-->

Pedang Tanpa Perasaan Jilid 04

Jilid 04

Leng Coa sian sing merenung sekian lama. Kemudian baru terdengar suaranya kembali.

"I kouwnio, ada sesuatu yang ingin kutanyakan," tanya orang tua itu.

"Mengapa Leng Coa Sian Sing demikian sungkan? Ada apa silakan katakan saja." "Kedua orang itu, baik yang iaki-laki maupun yang perempuan tidak memiliki ilmu yang seberapa hebat. Boleh dibilang bocah masih ingusan dalam ilmu silat. Tapi mengapa tiga iblis dan Nona I sendiri demikian memandang tinggi mereka dan mengejarnya sampai kemana pun?" ujar Leng Coa Sian Sing.

Gadis itu berdiam diri beberapa saat.

"Tiga iblis dari keluarga Lung mengejar mereka karena jejak mereka datang ke wilayah barat secara tiba-tiba dipergoki oleh kedua orang itu. Mengenai aku sendiri, Leng Coa sian sing, bisakah kau mengurangi rasa ingin tahumu?"

"I kouwnio, apakah kau kira bisa menggertak aku?" sahut orang tua itu.

Pembicaraan kedua orang itu terdengarnya sungkan sekali. Tetapi dari nadanya siapa pun dapat mengetahui bahwa mereka sedang saling berkutet, dan siapa pun tidak ada yang sudi mengalah.

Lagi-lagi gadis itu tertawa cekikikan. Suara tawa itu demikian merdu, tetapi di dalamnya terselip pengaruh yang kuat dan membuat orang bergidik.

"Leng Coa sian sing, dengan kekuatanku seorang diri, tentu saja aku tidak berani menekanmu. Tetapi siok siok (paman) ku masih ada di luar. Dia sedang menunggu jawaban dariku . . ."

Tao Ling yang mendengarkan pembicaraan mereka dari ruang satunya langsung menyadari, bahwa orang yang dipanggil siok-siok oleh gadis itu pasti si orang tua bertubuh kurus yang ikut menyuapinya di dalam kereta tempo hari. Entah apa yang dikatakan Leng Coa Sian Sing. Tao Ling berusaha mendengarkan dengan seksama. Tetapi keadaan di ruang satunya bahkan sunyi senyap. Sampai beberapa saat baru terdengar Leng Coa Sian Sing berbicara. Namun suaranya begitu lirih sehingga Tao Ling tidak berhasil men-dengarkannya.

"Kalau begitu, sekarang aku mohon diri!" sahut gadis itu.

Tao Ling memang tidak tahu apa yang dibicarakan Leng Coa Sian Sing kepada gadis itu, tetapi mendengar gadis itu berpamitan, setidaknya perasaan Tao Ling menjadi lega.

"Maaf tidak mengantar . . . sampaikan salam kepada ayah dan pamanmu!" ucap Leng Coa Sian Sing.

Suara pintu terbuka disusul dengan suara ringkikan kuda lalu derap langkahnya yang menjauh. Pasti gadis cantik itu datang dengan keretanya yang mewah dan sekarang sudah pergi lagi.

Tidak lama kemudian, Leng Coa Sian Sing masuk lagi ke dalam rumah. Dia menatap Tao Ling beberapa saat. Pandangan matanya agak aneh. Tetapi Tao Ling tidak bisa menerka apa maksud hatinya. Orang tua itu mengulurkan tangan dan menepuk kedua jalan darahnya yang tertotok.

Sekarang Tao Ling bisa bergerak juga bisa berbicara. Dia segera bertanya kepada Leng Coa sian sing, "Locianpwe, apakah I kouwnio itu sudah pergi? Siapa dia sebetulnya?"

"Tidak lama lagi kau pasti tahu sendiri, buat apa bertanya?" ujar Leng Coa Sian Sing sambil tersenyum aneh.

Tao Ling tidak tahu apa yang terkandung dalam hati kakek itu. Terpaksa dia menghentikan pertanyaannya.

Leng Coa Sian Sing mengulurkan tangannya mengambil salah sebuah botol dari ratusan botol yang berjajar di rak dinding. Dituangkannya tiga butir pil kemudian berkata, "Minumlah tiga butir pil ini! Dalam waktu satu kentungan kecuali mengedarkan hawa murni dalam tubuh, tidak boleh sembarangan bergerak. Besok bila melihat ada bercak-bercak merah di telapak tanganmu, kau baru temui aku lagi!"

Tao Ling melihat orang tua itu sudah melupakan urusan pertarungan mereka tadi. Hatinya malah jadi tidak enak.

"Locianpwe, maafkan kesalahan boanpwe tadi!" ucap Tao Ling "Tidak perlu banyak bicara!" tukas orang tua itu.

"Locianpwe, entah bagaimana keadaan Lie toako? Apakah membahayakan jiwanya?" tanya Tao Ling sambil matanya melirik Lie Cun Ju. Leng Coa Sian Sing tersenyum. Senyumannya kali ini juga terasa tidak wajar. Sekali lagi Tao Ling tertegun. Entah apa yang dirahasiakan orang tua ini? Setelah tersenyum, Leng Coa Sian Sing berkata dengan perlahan, "Di saat kau mendesak racunmu ke telapak tangan, mungkin dia sudah dapat berbicara."

Tao Ling melihat keseriusannya. Rasanya orang tua itu tidak mungkin berdusta. Perasaan Tao Ling jadi lega. Dia segera menepi ke sudut ruangan dan bersila sambil memejamkan mata.

Sejak meneguk cairan buah Te hiat ko, aliran darah Tao Ling beredar dengan lancar. Hawa murni dalam tubuhnya bahkan seperti meluap-luap. Tidak berapa lama kemudian, dia memusatkan seluruh konsentrasinya untuk mendesak racun di dalam tubuhnya ke bagian telapak tangan. Meskipun demikian, suara di sekelilingnya masih bisa terdengar dengan jelas.

Entah berapa lama dia duduk bersila, tiba-tiba telinganya mendengar suara Leng Coa Sian Sing. "Racun ular itu sudah terdesak ke bagian telapak tanganmu. Kau sudah boleh bangun sekarang!"

"Masa begitu cepat sudah satu kentungan?" tanya Tao Ling bingung.

Tao Ling membuka mata dan menolehkan kepalanya. Tampak Lie Cun Ju sudah duduk bersandar. Wajahnya tampak masih pucat, tetapi dia sudah bisa tersenyum.

"Lie toako, apakah kau sudah sembuh?" Tao Ling bertanya dengan gembira.

"Boleh dibilang aku sudah sampai di depan pintu neraka, tetapi ditarik kembali," sahut Lie Cun Ju.

Tao Ling masih ingin berbicara dengan Lie Cun Ju, tetapi dicegah oleh Leng Coa Sian Sing. Tao Ling menolehkan kepalanya. Tampak tangan orang tua itu menggenggam sebatang jarum sepanjang tiga inci, sinarnya berkilauan.

"Rentangkan telapak tanganmu, aku akan mengeluarkan cairan racun di dalamnya!"

Tao Ling mengulurkan telapak tangannya. Hatinya terkejut tidak kepalang. Tampak telapak tangannya penuh dengan bercak-bercak merah berbentuk bunga bwe. Begitu indahnya sehingga tampak seperti lukisan. Tetapi kalau dipandang lama-lama agak mengerikan seakan mengandung sesuatu kegaiban yang sesat. Baik telapak tangan kiri maupun kanan, kedua-duanya dipenuhi bercak yang sama.

Tao Ling sudah melihat kehebatan Leng Coa Sian Sing menyembuhkan Lie Cun Ju. Hatinya semakin yakin dengan keahlian orang tua itu. Kedua telapak tangannya diulurkan ke depan dan diletakkan di atas meja. Leng Coa Sian Sing segera menusuk bagian tengah gambar bunga Tho yang ada di telapak tangan gadis itu dengan jarumnya. Kemudian dengan menggunakan jari tangannya dia menekan pinggiran bercak bunga Tho itu. Jarum emas yang digunakan Leng Coa Sian Sing cukup besar. Tao Ling yakin, asal sekitar tempat yang ditusuk tadi ditekan kuat-kuat, racun ular tadi pasti akan menyembur keluar. Tetapi setelah menekan heberapa kali, tampak wajah Leng Coa Sian Sing menunjukkan perubahan. Warna bercak bunga Tho di telapak tangan Tao Ling masih berwarna merah segar, tidak memudar sedikit pun.

"Aneh sekali!" Dia mencabut jarum tadi. Dan ditusukkannya kembali ke bercak bunga Tho yang kedua. Di setiap telapak tangan Tao Ling memang ada bercak lima kuntum bunga Tho. Tetapi sampai semuanya ditusuk dan ditekan oleh Leng Coa Sian Sing, bercak itu tetap saja tidak ada setitik pun racun ular yang keluar.

"Locianpwe, apakah racunnya tidak dapat dikeluarkan?" tanya Tao Ling penasaran.

Leng Coa Sian Sing tidak langsung menjawab. Dia mengulurkan tangannya untuk meraba denyut nadi di pergelangan tangan Tao Ling. Kemudian dia menyimpan kembali jarum emasnya. "Racun-nya tidak dapat dikeluarkan lagi!" ucapnya.

"Tapi, a . . . ku tidak apa-apa?" ucap Tao Ling tertegun. "Kau tidak akan apa-apa!" sahut Leng Coa Sian Sing.

Tadinya Tao Ling mengira Leng Coa Sian Sing hanya membesar-besarkan hatinya. "Locianpwe, katakan terus terang!"

"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya!" Berkata sampai di sini, dia menjadi bimbang sesaat. Kemudian dia baru melanjutkan kembali kata-katanya. "Lain kali apabila kau bergebrak dengan seseorang, harap jangan menggunakan kekerasan. Terlebih-lebih terhadap saudara kandungmu atau saudara seperguruanmu sendiri, jangan sekali-kali mengadu pukulan!"

"Locianpwe, apa maksud kata-katamu barusan?" tanya Tao Ling. Hatinya bingung setelah mendengar nasehat dari Leng Coa Sian Sing.

"Pokoknya kau turuti saja perkataanku tadi. Tidak usah banyak tanya!" ucap Leng Coa Sian Sing.

Tao Ling tahu, percuma dia bertanya terus, karena itu dia tidak berkata apa-apa lagi.

Enam hari telah berlalu. Luka dalam yang diderita Lie Cun Ju sudah mulai sembuh. Dia sudah bisa bergerak dan berjalan. Pada hari ketujuh, Tao Ling sedang berbincang- bincang dengan pemuda itu di ruangan dalam. Tiba-tiba mereka mendengar suara seorang gadis.

"Leng Coa Sian Sing, aku datang untuk memenuhi perjanjian!"

Begitu mendengar suara itu, Tao Ling segera mengenalinya bahwa itu suara si gadis berpakaian putih. Hatinya terkejut sekali. Dari celah pintu dia mengintip keluar. Dia melihat gadis itu sudah masuk ke dalam pondok.

"Ternyata kedatangan I kouwnio tepat waktu sekali!" sambut Leng Coa Sian Sing. Lie Cun Ju yang duduk di samping Tao Ling segera melihat perubahan hebat pada wajah gadis itu.

"Tao kouwnio, siapa yang datang?" tanyanya lirih.

Dengan tergesa-gesa dan nada berbisik Tao Ling segera menceritakan pengalamannya ketika ditolong gadis itu. Tiba-tiba wajah Lie Cun Ju juga jadi pucat pasi.

"Dia bermarga I?" tanya Lie Cun Ju.

Tao Ling tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya. "Bagaimana dengan luka kedua orang itu?" tanya gadis itu lagi.

"Sudah sembuh. I kouwnio adalah orang yang aku percayai. Apakah benda yang sudah dijanjikan itu dibawa? Kalau tidak, aku tidak akan menyerahkan kedua orang itu kepada kouwnio!" sahut Leng Coa Sian Sing.

Mendengar sampai di sini, hati Tao Ling semakin terkesiap. Tidak heran Leng Coa Sian Sing mengobati mereka dengan hati-hati, ternyata dia menginginkan suatu benda dari Si Gadis Cantik itu.

Benar-benar hati manusia sulit diraba! Tao Ling segera menoleh kepada Lie Cun Ju. Pemuda itu memberikan isyarat dengan tangannya sambil berkata, "Tao kouwnio, kita tidak boleh terjatuh ke tangan orang she I itu!"

Dalam keadaan gugup Tao Ling mengintip lagi dari celah pintu. Tampak gadis itu mengeluarkan sebuah lencana berbentuk persegi dan panjangnya satu cun. Warnanya keperakan berkilauan. Tidak terlihat jelas tulisan apa yang tertera di atasnya.

"Ayah bilang, penggunaan tiga kali terlalu banyak. Kau hanya boleh menggunakannya sebanyak dua kali, kemudian langsung dikembalikan!" kata gadis itu.

Ketika melihat lencana perak itu, hati Tao Ling agak tergerak. Dia rasanya pernah mendengar orang mengatakan sesuatu tentang lencana semacam itu. Tetapi karena hatinya sedang panik, untuk sesaat dia tidak bisa mengingatnya kembali. Tampaknya masih ada sedikit pembicaraan yang akan berlangsung di antara mereka. Mengapa tidak menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri?

Tao Ling dan Lie Cun Ju bergegas meloncat keluar lewat jendela. Tao Ling memapah Lie Cun Ju dan berlari ke depan. Baru berlari sejauh dua depa, dia sudah mendengar suara gadis itu bertanya.

"Leng Coa Sian Sing, dimana kedua orang itu?"

"Eh? Tadi mereka masih ada di sini. Mungkinkah mereka sudah melarikan diri?" jawah Leng Coa Sian Sing dengan nada terkejut.

Pada saat ini Tao Ling baru menyadari bahwa tujuh hari yang lalu, Leng Coa Sian Sing telah menghianati mereka bahkan menukar jiwa mereka dengan sesuatu benda! Karena itu, setelah si Gadis yang cantik itu pergi, dia memperlihatkan sinar mata dan senyuman yang aneh.

Tanpa berpikir banyak lagi, Tao Ling segera menyeret tangan Lie Cun Ju dan bersembunyi di balik sebatang pohon Liu yang besar.

"I kouwnio jangan gusar, asal mereka belum terlalu jauh, dengan seruling pemanggil ular ini, kau tidak takut mereka bisa terbang kemana!"

Kemudian Tao Ling dan Lie Cun Ju juga mendengar suara seruling yang memekakan telinga. Suaranya melengking dan semakin lama nadanya semakin tinggi.

Baru saja suara seruling itu berbunyi, langsung terdengar suara desiran di sana sini. Ketika melihat ke sekitarnya, kedua orang itu langsung terkejut setengah mati.

Ternyata di sekitar mereka bermunculan ular-ular yang entah jumlahnya berapa banyak dan berbagai jenis. Mereka bergerak keluar karena mendengar irama seruling yang ditiup Leng Coa Sian Sing.

Tao Ling dan Lie Cun Ju sadar. Leng Coa Sian Sing tidak tahu berapa lama mereka melarikan diri, karena itu dia menggunakan seruling untuk memerintahkan ular- ularnya agar mengejar. Mereka khawatir apabila nada seruling itu bertambah tinggi, mereka pasti sulit meloloskan diri dari tempat itu.

Dalam keadaan panik, dengan tanpa sadar mereka menolehkan kepalanya. Tampak di tepi sungai berhenti sebuah kereta berwarna putih keperakan, sinarnya berkilauan.

Keempat ekor kuda yang menarik kereta itu sedang meringkik-ringkik dengan keras.

Hati Tao Ling tergerak. Tanpa ragu sedikit pun dia langsung menyeret tangan Lie Cun Ju. Mereka berlari menuju kereta tersebut. Meskipun keadaan Lie Cun Ju sudah pulih, tetapi luka yang dideritanya tempo hari terlalu parah, apalagi dia tidak mendapatkan buah berkhasiat tinggi Te hiat ko seperti Tao Ling. Saat ini dirinya seperti orang yang tidak mengerti ilmu silat, sebagaimana biasanya orang sehabis menderita sakit parah. Sesampainya di samping kereta, nafasnya tersengal-sengal.

Saat itu Tao Ling juga tidak memperdulikan lagi batas antara laki-laki dan perempuan. Dia langsung membopong tubuh pemuda itu naik ke atas kereta, dia sendiri juga loncat ke dalam.

Suara irama seruling yang ditiup Leng Coa Sian Sing semakin melengking. Terasa angin berdesir-desir, ratusan ular berbisa menyembulkan kepalanya dan menjulurkan lidahnya serta melata ke arah kereta.

Ada beberapa ekor yang geraknya lebih cepat. Binatang melata itu sudah sampai di sisi kaki kuda, sehingga kuda itu ketakutan dan meringkik terus. Tao Ling segera mengeluarkan beberapa batang senjata rahasia dan dilontarkannya ke arah ular-ular itu. Tangannya yang sebelah sekaligus menggerakkan tali kendali. Keempat ekor kuda itu pun melesat secepat kilat meninggalkan tepi sungai itu. Saking cepatnya kereta itu, telinga Tao Ling dan Lie Cun Ju sampai mendengar suara angin menderu-deru dari kiri kanan kereta. Mereka bagai melayang di atas angkasa dengan mengendarai awan.

Dalam hati Tao Ling kagum sekali dengan kuda-kuda pilihan itu. Ketika dia menolehkan kepalanya, Leng Coa ki hanya tinggal tampak setitik hijau yang kecil saja. Dalam waktu yang sangat singkat, mereka sudah menempuh jarak tujuh-delapan li. Masih belum terlihat ada orang yang mengejar. Tao Ling baru bisa menghembuskan nafas lega.

"Lie toako, kali ini kembali kita berhasil meloloskan diri dari kematian!" ucap Tao Ling samhil menolehkan kepalanya ke arah Lie Cun Ju.

"Takutnya belum tentu!" sahut pemuda itu.

Di samping kereta Tao Ling menemukan pecut perak yang digunakan gadis cantik itu. Dia melontarkannya dua kali. Kereta kuda itu meluncur semakin cepat.

"Meskipun gadis she I itu mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, tetapi belum bisa dia mengejar kereta kuda ini," kata Tao Ling.

"Tao kouwnio, apakah kau tidak pernah mendengar orang mengungkit soal Gin leng hiat ciang (Lencana perak telapak darah)?"

Tao Ling langsung tertegun. Hampir saja dia terjatuh dari kereta kuda.

"Betul. Tadi aku justru melihat gadis itu menyerahkan sebuah lencana berwarna keperakan kepada Leng Coa sian sing!" serunya

"Aih! Apabila benar Gin leng hiat ciang I Ki Hu yang mencari kita, rasanya kita tidak mungkin bisa meloloskan diri!"

Mendengar Lie Cun Ju mengungkit soal Gin leng hiat ciang, hati Tao Ling semakin ketakutan. Tentu bukan tidak ada sebab musababnya, karena empat huruf itu, boleh dibilang tidak ada seorang pun di dunia kang ouw yang tidak mengetahuinya. Tetapi orang yang benar-benar berani menyebutnya, justru sedikit sekali. Bukan karena apa- apa, tapi karena takut ditimpa bencana.

Rupanya Gin leng hiat ciang I Ki Hu sudah terkenal sejak belasan tahun yang lalu. Tetapi saat itu, dia belum berhasil melatih ilmu telapak darah. Bahkan ilmu warisan Mo Kau pun baru dilatihnya sampai tingkat keenam.

Tadinya I Ki Hu seorang sastrawan gagal. Malah kalau tidak salah dia tidak mengerti ilmu silat sama sekali. Namun ketika sedang berpesiar melihat-lihat keindahan pemandangan, seorang gadis yang ternyata putri tunggal Cousu Mo Kau (Agama sesat) saat itu secara kebetulan melihatnya dan jatuh cinta kepadanya. Gadis itu bukan main jeleknya. Sedangkan I Ki Hu seorang pemuda yang gagah dan tampan. Tentu saja dia tidak akan tertarik kepada gadis yang sedemikian buruk rupanya. Tetapi sebagai seorang rakyat jelata, mana mungkin dia bisa melawan kekuatan Mo Kau yang namanya sudah tersohor sejak ratusan tahun yang lalu? Dalam keadaan terpaksa, dia pun menikah dengan putri Mo Kau itu. Tapi pada dasarnya I Ki Hu adalah manusia yang cerdik. Sikapnya pun hati-hati. Setelah menikah dengan gadis Mo Kau itu, tidak sekalipun dia menunjukkan sikap kurang senangnya. Dengan keras dia melatih ilmu warisan Mo Kau yang paling hebat.

Gadis itu mengira suaminya mencintainya dengan setulus hati. Para jago Mo Kau diperintahkan mengelilingi seluruh dunia untuk mendapatkan berbagai dedaunan atau rerumputan yang dapat menambah kekuatan. Dia mencekoki suaminya dengan berbagai obat-obatan berkhasiat tinggi. Dalam waktu sepuluh tahun, ilmu Mo Kau I Ki Hu sudah mencapai tingkat keenam. Berarti lebih tinggi dari Cousu Mo Kau dan putrinya sendiri.

Saat itu, seluruh bu lim masih belum tahu bahwa di dalam Mo Kau telah muncul seorang jago berilmu tinggi. Sampai I Ki Hu memalingkan wajahnya dari putri iblis itu. Dia memperhitungkan kebencian yang terpendam di dalam hatinya selama bertahun-tahun. Dia mengungkit masalah ketika dia dipaksa menikah dengan putri Mo Kau itu. Bahkan kata-katanya yang manis selama sepuluh tahun ini ternyata palsu semuanya. Akhirnya terjadi pertarungan antara I Ki Hu dengan cousu Mo Kau dan putrinya. Perlu diketahui bahwa ilmu Mo Kau mempunyai satu keistimewaan. Setiap kali tingkatannya naik, maka tenaga dalam orang itu pun bertambah satu kali lipat.

Pada saat itu, ilmu yang dilatih cousu Mo Kau baru mencapai tingkat kelima. Sedangkan putrinya malah baru mencapai tingkat keempat. Dalam tiga puluh jurus saja, cousu Mo Kau sudah berhasil dibunuh oleh I Ki Hu. Sedangkan putrinya terluka parah.

Enam Tancu Mo Kau yang terdiri dari enam orang jago pengurus cabang pusat, timur, utara, selatan, barat, serta pendopo langit (bagian hukum) ikut mengeroyok I Ki Hu.

Namun mana mungkin kepandaian mereka dapat menandingi menantu cousu Mo Kau itu? Malah malangnya, mereka berenam mati di tangan I Ki Hu.

Ketika dia hendak turun tangan membunuh putri cousu Mo Kau, perempuan itu berkata, "Perasaanku terhadapmu keluar dari hati yang setulusnya. Mungkin dulu aku tidak seharusnya memaksamu menikah denganku. Setelah kita menikah, aku selalu baik terhadapmu. Akan tetapi kau menghina aku buruk rupa. Sekarang kau malah memalingkan kepala, aku memang kalah denganmu, tetapi sekarang aku sedang mengandung anakmu. Bagaimana kalau kau beri aku kesempatan untuk melahirkan dulu anak ini, kemudian baru bunuh diri?"

I Ki Hu sudah menelan segala penderitaan dan menahan kebenciannya selama sepuluh tahun. Hatinya juga keji sekali. Dia tidak mempunyai sedikit perasaan pun terhadap putri Mo Kau itu. Ternyata dia tidak mengabulkan permintaan putri ketua Mo Kau itu dan bersiap turun tangan membunuhnya.

Saat itu putri ketua Mo Kau sedang hamil tujuh bulan. Begitu melihat wajah I Ki Hu menyiratkan hawa pembunuhan, dia segera menghimpun hawa murninya dan mendesak janinnya keluar dari rahim. Kemudian dia sendiri memotong nadi tangannya dan mati seketika. I Ki Hu melihat bayi yang terlahir itu seorang bayi perempuan. Wajahnya justru bertolak belakang dengan ibunya. Walaupun dipaksa lahir dalam keadaan prematur, tetapi suara tangisannya nyaring dan lantang. Pipinya berona kemerahan. Sungguh seorang bayi yang cantik. Tadinya I Ki Hu sudah mengangkat tangannya hendak menghantam kepala bayi itu. Tetapi melihat bayi itu begitu menarik dan lucu, timbul juga perasaan sayangnya sebagai seorang ayah. Dia segera memutuskan tali pusat bayi itu kemudian melepaskan mantelnya serta digunakan untuk membungkus bayi yang masih merah itu.

Para pembaca, cerita yang dikisahkan di atas tidak ada hubungannya lagi dengan cerita ini. Tetapi bayi yang dilahirkan secara paksa itu justru si gadis cantik berpakaian putih yang kemudian diberi nama I Giok Hong!

Dalam waktu dua kentungan, I Ki Hu membunuh ketua Mo Kau, putri tunggalnya serta keenam kepala cabang partai itu. Sisa murid Mo Kau yang masih cecere mana mungkin melakukan perlawanan terhadap I Ki Hu. Dengan panik mereka berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Selesai memhunuh tokoh-tokoh penting partai itu, I Ki Hu pun melangkah keluar dari markas pusat Mo Kau. Dia menimbun ratusan batang kayu bakar di sekeliling gedung itu kemudian disiramnva dengan minyak tanah. Kemudian api pun menvala dengan berkobar-kobar. Dalam waktu satu hari satu malam gedung bekas markas Mo Kau yang besar itu punah dilalap si Jago merah.

Dengan demikian, partai Mo Kau yang pernah mengejutkan dunia bu lim selama tiga ratus tahun itu pun hilang dari permukaan bumi.

Tidak sampai tiga bulan, peristiwa ini sudah tersiar ke seluruh dunia kang ouw. Sekaligus nama I Ki Hu juga terangkat ke atas. Tidak sedikit tokoh-tokoh yang mempunyai hubungan baik dengan pihak Mo Kau mencarinya untuk membalas dendam. Namun satu persatu berhasil dikalahkan oleh I Ki Hu. Bahkan Tocu dari Hek cui to (Pulau Air hitam) di wilayah Pak Hai yakni Hek kiam Cui Hun 'Pedang hitam pengejar sukma' Ci Cin Hu yang tergolong jago kelas satu dari golongan hitam juga turun tangan sendiri. Akhirnya I Ki Hu terluka karena tangan tokoh yang satu ini. Tapi sayangnya dia tidak membasmi I Ki Hu dan membiarkannya pergi begitu saja. Hal ini justru menimbulkan bencana bagi Ci Cin Hu.

Dua tahun kemudian, ilmu Mo Kau yang dilatih I Ki Hu sudah mencapai tingkat ketujuh. Bahkan dia berhasil melatih ilmu telapak darah yang terkenal paling sulit dipelajari dalam aliran Mo Kau. I Ki Hu langsung menyeberang ke laut utara dan mencari Hek kiam cui hun Ci Cin Hu untuk membalas kekalahannya tempo hari. Seluruh anggota pulau Air hitam baik yang masih ada hubungan darah dengan Ci Cin Hu maupun ketiga muridnya, semua mati di tangan I Ki Hu. Ci Cin Hu sendiri mati di bawah telapak darah lawannya ini. Cara turun tangannya sungguh telengas. Seluruh bu lim sampai meleletkan lidah mendengar berita ini. Kemudian dia mendengar selentingan di dunia kang ouw bahwa Ci Cin Hu masih mempunyai seorang putra yang usianya belum ada satu tahun. Kebetulan di saat terjadi pembantaian, bayi laki- laki itu tidak ada di tempat. Hal ini menimbulkan keresahan bagi I Ki Hu. Dia mengelilingi dunia untuk menemukan bayi laki-laki itu.Maksudnya tentu ingin membasmi rumput sampai ke akar-akarnya.

Di mana pun dia singgah selalu ada tokoh berilmu tinggi di dunia bu lim yang terbunuh di bawah telapak darahnya. Karena itu, namanya semakin terkenal. Lencana perak yang dikeluarkannya mendapat julukan 'bertemu dengan lencana laksana bertemu dengan orangnya sendiri'. Walaupun seorang bocah cilik yang membawa lencana itu, sedangkan Anda kebetulan seorang tokoh kelas satu di dunia bu lim, tapi Anda pasti tidak berani memandang rendah bocah itu.

Dengan demikian I Ki Hu malang melintang di dunia bu lim selama tiga-empat tahun. Entah dia berhasil menemukan putra Ci Cin Hu atau tidak. Kemudian dia jarang lagi berkecimpung di dunia persilatan. Orang-orang bu lim hanya tahu dia menetap di wilayah Tibet. Walaupun orangnya sendiri sudah jarang muncul, tetapi mengungkit nama Gin leng hiat ciangnya, masih banyak orang yang merasa gentar. Selama beberapa tahun belakangan ini, ilmu Mo Kau sin kangnya malah sudah mencapai tingkat sembilan.

Coba bayangkan saja, dengan kepandaian Tao Ling dan Lie Cun Ju. Mungkinkah mereka berani melawan I Ki Hu? Jangan kan mereka berdua, bahkan pasangan suami istri Pat Kua kim gin kiam, Lie Yuan dan pasangan suami istri Pat Sian kiam Tao Cu Hun sendiri juga tidak sanggup berbuat apa-apa terhadap iblis yang satu ini!

Sementara itu, Tao Ling berusaha menenangkan hatinya. Dia hanya berharap lebih cepat meloloskan diri. Berkali-kali dia mengayunkan pecut di tangannya. Keempat ekor kuda pilihan itu pun semakin kalap larinya. Dalam waktu dua kentungan, mereka sudah menempuh perjalanan sejauh tujuh puluhan li. Matahari sudah mulai turun ke ufuk barat. Baru saja perasaan Tao Ling agak senang, tetapi ketika melihat ke arah matahari di depannya dia merasa terkejut bukan kepalang.

"Lie toako, celaka!" teriaknya panik. "Ada apa?" tanya Lie Cun Ju ikut gugup.

"Kau lihat matahari itu? Kita justru melaju menuju barat. Bukankah kita semakin mendekati tempat tinggal si raja iblis I Ki Hu?" jawab Tao Ling sambil menunjuk ke depan.

"Cepat belokkan kudanya! Cepat!" ucap Lie Cun Ju dengan terkejut.

Dengan sekuat tenaga Tao Ling menarik tali laso pengendali keempat ekor kuda itu. Dia bermaksud memutar arah hewan-hewan itu. Tetapi kuda-kuda itu justru tidak sudi mendengarkan perintahnya. Tao Ling menambah tenaganya dan menarik sekali lagi tali kendali itu erat-erat. Kuda-kuda itu hampir tidak sanggup melawan tenaga Tao Ling. Terdengar ringkikan yang keras, kuda mulai membelok arah. Namun tiba-tiba trakkk! tubuh Tao Ling hampir terpental ke belakang karena tali kendali yang digenggamnya putus.

Begitu tali kendali itu putus, kuda-kuda itu kembali meluruskan derap kakinya dan melesat menuju arah semula. Kalau Tao Ling hanya seorang diri, mungkin dia akan nekat loncat dari dalam kereta. Tetapi Lie Cun Ju baru sembuh dari luka parah, tentu dia tidak sanggup terbanting keras-keras di atas tanah. Bahkan kemungkinan luka dalamnya akan kambuh kembali. Seandainya Tao Ling bermaksud meninggalkan Lie Cun Ju untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tentu dia tidak perlu menunggu sampai hari itu. Ketika di atas perahu menghadapi ketiga iblis keluarga Lung, tentunya dengan mudah dia dapat meloloskan diri dari maut. Juga tidak perlu menanggung luka parah ketika berada di gedung 'Ling Wei piau kiok'. Meskipun telah timbul permusuhan di antara keluarga Lie dan keluarga Tao, tetapi hubungan antara Tao Ling dengan Lie Cun Ju justru baik sekali. Bahkan mereka tidak mempersoalkan permusuhan di antara keluarga mereka.

Ketika keempat ekor kuda itu berlari semakin kencang, bukan saja Tao Ling tidak meloncat keluar meninggalkan Le Cun Ju, dia bahkan memeluk tubuh pemuda itu erat-erat seakan takut dia terjatuh keluar kereta.

Beberapa kentungan kembali berlalu, tampak keempat ekor kuda itu berlari masuk ke dalam sebuah lembah. Di permukaan lembah rasanya ada dua orang yang menjura ketika melihat kereta kuda itu lewat. Tampangnya seperti sepasang elang dari Hin Tiong. Tetapi karena laju kereta itu terlalu cepat, Tao Ling tidak sempat melihat mereka dengan jelas.

Kuda itu terus melesat ke depan, di bagian samping dan belakang kereta timbul kepulan debu yang tebal. Tetapi setelah masuk ke bagian dalam lembah itu keempat kuda itu pun melambat. Dari bagian depan terasa angin berhembus sepoi-sepoi sehingga menimbulkan perasaan sejuk dan nyaman, membuat semangat seseorang tergugah.

Tao Ling dan Lie Cun Ju mengedarkan pandangan matanya. Tampak sekeliling lembah itu penuh dengan bukit-bukit yang tinggi dan rendah. Bagian tengah lembah itu terdiri dari padang rumput yang luas. Dari tembok-tembok bukit menjuntai tanaman merambat yang berbunga putih sebersih salju dan menampakkan pemandangan yang indah. Di sebelah bawah bukit bagian utara, terdapat sebuah batu alam berwarna putih. Begitu indahnya pemandangan di tempat itu seakan taman firdaus.

Di sisi kiri kanan batu putih itu terdapat dua buah kolam berbentuk bundar. Airnya beriak-riak dan jernih sekali!

Tao Ling dan Lie Cun Ju dibawa kereta kuda sampai ke tempat itu. Menghadapi pemandangan yang demikian indahnya, hati mereka tidak gembira sedikit pun. Bahkan semakin ketakutan. Karena mereka dapat menduga, kuda-kuda pilihan itu mengenal jalan dengan baik. Dan mereka dibawa menuju tempat tinggal Gin leng hiat dang I Ki Hu!.

Kedua orang itu tertegun beberapa saat. Baru saja mereka bermaksud meloncat turun dari kereta untuk menentukan langkah selanjutnya, tiba-tiba terlihat sesosok bayangan melesat dari samping kanan.

"Siocia sudah pulang? Ayahmu memang sedang menantikan kedatanganmu!" seru orang itu.

Dalam sekejap mata orang itu sudah sampai di sisi kereta. Ketika bertemu pandang dengan Tao Ling dan Lie Cun Ju, orang itu langsung tertegun. Tao Ling mengenali bahwa orang yang datang itu adalah kakek yang bersama si gadis cantik dalam kereta tempo hari.

"Aih! Rupanya kalian. Mengapa kalian datang kemari? Mengantarkan kematian?" Kakek itu mengeluh sambil menarik napas panjang.

Tao Ling sungguh tidak menduga, sepanjang perjalanan mereka menemui mara bahaya. Bahkan Leng Coa sian sing menyembuhkan mereka dengan tujuan mendapat sesuatu dari I Giok Hong. Dan di kediaman Gin leng hiat ciang ini, ada orang yang menaruh perhatian kepada mereka!

"Loya, mohon ulurkan budi, tolonglah kami!" kata Tao Ling cepat.

Kakek itu menolehkan kepalanya kemudian menggeleng dua kali, "Aku tidak sanggup menolong kalian!"

Sambil berkata demikian, kakek itu berulang kali mencibirkan bibirnya ke arah mulut lembah.

Tao Ling tahu kakek ini berniat menolong mereka, cepat-cepat dia memapah Lie Cun Ju dan membantunya turun dari kereta.

"Loya, budi pertolonganmu tidak akan kami lupakan. Mohon tanya siapa panggilan Loya?" tanya Tao Ling dengan suara berbisik.

Kakek itu tidak menjawab. Malah dia melangkah meninggalkan mereka. Tao Ling tahu kakek itu takut mengejutkan si raja iblis I Ki Hu. Cepat-cepat dia mengundurkan diri ke mulut lembah. Belum lagi dia menggerakkan kakinya untuk berlari, dari dalam lembah terdengar seseorang bertanya, "Siapa yang mengunjungi lembahku ini?"

Tao Ling dan Lie Cun Ju tertegun. Ketika memalingkan kepalanya, ternyata di samping kereta sudah berdiri seseorang. Tadi mereka melangkah mundur menuju mulut lembah. Berarti pandangan mata mereka menghadap ke dalam. Saat itu mereka belum melihat siapa-siapa. Sekarang begitu mereka membalikkan tubuhnya, orang itu sudah berdiri di samping kereta. Benar-benar tidak bisa dibayangkan bagaimana dia bisa sampai ke tempat itu!

"Hamba juga tidak tahu siapa mereka. Hamba hanya melihat mereka datang dengan kereta siocia. Begitu kereta berhenti, mereka langsung turun dan berjalan keluar.

Mungkin teman-teman siocia, hamba tidak berani bertanya," jawab kakek itu.

Orang itu mengeluarkan suara seruan lalu memandang ke arah Tao Ling dan Lie Cun Ju. Tao Ling mendongakkan wajahnya. Tampak usia orang itu sekitar lima puluhan. Dia mengenakan pakaian seperti sastrawan berwarna hijau. Lengan dan bagian bawah pakaiannya melambai-lambai karena hembusan angin. Penampilannya berwibawa. Di bawah dagunya tumbuh jenggot yang teratur rapi. Matanya berkilauan, alisnya berbentuk golok. Wajahnya putih bersih. Walaupun sudah setengah baya, ketampanannya masih terlihat jelas. Sepasang tangannya disilangkan di bagian belakang. Sinar matanya seperti cahaya kilat dan saat itu sedang menatap Tao Ling dan Lie Cun Ju dengan tajam.

Hati Lie Cun Ju tercekat setengah mati. Dia tahu laki-laki setengah baya ini pasti Gin leng hiat ciang I Ki Hu, si raja iblis yang paling ditakuti di seluruh dunia bu lim.

"Cepat pergi!" ucap Tao Ling. Lambat sedikit tamatlah riwayat kita.

Tao Ling sendiri sudah dapat menduga siapa orang itu. Maka dia cepat menarik tangan Lie Cun Ju.

Lie Cun Ju membalikkan tubuhnya dengan tergesa-gesa, tetapi baru saja kaki mereka hendak melangkah, di belakang mereka sudah terdengar suara orang tadi.

"Kalian berdua, harap tunggu sebentar!" ujarnya.

Suaranya lembut sekali, tidak memaksa. Tetapi suara itu justru keluar dari mulut Gin leng hiat ciang I Ki Hu, siapa yang berani membantah?

Kedua orang itu segera membalikkan tubuhnya. Namun lagi-lagi mereka tertegun, ternyata baru saja kata-katanya selesai, orangnya sudah berdiri di hadapan mereka.

Padahal jarak mereka dengan I Ki Hu tadinya kira-kira lima-enam depa, benar-benar membuat orang bingung. Bagaimana cara orang itu melangkah sehingga bisa sampai secepat itu.

Tao Ling khawatir Lie Cun Ju mengatakan hal yang membuat orang itu marah. Cepat dia menjura dalam-dalam.

"Entah Locianpwe ingin memberikan petunjuk apa?"tanyanya sopan. I Ki Hu memperhatikan Lie Cun Ju beberapa saat.

"Siapa namamu?" tanyanya tiba-tiba.

Mendengar nada suaranya yang lembut, Lie Cun Ju juga ikut menjura memberi hormat.

"Boanpwe Lie Cun Ju, ayah berjuluk Pat Kua kiam, Lie Yuan."

Sepasang alis I Ki Hu menjungkit ke atas. Sekali lagi dia memperhatikan Lie Cun Ju dengan seksama. Tiba-tiba dia menanyakan sebuah pertanyaan yang benar-benar tidak manusiawi. "Apakah Pat Kua kiam Lie Yuan itu ayah kandungmu?"

Lie Cun Ju merasa mendongkol juga geli mendengar pertanyaan ini. Untung saja sikapnya masih kekanak-kanakan, dia hanya menganggap pertanyaan I Ki Hu itu lucu sekali. Apabila orang lain yang mendapat pertanyaan seperti itu, pasti marah besar.

"Sudah tentu Lie Yuan ayah kandung boanpwe!" I Ki Hu malah tertawa dingin dua kali.

"Takutnya justru belum tentu!" Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya. Tidak terlihat bagaimana tubuhnya bergerak. Padahal tangannya tidak bisa menjangkau tubuh Lie Cun Ju, tetapi entah mengapa tahu-tahu lengan baju pemuda itu sudah tercengkeram oleh jari tangannya. Terdengar suara bret! Ternyata lengan baju luar dalam pemuda itu ditariknya kuat-kuat sehingga terkoyak semua.

Lie Cun Ju terkejut setengah mati. Tetapi karena dia baru sembuh dari luka parah, mana berani dia melawan I Ki Hu? Setelah lengan pakaiannya terkoyak, dia baru menyurut mundur satu langkah. Tao Ling yang berdiri di samping dapat merasakan sesuatu yang mengkhawatirkan. Cepat-cepat dia maju dua langkah dan menghadang di depan Lie Cun Ju.

"Locianpwe, meskipun kami berdua bersalah masuk ke dalam lembahmu, tapi . . ."

Dalam keadaan panik, Tao Ling mengucapkan kata-kata itu. Tapi belum sempat diselesaikannya, lengan I Ki Hu sudah mengibas sedikit.

Tao Ling merasa ada serangkum tenaga yang lembut namun kuat sekali menerpa ke arahnya. Tubuhnya menjadi limbung dan terpental sejauh beberapa langkah.

Tangan I Ki Hu masih mencengkeram lengan Lie Cun Ju. Matanya yang menyorotkan sinar tajam memperhatikan seluruh lengan Lie Cun Ju dengan seksama. Hati Tao Ling takut dan bingung. Dia tidak mengerti apa yang dilakukan raja iblis itu. Tetapi dia juga sadar bahwa dirinya bukan tandingan I Ki Hu. Karena itu terpaksa dia pasrah dengan nasib mereka.

I Ki Hu memperhatikan beberapa saat, kemudian dia melepaskan cengkeraman tangannya.

"Dimana pasangan suami istri Lie Yuan sekarang?" tanyanya kembali.

Lie Cun Ju baru sempat menghembuskan nafas lega. Tetapi benaknya langsung bergerak. Iblis ini tiba-tiba menanyakan tentang orang tuanya. Tampaknya niat orang ini tidak baik. Karena itu dia menjawab.

"Kami berpisah di Si Cuan. Sudah lebih dari sebulan tidak pernah bertemu. Entah dimana mereka sekarang?"

I Ki Hu mendengus dingin kemudian membalikkan tubuhnya. Tao Ling melihat orang itu menyudahi persoalan begitu saja, hatinya hampir melonjak kegirangan. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara seruan yang merdu dari mulut lembah.

"Huh! Kalian berdua melarikan keretaku, tidak tahunya malah datang kesini."

Hati Tao Ling seperti diganduli beban berat secara tiba-tiba. Entah kesialan apa yang sedang merasuki dirinya sehingga begitu banyaknya masalah yang tidak habis- habisnya, pikirnya dalam hati. Tampaknya sejak awal hingga akhir, mereka tetap tidak dapat meloloskan diri dari cengkeraman orang-orang itu. Mereka berdua tidak mempunyai permusuhan apa pun dengan tiga iblis dari keluarga Lung. Tapi mereka dikejar-kejar bukan tanpa alasan. Karena kedatangan mereka ke wilayah barat itu tanpa disengaja kepergok oleh dia dan Lie Cun Ju. Tetapi antara dia dengan gadis itu justru tidak ada kaitan apa pun. Mengapa dia terus mengejar mereka tanpa berhenti sebelum berhasil mendapatkannya? Tao Ling benar-benar tidak habis pikir.

Diam-diam dia berpikir, untung tak dapat dihindar, malang tak dapat ditolak. la pun membalikkan tubuhnya dan berkata dengan suara lantang.

"I kouwnio, aku rasa kita tidak pernah saling mengenal, tetapi mengapa berkali-kali mendesak .kami dan tidak bersedia melepaskan kami?"

Gadis cantik itu melesat datang dari luar lembah. Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman.

"Tao kouwnio, kapan aku pernah mendesakmu, jangan sembarangan berbicara lho!"

"Kalau kau memang tidak berniat mendesak kami, harap biarkan kami meninggalkan tempat ini, kami tentu akan berterima kasih sekali kepadamu!" ucap Tao Ling.

Kalian di tengah perjalanan diserang oleh tiga iblis dari keluarga Lung. Apabila bukan aku yang memberikan pertolongan, tentu saat itu kalian sudah menjadi mayat.

Kebetulan pula aku membawa kalian ke wilayah barat ini sehingga kau bisa bertemu dengan Leng Coa sian sing. Masa kau begitu mudah melupakan budi seseorang?"

Mendengar kata-katanya yang tajam, untuk sesaat Tao Ling terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

"Giok Hong, kau sudah meninggalkan lembah selama beberapa bulan. Bagaimana urusannya sudah beres?" tanya I Ki Hu

Gadis yang cantik itu memang putri tunggal I Ki Hu, I Giok Hong. "Hampir beres. Kuncinya ada pada diri Tao kouwnio ini."

Tao Ling semakin bingung mendengar ucapannya. Entah 'urusan' apa yang mereka maksudkan. Dan mengapa jarak yang beribu-ribu li bisa mengaitkan dirinya?

Terdengar mulut I Ki Hu mengeluarkan seruan terkejut.

"Ah! Tao kouwnio, benda itu tidak ada artinya bagimu, lebih baik keluarkan saja!" seru I Ki Hu.

"Apa yang locianpwe dan I kouwnio katakan. aku sama sekali tidak mengerti!" ucap Tao Ling dengan rasa bingung. "Tao kouwnio, jangan pura-pura bodoh. Tempo hari aku mengira kau adalah Lie kouwnio, maka setelah menanyakan jejak tiga iblis dari keluarga Lung aku melepaskanmu begitu saja

Sekarang aku baru tahu rupanya kau she Tao. Aku ingin bertanya kepadamu, mengapa Pat Sian kiam Tao Cu Hun dan istrinya Sam jiu Kuan Im Sen Cing yang sudah enak- enakan tinggal di Kang lam malah meninggalkan tempat itu kemudian datang ke Si Cuan yang jaraknya demikian jauh?" tanya I Giok Hong sambil tertawa terkekeh- kekeh.

"Memang selama beberapa tahun terakhir ini, ayah dan ibu menetap di Kang Lam, tetapi mereka tergolong orang-orang yang suka berpesiar. Apa anehnya datang ke Si Cuan?" ucap Tao Ling.

Apa yang dikatakan Tao Ling merupakan hal yang sebenarnya. Ayah dan ibunya sejak menikah sudah tinggal di wilayah Kang Lam. Tetapi mengapa mereka tiba-tiba meninggalkan tempat itu dan jauh-jauh datang ke Si Cuan. Bahkan perjalanan pun seakan dirahasiakan, Tao Ling memang tidak tahu apa-apa.

"Tia, anak sudah menyelidiki dengan jelas. Benda itu memang didapatkan oleh Tao Cu Hun. Asal kita mendesak budak ini, tidak perlu takut dia tidak menjawabnya dengan jujur!' ujar I Giok Hong sambii menolehkan kepalanya menghadap I Ki Hu.

"Kalau begitu, benda itu belum tentu ada padanya? Apakah kau sudah menyelidiki jejak pasangan suami istri Tao Cu Hun?" tanya I Ki Hu dengan sepasang alis menjungkit ke atas.

"Pasangan suami istri Tao Cu Hun sempat menetap beberapa hari di kediaman Kuan Hong Siau. Tetapi putranya justru membunuh putra Pat Kua kiam Lie Yuan. Dengan demikian timbul perselisihan da lam kedua keluarga. Sedangkan entah bagaimana, tiba-tiba pasangan suami istri Lie Yuan tertotok jalan darahnya oleh seseorang. Sejak itu jejak Tao Cu Hun Suami istri dan putranya Tao Heng Kan menjadi tidak jelas," sahut I Giok Hong.

Masalah yang rumit ini diterangkan dengan santai oleh I Giok Hong. Tetapi I Ki Hu memang manusia jenius, ternyata dia bisa mengerti jalan cerita putrinya.

"Bagaimana dengan pasangan suami istri Lie Yuan? Kemana mereka sekarang?"

"Tia, buat apa kau menanyakan orang itu? Meskipun Lie Yuan dan Tao Cu Hun sempat berkenalan di perjalanan dan kemudian terjadi perselisihan karena putra-putra mereka, tetapi rasanya Lie Yuan tidak mungkin mengetahui persoalan itu!" jawab I Giok Hong.

"Kau tidak usah perduli. Asal kau heritahukan dimana adanya pasangan suami istri Lie Yuan sekarang!"

Lie Cun Ju yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan di antara ayah dan putrinya itu segera mengetahui adanya niat kurang baik di hati I Ki Hu ketika dia menanyakan jejak kedua orang tuanya. Hatinya menjadi panik. Dia berharap I Giok Hong tidak tahu apa-apa. Akan tetapi ternyata I Giok Hong menjawab.

"Menurut kabar yang aku dapatkan, secara tiba-tiba pasangan suami istri Lie Yuan tertotok jalan darahnya oleh seseorang di atas perahu Tao Cu Hun. Bahkan Kuan Hong Siau dan salah seorang anggota keluarga Sang yang terkenal ahli ilmu totokan juga tidak sanggup membebaskan jalan darah mereka. Karena itu Kuan Hong Siu sendiri yang mengantarkan mereka ke Si Cuan untuk menemui dedengkot keluarga Sang, yakni si kakek berambut putih Sang Hao untuk memohon pertolongannya!"

"Oh? Ada kejadian seperti itu? Lalu apakah kau tahu siapa yang menotok jalan darah pasangan suami istri itu?" I Ki Hu bertanya dengan terkejut.

"Yang anehnya, di atas perahu Tao Cu Hun saat itu terdapat belasan tokoh-tokoh berilmu tinggi. Tetapi tidak ada seorang pun yang sempat melihat siapa yang melakukannya. Lagipula, ketika orang-orang itu berada di atas perahu, tiba-tiba perahu itu terbelah menjadi dua bagian seakan tiba-tiba ada yang membelahnya. Mengenai hal ini anak sendiri kurang yakin. Mungkin hanya desas desus yang dilebih-lebihkan oleh orang-orang dunia kang ouw," sahut I Giok Hong.

Apa yang dikatakan oleh I Giok Hong adalah kenyataan yang didengarnya dari mulut orang. Tetapi dia tidak percaya di dunia ini ada orang yang mempunyai kemampuan sehebat itu. Karenanya dia baru mengucapkan kata-kata tadi.

Tetapi setelah mendengar cerita putrinya, wajah I Ki Hu malah berseri-seri. Dia meremas-remas tangannya sendiri.

"Aneh sekali! Mungkinkah dia yang melakukannya?" katanya seakan bergumam seorang diri.

Lie Cun Ju, I Giok Hong bahkan Tao Ling menjadi bingung. "Tia, siapa dia yang kau maksudkan?" tanya I Giok Hong.

I Ki Hu tidak menjawab, dia tertawa terbahak-bahak. Sesaat kemudian dia baru berkata kembali. "Kebetulan sekali! Kebetulan sekali! Giok Hong, cepat kau berkemas, aku akan mengajakmu mengadakan perjalanan ke Si Cuan, biar kau juga mengenal ilmu warisan keluarga Sang!"

"Kesana untuk menemui pasangan suami istri Lie Yuan?" tanya I Giok Hong heran. "Tidak salah," jawab I Ki Hu.

"Lalu, bagaimana dengan kedua orang ini?" I Giok Hong menunjuk Tao Ling dan Lie Cun Ju.

I Ki Hu melirik mereka sekilas.

"Bukankah kau selalu menginginkan seseorang melayanimu? Dasar ilmu silat gadis ini boleh juga. Terimalah dia sebagai dayangmu! Mengenai bocah itu ..." Berkata sampai di sini, I Ki Hu mengernyitkan keningnya. "Biar dia Gin Hua kok (Lembah bunga perak), nama lembah tempat tinggal I Ki Hu saja. Setelah kita kembali baru diputuskan kembali."

Selesai berkata, terdengar I Ki Hu berteriak. "Lo Jit! Lo Jit!"

Seorang kakek segera menyahut dan muncul di tempat itu. Ternyata orang tua yang duduk sekereta dengan I Giok Hong tempo hari. I Ki Hu menunjuk kepada Lie Cun Ju.

"Bocah ini, harus kau perhatikan. Jangan sampai dia melarikan diri dari Gin Hua kok. Aku akan melakukan perjalanan jauh. Apabila ada orang yang menanyakan diriku, suruh dia tinggalkan pesan. Katakan bahwa sekembalinya nanti, aku akan menemuinya!"

'Lo Jit' menganggukkan kepala. Dia menghampiri Lie Cun Ju. Saat itu hati Tao Ling dan Lie Cun Ju justru sedang dilanda hawa amarah. Mereka tidak sudi dipisahkan.

Lagipula Tao Ling sendiri juga putri seorang tokoh yang mempunyai nama besar di dunia bu lim. Mana sudi dia diangkat sebagai dayang I Giok Hong? Dialah yang mula- mula memprotes.

"I locianpwe, bila Anda masih mempunyai urusan penting, kami berdua bisa meninggalkan tempat ini. Meskipun ilmu silat kami tidak seberapa, tapi juga tidak sudi menerima hinaan begitu saja!"

"Budak cilik! Kau tidak sudi menjadi dayang putriku?" I Ki Hu tertawa dingin. Wajah Tao Ling merah padam saking marahnya.

"Tentu saja aku tidak sudi!"

"Budak cilik, coba kau bandingkan sendiri, baik mutu orangnya, ilmu silatnya, pendidikannya, dan pengetahuannya. Apakah kau sanggup menandingi sepersepuluhnya saja? Sebagai dayangnya, berarti derajatmu terangkat, tahu?" ucap I Ki Hu dengan tertawa dingin. 

Tao Ling melirik kepada I Giok Hong. Gadis itu berdiri di sudut seperti dewi khayangan. Seakan ingin Tao Ling meneliti di bagian apa dia sanggup menandinginya. Tetapi meskipun demikian, apakah berarti dia harus menerima penghinaannya begitu saja?

Tao Ling merenung sejenak, kemudian dia baru menyahut.

"Apa yang dikatakan locianpwe memang benar. Tetapi setiap manusia mempunyai pendirian masing-masing. Untuk apa locianpwe memaksakan kehendak sedemikian rupa?" sahut Tao Ling setelah merenung sejenak.

"Giok Hong, bagaimana menyelesaikannya, terserah kau sendiri!" kata I Ki Hu dengan wajah yang menyiratkan kemarahan. "Kau tidak sudi menjadi dayangku?" tanya I Giok Hong sambil tertawa cekikikan.

Kebetulan Tao Ling sedang memandang ke arahnya. Dia melihat kecantikan gadis itu demikian sempurna. Tetapi di balik kecantikannya tersirat hawa pembunuhan yang tebal.

"Aku tidak sudi!" sahutnya tegas.

Hati Tao Ling bergidik. Akan tetapi pada dasarnya dia memang keras kepala.

I Giok Hong mendengus dingin. Tidak terlihat bagaimana dia bergerak. Tao Ling hanya sempat melihat kelebatan cahaya yang menyilaukan. Bahkan ingatan untuk menghindarkan diri pun belum sempat melintas di benaknya. Tahu-tahu dari bagian jidat kepala sanipai dada kirinya terasa sakit dan perih. Dia mengulurkan tangannya meraba jidatnya sendiri. Ternyata tangannya terdapat noda darah. Ketika dia menolehkan kepalanya, dia melihat tangan Giok Hong sudah menggenggam sebuah pecut. Tentu dalam keadaan tidak terduga-duga, Tao Ling telah dicambuknya satu kali.

Padahal Tao Ling sadar, bagaimana pun gadis itu putri tunggal Gin leng hiat ciang I Ki Hu. Ilmunya pasti tinggi sekali. Tetapi dia belum rnenyangka sampai sedemikian tingginya ilmu kepandaian I Giok Hong. Barusan dia dicambuk sekali oleh gadis itu, bahkan tidak sempat melihat gerakan tangannya. Hatinya semakin marah dan benci.

Dia sengaja membusungkan dadanya dan berteriak, "Aku tetap tidak mau!"

Baru saja kata 'mau' terucap dari bibirnya, terdengar I Giok Hong kembali tertawa dingin. Cahaya perak berkilauan, pecut itu kembali melayang ke arahnya.

Tentu saja kali ini Tao Ling sudah bersiaga. Begitu melihat pecut itu menyambar ke arahnya, dia segera menggeser tubuhnya. Namun anehnya kemana pun dia menggeser, pecut di tangan I Giok Hong terus mengejarnya. Bagian kiri wajahnya sampai bagian kanan dadanya kembali kena cambuk I Giok Hong.

Rasa perihnya bukan kepalang. Hati Tao Ling justru semakin marah dan benci. "Cambuklah terus! Pokoknya aku tetap tidak sudi!" teriaknya.

Dari samping kiri, Lie Cun Ju melihat wajah kekasih hatinya telah terdapat dua jalur berdarah. Dia tidak tahu apakah gadis itu terluka atau tidak di bagian tubuh lainnya.

Hatinya terasa perih sekali. Cepat dia maju ke depan menghadang di depan Tao Ling. "I kouwnio, kalau kau masih ingin mencambuk terus, cambuk saja aku!"

I Giok Hong tertawa cekikikan dengan merdu. "Rupanya kau romantis juga!" ejeknya.

"Pokoknya selama aku masih hidup, aku tidak bisa melihat Tao kouwnio menderita!" ucap Lie Cun Ju. "Bagus sekali!" Tubuhnya bergerak, Tar! Tar! Tar! Cahaya perak seperti ular sakti yang tertimpa cahaya kilat. Kelebatannya berturut-turut, dengan lima bagian tenaga dia mencambuk Lie Cun Ju!

Tadi ketika mencambuk Tao Ling, I Giok Hong hanya menggunakan tenaga yang ringan. Karena itu tidak menimbulkan suara apa-apa. Tetapi saat ini dia sudah menggunakan lima bagian tenaganya. Kekuatannya dapat dibayangkan. Ketika cambuk itu melayang datang, Tao Ling bermaksud mendorong tubuh Lie Cun Ju agar terhindar dari pecut itu, tetapi kecepatan tangan I Giok Hong sungguh mengagumkan. Belum sempat Tao Ling mengulurkan tangannya. Keempat kali cambukan itu sudah tepat mengenai sasarannya.

Setelah terluka parah, Leng Coa sian sing merawat Lie Cun Ju dengan hati-hati. la menggunakan ularnya yang kecil-kecil merayap di tubuh pemuda itu dan menggigit beberapa buah jalan darahnya. Tujuannya justru membiarkan hawa ular yang berkhasiat itu menyusup ke dalam jalan darah di tubuh Lie Cun Ju. Dengan demikian selembar jiwa pemuda itu baru bisa tertolong. Tetapi karena keadaan lukanya tempo hari terlalu parah, maka kekuatannya telah lenyap. Keadaannya tidak beda dengan seorang pelajar yang lemah. Begitu terkena sambaran pecut di tangan I Giok Hong, dia merasa seluruh tubuhnya dilanda rasa perih yang tidak terkirakan. Tubuhnya limbung dan akhirnya dia pun jatuh di atas tanah. Namun tidak setitik pun dia mengeluarkan suara erangan.

Baru saja Lie Cun Ju terjatuh, Tao Ling segera memburu ke depan. Tetapi pecut kembali bergerak sebanyak dua kali. Tubuh Lie Cun Ju tergulung pecut itu dan dibuat seperti bola yang menggelinding kesana kemari.

Hati Tao Ling pedih sekali melihat keadaan Lie Cun Ju. Matanya menyorotkan kemarahan yang berapi-api. Dengan marah dia berteriak, "I kouwnio, perbuatanmu ini mungkin bisa mengakibatkan kematian bagi kami. Tetapi ingat, manusia jahat sepertimu pasti akan mendapat akibatnya!"

Selesai berkata, terdengarlah suara Trang! Trang! sebanyak dua kali. Pedang emas dan perak sudah dihunus oleh Tao Ling. Tangan gadis itu menggenggam sepasang pedang emas dan perak. I Giok Hong seakan belum melihatnya. Tao Ling juga tidak perduli apakah dia hanya berpura-pura atau memang belum melihatnya. Dia segera menjalankan jurus Menteri mempertahankan negara sepasang kakinya menghentak, orang dan sepasang pedang langsung menerjang ke arah I Giok Hong.

Cahaya pedang bak pelangi. Melihat pedang itu sudah hampir mengenainya, I Giok Hung baru memutar tubuhnya sekaligus menggerakkan pergelangan tangannya, pecutnya melayang keatas.

Jurus Menteri mempertahankan negara yang dilancarkan oieh Tao Ling merupakan salah satu jurus Pat Sian kiam yang paling hebat dan mengandung kekejian. Lagipula sasarannya di titik pusat, yakni jidat, tenggorokan, jantung dan pusar manusia. Pedang itu mengeluarkan cahaya yang berkilauan. Tampaknya sekejap lagi akan menghunjam tubuh gadis itu. Tetapi pecut di tangan I Giok Hong melayang datang menyambutnya. Sinar keperakan berkelebat. Dengan rapat pecut itu menyusup masuk ke dalam cahaya emas dan perak!

Tao Ling dapat merasakan keadaannya yang tidak menguntungkan. Tetapi dia sudah bertekad untuk mengadu nyawa. la tidak perduli lagi dengan keselamatan dirinya sendiri. Dengan mengerahkan tenaganya dia mendorong sepasang pedang itu ke depan. Tampaknya ia benar-benar ingin menusuk I Giok Hong sampai terluka, kalau bisa mati seketika. Tetapi belum sempat dia mendorong sepasang pedang itu, tahu- tahu pergelangan tangannya sudah tergulung bagian ujung pecut. Serangkum rasa sakit membuat pergelangan tangannya menjadi ngilu. Kelima jari tangan pun merenggang. Pedang emas pun terjatuh di atas tanah dengan menimbulkan suara Trang!

Tidak menunggu sampai dia menggerakkan pedang peraknya, kembali pergelangan tangan kirinya terasa nyeri. Pedang perak pun terlepas jatuh. I Giok Hong tertawa cekikikan. Tiba-tiba Tao Ling merasa bagian lehernya mengencang. Ternyata pecut itu sudah melilit di lehernya.

"Kalau aku menghentakkan sedikit saja pecut ini, nyawamu pasti sulit dipertahankan lagi, jawab! Apakah sekarang kau sudah bersedia menjadi dayangku?"

Kemarahan dalam hati Tao Ling telah meluap-luap. Baru saja dia bermaksud menjerit 'Tidak!', tiba-tiba dia mendengar 'Lo Jit' berkata.

"Tao kouwnio, ada pepatah yang bagus sekali, 'seorang pendekar pandai melihat keadaan'. Seandainya kau menjawab tidak, bukan hanya kau seorang diri yang mengantarkan nyawa dengan sia-sia, bahkan nyawa Lie kongcu pun sulit dipertahankan. Seandainya kau bersedia menurut kepada siocia, yang kau dapatkan hanya keuntungan bukan kerugian. Untuk apa kau tetap kukuh pada pendirianmu?"

Tao Ling menolehkan kepalanya. Dia melihat sepasang mata 'Lo Jit' menyorotkan sinar kasih sayang dan saat itu sedang menatapnya lekat-lekat.

Meskipun Tao Ling tidak tahu siapa 'Lo Jit' itu sebenarnya, tetapi dia dapat membayangkan bahwa orang tua itu juga seorang tokoh dunia persilatan. Kalau tidak, mana mungkin I Giok Hong sudi memanggilnya paman? Lagipula ketika mereka masuk ke dalam Gin Hua kok, orang tua ini memang sudah menunjukkan sikap ingin menolongnya. Apabila dia menuruti nasehatnya, tentu untuk sementara dia bisa hidup terus. Tetapi bagaimana melampiaskan kekesalan batinya karena diperlakukan secara semena-mena oleh Giok Hong?

Sampai sekian lama dia tetap tidak menyahut 'Lo Jit' malah tertawa terbahak-bahak.

"Tao kouwnio, ada lagi sebuah pepatah yang bagus, 'Seorang manusia sejati ingin membalas dendam, sepuluh tahun pun tidak terlambat'. Padahal kalau kau mengingat lagi sejarah negara kita ini, berapa banyak menteri yang dikalahkan oleh musuh bahkan sempat menjadi tahanan perang dan dijadikan bulan-bulanan. Tetapi setelah berhasil meloloskan diri, mereka segera menyusun kekuatan, bahkan ada yang sampai belasan tahun baru menyerang kembali dan menebus kekalahan tempo dulu. Toh akhirnya mereka berhasil juga. Kalau hatimu masih tidak bersedia, ingat akibatnya. Tetapi bila kau seorang yang cerdik dan dapat berpikir panjang, aku nasehati agar kau terima saja.

Tao Ling terkejut setengah mati. Diam-diam dia bepikir dalam hati. Mengapa kakek ini demikian berani mengeluarkan ucapan seperti ini di hadapan I Ki Hu dan putrinya? Apakah dia tidak merasa takut kepada mereka berdua?

Justru ketika hatinya masih mengkhawatirkan kakek tua itu, terdengar I Giok Hong tertawa terkekeh-kekeh.

"Apa yang dikatakan Lo Jit memang benar. Asal kau mempunyai kemampuan, sepuluh tahun kemudian ingin membalas dendam juga tetap kusambut dengan baik!"

Pada dasarnya Tao Ling memang seorang gadis yang cerdas. Mendengar ucapan I Giok Hong, dia segera sadar bahwa baik I Ki Hu ataupun putrinya merupakan orang- orang yang angkuh dan memandang hebat diri mereka sendiri. Mereka menganggap tidak ada orang lagi di dunia ini yang sanggup melawan mereka. Kata-kata atau nasehat 'Lo Jit' tadi, boleh dibilang meraba dengan tepat isi hati mereka. Bukan saja kedua orang itu tidak marah, malah senang mendengarnya.

Kalau begitu, Lo Jit juga orang yang pintar. Dia bisa mengikuti perkembangan yang ada di depan matanya. Setelah merenung sejenak, dia memaksa dirinya menahan kekesalan hatinya.

"Baik, aku bersedia!" katanya.

" Jadi dayang juga ada peraturannya. Sekarang kau panggil dulu ayahku satu kali, kemudian panggil aku satu kali juga!" ucap I Giok Hong sumbil tersenyum.

Dada Tao Ling hampir saja meledak mendapat hinaan sedemikian rupa dari I Giok Hong. Tetapi sinar matanya kembali bertemu pandang dengan 'Lo Jit', akhirnya dia menahan juga kemarahan hatinya.

"Siocia, Lo ya!" panggilnya.

"Coba kau menurut dari tadi, tentu tidak perlu merasakan sakitnya pecutku, bukan?" I Giok Hong tertawa terbahak-bahak.

*****

Tao Ling tidak menyahut sepatah kata pun. Tangan 1 Giok Hong mengendur. Pecut yang melilit leher Tao Ling pun terlepas seketika. Tao Ling cepat-cepat menghambur kepada Lie Cun Ju. Dia melihat bagian tangan, lengan, wajah pemuda itu dipenuhi dengan jalur berdarah. Hatinya perih sekali. Lie Cun Ju berusaha memberontak untuk bangun.

"Tao kouwnio, aku hanya menyusahkanmu!" Meskipun ucapan Lie Cun Ju sangat sederhana,

tetapi di dalamnya terkandung kasih sayang yang tidak terkirakan! Hati Tao Ling semakin pilu mendengarnya. Tanpa dapat ditahan lagi air matanya mengalir dengan deras. Lie Cun Ju memandangnya dengan terpaku.

"Tidak usah bersedih terus. Asal kau menurut semua perkataanku baik-baik, sekembalinya dari Si Cuan, kalian toh masih dapat bertemu muka. Kau menjadi dayangku, dia menjadi penjaga keamanan di Gin hua kok ini. Bukankah merupakan hal yang menggembirakan?" kata gadis cantik Giok Hong itu.

Tao Ling hampir tidak dapat menahan kepiluan di hatinya. Dia langsung berdiri.

"Cepat siapkan kereta kuda, kita harus berangkat sekarang juga! Tia, kau tidak membawa apa-apa?" Terdengar suara ucapan Giok Hong.

"Tentu ada yang harus kubawa." Tampak bayangan tubuhnya bagai gumpalan asap, dalam sekejap mata sudah berada pada jarak lima depaan. Sekali lagi tubuhnya berkelebat, tahu-tahu sudah menyusup ke dalam rumah. Kecepatan gerakan tubuhnya membuat mata Tao Ling membelalak dan mulut membuka.

Tidak berapa lama kemudian, I Ki Hu sudah keluar kembali. Tetapi kedua tangannya masih kosong, tidak terlihat dia membawa apa pun.

Sementara itu, I Giok Hong memerintahkan Tao Ling naik ke dalam kereta. Setelah masuk ke dalam, Tao Ling melirikkan matanya kepada Lie Cun Ju. Matanya menyorotkan keperihan hatinya berpisah dengan pemuda itu. Namun tali kendali kuda sudah dihentakkan. Keempat ekor kuda itu segera meringkik dan menggerakkan kakinya. Dalam sekejap mata kereta itu sudah meluncur keluar dari Gin Hua kok.

Lie Cun Ju terkulai di atas rerumputan. Dia ingin berdiri dan berlari menuju mulut lembah untuk melihat Tao Ling sekali lagi. Tetapi baru saja dia berdiri, kakinya sudah terasa lemas dan jatuh kembali. Hatinya sedih sekali. Tanpa dapat ditahan lagi. Dia menarik nafas panjang. Tampak 'Lo Jit' membungkukkan tubuhnya dan memperhatikan 'keadaannya. Berkali-kali Lie Cun Ju menarik nafas panjang.

"Locianpwe, nasehatmu kepada Tao kouwnio memang tidak salah. Tetapi watak gadis yang satu ini, di luar lembut, dalamnya keras. Mana sudi dia mendapat tekanan dari orang atau mendengar perintah orang? Seandainya dia memendam kekesalannya dalam hati, maka darah di sekitar hatinya akan membeku serta menimbulkan luka dalam yang parah. Tetapi apabila dia membangkang, penderitaan apa lagi yang akan diterimanya bukankah sudah dapat dibayangkan?

Aih!" ucap Lie Cun Ju.

"Ci kongcu, Thian menggerakkan hati si raja iblis itu untuk meninggalkan Gin Hua kok, ternyata penderitaan dan hinaan yang kuterima selama belasan tahun tidak sia- sia!" katanya dengan nada berbisik.

"Locianpwe, bagaimana kau memanggilku barusan?" tanya Lie Cun Ju bingung. "Aku memanggil kau Ci kongcu!" Lo Jit tersenyum misterius. "Locianpwe jangan bercanda, aku she Lie, bukan she Ci!" Selesai berkata, ia teringat I Ki Hu menanyakan apakah dia anak kandung Pat Kua kiam Lie Yuan, hatinya semakin tidak mengerti.

'Lo Jit' tidak menyahut. Tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di mulut lembah. Dia melongokkan kepalanya keluar untuk melihat keadaan di kiri kanannya. Tampak debu beterbangan. Kereta kuda berwarna putih itu sudah berada di kejauhan dan tidak berapa lama kemudian tinggal tampak titik berwarna keperakan. Setelah yakin majikan dan nonanya sudah pergi, Lo Jit baru melesat kembali ke samping Lie Cun Ju.

"Ci kongcu, aku khawatir kau sendiri tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Sekarang kau ikut aku dulu!" Dia memapah tubuh Lie Cun Ju lalu berjalan menuju sebelah kanan lembah.

Mereka sampai di depan sebuah pintu batu. Lo Jit mendorong batu besar itu kemudian terlihat sebuah celah yang cukup lebar. Lo Jit membungkukkan tubuhnya sedikit dan masuk ke dalam, Lie Cun Ju pun mengikutinya. Setelah berjalan heberapa depa, pandangan mata pun jadi leluasa. Ternyata di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang cukup luas. Sekali lagi Lo Jit melongok keluar. Lie Cun Ju tidak melihat adanya orang lain di lembah itu. Tetapi sikap Lo Jit masih demikian hati-hati. Diam-diam dia menyadari urusan ini pasti rahasia sekali.

Tadinya Lie Cun Ju berdiri dengan punggung bersandar di dinding batu. Lo Jit keluar melihat-lihat keadaan. Setelah kemhali lagi, dia berjalan menuju sebuah tempat tidur batu. Kemudian dia mengerahkan tenaganya untuk mengangkat batu itu. Ternyata batu yang berbentuk persegi dan setebal kasur tempat tidur itu terangkat olehnya.

Lie Cun Ju sama sekali tidak tahu apa yang dilakukannya. Setelah batu itu terangkat, Lie Cun Ju melihat tempat tidur itu sekarang terdapat lekukan di dalamnya, besarnya sama dengan batu tadi. Tetapi warna batu yang menjadi alas di dalamnya berwarna abu-abu pekat. Ketika perasaannya sedang bingung, Lo Jit sudah membimbingnya dan menyuruhnya tidur di atas lekukan batu itu. Baru saja Lie Cun Ju merebahkan dirinya, ia langsung berteriak sekeras-kerasnya kemudian bermaksud melonjak bangun.

Rupanya ketika Lie Cun Ju baru membaringkan tubuhnya di atas batu itu, ternyata dia merasa dirinya seakan dilemparkan ke dalam kolam berisi air es. Serangkum hawa dingin yang menggigilkan menyusup sampai ke dalam tulang sumsumnya. Apalagi bagian tubuh yang terkena pecutan I Giok Hong, perihnya tidak terkatakan. Pada dasarnya tubuh Lie Cun Ju memang sudah lemah sekali. Bahkan ketika berdiri saja harus menyandarkan punggungnya ke dinding batu. Tetapi rasa dingin yang menusuk dari alas batu yang ditidurinya ternyata sanggup membuat dia melonjak bangun!

Baru setengah dia melonjakkan tubuhnya, tangan si kakek tua sudah mendorongnya keras-keras. Tubuhnya terhempas kembali ke atas alas batu tersebut. Bahkan belum hilang rasa terkejut di hati Lie Cun Ju, kakek tua itu sudah mengulurkan tangannya kembali dan menotok dua buah jalan darahnya.

Tentu saja Lie Cun Ju tidak dapat bergerak lagi setelah jalan darahnya tertotok. Dia merasa segulung demi segulung hawa dingin menyusup ke dalam pori-pori di seluruh tubuhnya. Dalam waktu yang singkat, keempat anggota tubuhnya sudah mulai kaku. Meskipun Lie Cun Ju masih bisa bicara, tetapi rahang mulutnya sulit dibuka, lidahnya terasa beku. Sampai beberapa lama, dia baru sanggup memaksakan diri berkata.

"Lo . . . cianpwe ... an ... ta ... ra ... kita . . . tidak ... a ... da ... per . . . musuh ... an . . . apa . . . pun ... mengapa kau ..." Tubuhnya menggigil, dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.

"Ci kongcu, tahukah kau siapa aku?" kata orang itu serius.

Saking dinginnya, wajah Lie Cun Ju sudah berubah menjadi kehijauan. Dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Matanya memandang Lo Jit seakan menunggu kelanjutan kata-katanya.

"Kau sudah mengikuti pasangan suami istri Pat Kua kiam Lie Yuan sekian lama, tentunya pengetahuanmu tentang dunia kang ouw juga cukup luas. Pernahkah kau mendengar bahwa belasan tahun yang lalu di dunia kang ouw, khususnya golongan hitam ada seorang perampok yang selalu malang melintang seorang diri. Julukannya Hantu tanpa bayangan. Senjatanya sebatang golok dan sepasang cambuk. Orang itu she Seebun bernama tunggal Jit?"

Mendengar kata-katanya, dalam hati Lie Cun Ju tertegun. Meskipun orang bernama Seebun Jit itu sudah belasan tahun tidak terdengar kabar beritanya, tetapi namanya masih tersohor di kalangan orang-orang bulim. Menurut berita yang pernah didengarnya, baik gwa kang maupun lwekang orang ini tinggi sekali. Meskipun orang dari golongan hitam, tetapi wataknya cukup baik. Jiwanya besar. Malah Seebun masih bersaudara dengan hwesio angkatan tertinggi dari Go Tai bun, yakni ciang bun jinnya Bu Kong taisu. Mungkinkah 'Lo Jit' yang ada di hadapannya ini tokoh yang bernama Seebun Jit?"

Karena pikirannya melayang-layang, tanpa disadari rasa nyerinya jauh berkurang. Bahkan tanpa disengaja dia bertanya.

"Apakah locianpwe ini Seebun Hiap to (Perampok budiman)?"

"Tidak salah. Tidak disangka usiamu yang demikian muda tetapi sudah pernah mendengar namaku."

"Seebun cianpwe, cepatlah kau bangunkan aku . . . dari tempat tidur batu ini!"

"Ci kongcu, ketika kau masih kecil, mungkin kau juga pernah tidur di atas tempat tidur batu ini, hanya saja kau sudah lupa!"

Hati Lie Cun Ju semakin curiga, dia berusaha memberontak, tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.

"Seebun cianpwe, bagaimana mungkin aku pernah tidur di atas alas batu ini?" "Kalau dikisahkan, ceritanya cukup panjang. Kau harus sabar mendengarkannya.” Seebun Jit menarik napas panjang, kemudian dia memulai ceritanya. "Ketika usiamu baru menginjak tujuh bulan, di keluargamu terjadi perubahan besar dan mengerikan. Ayah ibumu mati, kakak serta adikmu terbunuh. Keadaan waktu itu benar-benar ..."

Lie Cun Ju seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Mendengar kata-kata Seebun Jit, wajahnya langsung berubah.

"Seebun cianpwe, mengapa kau bisa mengucapkan kata-kata seperti itu?"

"Kau kira Pat Kua kim gin kiam, pasangan suami istri Lie Yuan benar-benar orang tua kandungmu?"

Tanpa disadari, seluruh perhatian Lie Cun Ju tercurah pada cerita orang tua itu. Sejak dia mengerti urusan, dia tidak pernah curiga dengan riwayat hidupnya sendiri. Tetapi sekarang, bukan hanya Gin leng hiat ciang I Ki Hu yang curiga dia bukan anak kandung Pat Kua kim gin kiam Lie Yuan, bahkan Hantu tanpa bayangan Seebun Jit ini juga yakin dia bukan anak kandung pasangan suami istri itu. Masalah sebesar ini, dulu belum pernah terbayangkan olehnya, bahkan bermimpi pun tidak. Oleh karena itu, untuk sesaat dia lupa dengan rasa nyeri yang melanda dirinya.

"Seebun cianpwe, lalu siapa orang tua kandungku sebenarnya? Mereka mati di tangan siapa?

Benarkah aku she Ci?" tanyanya beruntun. Mungkin karena lupa dengan rasa sakitnya, pertanyaan Lie Cun Ju juga dapat dicetuskan dengan lancar.

"Tidak salah, kau memang she Ci. Ayahmu adalah pemilik alas batu Ban nian si ping (Endapan es laksaan tahun) yang merupakan salah satu pusaka yang menjadi incaran tokoh-tokoh bu lim . . ." Mendengar sampai di sini, wajah Lie Cun Ju semakin menyiratkan rasa terkejutnya.

"Maksudmu, aku putra Tocu (pemilik pulau) Hek Cui To, Ci Cin Hu?" "Tidak salah. Tadi aku justru khawatir si raja iblis itu mengenalimu!"

Sejak kecil sampai besar, entah berapa kali sudah Lie Cun Ju mendengar kisah dendam antara I Ki Hu dengan tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu. Mula-muia I Ki Hu berhasil dikalahkan oleh Ci Cin Hu. Tetapi beberapa tahun kemudian, I Ki Hu datang kembali ke Hek Cui to mencari Ci Cin Hu. Dengan ilmu telapak darahnya yang menggetarkan dunia persilatan, I Ki Hu membasmi seluruh keluarga dan anggota Hek Cui to. Seluruh penghuni pulau itu habis dibunuh oleh I Ki Hu. Yang tersisa hanya seorang putranya yang usianya belum mencapai satu tahun.

Selama beberapa tahun ini, menurut kabar burung, I Ki Hu terus berusaha menemukan bayi yang tidak sempat dibunuhnya itu. Ketika Lie Cun Ju mendengar orang mengisahkan cerita itu, diam-diam dalam hati dia sering mendoakan keselamatan sang bayi laki-laki agar jangan sampai ditemukan oleh I Ki Hu. Tetapi mimpi pun dia tidak pernah membayangkan bahwa bayi kecil yang sempat menjadi perhatian kalangan orang-orang kang ouw itu adalah dirinya sendiri.

Sampai sekian lama dia termangu-mangu. Kemudian baru berkata. "Apakah yang kau katakan itu benar adanya?" "Mana mungkin palsu?"

"Mengapa kau begitu yakin aku putra Ci Cin Hu?" tanya Lie Cun Ju iagi.

"Padahal urusannya sudah berlalu begitu lama. Ketika pertama kali aku melihatmu, usiamu baru lima bulan. Tentu saja aku tidak dapat mengenalimu. Tetapi sekarang, wajahmu persis dengan ayahmu ketika muda. Tidak ada perbedaan sedikit pun. Mana mungkin aku tidak bisa mengenalimu?"

"Seebun cianpwe, benda ada yang sama, manusia banyak yang mirip. Kalau mengambil kepastian dari rupa yang sama saja, bagaimana bisa membuktikan bahwa aku benar-benar putra Tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu? Apalagi ayah ibuku sangat baik terhadapku. Aku benar-benar tidak percaya kalau mereka bukan orang tua kandungku."

"Di balik semua ini pasti ada yang tidak kauketahui. Biar aku menjelaskannya dengan terperinci."

"Katakan saja!" Pada saat itu, seluruh tubuhnya masih terasa nyeri karena dinginnya alas batu yang bernama Ban nian si ping itu. Tetapi karena seluruh perhatiannya tercurah ke masalah lain, dia jadi tidak merasakannya.

"Pada waktu itu, I Ki Hu datang ke pulau Hek Cui to. Sebetulnya ayah dan ibumu tidak mungkin kalah dengan cara yang demikian mengenaskan. Tetapi mereka sedang berlatih semucam ilmu yang sakti. Hati si raja iblis I Ki Hu keji sekali. Begitu datang ke Hek Cui to, dia tidak muncul secara terang-terangan. Semalam penuh dia mencari kesempatan yang baik. Setelah mendapat kesempatan yang baik, dia langsung menerjang ke dalam gedung rumahmu. Kedua orang tuamu sedang bersemedi melatih ilmu, dia langsung membunuh. Mereka tanpa sempat memberikan perlawanan sedikit pun. Setelah berhasil, dia menghabisi seluruh anggota keluargamu dan penghuni pulau lainnya."

"Kalau aku memang putra Ci Cin Hu, mengapa aku bisa meloloskan diri dari pembantaian yang keji itu?" tanya Lie Cun Ju.

"Sebulan sebelumnya, kau dibawa pergi oleh inang pengasuhmu meninggalkan Hek Cui to untuk mengunjungi nenekmu. Karena itu kau selamat dari pembunuhan malam itu."

"Siapa pula nenekku itu?"

"Dia orang tua juga mempunyai nama besar di dunia kang ouw, julukannya Liong Po (Nenek naga) Chi Go Nio. Pada saat itu, dua bulan sebelumnya aku sempat berkunjung ke Hek Cui to. Kami pernah bertemu muka satu kali. Dua bulan kemudian, aku mempunyai sedikit urusan dengan ayahmu dan ingin menemuinya, Tetapi ketika aku baru tiba di tepi laut, aku langsung mendengar bencana yang menimpa keluarga besar Hek Cui to. Cepat-cepat aku menuju pulau itu untuk membuktikan kebenarannya. Ternyata rnemang benar. Ayahmu pernah menanam budi yang besar kepadaku, karena itu aku pun menguburkan semua mayat yang ada dalam pulau itu. Kemudian aku pun teringat kepadamu. Menurut berita yang kudapatkan. hanya kau seorang yang sempat meloloskan diri dari pembantaian itu. Sedangkan aku tahu di mana kau berada. Bergegas aku menyusul ke rumah nenekmu, Ciu Go Nio. Tetapi di tengah perjalanan, kembali aku mendengar berita bahwa scluruh anggota keluarga di rumah nenekmu itu juga habis terbunuh oleh I Ki Hu. Tetapi yang melegakan hatiku justru mendengar kabar bahwa iblis itu tidak herhasil menemukan bayi itu. Mengenai bagaimana kau bisa meloloskan diri untuk kedua kalinva, aku sama sekali tidak tahu."

Meskipun Seebun Jit menuturkan cerita itu dengan serius, tapi Lie Cun Ju tetap tidak percaya.

"Tocu Hek Cui to mempunyai tiga orang putri dan tiga orang putra termasuk dirimu. Yang anehnya setiap anak laki-laki maupun perempuan, di lengannya pasti ada andeng-andeng berwarna merah. Karena itu, ketika si raja iblis I Ki Hu melihatmu, dia langsung mengoyak lengan bajumu," ujar Seebun Jit meneruskan ceritanya.

"Tetapi di lenganku tidak ada andeng-andeng merah sedikit pun."

"Pasti pasangan suami istri Lie Yuan teiah menghilangkan andeng-andeng di lenganrnu itu” kata Seebun Jit.

"Seebun cianpwe, aku tetap tidak percaya dengan ceritamu!" ujar Lie Cun Ju sambil meng-gelengkan kepala.

Sekonyong-konyong terlihat perubahan di wajah Seebun Jit, kemudian dengan tergesa-gesa dia melesat keluar.

"Seebun ciangpwe, ada apa?" tanya Lie Cun Ju.

Tampak Seebun Jit berhenti sebentar di depan pintu batu. Kemudian dia melongokkan kepalanya keluar. Wajahnya menyiratkan perasaan terkejut. Terdengar dia seperti menggumam seorang diri.

"Aneh! Tadi terang-terangan aku mendengar suara seseorang, mengapa aku tidak melihat siapa-siapa?" gumam Seebun Jit.

"Seebun cianpwe, mungkinkah si raja iblis I Ki Hu tiba-tiba kembali lagi?" tanya Lie Cun Ju dengan tegang.

"Jangan khawatir, sebelum sampai di Si Cuan dan bertemu dengan pasangan suami istri Lie Yuan, dia tidak mungkin kembali kesini!" jawab Seebun sarnbil tertawa getir.

"Untuk apa I Ki Hu ingin bertemu dengan kedua orang tuaku?"

"Kau toh tidak percaya dengan kata-kataku. Tetapi si raja iblis I Ki Hu begitu melihatmu langsung mencurigai bahwa kaulah bayi yang dulu dicari-carinya. Tentu tujuannya untuk membasmi rumput sampai ke akar-akarnya. Tetapi dia tidak menemukan andeng-andeng merah di lenganmu. Karena itu dia belum yakin dengan dugaannya sendiri. Dia sengaja menahanmu di Gin Hua kok ini dan pergi ke Si Cuan mencari pasangan suami istri Lie Yuan untuk menanyakan riwayat hidupmu sampai sejelas-jelasnya. Kalau belum ada kepastian, mana mungkin dia sudi kembali lagi kemari?"

Lie Cun Ju terdiam beberapa saat. Diam-diam dia membayangkan kembali sikap orang tuanya sejak kecil sampai dewasa terhadapnya. Sesungguhnya tidak ada yang dapat dicurigai. Tidak terlihat sedikit pun titik terang yang menyatakan mereka bukan orang tua kandungnya. Bahkan sikap mereka lebih baik daripada kepada kokonya Li Po.

Lagipula andeng-andeng merah yang dikatakan Seebun Jit sebagai tanda kelahiran khas keluarga Ci Cin Hu tidak terdapat pada dirinya. Bahkan sedikit luka bekas guratan pisau pun tidak ada. Seandainya benar pasangan suami istri Lie Yuan menghilangkan tanda itu, pasti sedikit banyaknya akan meninggalkan bekas luka.

Tetapi, meskipun demikian, Lie Cun Ju juga tidak bisa tidak percaya sama sekali dengan keterangan Seebun Jit. Pertama, dia tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan Seebun Jit, bahkan perlakuan orang tua itu sangat baik terhadapnya. Kedua, cara bicara orang tua itu juga penuh keyakinan dan tidak dibuat-buat.

Karena itu sampai cukup lama dia terdiam kemudian baru berkata lagi. "Seebun cianpwe, biar bagaimana, urusan ini menyangkut riwayat hidupku sendiri. Aku ingin menanyakannya kepada kedua orang tuaku agar persoalannya menjadi jelas. Harap kau bebaskan totokan di tubuhku. Aku ingin pergi ke Si Cuan untuk menemui ayah dan ibuku."

"Ci kongcu, ayahmu meninggal dengan cara yang mengenaskan. Meskipun aku ini orang golongan hitam, tapi hitung-hitung aku masih mempunyai hubungan saudara dengan ayahmu. Boleh dibilang seluruh bu lim tahu bahwa kematian ayahmu berlangsung di tangan I Ki Hu. Tetapi ternyata tidak ada seorang pun yang berani menampilkan diri menuntut keadilan. Hanya aku sendiri yang tiga kali berturut-turut mendatangi Cin Hua kok untuk membalaskan dendam bagi orang tua dan saudara- saudaramu. Tetapi sayangnya tiga kali berturut-turut pula aku mengalami kekalahan. Akhirnya aku berpura-pura takluk kepadanya dan menjadi pelayannya. Pokoknya selama gunung masih menghijau, hutan masih ada, jangan takut tidak ada kayu bakar. Selama belasan tahun ini aku menahan segala penderitaan dan hinaan. Sekarang aku sudah menemukanmu. Tetapi kau malah ingin pergi ke Si Cuan untuk menemui pasangan suami istri Lie Yuan. Bagaimana kalau di sana kau bertemu dengan si raja iblis I Ki Hu. Coba kau pikirkan sendiri! Apakah ilmu silatmu sekarang dapat menandingi kepandaian si raja iblis itu?"

Mendengar nada bicara Seebun Jit yang semakin lama semakin serius, hati Lie Cun Ju semakin bimbang.

"Lalu, entah berapa puluh tahun lagi ilmu silatku baru bisa menandingi kepandaian si raja iblis itu?"

"Urusan ini sulit dikatakan. Tetapi batu yang kau tiduri sekarang merupakan endapan es atau salju di gunung Thai san selama ribuan lahun. Bagi orang yang melatih ilmu silat, khasiatnya besar sekali. Asal kau bisa menahan penderitaan dan tidur di atasnya selama tujuh hari berturut-turut, ilmu silatmu akan pulih kembali. Bahkan tenaga dalammu akan berlipat ganda. Mengenai urusan kelak, terpaksa melihat peruntunganmu sendiri! Aku akan membebaskan totokan di jalan darahmu. Tetapi kau harus ingat, selama tujuh hari tujuh malam, biar ada rasa sakit yang bagaimana pun, kau tetap tidak boleh bangun dari alas batu itu. Bahkan duduk pun tidak boleh.

Pokoknya kau harus berbaring terus. Kalau tidak, mungkin ilmu silatmu selamanya tidak pernah bisa pulih kembali!"

Sembari berkata, dia mengulurkan tangannya menepuk jalan darah di tubuh Lie Cun Ju. Pemuda itu tadi mendengarkan cerita Seebun Jit tentang riwayat hidupnya yang misterius. Seluruh perhatiannya tercurah kesana. Dengan demikian penderitaannya tanpa sadar tidak terasa begitu parah. Tetapi sekarang tiba-tiba Seebun Jit membebaskan totokannya. Dia merasa segulung demi segulung hawa dingin menyusup ke seluruh tubuhnya dan membuat rasa nyerinya semakin menjadi-jadi.

Siksaan itu bukan main hebatnya. Tetapi dia terus mengingat ucapan Seebun Jit. Seandainya ucapan orang itu benar, maka dirinya tidak akan menjadi orang cacat lagi. Walaupun penderitaan ini sedemikian hebatnya, tapi dia tetap menggeretakkan giginya erat-erat dan menahannva

Sementara itu, Seebun Jit terus mondar-mandir di dalam ruangan batu dengan wajah serius.

*****

Kurang lebih setengah kentungan kemudian, kulit tubuh Lie Cun Ju sudah kebal. Tetapi rasa dingin bahkan menyusup ke dalam tulang belulangnya. Rasa nyerinya benar-benar rnembuat dirinya hampir tidak tahan. Seandainya Ban nian si pemilik Tocu Hek Cui to ini tidak demikian terkenal dan menurut kabar bisa menambah kekuatan tenaga dalam di tubuh seseorang bahkan merupakan pusaka yang menjadi incaran tokoh-tokoh bu lim, Lie Cun Ju juga tidak akan percaya dengan kata-kata Seebun Jit.

Sembari menahan penderitaan yang hebat, Lie Cun Ju berusaha mengedarkan hawa murni dalam tubuhnya. Ketika dia menoleh kepada Seebun Jit, dia melihat orang tua itu berulang kali berdiri di depan pintu batu dan melongokkan kepalanya keluar.

Telinganya seakan mendengarkan suara dengan seksama. Mimik wajahnya semakin lama semakin memperlihatkan rasa terkesiapnya. Seakan bukan satu-dua kali, dia menemukan ada gerak gerik di luar pintu batu itu.

Lie Cun Ju sadar ilmu silatnya saat ini bagai bumi dan langit dibandingkan dengan Seebun Jit. Seandainya ada gerak-gerik apa-apa, dia pun tidak bisa mendengarnya. Hatinya berharap dapat melewati tujuh hari tujuh malam dengan tenang meskipun dia harus menanggung penderitaan yang hebat. Dengan demikian ilmunya bisa pulih kembali dan dirinya tidak sampai menjadi orang cacat.

Tetapi kenyataan memang sering bertentangan dengan harapan seseorang. Tiba-tiba saja dia melihat wajah Seebun Jit berubah kelam. Tubuhnya bergerak laksana terbang. Tangannya mengulur dan meraih sebuah buntalan yang tergantung di dinding batu.

Kemudian terdengar suara Cring! Cring sebanyak dua kali. Dia berkelebat kembali ke depan pintu goa. "Siapa yang berulang kali mengintai di dalam Gin Hua kok?" Harap lekas sebutkan nama!" Suara bentakannya itu bergelombang sampai ke tempat yang jauh. Tidak lama kemudian terdengar suara seorang perempuan berkumandang dari kejauhan.

"Apakah pemilik lembah Gin Hua kok, I Lo sian sing ada di tempat?"

Begitu mendengar suara itu, hati Lie Cun Ju langsung tercekat. Wajah Seebun Jit juga berubah hebat. Dia membalikkan tubuhnya.

"Ci kongcu, tidak perduli apa pun yang terjadi di luar, kau harus ingat. Jangan sekali- kali turun dari alas batu itu. Setelah keluar nanti, aku akan menutup pintu batu goa ini. Yang penting kau harus beristirahat!" kata Seebun Jit.

Sembari berbicara, dia melepaskan buntalan kain yang dipegangnya. Cahaya berkilauan memenuhi seluruh ruang batu itu. Dia mengeluarkan dua macam senjata yang bentuknya aneh.

Nama Seebun Jit memang terkenal di kalangan dunia kang ouw. Salah satu senjatanya yang istimewa adalah sebuah pecut yang memiliki lima cabang. Masing-masing cabang itu terkait gerigi besi berbentuk setengah lingkaran yang tajamnya bukan main. Seebun Jit mendapat julukan Hantu tanpa bayangan. Senjata andalannya sebilah golok dan sepasang cambuk. Cambuk itu memang terdiri dari dua utas. Tetapi menggunakannya tidak perlu dua tangan karena dapat dijadikan satu. Sedangkan goloknya juga aneh. Lebarnya tidak seperti golok biasa. Bentuknya juga tidak melengkung, bahkan lebih mirip batangan besi berbentuk persegi empat. Tetapi di kedua sisinya bergerigi juga.

Karena mengenali suara perempuan itu, Lie Cun Ju jadi mengkhawatirkan keselamatan Seebun Jit.

"Seebun cianpwe, kau harus berhati-hati!"

"Di dalam Gin Hua kok ini ada nama besar si raja iblis I Ki Hu, aku yakin mereka juga tidak berani berbuat apa-apa!" ujar Seebun Jit.

Dia memasukkan sepasang cambuknya ke dalam selipan ikat pinggang. Setelah itu dia melesat keluar dari ruangan batu itu. Kemudian dia mendorong sebuah batu besar untuk menahan di depan pintu tadi. Setelah itu dengan perlahan-lahan dia menerobos taman bunga dan berjalan menuju mulut lembah.

"Gin Hua kok dengan kalian selamanya tidak ada hubungan apa-apa. Untuk apa kalian datang kemari?" tanya Seebun Jit dengan nada dingin.

Baru saja ucapan Seebun Jit selesai, tiba-tiba dari mulut lembah bekelebat beberapa bayangan. Ternyata di sana sudah bertambah tiga orang. Tiga orang itu mengenakan topeng berwarna merah darah. Dari topeng itu menyembul sepasang mata, warnanya menyeramkan, sehingga membuat orang yang melihatnya timbul perasaan ngeri.