Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 11. Pembunuh Hitam

Bab 11. Pembunuh Hitam

Tempat itu bukan pantai pohon Yang-liu, di sanapun tiada hembusan angin atau rembulan di angkasa.

A-kit sendiripun belum mabuk.

Semalam, hampir saja dia mabuk, untungnya ia tak sampai mabuk lupa daratan.

Ia telah mengunjungi banyak warung penjual arak, diapun banyak kali ingin berhenti membeli arak dan minum sampai mabuk, tapi ia tak mampu mengendalikan diri.

Hingga tengah malam tiba, ia benar-benar sudah tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, maka diapun pergi mencari Biau-cu dan gadis menamakan diri si Boneka itu.

Ia percaya pada waktu ia menemukan mereka, kedua orang itu pasti sudah selamat dan aman tenteram.

Karena walaupun Toa-gou bukan seorang yang benar-benar bisa dipercaya, tapi rumah tangganya betul-betul adalah sebuah rumah tangga yang benar dan bahagia.

Begitu wajar, begitu biasa dan amat tenteram.

Dalam keluarga semacam ini, tak mungkin ada orang yang akan berkunjung lagi di tengah malam buta, seharusnya mereka sudah tidur semua.

Maka dalam keadaan demikian, secara diam-diam ia dapat menyusup masuk ke dalam, pergi menggenggam tangan Biau-cu, memperhatikan sepasang mata si Boneka. Sekalipun tindakannya itu akan mengejutkan istri Toa-gou, dia pun bisa minta maaf kepadanya sebelum ngeloyor pergi meninggalkan tempat itu.

Ia pernah berjumpa dengan istrinya Toa-gou, dia adalah seorang perempuan yang sederhana jujur, asal suaminya dan anak-anaknya bisa hidup dengan baik, ia sudah merasa amat puas sekali.

Keluarga mereka adalah di bimbing dan dibangun dari keharmonisan keluarga, kehematan mereka menabung, serta sepasang tangan yang pandai jahit menjahit itu.

Rumah itu adalah sebuah rumah kecil yang sederhana, terdiri dari tiga buah ruangan dengan sebuah ruang tengah, kamar paling kecil dipakai untuk dayangnya, dia dan suaminya serta anak yang paling bungsu menempati kamar paling besar, sedang sebuah kamar lainnya dipakai oleh putra sulung serta putrinya.

Tahun ini putra sulungnya baru sebelas tahun.

A-kit pernah berkunjung satu kali ke rumah mereka yaitu ketika menghantar si Boneka dan Biau-cu ke situ. Ia pernah pula menyaksikan kehidupan keluarga mereka, bukan saja perasaan A-kit tersentuh, diapun merasa amat keheranan....

Ia heran kenapa setelah seseorang mempunyai keluarga semacam ini, dia masih bisa melakukan pekerjaan semacam itu?

"Aku berbuat demikian demi memelihara kehidupan keluargaku", Toa-gou pernah menerangkan, "demi kelangsungan hidup, demi seluruh isi keluargaku, terpaksa pekerjaan apapun harus kulakukan"

Mungkin saja apa yang dia katakan adalah pengakuan yang sejujurnya, mungkin juga bukan. Ketika mendengar pengakuan tersebut, A-kit merasakan hatinya agak pedih dan sakit.

Sesudah melampaui masa kehidupan yang penuh kesengsaraan dan pahit getir, ia baru mengetahui bahwa untuk kelangsungan hidup seseorang di dunia ini sesungguhnya tidak segampang apa yang pernah ia bayangkan dulu. Mereka seringkali memang dipaksa untuk melakukan suatu pekerjaan yang sebenarnya sangat tidak dikehendaki.

Walaupun dia hanya berkunjung sekali, tapi kesan yang ditinggalkan rumah tangga itu dalam benaknya amat mendalam sekali, oleh sebab itu ketika ia berkunjung kembali ke sana, sengaja dibelinya sebungkus gula-gula untuk dihadiahkan kepada putra-putri mereka.

Tapi kini gula-gula itu sudah berserakan di atas lantai.

Sebab ia tidak menjumpai lagi Toa-gou suami isteri, iapun tidak menjumpai putra-putrinya, bahkan sang dayangpun sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya......

Pada hakekatnya hanya seorang yang berdiam dalam rumah itu. hanya Biau-cu seorang yang

duduk termangu-mangu di ruang tamu, duduk di hadapan sebuah meja perjamuan yang penuh dengan sayur dan arak dengan sepasang mata mendelong.

Perabot dalam ruangan tamu amat sederhana, di atas meja pemujaan berdirilah dua buah patung yang pada hakekatnya tiada perbedaan lagi di tempat manapun juga. yakni patung dari Kwan-

im Pousat serta Kwan Kong. Meja sembahyang itu berada di tepi dinding persis depan meja tersebut sebuah meja yang sudah kuno, kotor dan lapuk, tapi sekarang justru tersedia aneka macam hidangan yang lezat dan nikmat, jelas bukan arak dan sayur yang bisa dicicipi oleh manusia semacam mereka ini.

Seguci arak Tiok Yap-cing yang berusia dua puluh tahun, ditambah kepiting besar, udang bago serta Ang-sio-hi-sit.

Biau-cu seperti duduk tertegun di depan arak dan hidangan yang lezat-lezat itu. Sepasang matanya kosong melompong, wajahnya kaku sama sekali tiada emosi.

Seketika itu juga A-kit merasakan hatinya berat dan seolah-olah terjatuh dari atas tebing yang tingginya mencapai beberapa ratus kaki.

Dari pandangan matanya yang kosong dan hampa itu, ia telah merasakan suatu firasat serta alamat yang tak enak, seakan-akan dia tahu bahwa bencana telah berada di depan mata.

Biau-cu mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke arahnya, tiba-tiba ia berkata: "Duduk!"

Di hadapannya tersedia sebuah bangku kosong, A-kit pun duduk di tempat yang telah tersedia itu. Tiba-tiba Biau-cu mengangkat cawannya dan berkata lagi:

"Minum!"

Di depan meja tersedia cawan, dalam cawan telah berisi penuh arak wangi.......

Tapi A-kit tidak meneguk arak tersebut. Biau-cu segera menarik muka, katanya:

"Sayur dan nasi ini khusus disediakan untukmu, arak itupun khusus disiapkan bagimu!" "Maka dari itu aku harus meneguknya?", sambung A-kit.

"Ya, harus!"

A-kit ragu-ragu sejenak, akhirnya ia meneguk isi cawan itu hingga habis ludas.

"Ehmm. inilah arak Tiok Yap-cing", katanya.

"Ya, Tiok Yap-cing adalah arak bagus!" "Walaupun arak bagus, sayang bukan orang baik!"

Raut wajah Biau-cu berkerut kencang telinganya yang besar seperti kipas mulai kelihatan agak gemetar.

"Kau pernah menjumpai manusia yang bernama Tiok Yap-cing itu. ?", kembali A-kit bertanya.

Biau-cu mengigit bibir menahan diri, tiba-tiba ia mengambil seekor kepiting besar dan di lemparkan ke hadapannya. "Makan!", ia berseru keras.

Itulah kepiting gemuk yang baru saja dikeluarkan dari kukusan, dagingnya yang putih dan penuh itu mengepulkan asap putih.

Ini membuktikan bahwa sayur dan arak itu belum lama dihidangkan di atas meja.

Mungkin Tiok Yap-cing telah memperhitungkan bahwa A-kit pasti akan tiba di situ, maka sengaja ia siapkan sayur dan arak untuk menantikan kehadirannya?.

Lama kelamaan A-kit tak dapat mengendalikan diri lagi, tiba-tiba ia bertanya: "Sekarang di manakah orangnya?"

"Siapa?"

"Tiok Yap-cing!"

Biau-cu segera mengangkat sepoci penuh arak wangi.

"Inilah Tiok Yap-cing!", katanya, "Tiok Yap-cing berada di sini!"

Tangannya sudah gemetar, sedemikian gemetarnya sehingga hampir saja poci arak itu tak sanggup digenggam lagi dengan baik.

A-kit menyambut poci arak itu, ia baru merasa bahwa tangan sendiri ternyata lebih dingin daripada poci arak itu sendiri.

Sekarang ia telah mengetahui bahwa dugaan sendiri sesungguhnya keliru besar, sebab ia sudah terlalu menilai rendah manusia yang bernama Tiok Yap-cing itu.

Walaupun kekeliruan dugaannya tak sampai membinasakan dirinya, tapi sudah pasti telah mencelakai orang lain.

Kembali ia penuhi cawan arak sendiri yang telah kosong itu, kemudian ia baru mempunyai keberanian untuk bertanya:

"Di manakah si Boneka?"

Meskipun sepasang kepalan Biau-cu mengepal kencang-kencang, tapi toh masih gemetar sangat hebat, tiba-tiba ia berteriak keras:

"Kau masih ingin menjumpainya atau tidak?" "Masih ingin!"

"Kalau begitu lebih baik turutilah perkataanku: 'Banyak makan, banyak minum dan sedikit bertanya'!"

Benar juga sejak itu A-kit tidak lagi bertanya kepadanya, walau hanya sepatah katapun.

Biau-cu suruh dia makan, diapun makan dengan lahap, Biau-cu suruh dia minum, diapun minum dengan rakus, arak Tiok yap-cing yang seharusnya wangi dan enak, ketika masuk ke dalam mulutnya ternyata telah berubah menjadi getir, kecut dan amat tak sedap. Tapi, bagaimanapun kecut dan getirnya arak tersebut, dia harus meneguknya terus, bahkan sekalipun arak itu arak beracun, diapun harus meneguknya sampai habis.

Biau-cu hanya memandang dirinya, di antara sepasang matanya yang kosong dan hampa, tiba- tiba terpercik butiran air mata.

A-kit tidak tega menyaksikan dirinya, dia pun tak berani memandang ke arahnya.

Biau-cu sendiripun meneguk beberapa cawan arak secara beruntun, tiba-tiba berkata lagi: "Di belakang rumah sana ada pembaringan!"

"Aku tahu!"

"Setelah kenyang bersantap dan puas minum arak, tidurpun baru terasa nyenyak!" "Aku tahu!"

"Bila tidurnya nyenyak, semangat badan baru menyala, dengan kekuatan serta semangat yang berkobar-kobar, kau baru bisa pergi membunuh orang!"

"Membunuh Toa-tauke?" Biau-cu manggut-manggut.

"Setelah Toa-tauke terbunuh, kau baru bisa bertemu dengan si Boneka. ", bisiknya.

Ketika ia selesai mengucapkan kata-kata itu, air mata yang mengembang dalam kelopak matanya hampir saja meleleh keluar membasahi pipinya.

Kelopak mata A-kit pun ikut mengembang kempis, ucapan tersebut diulanginya sekali lagi. "Setelah Toa-tauke terbunuh, aku baru bisa bertemu dengan si Boneka. "

Sehabis mengucapkan perkataan itu, ia segera mulai bersantap lagi dengan lahap, minum dengan gencar.........

Biau-cu tidak ambil diam, malah ia minum lebih banyak dan makan lebih cepat daripada rekannya.

Kedua orang itu sama-sama tidak berbicara lagi, seguci besar arak wangi dan semeja penuh hidangan lezat, dalam waktu singkat telah tersapu habis oleh kedua orang itu.

"Sekarang aku harus pergi tidur!", kata A-kit kemudian. "Pergilah!"

Pelan-pelan A-kit bangkit berdiri dan berjalan ke ruang belakang, ketika tiba di depan pintu ia tak tahan untuk berpaling dan memandang rekannya sekejap, dia baru tahu kalau wajah Biau-cu telah basah kuyup oleh air matanya yang meleleh keluar....

Di bawah sinar lentera, Toa-tauke sedang merentangkan gulungan kertas yang diserahkan Tiok Yap-cing kepadanya, di atas kertas tercantumlah nama dari sembilan orang. Pek Bok. Seorang murid dari partai Bu-tong, telah diusir dari perguruannya dan gemar mengenakan dandanan seorang imam, senjatanya pedang, tinggi badan enam depa delapan inci, ciri-ciri: Muka kuning, badan ceking, di antara alis matanya ada tahi lalat.

Toh- hwesio. Berasal dari Siau-lim-pay, berdandan seorang Tauto ( hwesio yang memelihara rambut), tinggi badan delapan depa, kepandaian andalannya Hu-hou-lo-han-sin-kun (Pukulan sakti Lo-han penakluk harimau), ciri-ciri: Memiliki tenaga dalam yang maha sakti.

Hek-kui. Seorang gelandangan dari wilayah Kwan-si, menggunakan golok dan gemar membunuh orang, tinggi badan enam depa dan sepanjang tahun mengenakan baju hitam, goloknya merupakan golok lemas yang bisa dipakai sebagai ikat pinggang.

Suzuko. Seorang gelandangan dari negeri Kiu-ciu-kok yang ada di pulau Tang-ing-to, senjatanya sebilah samurai yang panjangnya delapan depa, gemar membunuh orang.

Kanyo, adik Suzuko. Seorang jago dari negeri matahari terbit yang ahli dalam ilmu meringankan tubuh dan senjata rahasia.

Ting Ji-long. Sesungguhnya dia adalah serang hartawan dari wilayah Kwan-tiong, setelah kekayaannya ludas, ia mulai mengembara dalam dunia persilatan, gemar minum arak dan main perempuan, senjata andalannya pedang.

Cing Coa. Tinggi badan enam depa tiga inci, otaknya hebat dan tipu muslihatnya bisa diandalkan.

Lo-cay. Usianya paling tua, jenggotnya panjang, gemar minum arak dan sering mabuk, sejak dulu sudah merupakan pembunuh bayaran, tak sedikit korban yang tewas di tangannya, belakangan ini karena sering minum sampai mabuk, pekerjaannya banyak yang terbengkalai.

Hu Tau. Seorang lelaki kekar yang mempunyai tinggi badan sembilan depa, senjatanya sebuah kampak besar, perawakannya besar dan kuat, wataknya amat berangasan.

Ketika selesai membaca nama dari ke sembilan orang itu, Toa-tauke baru menghela napas panjang, sambil mendongakkan kepalanya dia bertanya pelan:

"Bagaimana menurut pendapatmu?"

Yang ditanya adalah seorang laki-laki yang berusia masih amat muda, tapi mukanya segar dan memancarkan kecerdikan yang luar biasa.

Di hari-hari biasa jarang sekali ada orang yang menyaksikan dia berada di samping toa-tauke, tentu saja tak ada yang mengetahui pula bahwa dia sesungguhnya adalah seseorang yang makin hari dipandang semakin tinggi oleh toa-tauke, oleh karena itu orang-orang memanggilnya dengan sebutan 'Siau-te' atau adik cilik. Ia sendiri tampaknya sudah melupakan pula nama aslinya.

Di waktu-waktu biasa ia jarang sekali berbicara, hanya ketika toa-tauke mengajukan pertanyaan kepadanya, ia baru menjawab:

"Tampaknya ke sembilan orang itu semuanya adalah pembunuh-pembunuh yang sangat berpengalaman!"

Toa-tauke menyetujui pendapatnya itu.

"Ya, memang! Tidak sedikit jumlah orang yang telah mereka bunuh!", sahutnya. "Ehmmm. "

"Menurut pendapatmu, sanggupkah mereka menghadapi A-kit yang tak berguna itu?, kembali Toa- tauke bertanya.

Siau-te ragu-ragu sebentar, kemudian jawabnya:

"Mereka semuanya terdiri dari sembilan orang, sedang A-kit hanya mempunyai sepasang tangan, orang yang mereka bunuh tentu saja jauh lebih banyak dari A-kit!"

Toa-tauke tersenyum, gulungan kertas itu diserahkan kepadanya lalu berkata lagi:

"Esok pagi suruhlah orang untuk menyambut kedatangan mereka, asal mereka telah datang semua, hantar mereka ke gedung kediaman Han toa-nay-nay "

"Baik!"

"Mereka pasti datang secara tidak berombongan, sebab kalau sembilan orang melakukan perjalanan bersama, rombongan itu tentu akan menarik perhatian banyak orang"

"Benar!"

Toa-tauke tersenyum, dia ulangi sekali lagi apa yang telah diucapkannya tadi:

"Kau musti ingat baik-baik, bila ingin membunuh orang, lebih baik jangan sampai menarik perhatian orang"

Fajar telah menyingsing.

Pasar pagi telah mulai, waktu itu merupakan waktu yang paling ramai untuk kedai-kedai teh.

Dalam kedai-kedai teh inilah merupakan pergerakan dari saudara-saudara kecil anak buah Toa- tauke.

Di antara sekian banyak orang bahkan ada diantaranya yang belum pernah berjumpa dengan Toa- tauke sendiri, akan tetapi mereka semua bersedia untuk menjual nyawa buat Toa-tauke.

Selama ini Toa-tauke dapat berkuasa dan menancapkan kakinya di sini, tak lebih karena ada banyak sekali kurcaci-kurcaci yang bersedia menjadi anak buahnya tanpa di minta.

Oleh sebab itu ketika ada orang menanyakan Toa-tauke, serentak mereka melompat bangun.

Orang yang menanyakan tentang Toa-tauke ini adalah seorang laki-laki yang perawakan tubuhnya seperti batang tombak, tapi di pinggangnya tersoren sebilah pedang.

Ia amat jangkung, tapi sangat ceking, pakaian yang dipakai adalah baju ringkas berwarna hitam, gerak-geriknya sangat lincah dan gesit, tapi angkuhnya bukan kepalang.

Ia datang sambil menunggang kuda cepat, bersamanya mengikuti pula dua orang lainnya, dilihat dari debu yang melekat di wajah mereka, tak bisa diragukan lagi orang-orang itu pasti baru datang dari tempat yang jauh sekali. Begitu kuda cepat itu berhenti berlari, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, ia lantas menyusup masuk ke dalam ruangan, kemudian setelah memandang sekejap semua orang yang berada di sana dengan sepasang matanya yang lebih tajam dari elang, segera tanyanya:

"Adakah saudara-saudara dari Toa-tauke yang berada di sini?" Tentu saja ada.

Ketika mendengar perkataan itu, paling tidak ada belasan orang yang segera melompat ke luar dari dalam kedai teh itu.

"Kalian semua adalah saudara-saudaranya Toa-tauke?", manusia berbaju hitam itu segera bertanya.

Lotoa dari anak buah Toa-tauke yang berada di sekitar tempat itu bernama Tiang San, dengan cepat ia balik bertanya:

"Ada urusan apa kau datang mencari Toa-tauke kami?"

"Ada sedikit barang yang ingin kujual kepadanya!", jawab manusia berbaju hitam itu cepat. "Benda apakah itu?"

"Nyawa dari kami bertiga!"

"Kalian bermaksud menjualnya dengan harga berapa?" "Sepuluh laksa tahil perak!"

Tiang-san segera tertawa.

"Tiga lembar nyawa manusia sepuluh laksa tahil perak tidak terhitung terlalu mahal!" "Ya, siapa bilang kalau terlalu mahal!"

Tiba-tiba Tiang San menarik mukanya hingga tampak jauh lebih jelek lagi, jengeknya:

"Tapi tidak kutemui dengan andalkan apa kalian berani memberi harga sepuluh laksa tahil perak?" "Apa lagi? Tentu saja mengandalkan pedangku ini!"

Ketika ucapan terakhir diutarakan, pedangnya sudah diloloskan dari sarung dan. "Criiiing!",

desingan angin tajam menembusi angkasa menyusul kemudian. "Triiiing!" tahu-tahu tiga buah

cawan teh yang ada di meja sudah ditembusi oleh ujung pedang hingga berlubang.

Ketika cawan-cawan teh itu diangkat ke udara dengan pedang tersebut, ternyata cawan itu tidak pecah atau hancur, ini menunjukkan bahwa dalam mempergunakan kekuatan maupun dalam kecepatan, ia telah melakukannya dengan begitu cepat dan tepat, sehingga sekalipun seseorang yang tak pandai mempergunakan pedangpun akan mengetahuinya.

Paras muka Tiang San segera berubah hebat. "Bagaimana?", tanya manusia berbaju hitam itu. "Bagus, suatu ilmu pedang yang cepat sekali!"

"Bagaimana kalau dibandingkan dengan manusia yang bernama A-kit itu. ?"

"A-kit?"

"Konon di sini telah muncul seorang manusia yang bernama A-kit, katanya ia sering memusuhi Toa-tauke!"

"Ooohhh. jadi kalian sengaja datang kemari untuk membantu Toa-tauke guna menyelesaikan

persoalan ini?"

"Barang bagus selamanya toh harus ditawarkan kepada orang yang mengerti mutu barang!" Mendengar itu, Tiang San menghela napas dan tertawa paksa, katanya:

"Aku jamin Toa-tauke pasti adalah seseorang yang mengetahui kwalitet barang"

"Sayang ke tiga saudara ini bukan barang berkwalitet baik!", seseorang menyambung secara tiba- tiba dengan suara dingin.

Tiang San tertegun.

Ucapan tersebut bukan diutarakan oleh salah seorang di antara saudara-saudaranya, orang yang berbicara itu berada di belakang manusia berbaju hitam itu.

Dua orang yang barusan dengan jelas diketahui sebagai rekan komplotannya, kini secara tiba-tiba berubah menjadi tiga orang.

Siapapun tak tahu sedari kapan orang itu menggabungkan diri dengan mereka, siapapun tak tahu dari mana ia datang?

Orang itu mengenakan juga seperangkat pakaian berwarna hitam, perawakan tubuhnya jauh lebih ceking daripada manusia berbaju hitam itu, ketika berdiri di antara dua orang rekannya yang tinggi besar, ia kelihatan begitu kecil dan mengenaskan sehingga menimbulkan kesan bagi siapapun bahwa setiap saat ia dapat dijepit sampai gepeng.

Tapi dua orang rekannya yang tinggi besar itu justru bergerak sedikitpun tidak.

Sebenarnya mereka bukan termasuk manusia-manusia yang tak berani menampilkan keberaniannya setelah dihina dan dianiaya orang lain.

Mereka sudah banyak tahun mengikuti lelaki berbaju hitam itu, pernah juga menghadapi beratus- ratus kali pertarungan besar kecil mati dan hidup.

Ketika mendengar suara pembicaraan tadi, manusia berbaju hitam itu segera menyusup ke depan, tanpa berpaling lagi ia membentak keras:

"Tangkap dia!"

Heran! Ternyata kedua orang rekannya sama sekali tidak memberi reaksi apa-apa, cuma paras muka mereka sedikit berubah, berubah menjadi sangat aneh.

Manusia berbaju hitam itu segera berpaling, tapi paras mukanya ikut berubah pula. Bukan saja paras muka kedua orang rekannya telah berubah warna, malah panca indera merekapun telah mengalami perubahan, berubah menjadi begitu jelek, begitu berkerut dan menyeramkan, kemudian darah kental hampir bersamaan waktunya meleleh keluar dari telinga, mata, hidung dan mulut mereka.

Laki-laki ceking berbaju hitam yang berdiri di antara mereka berdua masih tetap tenang, paras mukanya tidak berubah, bahkan sedikit pancaran emosipun tak ada.

Mukanya sangat kecil, matanya juga kecil, cuma di balik sepasang matanya tersembunyilah senyuman yang keji bagaikan bisanya ular paling beracun di dunia ini.

Ular beracun tak dapat tertawa, tapi seandainya ular beracun bisa tertawa, tampangnya pasti persis dengan tampangnya.

Memandang sepasang matanya yang berbisa, tanpa terasa manusia berbaju hitam itu bergidik dan menggigil keras, segera tegurnya dengan suara keras:

"Kau yang telah membunuh mereka?"

"Kecuali aku masih ada siapa lagi?", jawab laki-laki berbaju hitam yang mempunyai sepasang mata berbisa seperti ular beracun itu dingin.

"Siapa kau?"

"Hek-kui (Setan hitam) dari Hek-sat (Pembunuh hitam)!"

Mendengar empat huruf tersebut, paras muka laki-laki berbaju hitam itu berubah semakin mengerikan.

"Aku she Tu, bernama Tu Hong", katanya lambat.

"Hek-sat-kiam (Pedang malaikat hitam) Tu Hong?", tanya si setan hitam sinis. Tu Hong manggut-manggut.

"Selama ini kau boleh dibilang kita bagaikan air sumur yang tidak melanggar air sungai, kau. "

"Kalau memang begitu, tidak sepantasnya kalian datang kemari", tukas Setan hitam cepat. "Apakah persoalan ini sudah kalian sanggupi?"

"Memangnya kami tak boleh menyanggupi?", Hek-kui mengejek ketus.

"Aku tahu asal persoalan yang telah disanggupi oleh Hek-sat, maka orang lain tak boleh mencampurinya!"

"Kalau kau sudah tahu, ini lebih baik lagi!"

"Tapi aku sama sekali tidak tahu kalau kalian telah menyanggupi tugas ini!", keluh Tu Hong. "Oya? Lantas?"

"Maka kau tidak perlu harus membunuh orang. !" "Tidak! Aku harus membunuh!" "Kenapa?"

"Sebab aku gemar membunuh orang!"

Dia memang bicara jujur, siapapun yang pernah menyaksikan sepasang matanya, seharusnya dapat merasakan juga bahwa dia memang gemar membunuh orang.

Tu Hong sedang mengawasi mata lawan, raut wajah mereka berdua sama-sama berkerut, menyusul kemudian pedang Tu Hong telah menusuk ke depan dengan suatu kecepatan tinggi.

Tenaga yang disertakan dalam tusukannya kali ini jauh lebih kuat daripada tenaga yang dipakai untuk menembusi cawan teh, kecepatannya tentu saja berkali-kali lipat lebih hebat.

Sasaran dari tusukan itu adalah Hek-kui, bukan tenggorokannya, sebab sasaran di atas dada lebih luas dan tidak gampang untuk dihindari.

Tapi Hek-kui berhasil menghindarkan diri.

Ketika tubuhnya berkelit ke samping, dua orang laki-laki kekar yang berada di kedua belah sisinya segera roboh ke arah Tu Hong.

Dalam kejutnya Tu Hong mengangkat tangannya untuk menangkis tapi Hek-kui telah menyusup ke bawah ketiaknya.

Tiada seorangpun menyaksikan Hek-kui turun tangan, mereka hanya menyaksikan paras muka Tu Hong mendadak berubah hebat, seperti juga kedua orang rekannya, bukan cuma paras mukanya yang berubah, letak panca inderanya ikut pula berubah, berubah menjadi mengejang keras dan jeleknya mengerikan hati orang, kemudian darah kental bersamaan waktunya meleleh keluar dari ke tujuh lubang inderanya.

Dalam ruangan warung teh segera tersiar bau busuk yang menusuk hidung, dua orang manusia berjongkok dengan wajah merah membara, rupanya celananya sudah basah kuyup.

Tapi tiada seorangpun yang mentertawakan mereka, sebab setiap orang hampir pucat nyalinya karena ketakutan.

Membunuh orang bukan suatu kejadian yang menakutkan, yang menakutkan justru caranya melakukan pembunuhan tersebut, baginya membunuh orang bukan cuma membunuh saja, melainkan termasuk sejenis seni, semacam kenikmatan yang mendatangkan perasaan nyaman di badan.

Hingga sekujur tubuh Tu Hong menjadi dingin dan kaku, Hek-kui masih menempel di bawah ketiaknya sambil menikmati bagaimana rasanya menyaksikan orang lain menghadapi ajalnya.

Jika kaupun bisa merasakan perubahan suhu tubuh seseorang yang menempel di tubuhmu makin lama makin dingin dan kaku, maka kau dapat memahami kenikmatan macam apakah yang telah dirasakan olehnya itu.

Entah lewat berapa lama kemudian, Tiang San baru berani beranjak dari tempatnya semula. Tiba-tiba Hek-kui mendongakkan kepala dan memandang ke arahnya, kemudian berkata: "Tentunya sekarang kau sudah tahu siapakah aku, bukan?" "Ya!", Tiang San menundukkan kepalanya.

Ia tak berani memandang wajah orang itu, pakaiannya telah basah oleh keringat dingin. "Kau takut kepadaku?", Hek-kui bertanya.

Tiang San tak dapat menyangkal, pun tak berani menyangkal.

"Aku tahu kaupun tentu pernah juga membunuh orang, kenapa kau takut kepadaku?" "Karena......karena. "

Tiang San tak dapat menjawab, diapun tak berani menjawab. Tiba-tiba Hek-kui bertanya lagi:

"Kau pernah berjumpa dengan Pek Bok?"

"Belum!", Tiang San gelengkan kepalanya berkali-kali.

"Bila kau dapat menyaksikan caranya membunuh orang, saat itulah baru akan kau pahami membunuh orang dengan cara apakah baru disebut benar-benar membunuh orang!"

Telapak tangan Tiang San telah basah oleh keringat dingin. mungkinkah cara Pek Bok

membunuh orang jauh lebih cepat, jauh lebih kejam dan buas daripadanya? Kembali Hek-kui bertanya:

"Pernah kau berjumpa dengan Kanyo dan Suzuko?" "Belum pernah!"

"Bila kau telah berjumpa dengan mereka, kau baru akan mengerti harus manusia macam apakah baru bisa disebut manusia yang gemar membunuh orang. !"

Dengan suara hambar ia melanjutkan kata-katanya lebih lanjut:

"Aku membunuh orang paling tidak masih ada alasannya, tapi mereka membunuh orang hanya lantaran hobby, untuk membuat dirinya gembira, senang dan puas!"

"Jadi, asal mereka senang, maka setiap waktu, setiap saat mereka akan membunuh orang?", tak tahan Tiang San bertanya.

"Ya, setiap waktu setiap saat, manusia dari jenis apapun!"

Tu Hong telah roboh pula.

Setelah terkapar di tanah, semua orang baru dapat melihat bahwa pakaian di bawah ketiaknya sudah basah oleh darah kental, namun tak ada yang melihat golok dari Hek-kui. Hanya Tiang San yang menyaksikan kilatan goloknya, hanya dalam sekali kelebatan saja tahu- tahu sudah masuk kembali ke balik ujung bajunya.....

Di atas ujung baju terdapat pula noda darah. Tiba-tiba Hek-kui bertanya lagi:

"Tahukah kau bagaimana rasanya darah?" Tiang San segera menggelengkan kepalanya.

Hek-kui mengulurkan tangannya dan menyodorkan ujung baju itu ke hadapannya.

"Asal kau mencicipinya sekarang, akan kau ketahui bagaimana rasanya darah!", demikian ia berkata.

Sekali lagi Tiang San gelengkan kepalanya berulang kali, kali ini dia menggeleng terus tiada hentinya, sebab lambungnya mulai mual dan beraduk-aduk tak keruan, hampir saja semua isi perutnya tumpah keluar.......

Melihat   itu    Hek-kui    segera    tertawa    dingin: "Heeehhhhh........heeehhhh.......heeehhhh. apakah anak buah Toa-tauke semuanya adalah

gentong-gentong nasi yang untuk mencicipi rasanya darahpun tidak berani?" "Tidak!"

Jawaban itu sebenarnya berasal dari luar pintu, tapi tahu-tahu sudah berada di belakang tubuhnya.

Dengan suatu gerakan cepat Hek-kui memutar tubuhnya, ia menyaksikan seorang pemuda berbaju hijau yang bertubuh jangkung dan tampan telah berdiri tegap di belakangnya.

Usia yang sebenarnya mungkin masih muda sekali, tapi di atas wajahnya telah dihiasi kerutan- kerutan yang menandakan bahwa ia pernah tersiksa dan hidup menderita selama banyak tahun, maka tampaknya ia menjadi jauh lebih tua dari usia yang sesungguhnya.

"Kau juga merupakan anak buah dari Toa-tauke?", Hek-kui bertanya. "Ya, akupun anak buahnya, aku bernama Siau-te!"

"Kau pernah mencicipi bagaimana rasanya darah?"

Siau-te membungkukkan badannya memungut pedang milik Tu Hong itu, lalu ujung pedangnya ditusukkan ke atas genangan darah hingga senjata itu penuh berlepotan darah.

Setelah menjilat darah di ujung pedang, tiba-tiba ia membalikkan tangannya dan menggurat pula  di atas lengan kirinya hingga terluka dan darah mengucur keluar. Dengan mulutnya ia menjilat pula darah yang baru meleleh ke luar itu.

Kemudian ia baru mendongakkan kepalanya, dengan paras muka tak berubah katanya hambar: "Darah orang hidup rasanya asin, darah orang mati rasanya asin rada getir!"

Paras muka Hek-kui agak berubah menghadapi kejadian tersebut, ujarnya dengan dingin: "Aku tidak bertanya sebanyak itu!"

"Kalau ingin melakukan suatu pekerjaan, maka pekerjaan tersebut harus dilakukan selengkap dan senyata mungkin", Siau-te menerangkan.

"Siapa yang mengucapkan kata-kata tersebut?" "Toa-tauke yang bilang!"

Tiba-tiba Hek-kui tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhhhh.......haaaahhhh....haaahhhhh. bagus-bagus, dapat melakukan pekerjaan untuk

manusia semacam ini, rasanya kedatangan kita kali ini tidak terhitung sia-sia belaka"

"Kalau begitu harap ikutilah diriku!", ucap Siau-te sambil membungkukkan badan memberi hormat.

Ketika ia memutar tubuhnya dan berjalan ke luar, setiap orang memancarkan rasa hormat dan kagumnya yang luar biasa.

Hanya sorot mata Tiang San yang memancarkan rasa malu, menyesal dan penuh penderitaan. Ia tahu, tamat sudah riwayatnya.

Tengah hari menjelang tiba.

Suasana lalu-lintas di tengah kota yang ramai dan hiruk pikuk mendadak menjadi tenang.

"Proook! Proook! Proook!", suara kayu yang beradu dengan batu berkumandang memecahkan kesunyian.

Mula-mula suara itu masih berada sangat jauh sekali, tapi dalam waktu singkat sudah berada dekat sekali dengan tengah kota.

Itulah dua orang manusia yang memakai sepatu bakiak dari kayu yang tingginya lima inci. Dengan langkah lebar mereka berjalan di tengah jalan raya.

Kalau dilihat dari rambutnya yang awut-awutan serta tampangnya yang garang, kedua orang itu mirip gelandangan dari negeri matahari terbit, jubah mereka lebar, salah seorang di antaranya mengenakan ikat pinggang yang tujuh inci lebarnya, sebilah samurai yang panjangnya delapan depa tersoren di pinggangnya, sementara sepasang tangannya disembunyikan di balik ujung bajunya yang lebar.

Yang seorang lagi memakai jubah hitam dengan bakiak hitam pula, bahkan wajahnya berwarna hitam pekat pula seperti pantat kuali, tampaknya misterius dan menyeramkan.

Rupanya Suzuko dan Kanyo telah datang!

Setelah menjumpai mereka berdua, setiap orang menutup mulutnya, sekalipun tak ada orang yang mengenali mereka, tapi setiap orang dapat merasakan hawa pembunuhan yang terpancar keluar dari tubuh mereka berdua.

Seorang perempuan muda yang montok dan bahenol sedang membopong anaknya yang berusia lima bulan keluar dari ruang belakang Sui-tek-siang. Sui-tek-siang adalah sebuah rumah pemintalan benang sutera yang amat besar, nyonya muda itu bukan lain adalah istri majikan muda rumah pemintalan yang baru dikawininya belum lama berselang.

Tentu saja umurnya masih muda, mana cakep lagi wajahnya, tentu saja tubuhnya sudah amat masak dan dewasa terutama setelah beranak, ibaratnya sebidang tanah subur yang baru ditimpa hujan di musim semi yang segar, ia tampak lebih matang, lebih montok dan merangsang.

Melihat wajah perempuan tiu, kontan saja sepasang mata Kanyo dan Suzuko melotot sebesar gundu.

"Wouww....! Seorang nona cakep yang bahenol. ", Suzuko berteriak memuji.

"Wouw! Wouw! Ayu betul. !, sambung Kanyo.

Sebetulnya perempuan muda itu sedang menggoda si bocah dalam bopongannya, melihat dua orang asing itu, selembar wajahnya yang merah masak seperti buah apel kontan berubah menjadi pucat pasi karena terkejut dan ketakutan.

Suzuko telah menyerbu ke depan, baru saja seorang pelayan toko menyambut kedatangannya dengan senyum di kulum, cahaya golok berkelebat lewat, tahu-tahu lengan kirinya sudah terpapas kutung.

Anak-anak mulai menangis karena ketakutan, ibu-ibu pada lemas kakinya karena kaget dan ketakutan, suasana kacau balau tak karuan.

Sambil masih menggenggam samurainya yang berlepotan darah, Suzuko menyeringai sambil tertawa seram, katanya:

"Nona cantik, tak usah takut, aku suka nona ayu, aku paling suka nona manis!"

Ia sudah bersiap-siap menubruk lagi ke depan, kali ini sudah tiada orang yang berani menghalangi perjalanannya lagi, tapi pinggangnya tiba-tiba dicengkeram oleh Kanyo, lalu diangkat ke atas, sikutnya menyodok dan tubuhnya segera terbang meninggalkan tempat itu.

Kanyo tertawa terbahak-bahak, katanya:

"Haaahhhhh.....haaaaahhhh......haaaahhhh. nona ayu milikku, nona cantik menjadi bagianku,

kau. "

Kata-kata itu belum sempat diselesaikan ketika Suzuko sudah melambung di udara dan menubruk ke arahnya sambil membacok dengan senjata samurainya.

Bacokan itu cukup ganas, tepat dan cepat, yang digunakan adalah gerakan Ing-hong-it-to-cian (Sebuah bacokan golok menyambut angin) dari ilmu samurai negeri Matahari Terbit, seakan-akan ia merasa benci sekali sehingga kalau bisa dalam sekali bacokan saja batok kepalanya dipenggal menjadi dua bagian.

Dua orang ini benar-benar suka membunuh orang dimanapun dan saat apapun, bahkan membunuh siapa saja yang diinginkan. Tapi kepandaian Kanyo tidak termasuk cetek, ia berguling di atas tanah dan meloloskan diri dari ujung samurai lawan, lalu sambil memutar badan ia lepaskan tiga buah senjata rahasia yang berbentuk bintang hitam sudut besi, semacam senjata rahasia khas dari negeri Hu-sang (Jepang).

Gara-gara bini orang lain, ternyata dua orang bersaudara ini telah melibatkan diri dalam suatu pertarungan yang seru dan mati-matian.

Permainan samurai Suzuko sangat hebat dan ganas, setiap bacokannya selalu tertuju pada bagian-bagian mematikan di tubuh Kanyo.

Sebaliknya gerakan tubuh Kanyo jauh lebih aneh lagi, dia berguling-guling di atas tanah sambil melepaskan aneka macam senjata rahasia dengan tiada hentinya.

"Traaaang. !, tiba-tiba terdengar suara dentingan nyaring berkumandang memecahkan

keheningan, tiga batang senjata rahasia bintang besi kena terpapas rontok, menyusul kemudian samurai itupun ditahan orang.

Seorang imam berjubah biru yang tinggi dan kurus dengan rambut yang disanggul dengan sebuah tusuk konde kayu putih berdiri di hadapan mereka dengan sebilah pedang baja terhunus.

Setelah merontokkan senjata rahasia, menangkis samurai, menendang tubuh Kanyo hingga menggelinding sejauh lima kaki serta memerseni tiga buah tempelengan ke wajah Suzuko, dengan dingin ia berkata:

"Kalau ingin mencari nona cakep, pergi saja ke rumahnya Han toa-nay-nay, perempuan yang sudah punya anak bukan nona yang boleh diajak untuk bermain-main!"

Dua orang gelandangan dari negeri Hu-sang (Jepang) yang ganas, buas dan kejam ini sama sekali tak berani berkutik setelah berhadapan dengan tosu itu, mereka hanya berdiri dengan kepala tertunduk. Jangankan mengucapkan sesuatu, mau kentutpun tak berani dilepaskan.

Dari antara kerumunan orang banyak tiba-tiba berkumandang suara tertawa dingin, lalu seseorang berkata:

"Tosu itu pastilah Pek Bok yang kata orang telah diusir dari bukit Bu-tong, sungguh tak disangka pada saat ini dia malah bergaya soknya bukan kepalang"

Seseorang yang lain segera menanggapi sambil tertawa pula, suaranya lebih-lebih lagi tak sedap didengar:

"Kalau bukan bergaya sok di hadapan orang sendiri, memangnya kau suruh ia jual tampang kepada siapa?"

Paras muka Pek Bok sama sekali tidak berubah, hanya saja tahi lalatnya yang tepat berada di sudut alis mata tiba-tiba saja mulai berdenyut tiada hentinya, dengan dingin ia berkata:

"Tampaknya tempat ini memang benar-benar sangat ramai, sampai dua bersaudara dari keluarga Cu pun ikut tiba pula di sini!"

Gelak tertawa nyaring segera berkumandang kembali dari balik kerumunan orang banyak. "Haaaaahhhh.....haaaahhhh......haahhh sungguh tak kusangka hidung kerbau tua ini memiliki

ketajaman pendengaran yang mengagumkan!" Di tengah gelak tertawa itu, dua rentetan cahaya pedang berkelebat lewat seperti pelangi membelah angkasa, satu dari kiri yang lain dari kanan langsung menusuk tiba.

Pek Bok sama sekali tidak berkutik, Kanyo dan Suzuko segera maju menyongsong datangnya ancaman itu.

Tapi merekapun tiada kesempatan untuk turun tangan, sebab di belakang bayangan manusia terbungkus dua rentetan cahaya pedang itu masih ada lagi dua sosok bayangan manusia yang menempel terus di belakang mereka seperti bayangan.

Ketika dua bersaudara Cu meluncur ke depan sambil melancarkan serangan, kedua sosok bayangan manusia di belakangnya ikut pula meluncur ke depan.

Terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan, di tengah kilatan cahaya pedang darah segar berhamburan ke empat penjuru, dua sosok bayangan manusia rontok ke atas tanah, punggung mereka masing-masing tertancap sebilah pisau pendek yang tembus tubuhnya hingga tinggal gagangnya.

Dua orang lainnya berjumpalitan sekali di udara dan melayang turun pula ke atas tanah, mereka berdiri persis di tepi genangan darah.

Yang seorang berwajah kehijau-hijauan, sedang yang lain masih berwajah mabuk, kedua orang itu tak lain adalah Ting Ji-long dan Cing Coa, si ular hijau.

Ting Ji-long masih juga menghela napas panjang, sambil memandang dua sosok mayat yang terkapar di tanah, ia bergumam tiada hentinya:

"Sungguh mengecewakan! Sungguh mengecewakan! Ternyata kepandaian yang dimiliki Cu-keh- siang-kiam (Sepasang pedang dari keluarga Cu) tidak lebih cuma begitu saja, kami selalu menguntil di belakang mereka, tapi bagaikan orang mati saja, sedikitpun tidak merasakan apa- apa"

"Oleh karena itulah sekarang mereka baru menjadi orang mati beneran ", sambung Cing Coa

hambar.

Sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibir Pek Bok yang dingin dan kaku.

"Ilmu meringankan tubuh dari Cing Coa selamanya memang bagus sekali, sungguh tak nyana ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Ji-long pun memperoleh kemajuan yang pesat"

"Ya, tentu saja harus mendapatkan kemajuan karena untuk sementara waktu aku masih tak ingin mati!"

Bagi mereka yang bekerja dalam bidang semacam ini, jika kau masih tak ingin mati, maka setiap waktu setiap saat kau harus baik-baik melatih diri.

Pek Bok kembali tersenyum:

"Bagus, bagus sekali, persoalan ini memang telah diselesaikan secara bagus sekali!", katanya. Ting Ji-long mengerdipkan matanya berulang kali, tiba-tiba ia bertanya lirih:

"Apakah yang terbaik?" "Yang terbaik tentu saja masih pedangku ini", jawab Pek Bok dengan angkuh sambil membelai pedangnya.

Pedang itu telah diloloskan dari sarungnya.

Tak ada orang yang berani membantah ucapan sombong dari imam tersebut, karena tak ada orang yang bisa menahan permainan pedangnya. Ia sendiripun sangat memahami akan kelebihannya ini, lagi pula setiap saat setiap waktu selalu menyinggungnya kembali untuk memperingatkan orang lain......

Di antara kelompok pembunuh hitam, selamanya ia memang duduk pada kedudukan yang paling tinggi dan terhormat.

Mendadak terjadi kegaduhan lagi di antara kerumunan orang banyak, di antara jeritan-jeritan kaget tampak semua orang melarikan diri tercerai-berai ke empat penjuru.

Seorang laki-laki yang penuh berlepotan darah berlarian mendekat dengan cepat. Dengan kening berkerut Cing Coa segera berbisik:

"Entah si Hu Tau telah menerbitkan keonaran apa lagi?" Pek Bok tertawa dingin.

"Heeehhhh......heeeehhh.....heeeeehhh. sekalipun begitu, yang terkena bencana sudah pasti

bukan dia!", katanya.

Melihat mereka semua, Hu Tau menghentikan larinya dan menampilkan sepercik senyum kegirangan.

"Waaahhh.....akhirnya aku berhasil juga menyusul kalian semua !", teriaknya keras.

"Ada apa?"

"Lo Cay lagi-lagi minum arak sampai mabuk, sekarang ia sedang bekerja keras melawan serombongan piausu yang datang dari wilayah Hoo-pak. !"

Pek Bok lagi-lagi tertawa dingin.

"Hmmm. ! Lagi-lagi dia yang menerbitkan keonaran!"

"Sewaktu aku menjumpainya tadi, ia sudah terkena dua pukulan!", cerita Hu Tau, "sungguh tak nyana setelah aku terjun ke gelanggangpun masih tidak tahu, terpaksa aku mesti membuka sebuah jalan berdarah untuk mencari bala bantuan"

"Hmm. !", Pek Bok mendengus.

"Rombongan piausu itu betul-betul luar biasa hebatnya", desak Hu Tau lagi, "hayo kita cepat-cepat ke situ, kalau tidak Lo Cay tentu akan mampus di tangan mereka"

"Kalau begitu biarkan saja dia mampus!", kata Pek Bok semakin ketus. Hu Tau tampak terperanjat.

"Biarkan dia mampus?", serunya. "Ya, kedatangan kita kali ini adalah untuk membunuh orang, bukan untuk menolong orang"

Ternyata Pek Bok betul-betul telah pergi, tentu saja semua orang harus pergi pula mengikutinya.

Hu Tau berdiri termangu-mangu setengah harian lamanya di situ, akhirnya diapun menyusul rekan-rekan lainnya.

Di tengah jalan raya mereka membunuh orang, lalu pergi dengan begitu saja, sekalipun di sekitar situ berkumpul ratusan orang, mereka pun cuma bisa mengiringi kepergian orang-orang itu dengan mata terbelalak lebar-lebar.

Tak ada orang berani mengganggu mereka, sebab mereka adalah manusia-manusia tak punya muka dan tak ingin hidup.

Ternyata masih ada juga orang yang lebih tak tahu malu dan tak ingin hidup!.

Hingga mereka pergi jauh, kembali muncul seorang tauto yang gemuk besar sambil memikul sebuah tongkat baja sebesar telur itik, dengan langkah lebar ia berjalan melewati Sui-tek-siang dan menuju ke rumah makan yang berada di seberang jalan.

Baru saja nyonya muda itu menghembuskan napas lega dan menurunkan anaknya, sambil duduk menghilangkan rasa kaget, mendadak. "Blaaang!", meja kasir yang kuat dan tebal itu

mendadak terhajar hancur oleh toya baja si hwesio yang besar itu.

Tampaknya bobot toya itu mencapai ribuan kati lebih, bayangkan saja andaikata dipakai untuk memukul orang, kehebatannya tentu saja mengerikan sekali.

Rumah pemintalan kain yang sudah berdiri tiga ratus tahun lebih itu segera porak poranda dibuatnya.

Di antara dua belas orang pelayan yang bekerja di situ, ada yang tangannya kutung, ada kakinya kutung, ada yang tak bisa berdiri, ada pula yang sudah putus nyawa. Nyonya muda itu tergeletak di tanah dalam keadaan tak sadarkan diri.

~Bersambung ke Jilid-10 Jilid-10

Hwesio itu segera menghampirinya, bagaikan mencengkeram anak ayam saja ia tangkap tubuh perempuan itu, mengempitnya di bawah ketiak dan berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Semua orang yang telah menyaksikan keganasan serta tenaga alamnya yang luar biasa, siapakah yang berani menghalangi tingkah-lakunya itu?

Meskipun harus mengempit tubuh seseorang, langkah si hwesio masih tetap cepat dan tegap, dalam waktu singkat ia telah menyusul rekan-rekannya, berpaling, menyengir dan melewati Pek Bok sekalian, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan.

"Jangan-jangan hwesio itu sudah edan?", Cing Coa mengemukakan pendapatnya dengan alis mata berkerut.

Dengan dingin Pek Bok menjawab: "Pada dasarnya dia memang telah mengidap penyakit edan, setiap dua sampai tiga hari, dia musti menyalurkan hajadnya itu dengan seorang perempuan cantik!"

"Tapi perempuan yang dibawanya tadi seperti si nona cantik yang kita persoalkan barusan", seru Suzuko.

Kanyo tidak mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba dia percepat larinya menyusul ke depan.

Tentu saja Suzuko tak sudi ketinggalan, iapun mempercepat langkah kakinya menyusul rekannya itu.

Tiba-tiba dari depan lorong sebelah depan sana berkumandang jeritan ngeri yang memilukan hati, tampaknya suara jeritan itu mirip sekali dengan jeritan dari si hwesio.

Menanti semua orang menyusul ke situ, tubuh si hwesio yang beratnya mencapai ratusan kati itu sudah digantung orang di atas sebuah pohon besar.

Matanya melotot keluar, celananya basah kuyup, air mata, ingus, air liur, air seni dan kotoran manusia sama-sama mengalir keluar dengan derasnya, hal ini menimbulkan bau busuk yang bisa di cium orang dari jarak yang amat jauh.

Hwesio itu bukan saja berkekuatan dahsyat, ilmu gwakang yang dimilikinya pun tidak jelek, tapi dalam sekejap mata ia telah mati digantung orang di atas pohon, sementara pembunuhnya sudah tidak nampak lagi batang hidungnya.

Pek Bok memutar tangannya menggenggam kencang gagang pedangnya, peluh dingin telah membasahi telapak tangannya, sambil tertawa dingin tiada hentinya ia berseru:

"Bagus, bagus, suatu gerakan tubuh yang sangat cepat!" Cing Coa mengerutkan pula dahinya.

"Tak pernah kusangka kalau disekitar tempat ini masih terdapat seorang jago selihay ini, caranya turun tangan ternyata lebih buas dan keji daripada kita!"

Ting Ji-long membungkukkan badannya, seakan-akan ia merasa sangat mual dan tak tahan lagi ingin tumpah.

Sementara itu Hu Tau sedang mengerang penuh kegusaran:

"Hei, kalau kau memang bernyali untuk membunuh orang, kenapa tidak berani untuk unjukkan diri dan berjumpa dengan locu sekalian?"

Suasana dalam lorong itu tetap sepi, hening dan tak kedengaran suara apa-apa, bahkan sesosok bayangan manusiapun tak tampak.

Yang dikuatirkan Suzuko ternyata bukan persoalan tersebut, tiba-tiba ia bertanya: "Ke mana perginya si nona cantik itu?"

Sekarang semua orang baru mengetahui bahwa perempuan yang dikempit oleh si hwesio tadi sekarang telah lenyap tak berbekas, tongkat baja yang tak pernah dilepaskan si hwesio walaupun sedang tidurpun kini telah lenyap tak berbekas. Mungkinkah perempuan yang cantik dan bahenol itu sesungguhnya adalah seorang jago lihay yang sengaja menyembunyikan kepandaiannya?

ooooOOOOoooo
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(