Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 30. Antara Hidup dan Mati

Bab 30. Antara Hidup dan Mati

Angin telah berhenti berhembus.

Napas manusia seakan-akan ikut pula berhenti. Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya terdengar Ouyang Im-hok menghela napas panjang. "Aaaaiii. ! Benar-benar suatu ilmu pedang yang tiada tandingannya di kolong langit!"

"Sayang sekali, caranya melancarkan serangan tidak terlampau jujur", sambung Lei Tin-tin dingin, "dengan kedudukannya sebagai Sam-sauya dari keluarga Cia, tidak seharusnya dia mencari kemenangan dengan mengandalkan kecerdikan!"

Tiba-tiba Kian Po-sia berkata:

"Ia sedang menderita sakit, di bawah kepungan kalian tujuh orang jago lihay, tentu saja ia musti menggunakan taktik bertarung cepat dan membereskan musuh lebih duluan, kalau tidak begitu, mana mungkin bisa meraih kemenangan?"

"Kau juga mengerti tentang ilmu pedang?", tanya Lei Tin-tin.

"Aku tidak mengerti soal pedang, tapi teori semacam ini dapat ku pahami" Mendadak ia menghela napas panjang, pelan-pelan terusnya:

"Padahal belum tentu dia harus menangkan pertaruhan ini, sayangnya dia adalah Cia Siau-hong, asal sehari dia masih hidup, maka dia hanya boleh menang, tak boleh kalah, karena ia tak boleh membiarkan nama baik perkampungan Sin-kiam-san-ceng hancur di tangannya"

Tiba-tiba Lei Tin-tin tertawa, katanya:

"Masuk di akal, perkataanmu memang masuk di akal, Sam-sauya dari keluarga Cia memang tidak boleh kalah!"

"Bila ia tak kalah, maka kaulah yang bakal kalah, apa yang musti kau gembirakan?", seru Kian Po- sia.

"Kau tidak mengerti?" "Aku tidak mengerti!"

"Sungguh tak kusangka di dunia ini ternyata masih terdapat manusia yang tak tahu urusan seperti kau"

Air mukanya bagaikan perubahan cuaca di udara, baru saja senyumannya menghiasi bibir, ia telah menarik muka kembali seraya berkata:

"Kalau kau memang tidak mengerti, kenapa aku musti memberitahukan kepadamu?" "Biar aku saja yang memberitahukan kepadamu!", tiba-tiba Le Peng-cu berteriak keras. Paras muka Lei Tin-tin segera berubah hebat, serunya dengan cepat:

"Apa yang telah kalian ucapkan masih termasuk dalam hitungan tidak?" "Apa yang barusan kita bicarakan? Aku sudah melupakannya!"

"Aku belum lupa", kata Ouyang Im-hok.

Sikapnya berubah menjadi serius dan hebat, katanya lebih lanjut: "Kami telah menyanggupi permintaannya sebelum menang kalah ditentukan, rahasia yang lain tak akan dibicarakan"

Lei Tin-tin menghembuskan napas lega setelah mendengar perkataan itu. "Untung saja kau adalah seorang kuncu yang memegang janji"

"Dia adalah seorang kuncu, bila dia harus memegang janji maka itu adalah urusannya", kata Le Peng-cu dingin, "sedangkan aku tak lebih hanya seorang siaujin, perkataan dari seorang siaujin boleh dianggap bagaikan kentut busuk!"

Tangannya sudah menggenggam gagang pedang erat-erat, katanya lebih lanjut:

"Bila kentutku sudah akan kulepaskan, siapapun tak akan mampu menghalangi niatku" Mencorong sinar tajam dari balik mata Cia Siau-hong, sambil tersenyum katanya:

"Berkentut pun merupakan salah satu pekerjaan besar dalam kehidupan manusia, kujamin tak akan ada orang yang sanggup menghalangi dirimu!"

"Kalau begitu bagus sekali!"

Sinar matanya pun memancarkan sinar yang berkilauan, lanjutnya lebih jauh:

"Kali ini kami bisa datang bertaruh pedang denganmu, karena perempuan inilah yang datang mencari kami!"

"Bisa kuduga sebelumnya!"

"Tapi kau tak akan menduga, kalau ia telah bertaruh dengan kami setiap orang!", kata Le Peng-cu lagi.

"Bertaruh apa?"

"Ia bertaruh bahwa kami berenam tak seorangpun yang sanggup menghadapi tiga jurus seranganmu!"

"Maka jika ia kalah kepadaku, berarti menang terhadap kalian berenam. ?"

"Ya, dia hanya kalah kepadamu seorang, sebaliknya menang terhadap kami berenam, kemenangannya jauh lebih banyak daripada apa yang dikalahkan!"

Lei Tin-tin tertawa kembali, katanya:

"Padahal kalian seharusnya juga mengerti, pekerjaan yang merugikan tak akan kulakukan" "Apa yang dia pertaruhkan dengan kalian?", tanya Cia Siau-hong kemudian.

"Kau tahu soal Thian-cun?", Le Peng-cu bertanya. Cia Siau-hong tertawa getir dan mengangguk. "Ya, aku tahu!" "Belakangan ini kekuasaan Thian-cun makin hari semakin besar dan luas, tujuh partai pedang tak dapat berpeluk tangan belaka membiarkan dia berulah seenaknya sendiri, walaupun angkatan tua sudah banyak yang mengasingkan diri, tapi kami anak muridnya berhasrat untuk berkumpul di bukit Thay-san dan membentuk suatu persekutuan tujuh partai!"

"Ini memang suatu ide yang sangat bagus!", puji Cia Siau-hong.

"Dalam pertemuan tersebut, sudah barang tentu kami harus memilih seorang Bengcu!" "Jadi bila kalian kalah darinya, maka dia harus diangkat sebagai Bengcu. ?"

~Bersambung ke Jilid-18 Jilid-18

"Tepat sekali"

Dengan suara lembut Lei Tin-tin berkata:

"Sekalipun kalian mengangkat diriku sebagai bengcu, apa pula jeleknya. ?"

"Hanya ada satu hal yang tidak baik", jawab Le Peng-cu dengan cepat. "Hal yang mana?"

"Kau terlalu cerdik, jika kami mengangkat dirimu menjadi bengcu, maka Persekutuan Bukit Thay- san ini mungkin akan berubah menjadi Thian-cun kedua!"

"Sekarang dalam waktu singkat, pihak Kun-lun-pay, Khong-tong-pay, Tiam-cong-pay, sudah kalah di ujung pedang Sam-sauya secara mengenaskan, apakah kau yakin sanggup menerima ke tiga jurus serangannya?"

"Aku tidak merasa yakin!" Setelah tertawa dingin lanjutnya:

"Justru lantaran aku tak berkeyakinan, maka aku telah bersiap-siap untuk menganggap pertaruhan kali ini sebagai kentut busuk"

Lei Tin-tin segera menghela napas panjang.

"Padahal akupun sudah lama tahu jika kau adalah seorang siaujin yang tak bisa dipercaya perkataannya, untung saja orang lain tidak demikian"

"Aku juga!", tiba-tiba Ouyang Im-hok berseru.

Kali ini Lei Tin-tin baru benar-benar merasa terkejut, serunya tertahan: "Kau? Kau juga seperti dia?"

"Aku tak bisa tidak harus berbuat demikian", ujar Ouyang Im-hok dengan wajah serius dan berat, "karena aku tak ingin dalam dunia persilatan muncul kembali Thian-cun kedua!"

Pelan-pelan ia berjalan ke depan, berjalan ke sisi tubuh Le Peng-cu. Le Peng-cu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk bahunya, dia berseru:

"Sekarang walaupun kau tak bisa dianggap lagi sebagai seorang kuncu yang sebenarnya, tapi kau pantas disebut sebagai seorang lelaki perkasa!"

Ouyang Im-hok menghela napas panjang, gumamnya:

"Mungkin sesungguhnya aku memang bukan seorang kuncu!"

Belum lagi perkataan itu selesai diutarakan, ia telah turun tangan, sikut dengan telak menghajar di atas sikut kanan Le Peng-cu.

Bunyi tulang sikut yang hancur baru saja berkumandang, pedang tajam telah diloloskan dari sarungnya.

Begitu cahaya pedang berkelebat lewat, darah segar telah berhamburan ke empat penjuru.

Biji mata Le Peng-cu seakan-akan melotot keluar, melotot sangat besar dan melotot ke wajah Ouyang Im-hok

Sampai kini dia baru tahu bahwa Ouyang Im-hok sesungguhnya berdiri sekelompok dengan Lei Tin-tin.

Sekarang dia baru tahu siapakah siaujin yang sesungguhnya. Tapi sayang segala sesuatunya telah terlambat.

Darah kental masih menetes dari ujung pedang.

Chin To-siu, Bwe Tiang-hoa serta Thian Cay-liong berdiri kaku seperti patung, paras muka mereka pucat pias seperti mayat.

Dengan sinar mata dingin ditatapnya mereka sekejap, kemudian Ouyang Im-hok berkata:

"Selama hidup aku Ouyang Im-hok paling benci dengan manusia rendah yang tak bisa dipercaya perkataannya seperti dia, kalau bisa aku ingin mereka semua mampus di ujung pedangku, tiada halangannya bagiku untuk menggorok leher guna menebus dosa"

"Mereka semua tahu akan tabiatmu, tak nanti mereka berpendapat demikian", ujar Lei Tin-tin lembut, "menang ya menang, kalah ya kalah, kalian semua adalah kuncu, tentu saja tak akan mengingkari janji terhadap apa yang dikatakan sendiri. "

Tiba-tiba Thian Cay-liong berteriak keras:

"Aku bukan kuncu, sekarang aku merasa muak sekali mendengar kata-kata tersebut!" Sambil menarik muka, kata Ouyang Im-hok:

"Maksud Thian suheng. ?"

"Aku tidak bermaksud apa-apa, cuma akupun tak ingin pergi ke bukit Thay-san lagi, terserah kalian hendak mengangkat siapa sebagai bengcu, hal tersebut sudah tiada hubungannya lagi dengan diriku!"

"Kalau kau tak pergi, akupun tak pergi!", sambung Chin To-siu. "Aku lebih-lebih tak akan pergi", Bwe Tiang-hoa menambahkan. Thian Cay-liong merasa semangatnya berkobar, serunya kemudian:

"Baik kita pergi bersama, coba kita lihat siapa yang sanggup menghalangi kepergian kita?" Dengan langkah lebar ke tiga orang itu berlalu bersama-sama meninggalkan tempat itu.

Thian Cay-liong berjalan di tengah, sedangkan Bwe Tiang-hoa dan Chin To-siu mengiringi di kiri kanannya.

Mendadak mereka menjepit ke arah tengah.

Menanti mereka berpisah kembali, iga kiri dan kanan Thian Cay-liong telah mengucurkan darah segar.

Ia berusaha meronta ingin mencabut keluar pedangnya.

Tapi sebelum pedang itu sempat diloloskan, ia sudah roboh terkapar di atas tanah. "Kalian sungguh amat keji!", hanya kata-kata itu saja yang sempat diucapkan.

Kata-kata yang terakhir.

Tidak terdengar suara apapun, lama sekali tak terdengar sedikit suarapun.

Setiap orang sedang memandang ke arah Cia Siau-hong, setiap orang ingin mengetahui bagaimana reaksinya.

Cia Siau-hong sendiri sebaliknya sedang memperhatikan pedang yang berada di tangannya. Itulah pedang milik Bwe Tiang-hoa.

"Itulah sebilah pedang bagus!", tiba-tiba Bwe Tiang-hoa berkata memecahkan keheningan. "Ya, memang sebilah pedang bagus!", Cia Siau-hong membenarkan.

"Pedang ini sudah turun temurun berada di tangan Hoa-san-pay selama tiga ratus tahun lebih, selama ini belum pernah terjatuh ke tangan orang lain"

"Aku percaya!"

"Jika kau beranggapan bahwa barusan aku tidak pantas membunuh Thian Cay-liong, tak ada salahnya bila kau gunakan pula pedang tersebut untuk membunuh diriku, biar mati aku akan mati dengan mata meram!"

"Dia memang sepantasnya mati, akupun lebih-lebih pantas untuk mati, karena kita sudah salah melihat orang!"

Pelan-pelan ia membelai mata pedang itu dengan lembut, kemudian mendongakkan kepalanya seraya berkata: "Sekarang Go To dari Tiam-cong-pay sudah pergi karena marah, Le Peng-cu dari Hay-lam-pay sudah mati dibunuh, setelah Thian Cay-liong ikut mati, maka anak murid partai Kun-lun pun otomatis akan terjatuh pula ke tangan kalian, dengan sendirinya pertemuan di bukit Thay-san pun sudah akan menjadi dunianya kalian"

"Penyelesaian semacam ini sesungguhnya memang merupakan salah satu bagian dari rencana kami", kata Ouyang Im-hok dengan suara dalam.

"Tentu saja kalian juga sudah tahu kalau aku adalah seorang yang hampir mati!"

"Ya, kami memang sudah mengetahui bahwa kau paling banter hanya bisa hidup selama tiga hari lagi"

Lei Tin-tin menghela napas panjang, timbrungnya:

"Berita yang tersiar dalam dunia persilatan hakekatnya memang cepat bagaikan sambaran kilat, apalagi berita mengenai dirimu!"

"Kalian tentunya juga mengetahui bukan, di saat kulancarkan serangan tadi, mulut lukaku telah merekah kembali?"

"Sekalipun kami tidak melihatnya sendiri, dapat pula kuduga akan hal itu!"

"Oleh sebab itu kalian tentu beranggapan bahwa manusia semacam aku sebenarnya tak pantas untuk mencampuri urusan orang lain lagi!"

"Tapi kami masih tetap menghormatimu!", kata Ouyang Im-hok, "entah kau masih hidup atau sudah mati, kami pasti akan melindungi nama baik dari perkampungan Sin-kiam-san-ceng!"

"Paling tidak kami semua akan mengaku kalah, kalah di tanganmu!", sambung Lei Tin-tin.

"Aku tahu, dalam hal ini akupun merasa berterima kasih sekali, hanya sayang kalian melupakan satu hal", ucap Cia Siau-hong.

"Hal yang mana?", gadis itu cepat bertanya.

"Selama aku berada di sini, semestinya Thian Cay-liong dan Le Peng-cu tak pantas di bunuh mati" "Karena kau beranggapan sepantasnya kau dapat menolong mereka berdua?"

"Benar!"

"Oleh karena itu, kau beranggapan, walaupun kau tidak membunuh mereka, tak bisa disangkal lagi mereka mati lantaran kau?"

"Benar!"

"Maka kau ingin membalaskan dendam bagi kematian mereka berdua?", seru Lei Tin-tin lebih jauh.

"Mungkin dikarenakan ingin membalaskan dendam bagi mereka, aku hanya ingin membuat hatiku menjadi tenteram saja" "Aku dapat memahami maksudmu, bagaimanapun juga kau sudah hampir mati, kau bisa mati dengan hati yang tenang, karena tidak merasa telah berbuat sesuatu yang bertentangan dengan suara hati sendiri!"

Setelah menghela napas panjang, pelan-pelan gadis itu melanjutkan: "Sayang kau masih ada banyak persoalan yang tidak memahaminya!" "Oya?"

"Semua kejadian yang kau saksikan saat ini tak lebih hanya lapisan yang paling atas saja, padahal duduk perkara di balik kesemuanya itu hakekatnya tidak ingin kau ketahui, bahkan bertanyapun tidak"

"Apa yang harus kutanyakan?"

"Paling tidak kau harus bertanya apakah Le Peng-cu dan Thian Cay-liong juga mempunyai alasan untuk mati?"

"Apakah mereka pantas mati?" "Tentu saja!"

"Sudah seharusnya mereka mati!", Ouyang Im-hok menambahkan. "Kenapa?"

"Sebab jika mereka tak mati, maka persekutuan tujuh partai tak akan bisa terwujud untuk selamanya!", Lei Tin-tin menerangkan, "sebab jika mereka tak mati, orang yang bakal mati akan lebih banyak lagi"

"Le Peng-cu berjiwa sempit, terlalu mementingkan diri sendiri, ia bukan tipe seorang manusia yang bisa bekerja, lebih banyak gagalnya daripada berhasil jika bekerja sama dengan manusia seperti ini", Lei Tin-tin kembali memberi komentar.

Ouyang Im-hok tak mau kalah, katanya pula:

"Bila kita menginginkan masalah besar bisa berhasil dengan sukses, mau tak mau kita harus mengorbankan manusia semacam ini!"

"Terhadap kematian Le Peng-cu, sedikit banyak aku merasa agak sedih, tapi terhadap Thian Cay- liong. ", Ouyang Im-hok kembali menyambung, "sekalipun Thian Cay-liong mampus sepuluh

kali juga belum dapat menebus dosa-dosanya!" "Kenapa?"

"Karena dia sesungguhnya adalah seorang mata-mata!" "Seorang mata-mata?"

Lei Tin-tin tertawa.

Ia sedang tertawa, tapi jauh lebih serius daripada sewaktu tidak tertawa, katanya kembali, "kau tidak paham dengan arti kata mata-mata? Mata-mata adalah semacam manusia yang suka berkhianat!" "Ia telah berkhianat kepada siapa?"

"Ia telah berkhianat kepada kami, berkhianat pula terhadap dirinya sendiri!" "Lantas ia berkhianat untuk siapa?"

"Untuk Thian-cun!" "Tentu saja Thian-cun"

Lei Tin-tin berkata lebih jauh, "Kau seharusnya dapat menduga, hanya Thian-cun yang cukup berkemampuan untuk membeli manusia semacam Thian Cay-liong!"

"Kau punya bukti?"

"Kau ingin melihat buktinya?" "Ya, aku ingin!"

"Buktinya berada di sini!"

Tiba-tiba gadis itu memutar badannya sambil mengeluarkan jari tangannya.

Jari tangannya ramping, halus dan indah, tapi sekarang kelihatan bagaikan sebilah pedang, bagaikan sebatang jarum.

Yang dituding ternyata adalah Kian Po-sia. "Orang inilah buktinya! Dia buktinya!"

Kian Po-sia masih tetap tenang, namun paras mukanya telah berubah hebat.

"Kau adalah Sam-sauya dari keluarga Cia, kau adalah seorang jago pedang yang tiada tandingannya di dunia ini, tentunya kau bukan seorang telur busuk yang goblok bukan?", kata Lei Tin-tin.

Tentu saja Cia Siau-hong tak akan mengakui dirinya sebagai seorang telur busuk yang goblok, diapun tak dapat menyangkal.

"Kalau memang begitu, kenapa kau tidak mencoba untuk berpikir, darimana kami bisa tahu kalau paling banter kau hanya bisa hidup tiga hari lagi. ?", ujar Lei Tin-tin.

Cia Siau-hong tak perlu berpikir lagi.

Cepat atau lambat persoalan ini pasti akan diketahui orang, akhirnya semua orang di seantero jagad akan mengetahuinya semua.

Tapi orang yang mengetahui persoalan ini hingga kini belumlah terlalu banyak.

Siapakah yang paling jelas mengetahui akan persoalan ini? Siapa pula yang paling memahami akan kemana saja Cia Siau-hong pergi dalam dua hari ini? Cia Siau-hong tertawa. Dia sedang tertawa tapi semua orang tak akan menganggap dia benar- benar sedang tertawa.

Ia telah menatap wajah Kian Po-sia.

Kian Po-sia menundukkan kepalanya rendah-rendah. "Memang aku, akulah yang berkata!", bisiknya.

"Aku adalah orang Thian-cun, Thian Cay-liong juga!"

"Aku pula yang memberitahukan hal ini kepada Thian Cay-liong, maka mereka baru mengerti akan hal ini"

Kata-kata seperti itu tidak ia ucapkan, pun tak perlu dia katakan. "Aku telah salah menilai dirimu!"

"Aku telah menganggapmu sebagai teman, aku telah berpandangan salah atas persoalan ini"

Kata-kata seperti itupun tidak diucapkan oleh Cia Siau-hong, ia lebih-lebih tak perlu mengutarakannya.

Cia Siau-hong hanya mengucapkan empat patah kata saja:

"Aku tidak menyalahkan kau!"

Kian Po-sia pun hanya mengucapkan sepatah kata:

"Kau benar-benar tidak menyalahkan diriku?"

"Aku tidak menyalahkan kau, karena kau sebetulnya tidak kenal dengan aku!" Lama sekali Kian Po-sia termenung, akhirnya pelan-pelan dia berkata lagi: "Ya, sebenarnya aku tidak kenal dengan dirimu, sedikitpun tidak kenal. !"

Sesungguhnya perkataan ini adalah sepatah kata yang amat sederhana, tapi mengandung suatu maksud yang amat rumit.

Tidak kenal artinya tidak mengenal.

Tidak kenal artinya sama sekali tidak tahu manusia macam apakah dirimu.

Cia Siau-hong dapat memahami maksudnya, dapat pula memahami perasaan hatinya. Oleh karena itu Cia Siau-hong hanya mengucapkan tiga patah kata:

"Kau boleh pergi!"

Kian Po-sia telah pergi, pergi sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah. Setelah ia pergi, lama sekali, Ouyang Im-hok baru menghela napas panjang, katanya: "Cia Siau-hong memang benar-benar tak malu disebut sebagai Cia Siau-hong"

Kata-kata inipun merupakan sepatah kata yang amat sederhana, bahkan sangat umum.

Tapi arti yang terkandung di balik ucapan tersebut justru tidak sederhana, pun tidak sangat umum. Lei Tin-tin menghela napas, pelan dan panjang sekali.................

"Kalau aku adalah kau, tak akan kulepaskan dia pergi meninggalkan tempat ini", katanya. "Sayang, kau bukanlah aku!", jawab Cia Siau-hong.

"Kaupun bukan aku, juga bukan Ouyang Im-hok, Bwe Tiang-hoa ataupun Chin To-siu" Tentu saja Cia Siau-hong bukan.

"Justru karena kau bukan, maka kau baru tidak memahami akan keadaan kami", kata Lei Tin-tin lagi.

"Oleh sebab itu kau baru merasa bahwa kami tidak seharusnya membunuh Le Peng-cu serta Thian Cay-liong", sambung Ouyang Im-hok.

"Kami telah bertekad, asal bisa mencapai tujuan, tak segan-segan kami akan pergunakan cara keji apapun!"

"Tujuan kami tercakup dalam tujuh patah kata!", kata Ouyang Im-hok kembali. Sebelum Cia Siau-hong sempat bertanya, Lei Tin-tin telah berkata lebih dulu: "Melawan Thian-cun, mempertahankan keadilan dan kebenaran!"

Sesudah berhenti sebentar, ia berkata lebih jauh:

"Mungkin cara yang kami pergunakan tidak benar, tapi pekerjaan yang ingin kami lakukan tak mungkin bakal salah"

"Oleh karena itu", kata Bwe Tiang-hoa pula, "jika kau beranggapan bahwa kami telah salah membunuh orang, tak ada salahnya untuk membunuh kami dengan pedang ini"

"Bukan saja kami tak akan membalas, bahkan matipun tak akan menyesal. "

"Aku adalah seorang perempuan", sambung Lei Tin-tin, "kaum wanita biasanya jauh lebih takut mati, tapi akupun tidak menyesal untuk mati!"

Di tangan Cia Siau-hong masih menggenggam sebilah pedang.

Entah pedang milik siapapun, entah pedang bentuk seperti apapun, setelah berada di tangan Sam-sauya dari keluarga Cia, segera akan berubah menjadi sebilah pedang pembunuh.

Manusia macam apapun dapat terbunuh di tangannya, persoalannya sekarang. pantaskah

orang ini dibunuh? Senja telah menjelang, kabut menyelimuti seluruh jagad.

Sebenarnya kabut tak akan muncul di kala senja, tapi kali ini sang kabut justru telah muncul. Selapis kabut tebal bagaikan dalam impian belaka.

Umat manusia seharusnya tidak bermimpi, tapi justru mereka selalu bermimpi.

Cia Siau-hong berjalan masuk ke balik kabut, berjalan masuk ke balik alam impian. Impian bagaikan selapis kabut, ataukah kabut bagaikan selapis impian?

Kalau dibilang kehidupan manusia bagaikan kabut atau bagaikan impian, perkataan semacam ini bisa dianggap sebagai terlampau umum? Ataukah terlampau polos?

"Kami semua adalah manusia, orang-orang persilatan, karenanya kau harus tahu mengapa kami sampai berbuat demikian?"

Itulah perkataan dari Lei Tin-tin.

Oleh karena itu ia tidak membunuh Lei Tin-tin, juga tidak membunuh Bwe Tiang-hoa, Chin To-siu serta Ouyang Im-hok.

Karena dia tahu apa yang mereka katakan adalah kata-kata yang sejujurnya.

Sesungguhnya dalam dunia persilatan memang tiada perselisihan tanpa sesuatu tujuan tertentu, seringkali orang persilatan melakukannya tanpa memikirkan keselamatan orang lain.

Di kala mereka hendak melakukan sesuatu pekerjaan, seringkali bahkan mereka sendiri pun tidak mempunyai pilihan lain.

Tiada seorangpun yang bersedia mengakui akan hal ini, lebih-lebih tak ada orang yang berusaha untuk menyangkalnya.

Inilah nyawa dari orang persilatan juga merupakan kejadian yang paling memedihkan bagi orang persilatan.

Dalam dunia persilatan selalu akan terdapat manusia semacam Lei Tin-tin, apa pula gunanya ia membunuh seorang Lei Tin-tin? Apa pula yang bisa dirubahnya?

"Kami memilihnya sebagai bengcu, karena kami merasa hanya dia seorang yang sanggup menandingi Buyung Ciu-ti dari Thian-cun!"

Perkataan itu diucapkan oleh Ouyang Im-hok. Itupun merupakan sebuah kata-kata yang benar.

Tiba-tiba ia merasa bahwa Lei Tin-tin dengan Buyung Ciu-ti sebenarnya adalah manusia dari jenis yang sama.

Manusia macam ini agaknya memang ditakdirkan sebagai pemenang, sebab di dalam melakukan pekerjaan apapun, dia akan selalu berhasil dengan sukses. Sebaliknya ada sementara orang yang agaknya memang sejak dilahirkan sudah ditakdirkan sebagai pihak yang kalah, perduli berapapun yang berhasil mereka menang, pada akhirnya toh tetap kalah juga sampai ludas.

Tak tahan ia mulai bertanya pada diri sendiri:

"Bagaimana pula dengan aku? Manusia macam apakah diriku ini?"

Ia tidak menjawab pertanyaan itu, sebab jawaban dari pertanyaan itu memang sama sekali tak ingin diketahui.

Kabut yang menyelimuti jagad di mana dingin tebal lagi, sedemikian tebalnya sehingga membuatnya seolah-olah terpisah dalam sebuah dunia yang lain.

Cuaca semacam ini memang paling cocok dengan perasaannya sekarang, sebenarnya dia tak ingin berjumpa dengan siapapun.

Tapi pada saat itu, dari balik kabut yang tebal justru muncul sesosok bayangan manusia.

Raut wajah Kian Po-sia muncul dari balik kabut, seakan-akan sukma gentayangan yang baru saja lolos dari dalam neraka.

"Oh, kiranya kau!", kata Cia Siau-hong sambil menghela napas. "Ya, memang aku!", Kian Po-sia membenarkan.

Suaranya parau, lagi pula penuh kesedihan.

"Aku tahu kau tak ingin berjumpa lagi denganku, tapi aku harus datang kemari untuk bertemu lagi denganmu!"

"Kenapa?"

"Karena dalam hatiku terdapat banyak persoalan yang ingin kuucapkan kepadamu, perduli kau bersedia, untuk mendengarkan atau tidak, aku tetap akan mengutarakannya kepadamu"

Cia Siau-hong memandang sekejap ke atas wajahnya yang pucat, akhirnya ia manggut-manggut. "Jika kau bersikeras ingin mengutarakannya juga, akupun akan mendengarkan dengan seksama"

"Aku betul-betul adalah orangnya Thian-cun, karena aku tak dapat menampik mereka, karena aku masih tak ingin mati!"

"Aku mengerti bahkan manusia macam Thian Cay-liong saja tak dapat menampik mereka, apalagi kau!"

"Posisiku jauh berbeda dengannya, yang dia pelajari adalah pedang, sedang yang kupelajari adalah ilmu pertabiban, ilmu pertabiban dipakai untuk menolong umat manusia, kami harus memandang berharga nyawa setiap manusia!"

"Aku mengerti!" "Baru beberapa bulan aku bergabung dengan pihak Thian-cun, tapi ilmu pertabiban ini sudah kupelajari hampir dua puluh tahun lamanya, cara berpandangku terhadap nyawa manusia boleh dibilang sudah berakar dalam hatiku, sudah mendarah daging"

"Aku percaya!"

"Oleh sebab itu apapun yang disuruh Thian-cun lakukan, aku tak dapat menganggap nyawa manusia sebagai barang permainan, asal dia adalah pasienku, aku pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga untuk mengobatinya entah siapapun itu orangnya!"

Ditatapnya Cia Siau-hong lekat-lekat, kemudian ia menambahkan:

"Begitu pula terhadap dirimu!"

"Sayang sekali, lukaku memang tak bisa ditolong lagi!"

"Asal aku merasa masih ada sedikit harapan, aku tak akan lepas tangan dengan begitu saja", ujar Kian Po-sia sedih.

"Aku tahu bahwa kau telah berusaha sepenuh tenaga, aku sedikitpun tidak menyalahkan dirimu!"

"Thian Cay-liong betul-betul orang dari Thian-cun, pula sebetulnya mereka suruh aku mengatur segala sesuatunya agar ia dapat membinasakan dirimu!"

Cia Siau-hong segera tertawa.

"Masakah persoalan semacam inipun dapat diatur?", ia bertanya. "Orang lain mungkin tak bisa, tapi aku bisa!"

"Bagaimana caramu mengatur segala sesuatunya?"

"Asal kuberi sedikit obat pembusuk tulang lagi di atas mulut lukamu, maka di saat kau berjumpa dengan Thian Cay-liong, sedikit tenaga untuk melancarkan serangan balasanpun tak akan kau miliki, maka asal kuberi tanda kepadanya, dia akan berebut untuk turun tangan lebih dahulu!"

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan:

"Siapapun yang bisa mengalahkan Sam-sauya dari keluarga Cia, peristiwa ini pasti akan menggetarkan seluruh dunia persilatan dan namanya akan termashur sampai di mana-mana, apalagi di antara mereka masih diembel-embeli pula dengan suatu pertaruhan!"

"Siapa mampu membunuh Cia Siau-hong, siapa pula yang akan menjadi Bengcu dalam pertemuan bukit Thay-san", kata Cia Siau-hong.

"Benar!"

"Seandainya Thian Cay-liong bisa membunuh aku di hadapan murid-murid tertua dari tujuh partai besar, Lei Tin-tin pun terpaksa harus menyerahkan kursi Bengcu tersebut kepadanya, maka Persekutuan Tujuh Partai besarpun akan berubah menjadi benda dalam saku dari Thian-cun!"

"Betul!" Cia Siau-hong menghela napas ringan, katanya lagi:

"Sayang kau sama sekali tidak berbuat demikian"

"Aku tak dapat berbuat demikian, aku tak tega untuk melakukannya!"

"Sebab jiwa mulia dari seorang tabib telah berakar dan mendarah daging dalam hatimu!" "Benar!"

"Sekarang aku masih ada satu hal yang belum begitu mengerti", ucap Cia Siau-hong kemudian. "Hal yang mana?"

"Lei Tin-tin sekalian kenapa bisa tahu kalau aku paling banter hanya bisa hidup tiga hari lagi? Padahal rahasia semacam ini seharusnya hanya diketahui oleh Thian-cun seorang?"

Paras muka Kian Po-sia tiba-tiba berubah hebat, serunya tertahan:

"Masakah Lei Tin-tin juga orang Thian-cun?"

Cia Siau-hong menengok ke arahnya, ternyata ia masih tetap tenang seperti sedia-kala, hanya tanyanya hambar:

"Kau benar-benar tak tahu kalau diapun orangnya Thian-cun?" "Aku. ?"

"Padahal sepantasnya kau bisa berpikir sampai ke situ, bila seorang jago lihay sedang bermain catur, setiap langkah mereka pasti siapkan pula langkah mundurnya, itu berarti di belakang kesemuanya ini mereka pasti telah menyiapkan pula seorang pembunuh tersembunyi yang jauh lebih lihay, padahal Buyung Ciu-ti merasa tidak yakin dengan kemampuan yang dimiliki Thian Cay- liong, maka bisa diduga dalam permainan catur kali ini pembunuh yang sesungguhnya telah dia persiapkan adalah Lei Tin-tin"

"Rupanya kau telah berpikir sampai ke situ!" Cia Siau-hong tersenyum.

"Tentu saja!", jawabnya, "aku toh bukan manusia yang terlalu bodoh" Kian Po-sia menghembuskan napas lega.

"Kalau begitu, tentunya kau telah membinasakan dirinya, bukan?" "Tidak!"

Sekali lagi paras muka Kian Po-sia berubah hebat, serunya tertahan: "Mengapa kau lepaskan dirinya?"

"Karena hanya dia yang sanggup menghadapi Buyung Ciu-ti" "Tapi dia. ?" "Meskipun sampai kini dia masih orangnya Thian-cun, tapi dia tak akan terlalu lama bercokol di bawah perintah Buyung Ciu-ti, di atas bukit Thay-san merupakan kesempatan yang terbaik baginya, asal ia sudah menduduki jabatan Bengcu, ia pasti dapat mempergunakan kekuasaannya untuk menghadapi Thian-cun dengan sepenuh tenaga!"

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan:

"Aku telah memahami perasaan semacam ini, dia pasti tak akan melepaskan kesempatan baik semacam ini dengan begitu saja!"

Peluh dingin telah membasahi sekujur badan Kian Po-sia, telapak tangannya ikut berkeringat.

Diapun bukan seorang manusia yang bodoh, tapi persoalan semacam ini tidak pernah dipikirkannya.

Cia Siau-hong berkata:

"Selama ini Buyung Ciu-ti selalu mempergunakan dirinya padahal ia tak tahu, diapun selama ini selalu mempergunakan Buyung Ciu-ti. Ia bersedia menggabungkan diri dengan pihak Thian-cun, mungkin hanya dikarenakan dia ingin mempergunakan kekuatan Thian-cun untuk melangkah ke atas jalur seperti apa yang diharapkan"

Setelah menghela napas panjang, katanya lagi:

"Permainan catur Buyung Ciu-ti kali ini ibaratnya seekor ular berbisa, sekalipun ular berbisa dapat membinasakan orang lain, tapi setiap saat siapapun dapat memalingkan kepalanya memagut diri sendiri"

"Apakah pagutannya juga mematikan?", tanya Kian Po-sia.

"Ia sanggup membuat Buyung Ciu-ti menaruh kepercayaan kepadanya, tentu saja dapat pula menyelidiki di mana letak nadi mematikan dari pihak Thian-cun, andaikata pagutannya persis mengenai letak tempat yang mematikan Thian-cun, sudah barang tentu pagutannya itu tidak terhitung enteng!"

"Tapi ular berkaki seratus kalu mati tak akan kaku, bila dia ingin memagutnya secara telak, aku rasa bukan suatu pekerjaan yang terlalu gampang!"

"Oleh sebab itulah kita harus menggunakan racun untuk melawan racun, membiarkan mereka saling bunuh membunuh, menanti kedua belah pihak sama-sama sudah lemas dan kehabisan tenaga, maka orang lainlah yang tinggal memungut keuntungan"

"Siapakah yang kau maksudkan sebagai orang lain?"

"Tentu saja salah seorang Enghiong dari dunia persilatan! Dari setiap generasi pasti akan muncul seorang yang luar biasa, siapakah orang itu, siapapun tak akan tahu!"

Setelah menghela napas panjang, terusnya:

"Inilah nasib dari orang-orang persilatan, yang hidup dalam dunia persilatan, maka nasibnya ibarat selembar daun kering yang terombang-ambing di tengah hembusan angin, seringkali mereka harus berbuat tanpa bisa di cegah, mereka berbuat tanpa ada kebebasan. Asal kita tahu bahwa Persekutuan Tujuh Partai maupun Thian-cun pasti kalah, rasanya ini sudah lebih dari cukup, apa gunanya musti banyak bertanya lagi ?" Kian Po-sia tidak bertanya lagi, dia bukan orang persilatan, tak dapat memahami watak dari orang persilatan, lebih-lebih tak dapat memahami watak dari Cia Siau-hong.

Tiba-tiba saja ia merasa bahwa orang ini bukan saja bagaikan daun kering yang terombang- ambing di tengah hembusan angin, bahkan ia mirip sekali seperti kabut malam yang datang lebih awal, begitu lembut, enteng dan sukar ditangkap.

Kadangkala orang ini bersikap santai, kadangkala bersikap murung, ada kalanya gembira, ada kalanya sosial dan mulia, tapi kadangkala berubah menjadi dingin, keji dan tak berperasaan.

Belum pernah Kian Po-sia menjumpai manusia dengan watak yang begini kalut seperti Cia Siau- hong.

Mungkin disebabkan karena wataknya yang banyak perubahan dan kacau inilah maka dia baru bernama Cia Siau-hong.

Kian Po-sia menatapnya lekat-lekat, tiba-tiba ia menghela napas panjang, lalu berkata:  "Dengan kedatanganku kali ini, sebenarnya masih ada satu hal yang kuberitahukan kepadamu!"

"Apa yang hendak kau katakan?"

"Walaupun aku tak dapat menyembuhkan lukamu, bukan berarti lukamu itu sudah tak mungkin bisa di tolong lagi"

Sinar tajam mulai memancar keluar dari wajah Cia Siau-hong.

Jika seseorang mengetahui bahwa dia masih ada harapan untuk hidup lebih jauh , siapakah yang tak ingin hidup lebih jauh?

Tak tahan lagi diapun bertanya:

"Masih ada orang yang bisa menolongku?" "Hanya seorang!"

"Siapa?"

"Diapun seorang manusia yang aneh, seperti juga kau, perasaannya mudah berubah-ubah, sikapnya sukar diraba dan diikuti, bahkan kadangkala dia akan bersikap pula seperti kau, dingin, keji dan tak berperasaan!"

Cia Siau-hong tak dapat menyangkal, dia hanya menghela napas.

Orang yang paling berperasaan kadangkala dapat pula berubah menjadi orang yang paling tak berperasaan. Sesungguhnya dia adalah tipe manusia yang amat perasa? Ataukah sama sekali tak berperasaan? Bahkan dia sendiripun tak dapat mengetahuinya secara jelas.

Kian Po-sia memandang ke arahnya, tiba-tiba ia menghela napas panjang lagi.

"Perduli siapakah orang ini sekarang, kau tak akan dapat menemukan dirinya lagi untuk selama- lamanya" Sepatah demi sepatah kata, ia melanjutkan:

"Karena aku tak akan memberitahukan kepadamu, siapakah orang tersebut?" ooooOOOOoooo