikitpun ia tidak merasakan sakit.

Fajar telah menyingsing.

Cahaya matahari memancarkan sinarnya menerangi seantero jagad. Hari mulai gelap.

Rembulan telah muncul di angkasa, bintang bertaburan di mana-mana.

Entah hari gelap atau fajar baru menyingsing dalam kehidupan manusia tentu terdapat lembaran yang paling indah, jika seseorang masih bisa hidup, kenapa harus mati?

Cia Siau-hong tidak mati!

Ketika perasaan pertama muncul kembali dalam tubuhnya, ia merasa ada sepasang tangan sedang menguruti ulu hatinya dengan pelan.

Sepasang tangan itu amat mantap, terlatih dan kasar penuh bertenaga.

Kemudian ia mendengar detak jantungnya berbunyi amat lirih dan lemah, lambat laun menjadi mantap dan tenang.

Dia tahu sepasang tangan itulah yang telah menyelamatkan jiwanya. Si kakek sedang memandang ke arahnya, sepasang mata yang tua lemah dan letih telah berubah menjadi terang dan jeli sekali, seakan-akan cahaya bintang yang berkedip di tengah kegelapan malam.

Tiba-tiba ia merasakan bahwa kakek ini jauh lebih muda dari usianya daripada apa yang dibayangkan semula.

Akhirnya kakek itu menghembuskan napas panjang.

"Sekarang kau sudah dapat hidup lebih jauh", katanya, "tulang belulangmu sekarang telah berubah menjadi bersih dan segar bagaikan jagung yang baru dipetik dari ladang!"

Cia Siau-hong tidak membuka suara.

Tiba-tiba saja ia teringat dengan perkataan dari Kian Po-sia.

......Dalam dunia dewasa ini hanya ada seorang yang bisa menyelamatkan dirimu.

......Tapi jika ia menolongmu, maka dia pasti akan mati di ujung pedangmu.

~Bersambung ke Jilid-19 Jilid-19

Kian Po-sia tentu salah besar sekali.

Ia tidak mempunyai alasan apapun untuk membunuh kakek ini, sekalipun punya alasan yang kuat, diapun tak akan turun tangan.

Yang dimaksudkan Kian Po-sia tentu orang lain, mungkin juga ia sama sekali tidak tahu kalau di dunia ini masih terdapat seorang kakek semacam ini, lebih-lebih tak tahu kalau resep rahasia dari Hoa To telah diwariskan kepadanya.

Cia Siau-hong menghembuskan napas panjang, ia merasa puas sekali terhadap penjelasan yang diperolehnya itu.

"Ada semacam orang yang agaknya semenjak dilahirkan sudah jauh lebih beruntung daripada orang lain, bahkan Thian (Tuhan) lah yang selalu melindunginya secara khusus dan istimewa", kata kakek itu.

Kemudian setelah menatap wajah Cia Siau-hong, dia melanjutkan:

"Kau adalah manusia macam begitu, kesembuhan yang kau alami jauh lebih cepat daripada apa yang kuduga semula"

Cia Siau-hong tak dapat menyangkal akan kebenaran ucapan tersebut, siapapun tak dapat menyangkalnya, karena kekuatan tubuhnya memang jauh lebih tangguh daripada siapapun juga.

Ada sementara kejadian bila terjadi pada tubuh orang lain sebagai suatu kejadian aneh, maka setiap saat dapat pula ditemukan pada tubuh sendiri.

"Asal lewat dua-tiga hari lagi, maka kau akan sembuh kembali seperti sedia-kala!", kata si kakek. "Kemudian aku harus membantumu untuk membunuh orang tersebut?" "Inilah syaratku untuk menolong selembar nyawamu!" "Maka dari itu aku harus pergi?"

"Ya, harus!"

Cia Siau-hong segera tertawa getir.

"Aku pernah membunuh orang, aku sama sekali tak ambil perduli untuk membunuh seorang lebih banyak"

"Aku tahu!"

"Tapi orang ini jangankan pernah berjumpa, melihat wajahnya saja belum pernah" "Aku akan mengaturnya agar kau bisa berjumpa dengannya"

Tiba-tiba kakek itu tertawa, tertawanya amat misterius, sambungnya lebih jauh: "Asal kau telah berjumpa dengannya, kaupun pasti akan membunuhnya juga!" "Kenapa?"

"Sebab dia pantas mati!"

Tiba-tiba senyuman di wajahnya lenyap tak berbekas, kesedihan dan rasa dendam yang tak terlukiskan dengan kata-kata segera memancar keluar dari balik matanya.

"Kau sungguh begitu benci kepadanya?", tanya Cia Siau-hong. "Aku membencinya, jauh melebihi dugaan orang lain"

Ia mengepal tangannya kencang-kencang, kemudian pelan-pelan melanjutkan:

"Sebab selama hidupku aku telah dicelakai olehnya, kalau bukan lantaran dia, aku pasti akan hidup lebih senang dan bahagia daripada saat ini"

Cia Siau-hong tidak bertanya lagi.

Tiba-tiba iapun terbayang kembali akan kehidupannya selama ini. Bahagiakah kehidupannya selama ini? Ataukah suatu ketidak mujuran? Tak tahan ia bertanya pada diri sendiri:

"Kehidupanku di dunia ini, mengapa bisa berubah menjadi begini rupa?"

Ruang perahu itu kecil lagi sempit, tapi daun jendelanya terbuka lebar-lebar. Sinar rembulan memancarkan cahayanya di atas permukaan sungai.

Kakek itu memandang sekejap rembulan di luar jendela, kemudian berbisik lirih: "Hari ini sudah tanggal tiga belas" "Tiga belas?"

Cia Siau-hong nampak merasa amat terkejut dan tercengang, sebab sampai sekarang dia baru tahu kalau sudah dua hari ia tertidur pulas.

"Pada malam bulan purnama nanti, kau dapat berjumpa muka dengannya" "Ia bakal datang kemari?"

"Dia tak akan kemari, tapi kau dapat ke sana untuk menjumpainya" "Ke sana?"

Kakek itu menuding ke luar jendela sana sambil menjawab:

"Lewatilah jalan ini menuju ke depan sana!"

Sampan itu telah berlabuh di tepi sungai, benar juga di bawah sinar rembulan tampak sebuah jalan setapak yang membentang jauh ke depan sana, sebuah jalan setapak yang ditutup oleh rerumputan.

"Kau boleh berjalan terus ke depan sana", kata si kakek, "tempat itu akan kau jumpai sebuah pohon waru, di luar pohon waru terdapat sebuah rumah makan kecil, tak ada salahnya kau berdiam di situ dan tidurlah baik-baik selama dua hari"

"Kemudian?"

"Bila malam tanggal lima belas menjelang tiba, di saat rembulan telah muncul di angkasa, kau boleh menelusuri sebuah jalan setapak di luar warung itu untuk menembusi hutan pohon waru, maka di tempat itulah akan kau jumpai orang yang harus kau bunuh itu"

"Darimana aku bisa mengenali kalau orang itulah yang harus kubunuh?"

"Asal kau telah berjumpa dengannya, maka dalam sekilas pandangan saja, orang itu akan segera kau kenali!"

"Kenapa. ?"

"Karena diapun sedang menunggu di situ untuk membunuh orang, kau pasti dapat merasakan hawa pembunuhan yang terpancar keluar dari tubuhnya. ", kata si kakek.

Cia Siau-hong tak dapat menyangkal akan kebenaran dari perkataan itu.

Walaupun hawa pembunuhan tak terlihat dengan mata, tak bisa diraba, tapi manusia seperti dia pasti dapat merasakannya.

Dan cuma manusia macam dia yang dapat merasakannya.

"Ketika kau bertemu dengannya nanti, pasti akan ia rasakan pula hawa pembunuhan dari tubuhmu, maka sekalipun kau tidak turun tangan, dia sama saja akan turun tangan untuk membunuhmu!" Cia Siau-hong tertawa getir.

"Agaknya aku sama sekali tidak mempunyai pilihan lain lagi", keluhnya lirih. "Ya, kau memang tidak memiliki pilihan lain lagi"

"Tapi darimana kau bisa tahu kalau dia berada di situ?" Pelan-pelan kakek itu menjawab:

"Sebetulnya kami telah berjanji akan bertemu muka di sana, bila ia tidak mati, maka aku bakal mati di tangannya, di balik kesemuanya itu sudah tiada pilihan lain lagi bagiku"

Suaranya begitu rendah dan aneh, rasa sedih dan pedih kembali terpancar keluar dari balik matanya.

Lewat lama sekali dia baru berkata lagi:

"Inilah nasib kita semua, siapapun jangan harap bisa meloloskan diri dari kenyataan ini!" Cia Siau-hong dapat memahami maksud hatinya.

Bagi sementara orang takdir mungkin kejam dan mengenaskan, tapi kakek ini tidak mirip manusia semacam itu.

Apakah dia memiliki kenangan lama yang penuh dengan kesedihan dan duka nestapa? Dulu sebetulnya manusia apakah dia? Sekarang, manusia apa pula dirinya?

Cia Siau-hong ingin bertanya, tapi pertanyaan tersebut tak pernah disampaikan.

Dia tahu kakek ini tak akan mengatakannya keluar, bahkan iapun tidak menanyakan siapa nama kakek tersebut.

Nama tidak terlalu penting baginya, yang terpenting, kakek ini telah menyelamatkan jiwanya. Bagi dirinya, asal hal tersebut telah diketahui, itu sudah lebih dari cukup.

Kakek tersebut menatap terus wajahnya tajam-tajam, mendadak dia berkata: "Sekarang kau boleh pergi dari sini!"

"Sekarang kau suruh aku pergi?"

"Ya, sekarang juga kau harus pergi dari sini!" "Kenapa?"

"Karena kontrak kerja di antara kita telah disetujui" "Apakah kita tak boleh bersahabat?"

"Tidak!" "Kenapa?"

"Sebab ada sementara orang yang sejak dilahirkan memang tak boleh punya sahabat" "Apakah kau adalah manusia macam itu?"

"Entah aku adalah manusia semacam itu atau bukan, semuanya adalah sama saja, karena kau adalah manusia macam begitu"

Cia Siau-hong dapat memahami pula maksud perkataannya itu.

Ada semacam orang memang agaknya sejak dilahirkan harus hidup menyendiri, inilah nasib mereka berdua.

Pelan-pelan kakek itu melanjutkan:

"Tak seorang manusiapun dapat merubah nasib sendiri, kalau kau ingin merubahnya, maka akan berakibat suatu ketidak beruntungan"

Dari balik matanya kembali terpancar keluar sinar mata macam bunga api, katanya lebih jauh:

"Kau harus ingat baik-baik perkataanku ini, inilah pelajaran yang berhasil kutarik setelah mengalami pelbagai penderitaan dan kesedihan"

Malam itu tidak mendekati kegelapan total, tapi kegelapan yang berwarna biru tua.

Ketika Cia Siau-hong berjalan melewati papan penyeberang yang sempit dan naik ke daratan yang lembab, ia merasakan kakinya masih sangat lemah.

"Kaupun harus ingat baik-baik", kata si kakek kembali, "kau harus tidur senyenyak-nyenyaknya selama dua hari!"

Nada perkataannya itu seakan-akan penuh mengandung nada kuatir dan perhatian yang tinggi.

"Sebab orang itu adalah seorang manusia yang tidak mudah dihadapi, kau perlu mengembalikan kembali seluruh tenaga badanmu!"

Perhatian yang tumbuh dari hati yang tulus ini benar-benar membuat hati seorang gelandangan jadi kecut dan iba.

Cia Siau-hong tidak berpaling, tapi tak tahan ia bertanya juga:

"Apa yang masih kuperlukan?"

"Kau masih memerlukan sedikit kemujuran dan sebilah pedang, sebilah pedang yang cepat!" ooooOOOOoooo