Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 26. Terluka Parah

Bab 26. Terluka Parah

Kereta kuda sudah berhenti di tempat kejauhan, merekapun sudah pergi amat jauh.

"Walaupun arak yang disimpan dalam rumah kami termasuk arak bagus, sayang sekali baru dua kali aku mencuri telah tertangkap basah", Cia Siau-hong ternyata masih tertawa, seakan-akan sedang menceritakan suatu sejarahnya yang gemilang dan patut dibanggakan, "oleh karena itu untuk selanjutnya terpaksa aku harus mencuri milik orang lain"

"Mencuri milik siapa?"

"Di seberang pantai telaga Liok-sui-oh terdapat sebuah warung arak, pemiliknya juga she Cia, sejak pertama kali aku sudah tahu kalau dia adalah seorang yang sangat baik"

"Maka dari itu kau pergi mencuri miliknya!"

"Mencuri angin jangan mencuri rembulan, mencuri hujan jangan mencuri salju, mencuri orang baik, jangan mencuri orang jahat!"

Mimik wajah Cia Siau-hong ketika mengucapkan kata-kata tersebut bagaikan mimik wajah guru sedang mengajar muridnya.

"Itulah nasehat yang dikuatirkan raja pencuri dan nenek moyang pencuri untuk kita semua, jika ingin menjadi seseorang pencuri cilik, maka jangan lupa untuk menghapalkan kata-kata nasehat tersebut di dalam hatinya"

"Sebab sekalipun di tangkap orang baik juga tak akan luar biasa akibatnya, lain kalau ditangkap orang jahat, bisa remuk semua tulang di dalam tubuhmu!"

"Bukan cuma remuk semua tulangmu, akibatnya benar-benar bisa luar biasa sekali!" "Tapi orang baikpun juga pandai menangkap pencuri?"

"Oleh karena itulah, lagi-lagi aku tertangkap basah", Cia Siau-hong sedang menghela napas, "sekalipun tidak luar biasa akibatnya, namun akupun mendapat sebuah pelajaran!"

"Pelajaran apa?"

"Kalau ingin mencuri arak untuk di minum, lebih baik biarkan orang lain yang pergi mencuri, sedangkan dirimu paling banyak hanya berdiri di luar sambil memperhatikan situasi!"

"Baik, kali ini biar aku yang mencuri, kau berjaga-jaga saja di luar rumah!" Thi Kay-seng benar-benar tidak mencuri arak, benda apapun tak pernah dicuri olehnya, tapi perduli apakah yang di suruh curi, ia tak pernah mengalami kesulitan.

Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya mungkin tak bisa dikatakan yang terbaik, tapi jika kau memiliki dua ratus guci arak yang disembunyikan di bawah pembaringan, sekalipun telah dicuri sampai ludas olehnya, belum tentu kau akan menyadari hal ini.

Jarang sekali ada orang yang menyembunyikan guci araknya di kolong pembaringan.

Hanya di gedung-gedung besar, rumah-rumah orang kaya baru di simpan arak wangi, seringkali gedung-gedung megah itu memiliki gudang arak yang khusus.

Untuk mencuri arak yang disimpan dalam gudang arak, sudah barang tentu jauh lebih gampang daripada mencuri guci arak yang di simpan di kolong pembaringan.

Kepandaian Thi Kay-seng untuk mencuri arak meski tak bisa dibandingkan kepandaian Cia Siau- hong, takaran-takaran araknya juga selisih tak sedikit.

Oleh karena itu, yang mabuk terlebih dulu tentu saja dia.

Entah mabuk sungguh-sungguh? Atau mabuk pura-pura? Mabuk seluruhnya? Atau mabuk setengah? Kata-kata yang diucapkan kenyataannya jauh lebih banyak daripada di hari-hari biasa, lagi pula apa yang di bicarakan adalah kata-kata yang di hari-hari biasa tak pernah dikatakan olehnya.

Tiba-tiba Thi Kay-seng bertanya:

"Saudara yang bernama Siau Te, apakah benar-benar bernama Siau Te. ?"

Cia Siau-hong tak dapat menjawab, pun tak ingin menjawab.

"Siau Te sesungguhnya she apa? Kau suruh dia bagaimana mesti menjawab?"

"Tapi perduli dia bernama Siau Te atau bukan, yang pasti dia sudah bukan seorang Siau Te (adik kecil) lagi", sambung Thi Kay-seng lebih lanjut.

"Ya, dia bukan!"

"Sekarang dia sudah seorang lelaki sejati!"

"Kau menganggap dia adalah seorang lelaki sejati?"

"Aku hanya tahu, seandainya aku adalah dia, kemungkinan besar tak akan kuungkapkan isi surat itu!"

"Kenapa?"

"Karena akupun tahu bahwa dia adalah orangnya Thian-cun, ibunya adalah Buyung Ciu-ti!" Cia Siau-hong termenung sampai lama sekali, akhirnya dia menghela napas panjang.

"Ya, dia memang sudah seorang lelaki sejati!"

"Aku masih mengetahui juga akan satu persoalan!", kata Thi Kay-seng kembali. "Persoalan apa?"

"Ia datang menolongmu, kau merasa sangat gembira bukan dikarenakan ia telah menyelamatkan jiwamu, melainkan karena ia telah datang"

Cia Siau-hong minum arak, lalu tertawa getir.

Walaupun arak itu dingin, walaupun terasa pula sedikit getir, apa mau dikata dalam hatinya justru penuh dengan kehangatan serta luapan rasa terima kasih.

Berterima kasih kepada seseorang yang bisa memahami suara hati serta jalan pemikirannya.

"Ada satu hal kau boleh tak usah kuatir, aku tak akan pergi mencari Si Ko-jin lagi!", kata Thi Kay- seng.

Si Ko-jin adalah perempuan seperti kucing itu.

"Karena meskipun ia berbuat salah, kesalahan itu disebabkan suatu paksaan, lagi pula ia telah menebus dosanya"

"Tapi. ", bisik Cia Siau-hong.

"Tapi kau harus pergi mencarinya!", sambung Thi Kay-seng. Dengan suara yang keras ia melanjutkan:

"Walaupun aku tidak pergi mencarinya, kau harus pergi mencari dirinya" Cia Siau-hong dapat memahami maksud hatinya.

Meskipun Thi Kay-seng melepaskan dirinya, Buyung Ciu-ti tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.

Bahkan Cho Han-giok, dua bersaudara dari keluarga Wan, serta perusahaan Hong-ki-piaukiok pun sudah berada di bawah kekuasaan Thian-cun, dewasa ini masih ada persoalan apa lagi yang tak sanggup mereka lakukan?

"Aku pasti akan pergi mencarinya!", Cia Siau-hong berjanji.

"Selain itu masih ada pula seorang lain yang mau tak mau harus kau temui juga!" "Siapa?"

"Yan Cap-sa!"

Malam sudah kelam, udara serasa gelap gulita, inilah saat paling gelap menjelang tibanya fajar.

Cia Siau-hong memandang ke tempat kejauhan sana, ia merasa Yan Cap-sa seolah-olah berdiri di tempat kegelapan di kejauhan sana, seakan-akan telah melebur diri dengan kesepian malam yang dingin ini. Ia belum pernah berjumpa dengan Yan Cap-sa tersebut. Seseorang yang kesepian dan dingin.

Semacam rasa dingin, kaku dan letih yang telah merasuk ke tulang sumsum.

Ia letih karena ia sudah membunuh terlalu banyak orang, bahkan ada di antara mereka orang- orang yang tidak seharusnya di bunuh.

Ia membunuh orang, karena ia tiada pilihan lain kecuali berbuat demikian.

Dari dasar hatinya yang paling dalam, Cia Siau-hong menghela napas panjang.

Ia dapat memahami perasaan semacam ini, hanya dia yang bisa memahami perasaan semacam ini paling mendalam.

Karena diapun membunuh orang, diapun sama-sama merasa letih, pedangnya dan nama besarnya seolah-olah telah menjadi sebuah bungkusan yang selamanya tak dapat ia tanggalkan, dengan berat menindih di atas bahunya, membuat untuk napaspun tersengkal rasanya.

Barang siapa menjadi pembunuh, seringkali akibat apakah yang akan diterimanya? Apakah dia harus mati pula di tangan orang lain?

Tiba-tiba ia teringat kembali perasaan hatinya di saat menghadapi kematian tadi. Di detik-detik terakhir sesungguhnya apa yang telah ia pikirkan di dalam hati?

"Yan Cap-sa"

Setelah menyebutkan ke tiga patah kata ini, Thi Kay-seng yang sebenarnya sudah mabuk kepayang seolah-olah menjadi sadar kembali secara tiba-tiba.

Sorot matanya pun ditujukan ke tempat kejauhan sana, lewat lama sekali pelan-pelan dia baru berkata:

"Selama hidupmu, manusia manakah yang pernah kau jumpai dan kau anggap paling menakutkan?"

"Dia adalah seorang asing yang belum pernah kujumpai", jawab Cia Siau-hong. "Orang asing tidak menakutkan!"

Karena orang asing kalau toh tidak memahami perasaanmu, dia tak akan tahu pula titik kelemahanmu.

Hanya seorang sahabat yang paling akrab baru akan mengetahui tentang kesemuanya ini, menanti mereka telah mengkhianati dirimu, barulah serangan mereka akan membinasakan dirimu.

Kata-kata semacam ini sama sekali tidak ia utarakan, dia tahu Cia Siau-hong pasti dapat memahami pendapat tersebut.

"Tapi orang asing ini justru jauh berbeda dengan orang-orang yang lain. ", Cia Siau-hong

menerangkan. "Apa perbedaannya?"

Cia Siau-hong tak sanggup menjawab.

Oleh karena tak sanggup menjawab, maka hal ini barulah sangat menakutkan. Kembali Thi Kay-seng bertanya:

"Kau pernah menjumpainya di mana?"

"Di suatu tempat yang sangat asing bagiku."

Di tempat yang sangat asing itulah ia telah berjumpa dengan orang asing yang menakutkan, ia sedang berkumpul dengan seorang yang paling dekat dan akrab dengannya, sedang membicarakan ilmu pedang.

Sedang membicarakan ilmu pedangnya.

Apakah orang yang paling dekat dan paling akrab dengannya itu adalah Buyung Ciu-ti? "Menurut pendapatmu, orang asing tersebut mungkinkah Yan Cap-sa?", tanya Thi Kay-seng. "Kemungkinan besar!"

Tiba-tiba Thi Kay-seng menghela napas panjang.

"Dalam kehidupan ini, orang paling menakutkan yang pernah kujumpai adalah dia, bukan kau!" "Bukan aku?"

"Ya, sebab bagaimanapun juga kau toh tetap seorang manusia!" Mungkin hal ini disebabkan karena aku telah berubah.

Ucapan tersebut sama sekali tidak diutarakan oleh Cia Siau-hong, karena bahkan dia sendiri tak tahu mengapa dirinya dapat berubah.

"Yan Cap-sa justru bukan!", kata Thi Kay-seng. "Dia bukan manusia?"

"Seratus persen bukan!"

Setelah termenung sejenak, pelan-pelan dia melanjutkan:

"Dia tak berkawan, tiada sanak saudara, walaupun ia sangat baik kepadaku, mewariskan ilmu pedangnya kepadaku, tapi belum pernah membiarkan aku bergaul mesra dan akrab dengannya, diapun belum pernah membiarkan aku tahu darimanakah dia datang, dan hendak pergi kemana?"

......Karena dia kuatir dirinya telah mengikat hubungan batin dengan seseorang.

......Karena untuk menjadi seorang pendekar pedang pembunuh manusia dia harus tak berperasaan. Kata-kata tersebutpun tidak diutarakan Thi Kay-seng, ia percaya Cia Siau-hong pasti dapat memahaminya.

Lama sekali mereka membungkamkan diri dalam seribu bahasa, tiba-tiba Thi Kay-seng berkata lagi:

"Perubahan jurus ke empat belas dari Toh-mia-cap-sah-kiam tersebut, bukanlah hasil ciptaanmu!" "Apakah dia?"

Thi Kay-seng manggut-manggut.

"Sejak lama ia sudah tahu tentang perubahan jurus yang ke empat belas ini, lagi pula diapun sudah lama mengetahui kalau di balik ilmu pedangmu masih terdapat sebuah titik kelemahan"

"Akan tetapi ia tidak mewariskannya kepadamu?", kata Cia Siau-hong. "Ya, ia tidak mewariskannya kepadaku"

"Kau anggap dia sengaja menyembunyikannya?" "Aku tahu ia tidak bermaksud demikian"

"Kau juga tahu kenapa ia bertindak demikian?"

"Ya, karena dia kuatir setelah kupelajari perubahan jurus pedangnya itu, maka aku akan datang mencarimu"

"Karena dia sendiripun masih belum mempunyai keyakinan yang mantap terhadap perubahan jurus itu", Cia Siau-hong menambahkan.

"Tapi kaupun sama juga tak memiliki keyakinan untuk mematahkan jurus pedangnya itu" Cia Siau-hong tidak memberikan reaksi apa-apa.

Thi Kay-seng menatapnya tajam-tajam, kemudian berkata:

"Aku tahu, kau sendiripun tidak mempunyai keyakinan, sebab ketika kugunakan jurus pedang tadi, seandainya kau mempunyai keyakinan sedari tadi kau sudah turun tangan, kaupun tak akan membiarkan dirimu kena disergap serta dilukai orang"

Cia Siau-hong masih belum mempunyai keyakinan.......

"Kunasehati dirimu lebih baik janganlah pergi mencarinya", kata Thi Kay-seng, "oleh karena kalian berdua sama-sama tidak mempunyai keyakinan, aku tak ingin menyaksikan kalian berdua saling membunuh dan kedua-duanya terluka parah"

Cia Siau-hong kembali termenung sampai lama sekali, tiba-tiba ia bertanya:

"Seseorang di kala berada di saat menjelang kematiannya, apa yang biasanya dipikirkan?"

"Apakah dia akan mengenang kembali semua sanak keluarganya yang paling akrab selama hidup serta kenangan-kenangan di masa lampau?"

"Bukan!" Ia menambahkan:

"Sebenarnya akupun beranggapan pasti hal-hal itu yang dipikirkan, tapi semenjak aku merasakan pula detik-detik menjelang saat kematian ternyata yang dipikirkan bukanlah persoalan-persoalan tersebut"

"Apa yang kau pikirkan ketika itu?"

"Jurus pedang itu, jurus pedang yang ke empat belas!"

Thi Kay-seng termenung akhirnya dia menghela napas panjang, dalam detik yang singkat itu, apa yang dipikirkan olehnya ternyata jurus pedang itu pula.

Seseorang apabila telah mengorbankan segenap kehidupannya untuk pedang, bagaimana mungkin di saat menjelang kematiannya dapat memikirkan persoalan yang lain?

"Sebenarnya aku memang tidak memiliki keyakinan untuk mematahkan jurus pedang itu", kata Cia Siau-hong, "tapi pada detik yang terakhir itulah, dalam hatiku seolah-olah telah melintas suatu ingatan sekalipun jurus pedang itu tampaknya tangguh kokoh dan tak mampu dipatahkan, tapi oleh sambaran kilat yang melintas dalam benakku itulah segera mengalami perubahan!"

"Berubah menjadi bagaimana?" "Berubah menjadi sangat menggelikan!"

Jurus pedang yang sebenarnya menakutkan tiba-tiba saja berubah menjadi sangat menggelikan, perubahan semacam inilah baru benar-benar merupakan suatu perubahan yang mengerikan.

Thi Kay-seng minum arak semakin banyak semakin cepat. "Arak bagus!", serunya kemudian.

"Arak yang di dapatkan dengan jalan mencuri, biasanya memang arak bagus. ", kata Cia Siau-

hong.

"Setelah perpisahan hari ini, entah sampai kapan kita dapat mabuk bersama?"

Tiba-tiba Thi Kay-seng tertawa terbahak-bahak, sambil tertawa tergelak ia bangkit berdiri, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun pergi dari situ.

Cia Siau-hong tidak berbicara apa-apa pula, dia hanya menyaksikan ia tertawa tergelak, menyaksikan ia pergi meninggalkan tempat itu.

Meskipun Thi Tiong-khi bukan ayah kandungnya, tapi demi menjaga serta melindungi nama baik Thi Tiong-khi, ia lebih suka mati, lebih suka menanggung dan memikul semua dosa tersebut, karena bagaimanapun juga mereka telah mempunyai hubungan batin antara seorang ayah dengan anaknya.

Cia Siau-hong tidak tertawa.

Teringat akan hal ini, dari mana mungkin bisa tertawa?

Ia telah meneguk habis arak yang terakhir, ia tak dapat membedakan lagi apakah rasanya arak itu pedas? Atau getir? Perduli pedas atau getir, yang pasti tetap adalah arak, bukan air, juga bukan darah, tak seorangpun dapat memungkiri kenyataan ini.

Bukankah hal ini sama juga dengan hubungan batin antara ayah dan anaknya?

Fajar telah menyingsing.

Kereta kuda itu masih ada, Siau Te pun masih ada pula.

Ketika Cia Siau-hong berjalan kembali, meski sudah hampir mabuk, anyir darah di tubuhnya justru jauh lebih tebal daripada bau harumnya arak.

Siau Te menyaksikan ia naik ke atas kereta, menyaksikan ia roboh di lantai, namun apapun tidak dibicarakan.

Tiba-tiba Cia Siau-hong berkata:

"Sayang sekali kau tidak ikut kami minum arak bersama-sama, arak itu benar-benar adalah arak bagus!"

"Arak hasil curian biasanya memang selalu adalah arak bagus!", jawab Siau Te. Itulah kata-kata yang pernah diucapkan Cia Siau-hong belum lama berselang. Cia Siau-hong segera tertawa terbahak-bahak.

"Sayang sekali betapapun baiknya arak tersebut, juga tak akan menyembuhkan luka yang kau derita", kembali Siau Te menambahkan.

Perduli apakah luka itu berada di badan? Ataukah di hati? Kedua-duanya tak akan bisa disembuhkan.

Cia Siau-hong masih juga tertawa:

"Untung saja ada sementara luka yang pada hakekatnya tak perlu disembuhkan lagi" "Luka apakah itu?"

"Luka yang pada hakekatnya tak mungkin bisa disembuhkan!"

Siau Te memandang ke arahnya, lewat lama sekali baru pelan-pelan katanya: "Kau mabuk!"

"Kaupun mabuk?", sambung Cia Siau-hong. "Oya?"

"Kau harus tahu jenis manusia manakah di dunia ini yang paling gampang melepaskan diri dari segala-galanya?" "Tentu saja orang mati!"

"Jika kau tidak mabuk, maka kalau memang kau berusaha keras untuk melepaskan diri dari kejaranku, mengapa pula justru datang menyelamatkan diriku?"

Siau Te menutup kembali mulutnya, tiba-tiba ia turun tangan menotok sebelas buah jalan darah di tubuhnya.

Paling akhir yang masih sempat dilihat olehnya adalah sepasang mata Siau Te, sepasang mata yang penuh dengan pancaran perasaan yang tak akan dipahami oleh siapapun juga.

Waktu itu sinar matahari sedang memancar masuk lewat daun jendela, menyinari sepasang matanya.

Ketika Cia Siau-hong tersadar kembali, pertama-tama yang dilihat olehnya juga mata, tapi bukan mata Siau Te.

Ada belasan buah mata yang dijumpainya.

Tempat itu adalah sebuah gedung yang sangat besar, keadaan maupun suasananyapun ikut megah pula.

Ia sedang berbaring di atas sebuah pembaringan yang sangat besar.

Belasan orang sedang mengelilingi pembaringan itu dan mengawasi dirinya, ada yang kurus tinggi, ada yang gemuk, ada yang tua, ada pula yang muda, pakaian maupun dandanan mereka amat perlente, muka merah segar, jelas orang itu adalah manusia-manusia yang sudah biasa hidup makmur dan senang.

Belasan pasang mata itu ada yang besar, ada pula yang kecil, sinar mata mereka tajam sekali, setiap mata mereka semua membawa semacam perasaan yang sangat aneh, seakan-akan segerombol penjagal yang sedang mengamati korban atau kambing jagalannya, tapi tak dapat mengambil keputusan dari manakah mereka akan mulai turun tangan.

Perasaan Cia Siau-hong bagaikan tenggelam ke dasar samudra yang tak terukur dalamnya.

Tiba-tiba ia menemukan bahwa seluruh kekuatan yang dimilikinya telah lenyap tak berbekas, bahkan tenaga untuk bangkit berdiripun sudah tak ada.

Sekalipun ia dapat bangkit berdiri, asal setiap orang dari belasan orang tersebut mendorongnya pelan dengan ujung jari masing-masing, maka dia akan berbaring kembali.

Sesungguhnya siapakah mereka ini? Kenapa mereka memandang ke arahnya dengan sorot mata seaneh ini?

Tiba-tiba belasan orang itu membubarkan diri, mengundurkan diri jauh ke sudut ruangan sana dan berkumpul kembali sambil berbisik-bisik seperti merundingkan sesuatu.

Walaupun Cia Siau-hong tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, tapi ia tahu bahwa mereka pasti sedang merundingkan sesuatu persoalan yang sangat penting dan persoalan tersebut pasti mempunyai hubungan yang sangat erat dengan dirinya. Sebab sambil berunding, seringkali mereka masih berpaling dan diam-diam memperhatikan dirinya dengan ujung mata.

Apakah mereka sedang berunding dengan cara apakah hendak menghadapi dirinya? Menyiksa dirinya?

Di manakah Siau Te?

Akhirnya Siau Te muncul juga.

Selama beberapa waktu, tampaknya ia sangat lelah dan payah, wajahnya tampak layu dan mengenaskan.

Tapi sekarang ia telah berganti dengan satu stel pakaian yang baru dan indah, rambutnya di sisir pula dengan rapi dan licin.

Pada hakekatnya ia seperti telah berubah menjadi seseorang yang lain. Persoalan apakah yang secara tiba-tiba membuat semangatnya bangkit kembali?

Apakah karena pada akhirnya ia berhasil menemukan suatu cara yang paling bagus, akhirnya menjual Cia Siau-hong ke pihak Thian-cun untuk memperoleh pahala besar?

Menyaksikan ia berjalan masuk, belasan orang itu segera mengerumuni dirinya, sikap mereka murung dan gelagapan.

Paras muka Siau Te serius, tanyanya dengan suara dingin:

"Bagaimana?"

"Tidak bisa!", jawab belasan orang itu hampir bersamaan waktunya. "Tiada cara lain?"

"Tak ada!"

Siau Te segera menarik mukanya, sinar kegusaran memancar keluar dari balik matanya, tiba-tiba ia turun tangan dan mencengkeram kerah baju salah seorang di antaranya.

Orang itu berusia paling besar, gayanya pun paling mentereng, di tangannya masih memegang sebuah huncwe antik yang paling tidak harganya mencapai seribu tahil emas murni.

Akan tetapi di hadapan Siau Te pada hakekatnya ia seperti seekor kucing yang sedang menangkap tikus.

"Kaukah yang bernama Kian Hu-seng?", tegur Siau Te. "Benar!"

"Konon orang lain memanggil dirimu sebagai Ki-si-hu-seng (Bangkit dari kematian hidup kembali) Kian Toa-sianseng?" "Itu hanya julukan yang diberikan orang lain kepadaku, lohu sesungguhnya tak pantas menerima panggilan tersebut", jawab Kian Hu-seng.

Siau Te memperhatikannya dari atas hingga ke bawah, tiba-tiba ia tertawa lagi. "Ehmm. ! Pipa huncwe-mu tampaknya indah sekali", dia berseru.

Meskipun Kian Hu-seng masih merasa sangat ketakutan, namun sinar matanya toh memancarkan juga sinar kebanggaan.

Pipa huncwe itu terbuat dari batu kumala asli yang diukir, ia seringkali membawanya kemanapun ia pergi, bahkan sewaktu tidurpun ia selalu meletakkannya di bawah bantal.

Setiap kali ia mendengar ada orang memuji pipa huncwe-nya, pada hakekatnya ia merasa lebih bangga daripada mendengar orang lain memuji-muji akan kehebatan ilmu pertabibannya.

Siau Te tersenyum kembali, katanya:

"Agaknya pipamu itu terbuat dari sebuah batu kumala yang utuh, harganya paling tidak pasti di atas seribu tahil perak bukan?"

Tak tahan Kian Hu-seng ikut tertawa.

"Sungguh tak kusangka toa-sauya juga seseorang yang mengerti nilainya sebuah benda", serunya.

"Darimana kau dapatkan begitu banyak uang perak?"

"Itulah biaya yang diberikan para penyakitan kepadaku sewaktu selesai pengobatan" "Tampaknya tidak sedikit biaya pengobatan yang kau terima"

Lama kelamaan Kian Hu-seng tak bisa tertawa lagi. "Bolehkah pinjamkan kepadaku sebentar?", tanya Siau Te.

Sekalipun Kian Hu-seng merasa sangat keberatan, namun iapun tak berani untuk tidak diberikan kepadanya.

Siau Te menerima pipa huncwe itu, dan dinikmatinya sebentar, setelah itu gumamnya:

"Bagus, betul betul sebuah barang bagus, cuma sayang manusia semacam kau masih belum pantas untuk mempergunakan barang sebagus ini!"

Baru selesai ia berkata: "Traaaak. !" Pipa huncwe yang tak ternilai harganya itu tahu-tahu sudah

dibantingnya sehingga hancur berkeping-keping.........

Paras muka Kian Hu-seng segera berubah hebat, berubah menjadi lebih jelek dari wajah seorang anak berbakti yang baru saja kematian ibu kandungnya, hampir saja dia akan menangis.

Siau Te segera tertawa dingin, katanya:

"Percuma kau disebut Tabib kenamaan, biaya pengobatan yang kau terima jauh lebih tinggi daripada siapapun, tapi luka ringan sekecil itupun tak sanggup kau sembuhkan, sebenarnya kau ini manusia maknya macam apa?" Sekujur badan Kian Hu-seng menggigil keras, peluh dingin membasahi seluruh badannya, bibirnya tergagap tapi entah harus berbicara apa.

Pemuda perlente yang berada di sampingnya segera tampil ke depan sambil memprotes:

"Luka semacam itu bukan suatu luka yang ringan, sedemikian parahnya luka yang diderita tuan itu, pada hakekatnya baru pertama kali ini kujumpai kasus seperti ini"

"Kau ini manusia macam apa?", seru Siau Te sambil melotot sekejap ke arahnya. "Aku bukan barang, aku adalah manusia, bernama Kian Po-sia!"

"Kau anaknya Kian Hu-seng?" "Benar!"

"Kalau toh kau bernama Kian Po-sia, aku pikir kau pasti sudah memperoleh seluruh warisan ilmu pertabiban yang dimilikinya, pengetahuanmu pasti tidak cetek!"

"Walaupun pelajaran yang kuterima masih terlalu cetek, akan tetapi pengetahuanku tentang luka bacokan serta cara pengobatannya masih mengetahui sedikit banyak"

Kemudian sambil menuding orang-orang di belakangnya, dia berkata kembali:

"Beberapa orang empek dan paman ini semuanya merupakan tabib berpengalaman dari daerah ini, jika kami beberapa orang tak sanggup menyembuhkan luka tersebut, jangan harap orang lain bisa menyembuhkannya"

Siau Te menjadi sangat gusar.

"Darimana kau tahu kalau orang lainpun tak dapat menyembuhkannya?", teriaknya.

"Luka yang berada di tubuh tuan ini seluruhnya berjumlah lima tempat, dua di antaranya adalah luka lama, sedang tiga lainnya baru dilukai pada dua hari berselang, meskipun tusukan itu tidak berada di tempat yang berbahaya atau mematikan, tapi setiap tusukan itu menghasilkan luka yang sangat dalam, luka itu sudah hampir menyentuh tulang persendian serta otot-otot pentingnya"

Setelah menghembuskan napas panjang, ia berkata lebih lanjut:

"Bila seseorang segera mencari pengobatan dan beristirahat penuh setelah terluka, mungkin luka itu tak akan sampai mendatangkan cacad badan, sayangnya bukan saja setelah terluka bekerja kelewat batas, bahkan masih juga minum arak, arak yang diminumpun sangat banyak, mulut lukanya sekarang sudah mulai membusuk"

Apa yang diucapkan memang semuanya jitu dan cocok dengan ke adaan yang sesungguhnya, maka Siau Te hanya mendengarkan saja di samping.

Terdengar Kian Po-sia berkata lebih lanjut:

"Tapi yang paling parah keadaannya adalah dua buah luka lamanya itu, sekalipun kami berhasil, dia cuma bisa hidup tujuh hari lagi"

Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan: "Ya, tujuh hari yang terakhir!" "Tapi bukankah ke dua buah luka lamanya sudah merapat kembali seperti sedia kala?", ucap Siau Te.

"Justru lantaran mulut lukanya sudah merapat kembali, maka paling banter ia cuma bisa hidup tujuh hari lagi"

"Aku tidak mengerti!"

"Kau tentu saja akan mengerti, dasarnya memang tidak banyak orang yang mengerti akan persoalan ini, lebih tidak beruntung ternyata ia telah mengenal seseorang bahkan secara kebetulan orang itu adalah sahabatnya"

"Sahabatnya?", Siau Te lebih-lebih tidak mengerti lagi.

"Setelah terluka kebetulan ia berjumpa dengan sahabatnya itu, kebetulan sahabatnya membawa obat luka yang paling baik, tapi kebetulan pula membawa racun Huan-kut-san (bubuk pembuyar tulang) yang paling beracun. "

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Obat luka menutup kulit, bubuk penghancur tulang di kala mulut luka sudah merapat, racun keji itu sudah merasuk ke tulang, dalam tujuh hari mendatang, ke seratus tiga puluh tujuh batang tulang belulang di sekujur tubuhnya pasti akan melarut dan hancur sebagai gumpalan darah kental"

Siau Te menggenggam tangannya kencang-kencang, lalu berseru:

"Apakah ada obat mustika yang bisa memunahkan racun itu?" "Tidak ada!"

"Juga tak ada orang yang bisa memunahkan racun ini?" "Tidak ada!"

Jawaban singkat, tandas dan jelas, membuat orang tak bisa sangsi lebih baik lagi untuk tak percaya.

Tapi bila kenyataan ini harus dipercayai oleh Siau Te, maka hal tersebut merupakan suatu kejadian yang kejam, kejadian yang menyiksa perasaan dan batinnya.

Hanya dia seorang yang tahu siapakah sahabat yang dimaksudkan Kian Po-sia tersebut, justru lantaran dia tahu, maka batinnya merasa lebih menderita, lebih tersiksa.

Hanya penderitaan, lain tidak!.

Karena dia bahkan untuk membencipun tak dapat membenci.

Seharusnya yang dicintai ternyata tak dapat dicintai, seharusnya benci tak dapat di benci, berbicara bagi seorang pemuda yang darahnya belum mendingin seperti dia, bagaimana mungkin penderitaan tersebut dapat ditahan?

Tiba-tiba ia seperti mendengar Cia Siau-hong sedang bertanya: "Paling banter tujuh hari, paling sedikit berapa hari?"

Ia tak berani berpaling untuk menatap Cia Siau-hong, pun tak ingin mendengar jawaban dari Kian Po-sia. Tapi ia telah mendengar semuanya dengan jelas.

"Tiga hari!"

Walaupun jawaban dari Kian Po-sia masih tetap singkat, tandas dan jelas, namun nada suaranya telah membawa suatu kesedihan, suatu perasaan murung yang apa boleh buat.

"Paling sedikit mungkin hanya tiga hari"

Bagaimanakah perasaannya di kala seseorang secara tiba-tiba mengetahui bahwa kehidupannya tinggal tiga hari saja?

Reaksi dari Cia Siau-hong ternyata sangat istimewa. Ia tertawa. Kematian bukan suatu kejadian yang menggelikan, pasti bukan!.

Lantas mengapa ia tertawa? Apakah lantaran ia sedang mengejek, mencemooh kehidupannya? Atau karena semacam pemandangan yang terbuka atas kehidupannya di dunia ini?

Tiba-tiba Siau Te memutar badannya dan menerjang ke sisinya, lalu dengan suara keras berteriak: "Mengapa kau masih tertawa? Kenapa kau masih bisa tertawa?"

Cia Siau-hong tidak menjawab, sebaliknya malah balik bertanya:

"Mereka semua datang dari tempat yang jauh, sebagai tuan rumah mengapa kau tidak menyediakan arak untuk mereka?"

Tangan Kian Hu-seng masih saja gemetar keras, saat itu dia baru bisa menghembuskan napas panjang.

"Ya, aku pikir setiap orang memang membutuhkan secawan arak pada saat ini!"

Yang dimaksudkan 'secawan arak' pada umumnya bukan benar-benar cuma secawan belaka.

Setelah tiga cawan arak masuk ke perut Kian Hu-seng baru dapat memulihkan kembali perasaannya.

Arak memang dapat mengendorkan syarat orang, membuat perasaan orang menjadi tenang.

Seorang tabib yang sepanjang tahun bertugas menangani orang yang terluka memang tidak seharusnya memiliki sepasang tangan yang sering menggigil keras.

Cia Siau-hong memperhatikan terus tangannya dari samping, tiba-tiba ia bertanya: "Kau sering minum arak?"

Kian Hu-seng sangsi sejenak, akhirnya dia mengakui juga: "Ya, aku sering minum, cuma tidak banyak yang kuminum!" "Bila seseorang seringkali minum arak, apakah hal ini lantaran dia gemar minum?" "Mungkin begitulah!"

"Kalau memang gemar minum mengapa tidak minum agak banyak agar lebih puas?"

"Karena minum arak yang terlampau banyak akan merugikan kesehatan badan, oleh karena itu. "

"Oleh karena itu meski dalam hati kau ingin minum lebih banyak namun mau tak mau kau harus berusaha keras untuk mengencang napsu sendiri, bukan?"

Kian Hu-seng mengakuinya.

"Karena kau masih ingin hidup lebih lanjut masih ingin hidup beberapa tahun lagi, hidup makin lama semakin baik, maka meski mengencang napsu sendiri kaupun rela melakukannya?", Cia Siau-hong menambah.

Kian Hu-seng lebih-lebih tak dapat menyangkal lagi. selembar nyawanya memang lebih

berharga daripada arak, siapa yang tidak menyayangi nyawa sendiri?

Cia Siau-hong mengangkat cawannya dan meneguk isinya sampai habis, kemudian katanya lagi:

"Di kala seseorang masih hidup dia tentu mempunyai banyak keinginan yang tak berani dilakukannya, karena bila seseorang ingin hidup lebih lanjut, ia tak akan terlepas dari pelbagai ikatan, pantangan maupun peraturan, bukankah. demikian?"

Sekali lagi Kian Hu-seng menghela napas panjang, setelah tertawa getir, katanya:

"Dari kehidupan kita di alam semesta, siapakah yang dapat melepaskan diri dari ikatan, pantangan maupun peraturan? Siapakah yang dapat melakukan apa yang diinginkan dalam hatinya secara bebas dan leluasa?"

"Hanya sejenis manusia!", jawab Cia Siau-hong. "Manusia yang mana?"

Cia Siau-hong tersenyum.

"Mereka yang tahu kalau usianya paling banter tinggal beberapa hari!"

Ia sedang tertawa tapi kecuali ia sendiri, siapa yang tega ikut tertawa? Siapa pula yang bisa tertawa? Di antara sekian banyak kesedihan yang di alami manusia, kesedihan manakah yang bisa menandingi kesedihan akibat suatu kematian? Semacam kesedihan yang tak terlukiskan........

Tiba-tiba Cia Siau-hong bertanya:

"Andaikata kau tahu bahwa usiamu paling banter tinggal beberapa hari lagi, dalam beberapa hari yang teramat singkat itu, apa yang bakal kau lakukan? Bagaimana caramu mengatur jadwal kehidupanmu yang teramat singkat itu?"

ooooOOOOoooo