Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 16. Senjata Dalam Buntalan

Bab 16. Senjata Dalam Buntalan 

Cia Siau-hong tidak berlutut.

Sambil tertawa dingin Cia Hong-hong berseru kembali:

"Bukti dan saksi semua telah hadir di depan mata, apakah kau masih belum mengaku salah? Apakah kau hendak melanggar undang-undang rumah tangga?"

Perempuan itu tahu belum pernah ada orang yang berani menentang undang-undang rumah tangga. Barang siapa menentang peraturan rumah tangga maka ia akan dicemooh dan dihina oleh setiap umat persilatan yang ada dalam dunia.

Kini di dalam genggamannya bukan cuma ada sebilah pedang melainkan masih ada seutas tali pula, seutas tali yang dibuat dari pelbagai peraturan umat persilatan yang sudah turun temurun selama ratusan tahun lamanya dan tali itu jelas telah membelenggu Cia Siau-hong kencang- kencang.

Siapa tahu Cia Siau-hong justru tak mau tunduk.

Paras muka Cia Hong-hong berubah hebat. Sesungguhnya dia adalah seorang perempuan yang beruntung, bukan saja memiliki keluarga yang baik, diapun mempunyai suami yang baik, tidak banyak jago persilatan yang berani pandang enteng dirinya.

Oleh sebab itulah dia angkuh, sombong dan selalu berwatak nyonya besar, selamanya tak pernah ia pandang sebelah mata kepada orang lain.

Apa yang dipikirkan segera akan dia laksanakan, pedangnya segera digetarkan dan siap melancarkan serangan.

Akan tetapi tak pernah ia sangka, Cia ciangkwe yang selalu terengah-engah dan gerak-geriknya selalu lamban itu mendadak menjadi cepat sekali, tahu-tahu ia sudah berada di hadapannya sambil tertawa paksa.

"Hoa hujin, harap jangan gusar dulu!", katanya.

"Apa yang hendak kau lakukan?", hardik Cia Hong-hong.

"Aku rasa mungkin juga Sam sauya mempunyai kesulitan yang tak dapat diterangkan kepada orang lain, sekalipun Hoa-hujin hendak menghukumnya dengan mempergunakan peraturan rumah tangga, paling tidak kau harus membicarakan dahulu persoalan ini dengan lo-tayya!"

Cia Hong-hong segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeehhhh....... heeeeehhhh...... heeeeehhhhh. kau selalu membahasakan aku sebagai Hoa-

hujin, apakah kau sedang memperingatkanku bahwa aku sudah bukan anggota keluarga Cia lagi?"

Tentu saja memang begitulah maksud dari Cia ciangkwe, cuma ia tak berani mengakuinya secara berterus terang, kepalanya segera digelengkan berulang kali.

"Hamba tidak berani! Hamba tidak berani!"

"Hmmm. ! Sekalipun aku sudah bukan anggota keluarga Cia lagi, pedang ini masih merupakan

pedang dari keluarga Cia"

Pedangnya segera digetarkan dan bentaknya keras-keras: "Pedang inilah peraturan rumah tangga!"

"Ucapan dari Hoa-hujin memang ada betulnya juga, hanya ada satu hal yang tidak siaujin pahami" "Dalam hal mana?"

Cia ciangkwe masih saja tersenyum di kulum, katanya:

"Aku tidak habis mengerti kenapa peraturan rumah tangga dari keluarga Cia dapat sampai terjatuh ke tangan keluarga Hoa?"

Paras muka Cia Hong-hong kembali berubah hebat, lalu dengan gusar teriaknya:

"Sungguh besar amat nyalimu, berani bersikap begitu kurang ajar kepada nyonya besarmu?" "Hamba tidak berani!"

Ketika ke tiga patah kata itu meluncur keluar dari mulutnya, tiba-tiba tangan kirinya mencengkeram tangan Cia Hong-hong, lalu tangan kanannya menumbuk dan menyambar, tahu-tahu pedang yang berada di tangan Cia Hong-hong itu sudah berpindah tangan dan ia segera mundur sejauh tiga kaki dari posisi semula.

Jurus serangan itu dipergunakan dengan amat sederhana, bersih, cepat dan tepat, perubahan gerakan yang terkandung di dalamnya amat sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Ketika Cia Siau-hong merampas pedang milik Liu Kok-tiok tempo hari, jurus serangan inilah yang telah dipergunakan.

Sekujur badan Cia Hong-hong telah menjadi kaku, saking gusarnya air muka nyonya itu berubah menjadi hijau membesi, teriaknya:

"Dari mana kau pelajari jurus serangan itu?" Sambil tertawa lirih sahut Cia ciangkwe:

"Kalau Hoa-hujin masih kenal dengan jurus serangan ini, hal tersebut lebih baik lagi!" Pelan-pelan ia melanjutkan:

"Jurus serangan itu diwariskan langsung dari Loya-cu kepadaku, dia orang tua berulang kali memesan kepadaku agar setelah mempelajari jurus ini, janganlah dipergunakan secara sembarangan, tapi bila melihat ada pedang keluarga Cia berada di tangan orang dari marga lain, maka kau harus pergunakan jurus ini untuk merampasnya kembali!"

Setelah tertawa ia menambahkan lebih jauh:

"Apa yang telah dipesan oleh Loya-cu sudah barang tentu tak berani ku ingkari!"

Saking jengkelnya Cia Hong-hong sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun, manik- manik dan mainan yang dikenakan di atas kepalanya bergoyang tiada hentinya hingga menimbulkan suara yang amat nyaring. Diapun tahu bahwa jurus serangan ini memang benar-benar merupakan jurus simpanan dari keluarga Cia, lagi pula selamanya hanya diwariskan kepada anak lelaki dan tidak diwariskan kepada menantu laki-laki, diwariskan kepada menantu perempuan dan tidak diwariskan kepada anak perempuan.

Pedangnya berhasil dirampas orang dalam sekejap mata, hal ini disebabkan dia sendiripun tidak memahami intisari dari rahasia jurus serangan tersebut.

Tiba-tiba Hoa Sau-kun menegur:

"Apa hubunganmu dengan keluarga Cia?"

Walaupun orang itu berperawakan tinggi besar dan tampaknya seram, tapi caranya berbicara ternyata lemah lembut dan lirih sekali.

Sesungguhnya ia tidak bertampang semacam ini, sejak kalah di ujung pedang Sam sauya, selama banyak tahun ini rupanya ia tekun berlatih diri terus menerus sehingga tenaga dalamnya benar- benar sudah mencapai kesempurnaan, itu pula sebabnya dia selalu dapat mengendalikan diri.

"Kalau dihitung-hitung, sebenarnya siau-jin tak lebih hanya seorang keponakan jauh dari lo-tayya", sahut Cia ciangkwe.

"Kau tahu pedang apakah itu?"

"Pedang ini adalah salah satu dari empat bilah pedang mestika yang ditinggalkan oleh nenek moyang keluarga Cia"

Cahaya pedang berkelebat lewat, hawa pedang segera memancar ke empat penjuru. "Pedang bagus!", Hoa Sau-kun segera berseru sambil menghela napas panjang. "Ya, ini memang sebilah pedang yang bagus sekali!"

"Apakah kau pantas atau berhak untuk mempergunakan pedang mestika ini ?"

"Tidak pantas!"

"Kenapa kau tidak menyerahkan saja pedang ini kepada Sam-sauya mu itu. ?"

"Ya, siaujin memng ada maksud untuk berbuat demikian!"

Ia memang berbicara sesungguhnya, semenjak tadi sudah timbul maksudnya untuk melakukan hal tersebut, cuma saja ia tidak mengerti apa maksud Hoa Sau-kun berkata demikian.

Tapi ia dapat melihat bahwa Cia Hong-hong telah memahami maksud suaminya.

Mereka adalah suami isteri yang telah menanggung derita bersama, sudah hampir dua puluh tahun lamanya mereka hidup bersama, sekarang suaminya hendak menyuruh orang untuk menyerahkan pedang yang seharusnya menjadi miliknya itu kepada orang lain, tapi ia sama sekali tidak menampilkan rasa gusar atau mendongkol sebaliknya justru terpancar sinar kuatir dan kelembutan yang hangat.

Karena hanya dia seorang yang mengerti maksudnya, dan diapun tahu bahwa istrinya mengerti. ooooOOOOoooo