Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 29. Bertaruh Pedang

Bab 29. Bertaruh Pedang

Ada sementara orang yang rupanya sejak dilahirkan sudah memiliki perbedaan daripada orang lain. Entah berada dalam saat apapun, di tempat manapun, selalu gemar mengucapkan kata-kata yang menggemparkan, melakukan perbuatan yang menggetarkan hati.

Tak bisa disangkal lagi Lei Tin-tin adalah manusia semacam ini.

Cia Siau-hong dapat memahami perasaan manusia semacam ini, sebab dahulupun ia adalah manusia semacam ini, dia gemar pula membuat orang lain merasa terkejut.

Maka ia sama sekali tidak menampilkan rasa terkejut, walaupun hanya sedikitpun juga, hanya tanyanya dengan hambar:

"Apakah kau ingin mendengarkan kata-kataku yang jujur?" "Tentu saja ingin!"

"Kalau begitu biar kuberitahukan kepadamu, aku hanya ingin tahu dengan cara apakah aku baru akan berhasil mengajakmu naik ke tempat tidur dan menemani aku semalam?" "Kau hanya mempunyai satu cara!", jawab Lei Tin-tin cepat. "Cara yang bagaimana?"

"Bertaruh!" "Bertaruh?"

"Asal kau dapat menangkan aku, apapun yang kau kehendaki pasti akan kuturuti!"

"Seandainya aku yang kalah, maka apapun yang kau kehendaki, aku harus mengabulkannya pula?", tanya Cia Siau-hong.

"Tepat sekali!"

"Hmm. ! Taruhan ini cukup besar"

"Kalau sudah ingin bertaruh lebih baik bertaruh yang agak besaran, sebab makin besar taruhannya semakin menarik"

"Apa yang ingin kau pertaruhkan?" "Bertaruh pedang!"

Cia Siau-hong segera tertawa.

"Kau benar-benar ingin bertaruh pedang denganku?", katanya.

"Kau adalah Cia Siau-hong, jago pedang yang tiada tandingannya di kolong langit, Cia Siau-hong. Kalau aku tidak bertaruh pedang denganmu, apa pula yang musti ku pertaruhkan denganmu?

Apakah kau akan suruh aku seperti bocah cili bertaruh gundu di atas tanah?" Sambil mendongakkan kepalanya, ia berkata lebih jauh:

"Bila bertaruh dengan setan arak, maka musti bertaruh arak, jika ingin bertaruh dengan Cia Siau- hong, maka harus bertaruh pedang, bila bertaruh yang lain sekalipun, memang juga tiada artinya"

Mendengar perkataan itu Cia Siau-hong tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeeeehhhh....... heeeeeehhhhhh....... heeeeehhhhhhh. bagus, Lei Tin-tin memang tidak

malu disebut Lei Tin-tin" Lei Tin-tin kembali tertawa.

"Sungguh tak kusangka Sam-sauya yang termashur namanya di seantero jagad ternyata tahu juga akan namaku"

Kali ini ia benar-benar tertawa, bukan tertawa penuh ejekan dan cemoohan seperti apa yang diperlihatkannya tadi, juga bukan tertawa khas seorang pendekar perempuan.

Tertawanya kali ini adalah tertawa asli dari seorang perempuan, seorang perempuan tulen. Cia Siau-hong berkata: "Sekalipun kau belum pernah melihat mutiara, ketika pandangan pertama kau melihat mutiara tersebut, otomatis kau akan mengetahui dengan sendirinya bahwa benda itu adalah mutiara"

Ia tersenyum, setelah menatapnya lekat-lekat, terusnya:

"Ada sementara orang persis pula dengan mutiara tersebut sekalipun kau belum pernah berjumpa dengannya, tapi di kala kau bertemu dengannya untuk pertama kalinya, kaupun akan segera mengenalinya dengan cepat. "

Suara tertawa Lei Tin-tin makin menawan hati, katanya:

"Tak heran kalau orang lain selalu berkata, bahwa Sam-sauya dari keluarga Cia bukan saja memiliki sebilah pedang yang dapat menggetarkan perasaan kaum lelaki, iapun memiliki selembar bibir yang bisa menggetarkan hati kaum wanita"

Sesudah menghela napas panjang, terusnya:

"Sayangnya, di kala para perempuan sudah mulai tergerak hatinya, diapun akan segera menghadapi kenyataan yang pahit, kenyataan yang dapat membuat orang merasa sedih"

"Tahukah kau seseorang yang selalu dapat membuat orang lain merasa sedih, suatu ketika diapun akan mengalami juga saat untuk merasa sedih. !"

Walaupun suara Siau-hong masih tetap tenang, namun telah membawa suatu nada kekesalan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Lei Tin-tin menundukkan kepalanya, lalu menjawab:

"Ya, seseorang yang selalu membuat orang lain merasa sedih, suatu ketika dia sendiripun akan mengalami saatnya untuk bersedih hati. "

Setelah mengulangi kembali kata-kata itu dengan lembut, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan menatap laki-laki itu lekat-lekat, katanya lebih lanjut:

"Perkataan ini pasti akan kuingat terus untuk selamanya!" Cia Siau-hong tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhhh....... haaaaaahhhhh....... haaaaaahhhhh. bagus! Menurut kau, bagaimana caranya

kita hendak bertaruh?"

"Akupun sering mendengar orang berkata bahwa sewaktu Sam-sauya mencabut pedangnya, ia sudah tak berperasaan lagi, belum pernah ia memberi peluang bagi orang lain!"

"Pedang baja memang merupakan sebuah benda yang tak berperasaan, jika di ujung pedang masih berperasaan, apa pula gunanya untuk dicabut keluar?"

"Oleh sebab itu asal pedangmu sudah diloloskan, pihak lawan segera akan mati di ujung pedangmu itu, hingga kini belum pernah ada orang yang sanggup menahan tiga jurus seranganmu!"

"Mungkin! Hal itu dikarenakan dalam tiga jurus saja, aku telah mengerahkan segenap kekuatan yang kumiliki!"

"Dalam tiga jurus itu, jika kau tak bisa meraih kemenangan, mungkinkah segera akan kalah?" "Ya, kemungkinan besar", Cia Siau-hong tersenyum, lalu dengan nada hambar lanjutnya, "untung saja hingga kini aku belum pernah mengalami keadaan seperti ini!"

"Siapa tahu akan kau jumpai pada saat ini?", sambung Li Tin-tin tiba-tiba. "Oya?"

Lei Tin-tin telah berpaling, sedangkan Ouyang Im-hok, Chin To-siu, Bwe Tiang-hoa, Thian Cay- liong, Go To serta Le Peng-cu masih tetap berdiri di belakangnya dengan mulut membungkam. Ia memandang sekejap ke arah mereka, lalu ujarnya:

"Kau kenal dengan beberapa orang ini?"

"Walaupun belum pernah bersua muka, semestinya akupun bisa mengenali mereka semua!" "Bagus, aku bertaruh setiap orang dari mereka semua sanggup menerima tiga jurus seranganmu!" "Setiap orang?"

"Ya, setiap orang ! Bila ada seorang saja di antara mereka tak sanggup menerima ke tiga jurus seranganmu itu, anggap saja aku yang kalah. "

Setelah tertawa ewa, gadis itu berkata kembali:

"Pertaruhan semacam ini, mungkin juga tak bisa dianggap adil, tentu saja kau boleh menolak ajakanku ini, sebab kalau betul kau sudah mengerahkan segenap tenagamu di saat melancarkan ke tiga buah jurus serangan itu, maka di kala bertarung dengan orang yang terakhir, kemungkinan besar tenaga dalammu sudah banyak berkurang"

"Pertarungan antara sesama jago persilatan yang di adu bukan tenaga melainkan taktik pertarungan, toh kita bukan banteng-banteng yang hendak mengukur kekuatan?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Lei Tin-tin, serunya setengah berteriak:

"Jadi kau bersedia untuk bertaruh?"

"Kedatanganku hari ini khusus untuk bertaruh secara besar-besaran, masih adakah cara bertaruh lain yang jauh lebih menggembirakan dan lebih memuaskan daripada pertaruhan ini?"

Cia Siau-hong mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak, terusnya:

"Bisa berjumpa muka dengan tujuh orang jago paling top dari tujuh partai pedang terbesar di dunia dalam seharian saja, baik menang atau kalah peristiwa ini betul-betul merupakan suatu peristiwa yang paling menggembirakan hatiku!"

"Bagus! Cia Siau-hong memang tak malu disebut sebagai Cia Siau-hong. !", puji Lei Tin-tin.

"Apakah kau telah bersiap-siap untuk turun tangan lebih dulu pada babak pertama?"

"Aku tahu Sam-sauya selalu enggan untuk bertarung melawan kaum wanita, mana aku berani berebutan dengan mereka? Apalagi. "

Setelah tersenyum manis, terusnya: "Walaupun pertarungan antara jago lihay yang di adu adalah teknik pertarungan, bukan tenaga, orang yang turun tangan lebih dulu toh pada akhirnya akan menderita kerugian juga, mana mungkin suheng-suheng ku ini tega membiarkan aku menderita kerugian?"

"Ehmm. masuk di akal juga perkataanmu itu"

Lei Tin-tin tertawa manis.

"Sedikit atau banyak di kala seorang perempuan berada di hadapan kaum lelaki, pasti akan menunjukkan sikap tak tahu aturan, maka sekalipun aku telah salah berbicara, semua orang juga tak akan membenci kepadaku. "

Ouyang Im-hok, Chia To-siu, Bwe Tiang-hoa, Thian Cay-liong, Go To serta Le Peng-cu masih saja berdiri termenung di sana, entah dikarenakan mereka tak sanggup berbicara, entah karena apa yang ingin mereka katakan telah diutarakan oleh Lei Tin-tin.

Cia Siau-hong menatap sekejap ke arah mereka, kemudian ujarnya:

"Siapakah yang akan turun tangan lebih dahulu?"

"Aku!", jawab seseorang sambil pelan-pelan tampil ke depan. Cia Siau-hong segera menghela napas panjang.

"Aaaaiiii ! Aku tahu, pasti kau yang akan tampil lebih dahulu!"

Orang ini tentu saja Ouyang Im-hok.

Bagaimanapun juga partai Bu-tong memang sebuah perguruan kenamaan dari partai lurus, dalam keadaan seperti ini tak mungkin akan mengundurkan diri dan bersembunyi seperti cucu kura-kura.

Cia Siau-hong kembali menghela napas panjang, katanya:

"Jika bukan kau yang turun tangan lebih dulu, mungkin aku akan merasa kecewa sekali, jika kau yang turun tangan lebih dahulu, akupun merasa amat kecewa!"

"Kecewa?", kata Ouyang Im-hok.

"Konon belakangan ini pihak Khong-tong-pay berhasil menciptakan sejenis ilmu pedang ampuh yang berbahaya dan ganas, sebenarnya aku mengira anak murid Khong-tong-pay akan saling berebut denganmu"

Perduli siapapun itu orangnya, mereka pasti akan mendengar bahwa di balik ucapan tersebut terselip sindiran yang tajam, hanya Chin To-siu seorang yang seakan-akan sama sekali tidak mendengarnya.

"Khong-tong-pay atau Bu-tong-pay, asalnya dari satu sumber yang sama, siapa yang maju duluan sama saja"

Pelan-pelan Cia Siau-hong mengangguk, sahutnya: "Betul, siapa yang turun tangan lebih dulu sama saja!"

Ketika kata terakhir diutarakan keluar, ia sudah turun tangan lebih duluan. Sebetulnya Go To berdiri di paling jauh, tapi begitu badan Siau-hong berkelebat lewat, tahu-tahu ia sudah mencabut keluar pedang yang tersoren di pinggang Go To.

Lalu ketika kata terakhir diucapkan tadi, ia sudah tiba kembali di hadapan Chian To-siu, mendadak sambil memutar balik mata pedang, ia sentuhkan gagang pedang tersebut kepada Chin To-siu.

Menghadapi kejadian seperti ini, Chin To-siu tertegun, terpaksa ia menerima pedang itu.

Siapa tahu secepat kilat Cia Siau-hong telah turun tangan kembali dan meloloskan pedang yang tersoren di pinggangnya.

Cahaya pedang berkelebat lewat, tahu-tahu mata pedang sudah berada di depan mata Chin To- siu.

Sekalipun sedang menghadapi mara-bahaya, Chin To-siu tidak menjadi gugup, sambil memutar pedangnya ia sambut datangnya ancaman tersebut.

"Criiiiing. ! Dentingan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, sebilah pedang sudah

tergetar lepas dari genggaman dan mencelat ke tengah udara.

Cahaya pedang itu dari hijau berubah menjadi biru, inilah pedang Cing-im-kiam yang terbuat dari baja asli.

Pedang semacam ini seluruhnya berjumlah tujuh bilah, pedang yang khusus digunakan oleh Thiam-cong-jit-kiam, cuma sekarang telah berada di tangan Chin To-siu, kemudian dari tangan Chin To-siu mencelat kembali ke tengah udara.

Menanti cahaya pedangnya sudah lenyap, pedang itu sudah berada kembali di tangan Cia Siau- hong, sementara pedang milik Chin To-siu telah disarungkan kembali ke dalam sarung yang tersoren di pinggang Chin To-siu.

Semua orang menjadi tertegun oleh kejadian tersebut.

Paras muka Chin To-siu sendiri telah berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat. Baginya peristiwa yang barusan terjadi hakekatnya bagaikan sebuah impian yang buruk. Apa lacur impian buruk tersebut justru merupakan suatu kenyataan yang tak bisa dibantah.

Cia Siau-hong tidak memandang lagi ke arahnya, walau hanya sekejappun, ia berjalan ke depan menghampiri Go To, lalu katanya:

"Ini pedangmu?"

Ia mengangsurkan kembali pedang itu dengan sepasang telapak tangannya, terpaksa Go To harus menyambarnya, tangan yang menyambut pedang itu masih menggigil keras, kemudian secara tiba-tiba ia menghela napas panjang, katanya dengan sedih:

"Tak usah bertarung lagi, aku mengaku kalah"

"Kau benar-benar mengaku kalah?", Lei Tin-tin menegaskan. Pelan-pelan Go To mengangguk.

"Jangan kuatir, aku tak akan melupakan janji kita!", katanya. "Aku percaya kepadamu!"

Go To berpaling kembali ke arah Cia Siau-hong, dia seakan-akan ingin mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah katapun yang sanggup di utarakan keluar, akhirnya tanpa berpaling lagi ia memutar badannya dan pergi meninggalkan tempat itu.

"Kalau menang ya menang, kalau kalah ya kalah, anak murid Thiam-con-pay benar-benar seorang lelaki sejati!", puji Cia Siau-hong.

"Untung saja aku bukan seorang lelaki sejati!", tiba-tiba Le Peng-cu berkata dengan dingin. "Apa baiknya kalau bukan laki-laki sejati?"

"Justru lantaran aku bukan lelaki sejati, maka aku tak akan berebut untuk turun tangan lebih dulu"

Mencorong sinar tajam dari balik matanya yang tunggal, sekulum senyuman licik menghiasi wajahnya yang jelek, katanya lebih lanjut:

"Orang yang turun tangan terakhir bukan saja tak perlu bersusah payah lagi, pula mempunyai banyak kesempatan untuk meraba jalannya ilmu pedangmu, meski tak dapat membinasakan kau di ujung pedangnya, paling tidak bukan suatu kesulitan untuk menyambut ketiga jurus seranganmu"

"Kau betul-betul bukan seorang lelaki sejati", kata Cia Siau-hong, "kau adalah seorang siaujin!" Ia masih saja tertawa, katanya kembali:

"Tapi siaujin asli paling tidak jauh lebih baik daripada seorang kuncu gadungan, paling tidak siaujin asli masih mau berbicara sejujurnya"

Mendadak Bwe Tiang-hoa tertawa dingin ujarnya:

"Kalau begitu orang yang paling rugi adalah manusia semacam aku ini" "Kenapa?", tanya Cia Siau-hong.

"Aku bukan seorang kuncu (manusia sejati) pun bukan seorang siaujin (manusia rendah), sekalipun tak ingin berebut duluan, akupun enggan untuk ketinggalan paling akhir"

Pelan-pelan ia tampil ke depan, ditatapnya Cia Siau-hong lekat-lekat, kemudian katanya: "Kali ini kau bermaksud untuk meminjam pedang siapa?"

"Pedangmu!"

Buat sementara orang, pedang tak lebih hanya sebuah senjata, sebuah senjata yang terbuat dari baja, bisa dipakai untuk melindungi keselamatan sendiri, bisa pula dipakai sebagai alat pembunuh.

Tapi bagi sementara orang yang lain, makna dari sebilah pedang tidaklah demikian. Karena mereka telah mempersembahkan segenap kehidupannya untuk pedang mereka, nyawa mereka, kehidupan mereka telah melebur menjadi satu dengan pedang mereka.

Sebab hanya pedang baru bisa mendatangkan nama dan kedudukan bagi mereka, dengan pedang mereka bisa meraih kekayaan serta kejayaan, tapi dengan pedang pula mereka akan memperoleh penghinaan, rasa malu bahkan kematian.

Selama pedang masih ada, orangnya tetap ada, pedangnya hancur, orangnya ikut mampus.

Buat mereka, pedang bukan hanya berarti sebilah pedang saja, pedang dapat pula menjadi satu- satunya sahabat mereka yang paling dipercaya, sedang dalam anggapan mereka memiliki kehidupan, memiliki nyawa.

Jika dibilang mereka rela kehilangan bini daripada kehilangan pedang miliknya, perkataan ini bukan suatu kata-kata bualan belaka, pun bukan suatu perkataan yang berlebihan.

Go To adalah manusia semacam ini.

Dalam anggapannya perduli dalam keadaan macam apapun, kehilangan pedang milik sendiri merupakan suatu kesalahan yang tak dapat diampuni, suatu aib yang tak bisa dicuci bersih dengan pembalasan macam apapun, maka sesudah kehilangan pedangnya, ia merasa tak punya muka lagi untuk tetap tinggal di sana.

Bwe Tiang-hoa juga merupakan tipe manusia begini.

Setelah ada Go To sebagai contoh yang paling jelas, tentu saja ia semakin berhati-hati untuk melindungi serta menjaga pedangnya.

Sekarang secara terang-terangan Cia Siau-hong mengatakan di hadapannya bahwa dia hendak meminjam pedangnya.

Mendengar ucapan itu Bwe Tiang-hoa tertawa, tertawa terbahak-bahak.

Tangannya menggenggam gagang pedang itu kencang-kencang, otot hijau pada punggung tangannya telah menonjol keluar semua karena penggunaan tenaga yang kelewat besar.

Tak seorangpun dapat merampas pedang tersebut dari tangannya, kecuali berikut tangannya dipenggal sekali.

Terhadap kemampuannya ia menaruh kepercayaan yang tinggi, tapi ia sudah memandang rendah kemampuan Cia Siau-hong.

Di kala ia mulai tertawa, Cia Siau-hong sudah turun tangan.

Tak seorangpun dapat melukiskan bagaimana cepatnya serangan yang dia lancarkan itu, tiada orang pula yang bisa melukiskan kelincahan serta kehebatan gerakan tubuhnya.

Sasaran serangannya bukan pedang di tangan Bwe Tiang-hoa, melainkan sepasang matanya. Bwe Tiang-hoa melompat mundur sambil putar tangannya meloloskan senjata.

Meloloskan pedang terhitung pula sebagai kepandaian paling penting dalam ilmu pedang, terhadap hal tersebut anak murid Hoa-san-pay tak pernah memandang enteng atau memandang remeh. Gerak Bwe Tiang-hoa sewaktu meloloskan pedang cepat sekali, tapi sewaktu melancarkan serangan ternyata jauh lebih cepat lagi, baru saja cahaya pedang berkelebat lewat, tahu-tahu mata pedang sudah berada di bawah iga kiri Cia Siau-hong.

Siapa tahu pada saat itulah, mendadak sikutnya didorong orang dengan pelan, kontan keseimbangan tubuhnya lenyap dan tak berbekas, ia menjadi sempoyongan dan merasakan tubuhnya seolah-olah sedang melayang di tengah mega.

Menanti ia berhasil mengendalikan keseimbangan badannya, tahu-tahu pedang yang berada di tangannya itu sudah berpindah tangan.

Kini pedang tersebut berada di tangan Cia Siau-hong.

Peristiwa ini bukan suatu kejadian yang aneh, juga bukan karena pengaruh ilmu sihir, inilah gerakan To-thian-huan-jit-toh-kiam-si (Mencuri langit berantai dari gerakan merampas pedang) yang tiada keduanya milik Sam-sauya dari keluarga Cia.

Silas pandangan, tampak jelas bahwa gerakan tersebut tidak rumit ataupun membingungkan, tapi setiap kali dipergunakan maka sekalipun tak pernah meleset.

Senyuman yang menghiasi wajah Bwe Tiang-hoa segera berubah menjadi beku, semacam mimik wajah yang aneh tapi misterius dengan cepat menyelimuti seluruh wajahnya.

Tiba-tiba berkumandang suara pekikan nyaring memenuhi seluruh angkasa, suara itu seakan- akan datang dari luar langit.

Serentetan cahaya pedang berkelebat lewat menyusul berkumandangnya suara pekikan tersebut, setelah berputar satu lingkaran di tengah udara, mendadak secepat kilat meluncur ke bawah dan menyergap dengan hebatnya.

Inilah jurus Hui-liong-kiau-si (Sembilan gerakan naga terbang) yang termashur dari partai Kun-lun, pedangnya berkelebat cepat bagaikan seekor naga sakti, orangnya meluncur seakan-akan dibungkus selapis awan, kehebatan dari serangan ini hakekatnya tak bisa ditandingi oleh gerakan pedang dari perguruan manapun juga.

Sayang sekali sasarannya adalah Cia Siau-hong.

Pedang Cia Siau-hong ibaratnya segulung angin, bagaimanapun besarnya kekuatan lawan maka pada akhirnya akan berhembus lewat menimpa di tubuhnya.

Meski angin itu lembut, tapi dinginnya serasa membekukan badan.

Darah yang beredar dalam tubuhnya seakan-akan berubah menjadi beku, tubuhnya dengan cepat terjatuh kembali keras-keras.

ooooOOOOoooo