Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 17. Beradu Kepandaian

Bab 17. Beradu Kepandaian

Kini pedang itu sudah berada di tangan Cia Siau-hong.

Tapi mereka berdua tak seorangpun yang berpaling untuk memandang lagi barang sekejappun. Mereka hanya saling berpandangan dengan mulut membungkam.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Hoa Sau-kun berkata:

"Lima beberapa hari lagi adalah bulan sebelas tanggal lima belas. "

"Ya, agaknya masih ada delapan hari lagi!", Cia Hong-hong membenarkan sambil mengangguk. "Sampai hari itu, maka kau kawin denganku sudah genap dua puluh tahun lamanya"

"Ya, aku masih ingat!"

"Sejak kecil aku telah bersumpah, sebelum menjadi tenar aku tak akan kawin" "Aku mengerti!"

"Aku menjadi tenar setelah berusia empat puluh tahun. Ketika menikah denganmu, usiaku menjadi dua puluh tahun lebih tua daripada usiamu waktu itu"

Cia Hong-hong segera tertawa.

"Sampai sekarang kau toh masih berusia dua puluh tahun lebih tua daripadaku", katanya.

Di tempat itu, bukan cuma ada mereka berdua saja, tapi secara tiba-tiba kedua orang itu telah membicarakan tentang persoalan pribadi mereka berdua.

Suara mereka begitu lembut dan halus, mimik wajahnyapun kelihatan aneh sekali, bahkan sewaktu tertawapun tampak sekali tertawanya sangat aneh..........

"Dalam dua puluh tahun ini, hanya kau seorang yang tahu penghidupan macam apakah yang telah ku jalani selama ini?"

"Aku tahu, kau. kau selalu merasa telah berbuat salah kepada diriku"

"Karena aku kalah, aku sudah bukan Hoa Sau-kun ketika mengawini dirimu tempo dulu walau ke manapun juga aku sudah tak punya muka untuk menampilkan diri lagi, tapi kau. "

Ia maju ke depan dan menggenggam tangan istrinya erat-erat, terusnya lebih jauh:

"Kau belum pernah menggerutu kepadaku, selalu menerima tabiat anehku dengan penuh kerelaan, tanpa kau, mungkin aku sudah mampus!"

"Kenapa aku musti menggerutu kepadamu selama dua puluh tahun ini, bila ku bangun setiap hari, aku dapat menyaksikan kau berbaring di sampingku. Bagi seorang perempuan, masih ada rejeki apa lagi yang melebihi keadaan semacam itu?"

"Tapi sekarang aku sudah tua, siapa tahu ketika suatu pagi kau bangun dari tidurmu, tahu-tahu kau jumpai aku sudah pergi meninggalkan dirimu. ?"

"Tetapi. " Hoa Sau-kun tidak membiarkan ia melanjutkan kata-katanya, dengan cepat ia menukas:

"Setiap orang, cepat atau lambat, pasti akan mengalami keadaan seperti itu, selamanya akan memandang tawar terhadap kejadian semacam ini, tapi aku tak akan membiarkan orang berkata bahwa Ko nay-nay dari keluarga Cia telah kawin dengan seorang suami yang tak berguna, tak becus. Aku harus membuktikan ketidak-becusanku di depan orang lain"

"Ya, aku mengerti"

Hoa Sau-ya menggenggam tangannya lebih kencang. "Kau sungguh-sungguh telah mengerti?", bisiknya.

Cia Hong-hong mengangguk, air matanya telah jatuh bercucuran membasahi pipinya. Hoa Sau-kun menghembuskan napas panjang.

"Terima kasih", kembali bisiknya.

Terima kasih.

Itulah dua patah kata yang sederhana tapi mengandung maksud yang dalam.

Pada saat semacam ini, dibalik ucapan yang sederhana itu justru tersembunyi suatu luapan perasaan cinta, luapan perasaan haru dan rasa sayang yang tak terlukiskan besarnya.

Air mata si Boneka telah membasahi seluruh ujung bajunya.

Sekarang bahkan dia sendiripun telah memahami maksudnya, bahkan diapun tak tega untuk bersedih hati bagi mereka berdua.

Hoa Sau-kun telah duduk di atas rumput.

Rumput-rumput itu telah menguning dan kering. walaupun dalam pandangan muda-mudi,

lapangan itu masih tetap hijau dan penuh keindahan, hal inipun tak lain disebabkan bahwa dalam perasaan setiap orang, musim semi yang indah selalu ada, tapi setiap kali musim kemaraupun akan dijumpai.

Mereka sudah menjadi suami-isteri selama banyak tahun, cinta kasih mereka telah mempunyai dasar yang cukup kuat.

Ia telah duduk, buntalan kain yang dibawanya itu telah diletakkan di atas lututnya, lalu pelan-pelan menengadah dan memandang ke arah Cia Siau-hong.

Cia Siau-hong memahami pula maksud hatinya itu, cuma saja ia masih menunggu hingga ia mengatakannya sendiri.

Akhirnya Hoa Sau-kun berkata juga: "Yang kupergunakan sekarang sudah bukan sebilah pedang lagi!" "Oya?"

"Semenjak kalah di ujung pedangmu, aku telah bersumpah tak akan mempergunakan pedang lagi seumur hidupku!"

Ia memandang sekejap buntalan di atas lututnya, lalu berkata lebih lanjut:

"Selama dua puluh tahun ini aku telah melatih sejenis senjata tajam lainnya, setiap hari setiap malam aku selalu berharap suatu ketika dapat melangsungkan kembali suatu pertarungan melawanmu!"

"Ya, aku mengerti!"

"Tapi aku sudah kalah di ujung pedangmu, prajurit yang telah kalah perang, biasanya tak cukup bernyali untuk bertarung kembali, maka bila kau tak akan menyalahkan dirimu. !"

Cia Siau-hong mengawasinya lekat-lekat, mendadak terpancar ke luar rasa kagum di balik wajahnya.

Dengan wajah tanpa emosi, dia hanya mengatakan sepatah kata saja dengan hambar: "Silahkan. !"

Buntalan itu terbuat dari kain berwarna kuning dan dijahit secara rapat, di luarnya masih diselubungi pula dengan sebuah kain yang panjang, kain itupun diikat dengan rapat sekali.

Semacam tali simpul yang tidak gampang untuk memutuskannya. Untuk membebaskan tali simpul semacam ini, satu-satunya cara yang paling cepat adalah menariknya hingga putus, atau sekali bacok memutuskan semua tali itu.

Tapi Hoa Sau-kun tidak berbuat demikian, dua puluh tahunpun dapat ia lewatkan dengan sabar, apalagi hanya waktu beberapa menit.

Ia lebih suka untuk membuang lebih banyak tenaga dengan melepaskan ikatan tali itu satu persatu.

Ataukah mungkin karena dia sudah tahu bahwa masa berkumpul lebih pendek dari masa berpisah, sehingga dia ingin berkumpul lebih lama lagi dengan istrinya?

Cia Hong-hong memandang ke arahnya, tiba-tiba ia menyeka kering air matanya, lalu sambil berjongkok di sampingnya ia berkata:

"Mari kubantu!"

Kain itu sebetulnya ia juga yang mengikatnya, maka tentu saja ia dapat membukanya lebih cepat pula.

Dengan jelas dia tahu bahwa pertarungan suaminya kali ini adalah untuk mempertahankan mati dan hidup, kehormatan atau penghinaan.

Diapun tahu bahwa kepergian suaminya kali ini belum tentu bisa kembali lagi, tapi kenapa ia tak mau mengulur waktu untuk beberapa saat lebih lama? Karena ia tak ingin waktu yang cukup lama itu sampai melenyapkan keberanian serta kepercayaannya pada diri sendiri.

Karena ia berharap, pertarungan ini bisa dimenangkan oleh suaminya........

Hoa Sau-kun memahami maksud hati istrinya. Cia Hong-hong pun tahu bahwa suaminya dapat memahami maksudnya itu.

Betapa sulitnya saling pengertian ini, tapi betapa bahagianya pula mereka.

Setiap orang agaknya telah dibuat terharu oleh gerak-gerik ke dua orang itu, hanya Buyung Ciu-ti seorang yang tidak memperhatikan mereka walau sekejap matapun, ia hanya mengawasi terus buntalan berwarna kuning itu..........

Dalam hati kecilnya ia sedang berpikir:

"Senjata rahasia macam apakah yang sebenarnya disembunyikan di balik buntalan itu? Dapatkah dipergunakan untuk mengalahkan Cia Siau-hong. ?"

Sewaktu masih mudanya dulu, Hoa Sau-kun sudah diakui khalayak umum sebagai seorang jago yang berilmu tinggi. Sejak dikalahkan Cia Siau-hong, mungkin saja kesehatan tubuhnya banyak merosot, dan sulit untuk dipulihkan kembali seperti kekuatan di masa jayanya dulu.

Apalagi ilmu pedang Cia Siau-hong adalah ilmu pedang yang menakutkan, ia dapat meresapi akan hal itu, maka jika ia telah memilih sebilah senjata lain sebagai pengganti pedang untuk menghadapi Sam sauya, maka hal mana sudah pasti bukan suatu kejadian yang gampang.

Di pandang dari sikapnya yang begitu sayang pada buntalan tersebut, dapat diketahui bahwa senjata yang dipilihnya ini pasti adalah suatu senjata yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, lagi pula pasti tajamnya luar biasa.

Sudah dua puluh tahun lamanya ia melatih diri dengan tekun dan rajin, kini dengan memberanikan diri telah mempertaruhkan jiwa raganya, bahkan mempertaruhkan pula perpisahannya dengan sang istri yang sudah banyak tahun hidup sengsara bersamanya, hal ini menunjukkan bahwa tantangannya kepada Cia Siau-hong untuk berduel kembali pasti disertai dengan suatu keyakinan yang dapat dipertanggung-jawabkan.

Pelan-pelan Buyung Ciu-ti menghembuskan napas panjang, terhadap pertimbangan yang dibuatnya ia mempunyai keyakinan yang lebih mantap lagi.

Sekarang bilamana ada orang berani bertaruh dengannya, maka kemungkinan besar ia akan mempertaruhkan bahwa Hoa Sau-kun yang akan menangkan pertarungan ini.

Jika ingin mengetahui skor taruhannya, maka dia akan memegang Hoa Sau-kun dengan tujuh lawan tiga, atau paling rendahpun enam banding empat.......

Ia percaya dugaannya ini pasti tak akan keliru terlalu besar.

Akhirnya buntalan itu terbuka, senjata yang berada di dalam buntalan tersebut ternyata tak lain hanya sebuah tongkat kayu. Tongkat itu adalah sebuah tongkat yang amat biasa, walaupun terbuat dari bahan yang bermutu tinggi, jelas tak dapat dibandingkan dengan tempaan pedang mestika yang tajamnya bukan kepalang.

Inikah senjata yang telah dilatihnya dengan tekun dan penuh keseriusan selama dua puluh tahun?

Hanya mengandalkan tongkat tersebut, dia hendak menghadapi kecepatan pedang dari Sam sauya?

Ketika menjumpai tongkat kayu itu, Buyung Ciu-ti entah harus merasa kaget dan tercengang, ataukah harus merasa kecewa?

Mungkin setiap orang akan merasa terkejut dan kecewa sekali, tapi tidak demikian dengan Cia Siau-hong.

Hanya dia seorang yang mengerti bahwa pilihan Hoa Sau-kun adalah pilihan yang sangat tepat. Tongkat sesungguhnya merupakan sejenis senjata yang paling kuno bagi umat manusia kita.

Sejak jaman dahulu kala, di saat manusia hendak berburu binatang untuk makan, atau sewaktu harus melindungi diri, mereka selalu mempergunakan senjata ini.

Justru karena benda itu merupakan sejenis senjata yang terkuno, lagi pula setiap orang selalu mempergunakannya untuk memukul orang atau mengusir anjing, maka sedikit banyak orang akan memandang remeh senjata tersebut, padahal mereka lupa bahwa semua senjata yang ada di dunia ini pada dasarnya berkembang dari benda tersebut.

Jurus-jurus serangan dari tongkat itu sendiri mungkin terlampau sederhana, tapi bila berada di tangan seorang jago silat yang benar-benar lihay, justru tongkat itu bisa dipakai sebagai tombak, sebagai pedang, sebagai senjata penotok jalan darah dan bisa juga digunakan sebagai senjata Poan-koan-pit.........

Pokoknya semua perubahan jurus serangan dari aneka senjata tajam yang ada di dunia ini, sesungguhnya dikembangkan dari jurus-jurus sederhana dari gerakan tongkat itu sendiri.

Hoa Sau-kun telah menyimpan sebuah tongkat yang sederhana sedemikian rapat dan rahasianya, inipun bukan cuma suatu perbuatan gila-gilaan, melainkan terhitung pula semacam pertarungan batin, bertarung terhadap batin sendiri.

Ia harus menaruh rasa hormat dan sayang terlebih dulu terhadap tongkat itu, kemudian baru akan tumbuh kepercayaannya terhadap senjata tersebut......

"Kepercayaan" sesungguhnya merupakan senjata ampuh lagi pula terhitung senjata paling tajam dan paling manjur.

Buyung Ciu-ti pun seorang yang pintar sekali, dengan cepat ia dapat memahami teori tersebut. Tapi masih ada satu hal yang tidak ia pahami!

Ia tidak mengerti kenapa Hoa Sau-kun tidak mempergunakan tongkat emas, tongkat perak atau tongkat besi, melainkan justru memilih sebuah tongkat kayu yang segera akan kutung jika di tebas.

Rasa percayanya kepadanya pun jauh tidak lebih mantap dari sebelum ini. Sang surya baru terbit, mata pedang membiaskan sinar berkilauan ketika tertimpa sinar sang surya, hingga kelihatan jauh lebih tajam dan cemerlang daripada sinar sang surya sendiri.

Hoa Sau-kun telah bangkit berdiri, dia hanya memandang sekejap ke arah bininya dengan sinar mata terakhir, kemudian dengan langkah lebar berjalan menuju ke arah Cia Siau-hong.

Selama ini Cia Siau-hong hanya berdiri tenang di sana, berdiri menantikan kedatangannya, paras mukanya tenang tanpa emosi, seakan-akan hatinya tidak terpengaruh oleh semua peristiwa yang telah berlangsung tadi.

Untuk menjadi seorang pendekar pedang yang bagus dan luar biasa, maka syarat pertama adalah harus dingin, keji dan tidak berperasaan.

Terutama sesaat sebelum menjelang berlangsungnya pertarungan, ia lebih-lebih tak boleh terpengaruh oleh suasana ataupun keadaan macam apapun yang sedang terjadi di hadapannya.

.......Sekalipun binimu sedang tidur dengan laki-laki lain di hadapanmu, kaupun musti berpura-pura tidak melihatnya.

Ucapan itu sangat populer sekali di antara para pendekar pedang pada jaman tersebut, sekalipun tak ada yang tahu siapa yang memulai dengan kata-kata semacam itu, tapi semua orang mengakui bahwa perkataan itu memang betul dan masuk di akal, hanya mereka yang bisa berbuat demikian, dia pula yang bisa hidup jauh lebih panjang dari orang lain.

Agaknya Cia Siau-hong dapat berbuat demikian.

Hoa Sau-kun mengawasinya lekat-lekat, rasa kagum dan hormat terpancar keluar dari balik matanya.

Cia Siau-hong sedang mengawasi tongkat kayunya dengan termangu, tiba-tiba ia berkata: "Ehmm, suatu senjata yang bagus sekali!"

"Ya, memang senjata yang bagus!" "Silahkan!"

Hoa Sau-kun manggut-manggut, tongkat di tangannya telah dikebaskan ke luar, dalam waktu singkat ia telah melancarkan tiga buah serangan kilat.

Ke tiga serangan tersebut dilancarkan secara berantai dengan perubahan yang cepat tapi lincah, yang digunakan ternyata bukan jurus-jurus ilmu pedang.

Buyung Ciu-ti diam-diam menghela napas, ia dapat merasakan, asal Cia Siau-hong menggunakan sebuah jurus serangannya yang tangguh, niscaya tongkat kayu itu bakal kutung.

Siapa tahu kenyataannya jauh berbeda dengan apa yang diduganya semula, ternyata Cia Siau- bong tidak mempergunakan jurus serangan seperti apa yang diduganya semula, melainkan memukul tangan Hoa Sau-kun dengan punggung pedangnya.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Buyung Ciu-ti, hingga sekarang dia baru tahu kenapa Hoa Sau-kun mempergunakan tongkat kayu sebagai senjatanya.

Sebab ia tahu, tak nanti Cia Siau-hong akan memapas tongkat kayu itu dengan pedangnya, Sam- sauya dari keluarga Cia tak akan mencari keuntungan di atas senjata. Bila ia tidak bersedia untuk memapas tongkat kayu itu dengan pedangnya, berarti dalam melancarkan seranganpun ia akan merasakan rintangan-rintangan yang menyulitkan diri sendiri.

Oleh karena itulah pilihan Hoa Sau-kun untuk menggunakan tongkat kayu sebagai senjatanya merupakan suatu tindakan cerdik yang sama sekali di luar dugaan siapapun.

Tak tahan lagi Buyung Ciu-ti tersenyum, ia maju ke muka dan mencekal tangan Cia Hong-hong yang dingin, kemudian bisiknya lembut:

"Jangan kuatir, kali ini Hoa Sianseng tak bakal kalah!"

Bila ada dua orang jago lihay sedang bertempur, seringkali menang kalahnya hanya ditentukan di dalam satu jurus gebrakan belaka, cuma jurus yang menentukan menang kalah itu tidak selalu harus jurus pertama, mungkin pada jurus yang ke sekian puluh, mungkin juga pada jurus yang ke sekian ratus.

Sekarang pertarungan telah berlangsung lima puluh gebrakan, Hoa Sau-kun telah melancarkan tiga puluh tujuh jurus ,sebaliknya Cia Siau-hong hanya membalas tiga belas jurus.

Sebab mata pedangnya setiap waktu setiap saat selalu harus berusaha untuk menghindari tongkat kayu dari Hoa Sau-kun.

.......Apa yang menjadi tujuan serta cita-cita dari seorang pendekar pedang adalah mencari kemenangan, seringkali mereka tidak memperdulikan cara licik apapun yang musti dilakukan, yang penting tujuan tersebut berhasil diraih.

Cia Siau-hong tidak melakukan hal tersebut, karena ia terlalu angkuh, terlalu tinggi hati. 'Barangsiapa tinggi hati, dia pasti kalah'

Terbayang akan ucapan tersebut, Buyung Ciu-ti merasa hatinya makin gembira.

Pada saat itulah mendadak berkumandang memecahkan keheningan. "Plaaakk!", tongkat kayu itu menghantam di atas punggung pedang dan menggetarkan pedang Cia Siau-hong sehingga bergetar keras dan mencelat ke atas udara.

Cia Siau-hong mundur beberapa langkah dari situ dan kemudian mengucapkan dua patah kata yang selama ini belum pernah diucapkan olehnya:

"Aku kalah!"

Selesai mengucapkan kedua patah kata itu dia putar badan dan tanpa berpaling turun dari tanah gundukan tersebut.

Hoa Sau-kun tidak menghalangi, diapun tidak menyusulnya, justru Cia ciangkwe yang menyusulnya.

Si Boneka ingin menyusul pula, tapi Buyung Ciu-ti segera menarik tangannya sambil berkata dengan lembut: "Mari ikut aku pulang, jangan lupa di tempatku sana masih ada seseorang yang menantikan kedatanganmu untuk merawatnya!"

Sementara itu pedang tersebut telah terjatuh ke tanah dan persis menancap di samping Cia Hong- hong dengan gagang pedang menghadap ke atas, asal dia menggerakkan tangannya, maka senjata tersebut segera akan tercabut olehnya, seakan-akan ada orang yang secara khusus mengirim kembali pedang itu kepadanya.

Cia Siau-hong telah pergi jauh, tapi Hoa Sau-kun masih berdiri di tempat tanpa berkutik barang sedikitpun jua.

Dalam pertarungan ini, ia telah mengalahkan Cia Siau-hong yang tiada tandingannya di kolong langit dan melampiaskan rasa dendam yang telah tertanam selama dua puluh tahun dalam dadanya, tapi tiada sinar kemenangan yang terpancar pada wajahnya, malah sebaliknya kelihatan begitu murung, sedih dan masgul.

Lewat lama sekali, pelan-pelan ia baru berjalan balik, langkah kakinya tampak sangat berat, seakan-akan sedang menghela seuntai rantai besi yang beratnya bukan kepalang.

Cia Hong-hong tidak bersorak gembira bagi kemenangan suaminya, diapun tidak mencabut pedang yang menancap di tanah, dengan mulut membungkam perempuan itu hanya maju ke depan dan menggenggam tangannya.

Ia dapat memahami perasaan suaminya, diapun mengerti kenapa suaminya kelihatan sedih dan masgul setelah berhasil meraih kemenangan dalam pertarungan itu.

"Kau sudah tidak menghendaki pedang itu lagi?", tiba-tiba Hoa Sau-kun bertanya. "Pedang itu milik keluarga Cia, sedang aku sudah bukan anggota keluarga Cia lagi!"

Hoa Sau-kun memandang ke arahnya, pancaran sinar lembut dan terima kasih mencorong ke luar dari balik matanya. Lewat lama sekali, tiba-tiba ia berpaling ke arah Buyung Ciu-ti dan menjura dalam-dalam, katanya:

"Aku ingin memohon bantuan tentang sesuatu dari hujin!" "Katakan saja!", ucap Buyung Ciu-ti.

"Bersediakah hujin buatkan sebuah tugu batu di sisi pedang tersebut?" "Tugu? Tugu macam apa yang kau maksudkan?"

"Cantumkan di atas tugu tersebut yang mengatakan bahwa pedang itu pedang Sam sauya, barang siapa berani mencabutnya untuk dipergunakan, maka Hoa Sau-kun pasti akan memburunya kembali, bukan saja pedang itu akan ku buru kembali, bahkan akan ku buru pula batok kepalanya sekalipun ia kabur ke ujung langit, aku tetap akan mengejarnya sampai dapat!"

Kenapa ia melakukan hal itu bagi musuh besarnya? Tidakkah hal ini suatu peristiwa yang aneh? Buyung Ciu-ti tidak bertanya, pun tidak merasa keheranan, segera sahutnya:

"Aku segera akan suruh orang buatkan tugu di sini, tak sampai setengah hari tentu sudah siap, cuma saja. " "Kenapa?"

"Seandainya ada bocah nakal atau orang dusun yang kebetulan lewat di sini, lalu mencabut pedang tersebut dan membawanya kabur, bagaimana jadinya? Mereka toh tidak kenal dengan Sam sauya, tidak pula dengan Hoa sianseng, bahkan membaca tulisanpun belum tentu bisa, lantas apa yang musti dilakukan?"

Ia tahu bahwa Hoa Sau-kun belum sampai berpikir ke situ, maka diapun mengemukakan idenya:

"Biar kubangunkan sebuah gardu pedang di situ, lalu menyuruh orang menjaganya siang malam secara bergilir, entah bagaimana pendapat Hoa sianseng? Cocok dengan seleramu tidak!"

Cara tersebut memang terhitung cara yang paling bagus dan sempurna, kecuali rasa terima kasih dan terharu, apalagi yang bisa dikatakan Hoa Sau-kun?

Kembali Buyung Ciu-ti menghela napas sedih, katanya:

"Kadangkala aku betul-betul merasa tak habis mengerti, perduli apapun yang ia lakukan terhadap orang lain, orang lain selalu bersikap sangat baik kepadanya"

Hoa Sau-kun termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya:

"Ya, mungkin hal ini disebabkan karena dialah Cia Siau-hong!"

Di belakang bukit sana merupakan sebuah hutan pohon Hong dengan daunnya yang berwarna merah membara seperti api.

Baru saja Cia Siau-hong mencari sebuah batu untuk duduk, Cia ciangkwe telah menyusul ke sana, tiada peluh yang membasahi tubuhnya, napaspun tidak tersengal-sengal.

Setelah menjadi ciangkwe siapapun selama puluhan tahun dalam rumah makan, siapapun pasti akan berubah menjadi pandai bersandiwara, cuma siapa saja tentu akan tiba saatnya untuk lupa bersandiwara.

Hingga kini, Cia Siau-hong baru merasakan bahwa dirinya belum pernah sungguh-sungguh memahami orang tersebut.

Tak tahan ia bertanya kepada diri sendiri:

". Aku pernah sungguh-sungguh memahami siapa, Buyung Ciu-ti? Ataukah Hoa Sau-kun?"

Cia ciangkwe menghela napas panjang, katanya:

"Sejak kecil sampai kau menjadi dewasa, aku selalu mendampingimu, tapi hingga sekarang aku baru menemukan bahwa sesungguhnya aku sendiripun tak tahu manusia macam apakah dirimu itu, setiap perbuatan yang kau lakukan seakan-akan tak pernah kufahami!"

Cia Siau-hong tidak memberitahukan kepadanya apa yang hendak ia ucapkan dalam hatinya, hanya dengan suara hambar dia bertanya:

"Persoalan apakah yang tidak kau fahami?" Cia ciangkwe menatapnya lekat-lekat kemudian balik bertanya:

"Kau benar-benar kalah?"

"Kalah ya kalah, benar-benar atau tidak toh sama saja!"

"Bibi ya bibi, perduli ia telah kawin dengan siapapun tetap sama saja!", sambung Cia ciangkwe. "Kalau kau sudah mengerti, itu lebih baik lagi!"

Cia ciangkwe menghela napas panjang lalu tertawa getir.

"Mengertipun tidak lebih baik, jadi orang memang lebih baik rada bodoh dan dungu!"

Tampaknya Cia Siau-hong enggan untuk melanjutkan pembicaraannya tentang persoalan itu, dengan cepat ia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, tanyanya:

"Sebenarnya bagaimana ceritanya sehingga kau bisa sampai di sini?"

"Aku mendengar orang bilang kau berada di sini, maka tanpa berhenti ku larikan kuda menyusul kemari, sebelum kau berhasil kutemukan, nona Buyung telah menemukan diriku lebih dulu!"

"Kemudian?"

"Kemudian ia membawaku menuju ke rumah penginapan kecil di bawah tebing sana. Ketika ia pergi menjumpai dirimu, kami disuruh menunggu di luar, tentu saja kami tak berani sembarangan menerjang masuk ke dalam sana!"

"Bukankah kalian tak berani masuk karena kuatir mengganggu perbuatan baik kami?", tegur Cia Siau-hong dingin.

Cia ciangkwe segera tertawa getir.

"Terlepas dari semua persoalan, bagaimanapun jua hubungan kalian toh jauh lebih istimewa daripada orang lain"

Cia Siau-hong tertawa dingin tiada hentinya, tiba-tiba ia bangkit berdiri, lalu serunya: "Sekarang kau telah bertemu denganku, sudah boleh pulang kau dari sini!"

"Kau tidak pulang?"

"Sekalipun aku hendak pulang, rasanya tak perlu kau membawakan jalan bagiku, aku masih cukup tahu jalan mana yang musti di tempuh untuk kembali ke rumah sendiri"

Cia ciangkwe menatapnya tajam-tajam, kemudian bertanya:

"Kenapa kau tidak pulang? Sesungguhnya kesulitan apakah yang terkandung di dalam hatimu sehingga enggan memberitahukannya kepada orang lain. ?"

Cia Siau-hong tidak menjawab, ia telah bersiap-sedia untuk pergi meninggalkan tempat itu.

"Kau hendak pergi ke mana?", Cia ciangkwe segera bertanya, "apakah masih seperti waktu-waktu yang lalu, pergi bergelandangan dan menyiksa diri sendiri?" Pada hakekatnya Cia Siau-hong sama sekali tidak memperdulikan kata-katanya lagi. Mendadak Cia ciangkwe melompat bangun, lalu serunya dengan suara lantang:

"Aku sama sekali tak ingin mengurusi persoalanmu, tapi ada satu hal yang bagaimanapun jua musti kau urusi"

Akhirnya Cia Siau-hong memandang juga sekejap ke arahnya, kemudian bertanya: "Urusan apakah itu?"

"Bagaimanapun juga kau tidak seharusnya membiarkan anakmu mengawini seorang pelacur!" "Pelacur?", bisik Cia Siau-hong sambil menyipitkan matanya.

"Aku tahu dua bersaudara dari suku Biau itu adalah sahabatmu, akupun tahu bahwa mereka berdua adalah orang baik, akan tetapi. "

"Darimana kau bisa tahu tentang kesemuanya itu?", tukas Ciau Siau-hong cepat.

Sebelum Cia ciangkwe sempat buka suara, dari luar hutan kedengaran seseorang menimpali: "Akulah yang memberitahukan kesemuanya itu kepadanya!"

Orang itu berada di luar hutan, suaranya masih amat jauh.

Secepat anak panah yang terlepas dari busurnya, Cia Siau-hong menyusup ke luar dari hutan dan mencekal tangan orang itu.

Tangan itu dingin sekali seperti seekor ular berbisa. Bukankah Tiok Yap Cing adalah sejenis

ular paling beracun di antara pelbagai jenis ular beracun yang ada?

"Kau belum mampus ?", tegur Cia Siau-hong sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Tiok Yap-cing tersenyum.

"Hanya bukan orang baik yang berumur panjang. Aku bukan orang baik-baik!" "Kau ingin mampus?"

"Tidak ingin!"

"Kalau begitu lebih baik kau cepat angkat kaki dan menyingkir jauh-jauh dari sini, selama hidup jangan sampai berjumpa lagi denganku. "

"Sebetulnya aku memang hendak pergi, cuma ada sebuah hadiah yang musti kusampaikan terlebih dulu sebelum pergi meninggalkan tempat ini!"

"Hadiah apa?", sekali lagi kelopak mata Cia Siau-hong menyipit menjadi kecil sekali.

"Tentu saja hadiah perkawinan untuk nona suku Biau itu dengan Siau Te, apalagi perkawinan ini diselenggarakan oleh Buyung Ciau-ti hujin dengan Yu-liong-kiam-kek suami isteri sebagai saksi, bagaimanapun juga hadiah ini harus dihantar sampai ke tempat tujuannya"

Sesudah tersenyum, kembali ia bertanya: "Apakah Sam-sauya pun berminat untuk mengirim hadiah kepadanya?" Sepasang tangan Cia Siau-hong telah berubah menjadi dingin bagaikan es......

"Hujin menaruh belas kasihan atas nasib dan penderitaan yang dialami nona Biau-cu selama ini", kata Tiok Yap-cing kembali, "dia pun tahu bahwa Sam sauya amat menaruh belas kasihan kepada orang lain, maka akhirnya diputuskan untuk mengawinkannya kepada Siau Te"

Mendadak sepasang tangan Cia Siau-hong mengepal kencang.

Peluh dingin segera bercucuran membasahi wajah Tiok Yap-cing, buru-buru ujarnya kembali: "Tapi aku tahu bahwa Sam sauya pasti tak akan setuju dengan perkawinan tersebut!" Dengan merendahkan suaranya ia berkata lebih jauh:

"Cuma sejak kecil Siau Te pun mempunyai tabiat yang keras kepala, bila ada orang yang melarangnya mengerjakan sesuatu, mungkin ia malah sengaja melakukannya, oleh karena itu jika Sam sauya ingin menyelesaikan persoalan ini, cara yang terbaik adalah melenyapkan sang pembawa perkara!"

Ada semacam manusia tampaknya sejak dilahirkan telah berbakat untuk menyelesaikan persoalan rumit dari orang lain, tak bisa disangsikan lagi Tiok Yap-cing adalah manusia semacam ini.

Tanpa kobaran api, tak mungkin makanan apapun yang di masak dalam kukusan dapat matang, tanpa pengantin perempuan, tentu saja pesta perkawinan tak mungkin bisa diselenggarakan.

Sepasang tangannya yang mengepal kini telah mengendor, Cia Siau-hong kembali bertanya: "Sekarang mereka berada di mana?"

Tiok Yap-cing menghembuskan napas panjang, sahutnya:

"Betul semua orang di kota ini tahu bahwa di sini ada seorang manusia yang bernama Toa-tauke, tapi tidak banyak yang pernah berjumpa dengannya, lebih-lebih lagi yang mengetahui tempat tinggalnya"

"Kau tahu?", Cia Siau-hong bertanya.

Sekali lagi Tiok Yap-cing memperlihatkan senyumannya. "Untung saja aku tahu!"

"Mereka berada di situ?"

"Ciu Ji sianseng, Tam Ci-hui serta Yu-liong-kiam-khek suami isteri juga berada di situ, mereka semua amat setuju dengan perkawinan tersebut dan tak mungkin akan biarkan orang lain membawa kabur pengantin perempuannya!"

Setelah tersenyum ujarnya kembali: "Untung saja mereka sudah lelah sekali, malam ini mereka pasti akan tertidur lebih awal, setelah malam tiba, asal ada aku yang membawa jalan, maka Sam sauya hendak pergi dengan membawa siapapun akan bisa kau lakukan dengan leluasa"

Cia Siau-hong menatapnya tajam-tajam, lalu berkata dingin:

"Kenapa kau musti menaruh perhatian yang begitu besar terhadap persoalan ini?" Tiok Yap-cing menghela napas panjang.

"Aaaai. nona Biau-cu pasti menaruh kesan yang kurang baik kepadaku, sedangkan Siau Te

justru adalah putra tunggal hujin, bila perkawinan ini jadi dilangsungkan, maka di kemudian hari aku kuatir tak akan ada kehidupan yang baik lagi bagiku!"

Setelah memandang sekejap mulut luka Cia Siau-hong, ia berkata lebih lanjut:

"Tapi penghidupanku sekarang masih terhitung lumayan, dalam setiap pelosok kota ini masih terdapat tabib pintar, masih ada arak bagus, dan aku mengetahui semuanya. "

Malam telah kelam.

Pelan-pelan Hoa Sau-kun merangkak bangun dari pembaringannya, mengenakan pakaian kemudian pelan-pelan membuka pintu dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Cia Hong-hong sama sekali tidak tertidur, iapun tidak memanggilnya dan bertanya hendak ke mana ia pergi?

Ia cukup memahami perasaan suaminya, ia tahu dalam keadaan seperti ini ia pasti ingin berjalan- jalan seorang diri di tempat luaran.

Selama banyak tahun belakangan ini meski mereka amat jarang tidur bersama seperti hari ini, tapi setiap kali ia selalu dapat membuat istrinya merasa puas dan bahagia, terutama sekali pada hari ini, kelembutan dan kepuasan yang diberikan kepadanya, hakekatnya seperti pengantin baru saja........

Ia memang seorang suami yang baik, ia telah berusaha dengan keras untuk menunaikan semua kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami, bagi seorang kakek yang telah berusia enam puluh tahun lebih, hal itu sudah terhitung tidak gampang.

Memandang bayangan punggungnya yang tinggi besar dan kekar itu berjalan ke luar dari ruangan, luapan terima kasih dan sayang menyelimuti perasaan perempuan itu. Ia berharap dirinyapun telah melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang isteri dengan sebaik-baiknya, agar ia dapat hidup beberapa tahun lagi, dan melewatkan beberapa tahun penghidupan yang tenang dan penuh kegembiraan, melupakan perhatian dunia persilatan, melupakan Cia Siau-hong dan melupakan pertarungan di atas bukit tersebut.

Ia berharap di kala ia kembali nanti, semuanya telah terlupakan olehnya, ia sendiripun enggan untuk berpikir terlalu banyak.

Kemudian dalam kelelapan tersebut, iapun tertidur, tertidur lama sekali, tapi Hoa Sau-kun belum juga kembali. Kebun bunga yang besar dan lebar berada dalam keheningan dan kegelapan luar biasa.

Seorang diri Hoa Sau-kun duduk dalam gardu persegi enam di luar jembatan Kui-ci-kiau, ia duduk lama sekali di sana.

Setelah melampaui suatu hubungan yang mesra dan penuh keriangan dengan istrinya, ia masih belum juga dapat tertidur.

Ia tak dapat melupakan pertarungan di atas bukit tersebut, perasaannya penuh diliputi penderitaan, penyesalan dan rasa sedih.

Malam semakin kelam, ketika ia hendak kembali ke kamarnya untuk tidur, tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dari belakang bukit-bukitan sana, di atas bahunya seakan-akan membopong sesosok tubuh manusia.

Ketika ia menyusul ke situ, ternyata bayangan itu sudah lenyap tak berbekas.

Tapi dari gunung-gunungan sana, ia seakan-akan menangkap suara dari Tiok Yap-cing sedang berkata:

"Sekarang apakah kau telah percaya bahwa orang yang dibawa pergi olehnya itu adalah si Boneka?"

Suara Tiok Yap-cing masih penuh dengan nada pancingan, kembali katanya:

"Pada malam ibumu tukar cincin, ia telah membawa kabur ibumu dari sisi tunangannya, dan sekarang ia membawa kabur binimu, bahkan aku sendiripun tidak habis mengerti, kenapa ia senang melakukan perbuatan semacam itu?"

"Tutup mulut!", tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda membentak dengan penuh kegusaran. Tentu saja pemuda tersebut adalah Siau Te.

Tiok Yap-cing tidak berusaha untuk tutup mulut, kembali ujarnya:

"Aku pikir saat ini mereka pasti telah kembali ke rumah si Boneka yang dulu, meskipun tempatnya kuno dan bobrok, tapi tenang dan bersih, mereka menyangka tak akan ada orang yang bisa menemukan mereka di situ, lebih baik kaupun ikut ke sana, sebab. "

Belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya, sesosok bayangan tubuh telah meluncur ke luar dari balik gunung-gunungan secepat sambaran kilat.

Untung saja ketika itu Hoa Sau-kun telah melompat naik ke atas gunung-gunungan dan mendekam di atas puncaknya.

Ia kenali orang itu sebagai Siau Te, dan diapun kenali orang yang berjalan di belakangnya bukan lain adalah Tiok Yap-cing.

Tapi untuk sementara waktu ia masih belum menampakkan diri, karena ia telah bertekad untuk membongkar intrik keji ini hingga sama sekali terbuka.

Ia bertekad melakukan suatu perbuatan baik bagi Cia Siau-hong. Sambil bergendong tangan Tiok Yap-cing berjalan cepat pelan-pelan menelusuri jalanan kecil dan dengan cepat menemukan ruangan tempat tidurnya yang bermandikan cahaya.

Ia tinggal dalam ruangan terpencil yang tak jauh letaknya dari gunung-gunungan itu, di luar bangunan tumbuh beratus-ratus batang bambu serta beberapa kuntum bunga seruni.

Bila kamar itu berlampu, berarti Ki Ling masih menantikan kedatangannya, hari itu setiap persoalan yang dilakukan seakan-akan semuanya berjalan lancar, ia berhak untuk menikmati malam itu dengan penuh kegembiraan dan keasyikan, bahkan mungkin diiringi dengan sedikit arak.

Pintu itu tak terkunci, orang yang tinggal di situpun tak perlu mengunci pintu, sebab dikuncipun tak ada gunanya.

Ia telah membayangkan bagaikan Ki Ling dengan tubuhnya yang bugil sedang berbaring di atas pembaringan menantikan kedatangannya, tapi tidak mengira kalau masih ada seseorang yang lain berada di situ.

Ternyata Ciu Ji sianseng pun sedang menantikan kedatangannya.

Di depan lampu ada arak, arak tersebut sudah habis di minum, agaknya tak sedikit yang diminum Ciu Ji sianseng, berarti pula sudah lama ia menanti di situ......

Duduk di sampingnya sambil menuang arak adalah Ki Ling.

Ia sama sekali tidak telanjang bulat, ia mengenakan pakaian, bahkan mengenakan dua stel.

Tapi, meskipun mengenakan dua stel pakaian, sekalipun digabungkan juga tak lebih tipis daripada selapis kabut.

"Ooooh. tak kusangka kalau Ciu Ji sianseng pun pandai menikmati suasana", tegur Tiok Yap-

cing sambil tertawa.

Ciu Ji sianseng meletakkan cawan araknya, kemudian berkata:

"Sayang sekali arak ini arakmu, perempuan itupun perempuanmu, sekarang kau telah kembali, maka setiap waktu setiap saat kau boleh menerimanya kembali"

"Oooh, tak perlu!" "Tak perlu?"

Tiok Yap-cing tertawa, ujarnya:

"Sekarang arak itu arakmu dan perempuan itu perempuanmu, tak ada salahnya kalau kau memakainya dan menikmatinya pelan-pelan!"

"Dan kau sendiri. ?"

"Aku akan menyingkir"

Ternyata ia benar-benar hendak menyingkir dari situ. Ciu Ji sianseng memandang ke arahnya, rasa kaget, tercengang dan curiga menyelimuti sorot matanya, menanti ia saksikan orang sudah akan keluar dari pintu, tiba-tiba serunya dengan keras:

"Tunggu sebentar!"

Tiok Yap-cing segera berhenti sambil bertanya:

"Masih ada perkataan apa lagi yang hendak kau katakan?" "Aku hanya ingin berkata sepatah kata saja!"

Tiok Yap-cing memutar badannya menghadap ke arahnya dan menantikan jawabannya. Ciu-ji sianseng menghela napas panjang, katanya:

"Ada sementara persoalan sebetulnya tidak pantas untuk kutanyakan kepadamu, tapi aku amat ingin tahu sebenarnya manusia macam apakah kau ini? Dan sesungguhnya jalan pikiran apakah yang mendekam dalam ingatanmu itu. ?"

Tiok Yap-cing kembali tertawa, katanya:

"Aku tidak lebih hanya seorang manusia yang gemar bersahabat, terutama sekali bersahabat dengan seorang teman seperti kau!"

Ciu Ji sianseng pun ikut tertawa.

Wajahnya masih tertawa, tapi kelopak matanya telah menyurut kecil, kembali ia bertanya: "Masih ada berapa orang sahabatmu lagi yang telah kau jual?"

"Hei, apa yang sedang kau katakan?", seru Tiok Yap-cing hambar, "sepatah katapun tidak kufahami?"

"Semestinya kau mengerti, karena hampir saja kau menghianati diriku satu kali!"

Ia tidak memberi kesempatan bagi Tiok Yap-cing untuk buka suara, kembali katanya:

"Hek-sat sebetulnya temanmu pula, tapi kau telah mempergunakan Mao It-leng untuk membunuh mereka. Tam Ci-hui, Liu Kok-tiok, Hok-kui-sin-sian-jiu serta hweesio tua itu bila datang membantu tepat pada saat yang telah direncanakan, Mao It-leng pun tidak akan sampai mati, tapi kau sengaja melepaskan tanda terlalu lambat, karena kau masih ingin meminjam tangan Cia Siau- hong untuk membunuh Mao It-leng"

Tiok Yap-cing tidak membantah, pun tidak mendebat, ia malah menarik sebuah bangku dan duduk dengan santai sambil mendengarkan pembicaraan tersebut.

Ciu Ji sianseng berkata lebih jauh:

"Siau Te sebenarnya juga sahabatmu, tapi kau telah menjualnya kepada Cia Siau-hong, sekalipun Cia Siau-hong tidak tega membunuhnya, tapi mungkin ia akan menumbukkan kepalanya sendiri ke atas dinding, apalagi melihat perempuannya sendiri dibawa kabur orang. Hmm. , kecuali kau

yang sanggup menahan diri dalam keadaan semacam ini, tak ada orang lain yang bisa berpeluk tangan belaka semacam kau!"

Tangannya telah meraba gagang pedang di meja, katanya lebih lanjut: "Oleh karena itu sengaja aku hendak bertanya kepadamu, sampai kapan kau baru akan menghianatiku? Dan kepada siapa akan hendak kau jual?"

Tiok Yap-cing kembali tertawa, sambil berdiri dan menoleh ke jendela, ujarnya:

"Di luar udara dingin mencekam, Hoa sianseng, kalau toh sudah kemari, kenapa tidak masuk untuk minum dulu beberapa cawan arak?"

ooooOOOOoooo