Pedang Tanpa Perasaan Jilid 09

Jilid 09  

Ketika Lie Cun Ju membaca keempat huruf itu, tanpa dapat ditahan lagi mulutnya mengeluarkan seruan terkejut. Tetapi seruannya tidak terdengar oleh siapa pun. Bukan karena seruannya kurang keras, melainkan tertutup oleh suara sorakan para pendeta yang berteriak-teriak dengan bahasa yang tidak dimengertinya.

Sorakan para pendeta itu memang sudah diduga oleh Lie Cun Ju. Karena setiap kali dia mengulurkan tangannya mengambil kotak yang salah, pasti ada semacam kekuatan yang mencegahnya dengan membuat tangannya menjadi ngilu. Dan kotak yang sekarang berhasil diambilnya jelas merupakan kitab asli, yaitu kitab yang tidak pernah terpisah dari Buddha hidup semasa hidupnya dulu. Para pendeta itu tidak tahu kejadian yang sebenarnya, maka mereka mengira Lie Cun Ju benar-benar penjelmaan Buddha hidup. Namun satu hal yang tidak terduga-duga oleh Lie Cun Ju, ternyata kitab itu adalah kitab Leng can po liok.

Tahun yang lalu, Lie Cun Ju pernah mendengar cerita kedua orang tuanya. Selama dua ratus tahun terakhir partai Ngo tay pai kehilangan masa gemilangnya. Hal itu disebabkan sebuah kitab ilmu silat yang mengandung pelajaran sakti. Konon kitab itu berisi ilmu pernafasan yang dapat membuat orang mencapai taraf kekebalan. Kitab itu tiba-tiba menghilang dari tempat penyimpanannya.

Tetapi bagaimana pun, cerita itu tidak pernah terbukti. Meskipun selama dua ratus tahun be-lakangan ini partai Ngo tay pai tidak sanggup mengembalikan kejayaannya di masa lalu, namun ketua partai itu sendiri yakni Bu Kong taisu seorang hwesio berilmu tinggi. Lagipula di dalam partai Ngo tay pai, tidak ada seorang pun yang bersedia mengakui kebenaran cerita itu.

Karena itu, cerita tetap cerita. Orang-orang juga hanya setengah percaya setengah tidak tentang adanya kitab berisi pelajaran sakti itu. Konon kitab itu terdiri dari dua jilid. Sekarang Lie Cun Ju melihat dengan mata kepala sendiri salah satu dari kedua jilid kitab itu. Dan huruf yang tertulis di atasnya memang 'Leng can po liok'.

Dari sini dapat dibuktikan bahwa cerita, yang tersebar di dunia kang ouw bukan cerita bohong. Partai Ngo tay pai benar-benar kehilangan kitab itu yang sekarang ada di perbatasan Tibet.

Menurut cerita pendeta tua itu, Buddha hidup Dan Juel sudah meninggal hampir tujuh puluh tahun yang lalu. Sedangkan ketika itu usia Buddha hidup sudah lanjut sekali.

Satu lagi bukti bahwa benar kitab itu sudah berada di tangannya sejak dua ratus tahun yang lalu.

Tetapi, menurut cerita yang didengarnya, kitab itu terdiri dari dua jilid. Mengapa sekarang yang terlihat hanya satu jilid? Untuk sementara, pertanyaan di dalam hati Lie Cun Ju tentu saja belum terjawab. Kurang lebih setengah kentungan dia mendengar suara sorak para pendeta itu. Kemudian semuanya menjatuhkan diri berlutut di atas lantai dan menyembah kepada Lie Cun Ju.

Setelah itu, rupanya ada lagi adat lainnya. Lie Cun Ju hampir saja tertawa geli melihat tingkah para pendeta itu. Satu persatu mereka ke depan, kemudian mengangkat tangan Lie Cun Ju untuk memegang kepala mereka yang botak sekejap. Lie Cun Ju tidak tahu apa artinya. Ketika selesai, tampak hari sudah siang.

Tentu saja pendeta tua dan kedua coan lun ong juga melakukan hal yang sama. Setelah upacara itu selesai, terdengar pendeta tua itu berteriak dengan suara lantang.

"Buddha hidup telah menjelma, suatu keberuntungan bagi agama kita!"

Para pendeta ikut mengucapkan kata-katanya sampai berkali-kali. Pendeta tua itu mengangkat tangannya. Saat itu juga tampak dua pendeta mendatangi Lie Cun Ju dengan tangan memegang jubah yang dilipat rapi. Entah terbuat dari bahan apa jubah itu, warnanya berkilauan, dan tepiannya disulam dengan benang emas. Pendeta tua itu mengambil jubah tadi kemudian disampirkannya di tubuh Lie Cun Ju.

Pemuda itu merasa jubah yang dikenakannya begitu ringan sehingga tidak terasa sama sekali. Kemudian pendeta tua itu kembali mengambil sebilah golok yang berbentuk bulan sabit. Panjangnya kurang lebih dua ciok. Begitu golok dihunus, mata Lie Cun Ju merasa silau.

"Golok bagus!" serunya dalam hati.

Pendeta tua itu mengangkat goloknya ke atas, kemudian dikibaskannya ke atas kepala Lie Cun Ju. Pemuda itu terkesiap sekali. Dia tahu rambutnya akan dicukur gundul oleh pendeta tua itu. Hatinya sempat tertegun.

"Taisu, aku . . . tidak ingin menjadi pende ..." teriak Lie Cun Ju.

Belum sempat Lie Cun Ju menyelesaikan kata-katanya, golok di tangan pendeta tua itu sudah berkelebat. Sebagian rambut Lie Cun Ju sudah tertebas. Kemudian tampak golok di tangan pendeta tua itu seperti terbang kesana kemari. Dalam waktu yang singkat seluruh rambut di kepala Lie Cun Ju sudah tertebas habis, sehingga terlihat kepalanya yang licin.

Lie Cun Ju tidak tahu harus menangis atau tertawa. Tapi hatinya agak terhibur mengingat rambut yang dipotong toh bisa panjang kembali. Pokoknya dia tidak akan membiarkan dirinya diatur oleh orang lain. Karena itu dia tidak berkata apa-apa lagi.

Setelah mencukur rambut Lie Cun Ju, pendeta tua itu memasukkan goloknya ke dalam sarung kemudian dipersembahkannya ke hadapan Lie Cun Ju. Pemuda itu merasa golok itu juga demikian ringan sehingga tidak terasa memegang apa-apa. Tampaknya golok itu juga sebatang golok pusaka.

Dugaan Lie Cun Ju memang tidak salah. Golok itu memang peninggalan jaman dulu dan merupakan senjata langka saat ini. Lie Cun Ju menyambut golok itu. Pendeta tua kembali mengangkat tangannya dan memegang kepala Lie Cun Ju. Mulutnya berkomat-kamit sejenak.

"Ketua sudah dilahirkan kembali, jiwa harus tenang!" kata pendeta tua.

Diam-diam Lie Cun Ju tertawa geli. Apalagi ketika pendeta itu meniup kepala Lie Cun Ju. Fuh! Pendeta tua itu benar-benar licik. Gayanya seperti orang sungguhan saja.

Masa setelah ditiup kepalanya, hatinya benar-benar bisa damai.

Bam saja hati Lie Cun Ju tertawa geli, tiba-tiba dia merasa ada serangkum angin yang kuat menghantam ubun-ubun kepalanya. Saat itu juga, tubuh Lie Cun Ju bergetar tiga kali. Kekuatan yang melandanya itu begitu kencang dan cepat. Lagipula ditujukan ke ubun-ubun kepala yang merupakan bagian terpenting pada tubuh manusia. Karena tidak menyangka, Lie Cun Ju pun tidak bersiap sebelumnya. Setelah tubuhnya bergetar sebanyak tiga kali, ia mendengar Krek! Krek! Krek! yang mencekam jiwa lie Cun Ju. Dia sadar seluruh ilmu yang telah dikuasainya selama ini sudah musnah seketika oleh pukulan tangan pendeta itu.

Perubahan yang mendadak itu benar-benar tidak disangka-sangka oleh lie Cun Ju. Tempo hari dia dihajar oleh tiga iblis dari keluarga Lung sampai terluka parah. Untung saja selembar jiwanya masih bisa dipertahankan. Meskipun seluruh tubuhnya terasa lemas, tetapi hawa murninya masih tersendat-sendat di dalam tubuhnya. Dengan demikian masih ada harapan bagi lie Cun Ju untuk memperbaiki keadaannya. tetapi sekarang tenaga dalamnya sudah dimusnahkan. Keadaannya sekarang tidak berbeda dengan orang biasa. Untuk mengembalikan tenaga dalamnya, mungkin menghabiskan waktu belasan tahun. Itu juga belum tentu berhasil.

Begitu terkesiapnya hati Lie Cun Ju, sehingga untuk sesaat dia tidak sanggup mengatakan apa-apa. Beberapa saat kemudian dia baru mendelik kepada pendeta tua itu.

"Taisu, me . . . ngapa kau harus . . . men . . . celakai aku?" tanya Lie Cun Ju.

Pendeta tua itu berlagak tidak mendengar kata-katanya. Lie Cun Ju sadar bahwa pada saat itu banyak bicara pun tidak ada gunanya. Nasi telah menjadi bubur. Dia terpaksa pasrah pada nasibnya sendiri. Dia merasa ada orang yang menyodorkan kitab 'Leng can po liok' di tangannya. Perasaan Lie Cun Ju sudah seperti orang linglung. Apa yang kemudian terjadi tidak dipikirkannya lagi. Tahu-tahu hari sudah menjelang malam.

Upacara baru selesai. Akhirnya dia diarak menuju sebuah ruangan. Para pendeta yang lainnya sudah pergi. Di dalam ruangan itu hanya tinggal Lie Cun Ju dan si pendeta tua.

Seandainya tenaga dalam Lie Cun Ju belum musnah, meskipun sibuk seperti tadi tiga hari tiga malam, dia juga tidak akan merasa letih. Tetapi sejak ubun-ubunnya didesak oleh serangkum kekuatan yang tidak berwujud, seluruh tenaga dalamnya sudah buyar. Keadaannya tak ubahnya seperti orang yang belum pernah belajar ilmu silat.

Karena itu setelah sibuk selama sehari penuh, Lie Cun Ju merasa pinggangnya ngilu dan punggungnya sakit. Kepalanya berdenyut-denyut. Dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan matanya menatap langit-langit kamar. Beberapa saat kemudian, dia baru menarik nafas panjang. Pandangan matanya bahkan tidak dialihkan kepada si pendeta tua.

"Taisu, semua ini memang sesuai dengan rencanamu, bukan?" Suara si pendeta tetap lembut dan enak didengar.

"Ci kaucu ternyata orang yang cerdas. Tentu saja dugaannya tidak salah."

Hati Lie Cun Ju marah sekali. Dia bangkit dan duduk di tempat tidur.

"Taisu, antara kita tidak ada dendam apa-apa, mengapa kau mencelakai aku sedemikian rupa?"

"Ucapan Ci kaucu tidak tepat. Meskipun ilmu silat yang kau miliki sekarang sudah musnah, tetapi dapat tinggal di kuil ini dalam keadaan damai dan tentram selama hidup, bukankah merupakan hal yang menyenangkan?"

Lie Cun Ju menarik nafas panjang.

"Taisu, keadaan toh tidak bisa diubah lagi, aku juga tidak akan banyak bicara. Tetapi aku ingin tahu, mengapa kau melakukan semua ini?"

"Ci kaucu, setelah kematian Buddha hidup Dan Juel. Aku mengajak kedua Coan lun ong mencari bayi penjelmaannya. Sampai demikian lama kami baru sampai di Hek Cui to dan berhasil menemukan dirimu ..."

"Urusan ini semakin tidak benar. Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku she Li. Bukan she Ci!" sahut Lie Cun Ju.

Pendeta tua itu tersenyum.

"Masalah ini kita tidak perlu didebatkan lagi. Pokoknya tampangmu persis dengan wajah tocu Hek Cui to. Seandainya kau memang bukan bayi itu, sekarang siapa yang akan menyelidikinya lagi?"

Diam-diam Lie Cun Ju berpikir di dalam hati. Kalau ditilik dari penampilan luarnya pendeta ini tampaknya sangat bijaksana dan welas asih, tetapi mengapa hatinya demikian rendah? Dirinya yang malang terjatuh ke tangan pendeta itu. Pemuda itu khawatir jangan-jangan seumur hidup dirinya tidak akan mengecam kebebasan lagi.

Sekali lagi Lie Cun Ju menarik nafas panjang. Dia merebahkan kembali kepalanya di atas kasur.

"Tapi, kau bukan murid agama kami. Seandainya kau menerima jabatan ini, justru banyak keuntungan yang akan kau dapatkan. Agama kami tidak bisa tanpa pimpinan. Sedangkan untuk menjadi pemimpin harus merupakan bayi penjelmaan Buddha hidup. Terpaksa kami menyambut kedatanganmu dengan cara ini. Dan ketua agama kami otomatis engkaulah orangnya ..." Terdengar ucapan pendeta tua itu. "Tetapi hanya namanya saja bukan? Sebenarnya kau lah yang menjadi pimpinan di belakang Iayar," sahut Lie Cun Ju dengan tawa dingin

Pendeta tua itu segera merangkapkan sepasang tangannya dan menyebut nama Buddha.

"Dugaan Ci kaucu tepat sekali. Walaupun tidak sesuai dengan keinginanmu, tetapi kau terpaksa harus menjabat sebagai pemimpin kuil ini."

Lie Cun Ju kesal sekali. Dia tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi. "Kau keluarlah!" ucap Lie Cun Ju sambil mengibaskan tangannya.

Pendeta tua itu tersenyum.

"Kuil ini berada di tempat yang terpencil dan mempunyai pemandangan alam bak nirwana. Kau boleh istirahat sesuka hatimu di sini."

"Kenapa? Kau pikir setelah kau mati aku tidak dapat melarikan diri dari tempat ini?"

Pendeta tua itu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Setelah lo ceng mati, pasti ada orang lain yang menggantikan kedudukanku sebagai tiang lo. Pada waktu itu, aku akan men-ceritakan kepadanya tentang semua ini. Apabila dia ingin kedudukannya seperti apa yang kudapatkan sekarang, mau tidak mau dia harus meneruskan tugasku. Aku nasehati agar kau jangan mempunyai pikiran yang tidak-tidak!"

Hati Lie Cun Ju mendongkol dan benci sekali kepada pendeta itu. Dia hanya mendengus satu kali tanpa mengatakan apa-apa lagi. Pendeta tua itu pun meninggalkan kamarnya.

Lie Cun Ju sendirian di dalam kamarnya. Diam-diam dia berpikir dalam hati. Mungkin memang sudah nasibnya bahwa perjalanan hidupnya penuh dengan liku-liku. Bahkan sekarang dia menjadi pimpinan di kuil itu. Mungkin selama hidupnya dia terpaksa menetap di situ. Padahal ketika pertama kali melihat kuil itu, dalam hatinya timbul juga perasaan senang. Hal itu disebabkan keadaannya yang tenang dan damai. Tetapi apabila harus menghabiskan seluruh hidupnya di kuil itu, tentu persoalannya menjadi lain lagi.

Lagipula keinginan yang timbul di dalam hati sendiri dengan dipaksakan oleh orang lain merupakan dua hal yang jauh berbeda.

Pendeta tua itu memiliki tenaga dalam yang demikian kuat. Seandainya Lie Cun Ju ingin membangkang, rasanya merupakan hal yang mustahil. Apalagi ilmu kepandaiannya sendiri sekarang sudah musnah.

Lie Cun Ju melepaskan jubah kependetaannya. Diletakkannya jubah itu di atas kursi. Tiba-tiba dia teringat kitab 'Leng can po liok' masih ada padanya. Walaupun sekarang tenaga dalamnya sudah musnah, tetapi dengan adanya kitab mukjijat 'Leng can po liok', asal dia giat berlatih selama beberapa tahun, mungkin kekuatannya bisa pulih kembali atau bahkan lebih tinggi dari sebelumnya. Berpikir sampai di situ, hatinya menjadi gembira kembali. Cepat-cepat dia mengeluarkan kitab itu dan dibacanya mulai dari halaman pertamanya. Ternyata kitab itu merupakan Jilid pertama dari “Leng can po liok”. Lie Cun Ju tidak tahu di mana jilid keduanya, tetapi dia tidak ambil pusing. Dia membalikkan halaman berikutnya. Kitab itu tidak ada gambar, semuanya berisi tulisan jaman dulu. Untung saja Lie Cun Ju pernah mendapat pendidikan yang cukup tinggi sehingga tidak mendapat kesulitan dalam memahami isi kitab itu.

Hanya ada beberapa huruf besar di halaman pertama yang tidak dimengerti oleh Lie Cun Ju. Dia mempunyai dugaan bahwa tulisan itu dibuat oleh Buddha hidup semasa hidupnya. Mungkin memang tidak mengandung arti apa-apa, atau hanya sekedar wejangan untuk pemegang kitab ini.

Tiba-tiba timbul kekhawatiran di dalam hati Lie Cun Ju. Bagaimana kalau pendeta tua tiba-tiba meminta kembali kitab itu. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk mencatat seluruh isi kitab. Untung saja di dalam kamar terdapat persediaan alat-alat tulis. Lie Cun Ju segera mengambil beberapa lembar kertas dan langsung mulai mencatat isi kitab itu.

Bahkan bukan hanya isi kitab itu saja yang ditulisnya, tulisan tangan Buddha hidup di halaman pertama pun ditirunya. Karena dia sadar bahwa kali ini dirinya sendiri tidak dapat memastikan sampai kapan dia baru bisa meloloskan diri dari kuil itu. Pada suatu hari nanti, mungkin dia bisa mengerti bahasa mereka dan memahami apa makna tulisan Buddha hidup itu.

Pada hari kedua, ternyata pendeta itu datang kembali dan mengambil kitab 'Leng can po liok'. Lie Cun Ju sudah selesai mencatat isi kitab itu. Karenanya, dia pura-pura tidak perduli kitab itu diambil kembali oleh si pendeta tua.

Diam-diam hatinya merasa geli. Dia berjanji kepada dirinya sendiri, apabila dia berhasil mempelajari isi kitab itu, dia akan mencari pendeta itu untuk membuat perhitungan atas tindakannya sekarang.

Selama beberapa hari berturut-turut, Lie Cun Ju seperti anak kecil yang diatur segala tindak tanduknya. Kurang lebih sebulan kemudian, dia mengerti juga apa saja yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin di dalam kuil itu. Boleh dibilang tidak ada yang perlu dilakukannya. Seluruh kebutuhannya ada yang melayani. Sedangkan pendeta tua itu juga tampaknya tidak merasa khawatir sama sekali. Mungkin karena dia tahu ilmu kepandaian Lie Cun Ju sudah musnah. Pada malam hari, Lie Cun Ju baru berani mengeluarkan kertas catatannya dan berusaha memahami isi kitab itu.

Pada dasarnya, Lie Cun Ju sudah mempunyai pengetahuan yang tidak lemah dalam bidang ilmu silat. Kitab 'Leng can po liok' merupakan kitab ajaib yang mencakup ilmu pernafasan dari pintu Buddha. Siapa yang bisa memahami secara keseluruhannya, tubuhnya bisa mencapai taraf kebal atau tidak mempan senjata tajam. Tetapi ilmu ini demikian rumit, tentu Lie Cun Ju tidak sanggup memahaminya dalam waktu yang singkat. Pengertiannya terlalu dalam. Apalagi bagian akhir kitab itu tidak ada. Lie Cun Ju hanya berlatih secara sembarangan. Pokoknya kira-kira saja. Tanpa terasa setengah tahun telah berlalu. Dalam setengah tahun itu, satu-satunya pendeta berjubah kuning yang bisa diajak bicara oleh Lie Cun Ju hanya pendeta yang tua itu.

Sekarang lie Cun Ju sudah tahu bahwa pendeta tua itu menduduki jabatan sebagai tiang lo dalam kuil itu dengan gelarnya Yan Sen taisu. Kedudukan seorang tiang lo hanya di bawah ketuanya sendiri. Karena pemimpin merupakan penjelmaan Buddha hidup, para pendeta yang lainnya tidak boleh sembarangan mengajaknya bicara. Ada persoalan apa pun harus melalui tiang lo itu. Maka dari itu, Lie Cun Ju mengerti maksud hati si pendeta tua. Lie Cun Ju hanya dijadikan bonekanya. Sedangkan keputusan justru ada di tangannya sendiri.

Walaupun sudah setengah tahun lamanya Lie Cun Ju memahami isi Leng can po liok, hasilnya ternyata belum banyak

Lie Cun Ju sendiri tidak mengerti di mana letak kesalahannya. Tapi dia menyadari bahwa kitab berisi ilmu sakti itu pasti rumit sekali dan bukan sesuatu yang dapat dipahami dalam waktu setengah atau satu tahun.

Kadang-kadang dia memang teringat kepada orang tuanya dan Tao Ling. Sebetulnya hidup di dalam kuil ini ada enaknya. Tidak ada bahaya yang mengancam jiwanya, juga tidak ada pertikaian seperti hidup di dalam dunia bu lim. Lie Cun Ju meraba-raba kepalanya sendiri, rambutnya tumbuh dengan lambat. Apa boleh buat? Tetapi menghadapi kehidupannya yang akan datang, dia tidak banyak berpikir. Lambat laun terbiasa juga dia hidup di dalam kuil itu. Pikirannya dipusatkan pada isi kitab 'Leng can po liok'.

Di saat Lie Cun Ju melewatkan hari-hari tenangnya di dalam kuil itu. Di dunia bu lim terjadi hujan badai yang dahsyat. Yang dimaksud di sini tentu bukan hujan badai yang sebenarnya, tetapi musibah yang menimpa keluarga Sang.

Keluarga yang namanya terkenal di dunia persilatan itu, tiba-tiba saja dilanda bencana. Anggota keluarga yang jumlahnya lebih dari enam puluh orang itu mati terbunuh secara mengenaskan.

Orang yang menemui kejadian itu adalah seorang pendekar dari Hu Pak. Orang itu terkenal dengan Gwa Kangnya. Di dalam dunia kang ouw dia mendapat julukan Kim Sin (Dewa emas) dan nama aslinya Go Lim.

Karena ada sedikit urusan, Go Lim lewat di daerah Si Cuan. Dia mempunyai hubungan yang cukup baik dengan generasi ketiga keluarga Sang. Sebab itu, dia mengambil keputusan untuk mengunjungi keluarga Sang. Tetapi belum lagi ia sampai di gedung kediaman keluarga itu, di sepanjang jalan raya yang dibuat khusus untuk menuju gedung kediaman keluarga Sang, dia melihat bangkai-bangkai anjing, ayam, dan kucing di sepanjang jalan. Binatang-binatang itu mati dalam keadaan yang mengenaskan. Bahkan hampir seluruh isi perut hewan-hewan itu amburadul ke mana- mana. Kim Sin Go Lim adalah seorang tokoh yang sudah banyak pengalaman. Sekali lihat saja dia sudah dapat memastikan bahwa orang yang membunuh binatang-binatang itu memiliki tenaga dalam yang sangat dahsyat.

Diam-diam hati Go Lim merasa terkesiap, dan heran. Karena orang yang bisa memiliki tenaga dalam demikian hebat sudah pasti seorang tokoh bu lim yang namanya sudah terkenal sekali. Atau paling tidak seorang ketua dari sebuah partai persilatan. Tetapi siapa kira-kira yang sanggup menurunkan tangan sedemikian keji?

Semakin jauh Go Lim berjalan, bangkai-bangkai binatang pun semakin banyak. Bahkan ada beberapa ekor kuda pilihan. Kematiannya tidak berbeda dengan binatang- binatang lainnya.

Hati Go Lim semakin penasaran. Cepat-cepat dia menghimpun hawa murninya dan melesat secepat kilat ke arah gedung kediaman keluarga Sang. Ketika dia melangkahkan kakinya ke dalam halaman. dia pun melihat mayat-mayat yang berserakan. Seluruh tempat tinggal yang luasnya sulit diuraikan itu ternyata tidak tersisa seorang manusia pun yang masih hidup.

Rasa terkejut yang melanda hati Go Lim tak terkirakan lagi. Tanpa berpikir panjang lagi, dia menghambur meninggalkan tempat itu. Kurang lebih setengah bulan kemudian berita itu sudah menyebar luas di dunia bu lim. Tetapi siapa yang melakukan kejahatan yang demikian sadis itu, ternyata tidak ada seorang pun yang tahu.

Tentu saja, kenyataannya hal itu hanya diketahui oleh empat orang. Dua orang yang per-tama tidak lain dari Sang Cin dan Sang Hoat, yaitu dua orang yang berhasil meloloskan diri ketika terjadi pembantaian. Dan dua orang lainnya sudah dapat dipastikan yaitu Tao Ling dan I Ki Hu.

Urusan ini harus diceritakan kembali dari dua hari sebelum kedatangan Go Lim. Pada waktu itu, wajah setiap anggota keluarga Sang tampak kelam sekali. Karena mereka sudah membakar rumah batu selama dua hari dua malam. Tetapi dari dalam rumah itu masih berkumandang suara tawa I Ki Hu yang menyeramkan.

Padahal kalau ditilik dari kekokohan rumah batu itu, tenaga manusia yang bagaimana pun hebatnya, rasanya tidak mungkin sanggup menerjang keluar dari ruangan itu.

Akan tetapi perasaan takut dalam hati mereka tidak bisa hilang. Karena nama besar Gin leng hiat ciang I Ki Hu terlalu menggetarkan.

Dulu, ketika terjadi pemberontakan di dalam partai Mo kau, dengan seorang diri ia berhasil membunuh ketua, putri bahkan enam orang pentolannya. Sedangkan peristiwa itu sudah lama berlalu, sekarang tentunya kepandaian I Ki Hu sudah jauh lebih tinggi lagi.

Dalam hati anggota keluarga Sang, terasa ada ketakutan yang mencekam. Namun siapa pun berusaha memendamnya dalam-dalam agar tidak menciutkan nyali yang lainnya. Bahkan ada beberapa yang menutupi ketakutan hatinya dengan tertawa terbahak-bahak. Ia mengatakan apabila I Ki Hu sampai mati, maka nama keluarga Sang akan menjulang tinggi di seluruh kolong langit. Di dalam anggota keluarga Sang, boleh dibilang usia Sang Cin dan Sang Hoat paling muda. Tetapi mereka justru mempunyai pandangan yang berbeda. Ketika rumah batu itu sudah terbakar selama satu hari satu malam, tetapi suara tawa I Ki Hu yang menyeramkan masih berkumandang, kedua orang itu sudah berusaha menasehati ibunya. Yaitu agar Sang Ling cepat-cepat memadamkan api dan minta maaf kepada I Ki Hu. Asal raja iblis itu berjanji akan memaafkan tindakan mereka dan tidak memperpanjang permasalahannya, seharusnya mereka melepaskan orang itu. Tetapi Sang Ling malah membentak mereka dengan mengatakan bahwa mereka masih bocah kecil mengapa berani memberikan usul kepada orang tua.

Kemudian kedua pemuda itu mengadakan perundingan. Mereka yakin rumah batu itu tidak bisa mengurung I Ki Hu sampai mati. Kebetulan keluarga Sang memerintahkan Sang Cin dan Sang Hoat ke kota untuk suatu keperluan. Dengan menggunakan kesempatan itu, keduanya langsung melarikan diri meninggalkan kediaman keluarga Sang.

Sementara itu, Tao Ling dan I Ki Hu masih terkurung dalam rumah batu. Ketika mengetahui keluarga Sang menumpuk balok-balok serta kayu yang sudah direndam dengan minyak tanah untuk membakar rumah batu itu, kemarahan dalam hati I Ki Hu benar-benar meluap.

Tetapi diam-diam dia juga sadar, tembok batu yang mengelilingi rurnah itu demikian tebal, meskipun terbakar selama tiga hari tiga malam juga tidak bisa terbakar habis. Setidaknya masih mempunyai waktu selama tiga hari untuk memikirkan akal guna meloloskan diri dari rumah batu itu. Dia juga memikirkan bagaimana caranya melampiaskan kekesalan hatinya apabila berhasil bebas. Dengan demikian hatinya tidak begitu jengkel lagi. Setidaknya ada pikiran yang dapat membuat waktu tidak terasa berlalu.

Pikiran Tao Ling justru berbeda dia tahu dirinya akan mati terbakar. Tetapi kematiannya justru bisa menyelamatkan selembar jiwa Lie Cun Ju. Karena itu hatinya merasa terhibur. Dengan tenang dia duduk di atas lantai. Dia mengenang kembali kenangan manisnya bersama Lie Cun Ju. Malam harinya, I Ki Hu niengintip lewat celah lubang angin. Tanmpak api semakin berkobar-kobar. I Ki Hu turun kembali.

Tangannya disilangkan di depan dada. Di dalam ruangan batu itu, ia berjalan mondar mandir. tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu dia sudah berdiri disamping Tao Ling. "Hu jin, aku sudah menemukan akal untuk meloloskan diri dari tempat ini."

Mendengar kata-kata suaminya, tanpa dapat ditahan lagi seluruh tubuh Tao Ling bergetar.

Diam-diam dia berpikir dalarn hati, seandainya benar suaminya bisa meloloskan diri dari tempat ini, entah berapa banyak masalah yang akan dihadapinya? Tetapi setelah merenungkan kembali, dia tetap merasa tidak ada harapan untuk keluar dari ruangan batu itu. “Hu Kun rasanya kita tidak ada harapan lagi untuk keluar dari ruangan batu ini. Apakah ucapanmu tadi hanya ingin menghibur hatiku?" kata Tao Ling dengan nada datar,

I Ki Hu tersenyum.

"Kalau aku mengatakan bisa keluar, pasti bisa keluar. Untuk apa aku berdusta kepadamu?" sahut I Ki Hu sambil tersenyum.

Perasaan hati Tao Ling tetap tawar.

"Bagaimana caranya meloloskan diri dari sini, coba hu kun jelaskan!" Wajah I Ki Hu tampak berseri-seri.

"Anggota keluarga Sang terlalu ceroboh. Seandainya mereka bersabar sedikit dan membiarkan kami terkurung di sini, tanpa ditanya atau ditengok sama sekali. Paling lama satu bulan kita pasti akan mati kelaparan. Tetapi mereka justru tidak sabar, menumpuk balok-balok untuk membakar rumah batu ini. Dengan demikian malah kita mempunyai jalan untuk meloloskan diri."

Mendengar ucapannya Tao Ling semakin tidak mengerti. Rumah batu ini kokoh sekali, temboknya demikian tebal. Tetapi tiga hari kemudian pasti seluruhnya akan berubah menjadi tungku api yang membara. Mana ada tempat untuk bersembunyi, apalagi untuk melarikan diri. Benar-benar igauan orang tolol.

Dengan membawa pikiran demikian, Tao Ling juga tidak memperdulikan I Ki Hu lagi. Tetapi kalau ditilik dari mimik wajah suaminya, tampaknya ia benar-benar gembira dan tidak seperti orang yang sedang berpura-pura.

Mungkin selama hidupnya, I Ki Hu selalu berwatak angkuh dan tidak pernah sudi mengakui kelemahannya. Dan begitu terkurung di dalam ruangan batu itu serta menyadari tidak ada jalan untuk meloloskan diri, pikiran suaminya jadi terguncang sehingga agak kurang waras.

Malam itu, I Ki Hu tertidur dengan pulas. Pada hari keduanya, keadaan di dalam ruangan batu sangat panas hampir tidak tertahankan lagi. Tubuh I Ki Hu berkelebat, tangannya menempel sebentar di dinding tembok, kemudian dia mengeluarkan suara tawa yang menyeramkan.

"Masih kurang panas." Ia menggumam seorang diri.

Serta merta Tao Ling ikut meraba tembok ruangan itu, dia langsung memekik. Begitu panas-nya sampai jari tangannya melepuh. Tapi I Ki Hu barusan masih mengatakan kurang panas. Sekarang dia tambah yakin otak suaminya sudah muiai tidak waras.

Sepanjang hari itu api masih terus berkobar. Begitu panasnya sehingga dada pun mulai terasa sesak. Sesekali dia melirik ke arah suaminya. Ternyata wajah I Ki Hu semakin lama semakin berseri-seri. Kadang-kadang dia mengeluarkan suara siulan yang melengking. Walaupun tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali, tetapi seluruh tubuhnya juga dibasahi keringat karena rasa panas yang menyengat.

Apalagi Tao Ling, untuk bernafas saja, dia sudah mulai merasa sulit. Terdengar ia menarik nafas panjang.

"Baiklah. Semuanya toh akan berlalu sebentar lagi. Biarlah semuanya berakhir di sini," gumam Tao Ling.

Kata-katanya diucapkan dengan lirih. Tetapi I Ki Hu yang berpendengaran tajam sempat mendengar dengan jelas. Dia berjalan menghampiri Tao Ling sambil mengembangkan seulas senyuman.

"Mengapa Hu jin berkata demikian? Sebentar lagi kita bisa keluar dari ruangan ini."

Tao Ling mendongakkan kepalanya. Tampak mata I Ki Hu menyiratkan sinar yang ganjil. Sekali lihat saja dapat dipastikan bahwa hatinya sedang bergembira. Sedangkan di sorot matanya terselip hawa pembunuhan yang tebal. Dapat diduga bahwa hatinya sedang mempertimbangkan bagaimana cara melampiaskan dendamnya. Hati Tao Ling jadi bimbang. Ia tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.

"Hu kun, bagaimana caranya meloloskan diri dari tempat ini?" tanya Tao Ling, I Ki Hu tertawa terbahak-bahak.

"Tentu saja lewat pintu batu lalu menerobos ke luar."

Mendengar keterangan I Ki Hu, Tao Ling jadi tertawa geli. Pada saat itu, Tao Ling sudah yakin dirinya akan mati bersama-sama I Ki Hu dalam ruangan batu itu. Maka dari itu pula, perasrnnya menjadi lega.

"Hu kun, apabila kau memang sanggup membuka pintu batu itu, mengapa tidak sejak semula saja kau membukanya. Dengan demikian kita toh tidak usah menderita siksaan seperti sekarang ini."

Sekali lagi I Ki Hu tersenyum.

"Karena waktunya belum sampai, kita tidak boleh sembrono!"

"Sampai waktunya tiba? Mungkin kita sudah terbakar menjadi abu," sahut Tao Ling seenaknya.

"Hu jin, kau tidak percaya kita bisa meloloskan diri dari tempat ini?" "Tidak percaya!" Dengan tegas Tao Ling menyahut.

I Ki Hu melirik Tao Ling sekilas.

"Hu jin, kalau dilihat dari mimik wajahmu, tampaknya kau malah lebih senang bisa mati di dalam ruangan batu ini?" Padahal sebelumnya Tao Ling takut sekali kepada I Ki Hu. Tetapi saat itu, dia yakin sebentar lagi mereka berdua akan menemui kematian bersama. Karena itu perasaan takutnya kepada I Ki Hu juga sirna sama sekali. Mendengar pertanyaan I Ki Hu, dia bahkan tertawa merdu.

"Dugaanmu memang tidak salah." Wajah I Ki Hu langsung berubah kelam. "Mengapa?"

Suara tawa Tao Ling semakin keras.

"Mengapa? Tentu saja lebih baik mati, apakah aku harus menjadi istrimu selama hidup ini? Apakah aku mengharapkan kau bisa lolos dari ruangan batu ini untuk mencelakai Lie Cun Ju?"

"Ha ... ha ... ha ... Biar bagaimana kita memang suami istri, sudah sepantasnya kalau mati bersama di sini."

Wajah I Ki Hu tidak menyiratkan perasaan apa pun. Dia mendengar sampai kata-kata Tao Ling selesai.

"Hu jin, kau salah besar," kata I Ki Hu dengan nada dingin.

Tao Ling masih tertawa. Tawanya begitu merdu dan manis. "Hu kun, kalau aku memang salah, di mana letak kesalahanku? Aku mohon petunjukmu!"

Mata I Ki Hu menyorotkan sinar yang tajam. "Paling-paling satu kentungan lebih lagi kita sudah bisa keluar dari ruangan batu ini. Kita harus tetap menjadi suami istri dan Lie Cun Ju tetap harus mati di tanganku."

"Hu kun, semoga harapanmu tercapai!" sindir Tao Ling. Tentu saja dia tidak mengambil hati ucapan I Ki Hu barusan. Karena menurut pandangannya, biarpun ilmu I Ki Hu sudah mencapai taraf kesempurnaan sekali pun, tetap saja tidak mungkin dapat meloloskan diri dari ruangan batu yang kokoh itu.

Tapi di samping itu, mendengar suara I Ki Hu yang demikian tegas dan penuh keyakinan, tiba-tiba timbul juga kecurigaan di hatinya.

"Hu kun, kalau satu kentungan lebih lagi kita memang bisa keluar dari ruangan ini, coba kau jelaskan, bagaimana kita bisa meloloskan diri?"

I Ki Hu tersenyum Licik.

"Sejak kemarin aku sudah mengatakan kepadamu, kita akan membuka pintu batu itu dan keluar dengan langkah lebar." Mendengar kata-katanya, hati Tao Ling semakin bimbang. Diam-diam dia berpikir, mes-kipun ilmu silatku jauh lebih rendah dan aku juga terkurung di dalam rumah batu yang panasnya menyengat ini, tetapi pikiranku masih jernih.

Mungkinkah I Ki Hu yang ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi bisa tidak waras? Atau dia memang betul-betul menemukan jalan untuk meloloskan diri dari rumah batu ini?

Justru ketika hatinya masih diliputi kebimbangan, dia mendengar suara tertawa dingin dari bibir I Ki Hu.

"Hu jin, biar aku berkata terus terang kepadamu. Sebaiknya hilangkan saja pikiranmu yang picik itu. Kita tidak mungkin mati terbakar hidup-hidup di dalam ruangan batu ini. Aku sudah mengatakan, apabila keluarga Sang bisa bersabar sedikit dan membiarkan kita terkurung di sini, lambat laun kita pasti akan mati kelaparan. Tetapi dengan cara membakar, justru memberi jalan bagi kita."

Tao Ling semakin tidak mengerti. Tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya sepasang matanya memandang kepada I Ki Hu lekat-lekat. I Ki Hu berdiri sambil menyilangkan tangan di depan dada. Meskipun seluruh tubuhnya telah dibasahi keringat, tetapi mimik wajahnya tetap berseri-seri.

"Hu jin, meskipun pintu batu itu tebal, dengan kekuatanku sebetulnya tidak sulit menghancurkannya. Tahukah kau mengapa kita sampai terkurung di dalamnya tanpa bisa menerobos ke luar?"

Ketika masuk ke dalam rumah batu itu, Tao Ling pernah memperhatikan ada dua utas rantai yang setebal lengan manusia mengait di ujung kedua pintu. Karena itu dia segera menjawab.

"Tentu saja kau tidak dapat menghancurkannya karena batu itu dipasangi alat rahasia." I Ki Hu tertawa terbahak-bahak.

"Hu jin, ternyata kau bisa juga berpikir sampai ke sana. Berarti penjelasannya sudah hampir tepat. Sekarang api sudah berkobar selama dua hari dua malam, bukankah rantai yang menahan pintu batu itu juga sudah hampir lumer semuanya?"

Tao Ling seorang gadis yang cerdas. Mendengar kata-kata I Ki Hu, hatinya tercekat seketika.

Sekarang api sudah mengelilingi seluruh rumah batu itu, panasnya tidak terkirakan. Memang ada kemungkinan rantai besi itu sudah lumer karena panasnya. Asal rantai besi itu lumer, tentu kekuatan I Ki Hu sanggup menghancurkan pintu batu itu.

Berpikir sampai di sini, mata Tao Ling Sangsung membelalak. Mulutnya terbuka lebar. Dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun, tampak I Ki Hu kembali berjalan mondar mandir kurang lebih setengah kentungan, tiba-tiba dia mengeluarkan suara siulan yang melengking tinggi. "Rasanya waktunya sudah sampai,"

Tubuh I Ki Hu berkelebat, sekejap saja dia sudah sampai di hadapan mayat pasangan suami istri Lie Yuan. Si Raja Iblis itu tertawa seram.

"Sahabat Lie, kami masih mengharapkan sedikit bantuanmu!" Tangannya menjulur ke depan. Kedua mayat itu pun diangkatnya. Setelah itu dia menerjang ke depan pintu dengan menggunakan kedua mayat itu sebagai perisai.

Pada saat ini, seluruh tembok ruangan batu sudah merah membara. Begitu kedua mayat itu ditempelkan ke pintu batu, segera terdengar suara desisan seperti benda terbakar dan bau sangit. Tangan I Ki Hu menekan di tubuh kedua mayat tadi. Hawa murni dalam tubuhnya segera dihimpun, tenaga dalamnya dikerahkan. Dengan sekuat tenaga dia mendorong pintu batu. Terdengar suara derakan, tiba-tiba pintu itu sudah terbuka sedikit. Begitu pintu batu terbuka sedikit, asap yang tebal dan api yang berkobar segera menyerbu ke dalam. Tetapi I Ki Hu tidak menghentikan gerakannya. Kembali dia menarik nafas dalam-dalam dan mendorong lagi sekuat tenaga. Meskipun hanya sekejap mata I Ki Hu berdiri di depan pintu, karena kobaran api terlalu hebat, tetap saja sebagian rambut dan pakaiannya terbakar juga.

Ketika berhasil membuka pintu batu, I Ki Hu langsung menggulingkan tubuhnya di atas tanah agar api yang membakar pakaiannya padam. Setelah itu, secepat kilat dia meraih pinggang Tao Ling. Mulutnya mengeluarkan suara siulan panjang. Tubuhnya langsung menerobos ke dalam kobaran api.

Pada saat itu, seandainya bukan I Ki Hu, meskipun rantai besi pengait pintu sudah lumer tetapi melihat kobaran api yang demikian besar, belum tentu dia itu sanggup menerobosnya.

I Ki Hu bisa keluar dengan menerobos kobaran api itu. Hal itu membuktikan, bahwa bukan hanya ginkangnya saja yang tinggi sekali. tetapi nyalinya juga lebih besar daripada orang lain.

Tao ling dikempit di bawah ketiak I Ki Hu. Dia hanya mendengar suara angin yang menderu-deru.

Dalam sekejap mata, tubuhnya terasa ringan, dadanya tidak sesak lagi. Ternyata mereka sudah berhasil keluar menerobos kobaran api. Terdengar suara tawa I Ki Hu yang menyeramkan. Dia merasa tubuhnya diletakkan di atas tanah. Ketika ia mengalihkan pandangan matanya, tampak tubuh I Ki Hu sudah berkelebat ke depan dan sekaligus membanting enam-tujuh orang anggota keluarga Sang.

Meskipun api sudah berkobar selama dua hari dua malam, tetapi suara tawa I Ki Hu tetap terdengar, hal ini sudah membuat perasaan anggota keluarga Sang menjadi tidak tenang. Tetapi mereka sama sekaii tidak menyangka. justru karena ketidak sabaran mereka yang menggunakan api membakar rumah batulah yang mengakibatkan I Ki Hu berhasil meloloskan diri.

Dalam anggota keluarga Sang memang ada beberapa jago berilmu tinggi, tetapi kalau dibandingkan dengan si Raja Iblis itu, tentu tidak ada apa-apanya. Bahkan perubahan yang tidak di-sangka-sangka ini membuat mereka tertegun untuk sesaat. Ketika mereka menyadarinya, semua sudah terlambat. Tujuh-delapan orang anggota keluarga Sang sudah terkapar di tanah menjadi mayat.

Anggota keluarga Sang menjadi panik seketika. Sebagian besar berlari dengan kalang kabut. Tidak perduli siapa pun yang ada di hadapannya, mereka terobos terus.

"Jangan sembarangan bergerak!" Terdengar bentakan seorang perempuan.

Kemudian tampak sesosok bayangan berkelebat. Ternyata Sang Ling yang mengeluarkan suara bentakan itu. Tangannya sudah menggenggam sebuah gantulan, senjata khas keluarga Sang. Di belakangnya tampak empat-lima orang laki-laki yang usianya kurang lebih sebaya dengan I Ki Hu. Mereka merupakan generasi kedua dari keluarga Sang.

Begitu kelima orang itu muncul, keadaan menjadi agak tenang. Tiga-empat puluh orang di an-taranya tidak memperlihatkan rasa takutnya lagi. Mereka tergesa-gesa mengambil posisi menghadang di depan I Ki Hu.

Di bawah cahaya matahari, tampak tangan mereka masing-masing menggenggarn sebuah senjata yang sama. Dalam sekejap mata mereka sudah berbaris rapi. I Ki Hu tahu posisi yang dibentuk mereka merupakan sebuah barisan yang kokoh. Diam-diam hatinya menjadi kagum. Namun dia tetap memperdengarkan suara tawa yang terbahak-bahak.

"Anjing-anjing keluarga Sang! Kalian kira rumah batu seperti itu bisa mengurung aku?"

Anggota keluarga Sang mendengarkan dengan tenang. Padahal dalam hati mereka timbul per-tanyaan yang sama, mengapa I Ki Hu sanggup menjebol pintu batu itu? Hati mereka memang masih dilanda ketegangan. Tetapi mereka terpaksa menunggu reaksi Sang Ling sebagai kepala keluarga.

"Ternyata kepandaian I sian sing seperti dewa. Manusia seperti kami tidak bisa mengukurnya," kata Sang Ling.

"Sampai saat ini baru teringat untuk mengambil hatiku, bukankah sudah terlambat?" ucap I Ki Hu dengan tawa dingin.

Hati Sang Ling sadar. Biar bagaimana masalah itu tidak bisa dihindari lagi. Percuma menunda-nunda waktu. Karena itu dia segera tertawa panjang.

"Apabila I sian sing mengira kami ingin mengambil hatimu, maka perkiraanmu salah sekali."

Baru saja ucapannya selesai, langsung tujuh delapan orang anggota keluarga Sang menerjang ke depan.

Suara bentakan mereka garang. Cahaya berkilauan terpantul dari senjata gantulan di tangan mereka. Tetapi sikap I Ki Hu masih tenang-tenang saja. "Hu jin, hati-hati!" kata I Ki Hu kepada Tao Ling.

Baru saja kata-katanya selesai, kedelapan orang itu sudah menerjang ke hadapannya. Tubuh I Ki Hu berkelebat. Setiap kali berputar arah, pasti ada seorang yang menjerit histeris.

Dalam waktu yang singkat, bahkan tidak sempat terlihat bagaimana cara Raja Iblis turun ta-ngan, tahu-tahu kedelapan orang itu sudah terkapar di atas tanah bermandikan darah.

Rupanya I Ki Hu juga tidak tanggung-tanggung lagi. Gerakan tangannya mengandung tenaga dahsyat. Setiap lawan yang terhantam telapak tangannya pasti pecah kepalanya atau isi perutnya amburadul.

Beberapa anggota keluarga Sang yang melihat anak, keponakan atau mungkin suami mereka mati di tangan I Ki Hu, jadi gusar.

"Maju semua!" teriak Sang Ling.

Tubuh I Ki Hu sampai tidak kelihatan karena tertutup anggota-anggota keluarga Sang yang menyerang dengan membabi buta. Tao Ling sendiri sempat kebingungan.

Tadinya dia tidak ingin ikut campur dalam masalah itu. Tetapi karena anggota keluarga Sang menyerangnya, maka dia terpaksa membalas. Tao Ling mendorong tubuh seseorang yang sudah menjadi mayat dan mengambil senjata dari tangan mayat itu.

Tao Ling segera mengibaskan senjata ke sana ke mari agar orang-orang itu tidak berani mendekat. Menggunakan kesempatan itu dia mencelat ke samping. Tampak I Ki Hu masih terlibat pertarungan sengit dengan anggota keluarga Sang. Tiba-tiba hatinya tergerak. Diam-diam dia ber-pikir. Meskipun dirinya saling mencintai dengan Lie Cun Ju, tetapi ia sendiri sudah ternoda. Dia sudah menjadi istri I Ki Hu. Mana mungkin dia bisa hidup bersama lagi dengan Lie Cun Ju sebagaimana angan-angannya dulu.

Tapi sekarang I Ki Hu ternyata bisa meloloskan diri dari ruangan batu. Sudah pasti ia akan mencari Lie Cun Ju yang dianggap putra musuh besarnya. Seandainya sekarang dia tidak menggunakan kesempatan ini untuk melepaskan diri dari I Ki Hu kemudian berusaha menemukan Lie Cun Ju agar dia mengasingkan diri dari dunia kang ouw, mana mungkin dia bisa mendapatkan kesempatan yang lain?

Berpikir sampai di sini, timbul tekad di hati Tao Ling. Perasaannya yang sudah mati kembali bergairah. Timbul pula kemauannya untuk tetap hidup. Karena hanya dengan cara demikian dia bisa nienyelamatkan jiwa Lie Cun Ju.

Ketika tubuhnya melesat ke luar dari kepungan anggota keluarga Sang, rasanya ada beberapa orang yang mengejarnya. Tetapi pada dasarnya ilmu silat Tao Ling memang tidak lemah. Setelah berhasil menerobos ke luar, dia tidak menoleh sedikit pun.

Senjata di tangannya dilemparkan seenaknya, kemudian tubuhnya terus melesat pergi secepat-cepatnya. Setelah berhasil melarikan diri sejauh tujuh-delapan li, Tao Ling baru menghentikan gerakan kakinya. Tetapi pada saat itu juga, dari kejauhan berkumandang suara I Ki Hu yang memanggilnya.

"Hu jin! Hu jin!"

Tao Ling tahu I Ki Hu sudah membunuh seluruh keluarga Sang dan sekarang sedang men-carinya. Tao Ling memperhatikan keadaan sekitarnya dengan seksama. Ternyata ia berada di sebuah lembah yang kecil. Dan tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Tao Ling mendengar suara panggilan I Ki Hu semakin mendekat. Hatinya menjadi panik. Cepat-cepat dia menghambur lagi ke depan sejauh beberapa depa. Matanya memandang dinding gunung di kejauhan. Di sana ada sebuah lubang kecil. Mungkin apabila dipaksakan, Tao Ling bisa menyusup ke dalamnya. Tanpa memperdulikan apa-apa lagi, Tao Ling berlari ke arah lubang itu kemudian bersembunyi di dalamnya.

Lubang itu sempit sekali. Begitu tubuh Tao Ling menyusup ke daiam, kepalanya tak dapat digerakkan sama sekali. Dia mendengar suara I Ki Hu sudah sampai di lembah tadi. Malah nadanya juga mengandung kemarahan.

"Hu jin, kau masih belum keluar juga?" Tao Ling tahu I Ki Hu masih belum tahu di mana dia bersembunyi. Diam-diam dia merasa senang. I Ki Hu yang mengejar sampai di lembah kecil, melihat bahwa lembah itu ternyata buntu. Tidak ada jalan tembus kemana pun.

Padahal I Ki Hu juga melihat lubang kecil itu, tetapi dia tidak menyangka Tao Ling bersembunyi di sana. Dia menganggap dirinyalah yang mengejar ke arah yang salah. Karena itu, setelah mendengus satu kali, dengan wajah menyiratkan kegusaran, dia membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu.

Gerak gerik I Ki Hu tidak menimbulkan suara sedikit pun. Tao Ling yang bersembunyi di dalam lubang tidak tahu apakah ia sudah pergi atau belum. Setelah menunggu cukup lama, dia baru berani keluar dengan perlahan-lahan. Ketika tangannya tanpa disengaja meraba betisnya, ternyata betisnya sudah banyak terdapat luka-luka.

Mungkin karena menggesek-gesek di dalam lubang yang sempit itu. Yang ada dalam pikiran Tao Ling, hanya bagaimana dapat melepaskan diri dari cengkeraman I Ki Hu, tentu dia tidak mempersoalkan luka yang ringan itu.

Tao Ling berdiri dan memperhatikan keadaan di sekitarnya. Tampak keadaan di lembah gunung itu sunyi senyap. Dia yakin I Ki Hu sudah meninggalkan tempat itu. Perasaannya menjadi agak lega. Setelah melewati puncak gunung, dia mengambil arah utara.

Dengan segala upaya, Tao Ling berusaha melepaskan diri dari cengkeraman I Ki Hu, tujuan-nya hanya satu, yakni menyelamatkan jiwa Lie Cun Ju. Dia ingin mencari pemuda itu agar dapat memperingatkannya tentang ancaman I Ki Hu. Dengan demikian, dia bisa menyuruh Lie Cun Ju melarikan diri sejauh-jauhnya. Dimana Lie Cun Ju sekarang, Tao Ling sama sekali tidak tahu. Tetapi ketika berpisah dengan Tao Ling, pemuda itu justru ada di lembah Gin Hua kok. Karena itu Tao Ling juga mengambil keputusan untuk mendatangi lembah Gin Hua kok dulu baru menentukan langkah berikutnya.

Dia juga menyadari, I Ki Hu pasti tidak akan berdiam diri begitu saja mengetahui ia melarikan diri. I Ki Hu pasti akan mencarinya ke mana-mana.

Namun, meskipun sampai di mana kecerdasannya I Ki Hu, tentu dia tidak akan menyangka Tao Ling berani menginjakkan kakinya ke Gin Hua kok. Karena itu pula, sepanjang perjalanan, Tao Ling tidak khawatir kepergok oleh I Ki Hu. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh hari, Tao Ling sudah sampai di gurun pasir wilayah barat. Sejauh mata memandang, tampak hanya pasir kuning yang membentang dan seperti lautan yang tidak berbatas.

Setelah melihat gurun pasir itu, hati Tao Ling dilanda kegelisahan yang sukar dilukiskan. Karena ketika dia meninggalkan Gin Hua kok mengikuti 1 Ki Hu menuju tempat kediaman keluarga Sang di Si Cuan, mereka juga pernah melalui tempat itu. Pada saat itu, empat ekor kuda menarik kereta yang ditumpangi mereka. Mereka juga memerlukan waktu selama satu hari satu malam baru bisa keluar dari gurun pasir itu.

Saat itu, Tao Ling sudah menjadi istri I Ki Hu. Ketika melalui gurun pasir itu, I Ki Hu pernah bercerita, siapa pun yang tersesat di gurun pasir itu, sulit untuk menemukan jalan keluarnya. Mungkin malah bisa seumur hidup, terkatung-katung di sana.

Perasaan hati Tao Ling ketika itu sedang gundah, di sepanjang perjalanan dia juga melihat tulang-tulang berserakan. Ada tulang manusia, ada tulang binatang. Rupanya tulang-tulang manusia dan hewan yang mati kehausan di sana.

Hanya sesaat Tao Ling ragu-ragu, kemudian ia tetap meneruskan langkahnya.

Tao Ling merasa satu-satunya harapannya tetap hidup sekarang hanya untuk menyelamatkan Lie Cun Ju. Dan demi menolong pemuda pujaan hatinya itu, jangankan di hadapannya baru terbentang gurun pasir, meskipun lautan api atau gunung golok, dia tetap akan menerjangnya.

Sembari berlarian di atas gurun pasir, Tao Ling memperhitungkan waktu yang mereka perlukan untuk keluar dari tempat itu tempo hari. Keempat ekor kuda itu memerlukan waktu selama satu hari satu malam baru akhirnya keluar dari gurun pasir itu. Dengan demikan jarak yang ditempuh kira-kira tiga ratus li. Sedangkan saat ini Tao Ling tidak menggunakan kuda tunggangan. Dengan berlarian tanpa berhenti, mungkin dua hari dua malam dia baru bisa keluar dari gurun pasir itu.

Keluar dari gurun pasir tidak seberapa jauh, dia akan sampai di padang rumput tempat I Ki Hu memaksanya menikah. Sedangkan setelah sampai di tempat itu, berarti lembah Gin Hua kok tidak seberapa jauh lagi.

Sembari berpikir, Tao Ling terus berlari dengan perasaan was-was. Ketika menjelang sore hari, tiba-tiba dia merasa pemandangan di sekitarnya sangat ganjil. Perasaan ganjil itu benar-benar sulit diuraikan dengan kata - kata. Apa yang dihadapinya tidak ada perubahan sama sekali. Tapi Tao Ling yang sedang melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa jadi berhenti karenanya.

Justru karena tidak ada perubahan sedikit pun, keadaan di sekitarnya demikian sunyi, bahkan terlalu sunyi sehingga timbul perasaan was-was di dalam hati Tao Ling.

Setelah menghentikan langkah kakinya, tiba-tiba Tao Ling merasa saat itu berada di sebuah alam yang lain. Semuanya tidak berbeda dengan hari-hari rutin yang telah dilaluinya. Matahari mulai turun di ufuk barat. Warnanya kuning keemasan. Pasir di atas tanah juga berwarna kuning keemasan. Pasir-pasir di atas tanah tidak bergerak sedikit pun. Sebutir pun tidak ada yang terbang. Sedikit suara pun tidak terdengar, depan belakang kiri kanan hanya bentangan bewarna kuning. Meskipun langit dan bumi begitu luas, tetapi Tao Ling justru mempunyai perasaan seperti terkurung dalam sebuah kotak yang kecil dan berwarna kuning polos.

Tao Ling tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi dia yakin apa yang ada di hadapannya sekarang merupakan suatu gejala yang tidak baik. Perlahan-lahan dia maju satu langkah. Bekas tapak kakinya karena berdiri terlalu lama, langsung menjadi rata karena desiran pasir di sekelilingnya. Tao Ling melangkah lagi beberapa tindak. Tiba-tiba angin semilir berhembus.

Perasaan Tao Ling lebih nyaman. Dia mengambil keputusan untuk meneruskan perjalanannya. Dia berlari terus ke depan. Tetapi baru menghambur sejauh beberapa depa, tiba-tiba langit menjadi gelap. Warna kuning di sekitarnya juga mendadak menjadi pekat.

Sayup-sayup telinganya mendengar suara gerungars yang belum pernah terdengar sebelum-nya. Suara itu lama-lama berubah menjadi suara menggelegar yang berkumandang dari kejauhan. Tao Ling memalingkan kepalanya. Permukaan tanah seperti timbul gulungan awan berwarna kuning. Seakan ada ribuan ekor kuda yang sedang menerjang ke arahnya.

Saat itu juga, Tao Ling langsung menyadari apa yang sedang terjadi. Angin badai sedang melanda datang.

Di tengah gurun pasir menghadapi angin badai? Tao Ling benar-benar tidak dapat membayangkannya. Tadi keadaan di sekitarnya demikian sunyi. Sedikit suara atau gerakan pun tidak ada. Hatinya sudah yakin bahwa yang dilihatnya merupakan gejala yang tidak baik. Ternyata firasatnya memang tepat. Suatu ketenangan yang begitu mencekam sebelum angin badai menerjang.

Sekarang begitu badai datang, langit dan bumi pun mengeluarkan berbagai suara yang ganjil.

Seluruh pakaian Tao Ling yang tertiup angin juga menimbulkan suara mendesir-desir. Rambutnya awut-awutan, seperti hendak terlepas dari kulit kepalanya.

Boleh dibilang tak ada tempat bagi Tao Ling untuk berlindung. Di bawah ancaman kemarahan alam, ia merasa dirinya demikian kecil, demikian tidak berguna. Dengan termangu-mangu dia berdiri mempertahankan diri. Telinganya berdengung karena suara yang bergemuruh. Semakin lama suara itu semakin keras. Pasir kuning yang membentang luas juga mulai mengelilinginya.

Perasaan Tao Ling pun semakin tertekan. Ada keperihan yang tidak terkatakan. Ia sama sekali tidak takut menghadapi kematian. Tapi hatinya semakin pilu mengingat tidak ada lagi orang yang akan memperingatkan Lie Cun Ju bahwa dirinya sedang terancam bahaya. 

Sepasang tangannya dikepalkan erat-erat. Menyambut datangnya angin yang menderu- deru, Tao Ling berteriak sekeras-kerasnya.

"Lie kongcu! Lie kongcu! Aku tidak dapat menolongmu lagi."

Begitu suaranya tercetus keluar, selalu dibuyarkan oleh deru angin. Bahkan dia sendiri tidak dapat mendengar apa yang diteriakkannya.

Tiba-tiba, telinganya mendengar sebuah suara yang lain. Dia mempertajam pendengarannya. Sekarang dia yakin yang didengarnya itu suara manusia.

Tao Ling tertegun, ia menenangkan perasaan dan mencoba mendengarkan dengan penuh per-hatian. Ternyata suara itu dapat didengarnya lebih jelas.

"Ce ... pat ke ... mari! Ka . . . lau gu . . . lungan pa ... sir datang, kau . . . bi . . . sa mati!"

Tao Ling dapat mendengar bahwa kata-kata itu diucapkan oleh seorang laki-laki dan perempuan. Ia menolehkan kepalanya mengikuti sumber suara. Tampak di hadapannya yang terbentang semua berwarna kuning, tetapi di kejauhan tampak selembar kain merah sedang melambai-Iambai kepadanya.

Lembaran kain merah itu tidak seberapa lebar, letaknya agak jauh pula. Tetapi Tao Ling dapat melihatnya dengan jelas.

Tiba-tiba saja, timbul perasaan akan tertolong dalam hati Tao Ling. Dia memutar tubuhnya kemudian menggunakan segenap kekuatan untuk menghambur ke depan. Tetapi pasir kuning yang bergumpal-gumpal seperti gulungan awan itu mulai menerjang ke arahnya.

Tao Ling berteriak di dalam hati.

"Lari! Lari! Tidak boleh berhenti! Pokoknya tidak boleh berhenti!"

Darrrr! Sekali terdengar suara menggelegar yang memekakkan gendang telinga. Segulung pasir kuning menerpa ke arah tubuh Tao Ling. Langkahnya jadi limbung. Tetapi gadis itu dengan nekat menerjang terus ke depan. Sebetulnya, semua ter-jadi dalam sekejap mata tetapi bagi Tao Ling justru terasa lama sekali. Akhirnya, dia berhasil juga meraih kain merah itu. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya ditarik oleh seseorang sehingga terjerembab ke dalam sebuah lekukan.

Tao Ling tidak sempat memperhatikan siapa yang menariknya. Telinganya kembali mendengar suara menggelegar yang bergemuruh. Kali ini bahkan lebih keras dari sebelumnya. Keadaan saat itu persis seperti langit runtuh, pasir kuning dihempas badai topan sehingga nienimbulkan ombak yang bergulung-gulung.

Tetapi, tak lama kemudian, suara bergemuruh tadi mulai menjauh. Tao Ling mengibas-ngibaskan pasir yang memenuhi seluruh tubuhnya. Saat itu dia baru tahu bahwa dirinya berada dalam sebuah lekukan yang cukup dalam. Di hadapannya ada sebuah batu besar. Batu itulah yang menghalangi pasir yang bergulung-gulung terhempas angin topan. Apabila tidak, tentu dirinya sudah hanyut oleh hempasan ombak pasir.

Ada sepasang laki-laki dan perempuan yang bersandar di batu besar itu dengan saling berangkulan. Bahkan sebelah tangan si perempuan memeluk pinggang Tao Ling erat- erat. Saat itu, mereka juga sedang memalingkan kepalanya sehingga pandangan mata mereka bertiga bertautan. Tanpa dapat ditahan lagi, mereka langsung termangu- mangu. Saat itu juga, air mata Tao Ling berderai bagai air sungai yang deras. Bibirnya bergerak-gerak. Air matanya menetes ke bibirnya. Pandangan matanya menjadi buram. Sampai saat itu Tao Ling baru sanggup berteriak mengucapkan dua patah kata. "Tia! Ma!"

Sepasang laki-laki dan perempuan itu juga baru tersentak sadar.

"Ling ji!" teriak mereka serentak. Ternyata sepasang laki-laki dan perempuan itu bukan orang lain, tetapi Pat sian kiam Tao Cu Hun dan istrinya Sam Jiu Kuan Im Sen Cin.

Setelah saling memanggil Sen Cin pun berpelukan dengan Tao Ling. Sejak hari itu, saat perahu mereka terbelah menjadi dua bagian, orang-orang yang ada di atas perahu, jatuh ke dalam sungai. Tao Ling hanya pernah mendengar satu kali berita tentang kedua orang tuanya. Yakni ketika dia berlindung di gedung 'Ling wei piau kiok'. Saat itu, ia tidak berniat menemui kedua orang tuanya, sebab dia sedang bersama Lie Cun Ju. Tao Ling takut orang tuanya akan menghalangi persahabatannya dengan pemuda itu. Sedangkan saat itu juga, Tao Ling terluka parah di tangan tiga iblis dari keluarga Lung. Sampai saat ini, entah sudah berapa banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Dalam keadaan putus harapan, ia bahkan bertemu kem-bali dengan kedua orang tuanya. Perasaan hatinya saat itu benar-benar tidak teruraikan dengan kata-kata.

Ibu dan anak itu berpelukan sampai cukup lama. Setelah itu mereka sama-sama me- renggangkan pelukan mereka dan saling menatap sampai beberapa saat. Wajah mereka masing-masing berlumuran debu dengan demikian siapa pun tidak dapat meiihat wajah di hadapannya dengan jelas. Tetapi mereka toh bisa mengenali. Yang satu mengatakan dalam hati bahwa inilah putri kesayanganku. Dan yang satu Iagi mengatakan bahwa inilah ibu yang sudah lama kurindukan.

Bukan hanya mereka berdua saja yang berderai air mata, bahkan pelupuk mata Tao Cu Hun pun sudah memhasah. Air mata berderai di wajahnya yang juga penuh dengan debu. Sampai..lama sekali, mereka saling berpandangan. Seakan baru tersentak dari mimpi.

"Tia . . . Ma! Mengapa kalian bisa berada di tempat ini?" tanya Tao Ling.

"Ling ji, justru kami baru ingin bertanya kepadamu, mengapa kau bisa berada di sini?"

Tao Ling termangu-mangu beberapa saat. Dia teringat apa yang dialaminya selama ini. Tao Ling tidak tahu bagaimana harus menceritakannya.

Sekali Iagi Sam Jiu Kuan Im Sen Cin memeluk Tao Ling.

"Ling ji, ma tahu kau pasti menderita sekali. Sekarang apa Iagi yang kau takutkan? Kita kan sudah berkumpul bersama."

"Sudah terlambat," jerit Tao Ling dalam hati.

Saat itu juga, dia bertekad untuk tidak memberitahukan apa yang terjadi pada dirinya. Tetapi apakah dia sanggup menyembunyikannya dari kedua orang tua yang menyayanginya dan sejak kecil menjadi tempat pengaduannya?

"Setelah perahu kita terbelah menjadi dua bagian, aku terbawa hanyut oleh arus sungai yang deras. Kemudian aku terdampar di sebuah pulau. Sejak itu aku selalu mencari berita tentang kalian, tapi tidak pernah berhasil," kata Tao Ling.

Tao Cu Hun mengeluarkan suara keluhan. "Aih! Kok aneh sekali!"

"Ling ji, ketika terjatuh ke dalam sungai, kami tidak hanyut terlalu jauh. Saat itu kami langsung naik ke tepi sungai. Dan kami juga menanya-nanya kabar tentang kalian.

Tidak seharusnya kau tak berhasil menemukan kami." Tao Ling menarik nafas panjang.

"Aku juga pernah mendengar kalian tinggal di gedung Kuan Hong Siau, tetapi … tetapi aku belum sempat menemui kalian dan saat itu aku terluka parah oleh tiga iblis dari keluarga Lung."

Pasangan suami istri Tao Cu Hun saling lirik sekilas. Wajah mereka tampak menyiratkan perasaan terkejut.

"Kau bertemu dengan tiga iblis dari keluarga Lung?" Tao Ling tertawa getir sekilas.

"Tia, apa sih kehebatan tiga iblis dari keluarga Lung?" Wajah Tao Cu Hun tampak serius sekali. "Ling ji, mengapa kau bertanya demikian? Ilmu kepandaian mereka tinggi sekali. Biar ayah ibumu sendiri pun belum tentu bisa menandingi mereka."

"Bagaimana bila mereka bertiga dibandingkan dengan Gin leng hiat dang I Ki Hu?" tanya Tao Ling.

Padahal pasangan suami istri Pat Sian kiam juga tergolong jago kelas satu di dunia kang ouw yang sudah cukup mempunyai nama. Yang satu terkenal karena ilmu pedangnya sedangkan yang satunya lagi terkenal karena senjata rahasianya. Tetapi begitu mendengar nama Gin leng hiat dang I Ki Hu, tetap saja mereka tak dapat menahan diri sehingga termangu-mangu beberapa saat.

Sampai cukup lama Sen Cin baru menggenggam tangan putrinya erat-erat. "Anakku, apakah kau bertemu dengan Raja Iblis itu?"

Tao Ling seperti diingatkan kembali akan peristiwa pahit yang dialaminya. Serangkum perasaan sedih langsung memenuhi hatinya. Tanpa dapat ditahan lagi, air matanya mengalir dengan deras. Sen Cin segera memeluk putrinya erat-erat.

"Jangan menangis, anakku! Mama tahu kau sudah banyak mengalami penderitaan. Tetapi sekarang kami sudah di sampingmu, tidak ada lagi yang perlu kau takutkan." Tenggorokan Tao Ling seperti tercekat.

"Ma, aku . . . aku .. ."

"Jadi . . . kau benar-benar telah bertemu dengan Raja Iblis itu? Seandainya benar, sekarang kau sudah berhasil meloloskan diri darinya, apa lagi yang kau takutkan?"

Dalam hati pasangan suami istri Pat Sian kiam Tao Cu Hun, putri mereka Tao Ling masih anak-anak. Mungkin ia teringat masa-masa berbahaya ketika dirinya bertemu dengan si Raja Iblis I Ki Hu sehingga sampai sekarang masih ketakutan.

Suara tangis Tao Ling masih terisak-isak.

"Ma, aku bukan hanya bertemu dengan I Ki Hu, tetapi . . . atas desakannya, aku . . . terpaksa menjadi istrinya."

Begitu kata-kata Tao Ling tercetus, wajah pasangan suami istri itu pucat pasi seketika. Serentak mereka menegakkan tubuhnya.

"Apa yang kau katakan?"

Pada saat itu, angin badai sudah berlalu, tetapi angin masih menghembus dengan keras. Begitu pasangan suami istri menegakkan tubuhnya, mereka langsung terhempas jatuh. Melihat kedua orang tuanya jatuh, suara tangis Tao Ling meledak kembali.

Segera mereka bangun dan menerjang ke depan.

"Ling ji, jangan pergi!" Tao Cu Hun berteriak memanggil Tao Ling. Tangan Sam Jiu Kuan Im Sen Cin segera mengibas, sebatang senjata rahasia disambitkannya ke betis Tao Ling dan tepat menotok jalan darahnya. Gadis itu pun terkulai jatuh. llmu inenyambitkan senjata rahasia Sen Cin sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, lagi pula Tao Ling tidak bersiap siaga. Karena itu dia pun terkena serangan telak.

Begitu tubuhnya terkulai, Tao Cu Hun langsung menghambur ke depan dan berdiri menghadang di hadapan anaknya.

"Ling ji, apa pun yang telah terjadi, kau tetap putri kami. Kami juga tetap orang tuamu. Ada urusan apa-apa, kau bisa katakan terus terang. Mengapa kau harus menghindar dari orang tuamu sendiri?"

Air mata Tao Ling berderai semakin deras.

"Aku sudah mengatakan, begitulah kejadiannya."

"Kemudian, kau berhasil melarikan diri darinya, begitu bukan?" sahut Tao Cu Hun. Tao Ling mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Apakah I Ki Hu mengejarmu, setelah ia tahu kau melarikan diri?" Tao Cu Hun bertanya kembali.

"Aku ingin pergi ke lembah Gin Hua kok. Meskipun dia mengejar aku, mungkin dia tidak akan menyangka aku berani menginjakkan kaki ke tempat tinggalnya," sahut Tao Ling.

Sam Jiu Kuan Im Sen Cin heran mendengar keterangan anaknya.

"Kau sudah berhasil meloloskan diri dari tangannya, mengapa kau masih hendak pergi ke lembah Gin Hua kok? Kau ingin mengantarkan kematian?"

Perlahan-lahan Tao Ling menarik nalas panjang.

"Aku kesana untuk menolong seseorang." Gin Hua kok adalah tempat tinggal I Ki Hu. Tapi Tao Ling berani menempuh perjalanan sebesar itu untuk menolong seseorang.

Pasangan suami istri itu segera dapat menduga bahwa urusannya pasti tidak demikian sederhana.

"Siapa yang akan kau tolong?" Tao Ling terdiam beberapa saat. Akhirnya dia baru menjawab.

"Kalian juga mengenalnya. Dia adalah Lie Cun Ju, putra kedua pasangan suami istri Lie Yuan," jawab Tao Ling.

Tao Cu Hun menatap putrinya lekat-lekat. "Bagaimana kau bisa berkenalan dengannya?" Mendengar pertanyaan ayahnya, Tao Ling kembali teringat ketika mula- mula berkenalan de-ngan Lie Cun Ju. Meskipun waktunya sudah berlalu cukup lama, tetapi bagi Tao Ling terasa seperti baru kemarin. Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Tao Cu Hun melihat badai topan sudah reda. Dia juga tidak mendesak Tao Ling lagi.

"Ling ji, kebetulan kami ada sedikit urusan dan akan menuju suatu tempat. Kami akan melewati Gin Hua kok. Lebih baik kau berjalan bersama-sama kami saja!"

Tao Ling hanya menganggukkan kepalanya. Ketiga orang itu berjalan bersama. Perasaan hati mereka berbeda-beda. Hal itu membuat mereka saling membisu. Tidak ada seorang pun yang membuka suara.

Sampai tiga hari tiga malam mereka menempuh perjalanan, baru akhirnya berhasil keluar dari gurun pasir itu. Ketika melihat padang rumput, perasaan mereka terasa jauh lebih nyaman. Mereka melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, mereka sampai di tempat Tao Ling dipaksa menikah oleh I Ki Hu. Huruf 'hi' hasil guratan jari tangan si Raja Iblis itu masih ada. Tao Ling tidak ingin melihatnya kembali. Cepat-cepat ia melengos dan berjalan dengan tergesa-gesa.

Pasangan suami istri Tao Cu Hun saling lirik sekilas. Mereka tahu pasti ada sesuatu di balik sikap Tao Ling. Selama beberapa hari ini, mereka merasakan putri mereka seakan berubah menjadi orang lain setelah berpisah sekian lama. Tao Ling bukan lagi putri kecil mereka yang kekanak-kanakan dan manja. Gadis itu berubah menjadi pendiam dan selalu murung.