Pedang Tanpa Perasaan Jilid 08

Jilid 08

"Cepat katakan, benar atau tidak? Nanti aku bisa sampaikan kepadanya. Meskipun kalian akan mati, jangan sekali-sekali membuat seorang anak bingung dengan riwayat hidupnya sendiri." Sungguh ucapan yang man is. Tao Ling yang mendengarkan sampai meremang seluruh bulu kuduknya.

Sekali lagi Lim Cin Ing menarik nafas panjang.

"Uru . . . san ... ini pan . . . jang seka . . . li apabila dice . . . ritakan."

Tangan I Ki Hu masih menekan jalan darah di punggung Lim Cin Ing. Dia dapat merasakan detak jantung perempuan itu sudah semakin lemah. Dalam sekejap mata saja perempuan itu akan menemui kematiannya, karena perasaannya semakin panik.

"Tidak usah panjang lebar, yang penting kau jawab, apakah dia anak kandung kalian atau bukan?"

Kepala Lim Cin Ing sudah mulai terkulai. Suaranya juga sudah lirih sekali, tetapi keadaan di dalam ruangan batu itu demikian heningnya sehingga I Ki Hu dan Tao Ling masih bisa mendengar ucapannya dengan jelas.

Sekali lagi Lim Cin Ing menarik nafas panjang.

"Di . . .a ... me . . . mang ... bu ... kan ... a ... nak kan . . . dung ... ka ... mi." I Ki Hu langsung tertawa terbahak-bahak. Tangannya merenggang.

"Aku memang sudah menduganya!"

Lim Cin Ing memang hanya mengandalkan bantuan hawa murni yang dipancarkan tangan I Ki Hu di punggungnya sehingga masih sempat hidup beberapa saat. Begitu tangan I Ki Hu merenggang, ia pun mati seketika.

"Apakah dia putra tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu?" tanya Tao Ling panik.

Lim Cin Ing sudah mati, mana bisa men jawab pertanyaan Tao Ling. Dengan perasaan lesu Tao Ling berdiri. Di depan pelupuk matanya seakan terlintas bayangan Lie Cun Ju yang sebatang kara tanpa perlindungan siapa pun. Dan di sebelahnya seakan ada I Ki Hu yang siap menghantam batok kepala pemuda itu dengan telapak darahnya.

Hati Tao Ling terasa perih. Sepasang Iututnya jadi lemas. Tiba-tiba dia sudah menjatuhkan diri berlutut di depan I Ki Hu. "Hu kun, apa yang dikatakan Lim Cin Ing menjelang kematiannya tidak dapat dijadikan pegangan. Apakah kau tetap akan menurunkan tangan jahat kepada Lie Cun Ju?"

Ucapannya ini benar-benar mengharukan. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan tergerak hatinya. Tetapi I Ki Hu sama sekali tidak tergugah, bahkan tampak angker.

"Hu jin, kita sudah menjadi suami istri, tentunya kau tidak mengharapkan kelak aku dicelakai orang, bukan?"

"Hu kun, kau memiliki kepandaian yang sakti. Siapa pula yang sanggup mencelakaimu?"

"Hal ini sulit dikatakan," kata I Ki Hu dengan nada dingin. "Hampir dua puluh tahun ini aku mencari jejaknya. Aku berniat membasmi rumput sampai ke akar-akarnya. Itu bukan hal yang mudah. Kau tidak perlu berkata apa-apa lagi!"

Tao Ling sadar banyak bicara pun tidak ada gunanya. Terpaksa dia bangun dari berlutut. I Ki Hu sendiri terus mondar mandir di dalam ruangan batu itu. Suasana di dalam ruangan itu demikian heningnya. Tao Ling masih berdiri dengan termangu- mangu. Perasaan hatinya terlalu galau. Bahkan begitu resahnya ia sampai pikirannya menjadi kosong melompong. Sampai cukup lama tiba-tiba terdengar suara Bum! Bum! seperti ada benda-benda yang dilemparkan di depan pintu.

Begitu mendengar suara itu, I Ki Hu langsung menuju depan pintu. Dia menempelkan telinganya dan mendengarkan suara itu dengan seksama. Tampak wajah I Ki Hu semakin lama semakin tidak enak dilihat. Tampak menyiratkan kegusaran yang tidak terkirakan. Kemudian dia mendengus dingin. Tangannya menjulur ke depan dan diguncang-guncangkannya pintu batu itu.

Tetapi pintu batu itu demikian tebal, beratnya mungkin mencapai laksaan kati. Meskipun tenaga dalam I Ki Hu sudah hampir mencapai taraf kesempurnaan, tenaga seorang manusia mana mungkin dibandingkan dengan dinding sekokoh itu. Apalagi di kiri kanannya dipasang seutas rantai sebesar lengan manusia dewasa. Karena itu, pintu batu itu tidak bergeming sedikit pun juga.

Kegusaran di wajah I Ki Hu semakin parah, dia terus mondar mandir di dalam ruangan batu. Langkah kakinya berat sekali. Setiap tempat yang dilaluinya meninggalkan bekas tapak kaki yang dalam. Seakan-akan ia sedang mengumbar kemarahannya dengan cara demikian.

Tidak lama kemudian, dari luar berkumandang suara pletak! pletok! Tao Ling tidak mengerti mengapa ketika mendengar suara debuman dari luar, wajah I Ki Hu langsung tampak menyiratkan kegusaran. Sekarang dia mendengar suara pletak! pletok! dari luar pintu. Dia langsung tersadar, rupanya keluarga Sang sedang melemparkan kayu atau balok-balok besar di depan pintu barusan sehingga terdengar suara debuman. Dan suara yang didengarnya sekarang membuktikan bahwa mereka akan membakar ruangan batu itu. Meskipun tembok batu ruangan itu sangat tebal, apabila terbakar selama berhari-hari ber-malam-malam, mungkin tiga hari saja pasti seluruh ruangan batu itu sudah merah membara seperti tungku perapian. Dan otomatis orang yang terkurung di dalamnya pun tidak bisa mempertahankan selembar nyawanya.

Hati Tao Ling menjadi gundah mengingat dirinya akan terbakar hidup-hidup di dalam ruangan batu. Sesaat kemudian sebuah ingatan melintas di benaknya. Perasaannya menjadi lega. Di bibirnya tersungging seulas senyuman yang sudah cukup lama tidak diperlihatkan.

Dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba Tao Ling mengembangkan seulas senyuman yang manis. Hal ini bukan disebabkan karena jiwanya yang terguncang mengetahui dirinya akan dibakar hidup-hidup oleh keluarga Sang.

Tao Ling yakin malaikat Elmaut pasti akan menjemputnya beberapa hari kemudian, namun hatinya tidak merasa takut sedikit pun. Bahkan tersirat kebahagiaan yang tidak terlukiskan, karena yang akan mati terbakar di dalam ruangan batu itu bukan hanya dia seorang, tetapi termasuk juga I Ki Hu.

Pada dasarnya Tao Ling tidak mencintai I Ki Hu sedikit pun. Kebahagiaan yang dirasakannya tentu bukan karena mereka saling mencintai dan dapat mati bersama. Tetapi karena dia menyadari, apabila I Ki Hu sampai mati, selembar nyawa Lie Cun Ju dapat dipertahankan.

Lie Cun Ju lah laki-Iaki yang dicintai Tao Ling. Asal Lie Cun Ju dapat meneruskan kehidupannya dengan tentram, meskipun dia harus terkurung dalam ruangan batu dan terbakar menjadi abu, hatinya rela sekali.

Di pelupuk matanya kembali melintas bayangan Lie Cun Ju. Cuma kali ini tidak ada lagi bayangan I Ki Hu yang mengangkat tangannya yang berwarna merah darah ke atas. Bahkan dalam bayangannya Lie Cun Ju sedang tersenyum.

Senyuman di bibir Tao Ling pun semakin mengembang. Meskipun sadar dirinya pasti akan mati, tetapi hatinya gembira sekali. Sekarang dia merasa I Ki Hu sama sekali tidak menakutkan. Karena paling lama tiga hari laki-laki itu juga akan melebur jadi abu bersama-sama dirinya. Begitu senangnya hati Tao Ling sampai-sampai tertawanya menimbulkan suara terkekeh-kekeh.

I Ki Hu memandang Tao Ling dengan dingin. Wajahnya juga tersenyum. Tetapi senyumnya mengandung kemarahan dan menyeramkan.

Sampai cukup lama, Tao Ling baru mendengar kata I Ki Hu.

"Hu jin, apakah kau mengira aku tidak akan keluar lagi dari ruangan batu ini?"

Tao Ling mendongakkan kepalanya, seakan tidak mendengar apa yang dikatakan suaminya. Sekali I Ki Hu mengeluarkan suara tawa yang dingin dan menyeramkan.

"Hu jin, dugaanmu salah sekali. Aku pasti bisa keluar dari ruangan batu ini. Seluruh keluarga Sang akan kubunuh sampai binatang peliharaan mereka pun tidak ada yang kulepaskan. Demikian pula Lie Cun Ju, dia juga tidak bisa meloloskan diri dari kematian."

Kata-katanya demikian tegas. Seperti mengandung keyakinan penuh. Tetapi Tao Ling hanya menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya atas apa yang dikatakannya. I Ki Hu pun tertawa terbahak-bahak.

Pada saat itu mungkin di dalam hati I Ki Hu memang ada keyakinan bahwa dia bisa keluar dari ruangan batu itu. Karena dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan keluarga Sang di luar.

Di luar ruangan batu, sebatang demi sebatang balok telah disusun setinggi tiga depa. Keluarga Sang menumpuk balok dan kayu-kayu bukan hanya di depan pintu ruangan itu saja, tetapi juga sekelilingnya. Bahkan setiap balok dan kayu sudah direndam sebentar dengan minyak tanah. Mereka menggunakan jenis balok dan kayu dari pohon siong yang paling cepat menyerap minyak. Karena itu, apabila api disulutkan, kayu dan balok itu akan bertahan lama dalam pembakaran. Dan sekarang pun pembakaran telah dimulai.

Rumah batu yang mirip penjara itu sekarang berubah menjadi sarana kremasi. Hanya saja yang dibakar bukan niayat tetapi manusia hidup.

Sang Ling dan anggota keluarga lainnya berdiri di kejauhan. Suara tertawa I Ki Hu yang menyeramkan berkumandang keluar dan terdengar jelas di telinga mereka.

Walaupun saat ini 1 Ki Hu sudah terkurung di dalam ruangan batu, tetapi nama besar iblis ini memang menggetarkan. Suara tawanya saja masih sanggup membuat wajah- wajah keluarga Sang pucat pasi.

Bahkan ada seseorang yang berkata dengan suara berbisik.

"Moay cu, meskipun sekarang kita berhasil mengurungya di dalam rumah batu itu, tetapi kalau dia sampai tidak mati dan berhasil keluar dari sana, seluruh permukaan tempat tinggal keluarga Sang ini pasti rata menjadi tanah dan jangan harap ada satu pun dari kita yang berhasil meloloskan diri."

Sang Ling tidak langsung menyahut, di dalam hatinya juga timbul ketakutan yang sama. Sejak kematian si Kakek berambut putih Sang Hao, secara tidak langsung dia sudah menjadi kepala dalam keluarga Sang. Dia juga tahu I Ki Hu tidak mungkin meloloskan diri dari rumah batu itu. Rasa takut dalam hatinya dan dalam hati setiap anggota keluarganya hanya karena kepandaian I Ki Hu yang terlalu tinggi dan namanya yang terlalu menggetarkan.

"Kalian tidak perlu cemas!" katanya singkat.

Seluruh anggota keluarga Sang memang berkumpul di tempat itu. Dari kejauhan mereka melihat api mulai berkobar. Dari kecil api itu membesar. Kurang lebih satu kentungan kemudian, seluruh rumah batu itu sudah tertutup api. Malam harinya, anggota keluarga Sang masih terus menambah balok-balok dan kayu yang telah dilumuri minyak. Dengan demikian nyala api bukan mengecil bahkan semakin lama semakin besar.

Meskipun si jago merah sudah memperlihatkan kegarangannya dan mengurung seluruh rumah batu itu, lidah api tampak menjilat-jilat dan mengeluarkan suara deruan yang mengerikan hati, tetapi para jago keluarga Sang masih tidak berani beristirahat.

Mereka ingin menunggu sampai I Ki Hu benar-benar tidak bisa meloloskan diri lagi baru hati mereka merasa tenang. Cahaya api menyoroti wajah puluhan orang itu.

Tampak mimik wajah mereka menyiratkan ketegangan dan ketakutan yang tidak terkatakan. Kalau saja I Ki Hu sampai mati, nama keluarga Sang pun akan menjulang tinggi seketika dalam dunia kang ouw.

Tapi bagaimana kalau I Ki Hu tidak mati, berarti seluruh keluarga itu akan musnah oleh pembalasannya.

Mereka terus menunggu. Satu hari telah berlalu. Keadaan di dalam rumah batu hening men-cekam. Tidak terdengar suara sedikit pun. Baru saja anggota keluarga Sang bermaksud menghembuskan nafas lega, tiba-tiba terdengar suara siulan panjang dan kegusaran dari mulut I Ki Hu.

Mereka saling pandang sesaat. Kemudian masing-masing bergegas mengambil balok dan kayu bakar untuk ditimbun di sekeliling rumah batu itu. Bahkan mereka juga menyiram minyak tanah bergentong-gentong di atasnya. Api pun terus berkobar dan berkobar ...

Apakah api yang menjulang tinggi itu bisa membunuh atau membakar hidup-hidup seorang pentolan dunia hitam dan raja iblis yang ditakuti seluruh dunia kang ouw seperti I Ki Hu? Untuk sementara pengarang sengaja menunda kisahnya.

*****

Kita kembali pada I Giok Hong yang tidak sudi berlutut di depan Tao Ling dan memanggilnya ibu. Begitu kerasnya adat gadis yang satu ini sehingga tulang kakinya patah tetap rela memutuskan hubungan ayah dan anak antara dirinya dengan I Ki Hu.

Dengan golok pemberian Seebun Jit yang dijadikan tongkat, dia berjalan tertatih-tatih. Rasa nyeri yang dirasakannya ditahannya kuat-kuat. Akhirnya dia berhasil juga menempuh perjalanan sejauh tiga-empat li.

Sakit yang dirasakannya semakin menjadi-jadi. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya, I Giok Hong benar-benar tidak dapat mempertahankan diri lagi.

la menolehkan kepalanya dan memandang ke sekitarnya. Keadaan di tempat itu sunyi senyap. Ternyata ayahnya tidak mengejarnya atau memintanya kembali. Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman. Hal ini membuktikan betapa angkuh dan kerasnya hati gadis itu. Akhirnya dia duduk di atas tanah, sepasang kakinya yang patah perlahan-lahan dilonjorkan ke depan. Dengan hati-hati dia menyambung kembali tulang itu. Ujung pakaiannya dikoyak dan dijadikan pembalut. Setelah selesai, dia beristirahat sejenak. Kemudian baru meneruskan perjalanannya dengan bantuan golok tadi sebagai penopang.

Ketika hari sudah gelap, dia sampai di tepi sebuah danau. Di sekitar danau itu tumbuh ber-bagai pepohonan. Dan tanah di sekelilingnya juga ditumbuhi rerumputan yang cukup tebal. I Giok Hong berbaring di atas rumput sampai cukup lama. Bau harum yang terpancar dari rerumputan di sekitarnya membuat semangat I Giok Hong bangkit. Dia mendongakkan kepalanya ke atas. Tampak rembulan sudah menggantung di atas langit. Cahayanya menyorot ke permukaan danau sehingga air tampak cemerlang bagai cermin. Dia segera berjalan ke tepi danau. Kemudian dia membungkukkan tubuhnya dan diminumnya air danau yang jernih itu. Setelah rasa dahaganya hilang, dia mengayunkan pecutnya ke tengah danau. Dalam beberapa kali gerakan dia pun mendapatkan tiga ekor ikan yang besar-besar. I Giok Hong mencari ranting-ranting kering untuk menyalakan api unggun. Dibakarnya ikan-ikan itu lalu dimakannya dengan lahap. Selama lima hari berturut-turut dia melakukan hal yang sama.

Sampai hari keenam, dia merasa tulang kakinya sudah mulai pulih. Dia pun sudah bisa meninggalkan tepi danau itu. Sampai saat itu, dia baru merasa bingung. Kemana dia harus pergi? Biar bagaimana, dia tidak dapat kembali ke Gin Hua kok. Dia merantau ke mana saja. Bukankah hal itu juga merupakan pengalaman baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Dengan termangu-mangu I Giok Hong memandangi air danau yang jernih. Hatinya diliputi kebimbangan. Tiba-tiba di dalam riak permukaan air, sepertinya ada seseorang yang berjalan dari arah belakang menghampirinya.

Tadinya I Giok Hong mengira orang itu seorang gembala, penduduk di sekitar tempat itu. Tetapi di bawah sorot matahari, tampak sinar berkilauan terpancar dari pinggang orang itu. Ternyata kilaunya sebatang pedang yang terpantul sinar mentari.

I Giok Hong cepat-cepat membalikkan tubuhnya. Jarak orang itu dengan dirinya tinggal dua depaan. Dia juga dapat melihat jelas wajah orang itu. Ternyata seorang pemuda dengan wajah murung dan tampang pasrah. Siapa lagi kalau bukan Tao Heng Kan?

Melihat Tao Heng Kan muncul di tempat itu, hati I Giok Hong langsung tergetar.

Beberapa hari yang lalu pemuda itu menikam jantungnya dengan pedang. Sekarang bayangan belum pernah terlintas di benaknya itu menjadi terlihat. Sedangkan adik Tao Heng Kan, Tao Ling sudah menikah dengan ayahnya. Ingatan itu pun melintas kembali di benaknya.

Selama lima hari berturut-turut di tepi danau, entah sudah berapa kali I Giok Hong mengucapkan sumpahnya. Dia akan membunuh Tao Ling, kalau bisa dia akan mencincangnya sampai tubuhnya tidak berbentuk. Sekarang, begitu melihat Tao Heng Kan, kebenciannya tiba-tiba saja meluap. Tampaknya Tao Heng Kan juga tidak menyangka bisa bertemu dengan I Giok Hong di tempat itu. Tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya. Begitu melihat I Giok Hong, dia langsung tertegun.

"I ... kouwnio, rupanya kau . . . ada di sini juga," tegur Tao Heng Kan.

I Giok Hong tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di dalam pandangan mata Tao Heng Kan, apa yang dilihatnya mirip dengan sebuah lukisan karya pelukis ternama. Langit yang biru, hari yang cerah, rumput-rumput menghijau, pepohonan melambai-lambai, dan di pinggir danau berdiri seorang gadis yang cantik jelita. Tapi Tao Heng Kan justru tidak tahu apa yang terkandung dalam hati I Giok Hong.

Dengan perasaan melayang-layang, Tao Heng Kan menghampirinya. "I kouwnio, apakah kau . . .menyalahkan diriku . . .?"

I Giok Hong mencibirkan bibirnya. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Tao Heng Kan. "Untuk apa aku menyalahkan dirimu?”

Tao Heng Kan pun tersenyum. Dari balik pakaiannya dia mengeluarkan sebuah kantong kulit.

"Luka yang diderita Lie Cun Ju masih belum sembuh. la ada di tempat yang tidak seberapa jauh. Aku ingin mengambilkan sedikit air minum untuknya."

I Giok Hong memperdengarkan suara tawa yang merdu.

"Air di danau ini toh bukan milikku. Kalau mau ambil, silakan! Tidak perlu menanya dulu padaku."

Wajah Tao Heng Kan langsung merah jengah. Dia berjalan ke tepi danau dan mengisi kantong kulitnya dengan air. I Giok Hong berdiri di sampingnya kurang lebih dua ciok. Tangan kirinya menggenggam golok pemberian Seebun Jit, sedangkan tangan kanannya memegang pecut lemas.

I Giok Hong tahu, Tao Heng Kan pasti tidak menyangka bahwa ia mengandung niat jahat kepadanya.

Asal dia menggerakkan goloknya saja, pasti Tao Heng Kan akan rubuh di atas rumput dengan bersimbah darah. Dan hal ini merupakan urusan yang bukan main mudahnya.

Tetapi bibir I Giok Hong masih tersenyum manis. Tubuhnya atau tangannya tidak bergerak sedikit pun juga. Bukan karena dia tidak ingin melihat kematian Tao Heng Kan, melainkan dia tidak ingin Tao Heng Kan mati dengan cara yang begitu asiik. Dia ingin menyiksa bathin pemuda itu. Dengan demikian kebencian dalam hatinya baru bisa terlampiaskan.

Lagipula, di dalani hatinya masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Baginya, pemuda itu merupakan sebuah 'teka teki' yang rumit. Siapa suhunya yang berilmu tinggi itu? Mengapa dia menyuruh Tao Heng Kan menculik Lie Cun Ju? Ketika Tao Heng Kan mengisi kantong kulitnya dengan air danau, dia sudah mengambil keputusan. Dia tidak akan membiarkan pemuda ini mati begitu saja. Dia akan menyiksanya secara halus dan menyelidiki semua misteri yang menyelubungi dirinya.

Ketika Tao Heng Kan kembali berdiri, dia pun memandang pemuda itu dengan seulas senyuman manis.

"Tao kongcu, kemana gurumu?"

Tao Heng Kan seperti terkejut mendapat pertanyaan yang tidak terduga-duga itu "Ah! Guruku sedang pergi. Aku sendiri tidak tahu dia kemana."

Sekali lagi I Giok Hong tersenyum.

"Tao kongcu, adikmu sudah menikah. Apakah kau sudah mengetahuinya?" Tao Heng Kan terkejut sekali lagi.

"Sudah menikah?" katanya terhenti sejenak, kemudian dia baru melanjutkan kembali, "Menikah dengan siapa?"

"Menikah dengan Gin leng hiat dang, I Ki Hu."

Mata Tao Heng Kan langsung membelalak lebar-lebar. "Menikah dengan ayahmu?"

Wajah I Giok Hong langsung tampak murung.

"Tao kongcu, mengapa kau menyebut I Ki Hu sebagai ayahku? Hubungan kami sudah putus. Jangan mebuat aku marah!"

Tao Heng Kan tertegun mendengar ucapannya.

"Aku tidak tahu urusan yang sebenarnya, harap I kouwnio sudi memaafkan. Sebetulnya apa yang telah terjadi. Dapatkah I kouwnio menjelaskannya?"

I Giok Hong dapat mendengar nada suara Tao Heng Kan yang mengandung perhatian kepadanya. Bibirnya pun menyunggingkan seulas senyuman yang pahit.

"I Ki Hu dengan kejam mematahkan kedua tulang kakiku, tentu saja aku tidak sudi menganggapnya sebagai ayah. Tao kongcu, kita tidak membicarakan urusan ini. Kau tadi mengatakan Lie Cun Ju ada di tempat yang tidak jauh. Dimana dia? Mari kita sama-sama menemuinya!"

Tao Heng Kan pun tidak mendesak lagi. Tadinya dia mengira ucapan I Giok Hong tentang pernikahan Tao Ling dan I Ki Hu hanya gurauan. "Baik!" Mereka segera berjalan bersama meninggalkan tepi danau itu.

Kurang lebih satu li, tampak sebuah bukit yang luas. Di sana tampak dua ekor kuda. Tao Heng Kan segera menghambur ke depan.

"Aih!" Tiba-tiba Tao Heng Kan mengeluh.

***** I Giok Hong bingung melihat tingkahnya. "Ada apa?" tanya I Giok Hong.

Tao Heng Kan menunjuk ke arah gundukan rumput di depannya.

"Ta ... di dia masih tidur di sini. Dia tidak bisa bergerak sedikit pun, sekarang ke rnana perginya?"

Mendengar ucapan Tao Heng Kan, I Giok Hong langsung tertawa getir.

"Orang itu benar-benar sudah menjadi benda pusaka, di sana sini menjadi bahan rebutan. Jangan-jangan ada orang yang menculiknya lagi."

Padahal I Giok Hong hanya asal ucap saja, tetapi bagi pendengaran Tao Heng Kan justru menjadi suatu pertimbangan. Wajahnya langsung berubah.

"I kouwnio, maksudmu ... Lie Cun Ju diculik lagi oleh orang lain?" I Giok Hong benar-benar bingung melihat sikapnya.

"Kalau benar, memangnya ada apa?"

Tao Heng Kan tidak menjawab. Tubuhnya melesat mendaki ke atas bukit. I Giok Hong meng-ayunkan pecut di tangannya. Terdengar suara Tar! yang memecahkan keheningan. Pecutnya sudah menyambar tempat sejauh setengah depaan.

Dengan meminjam tenaga lontaran pecut itu, tubuh I Giok Hong pun mencelat ke udara. Tiga kali berturut-turut tubuhnya menjungkir balik. Ketika melayang turun kembali, dia sudah melewati Tao Heng Kan.

Ketika kedua orang itu sudah sampai di puncak bukit, mereka segera mengedarkan pandangan matanya. Pada jarak kurang lebih dua li di barat daya, tampak debu mengepul tinggi. Tidak syak lagi ada orang yang menunggang kuda dengan kecepatan tinggi menempuh perjalanan.

Hati Tao Heng Kan panik sekali

"I kouwnio, aku ingin mengejar mereka." I Giok Hong memang tidak mempunyai tujuan kemana pun. Lagipula hatinya sudah bertekad untuk menyiksa pemuda ini perlahan-lahan demi membalaskan sakit hatinya akibat diputuskan hubungan antara ayah dan anak gara-gara Tao Ling.

"Aku ikut bersamamu!" kata I Giok Hong segera.

Kedua orang itu segera menuruni bukit. Di dalam dunia bu lim mereka termasuk remaja yang sudah memiliki kepandaian tinggi. Bahkan dapat digolongkan jago kelas satu. I Giok Hong di depan, Tao Heng Kan di belakang. Gerakan tubuh kedua orang itu persis seperti bintang komet yang melesat. Dalam waktu yang singkat mereka sudah mengejar sejauh belasan li.

Ketika mereka baru mulai mengejar, kepulan debu karena derapan kaki kuda lawan masih ter-lihat. Tetapi setelah berlari sejauh belasan li, kepulan debu itu semakin lama semakin jauh. Akhirnya bukan saja tidak terkejar, bahkan bayangannya pun tidak terlihat.

"Tao kongcu, rasanya tidak mungkin terkejar lagi," kata I Giok Hong. Begitu paniknya sehingga selembar wajah Tao Heng Kan merah padam. "Tidak bisa! Kalau tidak terkejar, selembar nyawaku ini pasti hilang."

"Sebetulnya apa yang ada pada diri Lie Cun Ju, mengapa dia menjadi rebutan semua pihak?" tanya I Giok Hong.

Tao Heng Kan menarik nafas panjang.

"Aku juga tidak tahu. Tetapi apabila aku sampai kehilangan pemuda itu, guruku pasti tidak akan mengampuni. Aku mati tidak apa-apa, tetapi kedua orang tuaku pasti akan menemui bencana. Bagai . . . mana baiknya?"

I Giok Hong mendengar suara Tao Heng Kan demikian gugup. Saking paniknya seluruh tubuh pemuda itu dibasahi oleh keringat dingin. Hatinya semakin penasaran. Terpaksa ia mengikuti terus pemuda itu. Mereka kembali berlari sejauh belasan li.

Mereka sudah melintas daerah perbukitan. Bahkan sudah sampai di jalanan yang bertumpur dan becek.

Baru saja mereka berjalan beberapa tindak, tiba-tiba I Giok Hong menarik nafas panjang.

"Tao kongcu, rasanya kita tidak perlu membuang-buang tenaga!"

Sembari berbicara, I Giok Hong menghentikan gerakan kakinya. Tao Heng Kan masih berlari sejauh beberapa depa baru ikut berhenti.

"Kenapa?" tanya Tao Heng Kan. "Tao kongcu, tadi di atas bukit kita memang melihat kepulan debu yang tinggi. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau mendengar suara derap kaki kuda?"

Mendengar pertanyaannya, Tao Heng Kan langsung tertegun. Diam-diam dia mengingat-ingat. Kenyataannya dia memang tidak mendengar derap kaki kuda ataupun ringkikannya.

"Mungkin orang yang menculiknya memiliki ilmu Gin Kang yang sudah mencapai taraf tertinggi karena itulah kita tidak sanggup mengejarnya."

I Giok Hong menggelengkan kepalanya.

"Kalau orang yang menculiknya menguasai ilmu Gin Kang yang tinggi sekali, di saat berlari, dia tidak perlu menginjakkan kakinya di atas tanah, hanya perlu menutul saja. Mana mungkin bisa timbul kepulan debu setinggi itu? Coba kau perhatikan, apakah ini jejak kaki manusia?"

Tao Heng Kan menundukkan kepalanya melihat ke jejak kaki yang ditunjuk oleh I Giok Hong. Karena tanah di situ becek dan berlumpur maka jejak kaki terlihat dengan jelas. Tao Heng Kan memperhatikan dengan seksama. Jejak itu tidak mungkin ditinggalkan oleh kaki manusia. Bentuknya aneh dan arahnya terus lurus ke depan.

Meskipun bentuknya memang mirip dengan kaki manusia, tetapi jauh lebih panjang dan jari-jemarinya besar-besar.

Setelah melihat jejak kaki itu, hati Tao Heng Kan langsung tertegun. Meskipun seseorang yang tubuhnya tinggi besar, tetap tidak mungkin mempunyai tapak kaki yang begitu lebar, panjang bahkan jari-jemarinya besar-besar seperti itu. Lagipula tidak masuk akal bila seseorang berjalan di luaran tanpa memakai sepatu!

"I kouwnio, pengetahuanmu jauh lebih luas. Apakah kau dapat menduga jejak kaki apa yang terlihat ini?" tanya Tao Heng Kan.

I Giok Hong tersenyum mendengarkan pujiannya.

"Tao kongcu, pujianmu terlalu tinggi. Orang seperti aku ini mana pantas dikatakan berpenge-tahuan luas?"

Hati Tao Heng Kan sedang tegang-tegangnya. Ucapan I Giok Hong yang diiringi dengan senyuman manis itu tetap sempat membuat dirinya terpaku sesaat. la menarik nafas panjang.

"I kouwnio, kalau aku tidak berhasil mengejar Lie Cun Ju. Mau tidak mau aku harus bunuh diri." Sembari berkata, tubuhnya langsung berkelebat lagi melesat ke depan.

Dengan tergesa-gesa I Giok Hong mengikuti Tao Heng Kan. Kembali mereka berlari sejauh tiga-empat li. Tanah yang becek sudah dilalui. Di hadapan mereka tampak tanah yang keras dan kering. Jejak kaki yang aneh itu pun putus sampai di situ. Tao Heng Kan hanya termangu-mangu sesaat kemudian berlari lagi. Setelah berlari sejauh belasan li, di hadapan mereka sekarang membentang sebuah sungai yang lebar.

Sungai itu lebarnya hampir mencapai delapan depa. Sampai di situ kembali Tao Heng Kan termangu-mangu beberapa saat. Tingkahnya seperti orang linglung. Kemudian, tampak dia menghunus pedangnya kemudian bermaksud menggorok batang lehernya sendiri.

I Giok Hong yang berdiri di sampingnya sejak tadi sudah melihat sikap Tao Heng Kan yang mencurigakan. Mimik wajah pemuda itu menyiratkan keputusasaan. Maka dari itu, baru saja tangan Tao Heng Kan bergerak, ia segera mengayunkan pecutnya. Tali pecut itu laksana seekor ular hidup yang langsung melilit pedang di tangan Tao Heng Kan. Sret! I Giok Hong menarik pecutnya kuat-kuat sehingga pedang Tao Heng Kan menjauh dari batang lehernya.

"Tao kongcu, usiamu masih sangat muda, mengapa memilih jalan pendek?"

Kembali Tao Heng Kan menarik nafas panjang dan menatap I Giok Hong dengan wajah menyiratkan penderitaan.

"I kouwnio . . . kau tidak bisa menolongku . . . biarkan aku menempuh jalanku sendiri!"

I Giok Hong tertawa sumbang. "Tao kongcu, kau lihat keadaanku ...? Ayahku sendiri sudah tidak menginginkan aku. Tetapi aku masih mencintai kehidupan ini. Sedangkan kau, orang tuamu masih ada, masih ada keluarga yang akan melindungimu, mengapa kau malah memilih jalan kematian?"

Tao Heng Kan termangu-mangu sesaat. la menggeleng-gelengkan kepalanya. Jari tangannya mengendur. Pedang yang digenggamnya pun terlepas dan jatuh dengan menimbulkan suara dentangan di atas tanah. I Giok Hong membungkukkan tubuhnya untuk memungut kembali pedang itu. Dia memasukkan pedang Tao Heng Kan ke dalam sarungnya.

"I kouwnio . . . mengapa kau begitu baik terhadapku?" tanya Tao Heng Kan dengan tampang kebodoh-bodohan.

"Kau juga baik terhadapku," sahut I Giok Hong sambil tersenyum. "Beberapa hari yang lalu, ketika gurumu memerintahkan kau menikam aku, kau toh tidak sudi melakukannya."

"Tapi . . . tapi aku ... toh . . ." Wajah Tao Heng Kan merah padam rnengingat kejadian itu.

"Kau tidak perlu banyak bicara lagi. Sekarang belum tentu kita gagal mengejar orang atau siapa saja yang menculik Lie Cun Ju itu. Lebih baik kita lanjutkan pengejaran kita!"

"Tetapi bagaimana kau bisa tahu arah mana yang diambilnya setelah menyeberangi sungai? Bagaimana kita bisa mengejarnya kalau tidak ada kepastian?" "Bagaimana lagi? Terpaksa kita mengadu peruntungan."

Tao Heng Kan tertawa getir.

"I kouwnio, itu sama artinya dengan nyawa kita sudah hilang dua bagian. Aku benar- benar tidak mengerti, mengapa kau bersedia menempuh bahaya sebesar ini?"

Mendengar ucapan Tao Heng Kan yang tulus, hati I Giok Hong tergerak juga. Di samping itu dia juga tahu bahwa Tao Heng Kan memang seorang laki-laki sejati. Namun I Giok Hong tetap tidak mampu mengubah niatnya.

I Giok Hong menatap Tao Heng Kan lekat-lekat.

"Tao kongcu, apa yang terjadi atas dirimu sudah menjadi buah bibir orang-orang di dunia bu lim. Mereka menganggapmu sebagai tokoh yang misterius. Sebetulnya apa yang menyebabkan kau membunuh Li Po di kediaman Kuan Hong Siau hari itu? Siapa sebenarnya suhumu? Dapatkah kau menceritakannya kepadaku?"

Tao Heng Kan tertegun sesaat. "I kouwnio, seandainya aku tidak bertemu denganmu di tepi sungai itu, mungkin sekarang aku sudah mati bunuh diri. Aih! Sebetulnya aku tidak boleh menutupi masalah ini terhadapmu."

"Betul. Lagipula kita sudah saling mengenal, karena itu seharusnya kita saling terbuka."

Tao Heng Kan menganggukkan kepalanya.

"Tapi, I kouwnio . . . aku khawatir, meskipun aku menceritakan dengan terus terang, belum tentu kau akan mempercayainya."

"Aku memang tidak mudah mempercayai perkataan seseorang, tetapi aku percaya penuh kepadamu."

Wajah To Heng Kan tampak menyiratkan perasaan terharu. Kemudian dia mengedarkan pandangan matanya ke sekitarnya. I Giok Hong tersenyum melihat sikap Tao Heng Kan.

"Tao kongcu, apakah kau khawatir ada yang mendengarkan kata-katamu? Pada jarak sejauh beberapa li dari tempat ini, rasanya tidak ada orang lain lagi."

"I kouwnio, apabila kita tidak berhasil menemukan Lie Cun Ju kembali, guruku pasti akan mencari kita sampai bertemu. Pada saat itu, aku khawatir kita tidak akan terlepas dari tangan kejinya, sebaiknya kau . . ."

Wajah I Giok Hong tampak menyiratkan kelembutan. "Tao kongcu, tidak perlu kau teruskan lagi kata-katamu. Pokoknya aku tidak akan me- ninggalkan kau begitu saja."

Sekali lagi wajah Tao Heng Kan menyiratkan keharuan yang tidak terkatakan. Dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan I Giok Hong erat-erat.

"I kouwnio, suatu hari kelak, apabila aku sudah bisa memutuskan sendiri apa yang akan kulakukan, aku tentu tidak akan melupakanmu."

I Giok Hong tahu kata-kata yang diucapkan Tao Heng Kan ada kaitannya dengan penemuannya yang janggal. Pokoknya, dia yakin Tao Heng Kan akan menceritakan semuanya. Karena itu dia tidak ingin mendesaknya sekarang juga.

"Tao kongcu, mengapa kau bicara seperti itu?" I Giok Hong mendongakkan kepalanya. Tampak sepasang mata Tao Heng Kan sedang menatapnya lekat-lekat. Dari sinar mata pemuda itu terpancar berbagai perasaan. Tanpa disadari jantung I Giok Hong berdegup-degup dengan cepat. Wajahnya jadi merah padam, dia merasa ada perasaan yang ganjil menyelinap dalam hatinya.

Kedua orang itu berdiri saling berhadapan dan bergenggaman tangan untuk beberapa saat.

"I kouwnio, menurutmu arah mana yang harus kita ambil?" tanya Tao Heng Kan setelah melepaskan genggaman tangan gadis itu.

I Giok Hong mendongakkan kepalanya memperhatikan sungai itu. Tampak air sungai mengalir dengan deras. Permukaannya pun lebar dan di sekitarnya tidak tampak perahu satu pun. Meskipun orang yang ilmu Gin Kangnya tinggi sekali dan jago berenang sekali pun, tidak mudah menyeberangi sungai itu. Rasanya siapa pun yang menculik Lie Cun Ju juga tidak menyeberangi sungai itu.

"Tao kongcu, kita terpaksa mengadu nasib saja!" Jari tangan I Giok Hong menunjuk ke sebelah kanan. "Kita ambil arah kanan saja!"

"Baik," sahut Tao Heng Kan.

Mereka pun turun ke sungai dan mengambil arah kanan. Baru saja tubuh mereka masuk ke dalam sungai, tiba-tiba terdengar suara deburan yang keras, air sungai pun bergelombang dan beriak-riak. Kemudian tampak dua sosok makhluk muncul dari dalam sungai.

Salah satu di antaranya memiliki tubuh tinggi besar. Begitu kekarnya hampir menyerupai rak-sasa. Kalau dilihat sepintas lalu makhluk itu seperti manusia. Tetapi kalau diperhatikan dengan seksama, sebenarnya bukan. Pokoknya sejenis makhluk aneh yang boleh dikatakan, monyet bukan, orang hutan pun bukan. Tubuhnya penuh dengan bulu berwarna hitam. Hidungnya mendongak ke atas, dan mulutnya merah seperti bersimbah darah. Tampangnya benar-benar menakutkan.

Tampak makhluk aneh itu memanggul seseorang. Dan orang yang dipangguinya itu ternyata Lie Cun Ju, yang sedang dicari-cari oleh Tao Heng Kan. Yang satunya seperti seorang pendeta. la memakai jubah berwarna kuning. Begitu keluar ke permukaan air, pendeta itu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk paha makhluk aneh itu. Ternyata tenggorokan makhluk aneh itu pun mengeluarkan suara Ho ... ho ... ho ... ho ...! seperti tertawa tapi bukan. Benar-benar menggidikkan bulu roma.

Pendeta itu mengulurkan tangannya dan menurunkan tubuh Lie Cun Ju. Kemudian dia menepuk punggung pemuda itu keras-keras. Lie Cun Ju langsung mengeluarkan suara hoakkk! sejumlah air keluar dari mulutnya. Setelah itu Lie Cun Ju baru membuka matanya.

"Sia ... pa kau? Un . . . tuk a ... pa kau membawa aku kesini?" tanya Lie Cun Ju.

"Kau tidak perlu tanya siapa aku. Kalau aku tidak menolongmu, mungkin selembar nyawamu sulit lagi dipertahankan," jawab pendeta dengan tersenyum.

Lie Cun Ju teringat berbagai peristiwa yang dialaminya selama satu bulan itu. Semua serba aneh dan hampir tidak masuk akal. Sejak dilukai oleh tiga iblis dari keluarga Lung, boleh dibilang dia tidak pernah melewati satu hari pun dengan tenang. Tanpa dapat ditahan lagi dia menarik nafas panjang. Sepasang matanya dipejamkan kembali dan dia pun tidak berkata apa-apa lagi.

Setelah terluka oleh tiga iblis dari keluarga Lung, Lie Cun Ju dibawa oleh I Giok Hong ke wilayah barat. Tetapi baru setengah jalan, gadis itu merasa tidak memerlukannya lagi dan melemparkan tubuhnya yang sekarat di tengah jalan. Kemudian dia ditolong oleh Leng coa sian sing. Lalu dia ditukar dengan lencana Gin leng hiat ciangnya I Ki Hu serta dibawa oleh I Giok Hong ke lembah Gin Hua kok. Ketika I Ki Hu dan putrinya meninggalkan Gin Hua kok, Seebun Jit yang yakin bahwa ia adalah putra sahabat lamanya langsung membawanya ke kamar batu dan memaksanya tidur di atas batu Ban nian si ping. Pada saat itu Lie Cun Ju berpendapat bahwa untuk sementara dirinya bisa meresapi ketenangan.

Tidak disangka-sangka, tak lama setelah Seebun Jit keluar dari niangan batu, terdengarlah suara Krek!

Pada saat itu, Lie Cun Ju sedang memejamkan matanya beristirahat. Hatinya mulai tenang melihat perhatian Seebun Jit terhadap dirinya. Maka ketika mendengar suara itu, dia mengira Seebun Jit kembali lagi. Karena itu pula perhatiannya tidak tertarik. Tetapi dia tetap mengedarkan hawa murni dalam tubuhnya.

Tidak lama kemudian, dia mendengar suara langkah kaki. Dia dapat merasakan seseorang sudah sampai di sampingnya. Perlahan-lahan dia membuka matanya. Setelah melihat dengan jelas, tanpa dapat ditahan lagi mulutnya mengeluarkan suara seruan terkejut. Ternyata orang yang berdiri di sampingnya, bukan lain daripada Tao Heng Kan yang membunuh kokonya di kediaman Kuan Hong Siau.

Tampak Tao Heng Kan berdiri di sampingnya dengan tangan menggenggam sebatang pedang. Matanya yang berkilauan menatap Lie Cun Ju lekat-lekat.

"Apa yang akan kau lakukan?" seru Lie Cun Ju sambil mencoba bangun. Seperti merasa bersalah, Tao Heng Kan mengembangkan seulas senyuman. "Sahabat Lie, aku mendapat perintah dari suhu untuk mengajakmu menemuinya." "Siapa gurumu? Mengapa dia ingin bertemu denganku?" tanya Lie Cun Ju keheranan.

Tao Heng Kan tidak memberikan jawaban. Dia mengulurkan tangannya dan menotok jalan darah di pundak Lie Cun Ju. Pada dasarnya kepandaian Lie Cun Ju memang sudah musnah. Setelah ditotok oleh Tao Heng Kan, dia semakin tidak bisa mengadakan perlawanan. Tao Heng Kan menghunus pedangnya, setelah itu dia memondong tubuh Lie Cun Ju dan dibawanya ke luar dari rumah batu itu.

Begitu menerjang ke luar, Tao Heng Kan langsung berhadapan dengan I Giok Hong. Ketika terjadi perkelahian sengit antara I Giok Hong dengan Tao Heng Kan, Lie Cun Ju masih dipondong oleh pemuda itu. Kemudian Tao Heng Kan berhasil meloloskan diri. Lie Cun Ju hanya merasa dirinya dibawa ke dalam sebuah hutan kecil. Kemudian diletakkannya di atas tanah. Entah berapa lama sudah berlalu, dia baru mendengar suara pembicaraan.

Suara pembicaraan kedua orang itu dekat sekali dengannya, tetapi tubuh Lie Cun Ju tidak dapat bergerak sedikit pun. Karena itu dia tidak tahu siapa mereka.

Telinganya mendengar sebuah suara yang melengking dan menusuk gendang telinga.

"Muridku, dengan susah payah kita baru berhasil mendapatkan tiga Tong tian pao Hong (Naga pusaka penembus langit), mengapa kau sembarangan menggunakannya sebagai senjata rahasia? Seandainya aku tidak keburu datang, pasti tiga batang tong tian pao Hong ini sudah terjatuh ke tangan tiga iblis dari keluarga Lung, atau tangan Leng Coa sian sing. Bukankah timbul kesulitan lagi yang lainnya?"

Suara yang lain ternyata suara Tao Heng Kan.

"Suhu, pada waktu itu keadaan terlalu mendesak. Aku pun tidak berpikir panjang lagi. Seandainya aku tidak menyambitkan tiga batang Tong tian pao Hong itu, nyawaku sendiri sulit dipertahankan, apalagi membawa orang ini menemuimu."

Lie Cun Ju mendengar kedua orang itu membicarakan Tong tian pao Hong, diam-diam hatinya jadi tergerak. Entah di mana dia pernah mendengar cerita tentang apa yang dinamakan naga pusaka penembus langit itu.

Tetapi ingatannya tidak dapat tergugah. Rasanya seperti sebuah lambang atau kode atau bisa jadi nama sejenis senjata rahasia. Sampai letih Lie Cun Ju menguras pikirannya, ia masih tidak sanggup mengingat kembali benda apa yang disebut Tong tian pao Hong itu.

Telinganya kembali mendengar suara yang melengking tadi.

"Tiga buah Tong tian pao liong ini kudapatkan dari kedua orang tuamu. Kemudian aku mendapatkan satu lagi dari saku pakaian Li Po. Sekarang jumlahnya ada empat, berarti kurang tiga lagi. Ha ... ha ... ha .. .!" Kata-kata yang terucap dari mulut Tao Heng Kan justru singkat sekali. "Betul!"

"Sisa yang tiganya ada pada bocah ini. Kau harus mengawasinya baik-baik. Aku ada sedikit urusan sehingga harus pergi. Jangan sekali-sekali membiarkan bocah ini meloloskan diri!"

"Suhu tidak perlu khawatir!" Terdengar Tao Heng Kan menyahut.

Mendengar sampai di sini, hati Lie Cun Ju merasa heran. Karena dia dapat menduga 'bocah' yang dimaksud orang yang suaranya melengking itu pasti dirinya sendiri. Dan orang itu ingin mendapat tiga buah Tong tian pao Hong darinya. Sebetulnya benda apakah Tong tian pao liong itu? Dia sendiri merasa bingung dan tidak mengerti benda apa yang dimaksudkan?

Tetapi ada satu hal yang sudah dimengerti oleh Lie Cun Ju, bahwa kematian kokonya Li Po ternyata ada kaitannya dengan benda bernama Tong tian pao liong itu.

Perasaan Lie Cun Ju seperti bergejolak. Dia mendengar lagi orang itu berkata.

"Kepergianku ini tidak tentu lamanya. Kau boleh membebaskan jalan darahnya, tetapi harus menjaga jangan sampai meloloskan diri, apalagi sampai mati!"

Tao Heng Kan mengiakan sekali lagi. Setelah itu Lie Cun Ju tidak mendengar suara apa-apa lagi. Dia hanya merasa pundaknya ditepuk oleh seseorang. Tahu-tahu totokan di tubuhnya sudah bebas. Secepat kilat Lie Cun Ju membalikkan tubuhnya. Kurang lebih sepuluh depa dari tempatnya berada, tampak sesosok bayangan tinggi kurus sedang melesat pergi bagai terbang. Gerakannya tidak menimbulkan suara sedikit pun sehingga mirip setan gentayangan. Sedangkan orang yang membebaskan jalan darahnya siapa lagi kalau bukan Tao Heng Kan.

Meskipun jalan darah Lie Cun Ju sudah terbuka, tetapi dia tidak mempunyai tenaga sedikit pun untuk melawan Tao Heng Kan. Matanya menatap pemuda itu dengan sinar mengandung kemarahan.

"Untuk . . . apa kau membawa aku kemari?" tanya Lie Cun Ju. Tao Heng Kan memperlihatkan tertawa yang getir.

"Sahabat Lie, aku sama sekali tidak ada niat mencelakaimu, kau tidak perlu khawatir!" Lie Cun Ju mendengus dingin.

"Kalau begitu, mengapa kau membunuh kokoku?"

Tao Heng Kan menarik nafas panjang. Dia memalingkan kepalanya tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Lie Cun Ju melihat dirinya berada di atas sebuah bukit. Di sampingnya juga terdapat dua ekor kuda yang sedang memamah rumput.

Diam-diam Lie Cun Ju berpikir dalam hati. "Seandainya aku menggunakan kesempatan di saat orang itu tidak sadar dengan mencuri seekor kuda untuk melarikan diri, rasanya bisa juga."

Tetapi berpikir sampai di situ, hatinya dilanda kegelisahan kembali. Biarpun bisa melarikan diri, tapi kemana tujuannya?

Sebetulnya Lie Cun Ju mempunyai keluarga yang harmonis. Kedua orang tuanya pun me-rupakan tokoh-tokoh kelas satu di dunia kang ouw yang namanya sudah cukup terkenal. Tetapi sejak Tao Heng Kan membunuh Li Po, kokonya, keluarga mereka terpencar dan akhirnya menjadi terkatung-katung seperti sekarang ini.

Lie Cun Ju menatap bayangan punggung Tao Heng Kan dengan mata menyorotkan dendam membara. Sampai lama sekali dia memandangi pernuda itu, akhirnya dalam benaknya timbul bayangan Tao Ling.

Dia teringat kasih sayang yang diperlihatkan Tao Ling selama ini. Hatinya timbul gejolak yang sulit dilukiskan. Lie Cun Ju hanya dapat menarik nafas panjang. Selama dua malam dia bersama-sama TaoHeng Kan di tempat itu. Di antara mereka tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun.

Pada hari ketiga, Tao Heng Kan tahu luka yang diderita Lie Cun Ju parah sekali. Tidak mungkin dia bisa meloloskan diri. Perasaannya pun menjadi lega. Teringat persediaan air sudah habis, maka dia berjalan menuju tepi danau untuk engambil air. Tidak disangka-sangka dia bertemu dengan I Giok Hong di tempat itu.

Setelah Tao Heng Kan meninggalkannya, timbul niat Lie Cun Ju untuk melarikan diri, Dia berusaha bangun, tetapi tubuhnya lemas sekali. Dengan susah payah dia baru berhasil berdiri, kepalanya terasa pening dan pandangan matanya langsung berkunang- kunang. Bahkan dia tidak sanggup berdiri tegak. Ketika ia bermaksud memaksakan diri melangkah ke depan beberapa langkah untuk bersandar di batang pohon, tiba-tiba dari belakangnya muncul dua sosok bayangan.

Ketika mata Lie Cun Ju sempat melihat dua sosok bayangan itu dengan jelas, dia sangat terkejut. Ternyata yang dilihatnya itu yang satu seorang pendeta, sedangkan yang satunya lagi sejenis makhluk aneh yang belum pernah ia temui seumur hidupnya.

Lagipula bentuk makhluk itu begitu aneh. Bahkan Lie Cun Ju tidak pernah tahu bahwa di dunia ini ada jenis makhluk seperti itu.

Tadinya Lie Cun Ju ingin berteriak, tetapi baru saja mulutnya membuka, pendeta berjubah kuning yang muncul bersama-sama makhluk aneh itu sudah berkelebat ke depannya dan menotok jalan darah Lie Cun Ju. Pemuda itu pun tidak dapat bergerak lagi.

Makhluk yang mirip manusia tapi bukan manusia itu langsung membungkukkan tubuhnya dan mengangkat Lie Cun Ju di pundaknya. Kemudian mereka melesat ke depan. Tidak lama kemudian, mereka sampai di tepi sungai, dan meloncat ke dalamnya. Di dalam sungai, Lie Cun Ju memaksakan diri untuk menutup pernafasannya. Ketika ia mulai tidak kuat dan sudah meneguk air sungai itu beberapa tegukan, tiba-tiba makhluk yang menyeramkan dan pendeta berjubah kuning itu menyembulkan kepalanya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pendeta itu langsung berkelebat menotok jalan darah I Giok Hong dan Tao Heng Kan. Apabila dalam keadaan biasa, pasti jalan darah mereka tidak semudah itu bisa tertotok. Namun pada saat itu mereka sedang terkesima memandangi makhluk aneh yang muncul dari permukaan air itu. Maka dalam keadaan tanpa dapat bertahan lagi jalan darah mereka langsung tertotok.

Kemudian pendeta itu memberi isyarat kepada si makhluk aneh. Mereka memondong tubuh Lie Cun Ju kembali dan dibawanya lari meninggalkan tempat itu. Kira-kira menempuh perjalanan belasan li. Mereka baru berhenti. Makhluk aneh itu menurunkan tubuh Lie Cun Ju.

Pendeta itu menatap Lie Cun Ju sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Benar-benar keberuntungan bagi kami bahwa kau tidak sampai mati."

Hati Lie Cun Ju kesal dan marah. Dia mendengus dingin "Aku malah menganggap lebih baik mati," kata Lie Cun Ju. Pendeta itu mengeluarkan seruan terkejut.

"Akh! Kau sama sekali tidak boleh mati!"

Pada saat itu, dalam hati Lie Cun Ju memang berpendapat lebih baik mati daripada hidup tersiksa seperti itu. Apabila saat itu dia mengetahui bahwa Tao Ling telah menikah dengan Gin leng hiat ciang, I Ki Flu, mungkin dia langsung bunuh diri saking kecewanya.

Yang membuat Lie Cun Ju mempertahankan kehidupannya justru mengingat cinta kasih yang sudah terjalin antara ia dengan Tao Ling. Karena itu pula, setelah mendengar ucapan si pendeta berjubah kuning, dia langsung tertawa getir.

"Mengapa aku tidak boleh mati?"

Mimik wajah pendeta itu berubah menjadi serius.

"Mungkin kau ketua agama kami. Kalau kau sampai mati, ribuan bahkan laksaan umat agama kami berada di bawah bimbingan siapa lagi?"

Mendengar kata-kata pendeta itu, Lie Cun Ju semakin heran. Jangan-jangan pendeta ini otaknya kurang waras, pikirnya diam-diam.

"Apa yang kau maksudkan?" tanya Lie Cun Ju. Tiba-tiba pendeta itu mengangkat tangannya dan menampar pipinya sendiri sebanyak dua kali.

"Urusan sebesar ini, mengapa aku membocorkannya?" gumam pendeta itu sambil tersenyum kepada Lie Cun Ju. "Apa yang kukatakan tadi, anggap saja kau tidak mendengarnya."

Hati Lie Cun Ju merasa geli. Dia semakin yakin dengan pendapatnya sendiri bahwa pendeta itu memang gila. Karena itu pula, dia tidak mengungkit persoalan tadi lagi.

"Sekarang kemana kau akan membawa aku?"

"Di dalam sekte agama kami, ada seorang lhama tua dan dua orang Coan lun ong (semacam penasehat) yang sedang menunggumu. Aku harus membawa kau menemui mereka."

Lie Cun Ju semakin tidak mengerti apa yang sedang dihadapinya. Tetapi karena ia sudah jatuh ke dalam tangan mereka, terpaksa dia mengikuti nasibnya saja. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Pendeta itu kembali memberi isyarat tangan agar memondong tubuh Lie Cun Ju. Mereka terus menuju barat.

Sedangkan I Giok Hong dan Tao Heng Kan mengambil arah yang berlawanan setelah jalan darah mereka berhasil dibebaskan sendiri. Mereka tidak tahu bahwa pendeta itu memang sengaja menyesatkan mereka. Mula-mula pendeta dan makhluk aneh berlari ke arah timur, tapi kemudian memutar ke barat. Tentu saja tujuannya agar mereka tidak berhasil menemukan Lie Cun Ju.

Pendeta berjubah kuning itu menguasai Gin Kang yang sangat tinggi. Selama beberapa hari mereka menempuh perjalanan dengan berlari. Tidak tampak keletihan sedikit pun yang tersirat di wajahnya. Hal ini membuktikan bahwa tenaga dalamnya pun sangat tinggi.

Diam-diam Lie Cun Ju menghitungi hari-hari yang sudah mereka lalui. Sampai saat itu, mereka sudah menempuh perjalanan selama delapan belas hari. Setiap hari mereka hanya menyantap ransum kering. Jalan yang ditempuh berkelok-kelok karena melalui daerah pegunungan. Mereka tidak pernah bertemu dengan seorang manusia pun.

Sampai hari kesembilan belas, mereka melewati sebuah gunung yang menjulang tinggi. Lie Cun Ju mendengar suara riak air. Dia segera membuka matanya. Ternyata mereka sudah sampai di tepi sebuah sungai. Air sungai itu mengalir dengan deras.

Ombaknya tampak bergulung-gulung tinggi. "Sungai apa ini?" teriak Lie Cun Ju.

"Sungai Yalu Campu," sahut pendeta berjubah kuning itu. Kemudian dia menjatuhkan dirinya berlutut dan menyembah ke arah sungai itu.

Lie Cun Ju terkejut sekali. Dia pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa di perbatasan Tibet ada sebuah sungai besar yang dinamakan Yalu Campu. Apakah ia sekarang sudah mencapai perbatasan Tibet? Baru saja Lie Cun Ju ingin mengajukan pertanyaan lagi, tiba-tiba dari tempat tidak seberapa jauh berkumandang suara dengungan. Dan pendeta berbaju kuning itu pun mengeluarkan suara siulan sebagai sahutan.

Tidak lama kemudian, tampak empat sosok bayangan melesat ke arah mereka. Setelah dekat, Lie Cun Ju dapat melihat bahwa keempat orang itu juga para pendeta berjubah kuning. Bedanya di lengan jubah mereka terdapat sulaman dari benang emas.

"Apakah orangnya sudah berhasil disambut?" tanya keempat pendeta itu. "Sudah," sahut pendeta yang membawa Lie Cun Ju.

Keempat pendeta itu segera mengeluarkan lembaran kertas seperti mata uang dan diberikannya kepada pendeta yang membawa Lie Cun Ju. Kemudian keempat pendeta itu menghampiri Lie Cun Ju. Dengan masing-masing mengangkat sebuah anggota tubuh Lie Cun Ju, mereka membawanya berlari secepat kilat.

Sejak awal hingga akhir, Lie Cun Ju tidak mengerti apa sebenarnya yang diinginkan para pendeta itu. Tapi tampaknya mereka tidak berniat jahat. Karena itu, Lie Cun Ju pun tidak memberikan tanggapan apa-apa. Mereka terus berlari sampai belasan li.

Arah yang diambilnya selalu tepi sungai.

Di sepanjang jalan, pandangan mata Lie Cun Ju terus memandangi permukaan sungai. Dia merasa kagum sekali melihat gelombang air yang begitu tinggi dan alirannya yang demikian deras. Di daerah Tiong goan mungkin sulit menemukan sungai seperti itu.

Kurang lebih setengah kentungan kemudian, keempat pendeta itu menghentikan langkah kakinya. Lie Cun Ju segera mendongakkan kepalanya. Dia melihat di tepi sungai terdapat sebuah rakit yang sangat besar. Di tengah-tengah rakit itu terpancang sebuah layar. Di samping atau tepatnya depan rakit itu terdapat sebuah kemah yang besar. Tampak dari dalam kemah itu keluar beberapa orang yang juga berjubah pendeta.

"Apakah orangnya sudah berhasil disambut?" tanya orang-orang yang keluar dari kemah itu.

Keempat hwesio yang membopong Lie Cun Ju segera menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan menghampiri tenda besar itu. Kemudian perlahan-lahan menurunkan Lie Cun Ju. Keempat pendeta itu membungkukkan tubuh mereka rendah-rendah.

"Lapor kepada Tianglo, dan Coan lun ong berdua, orang yang dicari sudah berhasil disambut!" Lie Cun Ju semakin bingung. Sudah jelas kedatangannya ke tempat ini diculik oleh seorang pendeta dan makhluk aneh tadi, tapi mengapa mereka selalu menggunakan kata-kata disambut?

Baru saja ucapan mereka selesai, dari dalam tenda berkumandang suara lantang. "Undang orangnya masuk ke dalam!"

Keempat pendeta itu melirik lie Cun Ju sekilas kemudian menggelengkan kepalanya. "Lapor Tiang lo, tubuh pemuda ini terluka parah, aliran darahnya membalik, tidak bisa ber-jalan sedikit pun."

Dari dalam tenda tidak terdengar suara sahutan. Sesaat kemudian terdengar lagi orang yang di dalam kemah itu berkata.

"Kalau begitu, kalian papah dia ke dalam!"

Keempat orang itu mengiakan serentak. Setelah itu mereka segera mengangkat tubuh Lie Cun Ju dan dipondongnya ke dalam tenda.

Perabotan yang ada di dalam tenda sederhana sekali. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah meja sembahyang. Di atas meja itu ada patung Buddha yang terbuat dari emas. Sinarnya berkilauan. Di hadapan patung itu terdapat sebuah tempat pedupaan yang dipasangi beberapa batang hio wangi. Bau harum semerbak menerpa indera penciuman. Di samping tempat pedupaan tampak menyala dua batang lilin merah.

Suasananya berkesan misterius. Di depan meja itu terdapat tiga buah kursi.

Di setiap kursi duduk masing-masing seorang pendeta. Yang di tengah-tengah usianya sulit diterka, tetapi tampak sudah tua sekali. Sedangkan kedua pendeta yang ada di sisi kanan kirinya juga berusia di atas enam puluhan.

Diam-diam Lie Cun Ju berpikir, rombongan para pendeta ini tampaknya semua menguasai ilmu silat. Ketiga orang yang duduk di atas kursi itu mungkin pemimpin mereka. Kalau ditilik dari usianya yang sudah begitu lanjut, ilmu kepandaian mereka pasti tinggi sekali.

Ketika Lie Cun Ju dibawa masuk, ketiga pendeta itu pun masing-masing membuka mata mereka. Saat itu juga seakan ada sinar yang menyusup ke dalam tenda. Had Lie Cun Ju bukan main tercekatnya.

"Tenaga dalam mereka benar-benar sudah mencapai taraf kesempurnaan. Sinar mata mereka saja bisa menimbulkan cahaya yang berkilauan."

"Ci sicu tentu letih setelah menempuh perjalanan yang demikian jauh. Silakan duduk!" ucap pendeta yang duduk di tengah dengan perlahan-lahan.

Saat itu juga ada seseorang yang membawa kursi ke hadapan Lie Cun Ju. Ternyata hampir saja tubuh Lie Cun Ju terkulai jatuh ketika pegangan keempat pendeta tadi dilepaskan. Pikiran Lie Cun Ju semakin rumit, mengapa pendeta tua itu menganggapnya berasal dari marga Ci seperti halnya Seebun Jit?

Setelah duduk bersandar, Lie Cun Ju merasa lebih nyaman. Tetapi bibirnya justru tertawa getir.

"Taisu, kau sudah berbuat kesalahan. Aku she Lie bukan she Ci," kata Lie Cun Ju dengan tawa getir. Pendeta tua itu tampaknya terkejut sekali. Matanya langsung mengalih kepada etnpat pendeta tadi. Keempat orang itu pun bergegas keluar dari tenda dan tidak lama kemudian datang lagi dengan membawa pendeta pertama yang menculik Lie Cun Ju.

"Tu Mo yang mengajak pemuda itu kemari, sedangkan kami tidak tahu apa-apa," kata salah seorang dari keempat pendeta itu.

"Tiang lo, kau lihat sendiri!" sahut Tu Mo panik. Dia mengeluarkan selembar lukisan dari balik jubahnya. Lukisan itu terbuat dari bahan kulit kambing, tampaknya sudah lama sekali karena gambarnya pun sudah lusuh. Dia membeberkan lukisan yang tadinya tergulung itu.

Lie Cun Ju mendongakkan kepalanya untuk mengintip gambar apa yang diperlihatkan pendeta itu. Hatinya langsung terkesiap seketika.

Rupanya di atas kulit kambing itu terdapat lukisan seseorang. Dan orang itu ternyata dirinya sendiri.

Rasa terkejut Lie Cun Ju bukan tak beralasan, Coba bayangkan saja, dia tidak merasa pernah mengenal orang-orang itu. Bahkan bertemu pun tidak. Sedangkan asal usul mereka saja ia pun tidak tahu.

Tetapi, mereka justru mempunyai lukisan wajah Lie Cun Ju. Pendeta tua yang duduk di tengah-tengah itu segera mengambil lukisan kulit kambing itu dari tangan pendeta yang menculik Lie Cun Ju. Matanya menatap ke arah lukisan beberapa saat, kemudian beralih lagi ke wajah Lie Cun Ju. Seakan-akan dia sedang memperbandingkan kedua wajah yang dilihatnya.

Hati Lie Cun Ju diliputi kecurigaan yang tidak terkatakan. Pendeta tua itu mungkin merasa sudah cukup meneliti lukisan itu. Dia menyodorkannya kepada kedua lhama di sisi kanan kirinya secara bergantian. Kedua orang itu menghahiskan waktu kurang lebih setengah kentungan untuk meneliti. Kemudian tampak mereka menganggukkan kepalanya perlahan-Iahan.

"Ci sicu, kami mengundang Anda kemari tanpa niat buruk sedikit pun. Mengapa Anda tidak mengakui nama Anda sendiri?" tanya pendeta yang duduk di tengah.

"Memang aku bukan she Ci. Tetapi kalian terus mendesak aku dengan mengatakan bahwa aku she Ci. Siapa yang sudi marganya diubah secara sembarangan?"

Pendeta itu tersenyum tipis. Kerutan di wajahnya seperti air yang beriak-riak. Dia menyodorkan lukisan tadi ke hadapan Lie Cun Ju.

"Ci sicu, mohon tanya, siapa orang ini?"

Lie Cun Ju menyambut lukisan itu Iain dipandanginya dengan seksama. Tanpa dapat ditahan lagi, wajahya menyiratkan senyuman yang pahit.

"Ini memang aku." "Nah . . . sebetulnya orang yang ada dalam lukisan ini, bukan engkau. Tetapi tocu dari Hek Cui to semasa mudanya. Jadi lukisan itu sudah lama sekali, mungkin lebih dari dua puluh tahun. Kalau kau memang bukan keturunan tocu Hek Cui Ut itu, mengapa wajah kalian bisa demikian mirip?"

Mendengar ucapan pendeta tua itu, tiba-tiba ingatan Lie Cun Ju melayang kepada Seebun Jit. Sebetulnya kalau diingat kembali, apa yang dikatakan pendeta tua ini sama halnya dengan apa yang dikatakan Seebun Jit tempo hari. Sedangkan persoalan ini, Lie Cun Ju sendiri tidak jelas. Kecuali menanyakannya kepada pasangan suami istri Lie Yuan secara langsung.

"Manusia ada yang mirip, benda pun ada yang sama. Kedua orang tuaku masih hidup. Mana mungkin aku ini putra tocu Hek Cui !o seperti yang taisu katakan?"

Sepasang alis pendeta tua itu menjungkit ke atas.

"Mungkin ketika kecil kau sempat terlantar, kemudian kau diambil oleh orang tuamu yang sekarang dan diasuhnya hingga besar.Tetapi karena berbagai alasan, mereka tidak pernah berterus terang kepadamu," kata pendeta itu kembali.

Diam-diam Lie Cun Ju berpikir, urusan ini rumit sekali. Biarpun seratus kali didebatkan tetap saja tidak akan jernih persoalannya. Kecuali bertemu langsung dengan kedua orang tuanya. Karena itu, Lie Cun Ju pun tidak memprotes apa-apa lagi. "Kita kesampingkan dulu masalah itu. Sekarang dapatkah Taisu menjelaskan maksud Taisu menyuruh orang membawa aku kemari?"

Pendeta itu tersenyum. "Lo ceng tahun ini sudah berusia seratus dua belas tahun. Mana mungkin bisa salah mengenali orang. Tahukah sicu bahwa Anda ini sebenarnya merupakan reinkarnasi dari pimpinan kuil kami, yakni ketua Dan Juel."

Diam-diam Lie Cun Ju menggerutu dalam hati. "Bagus sekali. Sekarang aku malah dikatakan reinkarnasi dari ketua kalian. Kalian boleh percaya dengan segala macam reinkarnasi atau tidak, memangnya aku juga harus ikut-ikutan percaya." "Kata-kata Taisu tanpa bukti sedikit pun. Mana mungkin orang seperti aku ini reinkarnasi dari pemimpin kalian yang pasti sudah almarhum." Pendeta tua itu tidak marah. Bibirnya malah menyunggingkan seulas senyuman.

"Kami merupakan umat dari Oey kau di perbatasan Tibet. Sejak pendiri agama kami ribuan tahun yang lalu, kami sudah mempercayai adanya reinkarnasi. Memang waktunya tidak dapat ditentukan kapan reinkarnasi dari pemimpin yang terdahulu bisa lahir ke dunia. Misalnya pemimpin kami Dan Juel. Beliau lahir kembali sembilan generasi kemudian dari pemimpin sebelumnya. Dan sampai sekarang ini, sudah tujuh puluhan tahun. Ternyata kami baru berhasil menemukan engkau. Dalam agama kami, setiap pemimpin yang wafat pasti akan terjadi reinkarnasi. Dari dulu sampai sekarang memang sudah demikian kodratnya. Mungkin sampai ribuan tahun kelak pun tetap sama."

"Rupanya kalian ini para lhama dari Oey kau. Dengan demikian persoalannya semakin tidak mungkin," ucap Lie Cun Ju sambil menatap pendeta tua itu dengan tercengang. "Mengapa tidak mungkin?" tanya pendeta tua.

"Taruhlah aku memang putra kandung tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu. Meskipun pemimpin kalian bisa reinkarnasi, mana mungkin lahirnya begitu jauh di wilayah Tiong goan?"

Sikap pendeta tua itu serius sekali.

"Kesanggupan Buddha hidup tidak dapat diukur dengan kebiasaan manusia. Buddha hidup lebih sakti dari dewa mana pun. Untuk menempuh jarak sejauh apa pun hanya dalam waktu sekejapan mata. Meskipun jarak antara perbatasan Tibet ini dengan Hek Cui to sangat jauh. Tetapi Buddha hidup dapat melakukannya dengan mudah," jawab pendeta tua dengan sikap serius.

Diam-diam Lie Cun Ju berpikir dalam hati. "Pendeta tua ini mempunyai keyakinan tersen-diri. Mungkin dalam agama mereka memang ada pelajaran semacam itu.

Biarpun memprotes selama seratus tahun, tetap saja tidak bisa menggoyahkan pendirian mereka ...

Baru saja Lie Cun Ju mengambil keputusan untuk menghadapi pendeta tua itu dengan cara yang lain, dia mendengar orang itu sudah berkata lagi

"Tujuh puluh tahun yang lalu, menjelang akhir hidupnya, pemimpin kami Dan Juel menunjukkan jari telunjuknya ke arah utara. Sebagai tiang lo dalam sekte agama kami, aku segera mengajak beberapa orang sesepuh aliran agama kami untuk mencari bayi yang merupakan reinkarnasi dari Buddha hidup. Ternyata sampai berpuluh-puluh tahun kami tetap tidak berhasil menemukannya. Ini merupakan pengalaman yang tidak pernah terjadi dalam sejarah kami."

Perhatian Lie Cun Ju agak tertarik juga mendengar ceritanya "Lalu?" sahutnya.

"Aku dan kedua Coan lun ong ini benar-benar kewalahan. Akhirnya kami memohon petunjuk dari roh Buddha hidup."

Diam-diam hati Lie Cun Ju merasa geli.

"Apakah Buddha hidup memberikan petunjuknya kepada kalian?"

"Tentu saja ada. Setelah selesai berdoa dan membaca kitab suci, tiba-tiba muncul seekor mer-pati putih. Dengan mengikuti arah terbang merpati itu kami sampai di pulau Hek Cui to. Kebetulan istri tocu pulau itu sedang melahirkan. Dan hari lahir anak itu sama dengan hari lahir Buddha hidup."

"Apakah semuanya sama? Maksudku, dari hari tanggal dan jam kelahiran?" "Tepat. Tidak ada perselisihan sedikit pun," sahut pendeta tua itu. Bagi Lie Cun Ju, meskipun urusan ini agak janggal, tetapi mungkin saja hanya kebetulan. Di wilayah utara memang banyak merpati putih. Karena di perbatasan Tibet jarang menemuinya, maka mereka langsung menduga merpati putih itu merupakan petunjuk yang diberikan oleh Buddha hidup.

Lagi pula dunia ini luas sekali, setiap detik tentu ada bayi lahir. Mengapa harus heran apabila ada bayi yang lahir dalam waktu yang sama dan tanggal serta bulan yang sama dengan Buddha hidup.

"Pada waktu kedatangan kami, bayi itu baru berusia dua puluh tiga hari. Kami segera menjelaskan maksud kedatangan kami untuk mengambil bayi itu. Tetapi ternyata Tocu Hek Cui to itu tidak mengijinkan."

Lie Cun Ju berpikir dalam hati. Justru aneh kalau dia memberikan bayinya begitu saja. "Karena kandungan istri tocu Hek Cui to itu pernah dipinjam sebagai wadah lahirnya reinkar-nasi Buddha hidup kami, maka kami tidak berani memaksa dengan kekerasan. Akhirnya secara diam-diam kami membuat lukisan wajah tocu Hek Cui to itu dan bersiap akan kembali lagi sewaktu-waktu. Tidak disangka-sangka, belum lagi kami sampai di perbatasan Tibet, kami sudah mendengar berita bahwa seluruh keluarga tocu Hek Cui to itu tertimpa musibah. Hanya satu yang mendapat perlindungan sehingga tidak ikut menjadi korban, yakni bayi kecil itu."

"Kalau begitu, keselamatan si bayi berkat lindungan Buddha hidup kalian?" tanya Lie Cun Ju dengan tidak dapat menahan diri untuk tertawa geli.

"Tentu saja. Begitu mendengar berita itu, kami tidak jadi kembali ke perbatasan Tibet, bahkan bergegas menuju Hek Cui to. Tetapi setelah menghabiskan waktu hampir setahun lamanya, kami tidak berhasil menemukan bayi itu. Kami terpaksa kembali ke Tibet. Tetapi ada beberapa orang lhama yang mewakili kami untuk terus berusaha menemukan bayi itu. Sampai tahun yang lalu, baru ada wakil kami yang melaporkan bahwa mereka melihat seorang pemuda yang wajahnya mirip sekali dengan tocu Hek Cui to di masa mudanya. Karena itu pula, kami bergegas menuju ke Tiong goan untuk mencari pemuda itu."

Lie Cun Ju merenung sejenak. Rasa-rasanya tahun yang lalu dia memang pernah bertemu dengan seorang pendeta berjubah kuning. Pasti pendeta itu segera kembali ke perbatasan Tibet dan memberikan laporan kepada lhama tua ini.

"Apa yang dikatakan Taisu menarik sekali. Tetapi sejak lahir sampai sekarang yang aku ketahui orang tuaku bermarga Lie, bukan Ci," kata Lie Cun Ju.

"Hal ini mudah sekali. Setiap kali Buddha hidup dilahirkan kembali, demi menjaga terjadinya kesalahan, kami harus mengujinya. Sekarang ini kami pun belum dapat memastikan bahwa sicu adalah reinkarnasi dari Buddha hidup kami. Mengapa sicu tidak ikut saja kami kembali ke kuil untuk mengetahui kebenarannya?"

Toh aku sekarang sudah berada di perbatasan Tibet, andaikata ingin menolak juga tidak mungkin. Mengapa tidak mengikuti kemauan mereka saja? Pikir Lie Cun Ju dalam hati. Tetapi setelah direnungkan kembali, dia mengingat kondisi tubuhnya yang sedang menderita luka parah. Entah berapa lama lagi ia dapat mempertahankan kehidupannya. Tanpa dapat ditahan lagi Lie Cun Ju menarik nafas panjang.

"Sebetulnya aku tidak keberatan berkunjung ke kuil kalian untuk mengadakan pengujian. Anggap saja sedang berpesiar. Tetapi malangnya, dua bulan yang lalu aku terluka parah. Mungkin tidak dapat menempuh perjalanan jauh, sedangkan aku sendiri tidak tahu berapa lama lagi aku dapat mempertahankan diri."

Pendeta tua itu memperhatikan Lie Cun Ju dengan seksama. Bibirnya tersenyum. "Soal itu mudah diatasi."

Perlahan-lahan dia bangkit dari tempat duduknya. Jangan dilihat usianya yang sudah tua renta dan tubuhnya yang kurus kering. Ketika berdiri sikap gagahnya masih terlihat jelas. Tiba-tiba dia melangkah ke depan Lie Cun Ju. Tangannya menjulur ke depan dan menekan dada serta punggung pemuda itu.

Baru saja kedua tangannya menekan sebentar, tanpa disadari mulut Lie Cun Ju menjerit.

Rupanya sepasang tangan pendeta tua itu begitu panasnya seperti batangan besi yang dibakar di atas api membara. Meskipun Lie Cun Ju sempat menjerit satu kali, tetapi dia segera sadar bahwa pendeta itu sedang menyembuhkan luka dalamnya dengan mengerahkan tenaga murni dalam tubuhnya.

Cepat-cepat dia memejamkan mata dan duduk diam-diam. Ditahannya rasa panas yang menyengat itu. Tidak lama kemudian, hawa yang terpancar dari sepasang telapak tangan pendeta tua itu tidak begitu panas lagi. Bahkan lambat laun terasa ada serangkum hawa hangat yang mengalir dalam tubuhnya. Hal ini membuat hawa murni dalam tubuh Lie Cun Ju yang tadinya tidak dapat diedarkan menjadi lancar kembali.

Kurang lebih dua kentungan kemudian, hawa murni dalam tubuh Lie Cun Ju sudah dapat mengalir dengan lancar. Tetapi pendeta tua itu masih terus mengerahkan hawa murninya. Lie Cun Ju merasa tubuhnya nyaman sekali. Dalam waktu yang singkat, bukan saja tenaganya pulih kembali, bahkan lebih hebat dari sebelumnya.

Kalau digantikan orang lain yang mengalami kejadian itu, tentu ia akan membiarkan pendeta tua itu terus menyalurkan hawa murninya karena mengetahui tenaga dalam orang tua itu sudah mencapai taraf kesempurnaan. Tetapi Lie Cun Ju bukan jenis manusia seperti itu. Dia sadar hawa murni pendeta tua itu sudah terkuras banyak untuk menyembuhkannya. Ia tidak ingin melihat pendeta tua itu mengalami kerugian terlalu banyak, karena itu dia segera membuka matanya dan berkata.

"Terima kasih, Taisu. Tenaga dalamku sudah pulih kembali."

Pendeta tua itu tersenyum lembut. Sepasang tangannya dilepaskan dan menggeser satu langkah. Cepat-cepat Lie Cun Ju meloncat bangun dan berjalan ke depan beberapa langkah. Ternyata tenaga dalamnya sudah lebih tinggi dari sebelumnya. Hati Lie Cun Ju kagum sekali terhadap kekuatan tenaga dalam pendeta itu. Menurut adat istiadat dunia bu lim, sudah seharusnya Lie Cun Ju menjatuhkan diri berlutut di depan pendeta tua itu sebagai pernyataan terima kasihnya. Dia segera menekuk kedua lututnya, tetapi belum sempat niatnya tercapai, tiba-tiba ada serangkum kekuatan yang tidak berwujud menahan gerakannya.

Melihat pendeta tua itu hanya mengibaskan lengan bajunya sedikit untuk menahan gerakan tubuhnya, hati Lie Cun Ju semakin kagum. Ia memandangi wajah si pendeta tua yang sudah penuh dengan kerutan beberapa saat lamanya.

"Taisu, seandainya aku memang penjelmaan dari Buddha hidup kalian, apakah kalian semua harus menuruti perintahku?"

"Tentu saja. Sebagai seorang pemimpin dalam kuil kami, pasti mempunyai kekuasaan yang tiada duanya. Pokoknya setiap anggota agama kami tidak ada yang berani menentang perintah yang diturunkan." Pendeta itu menjawab sambil tersenyum lembut.

Hati Lie Cun Ju langsung tergerak. Seandainya tanpa alasan yang jelas tiba-tiba dia diangkat menjadi pemimpin agama ini, bukankah dia akan mempunyai banyak sekali bawahan yang berilmu tinggi? Mungkin pemimpin mereka yang dahulu tidak pernah menginjakkan kakinya di wilayah Tiong goan. Karena itu tidak ada yang mengetahui kehebatan mereka. Seandainya ia menjadi pemimpin mereka, biarpun ilmu kepandaiannya sendiri tidak mengalami kemajuan sedikit pun, tetapi mungkin namanya bisa disejajarkan dengan tokoh-tokoh kelas satu lainnya.

Pikiran Lie Cun Ju melayang-layang. Berpikir sanipai di sini, dia menjadi geli sendiri. Karena tadi dia masih tidak mempercayai apa yang dinamakan Buddha hidup menjelma kembali segala macam, sekarang dia bahkan mempunyai minat untuk menjadi pemimpin mereka. Lie Cun Ju segera membuang pikiran itu jauh-jauh.

"Tadi Taisu mengatakan bahwa benar atau tidaknya penjelmaan Buddha hidup harus melalui pengujian. Entah dengan cara bagaimana Taisu mengujinya?"

"Kami mempunyai keyakinan bahwa seseorang yang merupakan penjelmaan Buddha hidup tidak mengingat kembali masa lampaunya. Meskipun demikian, pasti ada tertinggal naluri yang tajam akan benda kesukaannya semasa hidup. Sedangkan semasa hidup Buddha hidup, beliau sangat menyukai sebuah kitab. Boleh dikatakan kitab itu tidak pernah terpisah darinya sedetik pun. Di dalam kuil, kami sudah menyiapkan dua puluh kitab yang dilihat dari luar bentuknya sama. Anda hanya boleh memilih satu di antaranya dan hanya dengan sekali gerakan saja. Apabila pilihan Anda benar, maka tidak diragukan lagi bahwa Andalah penjelmaan Buddha hidup kami dan akan mendapat sanjungan dari seluruh umat kuil kami."

Mendengar keterangan pendeta itu, Lie Cun Ju langsung tertawa getir. Dalam dua puluh kitab yang bentuknya dari Iuar sama semua, dalam sekali gerak harus mengambil satu yang tepat. Memangnya itu pekerjaan mudah? Lebih baik lupakan saja ingatan ingin menjadi pemimpin mereka. Toh ia sudah mendapatkan keuntungan besar dari pendeta tua itu. Mengapa masih timbul niat serakah dalam hati? Lagipula, seandainya ia menjadi pimpinan mereka, bukankah ia harus mencukur kepalanya dan tidak boleh menikah seumur hidup. Mana mungkin dia sanggup melepaskan Tao Ling yang demikian ia cintai? Pikirnya dalam hati. Karena itu Lie Cun Ju tidak mengajukan pertanyaan lagi. Tampak pendeta tua itu memberi isyarat dengan gerakan tangan. Belasan pendeta segera muncul dan mengajak Lie Cun Ju naik ke atas rakit. Pendeta tua dan kedua rekannya pun ikut keluar. Dalam waktu yang singkat mereka sudah membereskan tenda besar itu dan menempuh perjalanan.

Lie Cun Ju melihat setiap pendeta memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Sebetulnya di dalam sebuah aliran keagamaan, seperti Siau lim si, memang terdapat sebagian tokoh berilmu tinggi. Tetapi kalau setiap pendetanya semua berilmu tinggi, hal ini belum pernah ditemuinya.

Tiba-tiba Lie Cun Ju teringat kata-kata pendeta tua tadi. Bahwa semasa hidupnya Buddha hidup senang sekali terhadap sebuah kitab yang siang malam tidak pernah terpisah darinya. Kalau menurut teorinya, seorang Buddha hidup memang harus mempunyai pengetahuan yang lebih luas daripada yang lainnya. Karena itu, sebuah kitab saja tidak mungkin bisa menambah seberapa banyak pengetahuannya. Tetapi menurut cerita pendeta tua tadi, justru hanya satu kitab itu yang siang malam selalu dibaca oleh Buddha hidup semasa hidupnya. Mungkinkah kitab itu berisi ilmu pintu Buddha yang mengandung kesaktian sehingga Buddha hidup itu terus membaca untuk memahaminya?

Lie Cun Ju hanya berpikir selintasan saja. Dia sadar dirinya toh tidak mungkin bisa mendapatkan kitab itu. Buat apa dia memusingkan kepalanya sendiri?

Tentu saja apabila kebetulan dia berhasil memilih kitab yang betul dari dua puluh kitab yang disediakan, bukan saja kitab itu menjadi miliknya, malah dia akan diangkat menjadi pemimpin agama mereka.

Tapi, bukankah harapan itu terlalu tipis?

Sementara itu seratus lebih pendeta berjubah kuning sudah mulai melanjutkan perjalanan. Satu hari kemudian mereka sudah sampai di sebuah tempat yang tampaknya seperti kaki gunung. Mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kira-kira di hari keempat mereka sudah sampai di atas puncak sebuah gunung. Lie Cun Ju mencoba melihat ke bawah. Hatinya langsung tercekat. Ternyata di tengah- tengah terdapat sebuah lembah yang luasnya sulit diperkirakan. Sebagian dari lembah itu merupakan sebuah danau. Airnya bukan main jernihnya. Bahkan pegunungan di sekitarnya dapat terlihat jelas di permukaan air itu. Ditambah lagi langit yang biru.

Benar-benar merupakan sebuah panorama alam yang indah sekali.

Di tepi danau tumbuh berbagai jenis bunga-bunga liar. Ada beberapa ekor rusa yang sedang bermain-main di sekitar danau. Lie Cun Ju merasa dirinya berada di nirwana. Tidak jauh dari danau itu tampak sebuah kuil yang mentereng. Dari luarnya saja sudah berkesan angker dan timbul rasa hormat.

Lie Cun Ju rnemperhatikan keadaan di sekirar tempat itu sejenak, Diam-diam dia berpikir dalam hati. Andaikata bisa hidup di tempat yang demikian indah meskipun hanya sebagai seorang kacung, rasanya jauh lebih baik daripada hidup di dunia bu lim yang setiap saat menghadapi bahaya besar dan perebutan nama kosong. Hatinya merasa kagum sekali.

“Taisu apakah itu kuil kalian?” Tanya Lie Cun Ju

Pendeta tua itu menganggukkan kepalanya. Dari kuil terdengar suara pembacaan ayat suci. Kemudian dari dalamnya berjalan ke luar dua baris lhama dengan membentuk melebar ke samping seperti burung membentangkan sayapnya. Mereka berhenti di depan kuil dan mendongakkan kepalanya menatap ke arah mereka.

Pendeta tua itu menarik nafas panjang. "Agama kami tidak mempunyai pemimpin selama hampir tujuh puluh tahun. Para umat di kuil kami sudah lama sekali mengharapkan datangnya seorang pemimpin yang merupakan penjelmaan dari Buddha hidup."

"Taisu mempunyai kepandaian yang tinggi, lagi pula memiliki hati yang welas asih serta mementingkan kepentingan umat. Mengapa bukan Taisu saja yang menjadi pemimpin di kuil ini?" tanya Lie Cun Ju.

Mata pendeta tua itu langsung mendelik.

"Mengapa Ci sicu berbicara seenaknya? Kalau bukan penjelmaan Buddha hidup, mana boleh menjadi pemimpin di kuil kami ? Lagipula sebetulnya lo ceng hanya seorang pendeta biasa, karena kematian pemimpin yang terdahulu, lama sekali kuil kami tidak mempunyai pemimpin. Lambat laun lo ceng pun menjadi orang yang tertua di dalam kuil ini. Apabila ada suatu urusan, lo ceng lah yang dimintakan pendapatnya sebagai sesepuh. Tetapi bukan berarti lo ceng boleh mengangkat diri jadi ketua dengan seenaknya."

Mendengar keterangan pendeta tua itu, hati Lie Cun Ju kembali tergerak.

"Kalau begitu, di dalam kuil kalian, sekarang hanya tinggal Taisu sendiri yang pernah mendapat didikan langsung dari Buddha hidup Dan Juel?"

"Tidak. Kedua Coan lun ong juga mendapat didikan langsung dari beliau. Tentu Ci sicu mengira usia mereka belum mencapai tujuh puluhan tahun, bukan? Sedangkan Buddha hidup telah meninggal hampir tujuh puluh tahun yang lalu. Sebetulnya usia keduanya sudah di atas sembilan puluh tahun, hanya saja dulu usia mereka masih terlalu muda. Coan lun ong terdahulu yang ikut mencari bayi penjelmaan Buddha hidup."

"Taisu sekalian memiliki kepandaian yang tinggi. Apakah Buddha hidup juga yang meng-ajarkan ilmu itu?"

"Benar. Agama kami tadinya tidak mengenal latihan pernafasan untuk menghimpun tenaga da lam. Karena itu sering mendapat perlakuan semena-mena dari orang luar. Tetapi sejak Buddha hidup Dan Juel yang memegang tampuk pimpinan, semuanya jadi berubah."

Lie Cun Ju hanya menganggukkan kepalanya. Sekarang dia semakin yakin bahwa kitab kesukaan Buddha hidup yang menurut cerita pendeta tua ini tidak pernah terpisah darinya pasti merupakan sebuah kitab pusaka yang isinya mengenai ilmu silat. Ketika pembicaraan berlangsung, keduanya turun dari puncak gunung dan sebentar saja sudah sampai di tepi danau.

Suara pembacaan doa dari kedua baris pendeta itu semakin nyaring. Lie Cun Ju sama sekali tidak mengerti apa yang dibaca oleh mereka. Tetapi kalau dilihat dari mimik wajah mereka yang seritis terselip keriangan, dia dapat menduga bahwa pendeta- pendeta itu sedang membaca doa penyambutan atas dirinya.

Lie Cun Ju mengikuti pendeta tua itu masuk ke dalam kuil. Tampak di kedua sisi pendopo terdapat lukisan pada dinding. Lukisan itu seperti mengandung makna Buddha hidup yang sedang mengajar para umatnya. Sedangkan di tengah-tengah pendopo terdapat tiga buah patung besar yang melambangkan Trimurti. Suasana di dalam kuil itu terasa sangat berwibawa.

Lie Cun Ju sendiri bukan umat agama Oey kau. Tetapi begitu masuk ke dalam kuil itu, timbul juga rasa hormatnya. Pendeta tua itu mengajak Lie Cun Ju ke ruangan belakang. Ruangan itu sunyi senyap dan hening sekali. Lie Cun Ju ditinggalkan dalam ruangan itu. Pendeta tua meninggalkannya entah kemana. Tidak lama kemudian ada pendeta cilik yang membawa makanan dan minuman untuk Lie Cun Ju.

Selama tiga hari berturut-turut, Lie Cun Ju beristirahat di dalam ruangan itu. Lukanya sudah sembuh sama sekali. Pendeta tua itu juga tidak pernah kelihatan. Sampai hari keempat, terdengar suara genta bertalu-talu, juga terdengar suara ketukan bok hi. Asap hio wangi bertebaran sehingga menimbulkan bau harum di mana-mana. Pendeta tua dan kedua Coan lun ong mengiringi Lie Cun Ju ke pendopo yang luas sekali.

Lie Cun Ju melihat keadaan di pendopo itu gelap gulita. Paling tidak ada lima ratusan pendeta yang menundukkan kepalanya sambil membaca doa. Di atas undakan tangga terdapat sebuah meja dan sebuah kursi. Di atas meja berjejer dua puluh kitab yang bentuknya dan warnanya serupa. Kitab-kitab itu ditempatkan di dalam sebuah kotak yang bentuknya juga sama.

Pendeta tua dan kedua coan lun ong membawa Lie Cun Ju ke belakang meja. Mereka pun berlutut di kedua sisi pemuda itu. Saat itu di seluruh ruangan pendopo yang luas itu hanya Lie Cun Ju seorang berdiri.

Dia tahu bahwa hari kelahirannya yang sama dengan Buddha hidup membuat umat- umat agama itu mengira ia sebagai penjelmaan Buddha hidup. Sekarang, apabila dia berhasil memilih kitab yang tepat dari antara dua puluh kitab yang berjejer di depannya itu, maka ia akan segera diangkat menjadi pemimpin kuil ini. Karena itu, bagi para umat agama itu, detik-detik sekarang justru penting sekali bagi kelanjutan agama mereka.

Pendeta tua itu berlutut di sisinya. Tidak lama kemudian, ia mengangkat tangannya ke atas. Suara genta, pembacaan doa atau ketukan bok hi pun berhenti seketika. Suasana jadi sunyi senyap padahal di da lam ruangan itu terdapat begitu banyak orang. Dari hal itu dapat dibuktikan bahwa para pendeta Oey kau mendapat didikan disiplin yang keras. Mereka sangat mengagungkan agamanya sendiri. Terdengar pendeta tua itu membaca doa dengan suara yang berat. Selesai berdoa, para umat baru bangkit serentak. Pendeta tua itu juga berdiri dan menghampiri Lie Cun Ju.

"Harap calon pemimpin Ci sicu mulai memilih kitab!"

Padahal Lie Cun Ju tadinya menganggap apa yang dialaminya benar-benar seperti sebuah per-mainan saja. Walaupun hatinya juga penasaran, mengapa sejak Buddha hidup Dan Juel yang memimpin agama ini, seluruh pendeta Oey kau bisa mengerti ilmu silat? Dia juga ingin tahu kitab apa sebenarnya yang semasa hidupnya tidak pernah terpisah dari Buddha hidup itu?

Di samping itu, Lie Cun Ju juga tahu dirinya tidak mungkin bisa menjadi pemimpin agama mereka. Dia toh tidak punya kesaktian untuk memilih dengan tepat salah satu di antara dua puluh kitab yang berjejer di depannya. Karena itu, dia hanya ingin urusan itu cepat selesai agar dia juga dapat kembali ke Tiong goan secepatnya. Kemudian berusaha menemukan Tao Ling dan melewati hari-hari bahagia bersama gadis itu, daripada menjadi pemimpin agama yang tidak dimengertinya itu.

Karena itu, ketika mendapat perintah dari si pendeta tua agar dia mengambil salah satu kitab yang berjejer di atas meja, Lie Cun Ju tidak pikir-pikir lagi. Sembarangan saja ia mengulur tangannya untuk mengambil salah satu dari kitab itu

Lie Cun Ju toh tidak tahu kotak mana terdapat buku yang asli dan kotak mana yang berisi kitab palsu. Tidak ada hal apa pun yang dapat dijadikan pegangan baginya untuk memilih. la mengulurkan tangannya untuk mengambil salah satunya. Tetapi belum lagi jari tangannya sempat menyentuh kitab itu, tiba-tiba jalan darah di lengannya terasa ngilu Rasa ngilu itu membuat tangannya terangkat kembali.

Hati Lie Cun Ju merasa aneh, cepat-cepat dia mendongakkan kepalanya. Tampak ratusan umat sedang memandang ke arahnya. Kecuali si pendeta tua dan kedua coan lun ong yang merangkapkan sepasang telapak tangan dan menundukkan kepalanya rendah-rendah. Dia tidak berhasil mencari siapa kira-kira orang yang mengisenginya.

Tetapi Lie Cun Ju sadar sekali ketika lengannya tadi terasa ngilu. Kalau tidak, kotak itu pasti sudah diambilnya.

Setelah mengedarkan pandangan matanya sejenak, Lie Cun Ju memalingkan kepalanya kem-bali. Tiba-tiba saja hatinya tergerak. Dia merenung sejenak. Urusan itu tampaknya ada terselip keanehan. Dan hanya ada satu kemungkinannya. Pendeta tua dan kedua Coan lun ong pasti tahu di mana letak kitab yang asli.

Dan rasa ngilu tangannya tadi, pasti hasil perbuatan salah seorang dari mereka pula. Hal itu tidak perlu diragukan lagi. Mengenai mengapa mereka melakukannya, hanya ada kemungkinan.

Pertama, orang itu tidak suka Lie Cun Ju menjadi pemimpin kuil itu. Dengan kata lain, gerakan tangannya yang sembarangan tadi mungkin memilih kitab yang asli. Tetapi rasanya tidak mungkin demikian kebetulan. Sedangkan yang kedua, kemungkinannya lebih besar. Orang itu justru berharap Lie Cun Ju menjadi pemimpin kuil itu. Karena itu, ketika melihat ia mengambil kitab yang salah, orang itu segera turun tangan mencegahnya. Dengan pikiran demikian, Lie Cun Ju teringat kembali kata-kata yang pernah diucapkan pendeta tua. "Umat kuil kami sudah lama menantikan kedatangan pemimpin yang merupakan penjelmaan dari Buddha hidup kami." Mungkin dialah yang turun tangan mencegah Lie Cun Ju barusan.

Meskipun tampaknya pendeta tua itu sedang merangkapkan sepasang telapak tangannya dan kepalanya menunduk, tetapi dengan kekuatan tenaga dalamnya, menotok jalan darah orang dengan tanpa bergerak sedikit pun bukan hal yang sulit baginya.

Lagipula jarak antara pendeta tua itu dengan dirinya sangat dekat. Bisa saja ia turun tangan tanpa diketahui oleh ratusan pendeta lainnya.

Lie Cun Ju tidak berpikir lama-lama. Dia kembali mengulurkan tangannya untuk mengambil kotak yang ada di sebelah kanannya. Tetapi apa yang dialaminya kali itu sama seperti yang pertama. Lengannya langsung terasa ngilu dan tangannya otomatis terangkat ke atas.

Peristiwa itu mungkin hanya diketahui oleh Lie Cun Ju dan orang yang turun tangan. Sedangkan bagi pandangan orang lain, Lie Cun Ju seakan sedang mempertimbangkan kitab mana yang harus diambilnya. Meskipun tangannya sudah menjulur ke depan, tetapi kemudian ia membatalkannya karena kurang yakin. Demikianlah anggapan pendeta-pendeta lainnya terhadap sikap yang diperlihatkan Lie Cun Ju.

Karena itu pula, hati para pendeta itu begitu tegangnya sehingga telah mencapai titik puncak-nya. Meskipun didalam ruangan itu terdapat lima ratusan pendeta, suasananya justru demikian hening mencekam. Mereka menantikan dengan hati berdebar-debar.

Untuk kedua kalinya Lie Cun Ju dicegah mengambil kotak yang dipilihnya. Sekarang dia yakin bahwa orang itu mengharapkan dirinya menjadi pimpinan kuil. Sebab tidak mungkin dua kali dia berhasil atau secara kebetulan mengambil kitab yang asli, sedangkan kitah itu hanya satu yang aslinya. Dan bila orang itu tidak ingin menjadi pimpinan kuil mengapa orang itu sampai dua kali turun tangan.

Saat itu juga perasaan Lie Cun Ju menjadi heran, tegang tetapi terselip sedikit kegembiraan. Sebab, apabila ditilik dari keadaan yang berlangsung, tidak diragukan lagi ia akan menjadi pimpinan kuil ini.

Lie Cun Ju menarik nafas dalam-dalam. Dia menjulurkan tangannya kembali untuk meraih se-buah kotak. Setiap kali tangannya hampir menyentuh kotak itu, lengannya pun terasa ngilu. Sampai kedua belas kalinya tangan pemuda itu baru bisa mengambil kotak yang dipilihnya dengan lancar.

Pendeta tua itu menyambut kotak yang dipilih oleh Lie Cun Ju. Dia membuka halaman pertama kitab itu kemudian ditunjukkannya kepada seluruh hadirin. Lie Cun Ju inelirik dengan ekor matanya mengintip kitab itu. Ternyata kitab itu tipis sekali. Paling-paling  hanya berisi beberapa halaman. Di atasnya tertulis 'Leng Can Po liok'. (Peninggalan pusaka keramat).