Pedang Tanpa Perasaan Jilid 13

Jilid 13  

Tubuh Sang Cin membungkuk sedikit. Kemudian bergerak ke samping. Kelima jari tangannya yang menekuk membentuk cakar, diputarnya sehingga timbul lingkaran kecil. Kemudian menjulur ke depan mencengkeram ke arah pergelangan tangan salah seorang raksasa itu. Ketika jari tangannya sudah hampir mencapai pergelangan tangan lawannya, tiba-tiba cakarnya berubah menjadi totokan dan tepat mengenai pergelangan tangan raksasa itu.

Kelima jari tangan orang itu langsung merenggang, senjata yang mirip pedang emas itu pun terlepas seketika. Sang Cin tidak memberi kesempatan, dia maju ke depan satu langkah, bayangan telapak tangannya berpijaran, kemudian menjulur ke bawah dan menghantam tepat di bawah pusar raksasa itu.

Perut bawah Raksasa itu dihantam oleh pukulan Sang Cin. Tubuhnya terhuyung- huyung, ka-kinya terdesak mundur beberapa langkah.

Bum …..! Tubuh orang itu jatuh di tanah. Mulutnya mengeluarkan busa putih. Dapat dipastikan tidak sadarkan diri.

Sementara itu Sang Hoat juga sudah berhasil meringkus raksasa yang satunya lagi. Ia mencengkeram pergelangan tangan orang itu sambil membentak dengan suara tajam. "Ustak! Apa yang kau lakukan?"

Raksasa yang satu itu menggerung marah.Tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan menggunakan kepandaianya menyeruduk bagian dada Sang Hoat.

Kemarahan Sang Hoat hampir meledak. Secepat kilat dia menjulurkan tangannya menekan ubun-ubun Ustak dan bermaksud mengerahkan tenaga dalamnya agar tergetar dan membuatnya mati seketika.

"Hoat te, tunggu dulu!" seru Sang Cin.

Mendengar suara teriakan abangnya, tenaga dalam Sang Hoat langsung ditarik kembali. Tangannya bergerak turun sedikit kemudian menekan di jalan darah belakang otak Ustak. Mulut raksasa itu mengeluarkan suara seperti batuk-batuk kecil, dia pun terjerembab di atas tanah tanpa sanggup berdiri lagi.

"Kenapa?" tanya Sang Hoat menoleh kepada abangnya.

"Jangan mempersulit dia lagi, mereka sudah terkena bokongan orang." "Bagaimana kau bisa tahu?" Sang Cin mengangkat lengan raksasa yang berhasil dilumpuhkannya.

"Coba kau lihat, di pergelangan tangan Ustak pasti ada bekas luka yang sama!"

Sang Hoat segera mengangkat lengan Ustak dan diperhatikannya dengan teliti. Ternyata di pergelangan Ustak terdapat tanda merah yang membengkak. Setelah dilihat dari dekat, bahkan ditemukan dua lubang kecil di tengah-tengah bagian yang membengkak itu.

Sedangkan dari kedua lubang kecil itu, mengalir ke luar sedikit cairan yang warnanya kehitaman. Sang Hoat langsung mengeluarkan suara dengusan dingin.

"Entah sahabat mana yang ada ganjalan dengan kami dua bersaudara, silakan keluar saja untuk berhadapan dengan kami. Untuk apa mencelakai kedua orang yang tidak bersalah ini?"

Ketika mengucapkan kata-kata itu, tampang muka Sang Hoat sudah berubah sedemikian rupa sehingga benar-benar tidak enak dilihat.

"Dimana Leng Coa sian sing, harap maju ke depan untuk menemui kami!" kata Sang Cin setelah selesai ucapan Sang Hoat.

Dari antara kerumunan orang banyak, terdengar suara seseorang meruyahut.

"Entah cu jin (tuan rumah) ingin memberikan petunjuk apa?" Kemudian, tampak seseorang yang bertubuh pendek kecil dengan tangan membawa sebatang tongkat yang dililit seekor ular, berjalan ke luar dengan perlahan-lahan.

Kedua kakak beradik dari keluarga Sang segera berkata dengan nada dingin.

"Leng Coa sian sing megenal semua ular beracun yang ada di duniai ini. Kedua orang kami ini tampaknya digigit ular toerbisa sehingga menjadi gila. Harap Sian sing memberi petunjuk kepada kami bagaimana membereskan masalah ini!"

Mendengar ucapan kedua kakak beradik itu, perasaan Leng Coa sian sing jadi mendongkol. Diam-diam dia berpikir dalam hati, kedua tuan rumah cilik ini mungkin mencurigai aku yang turun tangan kepada kedua orangnya itu. Tapi pada dasarnya Leng Coa sian sing ini licik sekali, seperti tidak merasakan apa-apa.

"Biar aku periksa dulu, setelah itu baru bisa memastikan."

Sembari berbicara, dia menghampiri Ustak dan berjongkok di sampingnya. Setelah memeriksa sebentar, tampak mimik wajahnya agak berubah.

Pada mulanya, kedua kakak beradik dari keluarga Sang memang curiga jangan-jangan si manusia ular itu yang membokong Ustak dan saudara kembarnya. Sebab setahu mereka hanya Leng Coa sian sing yang paling gemar bermain-main dengan ular.

Tetapi begitu melihat perubahan mimik wajah Leng Coa sian sing saat itu, mereka langsung tahu dugaannya salah. Tampak manusia ular itu berpindah ke raksasa yang satunya lagi kemudian mengangkat lengannya ke atas dan diperhatikan kembali dengan teliti.

Kali ini, mimik wajah Leng Coa sian sing berubah semakin hebat lagi. Kakinya bahkan menyurut mundur ke belakang dua langkah. Tampangnya serius sekali.

"Cu jin, beberapa hari belakangan ini apakah kalian disatroni musuh bebuyutan?"

"Leng Coa sian sing, sebetulnya racun apa yang menyerang mereka berdua? Tentunya dari sejenis ular berbisa kan?" tanya kakak beradik dari keluarga Sang itu serentak.

"Ular berbisa ini bernama Kim ci can jit (Uang emas menentang matahati), di seluruh kolong langit ini, adanya hanya di sebelah barat gunung Kun Lun san, lagipula sulit ditemukan. Meskipun sengaja dicari selama seratusan tahun, apabila berhasil menemukan satu ekor, sudah termasuk keajaiban. Tidak pernah ada di daerah lainnya."

Selesai menjelaskan, Leng Coa sian sing langsung berdiam diri. Dan para undangan yang hadir di tempat itu juga mendengar dengan jelas kata-katanya. Perasaan rnereka juga ikut tertekan. Meskipun nama ular itu sangat aneh, dikhawatirkan kecuali Leng Coa sian sing sendiri, biarpun orang yang ilmu kepandaiannya lebih tinggi darinya, juga tidak bisa mengenali jenis ular itu. Namun mimik wajah niereka rata-rata berubah ketika mendengar disebutnya sebelah barat gunung Kun Lun san.

Tiga tahun yang lalu, entah berapa banyak tokoh berilmu tinggi dari dunia bu lim yang menuju sebelah barat gunung Kun Lun san, mereka kembali lagi tanpa hasil apa-apa. Sedangkan I Ki Hu ayah dan putri, serta Hek Tian mo Cen Sim Fu serta kakak beradik Tao Heng Kan, justru tidak terdengar kabar beritanya lagi. Hal itu lambat laun sudah mulai dilupakan oleh kalangan masyarakat. Tetapi tentu saja tidak mungkin terhapus sama sekali dari ingatan.

Karena itu, orang-orang yang mendengar ucapan Leng Coa sian sing, sebagian besar langsung mengeluarkan seruan terkejut. Mereka dapat merasakan urusan itu pasti pelik sekali.

"Sahabat Sang, apakah beberapa hari belakangan ini ada tamu yang baru kembali dari wilayah barat?" tanya Leng Coa sian sing lagi.

Perasaan kakak beradik dari keluarga Sang ini mengatakan masalahnya mulai gawat. Tetapi mereka mencoba berpikir dengan tenang, rasanya dalam beberapa hari ini, di antara orang-orang yang memenuhi undangan, tidak ada seorang pun yang datang dari wilayah barat. Karena itu mereka pun menggelengkan kepalanya.

Wajah Leng Coa sian sing tampak serius.

"Sekarang, para pendekar dan orang-orang gagah yang mendapat undangan, boleh dibilang sembilan bagian sudah berdatangan. Rasanya sahabat Sang sekarang sudah boleh mengutarakan maksud kalian mengundang kami kemari."

Sang Cin dan Sang Hoat saling melirik sekilas. "Baiklah. Harap saudara sekalian duduk di ruangan dalam!"

Untuk sesaat, para tamu yang berkumpul di luar ruangan berbondong-bondong masuk ke dalam. Lie Cun Ju juga ikut terdesak masuk di antara kerumunan orang-orang itu. Kemudian dia memilih tempat duduk yang di pojok.

Tidak lama kemudian, seluruh ruangan itu sudah dipenuhi para tokoh dari berbagai partai maupun perguruan terkemuka. Jumlahnya mencapai seratus orang lebih. Tidak ada seorang pun yang bersuara. Suasana di dalam ruangan itu begitu heningnya sehingga orang yang tidak tahu pasti tidak menyangka di dalam ruangan itu banyak orang.

Tampak Sang Cin berdiri dengan perlahan-lahan. Mula-mula dia menjura ke sekelilingnya.

"Para pendekar dan saudara-saudara yang gagah, kami dua kakak beradik dari keluarga Sang mengundang kedatangan kalian di sini, sebetulnya karena ada masalah yang membuat hati gundah," kata Sang Cin dengan suara berat.

Berkata sampai di sini, dia berhenti sebentar. Tiba-tiba di antara para tamu ada yang berteriak.

"Ada urusan apa? Katakan langsung saja! Buat apa berputar ke sana ke mari? Bikin bingung saja."

Sang Cin menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Tampak orang yang berbicara, seorang laki-Iaki bertubuh tinggi besar dan berewokan, tampangnya berangasan dan wataknya pasti tidak sabaran. Karena itu Sang Cin juga malas melayaninya. Pemuda itu segera melanjutkan kata-katanya kembali.

"Tapi masalah yang membuat kami gelisah ini kemungkinan ada kaitannya dengan seluruh bu lim. Karena itu kami memberanikan diri menyebar undangan kepada para pendekar dan saudara-saudara yang gagah sekalian untuk berkumpul di perkampungan kami ini. Perlu kalian ketahui, kakek kami Sang Hao dan seluruh sanak saudara kami sudah mati. Hal ini pasti sudah kalian ketahui. Tetapi apa yang belum kalian ketahui, justru mereka semua mati di tangan orang yang sama ..."

"Siapa orang itu?" tanya seseorang dari kerumunan para tamu. Suara Sang Cin semakin lama semakin tajam.

"Gin leng hiat ciang I Ki Hu."

Setelah mendengar kata-kata Sang Cin, sebagian besar para tokoh bu lim memang sudah menebaknya.

Tempo hari, ketika keluarga Sang tertimpa bencana besar-besaran, sebagian besar para tokoh dunia bu lim sudah dapat menduga bahwa orang yang sanggup melakukan hal itu kemungkinannya hanya ada beberapa. Tapi yang paling di mungkinkan yakni Gin leng hiat ciang I Ki Hu. Suasana di dalam ruangan hening kembali.

"Sahabat keluarga Sang, tetapi selama tiga tahun belakangan ini Gin leng hiat ciang I Ki Hu justru tidak ada kabar beritanya," seru Kim Sin Go Lim.

Baru saja Kim Sin Go Lim berkata sampai di sini, tiba-tiba dari bagian atas ruangan berkumandang suara tertawa dingin.

Pada saat ini, hari sudah terang tanah, matahari sudah menyorot dengan terik. Tetapi suara tertawa yang berkumandang dari atas ini tetap saja membuat perasaan para tamu yang hadir di dalam ruangan itu jadi bergidik.

Semua tamu yang hadir langsung mendongakkan kepalanya, tetapi di atas tiang penglari tidak ada apa-apa. Bahkan tidak terlihat bayangan seorang pun.

Suara tertawa yang dingin itu, dapat didengar dengan jelas, sedangkan para tamu yang hadir hari itu boleh dibilang rata-rata terdiri dari jago kelas tinggi. Tetapi begitu mereka mendongakkan kepalanya, bayangan orang yang mengeluarkan suara itu menghilang. Hal ini benar-benar merupakan peristiwa yang tidak masuk akal.

Tanpa dapat ditahan lagi perasaan para tamu yang hadir jadi bingung. Kim Sin Go Lim segera mengeluarkan suara siulan panjang. Tiba-tiba tubuhnya mencelat ke udara.

"Sahabat dari keluarga Sang, maafkan kelancanganku ini!" teriak Go Lim.

Sekali lagi para tamu tertegun, mereka tidak mengerti apa maksud ucapan Kim Sin Go Lim. Tetapi gerakan tubuh orang tua itu cepatnya benar-benar sulit diuraikan dengan kata-kata. Begitu mencelat ke atas, tangannya menjulur ke depan.

Pluk .....! Tiang penglari kena dicengkeramnya. Dalam waktu yang bersamaan, telapak tangan kanannya menghantam ke langit-langit ruangan itu. Angin dari pukulan tepat mengenai sasaran.

Bum .....! Terdengar suara ledakan yang keras, wuwungan rumah hancur seketika. Ketika para tamu mendongakkan kepalanya, tampak bagian langit-langit ruangan itu sudah terdapat celah yang besar.

Orang-orang yang berkumpul di perkampungan keluarga Sang hari itu, merupakan para tokoh yang sudah banyak pengalaman dan berpengetahuan luas.

Karena itu, melihat Kim Sin Go Lim menghantam langit-langit ruangan itu sehingga terlihat celah yang besar, mereka segera sadar bahwa orang yang mengeluarkan suara tertawa dingin tadi ternyata mengerahkan tenaga dalamnya yang dahsyat sehingga suara tawanya dapat berkumandang di dalam ruangan. Padahal orangnya sendiri bukan berada di tiang penglari namun di bagian luar atap ruangan.

Langit-langit ruangan itu jebol seketika, debu-debu berjatuhan. Dalam waktu yang bersamaan, dari celah yang terbuka itu, para tamu yang hadir dalam ruangan sempat melihat sesosok bayangan berpakaian putih melintas dengan kecepatan kilat dan dalam sekejap mata sudah menghilang. Sosok bayangan itu kecil ramping. Ramhutnya panjang mencapai bahu. Ternyata seorang gadis.

"Jangan kabur!" bentak Kim Sin Go Lim

Tubuh Go Lim kembali mencelat di udara dan tahu-tahu sudah menyelinap ke luar lewat celah wuwungan rumah.

Di saat suara bentakannya masih bergema di telinga para hadirin, tiba-tiba ada seseorang lagi yang berteriak.

"I kouwnio, kaukah itu?"

Seiring dengan pertanyaan tadi, tampak sesosok bayangan bagai gumpalan asap yang me-ngepul ke atas, tetapi tahu-tahu justru sudah melewati tubuh Kim Sin Go Lim yang mencelat terlebih dahulu. Dalam sekejap mata tubuh itu sudah melesat melaiui celah yang terbuka tadi.

Melihat ada yang mendahuluinya, perasaan Kim Sin Go Lim menjadi marah.

Fuh ........!! Tangannya menjulur ke depan, melintasi udara dan melancarkan sebuah cengkeraman. Tetapi gerak tubuh tadi cepatnya jangan dikatakan lagi. Meskipun Kim Sin Go Lim langsung menjulurkan tangannya ketika mengetahui ada yang mendahuluinya, ternyata ujung pakaian orang itu saja tidak tersentuh olehnya.

Kim Sin Go Lim mengeluarkan dengusan satu kali, tubuhnya melayang turun tepat menginjak di atas tiang penglari.

Dalam keadaan panik, kakak beradik Sang Cin dan Sang Hoat juga melesat ke atas lalu menyelinap ke luar melalui celah wuwungan rumah. Tetapi begitu mereka sampai di atas atap, tampak dua sosok bayangan sedang melesat secepat terbang meninggalkan tempat itu.

Sebentar saja dua sosok bayangan itu sudah berubah menjadi titik hitam dan sekejap mata kemudian sudah tidak terlihat lagi.

Kedua kakak beradik keluarga Sang menyadari gerakan tubuh kedua orang itu demikian cepat. Mereka sendiri pasti tidak sanggup mengejar. Karena itu terpaksa mereka kembali ke dalam ruangan untuk merundingkan pembalasan dendam terhadap I Ki Hu.

Kita kembali pada saat wuwungan rumah baru saja dijebolkan, celah yang cukup besar terlihat. Kemudian ada sesosok bayangan putih melesat secepat kilat. Para tamu yang hadir berusaha memperhatikan dengan seksama. Tetapi mereka hanya dapat melihat bahwa sosok bayangan yang melesat itu seorang perempuan. Tetapi tidak ada seorang pun yang sempat melihat raut wajahnya.

Tapi Lie Cun Ju yang ikut hadir di dalam ruangan itu juga sempat melihat bayangan tersebut. Tiba-tiba saja hatinya seperti menerima pukulan bathin yang berat. Untuk sesaat dia justru tertegun. Dalam waktu yang singkat, Lie Cun Ju mengenali bayangan yang berkelebat tadi sebagai putri Gin leng hiat dang, I Giok Hong. Karena itu pula, dia segera berseru memanggil. Sekaligus menghimpun hawa murninya dan melesat ke atas dan menyelinap ke luar lewat celah wuwungan rumah.

Ketika Lie Cun Ju sampai di atas atap, bayangan orang itu kurang lebih lima depaan dari tempatnya berada. Pakaiannya yang putih berkibar-kibar, ikat pinggangnya berwarna hijau pupus. Dia dapat melihat dengan jelas. Kalau hukan I Giok Hong, siapa lagi? Lie Cun Ju segera mengerahkan ilmu ginkangnya mengejar.

Dalam sekejap mata, berbagai kenangan timbul dalam benak Lie Cun Ju. Tentu saja antara dia dan I Giok Hong tidak pernah terjalin hubungan apa pun. Tetapi I Giok Hong justru bersama-sama dengan Tao Ling dan yang Iainnya ketika mencari rahasia Tong tian pao liong di sebelah harat Gunung Kun Lun san. Bahkan sampai sekarang tidak ada kabar beritanya.

Mungkin dari I Giok Hong, dia bisa menanyakan kabar tentang Tao Ling. Sedangkan Lie Cun Ju sendiri, sejak mendengar berita bahwa Tao Ling telah menikah dengan Gin leng hiat ciang, I Ki Hu. Dia bersumpah untuk mengelilingi seluruh dunia ini untuk menemukan Tao Ling. Dia ingin meminta penjelasan dari gadis itu.

Maka dari itu, tanpa keraguan sedikit pun Lie Cun Ju mengerahkan ilmu meringankan tubuh untuk mengejar terus ke depan. Selama di kuil para Ihama, Lie Cun Ju terus berlatih dengan giat. Dalam tiga tahun, ilmu silatnya bukan saja sudah pulih kembali, bahkan tenaga dalamnya malah jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum kepandaiannya dimusnahkan. Tetapi bayangan di depannya yang dia yakin adalah I Giok Hong, juga memiliki gerakan tubuh yang mengejutkan. Dalam waktu yang singkat, dia sudah mengejar sejauh belasan li. Tetapi jarak di antara mereka tetap lima depaan.

Terhadap kepandaiannya sendiri, tentu saja Lie Cun Ju mempunyai perhitungan. Setelah me-ngejar sejauh belasan li, jarak di antara ia dan I Giok Hong masih tidak ada perbedaan. Hal itu membuktikan bahwa kepandaian lawannya tidak berada di bawah dia sendiri.

Sesaat kemudian, mereka sudah berlari lagi sejauh tiga-empat li. Daerah Si Cuan banyak pegunungan. Perkampungan keluarga Sang justru terletak di tengah-tengah pegunungan itu. Setelah berlari lebih dari dua puluh li, mereka sudah sampai di jalanan gunung yang berkelok-kelok.

Perasaan Lie Cun Ju jadi tidak sabar.

"I kouwnio, aku toh sudah mengenalimu, mengapa kau harus menghindar terus?" teriak Lie Cun Ju.

Sembari berteriak, gerakan kaki Lie Cun Ju tidak berhenti. Dia malah berusaha untuk berlari lebih cepat lagi. Tidak disangka, begitu suara teriakannya sirap, gadis yang sedang berlari itu tiba-tiba menghentikan gerakan kakinya lalu membalikkan tubuhnya. Pada saat itu, keduanya sedang berlari secepat kilat. Ketika gadis berpakaian putih itu menghentikan gerakan kakinya, untuk sesaat Lie Cun Ju justru tidak sanggup mengendalikan luncuran tubuhnya sendiri.

Cuiiitttt! Tubuhnya masih meluncur terus sejauh lima, enam depa kemudian berhenti tepat di depan gadis berpakaian putih itu.

Belum sempat Lie Cun Ju melihat wajah gadis itu, tiba-tiba gadis itu sudah menjulurkan tangannya untuk mengirimkan sebuah totokan ke dada Lie Cun Ju. Bukan hanya gerakannya saja yang cepat, jurus yang digunakannya pun aneh sekali.

Pada umumnya orang menotok jalan darah menggunakan jari telunjuk dan jari tengah. Memang ada juga aliran perguruan yang menurunkan ilmu totokan dengan satu jari, misalnya It ci sin kang (Tenaga sakti satu jari) dari Kerajaan Tay Li. Akan tetapi gadis itu lain daripada yang lain. la melancarkan sebuah totokan ke bagian dada Lie Cun Ju menggunakan jari manis. Hal itu belum pernah ditemui Lie Cun Ju sebelumnya.

Pemuda itu terkejut setengah mati.

Ingin menyurut mundur, tetapi tidak keburu. Dalam keadaan panik, ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghentakkan tubuh bagian atasnya ke belakang. Dengan susah payah akhirnya dia berhasil juga menghindar dari serangan gadis itu.

Namun, baru saja satu jurus tadi selesai dikerahkan, kelima jari tangan gadis itu merenggang. Pergelangan tangannya memutar dan tahu-tahu dia sudah mengirimkan sebuah cengkeraman lagi.

Cengkeraman yang dilancarkan gadis itu juga beium pernah ditemui Lie Cun Ju seumur hidup. Benar-benar aneh, gerakan cengkeramannya justru dari bawah mengincar ke atas. Lagi pula berbeda dengan umumnya. Untung saja di kuil para lhama, selama tiga tahun Lie Cun Ju beriatih diri dari setengah bagian kitab 'Leng Can Po Liok'. Pelajaran itu sangat luar biasa. Jauh berbeda dengan pelajaran pada umumnya. Lie Cun Ju sadar bahwa sia-sia saja dia menghindar ke kiri atau ke kanan, karena cengkeraman tangan gadis itu dapat bergerak mengejarnya. Dengan demikian dalam sekejap mata ia akan jatuh di bawah angin. Karena itu dia segera bersiul nyaring, kemudian menghentakkan kakinya di atas tanah lalu mencelat ke atas setinggi dua depaan.

Serangan yang dilancarkan gadis itu berupa cengkeraman, lagi pula arahnya dari bawah ke atas. Begitu Lie Cun Ju melesat tinggi di udara, jelas serangannya mengenai tempat yang kosong. Tapi saat itu juga terdengar dia mendengus satu kali. Tubuhnya membentuk bayangan dan tahu-tahu ikut melesat ke atas. Posisinya tetap berhadapan dengan Lie Cun Ju dan jaraknya dekat sekali.

Pergelangan tangan Lie Cun Ju memutar, dengan melintasi udara dia mengirimkan sebuah pukulan. Dalam waktu yang bersamaan, dia mendongakkan wajahnya untuk menatap si gadis berpakaian putih. Namun ketika melihat dia justru langsung tertegun.

Gadis berpakaian putih itu mengenakan sehelai cadar berwarna hitam. Seluruh bagian wajahnya tertutup oleh cadar itu, kecuali sepasang matanya yang tampak menyembul ke luar melalui dua lubang kecil. Ketika Lie Cun Ju mengirimkan sebuah pukulan, tubuh gadis itu sedang melayang turun. Maka serangan pemuda itu gagal. Tampak keduanya sudah berdiri lagi di atas tanah. Tiba-tiba tangan gadis itu mengibas ke depan, cahaya keperakan menyilaukan mata. Seutas pecut ber-warna perak bagai seekor ular meluncur ke arah pergelangan tangan Lie Cun Ju.

Melihat datangnya ayunan pecut itu, Lie Cun Ju langsung mengeluarkan suara bentakan

"Bagus!"

Saat itu Lie Cun Ju yakin bahwa gadis itu memang I Giok Hong.

Sebab bukan hanya bentuk tubuh dan gerak geriknya yang sama, bahkan senjata yang digunakan, yakni pecut perak itu pun memang pecut yang sering digunakan I Giok Hong.

Sementara itu, Lie Cun Ju menghentakkan sebelah kakinya di atas tanah kemudian berputaran beberapa kali menjauhkan diri. Dengan demikian dia bisa menghindar dari ayunan pecut I Giok Hong.

"I kouwnio, kita tidak perlu mengungkit urusan lama, aku hanya ingin mencari sedikit berita darimu. Bisakah kita hentikan pertarungan ini sejenak?"

Gadis berpakaian putih itu mendengus satu kali. "Berita apa?" tanyanya ketus.

"I kouwnio . . ."

Baru saja mengucapkan sepatah kata, tiba-tiba gadis itu membungkukkan tubuhnya sedikit dan mengayunkan pecutnya secepat kilat.

"Siapa I kouwnio!"

Dengan panik Lie Cun Ju menghindarkan diri. Dalam hati dia menggerutu, kurang ajar. Kalau dia bukan I kouwnio, buat apa aku bersusah payah mengejarnya sampai kemari?

Karena itu, cepat-cepat dia bertanya lagi.

"Apakah nona bukan putri Gin leng hiat ciang I Ki Hu?"

Gadis itu mengayunkan pecutnya ke sana ke mari. Seluruh tubuh Lie Cun Ju seperti terkurung cahaya keperakan yang terpancar dari pecutnya. Sembari menggerakkan pecutnya dia menyahut dengan suara melengking.

"Bukan! Bukan! Bukan!"

Lie Cun Ju dikurung oleh bayangan pecut itu. Dia sadar apabila tidak membalas menyerang, lambat laun sekali waktu pasti akan tersambar pecut yang hebat itu. Sebetulnya Lie Cun Ju tidak ingin membalas serangan gadis itu. Bukan karena gentar, melainkan karena dia yakin gadis berpakaian putih itu adalah I Giok Hong. Sedangkan begitu banyak pertanyaan yang ingin diajukannya kepada gadis itu. Bagaimana mungkin ia menimbulkan gara-gara dengannya?

Lie Cun Ju terpaksa menahan kedongkolan hatinya. Kembali dia menghindar dari tujuh-delapan jurus serangan. Bayangan pecut semakin lama semakin ketat.

Tar!! Pecut kembali menyambar. Lengan baju Lie Cun Ju pun terkena sambarannya sehingga terkoyak sebagian. Untung saja gerakan pemuda itu cukup gesit. Andaikata tenaga dalamnya kalah jauh dan gerakannya kurang gesit, niscaya lengannya akan terputus.

Lie Cun Ju melihat lengan bajunya terlilit ujung pecut. Ketika gadis itu menghentikan gerakannya, pikiran pemuda itu langsung tergerak. Dia menghentakkan kakinya di tanah dan menerjang ke depan. Dengan menjulurkan tangannya, lengan baju sendiri yang masih terlilit pecut itu berhasil dicengkeramnya.

Begitu ujung lengan bajunya tercengkeram, jelas tali pecut itu menjadi kencang. Lie Cun Ju memanfaatkan kesempatan itu untuk maju beberapa langkah. Telapak tangannya dijadikan senjata. Lengan diangkat ke atas, telapak tangannya diturunkan. Dengan jurus 'Angin musim gugur merontokkan dedaunan', dia menebas ke arah pergelangan tangan gadis itu.

Pada saat itu, tampak keduanya bertarung dengan tubuh yang hampir merapat. Ketika telapak tangan Lie Cun Ju menebas ke bawah, gadis berpakaian putih itu cepat-cepat menarik kembali pergelangan tangannya. Dengan demikian tebasan Lie Cun Ju merosot ke pecut peraknya.

Ketika tangan Lie Cun Ju menyentuh pecut perak gadis itu, lima jari tangannya segera merenggang, pergelangan tangannya memutar, kemudian mencengkeram tali pecut itu erat-erat. Setelah itu dihentakkannya ke belakang.

Hentakan Lie Cun Ju menggunakan tenaga dalam sebanyak tujuh bagian. Tadinya dia sudah yakin gadis itu akan tertarik ke depan, dan dia dapat melancarkan sebuah serangan untuk meraih kemenangan.

Akan tetapi apa yang diperkirakan oleh pemuda itu sungguh meleset. Ternyata tubuh gadis itu tidak bergeming sedikit pun.

"Ternyata tenaga dalam Anda hebat juga!" dengus pemuda itu. "Terima kasih atas pujiannya!" ucap gadis itu dengan tawa dingin.

Keduanya sama-sama mengerahkan tenaga dalam, ternyata tidak ada satu pihak pun yang tertarik ke depan. Hal itu membuktikan bahwa kekuatan mereka memang seimbang.

Tepat pada saat itu, dari sebuah hutan yang jaraknya tidak begitu jauh terdengar suara panggilan lantang. "Giok Hong! Giok Hong!"

Lie Cun Ju merasa suara orang itu tidak asing bagi telinganya. Tetapi untuk sesaat dia tidak dapat mengingat suara siapa gerangan.

Mendengar orang itu memanggil si gadis berpakaian putih dengan sebutan Giok Hong, jelas dia juga sudah dapat menduga identitas gadis itu.

"I kouwnio, mengapa kau tidak mau mengakui siapa dirimu, bukankah orang itu sedang memanggilmu?" kata Lie Cun Ju.

Gadis itu tidak menjawab sepatah kata pun

"Cepat kau kemari, bantu aku mengundurkan musuh ini!" teriak gadis itu dengan lantang.

Mendengar teriakan gadis itu, tanpa dapat ditahan lagi hati Lie Cun Ju terkejut. Diam- diam dia berpikir, sekarang saja kedudukan aku dengan gadis ini seimbang. Apabila ditambah satu lawan lagi, pasti aku akan celaka.

Dengan membawa pikiran demikian, cepat-cepat Lie Cun Ju menarik kembali tenaga dalam-nya. Tetapi baru saja dia berbuat demikian, dari sebelah samping terasa ada serangkum kekuatan yang melanda ke arahnya. Hatinya terkejut bukan main.

Pada saat itu juga, sesosok bayangan berkelebat dari arah hutan, dan seseorang muncul di dekatnya. Rasa terkejut di hati Lie Cun Ju jangan dikatakan lagi. Dia merasa kedua orang itu sudah menganggapnya sebagai musuh. Apabila dia tidak segera mengundurkan diri, dengan keroyokan mereka berdua, sudah pasti dirinya akan celaka.

Karena itu, Lie Cun Ju segera menjulurkan tangannya ke depan kemudian dikibaskan. Hawa murni dalam tubuhnya beredar. Tenaga dalamnya terpancar keluar. Dia menggunakan kekuatan sebanyak delapan bagian. Dengan demikian dia dapat mendesak tenaga dalam gadis bepakaian putih ke arah ujung cambuknya. Tiba-tiba dia merenggangkan jari tangannya, tubuhnya berjungkir balik di udara, lalu melesat ke luar dari arena.

Baru saja dia melesat ke luar, tampak pakaian gadis itu berkibar-kibar. Ternyata gadis itu telah mengejarnya. Sedangkan sosok bayangan yang berkelebat dari hutan juga mempunyai gerakan yang cepatnya tidak terkatakan. Bahkan tidak kalah cepat dengan gadis berpakaian putih itu. Kedua orang itu menerjang ke arah lie Cun Ju dari kedua sisi tubuhnya. Dengan panik dia memencarkan kedua lengan tangannya ke kiri dan kanan untuk mendesak mundur kedua lawannya.

"Hentikan pertarungan ini!" seru Lie Cun Ju.

Kedua orang itu segera menghentikan gerakannya, tetapi tetap mengambil posisi mengurung Lie Cun Ju. Lie Cun Ju segera menoleh kepada orang yang baru muncul dari dalam hutan. Perasaannya langsung tertegun. Sebab, bentuk tubuh orang itu benar-benar tidak asing dalam pandangannya. Sayangnya, bagian wajahnya juga ditutupi sehelai cadar hitam.

Untuk sesaat lie Cun Ju tidak dapat mengingat bentuk tubuh siapa yang mirip dengan pemuda di depannya. Perasaannya dilanda kebingungan yang tidak terkirakan.

"Aku hanya ingin mencari berita tentang seseorang dari saudara berdua. Aku juga tidak tahu apakah kalian mengetahuinya atau tidak," kata Lie Cun Ju kemudian.

Gadis berpakaian putih itu mendengus dingin.

"Apakah kau tahu siapa kami? Huh! Kau tidak tahu siapa kami. Mengapa kau mau menanyakan berita orang lain dari kami?"

Mendengar kata-katanya, Lie Cun Ju jadi ter-mangu-mangu. "Apakah Nona bukan I Giok Hong, I kouwnio?"

"Sebal!" ucap gadis itu marah.

Pergelangan tangan gadis itu memutar. Tampaknya dia ingin mengayunkan pecutnya kembali. Tapi pemuda yang baru muncul itu segera mencegahnya.

"Giok Hong, mengapa sedikit-sedikit ingin turun tangan pada orang?"

Gadis berpakaian putih itu menyurutkan pergelangan tangannya. Pecut perak yang hampir saja mengayun ke arah Lie Cun Ju ditariknya kembali. Gerakan melancarkan serangan dan membatalkannya demikian cepat. Dari situ dapat diduga bahwa ilmu pecutnya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.

Pada saat itu, jarak lie Cun Ju dengan pemuda bercadar hitam itu dekat sekali. Mendengar suara bentakan yang agak berat dari pemuda itu, telinga Lie Cun Ju juga merasa tidak asing. Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam benaknya.

"Kau adalah Tao Heng Kan!" teriak Lie Cun Ju.

Sembari berseru, Lie Cun Ju membalikkan tubuhnya. Dia menghimpun hawa murni dalam tubuhnya. Sepasang telapak tangannya mengirimkan pukulan serentak ke arah pemuda itu.

Tao Heng Kan adalah musuh besarnya yang telah membunuh kokonya, Li Po. Sekarang dia mengenali pemuda bercadar itu adalah Tao Heng Kan. Mana sudi dia melepaskannya begitu saja? Seharusnya, sejak tadi dia sudah mengirimkan kedua pukulan itu.

Tetapi, dalam waktu yang begitu cepat, tiba-tiba dia teringat bahwa bagaimana pun Tao Heng Kan adalah abang dari kekasih pujaan hatinya, Tao Ling. Justru karena teringat kepada Tao Ling, untuk sementara dia menahan pukulan yang sudah hampir dilancarkannya. Pemuda bercadar itu agak tertegun ketika mendengar bentakan Lie Cun Ju. Kemudian dia segera menolehkan kepalanya.

"Giok Hong, mari kita pergi!"

Selesai berkata, dengan gerakan yang benar-benar mengagumkan, Tao Heng Kan mengun- durkan diri jauh-jauh.

Keadaan itu memang sudah ada dalam dugaan Lie Cun Ju, mana mungkin dia sudi melepaskan mereka begitu saja?

"Jangan kabur!" bentak Lie Cun Ju.

Kedua pukulan yang tadi masih ditahannya dilancarkan seketika. Dia segera menerjang ke depan. Pemuda bercadar itu terus bergerak mundur. Dia mengibaskan tangannya, tiga titik sinar meluncur ke arah Lie Cun Ju. Ketika itu si gadis yang ada di belakang pemuda bercadar juga mengayunkan pecutnya ke depan.

Ketika Lie Cun Ju menerjang ke depan, kedua lawannya melancarkan serangan dari dua arah yang berlawanan. Tampaknya Lie Cun Ju tidak sanggup menghindar lagi. Tetapi ketika ketiga titik sinar yang membentuk segi tiga dan pecut di tangan si gadis hampir mengenai tubuhnya, tiba-tiba Lie Cun Ju membungkuk sedikit. Jelas gerakan kakinya menjadi limbung, dan sedikit lagi tergelincir jatuh. Dengan kedua tangan menumpu ke tanah, Lie Cun Ju mencelat ke udara kemudian melesat ke samping.

Gerakannya begitu indah. Bahkan dia dapat menghindari serangan lawan. Ketika tubuhnya mencelat ke udara dan melesat ke samping, ayunan pecut gadis itu mengenai tempat kosong. Sedangkan tiga titik sinar yang merupakan senjata rahasia meluncur ke arah pemuda bercadar.

Tampak I Giok Hong mengibaskan lengan bajunya, ketiga batang senjata rahasia pun terpen-tal ke samping. Gadis itu menggerakkan tubuhnya menerjang ke depan. Dan dalam sekejap mata, ia sudah berdiri berdampingan dengan pemuda bercadar hitam itu.

Lie Cun Ju yang melesat ke luar juga sudah berdiri dengan mantap.

"Kalau kau tetap ingin mendesak kami, rasanya kau sendirilah yang akan mendapatkan kerugian. Namun apabila kau tetap ingin bertemu dengan kami, hari ini kami pasti datang ke perkampungan keluarga Sang. Saudara boleh tunggu kami di sana," kata pemuda bercadar hitam.

"Siapa sebetulnya kalian berdua, dapatkah Anda mengatakannya sekarang?" tanya Lie Cun Ju.

Pemuda bercadar itu menarik nafas panjang. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tiba-tiba dia menarik tangan si gadis berpakaian putih. Gerak gerik kedua orang itu demikian cepat. Bagai anak panah yang melesat, tubuh keduanya sudah mengundurkan diri dari tempat itu. Perkembangan ini terjadinya terlalu mendadak, Lie Cun Ju sampai tertegun sesaat. Namun cepat dirinya pulih kembali dan bermaksud mengejar ke depan.

"Harap kau jangan mengejar kami! Kalau tidak, urusannya malah semakin rumit."

Mendengar kata-katanya, hati Lie Cun Ju jadi tergerak. Diam-diam dia berpikir, menurut berita yang tersebar, Tao Heng Kan sudah menjadi murid Hek Tian mo, sedangkan kemunculan I Giok Hong bersama-sama dengannya, kemungkinan Gin Leng Hiat Ciang I Ki Hu juga ada di sekitar tempat ini. Seandainya dia nekat mengejar terus dan bertemu dengan kedua iblis itu, meskipun selama tiga tahun itu kepandaiannya maju pesat, tetap saja dia bukan tandingan Hek Tian mo Cen Sim Fu maupun Gin Leng Hiat Ciang I Ki Hu. Barusan pemuda itu mengatakan bahwa hari ini mereka pasti muncul di perkampungan keluarga Sang. Ada baiknya aku juga kembali lagi ke tempat itu untuk menunggu kedatangan mereka.

Setelah mengambil keputusan, Lie Cun Ju pun menghentikan gergkan kakinya. Belum seberapa lama dia merenung, ternyata bayangan kedua orang itu sudah tidak kelihatan.

Lie Cun Ju berdiri termangu-mangu sejenak, kemudian membalikkan tubuhnya untuk menuju perkampungan keluarga Sang. Dikerahkannya ilmu ginkangnya. Tampak gerakannya cepat sekali. Dalam sekejap mata dia sudah berlari sejauh belasan li.

Sesaat kemudian dia sudah hampir sampai di perkampungan yang ditujunya. Namun tepat pada saat itu juga, dia melihat di tepi jalan ada seseorang yang sedang berjalan dengan perlahan.

Rambut kepalanya diikat dengan pita seperti pelajar. Tangannya disilangkan ke belakang. Orang itu melangkah pelan-pelan.

Tan pa dapat mempertahankan diri, Lie Cun Ju melirik kepada orang itu sekilas. Orang itu seakan tidak menyadari ada yang memperhatikannya. Lie Cun Ju juga enggan melihat lama-lama. Dia segera mengerahkan gin kangnya dan berlari melesat melewati orang itu. 

Tetapi baru saja tubuhnya berkelebat lewat, tiba-tiba terdengar suara panggilan orang itu.

"Sahabat, harap berhenti sebentar!"

Begitu mendengar suara orang itu, Lie Cun Ju kembali tertegun. Karena suara orang itu begitu tenang dan berkumandang sayup-sayup, tetapi begitu mencapai di gendang telinga, justru sanggup membuat hati orang tergetar.

Setelah kepandaiannya maju pesat, pengetahuan Lie Cun Ju juga bertambah luas. Sekali dengar saja, dia dapat memastikan bahwa tenaga dalam orang itu sudah mencapai taraf yang tidak terkirakan tingginya. Bahkan hampir mencapai taraf kesempurnaan, sehingga tidak berani dia membayangkannya.

Cepat-cepat Lie Cun Ju menolehkan kepalanya untuk melihat. Lagi-lagi dia tertegun, karena orang yang memanggilnya itu juga mengenakan sehelai cadar hitam untuk menutupi wajahnya. Namun sepasang matanya justru menyorotkan sinar yang berkilauan. Begitu dalamnya seperti lautan.

Ketika melihat Lie Cun Ju, orang itu juga tertegun sejenak. "Akh! Rupanya kau!" seru orang itu.

Mendengar kata-katanya, Lie Cun Ju jadi heran. Kalau ditilik dari nada ucapannya, tam-paknya orang itu kenal dengannya. Tetapi dia sendiri untuk sesaat tidak bisa mengingat dimana dia pernah berkenalan dengan orang yang ilmunya demikian tinggi. Sinar yang mencorong dari rnata orang itu begitu dalam dan menyolok. Hal ini membuat orang menjadi tidak berdaya dan merasa kecil di hadapannya. Sekaligus timbul rasa hormat yang dalam.

Karena itu, Lie Cun Ju juga tidak berani ayal. Dia segera maju selangkah dan menjura dalam-dalam.

"Mohon tanya panggilan lotianpwe yang mulia, harap maafkan pandangan mata boanpwe yang cetek!"

Orang itu mengangkat kepalanya dan tertawa ringan. "Masa aku tidak kau kenali lagi? Rasanya tidak mungkin!"

Perasaan Lie Cun Ju semakin curiga. Dia memperhatikan lagi orang itu beberapa saat, tetapi dari awal hingga akhir dia masih tidak dapat menduga siapa orang itu.

Orang itu maju dua langkah. Begitu sampai di hadapan Lie Cun Ju, dia langsung mengulurkan lengannya dan menepuk pundak Lie Cun Ju perlahan-lahan sebanyak dua kali. Ketika dia baru mengulurkan tangannya, Lie Cun Ju bermaksud menggeser tubuhnya menghindar, tetapi gerakan orang itu demikian cepatnya sehingga sulit dibayangkan. Belum lagi sempat dia menghindar, tahu-tahu pundaknya sudah ditepuknya sebanyak dua kali.

Lie Cun Ju terkejut setengah mati, diam-diam dia berpikir dalam hati, ilmu orang ini demikian tinggi, seandainya dia bermaksud mencelakai aku, tentu saat ini aku sudah terluka parah.

Cepat-cepat Lie Cun Ju menyurut mundur tiga langkah. Tetapi bagian pundak yang ditepuk orang itu tidak terasa ada keganjilan apa-apa. Di saat perasaannya masih bimbang, telinganya mendengar orang itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Bocah cilik, kau senang dikuburkan di mana, harap kau cepat pilih tempatnya!" kata orang itu dengan nada dingin.

Lie Cun Ju kembali dilanda perasaan terkejut ketika mendengar kata-kata orang itu. Cepat-cepat dia menghimpun hawa murninya kemudian diedarkan ke seluruh tubuh. Tetapi tetap saja dia tidak merasakan keganjilan apa-apa. Diam-diam dia berpikir dalam hati. Kalau ditilik dari ucapannya, tampaknya dua kali tepukan pada bahuku tadi, dia sudah menurunkan tangan jahat. Tetapi anehnya aku kok tidak merasakan apa-apa. Mungkinkah di dunia ini ada semacam ilmu yang dapat melukai orang tanpa wujud dan tanpa rasa?

Di saat Lie Cun Ju masih dilanda kebimbangan, orang itu sudah membalikkan tubuhnya kemudian melesat ke samping. Baru saja Lie Cun Ju berniat memanggilnya, tubuh orang itu sudah berkelebat dan menghilang ke dalam hutan.

Lie Cun Ju kebingungan beberapa saat. Akhirnya dia mengangkat kedua bahunya dan meneruskan perjalanan. Tidak lama kemudian dia sudah sampai di perkampungan keluarga Sang.

Ketika Lie Cun Ju memasuki ruangan, melihat wajah para tamu tidak ada satu pun yang tidak angker. Mimik wajah kedua kakak beradik keluarga Sang begitu tidak enak dilihat. Apalagi Sang Cin, wajahnya tampak merah padam.

"Apabila saudara sekalian tidak bersedia mengulurkan tangan, tentu saja kami juga tidak berani memaksa," kata Sang Cin dengan suara lantang.

Di antara kerumunan orang banyak, terdengar seseorang menyahut.

"Ucapan sahabat Sang terlalu berlebihan. Meskipun sekarang kami bersedia membantu kalian membalas dendam, tetapi jejak Gin leng hiat dang sudah lama tidak ada kabar beritanya, kalau hanya dibicarakan toh percuma saja."

"Dengan kepandaian I Ki Hu dan Hek Tian Mo Cen Sim Fu, rasanya tidak mungkin sampai mendapat bencana di sebelah barat Gunung Kun Lun san. Yang dikhawatirkan justru sewaktu-waktu mereka akan muncul kembali di dunia kang ouw. Pada saat itu, kepandaian mereka pasti sudah jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Guru kami, Kim Ting siong jin, dalam beberapa hari ini akan datang dari wilayah Biao untuk merundingkan bagaimana caranya menghadapi iblis itu. Seandainya Gin Leng Hiat Ciang kembali muncul di wilayah Tiong goan, bila kalian tidak bersiap diri bersatu sejak sekarang, khawatirnya bukan kami yang akan tertimpa bencana, tetapi kalian sendiri," kata Sang Cin.

Ucapan Sang Cin barusan memang agak sombong, para tamu yang mendengarnya sebagian mengeluarkan suara tertawa dingin. Ada beberapa yang tingkatannya lebih tua, seperti Kim Sin Go Kim misalnya lebih-lebih tidak bisa menahan diri.

"Siapa sebenarnya guru kalian yang bergelar Kim Ting siong jin itu? Kami sekalian baru kali ini mendengar namanya." Terdengar ucapan dengan suara lantang dari kerumunan para tamu.

Sang Cin tertawa dingin.

"Dunia ini begini luas, banyak sekali orang yang memiliki ilmu tinggi, apakah semuanya harus dikenal orang? Suhu kami kepandaiannya tinggi sekali, pengetahuannya juga luas, kecerdikannya luar biasa. Bagaimana dapat disamakan dengan kaum cecurut atau golongan perampok?" Wajah para tamu langsung berubah menjadi tidak enak dipandang. "Kalau begitu, kita pergi saja dari sini!" teriak seseorang.

Untuk sesaat, tampak sebagian kecil para tamu sudah langsung berdiri. Ketika itu pula terdengar ada orang berbicara dengan nada dingin.

"Jangan pergi!" serunya.

Para tamu mendengar ada suara seseorang yang tiba-tiba memecahkan keheningan dari luar ruangan. Mereka serentak rnenolehkan kepalanya. Setelah melihat dengan jelas, hanya Lie Cun Ju seorang yang terkejut hatinya. Karena orang yang tiba-tiba berdiri di luar ruangan, justru orang yang bertemu dengannya di tengah jalan tadi dan menepuk bahunya sebanyak dua kali. Yakni si laki-laki berilmu tinggi yang wajahnya ditutupi sehelai cadar hitam.

Sebagian para tamu yang sudah bersiap hendak meninggalkan ruangan itu, meiihat seseorang berdiri menghadang di depan pintu. Mereka tadinya mengira orang itu juga salah seorang rekan keluarga Sang. Hati mereka jadi kesal. Tampak seorang laki-laki bertubuh kekar dan berkulit hitam menggetarkan sepasang lengannya lalu menguak kerumunan orang banyak. Kemudian orang itu menerobos melalui orang banyak sampai di hadapan laki-laki bercadar hitam itu.

Para tamu yang melihat laki-laki bertubuh tinggi besar itu menerobos ke depan, segera dapat membayangkan bahwa akan ada tontonan yang menarik.

Laki-laki bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam itu dikenal baik oleh para tamu. Dia adalah seorang jago dari wilayah Ho Pak, namanya Tungfang Goat. Ilmu yang dipelajarinya me-rupakan ilmu luar, yakni gwa kang yang mengandalkan kekerasan.

Menurut cerita yang tersebar, ilmu gwa kang orang itu sudah mencapai tingkat kedelapan. Asal hawa murni dalam tubuh beredar, golok atau pedang biasa saja tidak akan mempan melukai kulit tubuh orang itu. Paling-paling hanya meninggalkan guratan merah saja. Orang itu tidak mempelajari gwa kang saja, Iwe kangnya juga cukup tinggi. Usianya sudah lima puluh lebih, tetapi sesuai dengan ilmu yang dikuasainya sikapnya masih berangasan. Malah kadang-kadang masih kekanak- kanakan yakni tidak mau mengalah kepada siapa saja.

Akhirnya Tungfang Goat sampai di hadapan orang bercadar hitam itu. "Siapa kau? Mengapa menghalangi kepergian kami?" sapa Tungfang Goat.

Orang bercadar itu tertawa datar. Tangannya masih disilangkan di belakang dan tetap berdiri menghadang di depan pintu. Tinggi badan laki-laki bercadar itu, apabila dibandingkan dengan Tungfang Goat, hanya sampai dadanya saja.

Beberapa tokoh berilmu tinggi di dalam ruangan dapat melihat bahwa laki-laki itu berdiri kokoh di depan pintu bagai gunung berapi yang tidak boleh sembarangan disentuh. Dari gayanya saja dapat dibayangkan bahwa tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Yang dikhawatirkan, justru Tungfang Goat ini bukan tandingannya. Tungfang Goat yang melihat lawannya hanya tertawa datar tanpa menyahut sepatah kata pun jadi meluap kemarahannya. Dia meraung marah.

"Minggir!" bentak Tungfang Goat.

Telapak tangan Tungfang Goat yang sebesar kipas menjulur ke depan, bermaksud mendorong laki-laki bercadar hitam itu.

Watak orang itu sebetulnya cukup gagah, dia juga tidak bermaksud melukai orang. Karena itu, Tungfang Goat hanya ingin mendorong tubuh laki-laki bercadar itu agar menggeser ke samping agar tamu yang ingin pulang bisa lewat. Entah mengapa, ketika dia baru menjulurkan tangannya, laki-laki bercadar itu langsung tertawa datar dan mengangkat tangannya ke atas. Kedua jari tengah dan telunjuknya menotok perlahan di telapak tangan Tungfang Goat.

Sekonyong-konyong terdengar suara jeritan Tungfang Goat. Wajahnya tampak pucat pasi. Keringat dingin langsung bercucuran di keningnya. Orang bercadar hitam itu kembali tertawa dingin. Lengannya mengibas perlahan-lahan ke depan. Tubuh Tungfang Goat langsung terhuyung-huyung dan kakinya limbung ke samping, dari bagian bawah telapaknya terdengar suara berderak-derak. Ternyata tenaga orang itu begitu kuat sehingga undakan batu di pintu ruang itu pecah beberapa potong.

Hal itu membuktikan hahwa kepandaian Tungfang Goat sebetulnya tidak rendah. Tetapi laki-laki bercadar hitam itu justru memperlakukannya seperti menipermainkan seorang bocah cilik.

Orang-orang di dalam ruangan yang melihat keadaan itu langsung tergetar hatinya. Salah seorang tamu yang rupanya saudara Tungfang Goat sendiri langsung menghambur ke depan.

"Hengte, bagaimana keadaanmu?" tanyanya.

Orang itu bernama Tungfang Kiat. Sebetulnya masih saudara dekat Tungfang Goat, hanya saja wataknya lebih kalem dan dapat melihat situasi yang dihadapinya. Tadinya dia merasa tidak perlu turun tangan karena Tungfang Goat seorang saja sudah cukup. Tidak disangka saudaranya itu malah kena batunya.

"Toako, orang itu bisa ilmu sihir!" teriak Tungfang Goat. Tungfang Kiat melirik sekilas kepada laki-laki bercadar hitam itu.

"Biar aku mengujinya sebentar!" Kaki Tungfang Kiat melangkah ke depan,tubuhnya direndahkan sedikit. Tinju kanannya berputar membentuk lingkaran dihantamkannya ke depan secara tiba-tiba.

Pukulan itu dilancarkan dengan seluruh kekuatan yang ada. Hal itu dilakukan karena Tungfang Kiat sudah melihat bahwa lawannya bukan tokoh sembarangan. Belum lagi rnencapai sasaran, tinjunya itu sudah menimbulkan angin yang menderu-deru. Kekuatannya benar-benar jarang ditemui. Tetapi, tiba-tiba laki-laki bercadar itu membentak. "Tunggu dulu!"

Tungfang Kiat segera menarik tinjunya kembali."Apakah kau sudah merasa gentar?"

Laki-laki bercadar itu tertawa terbahak-bahak "Gentar? Lucu! Aku justru ingin menasehatimu agar jangan menggunakan tenaga terlalu kuat, karena yang akan mendapatkan kerugian dirimu sendiri, bukan aku!"

Tungfang Kiat juga ikut tertawa terbahak-bahak. "Perhitunganmu tepat sekali rupanya!"

Sayangnya watak Tungfang Kiat agak pongah. Dia mengira lawannya takut menghadapi tenaganya yang begitu besar sehingga pura-pura menasehati.

Pada saat itu, beberapa tokoh di dalam ruangan dapat melihat bahwa tenaga dalam laki-Iaki bercadar hitam itu tinggi sekali. Sedangkan Tungfang Goat saja tadi sudah kena batunya. Sedangkan ilmu silat mereka dua saudara tidak terpaut jauh. Bagaimana mungkin Tungfat Kiat sanggup menghadapi orang itu.

Ada beberapa orang yang mengingat watak kedua saudara itu sebetulnya cukup baik. Mereka khawatir Tungfang Kiat akan mengalami kekalahan yang mengenaskan.

"Tungfang heng, sudahilah pertikaian yang tidak ada gunanya itu!" Terdengar nasehat seseorang di antara kerumunan para tamu.

Tapi Tungfang Kiat sudah merasa bangga dengan kehebatannya sendiri. Mana sudi dia mendengar peringatan orang lain. Sambil membentak lantang, 'Sambutlah! dia melancarkan pukulannya yang sempat tertunda tadi.

Dia bukan saja tidak mengurangi tenaganya, bahkan ketika mengedarkan hawa murni dalam tubuhnya, dia menambah lagi beberapa bagian tenaga dalamnya untuk melancarkan serangan itu. Pukulan Tungfang Kiat terus meluncur menuju dada laki- laki bercadar hitam itu. Tapi orang itu hanya tertawa dingin. Pergelangan tangannya berputar, kemudian menjulur ke depan seakan hen dak menyambut serangan lawannya.

"Kalau kau tetap tidak mau mengalah, jangan salahkan bila tubuhmu menjadi gumpalan daging!" teriak Tungfang Kiat lantang.

Tinju Tungfang Kiat menggunakan tenaga sebanyak sembilan bagian. Dia melancarkan serangan itu kepada si laki-laki bercadar hitam, tetapi dia juga meminta orang itu menghindar. Hal itu membuktikan bahwa hatinya tidak tega sembarangan melukai orang. Juga membuktikan bahwa dia seorang manusia yang baik hati.

Laki-laki yang bercadar hitam itu tidak dapat menahan diri tertawa geli mendengar perkataan-nya. Lengannya tiba-tiba menjulur ke depan. Gerak gerik kedua orang ini bukan main cepatnya. Para tamu yang hadir di dalam ruangan belum sempat melihat jelas bagaimana kedua orang itu bergerak, tahu-tahu sudah terdengar suara mengaduh dari mulut Tungfang Kiat. Ketika mereka dapat melihat dengan jelas, rupanya kelima jari tangan si laki-laki bercadar hitam sudah berhasil menangkap tinju Tungfang Kiat dan meremasnya kuat-kuat.

Tampak wajah Tungfang Kiat merah padam, tampangnya memang sudah jelek jadi semakin tidak enak dilihat. Mulutnya terus mengeluarkan suara rintihan.

Laki-laki bercadar hitam itu tertawa dingin. "Sekarang kau baru tahu rasa!" ucap laki- laki bercadar dengan tawa dingin.

Tungfang Kiat berusaha memberontak. "Kau menggunakan ilmu sihir mana masuk hitungan? Beranikah kau mengadu tenaga dalam denganku?" teriak Tungfang Kiat.

"Kalau ini bukan adu tenaga, adu apa namanya?" tanya laki-laki bercadar.

Keringat dingin yang menetes di kening Tungfang Kiat seperti air hujan derasnya. Dia tidak bisa mengatakan apa apa lagi. Laki-laki bercadar hitam itu menjulurkan lengannya ke depan. Kelima jari tangannya merenggang. Tampak tubuh Tungfang Kiat yang tinggi besar laksana layangan putus terhuyung-huyung ke depan, tepat menghantam sebuah tiang penyangga.

Bum ! Suara itu memekakkan telinga. Ternyata tiang penyangga yang besarnya sepelukan manusia dewasa itu patah seketika karena terbentur tubuh Tungfang Kiat.

Begitu tiang penyangga itu patah, terdengar suara derakan yang bergemuruh. Tembok bagian atas tiang itu pun runtuh seketika dan tampaklah sebuah lubang yang cukup besar.

Kejadian itu menimbulkan kepanikan para tamu dalam ruangan itu. Tadinya para tamu yang hadir tidak ada yang mengetahui siapa laki-laki bercadar yang tiba-tiba muncul menghadang di depan pintu itu. Mereka juga tidak tahu apakah orang itu merupakan kawan atau lawan dari pihak tuan rumah. Tapi, saat ini mereka melihat laki-laki bercadar hitam itu sengaja mendorong tubuh Tungfang Kiat ke bagian tiang penyangga ruangan itu, sehingga patah dan tembok serta atapnya menjadi ambrol.

Mereka pun segera sadar bahwa orang ini sengaja mencari perkara dengan pihak tuan rumah.

Ketika mereka melihat kepada Sang Cin dan Sang Hoat, wajah kedua kakak beradik itu justru menyiratkan kegusaran.

"Siapa saudara?" bentak mereka serentak.

Laki-laki bercadar hitam itu sama sekali tidak memperdulikan mereka. Dia melangkah maju setindak, ia mengibaskan lengan bajunya. Timbul angin kencang, dalam sekejap mata, seluruh puing-puing yang terjatuh karena ambrolnya tiga penglari tadi langsung tersapu ke atas dan meyelusup ke luar lewat celah wuwungan yang terbuka.

Bukan hanya tenaga dalamnya saja yang mengejutkan, bahkan kecepatan gerakannya juga sungguh mengagumkan. Benar-benar sebuah atraksi yang sulit ditemukan untuk kedua kalinya. Sang Cin dan Sang Hoat saling melirik sekilas. Baru saja mereka ingin mengatakan sesuatu, terdengar laki-laki bercadar hitam itu sudah mendahului.

"Harap saudara sekalian jangan pergi. Kedatanganku ke tempat ini, hanya karena sumpah yang pernah kucetuskan beberapa tahun yang lalu. Hal ini tidak ada kaitannya dengan saudara sekalian, karena itu kalian tidak perlu merasa takut!"

Mendengar kata-katanya, hati Sang Cin dan Sang Hoat langsung tergerak.

"Kalau begitu, kedatangan saudara memang khusus mencari kami berdua?" tanya Sang Cin yang bertindak sebagai wakil karena usianya lebih tua.

"Tidak salah. Kedatanganku kemari memang untuk mencari kalian berdua," dengus laki-laki bercadar dengan nada dingin.

Kakak beradik keluarga Sang itu langsung tertawa panjang. "Tidak ada yang lebih baik lagi kalau begitu. Entah ada kepentingan apa saudara mencari kami berdua?"

Pada saat itu, para tamu yang hadir di dalam ruangan sudah dapat menduga bahwa urusannya pasti luar biasa. Tetapi mereka tidak dapat menebak apa tepatnya. Mereka juga tidak dapat menduga asal usul laki-laki bercadar hitam itu. Kenyataannya dalam waktu yang singkat orang itu berhasil mengalahkan Tungfang Goat dan Tungfang Kiat dengan cara yang demikian hebat. Sejak semula para tamu sudah dapat menduga bahwa orang ini bukan tokoh sembarangan.

Orang yang mempunyai kepandaian setinggi itu, umumnya kalau bukan pemimpin sebuah perkumpulan pasti ketua sebuah partai terkemuka di dunia persilatan.

Sedangkan orang-orang itu, jalan tidak mengubah nama, duduk tidak mengubah marga. Semuanya dilakukan secara terang-terangan. Tidak ada satu pun yang mempunyai kebiasaan mengenakan cadar hitam apabila tampil di depan umum. Karena itu, para tamu juga tidak dapat menebak siapa sebenarnya orang yang tiba-tiba muncul di dalam ruangan itu.

"Tiga tahun yang lalu, aku pernah mengucapkan sebuah sumpah berat. Tentu saja sumpah itu ada kaitannya dengan perkampungan keluarga Sang ini," kata laki-laki bercadar perlahan-lahan

Mendengar sampai di situ, kedua kakak beradik dari keluarga Sang semakin tertegun perasaunnya. Tetapi mereka berusaha mengeraskan hatinya. "Apa bunyi sumpah itu, bolehkah kami mengetahuinya?" tanya Sang Cin.

Laki-laki bercadar itu tertawa terbahak-bahak. "Tentu saja boleh. Tiga tahun yang lalu aku bersumpah untuk membantai habis-habisan seluruh keluarga Sang. Bahkan ayam ataupun binatang lainnya tidak boleh ada seekor pun yang tersisa hidup. Tentu waktu itu juga aku sudah melaksanakan sumpahku itu, tetapi tidak diduga ada dua ekor ikan yang terlolos dari jaring. Karena alasan inilah maka hari ini aku datang kembali ke perkampungan keluarga Sang ini."

Mendengar ucapannya, wajah para tamu yang hadir di dalam ruangan itu langsung berubah hebat. Bahkan ada beberapa orang yang tidak sanggup menahan diri sehingga mengeluarkan seruan terkejut. Serentak mereka berdiri, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Kalau ditilik dari tampang mereka, seakan merasa khawatir nyawa mereka tidak dapat diper-tahankan lagi apabila laki-laki bercadar hitam itu sampai turun tangan.

Apalagi kedua kakak beradik dari keluarga Sang, kedudukan mereka saat itu justru tuan rumah yang diincar laki-laki bercadar hitam itu. Wajah mereka berubah pucat pasi. Mata mereka membelalak dan mulut terbuka lebar. Tapi sepatah kata pun tidak sanggup diucapkan.

Ada salah seorang dari tamu yang hadir, justru lebih gawat lagi. Tampangnya kusut, seakan pikirannya rumit sekali. Tetapi dia tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun. Lagipula mimik wajahnya tampak menyiratkan perasaan ruangan itu menjadi sunyi. Keheningan terasa begitu mencekam. Kurang lebih setengah kentungan keadaan itu berlangsung. Akhirnya tampak Lie Cun Ju berjalan dengan terhuyung- huyung keluar dari kerumunan para hadirin.

"I sian sing ... apakah ... I... hu jin baik-baik saja?" tanyanya dari jauh.

Tampaknya Lie Cun Ju sudah tidak dapat menahan perasaan hatinya, sebelum sampai di depan I Ki Hu dia sudah menanyakan keadaan Tao Ling.

I Ki Hu hanya melirik kepadanya sekilas dengan tatapan dingin. la melangkah ke depan dua tindak. Tangannya mengibas ke depan.

Serrr! Serrrr!

Dua batang anak panah kecil langsung meluncur ke luar mengincar dada Sang Cin dan Sang Hoat.

Anak panah kecil digunakan sebagai senjata rahasia sebetulnya tidak terhitung aneh. Lagipula munculnya demikian tenang seperti kemalas-malasan. Tetapi suara desiran yang ditimbulkan oleh kedua batang anak panah itu justru menggetarkan hati para tamu yang hadir dalam ruangan itu.

Kalau ada orang yang menutup mata mendengar suara itu, pasti dia akan menyangka bahwa I Ki Hu menyambitkan dua bongkah batu besar kepada kedua kakak beradik keluarga Sang, bukan anak panah sekecil itu.

Sang Cin dan Sang Hoat yang melihat musuh bebuyutan mereka tiba-tiba muncul, merasa seperti tidak berdaya. Tadinya semangat mereka menyala-nyala ingin mengumpulkan orang-orang gagah dan para pendekar kenamaan dari seluruh dunia bu lim. Setelah itu berangkat menuju sebelah barat Gunung Kun Lun san untuk mencari musuh besarnya di sana. Tetapi, ketika I Ki Hu muncul sendiri di hadapan mereka secara tidak terduga-duga, tanpa dapat ditahan lagi perasaan mereka seperti diguyur air dingin. Mereka berdiri di bagian paling depan sebagai tuan rumah. Melihat datangnya kedua batang anak panah kecil itu tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Sejak meninggalkan perkampungan keluarga Sang tiga tahun yang lalu, Sang Cin dan Sang Hoat sudah menduga akan adanya kejadian hari itu. Meskipun saat itu I Ki Hu sudah terkurung dalam rumah batu dan dikelilingi kobaran api, tetapi melihat kepandaian iblis itu, mereka khawatir I Ki Hu tidak akan sampai mati terbakar.

Mereka juga sudah bisa menduga bencana yang akan menimpa seluruh anggota keluarga Sang.

Ternyata, tidak lama setelah mereka meninggalkan perkampungan itu, di tengah perjalanan mereka sudah mendengar berita tentang pembantaian yang terjadi di keluarga mereka.

Kedua orang itu takut I Ki Hu tidak mau melepaskan mereka berdua. Karena itu mereka melarikan diri sejauh-jauhnya dan akhirnya sampai di wilayah Biao. Di sana mereka menyem-bunyikan diri sambil berpikir cara yang baik untuk membalas dendam.

Di wilayah Biao, ternyata mereka berdua bertemu dengan seorang tokoh sakti. Akhirnya mereka berdua diterima sebagai murid. Orang itu memiliki kepandaian yang aneh dan tentu saja bukan golongan pesilat pasaran. Tapi, bagaimana pun mereka tetap saja tidak dapat membandingkan dirinya dengan kepandaian I Ki Hu.

Sekarang, I Ki Hu hanya asal-asalan menyambitkan dua batang senjata rahasia. Namun kedua kakak beradik dari keluarga Sang itu sudah merasa bahwa mereka tidak sanggup melawan iblis itu.

Justru di saat mereka berdua masih termangu-mangu kebingungan, tiba-tiba dari bagian belakang ruangan terdengar suara siulan yang melengking tinggi dan panjang. Kemudian disusul dengan suara debuman-debuman yang memekakkan telinga.

Suara siulan yang disusul dengan suara debuman itu tadinya terdengar masih jauh sekali. Tetapi dalam sekejap mata suara itu sudah semakin mendekat. Lalu kedengarannya bahkan sudah berada di luar ruangan. Para tamu kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Hanya kakak beradik Sang Cin dan Sang Hoat berdua yang tampaknya mengenali suara itu. Wajah mereka langsung berseri-seri. semangat mereka terbangkit seketika. Serentak mereka melancarkan sebuah pukulan dengan maksud ingin menahan datangnya serangan kedua batang senjata rahasia tadi. Namun, justru di saat mereka melancarkan pukulannya ke depan, tiba-tiba kedua batang senjata rahasia yang tadinya bergerak perlahan-lahan itu mendadak berubah jadi cepat.

Kedua kakak beradik Sang Cin dan Sang Hoat segera menggerakkan tubuh untuk menghindar ke samping. Tetapi karena disambitkan dengan pengerahan tenaga sakti, maka dua batang senjata rahasia itu, seperti makhluk hidup yang mempunyai mata. Ketika Sang Cin dan Sang Hoat menggeser ke samping, senjata rahasia itu pun membelok mengarah ke tubuh mereka.

Sang Cin dan Sang Hoat sempat melihat kedua batang senjata rahasia itu memancarkan sinar hijau berkilauan. Hal itu membuktikan bahwa senjata itu mengandung racun keji. Hati mereka tergetar seketika. Cepat-cepat mereka melesat ke samping.

Bummmm!

Terdengar suara bergemuruh. Tampak kedua tembok ruangan itu jebol dan terlihat lubang yang besar. Debu-debu beterbangan. Cahaya keemasan menyilaukan mata, sinarnya mirip pelangi yang melintas meluncur ke arah dua batang senjata rahasia tadi.

Tring! Tring!

Terdengar suara dentingan dua kali. Seiring dengan suara itu, kedua batang senjata rahasia tadi sudah terkurung di dalam cahaya keemasan itu.

Dalam waktu yang bersamaan, terdengar Sang Cin dan Sang Hoat berseru. "Suhu, apakah kau sudah sampai?"

Cahaya keemasan yang muncul tiba-tiba itu benar-benar mempunyai gerakan secepat kilat. Karena itu, para tamu tidak sempat melihat siapa atau benda apa yang datang itu. Begitu mendengar suara teriakan kedua kakak beradik dari keluarga Sang, mereka segera menolehkan kepalanya. Ketika melihat lubang yang besar itu, tanpa dapat dipertahankan lagi mereka serentak mengeluarkan seruan terkejut.

Rupanya, dari lubang yang terbuka itu dapat dilihat bahwa tembok dinding tersebut bukan main tebalnya. Sekarang tembok itu sudah terkuak sehingga membentuk celah yang lebar. Dapat diketahui bahwa orang itu datang dengan cara menerobos tembok dinding itu sampai jebol. Dengan demikian dia masuk ke dalam ruangan itu. Para tamu langsung teringat suara siulan yang melengking tinggi tadi, yang disusul dengan suara debuman yang memekakkan telinga. Semuanya terjadi dalam sekejap mata dan tahu- tahu sudah berada di bagian luar ruangan itu. Kecepatannya benar-benar mengagumkan.

Sedangkan dalam waktu yang begitu singkat, apabila ingin menjebol dinding setebal itu, tentunya sudah dapat dibayangkan sampai seberapa tinggi tenaga dalam yang dikuasai orang itu.

Saat itu, ketika para tamu menoleh ke arah cahaya keemasan itu, tarnpak Sang Cin dan Sang Hoat sudah berdiri di kedua sisi gulungan cahaya yang berkilauan.

Sedangkan gulungan cahaya yang berkilauan itu, ternyata sebuah anglo emas yang berkaki tiga dan besarnya kurang lebih serangkulan dua orang dewasa. Tingginya lima ciok dan ketiga kakinya besar-besar sebesar paha kerbau. Di bagian perut anglo itu terdapat ukiran-ukiran yang halus, laksana guratan-guratan kecil. Ketika diperhatikan dengan seksama, guratan halus itu mengeluarkan sinar yang berkerdipan, sehingga ukiran itu seperti bergerak-gerak.

Tetapi anehnya, kecuali anglo (Tempat memasak yang digunakan orang pada jaman itu) emas itu, mereka tidak melihat seorang pun. Para tamu yang hadir da lam ruangan itu menjadi bingung. Diam-diam mereka berpikir dalam hati, mungkinkah ada seseorang yang mengerahkan tenaga dalamnya mendorong anglo emas itu sehingga membentur dinding batu dan menjebolkannya? Kalau memang benar demikian halnya, mereka sungguh tidak dapat membayangkan kehebatan orang itu.

Tepat di saat cahaya keemasan itu muncul dan mementalkan dua batang senjata rahasia melin-dungi kedua kakak beradik dari keluarga Sang, Lie Cun Ju melihat sepasang mata I Ki Hu menyorotkan sinar yang aneh.

Sejak mengetahui bahwa laki-laki bercadar hitam itu adalah Gin Leng Hiat Ciang I Ki Hu, sepasang mata Lie Cun Ju tidak pernah beralih darinya. Karena itu Lie Cun Ju juga sempat melihat sinar matanya yang aneh yang tidak diperhatikan oleh orang lain. Bukan hanya matanya menyorotkan sinar ganjil, bahkan kakinya pun melangkah ke depan satu tindak.

Tetapi, setelah maju satu langkah, dia cepat-cepat menyurut mundur kembali. Seakan ada suatu masalah yang membuatnya ragu dan tidak bisa mengambil keputusan untuk sesaat. Lie Cun Ju jadi heran. Diam-diam dia berpikir dalam hati, kalau ditilik dari tampang I Ki Hu, tampaknya dia mengetahui asal usul anglo emas itu.

Sebetulnya, perhatian Lie Cun Ju terhadap I Ki Hu, hanya karena ingin mengetahui berita Tao Ling darinya. Persoalan lainnya, bagi Lie Cun Ju tidak ada artinya sama sekaii. Karena itu, dia juga hanya memikirkannya sepintas lalu saja.

Di saat para tamu masih dilanda perasaan bingung, tampak Sang Cin dan Sang Hoat menjura serentak kepada anglo emas itu.

"Suhu, kau orang tua toh sudah sampai di sini, mengapa tidak keluar saja untuk bertemu muka dengan orang-orang gagah di sini?"

Mendengar kakak beradik keluarga Sang sekali lagi menyebut 'suhu', para tamu baru teringat tadi mereka mengatakan bahwa guru mereka mendapat julukan Kim Ting Siong jin (orang di atas anglo emas). Kemungkinan anglo emas itulah senjata yang biasa digunakan guru mereka. Seseorang yang bisa menggunakan benda seaneh itu sebagai senjata, tentu tampangnya juga gagah ibarat dewa. Karena itu, mereka jadi penasaran ingin melihatnya.

Tetapi para tamu tidak melihat adanya orang asing di dalam ruangan itu. Hati mereka merasa heran. Justru ketika perasaan mereka masih bimbang, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tajam dari atas anglo emas itu.

"Bagus. Coba kalian perkenalkan padaku!"

Mendengar suara itu berasal dari atas anglo emas, perasaan para tamu semakin bingung. Mereka segera menoleh ke arah sumber suara. Tampak di bawah anglo emas itu, di antara ketiga kaki yang besarnya seperti paha kerbau, muncul seseorang.

Ketika melihat orang itu, hampir saja para tamu tertawa geli. Tetapi mereka toh akhirnya tidak sanggup tertawa juga, hanya hampir tidak bisa menahan perasaannya saja. Rupanya bentuk tubuh orang itu tingginya kurang dari tiga ciok. Karena itu, meskipun sejak tadi dia berdiri di bawah anglo emas itu, tetap saja tidak ada yang meperhatikannya. Sebetulnya orang kerdil juga bisa mempunyai tampang yang berwibawa. Tetapi orang kerdil yang satu ini penampilannya justru menggelikan sekali.

Bentuk tubuhnya bukan main kerdilnya, tetapi sepasang lengannya justru demikian panjang sehingga hampir menjuntai ke bawah tanah. Batok kepalanya bukan bulat seperti layaknya manusia tetapi panjul, sehingga lebih mirip monyet.