-->

Pedang Tanpa Perasaan Jilid 15

Jilid 15  

Pada dasarnya mereka memang sudah berada di tepian jurang. Maka begitu mencelat, tubuh mereka pun melayang di udara.

Tao Ling memejamkan matanya. Perasaan hatinya justru tenang sekali. Meskipun dia tabu, sekali loncat, yang akan ditemui mereka pasti kematian. Namun, dia tidak menyesal dapat mati bersama-sama orang yang dicintainya. Untuk selamanya mereka tidak akan terpisahkan lagi.

I Ki Hu yang melihat Lie Cun Ju memeluk pinggang Tao Ling lalu meloncat ke belakang. De-ngan cepat dia menerjang lagi ke depan, kecepatannya jangan ditanyakan lagi. Sesampainya di tepian jurang, dia baru menghentikan gerakannya. Coba bayangkan saja kecepatannya. Baru saja Lie Cun Ju meloncat ke belakang, Raja Iblis sudah sampai di tepian jurang itu. Tampak tangannya menjulur menjamah sesuatu di bagian pinggang, kemudian dia mengibas-kan tangannya. Tampak seutas tali pinggang terayun.

Tar! Suara itu timbul dari seutas tali pinggang si Raja Iblis. Ketika digerakkan, ikat pinggang itu langsung berubah menjadi lurus bagai papan kecil. Dilancarkannya totokan ke arah dada bagian kanan Lie Cun Ju.

Lie Cun Ju tidak menyangka bahwa dia sudah meloncat ke belakang. I Ki Hu masih turun tangan juga terhadapnya.

Karena Lie Cun Ju tahu dirinya pasti mati bersama Tao Ling, apabila terluka di tangan I Ki Hu juga tidak ada bedanya. Karena itu tidak timbul niat pemuda itu untuk mengadakan perlawanan sama sekali.

Sayangnya dia terlalu meremehkan kecerdikan I Ki Hu. Gerakan ikat pinggang di tangan Raja Iblis telah disalurkan tenaga dalam yang kuat. Begitu meluncur ke depan, jalan darah di dada kanan Lie Cun Ju langsung tertotok. Otomatis tangan kanannya juga jadi kendor.

Padahal tangan kanan Lie Cun Ju sedang memeluk pinggang Tao Ling. Begitu lengan kanannya melemas, tubuh Tao Ling pun terpental keluar dari pelukannya.

Dalam waktu yang hanya sekejapan mata saja, pergelangan tangan I Ki Hu memutar, dilontarkannya ikat pinggang itu lagi ke depan.

Terdengar suara ikat pinggang lagi. Ikat pinggang itu tiba-tiba saja seperti seekor ular yang melingkar mirip lengan seseorang yang kokoh melilit pinggang Tao Ling dan ditariknya kuat-kuat.

Dalam waktu sekejap tubuh Tao Ling sudah mencapai tepian jurang kembali. Saat itu Lie Cun Ju sudah mencelat sejauh lima kaki. Melihat kejadian itu hatinya terasa hancur seketika.

"Ling moay!" teriaknya histeris.

"Cun Ju . . .!" teriak Tao Ling menyusulnya.

Ketika keduanya saling memanggil, Lie Cun Ju menjulurkan tangannya dengan nekat. Ternyata dia berhasil menarik ujung pakaian Tao Ling. Tapi saat itu juga, lengan I Ki Hu menghentak lagi ke belakang, kedua orang itu pun tertarik lagi tiga kaki. Lalu tampak telapak tangan I Ki Hu membalik, menghantamkan sebuah pukulan ke depan.

Belum sempat Lie Cun Ju melancarkan pukulan untuk menyambut serangan I Ki Hu, tiba-tiba terasa segelung tenaga dalam yang tidak berwujud sudah melanda ke arahnya.

Bret! Pakaian Tao Ling yang tercekal tangan Lie Cun Ju robek seketika. Lie Cun Ju terdorong pukulan itu sehingga terpental sejauh lima-enam depaan, lalu terjerumus ke dalam jurang. "Ling moay . . .!" Terdengar suara pekikan Lie Cun Ju dari dalam jurang.

Panggilannya memang bergema di tepian jurang itu tetapi semakin lama semakin melemah dan akhirnya tertelan deru ombak yang ganas.

Sedangkan tubuhnya terus meluncur ke bawah. Dan waktu yang singkat tinggal sebuah titik hitam yang akhirnya dihempas bunga gelombang yang bergulung-gulung.

Pada saat itu Tao Ling sudah ditarik I Ki Hu Jke tepian jurang. Ketika Lie Cun Ju dan Tao Ling sudah mencelat ke belakang untuk sama-sama menerjunkan diri ke dalam jurang, ternyata I Ki Hu masih sempat menolong Tao Ling. Kepandaian Raja Iblis itu benar-benar sulit dicari tandingannya.

Tao Ling berdiri di tepian jurang. Sesaat kemudian dia sudah dapat membayangkan apa yang telah terjadi pada diri Lie Cun Ju.

Tao Ling merasa kedua lututnya menjadi Lemas seketika.

Bukk . . .! Tanpa dapat bertahan diri lagi perempuan itu jatuh terkulai di atas tanah. Dia menumpu kedua tangannya dan melongokkan kepalanya ke dasar jurang.

"Cun Ju . . .! Cun Ju ...!"

Sampai lama Tao Ling memandangi gulungan ombak di dasar jurang yang telah menelan tubuh kekasihnya. Sulit melukiskan perasaannya saat itu. Yang terlihat olehnya hanya buih-buih putih yang seakan sedang mengejek nasibnya yang malang. Mana ada lagi bayangan Lie Cun Ju.

Tao Ling merasa pandangan matanya jadi gelap. Berkali-kali dia menarik nafas. Dadanya terasa sakit. Hatinya perih sekali.

Oak . . .! Tiba-tiba Tao Ling memuntahkan cairan asam dari perutnya. Setelah itu tubuhnya terkulai lemas dan jatuh tidak sadarkan diri.

*****

Entah berapa lama kemudian, perlahan-lahan Tao Ling baru siuman kembali. Begitu siuman perempuan itu merasa ada dua gulung hawa panas yang terus mengalir di dalam tubuhnya. Dia menemukan dirinya berada di dalam sebuah kamar yang apik. I Ki Hu berdiri di sampingnya dengan kedua telapak tangan menempel di punggungnya. Tampaknya laki-laki itu sedang mengedarkan hawa murninya ke dalam tubuh Tao Ling.

Tao Ling merasa tubuhnya lemas sekali. Perempuan itu tahu suaminya sedang berusaha memunahkan hawa im yang mengendap dalam tubuhnya. Perlahan-lahan dia menarik napas panjang. "Kau juga tidak sakit hati lagi," katanya lirih.

"Kenapa?" tanya I Ki Hu sambil terus menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh Tao Ling. "Aku tidak bisa hidup lagi."

"Kau akan hidup terus, kau akan hidup terus demi dia yang ada dalam rahimmu," kata I Ki Hu dengan tenang.

Mula-mula Tao Ling masih tidak mengerti apa yang dimaksudkan I Ki Hu. Ketika dia menoleh I Ki Hu sedang menunjuk ke perutnya yang sudah mulai membuncit, meskipun ia mengenakan pakaian yang lengkap, tetapi dapat terlihat sedikit getaran di perutnya yang menandakan ada makhluk hidup yang sedang bertumbuh. Tao Ling menarik nafas panjang sekali lagi. Meskipun dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi hatinya mengakui kebenaran ucapan I Ki Hu tadi. Bagaimana mungkin Tao Ling tidak hidup terus demi dia yang ada dalam kandungan. Biar bagaimana pun, anak itu adalah darah daging sendiri.

Tao ling merasa sepasang tangan I Ki Hu masih menekan di belakang punggungnya. Kurang lebih setengah kentungan kemudian baru tampak I Ki Hu menurunkan kelambu tempat tidur kemudian perlahan-lahan melangkah ke luar dari kamar itu.

Perlahan-lahan Tao Ling membuka kedua matanya, dia memandangi kelambu yang warnanya putih bersih. Kelambu itu seperti bergerak-gerak, dari perlahan menjadi cepat, lama kelamaan justru mirip segulungan ombak dalam pandangan Tao Ling. Gulungan ombak itu menimbulkan bunga air yang berwarna putih bersih. Dengan pedih Tao Ling memejamkan matanya. Lambat laun dalam ' kegelapan, dia seperti masih juga melihat gulungan ombak itu. Tapi saat itu bunga air berubah menjadi merah warnanya. Seperti buih darah. Lalu di antara buih darah itu timbul semacam pusaran yang semakin lama semakin kencang gerakannya. Semakin lama semakin dalam. Di saat pusaran air begitu kencangnya, tiba-tiba menyembul kepala Lie Cun Ju. Rambut pemuda itu awut-awutan. Seluruh wajahnya bersimbah darah. Lie Cun Ju seperti sedang menerjang ke arahnya.

"Mengapa kau tidak ikut mati? Mengapa kau tidak ikut mati . . .?" teriak Lie Cun Ju.

Tao Ling merasa, suara Lie Cun Ju seperti guntur yang menggelegar di samping telinganya. Tiba-tiba, tanpa sadar dia berteriak histeris. Suara teriakannya begitu keras sehingga memecahkan keheningan yang ada di sekitarnya.

"Tidak . . .! Tidak . ..!"

Sekonyong-konyong pandangan mata Tao Ling jadi gelap. Kemudian berubah menjadi hamparan warna putih yang terbentang tanpa batas. Seakan tiba-tiba saja dia mendapatkan dirinya dikelilingi awan tebal berwarna putih. Suara teriakan Tao Ling membuat I Ki Hu bergegas mendorong pintu dan masuk ke dalam Ketika dia melangkah memasuki kamar, tampak Tao Ling sudah turun dari tempat tidur.

Perempuan itu berdiri tanpa bergeming sedikit pun. Rambutnya acak-acakan. Pandangan matanya lurus ke depan dengan tatapan kosong.

Tanpa dapat dipertahankan lagi I Ki Hu terkejut setengah mati. Dia menjulurkan tangannya ke depan wajah Tao Ling dan menggerakkannya beberapa kali. Tapi pandangan mata Tao Ling tidak berkedip sedikit pun. Malah dia tertawa cekikikan kepada I Ki Hu. Tangan Tao Ling terangkat ke atas dan menarik cadar penutup wajahnya sendiri. Pandangan matanya yang kosong, wajahnya yang penuh dengan tonjolan urat merah, membuahkan sebuah pemandangan yang mendirikan bulu roma.

Meskipun I Ki Hu sendiri seorang raja iblis yang dapat melakukan perbuatan apa saja, tetapi melihat keadaan Tao Ling yang demikian menyeramkan, mau tidak mau perasaannya juga terperanjat.

Tentu saja, dalam waktu sekejap mata dia sudah dapat menduga bahwa Tao Ling telah men-jadi gila karena tidak kuat menahan pukulan batin yang diterimanya.

Dengan termangu-mangu Raja Iblis menatap wajah Tao Ling yang mengerikan. Dia memper-hatikan senyuman di bibir Tao Ling yang menakutkan. Rasanya dia tidak menemukan diri Tao Ling yang cantik jelita dan penuh kelembutan yang pernah dimilikinya di wajah perempuan yang ada di hadapannya saat ini.

Dalam seumur hidupnya, entah berapa banyak orang yang telah dicelakai I Ki Hu. Biar di saat melakukannya atau setelahnya, I Ki Hu tidak pernah merasa menyesal. Bahkan memikirkannya pun tidak. Sebab dalam anggapannya, mencelakai seseorang merupakan hal yang patut dilakukan meskipun seandainya dia tidak mendapatkan keuntungan apa-apa.

Tapi saat itu, di saat dia memandangi wajah Tao Ling, tiba-tiba saja perasaannya menjadi ter-tekan. Kalau perasaan tertekan yang dirasakannya saat itu dapat disebut sejenis penyakit, berarti hati I Ki Hu memang sedang sakit.

Untuk sekian lama dia hanya berdiri termangu-mangu tanpa bergerak sedikit pun.

Mengapa dia bisa mempunyai perasaan seperti itu? Kaiau diingat-ingat, rasanya dia juga tidak pernah mencintai Tao Ling. Malah perempuan itu berkali-kali membuat harga dirinya tersinggung. Berkali-kali memberinya pukulan batin yang cukup berat.

Ini juga bukan pertama kalinya dia mencelakai istrinya sendiri. Dua puluh tahun yang lalu, istrinya yang sedang mengandung terpaksa membunuh diri di hadapannya setelah melahirkan I Giok Hong dengan paksa. Boleh dibilang, secara tidak langsung I Ki Hu- lah yang membunuhnya Sampai saat ini, apabila mengingat peristiwa itu, hatinya masih merasa bangga dengan kekejaman hatinya sendiri. Bangga terhadap dirinya sendiri yang tidak berperasaan.

Dia sendiri tidak mengerti, mengapa justru sekarang di dalam hatinya bisa timbul perasaan yang tidak pernah dirasakannya?

Mungkin, sejak semula Tao Ling dipaksanya menjadi istri, perempuan itu sudah terlalu pasrah. Tidak pernah terlintas dalam pikiran Tao Ling untuk membalas apa yang diperlakukan I Ki Hu terhadapnya. Seperti seekor kelinci yang dimasukkan ke dalam sebuah peti. Hanya tubuhnya yang lemah dan kecil terus gemetar, apa yang diharapkan hanya dapat meloloskan diri dari kurungan peti itu. Tapi tidak mungkin teringat untuk membalas perbuatan orang yang telah mengurungnya.

Mungkinkah, tanpa disadarinya, di dalam hatinya telah tumbuh benih cinta kasih terhadap Tao Ling? I Ki Hu ingat pertemuan antara dirinya dan Tao Ling yang benar- benar menggelikan. (Dalam anggapan I Ki Hu, dapat memaksa seorang gadis menjadi istrinya merupakan hal yang lucu sekali). Hatinya kembali bimbang dan tidak berani mengakui hal ini ... Atau mungkin, lebih tepat kalau mengatakan harga dirinya tidak mengijinkan hati kecilnya mengakui hal ini.

Dengan seksama dia berusaha mengingat-ingat kembali apa yang mereka alami selama tiga tahun berada di sebelah barat Gunung Kun Lun san.

Namun, suara ketukan di luar pintu memutuskan ingatannya untuk sementara. Terdengar seseorang berkata dengan nada suara yang menyeramkan.

"Lo I, kau masih belum ke ruangan depan juga?"

Suara itu sungguh tidak enak didengar, menusuk gendang telinga. Kalau bukan orang yang tenaga dalamnya sudah mencapai taraf kesempurnaan, pasti tidak sanggup mengeluarkan suara seperti itu. Sebetulnya hal itu juga tidak perlu diherankan. Karena orang yang berkata di luar pintu bilkan lain, yaitu Hek Tiah Mo Cen Sim Fu. Dan siapa yang meragukan ketinggian tenaga dalam yang dimilikinya?

"Sebentar lagi aku datang," sahut I Ki Hu segera.

Dari luar berkumandang suara dengusan Cen Sim Fu, kemudian hening. Tidak terdengar suara apa-apa lagi.

Tentunya para pembaca masih ingat, ketika Lie Cun Ju dan Tao Ling meninggalkan perkampungan keluarga Sang, I Ki Hu dan Cen Sim Fu berdua duduk di atas anglo emasnya yang selalu memancarkan cahaya berkilauan. Di sampingnya berdiri kedua kakak beradik Sang Cin dan Sang Hoat.

Di sudut sebelah sana, duduk Coan lun hoat ong dan kedua Ihama rekannya. Mereka duduk di atas kursi dengan tampang penuh wibawa.

Di depan sebuah tiang penyangga, duduk Hek l Tian mo Cen Sim Fu, di sampingnya berdiri Tao i Heng Kan dan I Giok Hong.

Begitu masuk ke dalam ruangan, sepasang mata I Ki Hu yang tajam langsung menyapu ke sekeliling ruangan. Mulutnya mengeluarkan suara tertawa terkekeh-kekeh yang dingin sebanyak dua kali.

"Maaf kalau saudara sekalian sudah menunggu terlalu lama.” Sembari berbicara, Raja Iblis berjalan ke sudut satunya lagi, lalu duduk di kursi.

Setelah I Ki Hu duduk, masih belum ada seorang pun yang membuka suara. Terjadi keheningan beberapa saat di dalam ruangan yang besar itu. Kemudian, setelah cukup lama, terdengar Cen Sim Fu berkata.

"Lo I, urusan ini telah kita alami di sebeiah barat Gunung Kun Lun san selama tiga tahun.Sudah sepatutnya kita yang menjadi pemimpin dalam ekspedisi ini!” Belum sempat I Ki Hu memberikan komentar apa-apa, Coan lun hoat ong dan Kim Ting siong jing sudah memalingkan kepalanya dan mengeluarkan suara tertawa dingin.

"Hek Tian Mo, kalau berbicara demikian, rasanya sulit terlaksana kerja sama yang baik di antara kita," kata Kim Ting siong jin kemudian.

"Kalau menurut pendapatmu, bagaimana seharusnya?" tanya Cen Sim Fu dengan nada tajam.

"Tentu saja, semua dapat bagian yang rata dari seluruh keuntungan yang akan ditemukan," kata Kim Ting siong jin.

"Lo I, bagaimana menurut pendapatmu?" tanya Hek Tian Mo kembali. I Ki Hu mendongakkan kepalanya merenung sejenak.

"Kau mempunyai enam buah Tong Tian Po Liong, aku punya satu buah dan setengah helai kain belacunya. Sedangkan setengah bagian kitab Leng Can Po Liok ternyata berada di tangan Coan Lun hoat ong, lalu yang terakhir, Tong tian kim ting (Anglo emas penembus langit) justru berada di tangan Kim Ting siong jin. Kalau menurut pendapatku, setiap keuntungan yang bisa kita raih kita bagi rata. Rasanya memang cukup adil."

Cen Sim Fu sengaja mengajukan pertanyaan itu dengan maksud agar I Ki Hu berpihak kepadanya. Tetapi kalau mendengar nada kata-kata I Ki Hu, dia justru sepakat dengan pendapat Kim Ting siong jin. Tentu saja hatinya jadi mendongkol. Terdengar

dia tertawa dingin satu kali.

"Asal hatimu benar-benar rela, apa lagi yang dapat kukatakan, tetapi harap saudara sekalian ingat baik-baik, kalau tidak ada enam ekor Tong tian pao Hong, urusan ini hanya impian kosong saja," ucap Cen Sim Fu.

"Berkurang satu buah Tong tian pao Hong, berkurang satu anglo emas penembus langit, berkurang setengah bagian Leng Can Po Liok, urusan ini juga akan menjadi impian kosong dan bahkan tidak ada arti apa-apa," tukas si Raja Iblis segera dengan nada dingin.

Cen Sim Fu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Matanya menyorotkan sinar yang buas. Tapi , dia berusaha memadamkan api kemarahan dalam dadanya.

"Lo I, bagus sekali ucapanmu itu!" kata Cen Sim Fu lagi.

"Sekarang lebih baik kau ceritakan pengalaman kita selama tiga tahun di sebelah barat Gunung Kun Lun san kepada Coan lun hoat ong dan Kim Ting siong jin. Sekarang perasaanku sedang kacau, malas banyak bicara."

"Baik." Meskipun mengiakan, tetapi Cen Sim Fu tidak langsung menceritakan. Setelah meng-ingat-ingat beberapa saat dia baru mulai bercerita. "Tiga tahun yang lalu, aku, Lo I dan lainnya yang berjumlah lima orang menuju ke sebelah barat Gunung Kun Lun san ..."

Baru berkata sampai di situ, terdengar Kim Ting siong jin menukas. "Siapa ketiga orang yang lainnya?"

Cen Sim Fu bahkan tidak melirik kepadanya sekilas pun. Dengan nada dingin dia menyahut.

"I hu jin, seorang lagi I kouwnio dan yang terakhir muridku."

Kim Ting siong jin mendengus satu kali. Meskipun tidak mengucapkan apa-apa. Tetapi dari mimik wajahnya tampak menyiratkan pandangan meremehkan. Sebab kelima orang itu berangkat menuju sebelah barat Gunung Kun Lun san sampai tiga tahun lamanya namun tidak memperoleh hasil apa pun juga.

Cen Sim Fu juga tertawa dingin.

"Sebelum aku menceritakan pengalaman kami di tempat itu sampai selesai, aku harap tidak ada seorang pun yang memotong perkataanku!"

Pada wajah Coan lun hoat ong maupun Kim Ting siong jin tampak tersirat perasaan kurang senang. Dari situ dapat dibuktikan bahwa meskipun terjadi kesepakatan di antara keempat orang itu untuk menyelidiki suatu urusan bersama-sama, tetapi pada dasarnya mereka hanya akur di luamya saja, sedangkan di hati masing-masing tidak ada yang sudi mengalah sedikit pun. Sekarang tampaknya mereka masih tidak mengambil tindakan apa-apa, hanya karena masalah waktunya saja yang belum sampai.

Cen Sim Fu segera melanjutkan ceritanya yang terhenti.

"Mengenai cerita yang bersimpang siur tentang Tong tian pao Hong, aku yakin kalian sudah mempunyai gambaran. Tiga tahun yang lalu, aku mendapatkan enam buah Tong tian pao Hong, sedangkan Lo I mendapatkan satu buah. Akhirnya kami berangkat menuju sebelah barat Gunung Kun Lun san, untuk menyelidiki rahasia yang ada kaitannya dengan Tong tian pao Hong . .."

Para pembaca sekalian, tentunya kalian belum lupa situasi yang dihadapi I Ki Hu dan yang lainnya di dalam goa alam yang mereka temukan. Sebetulnya pada saat itu mereka bukan berangkat bersama-sama menuju sebelah barat Gunung Kun Lun san, tetapi masing-masing rombongan ingin meraih keuntungan sendiri-sendiri. Lagipula, hubungan antara Tao Ling, Tao Heng Kan dan I Giok Hiong juga rumit sekali.

Di dalam goa itu, I Ki Hu dan Cen Sim Fu juga sempat mengadu pukulan satu kali. Tapi mereka juga sadar, untuk menyelidiki sampai tuntas rahasia yang menyeiimuti Tong tian pao iiong itu, di antara mereka berdua, tidak boleh kehilangan salah satunya. Lagipula, bukan mereka saja, baik Tao Heng Kan, I Giok Hong dan Tao Ling juga tidak bisa ketinggalan karena juga membawa manfaat yang besar. Itulah sebabnya, I Ki Hu dan Cen Sim Fu berdua terpaksa menggunakan siasat seperti se-karang, di luar akur, dalam hati justru bertentangan.

Pada saat itu, rombongan yang berjumlah lima orang tersebut, mendapatkan jalan tembus dari dinding goa yang kelihatannya sudah mencapai batas akhir. Dengan menggunakan obor mereka masuk ke dalam. Lalu apa yang ditemui mereka di dalam goa itu? Selama ini pengarang belum menceritakannya, sekaranglah saatnya untuk memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang mereka alami saat itu.

*****

Ketika itu, yang pertama-tama masuk ke dalam goa sudah kita ketahui, yakni I Ki Hu dan Cen Sim Fu berdua. Kemudian disusul oleh Tao Ling lalu Tao Heng Kan dan I Giok Hong. Tangan mereka masing-masing membawa sebatang obor.

Tapi, sinar obor yang mereka bawa seperti tertahan oleh serangkum hawa dingin yang mem-buat cahayanya hanya dapat menerangi tempat sekitar kurang lebih satu kaki.

Jarak lebih dari tiga kaki saja sudah gelap gulita, tidak terlihat apa-apa.

Dalam situasi seperti itu, meskipun mempunyai kepandaian seseorang sudah mencapai taraf

yang tinggi sekali, tetap saja tidak berani berbesar hati.

Generasi yang lebih muda seperti Tao Heng Kan dan yang lainnya lebih waspada lagi. Kelima orang itu maju lagi kira-kira setengah li. Keadaan di depan lebih gelap lagi.

Sejak bertemu lagi dengan Cen Sim Fu, kemarahan di dalam dada Tao Ling tampak semakin meluap. Tadinya dia mengira I Ki Hu akan segera rmengambil tindakan begitu bertemu dengan orang itu. Tetapi kenyataannya I Ki Hu hanya mengadu pukulan satu kali dengannya. Kemudian mereka bersama-sama memasuki goa. Urusan balas dendam atas kematian kedua orang tuanya tidak pernah diungkit lagi. Hati Tao Ling terasa perih, apalagi selama itu dia belum mendapat kesempatan untuk menjelaskan siapa pembunuh kedua orang tuanya kepada Tao Heng Kan. Sekarang, dia melihat keadaan di sekitar mereka semakin lama semakin gelap. Sedangkan di dalamnya seakan-akan terkandung sesuatu yang misterius.

Apabila terus lagi ke depan, entah peristiwa apa yang akan mereka alami. Siapa pun tidak ada yang berani memastikan.

Seandainya tidak menggunakan kesempatan itu untuk menceritakan kematian orang tua mereka yang mengenaskan, Tao Ling khawatir kelak tidak ada kesempatan lagi. Berpikir sampai di situ, Tao Ling segera mempercepat langkah kakinya untuk maju ke depan.

Pada saat itu, kelima orang itu berada di tengah-tengah lorong goa sebuah gunung. Lorong itu tidak seberapa lebar, hanya cukup untuk dilalui dua orang yang berdampingan. Tao Heng Kan dan I Giok Hong jalan berdampingan, dengan demikian Tao Ling tidak dapat menyusul ke sampingnya. Dia terpaksa mengikuti dari belakang sambil berteriak.

"Koko! Koko!"

Tao Heng Kan menolehkan kepalanya, I Giok Hong segera menarik tangannya. "Heng Kan, kita jalan terus saja ke depan!"

"Giok Hong, mungkin ada perkataan yang ingin disampaikan adikku kepadaku."

I Giok Hong mendengus satu kali. "Apa yang perlu disampaikan? Dasar tidak tahu malu!"

Hampir saja Tao Ling tidak sanggup menahan kekesalan hatinya. "Siapa yang tidak tahu malu? Koko, kau masih ingat kata-kataku tempo hari tentang kematian . ayah dan ibu?"

Mendengar pertanyaan Tao Ling, seluruh tubuh Tao Heng Kan langsung bergetar. Pemuda itu melepaskan tangannya dari genggaman I Giok Hong, kemudian membalikkan tubuhnya "Ayah dan Ibu . . . benar-benar sudah mati?" tanya Tao Heng Kan.

"Benar. Padahal aku sudah pernah mengatakannya, selama ini perasaanmu sudah buta. Apa pun yang kau dengar tidak masuk lagi ke telingamu. Mereka mati di tangan .. ."

Baru berkata sampai di situ tiba-tiba Cen Sim Fu mengeluarkan suara bentakan yang nyaring sekali. "Heng Kan kemari kau!" bentaknya.

Mereka sedang berada di dalam lorong goa yang sempit. Suara yang dilontarkan Cen Sim Fu menimbulkan gema yang memanjang. Dengan demikian ucapan Tao Ling setengahnya jadi tertutup dan tidak dapat terdengar jelas.

Tao Ling benar-benar mendongkol. Dia ingin mengerahkan tenaga dalam untuk berteriak se-keras-kerasnya agar Tao Heng Kan tahu siapa pembunuh kedua orang tuanya. Dia ingin me-ngatakan bahwa Hek Tian Mo yang diakui kokonya sebagai guru itulah yang membunuh ayah ibunya. Tapi saat itu juga I Ki Hu sudah menghampirinya.

"Hu jin, saat ini kau tidak perlu terburu-buru. Aku sudah mempunyai rencana tersendiri mena-ngani urusan ini, harap kau bisa bersabar sedikit!" kata I Ki Hu.

Tao Ling dilanda kebimbangan sejenak. Diam-diam dia berpikir dalam hati, meskipun dia bekerja sama dengan Tao Heng Kan, tetap saja mereka bukan tandingan Hek Tian mo Cen Sim Fu. Kalau I Ki Hu memang sudah mempunyai rencana tersendiri, tidak apalah rasanya bersabar beberapa saat.

Akhirnya dia hanya dapat menarik nafas panjang dan menelan kembali kata-kata yang sudah hampir dilontarkannya. Sedangkan pada saat itu juga tiba-tiba saja timbul seberkas sinar di hadapan mereka

Seberkas sinar itu muncul begitu mendadak. Sebelumnya tidak menampakkan gejala apa-apa, tahu-tahu sinar itu muncul begitu saja di depan mata.

Sudah cukup lama mereka berada dalam kegelapan. Tiba-tiba mereka menemukan diri mereka berhadapan dengan kilauan yang berwarna warni. Untuk sesaat mereka dilanda kesilauan sehingga tidak dapat membuka mata.

Hek Tian mo Cen Sim Fu khawatir ada perubahan yang tidak menguntungkan. Cepat- cepat dia melontarkan dua pukulan ke depan. Sampai dia sudah menghantam dua kali ke depan, orang-orang lainnya baru bisa melihat keadaan di hadapan mereka.

Mereka mendapatkan diri masing-masing sudah berada di dalam sebuah goa yang besar. Ukurannya hampir sama dengan goa yang pernah mereka masuki ketika baru sampai di tempat itu.

Cahaya obor yang tadinya seperti tertahan serangkum hawa dingin sekarang jadi berkobar-kobar dan mencuat ke atas, sehingga membuat pemandangan di dalam goa itu jadi terang benderang.

Tampak pada dinding goa yang ada di hadapan mereka terdapat berbagai jenis batu permata yang menimbulkan cahaya berkilauan. Tersorot sinar api obor, justru semakin gemerlapan dengan aneka warna. Indah sekali. Sungguh sebuah perubahan yang tidak disangka-sangka, seperti berada di alam dewa khayangan.

Tentu batu-batu permata itu terdiri dari batu alam. Tetapi adanya sudah di permukaan dinding, sehingga bertonjolan ke luar. Asal menjulurkan tangan sedikit saja tentu dapat meraih.

Cen Sim Fu termangu-mangu sesaat, tiba-tiba tubuhnya berkelebat, tahu-tahu dia sudah mengambil sebutir batu permata yang warnanya merah. Batu-batu permata itu semuanya berukuran besar-besar dan berkilauan. Seandainya dibawa pulang ke Tiong goan dan sembarangan memilih sebuah toko, permata yang besar lalu dijual, tidak sampai sepuluh butir pun sudah cukup untuk makan selama hidup.

Ketika sampai di tempat itu, mereka berlima langsung mengerti mengapa tempo dulu ketujuh orang Portugis itu begitu royal dan sering menghadiahkan batu permata dalam jumlah yang banyak kepada setiap orang atau tokoh besar yang mereka hubungi.

Ketujuh orang Portugis itu sudah mengetahui rahasia besar yang menyelimuti Tong tian pao liong. Jelas mereka juga sudah pernah datang ke tempat itu. Mungkin mereka kembali ke Tiong goan dengan membawa batu permata dalam jumlah yang cukup banyak. Hal itu sudah dapat diduga oleh mereka. Sekarang, di antara mereka berlima, Cen Sim Fu dan I Ki Hu adalah tokoh-tokoh yang berilmu tinggi. Harta benda duniawi bagi mereka merupakan benda-benda yang dapat dimiliki setiap saat. Watak I Giok Hong tinggi hati, emas perak maupun batu permata tidak pernah dipandang tinggi olehnya. Sedangkan Tao Heng Kan dan adiknya Tao Ling bukan orang dari golongan sesat, tentu saja mereka tidak serakah melihat batu-batu permata seperti itu. Setelah terdiam sejenak, terdengar I Ki Hu berkata dengan nada dingin.

"Hek Tian Mo, kalau sampai di sini saja kau sudah merasa puas, lebih baik kau tinggalkan saja

keenam buah Tong tian pao liong itu dan kau boleh ambil semua batu permata ini dan kembalilah ke Tiong goan!"

Mendengar sindiran I Ki Hu, selembar wajah Hek Tian Mo menjadi merah padam. Setelah bimbang sejenak, dia langsung melemparkan batu permata berwarna merah yang diraihnya begitu masuk ke tempat itu. Tetapi kalau ditilik dari sikap Cen Sim Fu yang begitu melihat banyak batu permata langsung meraihnya, terbukti di antara kedua iblis itu terdapat perbedaan kualitas yang cukup jauh.

Cen Sim Fu sengaja melemparkan batu permata itu untuk membuktikan bahwa dia juga tidak menaruh minat. I Ki Hu langsung tertawa dingin melihatnya.

"Hek Tian Mo, di hadapan kita ada tiga jalan tembus, yang mana harus kita pilih?"

Ketika baru masuk ke dalam goa itu, hati Cen Sim Fu langsung dibuat terkesima oleh batu-batu permata yang berkilauan. Sama sekali tidak memperhatikan di sana ada berapa jalan tembus. Mendengar I Ki Hu mengungkitnya dia baru mengedarkan pandangan matanya sekeliling. Berikut lorong yang mereka lalui tadi, semuanya ada empat jalan tembus. Letaknya berhadap-hadapan.

Tentu saja lorong yang mereka lalui tadi tidak perlu masuk hitungan. Tetapi sisanya masih ada tiga jalan tembus yang lain. Jalan tembus mana yang benar-benar bisa menuju ke tempat yang mereka incar? Pilihan itu penting sekali artinya karena menyangkut lima jiwa manusia.

Itulah sebabnya untuk sesaat Cen Sim Fu juga tidak bisa memberikan jawaban. I Ki Hu tertawa dingin dua kali.

"Hek Tian Mo, seandainya kau memiliki tujuh buah Tong tian pao liong, sesampainya di sini, kau juga tidak bisa berbuat apa-apa."

Cen Sim Fu marah sekali mendengar kata-kata si Raja Iblis.

"Paling-paling aku coba satu persatu . . ." Berkata sampai di situ, tiba-tiba hatinya tergerak. Dia segera mengalihkan ucapannya menjadi pertanyaan. "Apakah kau tahu jalan mana yang harus kita tempuh?"

I Ki Hu terus tertawa dingin, dia menunjuk ke jalan yang terletak di sebelah kiri. "Kita melalui jalan yang itu," ucapnya.

"Apa yang kau andalkan?" tanya Cen Sim Fu.

"Kalau kau tidak percaya boleh pilih salah satu di antara dua yang lainnya." Cen Sim Fu tertegun sejenak. "Lo I, taruhlah kau memilih jalan yang benar, tetapi tanpa Tong tian pao liong tetap tidak ada artinya."

Wajah I Ki Hu menjadi kelam. Raja Iblis itu merenung sejenak, mungkin dia menganggap kata-kata Cen Sim Fu cukup beralasan. Karena itu dia tidak bisa mendebatnya. Sesaat kemudian, I Ki Hu menjulurkan tangannya dan menyusup di balik

pakaiannya untuk mengeluarkan sehelai kain belacu. Direntangkannya kain itu ke hadapan Cen Sim Fu.

"Nih, kau lihat sendiri."

Pikiran Cen Sim Fu seperti diselimuti awan tebal. Dia menolehkan kepalanya melihat sekilas, rasanya hanya sehelai kain belacu biasa.

Tadinya Cen Sim Fu mengira I Ki Hu sedang mempermainkannya. Wajahnya tampak kelam. Baru saja dia ingin mengumbar kemarahannya, I Ki Hu sudah merentangkan kain belacu itu agar terbuka, dan menggelarnya di atas tanah. Cen Sim Fu memperhatikan dengan seksama. Tampak banyak garis yang membingungkan di tengah-tengah kain belacu itu.

Setelah melihat sejenak, ia masih belum mengerti. "Lo I, apa artinya ini?"

"Orang seperti kau saja ingin menyelidiki misteri yang menyelimuti Tong tian pao Hong. Ini selembar peta, tahu?"

Hati Cen Sim Fu menjadi senang sekaligus terkejut mendengar keterangan I Ki Hu. Tiba-tiba Cen Sim Fu mengulurkan tangannya untuk merenggut kain belacu itu. Tetapi I Ki Hu sudah menduga hal itu akan terjadi. Begitu selesai berbicara, jari tangannya sudah meluncur ke depan.

Seandainya Cen Sim Fu tetap mengambil kain belacu itu, pergelangan tangannya pun akan tertotok jari tangan I Ki Hu.

Meskipun dalam hati Cen Sim Fu ingin sekali mendapatkan lembaran kain yang bergambar peta itu, dalam keadaan seperti itu mau tidak mau harus menyurutkan tangannya kembali.

I Ki Hu sendiri seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti tidak mengetahui bahwa telah timbul niat Cen Sim Fu untuk merebut kain itu. Ketika Cen Sim Fu menyurutkan tangannya, jari tangannya pun meluncur terus menunjuk ke guratan-guratan di kain belacu.

"Lingkaran ini warnanya beraneka ragam, pasti menunjukkan tempat di mana kita sekarang berada. Menurut petunjuk di peta ini, kita harus mengambil jalan yang ada di sebelah kiri. Tidak jauh dari sini, terdapat lagi sebuah goa. Warna benang di sini kuning terang, kemungkinan kita akan menenuii tumpukan emas. Sedangkan goa yang di sebelah sana juga mempunyai tiga jalan tembus. Kali ini, kita harus jalan terus. Setelah berjalan terus tidak jauh, Ha ... ha ... ha ... Kita terpaksa melihat peruntungan kita saja."

Sembari berbicara, jari tangan I Ki Hu terus bergerak mengikuti guratan garis yang terdapat di kain belacu.

Ketika dia tertawa terbahak-bahak, gerakan jari tangannya sudah mencapai batas garis. Seandainya jalan terus, apa lagi yang akan mereka hadapi, dia tidak tahu. Karena itu dia hanya dapat tertawa dan mengatakan 'terpaksa melihat peruntungan'.

Bagi I Ki Hu, apa yang dikatakannya merupakan kenyataan yang ada. Tapi bagi Cen Sim Fu, hatinya justru tidak percaya. Perasaan curiganya tidak dapat dihilangkan.

"Lo I, harap jangan mempunyai pikiran yang tidak-tidak di hadapanku!" I Ki Hu marah sekali.

"Kau kira kau pantas?" Keduanya berdiri serentak. Kelima jari tangan Cen Sim Fu memben-tuk cakar, tiba-tiba saja dia menyerang I Ki Hu dengan jurus Naga emas mengembangkan cakar.

I Ki Hu memiringkan kepalanya, kedua jari tangannya menjulur ke depan dan mengirimkan totokan.

Cen Sim Fu menjerit keras-keras, suaranya bergema di dalam goa. Tubuhnya bergerak dengan cepat. Dalam waktu yang bersamaan, tangan kanannya menggeser ke arah I Ki Hu menghin-darkan diri barusan. Cengkeramannya berubah jadi pukulan tahu-tahu dia sudah mengerahkan ilmu telapak ulat hitamnya yang terkenal. Warna telapak tangannya menggelap dan seperti ada puluhan ulat yang bergerak-gerak. Diserangnya Raja Iblis itu berkali-kali.

I Ki Hu mengeluarkan suara tawa yang panjang. Dia mengedarkan hawa murni dalam tubuhnya. Ketujuh jalan darah terpentingnya dilindungi. Kelima jari tangannya merenggang, telapak tangannya merah seperti darah. Dia juga mengerahkan ilmu andalannya, Gin leng hiat dang, (julukan itu juga berasal dari telapak darahnya) yang diincarkan bagian pinggang Cen Sim Fu.

Tampaknya kedua ilmu yang mereka kerahkan merupakan ilmu kelas tinggi dari golongan sesat yang mengandung berbagai perubahan ajaib. Kemungkinan sejenak lagi mereka akan menghantam lawannya masing-masing dengan ilmu andalannya itu. Tetapi, tiba-tiba saja keduanya menyurutkan tangan masing-masing dan mencelat mundur dalam waktu serentak.

Rupanya mereka sama-sama menyadari, walaupun mereka bisa mengenai lawannya dengan pukulan masing-masing, tetapi mereka sama-sama tidak luput dari keadaan terluka parah. Setelah menyurut mundur serentak, keduanya berdiri berhadapan tanpa ada yang mengatakan apa-apa. Sampai agak lama kemudian, Cen Sim Fu pun mengambil kembali obornya dari atas tanah.

"Baik, kita ambil jalan yang sebelah kiri saja," katanya.

Kelima orang itu langsung melalui jalan yang ada di sebelah kiri. Baru berjalan tidak seberapa jauh, tiba-tiba muncul lagi seberkas cahaya yang lebih terang dari sebelumnya. Ternyata dugaan I Ki Hu memang tidak salah. Mereka sampai di sebuah goa yang penuh dengan tumpukan batang-batang emas.

Tadi mereka melalui sebuah goa yang berisi dengan berbagai jenis batu permata yang dapat dipastikan alami, tetapi batangan emas-emas itu sudah tentu hasil buatan tangan manusia.

I Ki Hu dan Cen Sim Fu masing-masing mengambil sebatang emas. Saat itu bukan karena timbul keserakahan di dalam hati mereka. Tetapi mereka berharap dapat menemukan tanda-tanda atau tulisan yang dapat dijadikan petunjuk. Paling tidak mereka berharap dapat mengetahui dari mana asalnya batang-batang emas yang jumlahnya tak terkira ini. Setidaknya lebih banyak yang berhasil didapatkan dapat membawa manfaat dalam penyelidikan mereka.

Batangan emas itu pasti hasil karya seorang ahli. Permukaannya licin tanpa ada sedikit cacat pun. Tetapi tidak ada tulisan atau satu pun huruf yang berhasil ditemukan mereka. Kedua orang itu mengambil beberapa batang emas lainnya, semuanya sama. Akhirnya mereka terpaksa meletakkannya kembali. Tidak ada seorang pun dari kelima orang itu yang mengucapkan sepatah kata. Tampak lubuh Cen Sim Fu berkelebat, dia melesat melalui lorong yang ada di depan.

Menurut gambar peta yang terdapat pada kain belacu tadi, mereka memang harus mengambil jalan yang lurus ke depan. Tapi, dari lorong itu bisa tembus kemana lagi, justru tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Itu Iah sebabnya, perasaan kelima orang itu jadi tertekan. Tidak ada seorang pun yang mengatakan apa-apa. Lorong itu tidak seberapa panjang. Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah goa gunung yang Iain. Pada saat itu, I Ki Hu mencoba menghitung perjalanan yang telah mereka tempuh sejak masuk ke dalam goa itu.

Rasanya saat itu mereka sudah berada di perut gunung karena kalau tidak salah mereka sudah berjalan kurang lebih dua puluh li.

Goa itu ternyata kosong melompong, tidak ditemukan apa-apa, namun di sana juga terdapat tiga jalan tembus.

Di samping jalan yang letaknya di sebelah kiri, tampak terbaring sesosok tengkorak yang masih utuh. Kalau ditilik dari bentuk dan ukurannya, kemungkinan semasa hidupnya, orang itu mempunyai postur tubuh yang tidak terlalu tinggi. Di dalam goa yang begitu rahasia menemukan sesosok tengkorak, perasaan mereka berlima agak tergetar juga.

Setelah agak lama, baru terdengar Cen Sim Fu baru berkata dengan nada dingin. "Lo I, arah mana lagi yang kita pilih?" I Ki Hu tertawa terkekeh-kekeh.

"Kalau sudah tidak ada petunjuk jalan mana yang harus kita lalui, terpaksa kita berpencar saja."

Di dalam hati Cen Sim Fu selalu timbul perasaan curiga, tentunya I Ki Hu sudah mendapat-kan seluruh peta itu, tetapi dia sengaja merahasiakan setengah bagiannya. Karena itu dia sengaja menanyakan terus terang kepada 1 Ki Hu, jalan mana yang harus mereka tempuh.

Ketika mendengar jawaban I Ki Hu, kecurigaannya semakin besar.

"Lo I, mengingat nama besarmu yang telah menggetarkan dunia bu lim, seharusnya kaulah yang membagi jalan yang harus kita tempuh."

Mana mungkin I Ki Hu tidak tahu isi hati Cen Sim Fu yang sebenarnya. Tetapi pada saat seperti itu, dia juga enggan berhitungan.

"Jalan tembus semuanya ada tiga.Dengan demikian kita juga harus membagi diri menjadi tiga kelompok. Apabila ada yang menemukan sesuatu, harus segera memberitahukan yang lainnya!" kata I Ki Hu.

"Tidak menjadi persoalan, namun entah Lo I akan memilih jalan yang mana?" tanya Cen Sim Fu licik.

I Ki Hu menunjuk ke jalan yang terdapat di sebelah kiri. "Aku dan istriku akan mengambil jalan yang itu."

Cen Sim Fu tertawa.

"Lo I, bagaimana aku yang melalui jalan sebelah kiri itu? Apakah kau keberatan?"

Sejak semula I Ki Hu sudah menduga Cen Sim Fu akan mengajukan permintaan itu. la tersenyum tawar.

"Kalau itu kemauanmu, terserah."

Tadinya Cen Sim Fu menduga, I Ki Hu sudah tahu jalan mana yang harus ditempuh sebenarnya. Itulah sebabnya dengan licik dia memancing I Ki Hu, jalan mana yang akan dilaluinya. Setelah itu, dia berebut ingin melalui jalan yang dikatakan I Ki Hu. Dia tidak tahu keadaan I Ki Hu saat itu seperti orang buta yang menunggang keledai tak bermata. Dia sendiri tidak tahu jalan mana yang betul. Mendengar I Ki Hu langsung menyetujui permintaannya, hatinya sempat ragu sejenak.

"Heng Kan, kau dan I kouwnio berjalan melalui lorong sebelah kanan, biar yang tengah dilalui Lo I dan istrinya." I Ki Hu tidak memberikan komentar apa-apa. Dia menggerakkan obor di tangannya beberapa kali, kemudian mengajak Tao Ling berjalan melalui lorong yang tengah. Cen Sim Fu sendiri langsung menuju lorong sebelah kiri. Terakhir Tao Heng Kan dan I Giok Hong masuk ke lorong sebelah kanan.

Tao Heng Kan dan I Giok Hong terus berjalan melalui lorong sebelah kanan itu. Baru berjalan dua-tiga depa, tiba-tiba I Giok Hong menghentikan langkah kakinya. Tao Heng Kan bingung melihatnya

"Giok Hong, mengapa berhenti?"

I Giok Hong menarik nafas panjang. "Heng Kan apakah kau percaya bahwa dengan menempuh bahaya di dalam goa ini kita bisa membongkar rahasia yang menyangkut Tong tian pao Liong?"

Pada hal kedatangan Tao Heng Kan di tempat itu merupakan paksaan Cen Sim Fu. Sedangkan Cen Sim Fu berhasil memaksanya karena mengancam keselamatan kedua orang tuanya. Karena itulah Tao Heng Kan tidak berdaya dan terpaksa menuruti kemauannya. Sedangkan tadi, dari mulut Tao Ling, dia mengetahui kematian kedua orang tuanya. Bagi dirinya saat itu, sebetulnya tidak ada hal lagi yang perlu ditakuti pada Gen Sim Fu.

Mendengar pertanyaan I Giok Hong, hatinya merasa terharu. "Aku juga tidak tahu."

Di bawah sorotan cahaya api yang timbul dari obor di tangan mereka, tampak wajah I Giok Hong menyiratkan rnimik yang ganjil.

"Heng Kan, di antara tiga lorong tadi, entah mana yang benar-benar menembus tempat rahasia Tong tian pao Iiong. Seandainya kebetulan kita yang menemukannya, Heng Kan, coba kau katakan apa yang harus kita lakukan?"

Tao Heng Kan seorang pemuda yang jujur. Untuk sesaat, dia masih belum mengerti makna yang terkandung dalam pertanyaan I Giok Hong itu.

"Kalau kebetulan kita yang menemukannya, tentu saja kita harus kembali lagi untuk mem-beritahukan kepada yang lainnya."

Tiba-tiba I Giok Hong mengeluarkan suara tawa yang tidak alang kepalang dinginnya. "Aku sungguh tidak menyangka kau demikian setia terhadap gurumu."

Mendengar ucapannya, Tao Heng Kan semakin bingung. "Giok Hong, masa kau masih belum mengerti mengapa aku menyembahnya sebagai guru?"

I Giok Hong tersenyum.

"Itu dia, kalau kita memang tidak menemukan rahasia apa-apa, atau secara tidak terduga-duga menemui musibah, tentu tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Tetapi kalau kita memang kebetulan beruntung mengetahui rahasia besar itu. Heng Kan, kau harus menuruti apa pun yang aku katakan!"

Sampai saat itu Tao Heng Kan baru menyadari bahwa I Giok Hong mempunyai rencana tersendiri.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Tao Heng Kan.

"Meskipun mereka bertiga, dua di antaranya mempunyai kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada kita, tetapi belum tentu mereka bisa menduga kita mempunyai niat apa-apa terhadap mereka. Karena itu, apabila kita mengambil tindakan, kesempatan untuk menang belum tentu tidak ada. Sedangkan ketujuh buah Tong tian pao Hong itu

. . ."

Mendengar kata-katanya, Tao Heng Kan sudah dapat menerka maksud hati I Giok Hong. Hatinya terkejut setengah mati.

"Giok Hong, jadi maksudmu, kita boleh mengambil kesempatan untuk mencelakai mereka?"

Bibir I Giok Hong cemberut, namun dia menganggukkan kepalanya.

Pada hakekatnya, wajah I Giok Hong cantik sekali seperti bidadari, tapi saat itu dalam pan-dangan Tao Heng Kan justru menyeramkan. Dia tertegun beberapa saat.

"Giok Hong, salah satu di antara mereka merupakan ayahmu sendiri." I Giok Hong tertawa dingin.

"Dia tidak menganggap aku sebagai anaknya iagi, rnengapa aku harus mengakuinya sebagai ayah?"

Tao Heng Kan merupakan seorang anak yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Mendengar kata-kata I Giok Hong, dia terdiam sampai sekian lama. Akhirnya dia hanya dapat menarik nafas panjang.

"Heng Kan, apakah kau tidak sampai hati mencelakai adikmu sendiri?" tanya I Giok Hong.

Tao Heng Kan tahu cepat atau lambat dia pasti akan mengajukan pertanyaan ini. Karena itu dia segera menjawab.

"Tentu saja aku tidak sampai hati."

Wajah I Giok Hong langsung berubah, tetapi sesaat kemudian sudah pulih kembali seperti sedia kala. Dia tampak tertawa sumbang.

"Kalau begitu, ya sudah. Kita jalan terus ke depan!" Dengan menggandeng tangan Tao Heng Kan, mereka berdua menelusuri lorong itu. Baru berjalan tidak seberapa jauh, tiba-tiba ada serangkum angin dingin yang melanda datang dari depan. Kedatangan angin dingin itu terlalu mendadak, bahkan tidak ada gejala sebelumnya. Dalam keadaan terkejut, keduanya bahkan tidak sempat mempunyai ingatan untuk menghindar. Api obor di tangan mereka tiba-tiba mencuat jadi tinggi. Tepat pada saat itu gulungan hawa dingin yang menggigilkan itu melanda datang. Api obor yang barusan mencuat ke atas menjadi padam seketika. Pemandangan di depan mata menjadi gelap gulita Dalam waktu yang hanya sckejap mata itu, baik Tao Hmg Kan

maupun I Giok Hong sempat melihat ada dua sosok bayangan yang bagaikan hantu gen-iayangan melintas di depan rnata mereka.

Tepat pada saat itu juga, kedua orang itu merasa seakan-akan ada puluhan pisau tajam yang mencabik-cabik wajah mereka dan rasa sakitnya tidak ada bandingannya.

Pada saat itu, mereka berada didalam kegelapan yang pekat, bahkan jari tangan semdri pun tidak terlihat. Sedangkan sebelum obor di tangan mereka padam, keduanya masih sempat mdihat dua sosok bayangan yang berkelebat. Karena bagaimana pun nyawa lebih penting dari segalanya, tentu mereka tidak perdulikan rasa sakit yang terasa di wajah. I Giok Hong langsung memgayunkan pecutnya ke depan. "Siapa?" bentak I Giok Hong.

Suara bentakannya itu menimbulkan gema yang panjang di dalam goa, tetapi sampai cukup lama tidak terdengar sahutan seorang pun.

Kedua orang itu jadi tertegun, akhirnya I Giok Hong berkata dengan suara berbisik. "Heng Kan, lebih baik kita nyalakan dulu obor-obor itu!". Tao Heng Kan mengiakan. Dari dalam saku bajunya dia mengeluarkan peletekan api. Dinyalakannya obor mereka, Obor itu dibuat dari ranting-ranting kering pohon siong. Api padam belum terlalu lama, begitu disambar api dari peletekan di tangsui Tao Heng Kan, langsung terdengar suara Cesss! Apinya pun menyala kembali.

Setelah api obor menyala dengan mantap, Tao Heng Kan dan I Giok Hong berdiri berhadapan. Sekonyong-konyong, tampak keduanya menyurut mundur ke belakang dua langkah, pemandangan mata masing-masing tampak menyiratkan perasaan terkejut yang tidak terkirakan. 

"Heng . . . Kan, menga pa wajahmu jadi seperti itu?" teriak I Giok Hong gugup.

Tao Heng Kan mengangkat tangannya ke atas. Dengan gemetar ia menunjuk ke arah wajah I Giok Hong. Bibirnya bergerak-gerak tetapi sampai cukup lama dia tidak sanggup mengatakan apa-apa.

I Giok Hong seorang gadis yang luar biasa cerdasnya, Melihat keadaan Tao Heng Kan, hatinya langsung tercekat. Dia menyurut mundur lagi dua langkah. juga tidak sanggup mengatakan apa-apa.

Rupanya ketika obor api menyala kembali, I Giok Hong dan Tao Heng Kan saling pandang sekilas. Dia melihat wajah Tao Heng Kan penuh dengan urat-urat merah yang bertonjolan. Mirip ulat-ulat kecil berwarna merah yang sengaja ditempelkan pada wajah yang tadinya tampan itu. Sungguh suatu pemandangan yang menakutkan. Itulah sebabnya, ketika I Giok Hong melihat Tao Heng Kan menatap kepadanya dengan sinar mata yang menyorotkan ketakutan, dia langsung menduga bahwa raut wajahnya pun pasti tidak berbeda dengan Tao Heng Kan.

Sesaat kemudian, I Giok Hong baru sanggup membuka suara.

"Heng Kan wa . .. jahku . . ., apa . . .yang . . . ter . . . jadi dengan wa . .. jahku?" Tao Heng Kan menarik nafas panjang.

"Gi . . .ok ... Hong, kau tidak perlu sedih”

Belum selesai Tao Heng Kan berkata, tubuh I Giok Hong sudah bergetar. Dia berdiri terpaku dengan pandangan kosong. Dari mimik wajah Tao Heng Kan dia sudah dapat menduga bahwa wajahnya yang cantik jelita bak bidadari sudah menjadi cacat untuk selamanya.

Melihat keadaan I Giok Hong, Tao Heng Kan bergegas mendekatinya. "Giok Hong, kau ..." I Tiba-tiba I Giok Hong menjerit histeris.

"Pergi . . .!"

Tubuhnya herkelebat, ia langsung menghambur ke depan. Tao Heng Kan cepat-cepat mengikuti dari belakang. Gerakan tubuh kedua orang itu laksana bintang komet yang melintas satu persatu. Dalam sekejap mata mereka sudah sampai di goa lainnya.

Ketika sampai di goa itu, Tao Heng Kan dan I Giok Hong kembali tertegun.

Tampak di goa itu penuh dengan perak putih yang berkilauan. Tetapi lempengan perak-perak itu sudah dijadikan perabotan rumah tangga seperti, meja, kursi, tempat tidur dan yang lain-lainnya. Di atas dua buah kursi perak, tampak duduk dua orang.

Kedua orang itu bertelanjang dada. Bukan hanya tubuhnya yang kurus kering, tetapi kulitnya pun berwarna pucat keabu-abuan. Sungguh sulit dibayangkan. Apabila mengedarkan pandangan ke bagian atas tubuh orang itu, tampak rambut keduanya juga sudah memutih seperti dipenuhi salju. Wajahnya kurus panjang, selain sepasang matanya, tidak ada bagian lainnya yang tidak pucat.

Tao Heng Kan dan I Giok Hong yang melihat keadaan kedua orang itu langsung tercekat hatinya. Bulu kuduk di seluruh tubuh mereka terasa merinding. Tampak sepasang mata kedua orang itu yang seperti mata ikan mati sedang menatap mereka lekat-lekat. Tubuh mereka yang tidak bergerak sedikit pun semakin meninibulkan perasaan yang tidak nyaman.

Setelah menenangkan diri sesaat, I Giok Hong baru bertanya dengan suara tajam. "Siapa kalian?" Perlahan-lahan kedua orang itu memalingkan kepalanya. Mereka saling melirik sekilas. Terdengar suara tawa yang parau dari mulut mereka. Tetapi tetap duduk tidak bergerak.

Tadinya I Giok Hong mengira keduanya adalah makhluk aneh penjaga goa itu. Itulah sebabnya dia tidak berani sembarang mengambil tindakan. Sekarang setelah mendengar suara tawa mereka yang parau, gadis itu merasa yakin bahwa keduanya manusia biasa. Sedangkan cacat wajahnya yang cantik jelita, kemungkinan juga atas perbuatan kedua orang itu. Hawa amarah dalam dada gadis itu semakin meluap. Dia meraung keras. "Tadi di dalam goa yang gelap, apakah kalian berdua yang menurunkan tangan jahat kepada kami?" tanyanya dengan suara melengking tajam.

Bola mata mereka yang berwarna keabu-abuan mengerling sekejap. "Tidak salah. Kami yang melakukannya," sahut mereka serentak.

Sebetulnya suara sahutan mereka sama sekali tidak keras, hanya paraunya jangan ditanyakan lagi. Membuat orang yang mendengarnya, timbul perasaan tidak nyaman. Perasaan itu sulit diuraikan dengan kata-kata.

I Giok Hong tertegun sesaat. Pergelangan tangannya berputar, pecut di tangannya sudah diayunkau ke depan. Kedua orang itu juga tidak berusaha menghindar. Dengan jurus Bunga teratai bermekaran, I Giok Hong menggetarkan pergelangan tangannya dua kali. Tar! Tar!

Kedua orang itu dipecutnya masing-masing satu kali. Terdengar kedua orang itu tertawa terbahak-bahak. Setelah pecut diayunkan, tampak di pundak kedua orang telah timbul luka memanjang.

I Giok Hong yang melihat kedua.orang itu bukan saja tidak menghindar tetapi malah tidak membalas serangannya, merasa heran bukan main. Meskipun dia sudah memecut, kedua orang itu masing-masing satu kali,..tetapi rasa marah dalam hatinya tetap tidak dapat dicairkan.

Baru saja dia maju. lagi ke depan dengan maksud memecut kedua orang itu keras- keras, tiba-tiba dari belakangnya terdengar suara bentakan serentak dari mulut dua orang, “Tahan!”

Meskipun I Giok Hong berdiri memunggungi kedua orang yang membentak itu.sehingga tidak dapat melihat wajah tnereka, tetapi dari suaranya ia dapat mengenali kalau kedua orang itu pasti I Ki Hu dan Hek Tian Mo Cen Sim Fu.

Watak I Giok Hong selamanya tidak pernah mau mengalah kepada siapa pun. Karena mengambil Tao Ling sebagai istri, bahkan dia tidak segan-segan memutuskan hubungan antara ayah dan anak dengan I Ki Hu.