Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 21. Membunuh Tiada Ampun

Bab 21. Membunuh Tiada Ampun

Suara roda kereta yang berputar, suara derap kaki kuda yang ramai, suara teriakan petugas mencari jalan, tiba-tiba berhenti serentak dalam waktu yang hampir bersamaan.

Awan gelap menyelimuti sang surya di angkasa, serentetan kilat melejit di balik awan, dan suara guntur menggelegar memecahkan kesunyian, menggetarkan perasaan orang dan memekakkan telinga siapapun.

Tapi semua orang seolah-olah sudah tidak mendengar suara guntur lagi, semua orang berdiri tertegun dengan mata terbelalak lebar, dengan mata setengah melotot mereka awasi pemuda di atas atap kereta, serta panji kebesaran mereka yang patah dan robek akibat diinjak-injak. Tak seorangpun yang pernah menduga bahwa peristiwa semacam ini bisa menimpa diri mereka, tak ada orang yang bisa menduga kalau dalam dunia dewasa ini betul-betul masih terdapat manusia gila yang tak doyan hidup semacam dia, sehingga berani melakukan perbuatan semacam itu.

Piausu pelindung panji yang kena ditinju hingga terjungkal dari pelana kudanya itu sudah meronta dan merangkak bangun dari tanah.

Orang itu she Thio bernama Si, sudah dua puluh tahun melakukan pengawalan barang, selamanya ia melakukan pekerjaan dengan ulet dan teliti.

Selama lebih dua puluh tahun hidup bergelimpangan di ujung golok, entah berapa banyak sudah kejadian besar yang pernah di alaminya, karena ketenangan dan keuletannya menghadapi setiap persoalan, maka rekan-rekannya menghadiahkan sebuah julukan Si-sim-bok-tau-jin (Manusia kayu berhati ulet) kepadanya.

Itu bukan berarti dia bodoh, dungu dan tak berguna, tapi menunjukkan bahwa dalam menghadapi persoalan apapun, dia dapat menjaga ketenangannya dan menghadapinya dengan hati yang tenang.

Tapi sekarang, Si-sim-bok-tau-jin sendiripun berdiri dengan wajah pucat dan sekujur tubuhnya gemetar keras.

Peristiwa ini benar-benar di luar dugaan siapapun, terlalu mengejutkan hati orang, kejadian itu berlangsung begitu mendadak sehingga semua orang menjadi gelagapan serta tak tahu apa yang musti dilakukan.

Waktu kejadian berlangsung, setiap orang merasakan hatinya sangat kalut, kalu tidak sekalipun Siau Te memiliki kepandaian silat yang luar biasapun, belum tentu akan berhasil dengan serangannya, sekalipun beruntung bisa membawa hasil yang diharapkan, sekarangpun tubuhnya pasti telah dicincang menjadi berkeping-keping.

Menyaksikan perubahan paras muka dari orang-orang itu, bahkan Siau Te sendiripun tak mampu tertawa, dia cuma merasa ada segulung hawa dingin yang menusuk tulang muncul dari dasar alas kakinya dan menerjang naik ke atas kepala, seluruh tubuhnya menjadi dingin, kaku dan bahkan mulai menggigil.

Kembali guntur menggelegar membelah angkasa.

Di tengah menggelegarnya guntur yang keras, lamat-lamat seperti terdengar ada orang menyerukan kata "bunuh!", menyusul kemudian suara gemerincing berkumandang memecahkan keheningan, puluhan bilah golok dan pedang bersama-sama diloloskan dari sarungnya.

Suara nyaring yang berkumandang kali ini, kedengarannya jauh lebih mengerikan dari pada suara guntur yang menggelegar di tengah hari tadi.........

Cahaya golok mengkilap bersama, lalu meluncur datang dari depan, belakang, kiri, kanan, empat arah, delapan penjuru. Meskipun langkah kaki mereka amat cepat tapi teratur dan tidak kacau, dalam sekejap mata kereta kuda tersebut telah berada dalam kepungan. 

Cukup berdasarkan barisan penyerang yang melakukan pengepungan secara teratur ini, bisa diketahui bahwa nama besar Hong-ki-piaukiok bukan diperoleh secara kebetulan saja.

Thio Si pun lambat laun dapat menenangkan kembali hatinya, empat puluh tiga orang piausu dan peneriak jalan dari perusahaannya sedang menunggu dirinya, asal ia memberi komando, maka golok dan pedang akan diayunkan bersama untuk mencincang tubuh lawan, darah segar segera akan berhamburan membasahi permukaan tanah.

Dalam keadaan demikian, Siau Te malah tertawa. Ia sama sekali tidak takut.

Pada hakekatnya dia memang datang untuk mencari kematian, walaupun tadi ia masih rada tegang dan takut, tapi sekarang perasaannya malah begitu kendor, begitu gembira hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.

.......Seluruh kejayaan, kenistaan, budi maupun dendam yang membuat pusing orang dalam jagad, kini sudah terbuang jauh-jauh dari pikirannya.

.......Aku adalah seorang sinting juga boleh, seorang anak jadah yang tidak berayah dan beribu juga boleh, semuanya tak menjadi soal lagi baginya.

Dengan amat santainya ia mulai duduk di atas atap kereta, kemudian sambil tertawa terbahak- bahak serunya:

"Senjata kalian telah diloloskan dari sarung, kenapa tidak datang ke mari untuk membunuhku?"

Persoalan ini merupakan persoalan yang semua orang ingin tanyakan kepada Thio Si, sebab dalam perusahaan ia terhitung orang paling tua, paling berpengalaman, setiap kali congpiauthau tak di rumah, maka para piausu selalu menganggapnya sebagai pemimpin mereka.

Thio Si masih agak sangsi, ia berkata:

"Bukan suatu masalah yang sulit untuk membunuhmu, dalam sekali bergerak saja mungkin tubuhmu sudah akan kami cincang dan hancur berkeping-keping, cuma saja. "

"Cuma saja kenapa?", seorang piausu bersenjata Siang-bun-kiam yang berada di sampingnya segera bertanya.

Thio Si termenung sejenak, lalu sahutnya:

"Aku lihat orang ini memang bermaksud datang untuk menghantar kematiannya sendiri!" "Kalau memang begitu, lantas apa yang musti kita lakukan?"

"Bila orang itu berniat buruk untuk mati, maka di balik persoalan itu pasti ada rahasia lain yang bagaimanapun juga musti kita selidiki dulu sampai jelas, apalagi siapa tahu kalau di belakangnya masih ada orang lain yang mendalangi perbuatannya ini"

Piausu bersenjata Siang-bun-kiam itu segera tertawa dingin.

"Kalau begitu mari kita lenyapkan dulu sepasang tangan dan kakinya sebelum memikirkan yang lain"

Pedangnya segera dikembangkan, lalu menerjang ke muka paling dulu. Ia menusuk jalan darah Huan-tiau-hiat di atas lutut Siau Te.

Siau Te sedikitpun tidak takut mati, tapi sebelum ajalnya tiba, ia enggan dihina orang, tiba-tiba tubuhnya mencelat ke udara, lalu menendang pedang lawan. ~Bersambung ke Jilid-14 Jilid-14

Tendangan yang dilancarkan secara tiba-tiba itu menyambar tanpa menimbulkan bayangan, itulah ilmu Hui-ti-liu-seng-tiok (Tendangan kilat kaki meteor), salah satu ilmu sakti dari tujuh ilmu sakti lainnya milik dari keluarga Buyung di daerah Kanglam, jangankan hanya manusia, ibaratnya meteorpun bisa ditendangnya, jadi bisa dibayangkan betapa cepatnya tendangan tersebut.

Tapi kecuali pedang siang-bun-kiam tersebut, masih ada dua puluh tujuh bilah golok kilat dan lima belas bilah senjata tajam yang sedang menantikan dirinya.

Sewaktu pedang siang-bun-kiam itu mencelat ke belakang, ada tiga bilah golok dan dua bilah pedang telah menusuk tiba, yang ditusuk adalah bagian-bagian tubuhnya yang mematikan.

Cahaya golok beterbangan seperti menari, cahaya pedang menyambar seperti rantai, tiba-tiba terdengar. "Triiiiiing!", ketiga bilah golok dan dua bilah pedang itu mendadak telah patah

semua menjadi dua bagian.

Ujung golok mata pedang segera rontok jatuh ke bawah, menyusul menggelinding lewat dua biji benda bulat yang melejit-lejit di atas atap kereta dan menggelinding ke bawah.

Ternyata dua biji benda bulat itu adalah dua biji mutiara.

Sekarang, di atas atap kereta telah bertambah seseorang, dia berwajah pucat dan di tangannya masih membawa sekuntum bunga mutiara yang biasanya dipakai untuk menghias rambut kaum wanita, cuma bagi orang yang bermata tajam, dengan cepat akan diketahui bahwa butiran-butiran mutiara itu telah berkurang lima butir.

Lima bilah senjata telah patah, tapi suara yang terdengar hanya sekali, ternyata orang ini telah mempergunakan lima biji mutiara yang kecil untuk mematahkan lima bilah senjata dalam waktu yang hampir bersamaan.

Sebagian besar pekerja dalam perusahaan pengawalan barang rata-rata adalah jago kawakan yang luas dalam pengalaman, tapi kepandaian semacam itu bukan saja tak pernah dilihatnya, bahkan dibayangkanpun belum pernah.

Suara guntur kembali menggelegar di udara, hujan deras mulai turun mengguyur seluruh permukaan tanah.

Orang itu masih berdiri tak bergerak di tempat semula, wajahnya yang kaku seakan-akan sama sekali tidak beremosi.

Dengan dingin Siau Te memandang ke arahnya, lalu berkata:

"Lagi-lagi kau yang datang!"

"Ya, lagi-lagi aku yang datang!", orang itu menyahut.

Hujan deras turun dengan hebatnya, butiran-butiran air hujan menitik di atas wajah dan kepala mereka serta membasahi sekujur tubuhnya, wajah-wajah itu entah memancarkan rasa sedihkah? Gembirakah? Gusarkah? Atau benci? Siapapun tak dapat melihatnya. Semua orang hanya tahu bahwa orang itu pastilah seorang jago tangguh yang ilmu silatnya sukar diukur dengan kata-kata, orang itu pasti mempunyai hubungan yang erat sekali dengan pemuda yang telah mematahkan panji perusahaan mereka.

Thio Si berhasil menghalangi rekan-rekannya untuk maju, bahkan piausu bersenjata siang-bun- kiam yang masih penasaranpun tak berani berkutik lagi secara sembarangan, dia hanya bertanya:

"Sobat, siapakah namamu?" "Aku she Cia!"

Paras muka Thio Si segera berubah hebat, jago lihay yang berasal dari marga Cia cuma satu.

"Apakah kau datang dari perkampungan Sin-kiam-san-ceng, lembah Cui-im-kok, telaga Liok-sui- oh?"

"Benar!"

"Apakah kau adalah Sam sauya dari keluarga Cia?", suara Thio Si kedengaran makin gemetar. "Ya, akulah Cia Siau-hong!"

Cia Siau-hong

Tiga suku kata ini bagaikan sebuah 'Hu' atau ajimat yang bisa mengusir gangguan dari pelbagai siluman. Ketika mendengar nama itu, tak seorang manusiapun berani berkutik lagi.

Tiba-tiba seseorang berlarian datang di tengah curahan hujan deras sambil teriaknya keras-keras: "Congpiautau telah datang......congpiautau telah datang. "

Tiga puluh tahun berselang, ketika para penyamun dari delapan belas markas bukit Lian-san sedang jaya-jayanya meraja-lela, tiba-tiba muncul seseorang dengan seekor kuda yang datang menyatroni bukit mereka.

Dengan sebilah pedang perak dan dua puluh delapan panah penembus awannya ia berhasil menyapu rata delapan belas markas penyamun di bukit Lian-san rata dengan tanah, ada sembilan belas luka besar dan kecil yang di deritanya ketika itu.

Tapi ia belum sampai mati, ternyata ia masih memiliki sisa tenaga untuk mengejar Pa Thian-pa, penyamun paling ganas dari gerombolan bukit Lian-san yang sempat melarikan diri.

Setelah menempuh perjalanan sehari semalam lamanya, ia berhasil juga memenggal batok kepala Pa Thian-pa pada suatu tempat delapan ratus li jauhnya dari bukit semula.

Orang itu bukan lain adalah Congpiautau dari perusahaan Hong-ki-piaukiok Thi-khi-kuay-kiam (si pedang kilat) Thi Tiong-khi, pemilik dari perusahaan pengawalan barang itu.

Maka ketika mereka semua mendengar bahwa congpiautau-nya telah datang, empat puluhan orang piausu dan peneriak jalan bersama-sama menghembuskan napas lega.

Mereka semua percaya bahwa congpiautau-nya pasti dapat menyelesaikan persoalan ini. Cia Siau-hong menghela napas pula dalam hatinya.

Ia tahu, dalam peristiwa ini Siau Te-lah yang bersalah, tapi ia tak bisa mengatakan bahwa ia enggan mengurusi persoalan ini, sebab bagaimanapun juga, mau tak mau ia musti mengurusinya juga.

Ia tak dapat membiarkan bocah itu tewas di tangan orang lain, karena orang itu adalah satu- satunya orang yang ia merasa pernah berbuat hal yang tak wajar kepadanya. kepada anaknya.

Butiran air hujan masih menyelimuti udara bagaikan sebuah tirai.

Empat orang manusia dengan merentangkan payung berjalan lambat-lambat menembusi hujan deras, orang yang di paling depan adalah seorang pemuda berbaju hijau, berkaus kaki putih dengan sepatu hitam yang berwajah lebar.

Ternyata dia adalah si pemuda polos yang duduk semeja dengan Cho Han-giok ketika berada di atas loteng Cong-goan-lo tadi.

Kenapa Thi Tiong-khi tidak datang? Kenapa ia harus datang?

Setelah bertemu dengan pemuda tersebut, semua piausu serta peneriak jalan dari perusahaan Hong-ki-piaukiok bersama-sama membungkukkan badan memberi hormat, wajah mereka semua menunjukkan sikap menghormat yang amat besar, semua orang tunduk kepadanya dan menyanjung dirinya.

Kemudian dengan penuh rasa hormat, semua orang menyapa bersama: "Congpiautau!"

Apakah Cong-piautau dari perusahaan Hong-ki-piaukiok telah diganti oleh seorang pemuda polos yang tampak agak kebodoh-bodohan ini?

Dari atas sampai bawah dua ribu orang anggota perusahaan Hong-ki-piaukiok, kebanyakan terhitung jago-jago kenamaan yang sudah punya pengalaman luas serta reputasi yang hebat, apakah hanya mengandalkan seorang pemuda polos yang jujur semacam ini, maka semua jago- jago kawakan tersebut bersedia mendengarkan perintahnya?

Tak mungkin hal ini berlangsung dengan begitu saja, tentu saja ada alasan lain lagi.

Bendera perusahaan di patah orang, piausu-piausunya dihina orang, sekalipun Thio Si adalah seorang jago kawakan, tak urung dibikin gelagapan juga oleh peristiwa tersebut.

Tapi pemuda itu ternyata masih dapat berjalan mendekat dengan langkah yang sangat lambat, wajahnya yang lebar sedikitpun tidak menunjukkan rasa gusar, gugup atau kaget, ketenangan serta ketebalan iman yang dimilikinya sungguh luar biasa sekali, jarang ada seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang sanggup melakukan hal seperti ini.

Hujan masih turun dengan derasnya, tanah mulai berlumpur dan kotor..... Pemuda itu masih berjalan amat lambat, namun di atas alas sepatunya yang hitam dengan kaus yang berwarna putih hanya sedikit yang ternoda oleh lumpur, bila tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, jangan hal ini bisa dilakukannya.

Perasaan Cia Siau-hong mulai tertekan, mulai terasa tak enak, seakan-akan terjatuh dari suatu tempat yang tinggi.

Ia telah mengetahui bahwa kemungkinan besar pemuda ini jauh lebih sukar dihadapi daripada Thi Tiong-khi. Untuk membereskan persoalan ini jelas bukan suatu pekerjaan yang gampang.

Ternyata pemuda itu tidak menegurnya, bahkan melirik sekejap ke arah mereka pun tidak.

Walaupun dengan jelas ia tahu kalau bendera perusahaannya dipatahkan orang, walaupun tahu kalau ada orang yang mematahkan bendera perusahaannya ada di depan mata, tapi dia seolah- olah tidak mengetahuinya, seakan-akan tidak melihatnya.

Sambil memegang payungnya, pelan-pelan ia berjalan mendekat, lalu bertanya dengan suara hambar:

"Piausu manakah yang hari ini bertanggung jawab melindungi bendera perusahaan?" Thio Si segera menampilkan dirinya ke depan, setelah memberi hormat, menyahut: "Aku!"

"Berapa usiamu tahun ini?", kembali pemuda itu bertanya sambil menatapnya lekat-lekat. "Aku termasuk shio sapi, jadi tahun ini genap berusia lima puluh tahun. !"

Pemuda itu manggut-manggut, lalu berkata lagi:

"Sudah berapa tahun kau bekerja dalam perusahaan Hong-ki-piaukiok kita ini?"

"Semenjak lo-piautau mendirikan perusahaan pengawalan barang ini, aku telah bekerja di sini!" "Ehmmm. ! Itu berarti sudah dua puluh enam tahun lamanya dari sekarang?"

"Ya, sudah dua puluh enam tahun lamanya!" Pemuda itu menghela napas panjang.

"Watak mendiang ayahku keras lagi berangasan, kau bisa berbakti kepadanya selama dua puluh enam tahun jangka waktu tersebut sudah terhitung tidak gampang"

Thio Si menundukkan kepalanya rendah-rendah dan memperlihatkan wajah sedih, lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Mendengar sampai di situ, Siau Te pun telah mengetahui bahwa lo-piautau yang mereka maksudkan tak lain adalah Thi-khi-kuay-kiam Thi Tiong-khi yang mendirikan perusahaan Hong-ki- piaukiok, pemuda itu menyebutnya sebagai "mendiang ayahku" berarti pula dia adalah putranya.

Ayah meninggal anak menggantikan, tak heran kalau dengan usianya yang masih muda ia telah memegang tampuk pimpinan dalam perusahaan tersebut.

ooooOOOOoooo