Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 13. Nama dari Toa Siocia

Bab 13. Nama dari Toa Siocia

Hawa pedang serasa dingin menggidikkan, ibaratnya lapisan salju di puncak bukit nun jauh di sana yang sepanjang tahun tak pernah meleleh, kau tak perlu menyentuhnya tapi dapat merasakan hawa dingin dari ujung pedang yang tajam, membuat darah dan tulang belulangmu menjadi kaku dan membeku karena kedinginan.

Pedang sesungguhnya memang dingin, tapi bila di tangan seorang yang benar-benar jago, baru akan memancarkan hawa pedang yang begini dingin dan menggidikkan hati.

Sebilah pedang menyambar datang dan tiba-tiba berhenti di tengah jalan, jaraknya dengan nadi besar di belakang leher A-kit tinggal setengah inci lagi.

Nadi darahnya sedang berdenyut keras, otot-otot hijau di tepi nadi yang mengejang keluarpun ikut berdenyut keras.

Akan tetapi orangnya sama sekali tidak bergerak.

Sewaktu bergerak ia lebih cepat dari hembusan angin, tapi sewaktu berdiri tegak lebih kokoh dari bukit karang, tapi ada kalanya bukit karangpun akan longsor dan berguguran.

Bibirnya telah merekah kekeringan, seperti batu-batu karang di atas puncak bukit yang merekah kena hembusan angin.

Air mukanya persis seperti batu karang, sedikitpun tanpa pancaran emosi, kaku dan dingin.

Apakah dia tak tahu kalau pedang itu menusuk satu inci lagi ke depan maka darah segar dalam tubuhnya akan memancar keluar?

Apakah ia benar-benar tidak takut mati?

Terlepas apakah ia benar-benar tidak takut mati atau tidak, yang pasti kali ini dia pasti akan mampus.

Ciu Ji Sianseng menghembuskan napas panjang, Toa-tauke menghembuskan pula napasnya panjang-panjang, mereka hanya menunggu tusukan dari Mao-toa-sianseng itu ditusukkan lebih ke depan.

Sepasang mata Mao-toa-sianseng menatap tajam-tajam urat nadi di belakang tengkuk yang sedang berdenyut keras itu, sinar matanya memancarkan suatu perubahan yang aneh sekali, seakan-akan penuh mengandung rasa benci yang mendalam, seolah-olah juga mengandung penuh penderitaan dan siksaan.

Kenapa tusukan itu tidak dilanjutkan? Apa yang sedang ia nantikan? Ciu Ji sianseng mulai tak sabar, tiba-tiba ia berteriak:

"Hayo lanjutkan tusukanmu itu, jangan kau menguatirkan keselamatan jiwaku!"

Kutungan samurai di tangan A-kit masih berada setengah inci di atas tenggorokannya, tapi dalam genggamannya masih ada sebilah pedang, kembali ia berseru:

"Aku yakin masih sanggup menghindari tusukannya itu!" Mao-toa-sianseng tidak memberikan reaksi apa-apa.

Ciu Ji sianseng kembali berseru:

"Sekalipun aku tak mampu menghindarkan diri, kau harus membinasakannya, selama orang ini belum mati, maka tiada jalan kehidupan lagi untuk kita, kita mau tak mau harus menyerempet bahaya untuk melanjutkan pertarungan ini"

Toa-tauke segera berteriak pula:

"Tindakan semacam ini tak bisa dikatakan sebagai menyerempet bahaya lagi, kesempatan yang kalian miliki jauh lebih besar daripada kesempatannya"

Tiba-tiba Mao-toa-sianseng tertawa tergelak, gelak tertawanya itu sama anehnya seperti pancaran sinar matanya, pada saat ia mulai tertawa itulah pedangnya telah ditusuk ke depan, menusuk ke muka melewati sisi tengkuk A-kit dan menusuk bahu Ciu Ji sianseng.

"Triiiing. !, pedang yang berada dalam genggaman Ciu Ji Sianseng terjatuh ke tanah, darah

kental berhamburan kemana-mana dan memercik di atas wajahnya sendiri.

Raut wajahnya itu segera mengejang keras karena rasa kaget dan tercengang yang kelewat batas, tapi yang jelas terpancar adalah rasa gusarnya yang berkobar-kobar.

Toa-tauke ikut pula melompat bangun dari tempat duduknya.

Siapapun tidak menyangka akan terjadinya perubahan ini, siapapun tidak tahu kenapa Mao Toa sianseng dapat berbuat demikian.

Mungkin hanya dia sendiri dan A-kit saja yang tahu.

Paras muka A-kit sama sekali tidak menampilkan emosi, rupanya perubahan tersebut sudah jauh berada dalam dugaannya.

Tapi sinar matanya justru memancarkan cahaya penderitaan, bahkan penderitaan lebih mendalam daripada yang diderita Mao Toa Sianseng........

Cahaya pedang berkelebat lewat, tahu-tahu pedang itu sudah dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.

Tiba-tiba Mao Toa Sianseng menghela napas panjang.

"Aaaaiiii.....bukankah sudah ada lima tahun kita tak pernah berjumpa muka. ?"

Perkataan itu ditujukan pada A-kit, tampaknya bukan saja mereka saling mengenal, bahkan merupakan pula sahabat karib selama banyak tahun. Kembali Mao Toa-sianseng berkata:

"Selama banyak tahun ini apakah penghidupanmu bisa kau lewatkan secara baik-baik? Apakah pernah menderita sakit yang parah?"

Sahabat yang sudah banyak tahun tak pernah berjumpa, tiba-tiba saja bertemu kembali antara satu dengan lainnya, tentu saja kata-kata pertama yang diucapkan adalah saling menanyakan keadaan, pertanyaan ini merupakan suatu pertanyaan yang amat sederhana dan umum sekali.

Tapi sewaktu mengucapkan kata-kata itu, tampaklah mimik wajahnya seakan-akan sedang menahan suatu penderitaan yang sangat hebat.

Sepasang lengan A-kit mengepal kencang, bukan saja ia tidak berbicara, berpalingpun tidak.

"Kalau toh aku telah berhasil mengenalimu, kenapa kau masih belum mau berpaling juga, agar aku dapat menyaksikan wajahmu?", kembali Mao Toa sianseng berkata.

"Tiba-tiba A-kit pun menghela napas panjang.

"Aaaaiiii kalau toh kau telah mengenali diriku, buat apa lagi memperhatikan wajahku?"

"Kalau begitu, paling tidak kaupun harus melihat aku telah berubah menjadi seperti apa sekarang ini!"

Meskipun perkataan itu diucapkan dengan nada yang ringan, justru suaranya amat parau dan seperti orang yang sedang menjerit.

Akhirnya A-kit telah memalingkan wajahnya, tapi begitu kepalanya berpaling, air mukanya segera berubah hebat.

Yang sedang berdiri dihadapannya tak lebih hanya seorang kakek berambut putih, sesungguhnya tiada sesuatu yang aneh atau istimewa, atau menyeramkan hati orang.

Tapi rasa kejut yang memancar keluar dari mimik wajahnya sekarang jauh lebih hebat daripada rasa kagetnya ketika bertemu dengan makhluk aneh yang menyeramkan.

Mao Toa sianseng kembali tertawa, suara tertawanya kedengaran jauh lebih aneh lagi. "Coba lihatlah, bukankah aku sudah banyak berubah?", katanya.

A-kit ingin menjawab, tapi tak sepotong suarapun yang keluar dari tenggorokannya.

"Andaikata kita saling berjumpa di tengah jalan secara tidak sengaja, aku rasa belum tentu kau dapat mengenali diriku", kata Mao Toa sianseng.

Tiba-tiba ia berpaling dan bertanya kepada Toa-tauke:

"Bukankah kau sedang keheranan, karena ia bisa begitu terperanjat ketika bertemu denganku barusan?"

Terpaksa Toa-tauke hanya mengangguk, ia tidak habis mengerti hubungan apakah yang sesungguhnya terjalin di antara mereka berdua? Mao Toa sianseng kembali bertanya:

"Coba kau lihatlah dia, berapa kira-kira usianya tahun ini. ?"

Toa-tauke memperhatikan A-kit sekejap, kemudian dengan agak ragu menjawab: "Paling tidak baru berusia dua puluh tahunan, belum mencapai tiga puluh tahun!" "Dan aku?"

Toa-tauke memperhatikan pula rambutnya yang telah beruban serta wajahnya yang penuh keriput, meskipun dalam hati kecilnya ingin menyebut beberapa tahun lebih muda, toh tak dapat menyebutnya terlalu sedikit.

"Bukankah kau melihat usiaku paling tidak sudah mencapai enam puluh tahunan?", kata Mao Toa- sianseng tiba-tiba.

"Sekalipun kau sudah berusia enam puluh tahunan, tapi kelihatannya masih berusia sekitar lima puluh tiga-empat tahunan", buru-buru Toa-tauke menambahkan.

Mendadak Mao Toa-sianseng tertawa terbahak-bahak, seakan-akan belum pernah mendengar cerita lelucon yang selucu itu, tapi dibalik suara tertawanya itu justru sama sekali tidak membawa nada tertawa, bahkan jauh lebih mirip orang yang sedang menangis.

Toa-tauke memperhatikan dirinya sekejap, lalu memperhatikan pula diri A-kit, katanya: "Apakah tebakanku keliru besar?"

Akhirnya A-kit menghembuskan napas panjang, katanya:

"Aku termasuk shio macan, tahun ini berusia tiga puluh dua tahun!" "Dan dia?"

"Ia lebih tua tiga tahun daripada diriku!"

Dengan rasa kaget Toa-tauke memperhatikannya, siapapun tak akan percaya kalau orang yang berwajah penuh keriput dan berambut putih itu baru berusia tiga puluh lima tahun.

"Kenapa secepat itu ia berubah menjadi setua ini?" "Karena dendam sakit hati!"

Dendam sakit hati yang terlalu dalam, seperti juga kesedihan yang kelewat batas, selalu membuat proses ketuaan seseorang berlangsung jauh lebih cepat daripada siapapun.

Toa-tauke memahami juga teori tersebut, tapi tak tahan kembali ia bertanya: "Siapa yang ia benci?"

"Akulah yang ia benci!"

"Kenapa ia sangat membenci dirimu?", tanya Toa tauke sambil menarik napas panjang-panjang untuk melegakan dadanya yang sesak. "Karena aku telah melarikan calon istrinya yang bakal dinikahi!"

Paras muka A-kit kembali berubah menjadi tawar tanpa emosi, dengan hambar ia melanjutkan:

"Waktu itu sesungguhnya aku berangkat ke rumahnya dengan tujuan untuk menyampaikan selamat kepadanya, tapi justru pada malam kedua setelah mereka tukar cincin, kubawa kabur bakal bininya!"

"Karena kaupun mencintai perempuan itu?", tanya Toa-tauke.

A-kit tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, tapi berkata lagi dengan suara dingin:

"Setengah bulan kemudian setelah kubawa kabur bakal bininya itu, akupun kembali meninggalkannya!"

"Kenapa kau harus melakukan perbuatan semacam ini?" "Karena aku senang!"

"Jadi asal kau senang, maka perbuatan macam apapun akan ku lakukan. ?"

"Benar!"

Sekali lagi Toa-tauke menghembuskan napas panjang. "Aaaaiii. sekarang aku jadi paham sekali!"

"Apa yang kau pahami?"

"Barusan ia tidak membunuhmu karena dia tidak ingin kau mati terlalu cepat, dia ingin  membuatmu seperti dirinya merasakan penderitaan batin yang hebat dan mati secara pelan-pelan"

Mendadak Mao Toa-sianseng menghentikan gelak tertawanya, lalu meraung keras: "Kentut busuk makmu!"

Toa-tauke tertegun.

Tampaklah Mao Toa-sianseng sedang mengepal sepasang tinjunya kencang-kencang, dengan pandangan mata tak berkedip ditatapnya A-kit tajam-tajam, kemudian sepatah demi sepatah kata dia berkata:

"Aku harus membuatmu dapat melihat diriku, sebab aku harus membuatmu memahami akan satu persoalan"

A-kit sedang memperhatikan dengan seksama.

"Yang kubenci bukan dirimu melainkan diriku sendiri", kata Mao Toa-sianseng, "sebab itu aku baru menyiksa diriku sendiri sehingga berubah menjadi begini rupa!"

A-kit termenung sejenak, akhirnya pelan-pelan dia mengangguk. "Ya, aku mengerti!"

"Kau benar-benar sudah mengerti?" "Ya, aku benar-benar sudah mengerti!" "Kau dapat memaafkan diriku?"

"Aku. aku sudah memaafkan dirimu semenjak dahulu!"

Mao Toa-sianseng menghembuskan napas panjang seakan-akan ia telah melepaskan suatu beban yang beribu-ribu kati beratnya dari atas bahunya.

Kemudian ia menjatuhkan diri berlutut, berlutut di hadapan A-kit sembari bergumam: "Terima kasih banyak, terima kasih banyak. "

Ciu Ji sianseng selama ini hanya memandang ke arahnya dengan wajah terkejut, tapi sekarang ia tak dapat mengendalikan diri lagi, segera bentaknya dengan gusar:

"Ia telah melarikan binimu, kemudian meninggalkannya pula, tapi sekarang kau malah minta maaf kepadanya, kau malah minta kepadanya untuk memaafkan dirimu, kau.....kau. kenapa kau tidak

membiarkan aku untuk membunuhnya?"

Tadi pedangnya sudah bergerak, ia sudah mempunyai kesempatan untuk turun tangan, ia dapat melihat bahwa perhatian A-kit sudah mulai dipecahkan oleh pembicaraannya, tapi ia tak menyangka kalau sahabatnya malahan turun tangan menyelamatkan A-kit.

Mao Toa-sianseng menghela napas panjang.

"Aaai. kau mengira aku betul-betul sedang menolongnya barusan?", ia bertanya.

"Memangnya bukan?", teriak Ciu Ji sianseng marah.

~Bersambung ke Jilid-11 Jilid-11

"Sesungguhnya bukan dia yang kutolong, tapi kaulah! Kau harus tahu, seandainya tusukan tadi kau lakukan juga, maka yang tewas bukan dia melainkan dirimu!"

Setelah tertawa getir ia melanjutkan:

"Sekalipun aku terhitung seorang yang lupa budi, serangan kita lancarkan bersamapun belum tentu dapat melukai dirinya barang seujung rambutpun!"

Kini kegusaran yang membakar Ciu Ji Sianseng telah berubah menjadi rasa kaget dan tercengang.

Ia tahu sahabatnya ini bukan seseorang yang gemar berbohong, tapi tak tahan ia bertanya juga:

"Serangan gabungan kita tadi hakekatnya sudah merupakan suatu serangan yang tiada taranya, masa ia sanggup untuk mematahkannya?"

"Ya, ia bisa!"

Rasa hormat dan kagum segera menyelimuti wajahnya, ia melanjutkan: "Dalam dunia dewasa ini hanya dia seorang yang dapat melakukannya, hanya satu cara yang bisa dipergunakannya!"

"Kau maksudkan Thian-tee-ki-hun (Langit dan bumi musnah bersama). ?", seru Ciu Ji Sianseng

dengan paras muka berubah.

"Betul, bumi hancur langit goncang, langit dan bumi akan musnah bersama!" "Apakah dia adalah orang itu?", jerit Ciu Ji sianseng terkesiap.

"Dialah orangnya!"

Dengan sempoyongan Ciu Ji sianseng mundur beberapa langkah, seakan-akan ia sudah tak sanggup untuk berdiri tegak lagi.

"Selama hidup aku hanya pernah melakukan suatu perbuatan berdosa yang tak terampuni", kata Mao Toa sianseng selanjutnya, "andaikata tiada seseorang yang merahasiakan kejadian tersebut, sejak semula aku sudah mati tanpa tempat kubur"

"Dia pula orangnya!" "Benar!"

Pelan-pelan dia melanjutkan:

"Peristiwa itu sudah terjadi banyak tahun berselang, selama beberapa tahun ini akupun pernah bertemu dengannya, tapi ia selalu tak memberi kesempatan bagiku untuk berbicara, belum pernah ia mendengarkan sepatah kataku hingga selesai, sekarang. "

Sekarang bagaimana? Perkataan inipun tidak berkelanjutan.

Tiba-tiba sekilas cahaya tajam tanpa menimbulkan suara apapun menyambar datang, tahu-tahu sebatang kutungan pisau sepanjang tiga depa telah menancap pada punggungnya.

Darah segar berhamburan kemana-mana ketika tubuh Mao Toa sianseng sedang roboh ke tanah. Tiok Yap-cing seakan-akan sedang tertawa. Tapi bukan dia yang melancarkan serangan itu.

Orang yang melancarkan serangan sama sekali tidak tertawa, padahal di hari-hari biasa pemuda itu selalu memperlihatkan sekulum senyumannya yang manis dan menawan hati, tapi sekarang ia sama sekali tidak tertawa.

Menyaksikan ia melancarkan serangannya, Toa-tauke tampak amat terperanjat. A-kit ikut terperanjat.

Ciu Ji Sianseng bukan cuma terkejut bahkan gusar sekali, dengan suara keras ia membentak: "Siapakah orang ini?"

"Aku bernama Siau Te!", pemuda itu menjawab. Pelan-pelan ia maju ke depan, lalu berkata lebih jauh: "Aku tidak lebih hanya seorang bocah cilik yang tidak punya nama dan tak ada gunanya. Tidak seperti kalian jago-jago kenamaan, jago pedang ternama dan orang gagah yang disegani tiap manusia. Tentu saja manusia-manusia ternama macam kalian tak akan membunuh diriku!"

"Barang siapa membunuh orang, maka terlepas siapakah dia, hukumannya adalah sama saja!", kata Ciu Ji Sianseng dengan gusar.

Ia mengambil kembali pedangnya yang tergeletak di tanah.

Paras muka Siau Te sama sekali tidak berubah, katanya tiba-tiba:

"Hanya aku seorang yang berbeda, aku tahu pasti kau tak akan membunuhku!" Ciu Ji Sianseng telah menggenggam pedangnya, tapi tak tahan ia bertanya juga: "Kenapa?"

"Sebab begitu kau turun tangan, maka pasti ada orang yang akan mewakiliku untuk membunuhmu!"

Sambil berkata, tiba-tiba ia memandang ke arah A-kit dengan sinar mata yang sangat aneh. "Siapa yang akan mewakilimu untuk membunuhnya?", tak tahan A-kit bertanya.

"Tentu saja kau!"

"Kenapa aku musti membantumu untuk membunuhnya?"

"Sebab walaupun aku tak punya nama dan tak berguna, tapi aku justru mempunyai seorang ibu yang baik sekali, apalagi kaupun kenal sekali dengannya!"

Paras muka A-kit segera berubah. "Apakah ibumu adalah........adalah "

Tiba-tiba saja suaranya menjadi parau dan ia tak mampu mengucapkan nama tersebut, nama yang ia selalu berusaha untuk melupakannya tapi tak akan terlupakan untuk selamanya.

Siau Te segera membantunya untuk melanjutkan perkataan itu:

"Ibuku tak lain adalah Toa siocia dari keluarga Buyung di wilayah Kanglam, yaitu Siau sumoay dari Mao Toa sianseng. "

Dengan senyuman di kulum, Tiok Yap-cing segera melanjutkan pula perkataan itu: "Adapun nama besar dari Toa-siocia ini tak lain adalah Buyung Ciu-ti. !"

Sepasang tangan A-kit telah menjadi dingin dan kaku, demikian dinginnya hingga merasuk ke tulang sumsum.

Siau Te memandang sekejap ke arahnya kemudian berkata lagi dengan nada hambar: "Berulangkali ibuku telah berpesan, barang siapa berani berbicara sembarangan di tempat luaran sehingga merusak nama baik dari keluarga persilatan Buyung, sekalipun aku tidak membunuhnya, dan kaupun pasti tak akan menyanggupinya, apalagi Mao Toa sianseng ini pada dasarnya adalah anggota perguruan keluarga Buyung, maka aku berbuat demikian sesungguhnya tak lebih hanya membantu ibuku untuk membersihkan perguruan dari anasir-anasir jahat"

A-kit mengepal sepasang tangannya kencang-kencang, kemudian bertanya: "Sedari kapan ibumu memegang tampuk pimpinan keluarga Buyung?"

"Oh, masih belum begitu lama!"

"Kenapa ia tidak menahanmu di sampingnya?" Siau Te menghela napas panjang, katanya:

"Karena aku tak lebih hanya seorang bocah yang malu diketahui orang, pada hakekatnya aku tidak pantas untuk masuk menjadi anggota keluarga Buyung, karenanya aku harus ikut orang lain dan menjadi seorang manusia gelandangan yang tak ada harganya!"

Paras muka A-kit sekali lagi berubah hebat, sorot matanya penuh memancarkan rasa sedih dan penderitaan. Lewat lama sekali ia baru bertanya pelan:

"Berapa umurmu tahun ini?"

"Tahun ini aku baru berusia lima belas tahun!"

Sekali lagi Toa-tauke merasa terkejut, siapapun tak akan menyangka kalau pemuda yang berada dihadapannya ini sebenarnya tak lebih hanya seorang bocah yang baru berusia lima belas tahun.

"Aku tahu orang lain pasti tak akan mengira kalau tahun ini aku baru berusia lima belas tahun, seperti juga orang lain tak akan tahu kalau tahun ini Mao Toa sianseng sebenarnya baru berusia tiga puluh lima tahun!", demikian Siau Te berkata.

Tiba-tiba ia tertawa, suara tertawanya begitu memedihkan hati, ia melanjutkan:

"Hal ini mungkin dikarenakan penghidupanku selama ini jauh lebih menderita daripada anak-anak lainnya, karena itu pertumbuhankupun jauh lebih cepat daripada pertumbuhan orang lain!"

Pengalaman yang penuh penderitaan memang merupakan faktor terpenting bagi kematangan yang lebih awal bagi sementara anak.

Ciu Ji sianseng memandang sekejap ke arahnya, lalu memandang pula ke arah A-kit, tiba-tiba sambil mendepakkan kakinya berulang kali ke tanah, ia membopong jenazah sahabatnya dan tanpa berpaling lagi pergi meninggalkan tempat itu.

Toa-tauke tahu bila dia pergi dari situ maka mau tak mau diapun harus ikut angkat kaki dari sana, tak tahan segera teriaknya:

"Ciu Ji sianseng, harap berhenti dulu!" Dengan dingin Siau Te berkata: "Ia sadar bahwa dalam kehidupannya kali ini sudah tiada harapan untuk membalas dendam lagi, kalau tidak pergi dari sini, mau apa berdiam terus di tempat ini?"

Perkataan itu sangat menyinggung perasaan orang, seringkali kaum pria dunia persilatan akan beradu jiwa lantaran perkataan tersebut.

Tapi sekarang, sekalipun Ciu Ji sianseng mendengarnya dengan jelas, diapun akan berpura-pura tidak mendengar, sebab apa yang diucapkan olehnya memang merupakan suatu kenyataan yang tak mungkin dibantahnya lagi.

Oleh sebab itu dia tak mengira kalau Ciu Ji sianseng akan balik kembali ke dalam ruangan itu.

Baru saja ke luar dari pintu gerbang, ia telah mundur kembali ke dalam ruangan, bahkan mundur dengan selangkah demi selangkah, wajahnya yang pucat membawa suatu perubahan wajah yang aneh, jelas bukan rasa sedih atau marah, melainkan rasa kejut dan takut.

Ia sudah tak termasuk pemuda yang berdarah panas lagi, diapun bukan seseorang yang tak tahu berat entengnya persoalan.

Tidak seharusnya ia mundur kembali ke dalam ruangan, kecuali hanya itulah satu-satunya jalan yang dapat ditempuh olehnya.

Siau Te segera menghela napas panjang, gumamnya:

"Sebetulnya aku mengira dia adalah seorang manusia yang pintar, tapi kenapa justeru mencari penyakit buat dirinya sendiri?"

"Sebab ia sudah tiada jalan lain kecuali berbuat demikian!", seseorang mendadak menyambung dari luar pintu dengan suara dingin.

Suara itu sebenarnya masih berada di tempat yang amat jauh, tapi tahu-tahu di luar halaman kedengaran suara detakan nyaring dan suara itu sudah muncul dari luar pintu.

Menyusul suara detakan tadi, orang itupun sudah masuk ke dalam ruangan, dia adalah seorang manusia cacat yang aneh sekali, kaki kanannya sudah kutung dan diganti dengan kaki kayu, sebuah codet besar berada di mata sebelah kirinya sehingga tampak tulangnya yang berwarna putih.

Biasanya orang cacat semacam ini tampangnya pasti jelek dan menyeramkan, tapi orang ini ternyata di luar kebiasaan tersebut.

Bukan saja dandanannya rajin dan perlente, bahkan ia terhitung seorang laki-laki yang mempunyai daya pikat yang amat besar, malahan codet di mata kirinya itu justru memperbesar daya pikat kelaki-lakiannya.

Dalam ruangan itu terdapat orang-orang yang masih hidup, ada pula orang-orang yang sudah mati, tapi ia seperti tidak melihatnya sama sekali, begitu masuk ke dalam ruangan segera tegurnya dengan dingin:

"Siapakah tuan rumah tempat ini?"

Toa-tauke memandang sekejap ke arah A-kit, lalu memandang ke arah Tiok Yap-cing, akhirnya sambil tertawa paksa menjawab:

"Sekarang agaknya masih aku!" Manusia cacat itu memutar biji matanya lalu berkata dengan angkuh:

"Ada tamu dari jauh yang berkunjung kemari, kenapa sebuah kursipun tidak tersedia? Apakah kau tidak merasa bahwa tindakanmu sedikit kurang sopan?"

Ketika Toa-tauke masih ragu-ragu, sambil tertawa paksa Tiok Yap-cing telah mengangkat kusir sambil bertanya:

"Siapakah nama saudara?"

Manusia cacat itu sama sekali tidak memperdulikannya, dia hnaya menunjukkan ke empat buah jari tangannya.

"Oooohhh. maksud tuan masih ada tiga orang sahabat lagi yang akan datang kemari?", tanya

Tiok Yap-cing masih tetap tertawa. "Ehmmm!"

Tiok Yap-cing segera mempersiapkan tiga buah bangku lagi, baru saja ia menjajarkannya menjadi satu, dari tengah udara telah melayang turun kembali dua sosok bayangan manusia.

Bukan saja gerakan tubuhnya enteng seperti daun kering yang rontok ke tanah, wajahnyapun kurus kering tak berdaging, pinggangnya menyoren sebuah bambu yang panjangnya tiga depa, potongan badannyapun ceking sekali macam sebatang bambu.

Tapi pakaian yang dikenakan perlente sekali, sikapnyapun sangat angkuh, terhadap manusia- manusia hidup dan mati yang berada dalam ruangan, ia memandangnya bagaikan orang mati semua.

Seorang yang lain justru merupakan kebalikannya, dia adalah seorang laki-laki gemuk yang selalu tersenyum. Pada jari-jari tangannya yang putih dan gemuk mengenakan tiga buah cincin yang berbatu sangat indah, nilainya tak terkirakan. Kukunya tajam dan panjang sehingga kelihatannya seperti tangan seorang nyonya kaya.

Sepasang tangan seperti ini sudah tentu paling tidak cocok untuk menggunakan pedang, manusia semacam inipun tidak mirip seorang ahli dalam ilmu meringankan tubuh.

Tapi kalau ditinjau dari caranya sewaktu melayang turun dari tengah udara tadi, sudah pasti ilmu meringankan tubuhnya sama sekali tidak lebih lemah daripada kakek ceking macam bambu itu.

Menyaksikan kehadiran ke tiga orang itu, paras muka Ciu Ji sianseng telah berubah menjadi pucat kelabu.

Mendadak dari luar pintu kedengaran pula seseorang yang berbatuk tiada hentinya, sambil berbatuk-batuk pelan-pelan orang itu berjalan masuk ke dalam ruangan.

Dia adalah seorang hweesio tua yang berwajah penyakitan, bajunya compang-camping dan punggungnya bungkuk.

Menjumpai kehadiran hweesio tua itu, paras muka Ciu Ji sianseng semakin memucat. Setelah tertawa sedih, katanya:

"Bagus, bagus sekali, sungguh tak kusangka kaupun telah datang kemari!" Hweesio tua itu menghela napas panjang.

"Aaaai. kalau aku tidak datang, siapa yang akan datang? Kalau aku tidak masuk ke neraka,

siapa pula yang akan masuk ke neraka?"

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut suaranya lemah tak bertenaga, bukan saja seperti orang penyakitan bahkan mirip sekali dengan seseorang yang sudah lama menderita sakit, bahkan sakitnya parah sekali!.

Akan tetapi siapapun yang ada dalam ruangan itu sekarang, pasti tahu bahwa dia adalah seseorang yang mempunyai asal-usul serta kedudukan yang luar biasa.

Tentu saja Toa-tauke pun mempunyai pandangan demikian, ia telah mengetahui bahwa hweesio tersebut kemungkinan besar adalah satu-satunya bintang penolong yang bisa diharapkan.

Bagaimanapun juga seorang pendeta pasti mempunyai hati yang penuh welas asih, dia tak akan membiarkan seseorang menderita tanpa berusaha untuk menolongnya.

Maka dengan penuh rasa hormat, Toa Tauke segera bangkit berdiri, kemudian sambil tertawa paksa katanya:

"Untung saja tempat ini bukan neraka, kalau taysu sudah sampai di sini, maka kau tidak akan merasakan pelbagai penderitaan lagi!"

Hweesio tua itu kembali menghela napas panjang.

"Aaaai. tempat ini kalau bukan neraka, lantas tempat manakah yang disebut neraka? Kalau aku

tidak menderita, siapa pula yang akan menderita ?"

Sekali lagi Toa-tauke tertawa paksa.

"Setelah berada di sini, taysu akan menderita apa lagi?", katanya.

"Menaklukkan iblis juga penderitaan, membunuh orangpun merupakan penderitaan!" "Aaaah. taysu juga membunuh orang?"

"Kalau aku tidak membunuh orang, siapa yang akan membunuh orang? Kalau aku tidak membunuh orang, kenapa bisa masuk neraka?"

Toa-tauke tak sanggup mengucapkan kata-katanya lagi. Tiba-tiba manusia cacat itu bertanya:

"Kau tahu siapa aku?"

Toa tauke menggelengkan kepalanya.

Barang siapapun di dunia ini apabila ia sudah menjadi Toa-tauke seperti dia, orang yang dikenal pasti tak akan terlalu banyak.

Manusia cacat itu kembali bertanya: "Kau harus tahu siapakah aku ini, berapa banyakkah manusia di dunia ini yang mempunyai mata sebuah, tangan sebuah dan kaki sebuah macam aku, tapi bisa mempergunakan sepasang pedang!"

Ia bukan terlampau menyombongkan diri, sebab manusia semacam dia mungkin tak akan ditemukan keduanya dalam dunia persilatan dewasa ini.

Satu-satunya orang yang mempunyai ciri semacam dia tak lain adalah jago pedang ketiga dari sepuluh jago pedang wilayah Kanglam yang disebut orang sebagai Yan-cu-siang-hui (Si walet yang terbang bersama) Tam Ci-hui.

Tentu saja Toa-tauke pun mengetahui tentang orang ini, maka ia segera bertanya: "Kau adalah Tam tayhiap?"

"Betul!", jawab manusia cacat itu dengan angkuh, "aku adalah Tam Ci-hui, akupun datang untuk membunuh orang!"

"Masih ada aku Liu Kok-tiok", kakek ceking itu segera menambahkan dengan cepat.

Kok-tiok-kiam termasuk juga salah seorang jago pedang dari wilayah Kanglam. Ia merupakan salah seorang dari sepuluh jago pedang wilayah Kanglam, tujuh orang rekannya telah tewas di ujung pedang Ciu Ji sianseng.

Dengan dingin Tam Ci-hui berkata:

"Siapakah orang yang hendak kami bunuh hari ini, rasanya sekalipun tidak kuucapkan kaupun sudah tahu!"

Toa tauke segera menghembuskan napas panjang, katanya sambil tertawa paksa: "Untungnya saja kedatangan kalian kemari bukan untuk membunuh diriku. !"

"Tentu saja bukan kau!"

Belum habis perkataannya itu, tubuhnya sudah melompat ke tengah udara, pedangnya diloloskan dari sarung dan diantara kilatan cahaya ia langsung menusuk ke arah Ciu Ji sianseng.

Ciu Ji sianseng memungut kembali pedangnya dan mengayunkan senjata tersebut untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.

"Traaaang. !", sepasang pedang saling membentur satu sama lainnya, tiba-tiba cahaya pedang

tersebut berubah arah dan meluncur ke arah tubuh Toa-tauke.

Belum lenyap senyuman di ujung bibir Toa-tauke, kedua belah pedang itu sudah menembus tenggorokan serta jantungnya.

Tak seorangpun yang menduga bakal terjadi perubahan tersebut, juga tak seorangpun yang menghalanginya.

Sebab di kala sepasang pedang itu saling membentur satu sama lainnya, Tiok Yap-cing telah dirobohkan oleh hweesio tua itu.

Pada saat yang bersamaan pula, Kok-tiok-kiam serta si gemuk berusia setengah umur yang selalu tersenyum itu telah tiba di samping Siau Te. Pedang Kok-tiok-kiam belum sampai diloloskan dari sarungnya, dengan gagang pedangnya ia sudah menumbuk iga kiri Siau Te.

Siau Te ingin menyusup ke depan, tapi pedang Ciu Ji Sianseng dan Tam Ci-hui kebetulan sedang meluncur datang dari hadapannya.

Terpaksa dia harus berkelit ke samping kanan, sebuah tangan lembut seperti tangan nyonya kaya telah menunggu di sana, tiba-tiba kukunya yang lembut itu meluncur ke depan, sepuluh buah kuku tajam bagaikan sepuluh pedang pendek yang tajam tahu-tahu sudah tiba di tenggorokan serta alis matanya.

Sekarang ia sudah tak sanggup untuk menyelamatkan diri lagi, tampaknya ia akan segera tewas di ujung kuku tajam itu.

Tapi A-kit tak dapat membiarkan ia mati, yaa, tak dapat!.

Baru saja pedang panjang milik Kok-tiok-kiam diloloskan dari sarungnya, mendadak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dari hadapannya, tahu-tahu pedang itu sudah berpindah tangan, kemudian cahaya pedang kembali berkelebat lewat, mata pedang tahu-tahu sudah menempel di tenggorokannya.

Mata pedang itu tidak ditusukkan lebih lanjut, sebab kuku dari laki-laki gemuk berusia setengah umur itupun tidak melanjutkan tusukannya.

Gerakan dari setiap orang telah terhenti, setiap orang sedang memperhatikan pedang di tangan A- kit.

Sebaliknya A-kit sedang memperhatikan kesepuluh buah kuku yang lebih tajam dari pedang itu.

Waktu yang teramat singkat itu dirasakan seperti setahun lamanya, akhirnya hweesio tua itu menghela napas panjang.

"Sungguh cepat amat gerakan tangan saudara!", katanya. "Akupun bisa membunuh orang!", kata A-kit.

"Tapi apa hubungannya antara persoalan ini dengan dirimu?" "Sama sekali tak ada!"

"Kalau memang begitu, kenapa mesti mencampuri urusan ini?" "Sebab orang itu justru mempunyai sedikit hubungan dengan diriku!"

Hweesio tua itu memandang sekejap ke arah Siau Te, lalu memandang pula tangan nyonya kaya itu, akhirnya dia menghela napas panjang.

"Aaaai. seandainya kau bersikeras hendak menolongnya, aku kuatir hal ini akan sulit sekali"

"Kenapa?"

"Karena tangan itu!" Pelan-pelan ia melanjutkan kembali kata-katanya:

"Karena tangan tersebut adalah tangan Siu-hun-jiu (Tangan perenggut nyawa) dari Hok-kui-sin- sian (Dewa rejeki dan kemuliaan) yang bisa menutul besi menjadi emas, menutul kehidupan menjadi kematian. Sekalipun kau membunuh Liu Kok-tiok, sicu muda itupun pasti akan mati!"

"Apakah kalian tidak sayang mempergunakan nyawa dari Liu Kok-tiok untuk ditukar dengan selembar jiwanya?"

Setiap orang memperhatikan pedang yang berada di tangan A-kit itu. "Benar!", ternyata jawaban dari hweesio tua itu cukup singkat tapi jelas. Paras muka A-kit segera berubah.

"Ia tak lebih hanya seorang bocah, kenapa kalian harus membinasakannya. !", ia bertanya.

Tiba-tiba hweesio tua itu tertawa dingin.

"Dia hanya seorang bocah?", ejeknya, "dia tak lebih hanya seorang bocah? Aku rasa tidak terlalu banyak bocah semacam dia di dunia ini"

"Tahun ini usianya belum mencapai lima belas tahun!", kembali A-kit berkata.

"Hmmm. ! Kalau begitu kami tak akan membiarkan dia untuk hidup sampai usia enam belas

tahun!" "Kenapa?"

Hweesio tua tidak menjawab, sebaliknya malah balik bertanya:

"Tahukah kau tentang Thian-cun?" "Thian-cun?"

Hweesio tua kembali menghela napas, pelan-pelan ia mengucapkan delapan bait syair: "Langit bumi tidak berperasaan.

Setan dan malaikat tidak bermata.

Segala benda dan makhluk di dunia tak berdaya. Mati dan hidup tidak berbeda.

Rejeki dan bencana tidak berpintu. Langit dan bumi,

alam semesta dan alam baka, hanyalah aku yang dipertuan."

"Siapakah yang berkata begini? Sungguh besar amat lagaknya!", seru A-kit sambil berkerut kening. "Itulah bait syair yang diucapkan ketika perguruan Thian-cun dibuka secara resmi, bahkan langit dan bumi, setan dan malaikatpun tidak ia pandang sebelah matapun, apalagi hanya manusia. Apa yang mereka perbuat bisa kau bayangkan sendiri"

"Benar!", sambung Ciu Ji sianseng, "daya pengaruh mereka sedemikian luasnya sehingga sama sekali tidak berada di bawah perkumpulan Cing-liong-hwe di masa lalu, sayangnya dalam dunia persilatan justru masih terdapat kami beberapa orang yang masih percaya dengan tahayul dan apa mau dibilang justru kamilah yang selalu diincar"

"Oleh karena itulah dendam pribadi antara sepuluh jago pedang dari Kanglam dengan Ciu Ji sianseng sudah berubah menjadi tak seberapa lagi", lanjut Tam Ci-hui, "asal dapat melenyapkan pengaruh jahat mereka, sekalipun batok kepala sendiripun aku orang she Tam rela berkorban, apalagi hanya sedikit dendam pribadi"

"Perkumpulan yang mengkoordinir pengaruh jahat di tempat ini tak lain adalah sebagian dari kekuasaan di bawah pimpinan Thian-cun", kata Ciu Ji sianseng.

"Untuk sementara waktu kami masih belum sanggup untuk melenyapkan mereka ke akar-akarnya karena itu terpaksa harus kami kerjakan dari cabang-cabangnya yang terkecil!", hweesio tua itu menambahkan.

"Bocah yang hendak kau tolong itu adalah orang yang dikirim dari pihak Thian-cun!"

"Perintah dari Thian-cun selamanya diturunkan lewat dirinya, ialah yang secara diam-diam mengendalikan semua keadaan di sini, Toa-tauke maupun Tiok Yap-cing tidak lebih hanya boneka-boneka di bawah perintahnya. !"

Hweesio tua itu berhenti sebentar, kemudian pelan-pelan melanjutkan lebih jauh:

"Sekarang tentunya kau sudah mengerti bukan, kenapa kami tak dapat melepaskannya dengan begitu saja?"

Paras muka A-kit pucat pias seperti mayat, dengan nama besar serta kedudukan sepuluh jago pedang dari wilayah Kanglam, sudah barang tentu mereka tak akan mencelakai seseorang bocah tanpa alasan yang kuat, apa yang mereka ucapkan mau tak mau harus dipercaya juga.

"Sekarang setelah kau mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, apakah kau masih ingin menyelamatkan jiwanya?", hweesio tua itu bertanya lagi.

"Benar!", jawab A-kit.

Paras muka Hweesio tua itu segera berubah hebat. Tidak menunggu ia buka suara, A-kit telah bertanya lagi: "Apakah dia adalah pemimpin dari Thian-cun itu?" "Tentu saja bukan!"

"Siapakah pemimpin dari Thian-cun?"

"Pemimpin dari Thian-cun, tentu saja bernama Thian-cun!" "Andaikata ada seseorang ingin mempergunakan selembar nyawanya untuk ditukar dengan nyawa bocah ini, bersediakah kalian menerimanya?"

"Tentu saja bersedia, cuma sayang sekalipun kami bersedia, barter ini sudah pasti tidak akan bisa berlangsung sebagaimana mestinya. "

"Kenapa?"

"Sebab tak ada orang yang bisa membunuh Thian-cun, tak ada orang yang bisa menandinginya!"

Tiba-tiba suaranya terhenti di tengah jalan, dengan menampilkan suatu mimik wajah yang sangat aneh, ia seperti melayangkan pikirannya ke tempat yang jauh, lewat lama sekali, pelan-pelan ia baru menambahkan:

"Mungkin ada seseorang yang sanggup melakukannya!" "Siapa?"

"Sam. "

Dia hanya mengucapkan sepatah kata, lalu berhenti lagi, setelah menghela napas panjang terusnya:

"Sayang orang ini sudah tiada lagi di dunia ini, sehingga sekalipun dibicarakan juga tak berguna" "Tapi apa salahnya kalau kau katakan kembali?"

Sorot mata hweesio itu seakan-akan sedang memandang kejauhan lagi, kemudian gumamnya:

"Di atas langit di bawah bumi hanya ada dia seorang dengan sebilah pedangnya yang tiada keduanya di dunia ini, hanya ilmu pedangnya baru betul-betul terhitung ilmu pedang yang tiada tandingannya di dunia ini!"

"Kau maksudkan. "

"Yang kumaksudkan adalah Sam sauya!" "Sam sauya yang mana?"

"Sam sauya dari lembah Cui-hui-kok, telaga Liok-sui-oh, perkampungan Sin-kiam-san-ceng, Sam sauya dari keluarga Cia, Cia Siau-hong adanya!"

Tiba-tiba wajah A-kit menunjukkan mimik wajah yang sangat aneh, seakan-akan pikiran dan perasaannya sedang berada pula di tempat yang amat jauh.

Lama, lama sekali, sepatah demi sepatah kata ia baru menjawab: "Akulah Cia Siau-hong!"

Di atas langit di bawah bumi hanya ada seorang manusia yang bernama Cia Siau-hong. Bukan saja dia adalah seorang jago pedang yang tiada tandingannya di kolong langit, diapun seorang manusia yang berbakat, semenjak dilahirkan, ia telah mendapatkan segala kasih sayang dan segala keberhasilan, tak seorang manusiapun yang dapat menandinginya.

Ia cerdik lagi tampan, tubuhnya sehat dan badannya tinggi kekar, sekalipun orang yang membenci dirinya, memusuhi dirinya dan mempunyai dendam sakit hati sedalam lautan dengannya, mau tak mau mengagumi juga kehebatannya itu.

Perduli siapapun orang itu, semuanya tahu bahwa Cia Siau-hong adalah manusia semacam itu, tapi siapa pula yang benar-benar dapat memahami dirinya.

Siapa pula yang betul-betul bisa menyelami perasaannya dan mengenali kepribadiannya? ooooOOOOoooo
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).