Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 23. Darah Mengalir di Hong-ki-piaukiok

Bab 23. Darah Mengalir di Hong-ki-piaukiok

Senja menjelang tiba, hujan telah lama berhenti.

Sang surya memancarkan sinar sorenya dengan sebuah bianglala yang indah tergantung di kaki langit, selewatnya hujan badai, suasana waktu itu tampak indah dan penuh ketenangan.

Konon, menurut orang tua, bila bianglala muncul di langit, itu pertanda datangnya kedamaian dan kebahagiaan bagi umat manusia.

Tapi, kenapa sinar senja tetap berwarna merah? Panji Hong-ki-piaukiok pun tetap berwarna merah.

Tiga belas lembar panji di atas tiga belas kereta barang.

Rombongan itu berhenti tepat di halaman belakang sebuah rumah penginapan.

Berdiri di bawah wuwungan rumah yang masih meneteskan air, Thi Kay-seng memperhatikan panji di atas kereta-kereta itu, tiba-tiba serunya dengan lantang:

"Lepaskan semua panji-panji itu!"

Para piausu masih sangsi, ternyata tak seorangpun berani melaksanakan perintah tersebut. Dengan suara lantang Thi Kay-seng kembali berkata:

"Jika ada orang yang menghancurkan selembar panji kita, itu sama artinya beribu-ribu dan berlaksa panji kita telah hancur musnah semua sebelum dendam ini di balas, sebelum penghinaan ini dicuci, dalam dunia persilatan tak akan dijumpai lagi panji-panji dari perusahaan kita!"

Paras mukanya masih tanpa emosi, tapi suaranya begitu tegas dan penuh kebulatan tekad. Apa yang ia perintahkan masih tetap merupakan suatu perintah.

Tiga belas orang segera maju ke depan, tiga belas buah tangan bersama-sama mencabut panji perusahaan tersebut, tiba-tiba ke tiga belas buah tangan itu berhenti di tengah udara, tiga belas pasang mata bersama-sama telah menyaksikan seseorang.

Itulah seorang manusia yang jauh berbeda dari orang lain, di saat kau tidak membiarkan ia pergi, ia justru pergi, tapi di kala kau tak menyangka dia akan kembali, ia justru telah kembali.

Rambut orang itu sudah amat kusut, pakaiannya yang basah oleh hujan masih belum mengering, ia tampak amat lelah dan keadaannya mengenaskan sekali.

Akan tetapi tiada orang yang memperhatikan rambut serta pakaiannya, tiada orang pula yang merasakan keletihan dan keadaan mengenaskan yang mencekam dirinya, karena orang itu tak lain adalah Cia Siau-hong.

Thi Gi sesungguhnya adalah seorang pemuda yang tinggi kekar, alis matanya tebal, matanya besar, ia merupakan seorang anak muda yang gagah dan perkasa.

Tapi setelah berdiri di belakang orang itu, keadaannya segera berubah ibaratnya seekor kunang- kunang dengan sebuah rembulan, seperti sebuah lilin di bawah sinar sang surya.

Karena orang itu tak lain adalah Cia Siau-hong.

Thi Kay-seng melihat ia berjalan masuk, melihat ia berjalan ke hadapannya, lalu menyapa: "Kau telah datang kembali!"

"Sepantasnya kau bisa menduga bahwa aku pasti akan datang lagi!", jawab Cia Siau-hong. "Karena kau pasti sudah mendengar banyak cerita?", tanya Thi Kay-seng kemudian. "Benar!"

"Dalam telapak tanganmu tiada pedang!" "Benar!"

"Pedang itu masih berada dalam hatimu?"

"Apakah dalam hatiku ada pedang atau tidak, paling tidak seharusnya kau dapat melihatnya sendiri"

Thi Kay-seng menatapnya tajam-tajam, lalu berkata:

"Jika dalam hati ada pedang, hawa membunuh tentu berada di alis mata. !"

"Benar!"

"Dalam telapak tanganmu tiada pedang, dalam hatimu pun tiada pedang, lantas di manakah pedangmu?"

"Dalam tanganmu!"

"Pedangku adalah pedangmu?" "Benar!"

Tiba-tiba Thi Kay-seng meloloskan pedangnya.

Ia sendiri tidak membawa pedang, anak yang berbakti pasti tak akan membawa senjata pembunuh di saat orang tuanya baru meninggal.

Tapi orang-orang yang mengikuti di belakangnya membawa pedang semua, walaupun bentuk pedang itu amat sederhana, tapi bagi orang yang berpengalaman segera akan mengenali bahwa setiap bilah pedang tersebut adalah pedang yang sangat tajam.

Pedang itu sama sekali tidak ditusukkan ke tubuh Cia Siau-hong........

Setiap orang hanya merasakan cahaya pedang berkelebat seakan-akan lepas tangan, tapi pedang tersebut masih berada di tangan Thi Kay-seng, hanya saja mata pedangnya telah terbalik dan tertuju ke arah diri sendiri.

Ia menjepit ujung pedang dengan ke dua jari tangannya, lalu pelan-pelan menyodorkan gagang pedang tersebut ke hadapan Cia Siau-hong.

Perasaan setiap orang mulai tercekat, peluh dingin mulai membasahi telapak tangannya. Dengan tindakannya itu, bukankah hakekatnya seperti lagi bunuh diri. ?

Asal Cia Siau-hong telah memegang gagang pedang itu dan mendorongnya ke muka, siapakah yang bisa menghindarinya? Siapa pula yang bisa membendungnya?

Cia Siau-hong menatapnya lekat-lekat, akhirnya pelan-pelan ia menjulurkan tangannya dan menggenggam gagang pedang tersebut. Thi Kay-seng mengendorkan jari tangannya ke bawah.

Ke dua orang itu saling bertatapan lama sekali, sorot mata merekapun memancarkan suatu sikap yang sangat aneh.

Tiba-tiba cahaya pedang kembali berkelebat lewat, menyambar seenteng angin yang berhembus dan menyergap secepat sambaran kilat.

Tiada orang yang bisa menghindari serangan tersebut, Thi Kay-seng pun tidak menghindarkan diri.

Tapi tusukan tersebut sama sekali tidak menusuk ke arahnya, cahaya pedang berkelebat lewat, tahu-tahu ujung pedang tersebut sudah menempel di atas tenggorokan Thi Gi.

Paras muka Thi Gi segera berubah hebat, paras muka setiap orangpun berubah hebat.

Hanya Thi Kay-seng tetap tenang seperti biasa, perubahan yang sangat mengejutkan itu agaknya sudah berada dalam dugaannya.

Thi Gi merasa tenggorokannya seperti tersumbat, lewat lama sekali ia baru bisa bersuara kembali. Dengan suara yang parau dan gemetar bisiknya:

"Cia tayhiap, kau. kau apa-apaan ini?"

"Kau tidak mengerti?", tanya Cia Siau-hong. "Aku tidak mengerti!"

"Kalau begitu kau memang dasarnya terlalu bodoh!" "Aku sebenarnya memang seorang yang bodoh"

"Kalau sudah tahu bodoh, kenapa justru suka berbohong?" "Siii....siapa. siapa yang bohong?"

"Cerita yang kau susun memang sangat bagus, permainan sandiwaramu pun amat hidup dan mempesonakan, bahkan setiap peranan dalam sandiwara tersebut bisa kau kombinasikan secara bagus, malah adegan demi adegan bisa dilangsungkan dengan indahnya, sayang kau telah membuat satu kekeliruan besar"

"Kekeliruan? Kekeliruan apakah itu?"

"Tiga hal setelah Thi lo-piautau dikebumikan, Thi Kay-seng segera mengusir ke empat orang itu dari perusahaan, bahkan kaulah yang diutus untuk membunuh mereka?"

"Benar!"

"Tapi kau tak tega untuk turun tangan, maka hanya kau bawa empat stel pakain yang berlepotan darah untuk memberi laporan?"

"Benar!"

"Dan Thi Kay-seng pun mempercayai semua perkataanmu?" "Selamanya ia memang percaya kepadaku!"

"Tapi ke empat orang yang telah kau bunuh itu tiba-tiba hidup kembali hari ini, Thi Kay-seng telah melihat sendiri kemunculan mereka, namun ia masih tetap mempercayaimu, malah suruh kau menyelidiki asal-usul mereka, apakah kau anggap dia seorang dungu? Tapi kau lihat dia agaknya sangat tidak mirip?"

Thi Gi tak sanggup berbicara lagi, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya seperti hujan deras.

Cia Siau-hong menghela napas panjang, katanya lebih lanjut:

~Bersambung ke Jilid-15 Jilid-15

"Aaaaii. ! Seandainya kau ingin agar aku bisa membantumu melenyapkan Thi Kay-seng,

seandainya kau menginginkan dua ekor bangau berkelahi dan membiarkan kau si nelayan tinggal memungut hasil, maka kau harus mengarang suatu cerita yang lebih bagus lagi, atau paling tidak kau harus tahu dengan jelas bahwa sekuntum bunga mutiara semacam itu, tak mungkin dapat dibeli dengan uang sebesar tiga ratus tahil perak. "

Tiba-tiba ia memutar mata pedangnya dan menjepit ujung pedang tersebut dengan ke dua jari tangannya, setelah itu menyerahkan pedang tersebut kepada Thi Gi.

Kemudian ia putar badan menghadap ke arah Thi Kay-seng dan ujarnya dengan hambar: "Mulai sekarang, orang ini orangmu!"

Ia tidak memandang lagi ke arah Thi Gi walaupun hanya sekejap matapun, sebaliknya Thi Gi menatapnya lekat-lekat, menatap tengkuk serta tulang tengkorak bagian belakangnya, tiba-tiba sinar pembunuhan memancar keluar dari matanya, lalu secepat kilat pedangnya meluncurkan tusukan ke depan.

Cia Siau-hong tidak berpaling, pun tidak menghindar, hanya terasa sekilas cahaya pedang menyambar lewat dari sisi tengkuknya kemudian menembusi tenggorokannya Thi Gi.

Tidak sampai di situ saja, ternyata sisa kekuatan yang kemudian terpancar keluar telah menyeret tubuhnya sejauh tujuh-delapan depa lebih dan terpantek hidup-hidup di atas sebuah kereta barang.

Panji merah di atas kereta berkibar-kibar terhembus angin.

Ketika itu sinar senja sudah semakin redup dan samar, bianglala yang indahpun telah lenyap tak berbekas.

Ada orang yang memasang lampu dalam halaman itulah lampu berwarna merah.

Sinar lampu menerangi wajah Thi Kay-seng yang pucat sehingga berwarna kemerah-merahan. Cia Siau-hong memandang ke arahnya lalu berkata.

"Sejak pertama kali tadi kau sudah tahu kalau aku pasti akan kembali lagi" Thi Kay-seng mengakuinya.

"Karena aku tentu sudah mendengar banyak perkataan, kau percaya aku pasti dapat menemukan titik kelemahan di balik pembicaraan itu. ", kata Cia Siau-hong lebih jauh.

"Ya, tentu saja! Karena kau adalah Cia Siau-hong!"

Wajahnya masih juga tanpa emosi, tapi setelah menyebut kata 'Cia Siau-hong' wajahnya segera menunjukkan sikap hormat yang luar biasa.

Dari balik sorot mata Cia Siau-hong muncul senyuman ramah, kembali ia berkata: "Apakah kau bersiap-siap mengundangku minum arak barang dua cawan. ?"

"Selamanya aku tak pernah minum setetes arakpun", jawab Thi Kay-seng. Cia Siau-hong segera menghela napas.

"Minum sendiri tentu tidak menyenangkan, agaknya aku terpaksa harus angkat kaki dari sini" "Sekarang kau masih belum boleh pergi!"

"Kenapa?"

"Kau harus meninggalkan dua macam barang terlebih dahulu!" "Apa yang harus kutinggalkan?"

"Tinggalkan kuntum bunga mutiara itu!" "Bunga mutiara?", tanya Cia Siau-hong.

"Benda itu aku telah membelinya dengan harga tiga ratus tahil perak untuk dihadiahkan untuk orang lain, aku tak dapat menghadiahkannya kepadamu!"

Kelopak mata Cia Siau-hong segera berkerut:

"Jadi benar-benar kau yang membeli? Jadi kau benar-benar menyuruh Thi Gi yang pergi membeli?"

"Tidak bakal salah lagi!"

"Tapi bunga mutiara seperti itu nilainya paling tidak di atas delapan ratus tahil perak, mana mungkin kau bisa membelinya dengan uang tiga ratus tahil?"

"Ciangkwe dari toko Thian-po adalah bekas kasir perusahaan Hong-ki-piaukiok, maka harga yang dia perhitungkan kepadaku istimewa murahnya, apalagi di dalam dagang mutiara, keuntungannya paling banyak dan gampang dicari sebab itu meskipun ia menjual kepadaku dengan harga sekecil itu, diapun tak bakal rugi"

Perasaan Cia Siau-hong semakin tenggelam, segulung hawa dingin tiba-tiba muncul dari dasar kakinya dan menyusup naik sampai ke atas kepala.

......Jangan-jangan aku sudah salah menuduh Thi Gi. ......Thi Kay-seng menyuruhnya pergi menyelidiki asal usul ke empat orang tersebut, apakah hal inipun merupakan suatu jebakan?

Tiba-tiba saja ia menemukan bahwa bukti yang berhasil diperoleh dan data yang bisa disimpulkan terlampau sedikit, pelu dingin segera membasahi tubuhnya.

"Kecuali bunga mutiara", kata Thi Kay-seng, "kaupun harus meninggalkan darahmu, darah untuk mencuci Hong-ki kami!"

Lalu sepatah kata demi sepatah kata ia berkata:

"Penghinaan atas hancurnya sebuah panji hanya bisa dicuci bersih dengan darah, kalau bukan darahmu itu berarti darahku!"

Angin dingin berhembus kencang, tiba-tiba seluruh jagad diliputi oleh hawa nafsu membunuh yang sangat tebal.

Akhirnya Cia Siau-hong menghela napas panjang, katanya:

"Kau adalah seorang yang pintar, kau benar-benar pintar sekali "

"Bagi seorang pintar, dengan uang se-sen-pun bisa membeli sebuah kereta", kata Thi Kay-seng. "Sebetulnya aku tak ingin membunuhmu"

"Tapi aku terpaksa harus membinasakan dirimu"

Cia Siau-hong segera menatapnya tajam-tajam lalu berkata:

"Ada suatu persoalan, akupun terpaksa harus menanyakan dulu kepadamu hingga jelas" "Persoalan apakah itu?"

"Thi Tiong-khi, Thi lopiautau, apa benar-benar adalah ayah kandungmu?" "Bukan!"

"Sesungguhnya apa yang menyebabkan kematiannya?"

Tiba-tiba kulit wajah Thi Kay-seng yang sekeras batu karang mengejang keras, serunya dengan suara menggeledek:

"Perduli apapun yang menyebabkan kematian dari dia orang tua, hal ini sama sekali tiada hubungan atau sangkut pautnya denganmu"

Tiba-tiba ia meloloskan pedangnya, meloloskan dua bilah pedang dan menyambitnya ke tanah hingga menancap di atas permukaan hingga tinggal gagangnya.

Itulah dua bilah pedang yang sederhana, dua bilah pedang dengan gagang yang dibungkus kain hitam.

"Walaupun ke dua bilah pedang ini ditempa bersama dalam sebuah tungku yang sama, namun ada perbedaan berat ringannya", demikian Thi Kay-seng berkata. "Kau terbiasa memakai yang mana?"

"Dalam sekali tempaan ada tujuh bilah pedang yang telah dibuat, ke tujuh bilah pedang tersebut pernah kugunakan semua dengan enak, maka dalam hal ini aku jauh lebih beruntung daripadamu"

"Itu tak menjadi soal!"

"Meskipun ilmu pedangku mengandalkan kecepatan sebagai keistimewaannya, tapi di dalam suatu pertarungan antara jago lihay, rasanya kemantapan masih tetap merupakan titik pokok yang terpenting"

"Aku mengerti!"

Tentu saja ia mengerti.

Dengan tenaga dalam yang mereka miliki sekalipun pedang yang lebih beratpun dalam tangan mereka sama saja enteng dan leluasa kalau digunakan.

Tapi dua bilah pedang yang sama besar kecilnya, bila salah satu di antaranya jauh lebih berat, tentu saja bahan pedang tersebut berarti jauh lebih baik.

Semakin berat sebagai bahan pedang itu berarti pula membantu sebagian tenaga kekuatannya, padahal dalam suatu pertarungan antara dua jago lihay, selisih yang kecilpun bisa mengakibatkan hal-hal yang amat fatal.

"Aku tak rela memberikan yang lebih berat kepadamu, akupun tak ingin mencari keuntungan bagi diriku sendiri, sebab itu lebih baik kita saling beradu nasib", kata Thi Kay-seng.

Cia Siau-hong memandangnya lekat-lekat, dalam hati kecilnya kembali ia bertanya: ". Sesungguhnya pemuda macam apakah dirinya itu?"

Ternyata di hadapan Cia Siau-hong yang tiada tandingannya di dunia pun, dia tak ingin mencari keuntungan barang sedikitpun? Manusia seangkuh dia, mana mungkin bisa melakukan terkutuk yang keji dan jahat?

Thi Kay-seng kembali berkata:

"Silahkan, silahkan memilih sebilah lebih dulu!" Gagang pedang itu semuanya berbentuk sama.

Ujung pedang pun sama-sama menancap hingga menembusi permukaan tanah.

Sesungguhnya pedang yang manakah yang terbuat dari bahan lebih baik? Pedang mana kah yang lebih berat bobotnya? Siapapun tak berhasil untuk mengetahui.

Lantas bagaimana kalau tak dapat melihatnya?

Apa pula gunanya ada pedang? Apa pula gunanya tanpa pedang?

Pelan-pelan Cia Siau-hong membungkukkan badannya dan menggenggam sebilah gagang pedang tapi ia tidak mencabutnya keluar.

Ia sedang menunggu Thi Kay-seng. Meskipun ujung pedang masih di tanah, tapi tangannya telah menggenggam gagang pedang, hawa pedang seakan-akan telah menembusi tanah dan muncul keluar.

Sekalipun sedang membungkukkan badan, melengkungkan pinggang, tapi posisinya itu hidup dan indah, sama sekali tidak menutup kemungkinan buat dirinya untuk melancarkan serangan secara tiba-tiba.

Thi Kay-seng memperhatikan dirinya, dalam pandangan matanya seakan-akan telah muncul kembali sesosok bayangan manusia yang lain, seseorang yang sama-sama dihormati olehnya.

Bukit yang terpencil diliputi keheningan, kadangkala bulan bersinar terang, kadang kala hujan turun amat deras, bukan saja orang itu telah mewariskan ilmu pedang Tui-hun-toh-mia-kiam-hoat kepadanya, seringkali menceritakan kisah tentang Cia Siau-hong kepadanya.

Sekalipun orang itu belum pernah saling berjumpa dengan Cia Siau-hong, akan tetapi ia sangat memahami akan segala tindak-tanduk dari Cia Siau-hong, mungkin jauh lebih memahami daripada siapapun dalam dunia ini.

Sebab sasarannya yang terutama selama hidupnya adalah ingin mengalahkan Cia Siau-hong. Apa yang pernah ia katakan, tak pernah dilupakan oleh Thi Kay-seng.....

......Hanya orang yang berhati lurus dan tidak dicabangkan oleh persoalan lain, baru dapat melatih suatu ilmu pedang yang tiada tandingannya di dunia ini.

......Cia Siau-hong adalah manusia semacam itu.

Ia tak pernah memandang enteng musuhnya, oleh sebab itu setiap kali melancarkan serangan, ia pasti menyerangnya dengan sepenuh tenaga.

Hanya cukup dalam hal ini, setiap orang yang ingin belajar pedang di dunia ini sudah sepantasnya kalau mengambilnya sebagai contoh yang paling baik.

Meskipun tangan Thi Kay-seng dingin seperti es, darahnya panas seakan-akan sedang mendidih.

Bila bertempur dengan Cia Siau-hong, hal ini dianggapnya sebagai suatu peristiwa yang paling dibanggakan dan paling digembirakan selama hidupnya.

Ia berharap bisa menangkap pertarungan ini dan menangkap namanya hingga termashur di mana- mana, diapun ingin menggunakan darah Cia Siau-hong untuk mencuci bersih penghinaan yang telah dialami Hong-ki-piaukiok.

Tapi dalam dasar hati kecilnya, mengapa justru menaruh rasa hormat dan kagum yang luar biasa terhadap orang ini?

"Silahkan!"

Baru saja perkataan itu diutarakan, pedang Thi Kay-seng telah dicabut keluar lalu menusuk ke depan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Tentu saja ia lebih-lebih tak berani memandang enteng musuhnya, karena itu begitu serangan dilancarkan segenap tenaga yang dimiliki telah digunakan. Thi-khi-kuay-kiam (pedang kilat si penunggang kuda baja) tersohor di mana-mana, seratus tiga puluh satu gerakan Lian-huan-kuay-kiam (pedang kilat berantai) nya begitu lihay sehingga serangan yang satu lebih ganas daripada tusukan yang lain.

Dalam sekejap mata, ia telah melepaskan tiga kali tujuh dua puluh satu tusukan. Ini ilmu Luan- sian-si bagian pertama dari ilmu pedang kilat.

Karena biasanya di saat ia pergunakan jurus yang ke dua puluh satu ini, pihak lawan tentu akan menangkis serangannya dengan tangkisan pedang.

Suara beradunya sepasang pedang akan menimbulkan suara dentingan yang memekikkan telinga, karenanya serangan tersebut disebutnya sebagai jurus yang memekikkan.

Tapi sekarang sekalipun jurus yang kedua puluh satu telah dilancarkan ternyata sama sekali tak terdengar sedikit suarapun.

Karena di tangan lawan sama sekali tiada pedang, hanya ada selembar ikat pinggang berwarna hitam yang bercahaya tajam.

Itulah kain hitam yang sebenarnya digunakan untuk membungkus gagang pedang.

Ternyata Cia Siau-hong tidak mencabut pedang tersebut dia hanya melepaskan kain pengikat gagang pedang tersebut.

Kain pengikat juga boleh, pedangpun juga boleh, sesudah berada di tangan Cia Siau-hong, maka semuanya akan berubah menjadi bertuah dan memiliki kekuatan yang mengerikan.

Ibaratnya panah sudah terlepas dari busurnya pertarungan telah berlangsung dan Thi Kay-seng sudah tiada pilihan lain lagi.

Kain pengikat tersebut ternyata membawa semacam tenaga kekuatan yang sangat aneh, kekuatan itu telah menggerakkan pedangnya untuk ikut bergerak pula.

Hakekatnya ia sudah tak mampu untuk menghentikan serangannya lagi.

Kembali tiga kali tujuh dua puluh satu tusukan telah dilancarkan, kali ini yang digunakan adalah gerakan Toan-sian-sin bagian terakhir dari ilmu Thi-khi-kuay-kiam nya.

Di sini pula terletak semua intisari kehebatan dari ilmu pedang kilat. Di antara kilatan cahaya pedang yang menyilaukan mata, lamat-lamat terdengar suara derap kaki kuda yang memekikkan telinga serta suara teriak-teriakan di medan pertempuran.

Sewaktu masih muda dulu napsu membunuh yang meliputi benak Thi Tiong-khi sangat tebal, biasanya dari ke seratus tiga puluh dua jurus Lian-huan-kuay-kiam nya itu baru digunakan jurus yang ke delapan sembilan puluh jurus, pihak lawan pasti sudah tewas di ujung pedangnya.

Seandainya jurus bagian yang terakhirpun harus dipergunakan itu berarti musuhnya pasti sangat tangguh, karenanya dalam ilmu pedang bagian yang terakhir ini, semua jurus serangan yang dipergunakan merupakan jurus-jurus ganas yang tiada sayangnya untuk mengajak musuhnya untuk beradu jiwa.

Oleh sebab itu setiap serangan yang dilancarkan tak pernah meninggalkan tempat luang bagi lawannya untuk menghindar, tidak pula untuk dirinya sendiri. Karena dua puluh satu tusukan terakhir ini sesudah dilepaskan, maka semua jurus serangannya akan berakhir.

Hawa pedang menyelimuti angkasa, dalam waktu singkat ia telah melancarkan kedua puluh satu tusukan yang terakhir, setiap tusukan yang dilancarkan semuanya ibarat seorang ksatria yang membunuh musuh, semuanya merupakan serangan-serangan keji yang tidak memberi peluang buat lawannya.

Sedemikian hebatnya serangan itu, rasanya tiada ilmu pedang manapun di dunia ini yang bisa dibandingkan.

Tapi setelah dua puluh satu tusukan itu lewat, ibaratnya batu yang tercebur di tengah samudra, lenyap dan hilang dengan begitu saja, sedikitpun tiada kabar beritanya.

Menanti hingga tiba saat seperti ini, sekalipun orangnya belum mati, jurus pedangnya telah berakhir, tidak matipun terpaksa harus mati juga.

Ketika para pengikut Thi Kay-seng yang hadir di sana menyaksikan cong piautau-nya mengeluarkan jurus serangan yang terakhir, tanpa terasa semua orang memperdengarkan helaaan napas yang disertai dengan rasa kaget.

Siapa tahu, begitu jurus serangan yang terakhir lewat, tiba-tiba Thi Kay-seng merubah jurus pedangnya, dengan suatu gerakan yang enteng ia lepaskan sebuah tusukan lagi.

Bila dalam melancarkan serangannya tadi hawa pedang dan hawa pembunuhan menyelimuti angkasa dengan tebalnya ibarat awan tebal di angkasa, maka tusukan tersebut ibaratnya awan tebal yang tiba-tiba membuyar dan sang suryapun bersinar kembali, sekalipun bukan sinar matahari yang memberikan kehangatan, tapi sinar panas yang membuat emaspun meleleh, sinar yang merah seperti darah.

Ketika Thi Kay-seng melancarkan serangan dengan ilmu pedang yang gagah perkasa tadi, agaknya Cia Siau-hong masih tidak memandangnya di dalam hati.

Tapi begitu tusukan terakhir dilepaskan, tiba-tiba ia bersorak kegirangan: "Bagus, bagus, suatu ilmu pedang yang amat bagus!"

Baru selesai beberapa patah kata itu, Thi Kay-seng telah melepaskan kembali empat tusukan, setiap tusukan tersebut seakan-akan menghadang perubahan yang tiada habisnya, tapi seakan- akan juga tanpa perubahan apapun, begitu melayang, begitu mantap, begitu enteng, tapi sesungguhnya ganas dan hebat.

Cia Siau-hong tidak menyerang, diapun tidak menangkis. Dia hanya melihat.

Ia seakan-akan sedang menyaksikan seorang gadis cantik yang masih muda berada dalam keadaan bugil, seakan-akan ia dibikin terpesona hingga lupa daratan.

Tapi ke empat buah tusukan tersebut sama sekali tidak berhasil melukai tubuhnya, bahkan seujung rambutpun tidak.

Thi Kay-seng merasa heran sekali. Tusukan yang dengan jelas ia lihat menembusi dadanya, ternyata di saat yang terakhir hanya bergeser lewat dengan menempel di atas dadanya, sebuah serangan yang dengan jelas telah menembusi tenggorokannya, ternyata meleset sama sekali.

Setiap tusukan dan arah sasaran maupun perubahan dari gerak pedangnya itu seakan-akan telah berada di dalam dugaannya semua.

Tiba-tiba serangan pedang dari Thi Kay-seng berubah menjadi amat pelan, pelan sekali. Tusukan itu dilepaskan bukan saja tanpa sasaran tertentu, bahkan sama sekali tak beraturan.

Akan tetapi tusukan itu seakan-akan mata dalam lukisan naga, sekalipun kosong tapi memiliki kunci perubahan yang sama sekali tak terduga.

Bagaimanapun juga lawannya akan bergerak, asal bergerak sedikit saja, maka akibatnya serangan berikut akan menembusi tubuhnya dan merenggut nyawanya.

Gerakan Cia Siau-hong hampir berhenti sama sekali, pada detik itu tampaklah gerakan pedang yang lamban dan kasar yang sedang menusuk tiba pelan-pelan itu, mendadak berubah menjadi selapis hujan bunga yang menyilaukan mata.

Ya, itulah bunga pedang yang memenuhi seluruh angkasa, hujan pedang yang menyelimuti udara, tiba-tiba saja berubah menjadi serentetan bianglala yang menyilaukan mata.

Itulah tujuh buah bianglala yang berwarna-warni, tujuh buah tusukan maut yang bergetar di udara, bergetar sambil melakukan pelbagai perubahan yang tak terhitung banyaknya.

Tapi tiba-tiba saja semua bianglala tergulung di balik awan tebal berwarna hitam. Itulah kain pengikat berwarna hitam.

Tiba-tiba Thi Kay-seng menghentikan gerakannya, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya dan bercucuran seperti air hujan.

Cia Siau-hong menghentikan pula semua gerakannya, lalu sepatah kata demi sepatah kata bertanya:

"Inikah ilmu pedang Toh-mia-cap-sa-kiam dari Yan Cap-sa. ?"

Thi Kay-seng membungkam. Membungkam berarti dia telah mengaku.

"Bagus, ilmu pedang yang sangat bagus!", seru Cia Siau-hong lagi. Tiba-tiba ia menghela napas panjang lagi, lalu berseru: "Sayang........sayang. !"

"Apanya yang sayang?", tak tahan Thi Kay-seng bertanya.

"Sayang hanya ada tiga belas jurus, kalau masih ada jurus yang ke empat belas maka aku pasti kalah" "Mungkinkah masih ada jurus yang ke empat belas?", tanya Thi Kay-seng keheranan. "Ya, pasti ada!"

Sesudah termenung lama sekali, pelan-pelan ia baru berkata lebih lanjut. "Jurus ke empat belas baru merupakan inti sari dari seluruh ilmu pedang ini!"

Intisari dari ilmu pedang berarti nyawa bagi manusia sama-sama tak berwujud dan melayang- layang, sekalipun tidak terlihat dengan mata, akan tetapi tiada seorang manusiapun yang menyangkal akan kebenarannya.

Cia Siau-hong berkata kembali:

"Semua perubahan dan kekuatan yang berada dalam Toh-mia-cap-sa-kiam baru akan terpancar keluar di dalam jurus yang ke empat belas, bilamana jurus ke empat belas dapat dipecahkan lagi, maka ilmu pedangnya akan berubah menjadi suatu ilmu pedang yang tiada tandingannya di dunia ini. "

Tangan bergetar keras, tiba-tiba saja kain tersebut menjadi lurus dan kaku persis seperti sebilah pedang.

Ketika pedang itu bergerak ibaratnya sinar di waktu senja, seperti pula matahari, seperti bianglala, seperti awan hitam, seperti bergerak tapi tenang, seperti kosong tapi nyata, seperti ada di kiri seperti pula ada di kanan, seperti ada di depan seperti juga di belakang, seperti cepat seperti pelan, seperti kosong seperti pula berisi.

Sekalipun yang bergerak tak lebih hanya sebilah kain pengikat, tapi dalam sekejap mata telah berubah menjadi sebilah senjata tajam yang jauh lebih mengerikan daripada senjata tajam manapun juga.

Dalam saat yang amat singkat inilah, peluh dingin telah membasahi seluruh pakaian Thi Kay-seng.

Ia hampir boleh dibilang tak bisa mematahkan lagi serangan tersebut, tak mampu menangkis, tak mampu menyambut, tak mampu pula untuk menghindarkan diri.

"Inilah jurus yang ke empat belas!", kata Cia Siau-hong. Thi Kay-seng tak mampu berbicara lagi.

"Jika kau gunakan jurus serangan ini, maka semua jalan mundurku akan kau sumbat hingga aku menjadi terjepit", Cia Siau-hong berkata lebih jauh.

Thi Kay-seng sedang menyesal, ia menyesal kenapa selama ini tak sanggup untuk memikirkan perubahan tersebut.

"Sekarang kau sudah melihat jelas jurus seranganku ini?", tanya Cia Siau-hong lagi.

Thi Kay-seng telah melihat jelas, sejak kecil ia sudah mulai belajar ilmu pedang, ia melatihnya terus dengan tekun.

Dalam bidang ini ia memang seorang manusia cerdas yang berbakat, lagipula pernah mengucurkan keringat, pernah mengucurkan darah........

"Coba kau ulangi sekali lagi!", Cia Siau-hong berseru. Thi Kay-seng mainkan lagi semua jurus dan perubahan dari jurus pedang itu sekali lagi, kemudian baru bertanya:

"Sekarang apakah kau dapat mengingat semuanya?" Thi Kay-seng mengangguk.

"Kalau begitu cobalah kau gunakan!"

Thi Kay-seng memandang ke arahnya, ia masih belum memahami maksudnya yang sebenarnya.

"Aku inginkan kau gunakan jurus pedang itu untuk menghadapiku, coba lihatlah apakah dapat mengalahkan ilmu pedangku?", kata Cia Siau-hong.

Mencorong sinar mata dari balik mata Thi Kay-seng, akan tetapi dengan cepat sinar mata tajam itu sirap kembali.

"Aku tak dapat berbuat demikian!", sahutnya. "Aku mengharuskan kau berbuat demikian" "Kenapa?"

"Sebab akupun ingin mencoba apakah jurus itu bisa mematahkan ilmu pedangku?"

Karena ilmu pedang tersebut meski diciptakan olehnya, akan tetapi perubahan intisarinya jurus berasal dari ilmu Toh-mia-cap-sa-kiam (Tiga belas jurus ilmu pedang perenggut nyawa).

Nyawa dari jurus tersebut termasuk juga nyawa dari Yan Cap-sa.

Thi Kay-seng sudah mulai memahami maksudnya, mencorong sinar kagum dari balik matanya. "Kau memang seorang lelaki yang pantas merasa tinggi hati!"

"Aku memang demikian!"

"Tapi kau memang pantas untuk bersikap demikian!" "Ya, aku memang begitu!"

ooooOOOOoooo