Pedang Tanpa Perasaan Jilid 19

Jilid 19 

Hek Tian Mo Cen Sim Fu melihat dua orang rekannya yakni Coan lun hoat ong sudah terluka cukup parah dan yang seorang lagi Kim Ting siong jin kehilangan anglo emasnya. Tetapi keduanya tidak mendapat hasil apa-apa. Diam-diam dia sudah mempunyai perhitungan tersendiri.

Sementara itu, mendengar kata-kata Kwe Tok, Cen Sim Fu langsung tertawa cekikikan.

"Kwe loyacu, pedang pusaka yang tidak berwujud itu ternyata demikian hebat. Apakah kau ada akal untuk mendapatkannya?"

"Tentu saja ada," jawab Kwe Tok. Cen Sim Fu tersenyum. "Kwe loyacu, apakah kau memerlukan bantuan orang lain?" "Tidak," sahut Kwe Tok sinis.

Padahal Cen Sim Fu mempunyai rencana. Dia tahu kekuatannya sendiri tidak mungkin sanggup meraih pedang itu. Itulah sebabnya dia menawarkan jasanya untuk membantu Kwe Tok mengambil pedang itu. Meskipun akhirnya dia hanya memperoleh pedang hijau itu, yang penting tidak sampai pulang ke Tiong goan dengan tangan kosong.

Lagi pula pedang hijau itu juga termasuk pedang pusaka yang sulit dicari tandingannya bukan?

Tidak disangga Kwe Tok terang-terangan menolak jasa yang ditawarkannya. Cen Sim Fu jadi kehilangan kesempatan untuk memperalat orang tua itu. Akhirnya dia hanya dapat tertawa sumbang. "Kalau begitu, rasanya aku harus berusaha sendiri." Selesai berkata, Cen Sim Fu langsung berjalan menuju tepi kolam. Di sana dia berhenti sejenak. Tiba-tiba tangannya tampak menjulur ke depan lalu mengibas, sebatang senjata rahasia sudah disambitkannya ke atas.

Senjata rahasia itu meluncur bagai sambaran kilat cepatnya menuju pedang berwarna hijau. ilmu menyambitkan senjata rahasia Cen Sim Fu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Begitu senjata rahasia itu meluncur ke atas, langsung terdengar suara. Cring!

Ternyata sambitannya tidak meleset sedikit pun, tepat mengenai batang pedang hijau. Pedang hijau itu terpental keluar dari air mancur dan melesat ke samping sejauh satu- dua kaki.

Namun baru saja terpental keluar, pedang itu terhempas lagi oleh pancuran air lainnya, sehingga membuyarkan tenaga sambitan rahasia tadi. Cen Sim Fu tidak putus asa. Jari tangannya menyentil heberapa kali berturut-turut, tiga batang senjata rahasia disambitkannya kembali.

Tiga batang senjata rahasia itu tepat mengenai batang pedang. Tenaga dalam yang dipancarkan ke dalam jari tangan Hek Tian Mo besar sekali. Ketiga batang senjata rahasia itu tepat mengenai tubuh pedang sehingga pedang itu terpental sekali lagi sejauh satu depa lebih. Jelas pedang itu sudah meluncur keluar dari pancuran air.

Hati Cen Sim Fu tegang sekali, cepat dia menghentakkan sepasang kakinya, lalu meluncur ke depan.

Cen Sim Fu mengambil arah kanan untuk mengitari kolam itu. Entah bagaimana, baru saja dia sampai di seberang kolam dan melihat pedang hijau itu melorot turun, tiba- tiba tampak sesosok bayangan berkelebat. Tahu-tahu bayangan itu sudah sampai di samping pedang hijau. Ketika Cen Sim Fu bergegas menjulurkan tangannya untuk meraih pedang hijau itu, tahu-tahu orang lain sudah lebih dulu mengambilnya.

Kemarahan dalam dada Cen Sim Fu benar-benar meluap. "Siapa?" tanyanya. "Aku!" sahut orang itu dengan nada dingin. Cen Sim Fu memperhatikan dengan seksama, orang itu ternyata Siu Lo Cun Cu Kwe Tok.

Tadinya Cen Sim Fu mengira pasti orang lain yang datang merebut pedang itu dari jangkauannya, dia sama sekali tidak menyangka, Kwe Tok yang melakukannya.

Saat itu, ketika melihat jelas orang yang merebut pedang itu memang Siu Lo Cun Cu hatinya terkejut bukan main, wajahnya langsung berubah hebat. "Kwe lo yacu, sungguh tidak disangka orang tua seperti kau bisa mengingkari kata-katanya sendiri."

Kedua jari tangan Kwe Tok menjepit pedang hijau itu. "Siapa yang mengingkari kata- katanya?" sahutnya dengan nada dingin.

"Baru saja kau mengatakan, kalau aku berhasil mendapatkan pedang itu, kau tidak akan merebutnya. Sekarang, coba lihat, apa yang kau lakukan?"

Cen Sim Fu menganggap sindirannya itu pasti akan membuat Kwe Tok membungkam tanpa sanggup menjawab sepatah kata pun. Tidak tahunya, setelah mendengar sindirannya itu, Kwe Tok malah tertawa terbahak-bahak.

"Siau Cen, kalau saja aku terlambat bertindak, pedang hijau yang langka ini pasti sudah menghilang dari dunia bu lim untuk selamanya."

Hek Tian Mo Cen Sim Fu tertegun sejenak. "Kenapa?"

"Tadi kau lihat sendiri bahwa pedang itu meluncur lurus menuju ke dalam kolam, seandainya kau tidak sempat meraihnya dan pedang itu sampai tercebur ke dalam kolam, siapa orang di dunia ini yang sanggup mengambilnya lagi?"

Tadi, ketika melihat pedang itu terpental keluar, Cen Sim Fu panik berlari memutari kolam. Dia tidak sempat memperhatikan ke mana arah luncuran pedang itu.

Tapi dia sudah menyambitkan beberapa batang senjata rahasia sehingga pedang itu terpental keluar dari pancuran air, sekarang jerih payahnya malah sia-sia. Pedang itu direbut oleh Kwe Tok. Mana mungkin dia sudi melepaskan kesempatan itu begitu saja?

Cen Sim Fu merenung sejenak. "Kwe loyacu, apakah tidak ada kesempatan lagi bagiku untuk mendapatkannya?" katanya.

Kwe Tok tertawa terbahak-bahak. "Tentu saja boleh!"

Sembari berkata, dia mencelat ke belakang beberapa tindak. Dia menjauhi kolam tersebut.

"Aku akan menyambitkan pedang ini ke depan. Seandainya kau bisa menyambutnya, pedang ini akan menjadi milikmu."

Hek Tian Mo Cen Sim Fu tertawa dingin satu kali. "Kau mengerahkan tenaga dalam menyambitkannya, sedangkan pedang itu begitu tajam, mana mungkin aku sanggup menyambutnya?" Baru saja kata-katanya selesai, terdengar Sin Lo Cun Cu memekik aneh, gerakan tubuhnya seperti kilat. Tiba-tiba dia menerjang kearah Cen Sim Fu.

Pada dasarnya Cen Sim Fu memang rada takut kepada Kwe Tok. Apalagi sekarang di tangan orang tua itu bertambah sebatang pedang yang demikian tajam?

Karena itu, begitu melihat Kwe Tok menerjang datang, saking terkejutnya dia sampai pucat pasi. Tubuhnya berkelebat, dia menghindar ke samping. Ilmu kepandaian Hek Tian Mo Cen Sim Fu hampir seimbang dengan almarhum Gin Leng Hia Ciang I Ki Hu. Dengan demikian sudah terhitung jago kelas satu di dunia kang ouw. Gerakan menghindarnya itu juga cepatnya tidak terkirakan.

Tetapi, baru saja tubuhnya bergerak, lengan Kwe Tok tiba-tiba menjulur ke depan. Pedang yang warnanya hijau berkilauan itu sudah menghadang di depannva.

Seandainya Cen Sim Fu nekat menghindar terus ke depan, sama saja artinya dia menyorongkan tubuhnya agar tertusuk pedang hijau itu. Bisa-bisa pinggangnya akan tertebas putus seketika.

Melihat keadaan itu, sukma Cen Sim Fu seakan melayang entah kemana. Sinar pedang yang warna hijau berkilauan itu sungguh mengerikan. Dalam keadaan panik, dia menahan gerakan tubuhnya. Batang pedang itu hanya tinggal setengah cun dari pinggangnya.

Seluruh tubuh Cen Sim Fu dibasahi peluh dingin. Untuk sesaat dia berdiri termangu- mangu. Sedangkan dalam keadaan terpaku, dia masih bingung apa sebetulnya yang sedang terjadi. Dan dia juga tidak tahu apa yang akan dilakukan Kwe Tok terhadapnya.

Tangan kiri Kwe Tok terangkat ke atas. Plok . . .!

Muka Cen Sim Fu kena tamparan Kwe Tok. Dan dalam waktu yang bersamaan, orang tua itu pun mencelat ke belakang. Semua itu terjadi dalam sekejap mata. Yang lerlihat oleh orang lain hanya cahaya hijau yang melintas lalu tubuh Kwe Tok menghambur ke depan.

Plok . . .! Tahu-tahu pipi Cen Sim Fu sudah tertampar lagi.

Setelah mencelat ke belakang, Kwe Tok memaki dengan nada berat. "Siau Cen, kau kira Kwe yayamu ini manusia yang demikian rendah?"

Hek Tian Mo Cen Sim Fu kena ditamparnya satu kali. Setelah tertegun sejenak, dia baru menyadari bahwa dirinya ternyata masih hidup. Sampai dia mendengar makian Kwe Tok, baru menyadari bahwa kata-katanya tadi telah menyinggung perasaan orang tua itu. Dan Kwe Tok hanya memberinya pelajaran, bukan ingin membunuhnya.

Untuk sesaat dia terpaku memikirkan apa yang dialaminya barusan seandainya Kwe Tok berniat jahat kepadanya kemungkinan itu besar sekali dan mungkin saat itu dirinya sudah celaka. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. "Kalau begitu, mohon tanya bagaimana caranya Kwe loyacu ingin menyelesaikan masalah pedang itu?"

Siu Lo Cun Cu Kwe Tok tertawa dingin. "Aku akan melemparkan pedang ini ke atas, kalau kau mempunyai kemampuan, silakan sambut. Tapi kalau sampai gagal, salahkan kepandaianmu sendiri yang terlalu cetek!"

Diam-diam Cen Sim Fu berpikir di da lam hati, asalkan dia berhasil mendapatkan pedang itu meskipun ilmu kepandaian Kwe Tok tinggi sekali, rasanya juga tidak perlu ditakutkan.

"Baik!" sahutnya.

Siu Lo Cun Cu menggerak-gerakkan pedang itu sedikit, bermaksud melemparkan pedang itu ke atas, tiba-tiba terdengar I Giok Hong berseru.

"Kwe lo sian sing, tunggu dulu!" Kwe Tok menolehkan kepalanya.

"A Hong, aku ini Siok kongmu, mengapa kau memanggilku dengan sebutan Lo sian sing?"

I Giok Hong tidak langsung menjawab, tampak seperti mempertimbangkan sejenak.

"Kwe lo sian sing, kau dengarkan dulu kata-kataku sampai selesai, nanti kau sendiri bisa mengerti mengapa aku menyebutmu demikian."

"Katakanlah," kata Kwe Tok.

"Tadi Hek Tian Mo menggunakan senjata rahasia mementalkan pedang itu dari pancuran air. Kalau lo sian sing tidak cepat-cepat mengambil tindakan, pedang itu pasti sudah lenyap untuk selamanya. Karena itu, lo sian sing melemparkan pedang itu ke atas, kecuali Hek Tian Mo, setiap orang lainnya juga berhak ikut merebut, entah bagaimana pendapat lo sian sing mengenai usulku ini?"

Belum lagi Kwe Tok sempat menyahut, Hek Tian Mo sudah membentak dengan suara tajam melengking. "Siapa yang ingin berebutan denganku?"

I Giok Hong maju satu langkah. "Aku!" sahutnya.

Orang-orang lainnya langsung tertegun mendengar kata-kata gadis itu. Kenyataannya, mes-kipun Hek Tian Mo Cen Sim Fu tadi sempat menderita kerugian, tetapi sampai di mana tingginya kepandaian orang itu, tidak ada yang meragukannya lagi.

Sedangkan I Giok Hong lebih-lebih terpaut jatuh. Sekarang melihat gadis itu berani terang-terangan menyatakan dirinya akan ikut merebut pedang itu, benar-benar tidak diduga oleh mereka.

Kwe Tok sendiri juga tertegun. "A Hong, satu hal yang harus kau ketahui, meskipun kau cucu keponakanku, tapi dengan alasan peraturan bu lim, aku tidak bisa memberikan bantuan kepadamu!"

I Giok Hong tersenyum. "Lo sian sing. itulah sebabnya aku memanggilmu seperti itu. Apabila mengharap kau orang tua memilih kasih, mana boleh ikut merebut pedang pusaka itu?"

Kwe Tok tertawa terbahak-bahak. "Bagus! Sikapmu persis seperti ibumu. Bagus sekali."

I Giok Hong maju lagi selangkah. Dia berdiri berhadapan dengan Cen Sim Fu. Jarak keduanya dengan Kwe Tok kurang lebih satu depa. Tao Heng Kan yang berdiri di samping merasa panik dan berdebar-debar melihat kenekatan I Giok Hong.

"Giok Hong, apakah kau mempunyai keyakinan bisa ikut merebut pedang itu?" I Giok Hong tersenyum tawar. "Tenang saja!"

Wajah Kwe Tok tampak berseri-seri. "Siapa lagi yang ingin mengambil bagian dalam perebutan ini?"

Kim Ting siong jin yang sejak tadi diam saja segera maju satu langkah. "Masih ada aku."

Ketiga orang yang ingin merebut pedang itu segera berkumpul membentuk posisi segi tiga. Sinar mata Kwe Tok mengedar melirik ketiga orang itu sekilas.

"Aku akan menghitung sampai tiga, lalu melemparkan pedang ini ke atas."

Mimik wajah Cen Sim Fu dan Kim Ting siong jin terlihat tegang sekali. Sebaliknya, penampilan I Giok Hong justru sangat tenang. Dia berdiri dengan kedua tangan disilangkan di depan dada dan bibirnya terus menyunggingkan senyuman. Meskipun wajahnya juga dipenuhi urat-urat merah yang bertonjolan, tetapi pada dasarnya dia memang seorang gadis yang cantik sekali, keanggunannya sudah melekat pada dirinya. Karenanya jati dirinya tidak berkurang sedikit pun. Apalagi apabila dia mau mengubah wataknya yang jelek. Yah . . . Manusia memang tidak ada yang sempurna bukan?

Terdengar Kwe Tok mulai menghitung. "Satu . . . dua . . . tiga!"

Tepat pada hitungan ketiga, tangannya bergerak ke depan, tampak pedang yang warnanya hijau bening itu melayang ke atas. Ketika mencapai ketinggian dua depa lebih pedang itu baru melorot turun kembali.

Kim Ting siong jin dan Cen Sim Fu memperhatikan dengan seksama. Mereka memusatkan pandangan pada pedang itu. Begitu pedang melorot turun, keduanya mengeluarkan suara bentakan keras lalu menerjang ke depan dalam waktu yang bersamaan. Gerakan tubuh kedua orang itu begitu cepat bagai kilasan kilat. Tangan Cen Sim Fu mengibas, tiga batang senjata rahasia masing-masing mengeluarkan suara desingan melesat ke arah Kim Ting siong jin. Dan hampir dalam waktu yang bersamaan, Kim Ting siong jin juga mengirimkan sebuah pukulan. Jarak kedua orang itu memang dekat sekali, ketika sama-sama menerjang ke depan, jelas jaraknya semakin dekat. Kedua-duanya tidak ada yang sempat menghindarkan diri.

Ketiga batang senjata rahasia yang disambitkan Cen Sim Fu tepat mengenai pundak Kim Ting siong jin dan pukulan Kim Ting siong jin menghantam telak di dada Cen Sim Fu.

Blam . . .!

Cen Sim Fu merasa tenaga yang terkandung dalam pukulan Kim Ting siong jin dahsyat sekali. Terdengar dia mendengus satu kali lalu memaksakan diri untuk memantapkan kakinya agar jangan sampai terjatuh. Sementara itu, tangannya mengibas ke depan sehingga tubuh Kim Ting siong jin terhuyung-huyung dan tergetar mundur setengah tindak.

Gerakan keduanya memang cepat, tetapi luncuran pedang hijau itu tidak kalah cepatnya. Baru saja Cen Sim Fu menggetarkan Kim Ting siong jin sehingga terdesak mundur, pedang hijau itu sudah tinggal kurang lebih tiga kaki dari atas kepalanya. Cen Sim Fu mendongakkan wajahnya. Dia merasa cahaya hijau itu menyilaukan pandangan matanya.

Padahal dadanya sudah terluka cukup parah akibat pukulan Kim Ting siong jin. Tetapi saat itu semangatnya kembali berkobar-kobar. Mengetahui adanya harapan untuk mendapatkan pedang pusaka, cepat-cepat Cen Sim Fu menjulurkan tangannya untuk menjepit pedang yang sedang meluncur turun itu.

Tetapi tepat pada saat itu juga, Kim Ting siong jin memekik aneh, telapak tangannya menghantam ke depan sehingga pedang hijau yang sedang meluncur itu condong ke samping. Cen Sim Fu segera merasakan sesuatu yang tidak beres, cepat-cepat dia menarik tangannya kembali, tapi sudah terlambat.

Ces . . .!

Tampak cahaya hijau berkelebat, tangan kanan Cen Sim Fu terasa dingin. Kecuali jempol, keempat jari lainnya sudah terputus oleh kilasan pedang hijau.

Tentu saja Kim Ting siong jin kegirangan melihatnya. Dia bergegas maju satu tindak untuk meraih kesempatan yang terluang. Tapi Cen Sim Fu yang sedang kesakitan, tanpa sengaja menghentakkan tangannya ke atas, jari jempol yang kehilangan empat anggotanya yang lain secara kebetulan mengenai tubuh pedang sehingga terpental keluar lagi.

Selama Kim Ting siong jin dan Cen Sim Fu berusaha mendapatkan pedang hijau itu, I Giok Hong tetap berdiri memandangi semua yang berlangsung dengan tenang. Ketika membuka suara akan ikut dalam perebutan itu, tentunya sudah mempunyai persiapan yang matang.

Pada dasarnya I Giok Hong memang cerdik sekali. Dia menyadari apabila dia tidak menyatakan ikut dalam perebutan pedang itu, Kim Ting siong jin juga tidak akan mengambil tindakan apa-apa. Begitu dia membuka mulut, sudah dapat menduga bahwa Kim Ting siong jin pasti tidak mau ketinggalan.

Kalau kedua orang itu terlibat perkelahian sengit, I Giok Hong sendiri jelas akan mendapat kesempatan meraih pedang itu. Sebab perempuan itu menyadari, di bawah daya tarik benda pusaka, keduanya tentu tidak akan memperdulikan hal lainnya, dan hanya ingin mencapai tujuannya dengan cara apa pun. Lagipula, bila dua ekor harimau saling mencakar, pasti ada satu pihak yang akan terluka. Apalagi yang diperebutkan merupakan sebatang pedang pusaka yang bukan main tajamnya. Tentu I Giok Hong berharap kedua-duanya akan terluka parah.

Perkembangannya sampai saat itu memang persis seperti apa yang diduganya. Tetapi kata-kata pepatah memang tepat, manusia hanya bisa merencanakan, Tuhan pula yang menentukan. Di saat pedang itu terpental keluar, Cen Sim Fu dan Kim Ting siong jin terus menerjang ke depan. Di tengah-tengah terjangan itu, mereka masih sempat mengadu pukulan sebanyak tiga kali.

Tidak diragukan lagi keduanya sama-sama terluka setelah beradu pukulan sebanyak tiga kali. Dan tepat pada saat itu pula I Giok Hong sudah melesat mendahului mereka.

Namun I Giok Hong juga gagal meraihnya, karena pedang hijau itu meluncur terus ke arah Tao Ling. Lie Cun Ju terkejut setengah mati. Dia khawatir kalau Tao Ling yang sudah musnah kepandaiannya itu akan terluka. Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya dia menjulurkan tangannya untuk menjepit pedang itu.

Tindakan Lie Cun Ju itu berbahaya sekali. Pedang itu meluncur begitu cepat, jika dia melakukan kesalahan sedikit saja, bukan hanya tangannya yang tidak berhasil menjepit pedang itu, bahkan ada kemungkinan dadanya akan tertembus serta mati seketika.

Tetapi demi keselamatan Tao Ling, Lie Cun Ju tidak sempat berpikir panjang lagi. Begitu dia menjulurkan kedua jari tangannya dengan gerakan spontan, ternyata pedang itu sudah berhasil dijepitnya.

Lie Cun Ju pun tertegun seketika. Tangan kirinya bergerak dan digenggamnya bagian ujung pedang itu. Dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa pedang pusaka yang tiada duanya di dunia ini dapat dijepitnya tanpa kesulitan sedikit pun.

Begitu dia berhasil mendapatkan pedang itu, I Giok Hong pun menyusul tiba. Hati perempuan itu marah sekali. Dengan berbagai akal licik, dia ingin mendapatkan pedang itu, justru Lie Cun Ju yang tidak perlu menguras otak sedikit pun yang mendapatkannya.

"Berikan pedang itu!" bentaknya. Lie Cun Ju sendiri sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari dunia bu lim, bahkan dia juga tidak menyayangkan apabila kepandaiannya dimusnahkan oleh Kwe Tok, apalagi cuma sebatang pedang.

Tapi ketika dia bermaksud menyodorkan pedang itu kepada I Giok Hong, Tao Ling berkata

dengan nada berbisik. "Cun Ju, jangan!"

Lie Cun Ju merasa heran.

"Ling moay, untuk apa kita miliki pedang ini?"

Pelupuk mata Tao Ling mulai membasah, hampir saja dia tidak dapat menahan isak tangisnya.

"Cun Ju, dendam kematian kedua orang tuaku masih belum terbalaskan. Malah bencana yang menimpa mereka juga karena pedang pusaka ini."

Wajah I Giok Hong menjadi garang seketika.

"Dengan mempertaruhkan nyawa aku merebut pedang itu, kau ingin menarik keuntungan tanpa keluar tenaga?" ucapnya.

Kaki gadis itu mundur satu langkah, lalu mengayunkan pecutnya. Dengan jurus Pohon Liu bersemi di bulan lima, dia menyerang Lie Cun Ju.

Padahal Lie Cun Ju sudah bertekad tidak ingin berkelahi dengan siapa pun. Tetapi dalam keadaan seperti itu, mau tidak mau harus membalas serangan I Giok Hong. Pedang hijau di tangannya dikibas-kibaskannya ke depan.

Tampak cahaya kehijauan berkelebat, tahu-tahu pecut di tangan I Giok Hong sudah terputus menjadi dua bagian.

I Giok Hong terkejut setengah mati, dia berteriak seperti orang kalap. "Siok kong, pedang hijauku!"

Siu Lo Cun Cu Kwe Tok mengernyitkan keningnya.

"Lie kongcu, untuk apa kau menginginkan pedang itu? Perlu kau ketahui bahwa lebih baik jadi orang biasa. Apabila kau sampai memiliki pedang itu, maka untuk seumur hidup kau tidak akan merasakan ketenangan lagi. Para tokoh di seluruh dunia ini akan mengejar-ngejarmu demi mendapatkan pedang itu."

"Apa yang dikatakan cianpwe memang benar, tetapi Tao kouwnio ingin meminjam pedang ini guna membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya. Setelah selesai, kami berjanji akan mengembalikannya." I Giok Hong mendengus dingin.

"Bicara sih gampang, kalau sampai waktunya nanti kalian tidak mengembalikan, bagaimana?"

Belum lagi Lie Cun Ju sempat memberikan jawaban, Kim Ting siong jin dan Cen Sim Fu yang sedang bertarung dengan sengit, mulai memperlihatkan hasilnya. Ternyata salah seorang dari mereka sudah terkulai di atas tanah.

Rupanya ketiga batang senjata rahasia yang disambitkan Cen Sim Fu mengandung racun jahat. Sedangkan Kim Ting siong jin yang terkena serangan senjata rahasia itu, tidak sempat beristirahat sedikit pun. Dengan demikian racun jadi menyebar ke dalam seluruh tubuhnya. Lengah sedikit, dadanya terkena hantaman Cen Sim Fu sekali lagi, sehingga tubuhnya terpental ke belakang sejauh satu depa lebih.

Sang Cin dan Sang Hoat segera menghambur mendekati gurunya. Kim Ting siong jin menolehkan kepalanya, dia melihat Coan lun hoat ong dan dua orang lhama lainnya sudah meninggalkan goa itu. Meskipun perasaannya kurang puas, tapi tidak ada lagi yang dapat diiakukannya. Terpaksa dia berkata kepada Sang Cin dan Sang Hoat.

"Kalian berdua cepat papah aku mengundurkan diri dari goa ini!"

Sang Cin dan Sang Hoat segera mengiakan. Mereka memondong tubuh Kim Ting siong jin kemudian keluar dari goa itu. Sementara itu, Cen Sim Fu juga terluka cukup parah. Keringat dan darah menyatu meninggalkan noda di seluruh pakaian dan wajahnya. Tetapi dia masih mempertahankan diri agar jangan sampai ambruk. Saat itu dia melihat I Giok Hong sedang berdebat dengan Lie Cun Ju memperebutkan pedang hijau. Dan tampaknya Lie Cun Ju seperti tidak ingin mempertahankan pedang itu.

Apabila pemuda itu sampai menyerahkannya kepada I Giok Hong, bukankah pengorbanan dan jerih payahnya sia-sia saja? Karena itu cepat-cepat dia berkata dengan nada sinis.

"I kouwnio, jangan lupa bahwa aku juga ada bagian dalam pedang itu. Mengapa dia harus

menyerahkannya kepadamu?"

Sepasang alis I Giok Hong menjungkit ke atas. "Bagus, kalau begitu kau rebut saja sendiri!" Cen Sim Fu tertawa terbahak-bahak.

"I kouwnio, kau kira aku tidak mempunyai kesanggupan lagi untuk melakukannya?" Dia segera mengedarkan hawa murni di seluruh tubuhnya. Tampak rambutnya berdiri tegak seperli sapu ijuk. Dapat dibayangkan sampai di mana tenaga dalam yang dimilikinya.

"Siapa yang bilang kau tidak punya kesanggupan? Silakan kau rebut saja!" Cen Sim Fu mengambil posisi berdiri dengan sebelah telapak tangan menahan dada. Dia sudah mengukur dengan seksama jarak antaranya dengan Lie Cun Ju. Sebuah serangan yang dahsyat sudah siap dilancarkannya.

Lie Cun Ju juga sudah maju satu tindak.. Pedang hijaunya digetarkan dan siap ditikamkan ke depan. Namun pada saat itu juga, terdengar Tao Ling berkata.

"Tidak, Cun Ju! Biar aku membalas sendiri dendam kematian kedua orang tuaku!" Lie Cun Ju terkejut setengah mati.

"Ling moay, apa yang kau katakan?" Mimik wajah Tao Ling serius sekali.

"Aku ingin membalas dendam sendiri dendam sedalam lautan ini"

"Tapi. . . tapi seluruh kepandaianmu sudah musnah, bagaimana kau bisa berkelahi lagi?"

Tao Heng Kan yang berdiri di samping juga ikut menjadi panik. "Moay moay, biar aku saja yang turun tangan!"

Tao Ling melirik sekilas dengan sorot mata dingin. "Koko, kau tidak perlu turun tangan!"

Tao Heng Kan jadi bingung mendengar kata-katanya. "Kenapa?"

Tao Ling memaksakan dirinya untuk tersenyum.

"Antara kau dan dia ada hubungan guru dan murid mana boleh kau turun tangan terhadapnya?"

Wajah Tao Heng Kan jadi merah padam mendengar sindiran adiknya.

"Moay moay, kau toh tahu aku mengakuinya sebagai guru karena terpaksa, kau kira aku rela melakukannya?"

Tao Ling menarik nafas panjang.

"Koko, aku juga demi kebaikanmu, meskipun dia sudah terluka, kepandaiannya tetap tinggi, kau tidak dapat mengalahkannya."

"Moay moay, kau jangan mengoceh sembarangan lagi. Kalau aku saja tidak dapat mengalahkannya, apalagi kau!" I Giok Hong yang berdiri di samping mendengar mereka terus berdebat tiada hentinya. Kesabarannya mulai habis. Sebetulnya dia benci sekali kepada Tao Ling, ingin rasanya membiarkan perempuan itu yang membalas dendam agar mati di tangan Cen Sim Fu. Tapi dia juga khawatir, kalau Tao Ling tidak becus sehingga pedang hijau itu malah terjatuh ke tangan lawan. Apabila hal itu sampai terjadi, tentu sulit lagi baginya untuk mendapatkan pedang itu.

Dengan membawa pikiran demikian, dia segera ikut membujuk. "Tao kouwnio, sebaiknya kau jangan keras kepala!"

Air mata Tao Ling terus mengalir dengan deras. Namun mimik wajahnya menyiratkan kekerasan hatinya yang tidak mudah ditaklukkan.

"Kalian tidak perlu menasehati lagi! Kalau aku tidak bisa membalaskan dendam kematian kedua orang tuaku, seumur hidup ini aku tidak akan merasa tenang."

Lie Cun Ju semakin panik.

"Ling moay, tapi kalau kau sampai..."

"Cun Ju, jangan bicara lagi! Keputusanku sudah bulat." Lie Cun Ju menarik nafas panjang.

"Ling moay, masih ada sedikit perkataan yang ingin kuutarakan, kau harus mendengarkannya!"

"Katakanlah!"

"Ling moay, kita sudah mengalami berbagai penderitaan dan baru sekarang kita bisa berkumpul kembali. Apabila terjadi sesuatu padamu, aku pasti akan mengikutimu."

Tao Ling tertegun beberapa saat, kemudian dia menarik nafas panjang sekali lagi.

"Berapa banyak manusia yang saling mencintai di dunia ini, tetapi tidak dapat bersatu. Cun Ju, hati kita telah menyatu, apabila kita meniang tidak ditakdirkan untuk berjodoh di dunia ini, aku rasa lebih baik mati saja. Mungkin di alam baka kita dapat bersatu untuk selamanya. Bukankah begitu?"

Perasaan Lie Cun Ju semakin perih mendengar kata-kata Tao Ling. Dia menyerahkan pedangnya kepada perempuan itu. Tao Ling menyambutnya kemudian berkata kepada Cen Sim Fu.

"Hek Tian Mo, turun tanganlah!"

*****

Saat itu kepandaian Tao Ling sudah musnah, dirinya tidak berbeda dengan orang biasa. Lagipula, keadaannya masih lemah sekali. Tidak berbeda dengan orang yang baru sembuh dari sakit parah. Dia berdiri sambil bersandar di bahu Lie Cun Ju. Bahkan kelihatannya jauh lebih lemah dari orang biasa. Ketika dia berusaha melangkahkan kakinya ke depan, tampak tubuhnya terhuyung-huyung.

Lie Cun Ju cepat-cepat melangkah maju untuk membimbingnya. Tetapi Tao Ling justru mengibaskan tangannya.

"Cun Ju, jangan mendekat! Biar aku seorang diri saja menghadapinya!"

Luka Cen Sim Fu juga sangat parah. Tetapi dia melatih tenaga dalamnya selama puluhan tahun. Di saat Tao Ling dan Lie Cun Ju terlibat pembicaraan dia sudah mengatur pernafasannya. Dengan demikian kekuatannya sudah pulih sebagian.

Sementara itu, dia juga sudah dapat melihat keadaan Tao Ling yang siapa pun bisa meroboh-kannya. Tetapi Cen Sim Fu tetap menjaga jaraknya dengan Tao Ling satu depa lebih dan tidak berani mendekatinya.

Pertama, Cen Sim Fu merasa agak ngeri menghadapi pedang hijau di tangan Tao Ling. Kedua, dia khawatir keadaan Tao Ling yang begitu lemah sebetulnya hanya dibuat- buat saja alias pura-pura. Kemungkinan dia memang ingin menjebak dirinya. Kalau tidak, mengapa dia seyakin itu menghadapinya seorang diri?

Kedua orang itu berdiri berhadapan sampai cukup lama, akhirnya tampak Tao Ling meng-geretakkan giginya erat-erat.

"Hek Tian Mo. Dengan kejam dan tanpa belas kasihan sedikit pun kau mencelakai kedua orang tuaku di tepi danau dekat gurun pasir. Semuanya aku lihat dengan jelas. Mengapa sekarang kau belum turun tangan juga?"

Cen Sim Fu tertawa dingin.

"Aneh, kan engkau yang ingin membalaskan dendam bagi kedua orang tuamu, mengapa aku yang dengan sempoyongan harus turun tangan terlebih dahulu?"

Dengan sempoyongan Tao Ling maju lagi satu langkah. "Baiklah, aku yang akan turun tangan terlebih dahulu!"

Pada saat itu, orang yang paling panik sudah tentu Lie Cun Ju dan Tao Heng Kan. Yang pertama merupakan pemuda yang mencintai Tao Ling dan sudah mengalami berbagai cobaan yang tidak alang kepalang beratnya dan baru saja bisa berkumpul kembali. Meskipun Tao Ling sudah menjadi istri almarhum I Ki Hu dan bahkan sekarang sedang mengandung anak dari laki-laki itu Lie Cun Ju tetap mencintainya. Yang kedua, adalah abang kandungnya sendiri. Tao Ling merupakan satu-satunya keluarganya yang masih hidup di dunia ini. Tentu saja Tao Heng Kan mengkhawatirkan keselamatan adiknya.

Tampak Tao Ling melangkah lagi ke depan satu tindak kemudian menggerakkan pedang pusaka itu dengan perlahan-lahan. Meskipun tenaga dalamnya sudah musnah, tetapi gerak gerik setiap jurus ilmu pedang masih belum dilupakannya. Pada dasarnya ayah Tao Ling merupakan seorang jago pedang yang sudah mempunyai nama besar di dunia bu lim yakni Pat sian kiam. Dan yang dikerahkan Tao Ling saat itu justru salah satu jurus terhebat dari Pat Sian kiam hoat.

Tao Ling memainkan jurus itu tanpa mengandung tenaga sedikit pun. Tetapi pedang hijau di tangannya memang bukan pedang sembarangan. Bukan saja bobotnya yang begitu ringan, tetapi ketika digerakkan dapat memantulkan segurat cahaya kehijauan yang membuat mata lawan menjadi silau sehingga tidak dapat menentukan dengan tepat arah sasaran pedang itu.

Tao Ling menikamkan pedang itu ke depan. Cen Sim Fu menggeser tubuhnya ke samping. Wajah Tao Ling tampak pucat pasi, tenaganya lemah sekali tetapi dia memaksakan diri untuk memutar pergelangan tangannya dan mengganti jurus serangannya. Kali ini dia mengerahkan jurus Orang tua menunggang keledai.

Sepasang kaki Cen Sim Fu menghentak di atas tanah, lain mencelat ke belakang satu depa lebih.

Meskipun kepandaian Tao Ling sudah musnah dan serangannya tidak mengandung kekuatan, tetapi tampaknya Cen Sim Fu merasa gentar. Dia hanya menghindarkan diri ke sana sini dan tidak membalas serangan kembali.

Setelah mengerahkan dua jurus serangan, nafas Tao Ling mulai memburu. "Mengapa kau tidak balas menyerang?" tanyanya dengan nafas tersengal-sengal.

Pada saat itu Cen Sim Fu sudah dapat melihat bahwa kelemahan Tao Ling sama sekali bukan dibuat-buat. Tanpa disadari keberaniannya jadi tergugah. Dia tidak menjawab pertanyaan Tao Ling, hanya melirik sekilas kepada I Giok Hong dan Kwe Tok. Dia melihat kedua orang itu sedang berbicara dengan saling berbisik. Suara mereka lirih sekali. Entah apa yang mereka bicarakan.

Cen Sim Fu tahu, saat itu merupakan kesempatan yang paling baik baginya. Coba pikirkan saja, keadaan Tao Ling begitu lemah, tentu tidak sulit baginya untuk merebut pedang itu dari tangan Tao Ling. Dan apabila dia sudah berhasil mendapatkan pedang itu, mengapa harus takut lagi kepada Kwe Tok?

"Silakan kau serang aku sesuka hatimu, kau tidak usah perdulikan apa pun yang kulakukan!" kata Cen Sim Fu dengan suara berat.

Tao Ling menarik nafas dalam-dalam sebanyak dua kali. Dia juga menggeretakkan giginya erat-erat. Dia memaksakan kakinya meiangkah lagi ke depan. Salah satu jurus dari Pat Sian kiam kembali dilancarkan.

Pedang itu terus meluncur mengancam dada Cen Sim Fu. Bayangan pedang berpijar. Pada saat itu Tao Ling memaksakan dirinya mengerahkan tenaga yang tersisa, bahkan tubuhnya pun ikut condong ke depan seiring gerakan pedang di tangannya. Cen Sim Fu tertawa terbahak-bahak. Tangan kirinya meluncur ke depan, jari tengahnya mengincar batang pedang dengan maksud ingin menotok agar Tao Ling tersungkur jatuh. Serangan Cen Sim Fu itu terlalu berani, sebab sebetulnya berbahaya sekali. Tapi dia sudah memperhitungkannya matang-matang. Jangan kan Tao Ling sekarang demikian lemah. Meskipun tenaga dalamnya masih ada, dia pasti terhempas karena totokan pada batang pedang itu.

Tetapi, apa yang terjadi justru sebaliknya. Justru karena tenaga dalam Tao Ling sudah mus-nah maka terjadilah perubahan yang tidak disangka-sangka.

Tubuh Tao Ling sudah demikian lemah, apalagi dia memaksakan dirinya untuk menggerakkan pedang mengirim serangan. Baru setengah jalan, tangannya sudah tidak kuat mempertahankan luncuran pedangnya. Tanpa dapat dipertahankan lagi, tangannya terkulai sedikit dan pedangnya itu pun bergerak ke bawah. Hal itu malah membuat serangan Tao Ling seperti mengandung jurus yang bukan main anehnya.

Perubahan itu tidak mungkin terjadi apabila tenaga dalam Tao Ling masih seperti sedia kala. Dan tepat pada saat pedangnya melorot turun, totokan Cen Sim Fu pun sampai. Pedang yang bukan main tajamnya itu kebetulan melintas sekilas ke arah jari tangan Cen Sim Fu.

Bukan saja totokan orang itu tidak mengenai sasarannya, bahkan tiba-tiba dia merasa tangannya perih tidak terkirakan. Ketika dia menoleh sekejap, ternyata jari tengahnya juga sudah putus. Cen Sim Fu marah sekali. Secepat kilat dia memutar pergelangan tangannya dan menghantam ke depan.

Coba bayangkan saja, tangan kanan Cen Sim Fu sudah kehilangan empat jarinya, dan sekarang tangan kirinya kembali kehilangan satu jari. Dengan demikian jari tangannya hanya tinggal separuh dibandingkan dengan manusia normal Iainnya.

Tubuh Tao Ling sedang condong ke depan. Ketika terkena pukulan Cen Sim Fu, tubuhnya langsung terpental ke belakang. Dalam waktu yang bersamaan, mulutnya membuka serta memuntahkan segumpal darah segar. Dia pun terhempas keras di atas tanah. Cen Sim Fu tidak memperdulikan darah yang masih menetes dari jari tangannya yang terputus. Melihat keadaan Tao Ling, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu. Lagi-lagi sebuah pukulan dilancarkannya dari atas ke bawah.

Tao Ling yang baru terhempas di atas tanah, berusaha membaiikkan tubuhnya. Tangannya diangkat ke atas dengan maksud menahan serangan Cen Sim Fu. Melihat cahaya yang berkilauan dari pedang itu, serangan Cen Sim Fu yang tadinya diarahkan ke kepala berubah menjadi mengarah ke dada. Tetapi seperti pertama tadi, tangan Tao Ling tidak kuat terangkat lama-lama. Terlihat tangannya mulai mengulai ke bawah.

Dan lagi-lagi hal itu tidak mungkin terjadi dalam perkelahian para tokoh bu lim. Jelas Cen Sim Fu terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia menyurutkan tangannya kembali. Namun karena terlalu bersemangat ingin membunuh Tao Ling dengan sekali hantaman, dia mengerahkan tenaga sepenuhnya. Sekarang apabila mendadak dia ingin menarik tangannya kembali, gerakannya jadi tertunda sedikit. Dan waktu yang beberapa detik itu saja ternyata sudah terlambat. Terdengar dia mengeluarkan suara pekikan histreis, tubuhnya melonjak ke atas seketika. Sebuah lengan kirinya telah tertebas putus oleh pedang pusaka di tangan Tao Ling. Menghadapi seorang perempuan yang kepandaiannya sudah musnah, Cen Sim Fu mengalami dua kali kerugian yang besar. Bagaimana kemarahannya tidak semakin meluap? Sedangkan di pihak Tao Ling, keadaannya juga tidak lebih baik. Karena memaksakan diri berlebihan. Kembali dia memuntahkan segumpal darah segar dan tubuhnya sempoyongan. Wajahnya sudah begitu pucat sehingga tidak enak dilihat. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan orang yang sedang menjelang ajalnya.

Cen Sim Fu menggigit ujung lengan pakaiannya sehingga terkoyak sebagian dan dijadikan alat untuk membalut lukanya. Berkali-kali dia menggerung kalap. Dia bermaksud menerjang lagi ke arah Tao Ling. Namun tepat pada saat itu juga terdengar suara bentakan Kwe Tok.

"Tunggu dulu!"

Cen Sim Fu langsung tertegun. Kwe Tok sudah berjalan menghampiri Tao Ling.

"Tao kouwnio, rasanya kau tidak sanggup lagi membalaskan dendam kematian kedua orang tuamu. Lebih baik abangmu saja yang melakukannya!"

Dalam hati Tao Ling menyadari bahwa apa yang dikatakan Kwe Tok memang tidak salah. Kondisinya sudah terlalu parah. Tetapi dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk membalaskan dendam bagi kedua orang tuanya. Setelah termenung sejenak, dia berkata dengan tegas.

"Tidak!"

Kwe Tok menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat kekerasan hati perempuan itu.

"Tao kouwnio, aku kagum sekali dengan sikapmu. Tetapi kau harus sadar bahwa saat ini nafasmu sendiri tinggal satu-satu. Mana mungkin kau sanggup bertarung lagi?"

Tao Ling memaksakan dirinya untuk tesenyum.

"Pokoknya selama masih bernafas, aku tetap akan membalas dendam!" Kwe Tok menarik nafas panjang.

"Baiklah, Tao kouwnio. Apabila kau sampai mati sebelum berhasil mencapai tujuanmu, aku pasti akan membalaskan dendammu!"

Meskipun Kwe Tok merupakan seorang tokoh dari golongan sesat, namun di balik kejahatannya masih terselip jiwa kependekaran. Buktinya dia bisa membatalkan hukuman yang tadinya akan dijatuhkan kepada Lie Cun Ju dan mengucapkan kata-kata barusan.

"Terima kasih, Kwe lo yacu," kata Tao Ling.

Hek Tian Mo Cen Sim Fu terkejut mendengarkan kata-kata Kwe Tok. "Kwe loyacu, apakah kau tidak memahami peraturan dunia kang ouw lagi?"

"Siau Cen, selamanya aku tidak pernah mengikuti peraturan dunia kang ouw, masa sekarang kau baru mengetahuinya?" sahut Kwe Tok ketus.

Wajah Cen Sim Fu langsung berubah hebat. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan melesat ke arah pintu goa. Tao Ling tidak menyangka tokoh seperti Cen Sim Fu ternyata begitu pengecut serta tidak malu-malu mengambil langkah seribu dalam keadaan terdesak. Dengan gerak spontan, perempuan itu mengangkat tangannya ke atas lalu menyambitkan pedang hijau itu ke arah punggung Cen Sim Fu!

Tapi, tenaga dalam Tao Ling sudah tidak ada. Meskipun pedang hijau itu tinggal batangnya saja sehingga ukurannya pendek serta ringan, dia hanya sanggup menyanbitkannya sejauh tiga-empat depa.

Cep . . .!

Pedang itu menancap di dinding goa. Dalam waktu yang bersamaan, Cen Sim Fu sudah berhasil menyelinap ke luar.

Tao Ling menarik napas panjang. Lie Cun Ju cepat-cepat menghambur ke depan lalu membimbingnya. I Giok Hong segera melesat mendekati pedang hijau dan mencabutnya. Terdengar gadis itu tertawa terbahak-bahak. Cahaya pedang hijau menyilaukan mata, tahu-tahu dia sudah melancarkan serangan ke arah dada Tao Ling. Perubahan ini terjadi dengan begitu mendadak. Lie Cun Ju terkejut setengah mati, dengan panik dia menarik tubuh Tao Ling agar menghindar ke samping.

I Giok Hong yang melihat serangannya gagal, segera memutar pergelangan tangannya, pedang hijau digerakkan dan lagi-Iagi dihunjamkan ke arah Tao Ling.

"Giok Hong, apa yang kau lakukan?" bentak Kwe Tok kebingungan. I Giok Hong menggeretakkan giginya erat-erat.

"Karena dia, tulang betisku pernah patah. Karena dia, putus hubunganku dengan ayahku. Biar bagaimana aku harus membunuhnya untuk mencairkan kebencian di dalam hati ini."

Wajah Kwe Tok tampak serius sekali.

"Giok Hong, aku sudah berjanji kepada kedua orang ini untuk mengantarkan mereka sampai di sebuah tempat yang terpencil dan dapat hidup tenang untuk selamanya. Kau tidak boleh mengambil tindakan apa-apa terhadap mereka," katanya dengan nada tegas.

I Giok Hong mengeluarkan suara tawa yang aneh.

Sembari berbicara, lengannya menjulur ke depan melancarkan tikaman ke arah Tao Ling. Wajah Kwe Tok langsung berubah. Tampak tangannya mengibas ke depan, tiba-tiba tampak cahaya perak yang berkilauan. Selembar jala yang bukan main besarnya melayang turun dari atas kepala I Giok Hong. Lie Cun Ju cepat-cepat menarik Tao Ling ke belakang. Sementara itu, jala tadi sudah menutupi seluruh tubuh I Giok Hong.

Kwe Tok menghentakkan lengannya kuat-kuat ke belakang, tubuh I Giok Hong terangkat oleh jala itu. Tampak cahaya hijau berkelebat di sana sini. Tidak diragukan lagi I Giok Hong berusaha mengoyakkan jala itu dengan pedang hijau di tangannya.

Namun, rneskipun I Giok Hong menebas kesana kemari puluhan kali, jala itu tetap tidak terkoyak sedikit pun. Akhirnya I Giok Hong jadi kesal.

"Cepat turunkan aku!" teriaknya keras-keras. Siu Lo Cun Cu Kwe Tok tersenyum.

"Giok Hong, kalau aku melepaskanmu, mungkin kau akan menyerangku dengan pedang yang tajam itu."

Di dalam jala itu, 1 Giok Hong tidak sanggup mengatakan apa-apa. Hal itu membuktikan bahwa ucapan Kwe Tok tepat menembus isi hatinya.

"Siok kong, tadi kau sendiri yang mengatakan bahwa dengan mengandalkan dua batang pedang pusaka, kita bisa membangkitkan kembali partai Mo kau. Tetapi mengapa sekarang kau mengurungku di sini?" kata I Giok Hong kembali.

Memang watak I Giok Hong sangat keras. Tempo hari di padang pasir saja, dia rela membiarkan tulang kakinya patah daripada menyembah dan memanggil Tao Ling sebagai ibu. Boleh dibilang kata-katanya saat itu sudah terhitung sangat lunak. Apabila orang yang mendengarkan kata-katanya sekarang sudah cukup lama mengenalnya, orang itu pasti tahu I Giok Hong mempunyai maksud tertentu. Sayangnya Kwe Tok belum lama mengenal cucu keponakannya sendiri.

"A Hong, kau masih ada hubungan darah denganku. Tapi hanya kau yang mungkin timbul niat ingin mencelakakan aku, sedangkan aku tidak mungkin timbul niat seperti itu. Kalau kau ingin aku melepaskanmu, kau harus berjanji satu hal dulu kepadaku."

I Giok Hong tidak menanya apa yang harus dijanjikannya, tapi langsung saja menjawab.

"Baiklah, pokoknya aku berjanji tidak akan membunuh kedua manusia busuk itu." Kwe Tok langsung tertawa lebar.

"Benar-benar seorang gadis yang cerdas."

Tangannya bergerak menghentak, tubuh I Giok Hong pun terlepas dari lilitan jala.

I Giok Hong berdiri dengan menggenggam pedang hijau. Sepasang matanya mendelik kepada Tao Ling lebar-lebar. Sorot matanya mengandung hawa pembunuhan. Lie Cun Ju dan Tao Ling tahu, I Giok Hong hanya terpengaruh tekanan untuk sementara. Cepat atau lambat dia pasti akan mencelakai mereka berdua. Tadinya Lie Cun Ju ingin menggunakan kesempatan itu untuk meninggalkan tempat tersebut, namun sekarang malah tidak berani pergi.

Sebab, dengan adanya perlindungan dari Kwe Tok, I Giok Hong tidak berani turun tangan ter-hadap mereka berdua. Tetapi apabila mereka pergi, I Giok Hong pasti mencari kesempatan untuk mengejar mereka.

Lie Cun Ju dan Tao Ling berdiri dekat pintu goa. Tampak Kwe Tok membawa jalanya berjalan menghampiri tepi kolam. Orang tua itu membentak dengan suara keras.

Lengannya digetarkan, dia merentangkan jala itu ke atas ke arah pancuran air. Seperti nelayan yang menjala ikan di tengah lautan, dia melemparkan jala itu agar merentang. Kemudian menariknya kembali agar menyurut, sembari kakinya melangkah mundur beberapa tindak.

Kalau ditilik dari mimik wajahnya, perasaan orang tua itu sedang tegang sekali. Dalam sekejap mata, jala itu sudah ditariknya ke bawah dan dibiarkan jatuh di atas tanah.

Tepat pada saat itu, Lie Cun Ju yang berdiri di pintu goa tiba-tiba merasakan ada serangkum angin yang berkesiur. Tampak tanah di dekat kakinya mendadak timbul goresan yang cukup lebar. Selain hawa dingin dan goresan di tanah itu, Lie Cun Ju tidak melihat tanda-tanda apa-apa lagi.

Sekonyong-konyong hati Lie Cun Ju tergerak, ketika dia menoleh kepada Kwe Tok, tampak orang tua itu sedang memerintahkan I Giok Hong untuk membantunya merentangkan jala itu. Lie Cun Ju perlahan-lahan menyurut ke belakang satu tindak.

Tadinya Lie Cun Ju berdiri sambil memapah Tao Ling. Ketika dia membungkukkan tubuhnya, Tao Ling sempat sempoyongan.

"Kenapa kau?" tanya Tao Ling dengan suara tersendat-sendat. "Jangan bersuara!" sahut Lie Cun Ju lirih.

Perlahan-lahan Lie Cun Ju mengulurkan tangannya dan meraba goresan di atas tanah itu. Tiba-tiba saja dia merasa tangannya dingin sekali.

Perasaan gembira di dalam hati Lie Cun Ju jangan ditanyakan lagi. Tadi ketika pemuda itu merasakan dadanya dilanda serangkum hawa dingin dan terdengar suara Creppp! yang lirih. Dia sudah dapat menduga bahwa pedang tanpa wujud,. itu pasti sudah menerobos keluar lewat celah jala dan menancap ke dalam tanah dekat kakinya.

Meskipun jala perak itu tidak bisa terkoyak oleh pedang hijau itu, tetapi pedang yang satunya lagi pasti mengandung keistimewaan yang lebih hebat. Bukan tidak mungkin pedang tanpa wujud itu berhasil mengoyak jala sehingga terus meluncur keluar lalu menancap di atas tanah. Itulah sebabnya Lie Cun Ju membungkuk dan meraba tanah yang terdapat bekas goresan itu.

Ketika menjulurkan tangan untuk meraba, perasaan Lie Cun Ju tegang sekali. Karena, apabila pedang tanpa wujud itu benar-benar menancap ke dalam tanah dan dia kurang berhati-hati sedikit saja, ada kemungkinan jari tangannya akan terputus seperti halnya Cen Sim Fu.

Untungnya goresan di atas tanah itu cukup lebar, sehingga Lie Cun Ju bisa mengira- ngira di mana adanya pedang itu. Benar, begitu tangannya hampir menyentuh permukaan tanah, serangkum hawa dingin telah terasa menyusup di telapaknya.

Tanpa diminta ataupun disengaja Lie Cun Ju hampir berhasil mendapatkan pedang yang langka itu. Bagaimana perasaannya tidak menjadi gembira? Cepat-cepat dia mengorek tanah di sekitar goresan itu lalu dengan hati-hati dia meraba. Sekejap kemudian dia sudah berhasil mengorek keluar pedang itu.

Setelah berhasil mendapatkan pedang itu, Lie Cun Ju menggenggamnya di tangan dan perlahan-lahan dia bangkit lagi dengan tetap membimbing Tao Ling. Mereka berdiri tanpa bergerak sedikit pun.

Meskipun apa yang dilakukan Lie Cun Ju menghabiskan waktu beberapa saat, tetapi I Giok Hong dan Kwe Tok sedang merentangkan jala perak itu dengan hati-hati. Maka mereka tidak memperhatikan apa yang dilakukan Lie Cun Ju.

Sampai Lie Cun Ju sudah berhasil mendapatkan pedang tanpa wujud itu, I Giok Hong dan Kwe Tok baru selesai merentangkan seluruh jala itu lebar-lebar.

"A Hong, kau jangan sembrono. Apabila tersentuh bagian ujung pedang, kau pasti akan ter-luka," kata Kwe Tok.

Wajah I Giok Hong menunjukkan kecurigaan.

"Siok kong, apakah pedang itu sudah ada di dalam jala ini?"

"Tentu saja. Tapi kau tidak dapat melihatnya. A Hong, pedang ini bernilai tinggi sekali, pernah menjadi rebutan para tokoh dunia kang ouw beratus-ratus tahun yang lain."

I Giok Hong mengernyitkan keningnya.

"Siok kong, kalau kita tidak bisa melihatnya, bagaimana kita bisa mengambilnya?" Kwe Tok tersenyum.

"Tentu ada caranya. Kemarikan pedang hijau itu!"

I Giok Hong meletakkan pedang hijau itu di atas tanah, Kwe Tok segera mengambilnya. Kemudian pedang hijau itu diketuk-ketukkan pada setiap celah jala. Gerak geriknya cepat sekali. Dalam waktu sekejap mata, seluruh jala itu sudah selesai diketuknya, tetapi tidak terdengar sedikit pun suara benturan logam. Wajah Kwe Tok langsung berubah hebat. Sepasang alisnya menjungkit ke atas seperti orang yang dilanda kebingungan.

"Aneh, kok sepertinya tidak ada pedang itu?" katanya. "Mungkin tidak terjala?" sahut I Giok Hong.

Kwe Tok tertegun sejenak. "Tidak mungkin!"

I Giok Hong mengedarkan pandangan ke seluruh jala itu dengan seksama. Tiba-tiba dia menunjuk bagian sudut dari jala itu.

"Siok kong, coba lihat! Di sebelah sini ada bagian yang putus."

Kwe Tok memperhatikan bagian yang ditunjuk oleh I Giok Hong. Ternyata memang benar ada dua utas sambungan jala yang terputus. Kalau tidak diperhatikan dengan seksama, pasti tidak akan menemukannya.

Melihat jala itu sudah terkoyak, Kwe Tok langsung menghentakkan kakinya di atas tanah dengan kesal.

"Celaka! Pedang tanpa wujud itu pasti sudah meluncur keluar setelah mengoyakkan jala ini."

Pada saat itu, Lie Cun Ju menggenggam pedang tanpa wujud itu erat-erat dan melintangkan di depan dadanya. Mendengar kata-kata Kwe Tok, dia segera menyusupkan pedang itu di balik pakaiannya. Tao Ling merasa di sekitar tubuhnya ada serangkum hawa dingin yang membuatnya menggigil. Tanpa sadar dia mendongakkan kepalanya untuk menatap Lie Cun Ju.

"Jangan bergerak sedikit pun, pedang tanpa wujud itu ada pada diriku sekarang," kata Lie Cun Ju dengan nada berbisik.

Tao Ling Iangsung tertegun. Wajahnya memperlihatkan mimik yang aneh, entah dia merasa murung atau gembira. Sementara itu, I Giok Hong yang mendengar ucapan Kwe Tok, menjadi panik seketika. Sebab sesuai dengan namanya, pedang itu tidak memperlihatkan wujud ataupun bayangan. Apabila benar sudah meluncur keluar lewat celah yang terkoyak tadi dan tidak diketahui tempat jatuhnya dengan persis, bagai- mana bisa mendapatkan pedang itu? Karena itu pula, sikap I Giok Hong jadi gugup.

"Siok kong, bagaimana baiknya sekarang?" tanyanya.

Kwe Tok menundukkan kepalanya untuk merenung sejenak.

"Jangan takut! Pedang itu pasti masih ada di dalam goa ini. Tidak mungkin begitu kebetulan tercebur ke dalam kolam." "Taruhlah pedang itu masih ada di dalam goa ini, tapi bagaimana cara kita menemukannya?"

"Aku ingat di dalam kitab kuno yang pernah kubaca dikatakan, bahwa untuk melihat pedang itu, satu-satunya cara adalah menggunakan darah segar. Kalau darah segar itu disiramkan pedang itu pun akan terlihat seketika."

I Giok Hong tertawa getir.

"Dari mana kita bisa mendapatkan darah segar mendadak?"

"Kita keluar dulu mencari binatang liar, kemudian kita tampung darahnya dalam sebuah tabung dan semburkan di seluruh tempat ini. Dengan demikian kita pasti berhasil menemukan pedang itu," sahut Kwe Tok.

1 Giok Hong merenung sejenak. Mungkin hanya itu satu-satunya jalan yang bisa ditempuh, pikirnya dalam hati. Tanpa banyak cakap lagi, tubuh gadis itu berkelebat. Ketika sampai di pintu goa dia membentak keras-keras kepada Tao Ling dan Lie Cun Ju.

"Minggir!"

Lie Cun Ju segera menarik tubuh Tao Ling agar menggeser sedikit. I Giok Hong Iangsung menghambur keluar. Ternyata dia juga tidak pernah menyangka bahwa pedang itu sudah didapatkan oleh Lie Cun Ju.

Ketika I Giok Hong meyelinap keluar, Kwe Tok tampak mengikuti di helakangnya.

"Kalau kalian berdua memang tidak berminat menjadi anggota Mo kau, sebaiknya berangkat saja sekarang!"

Lie Cun Ju justru takut Kwe Tok mengetahui pedang tanpa wujud itu ada padanya. Mendengar kata-kata orang tua itu, cepat-cepat dia mengiakan. Pemuda itu membimbing Tao Ling keluar dari goa itu. Kwe Tok mengikuti di samping mereka sambil menolehkan kepalanya dan berpesan kepada Tao Heng Kan agar menjaga di dalam goa. Tidak lama kemudian, mereka sudah keluar dari istana rahasia itu.

Sepanjang perjalanan, ternyata Kwe Tok juga tidak curiga sedikit pun bahwa Lie Cun Ju telah mendapatkan pedang itu. Sesampainya di padang rumput, Lie Cun Ju segera berpamitan kepada Kwe Tok.

"Kwe locianpwe, kami berangkat sekarang." Kwe Tok mengibaskan tangannya. "Pergilah!"

Lie Cun Ju mengempit tubuh Tao Ling dan mengerahkan gin kangnya berlari ke depan. Ketika mencapai satu li lebih, tampak I Giok Hong mendatangi dengan menenteng dua ekor kambing hutan. Kedua ekor kambing itu belum mati. I Giok Hong mencekal ekornya dan kedua ekor kambing itu meronta-ronta.

Melihat I Giok Hong, Lie Cun Ju langsung mengernyitkan keningnya. I Giok Hong juga menghentikan langkah kakinya.

"Kalian sudah mau pergi?" tanyanya sinis.

Ketika melihat I Giok Hong, hati Lie Cun Ju tertegun. Dia tahu watak I Giok Hong tidak kalah kejam dibandingkan ayahnya, I Ki Hu, bahkan lebih keji dari Kwe Tok.

Meskipun Kwe Tok juga tokoh dari golongan sesat tapi setidaknya masih mempunyai watak yang gagah. Tapi manusia seperti I Giok Hong tidak mempunyai jiwa pendekar sama sekali. Pada saat itu, Lie Cun Ju sudah menggenggam pedang tanpa wujud.

Apabila dia berniat jahat, asal dia menikamkan pedang itu ke depan, tanpa perlu diragukan lagi selembar nyawa I Giok Hong akan melayang seketika.

Tapi Lie Cun Ju tidak melakukan hal itu. Pertama, meskipun sikap I Giok Hong selama itu sangat jahat kepada mereka, tetapi setidaknya gadis itu pernah menolong mereka dari cengkeraman tangan tiga iblis dari keluarga Lung. Lie Cun Ju seorang pemuda yang lebih memandang tinggi budi daripada dendam. Dia tidak sampai hati mencelakai I Giok Hong begitu saja.

Kedua, Kwe Tok pasti berada di sekitar tempat itu. Apabila I Giok Hong sampai mati, Kwe Tok pasti mengetahuinya. Orang tua itu pasti curiga pedang tanpa wujud itu telah jatuh ke tangannya. Kalau hal itu sampai terjadi, mana mungkin Kwe Tok sudi melepaskan mereka?

"Betul, kami akan berangkat sekarang," jawabnya. "Kemana tujuan kalian?" tanya I Giok Hong.

Lie Cun Ju tertawa getir. "Entahlah, kami sendiri belum dapat memastikan. Sebetulnya kami memang tidak mempunyai tujuan tertentu."

"Mohon tanya, urat-urat merah di wajahmu itu mengapa bisa tiba-tiba ada?"

Melihat I Giok Hong terus bertanya tanpa henti-hentinya, hati Lie Cun Ju semakin panik.

"I kouwnio, ceritanya panjang sekali. Kami ingin cepat-cepat melakukan perjalanan agar Tao kouwnio dapat beristirahat menyembuhkan lukanya. Lain kali bila ada kesempatan kami baru membicarakannya kembali."

Wajah I Giok Hong berubah jadi sinis. "Kalau kau tidak mengatakannya, jangan harap dapat meninggalkan tempat ini."

Wajah Lie Cun Ju juga ikut berubah, tapi tidak ingin memperpanjang masalah yang sudah ada. Akhirnya pemuda itu hanya menarik nafas panjang sambil berkata. "Waktu aku mengunjungi perkampungan keluarga Sang, di dekat sana ada sebuah jurang yang dalam. Ketika aku berselisih dengan ayahmu, aku didorongnya sehingga terjatuh ke bawah. Kemudian aku ditolong oleh paman kakekmu. Di saat orang tua itu menemukan aku, menurutnya wajahku memang sudah seperti ini."

I Giok Hong menganggukkan kepalanya, lalu membalikkan tubuhnya. Sambil menyeret dua ekor kambing hutan itu dia berjalan ke depan satu langkah.

"Kalian sudah boleh pergi!" katanya.

Lie Cun Ju tidak menyangka 1 Giok Hong bersedia melepaskan mereka begitu saja. Hatinya menjadi gembira. Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya dan bermaksud mengajak Tao Ling meninggalkan tempat itu.

Di saat kedua orang itu membalikkan tubuhnya, tiba-tiba I Giok Hong membalik kembali. Boleh dibilang kakinya yang melangkah ke depan satu tindak hanya bermaksud memutar satu lingkaran. Sedangkan pada saat itu, Lie Cun Ju dan Tao Ling belum lagi sempat melangkahkan kaki mereka. Tiba-tiba lengan I Giok Hong mengibas, kambing hutan yang dicekalnya diayunkan ke depan dan melayang ke arah kepala Lie Cun Ju.

Lie Cun Ju merasa ada serangkum angin yang berkesiur di bagian kepalanya. Cepat- cepat dia menoleh. Hatinya terkejut bukan main ketika mendapatkan suatu benda berwarna kehitaman sedang melayang ke arahnya. Dia tidak sempat berpikir panjang lagi. Seandainya saat itu dia segera mencekal ke belakang beberapa tindak, sebetulnya dia masih bisa menghindarkan serangan I Giok Hong. Tetapi Lie Cun Ju sudah terlalu gugup, pedang tanpa wujud langsung dikibaskannya ke atas.

I Giok Hong masih belum sempat mengerti apa yang telah terjadi. Tiba-tiba tampak darah memercik ke mana-mana. Seluruh tubuh gadis itu basah dan penuh noda darah. Bahkan tubuh Lie Cun Ju dan Tao Ling pun terkena juga. Setelah dia memperhatikan dengan seksama, ternyata kambing hutan yang dicekalnya sudah tertebas putus menjadi tiga bagian.

Mula-mula I Giok Hong tertegun sejenak, matanya memandang Lie Cun Ju lekat- Iekat. Lama kelamaan pandangan matanya mengandung sinar ketakutan, seperti bertemu dengan setan gentayangan. Sekonyong-konyong dia mencelat ke belakang beberapa langkah. Sisa bangkai kambing dibuangnya jauh-jauh. Kemudian membalikkan tubuhnya dan berlari tunggang langgang. Tingkah-nya seperti orang kesurupan.

"Bu heng kiam! Bu heng kiam! Siok kong! Pedang itu tidak ada di dalam goa lagi!" teriaknya sambil berlari.

Dari kejauhan terdengar suara siulan panjang. "A Hong, apa yang kau katakan?" tanya Kwe Tok.

1 Giok Hong terus berlari, mulutnya juga tidak berhenti berteriak. "Cepat kemari! Pedang tanpa bayangan itu ada di tangan Lie Cun Ju." Lie Cun Ju segera dapat menduga, I Giok Hong sudah menebak bahwa yang menebas putus kambing hutan di tangannya tentu pedang tanpa wujud itu. Itulah sebabnya dia segera menarik tangan Tao Ling dan diajaknya berlari meninggalkan tempat itu. Arah yang dituju mereka berlawanan, tetapi gerakan mereka hampir sama cepatnya. Dalam waktu yang singkat mereka sudah terpaut jauh sekali. Suara I Giok Hong semakin lemah. Akhirnya mereka sampai di sebuah lembah kecil.

Lie Cun Ju menghentikan langkah kakinya. Perlahan-lahan dia meletakkan tubuh Tao Ling di atas rerumputan. Nafas perempuan itu memburu.

"Cun Ju, kau larilah sendiri!" kata Tao Ling. "Ling moay, mengapa kau berkata demikian?"

"Kwe locianpwe pasti akan mengejar pedang itu sampai dapat. Pedang tanpa wujud di tanganmu itu tidak dapat mematahkan pedang hijaunya. Sampai waktunya, paling- paling kematian yang akan kau dapatkan. Mengapa kau tidak meninggalkan aku di sini saja?"

Lie Cun Ju membungkuk di samping Tao Ling. Dia mengangkat kepala perempuan itu dan direbahkan di pahanya. Dengan Iembut dia mengecup kening Tao Ling.

"Ling moay, jangan mengucapkan kata-kata itu lagi! Kita berdua tidak akan berpisah lagi: Seperti pernah kau katakan, betapa banyak pasangan pemuda pemudi di dunia ini yang tidak dapat bersatu meskipun mereka saling mencintai. Bukankah lebih hahagia mati bersama daripada hidup dalam keadaan terpisah?"

Mendengar kata-kata Lie Cun Ju, hati Tao Ling terharu sekali. Air matanya mengalir dengan deras. Lie Cun Ju membelaibelai ramhut Tao Ling yang halus.

"Ling moay, yang penting kau harus merawat lukamu. Apabila lukamu sudah sembuh, kita akan mencari sebuah tempat yang terpencil dan hidup bersama untuk selamanya

Tan Ling tersenyum lembut. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang paling manis, tetapi matanya justru terus mengalirkan air.

"Cun Ju, mungkin luka ini tidak bisa disembuhkan lagi."

Hati Lie Cun Ju hagai disayat sembilu mendengar ucapan Tao Ling. Keadaan Tao Ling memang parah sekali. Karena setelah kepandaiannya dimusnahkan oleh Kwe Tok, dia masih terkena hantaman Cen Sim Fu sebanyak dua kali. Lukanya parah sekali dan apa yang dikatakannya barusan boleh dibilang hampir merupakan kenyataan.

Lie Cun Ju menarik nafas panjang.

"Ling moay, meskipun keadaanmu parah sekali, selagi aku masih bernafas, aku akan berusaha menyembuhkan lukamu."

Tao Ling memandangi langit yang biru, kemudian perlahan-lahan dia memejamkan matanya. "Cun Ju, untuk menyembuhkan lukaku ini, kau harus menemukan obat yang langka ke seluruh pelosok dunia. Bukankah itu berarti kau harus terjun lagi ke dunia kang ouw?"

Lie Cun Ju tertegun sejenak.

"Ling moay, demi kesehatanmu apa salahnya kalau aku terjun lagi ke dunia kang ouw?"

Tao Ling menjulurkan tangannya yang gemetar untuk meraba wajah Lie Cun Ju. Mereka saling berpandangan sampai lama. Padahal dalam hati mereka tahu bahwa mungkin mereka tidak lama lagi hidup di dunia. Karena itu, keduanya ingin menggunakan sisa waktu yang ada dengan sebaik-baiknya.

Di saat mereka berdiam diri dengan saling berpandangan, dari luar lembah tiba-tiba terdengar suara I Giok Hong.

"Siok kong, bocah itu mengempit perempuan busuk, mereka tidak mungkin berlari sampai jauh. Aku yakin keduanya bersembunyi di sekitar tempat ini."

Kemudian terdengar pula suara Kwe Tok.

"A Hong, apakah kau yakin pedang tanpa wujud itu sudah terjatuh ke tangan bocah itu?"

"Mana mungkin salah?" sahut I Giok Hong.

Mendengar suara pembicaraan kedua orang itu kira-kira di luar lembah, perasaan Lie Cun Ju jadi tertegun. Cepat-cepat pemuda itu memondong Tao Ling kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu. Dia melihat di sebelah timur ada sebuah goa. Lie Cun Ju tidak sempat berpikir panjang lagi. Dia segera memondong Tao Ling menuju goa itu. Meskipun dia sadar, apabila Kwe Tok masuk ke dalam lembah. Dia pasti bisa melihat goa itu dan mencari mereka di sana. Tapi, keadaan sudah terdesak. Lie Cun Ju tidak menemukan tempat lainnya untuk bersembunyi.

Belum berapa lama mereka masuk ke dalam, terdengarlah suara Kwe Tok.

"Lie kongcu, A Hong mengatakan kau telah mendapatan pedang tanpa wujud itu. Aku malah tidak begitu percaya. Pedang itu memang merupakan benda langka di dunia, tapi tidak ada gunanya bagimu. Apabila kau membawanya, malah dirimu yang akan celaka karena menjadi incaran tokoh-tokoh bu lim. Cepatlah kau keluar dari goa dan serahkan pedang itu padaku. Aku akan mengantar kalian ke sebuah tempat yang aman!"

Suara Kwe Tok berkumandang keras menyusup ke dalam gendang telinga. Hal itu membuktikan hahwa dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk berteriak.

Kemungkinan dalam jarak sepuluh depaan, suaranya masih terdengar dengan jelas.

Lie Cun Ju menahan nafas. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tao Ling berbisik di sampingnya. "Cun Ju, apa yang harus kita lakukan apabila dia sampai masuk ke dalam goa?"

"Lihat nanti saja, pokoknya bagaimana pun aku tidak akan menyerahkan pedang tanpa wujud ini. Bukan saja kita memerlukannya untuk melindungi diri, aku akan menggunakannya sebagai barteran obat-obat langka yang dapat menyembuhkan lukamu!"

Tao Ling menarik nafas panjang. Dia menyandarkan tubuhnya di dada Lie Cun Ju yang bidang. Lie Cun Ju memperhatikan keadaan goa itu. Tampak ruangannya luas dan dalam. Dia mengajak Tao Ling berjalan lagi beberapa langkah, kemudian bersembunyi di sebuah lekukan yang gelap.

Terdengar Kwe Tok memanggil beberapa kali. Suaranya semakin lama semakin mengandung kemarahan. Terakhir dia menggerung gusar.

"Bocah cilik, jangan kira sesudah mendapatkan pedang tanpa wujud itu, kau sanggup melawanku. Apabila aku berhasil menemukan kalian, jangan salahkan bila aku mengambil tindakan kejam!"

Kata-katanya begitu keras sehingga memekakkan telinga orang yang mendengarnya. Kemudian mereka mendengar Kwe Tok berkata kepada I Giok Hong.

"A Hong, ikut di belakangku. Jangan pergi seorang diri. Aku tidak percaya mereka bisa ter-bang ke ujung langit!"

Lie Cun Ju sedang menghitung-hitung di mana kira-kira Kwe Tok dan I Giok Hong sekarang. Mudah-mudahan saja mereka tidak curiga terhadap goa ini. Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Jantung Lie Cun Ju berdebar-debar. Namun sekejap kemudian seperti mulai menjauh. Baru saja Lie Cun Ju merasa lega.

Tiba-tiba langkah kaki itu berhenti, lalu terdengarlah suara tertawa Kwe Tok yang terbahak-bahak.

"Bocah cilik, aku tahu kau ada di dalam. Kau kira gerak gerikmu dapat mengelabui aku?"

Lie Cun Ju tahu jejaknya sudah ketahuan. Tetapi dia tetap berdiam diri bahkan menahan nafas. Malah sikap Tao Ling yang tampak begitu tenang.

"Cun Ju, apakah dia sudah datang?"

Lie Cun Ju tetap tidak bersuara. Setelah berdiam diri sejenak, terdengar Kwe Tok berkata lagi.

"Bocah cilik, meskipun aku marah sekali mengetahui kau yang mengambil pedang tanpa wujud itu, tetapi setidaknya aku harus berterima kasih juga kepadamu. Sebab, tadinya aku mengira jala perakku ini dapat mengait pedang itu dengan lancar. Tidak disangka pedang yang satu itu begitu tajam. Bahkan jala perakku saja tidak sanggup menahannya. Meskipun kehilangan beberapa jari tangan pun belum tentu aku bisa mendapatkannya. Untung saja kau berhasil menemukannya." Sementara Kwe Tok berkata panjang lebar, Lie Cun Ju hanya memandangi Tao Ling. Dia ingat ucapan Tao Ling tadi, apa yang dikatakannya memang beralasan. Hidup di dunia ini ternyata tidak pernah ada hari-hari yang tenang. Mungkin lebih baik mati bersama-sama.

Dengan membawa pikiran demikian, hatinya malah lebih tentram. Dia tidak takut lagi meng-hadapi Kwe Tok. Sementara itu Kwe Tok sendiri sudah yakin bahwa Lie Cun Ju dan Tao Ling bersembunyi di dalam goa itu. Tetapi dia tidak berani gegabah memasuki goa, karena pedang di tangan Lie Cun Ju tidak berwujud dan tidak bersuara. Apabila kurang hati-hati sedikit saja, kemungkinan dirinya akan terluka. Dia menunggu beberapa saat, tetapi tidak terdengar sahutan Lie Cun Ju.

"Lie kongcu, aku merasa kagum sekali terhadap pendirian kalian herdua. Tetapi terus terang saja, pedang itu tidak ada gunanya bagi kalian . . ." katanya.

Mendengar sampai di situ, Lie Cun Ju teringat cita-citanya untuk hidup terpencil bersama-sama Tao Ling. Namun sekarang rasanya rencana mereka hanya impian belaka. Itulah sebabnya dia tertawa terbahak-bahak.

"Apa yang Kwe locianpwe katakan memang benar. Kau masuklah ke dalam goa dan ambil pedang ini!"

Tadi Lie Cun Ju masih berkeras mempertahankan pedang itu, tetapi tiba-tiba saja dia ingin menyerahkannya kepada Kwe Tok. Hal itu bukan tidak beralasan. Rupanya, ketika Lie Cun Ju menatap Tao Ling lekat-lekat dia melihat sinar mata perempuan itu semakin lama semakin pudar. Hal itu membuktikan hidup Tao Ling tidak bisa dipertahankan lebih lama lagi. Biarpun dia memiliki pedang itu untuk ditukarkan dengan obat-obatan mujarab yang dapat menyelamatkan selembar nyawa Tao Ling, namun waktunya tidak memungkinkan lagi. Karena itu, dia rela menyerahkan pedang itu kepada Kwe Tok dan mengambil keputusan untuk menemani Tao Ling menghabiskan sisa waktunya.

Baru saja dia menyelesaikan kata-katanya, Tao Ling langsung berbisik kepadanya. "Bagus, Cun Ju. Berikan pedang itu kepadanya!"

Tentu saja Kwe Tok yang berada di luar goa tidak mendengar perkataan Tao Ling. Namun hatinya justru menjadi bimhang mendengar ucapan Lie Cun Ju. Untuk sesaat dia tertegun.

"Lie kongcu, apa lagi yang kau rencanakan?" katanya. Lie Cun Ju tertawa.