-->

Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 15. Benang Cinta Yang Tak Mudah Putus

Bab 15. Benang Cinta Yang Tak Mudah Putus

"Yaaa, kau memang tak perlu berterima kasih. ", Cia Siau-hong berbisik.

"Oleh karena itulah bila aku hendak pergi meninggalkan tempat ini, kaupun tak usah menahan diriku lagi!"

"Kapan kau akan pergi?" "Sekarang!"

Tapi Siau Te tak dapat pergi, karena ia masih belum memiliki tenaga untuk berdiri.

Pelan-pelan Cia Siau-hong bangkit berdiri dan berjalan ke ujung pembaringan, sambil mengawasi tajam-tajam mendadak ia bertanya:

"Dulu, pernahkah kau berjumpa denganku?"

"Walaupun orang yang belum pernah berjumpa denganmu, pasti pernah menyaksikan lukisanmu yang dibuat khusus oleh orang lain!"

Cia Siau-hong sama sekali tidak bertanya siapa yang telah melukis wajahnya. Ia sudah tahu siapakah orang ini.

"Aku hanya pernah memberitahukan kepada seseorang!" "Siapa?"

"Thian-cun!"

"Ooooh. karena itu diapun menyusun rencana tersebut untuk membinasakan diriku?", kata Siau-

hong.

"Iapun tahu, bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk membinasakan dirimu!"

"Kalau begitu, Tam Ci-hui, Liu Kok-tiok, Hok-kui-sin-sian-jiu serta hweesio tua adalah orang- orangnya Thian-cun?"

"Ciu Ji sianseng juga orang mereka!", Siau Te menambahkan.

Lama sekali Cia Siau-hong termenung, ia seperti lagi memikirkan suatu persoalan penting, kemudian pelan-pelan baru bertanya:

"Apakah Thian-cun adalah ibumu?"

Sesungguhnya pertanyaan ini sudah lama sekali ingin diajukan, hanya selama ini ia tak berani untuk menanyakannya.

Jawaban dari Siau Te ternyata cepat sekali.

"Benar, Thian-cun adalah ibuku. Sekarang akupun tak perlu merahasiakan lagi di hadapanmu!"

"Seharusnya kau tak perlu merahasiakan persoalan itu di hadapanku, karena di antara kita berdua tidak seharusnya mempunyai rahasia lagi!", kata Cia Siau-hong dengan sedih.

"Kenapa?", Siau Te menatapnya lekat-lekat. Kesedihan dan penderitaan kembali memancar ke luar dari balik mata Cia Siau-hong, gumamnya: "Kenapa? Kenapa? Masakah kau benar-benar tidak tahu kenapa?"

Siau Te kembali menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu aku ingin bertanya kepadamu, kalau toh ibumu hendak membunuhku, kenapa kau malah menyelamatkan diriku?"

Siau Te masih juga gelengkan kepalanya, rasa sedih dan bingung menyelimuti juga wajahnya, tiba-tiba ia melompat bangun dari pembaringan, mengerudungi kepala Cia Siau-hong dengan kain selimutnya dan sekali tendang pintu depan ia telah menerjang ke luar dari sana.

Seandainya Cia Siau-hong ada niat untuk melakukan pengejaran, sekalipun mempergunakan seribu atau selaksa lembar selimut untuk mengerudungi kepalanya juga tak akan mampu untuk menghalangi niatnya.

Tapi ia tidak melakukan pengejaran, sebab ketika melepaskan selimut dari kepalanya, ia telah menyaksikan Buyung Ciu-ti.

Di bawah sinar bintang yang dingin dan terang, di tengah malam yang cerah dan bersih dan di dalam halaman kecil yang sepi dan tenang, tumbuhlah sebatang pohon Pek yang telah layu.

Di bawah pohon itulah tampak seseorang berdiri seorang diri di sana, pakaiannya berwarna polos dan sederhana.

Tak ada yang tahu dari mana ia datang, tak ada pula yang tahu sejak kapankah ia datang.

Di kala ia (perempuan) hendak datang, diapun datang, di kala dia hendak pergi, siapapun tak dapat menghalangi.

Ada orang mengatakan bahwa ia adalah bidadari dari khayangan, ada pula yang mengatakan bahwa dia adalah peri cantik dari bumi, tapi terlepas apapun yang dikatakan orang banyak, selamanya ia tak pernah ambil perduli.

Sudah ada lima belas tahun lamanya.

Dalam lima belas tahun yang panjang, empat ribu hari yang tak panjang tak pendek, panas ya dingin, manis dan getir, masih ada berapa banyak orangkah yang tetap hidup? Ada berapa pula yang telah mati? Ada berapa orang tetap biasa saja? Ada berapa pula yang telah berubah? Akan tetapi ia tidak berubah.

Lima belas tahun berselang, ketika untuk pertama kali berjumpa dengannya, ia sudah berada dalam keadaan seperti sekarang ini. Tapi berapa banyak perubahan yang telah ia (lelaki) alami?

Pepohonan di tengah halaman bergoyang terhembus angin, lampu lentera dalam ruanganpun bergoyang-goyang dimainkan angin.

Ia tidak masuk ke dalam ruangan, dan iapun tidak keluar dari ruangan, mereka hanya saling berpandangan dengan tenang. Hubungan di antara mereka berdua selalu memang demikian, sukar untuk di raba oleh siapapun.

Tak ada yang bisa memahami perasaan cinta kasihnya kepadanya, dan tak ada pula yang tahu apa yang sedang ia pikirkan.

Perduli apapun yang sedang ia pikirkan, paling tidak tiada tanda-tanda sedikitpun yang bisa kau temukan di atas wajahnya.

Sudah sejak lama ia belajar menyembunyikan perasaan di hadapan orang lain, terutama terhadap lelaki ini.

Ia menggerakkan tangannya dan membenahi rambutnya yang kusut terhembus angin, tiba-tiba ia tertawa, jarang sekali ia tertawa.

Senyuman itu seperti juga dengan orangnya, begitu cantik, anggun dan mengambang, seperti pula angin lembut di musim semi, siapakah yang dapat menangkapnya?

Suaranya seperti juga kelembutan angin di musim semi, katanya lirih: "Sudah berapa lama? Lima belas tahunkah? Atau sudah enam belas tahun?"

Ia tidak menjawab, karena dia tahu bahwa perempuan itu pasti mengingat lebih jelas daripadanya, mungkin saja iapun dapat mengingat-ingat setiap peristiwa yang terjadi setiap harinya dulu.

Senyuman perempuan itu makin lembut dan hangat.

"Agaknya kau masih belum berubah", katanya masih seperti dulu, tidak begitu suka berbicara.

Dengan dingin Cia Siau-hong menatap wajahnya lama, lama sekali, ia baru bertanya dengan ketus:

"Masih ada persoalan apa lagi yang hendak kita bicarakan?"

Tiba-tiba senyumannya lenyap, kepalanya ditundukkan rendah-rendah. Ya.......sudah tak ada lagi.......sudah tak ada lagi......

Benarkah sungguh-sungguh tak ada? Apapun tak ada lagi? Tidak, tidak mungkin!

Tiba-tiba perempuan itu mendongakkan kepalanya dan menatapnya tajam-tajam, katanya:

"Seandainya di antara kita berdua benar-benar sudah tiada persoalan lagi, kenapa aku musti datang mencarimu?"

Sesungguhnya kalimat semacam ini lebih pantas diajukan Cia Siau-hong kepadanya, tapi sekarang ia telah mengajukannya bagi diri sendiri.

Kemudian iapun memberi jawaban bagi dirinya sendiri: "Aku datang, karena aku hendak membawa pergi bocah itu, dahulu kalau toh kau sudah tidak mau dirinya lagi, kenapa musti kau ganggu dirinya sekarang, sehingga mendatangkan kepedihan dan penderitaan baginya?"

Kelopak matanya menyusut kencang, seakan-akan di tusuk oleh jarum yang tajam secara tiba- tiba.

Perempuan itupun menyusupkan kelopak matanya, ia berkata lebih jauh: "Aku datang karena aku hendak memberitahukan kepadamu bahwa kau harus mati!"

Suaranya berubah menjadi dingin seperti es, seakan-akan berubah menjadi seseorang yang lain secara mendadak.

"Begitu pula aku hendak membuat kau mati di tanganku kali ini", Cia Siau-hong mendengus dingin. "Hmmm! Jika Thian-cun ingin membunuh orang, kenapa musti turun tangan sendiri?"

"Untuk membunuh orang lain, selamanya aku tak pernah melakukannya sendiri, tapi terkecuali bagimu!", Buyung Ciu-ti menegaskan.

Segulung angin kembali berhembus lewat dan sekali lagi mengacaukan rambutnya yang panjang.

Angin itu belum lagi berhembus lewat, ia telah menubruk ke depan, menubruk seperti seorang gila, seakan-akan ia telah berubah lagi menjadi seperti orang yang lain.

Sekarang ia sudah bukan seorang gadis yang anggun, cantik dan lembut bagaikan hembusan angin di musim semi lagi.

Diapun tidak mirip Buyung hujin yang cerdik, keji dan berkekuasaan besar serta disegani tiap umat persilatan lagi.

Sekarang ia tak lebih hanya seorang perempuan biasa, perempuan yang terbelenggu oleh benang cinta, dan menjadi bingung karena tak sanggup mengendalikan diri.

Ia tidak menunggu sampai Cia Siau-hong turun tangan lebih dulu, diapun tidak menunggu sampai ia memperlihatkan titik kelemahannya yang mematikan itu lebih dahulu.

Bahkan tubrukannya kali ini dilakukan secara mengawur, kepandaian silat yang dimilikinya sama sekali tak digunakan.

Sebab ia amat mencintai laki-laki itu, tapi membenci pula laki-laki itu, cintanya setengah mati, tapi bencinya juga setengah mati.

Oleh karena itu dia hanya ingin beradu jiwa dengannya, sekalipun tak mampu, diapun akan tetap beradu dengannya.

Terhadap perempuan semacam ini, darimana mungkin Cia Siau-hong dapat mengembangkan ilmu pedangnya yang tiada tandingan di dunia itu?

Sudah beratus-ratus pertarungan yang dialami, sudah bermacam-macam jago lihay dunia persilatan yang pernah di hadapi, sudah berulang kali pula mengalami masa krisis yang mengancam jiwanya.

Tapi sekarang, pada hakekatnya dia tak tahu apa yang musti dilakukan untuk menghadapi kejadian ini. Lentera di atas meja ditendang hingga terbalik.

Buyung Ciu-ti seperti perempuan gila telah menyerbu ke dalam ruangan, kalau dilihat dari sikapnya sekarang, seakan-akan dia hendak menggigit setiap bagian tubuh Siau-hong dengan geram.

Jika Siau-hong mau, sekali pukulan yang dilontarkan pasti dapat merobohkan dirinya, karena seluruh tubuhnya sekarang sudah penuh dengan titik kelemahan.

Tapi ia tak dapat turun tangan, iapun tak tega untuk turun tangan. Bagaimanapun juga ia tetap seorang pria, bagaimanapun juga dia adalah perempuan yang pernah menjadi istrinya.

Maka dia hanya dapat mundur ke belakang.

Tidak banyak tempat dalam ruangan yang dapat dipakai untuk mengundurkan diri, sekarang ia terpojok dan tak sanggup menghindar lagi.

Pada saat itulah sekilas cahaya pedang tiba-tiba muncul dari tangan Buyung Ciu-ti, lalu bagaikan seekor ular beracun menusuk tubuhnya.

Tusukan itu bukan tusukan pedang seorang perempuan sinting, tusukan itu adalah tusukan dari pedang pembunuh.

Tusukan itu bukan saja amat cepat, ganasnya bukan kepalang, apalagi datangnya pada saat dan keadaan yang sama sekali tak terduga oleh lawannya, menusuk datang ke bagian tubuhnya yang tak pernah di duga.

Bukan saja tusukan itu menggunakan jurus pedang yang dahsyat, di sini juga terhimpun seluruh intisari dari jurus-jurus senjata yang paling ampuh di dunia ini.

Tusukan itu sesungguhnya merupakan sebuah tusukan yang pasti akan bersarang telak, tapi sayangnya tusukan tersebut sama sekali tidak mengenai sasaran.

Kecuali Cia Siau-hong, tak ada orang kedua di dunia ini yang sanggup menghindarkan diri dari tusukan semacam itu, karena tiada seorang manusiapun di dunia ini yang lebih memahami tentang Buyung Ciu-ti daripada dirinya.........

Ia dapat menghindarkan diri dari tusukan tersebut, bukan dikarenakan ia telah memperhitungkan dengan tepat saat dan arah tusukan tersebut, melainkan ia telah memperhitungkan dengan tepat manusia macam apakah Buyung Ciu-ti itu?

Sedemikian pahamnya dia tentang perempuan itu, mungkin jauh lebih banyak daripada ia memahami dirinya sendiri.

Ia tahu bahwa perempuan itu bukan seorang perempuan gila, diapun tahu bahwa ia tak akan mungkin tak bisa mengendalikan diri.

Ketika mata pedang menyambar lewat bawah ketiaknya, ia telah mencengkeram urat nadi di tangan perempuan itu, waktu dan arah serangannyapun tak kalah cepatnya.

Pedang pendek itu segera rontok, tubuhnya pun ikut menjadi lemas, sekujur badannya jatuh lemas di dalam pelukannya. Terasa lembut, halus dan hangatnya tubuh perempuan itu. Cuma sepasang tangannya terasa dingin dan kaku.

Malam yang panjang telah berakhir, fajarpun menyingsing dari ufuk timur, ketika sinar keemas- emasan itu memancar masuk lewat jendela, tepat menyorot di atas wajahnya.

Titik-titik air mata telah membasahi wajahnya, sepasang mata yang bening dan jeli sedang memandang ke arahnya dengan terkesima.

Tapi Cia Siau-hong tidak melihatnya. Tiba-tiba Buyung Ciu-ti berkata:

"Masih ingatkah kau sewaktu kita berjumpa untuk pertama kalinya dulu, waktu itu akupun hendak membunuhmu, tapi kau telah merampas pedangku serta memelukku dengan cara seperti ini"

Cia Siau-hong masih juga tidak mendengarnya, tapi ia tak pernah melupakan hari semacam itu.........

Waktu itu adalah musim semi.

Di atas bukit yang berlapiskan rumput hijau bagaikan permadani, di bawah sebatang pohon besar yang rindang, berdirilah seorang gadis tanggung yang berbaju sederhana.

Ketika perempuan itu berjumpa dengannya, iapun tertawa, senyumannya lebih lembut dan lebih indah dari hembusan angin di musim semi.

Maka diapun balas tersenyum kepadanya.

Menyaksikan senyum yang lebih manis dan lebih menawan itu, diapun menghampirinya, memetik sekuntum bunga dan memberikan kepadanya, tapi perempuan itu justru memberi sebuah tusukan kepadanya.

Ujung pedang ketika menyambar lewat dari sisi tenggorokannya, ia cengkeram tangan perempuan itu.

"Kau adalah Sam-sauya dari keluarga Cia?", dengan terkejut gadis itu memandang ke arahnya. "Darimana kau bisa tahu tentang aku?", dia balik bertanya.

"Sebab kecuali Sam-sauya dari keluarga Cia, tak seorang manusiapun yang sanggup merampas pedangku ini dalam satu gebrakan"

Ia tidak bertanya kepada gadis itu apakah sudah banyak orang yang terluka di ujung pedangnya, diapun tidak bertanya kepadanya kenapa ia harus melukai orang.

Sebab ketika itu musim semi sangat indah, bunga sedang mekar dan menyiarkan bau harum, ia merasakan betapa lembut dan halusnya tubuh dara itu.

Karena waktu itu, diapun sedang berusia muda remaja. Bagaimana dengan sekarang?

Sekarang, apakah dia masih mempunyai perasaan yang sama seperti apa yang telah dialaminya dulu?

Buyung Ciu-ti masih saja berbisik dengan lirih:

"Aku tak ambil perduli apa yang sedang kau pikirkan sekarang, yang pasti aku tak akan melupakan hari itu, sebab pada saat itu juga aku telah mempersembahkan seluruh tubuhku untukmu, ya tanpa ku sadari dengan keadaan yang tak jelas, aku telah menyerahkan diri kepadamu, sebaliknya kau setelah pergi ternyata tak pernah ada kabar beritanya lagi!"

Cia Siau-hong masih saja membungkam, seakan-akan masih belum mendengar apa yang dia katakan.

Perempuan itu berkata lebih lanjut:

"Menanti kami berjumpa kembali untuk ke dua kalinya, aku telah tukar cincin, kau datang khusus untuk menyampaikan selamat kepadaku. !"

"Walaupun perasaanku amat membencimu ketika itu, tapi setelah berjumpa denganmu, aku merasa kehilangan pegangan dan tak tahu apa yang musti kulakukan"

"Maka malam kedua setelah aku tukar cincin, tanpa ku sadari aku telah pergi meninggalkan rumah untuk mengikutimu, siapa tahu kau telah meninggalkan aku dengan begitu saja, pergi untuk tak kembali lagi!"

"Sekarang walaupun hatiku merasa lebih benci kepadamu, tapi.........tapi. aku masih berharap

kau dapat seperti dulu lagi, membohongi aku sekali lagi dan membawaku pergi, sekalipun kali ini kau akan membunuhku, akupun tak akan menggerutu lagi kepadamu!"

Suaranya masih tetap lembut dan merdu, benarkah ia dapat tidak mendengarkan? Benarkah ia tak mendengar?

Ia memang sudah dua kali membohonginya, tapi perempuan itu masih begini baik kepadanya. Bila ia begitu tak berperasaan, betulkah hatinya sudah sedingin salju?

"Aku tahu, kau tentu mengira aku telah berubah!", dengan air mata bercucuran Buyung Ciu-ti berkata lagi, "tapi sekalipun aku telah berubah menjadi manusia macam apapun di hadapan orang lain, terhadapmu aku selalu tak akan berubah!"

Tiba-tiba Cia Siau-hong mendorongnya ke belakang, lalu tanpa berpaling lagi pergi meninggalkan tempat itu.

Tapi Buyung Ciu-ti masih saja tak mau melepaskannya, ia masih membuntuti terus di belakangnya.

Sinar matahari di luar jendela telah memancar ke empat penjuru, di atas bukit nun jauh di depan sana tampak sebuah tanah berumput yang menghijau dan segar bagaikan permadani.

Tiba-tiba Siau-hong berpaling dan menatap perempuan itu dengan ketus. "Apakah kau baru senang bila sudah kubunuh?", tegurnya. Air mata di atas wajah Buyung Ciu-ti belum mengering, tapi dia memaksakan diri untuk tertawa. "Asal kau merasa gembira, bunuhlah aku!", sahutnya.

Cia Siau-hong telah memutar badannya dan melanjutkan kembali perjalanannya. Perempuan itu masih mengikuti di belakangnya, tiba-tiba ia berkata:

"Coba lihatlah mulut lukamu itu masih mengucurkan darah, paling tidak kau harus membiarkan aku untuk membalut lukamu itu terlebih dahulu!"

Tapi Cia Siau-hong tidak memperdulikan. Perempuan itu kembali berkata:

"Walaupun aku yang menyuruh orang untuk pergi melukaimu, tapi kejadian itu adalah suatu kejadian yang lain, asal kau bersedia untuk buka mulut, maka setiap saat aku dapat pergi membunuh orang-orang itu demi kau. !"

Langkah kaki Cia Siau-hong makin lambat, akhirnya tak tahan lagi ia berpaling, di antara sinar matanya yang dingin dan kaku telah muncul luapan perasaan.

Entah perasaan itu adalah perasaan cinta? Atau perasaan benci? Tapi yang pasti kesemuanya itu adalah suatu luapan perasaan yang telah merasuk ke tulang sumsum dan tak akan terlupakan untuk selamanya.

Bukit yang kokohpun bisa longsor, bukit salju yang keraspun dapat meleleh, apalagi hati manusia?

Sekalipun semua tahu bila bukit sampai longsor, maka bencana akan segera timbul, di kala longsoran bakal terjadi, siapakah yang sanggup untuk mencegahnya?

Perempuan itu lagi-lagi sudah membenamkan diri dalam pelukannya.

Musim semi kembali tiba, rumput-rumput mulai menghijau.

Pelan-pelan Cia Siau-hong duduk di atas tanah perbukitan itu dan mengawasi orang yang berbaring di sisinya.

Ia sedang bertanya kepada diri sendiri:

"Sesungguhnya aku telah menelantarkan dia? Ataukah dia telah menelantarkan aku?" Tak seorang manusiapun bisa menjawab pertanyaan ini, termasuk pula dirinya sendiri.

Dia hanya tahu bagaimanapun baik atau jeleknya, perduli siapa yang telah menelantarkan dia, asal kedua orang itu berada menjadi satu, saat itulah merupakan saat yang paling aman dan tenteram, saat-saat bahagia untuk menghilangkan segala kesedihan dan duka nestapa.

Ia sendiripun tak tahu perasaan macam apakah ini, dia hanya tahu jika antara manusia dengan manusia sudah terikat oleh perasaan semacam ini, maka sekalipun menderita atau tertipu, diapun rela dan pasrah.

~Bersambung ke Jilid-12 Jilid-12

Sekalipun harus mati, rasanya juga tak menjadi soal.

Pelan-pelan perempuan itu mendongakkan kepalanya dan memandang ke arahnya dengan terpesona, kemudian bisiknya:

"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan dalam hatimu?" "Kau tahu?"

"Ya, kau hendak menyuruhku untuk membubarkan Thian-cun, membawa kembali bocah itu dan melewatkan penghidupan yang tenang dan tenteram selama beberapa tahun!"

Ia memang telah menebak tepat apa yang dipikirkan Cia Siau-hong kini........

Sekalipun dia adalah seorang gelandangan, dalam nadinya mengalir darah seorang petualang, tapi diapun mempunyai saat-saat bosan dan kesal.

Terutama di kala ia sadar dari mabuknya di tengah malam yang hening terbayang kembali kekasih hatinya, siapakah yang dapat menanggung derita dan kesepian seperti itu?

Pelan-pelan perempuan itu menggenggam tangannya, kemudian bertanya lagi: "Tahukah kau, apa yang sedang kupikirkan sekarang?"

Tentu saja dia tak tahu, hati perempuan memang sukar diduga, apalagi dia adalah perempuan semacam ini.

Tiba-tiba perempuan itu kembali tertawa, suara tertawanya aneh sekali.

"Aku sedang berpikir, jangan-jangan kau memang benar-benar seorang dungu. !"

"Seorang dungu?", Cia Siau-hong tidak mengerti.

"Tahukah kau, Thian-cun adalah suatu organisasi maha besar yang telah menyita banyak tenaga, pikiran dan keringatku untuk membangunnya. Kenapa aku musti memusnahkannya dengan begitu saja tanpa suatu hasil apapun yang berhasil ku dapat? Kalau toh kau sudah tidak maui bocah itu lagi, kenapa aku musti membawanya datang untuk diberikan kepadamu?"

Cia Siau-hong merasakan hatinya seperti terjatuh ke dalam jurang, sekujur badannya menjadi dingin dan kaku, hawa dingin yang menusuk tulang serasa muncul dari dasar telapak kakinya dan menyusup naik hingga ke atas kepalanya.

Menyaksikan mimik wajahnya itu, gelak tertawa Buyung Ciu-ti semakin keras dan makin menggila. "Haaahhhhh....... haaaaahhhh...... haaaaahhhhhh paling tidak kaupun musti berpikir, apa

kedudukanku sekarang? Apa pula jabatanku kini? Masakah aku kesudian untuk menanakkan nasi dan mencucikan pakaian bagimu?"

Ia masih saja tertawa tiada hentinya.

"Haaaahhhhhh..... haaaahhhh haaaahhhhhh sekarang ternyata kau suruh aku melakukan

pekerjaan semacam ini, kalau kau bukan seorang yang dungu, lantas siapakah yang dungu?" Benarkah Cia Siau-hong adalah seorang dungu?

Sejak berusia lima tahun ia mulai belajar pedang, berusia enam tahun mulai mengupas intisari dari ilmu pedang, umur tujuh tahun dapat menghapalkan bacaan dan syair jaman Tong di luar kepala, padahal anak-anak lain yang sebaya dengannya masih belum bisa memakai celana sendiri.

Akan tetapi di hadapan Buyung Ciu-ti sekarang, ia berubah menjadi seakan-akan seorang dungu yang seratus persen orisinil.

Pelan-pelan Cia Siau-hong bangkit berdiri, setelah memandang sekejap ke arahnya ia bertanya: "Sudah selesaikan perkataanmu itu?"

"Kalau sudah selesai lantas kenapa? Apakah kau hendak membinasakan diriku?"

Tiba-tiba suara tertawanya berubah menjadi isak tangis, sambil menangis tersedu-sedu serunya:

"Baik, baiklah, bunuhlah aku! Jika begini sikapmu kepadaku, bunuh saja diriku sekarang juga, sebab bagaimanapun juga akupun sudah tak ingin hidup lagi"

Tangisannya menyedihkan sekali, tapi wajahnya sedikitpun tidak menampilkan rasa sedih barang sedikitpun, mendadak ia merendahkan suaranya dan berbisik:

"Terlalu banyak perempuan yang menyukaimu, aku tahu lambat laun kau tentu melupakan diriku, sebab itu setiap lewat beberapa tahun aku harus baik-baik mereparasikan dirimu, agar selama hidup kau tak akan melupakan diriku lagi!"

Selesai mengucapkan beberapa patah kata itu, suara tangisannya makin diperkeras, tiba-tiba ia menempeleng muka sendiri sekeras-kerasnya hingga sembab merah dan membengkak besar, lalu teriaknya lagi keras-keras:

"Kenapa kau tidak sekalian membinasakan diriku? Kenapa kau memukuli aku hingga menjadi begini rupa? Buat apa kau menyiksa diriku terus menerus. ?"

Sambil menutupi muka sendiri dan menangis tersedu-sedu, ia lari turun dari bukit tersebut, seakan-akan Cia Siau-hong benar-benar sedang mengejarnya sambil memukuli tubuhnya.

Padahal seujung jaripun Cia Siau-hong tidak menyentuh tubuhnya, tapi saat itulah tiba-tiba dari bawah bukit sana telah muncul beberapa sosok bayangan manusia.

Seorang nyonya berwajah anggun yang berada di paling depan segera menyongsong kedatangannya dan memeluk perempuan itu ke dalam rangkulannya.......

Di belakang perempuan anggun itu mengikuti tiga orang manusia, yang seorang adalah kakek yang rambutnya telah beruban semua, tetapi langkah kakinya masih tegap dan gagah, pinggangnya lurus seperti batang pit, di tangannya membawa sebuah kantong yang terbuat dari kain kuning.

Di belakang kakek itu adalah seorang laki-laki yang telah tua rengka meski usianya di antara setengah umur, mukanya kotor dan dekil oleh debu, rupanya baru saja melakukan perjalanan jauh.

Sedangkan orang yang berjalan di paling belakang adalah seorang nona kecil yang bertubuh ramping, sambil berjalan diam-diam ia membesut air matanya.

Hampir saja Cia Siau-hong tak dapat mengendalikan perasaannya untuk berteriak keras: "Si Boneka!"

Nona cilik yang berjalan di paling belakang itu ternyata memang betul-betul adalah si Boneka yang selama ini keselamatan jiwanya selalu dikuatirkan.

Tapi ia tidak berteriak memanggilnya, sebab tiga orang lainnya juga dikenali olehnya, bahkan perkenalan mereka telah berlangsung sangat lama sekali.

Kakek berambut putih yang masih tampak kekar dan gagah itu adalah nku-tio (paman)nya yang bernama Hoa Sau-kun.

Dua puluh tahun berselang, Yu-siu-kiam-khek Hoa Sau-kun berhasil merobohkan delapan jagoan paling tangguh dari partai Thiam-cong dan Bu-tong tanpa pernah menderita kalah barang sekalipun, pamornya menjadi lebih tersohor setelah ia kawin dengan seorang adik misan dari ketua Sin-kiam-san-ceng generasi yang lalu Cia Ngo-cu, adik misannya itu bernama Hui-hong-li- kiam-kek (Jago pedang perempuan burung Hong terbang) Cia Hong-hong. Sejak perkawinan itu, ilmu pedang naga dan burung hong mereka bersatu padu dan tak pernah menjumpai seorang musuhpun yang sanggup merobohkan mereka, semua orang persilatan.

Siapa tahu pada saat itulah di luar dugaan ia telah menderita kekalahan total di tangan seorang bocah ingusan yang baru berusia sepuluh tahun dan kebetulan sekali bocah yang merobohkannya itu tak lain adalah Cia Siau-hong.

Perempuan berwajah anggun yang sedang memeluk Buyung Ciu-ti dalam rangkulannya itu tak lain adalah ko-koh (bibi)-nya Cia Hong-hong.

Laki-laki gemuk bengkak berusia setengah umur itupun dari marga Cia juga, dia masih famili jauhnya dan lagi sejak kecil ia telah bermain dengan orang ini.

Sewaktu masih kecil dulu, seringkali ia ngeloyor ke rumah makan di pantai telaga sana untuk minum arak.

Laki-laki gemuk berusia setengah umur itu bukan lain adalah Cia ciangkwe dari warung arak itu.

Tapi mengapa mereka bisa sampai di situ? Kenapa si Boneka bisa melakukan perjalanan bersama mereka?

Cia Siau-hong merasa tak habis mengerti, diapun tak dapat menduganya, apa yang dipikirkan sekarang hanyalah berusaha untuk kabur sejauh-jauhnya dari sana, dan jangan sampai ketahuan oleh mereka semua.

Sayang sekali mereka telah melihat kehadirannya di sana. Hoa Sau-kun sedang memandang keadaannya sambil tertawa dingin, sedang si Boneka sedang memandang ke arahnya sambil mengucurkan air mata.

Cia ciangkwe dengan napas ngos-ngosan sedang merangkak naik ke atas bukit, begitu sampai di hadapan Cia Siau-hong, ia lantas membungkukkan badan dan memberi hormat, sapanya sambil tertawa:

"Sam Sauya, sudah lama tak berjumpa, baik-baikkah kau selama ini?" Cia Siau-hong sesungguhnya hidup dalam keadaan tak baik, tapi terhadap orang baik yang secara diam-diam memberikan sedikit arak kepadanya semenjak ia berusia delapan-sembilan tahun ini, mau tak mau dia musti tertawa juga, kemudian balik bertanya:

"Kenapa kau bisa sampai di sini?"

Cia ciangkwe tak pandai berbohong, terpaksa dia harus berbicara terus terang: "Nona Buyung yang mengajak kami semua datang kemari!"

"Mau apa dia undang kalian datang kemari?"

Cia ciangkwe agak ragu-ragu, dia tak tahu untuk menjawab pertanyaannya kali ini, dia musti bicara sejujurnya atau tidak.

Untunglah sambil tertawa dingin Cia Hong-hong telah berseru:

"Mau apa lagi? Kami datang untuk menyaksikan perbuatan bagus yang sedang kau lakukan!"

Cia Siau-hong menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tahu bibinya ini bukan cuma wataknya tak baik, kesan terhadapnyapun kurang baik sebab tak seorang perempuanpun di dunia ini yang senang menyaksikan suaminya dikalahkan, walaupun orang itu adalah keponakannya sendiri ataupun bukan................

Sayang, bibi tetap adalah bibi, perduli bagaimanapun kesannya kepadamu, ia sama saja adalah bibimu.

Walaupun ia telah menutup mulutnya, tapi Cia Hong-hong tak mau melepaskannya dengan begitu saja.

"Sungguh tak kusangka kalau Cia kita bisa muncul seorang manusia semacam kau", demikian ia memaki, "bukan saja pandai mempermainkan perempuan, bahkan anak sendiripun sudah tak mau!"

Lalu sambil menuding bekas-bekas jari tangan di atas wajah Buyung Ciu-ti, ia berkata lebih lanjut:

"Kau sudah menipunya dua kali, meninggalkannya dua kali, tapi ia masih mencintaimu dengan sepenuh hati, kenapa kau memukulnya pula sehingga menjadi begini rupa?"

"Dia....dia...tidak. ", air mata bercucuran membasahi seluruh wajah Buyung Ciu-ti.

"Kau tak usah banyak bicara!", tukas Cia Hong-hong dengan marah, "semua pembicaraan kalian dalam rumah penginapan kecil itu telah kami dengar semua dengan amat jelasnya, kalau toh sepatah katapun ia tak berani menyangkal, mengapa kau harus membantunya untuk menghilangkan dosa-dosanya itu?"

Lalu setelah berhenti sebentar ia bertanya lagi:

"Cia ciangkwe, apakah semua pembicaraan tersebut telah kau dengar pula dengan jelas?" "Benar!", Cia ciangkwe manggut-manggut.

"Kau suka mempermainkan perempuan bagi kami bukan urusan, kamipun enggan untuk mencarinya, tapi nona Buyung mempunyai hubungan yang luar biasa dengan keluarga Cia kami, sekalipun kau sudah tak mau anakmu lagi, kami keluarga Cia mau tak mau harus mengakuinya sebagai cucu kami, lebih-lebih terhadap menantu kita ini!"

Cia Siau-hong tidak bersuara, bibirnya sedang bergetar keras menahan emosi.

Sekarang, ia telah memahami semua intrik dan rencana busuk yang telah diatur Buyung Ciu-ti.

Rupanya sengaja ia mengundang datang orang-orang itu dan mengaturnya untuk bersembunyi di sekitar rumah penginapan kecil itu, kemudian sengaja mengucapkan kata-kata itu agar bisa mereka dengar, agar di kemudian hari ia tak dapat menyangkalnya lagi sekalipun ingin menyangkalnya.

Kini ia sudah merupakan pemilik dari perkampungan keluarga Buyung di wilayah Kanglam dan ketua Thian-cun, jelas perempuan itu belum puas, ia masih merencanakan terus untuk merampas pula perkampungan Sin-kiam-san-ceng yang tersohor itu.

Jikalau pihak keluarga Cia telah mengakui mereka ibu dan anak, tentu saja secara otomatis dia akan menjadi nyonya ketua perkampungan Sin-kiam-san-ceng, itu berarti perkampungan itu cepat atau lambat akan terjatuh ke tangannya.

"Apalagi yang hendak kau tanyakan?", Cia Hong-hong kembali bertanya.

Cia Siau-hong tidak menjawab, walaupun semua kejadian telah terpikir olehnya, namun sepatah katapun ia tidak berbicara.

"Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apakah peraturan pertama dari keluarga Cia kita?", teriak Cia Hong-hong.

Paras muka Cia Siau-hong belum sempat berubah, air muka Cia ciangkwe telah berubah hebat.

Diapun mengetahui akan peraturan rumah tangga dari keluarga Cia, peraturan pertama menyebutkan tentang soal berzinah. 'Barang siapa berani berzinah dengan istri orang atau

memperkosa anak gadis orang lain, maka dia akan dijatuhi hukuman penggal sepasang kakinya'. Cia Hong-hong tertawa dingin, katanya:

"Sekarang kau telah melanggar peraturan yang pertama dari undang-undang rumah tangga kita, kendatipun toako akan membelamu, aku tetap tak akan mengampuni dirimu!"

Tangannya segera diulapkan, dari bawah bukit segera muncul seorang bocah cilik yang mempersembahkan sebilah pedang.

Ketika pedang itu diloloskan dari sarungnya, hawa dingin yang merasuk tulang segera menyebar ke empat penjuru.

Kembali Cia Hong-hong berkata dengan suara keras:

"Sekarang juga aku akan melaksanakan hukuman bagi keluarga Cia kita, kenapa kau masih belum juga berlutut untuk menerima hukuman?"

ooooOOOOoooo