Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 14. Sam Sauya

Bab 14. Sam Sauya

Apakah ada orang yang benar-benar memahaminya? Baginya hal itu bukan suatu masalah.

Karena ada sementara orang yang semenjak dilahirkan memang tidak membutuhkan pengertian dari orang lain, seperti juga malaikat atau dewa atau sebangsanya.

Justru karena tiada seorang manusiapun yang memahami malaikat, maka ia baru mendapat penghormatan serta sembahan dari umat manusia di dunia ini.

Dalam pandangan dan perasaan di dunia, Cia Siau-hong hakekatnya sudah mendekati malaikat. Tapi bagaimana dengan A-kit?

A-kit tidak lebih hanya seorang gelandangan dari dunia persilatan, ia tak lebih hanyalah A-kit yang tak berguna.

Bagaimana mungkin Cia Siau-hong bisa berubah menjadi manusia seperti A-kit? Tapi sekarang justru ia berkata demikian:

"Akulah Cia Siau-hong!" Benarkah itu?

Hweesio tua itu tertawa. Ia tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaahhhh..... haaaahhhhh...... haaahhhh. engkaukah Cia Siau-hong, Sam sauya dari

keluarga Cia?"

"Ya, akulah orangnya!", jawab A-kit. Ia tidak tertawa.

Persoalan ini sebenarnya adalah rahasianya, juga merupakan penderitaannya, sebenarnya ia lebih suka mati daripada mengutarakannya kembali, tapi sekarang ia telah mengucapkannya.

Sebab ia tak dapat membiarkan Siau Te mati, hal ini jelas tak akan boleh sampai terjadi. Akhirnya hweesio tua itu menghentikan gelak tertawanya, dengan dingin ia berkata: "Tapi sayang, setiap umat persilatan telah mengetahui bahwa ia telah mati!"

"Dia belum mati!"

Sinar matanya penuh pancaran rasa sedih dan penderitaan, katanya lebih lanjut: "Mungkin perasaannya telah mati, tapi orangnya sampai sekarang belum mati!"

"Justru oleh karena perasaannya telah mati, maka ia telah berubah menjadi A-kit?", tanya hweesio tua itu sambil menatapnya lekat-lekat.

Pelan-pelan A-kit mengangguk, sahutnya dengan sedih:

"Sayang sekali perasaan A-kit belum mati, oleh karena itu mau tak mau Cia Siau-hong harus hidup lebih lama!"

"Aku percaya kepadanya!", tiba-tiba Ciu Ji sianseng berkata. "Kenapa kau percaya?", tanya si hweesio tua.

"Karena kecuali Cia Siau-hong, tak ada orang kedua yang dapat membuat Mao It-leng bertekuk lutut!"

"Akupun percaya!", Lui Kok-tiok melanjutkan. "Kenapa?", kembali si hweesio tua bertanya.

"Karena kecuali Cia Siau-hong, aku betul-betul tak dapat menemukan orang kedua yang bisa merampas pedangku dalam satu gebrakan saja?"

"Dan kau?"

Yang ditanya si hweesio tua itu adalah Hok-kui-sin-sian-jiu (Tangan dewa rejeki dan kemuliaan).

Sin-sian-jiu tidak bersuara, tapi tangannya yang seperti tangan nyonya kaya itu pelan-pelan diturunkan ke bawah, kuku-kukunya yang lebih tajam daripada pedangpun ikut menjadi lemas.

Hal itu sudah merupakan jawabannya yang terbaik.

Cia Siau-hong sekali membalikkan tangannya, pedang Kok-tiok-kiam telah disarungkan kembali, disarungkan ke dalam sarung pedang yang terselip di pinggang Liu Kok-tiok.

Siau Te telah memutar badannya dan berhadapan muka dengannya, memandang wajahnya itu tiba-tiba sinar matanya menunjukkan suatu perubahan aneh yang sukar dilukiskan dengan kata- kata.

Hok-kui-sin-sian-jiu telah menggunakan kembali sepasang tangannya yang mirip tangan nyonya kaya itu untuk menepuk bahunya, lalu sambil tersenyum berkata:

"Apakah kau telah lupa untuk melakukan suatu perbuatan? Lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada Sam sauya atas budi pertolongannya untuk menyelamatkan jiwamu?" Siau Te menundukkan kepalanya, akhirnya pelan-pelan ia maju ke depan, lalu pelan-pelan menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.

Cia Siau-hong menarik tangannya, wajah yang semula layu dan penuh kerutan lelah, seakan-akan telah bersinar kembali.

Tiba-tiba Siau Te menengadahkan kepalanya dan bertanya:

"Mengapa kau. kau menolongku?"

Cia Siau-hong tidak menjawab, dia hanya tertawa, tertawa penuh kegirangan, tapi seakan-akan juga penuh kepedihan hati.

Senyumannya masih menghiasi ujung bibirnya, tapi ternyata urat nadi pada lengan kanannya telah dicengkeram.

Siau Te lah yang mencengkeram urat nadinya, yang digunakan adalah salah satu ilmu cengkeraman yang terlihay dari Jit-cap-ji-siau-ki-na-jiu-hoat (Tujuh puluh dua macam ilmu mencengkeram).

Pada saat yang bersamaan itulah Tam Ci-hui telah melayang ke udara dan melepaskan sebuah tendangan ke arah Cia Siau-hong.

"Criiing. !", mendadak dari balik kaki kayunya memantul ke luar sebilah pedang, dan baru saja

tubuhnya melayang ke udara, pedang itu sudah menusuk ke atas bahu Cia Siau-hong. Itulah pedangnya yang kedua.

Dan itu pula alat pembunuhnya yang sesungguhnya dan telah mengangkat namanya selama ini.

Cia Siau-hong tidak menghindarkan diri dari tusukan pedang itu.

Sebab pada detik itulah ia sedang memperhatikan Siau Te, dibalik sinar matanya sama sekali tiada pancaran sinar kaget, gusar atau ngeri, yang ada hanya rasa sedih, kecewa dan penderitaan.

Hingga ujung pedang itu menembusi bahunya dan darah segar berhamburan ke mana-mana, sinar matanya masih belum juga bergeser dari posisinya semula.

Waktu itu Ciu Ji sianseng dan pedang Liu Kok-tiok telah menusuk datang pula, selain itu masih ada pula tangan maut yang lembut seperti tangan nyonya kaya itu, Hok-kui-sin-sian-siu-hun-jiu.

Cia Siau-hong masih belum juga berkutik, berkelitpun tidak.

Walaupun urat nadi pada tangan kanannya telah dicengkeram, tapi ia masih mempunyai tangan yang lain.

Tapi kenapa ia belum juga berkutik?

Apakah jago pedang yang tiada tandingannya di kolong langit ini tak mampu membebaskan diri dari cengkeraman seorang bocah kecilpun?

Pedang milik Ciu Ji sianseng jauh lebih cepat daripada pedang milik Liu Kok-tiok. Yang ditusuk adalah lutut kiri Cia Siau-hong, sekalipun lutut kiri bukan tempat yang mematikan di tubuh manusia, namun cukup membuat seseorang tak mampu bergerak lagi.

Serangannya itu tepat dan ganas, kalau ingin melukai tempat mematikan di tubuh Cia Siau-hong, percayalah serangannya tak bakal meleset.

Mereka sama sekali tidak ingin mencabut jiwanya dengan segera. Tapi terhadap tusukan itupun Cia Siau-hong tidak menghindar, di mana pedangnya berkelebat lewat, percikan darah segar segera menodai seluruh wajah Siau Te.

Menyusul kemudian pedang dari Liu Kok-tiok pun menusuk tiba.

Tiba-tiba Siau Te meraung keras, ia melepaskan cengkeramannya pada tangan Cia Siau-hong dan mendorongnya dengan sekuat tenaga, kemudian dengan mempergunakan lengan sendiri menangkis datangnya tusukan pedang Kok-tiok-kiam itu, secara tepat ujung pedang menusuk persendian tulangnya........

"Kau gila?", bentak Liu Kok-tiok dengan gusar, ia mencoba untuk mencabut pedangnya tapi tidak berhasil.

Tam Ci-hui melejit ke udara dan berjumpalitan beberapa kali, pedang pada kaki kayunya dan pedang di tangan serentak direntangkan dan menyerang dengan jurus andalannya, Yan-cu-siang- hui.

Berbareng itu pula pedang Ciu Ji sianseng menyabet dari samping memapas wajah Cia Siau- hong.

Tiga bilah pedang dari tiga arah yang berlainan secepat sambaran kilat dan sekeji ular berbisa menerobos masuk ke depan.

"Taaaakk. !", tiba-tiba pedang Ciu Ji sianseng miring ke samping karena terhantam suatu

kekuatan besar hingga menancap pada kaki kayu dari Tam Ci-hui.

Karena kehilangan keseimbangan tubuhnya, kontan saja tubuh Tam Ci-hui terjatuh dari tengah udara, "Kraaaak. ", lengannya patah menjadi dua dan pedangnya lenyap tak berbekas.

Pedang Kok-tiok-kiam telah dijepit oleh Siau Te, tetapi Siau Te sendiripun terpantek oleh pedang Kok-tiok-kiam.

Dalam keadaan inilah, tangan-tangan maut dari Hok-kui-sin-sian-jiu telah muncul kembali di tenggorokan dan alis mata Siau Te.

Tiba-tiba cahaya pedang berkelebat lewat, sepasang sepuluh jari tangan nyonya kaya yang tajam itu sudah tersayat kutung, satu demi satu rontok ke tanah, darah kental berceceran sampai di mana-mana.

Cahaya pedang sekali lagi berkelebat lewat, darah segar kembali memancar ke empat penjuru, ketika Liu Kok-tiok roboh terkapar ke tanah, Siau Te sudah melayang ke luar dari pintu.

Tak seorangpun yang mengejar ke depan, karena di depan pintu telah berdiri seseorang.

Setelah merampas pedang, mengayun pedang, membacok kuku, menusuk orang serta mendorong Siau Te keluar dari pintu tadi, Cia Siau-hong telah menghadang di depan pintu dengan tubuhnya. Sekarang, setiap orang sudah tahu bahwa dia adalah Cia Siau-hong. Dalam genggamannya masih ada pedang, siapa yang berani sembarangan berkutik bila di tangan Sam sauya dari keluarga Cia masih menggenggam sebilah pedang?

Sekalipun ia sudah terluka, sekalipun darah kental masih bercucuran dari mulut lukanya, tak seorangpun berani sembarangan berkutik.

Menunggu ia sudah mundur lama sekali dari situ, hweesio tua baru menghela napas panjang, katanya:

"Benar-benar suatu ilmu pedang yang tiada ke duanya di dunia ini, benar-benar dia adalah Cia Siau-hong yang tiada bandingannya di kolong langit. !"

Tiok Yap-cing kena dirobohkan tadi dan selalu tergeletak dengan tubuh kaku di tanah itu mendadak berkata:

"Ilmu pedangnya memang sungguh bagus dan indah, tapi belum tentu sudah tiada ke duanya lagi di dunia ini!"

Pelan-pelan ia bangun dan berduduk, sekulum senyuman bahkan menghiasi ujung bibirnya.

Ternyata si hweesio tua tidak terperanjat, dia hanya melotot sekejap ke arahnya lalu berkata dengan ketus:

"Ilmu pedang yang dimiliki Yan sianseng tentu saja bagus pula, kenapa kau tidak mencabut pedang dan menyerangnya tadi? Seharusnya kau menantang dia untuk berduel satu lawan satu!"

Tiok Yap-cing kembali tersenyum.

"Aku tak mampu menandinginya!", ia mengakui. "Masa kau tahu ada yang dapat menandingi dirinya?" "Paling tidak masih ada seorang!"

"Hujin maksudmu?"

Tiok Yap-cing hanya tersenyum dan tidak menjawab, sebaliknya ia malah bertanya: "Kau pernah menyaksikan hujin (nyonya) turun tangan?"

"Belum pernah!"

"Itulah disebabkan hujin tak perlu turun tangan sendiri, sekalipun dia ingin membunuh seseorang!" "Tapi siapakah yang mampu mewakilinya untuk membinasakan Cia Siau-hong. ?"

"Yan Cap-sa!"

Hweesio tua itu termenung lama sekali, kemudian kembali menghela napas panjang. "Aaaai....betul, Yan Cap-sa! Orang itu seharusnya memang Yan Cap-sa. !, bisiknya kemudian.

"Dalam dunia dewasa ini, kecuali hujin mungkin dia seorang yang mengetahui titik kelemahan dari ilmu pedang yang dimiliki Cia Siau-hong!"

"Tapi semenjak ia mengukir tanda di perahu dan menenggelamkan pedangnya ke dasar telaga Liok-sui-oh, belum pernah ada seorang manusiapun yang pernah menyaksikan jejaknya dalam dunia persilatan, mana mungkin dia mencari Cia Siau-hong demi kepentingan hujin?"

"Ya, ini memang tak mungkin!"

"Maksudmu Cia Siau-hong yang akan mencarinya?" "Inipun tak mungkin!", sahut Tiok Yap-cing.

Setelah tersenyum, ia menambahkan:

"Tapi aku yakin, dalam suatu kesempatan yang tak terduga, mereka pasti akan saling berjumpa muka!"

"Benarkah suatu perjumpaan yang tak terduga?"

Tiok Yap-cing mengebaskan ujung bajunya sambil beranjak, sahutnya dengan hambar:

"Apakah ada rasa cinta? Ataukah tiada rasa cinta? Ada maksud? Ataukah tiada maksud? Siapa yang dapat membedakan ke dua hal tersebut dengan tenang dan jelas?"

Malam telah tiba, seluruh halaman rumah itu berada dalam suasana yang hening dan gelap, tapi Cia Siau-hong berjalan dengan langkah cepat, ia tak memerlukan cahaya lampu, tapi ia dapat menemukan jalanan yang terbanting di sana.

Di dalam halaman rumah itulah, di saat malam yang sama heningnya, entah berapa kali ia telah bangun dari tidurnya dan berdiri di tengah hembusan angin malam yang dingin dan merasakan kesepian.

Bintang-bintang yang tersebar di langit malam ini jauh lebih suram daripada kemarin, demikian pula Cia Siau-hong yang kini bukanlah A-kit yang tak berguna kemarin.

Semua kejadian dalam dunia ibaratnya buah-buah catur, sering berubah dan sering berganti, siapakah yang dapat meramalkan kejadian apa yang bakal dialaminya besok?

Kini satu-satunya orang yang paling ia kuatirkan adalah orang yang berada di sampingnya sekarang.

Siau Te berjalan di sampingnya dengan mulut membungkam, sesudah menembusi halaman rumah yang gelap, mendadak ia berhenti sambil berkata:

"Kau pergilah!" "Kau tidak pergi?"

Siau Te gelengkan kepalanya berulang kali, di tengah kegelapan malam, wajahnya tampak pucat pasi seperti mayat, lewat lama sekali pelan-pelan ia baru berkata: "Jalan yang kita tempuh sesungguhnya bukanlah sebuah jalan yang sama, lebih baik kau melewati jalanmu dan aku menempuh jalananku!"

Cia Siau-hong memperhatikan kembali paras mukanya yang pucat, ia merasakan hatinya sakit sekali.

Setelah lewat agak lama ia baru bertanya lagi:

"Apakah kau tak dapat beralih ke jalanan lain?"

"Tidak dapat!", Siau Te berteriak keras sambil mengepal sepasang tangannya kencang-kencang.

Tiba-tiba ia memutar badannya sambil menerjang keluar, tapi baru saja tubuhnya melompat, ia sudah terjatuh kembali dari tengah udara.

Wajahnya semakin memucat, peluh dingin mengucur keluar bagaikan hujan, dia ingin meronta dan bangun berdiri tapi untuk berdiri tegakpun ia sudah tak mampu.

Sebenarnya dia mengira tusukan dari Liu Kok-tiok tadi masih sanggup ditahan olehnya, tapi sekarang ia merasakan bahwa mulut lukanya makin lama semakin sakit, semakin dirasakan semakin tak tahan.

Akhirnya diapun jatuh tak sadarkan diri.

Ketika sadar kembali, ia dapatkan dirinya sedang berbaring dalam sebuah ruangan yang kecil dengan lampu yang redup.

Cia Siau-hong duduk di bawah sinar lampu sambil memperhatikan sepotong ujung pedang yang panjangnya setengah inci.

Itulah ujung pedang dari Kok-tiok-kiam.

Ketika Kok-tiok-kiam dicabut keluar tadi, masih tertinggal sepotong ujung pedang dalam sendi tulangnya, rasa sakit tersebut sungguh amat berat untuk dirasakan.

Andaikata Cia Siau-hong tidak memiliki sepasang tangan yang kuat, mana mungkin kutungan ujung pedang itu dapat dicabut keluar?

Tapi pakaiannya hingga kini belum mengering, telapak tangannya masih berkeringat, hingga kini tangannya baru mulai gemetar.

Siau Te memandang ke arahnya, tiba-tiba ia berkata:

"Tusukan pedang ini sebenarnya ditujukan ke tubuhmu!" "Aku tahu", Cia Siau-hong tertawa getir.

"Oleh karena itulah meski kau telah mengobati lukaku, akupun tak usah berterima kasih kepadamu!"

ooooOOOOoooo