Pedang Tanpa Perasaan Jilid 07

Jilid 07  

I Ki Hu yakin mereka memang para pendeta dari Oey kau. Untuk sesaat dia juga tidak berani sembarangan bertindak, karena ilmu kepandaian yang diturunkan oleh agama yang satu ini mengandung keanehan tersendiri. Boleh dibilang berbeda dengan ilmu silat aliran mana pun di dunia ini. Diam-diam hati I Ki Hu juga merasa heran, karena selama ini para lhama dari Oey kau hanya menetap di wilayah Tibet atau Mongol.

Mereka tidak pernah muncul di luaran. Apalagi kalau menilik usia ketiga orang ini yang sudah tinggi sekali, kedudukan mereka dalam agama itu jelas juga termasuk angkatan tua. Entah ada keperluan apa mereka datang ke Tiong goan? Mendengar nada suara lhama tua itu, tampaknya dia sudah bersedia meminjamkan perahu. Karena itu I Ki Hu merasa senang sekali. Dia melepaskan cengkeraman tangannya dari bahu orang tadi.

"Apabila Taisu sudah bersedia meminjamkan perahu, cayhe juga tidak akan menyusahkan lagi." Tubuhnya berketebat ke depan perahu, dan dengan menggunakan tali tadi sebagai titian, dia kembali ke tepi sungai. Setelah itu dia menarik tali tadi agar perahu mendekat. Kereta kuda dinaikkan ke atasnya, tali yang digunakan digulung kembali lalu memutar haluan perahu untuk menyeberangi sungai.

I Ki Hu berdiri di samping kereta, dia khawatir ketiga Ihama itu tiba-tiba akan menimbulkan kesulitan baginya. Karena itu dia juga berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Perahu melaju dengan cepat, sekejap kemudian mereka sudah berada di tengah-tengah sungai.

"Pukulan I sicu tadi, angin yang terpancar keluar mengandung hawa sesat, apakah I sicu ini orang dari Mo kau? Entah Mo kau kaucu, si tua Kwe lo sian sing tinggal di mana sekarang?" tanya pendeta yang duduk di tengah.

Mendengar pertanyaannya, I Ki Hu terkejut setengah mati. Karena si tua Kwe lo sian sing yang ditanyakan Ihama itu adalah mertuanya sendiri yang terbunuh di tangannya. Juga merupakan ketua angkatan ketiga puluh sembilan dari partai itu. Kaucu itu sendiri sudah mati tujuh belas tahun yang lalu. Boleh dibilang selama ini tidak ada orang yang pernah mengungkit lagi nama 'Kwe kau cu’.

"Entah untuk apa Taisu menanyakannya?" tanya I Ki Hu setelah tertegun sejenak.

"Dulu loceng mempunyai kesempatan bertemu satu kali dengan Kwe lo Kau cu. Kali ini kedatangan kami juga untuk mencarinya, tetapi ternyata setelah mencarinya sekian lama dan menanyakan kesana kemari, tidak ada seorang pun yang tahu kemana pindahnya orang tua itu." Hati I Ki Hu langsung merasa bangga mendengar ucapannya. Karena tujuh belas tahun yang lalu, I Ki Hu memberontak terhadap Mo kau dan membunuh tokoh-tokoh tingkat tinggi di dalam partai itu. Bahkan mertua dan istrinya sendiri juga dibunuh. Boleh dibilang hal ini sudah tersebar luas di dunia kang ouw. Tetapi Ihama tua tadi justru mengatakan 'tidak ada seorang pun yang mengetahui kemana pindahnya Mo kau kaucu Kwe lo sian sing'. Hal ini membuktikan bahwa namanya benar-benar menggetarkan dunia kang ouw sehingga tidak ada seorang pun yang berani mengungkapkan kejadian yang sebenarnya. Karena itu pula, I Ki Hu langsung tertawa terbahak-bahak.

"Taisu ingin mencari Kwe kaucu, dari sini ambil saja arah timur, kurang lebih tiga ratusan li, ada sebuah desa bernama Jit Hong ceng. Asal Taisu sudah sampai di sana pasti bisa tahu sendiri!"

Lhama tua itu tidak tahu bahwa Jit Hong ceng yang dikatakannya itu bukan sebuah desa, tetapi tanah pemakaman.

"Terima kasih atas petunjuknya," ucapnya.

Ketika pembicaraan berlangsung, perahu sudah berlabuh di tepi sungai. I Ki Hu dan Tao Ling segera turun dari perahu dengan membawa serta kereta kuda mereka. Perahu pun meluncur kembali. I Ki Hu memandanginya dengan perasaan ingin tahu.

Setelah perahu itu berada di kejauhan dan tinggal titik hitam, dia baru menolehkan kepalanya kembali. Diam-diam dia berpikir dalam hati. Dirinya adalah menantu dari kaucu Mo kau, tetapi dia belum pernah mendengar bahwa antara para pendeta Tibet dengan Mo kau terjalin hubungan persahabatan. Ketiga pendeta tadi datang ke Tiong goan, pada suatu hari nanti, mereka pasti akan tahu juga bahwa Kwe kaucu sudah meninggal tujuh belas tahun yang lalu, bahkan seluruh tokoh penting partai itu juga mati di tangannya. Apabila ketiga lhama tadi bermaksud membalaskan dendam bagi kaucu Mokau, berarti dia menemukan lawan berat yang sulit ditandingi.

Sembari berpikir, I Ki Hu menjalankan kereta kudanya. Kemudian dia berpikir lagi, ilmu kepandaiannya demikian tinggi, rasanya tidak ada orang lagi di dunia ini yang sanggup menandingi. Lagipula ada beberapa tokoh berilmu tinggi yang dapat diperalatnya. Seandainya ketiga lhama itu akan mencarinya membalaskan dendam Kwe kaucu, dia juga tidak perlu takut. Akhirnya perasaan I Ki Hu jadi mantap, dia meneruskan perjalanan menuju Si Cuan.

Menjelang malam, mereka sudah sampai di sebuah jalan raya yang lurus dan lebar. Wilayah Si Cuan seperti sebuah perbukitan, jarang ada jalan raya. Tetapi jalan raya yang mereka lalui ini diatur dengan batu besar kecil sehingga terlihat rapi. Tanahnya datar, di kedua sisi tumbuh pepohonan yang rindang. Sekali lihat saja sudah dapat dipastikan bahwa jalan raya itu dibuat oleh seseorang. Kereta kuda yang ditumpangi oleh I Ki Hu dan Tao Ling dapat melaju cepat di atas jalan raya itu. Tiba-tiba terdengar suara desiran angin, selembar jala yang besar sekali tahu-tahu melayang turun dan menghadang di depan kereta. Kejadiannya terlalu mendadak. I Ki Hu cepat-cepat menarik tali kendali kudanya agar berhenti. Tampak jala lebar itu terbuat dari semacam kawat, di bagian atasnya terdapat banyak duri tajam dari sejenis paku. Tajamnya bukan main. Dalam waktu yang bersamaan, mereka juga melihat ada enam-tujuh orang yang muncul dari pohon-pohon di kedua sisi jalan.

"Siapa yang datang?" tanya mereka serentak.

Melihat penghadangan yang lucu itu, I Ki Hu merasa kesal dan geli. Kereta kudanya sudah dihentikan. Tampak orang-orang yang muncul dari balik pohon masih muda- muda. Yang paling tua berumur sekitar tiga puluh tahun. Tampang mereka gagah- gagah. Dua di antaranya paling-paling berusia tujuh belasan tahun. Mereka berdiri di atas ranting pohon sehingga dapat dihayangkan bahwa ilmu Gin Kang mereka sudah cukup tinggi.

Meskipun sebelumnya I Ki Hu belum pernah mengunjungi keluarga Sang, kalau dihitung dari perjalanan yang telah ditempuhnya, tempat tinggal keluarga Sang sudah hampir sampai. Sedangkan jalanan lurus ini pasti milik keluarga Sang, dan tidak perlu diragukan lagi orang-orang yang muncul dari balik pohon pasti anggota keluarga itu pula. Mereka membuat jalan raya ini untuk menuju gedung keluarga Sang. Karena itu, I Ki Hu segera tertawa dingin. Dia menjalankan lagi keretanya maju sedikit.

"Tamu berkunjung dengan baik-baik, mengapa disambut dengan cara demikian tidak sopan?" katanya.

"Siapa yang Anda kunjungi?" tanya kedua pemuda yang berdiri di ranting pohon.

Jarak I Ki Hu sudah dekat sekali. Dia dapat melihat bahwa kedua pemuda itu tampan- tampan dan gagah. Di pinggang masing-masing terselip sebuah gantulan (Besi yang ujungnya berbentuk bola). Keluarga Sang memiliki dua macam ilmu yang terkenal.

Yang satu justru ilmu gantulan itu, dan yang satunya lagi tujuh puluh dua cara menotok jalan darah manusia. Usia kedua pemuda ini masih muda sekali. Mungkin terhitung generasi ketiga dari Kakek berambut putih Sang Hao. I Ki Hu sendiri juga merasa malu apabila harus bergebrak dengan mereka. Karena itu dia hanya berkata dengan nada dingin.

"Aku mengunjungi Kakek berambut putih Sang Hao." "Kakekku tidak menemui siapa pun," sahut kedua pemuda itu.

I Ki Hu tersenyum. "Orang lain boleh dia tolak tetapi terkecuali aku, dia harus mau!"

Kedua pemuda itu memang cucu si Kakek berambut putih Sang Hao. Anggota keluarga Sang semuanya berilmu, tetapi tinggi rendahnya kepandaian masing-masing berbeda. Kedua kakak beradik itu bernama Sang Cin dan Sang Hoat. Mereka terhitung generasi ketiga dalam keluarga Sang. Kedua pemuda itu juga merupakan cucu kesayangan Sang Hao. Karena itu, ketiga puluh enam jurus gantulan pemancar angin juga dikuasai sebagian. Sebetulnya keluarga Sang terkenal karena ilmu ruyung saktinya. Tetapi senjata yang satu ini dianggap kurang praktis dibawa ke mana-mana dan juga tidak sesuai digunakan generasi muda. Karena itu kemudian hari Sang Hao mengubahnya dengan menggunakan gantulan sebagai senjata.

Bentuk ruyung dan gantulan memang hampir sama. Bedanya yang satu panjang, sedangkan yang lainnya pendek. Kepandaian Sang Cin dan Sang Hoat malah lebih tinggi bila dibandingkan dengan beberapa anggota dari generasi kedua. Karena keduanya mendapat didikan langsung dari si kakek berambut putih Sang Hao. Tentu saja Sang Hao sendiri memiliki kepandaian yang sudah mencapai taraf tinggi sekali. Tetapi orang tua itu tidak berminat mencari nama di dunia kang ouw. Dia memilih menetap dengan tenang di gedung keluarga Sang di wilayah Si Cuan. Dia pun melarang anggota keluarganya atau murid-muridnya berkecimpung di dunia kang ouw. Karena itu pula Sang Cin dan Sang Hoat tidak tahu siapa I Ki Hu.

Mendengar nada bicara I Ki Hu yang sombong, kedua pemuda itu merasa jengkel. "Pokoknya Yaya kami sudah mengatakan tidak ingin menemui siapa pun."

I Ki Hu merasa geli sekali.

"Kalau dia tidak sudi menemuiku juga, terpaksa aku menjadi tamu yang tak diundang."

Begitu I Ki Hu mengeluarkan perkataan tadi, orang-orang yang ada di atas pohon langsung mengeluarkan suara bising, mereka memaki-maki seenaknya.

"Dia kira dirinya hebat sekali, berani berbuat macam-macam di tempat tinggal keluarga Sang."

I Ki Hu tetap enggan berdebat dengan mereka. Dia hanya tersenyum dingin sedikit. Pada saat ini, jala besar yang terbuat dari kawat itu masih merintangi jalanan di depan mereka. Tentu saja kereta kuda tidak dapat dijalankan melewatinya. Tetapi dengan kepandaian I Ki Hu yang tinggi, untuk meloncati jala sepanjang tiga depaan saja tentu tidak jadi masalah. Ketika suara teriakan orang sudah reda, dia segera menyingkapkan tirai kereta.

"Hu jin, di depan ada jala kawat yang menghadang. Kereta tidak bisa maju lagi. Tetapi untung saja gedung kediaman keluarga Sang sudah dekat. Kita jalan saja sembari menikmati pemandangan alam," katanya kepada Tao Ling.

Perasaan hati Tao Ling terasa hampa, apa pun yang terjadi di depannya seakan tidak menarik perhatiannya. Apa pun yang dikatakan oleh I Ki Hu, dia hanya mengikuti saja. la tidak pernah membantah. Mendengar perkataan I Ki Hu barusan, dia hanya menganggukkan kepalanya. I Ki Hu membimbingnya turun dari kereta dan berjalan ke depan beberapa langkah.

Ketika melihat Tao Ling, orang-orang yang muncul dari balik pohon tadi langsung berteriak lagi. Suaranya bising sekali. Salah satunya bahkan berteriak sekeras- kerasnya. "Wan! Tua bangka itu malah mempunyai istri yang begitu muda. Pasti bukan orang baik-baik jangan biarkan dia lolos!"

"Tentu saja. Yaya toh sudah berpesan, siapa pun tidak boleh maju selangkah dari tempat ini, tidak perduli dia orang baik-baik atau bukan, pokoknya sama saja."

Ketika orang-orang itu berbicara, I Ki Hu tetap membimbing Tao Ling melangkah ke depan. Dia memperhatikan jala kawat yang membentang di depannya dengan seksama. Tingginya mencapai tiga depa. Lebarnya mencapai empat-lima depa. Kedua ujungnya dikaitkan pada pepohonan di kedua sisi jalan. Apabila dia nekat menerobos ke depan, bagi I Ki Hu sendiri tentu tidak jadi masalah. Tetapi kalau baru berjalan setengahnya, tiba-tiba orang-orang yang ada di atas pohon menjatuhkan jala itu, tentu Tao Ling akan terluka parah terkena duri-durinya yang tajam. Mungkin malah bisa mati di tempat itu.

I Ki Hu tidak ingin menempuh resiko itu. Tiba-tiba dia mendapat akal. Dipungutnya beberapa butir batu di tepi jalan. Tangannya mengibas dan pinggangnya meliuk. Batu- batu itu pun melayang ke arah pepohonan di sisi jalan. Tahu-tahu keenam-tujuh orang yang ada di sekitar pepohonan sudah tertotok jalan darahnya.

Melihat dirinya sekali turun tangan sudah mencapai hasil yang gemilang, hati I Ki Hu terus bangga sekali. Dia tertawa terbahak-bahak. Diraihnya pinggang Tao Ling, sembari menghimpun hawa murninya. Dia mencelat setinggi satu depa lebih. Dengan menggunakan kawat jala sebagai tumpuan kakinya, dia mencelat lagi ke atas setinggi dua setengah depa. Sekejap mata saja dia sudah melayang turun kembali di seberang jala.

Setelah berhasil melewati jala kawat itu, I Ki Hu baru menolehkan kepalanya sambil tertawa.

"Kalian semuanya pasti keturunan Kakek berambut putih Sang Hao. Tentunya sudah mem-punyai dasar ilmu silat yang cukup kuat. Totokanku tadi tidak terlalu berat. Asal tenaga dalam kalian sudah mencapai tingkat yang lumayan, pasti bisa membebaskan sendiri totokanku tadi. Aku masih ingin menikmati keindahan pemandangan daerah ini, setelah berhasil melepaskan totokan kalian, silakan menyusul aku nanti!".

Tentu saja anggota keluarga Sang yang ada di atas pohon mendongkol sekali mendengar kata-kata I Ki Hu. Tetapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa.

Hanya Sang Cin dan Sang Hoat berdua yang mengedarkan hawa murninya untuk membebaskan diri dari totokan. Pertama, memang tenaga dalam mereka yang paling kuat. Kedua, tempat mereka berdiri juga paling tinggi. Jadi batu yang disambitkan I Ki Hu tadi hanya mengenai mereka dengan ringan. Setelah menghimpun hawa murninya sejenak, tubuh pun terasa pulih kembali.

"Jangan kabur!" teriak mereka.

Tubuh mereka berkelebat dari atas pohon dan melayang turun. Secepat kilat keduanya berlari mengejar I Ki Hu dan Tao Ling. Selesai berkata tadi, I Ki Hu langsung berjalan ke depan. Baru menindak beberapa langkah, dari belakang sudah terdengar suara teriakan Sang Cin dan Sang Hoat. Dia merasa kagum juga melihat cucu Sang Hao yang masih demikian muda dapat melepaskan diri dari totokannya dalam waktu yang demikian singkat.

I Ki Hu menolehkan kepalanya. Tangan kirinya tetap membimbing Tao Ling. Tangan kanannya mengibas. Terasa ada serangkum angin yang kencang menahan gerakan Sang Cin dan Sang Hoat.

Meskipun kedua pemuda itu masih belia dan tidak banyak pengetahuannya, mereka bukan orang bodoh. Saat itu mereka sudah bisa membayangkan bahwa ilmu kepandaian lawannya tinggi sekali dan mereka pasti bukan tandingannya. Karena itu mereka menghentikan gerakannya.

"Siapa Tuan sebetulnya?" tanya kedua pemuda itu.

Melihat kedua anak muda itu bisa melihat gelagat, I Ki Hu juga tidak mendesak lebih jauh. la tertawa terbahak-bahak.

"Siapa pun aku ini, apa persoalannya. Apakah ada sebagian orang yang tidak diijinkan mengunjungi keluarga Sang?" ucap I Ki Hu.

Sang Cin tersenyum ramah.

"Harap Cianpwe jangan salah sangka. Yaya pernah berpesan bahwa ada beberapa orang yang dikecualikan!"

"Siapa saja orang-orang yang dikecualikan itu?" tanya I Ki Hu.

"Salah satunya, Bok Cin sian siang dari Bu Tong san," sahut Sang Cin. I Ki Hu mendengus dingin.

"Mengapa Lo Sang (Si Sang tua) bisa memandang tinggi hidung kerbau itu?" "Ada lagi Bu Kong Taisu dari Ngo Tay san," kata Sang Cin kembali.

I Ki Hu mendengar Sang Cin berturut-turut menyebut dua orang tokoh yang kepandaiannya memang tinggi dan sangat terkenal di dunia kang ouw, tetapi namanya sendiri masih belum disebutkan, wajahnya mulai menyiratkan kemarahan.

"Siapa lagi?"

Sang Cin dan Sang Hoat saling pandang sekilas. "Yang satunya lagi tentu Tuan sendiri!"

I Ki Hu tahu kata-kata ini hanya ditambahkan kedua anak muda itu barusan saja. Tetapi dia senang melihat kecerdasan keduanya yang pandai mengambil hati. "Apakah kalian tahu, siapa aku?" tanya I Ki Hu. Kedua pemuda itu tersenyum lagi.

"Langsung menyebut nama di hadapan orang yang lebih tua, sangat tidak sopan."

"Kalau kalian memang tidak tahu, untuk sementara aku juga tidak akan memberitahukan. Cepat antarkan kami menemui kakekmu!"

Wajah keduanya menyiratkan kebimbangan sekilas. Tetapi sekejap mata sudah pulih kembali seperti biasa.

"Baiklah. Harap Tuan mengikuti kami!"

I Ki Hu bukan tokoh sembarangan, meskipun perubahan wajah kedua pemuda itu hanya sekilas, dia sudah menduga bahwa mereka akan menggunakan akal licik lagi. Tetapi dia hanya tertawa dingin. Dengan membimbing Tao Ling, tanpa tergesa-gesa sedikit pun, dia mengikuti Sang Cin dan Sang Hoat dari belakang.

Sebentar saja mereka sudah berjalan sejauh satu li. Tiba-tiba tampak Sang Cin dan Sang Hoat membelok ke kiri. Dari jalan besar mengambil jalan kecil.

Jalan itu bukan saja berkelok-kelok, bahkan setelah berjalan dua-tiga depa, tampak di depan merupakan sebuah hutan bambu.

Pohon bambu di dalam hutan tidak banyak, tetapi batangnya besar-besar dan lurus sekali. I Ki Hu terus mengikuti dari belakang. Melihat kedua pemuda itu masuk ke dalam hutan, dia pun mengajak Tao Ling ikut masuk juga. Tetapi baru saja masuk dua langkah dia merasakan sesuatu yang kurang beres. Di sekitarnya hanya terlihat batang bambu yang warnanya hijau dan mereka tidak bisa menentukan arah yang harus dipilih.

I Ki Hu yakin batang-batang bambu itu disusun sesuai dengan bentuk semacam barisan. Dan sekarang dia bersama Tao Ling sudah terjebak ke dalam barisan itu.

Mengingat kedua pemuda yang masih ingusan itu menjebaknya masuk ke dalam barisan bambu, I Ki Hu merasa geli.

"Bocah-bocah busuk, kemana perginya kalian?" ucap I Ki Hu pura-pura marah. Terdengar suara Sang Cin menyahut.

"Ilmu kepandaian tuan sungguh mengejutkan. Mengapa tidak berusaha menemukan kami?" sahut Sang Cin.

Hati I Ki Hu sendiri juga geli namun jengkel. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun dia memutari batang-batang bambu itu. Setiap kali berputar, dia menggunakan tangannya mengerat batang-batang bambu itu.

Tidak lama kemudian, seluruh batang bambu yang ada dalam hutan itu sudah terkerat oleh tangannya. Kemudian dia memperdengarkan suara tertawa terbahak-bahak. Begitu suara tertawanya sirap, sepasang lengan bajunya langsung mengibas, berpuluh batang bambu seperti diterpa angin kencang secara tiba-tiba. Terdengarlah suara bergemuruh, lalu batang-batang bambu itu pun rubuh semuanya di atas tanah.

Ada yang saling bertumpuan, ada pula yang melayang di udara. Dalam sekejap mata saja, suasana di dalam hutan itu persis seperti terjadi gempa yang hebat. Boleh dibilang tidak ada sebatang pun pohon bambu yang utuh.

Rupanya ketika mengerat batang-batang bambu sambil berputar tadi, I Ki Hu sudah mengerahkan tenaganya untuk mengguncangkan akar yang tertanam di bawah tanah sehingga terlepas. Begitu dikibas dengan lengan bajunya, otomatis seluruh batang bambu itu rubuh tidak karuan.

Suara yang bergemuruh itu mengejutkan Sang Cin dan Sang Hoat. Mereka memang sudah menduga kepandaian I Ki Hu sangat tinggi, tetapi tidak menyangka tenaga dalamnya bisa sekuat itu. Belum lagi sempat keduanya berteriak, tiba-tiba tampak bayangan berkelebat, gerakannya seperti terbang. I Ki Hu mengulurkan sepasang tangannya dan tahu-tahu leher baju Sang Cin dan Sang Hoat sudah tercengkeram olehnya

Kedua pemuda ini sungguh tidak menyangka bahwa barisan Telaga Bambu yang selama ini sangat dibanggakan oleh keluarganya ternyata dapat dihancurkan dalam waktu yang singkat, wajah mereka pun tampak pucat pasi.

Hati I Ki Hu bangga sekali melihat rasa terkejut kedua anak muda itu. la tertawa terbahak-bahak.

"Ibarat jangkerik menghadang kereta. Ternyata kalian berani menjebak aku ke dalam barisan bambu itu. Ini namanya mencari penyakit sendiri, tahu?"

Sembari berkata, I Ki Hu segera mengerahkan tenaga dalamnya. Tanpa dapat ditahan lagi tubuh Sang Cin dan Sang Hoat melayang sejauh dua depa dengan menimbulkan suara desiran angin kemudian terbanting di atas tanah. Wajah keduanya langsung bengap dan memar di sana sini.

Untung saja kedatangan I Ki Hu ke tempat tinggal keluarga Sang memang tidak bertujuan mencari permusuhan dengan Kakek berambut putih, Sang Hao. Karena itu, tindak tanduknya pun tidak berniat mencelakai kedua pemuda itu. Seandainya dia membanting kedua pemuda itu dengan mengerahkan tenaga dalamnya lebih banyak lagi, tentu mereka sudah mati saat itu juga.

Sementara itu, Sang Cin dan Sang Hoat berusaha bangun. Namun baru saja terduduk tegak, I Ki Hu sudah melayang turun di hadapan mereka. Keduanya terkejut setengah mati. Dalam keadaan gugup, mereka masih herusaha mengadakan perlawanan.

Masing-masing segera mencabut gantulan yang terselip di pinggang kemudian dihantamkan ke arah I Ki Hu. Sekali lagi I Ki Hu tertawa terbahak-bahak, tubuhnya berkelebat, sepasang tangannya menjulur ke depan. Bret! Bret! Tahu-tahu kedua gantulan itu sudah tergenggam di telapak tangannya. Sejak tadi I Ki Hu sudah mengerahkan tenaga murninya ke dalam telapak tangan. Kedua gantulan itu bukan saja tidak sempat melukainya, bahkan tenaga pantulan dari telapak tangannya begitu kuat, hingga kedua gantulan itu terhentak ke depan dan tepat mengenai wajah Sang Cin dan Sang Hoat.

Keduanya langsung memekik kesakitan. Tampak hidung dan bibir mereka berdarah. Kedua gantulan tadi kembali melayang di udara setelah menyampok muka keduanya. Terdengar suara berdengung-dengung dan timbul dua gurat cahaya seperti pelangi yang melintas.

Kali ini, Sang Cin dan Sang Hoat tidak sanggup lagi mengadakan perlawanan. I Ki Hu mengeluarkan suara bentakan. Sekali lagi dia menerjang ke depan untuk mencengkeram kedua pemuda itu. Tetapi baru saja tubuhnya bergerak, dari belakangnya terdengar seseorang berkata.

"Jangan turunkan tangan keji!" Suara terdengar, orangnya pun tiba.

Tampak sesosok bayangan melesat datang ke arah mereka. Tetapi mana mungkin I Ki Hu memandang sebelah mata. Dia tetap menerjang ke depan dan mencengkeram lengan Sang Cin dan Sang Hoat. Setelah itu dia baru menolehkan kepalanya.

Tampak dua orang laki-laki berusia setengah baya dan seorang perempuan yang usianya sekitar empat puluhan tahun sudah berdiri di belakangnya dengan wajah menyiratkan perasaan terkejut.

I Ki Hu tahu ketiga orang ini pasti masih turunan si Kakek berambut putih Sang Hao. Karena itu dia segera tertawa dingin.

"Dengan maksud baik aku datang kemari mengunjungi Kakek berambut putih, Sang Hao. Tetapi kedua bocah ini sungguh kurang ajar. Berani-beraninya mereka mengurung aku dalam barisan bambu. Karena itu aku memberi pelajaran sedikit kepada mereka agar kelak mereka tahu bahwa di atas gunung masih ada gunung, di antara yang jago masih ada orang yang lebih jago."

Wajah perempuan setengah baya itu menyiratkan kepanikan.

"Apa yang dikatakan Tuan memang tidak salah. Kedua bocah ini memang agak nakal. Lagipula pengetahuannya cetek. Punya mata tapi tidak bisa melihat Thai san.

Akibatnya malah menimbulkan kesulitan bagi Tuan." Berkata sampai di sini, dia mendelik kepada Sang Cin dan Sang Hao.

"Kalian berdua, cepat minta maaf kepada Cianpwe ini!" bentak perempuan itu. I Ki Hu tertawa lebar.

"Tidak perlu sampai minta maaf. Cayhe hanya ingin bertemu dengan Lo Sang." Tangannya mengendur, kedua pemuda itu didorong ke depan dan tepat berdiri di samping kiri kanan perempuan setengah baya itu.

Mimik wajah perempuan itu tampak agak lega. "Tuan ingin bertemu dengan ayah . . . sebetulnya tidak menjadi masalah, tetapi ayah . .

."

"Apakah Lo Sang tidak bersedia menemui siapa pun?" tanya I Ki Hu. Wajah perempuan itu langsung berubah menjadi murung.

"Sebetulnya hal ini merupakan rahasia keluarga kami, dan kami tidak ingin orang luar me-ngetahuinya ..."

"Piau moay (adik sepupu), masa kau akan menceritakan urusan ini kepada orang luar," tukas salah satu laki-laki setengah baya yang datang bersama perempuan itu.

Sepasang alis perempuan itu berkerut-kerut sekilas.

"Kalau tidak mengatakan secara terus terang, apakah kalian bisa menahan keinginan Tuan tamu ini?" sahut perempun itu.

Kedua laki-laki setengah baya itu menatap kepada I Ki Hu sejenak, kemudian mereka menundukkan kepalanya.

"Piau moay, bahkan namanya saja kau belum tahu, masa kau sudah ingin menceritakan urusan ini kepadanya?" kata salah satu laki-laki itu lagi.

I Ki Hu mendengar pembicaraan yang berlangsung di antara mereka. Diam-diam hatinya menjadi penasaran. Dia berpikir, kalau mendengar nada pembicaraan mereka, tampaknya telah terjadi sesuatu yang luar biasa dalam keluarga Sang. Sedangkan keluarga Sang ingin menutupi kejadian ini dari orang luar.

Setelah berpikir sejenak, I Ki Hu tahu bahwa ilmu kepandaian si Kakek berambut putih Sang Hao sangat tinggi. Apalagi anggota keluarga Sang semuanya mengerti ilmu silat. Bahkan ada beberapanya yang merupakan jago kelas satu. Seandainya ada seseorang yang bisa menimbulkan masalah di keluarga Sang, I Ki Hu benar-benar tidak sanggup membayangkan siapa orang itu.

"Entah siapa nama Tuan tamu yang mulia?" tanya perempuan itu. "Cayhe she I, tinggal di lembah Gin Hua kok, wilayah barat."

Kedua laki-Iaki dan perempuan setengah baya itu terkejut setengah mati. Wajah mereka langsung pucat pasi. Bahkan tanpa disadari mereka menyurut mundur dua langkah. Apalagi Sang Cin dan Sang Hoat, wajah keduanya persis seperti mayat hidup.

I Ki Hu menyunggingkan seulas senyuman tipis. Setiap ada orang yang mendengar namanya langsung memperlihatkan perasaan terkejut, baginya merupakan sebuah kebanggaan. "Kalian bertiga tidak perlu takut. Kedatangan cayhe tidak mengandung maksud jahat," ujar I Ki Hu.

Mimik wajah si perempuan yang paling cepat pulih kembali. Tetapi masih memperlihatkan sedikit ketegangan.

"Entah ada keperluan apa I sian sing mengunjungi kami? Tadi kedua putra kami berbuat kesalahan, harap I sian sing dapat memaafkan . . ."

I Ki Hu tidak memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk menyelesaikan kata- katanya. Dia melirik sekilas kepada Sang Cin dan Sang Hoat. Wajah kedua pemuda itu tampak semakin tidak enak dilihat.

"Orang yang tidak tahu, tidak bersalah. Kalian tidak perlu khawatir." Perempuan setengah baya itu memang putri si kakek berambut putih Sang Hao.

Namanya Sang Ling. Begitu mendengar bahwa orang yang ada di hadapannya ternyata si Raja Iblis Gin leng hiat dang I Ki Hu, rasa terkejutnya benar-benar tidak terkirakan. Peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya. Dia benar-benar mengkhawatirkan keselamatan kedua putrinya. la juga tahu watak I Ki Hu yang senang orang bersikap rendah di depannya, maka dari itu cepat-cepat dia meminta maaf. Setelah mendengar jawaban I Ki Hu, hatinya baru merasa lega.

"Seandainya dari tadi kami tahu bahwa tamu yang berkunjung adalah I sian sing, seharusnya kami segera mengadakan penyambutan, tetapi sayangnya . . . keluarga Sang sedang tertimpa musibah . . ."

"Sebetulnya apa yang terjadi? Dapatkah kau mengatakannya kepada cayhe?" "Ayah ... Sang Hao sudah meninggal beberapa hari yang lalu."

Mendengar keterangan Sang Ling, tanpa dapat ditahan lagi bibir I Ki Hu mengeluarkan seruan terkejut. Seandainya orang lain yang mendengar berita itu, biarpun terkejut tetapi tidak seperti keadaan I Ki Hu saat itu. Mereka pasti bisa menduganya karena usia Sang Hao memang sudah lanjut. Biarpun ilmu kepandaiannya tinggi sekali, setiap manusia pasti akan mengalami kematian. Tetapi bagi I Ki Hu lain. Sebab dari semua jejak yang telah berhasil ditelusnya, dia sudah menduga bahwa telah terjadi sesuatu dalam keluarga Sang. Karena itu pula, ketika mendengar cerita Sang Ling tentang kematian ayahnya, ia sudah membayangkan bahwa orang tua itu mati tidak wajar. Pasti ada sesuatu yang luar biasa.

Dan yang membuat I Ki Hu terkejut justru karena kepandaian Sang Hao yang sudah tinggi sekali. Bukankah aneh apabila seseorang yang ilmunya demikian tinggi bisa mati secara mendadak tanpa mengalami penyakit apa pun? Bukankah aneh apabila orang yang kepandaiannya demikian tinggi bisa mati tidak wajar?

"Bagaimana Lo Sang menemui kematiunnya? Dapatkah kau menceritakannya?" tanya I Ki Hu setelah perasaan terkejutnya reda. Sang Ling melirik sekilas kepada I Ki Hu. Sepertinya dia merasa heran mengapa orang itu bisa menduga ada yang tidak wajar pada kematian ayahnya. Dia menarik nafas panjang.

"Sebetulnya memalukan kalau cerita ini tersebar di luaran, ayah ... mati karena ter . . . kejut."

I Ki Hu yang mendengarnya benar-benar merasa di luar dugaan. Dia malah mengira pende-ngarannya yang salah.

"Mati terkejut?" Diam-diam hatinya berpikir, entah urusan apa di dunia ini yang dapat membuat si Kakek berambut putih Sang Hao demikian terkejutnya sehingga menemui kematian.

"Tidak salah," sahut Sang Ling. "Meskipun saat itu ayah tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun, tetapi kami melihat dengan jelas mimik wajahnya yang menyorotkan perasaan terkejut, Kemudian langsung mati. Di sini bukan tempat bicara yang leluasa, I sian sing. Bagaimana kalau I sian sing dan I hu jin mampir sebentar di tempat kediaman kami?"

Sebetulnya kedatangan I Ki Hu mempunyai tujuan tersendiri. Tetapi setelah mendengar berita dari Sang Ling bahwa ayahnya mati karena terkejut, timbullah perasaan ingin tahu di dalam hatinya. Malah dia mengenyampingkan dulu urusannya sendiri.

"Baik!" Dengan membimbing Tao Ling, dia mengikuti di belakang Sang Ling dan kedua lelaki tadi menuju gedung kediaman keluarga Sang.

Setelah berjalan kurang lebih setengah li, tam-pak sebidang tanah yang luas sekali. Di atasnya ada bangunan yang besar dengan atap merah dan tembok yang tinggi. Mereka masuk melalui pintu gerbang besar yang terbuat dari besi. Di dalamnya berjejer-jejer rumah dengan ukuran yang berbeda. Mereka menuju gedung yang terletak di tengah- tengah. Bentuknya paling besar dan berloteng.

Begitu masuk ke dalamnya, mereka langsung berhadapan dengan sebuah ruang tamu. Tuan rumah Sang Ling segera mempersilakan para tamunya duduk.

"Tentunya I sian sing merasa heran mengapa ayah bisa mati terkejut, bukan?"

"Ini merupakan berita teraneh yang pernah kudengar." Dia memalingkan kepalanya kepada Tao Ling. "Hu jin, benar tidak?"

Tao Ling menemui berbagai kejadian yang tidak terduga, belakangan dia malah menjadi istri I Ki Hu. Sebetulnya tidak ada hal apa pun yang membangkitkan minatnya lagi. Tetapi mendengar berita kematian Sang Hao, sedikit banyaknya perasaan ingin tahunya tergugah juga. Karena itu dia pun menganggukkan kepalanya.

"Benar-benar kejadian yang aneh," gumam Tao Ling. "Kalau mempertimbangkan biang bencana ini, seharusnya kesalahan ditujukan kepada Kuan Hoang Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan!" ucap Sang ling.

I Ki Hu bertambah bingung.

"Nama ketiga orang ini di dunia kang ouw memang cukup terkenal, tetapi tidak mungkin sampai Lo Sang mati terkejut karenanya," gumam I Ki Hu.

"Di sinilah letak keanehan kejadian ini. Kalau ingin cerita yang lebih jelas, kami harus memulainya dari setengah bulan yang lalu. Malam itu, tiba-tiba ada seseorang yang tubuhnya penuh berlumur darah menerjang masuk ke tempat tinggal kami ini. Ketika sampai di dalam, nafasnya tinggal satu-satu."

"Siapa orang itu?" tanya I Ki Hu.

"Orang itu kakak misan kami yang bernama Sang Cu Ce."

Mendengar Sang Ling menyebut nama itu, sepasang alis I Ki Hu tampak menjungkit ke atas. Sang Ling pun melanjutkan penuturannya.

"Pada saat itu, seperti biasanya setiap bulan sekali seluruh anggota keluarga Sang pasti berkumpul. Ayah juga hadir di tempat. Wajah yang lainnya langsung pucat mengetahui siapa yang menerjang masuk itu. Ayah segera menanyainya. Siapa musuh yang melukainya sedemikian rupa. Tetapi Sang Cu Ce hanya sempat mengucapkan beberapa patah kata, suaranya pun lirih sekali. Wajah ayah langsung berubah hebat.

Tampaknya ayah terkejut sekali mendengar kata-kata kakak misan kami itu. Sang Cu Ce pun menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah mengucapkan beberapa patah kata tadi. Sikap ayah pun berubah. Tanpa mengucapkan apa-apa, orang tua itu langsung masuk ke kamarnya. Pertemuan kali itu pun terpaksa dibubarkan."

"Setelah kejadian itu, apakah ayah kalian tidak mengatakan apa yang diucapkan oleh Sang Cu Ce menjelang kematiannya?"

Sang Ling menggelengkan kepalanya.

"Ternyata I sian sing memang cerdas sekali. Ayah memang tidak mengungkitnya sama sekali, walaupun kami tahu, ketika Sang Cu Ce mengucapkan beberapa patah kata itu, suaranya lirih sekali. Orang lain pasti tidak bisa mendengarnya. Tetapi jarak ayah dengannya begitu dekat, pasti ayah bisa mendengarnya. Tetapi setelah kejadian itu, ternyata ayah pun tidak mengatakannya kepada kami," ujar Sang Ling menjelaskan.

I Ki Hu menegakkan tubuhnya sedikit. Bibirnya mengembangkan senyuman. "Hal ini justru membuat urusannya lebih aneh lagi," katanya.

"Tadinya kami mengira ada musuh tangguh yang akan menyatroni keluarga Sang. Karena itu, meskipun ayah tidak berpesan apa-apa, kami sendiri segera mengadakan persiapan untuk menjaga segala kemungkinan . . ." Berkata sampai di sini, Sang Ling menghentikan ceritanya sejenak. Seakan dia sedang merenungi kembali kejadian saat itu. Kemudian ia baru meneruskan kembali. "Tetapi beberapa hari telah berlalu, ternyata tidak ada kejadian apa pun dalam keluarga kami. Lima hari berlalu lagi, tiba- tiba kami kedatangan tamu. Tetapi yang datang ternyata Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan. Kuan Hong Siau menjelaskan maksud kedatangannya. Kepada ayah ia mengatakan bahwa dia mengharapkan bantuan ayah untuk membebaskan jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan. Tanpa curiga apa-apa, ayah langsung menyetujuinya. Ayah segera menghampiri pasangan suami istri Pat Kua kiam, tetapi setelah memperhatikan sejenak, tiba-tiba wajah ayah berubah hebat.

Sesaat kemudian orang tua itu langsung terkulai di atas tanah. Ketika kami menghampirinya, ternyata ayah tidak tertolong lagi."

Setelah mendengar penuturan Sang Ling, I Ki Hu kembali mengembangkan seulas senyuman.

"Sang kouwnio menganggap kematian ayahmu disebabkan oleh Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan. Bukankah itu namanya menuduh orang sembarangan? Lebih baik kalian keluarkan Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan.

Kedatanganku ke mari justru karena ingin bertemu dengan mereka."

Melihat I Ki Hu dapat menduga semuanya dengan tepat. Sang Ling dan yang lainnya terkejut setengah mati. Diam-diam mereka juga merasa kagum kepada si raja iblis ini.

"Kami hanya menyuruh beberapa anggota keluarga kami mengawasi mereka, sama sekali tidak bermaksud mencelakai mereka."

"Jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan masih belum terbuka. Ada baiknya kita menengok mereka sekarang," kata I Ki Hu kembali

Wajah Sang Ling memperlihatkan kebimbangan. Tetapi I Ki Hu tidak menunggu persetujuan Sang Ling, ia langsung mengajak Tao Ling berdiri. Sang Ling maklum si raja iblis ini pantang dilanggar kemauannya.

"Boleh juga. Tetapi. . . ketika itu kami melihat ayah kami tiba-tiba mati, karena emosi terjadilah sedikit perselisihan yang mengakibatkan perkelahian antara kami dengan Kuan Hong Siau. Sekarang dia masih menderita luka-Iuka. Entah ada keperluan apa I sian sing mencarinya?"

"Urusan ini aku juga sudah menduganya. Tapi tujuanku sebenarnya ingin menanyakan sedikit persoalan kepada pasangan suami istri Lie Yuan. Pokoknya kalian mengantarkan kami menemui mereka saja."

Sang Ling tidak berani membantah. Dia mengajak I Ki Hu dan Tao Ling keluar dari ruangan besar itu, mereka menyusuri sebuah koridor panjang yang menembus ke sebidang tanah yang luas.

Di atas sebidang tanah itu berdiri sebuah bangunan yang bentuknya kotak seperti penjara. Bahannya terbuat dari batu, tingginya kurang lebih tiga depa. Ketika tiba di depan bangunan itu, Sang Ling bertepuk tangan tiga kali. Tampak empat laki-laki bertubuh kekar muncul dari atap bangunan itu. Sang Ling memberi isyarat dengan gerakan tangan. Keempat orang itu menyembunyikan diri lagi. Tidak lama kemudian terdengar suara yang bergemuruh. Pintu batu bangunan itu pun dikerek dengan seutas rantai yang tebal dan menguak terbuka.

Sang Ling menggerakkan tangannya ke samping. "I sian sing, I hu jin, silakan masuk!"

I Ki Hu melongokkan kepalanya ke dalam. Tampak pintu batu itu tebal sekali. Sedangkan rantai besi yang mengereknya setebal lengan manusia dewasa. Tampaknya tidak ada jalan lain lagi kecuali pintu batu itu. Diam-diam dia berpikir dalam hati, apabila ada orang yang terkurung di dalamnya, benar-benar sulit untuk meloloskan diri. Sembari berpikir, dia melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun.

Keadaan di dalamnya remang-remang. Di tembok batu hanya tergantung sebuah penerang yang redup. Namun ilmu kepandaian I Ki Hu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Biarpun tempat yang gelap sekali sehingga jari tangan sendiri pun tidak terlihat, dia masih bisa melihat benda di sekitarnya. Meskipun keadaan di dalam ruangan bangunan itu hanya remang-remang, tidak menimbulkan kesulitan sedikit pun bagi I Ki Hu.

Dia mendongakkan kepalanya, tampak tinggi bangunan itu mencapai tiga depa. Hanya satu tingkat. Di langit-langit ruangan terdapat lubang-lubang kecil sebanyak belasan buah. Ruangan itu sendiri tampak jauh lebih kecil dari bangunan luarnya. Hal ini tidak perlu diherankan, karena temboknya tebal sekali. Di atas lantai terbaring sepasang pria dan wanita, sedangkan di sampingnya berdiri bersandar seorang kakek tua, wajahnya menyiratkan kemarahan. Begitu melihat ada orang yang masuk ke dalam, dia langsung memaki.

"Penjahat keluarga Sang, sebetulnya untuk apa kalian mengurung kami di sini?"

I Ki Hu melihat tampang orang tua itu gagah sekali, tetapi pakaiannya penuh dengan bercak darah. Dari hal ini saja sudah dapat dibayangkan bahwa sebelum terkurung di ruangan ini, pasti mengalami pertarungan yang sengit.

Melihat sekilas saja, I Ki Hu sudah tahu bahwa orang tua itu adalah seorang pendekar tua yang namanya sudah terkenal di wilayah Tung cuan, Kuan Hong Siau. Dan sepasang pria dan wanita yang terbaring tidak bergerak di atas lantai sudah pasti pasangan suami istri Lie Yuan.

I Ki Hu tersenyum kepada Kuan Hong Siau. "Cayhe bukan she . . ."

Belum lagi kata-kata 'Sang' keluar dari mulut-nya, tiba-tiba dia mendengar seruan terkejut dari bibir Tao Ling. I Ki Hu juga merasa pemandangan di hadapan matanya agak menggelap. Tetapi perasaan hati laki-laki ini memang sensitif sekali. Dalam waktu sekejapan mata, dia langsung tahu apa yang telah terjadi. Tanpa membalikkan tubuhnya, dia berjungkir balik di udara. Sesampainya di depan pintu, dia segera menghantamkan sebuah pukulan. Tenaga dalam I Ki Hu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Pukulannya tadi paling tidak mengandung kekuatan sebesar ribuan kati. Setelah menghantamkan pukulannya terdengarlah suara Blam yang berat.

Secepat kilat I Ki Hu membalikkan tubuhnya. Ternyata dugaannya memang tidak salah sedikit pun. Ketika ia dan Tao Ling masuk ke dalam ruangan itu tanpa pertimbangan apa-apa. Ternyata anggota keluarga Sang satu pun tidak ada yang mengikutinya. Malah mereka segera merapatkan kembali pintu batu yang tebal itu. I Ki Hu dan Tao Ling pun terkurung di dalam ruangan batu itu bersama Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan.

Seumur hidupnya, I Ki Hu belum pernah menemui kerugian sebesar ini. Apalagi dulu ketika namanya masih menjadi buah bibir setiap umat persilatan. Ternyata tanpa terduga-duga dia bisa terkurung di dalam ruangan itu. Kemarahannya jangan dikatakan lagi. Benar-benar sulit menguraikan bagaimana perasaan hatinya saat itu

Saking marahnya, I Ki Hu malah memperdengarkan suara tawa terbahak-bahak. Suara tawanya bergema di dalam ruangan batu. Tao Ling yang berdiri di sampingnya segera merasakan gendang telinganya seperti hampir pecah. Darahnya meluap ke atas, berkali-kali dia menggoyang-goyangkan tangannya. I Ki Hu mengeluarkan suara tawa lagi sebanyak tiga kali, baru berhenti. Dia menolehkan kepalanya. Tampak jenggot Kuan Hong Siau yang putih sudah penuh dengan noda darah.

Hal ini membuktikan bahwa luka yang diderita orang tua itu tadinya sudah cukup parah. Dia tidak tahan mendengar suara tawa I Ki Hu yang dipancarkan dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Lukanya pun semakin parah. Darah segar muncrat dari mulutnya. Sejenak kemudian dia baru bisa mempertahankan diri. Dia memandang I Ki Hu lekat-lekat.

"Tenaga dalam saudara benar-benar jarang ditemukan tandingannya di dunia ini. Tetapi setelah terkurung di dalam ruangan batu ini, tentu tidak mudah lagi meloloskan diri," katanya dengan nada dingin.

I Ki Hu tertawa terkekeh-kekeh. Nadanya tajam sekali.

"Kalau aku tidak membasmi seluruh keluarga Sang sampai habis-habisan, aku bersumpah tidak akan menjadi manusia."

"Bagus sekali. Siapa tuan?" tanya Kakek Kuan.

I Ki Hu tidak menjawab. Tubuhnya berkelebat. Tahu-tahu dia sudah sampai di depan tembok batu. Sepasang tangannya diangkat, dengan gerakan merayap dia naik ke atas dan sekejap kemudian dia sudah mencapai langit-langit ruangan itu. Tubuhnya tegak lurus seperti seekor cicak.

Gerakannya barusan sudah menunjukkan sampai di mana ketinggian kepandaian yang dimilikinya. Kuan Hong Siau sampai menarik nafas panjang melihatnya. Di langit- langit ruangan itu terdapat banyak lubang kecil, selain itu satu pun tidak ada jendela. Kegunaan lubang-lubang kecil itu tentu untuk pertukaran hawa dalam ruangan. Tubuh I Ki Hu tegak lurus. Tangannya menjulur ke atas dan mengait salah satu lubang kecil di atas langit-langit. Tapi belum sempat dia melongokkan lehernya untuk mengintip di lubang yang lain, tiba-tiba terdengar kumandang suara dentingan senjata tajam.

I Ki Hu bukan tokoh sembarangan. Begitu mendengar dentingan senjata tajam, dia langsung tahu bahwa ada orang yang menghunus pedang atau golok untuk menebas jari tangannya. Cepat-cepat dia menyurutkan tangannya. Telapak tangan kirinya menjulur ke depan, Plak! Tangannya langsung menempel di langit-langit ruangan

Tenaga dalamnya dialihkan, langsung terpancar daya isap yang kuat sehingga tubuhnya bergelan-tungan di atas. Tangan kanannya pun ditarik secepat kilat.

Baru saja tangannya menyurut ke belakang, terdengarlah suara Trang! seperti ada senjata tajam yang dibacokkan ke bagian tembok di balik langit-langit ruangan. Apabila ia terlambat sedikit saja menyurutkan jari tangannya, tentu saat itu telunjuknya sudah tertebas putus.

Dari atas langit-langit berkumandang suara seseorang.

"I sian sing, namamu di dunia bu lim tidak begitu harum, tindakan ini kami lakukan karena terpaksa. Harap I sian sing sudi memaafkan!"

I Ki Hu tertawa dingin.

"Kalian kira ruangan batu ini sanggup mengurung aku selamanya?"

Pada saat itu, Sang Ling dan tokoh-tokoh berilmu tinggi lainnya dari keluarga Sang sudah berkumpul di atap bangunan. Ketika mendengar nada suara I Ki Hu yang bukan terpancar dari ruangan bawah, hati mereka merasa heran. Mungkinkah ilmu orang ini demikian tinggi sehingga bisa terbang? Kalau tidak mengapa suaranya bisa terpancar dari atas?

Mereka tidak tahu bahwa tenaga dalam I Ki Hu memang sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.

Dia dapat mengedarkan hawa murninya sesuka hati. Karena itu dengan sebelah tangan bisa menempel di langit-langit ruangan. Tubuhnya bisa menggelantung di udara.

Kemudian terdengar lagi seseorang berkata.

"Moay cu, buat apa banyak bicara dengannya. Dia toh sesumbar kehebatannya sendiri, kita lihat saja bagaimana dia bisa meloloskan diri dari ruangan itu."

I Ki Hu masih terus tertawa dingin. Telapak tangannya bergeser sedikit, dia mengintip dari sebuah lubang.

"Kalau aku sudah keluar dari ruangan ini, kalian baru tahu rasa." Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar melihat wajah I Ki Hu tampak dari celah lubang angin. Dia segera mengeluarkan sebilah pisau kecil kemudian dihunjamkannya melalui lubang itu.

Dalam pikirannya, I Ki Hu pasti tidak sempat menghindar. Walaupun belum tentu bisa membunuh si Raja Iblis itu, setidaknya dapat membuat wajahnya menjadi cacat.

Setelah kematian Sang Hao, di dalam keluarga Sang memang masih ada beberapa orang tokoh yang ilmunya cukup tinggi. Cukupanlah apabila ingin menjual lagak di dunia kang ouw. Tetapi untuk memahami sampai di mana tingginya kepandaian I Ki Hu, tentu masih jauh sekali.

Begitu pisau kecil tadi menyusup ke dalam lubang, tiba-tiba I Ki Hu menyurutkan kepalanya dan jari tangannya menelusup ke dalam celah lalu menjepit pisau itu kuat- kuat.

Sekejap kemudian terdengarlah suara jeritan histeris laki-laki itu. Disusul dengan suara Bluk! seperti benda berat yang jatuh. I Ki Hu pun tertawa dingin.

"Sudah tahu kehebatanku?" katanya sinis.

Rupanya ketika jari tangan I Ki Hu sudah berhasil menjepit pisau tadi, dia segera mengerah-kan tenaga dalamnya ke ujung jari. Pisau itu pun terpental membalik dan menghunjam ke orang itu sendiri. Benar-benar senjata makan tuan.

Kali ini terdengarlah suara bising berkumandang dari atas. Rupanya mereka terkejut sekali melihat kelihaian I Ki Hu.

"Cepat pergi! Dia toh sudah terkurung di dalam bangunan ini. Cepat atau lambat dia pasti mati kelaparan," seru seseorang dari keluarga Sang.

Orang-orang itu bergegas meninggalkan atap bangunan. Mereka tidak memperdulikan I Ki Hu lagi. Tangan I Ki Hu yang sebelah menelusup ke dalam saku. Kemudian menyusup kembali ke dalam celah lubang angin lalu mengibas. Saat itu juga terdengar suara pekik kesakitan, juga suara Bak! Buk! Bak! Buk! seperti benda jatuh. Rupanya barusan dia menyambitkan sejumlah senjata rahasia dan pasti ada beberapa orang yang menjadi korban. I Ki Hu tersenyum puas, tubuhnya pun melayang turun lagi ke bawah.

Tampak Kuan Hong Siau memandanginya sambil menarik nafas panjang. "Kepandaian saudara seperti dewa," kata Kakek Kuan.

"Apakah kau bisa menghitung berapa orang yang menjadi korban senjata rahasiaku tadi?" tanya I Ki Hu dengan tawa datar.

Kuan Hong Siau ikut tertawa.

"Yang jatuh dari atas saja ada sembilan orang, mungkin ada yang mati sebelum sempat melompat turun," jawabnya. I Ki Hu merasa bangga sekali, dia meremas-remas tangannya sambil tertawa senang.

"Tampang saudara gagah sekali. Ilmu kepandaian juga mengejutkan. Apalagi orang- orang dari keluarga Sang tadi memanggil Anda I sian sing. Jangan-jangan saudara ini yang mendapat julukan Gin leng hiat ciang I Ki Hu."

"Tidak salah. Sahabat Kuan, tidak disangka kita bisa bertemu di tempat seperti ini, bukan?"

"Memang benar-benar tidak disangka," ucap Kuan Hong Siau dengan tawa getir.

Kuan Hong Siau adalah seorang pendekar dari golongan lurus dan berjiwa besar. la paling membenci segala macam kejahatan. Sebetulnya bertolak belakang dengan I Ki Hu. Tetapi justru tidak terduga-duga mereka bisa terkurung dalam ruangan yang sama.

"Sahabat Kuan, mengapa pasangan suami istri Lie Yuan bisa tertotok jalan darahnya? Dan sebetulnya bagaimana cara Sang Hao menemui kematiannya? Dapatkah kau menjelaskannya dengan terperinci?" tanya I Ki Hu.

"Baik," sahut Kuan Hong Siau.

Dia langsung menceritakan kedua peristiwa yang disaksikannya dengan mata kepala sendiri. I Ki Hu mendengarkan dengan penuh perhatian. Kenyataannya apa yang ia dengar dari Kuan Hong Siau tidak banyak bedanya dengan cerita yang pernah didengarnya dari orang lain.

I Ki Hu merenung sejenak setelah cerita Kuan Hong Siau selesai.

"Kalau begitu, Lo Sang secara tidak langsung dibunuh oleh perasaan terkejutnya ketika mengetahui siapa yang menotok jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan?" tanyanya kemudian.

"Cayhe juga mempunyai pendapat yang sama. Tempo hari ketika pertama kali Sang Cu Ce melihat totokan yang terdapat di tubuh pasangan suami istri Lie Yuan, wajahnya langsung berubah hebat. Tetapi rasa terkejut yang diperlihatkan oleh Sang Cu Ce berbeda maknanya dengan rasa terkejut yang diaiami Sang Hao. Dalam anggapan Sang Cu Ce, ilmu totokan keluarga Sang terkenal di dunia bu lim. Tetapi kenyataannya dia tidak tahu jalan darah mana di bagian tubuh pasangan suami istri Lie Yuan yang tertotok. Belum tentu dia tahu siapa orang yang melakukannya. Bagaimana menurut pendapat saudara?"

"Betul. Tetapi sekali lihat saja Lo Sang sudah mengenali siapa pelakunya. Karena itu, saking terkejutnya jantungnya jadi putus seketika. Tampaknya sahabat yang melakukannya patut bangga juga karenanya. coba aku ingin melihatnya, siapa tahu aku akan mengikuti jejak Lo Sang?" kata I Ki Hu dengan maksud bergurau.

Sembari berkata, bibirnya menyunggingkan senyuman. Dia berjalan menghampiri pasangan suami istri Lie Yuan yang terbaring di lantai. Kemudian dia membungkukkan tubuhnya memeriksa dengan teliti. Padahal senyuman yang menghiasi bibirnya wajar sekali, namun setelah memperhatikan keadaan pasangan suami istri Lie Yuan, senyumannya langsung terpaku. Mimik wajahnya jadi aneh sekali. Mirip seseorang yang sedang tersenyum tetapi tiba-tiba tertotok jalan darahnya sehingga tetap seperti semula tapi kaku.

Kuan Hong Siau yang melihat keadaan itu jadi bingung. Dia mengantarkan pasangan suami istri Lie Yuan ke Si Cuan ini sebetulnya dengan niat baik. Karena dia sendiri tidak sanggup membebaskan jalan darah kedua orang itu

Begitu sampai di kediaman keluarga Sang, si Kakek berambut putih yang melihat keadaan pasangan suami istri Lie Yuan langsung mati terkejut. Hal ini menimbulkan kemarahan anggota keluarga Sang lainnya. Maka mereka pun terlibat pertarungan yang sengit, karena seorang diri menghadapi begitu banyak anggota keluarga Sang yang semuanya berilmu cukup tinggi. Dirinya sampai terluka di sana sini, Akhirnya mereka dikurung dalam ruangan batu ini.

Hati Kakek Kuan memang merasa heran. Mengapa tokoh seperti Sang Hao yang menguasai kepandaian tinggi dan namanya sudah demikian terkenal di dunia kang ouw, juga mempunyai pengetahuan yang luas bisa mati terkejut begitu melihat totokan di tubuh pasangan suami istri lie Yuan. Sekarang melihat mimik wajah I Ki Hu, dia semakin kebingungan. Diam-diam hatinya sadar bahwa I Ki Hu pasti sudah mengetahui siapa orangnya yang menotok jalan darah di tubuh pasangan suami istri Lie Yuan.

Lagipula nama orang penotok jalan darah itu bisa membuat Gin leng hiat ciang begitu terkejut sehingga wajahnya pucat pasi. Entah siapa tokoh yang misterius itu?

Keheranan di hati Kuan Hong Siau jangan ditanyakan lagi. Dia juga tidak mengerti apa sebenarnya yang ada di balik semua ini. Tampak I Ki Hu merenung sekian lama, senyuman di wajahnya baru dikembangkan kembali. Tetapi tampaknya terlalu dipaksakan. Sepasang tangannya menyilang di depan dada. Di dalam ruangan batu itu dia berjalan mondar mandir, seakan-akan sedang memikirkan persoalan yang amat rumit.

Sampai lama sekali masih belum terdengar I Ki Hu mengucapkan sepatah kata pun.

"Apakah I sian sing sudah mengenali siapa orangnya yang menotok jalan darah mereka?" tanya Kuan Hong Siau yang sudah tidak tahan lagi menahan rasa ingin tahunya.

I Ki Hu hanya mendehem satu kali sebagai jawaban.

"Kalau begitu, tentu I sian sing dapat membebaskan totokan mereka, bukan?" tanya Kakek Kuan kembali.

Mendengar pertanyaan itu, langkah kaki I Ki Hu langsung terhenti. Sepasang matanya menyorotkan sinar yang dingin. Dari alisnya terpancar hawa pembunuhan yang tebal. la menatap Kuan Hong Siau lekat-lekat.

Mendapat tatapan sedemikian rupa, tanpa disadari tubuh Kuan Hong Siau bergetar hebat. "Sahabat Kuan, kau toh tidak mungkin keluar lagi dari ruangan batu ini. Untuk apa kau masih memikirkan hidup?" ucap I Ki Hu dengan nada suara dingin.

Seumur hidupnya, Kuan Hong Siau tidak pernah meninggalkan dunia bu Lim. Terhadap ucapan I Ki Hu barusan, ia mengerti bahwa dirinya tidak akan luput dari kematian. Tetapi hatinya justru merasa heran mengapa tiba-tiba saja timbul niat jahat dalam hati I Ki Hu kepadanya? Apalagi barusan sikap yang diperlihatkan si Raja Iblis itu baik-baik saja. Tidak terkandung kesan akan mencelakainya.

"Orang she Kuan itu sudah lama hidup di dunia. Kematian bukan suatu hal yang menakut-kan. Tetapi cayhe justru ingin tahu mengapa tiba-tiba timbul keinginan membunuh di hati saudara?" tanya Kuan Hong Siau dengan tawa getir,

"Kau memang tidak malu disebut laki-laki sejati. Terus terang saja aku katakan kepadamu bahwa aku tidak sanggup membebaskan jalan darah kedua orang itu. Tetapi aku justru tidak ingin hal ini diketahui orang-orang bu lim. Jangan sampai ada yang tahu bahwa dengan kepandaian yang kumiliki, ternyata masih ada hal yang tidak sanggup kulakukan. Karena itu pula, aku tidak akan membiarkan ada mulut yang hidup."

Hati Kuan Hong Siau tercekat. Diam-diam dia berpikir dalam hati. Nama busuk si Raja Iblis itu ternyata bukan nama kosong. Hanya karena alasan yang sederhana, dia tidak segan melakukan pembunuhan.

Setelah termangu-mangu sejenak, Kuan Hong Siau tertawa sumbang. "Kalau begitu, harap I sian sing turun tangan saja!" ucap Kakek Kuan.

Tiba-tiba tubuh I Ki Hu berkelebat ke depan. Lengan bajunya mengibas tepat di jalan darah terpenting bagian dada Kuan Hong Siau. Orang tua itu juga sadar dirinya sudah terluka parah, percuma saja menghindar. Karena itu dia memejamkan matanya dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Begitu jalan darah di dadanya terkena kibasan lengan baju I Ki Hu, orang tua itu pun terkulai jatuh dan mati seketika.

I Ki Hu tertawa seram. Kemudian dia berjalan ke arah pasangan suami istri Lie Yuan. Langkahnya perlahan tapi pasti.

Sejak masuk ke dalam ruangan batu, kecuali seruan terkejut tadi, Tao Ling tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ketika ia melihat I Ki Hu menghampiri pasangan suami istri Lie Yuan, hatinya langsung tercekat. Kedua orang itu, bagaimana pun merupakan orang tua Lie Cun Ju.

Entah di mana sekarang Lie Cun Ju berada. Tetapi selama Tao Ling masih hidup, ia tidak ingin bertemu lagi dengan pemuda itu. Sekarang kedua orang tua Lie Cun Ju sedang menghadapi kesulitan. Tentu saja dia tidak bisa berdiam diri tanpa memberikan pertolongan apa-apa.

"Hu kun, tunggu dulu!" seru Tao Ling tanpa sadar. I Ki Hu menolehkan kepalanya. "Apakah Hu jin ingin memintakan pengampunan bagi kedua orang ini?" katanya. Tao Ling maju selangkah.

"Sekarang jalan darah mereka sudah tertotok, mengapa Hu kun niasih ingin menurunkan tangan jahat?" ujar Tao Ling.

I Ki Hu tertawa terbahak-bahak.

"Hu jin tidak tahu, orang yang menotok jalan darah mereka mempunyai hati yang keji sekali. Bahkan jauh lebih keji daripadaku. Seandainya mereka dapat berbicara, tentu mereka memilih mati daripada tersiksa sedemikian rupa. Apabila aku turunkan tangan jahat kepada mereka sama halnya aku melepaskan mereka dari kesengsaraan. Di alam baka, arwah mereka malah akan berterima kasih atas budiku ini."

Tao Ling terdiam mendengar kata-katanya. I Ki Hu melanjutkan kemhali. "Tetapi aku harus membebaskan dulu jalan darah mereka agar bisa menjawab beberapa pertanyaanku."

Tao Ling terkejut sekali.

"Aih .. . Bukankah tadi kau mengatakan bahwa kau tidak sanggup membebaskan jalan darah mereka?"

"Aku memang tidak bisa membebaskan jalan darah mereka. Tetapi aku bisa menggunakan semacam cara untuk mengedarkan hawa murni tubuh mereka, lalu memutuskan seluruh urat nadi dalam tubuh. Dengan demikian totokan di bagian mana pun bisa lancar kembali?" tukas I Ki Hu.

Tao Ling memang gadis yang cerdas. Dia langsung memahami maksud I Ki Hu. "Tetapi .. . dengan cara seperti itu, mereka toh bisa langsung mati."

"Betul. Kalau seluruh urat nadi dalam tubuh sudah putus, mana mungkin seseorang bisa mempertahankan hidupnya. Tetapi aku masih mempunyai semacam cara yang bisa menunda kematian mereka sesaat sehingga ada waktu untuk menjawab pertanyaan yang akan aku ajukan."

Tao Ling merenung sejenak.

"Hu kun, bolehkah kau pandang aku dan menunda sebentar keinginanmu itu?" ucap Tao Ling.

"Hu jin, kau tidak ingin melihat kematian kedua orang ini, apakah karena Lie Cun Ju?" tanya I Ki Hu tajam.

Mengetahui isi hatinya dapat terbaca oleh I Ki Hu, hati Tao Ling tercekat bukan main. "Bu . . . bukan." Tao Ling menjawab dengan panik. I Ki Hu tidak memperdulikannya.

"Apabila kedua orang ini tidak menjelaskan riwayat hidup Lie Cun Ju, seumur hidup aku tidak akan tenang. Aku boleh gagal, membunuh sepuluh orang tetapi tidak boleh membiarkan seorang musuh yaitu Lie Cun Ju lolos. Tetapi apabila mereka berdua mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa Lie Cun Ju memang anak kandung mereka, maka harapan untuk hidup bagi pemuda itu masih ada."

Pikiran Tao Ling jadi ruwet mendengar kata-kata I Ki Hu. Dia tidak ingin pasangan suami istri Lie Yuan mati begitu saja, justru karena memikirkan Lie Cun Ju. Tetapi sekarang, setelah mendengar nada perkataan I Ki Hu, dia sadar bahwa Lie Cun Ju sudah pasti akan dibunuhnya apabila kedua orang ini tidak mati.

Tao Ling melirik sekilas kepada pasangan suami istri Lie Yuan. Wajah mereka pucat pasi, tubuh keduanya kurus kering. Ditilik dari keadaan ini saja sudah membuktikan bahwa mereka tidak akan bertahan lama hidup di dunia ini lagi. Kalau dibandingkan dengan Lie Cun Ju yang masih muda dan sehat, tentu saja Tao Ling memilih yang terakhir. Karena itu dia hanya dapat menarik nafas panjang mengingat nasib yang akan dialami kedua orang itu.

"Terserah kau saja!" kata Tao Ling singkat.

I Ki Hu tertawa. Dia membungkukkan tubuhnya untuk mengangkat Lie Yuan dan disandarkannya ke tembok ruangan. Kemudian tangan kanannya secepat kilat bergerak menepuk ubun-ubun kepala laki-laki itu.

Ubun-ubun kepala merupakan pusat urat nadi yang berhubungan dengan seluruh bagian tubuh. Begitu mendapat tepukan oleh tangan I Ki Hu, seluruh tubuh Lie Yuan langsung bergetar.

Kemudian tampak I Ki Hu menepuk lagi salah satu jalan darah di punggung laki-laki tersebut. Tampak rona wajah Lie Yuan mulai menyiratkan kemerahan. Kemudian Hoakkkk! Darah segar pun bermuncratan dari mulutnya.

Tangan I Ki Hu tetap menekan jalan darah di punggung Lie Yuan.

"Sahabat Lie, biar bagaimana kau tetap akan mati. Cepat katakan apakah Lie Cun Ju anak kandungmu sendiri atau bukan?" tanya I Ki Hu dengan nada membentak.

Rona wajah Lie Yuan yang merah perlahan-lahan memudar lagi. la menarik nafas panjang.

"Siapa kau?" tanya Lie Yuan.

I Ki Hu tidak merasa heran dengan pertanyaannya itu.

Ketika memeriksa keadaan pasangan suami istri Lie Yuan, I Ki Hu mendapatkan bahwa bukan saja jalan darah mereka tertotok, melainkan pada setiap bagian tubuh pun terdapat luka yang parah sekali. Tubuh mereka bukan saja tidak dapat bergerak, bahkan telinga pun tidak dapat mendengar apa-apa. Sebetulnya tidak jauh berbeda dengan mati. Satu-satunya yang dapat dijadikan pegangan bahwa mereka masih hidup, hanyalah pernafasan yang sudah lemah sekali.

Karena itu pula, meskipun I Ki Hu sudah cukup lama berada di dalam ruangan batu itu, lie Yuan tetap tidak tahu siapa dia.

Sementara itu, I Ki Hu terus menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh lie Yuan agar orang itu tidak langsung mati.

"Kau tidak perlu urus siapa aku, tapi aku mempunyai permusuhan yang dalam dengan tocu Hek cui to, Cin Hu. Cepat kau katakan apakah lie Cun Ju anakmu yang sebenamya atau anak tocu Hek Cui to itu?" tanya I Ki Hu lagi.

Di wajah Lie Yuan tampak tersirat seulas senyuman yang ganjil.

"To . . . cu Hek .. . cu ... i to ... Ci... Cin . . . Hu . . .? Anak . .. nya ... Mak . . . sud ... mu

. . .?"

Kata-kata Lie Yuan dicetuskan dengan susah payah. Suaranya tersendat-sendat. Hati I Ki Hu justru diliputi ketegangan menunggu ia menyelesaikannya.

Namun di tengah ketegangan hati I Ki Hu terselip beberapa bagian kegembiraan.

Selama dua

puluh tahun belakangan ini, dia terus mencari keturunan musuh besarnya itu. Boleh dibilang ia tidak pernah mendapat berita apa pun. I Ki Hu fanatik sekali dengan prinsipnya yang dikatakan 'api yang liar sulit dipadamkan, angin musim semi terus berhembus silih berganti'. Meskipun ilmu silatnya sekarang sudah mencapai taraf yang tidak terkatakan tingginya, asal masih ada seorang saja keturunan musuhnya yang masih hidup, dia tidak dapat tidur dengan tenang.

Sebetulnya pendapat I Ki Hu itu salah sekali. Yang membuat hidupnya tidak tenang, sebetulnya perbuatannya sendiri. Apabila seseorang tidak melakukan kejahatan, tentu tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan ia pun dapat hidup dengan tenang. Tetapi sekali seseorang melakukan kejahatan, perbuatannya itu akan membayang-bayangi dirinya sendiri, perasaan khawatir di dalam hati tidak dapat dihapuskan. Seperti seorang pencuri, meskipun sudah berhasil, tetapi setiap saat ia khawatir dirinya akan ketahuan.

Sedangkan ketegangan di hati Tao Ling diliputi dengan perasaan takut. Sebab apabila Lie Yuan mengiakan pertanyaan I Ki Hu, sama saja Lie Cun Ju telah divonis hukuman mati.

Tetapi setelah mengucapkan beberapa patah kata dengan susah payah, Lie Yuan malah terdiam kembali

"Cepat jawab. Iya atau bukan? Tidak usah bertele-tele!" tanya I Ki Hu lagi dengan nada tidak sabar.

Sepasang mata Lie Yuan mendelik marah. Tenggorokannya mengeluarkan suara Krok! Krok! yang aneh. Melihat keadaannya, sepertinya laki-laki itu sedang berusaha ingin mengatakan sesuatu. Tetapi sampai akhirnya dia tidak sempat mengatakan apa- apa lagi. Kepalanya terkulai dan ia pun menghembuskan nafas terakhir.

I Ki Hu semakin gusar melihat dirinya sudah menghamburkan sekian banyak hawa murni tetapi tidak ada hasilnya sama sekali. Tenaga dalamnya dikerahkan dan tuhuh Lie Yuan yang sudah kaku itu pun dipentalkan sampai jauh. Kemudian dia membalikkan tuhuhnya dan menatap Tao Ling sekilas sambil tertawa dingin. Hati Tao Ling tergetar. Sekali lagi I Ki Hu memondong tubuh Lim Cin Ing. Dia juga menepuk ubun-ubun kepala perempuan itu persis seperti yang dilakukunnya pada Lie Yuan.

Lim Cin Ing juga mengeluarkan seruan terkejut, darah merembes dari sudut bibirnya. Matanya membuka dan melirik ke sekelilingnya.

"Di . . . ma . . . na . . . a . . . ku . . .?" Ketika matanya sempat melihat jenasah Lie Yuan, sekali lagi mulutnya menjerit.

I Ki Hu menahan hawa amarah dalam dadanya yang hampir meluap.

"Lie hu jin, suamimu sudah mati. Kau juga tidak bisa hidup lebih lama lagi. Apabila ada kata-kata yang ingin kau sampaikan. Utarakanlah sekarang juga!" katanya.

Keadaan Lim Cin Ing tampaknya lebih lumayan dibandingkan suaminya tadi. Dia menarik nafas panjang satu kali.

"Tidak ada pesan apa-apa lagi," jawab Lim Cin Ing.

"Kau mempunyai dua orang putra. Yang satu sudah mati terbunuh Tao Heng Kan di kediaman Kuan Hong Siau. Masa kau tidak mempunyai pesan apa-apa terhadap putramu yang satunya lagi?" kata I Ki Hu dengan panik.

Mata Lim Cin Ing langsung mengedar ke sana ke mari. "Di ... ma ... na ... dia sekarang?"

"Dia baik-baik saja. Tetapi dia tidak ingin bertemu dengan kalian lagi."

Wajah Lim Cin Ing tampak menyiratkan penderitaan yang tidak terkirakan mendengar ucapan I Ki Hu.

"Kenapa?" tanya Lim Cin Ing.

Sepasang mata I Ki Hu menatap reaksi Lim Cin Ing lekat-lekat.

"Dia mengatakan bahwa kalian bukan orang tua kandungnya. Tetapi selama ini kalian selalu menutupi hal ini. Karena itu dia merasa benci dan tidak ingin bertemu dengan kalian lagi," sahut I Ki Hu.

Tiba-tiba Lim Cin Ing tertegun. Dia memaksakan dirinya untuk berdiri tegak, tetapi keadaan-nya sudah lemah sekali. la tidak mempunyai tenaga sedikit pun. Setelah berusaha sesaat, wajahnya jadi merah padam, tetapi tetap saja tubuhnya tidak dapat ditegakkan.

"Mengapa . . . dia . . . bisa berkata demi . . . kian . . .?"

Kata-kata yang diucapkan I Ki Hu seakan dirinya mengandung perhatian yang besar terhadap Lie Cun Ju. Tetapi sebenarnya semua hanya karangannya sendiri untuk mengetahui benar tidaknya pendapat hatinya saat itu.