Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 25. Rahasia Besar Hong-Ki-Piaukiok

Bab 25. Rahasia Besar Hong-Ki-Piaukiok 

"Thian-tee-yu-kiang, Wi-wo-to-cun!"

Delapan huruf tersebut seakan-akan merupakan sebuah mantera yang misterius. Dalam waktu singkat semua cahaya golok yang sedang menari-nari di angkasa itu sirap dan lenyap tak berbekas.

Puluhan orang dengan puluhan pasang mata sama-sama memandang ke arahnya dengan sinar mata terperanjat.

Paras mukanya seperti juga paras muka Cia Siau-hong begitu pucat, lelah dan murung, tapi membawa niat serta tujuan yang teguh bagaikan baja.

"Kau?"

Cia Siau-hong, Thi Kay-seng, Cho Han-giok dan dua bersaudara Wan, lima orang sama-sama mengucapkan sepatah kata yang sama hampir bersamaan waktunya, meski nada suara mereka jauh berbeda.

Suara Thi Kay-seng penuh mengandung rasa kaget dan penasaran. Cho Han-giok serta dua bersaudara Wan bukan cuma kaget dan keheranan saja, merekapun amat gusar.

Bagaimana dengan Cia Siau-hong?

Siapapun tak dapat melukiskan bagaimanakah persoalannya ketika mengucapkan kata-kata tersebut, mereka pun tak tahu apa yang dirasakannya ketika itu?

Sebab orang ini ternyata bukan lain adalah Siau Te.

Siapa pula yang tahu bagaimanakah perasaan Siau Te saat ini? Apa pula yang sedang dirasakan olehnya?

Dengan suara lantang Cho Han-giok telah membentak keras:

"Mau apa kau datang kemari?"

"Kemari untuk minta kepada kalian agar melepaskan orang" "Melepaskan siapa? Thi Kay-seng? Ataukah Cia Siau-hong?" "Kedua-duanya!"

Cho Han-giok tertawa dingin.

"Dengan mengandalkan apa kau menyuruh kami lepaskan orang? Kau tahu atas perintah siapakah kami bertindak demikian?"

Siau Te tertawa dingin pula, mendadak ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah lencana kemala yang berwarna hijau, lencana yang diikat dengan segumpal serat tali berpanca warna.

Paras muka Cho Han-giok segera berubah hebat.

Tentu saja Cho Han-giok mengenali benda itu asal ditinjau dari mimik wajahnya, maka bisa diketahui bahwa ia pasti kenal dengan benda tersebut.

Paras muka orang lainpun sama seperti mimik wajahnya, di tengah rasa kejut dan heran membawa pula rasa ngeri yang tebal.

Siau Te sama sekali tidak memandang lagi ke arah mereka, walau hanya sekejappun, pelan-pelan ia mundur ke belakang, mundur ke samping Cia Siau-hong, lalu berbisik:

"Mari kita pergi!"

Cia Siau-hong berpaling, memandang ke arah Thi Kay-seng, kemudian katanya pula: "Kau juga akan pergi?"

Thi Kay-seng termenung membungkam diri, akhirnya ia mengangguk. Ia terpaksa harus pergi. Untuk melepaskan hasil perjuangannya selama banyak tahun, serta mengakui kekalahan dirinya, bukan saja hal ini teramat sulit, lagi pula amat menyiksa batin.

Tapi diapun tahu bahwa dirinya sudah tiada pilihan lain lagi.

Untuk melepaskan seekor ikan besar yang sudah terpancing dari tangan sendiri, hal itupun termasuk suatu kejadian yang amat menyiksa batin.

Tapi tak seorangpun berani menghalangi mereka, tak seorangpun berani berkutik dari tempat semula.

Lencana kemala bertali serat panca warna itu meski tidak memiliki kekuatan yang bisa mengejar sukma atau perenggut nyawa, tapi melambangkan suatu kekuatan tertinggi untuk menguasai, merampas dan membunuh siapapun juga.

Di luar pintu ada kereta.

Kudanya kuda cepat, keretanya kereta baru.

Tentu saja kesemuanya itu telah dipersiapkan Siau Te sebelumnya, ketika ia memutuskan untuk melakukan suatu perbuatan sebelumnya, ia pasti mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat dan teliti.

Kereta kuda berjalan kencang, namun ruangan kereta terasa tenang dan nyaman.

Cia Siau-hong bersandar di sudut ruang kereta, mukanya pucat pias karena kehilangan darah terlalu banyak, mukanya lebih lagi loyo dan kusut.

Meski demikian sinar matanya memancarkan cahaya tajam.

Ia gembira, bukan dikarenakan ia masih hidup lebih jauh, melainkan karena ia tiba-tiba mempunyai rasa percaya lagi terhadap orang lain.

Terhadap seorang yang paling dikuatirkan dan diperhatikan, ia telah meletakkan semua tumpuan harapannya di atas tubuh orang ini.

Siau Te sebaliknya sedang menatap Thi Kay-seng, tiba-tiba ia berkata pelan: "Sebenarnya aku bukan datang untuk menolongmu, akupun tidak ingin menolongmu!" "Aku tahu!", jawab Thi Kay-seng.

"Aku menolongmu karena aku tahu bahwa dia tak akan membiarkan kau tinggal seorang diri di sini, karena kalian bukan saja telah bertarung bersama, lagi pula kaupun telah menyelamatkan dirinya! Perduli bagaimanapun juga itu semua adalah urusan kalin, urusan yang sama sekali tiada hubungannya dengan diriku"

"Aku mengerti!"

"Oleh karena itu sekarang kau masih bisa mencariku untuk membuat perhitungan dalam setiap saat yang kau inginkan!"

"Membuat perhitungan apa?" "Panji perusahaanmu. "

"Hong-ki-piaukiok telah hancur dan musnah, darimana lagi datangnya panji perusahaan?", tukas Thi Kay-seng.

Ia tertawa, suara tertawanya penuh mengandung rasa sedih dan duka, katanya lebih lanjut: "Jika panji perusahaanpun sudah tak ada, perhitungan apa pula yang musti kulakukan?" "Masih ada sedikit perhitungan yang musti dilakukan!", tiba-tiba Cia Siau-hong berkata. "Perhitungan soal apa lagi?"

"Sekuntum bunga mutiara!"

Ia menatap wajah Thi Kay-seng lekat-lekat, kemudian katanya lagi:

"Betulkah kau yang menyuruh orang membeli kuntum bunga mutiara tersebut?" "Benar!", jawab Thi Kay-seng tanpa pikir ataupun dipertimbangkan lebih jauh. "Aku tak percaya!", kata Cia Siau-hong.

"Aku tak pernah berbohong!"

"Bagaimana dengan Thi Gi? Apakah ia berbohong juga?" Thi Kay-seng segera menutup mulutnya rapat-rapat.

Cia Siau-hong kembali bertanya:

"Apakah perempuan itu benar-benar adalah perempuanmu? Apakah apa yang diucapkan Thi Gi semuanya adalah kata-kata yang sejujurnya?"

Thi Kay-seng masih menampik untuk menjawab. Tiba-tiba Siau Te menyela:

"Aku telah berjumpa lagi dengan perempuan itu!" "Oya?", seru Cia Siau-hong.

"Ia telah mencariku dan memberi sepucuk surat kepadaku, ia minta kuserahkan surat kepadamu bahkan harus diserahkan kepadamu sendiri, karena ini surat tersebut adalah suatu rahasia yang sangat besar"

Setelah berhenti sejenak, sepatah demi sepatah kata ia melanjutkan: "Rahasia dari perusahaan Hong-ki-piaukiok!"

"Mana suratnya!" "Di sini!" Surat itu disimpan dalam sebuah sampul yang amat rapat jelas isi surat itu adalah sebuah rahasia yang pasti akan mengejutkan hati setiap orang yang mengetahuinya.

Tetapi Cia Siau-hong sama sekali tidak melihat isi surat itu, karena sewaktu Siau Te mengeluarkannya, secepat kilat Thi Kay-seng telah menyambarnya dan merampas secara paksa, setelah itu sepasang telapak tangannya digosokkan keras-keras, surat itu segera berubah menjadi hancuran kertas yang amat kecil, ketika terhembus angin segera beterbangan di angkasa bagaikan kupu-kupu yang sedang menari-nari.

Sambil menarik muka, Cia Siau-hong segera berkata:

"Tindakan semacam itu semestinya bukan tindakan dari seorang lelaki sejati" "Aku memang bukan seorang lelaki sejati!", jawab Thi Kay-seng tenang. "Akupun bukan!", sambung Siau Te.

"Kau. !"

"Kalau seorang lelaki sejati, dia tak akan merampas surat orang lain, diapun tak akan mencuri lihat surat orang lain, kau bukan seorang laki-laki sejati, untungnya akupun bukan"

Paras muka Thi Kay-seng berubah hebat. "Kau telah membaca isi surat itu?", serunya. Siau Te segera tertawa.

"Bukan cuma membaca saja bahkan setiap patah kata telah kuingat semua dengan jelasnya!"

Kulit muka Thi Kay-seng mengejang keras seakan-akan lambungnya di hantam orang keras-keras secara tiba-tiba membuat sekujur tubuhnya menjadi lemas dan roboh terkapar di tanah.

Sesungguhnya rahasia apakah yang tercantum dalam surat itu? Kenapa Thi Kay-seng menunjukkan sikap yang begitu jeri dan ketakutan?

Aku bukan perempuan peliharaan Thi Kay-seng.

Sebenarnya aku ingin merayunya, sayang ia terlalu keras kepala, hakekatnya aku tak berhasil menemukan sedikit kesempatanpun.

Untung saja Thi Tiong-khi telah tua, ia tidak memiliki lagi semangat dan kegagahannya seperti semasa muda dahulu, makin lama ia mulai semakin tertarik dengan perempuan-perempuan cantik.

Aku selamanya berparas cantik, maka akupun berubah menjadi perempuan peliharaannya. Asal dapat menghindari Hee-ho Seng, lelaki yang lebih tua atau lebih jelekpun aku mau.

Lelaki yang paling memuakkan hatiku di dunia ini adalah Hee-ho Seng. Asal congpiautau dari perusahaan Hong-ki-piaukiok bersedia menerimaku dan memeliharaku tentu saja selama hidup Hee-ho Seng tak akan menemukan diriku, apalagi meski Thi Tiong-khi sudah tua, sikapnya terhadap diriku ternyata baik sekali, belum pernah ia mendesak kepadaku untuk menanyakan asal usulku.

Thi Kay-seng bukan saja lelaki sejati, diapun seorang anak yang berbakti., asal bisa membuat ayahnya bergembira, pekerjaan apapun bersedia ia lakukan, bahkan menghadiahkan sekuntum bunga mutiara serta sepasang gelang untukku.

Cuma sayang kehidupan yang baik dan penuh kebahagiaan ini tak berlangsung terlalu lama, walaupun Hee-ho Seng tidak menemukan diriku, Buyung Ciu-ti justru telah menemukan aku.

Ia mengetahui rahasiaku ini, maka digunakannya hal tersebut untuk mengancamku, memerintah kepadaku untuk melakukan pekerjaan baginya.

Aku tidak bisa tidak menyanggupi, akupun tidak berani tidak menyetujui.

Secara diam-diam kubantu dirinya untuk memelihara piausu dari perusahaan Hong-ki-piaukiok, menjadi mata-mata baginya untuk menyelidiki berita tentang perusahaan, ia merasa kurang cukup, ia minta kepadaku untuk mengadu domba hubungan mereka ayah dan anak, serta membantunya untuk melenyapkan Thi Kay-seng.

Walaupun Thi Tiong-khi amat menuruti semua perkataanku, hanya dalam persoalan ini, walau apapun yang kukatakan kepadanya, ia tak mau mempercayai ataupun menurut.

Oleh sebab itu Buyung Ciu-ti menitahkan kepadaku untuk mencampuri araknya dengan racun.

Malam itu hujan dan angin turun dengan kencangnya, ketika kusaksikan Thi Tiong-khi meneguk habis arak racunku, sedikit banyak hatiku merasa sangat tak enak, tapi aku tahu bahwa rahasia ini tak akan diketahui oleh siapapun, sebab mereka yang bertugas menjaga halaman belakang pada malam itu telah disuap pula oleh pihak Thian-cun.

Meskipun setelah peristiwa itu Thi Kay-seng merasa amat curiga, namun ia tak berhasil mendapatkan sedikit buktipun.

Untuk melindungi nama baik ayahnya, sudah barang tentu ia tak akan menceritakan kejadian ini kepada siapapun.

Tapi sekarang aku telah menceritakan kesemuanya.

Karena aku harus membuat kau tahu, kekejaman dan kekejian Thian-cun sungguh menakutkan, sekalipun aku bukan seorang perempuan baik-baik, tapi demi kau, apapun aku rela melakukannya.

Asal selamanya kau dapat teringat akan hal ini, persoalan yang lain aku tak ambil perduli.

Isi surat itu panjang sekali, tapi Siau Te dapat menghapalkannya di luar kepala tanpa ketinggalan sebuah tulisanpun.

Daya ingatannya selama ini memang sangat baik.

Sehabis mendengarkan isi surat tersebut, air mata telah membasahi seluruh wajah Thi Kay-seng. Cia Siau-hong serta Siau Te pun merasakan hatinya amat sedih dan tersiksa. Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Cia Siau-hong bertanya dengan suara lirih: "Di manakah orangnya sekarang?"

"Sudah pergi!", jawab Siau Te.

"Kau tidak bertanya kepadanya hendak pergi kemana?" "Tidak!"

Tiba-tiba Thi Kay-seng berkata pula:

"Akupun harus pergi, kaupun tak usah bertanya kepadaku hendak kemana, karena walaupun kau tanyakan, akupun tak akan menjawab pertanyaanmu itu!"

Tentu saja dia harus pergi.

Ia masih banyak urusan yang harus diselesaikan, urusan yang mau tak mau harus diselesaikan.

Cia Siau-hong cukup memahami situasinya, diapun memahami perasaannya, maka tak sepatah katapun yang ia ucapkan.

Tiba-tiba Thi Kay-seng mengajukan sesuatu pertanyaan yang membuat ia merasa tercengang dan di luar dugaan.

"Inginkah kau minum arak?" Cia Siau-hong tertawa.

Tertawa itu terlalu dipaksakan, tapi suatu pertanyaan yang amat riang. "Kau juga ingin minum?"

"Bolehkah aku minum sedikit?" "Tentu saja boleh!"

"Kalau memang begitu, kenapa kita tidak pergi minum barang dua cawan. ?"

"Dalam keadaan seperti ini, masih mungkinkah buat kita untuk minum arak?" "Kalau belinya susah, dapatkah kita pergi mencuri?"

Cia Siau-hong manggut-manggut. "Dapat!"

Thi Kay-seng ikut tertawa.

Siapapun tak tahu senyuman macam apakah itu.

"Seorang laki-laki sejati tak akan mencuri arak milik orang untuk di minum, juga tak akan minum arak hasil curian, untung saja aku bukan seorang lelaki sejati, kau juga bukan!" Malam sudah semakin kelam, suasana amat sepi dan hening, paling tidak sebagian besar suasana waktu itu sudah sepi.

Di tengah malam yang hening dan sepi semacam ini, biasanya hanya ada dua macam manusia yang merasa tidak tenang dan tidak aman......

Mereka adalah manusia yang karena berjudi telah berubah menjadi seorang setan judi. Serta orang yang karena minum arak telah berubah menjadi setan arak.

Akan tetapi bahkan dua jenis manusia yang biasanya selalu bergadang dan keliaran di tengah malam butapun, kini ikut menjadi sepi dan hening.

Oleh karena itu, arak yang ingin mereka minum terpaksa didapatkan dengan jalan mencuri. Mereka tidak mencuri bohong-bohongan!.

Mereka benar-benar pergi mencuri! "Kau pernah mencuri arak?"

"Apakah aku belum pernah mencurinya?"

"Aku pernah!", agaknya Cia Siau-hong merasa amat bangga dengan prestasinya itu, "usiaku belum genap sepuluh tahun, aku sudah mulai mencuri arak untuk di minum!"

"Mencuri arak milik siapa?"

"Mencuri arak milik bapakku sendiri!", jawab Cia Siau-hong sambil tertawa, "loyacu kami yang ada di rumah itu meski tak sering minum arak, ternyata ia selalu menyimpan arak yang berkwalitet paling baik, mungkin arak-arak yang disimpannya itu jauh lebih baik daripada pedang-pedang yang kami simpan!"

"Kalau memang begitu banyak arak bagus yang disimpan di rumahmu, mengapa perkampungan yang kalian huni itu tidak dirubah saja namanya menjadi perkampungan Sin-ciu-san-ceng (perkampungan arak sakti)?", kata Thi Kay-seng sambil tertawa tergelak.

~Bersambung ke Jilid-16 Jilid-16

"Sebab di antara keluarga yang menghuni dalam perkampungan kami, kecuali aku seorang, yang lain adalah lelaki-lelaki sejati, kuncu semua! Tak ada yang menjadi setan arak!"

"Untung saja kau bukan setan arak!", kata Thi Kay-seng dengan cepat sambil tertawa. Cia Siau-hong ikut tertawa.

"Ya, untung saja kaupun bukan!"

Di tengah malam yang sepi dan hening, di tengah jalan raya yang lengang dan sunyi, ternyata masih terdapat dua gelintir manusia yang belum tenang. Ternyata ke dua orang manusia itu masih bergelak tertawa masih menikmati arak curian dengan gaduhnya.........

Ya, mereka sama sekali tak tenang, sama sekali tak hening, seakan-akan larutnya malam dan sepinya suasana sama sekali tidak berpengaruh banyak buat mereka.

Karena hati mereka berduapun tidak tenang. ooooOOOOoooo