Pedang Tanpa Perasaan Jilid 03

Jilid 03  

Baru saja selesai bercerita, tiba-tiba dua orang petugas piau kiok masuk ke dalam kamar dengan sikap gugup.

"Tan . . . cong piau . . . tau, di... luar .. . ada orang ... yang ingin ... ber... temu dengan

...Anda!"

"Ada orang ingin bertemu saja, mengapa kau sampai segugup ini?" bentaknya kesal.

"Begitu masuk ke dalam halaman, orang itu sudah menghancurkan patung singa di depan dengan sekali hantam!" kata yang satunya.

Wajah Tan Liang langsung berubah mendengar keterangan anak buahnya. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya. "Bagaimana rupa orang yang datang itu?"

"Yang ... satu bertubuh tinggi kurus, satunya lagi . . . gemuk pendek, sedangkan yang terakhir ... tampaknya seorang perempuan. Wajah mereka tidak terlihat karena mengenakan sebuah topeng berwarna merah darah."

Tan Liang dan Liu Hou tampak merenung memikirkan kira-kira siapa orang yang berpenampilan demikian di dunia kang ouw. Tetapi wajah Tao Ling langsung pucat pasi. Tidak disangka-sangka dengan susah payah dia berhasil melarikan diri dan bersembunyi di gedung itu. Ternyata ketiga iblis itu masih mengejar mereka. Dalam keadaan panik, dia sendiri sampai kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.

Kalau mengingat suara tawa si gemuk pendek yang aneh dan menyeramkan, seluruh bulu kuduk Tao Ling langsung merinding. Bagi dia sendiri masih tidak apa-apa, tetapi Lie Cun Ju sedang terluka parah. Mana mungkin dia sanggup mendengar berita yang mengejutkan itu. Begitu perasaannya kacau, kembali dia memuntahkan darah segar.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa yang aneh itu, dan ketiga iblis itu pun sudah berdiri di depan pintu kamar.

Melihat ketiga orang itu langsung menerobos ke dalam kamar, mula-mula Tan Liang agak tertegun, kemudian wajahnya menyiratkan perasaan kurang senang.

"Siapa kalian?" bentaknya sinis. Tetapi si gemuk pendek itu tidak menyahut, dia saling lirik dengan kedua saudaranya. Tubuh si laki-laki tinggi kurus langsung berkelebat. Sebelah lengannya menjulur ke depan, dia langsung menyerang Tan Liang.

Selama hidupnya, entah sudah berapa banyak mara bahaya yang dihadapi si Harimau Bersayap Emas Tan Liang. Tentu saja dia tidak merasa takut, malah tertawa terbahak- bahak. Tubuhnya bergerak sedikit untuk menggeser ke samping, tetapi lengan si laki- laki kurus yang panjang itu memainkan jurus yang aneh. Padahal terang-terangan sebuah pukulan sedang diarahkan kepada Tan Liang, tetapi di tengah jalan, telapak tangannya itu mengatup dan berganti menjadi tinju. Tangannya seperti mempunyai mata dapat menggeser ke arah mana pun Tan Liang bergerak. Lagipula serangannya tidak menimbulkan suara sedikit pun.

Tan Liang bukan jago kelas satu di dunia kang ouw. Dia sebagai seorang Cong piau tau dari perusahaan piau kiok. Pengalamannya cukup banyak dan pengetahuannya juga luas sekali. Setidaknya setiap ilmu pukulan yang terkenal di kolong langit ini, dia pernah mendengarnya. Akan tetapi jurus partai mana yang dikerahkan laki-laki bertubuh tinggi kurus ini? Dia tidak pernah mendengar ada ilmu pukulan seaneh ini di dunia kang ouw.

Tan Liang tidak berani menyambut dengan kekerasan. Dia berusaha menghindar dari serangan laki-laki bertubuh tinggi kurus itu. Tetapi orang itu masih juga memainkan jurus yang sama. Hanya saja tinjunya membuka dan jari tangannya melakukan penyerangan dengan mencengkeram

Tiga kali perubahan ini membuat hati Tan Liang tercekat. Ilmu kepandaiannya sendiri terhitung tidak rendah, tapi tidak pernah dia menyaksikan perubahan jurus seaneh ini. Sekitar kurang dari satu depa Tan Liang dengan penuh pukulan, tinju, dan cakar. Dia menyadari bahwa dirinya telah berhadapan dengan musuh yang tangguh. Terdengar suara Crep! Pecut lemasnya segera dilepaskan dan tidak mau menghadapi lawan dengan tangan kosong.

Tetapi ketika Tan Liang baru saja melepaskan pecut lemasnya, tiba-tiba dia mendengar suara jeritan ngeri dari mulut Liu Hou. Hubungan Tan Liang dengan Liu Hou sangat akrab, bahkan sudah seperti saudara kandung. Mendengar suara jeritan sahabatnya itu, pikirannya langsung terpecah, tangannya tanpa sadar merenggang dan tahu-tahu pecut lemasnya sudah direbut oleh si laki-laki bertubuh tinggi kurus.

Kemudian disusul dengan suara Blam! Dadanya telah terhantam telak oleh pukulan lawan.

Dalam keadaan panik, Tan Liang masih sempat menolehkan kepalanya. Dia melihat Liu Hou sudah terkulai di atas tanah, mati dengan bersimbah darah.

Rupanya ketika laki-laki bertubuh tinggi kurus mulai bergebrak dengan Tan Liang, perempuan yang dipanggil 'sam moay' segera menghunus sepasang goloknya dan menerjang ke arah Liu Hou. Liu Hou yakin terhadap kekuatan sendiri. Dia menangkis serangan perempuan itu dengan golok lebarnya. Tidak disangka begitu saling membentur, goloknya langsung terpental. Golok di tangan kiri perempuan itu langsung menancap ke dalam ulu hatinya! Sedangkan Tan Liang yang terkena hantaman si laki-laki tinggi kurus langsung merasa dadanya seperti mendidih. Tubuhnya terhuyung-huyung. Si Tinggi kurus mengeluarkan suara tawa yang aneh. Pukulan kedua langsung dilancarkan. Kali ini, Tan Liang bahkan tidak sempat bersuara sedikit pun. Tubuhnya terpental ke dinding kamar dengan keras, kemudian terkulai jatuh dan mati seketika dengan beberapa tulang belulang yang patah.

Keempat orang itu hanya bergebrak dalam waktu yang singkat. Ternyata sudah berhasil memperlihatkan pihak mana yang kalah dan pihak mana yang menang. Tao Ling yang duduk di samping Lie Cun Ju merasa hatinya diguyur air dingin. Tetapi biar bagaimana pun dia tidak bersedia melarikan diri atau meninggalkan pemuda itu.

Tampak perempuan tadi dan si laki-laki tinggi kurus membalikkan tubuh dan berlari keluar. Baru saja mereka meninggalkan kamar itu, dari luar berkumandang serentetan jeritan yang menyayat hati. Keadaan di luar sana tampaknya kalang kabut. Si laki-laki bertubuh gemuk pendek malah tertawa terkekeh-kekeh. Dia melangkahkan kakinya menghampiri Tao Ling dan lie Cun Ju.

Tao Ling sadar mereka sulit menghindarkan diri dari ancaman bahaya kali ini. Daripada mati konyol, lebih baik mengadu jiwa, pikirnya dalam hati. Dia segera melepaskan pedang ernas dan perak dari selipan pinggangnya kemudian menerjang ke arah si gemuk pendek. Tetapi baru saja ruangan kamar itu dipenuhi cahaya yang berkilauan, orang itu sudah menghantamkan sebuah pukulan dan membuat sepasang pedang Kim Gin Kiarn itu terpental jauh.

Belum sempat Tao Ling berdiri dengan mantap, sebuah pukulan lainnya sudah meluncur ke arahnya. Tao Ling merasa telapak tangan orang itu masih belum menyentuh dadanya. Hanya serangkum kekuatan telah menerpanya dengan kencang. Tubuhnya bagai ditimpa besi seberat ribuan kati. Matanya langsung berkunang- kunang, tubuhnya limbung dan Hooaakkk! Dia memuntahkan segumpal darah segar. Tapi gerakan tubuhnya masih belum berhenti, kakinya terhuyung-huyung ke belakang, kemudian secara kebetulan jatuh menimpa tubuh Lie Cun Ju. Terdengar pemuda itu menjerit histeris. Tampaknya tekanan tubuh Tao Ling membuat lukanya bertambah parah beberapa kali lipat!

Tao Ling merasa dirinya hampir jatuh tidak sadarkan diri begitu tubuhnya menimpa Lie Cun Ju. Tetapi dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, dia masih sempat mendengar suara perempuan itu berkata.

"Toako, satu pun tidak ada yang tertinggal, mari kita pergi!"

Tao Ling masih berusaha memberontak, tetapi tiba-tiba dadanya terasa sakit, si Gemuk Pendek sudah melancarkan kembali pukulannya yang kedua. Dia hanya merasa isi perutnya seperti membrendel dan kacau balau. Tubuhnya hanya sempat bergerak- gerak sedikit kemudian terdiam.

*****

Entah berapa lama telah berlalu, Tao Ling tersentak sadar oleh rasa sakit dan perih. Dia ingin membuka matanya, tetapi kelopak matanya tidak bisa digerakkan sedikit pun. Seluruh tubuhnya bahkan seluruh isi perutnya bagai ditusuk ribuan jarum yang telah dipanaskan di atas bara api. Karena sakitnya sehingga sulit diuraikan dengan kata-kata. Dalam tenggorokannya seakan ada segumpal darah yang telah membeku, sehingga sulit baginya meskipun hanya menelan ludah saja. Jangan kan berbicara, merintih pun Tao Ling tidak sanggup.

Tetapi, ketika dia sudah tersadar. Meskipun matanya tidak bisa membuka, mulutnya tidak bisa bicara, tetapi telinganya masih bisa mendengar, walaupun suara yang ada di sekelilingnya hanya sayup-sayup seakan jauh sekali. Dia merasa ada seseorang di dalam kamar itu yang terus bolak balik. Kadang suara langkah kakinya berhenti di sampingnya, kemudian menjauh lagi seakan meninggalkannya.

Saat itu, kecuali pasrah pada nasibnya sendiri, Tao Ling tidak sanggup melakukan apa- apa lagi. Tidak lama kemudian terdengar seseorang berkata. "Meskipun kedua orang ini masih ada setitik nafas, tapi seluruh isi perutnya sudah tergetar. Meskipun bisa mendapatkan obat yang mujarab, takutnya nyawa mereka hanya tinggal beberapa kentungan saja." Suara itu terdengar terlontar dari mulut orang yang sudah tua.

"Belum tentu. Aku juga tidak mengharapkan mereka tertolong. Pokoknya salah satu dari mereka bisa berbicara beberapa patah kata, cukup." Suara yang satu ini terdengar nyaring dan merdu. Seakan terlontar dari mulut seorang anak gadis berusia lima belasan tahun.

"Kalau begitu kita coba saja." Terdengar orang yang sudah tua berkata lagi. Tao Ling merasa ada sebuah telapak tangan yang panas membara menempel di punggungnya.

Lukanya saat itu memang parah sekali, sampai dia sendiri tidak dapat membayangkan keparahannya itu. Kalau dalam keadaan seperti ini, dia tidak mengalami kematian, boleh dibilang merupakan suatu keajaiban. Ketika tangan itu menempel di punggungnya, gadis itu merasa nyeri yang tidak terhingga. Sesaat kemudian dia jatuh tidak sadarkan diri lagi.

Ketika Tao Ling tersadar kembali, rasa sakitnya sudah jauh berkurang. Tapi seluruh persendian dan tulang belulangnya masih ngilu dan lemas, seperti terlepas atau beruraian di dalam kulit. Tao Ling tidak mempunyai tenaga sedikit pun. Niatnya ingin membuka mata untuk melihat dimana dirinya berada, tetapi tidak ada kekuatan sama sekali. Sedangkan tubuhnya terasa terguncang-guncang dan terdengar suara berderak- derak. Rasanya dia berada di dalam sebuah kereta yang sedang melaju. Tao Ling berusaha menenangkan pikirannya. Mula-mula dia mencemaskan keadaan Lie Cun Ju.

Dengan menenangkan perasaannya, Tao Ling mencoba mengingat pembicaraan kedua orang yang didengarnya tempo hari. Kemungkinan Lie Cun Ju belum mati, hanya dia tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.

Dalam hati Tao Ling menarik nafas panjang, Kembali gadis itu merasa ada orang yang membuka mulutnya dan menuangkan sejenis cairan. Cairan itu harum dan menyejukkan perutnya. Perasaannya juga lebih segar. Dia mendengar anak gadis itu berkata. "Lihat! Dia tidak mati kan? Malah sudah jauh lebih segar dari beberapa hari sebelumnya."

"Meskipun tidak mati, tetapi takutnya dia tidak bisa bergerak lagi selamanya dan menjadi orang cacat yang tidak dapat berbicara!" Terdengar suara orang tua menyahut.

Selesai pembicaraan, keadaan menjadi hening kembali. Hati Tao Ling dilanda rasa sedih yang tidak terhingga mendengar pembicaraan mereka. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

"Waktu itu aku datang ke Si Cuan mengikuti kedua orang tuaku. Kata mama ada urusan yang penting sekali. Tetapi aku tidak tahu urusan apa yang dimaksudkan. Malah tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Padahal kota Si Cuan saja belum sampai. Bahkan aku sendiri tidak tahu dimana sekarang aku berada?" Hati Tao Ling kembali terasa pilu mengingat nasibnya.

Tujuh-delapan hari telah berlalu, Tao Ling masih belum sanggup membuka kedua matanya. Kadang-kadang dia jatuh tidak sadarkan diri. Tapi kadang-kadang dia tersadar kembali. Hanya satu hal yang disadarinya, bahwa dia memang berada di atas sebuah kereta kuda. Lagipula selama tujuh-delapan hari ini, kereta kuda itu tidak pernah berhenti sekalipun!

Setiap kali mengingat dirinya akan menjadi orang cacat, hati Tao Ling terasa perih kembali. Kalau ditilik dari kecepatan kereta itu dan tidak pernah berhenti melakukan perjalanan selama tujuh-delapan hari, rasanya mereka sudah menempuh ribuan li.

Entah kemana kedua orang itu akan membawa dirinya?

Tiga-empat hari kembali berlalu. Tao Ling merasa nyeri di seluruh tubuhnya sudah lenyap. Dia berniat membuka matanya. Karena itu dia mengerahkan semua kekuatannya dan ternyata dia berhasil.

Begitu matanya membuka, Tao Ling merasa ada seberkas cahaya putih yang menutupi pandangannya. Mula-mula dia terkejut sekali. Untuk sesaat dia sampai tertegun. Tetapi setelah terbiasa, dia baru dapat melihat dengan jelas. Rupanya cahaya putih yang terlihat olehnya adalah tirai kereta. Begitu putihnya sehingga menyilaukan mata. Entah terbuat dari bahan apa. Di bagian jendela dan atas pintu kereta juga terdapat rumbai- rumbai berwarna putih keperakan. Indah sekali. Meskipun Tao Ling sudah sanggup membuka mata, namun kepalanya masih belum sanggup digerakkan. Jadi yang dapat terlihat olehnya hanya atap kereta. Pokoknya sebatas kerlingan matanya.

Tiba-tiba angin berhembus, rumbai-rumbai dari benang putih tersingkap karena hembusan angin itu, Tao Ling dapat melihat bahwa udara saat itu cerah sekali. Dia juga melihat hamparan cakrawala yang putih membentang.

Dia tidak tahu dimana dirinya berada. Ingin sekali dia memhuka mulut mengatakan sesuatu, tetapi sedikit suara pun tidak dapat tercetus dari tenggorokannya.

Dalam keadaan seperti itu, kembali beberapa hari dilewati. Kereta itu masih terus melaju. Sekarang Tao Ling sudah dapat membedakan arahnya. Mereka menuju ke barat. Dan setiap menjelang malam ada seseorang yang menyuapkan cairan yang harum ke mulutnya.

Tao Ling memperhatikan orang yang menyuapkan cairan kepadanya. Tetapi kedua orang itu seakan menghindarkan pandangan matanya. Karena itu Tao Ling hanya dapat melihat tangan mereka. Tangan yang satunya kurus seperti tengkorak. Urat- uratnya yang berwarna hijau bersembulan. Warna kulitnya kusam. Tetapi tangan yang satunya justru halus seperti sutera. Warnanya merah dadu yang segar dan kukunya panjang-panjang berbentuk indah. Malah diusapkan sejenis cairan dan bunga-bungaan, terlihat seperti merah menyala. Sekali lihat saja dapat dipastikan bahwa tangan itu milik seorang gadis yang cantik. Dan Tao Ling yakin suara gadis itulah yang didengarnya beberapa hari yang lalu. Tetapi dia tidak habis pikir siapa kedua orang itu?

Beberapa hari kemudian, kepala Tao Ling mulai bisa digerakkan. Dia juga melihat kereta tempat dirinya terbaring merupakan sebuah kereta yang mewah. Di samping bantalnya menggeletak sepasang pedang emas dan perak. Di bagian kepalanya duduk dua orang yang mengenakan pakaian putih keperakan. Namun mereka mebelakangi Tao Ling sehingga gadis itu tidak dapat melihat wajah mereka.

Tao Ling hanya dapat melihat sekilas orang itu dari samping. Yang satu adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Rambutnya penuh dengan uban berwarna keperakan. Yang satunya lagi mepunyai rambut sehalus sutera, hitamnya bekilauan. Tentu saja gadis bertangan indah yang dilihatnya beberapa hari yang lalu. Keempat ekor kuda yang menarik kereta itu juga berwarna putih keperakan. Derap kaki kuda itu teratur dan larinya cepat sekali. Selama dua puluhan hari ini, kemungkinan mereka sudah menempuh perjalanan sejauh tiga ribuan li.

Tao Ling ingin menggunakan kesempatan ketika disuapi cairan harum untuk melihat jelas wajah kedua orang itu. Tetapi malam itu mereka tidak menyuapinya apa-apa.

Pagi hari keduanya, Tao Ling merasa perutnya nyeri karena kelaparan. Tanpa sadar dia mengeluarkan suara rintihan.

Boleh dibilang ini merupakan pertama kalinya mulut Tao Ling mengeluarkan suara selama dua puluhun hari belakangan. Begitu mulutnya mengeluarkan suara rintihan, gadis itu membentak nyaring kemudian, Sret! Seberkas cahaya keperakan memercik berkilauan. Ternyata sebuah pecut panjang berwarna keperakan pula. Keempat ekor kuda itu langsung menghentikan derap kaki mereka. Gadis itu pun menolehkan kepalanya dan bertemu muka dengan Tao Ling.

Tao Ling merasa pandangan matanya menjadi terang. Seakan dirinya berada di khayangan. Perasaannya menjadi nyaman dan lega. Ternyata kecantikan gadis itu sulit diuraikan dengan kata-kata. Begitu cantiknya sampai Tao Ling merasa dirinya bertemu dengan bidadari. Rambutnya terurai sepanjang bahu, dia tidak mengenakan perhiasan apa-apa. Alisnya melengkung indah dan bulu matanya lentik. Bola matanya berkilauan seperti sebuah telaga yang bening. Hidungnya mancung, bibirnya tipis mempesona.

Begitu cantiknya sampai-sampai Tao Ling curiga dirinya bukan bertemu dengan manusia biasa, melainkan peri atau dewi khayangan. Padahal Tao Ling sendiri bukan gadis yang jelek, tetapi kalau dibandingkan dengan gadis itu, ternyata tidak ada apa- apanya. "Akhirnya kau bisa berbicara juga, bukan?" ujar gadis itu tersenyum.

Selama dua puluh hari lebih, sudah berkali-kali Tao Ling mendengar suara gadis itu. Hatinya ingin sekali berbicara dengannya. Oleh karena itu, dia berusaha dengan susah payah untuk menyahut.

“I…ya…”

Suara itu begitu lirih sampai Tao Ling sendiri hampir tidak mendengarnya. Tetapi gadis berpakaian putih ternyata dapat mendengarnya.

"Bagaimana menurut pendapatmu, akhirnya aku bisa menolongnya juga, bukan?" Gadis itu tertawa cekikikan seakan senang sekali. Dia memalingkan kepalanya kembali. "Kalau kau sudah bisa berbicara, dapatkah kau menjawab pertanyaanku?"

Tao Ling menganggukkan kepalanya. Keadaan Tao Ling sekarang ini, kalau dibandingkan dengan dua puluhan hari yang lalu, yang boleh dibilang sebelah kakinya sudah menginjak di alam kematian, tentu jauh lebih baik. Tetapi apabila ingin membuka mulut berbicara, tentu harus mengerahkan seluruh kekuatannya. Tetapi meskipun suara gadis itu lembut dan merdu didengar namun di dalamnya seakan terkandung kekuatan yang memaksa siapa pun menuruti kehendaknya.

Walaupun Tao Ling juga seorang gadis, tapi dia merasakan bahwa pengaruh nada suara gadis itu yang seakan tidak boleh dibantah. Karena itu sekali lagi dia berkata dengan susah payah.

"Katakanlah!"

Tiba-tiba tubuh gadis itu berkelebat. Tao Ling belum sempat melihat gerakan apa yang digunakan gadis itu, tahu-tahu orangnya sudah berada di sampingnya. Dia bertanya dengan suara berbisik.

"Apakah kau mengenal Seebun locianpwe?"

Tao Ling tertegun. Kemudian dia berpikir. "Siapa Seebun locianpwe yang dimaksudkannya?" Dia sendiri belum pernah mendengar nama orang ini. Karena itu dia menggelengkan kepalanya.

Wajah gadis itu memperlihatkan mimik yang aneh. Tetapi dalam sekejap mata sudah pulih kembali seperti semula.

"Tahukah kau, siapa orang yang melukaimu?"

Tao Ling menggelengkan kepalanya kembali. Karena dia memang tidak tahu siapa ketiga orang yang menggunakan topeng merah itu.

Tiba-tiba wajah gadis itu menyiratkan kepanikan. Dalam sesaat, hampir saja Tao Ling tidak percaya dengan pandangan matanya sendiri. Karena di wajah gadis yang secantik bidadari itu tiba-tiba terlihat senyuman yang dingin. Walaupun dalam sekejap mata keadaan gadis itu sudah pulih kembali seperti sedia kala. Tetapi Tao Ling sudah merasakan berbagai penderitaan selama hari-hari belakangan ini. Karena itu timbul kewaspadaan dalam hatinya. Apalagi bila ia ingat gadis itu pernah mengucapkan kata-kata 'Aku juga tidak ingin mereka tertolong, pokoknya salah satu dari mereka bisa berbicara beberapa patah kata, cukup', ketika dia tersadar setelah terkena pukulan si laki-laki bertubuh gemuk pendek itu.

Kalau begitu, selama dua puluh hari ini mereka berusaha susah payah membangkitkan dirinya dari jurang kematian hanya ingin mendengar beberapa patah kata dari mulutnya. Sama sekali bukan karena ingin menolongnya. Tapi, Tao Ling juga merasa bingung, apa yang ingin diselidiki gadis itu dari mulutnya? Di saat itu pikiran Tao Ling sangat bingung.

"Apakah kau juga tidak ingat, bagaimana rupa orang itu?" tanya gadis itu. "Kouwnio, di . . . mana Lie . . . toako?" Tao Ling balik bertanya. "Maksudmu, orang yang terluka bersama-samamu itu?"

Tao Ling menganggukkan kepalanya.

"Lukanya terlalu parah, meskipun kami berniat menolongnya juga tidak mungkin berhasil. Belasan hari yang lalu, kami sudah melemparkannya di tepi jalan."

Hati Tao Ling terasa pilu. Di benaknya terbayang sinar mata Lie Cun Ju. Meskipun gadis itu mengatakan lukanya parah sehingga sulit tertolong lagi, karena itu mereka melemparkannya ke tepi jalan. Kalau dibayangkan, lebih banyak kemungkinan sudah matinya daripada hidupnya. Mengingat hal yang menyedihkan, pelupuk matanya jadi basah. Dua bulir air mata menetes dari sudut matanya. Terdengar dia menarik nafas panjang.

"Cepat kau katakan, siapa yang melukai kau dan orang she Lie itu, juga yang membunuh Harimau Bersayap Emas Tan Liang, kemudian wakilnya Liu Hou dan belasan orang pegawai 'Ling Wei piau ki'?" tanya gadis itu kembali.

Hati Tao Ling terkejut sekali mendengar kata-katanya. Ternyata karena dirinya menumpang di gedung itu, belasan orang sampai kehilangan nyawanya. Cara turun tangan ketiga orang itu benar-benar keji dan bedarah dingin.

"Jum . . . lah musuh . . . ada tiga . .. orang . . . Dua . . . laki-la . . . ki dan sa . . . tu pe . .

. rem ... pu ... an, se . . . muanya . . . me . . . ngena . . . kan to ... peng . . . berwar . .. na me ... rah da ... rah!" jawab Tao ling.

"Rupanya mereka!" Gadis itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Bagus. Semuanya sudah jelas. Kita sudah boleh melanjutkan perjalanan," sahut orang tua dengan tanpa menolehkan kepalanya sama sekali. "Betul," sahut gadis itu. Cahaya perak berkelebat, gadis itu sudah kembali ke tempat semula.

Tao Ling tidak mengerti apa yang akan dilakukannya. Tiba-tiba pecut keperakan di tangan gadis itu melayang ke atas, Creppp! arahnya menuju Tao ling.

Tentu saja Tao Ling terkejut sekali. Tetapi tubuhnya tidak dapat bergerak sama sekali. Terpaksa dia membiarkan perbuatan gadis itu. Ketika pecut itu mengenai dirinya, dia tidak merasa sakit. Tetapi Tao Ling merasa kalau pecut itu menekuk dan melilit tubuhnya. Kemudian gadis itu menghentakkan tangannya sehingga tubuh Tao Ling pun terangkat. Begitu gadis itu mengibaskan tangannya, tubuh Tao Ling terlempar sejauh dua depa dari kereta, terhempas di tanah. Dari dalam mulutnya menyembur darah segar dalam jumlah yang sangat banyak.

Secara sekonyong-konyong gadis itu mengulurkan pecutnya melemparkan' tubuh Tao Ling keluar dari kereta. Meskipun kejadiannya hanya sekejap mata, namun pikiran Tao Ling masih sadar. Dia teringat sepasang pedang emas dan perak yang menggeletak di samping bantalnya. Sepasang pedang itu membawa pengaruh besar bagi dirinya. Biar bagaimana pun dia tidak ingin kehilangan pedang itu.

Tapi baru saja tubuhnya menghempas di tepi jalan, tiba-tiba matanya melihat dua berkas cahaya yang berkilauan. Gerakannya seperti cahaya kilat. Cep! Cep! terdengar suara sebanyak dua kali. Ternyata sepasang pedang emas dan perak itu juga dilontarkan keluar dengan pecut di tangan gadis tadi. Sedangkan jatuhnya tepat di samping leher Tao Ling.

Tubuh Tao Ling tidak dapat digerakkan. Dengan mata membelalak dia melihat kereta kuda itu meluncur pergi dengan cepat. Pada saat itu, dia baru melihat bahwa kereta kuda itu juga berwarna putih keperakan. Rumbai-rumbai benang yang menghiasi tepian kereta melambai-lambai ketika kereta itu bergerak. Tidak lama kemudian, kereta kuda itu hanya tinggal tampak setitik warna perak di kejauhan.

Tao Ling berusaha mempertahankan kesadarannya. Dia benar-benar tidak dapat menduga apakah gadis dan orang tua itu terhitung orang dari golongan lurus atau sesat. Dia juga tidak dapat menduga siapa mereka?

Tadinya dalam hati Tao Ling timbul kebencian yang dalam. Tetapi setelah dipikirkan matang-matang, dia merasa tidak sepantasnya membenci mereka. Biar bagaimana mereka telah menolongnya. Bila tidak mungkin di gedung ‘Ling Wei Piau ki' dirinya sudah terkapar menjadi mayat. Walaupun akhirnya dia harus mati juga, namun setidaknya dia sudah memperpanjang kehidupannya selama dua puluh hari lebih.

Hatinya menertawai dirinya sendiri. Apa artinya hidup lebih lama dua puluhan hari? Sedangkan dirinya sendiri tidak tahu dimana sekarang dia berada, apalagi setelah mati, tidak mungkin ada yang menemukannya. Beberapa tahun kemudian, dirinya hanya tinggal onggokan tengkorak dan tulang-tulang putih.

Dengan perasaan sedih Tao Ling memejamkan matanya. Selama beberapa kentungan dia berada di antara sadar dan tidak. Hari lambat laun menjadi gelap. Rembulan jernih seperti air telaga. Sinarnya menyoroti sepasang pedang emas dan perak di samping lehernya sehingga tampak berkilauan.

Tao Ling menolehkan kepalanya menatap sepasang pedang emas dan perak itu, di dalam hatinya timbul lagi secercah harapan. Sepasang pedang emas dan perak ini sangat terkenal di dunia kang ouw. Seandainya ada orang yang melewati tempat ini, kemungkinan dirinya akan tertolong.

Mata Tao Ling masih mengerling ke samping menatap sepasang pedang itu lekat- lekat. Tiba-tiba angin berhembus. Hidungnya mengendus serangkum hawa yang harum. Hanya mencium baunya saja perasaannya sudah jauh lebih nyaman dan segar. Ketika matanya memperhatikan dengan seksama, dia melihat ada semacam tumbuhan disamping sepasang pedang emas dan perak. Daunnya berwarna ungu, ukurannya lebih tinggi sedikit dari rum put biasa. Tanaman itu melambai-Iambai karena gerakan angin, pemandangan pun menjadi indah sekali.

Di bagian atas tanaman itu tumbuh empat butir buah berwarna merah sebesar kelengkeng. Merahnya demikian indah. Meskipun Tao Ling harus memiringkan kepalanya dan melihat dengan susah payah, tapi rasanya sayang untuk mengalihkan pandangannya.

Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara pletok! yang lirih, sebutir buah pecah. Buah itu meneteskan air yang baunya harum sekali. Kebetulan tetesannya jatuh di bibir Tao Ling. Gadis itu segera menjulurkan lidahnya dan menjilat cairan buah itu. Rasanya manis, begitu masuk ke dalam mulut harumnya semakin menjadi-jadi.

Sisa cairan itu menetes di atas tanah lalu meresap ke dalam dan menjadi kering. Pada saat itu Tao Ling sudah tahu bahwa keempat butir buah itu adalah buah sian tho atau buah dewa yang langka. Kemungkinan apabila dia makan semua buah itu, lukanya bisa lebih cepat pulih atau mungkin tenaga dalamnya bisa bertambah.

Walaupun jarak buah itu sangat dekat, tetapi Tao Ling tidak menemukan akal untuk memakannya. Dia hanya dapat memandang lekat-lekat seperti orang rakus.

Tidak lama kemudian, terdengar lagi suara pletak! sebutir buah pecah lagi, dan cairannya pun menetes ke dalam mulut Tao Ling. Dengan rakus Tao Ling menjilatinya. Jarak pecahnya buah yang satu dengan buah yang lainnya hanya kurang lebih sepeminum teh. Tao Ling merasa jantungnya berdebar-debar. Di dalam tubuhnya mengalir hawa yang hangat.

Perasaan ini pasti dimiliki oleh orang yang normal. Padahal selama dua puluhan hari, Tao Ling justru tidak merasakannya. Bahkan sebelumnya detak jantungnya merasa lemah seperti lampu kehabisan minyak.

Kali ini, Tao Ling semakin yakin dengan dugaannya. Buah itu pasti buah langka yang mempunyai khasiat besar untuk menyembuhkan luka dalam. Dia hanya meneguk belasan tetes cairan dari buah itu, tetapi perasaannya sudah jauh lebih segar. Berarti faedah buah itu sudah terlihat. Seandainya dia bisa makan sisa buah yang tinggal dua butir lagi, bukankah keadaannya akan semakin baik? Apabila seseorang mencapai detik kematian, pasti akan memikirkan cara untuk menyelamatkan diri sendiri. Pasti ada semacam kekuatan yang mendesak hati kecilnya untuk mempertahankan nyawanya. Begitu pula Tao Ling, kehangatan yang mengalir dalam tubuhnya seakan memberinya kekuatan. Dengan sekuat tenaga dia memiringkan kepalanya. Walaupun dia belum sanggup mengangkat kepalanya, tetapi dia berusaha untuk menjulurkan lehernya agar dapat menggigit buah itu. Tetapi biar bagaimana dia berusaha, jaraknya dengan buah itu masih terpaut sedikit. Persis seorang anak berusia dua tahun ingin meraih suatu benda di atas meja. Apalagi keadaan Tao Ling sedang terluka parah. Dia ingin meraih buah itu rasanya sesulit terbang di angkasa.

Hampir kehabisan tenaga Tao Ling meluruskan kepalanya kembali. Dia beristirahat sejenak. Sesaat kemudian dia memberontak lagi untuk berusaha mencapai buah tadi. Kali ini, dia benar-benar mengerahkan segenap kemampuannya. Matanya melihat bibirnya hampir menyentuh buah itu. Dia membuka mulutnya lebar-lebar tetapi tetap saja masih terpaut sedikit.

Tao Ling membuka mulutnya lebar-lebar menunggu. Dalam hati dia berpikir, seluruhnya ada empat butir buah, sekarang yang dua sudah pecah dan cairannya menetes ke dalam mulutnya. Mungkin apabila dia menunggu sebentar lagi, salah satu dari buah itu pasti akan pecah pula. Demikian pula buah yang satunya. Asal dia menunggu dengan mulut terbuka, apabila kedua butir buah itu pecah, tetesannya pasti akan jatuh ke mulutnya pula.

Tetapi sampai cukup lama dia menunggunya, kedua butir buah itu tidak pecah-pecah juga.

Begitu tegangnya hati Tao Ling, sehingga hampir saja dia semaput. Di saat hatinya sedang gelisah, tiba-tiba telinganya mendengar suara dentingan. Ting! Ting! Ting! Suara itu lirih tapi beruntun. Sumber suara itu dari samping tubuhnya. Ketika dia menolehkan kepalanya untuk melihat bunyi apa yang terdengar di telinganya, Tao Ling tiba-tiba tercekat hatinya.

Rupanya dia melihat seekor ular kecil sebesar telunjuk tangan. Tubuh ular itu belang- belang kombinasi merah putih. Merahnya seperti bunga Tho, sedangkan putihnya seperti salju. Di bagian ekor ular itu terdapat sepasang keliningan kecil yang terikat. Ular itu sedang melata ke arah tanaman tadi. Setiap kali tubuhnya bergerak, keliningan di ekornya pun saling membentur dan menimbulkan suara dentingan.

Dalam sekejap mata, ular itu tampak semakin mendekat. Dengan menggunakan bagian ekornya, ular itu mendongakkan kepalanya ke atas. Dua kali mencaplok, kedua butir buah yang masih tersisa itu langsung masuk ke dalam mulutnya.

Tao Ling yang sudah bersusah payah menunggu di bawah tanaman itu tidak berhasil mengangkat kepalanya untuk menggigit buah itu. Namun ular kecil itu datang dengan menggerak-gerakkan ekornya memaplok seenaknya. Hati Tao Ling benci sekali. Dia melihat ular kecil itu kembali menggerak-gerakkan ekornya melata dengan tenang setelah menikmati kedua butir buah tadi. Lagaknya seakan mengejek Tao Ling. Hal ini membuat perasaan si gadis semakin mendongkol. Tanpa disadari mulut Tao Ling masih terus membuka. Ular kecil itu merayap di lehernya dan hampir saja menyentuh giginya. Tiba-tiba hati Tao Ling tergerak, seandainya buah itu memang buah dewa yang langka, sedangkan saat ini baru saja masuk ke dalam mulut ular kecil itu, pasti khasiatnya masih ada. Mengapa dia tidak menggigit ular itu saja sampai putus? Bukankah sama saja dia yang menelan buah tersebut?

Diam-diam Tao Ling sudah mengambil keputusan. Demi mempertahankan nyawanya, otak Tao Ling tidak memikirkan hal lainnya lagi. Dia terus membuka mulutnya lebar- lebar dan menanti ular itu merayap lewat sekali lagi. Padahal di hari biasa, jangan kan menggigit seekor ular. bahkan menyentuhnya saja, Tao Ling merasa jijik.

Tiba-tiba ular itu merayap ke atas leher Tao Ling, kemudian mendongakkan kepalanya seakan ingin memandang gadis itu dengan seksama. Tanpa menunda waktu lagi, Tao Ling mengerahkan seluruh kekuatannya dan dicaploknya kepala ular itu bulat-bulat.

Ketika Tao Ling mencaplok kepala ular itu, keadaannya sendiri sudah setengah sadar. Bahkan seperti orang gila. Padahal kalau dilihat dari bentuk ularnya saja, siapa pun bisa menduga bahwa ular itu seekor ular yang sangat berbisa. Kalau Tao Ling sadar, dia juga tidak akan menelannya bulat-bulat.

Dalam pikiran Tao Ling, yang penting dia harus mendapatkan kedua butir buah yang sudah masuk ke dalam mulut ular itu. Karenanya, Tao Ling menggigit dengan giginya kuat-kuat, sampai sekian lama dia tidak melepaskannya. Terdengar ekor ular itu mengeluarkan suara dentingan yang terus menerus. Ular itu rupanya kesakitan dan berusaha memberontak. Bahkan berkali-kali ekornya sempat menghempas pipi dan kening Tao Ling. Gadis itu tidak perduli. Dia terus menggigit kepala ular itu. Sesaat kemudian dia merasa ada cairan yang masuk ke dalam tenggorokannya. Entah darah ular atau air buah tadi, Tao Ling tidak sempat merasakannya lagi. Hampir dua kentungan lamanya dia menggigit kepala ular itu, kemudian lambat laun dia tertidur.

*****

Entah berapa lama kemudian, Tao Ling merasa kelopak matanya terasa perih. Ketika dia membuka matanya kembali, ternyata matahari sudah tinggi. Jadi saat itu adalah siang hari keduanya.

Begitu Tao Ling memperhatikan ternyata mulutnya masih menggigit kepala ular itu. Dengan gugup memuntahkannya, puih! Kepala ular yang sudah terputus itu termuntahkan keluar, tetapi bagian tubuh dan ekor ular itu masih menggeletak di lehernya.

Tao Ling merasa bagian lehernya agak gatal, tanpa sadar dia mengulurkan tangannya dan membuang tubuh ular itu jauh-jauh. Ketika ular itu sudah melayang jauh, dia baru tersentak sadar, hatinya gembira sekali, dengan nada parau dia berteriak, "Aku bisa bergerak!"

Sebelurn tertidur, Tao Ling telah berusaha sekuat tenaga untuk mendongakkan kepalanya karena ingin mencaplok kedua butir buah dewa tadi. Tetapi biar tenaganya sampai habis, dia tetap tidak sanggup menggigit buah itu. Padahal bagi orang lain hanya perlu memhungkukkan tubuhnya untuk memetik, namun bagi Tao Ling justru sulitnya bukan kepalang. Padahal saat ini, tanpa disengaja dia membuang bangkai ular tadi, ternyata dia sudah bisa bergerak seperti orang biasa. Bagaimana hatinya tidak menjadi senang.

Cepat-cepat Tao Ling menumpu kedua tangannya di atas tanah kemudian bangun dan duduk. Dengan tanpa menguras tenaga, kemudian dia berdiri, perasaannya seperti orang yang baru bangun tidur. Apa yang dialaminya selama dua puluhan hari seperti sebuah mimpi buruk yang panjang.

Di lain pihak, apa yang dialaminya selama dua puluhan hari ini memang merupakan kenyataan. Tao Ling tidak ingin memikirkan hal-hal lainnya. Dia segera duduk bersila dan mencoba peredaran hawa murni da lam tubuhnya. Padahal bagi setiap pesilat asalkan latihan, hawa murni di dalam tubuh otomatis akan beredar sendiri. Tetapi kali ini meskipun Tao Ling telah mengosongkan pikiran dan memusatkan perhatian, namun dia tidak merasakan apa-apa. Persis orang yang tidak mengerti ilmu silat sama sekali. Rasanya hawa murni di dalam tubuhnya terlalu meluap sehingga bergerak dengan kacau tanpa bisa dihimpun.

Ilmu kepandaian Tao Ling pada dasarnya belum tinggi. Dia juga tidak tahu apakah yang dirasakannya ini merupakan bencana atau keberuntungan, yang paling penting dia sudah bisa bergerak. Cepat-cepat dia mencabut sepasang pedang emas dan perak.

Ketika dia melirikkan matanya, dia melihat tanaman buah dewa itu sudah layu.

Meskipun tanaman itu sudah layu, tetapi Tao Ling bisa bergerak pasti karena khasiat buahnya. Tao Ling berpikir dalam hati, buah yang demikian berkhasiat, pasti daun dan akarnya berfaedah juga. Karena itu, Tao Ling segera menggunakan salah satu pedangnya untuk mengorek tanaman itu. Bahkan akarnya pun dicabutnya sekaligus.

Setelah itu dia mengepal-ngepalkannya sehingga menjadi bulatan kecil lalu dimasukkannya ke dalam saku pakaian.

Setelah itu Tao Ling memperhatikan keadaan di sekitarnya. Dia baru memperhatikan dirinya berada di sebuah padang rumput yang luas. Di kejauhan terlihat pegunungan menjulang tinggi yang bayangan puncaknya penuh diselimuti salju yang putih bersih.

Pemandangan yang indah sekali, tetapi tidak terlihat adanya seorang manusia pun atau asap yang mengepul dari rumah penduduk.

Tao Ling merenung. Kereta itu sudah melakukan perjalanan selama dua puluh hari lebih. Apahila berangkatnya dari Hu Pak dan terus menuju ke arah barat, pasti jarak yang ditempuhnya sudah hampir mencapai tiga ribuan li. Berarti dirinya sekarang berada di wilayah Si Yu (Sekarang disebut Tibet). Sekarang dirinya sudah sehat. Yang paling penting tentu mengambil jurusan timur, dia ingin mencari Lie Cun Ju yang dilemparkan oleh gadis cantik itu ke tepi jalan. Karena itu, dia segera memasukkan sepasang pedang emas dan perak ke dalam selipan pinggangnya dan berjalan menuju timur.

Hampir setengah harian dia berjalan, bahkan dia sempat memburu beberapa ekor kelinci yang kemudian dibakarnya dengan api unggun dan dijadikan pengisi perut. Perasaannya sudah jauh lebih segar. Tenaganya juga pulih kembali. Tetapi bagian lehernya masih terasa gatal sekali.

Selama setengah harian Tao Ling berjalan, tidak menemukan sebuah sungai pun. Karena itu Tao Ling tidak dapat melihat apa yang terdapat di bagian lehernya yang masih terasa begitu gatal. Di permukaan tanah yang penuh dengan rerumputan masih terlihat jejak roda kereta. Tao Ling berpikir, seandainya dia mengikuti jejak kereta itu, pasti ada harapan menemukan Lie Cun Ju. Walaupun kemungkinan pemuda itu sudah mati, setidaknya Tao Ling dapat menguburkannya dengan layak.

Ketika malam tiba, dia menemukan sebuah hutan kecil dan terpaksa bermalam di sana. Pagi-pagi dia sudah bangun. Baru berjalan tidak seberapa jauh, tiba-tiba dia melihat dua ekor kuda pilihan yang berlari ke arahnya dengan cepat. Penunggang kuda itu terus melarikan kudanya sembari menundukkan kepalanya ke bawah seakan sedang mencari sesuatu.

Tao Ling seorang gadis yang berotak cerdas. Dia langsung mengerti apa yang sedang dilakukan kedua penunggang kuda itu. Akh! Orang-orang itu pasti mengikuti jejak roda kereta. Mungkinkah mereka sedang mengejar si orang tua dan gadis yang cantik itu?

Ketika Tao Ling memutar pikirannya, kedua ekor kuda itu sudah sampai di depan matanya. Tao Ling mendongakkan kepala. Kedua orang itu juga sudah melihatnya, tetapi yang aneh mereka menatapnya dengan mimik wajah menyiratkan perasaan kaget yang tidak terkirakan.

Wajah kedua orang itu hampir mirip, kemungkinan memang dua bersaudara. Usianya sekitar lima puluhan. Wajah mereka bersih dan lembut. Seandainya mereka tidak menunggang kuda dan di bagian pinggang tidak menyembul sebuah senjata yang bentuknya aneh, Tao Ling pasti mengira kedua orang itu pelajar atau sastrawan yang tidak mengerti ilmu silat.

Kedua orang itu menatap Tao Ling sekilas, kemudian salah satunya berseru.

"Lie kouwnio, apakah kau melihat sebuah kereta berwarna keperakan yang ditarik empat ekor kuda berwarna putih lewat di tempat ini?"

Ketika mendengar kedua orang itu menyapanya 'Lie kouwnio', Tao Ling agak tertegun. Tetapi setelah dipikirkan sejenak, dia langsung mengerti. Pasti karena sepasang pedang emas dan perak yang terselip di pinggangnya maka kedua orang itu mengira dia keturunan Pat Kua Kim Gin Kiam Lie Yuan. Dia segera mendongakkan wajahnya dengan maksud ingin menjelaskan siapa dirinya.

Tidak tahunya, begitu dia mendongakkan kepala, kedua orang itu langsung menarik tali pe-ngendali kudanya dan mundur beberapa tindak. Wajah mereka menyiratkan perasaan takut. Setelah saling pandang dengan saudaranya sekilas, mereka langsung menarik kembali tali laso bermaksud meninggalkan tempat itu.

"Hei! Kalian ingin mengejar kereta itu? Tapi harap kalian beritahukan dulu, tempat apa ini?" teriak Tao Ling. Salah satu dari orang itu langsung menghambur ke depan sejauh tiga-empat depa. Sedangkan yang satunya lagi malah berhenti sejenak kemudian berkata.

"Lie kouwnio, ini wilayah Tibet. Kau lihat gunung itu? Itulah gunung Thian San. Lie kouwnio, apabila kau tidak menemui Leng Coa ki cu jin (Pemilik rumah ular sakti) untuk mengobati penyakit keracunanmu itu, mungkin tidak sampai sore hari kau akan menemui kematian. Kami sudah lama mendengar nama besar ayahmu, sengaja memberitahukan hal ini!"

Hati Tao Ling dilanda kebingungan. Dia berpikir dalam hati, kalau dua hari yang lalu, aku memang hampir menemui kematian, tetapi sekarang aku toh dalam keadaan baik- baik saja, untuk apa aku memohon seseorang meminta dia untuk menyembuhkan entah penyakit keracunan apa? Siapa pula pemilik rumah ular sakti yang dikatakannya?

"Toako, mari kita pergi! Jangan menimbulkan masalah lagi!" ucap penunggang kuda yang satunya lagi.

"Jite, ucapanmu salah sekali. Kita toh memang harus mati, apalagi yang harus ditakutkan?" Kemudian keduanya pun menarik nafas panjang.

"Entah siapa nama Hong wi yang mulia? Mengapa aku harus memohon pertolongan pemilik rumah Ular sakti, dapatkah kalian menjelaskannya?" tanya Tao Ling.

"Kami mendapat julukan Sepasang Elang . . ."

Tao Ling tidak menunggu orang itu menyelesaikan ucapannya, dia segera menjura dalam-dalam.

"Oh! Rupanya Elang Besi Ciang Pekhu?" Orang itu menganggukkan kepalanya.

"Dia itu adik kandungku, Ciang Ya Hu!" katanya sambil menunjuk ke arah orang yang satunya lagi.

Rupanya kedua orang itu yang mendapat julukan Sepasang Elang dari Hian Tiong. Mereka berasal dari keluarga Ciang. Mereka tinggal di sebuah pulau di tengah danau dan hidup dengan mewah. Keluarga Ciang merupakan salah satu keluarga terkaya di dunia kang ouw. ilmu mereka juga cukup tinggi, maka nama mereka tersohor sekali. Lagipula sejak kecil senang mempelajari berbagai ilmu dari berbagai aliran. Menurut selentingan di luaran, kedua orang itu bahkan pernah berguru kepada Pun Cing Sian Sing dari Bu Tong Pai di Hok Kian. Mereka menjadi murid tidak resmi dari tokoh Bu Tong Pai itu. Hal ini karena Pun Cing Sian Sing melihat watak kedua orang ini yang berjiwa pendekar. Juga merupakan tokoh yang disegani baik oleh hek to maupun pek to di dunia bu lim. Tao Ling merasa gembira dapat bertemu dengan kedua orang itu. "Apakah kalian berdua ingin mengejar kereta itu? Aku justru dilemparkan dari kereta itu oleh seorang gadis cantik dan seorang laki-laki tua. Tetapi itu terjadi dua-tiga hari yang lalu!"

Si Elang besi Ciang Pek Hu memandangnya dengan terperanjat.

"Kau dilemparkan dari kereta itu? Dia tidak membunuhmu?" Kedua orang itu terperanjat.

"Mungkin karena dia menganggap aku tidak mungkin hidup lagi, tapi kenyataannya aku justru hidup kembali." Tao Ling tertawa getir.

Si Elang besi Ciang Pek Hu menarik nafas panjang. Dia tidak bertanya lebih jauh.

"Lie kouwnio, dengarlah nasehatku, dari sini ke arah timur, kurang lebih sepuluh li, ada sebuah sungai kecil, airnya jernih sekali. Mudah dikenali, di sampingnva ada heberapa pondok yang dikelilingi pohon Liu. Di sanalah tempat tinggal pemilik rumah ular sakti. Racun aneh yang mengendap di tubuhmu, kemungkinan hanya dia yang bisa menawarkannya. Cepatlah kesana memohon pertolongannya!"

"Terima kasih atas petunjukmu, tapi tadi kau mengatakan biar bagaimana kalian toh akan mati, apa maksudmu?"

"Lie kouwnio, biar kami katakan juga percuma . . ." Berkata sampai di sini, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang teringat olehnya. "Lie kouwnio, ada sedikit urusan yang ingin kami minta bantuanmu, apakah kau tidak keberatan?"

Tao Ling sendiri seorang gadis yang berjiwa pendekar dan berbudi luhur, seperti ayahnya. Dia segera menganggukkan kepalanya.

"Harap Ciang cianpwe katakan saja!" jawab Tao Ling.

"Apabila pemilik rumah ular sakti bersedia mengobatimu, tolong kau sampaikan kepadanya bahwa sepasang elang dari Hian Tiong mengirim salam. Juga katakan kepadanya bahwa kami saat ini dikejar oleh kereta putih itu. Keadaan kami sangat gawat. Harap dia mengingat hubungan lama dan datang secepatnva memberikan pertolongan!" ujar si Elang Besi Ciang Pek Hu.

Tao Ling mendengarkan dengan penuh perhatian sampai Ciang Pek Hu menyelesaikan kata-katanya. Diam-diam hatinya menjadi bingung.

Ciang Pek Hu mengatakan bahwa mereka dikejar oleh kereta putih itu dan keadaannya gawat sekali sehingga meminta pertolongan dari pemilik rumah ular sakti. Tetapi kenyataannya kereta itu sudah lewat tiga hari yang lalu dan jauhnya dari tempat ini mungkin ada lima ratus li. Apalagi tadi mereka mengatakan bahwa mereka ingin mengejar kereta itu!

Tampaknya Ciang Pek Hu dapat melihat kebimbangan hati Tao Ling. "Lie kouwnio, usiamu masih muda sekali. Di dalam dunia kang ouw bariyak peristiwa aneh yang tidak dapat kau pahami. Asal kau sampaikan perkataan kami tadi kepada orang yang itu, kami sudah terima kasih!" ucap Ciang Pek Hu sambil lertawa getir.

"Baik." Tao Ling menganggukkan kepala. Tao Ling tahu bahwa kedua orang ini berjiwa pendekar. Kata-katanya tadi pasti mempunyai alasan tersendiri.

Ciang Pek Hu menarik tali kendali kudanya. Kedua ekor kuda pilihan itu pun melesat pergi bagai terbang. Dalam sekejap mata tinggal dua titik bitam tampak di kejauhan,

Tao Ling berdiri termangu-mangu beberapa saat. Gadis itu ingat ucapan Ciang Pek Hu yang mengatakan dirinya terkena racun yang aneh, mungkin ada hubungannya dengan ular kecil yang digigitnya. Tetapi kalau dia pergi menemui pemilik rumah ular sakti, tentu dia tidak bisa mencari Lie Cun Ju lagi.

Tao Ling teringat ucapan si gadis cantik pemilik kereta perak. Gadis itu melemparkan Lie Cun Ju ke tepi jalan sudah belasan hari yang lalu. Apabila benar, kemungkinan Lie Cun Ju saat ini sudah mati. Hatinya menjadi bimbang untuk memutuskan apa yang harus diperbuatnya.

Tiba-tiba di kejauhan berkumandang suara batuk kecil. Tao Ling menolehkan kepalanya. Dia melihat di kejauhan ada sesosok bayangan. Bentuk sosok gemuk membengkak, dengan bertumpu pada sebatang bambu dan menghampiri ke arahnya dengan lambat.

Ketika Tao Ling melihat orang ilu masih berada di kejauhan, hatinya sudah terkesiap. Karena barusan dia mendengar suara batuk kecil seperti jaraknya tidak seberapa jauh. Sedangkan di tempat yang demikian terpencil tidak mungkin ada orang tua yang datang, orang itu pasti seorang tokoh bu lim yang sakti.

Ketika pikiran Tao Ling masih melayang-layang, jarak orang itu sudah semakin dekat. Tampak tubuhnya seperti limbung, dengan sebatang bambu sebagai penumpu.

Jalannya lambat sekali. Tetapi kenyataannya bahkan cepatnya tidak terkirakan. Karena dalam sekejap mata, orang itu sudah tidak jauh darinya. Sekali lagi Tao Ling terperanjat, karena orang yang ketika dilihatnya dari kejauhan itu tampak gemuk membengkak.

Akan tetapi setelah dekat ternyata dia sedang memanggul orang.

Dua orang yang merapat menjadi satu. Dari jauh bentuknya seperti bagian atas tubuh orang itu membengkak. Pantas kalau pertama-tama Tao Ling terkejut, karena dia melihat bentuk tubuh orang itu yang aneh dan cara jalannya yang seperti merayap tetapi kenyataannya cepat bukan main!

Sedangkan orang yang dipanggulnya, kepalanya tertunduk dan wajahnya tidak dapat terlihat jelas. Tetapi bentuk tubuh dan pakaiannya tidak akan dilupakan oleh Tao Ling. Dialah Lie Cun Ju yang dirindukannya selama hampir satu bulan. Orang tua itu masih melangkah menghampiri dengan bantuan batang bambu di tangannya. Dia seakan tidak melihat keberadaan Tao Ling. Dilewatinya gadis itu tanpa melirik sedikit pun.

Tao Ling termangu-mangu melihat Lie Cun Ju yang dipanggul orang tua itu. Justru di saat yang beberapa detik itu, tahu-tahu si orang tua sudah melangkah sejauh tiga- empat depa.

"Lie toako, lo pek, tunggu dulu!" Tao Ling memanggil dengan panik.

Orang tua itu seakan tidak mendengar panggilan Tao Ling. Dia terus melangkahkan kakinya.

Dengan gugup Tao Ling mengejarnya dari belakang. Tetapi, biar bagaimana Tao Ling mengempos semangatnya mengejar, tetap saja dia ketinggalan beberapa depa di belakang orang tua itu. Malah jarak mereka semakin lama semakin jauh. Tidak lama kemudian, yang tampak hanya bayangan punggungnya. Pakaiannya melambai-lambai, rasanya sulit menyusul kedua orang itu.

Tapi, mana mungkin Tao Ling menyudahinya begitu saja? Biarpun orang tua itu sudah jauh sekali, dia tetap mengerahkan segenap kemampuannya mengejar ke depan.

Kurang lebih setengah kentungan kemudian, tiba-tiba dia melihat sebuah sungai kecil. Jernihnya bukan main. Bahkan batu-batu kerikil yang ada di dalam air bisa dihitung karena terlihat jelas sampai ke dasarnya. Di seberang sungai ada beberapa batang pohon Liu yang sudah tua. Pemandangan di tempat itu hampir mirip dengan daerah Kang Lam. Tiba-tiba hati Tao Ling tergerak. Dia ingat kata-kata yang diucapkan Ciang Pek Hu. Dia mempunyai dugaan bahwa tempat ini mungkin kediaman Tuan Ular Sakti. Mungkinkah orang tua yang bertemu dengannya tadi Tuan Ular Sakti?

Setelah merenung sejenak, sepasang kakinya langsung menghentak dan meloncat ke seberang sungai. Dia mendarat turun di depan pepohonan Liu tadi. Dia melihat di batang pohon Liu yang terbesar terukir tiga huruf, 'Leng Coa ki' (Rumah kediaman Ular Sakti). Mungkin ketika mengukir tulisan itu, pohon tersebut belum sebesar sekarang, karena itu bentuk tulisannya jadi melebar tidak teratur. Tapi untungnya masih bisa terbaca.

Dugaan Tao Ling tidak salah, apalagi di samping beberapa pohon itu ada beberapa pondok. Baru saja kakinya berjalan setengah tindak, sekonyong-konyong dia menyurutkan langkahnya kembali. Ternyata ketika dia mendongakkan kepalanya, di atas pohon terdapat kira-kira delapan ekor ular yang besarnya selengan manusia dewasa dan panjang kurang lebih satu depaan. Ular-ular itu sedang merayap turun dan menghadang jalannya. Warna ular itu sama seperti warna daun pohonnya sehingga bila tidak diperhatikan dengan seksama, pasti tidak terlihat.

Diam-diam Tao Ling berpikir dalam hati.

Ketujuh-delapan ekor ular itu pasti berbisa sekali. Biarpun ular biasa saja sudah tidak mudah dihadapi, apalagi ular berbisa. Apalagi kedatanganku kemari, ada sedikit permohonan kepada pemilik rumah. Kediamannya itu dinamakan Leng Coa ki (Rumah kediaman Ular Sakti), dengan demikian kemungkinan ular-ular ini adalah peliharaannya. Seandainya aku sampai melukai ular peliharaannya, bukankah mencari masalah baru dengan pemilik rumah itu?

Dengan dasar pikiran demikian, Tao Ling segera menyurutkan langkahnya mundur beberapa tindak, kemudian berseru dengan lantang.

"Boanpwe Tao Ling, ada urusan penting ingin menemui cu jin, mohon kesediaan cu jin mengijinkan boanpwe masuk ke dalam!"

Baru saja ucapannya selesai, segera terdengar sahutan dari mulut seorang kakek tua. "Biar urusan yang bagaimana pentingnya, tetap harus menunggu beberapa saat!"

Ternyata orang yang tinggal di pondok ini bukan orang yang menyepikan diri dan tidak bersedia bertemu dengan orang luar. Buktinya sekali mengajukan permohonan, langsung mendapat jawaban darinya. Suaranya terdengar sudah tua sekali. Mungkin memang orang tua yang ditemuinya di perjalanan tadi. Dia menyuruh tamunya menunggu beberapa saat. Toh Tao Ling tidak ada urusan lainnya apa salahnya menunggu beberapa saat?

Dengan menyilangkan tangannya di depan dada, Tao Ling berjalan mondar mandir di sekitar pepohonan itu. Saat itu dia baru memperhatikan bahwa di ranting-ranting pohon itu terdapat ular-ular kecil yang berbisa dan jumlahnya harnpir tidak terhitung.

Melihat ular-ular kecil itu, hati Tao Ling agak takut. Dia terus mengundurkan diri sehingga tidak terasa sudah sampai di tepian sungai. Saat itu dia baru bercermin pada permukaan air sungai yang jernih. Saking terkejutnya dia sampai menyurut mundur beberapa langkah.

Hampir saja dia tidak mempercayai pandangan matanya sendiri. Setelah menenangkan hatinya, dia baru melangkah mendekati tepian sungai kembali. Sekali lagi dia berkaca di permukaan sungai. Ternyata apa yang dilihatnya tidak berubah. Entah sejak kapan, di bagian lehernya penuh dengan bercak-bercak merah yang besar kecilnya tidak sama. Bentuknya seperti bunga Tho.

Bahkan di wajahnya juga sudah terlihat beberapa bercak yang sama. Padahal Tao Ling seorang gadis yang cantik. Kulitnya putih bersih. Tetapi dengan adanya bercak-bercak merah, wajahnya menjadi lain bahkan membawa kesan agak mengerikan.

Saat itu juga, Tao Ling baru sadar mengapa sepasang Elang dari Hian Tiong terkejut sekali ketika pertama kali melihatnya. Rupanya wajahnya penuh dengan bercak-bercak merah itu. Mungkin mereka menyangka telah bertemu dengan makhluk aneh. Hal ini tidak mengherankan, sedangkan Tao Ling sendiri saja sempat terkejut setengah mati ketika pertama bercermin di permukaan air sungai itu.

Di samping itu, Tao Ling juga bingung, dari mana datangnya bercak-bercak merah itu? Sampai sekian lama dia berdiri dengan termangu-mangu. Matanya memandangi permukaan air sungai.

"Siapa yang mencari aku?" Tao Ling mendengar suara. Tao Ling terkejut setengah mati, dia langsung menolehkan kepalanya. Orang yang berdiri di bawah pohon Liu yang besar itu ternyata memang kakek yang dilihatnya memanggul Lie Cun Ju tadi. Dia mengenakan pakaian berwarna abu-abu, tubuhnya kurus seperti lidi. Tangannya masih menggenggam batang bambu. Kakek itu mengenakan jubah besar. Dilihat dari jauh seperti sehelai jubah yang digantungkan di bawah pohon.

Tao Ling segera maju ke depan dan menjura dalam-dalam. "Boanpwe Tao Ling menghadap locianpwe!"

"Tidak usah banyak peradatan. Apakah kedatanganmu ini ingin memohon aku menawarkan racun yang mengendap dalam tubuhmu?" tanya orang tua itu sambil mengangkat batang bambunya dan menahan gerakan tubuh Tao Ling.

"Pasti aku terkena sejenis racun yang aneh makanya timbul bercak-bercak merah di seluruh wajah dan leher. Tapi aku tidak merasakan apa-apa, hanya sedikit gatal di bagian leher. Lebih penting menanyakan keadaan Lie toako," ujar Tao Ling dalam hati.

"Locianpwe, orang . . . yang kau panggul tadi . . . adalah sahabat baik boanpwe. Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya gadis itu.

"Hm! Delapan bagian hampir mati," dengus orang berjubah abu-abu itu.

"Locianpwe, apakah masih ada harapan untuk menolongnya?" Tao Ling bertanya dengan panik.

"Kalau sudah sampai di Leng Coa ki otomatis akan tertolong!"

Hati Tao Ling menjadi lega mendengar jawaban orang tua itu. Hitung-hitung rejekinya dan Lie Cun Ju cukup besar. Setelah melalui beberapa kali cobaan, ternyata masih bisa meloloskan diri dari kematian. Justru ketika hatinya masih merasa senang, dia mendengar orang tua itu berkata lagi.

"Tetapi kau sendiri, aku tidak berjanji bisa menyembuhkannya!"

"Apakah racun yang mengendap dalam tubuhku demikian hebat?" Tao Ling bertanya dengan hati terkesiap.

"Apakah ular yang menggigitmu itu warnanya belang-belang merah putih dan bagian ekornya terdapat sepasang keliningan serta besarnya setelunjuk tangan? Ular itu bernama Tho hua mia (Nasib bunga Tho), setelah digigit olehnya, di seluruh wajah timbul bercak-bercak merah, lalu tidak bisa tertolong lagi!"

"Locianpwe, ular itu tidak menggigit boanpwe, tapi boanpwe yang menggigitnya," jawab Tao Ling dengan tertawa getir.

"Omong kosong!" Orang tua itu terkejut bukan main. "Mana mungkin boan pwe berani berbohong?"

Tao Ling segera menuturkan secara ringkas apa yang dialaminya setelah terlempar dari kereta yang ditumpangi gadis cantik itu. Orang tua itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Sepasang matanya menatap Tao Ling dengan tajam ketika gadis itu menyelesaikan ceritanya.

"Kalau hegitu, Tho Hua Mia mati di tanganmu?"

Hati Tao Ling terkejut melihat orang tua itu tiba-tiba menjadi marah. Dia memberanikan dirinya menjawab.

"Boanpwe tidak tahu ular itu peliharaan locianpwe sehingga dalam keadaan terpaksa, boanpwe menggigitnya sampai mati."

Wajah orang tua itu berubah lembut kembali.

"Mari ikut aku ke dalam pondok." Dia membalikkan tubuhnya dan melalui beberapa batang pohon liu tersebut. Tao Ling segera mengikutinya dari belakang. Ular-ular yang melingkar di atas ranting-ranting pohon seakan takut sekali kepada si orang tua. Mereka menyurutkan tubuhnya dan bersembunyi di balik gerombolan dedaunan.

Diam-diam Tao Ling merasa heran.

Setelah masuk ke dalam pondok, Tao Ling melihat keadaan di dalamnya sangat teratur dan rapi. Kursi dan meja juga bersih sehingga tidak terlihat setitik debu pun. Tao Ling sadar orang tua ini pasti menyukai kebersihan.

"Tanpa disengaja kau telah makan dua butir buah merah itu. Namanya Te hiat ko (Buah darah bumi). Buah itu memang aneh, juga langka. Bila tidak melihat darah manusia, selamanya buah itu tidak akan matang. Pada saat itu lukamu parah sekali, kau memuntahkan darah beberapa kali. Darah itulah yang terhisap oleh buah Te hiat ko itu sehingga secara kebetulan kau berhasil menikmati cairannya yang menetes ke dalam mulutmu. Hal ini membawa suatu keberuntungan bagi dirimu. Dengan bantuan cairan buah itu, racun ular kecil itu jadi terdesak di salah satu bagian tubuhmu, tidak terpencar kemana-mana. Kalau tidak tentu saat ini kau sudah mati. Tidak usah khawatir, dengan bantuanku, racun itu pasti dapat terdesak keluar. Tapi . . . apakah akar dan daun pohon Te hiat ko itu sempat kau cabut atau tidak?"

"Ada!" sahut Tao Ling. Dia segera mengeluarkan kepalan akar dan daun tanaman itu dari dalam saku pakaiannya.

Orang tua itu seakan melihat benda pusaka saja, dia langsung mengulurkan tangannya menyambut akar dan dedaunan itu

"Ikut aku!" katanya kemudian.

Mereka masuk ke ruangan yang lain. Di sana terdapat berbagai jenis botol yang terbuat dari batu kumala. Botol-botol itu berjejer pada sebuah rak yang menempel di dinding pondok. Di atas sebuah balai-balai, berbaring Lie Cun Ju. Ketika Tao Ling memperhatikannya dengan seksama, dia terkejut setengah mati.

Tanpa sadar mulutnya mengeluarkan suara seruan terkejut. Ternyata wajah Lie Cun Ju saat itu pucat pasi dan demikian putihnya seperti selembar kertas. Tampangnya bahkan lebih tidak enak dilihat daripada orang mati sekalipun. Padahal ini sudah ada dalam dugaan Tao Ling, tapi dia tetap merasa terkejut juga ketika melihatnya langsung.

Apalagi di atas tubuh Lie Cun Ju terdapat beberapa ekor ular kecil berwarna kebiru- biruan. Dapat dipastikan semuanya merupakan ular berbisa dan ular-ular itu bukan hanya merayap di tubuh Lie Cun Ju, bahkan membuka mulutnya lebar-lebar dan menggigit setiap urat darah yang penting di tubuh pemuda itu.

Melihat keadaan itu, jantung Tao Ling langsung berdegup keras. Perasaannya memang sangat mengkhawatirkan keadaan Lie Cun Ju. Dia langsung mempunyai pikiran "Kakek tua ini pasti bukan orang baik-baik." Membawa pikiran itu, dia segera membalikkan tubuhnya kemudian membentak.

"Apa yang kau lakukan pada diri Lie toako?"

Orang tua aneh itu hanya menundukkan kepalanya mempermainkan akar dan dedaunan yang diberikan oleh Tao Ling tadi. Terhadap pertanyaan Tao Ling yang kasar, dia seakan tidak mendengarnya.

"Kau mencelakai Lie toako sedemikian rupa, kau malah mengatakannya sedang menolongnya!" Tao Ling membentak lagi sambil melangkahkan kakinya.

"Siapa yang mencelakai Lie toakomu?" tanyanya dingin.

Tao Ling tidak tahu masalah yang sebenarnya, dia menganggap orang tua itu mencelakai Lie Cun Ju malah sengaja mungkir. Pemuda itu sudah melalui berbagai penderitaan bersama-sama dengannya, meskipun kokonya, Tao Heng Kan membunuh Li Po, abangnya Lie Cun Ju, tetapi hubungan mereka baik-baik saja. Apalagi di dalam hati sudah timbul perasaan sukanya kepada pemuda itu, mana sudi dia menerima begitu saja Lie toakonya dicelakai orang? Pokoknya dia harus membalaskan dendam bagi Lie toako!

Walaupun Tao Ling menyadari bahwa orang tua itu bukan tokoh sembarangan, tetapi hawa amarah dalam dadanya telah meluap. Dia tidak berpikir panjang lagi. Cring! Dia mencabut pedang dari selipan ikat pinggangnya kemudian melancarkan sebuah serangan ke arah si orang tua!

Wajah kakek itu langsung berubah melihat tindakannya.

"Bocah cilik, tampaknya kau benar-benar sudah bosan hidup?" Tubuhnya hanya menggeser sedikit. Serangan Tao Ling segera melesat lewat di sampingnya.

Sejak meneguk cairan buah Te hiat ko, tenaga dalam Tao Ling sudah bertambah kuat. Gerakan tubuhnya juga jauh lebih ringan, hanya saja dirinya sendiri belum menyadarinya. Sampai keadaannya menjadi panik karena memikirkan keselamatan Lie Cun Ju, dia melancarkan jurus serangan ke arah orang tua tadi. Hatinya baru terkesiap, diam-diam dia berpikir dalam hati.

Tia sering mengatakan aku tidak becus mempelajari Pat Sian Kiam. Setelah bertahun- tahun melatihnya masih belum menunjukkan kebolehan apa-apa. Kalau dibandingkan dengan koko, terpautnya jauh sekali. Tetapi seranganku ini cepat dan keji, sehingga jurus Menteri mempertahankan negara ini menunjukkan kehebatannya.

Nyalinya jadi besar menemukan kemajuan dirinya. Melihat orang tua itu mengelakkan serangannya, tubuhnya segera berputar dan melancarkan jurus Sastrawan Meniup Seruling. Pedangnya mula-mula dilintangkan seperti orang yang sedang meniup seruling, kemudian kakinya maju setengah tindak dan sekonyong-konyong pedangnya menghunjam ke depan.

Timbul bayangan bunga-bunga dari gerakan pedangnya, cahaya keperakan berkilauan. Pedangnya bergerak lurus mengancam tenggorokan si Orang tua.

Kakek tua itu mengeluarkan suara dengusan dingin dari hidungnya. "Benar-benar bocah yang belum mengerti urusan!"

Tubuhnya disurutkan, kakinya tidak bergerak. Dengan mudah lagi-lagi dia menghindarkan diri dari serangan Tao Ling!

Hati gadis itu semakin lama semakin sewot. "Gerakan kakek ini aneh sekali," pikirnya dalam hati. Seandainya saat ini dia bisa berpikir dengan tenang dan kepala dingin, meskipun ilmunya mengalami kemajuan, tetapi dua kali berturut-turut dia melancarkan serangan dan semuanya dapat dihindarkan dengan mudah oleh orang tua itu. Hal ini membuktikan ilmu kepandaian orang tua itu jauh lebih tinggi daripadanya. Apabila dia langsung menghentikan serangannya, mungkin tidak sampai menimbulkan berbagai masalah di hari kelak. Tetapi sayangnya dia terlalu panik melihat keadaan Lie Cun Ju. Orang yang dilanda emosi memang biasanya tidak berpikir panjang. Dua kali serangannya yang gagal malah membuat hati Tao Ling semakin panas. Pergelangan tangannya digetarkan. Pedangnya diputar kemudian tiba-tiba tubuhnya menerjang ke depan. Dengan posisi agak miring, dia mengerahkan jurus Kakek Tua Menunggang Keledai. Serangannya yang ketiga kali ini semakin hebat dan ganas.

Mimik wajah orang tua itu sejak tadi memang sudah tidak enak dipandang. Ketika serangan ketiga Tao Ling meluncur datang, wajahnya yang tersorot cahaya pedang malah menyiratkan kegusaran. Tangan kanannya memasukkan akar dan dedaunan Te hiat ko ke dalam jubahnya. Tubuhnya bergerak sedikit dengan gaya tenang dia malah maju menyongsong pedang Tao Ling yang sedang meluncur ke arahnya. Tiba-tiba tangannya yang seperti tengkorak itu mengulur ke depan. Belum sempat Tao Ling menghindar, tahu-tahu pergelangan tangannya telah dicengkeram oleh orang tua itu.

Tao Ling merasa terkejut, mendadak serangkum angin kencang sudah menahan gerakan pedangnya. Hatinya terkesiap. Saat itu dia baru teringat, kakek ini berilmu tinggi. Seandainya dia ingin membunuh Lie Cun Ju, tentu dia tidak akan menggunakan ularnya yang kecil-kecil tapi berbisa itu. Keadaan Lie Cun Ju sedang terluka parah.

Sekali hantam saja nyawanya pasti melayang Ketika dia ingin menanyakan hal itu sampai jelas, terlambat sudah. Tangan orang tua yang seperti tengkorak itu telah mencengkeram pergelangan tangannya erat-erat.

Persendian pergelangan tangannya terasa nyeri bukan kepalang. Keringat yang membasahi keningnya menetes dengan deras.

Orang tua itu memuntir tangan Tao Ling. Gadis itu merasa setengah badannya seakan lumpuh. Kelima jari tangannya merenggang, pedang perak pun terlepas dari tangannya.

Terdengar orang tua itu membentak dengan suara yang dalam.

"Sudah dua puluh tahun lebih, tidak ada seorang pun yang berani turun tangan kepadaku. Siapa kau sehingga nyalimu demikian besar, hah?"

Tadinya Tao Ling masih ingin berdebat, tetapi pergelangan tangannya masih dicengkeram oleh kakek tua itu. Dia mencoba menghimpun hawa murni dalam tubuhnya untuk memberikan perlawanan, ternyata rasa sakitnya semakin menjadi. Keringat dingin mengucur semakin deras. Maka dia tak sanggup lagi membuka suara.

Tampak sepasang mata orang tua itu memancarkan hawa pembunuhan yang tebal. Hati Tao Ling semakin merasa ketakutan. Baru saja dia berusaha berteriak, tiba-tiba dari luar pondok berkumandang suara seorang gadis yang nyaring dan merdu.

"Apakah Leng Coa Sian Sing ada di rumah? Ular-ular peliharaanmu semuanya tidak becus."

Wajah orang tua itu tiba-tiba berubah. Tangannya yang mencengkeram pergelangan tangan Tao Ling mengendur. Tetapi belum sempat gadis itu melakukan gerakan apa- apa, jalan darah di bawah leher dan pundaknya sudah tertotok. Cara turun tangannya cepat sekali. 

"Antara aku dan kalian selamanya tidak pernah ada hubungan apa-apa. Untuk apa kau mencariku?" ujar orang tua itu dengan nada marah.

Saat itu jalan darah Tao Ling sudah tertotok. Gadis itu tidak bisa bergerak atau bersuara. Tetapi telinganya masih dapat mendengar dengan jelas. Dia mengenali suara di luar pondok seperti suara si gadis secantik bidadari yang melemparkannya keluar dari kereta.

Terdengar gadis itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Leng Coa Sian Sing, tempat tinggal kita demikian dekat, sejak dulu seharusnya kita mempunyai hubungan. Karena itu, aku sengaja datang berkunjung. Mengapa sian sing malah tampaknya kurang senang?" ujar gadis yang ada di luar pondok itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Leng Coa Sian Sing (si kakek tua) bimbang sejenak, kemudian dia keluar juga dari ruangan itu sekaligus merapatkan pintunya. Tao Ling tidak bisa melihat keadaan di luar. Akan tetapi dia masih bisa mendengar pembicaraan antara Leng Coa Sian Sing dengan gadis itu.

"Ada petunjuk apa yang hendak kau berikan? Silakan katakan langsung!" Nada suaranya terdengar agak angkuh, namun di dalamnya terselip sedikit kekhawatiran.

Sekali lagi gadis itu tertawa cekikikan.

"Aku mendengar berita, bahwa salah satu dari dua orang yang kupungut tempo hari dan kuanggap akan menjadi mayat, bahkan kau hidupkan lagi. Seandainya orang itu benar-benar tidak mati, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya."

"Aneh! Aku tinggal di sini sudah lama, selamanya tidak pernah menginjakkan kaki keluar dari wilayahku ini, mana mungkin ada orang yang kutolong?"

Suara tertawa gadis itu masih terdengar terus.

"Leng Coa sian sing, harap jangan mungkir lagi. Orang yang melihatmu itu sudah mengatakan terus terang. Masalah ini besar sekali. Selamanya kau hidup menyempilkan diri di tempat ini, untuk apa tanpa sebab musabab kau mencari perkara karena orang itu?" ucap gadis cantik itu sambil tertawa terkekeh-kekeh yang tiada henti-hentinya.

"I kouwnio, apa yang kau katakan, aku tidak mengerti sama sekali!" Leng Coa sian sing tertawa dingin.

"Leng Coa sian sing, taruhlah di hadapanku kau masih bisa mungkir. Kau sudah menyembunyikan orang itu, tetapi kau ingin mengelabui aku. Tapi biar bagaimana kau tidak bisa mengelabui tiga iblis keluarga Lung dari gunung Ling San, Kui Cou," ujar gadis cantik itu sambil tertawa terbahak-bahak.

Leng Coa Sian Sing tampaknya terkejut setengah mati. Untuk sesaat dia sampai berdiam diri.

"Tiga Iblis dari Keluarga Lung? Tiga Iblis dari Keiuarga Lung?" Nada suaranya mengandung kegentaran yang tidak terkirakan.

"Tidak salah. Tiga Iblis dari Keluarga Lung. Secara diam-diam mereka telah menyusup ke wilayah barat ini. Karena orang yang kau tolong itu sudah memergoki mereka. Maka dari itu, biar bagaimana pun mereka ingin membunuh orang itu. Coba kau pikirkan baik-baik, apakah kau sendirian sanggup menghadapi mereka?"

Sekali lagi Leng Coa Sian Sing terdiam. Tao Ling yang ikut mendengarkan sampai mengernyitkan keningnya.

"Tiga iblis dari keluarga Lung yang disebut gadis itu pasti ketiga orang bertopeng yang mencelakai aku dan Lie toako itu. Selama ini aku sering mendengar cerita tentang tokoh-tokoh di dunia kang ouw dari ayah dan ibu. Mengapa belum pernah mendengar mereka menyebut nama Tiga Iblis Keluarga Lung dari gunung Liang San di Kui Cou?" gumam Tao Ling dalam hati. "I kouwnio, orang yang kau katakan itu laki-laki atau perempuan?" tanya Leng Coa Sian Sing.

"Leng Coa Sian Sing, apakah kedua orang itu benar-benar tertolong olehmu? Kalau memang benar, aku menginginkan kedua-duanya. Entah Leng Coa Sian Sing bersedia memandang muka ayah dan menyerahkannya kepadaku?"

Hati Tao Ling panik sekali mendengar permintaan gadis itu. Dia sadar meskipun wajah Leng Coa Sian Sing selalu dingin dan tidak enak dilihat, tapi bagaimana pun dia merupakan tuan penolong bagi Lie Cun Ju. Saat ini pemuda itu masih terbaring di atas balai-balai, wajahnya pucat pasi, namun setidaknya masih hidup. Sedangkan gadis itu memang cantik jelita bagai bidadari, tapi hatinya kejam, dan turun tangannya keji.

Seandainya terjatuh ke tangan gadis itu, tentu akibatnya mengerikan. Karena itu, dia berharap Leng Coa Sian Sing menolak permintaannya.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).