Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 16

 
Jilid 16

"Syair itu tidak perlu diuraikan lagi Kata katanya sudah jelas pada bait pertama di katakan "Ketika bunga Bwe bermekaran, butiran es pun beterbangan " Sudah jelas yang dimaksud adalah Soat alias salju Dibait kedua disebut "Pemandangan indah pegunungan, hawa dingin menggigil" Sudah terang dia menunjukkan kata San atau gunung Dan syair tersebut kita langsung tahu yang dimaksudkan adalah pemandangan Soat san (gunung salju) Bait ketiga dan keempat seperti mengatakan bahwa ada se seorang yang datang ke Soal san lalu bertemu dengan seorang bidadari yang membuatnya mabuk kepayang sehingga lupa pu lang ke asalnya. Dua bait terakhir ini me mang agak sulit dicerna kata katanya, entah siapayang dimaksuddaiam syairtersebut " sahut Ciok Ciu Lan.

Song Ceng San menganggukkan kepala nya berkali-kali.

"Ciok kouwmo, perijelasanmu benar se kali Orang tua itu sepertinya hendak memberi petun|uk Sekarang kita tahu bahwa dia memang menyebutkan Soat san Mungkin Kah ada kaitan dengan komplotan orang 'orang ini?".

"Beng To heng. bukankah kau masuk kembali ke datam goa dan memeriksa ke adaan di sana? Apakah kau menemukan sesuatu yang nnencurigakan?" tanya Kan Si Tong.

Wi ting sin tiaw menggelengkan kepalanya.

"Tidak ada Dinding goa itu tidak rata. penuh dengaivlubanglubang Tidak terlihat pernah dirubah oleh seseorang Pokoknya tidak ada yang perlu dicurigakan, hanya sebuah goa batu sebagaimana umumnya ".

"Kalau begitu, mengapa orang she Cu itu demikian memandang berat tempat tersebut?' tanya Hui hung gi su Wi ting sin tiaw mengangkat kedua bahunya.

"Hengte juga merasakan bahwa di dalam goa batu itu terdapat rahasia yang besar Tapi pada waktu itu kita dafam keadaan terdesak, sama sekali tidak banyak kesem patan untuk memenksa secara teliti.".

Tepat pada saat itu, dua orang pelayan masuk dengan membawa baki di tangan Di atasnya terdapat berbagai sayuran bakpao dan kue yang bensi sayur mayur Mereka meletakkannya dengan rapi di atas meja.

Song Ceng San mempersilahkan para tamunya menikmati hidangan yang disediakan Mereka sudah berkutat sepanjang malam di dalam goa perut memang sudah ke roncongan, maka tanpa sungkansungkan lagi mereka melahap habis semua hidangan yang disediakan.

Setelah selesai sarapan, Bu Cu taisu, Kan Si Tong, Hui hung gi su dan Wi Ting sin tiaw merasakan bahwa waktu pertemuan Ce po tan goan tidak berapa lama lagi Apalagi Cong hu hoat dan pihak lawan mempunyai ilmu silat yang demikian tinggi Kemungkman dunia kangouw akan dilanda badai topan kembali Maka dan itu mereka tidak beram berdiam tamalama di Tian Hua sanceng Semuanya bersepakat segera pulang ke tempat masinginasing dan mengadakan persiapan yang matang Satu per satu segera memohon diri kepada tuan rumah.

Song Ceng San iangsung berdiri dan membalas penghormatan mereka. Song Bun Cun yang ditugaskan mengarrtar para tamu sampai ke luar Tian Hua sa ceng Setelah itu baru dia kemliali lagi.

Yok Sau Cun menunggu sampai tamu yang lainnya sudah pulang, baru dia berdiri dan menjura kepada Song Ceng San.

"Song loya cu. boanpwe mempunyai satu persoalan yang harap dapat dikabulkan oleh Song loya cu .".

Song Ceng San mengelus jenggotnya yang panjang sambil tersenyum.

"Yok laote tidak perlu sungkan, ada apa-apa yang mengganjal di hati, silahkan katakan terusterang".

"Terima kasih kepada loya cu Maksud boanpwe ingin mencoba sekali lagi ilmu pedang Song loya cu," kata Yok Sau Cun.

Song Ceng San menganggukkan kepalanya dengan wajah tetap tersenyum lebar. Untuk memenuhi permintaan suhu Yok Laote?".

Yok Sau Cun menundukkan kepalanya. "Benar," sahutnya tersipu-sipu.

Song Ceng San menarik nafas panjang.

"Sebetulnya, Yok Laote secara tidak sengaja membuat lohu keracunan Yok Laote tidak memperdulikan keselamatan diri mencankan obat penawar untuk lohu Budi ini tidak terkira besarnya Seharusnya lohu me rasa tidak enak hati Tetapi permintaan suhu Yok Laote ini Sayangnya lohu pernah ber sumpah, apabila suhumu dapat menerima dua puluh jurus Hmu pedang lohu, barulah lohu dapat mengabulkannya Yok laote tentu mengerti bahwa ucapan yang keluar dan mu lut lohu ini seberat gunung Hanya meng ingat yang datang adatah generasi muda, maka lohu membataskan syarat hanya da[am satu jurus saja ".

Yok Sau Cun seperli ingin mengatakan sesuatu, tetapi Song Ceng San tidak membennya kesempatan, orang tua itu kembali menarik nafas panjang.

"Sebenarnya kata-kata itu lohu ucapkan sebagai tanda keangkuhan hati pada masa itu Justru sekarang yang datang memohon ke Tian Hua sanceng adalah Yok laote maka lohu hanya bisa menngankan syarat nya saja Meskipun Yok Laote telah menanam budi kepada lohu, tetap saja tidak bisa dikecualikan " kata orang tua itu selanjutnya. "Boanpwe mengerti Song loya cu jangan khawatir Itulah sebabnya boanpwe ingin di ben kesempatan sekali lagi untuk mencoba.".

Tia, sebetulnya apa yang terjadi?" tukas Song Bun Cun. Song Ceng San tersenyum lembut.

'Bun JI Ayah tahu kau ingin memohon demi Yok iaote, bukan? Ayah bukan orang yang tidak mengingat budi Tapi urusan ini benar-benar rumit Kalau Yok Laote tidak sanggup menerima satu jurus ilmu pedang dan ayah, meskipun ayah mengabulkan juga percuma saja Kelak kau pasti akan mengerti" Kemudian dia menoleh kembali ke arah Yok Sau Cun.

"Yok laote, kata-kata lohu ini harap diingat baikbaik Apabila Yok laote tidak sanggup menenma satu jurus ilmu pedang dan lohu, meskipun lohu berniat mengabulkan permintaanmu, tetap saja tidak ada manfaatnya bagimu Oleh karena itu. lohu ingin mena sehati kalau kali ini kau mengalami kekaiahan juga hayip jangan putus asa Latihlah dengan giat Sampai ka.u berhasil menerima satu jurus dari lohu baru ada manfaatnya bagimu.".

"Song loya cu adalah orang yang cerdas Boanpwe sudah pernah dikalahkan oleh Song loya cu, bahkan pedang lemas boanpwe telah dikutungkan Seandainya pikiran boanpwe tidak waras sekalipun, boanpwe tetap tidak berani menantang Song loya cu dalam wakTu yang sedemikian singkat...".

Mata Song Ceng San langsung bersinar tajam.

"Apakah Yok laote sudah mendapat kemajuan yang banyak dalam ilmu pedang?" tanyanya dengan nada menyeiidik.

Yok Sau Cun menggelengkan kepalanya.

"Bukan. Boanny/e tidak berani menutupi Boanpwe telah rrompelajari aatu jurus flmu yang katanya dapat menyambut serangan ilmu pedang Song loya cu '.

Song Ceng San menatapnya dengan heran.

"Kau telah mempela|ari sejurus ilmu yang dapat menyambut serangan ilmu pedang lohu? Dari mana kau mendapat pelajaran seperti itu?".

"Dari seorang peramai di pinggir jalan. Namanya Sai Kuan io Kim Ti Jui Dia menenma perintah dari suhunya untuk mewariskan ilmu tersebut kepada boanpwe," sahut Yok Sau Cun terusterang.

Mendengar keterangan Yok Sau Cun, Song Ceng San semakin bingung.

"Seorang perama! bernama Sai Kuan !o Kim Ti jui'? Dja menerima perintah dari suhunya untuk menurunkan ilmu itu kepadamu?". Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya dengan tegas.

"Benar" Anak muda itu memang tidak bermaksud menutupi Dia langsung mencentakan peristiwa ketika bertemu dengan Kim Ti jui sampai orang itu menurunkan sejurus ilmu silat yang menurutnya dapat menyambut sejurus iimu pedang Song loya cu. Orang tua itu mendengarkan dengan penuh per hatian Tangannya mengeluselus jenggot yang panjang. Sekian lama dia merenung tanpa mengucapkan sepatah kata pun Setelah beberapa saat dia baru menarik nafas panjang Kepalanya menganggukangguk.

"Rupanya Yok laote mendapatkan penemuan yang aneh Lohu kabulkan permintaanmu untuk mencoba sekali lagi".

Wajah Yok Sau Cun langsung berseri-seri. "Terima kasih, Song loya cu ".

Song Ceng San menggapaikan tangan kepada putranya, Song Bun Cun. "Bun ji, ambilkan sebatang sumpit," katanya.

Song Bun Cun segera mengiakan Diambilnya sebatang sumpit dan disodorkannya kepada Song loya cu Orang tua itu segera menenma sumpit tersebut dan mengangkat waiahnya memandang Yok Sau Cun.

"Yok laote, keluarkanlah pedangmu dan kau boleh mulai sekarang juga ".

Yok Sau Cun mengefuarkan gulungan pedangnya yang terselip di pinggang Sekali dihentakkan, pedang itupun terulur menjadi panjang. Anak muda itu segera mem bungkukkan tubuhnya serta menjura penuh hormat.

"Boanpwe baru mempelaian sejurus ilmu baru. Harap Song loya cu yang mulai' menyerang lerlebih dahutu agar boanpwe bisa berusaha untuk menyambutnya ".

Song Ceng San masih tetap duduk di alas kursi Dia menganggukkan kepalanya. 'Baiklah Harap Yok laote bersiap sedia".

Yok Sau Cun mundur satu langkah Pedangnya digenggam di depan dada. Karena ilmu yang satu jucus ini baru dipelaJarinya, maka dia tidak berani memencarkan perhatian sama sekali Pikirannya yang lain dikesampingkan, dia memusatkan pikirannya pada Song Ceng San yang duduk tenang di hadapannya Dalam waktu yang bersamaan, dia juga mengmgat ingat ilmu yang diajarkan oleh Kim Ti jui Kali ini seluruh pikirannya terpusat pada pedangnya Tampangnya menjadi senus dan berwibawa Song Ceng San menatapnya lekatlekat Tanpa sadar dia tertawa lerkekeh- kekeh.

"Dalam waktu yang singkal Yok laote sudah dapat memetik hikmah terpenting dalam pelaiaran ilmu pedang Hal ini patut digembirakan Kelak kau harus lebih gial lagi berlalih Harap Yok laole berhatihati sekarang!". Tiga jan tangan Song Ceng San yailu jempol, lelunjuk serta jari tengah memegang bagian atas sumpit Dengan gerakan tamban dia mengulurkannya ke depan Song Bun Cun, Ciok Ciu Lan serta Cong koan Ciek Ban Cing yang berdiri di samping memerhsrtikan Song Ceng San menggerakkan sumpitnya perlahanlahan. Sejak tadi hati mereka sudah tegang. Seluruh perhatian dipusatkan, tiga pasang mata menatap sumpit df tangan Song Ceng San dengan tanpa berkedip sedikit pun.

Yok Sau Cun berdiri di hadapan Song Ceng San. Jarak antara mereka kurang lebih enam tujuh cun. Boleh dibilang sumpit yang digunakan sebagai senjata oleh Song Ceng San pendek sekali. Meskipun orang tua itu mengulurkan tangan sepanjangpanJangnya juga belum bisa menyentuh tubuh Yok Sau Cun.

Namun begitu sumpit dijulurkan perlahanlahan, Yok Sau Cun segera merasakan bahwa yang tergenggam dafam tangan Song Ceng San bukan lagi sebatang sumpit, tetapi seperti berubah menjadi sebatang pedang yang sangat tajam.

Untuk sesaat Yok Sau Cun berusaha menenangkan hatinya. Kemudian tangannya juga perlahanlahan diulurkan ke depan dan meluncur ke bagian atas kepaia Song Ceng San Sedangkan sumpit orang tua itu menuju lurus ke ujung pedang Yok Sau Cyn karena pedang lemas Yok Sau Cun sudah "dua kali dikutungkan oleh Song Ceng San, bagian uJungnya sudah rata Jadi yang dituju oleh Song Ceng San sebenarnya adalah UJOng pedang yang' sudah terkutung itu.

Tiba-tiba gerakan tubuh Yok Sau Cun memutar Sasarannya sekarang ke arah sumpit di tangan orang tua itu Song Ceng San langsung merubah posisi sumpit di tangannya Gerakan tangannya terlihat perlahan sekali bagi orang luar Justru ketika sumpit itu berubah posisi, pedang di tangan Yok Sau Cun ]uga menyapu dengan gerakan aneh.

Mata Song Ceng San menyorotkan sinar terkejut Sumpityang dilancarkan mendadak bergerak cepat Serangan itu mengambil arah kanan Kecepatannya sungguh mengagumkan Yok Sau Cun hanya mendengar suara.

"Traki" Dia merasa tekanan yang kuat pada bagian ujung pedang Yok Sau Cun berusaha menarik kembali Keadaannya menjadi gugup Bahu kanannya langsung terasa kebal Tanpa dapat dipertahankan lagi, kakinya terdesak mundur dua langkah.

Yok Sau Cun menundukkan kepalanya Bagian ujung pedang lemasnya kembali telah terkutung oleh sumpit di tangan Song Ceng San. Ini adalah untuk ketiga kalinya Dengan gugup Yok Sau Cun menyimpan pe dangnya kembali Lalu dia menjura dalam-dalam.

"Kiam sut Song Loya cu seperti permainan pedang para dewata, boanpwe ternyata masih belum sanggyp menyambutnya Harap Song loya cu memaafkan kelancangan boanpwe," katanya kemudian menarik nafas panjang.

Sementara itu. tampang Song Ceng San benar-benar seperti Dewa yang sangat berwibawa Bibirnya tersenyum lembut.

"Terhadap jurus baru ini, Yok laote masih belum mahir sekali Hanya memerlukan waktu yang tidak berapa lama untuk berlatih lohu yakin Yok laote sudah sanggup menenma satu furus serangan lohu Barusan saja lohu terlambat menarik kembali sumpit di tangan sehingga mengutungkan kembali ujung pedangmu " Pada saat mengucapkan kata-kata ini, wajahnya menyiratkan perasaan agak bersalah.

Rupanya ketika Yok Sau Cun mengerahkan jurus yang baru dipelajannya, Song loya cu sudah terpaksa merubah gerakannya. Justru itu tferpaksa dia menambah kekuatan tenaga dalam dan kembali mengutungkan pedang Yok Sau Cun.

Sebenarnya kalau dikatakan secara terus terang, Song Ceng San adaiah Bulim toa lo yang dihormati llmunya tmggi sekali Dia melatih ilmu pedang selama puluhan tahun dan sudah mencapai taraf mengembangkan serta menarik pedang dengan sesuka hatinya Mana mungkin dia tidak sanggup me narik pedangnya kembali"? Justru karena tadinya dia adalah seorang Bulim bengcu yang sudah tersohor sekian lama bahkan sampai saat itu, mana mungkin dia mau mengakui bahwa dia metakukan hal itu kareha sebetulnya dia sudah hampir dikalah kan'? Tapi hati orang tua ini memang sangat jUjUr jiwanya besar Meskipun dia berniat menyembunyikan hal mi. tapi akhirnya dia mengataKan juga.

Yok Sau Cun segera membungkukkan tubuhnya.

"Song loya cu terialu sungkan Sebetulnya jurus ini baru saJa boanpwe pelajari beberapa hari terakhir ini. Sama sekali belum matang. Karena boanpwe datang dan tempat yang jauh dan tidak bisa senng berkunjung ke Tian Hua sanceng ini, maka terpak,sa memberanikan diri mencoba juga Song loya cu tidak menyafahkan boanpwe, seharusnya boanpwe malah yang harus meng ucapkan beriburibu terima kasih," sahutnya sopan.

Song Ceng San menarik nafas perlahan.

"Tadi lohu sudah mengatakan bahwa Yok laote telah menanam budi kepada lohu, se harusnya lohu mengabulkan permintaan suhu Yok laote untuk memecahkan kesalahpahamannya tempo dulu Tetapi Aikh ka lau kau masih belum sanggup menerima satu jurus saja ilmu pedang lohu maka kau juga tidak mungkin menandingi ".

Yok Sau Cun merasakan ada sesuatu yang disembunyikan dalam kata-kata Song Ceng San Tanpa sadar dia menatap orang tua itu dengan sinar mata mengandung per mohonan.

"Dapatkah Song loya cu menjelaskan lebih terang lagi?" pintanya. Tampang Song Ceng San sepertinya serba salah.

'Bukan lohu tidak bersedia menjelaskan, tapi aih.. Sampai waktunya Yok Laote akan mengerti sendiri ".

Hati Yok Sau Cun merasa agak kecewa Tapi tampaknya Song Ceng San mempunyai kesulitan tersendiri Tentu saja Yok Sau Cun tidak enak hati mendesaknya terus Akhirnya dia menjura dalam-dalam. "Song loya cu, boanpwe akan memohon diri sekarang," kata anak muda itu.

Tiba-tiba Song Ceng San berdiri, dia menggoyanggoyangkan tangannya Bibirnya kembali mengembangkan senyuman.

"Jangan tergesa-gesa. Saat ini sebentar lagi tengah hari Kaiian berdua harus santap siang duiu di kediaman lohu ini baru boleh meneruskan perjalanan Lagipula, lohu ada suatu urusan yang ingin dititipkan pada Yok Laote Man, Yok Laote. ikut lohu ke ruang perpustakaan " kata orang tua itu sambil mendahului melangkah keluar dari taman tersebut.

Song Ceng San mengatakan bahwa ada urusan yang akan dititipkan malah dia m.eng ajak Yok Sau Cun ke ruang perpustakaan Tentu saja Song Bun Cun dan Ciok Ciu Lan tidak enak hati mengikuti kedua orang itu.

Yok Sau Cun mengikuti di belakang Song Ceng San. Mereka keluar dan taman ter sebut dan menelusun koridor panjang Kemudian masuk melalui sebuah pintu berbentuk rembulan Di sana terdapat sebuah taman bunga lagi yang ditata dengan apik Di bagian depan yang berhadapan dengan pintu masuk berderet tiga buah kamar ber jendela Tentunya tempat itulah yang dimaksud sebagai perpustakaan Song Ceng San.

Sekali dorong saja pintu ruang perpustakaan itu sudah terbuka Song Ceng San mempersilahkan Yok Sau Cun masuk ke dalam ruangan tersebut. Orang tua,itu tersenyum simpul.

"Yok Laote, silahkan duduk," katanya.

Yok Sau Cun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan Tiga buah kamar yang saling berhubungan itu ternyata periuh dengan lukisan dan kitabkitab yang sudah langka. Semua ditata dan disusun dengan rapi Sungguh merupakan pemandangan yang indah dipandang.

Song Ceng San berjalan ke arah sebuah rak buku yang besar. Dia membuka lemari ditengahnya dan mengeluarkan lumpukan buku yang ada di sana Kemudian tangannya menekan di bawah papan rak tersebut. Tiba-tiba bagian dalam leman itu terbuka. Ternyata di dalamnya masih ada tempat rahasia.

Yok Sau Cun tidak mengerti mengapa orang tua itu mendadak membuka lemari rahasia itu Tapi dia sadar bahwa biasanya orang senng menyimpan benda pusaka maupun kitabkitab yang sudah langka di tBmpat rahasia agar tidak dicuri oleh kaum penjahat Tentu 3a|a dia merasa tidak enak hati memperhatikan gerakgenk orang tua ter3ebut Oleh karena itu dia memalingkan waiahnya dan sengaja memperhatikan lukisanlukisan yang tergantung.

Dan leman rahasia tersebut, Song Ceng San mengeluarkan sebatang pedang panjang yang sarungnya terbuat dan kulit buaya berwarna hijau Kemudian dia menutup kembali leman itu dan menyusun lagi buku yang dikeluarkannya tadi. Akhirnya pintu lemari itu pun di tutup Song Ceng San membalikkan tubuhnya dan memanggil. "Yok Laote...!".

Yok Sau Cun juga membalikkan tubuhnya.

'Apa yang ingin dititipkan oleh Song Loya cu'?" tanyanya.

Song Ceng San meletakkan pedang yang sarungnya terbuat dari kulit buaya di atas meja kecil.

"Yok Laote, pedang ini adalah pedang Cen kouwnio yang terkenal Pedang ini tanpa sengaja ditemukan oleh keponakan lohu, Hui Fei Cin tanpa sengaja di daerah Cin Ciu Pedang ini juga dinamakan Sit kim siam atau pedang penghisap emas SeJak Yok laote diketabui orang untuk mengantarkan surat beracun kepada lohu, di dalam hati telah timbul perasaan bahwa pedang ini akan menjadi rebutan orangorang dunia kangouw Jumlah mereka pasti banyak sekali Meskipun Fei Cin telah dididik oleh ayahnya dalam pelajaran ilmu silat, tapi lohu khawatir masih belum sanggup untuk melmdungi dirinya sendiri Maka dari itu, ketika dia hendak kembali ke rumah, lohu memintanya meninggatkan pedang pusaka ini di sini Lohu malah merubah pedang ini sehinggatidak seperti aslinya lagi. Dengan demikian tidak akan ada orang yang tahu. Lohu sekarang ingin meminta Yok Laote mengantarkan pedang ini ke Yang Ciu. ".

"Maksud Song loya cu ingin meminta boanpwe mengantarkan pedang ini ke Yang Ciu?" tanya Yok Sau Cun mengira dirinya salah dengar,.

Song Ceng San mengetuselus jenggotnya yang panjang. Dia tersenyum.

"Tidak salah Mengandalkan itmu yang Yok Laote miliki, tidak mungkin ada yang sanggup merebutnya dengan mudah Lagipula pedang ini sudah dirubah sedemikian rupa oleh lohu sehingga tampaknya seperti sebatang pedang yang terbuat dari baja putih Orang yang sudah berpengalaman pun tidak mudah membongkar rahasianya. Oleh karena itu, harap Yok laote tenangkan hati Hal ini pasti tidak akan diketahui orang lain ..".

"Urusan yang diperintahkan oleh Song loya cu, mana mungkin boanpwe tolak?".

Song Ceng San tersenyum lebar. Dia mengeluarkan lagi sebuah batu giok dari balik pakaiannya dan dengan hati hati diletakkan di dalam genggaman Yok Sau Cun.

"Mungkin Yok laote sudah tahu bahwa ibu Hui Fei Cin adalah adik kandung lohu

.Saudara lohu semuanya ada tiga orang Lohu pahng tua Dia adalah adik nomor tiga Se dangkan adik kedua lohu tinggal di Kiu Hua Kalau kau bertemu dengan Sammoay batu giok ini harus diserahkan iangsung ke tangannya Seandainya Sammoay ada permin taan apa-apa, maka Yok laote harus mengabulkannya kata Song Ceng San selanjutnya.

Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya.

"Boanpwe sudah mengingat semuanya dengan baik ". "Bagus. Sekarang kau bawa pedang ini Apabila ada orang yang menanyakan, maka kau harus mengatakan bahwa aku menghadiahkan pedang ini karena merasa tidak enak hati telah mengutungkan pedangmu sebanyak tiga kali Di hadapan siapa pun kau tidak ungkapkan kata kata yang lohu ucapkan tadi," pesan Song Ceng San wanti- wanti.

Yok Sau Cun menyimpan batu giok tersebut baik baik Kemudian dia menyelipkan pedang itu pada ikat pinggangnya.

"Boanpwe akan ingat pesan Song loya cu,' sahutnya.

"Masih ada satu hal lagi yang lohu perlu ingatkan kepada Yok Jaote Satu jurus ilmu pedang yang diajarkan oleh Kim Ti jui bukan ssmbarang i!mu Sebaiknya sepanjang perJa!anan ke Yang Ciu, Yok laote melatihnya dengan giat siang malam Jangan bermalas malasan Dengan demikian malah perjalananmu dapat merijadi sangat menyenangkan " kata Song Ceng San selanjutnya.

"Terima kasih atas perhatian Song loya cu yang besar Boanpwetidak akan lupa " sahut YokSau Cun.

Semban tersenyum orang tua itu menganggukkan kepalanya. 'Baik Sekarang kita boleh kembali lagi ke taman, ajaknya.

Kedua orang itu kembali iagi ke taman Ternyata di atas meja sudah tersedia berbagai macam hidangan Song Bun Cun dan Ciok Ciu Lan melihat Yok Sau Cun keluar.

bersama dengan Song Ceng San. Di pinggangnya telah terselip sebatang pedang bersarung kulit buaya,.

Song Ceng San tidak menunggu sampai mereka membuka mulut. Dia segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Coba kalian tebak, mengapa lohu mengajak Yok laote ke ruang perpustakaan?" tanyanya.

"Mungkin Tia menghadiahkan sebatang pedang pusaka," sahut Song Bun Cun. Song Ceng San mengelus jenggotnya sambil tertawa.

"Tia sudah tiga kali mengutungkan pedang Yok laote. Maka dari itu Tia mengajaknya ke ruang perpustakaan agar dapat memilih sendiri. Berulang kali Yok laote menolaknya Sampai Tia memaksa, dia baru mengambil pedang yang satu ini Meskipun bukan pedang pusaka, tapi pedang yang dipilih oleh Yok laote mi adalah pedang Song bun kiam pembenan Bu Tong pei Malah dulu Giok Cin totiang yang mengantarnya sendiri ke sini. Di dalam kekerasan pedang ini terkandung juga kelembutan. Maka cocok sekali digunakan oleh Yok laote.".

"Semua ini berkat kasih sayang Song loya cu, boanpwe merasa terhacu sekali," sahut Yok Sau Cun. Sekali lagi Song Ceng San tertawa tarkekeh-kekeh.

"Yok laote tidak usah berlaku sungkan lagi Man kita duduk, Hidangan tentu sudah dingin," katanya sambfl mengulapkan tangan mempersilahkan.

Lewat tengah hari, Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan memohon diri kepada Song loya cu. Keluar dari Tian Hua sanceng, Son Bun Cun masih mengantar mereka sampai ke tepi sungai Setelah itu dia mengucapkan selamat jalan kepada keduanya dan kembali ke rumah.

Sesampai di Bu Cing, senja sudah merayap Lentera lentera mulai dinyalakan Mereka berhenti mengisi perut di sebuah rumah makan Setelah itu mereka mencari rumah penginapan dan memesan dua buah kamar.

Baglan Tiga Puluh Delapan.

Mereka membasuh diri di kamar masfngmasing Setelah selesai, Ciok Ciu Lan berjatan ke kamar Yok Sau Cun dan mendorong pintunya perlahan lahan.

"Yok toako, aku merasa ada orang yang memperhatikan kita," katanya dengan suara rendah.

"Apakah kau menemukan sesuatu'?" tanya Yok Sau Cun.

"Aku hanya berperasaan demikian Seper ti ada sepasang mata yang terus mengikuti kita dari tepi sungai tadi Tadi ketika di ru mah makan, aku juga merasa ada seseorang yang memandang kita terus di belakang ".

Yok Sau Cun tertawa lebar.

"Hal ini karena hatimu yang terlalu curiga Rumah makan atau penginapan memang merupakan tempat umum Tiba tiba ada seorang gadis cantik melangkah ke dalam semua mata pasti menoleh dan mengikuti Apalagi' akhirakhir ini kita sudah mengalami ba nyak kejadian, tidak heran kau terus merasa dnkuti oleh seseorang" Dia memandang Ciok Ciu Lan yang tampaknya masih bimbang Tanpa sadar dia tertawa terkekeh-kekeh Dengan maksud menghibur dia melanjutkan kata katanya "Sebetulnya segala macam kejadian te|ah kita temui, apabila benar ada orang yang mengikuti, masa kita perlu takut'.'".

Senyum Ciok Ciu Lan perlahanlahan mengembang Dia merapikan rambut dengan ujung jarinya yang lentik.

"Betul! Memangnya siapa yang perlu kita takutkan'" Senyumannya itu seakan membuat kab'utkabut yang m.enutupi bumi beterbangan Kemudian matanya terangkat. Gayanya sungguh menawan Dia seperti teringat sesuatu "Oh ya, Yok toako, kemana tujuan kita nanti?".

"Yang Ciu " sahut Yok Sau Cun. Sepasang mata Ciok Ciu Lan yang indah langsung mengedip. “Untuk apa pergi ke Yang Ciu?".

"Song loya cu meminta aku mengantarkan suatu barang kepada Hui hujin.".

"Barang itu pasti penting sekali Aku ingat sekarang Song loya cu memang berkata akan menitipkan sesuatu kepadamu dan la|u mengajakmu ke ruang perpustakaan Tentunya karena urusan ini bukan?".

Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya. Dia mengeluarkan batu giok dari balik saku pakaiannya dan menceritakan kejadian waktu itu sekedarnya. Tapi dia sama sekali tidak mengungkit masalah Cen Ku Kiam.

"Kalau ditilik kembali rasanya kok misterius sekali. Batu giok ini harus kau serahkan sendiri ke tangan Hui hujin. ." Tiba-tiba dia tertawa terkekeh-kekeh, Ciok Ciu Lan mencibirkan bibirnya. "Aku tahu'".

"Apa yang kau ketahui?" tanya Yok Sau Cun.

"Karena kau telah menanam budi terhadap Song loya cu dan orang tua itu mehhat kalau kau juga seorang pemuda yang baik. Apatagi dia sudah mengutungkan pedangmu sebanyak tiga kali, hatinya tentu merasa tidak enak. ".

"Apa hubungannya dengan mengantarkan giok ini kepada Hui hujin?".

"Tentu saja ada hubungannya. Song loya cu menilai ilmu silatmu cukup tinggi. Orangnya pun bisa diandalkan, maka maka. " Dia sengaja tidak melanjutkan

ucapannya agar Yok Sau Cun tambah penasaran. "Maka apa'?".

Wafah Ciok Ciu Lan merah padam Sekali lagi dia mencibirkan bibirnya mengejek.

"Maka dia meminta kau mengantarkan batu giok mi kepada Hui hujin Mungkin mereka abang beradik sejak dulu sudah menjanjikan sebuah isyarat rahasia ".

'lsyarat rahasia apa kira kira menurutmu?".

"Coba kau pikirkan dulu baikbaik Pasti kau dapat menduganya ".

Yok Sau Cun tertegun. Dia berusaha memeras otaknya untuk memikirkan hal tersebut Tapi akhirnya dia menggelengkan kepalanya.

"Aku benar-benar tidak dapat menduganya ". Mata Ciok Ciu Lan mendelik lebar-lebar. "Kau sudah tahu masih pura-pura bodohi'. Yok Sau Cun semakin termangu-mangu.

"Aku benar benar tidak tahu," sahutnya dengan tampang serius. Ciok Ciu Lan menatapnya lekatlekat Wajahnya tersipu-sipu.

"Baik Aku akan mengatakan kepadamu Song loya cu senang kepadamu Itulah sebabnya dia menyuruhkan kau menemui Hui hujin.".

Mendengar kata-kata Ciok Ciu Lan, Yok Sau Cun masih terpana. Sesaat kemudian wajahnya merah padam.

"Lan moay, kemana arah pembicaraanmu?".

Ciok Ciu Lan tersenyum simpuJ Dia terus menggoda Yok Sau Cun.

"Apakah kata-kataku salah? Asal Hui hu im juga senang melihatmu, maka mertua me lihat menantu, semakin dipandang semakin ".

Yok Sau Cun tidak memben kesempatan kepada Ciok Ciu Lan untuk meneruskan kata-katanya.

"Lan moay, kau " Tampaknya dia gugup sekali Tanpa sadar dia menarik tangan gadis itu dan meraihnya agar lebih dekat.

Jantung Ciok Ciu Lan berdebar-debar. "Yok toako. kau " Suaranya manja sekali.

.

Yok Sau Cun meremas tangan gadis itu dengan lembut.

"Lan moay, dalam hatiku hanya ada engkau seorang " ucapnya lirih.

Ciok Ciu Lan tidak menyahut. Bibirnya mendesah Perlahanlahan dia merebahkan kepalanya dalam pelukan Yok Sau Cun Wajahnya yang tersipusipu menunduk semakin dalam Yok Sau Cun membelaibelai rambutnya.

"Sebetulnya Hui cici seorang gadis yang baik Cinta kasihnya terhadapmu sangat tulus Aku dapat merasakannya " Ciok Ciu Lan masih ingin berkata lagi, tapi sepasang bib'rnya yang indah telah ditempel oleh se pasang bibir yang lain Dia merasakan kehangatan yang membara Setelah menge luarkan suara desahan, bibirnya benar- benar tidak bisa bicara lagi.

Ruangan kamar itu tiba-tiba menjadi sunyi Juga tidak tahu berapa lama sudah waktu berlalu Ciok Ciu Lan mendorong Yok Sau Cun lembut.

'Hari sudah mulai larut Sebaiknya kau beristirahat" Tanpa menunggu jawaban Yok Sau Cun dia langsung menghambur keluar dan ian ke kamarnya sendiri. Pagipagi sekali keduanya sudah melanjutkan perjalanan Dari Ceng Kiang mereka melewati sungai, akhirnya sampailah mereka di Kwa Ciu Di smilah pertama kali mereka bertemu. Kembali ke tempat yang penuh kenangan itu, mereka merasakan kehangatan hati yang tidak terkira.

Di jalan kecil di kota tersebut, orang orang masih ramai berlalu lalang Kedai arak yang pernah mereka smggahi dulu juga masih ada tapi pemiliknyasudah berganti Ciok Ciu Lan dan Yok Sau Cun masuk ke dalam kedai arak tersebut Gambar Hek Houw sin yang duiu tergantung di atas tembok se belah dalam sudah tidak ada Sebagai gantinya ada selembar kertas merah berukuran besar dengan daftar makanan benkut harganya.

Kedua orang itu duduk di bagian dalam sebelah kin di mana masih terdapat be berapa yang kosong Mereka memesan dua mangkok mie Sembanmakan merekamem perhatikan para tamu yang sedang menik mati hidangan di atas meja masinginasing Kebanyakan terdiri dan para pedagang yang lewat di tempat itu Mereka makan tanpa banyak bicara dan setelah selesai mereka bayar makanan itu untuk kemudian melaniutkan perjalanan.

Baru sampai di ujung jalan, mendadak Ciok Ciu Lan n?enghentikan langkah kakinya Sepasang alisnya berkerut Yok Sau Cun menoleh ke arahnya dengan bingung.

"Lan moay, kenapa kau'?" tanyanya cemas.

"Di sini ada tanda rahasia dan ibuku," sahut Ciok Ciu Lan dengan suara rendah. "Apa yang dikatakan oleh tanda rahasia ibumu'?" tanya Yok Sau Cun.

"Ini merupakan tanda rahasia untuk mencan aku Ibu ingin bertemu dengan aku secepatnya'".

"Di mana ibumu sekarang'?" tanya Yok Sau Cun kembali.

"Tanda rahasia ini hanya merupakan kode, bukan tulisan mana bisa menjelaskan begitu terpennci?".

"Kalau'begitu arah mana yang disebutkan dalam tanda rahasia tersebut?".

"Arah yang ditunjukkan oleh tanda rahasia ini hanya meminta aku berjalan turus ". "Kalau begitu cepat kita berangkat," kata Yok Sau Cun.

Kedua orang itu segera mernnggalkankota Kwa Ciu. Sepaniang perjalanan Ciok Ciu Lan memperhatikan setiap batang po hon dan batubatu besar yang berserakan di antara rumputrumput liar. Ternyata dia menemukan lagi dua buah tanda rahasia ibunya Tapi petunjuk yang disebutkan tetap menyuruhnya mengikuti jalan raya Ciok Ciu Lan menghela nafas sekaii "Kalau ditilik dari tanda rahasia yang di tmggalkan ibu, tampaknya dia orang tua juga menuju ke Yang Ciu Yok toako, tidak perlu can lagi Kita lanjutkan saja perjalanan secepatnya". Yang Ciu merupakan sebuah kota yang sangat terkenal Malah ada pepatah yang mengatakan, "Mati belum bisa meram apa bila belum melihat Yang Ciu " Sejak jalan tembus ke daerah tersebut dibangun Kaisar Sui Yang Te dari dinasti Sui, daerah itu menjadi ramai bahkan merupakan pusat perdagangan yang terkenal dengan berbagai macam hasil bumi sertakain sulamannya.

Daerah itu merupakan perbatasan antara utara dan selatan Tidak sedikit para saudagar dan hartawan yang tinggal dikota ini Pada jaman itu kehidupan sangat sulit dan orang yang benar-benar kaya serta mempunyai rumah mewah masih terhitung dengan jan Tapi Yang Ciu justru merupakan gudangnya orangorang kaya Jarang terlihat rumah penduduk yang kumuh seperti di pedesaan yang kecil.

Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan sudah sampai di perbatasan Y'ang Ciu Mereka belum masuk ke dalam kotanya Di luarkota terSebut kembali Ciok Ciu Lan menemukan tantia rahasia dan ibunya Dia menghentikan lan?kah kakinya dan menengok ke arah Yok Sau Cun.

"Yok toako tanda yang dnmggalkan ibu kali ini menunjukkan bahwa aku harus menuju ke Sian li bio (Kuil bidadan) Di dalam kota ada sebuah jalan yang bernama Tung Kuang Cie Di sana terdapat sebuah penginapan Siau Kiang Lam yang cukup terkenal Kau pergi dulu ke sana dan pesankan kamar Nanti aku bisa mencarimu ' katanya.

"Kau tidak ikut aku ke gedung keluarga Hui""'.

"Coba kau pikir, Song loya cu sengaja mengajakmu ke ruang perpustakaan baru menyerahkan batu giok Malah dia memmta kau menyerahkan langsung ke tangan Hui hujin Di dalam hal ini pasti terselip apa-apanya .".

Wa|ah Yok Sau Cu merah padam.

"Lan moay, pikiranmu mulai ngaco lagi ". Tampang Ciok Ciu Lan berubah serius.

"Yok toako, tadi malam aku hanya bergurau sa\a Song loya cu sengaja mengajak kau ke ruang perpustakaan baru menyerah kan batu giok ini kepadamu Tentunya urus an ini pentmg artinya Oleh karena itu febih baik kau pergi ke sana seorang diri Kalau aku pergi bersamamu kemungkinan Hui hujin merasa tidak enak hati apabila ada yang ingin disampaikannya kepadamu Se dangkan aku juga bisa menggunakan waktu ini untuk mencan ibu Siapa pun yang ter lebih dahulu menyelesaikan urusannya maka ia harus ke. penginapan Siau Kiang Lam untuk menunggu ".

Yok Sau Cun merenung sejenak Akhirnya dia merasa apa yang dikatakan gadis itu ada benarnya Dia menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Baiklah Kita putuskan demikian saja.. Apabila aku sampai duluan, aku akan menantimu di penginapan itu ". Ciok Ciu Lan mengembangkan seulas senyuman manis.

"Kalau aku yang kembali lebih dulu, aku juga akan menantimu di sana.".

Selesai berkata, dia langsung membalikkan tubuhnya dan berialan ke arah timur Yok Sau Cun langsung masuk ke dalam kota dan mencari jalan yang disebutkan Ciok Ciu 'Lan tadi Saat itu belum sampai tengah hari. Dari jauh dia sudah melihat papan merek penginapan Siau Kiang Lam Tamu yang keluar masuk pengmapan itu tidak banyak Para pelayan juga tidak ada yang menyambut di depan pintu.

Yok Sau Cun melangkah ke dalam penginapan tersebut Seorang pelayan me nyambutnya Bibirnya mengembangkan senyuman.

"Kongcu ya ingin mencari orang atau mau menginap?" sapanya ramah.

"Menginap Apakah kalian mempunyai kamar yang bersih dan tenang?" tanya Yok Sau Cun.

"Ada, ada Harap Kongcu ya mengikuti hamba," sahut pelayan tersebut.

Dia mengajak Yok Sau Cun masuk ke belakang Setelah melewati halaman terbuka, terlihat tujuh buah kamar yang berderetan Di depannya terdapat kondor panjang yang terletak di bagian yang terpisah Ternyata benar benar bersih dan suasananya juga sangat tenang. 

Yok Sau Cun memilih dua buah kamar yang berdampingan di sebelah timur. Dia |uga mengatakan bahwa ada teman gadisnya yang akan menyusul kemudian Pelayan itu mengiakan berkali-kali. Setelah itu dia mengundurkan diri. Tidak lama kemudian dia kembali lagi membawa teko teh lengkap dengan cawannya Lalu dia juga membawa sebaskom air untuk membasuh muka Kerjanya gesit sekali Pantas saja penginapan itu cukup laris. Rupanya para tamu merasa kerasan menginap di sini.

Yok Sau Cun langsung membasuh wajahnya. Kemudian dia berpesan kepada pelayan tadi bahwa dia akan keluar sejenak, kalau nanti kawan gadisnya datang, harap suruh manunggu di kamar yang telah disediakan.

Pelayan itu menganggukan kepalanya. Orang ini benar benar murah senyum.

"Kongcu ya jangan khawatir Tentang siocia itu, hamba pasti mengingatnya baik-baik ".

'Oh ya, aku ingin menanyakan tentang seseorang kepadamu, entah kau tahu tidak?".

"Siapa yang ingin Kongcu ya tanyakan'?" tanya pelayan itu tanpa lupa mengembangkan senyumannya.

"Orang-orang menyebutnya Wi Yang taihiap .".

Belum lagi kata katanya selesai Pelayan itu sudah menganggukkan kepalanya berkali kali. "Orang yang Kongcu ya katakan adalah Hui loya cu Beliau adalah orang yang sangat terpandang di wilayah Yang Ciu ini Di dalam kota ini, boleh dibilang semua orang mengenalnya Dan anak kecil sampai orang tua. Tentu saja kecuali pendatang baru Kongcu ya ini apakah masih ada hubungan dengan Hui loya cu itu?".

Yok Sau Cun menggelengkan kepalanya perlahan.

"Aku ada sedikit urusan hendak berkunjung ke rumah orang tua itu Entah arah mana yang harus kuambil untuk menuju ke sana?".

"Gedung keluarga Hui letaknya di bagian selatan kota ini Asalkan Kongcu ya sudah sampai di Ki Siang Hong, akan terlihat dua buah pintu besar yang terbuat dan baja hitam Di atasnya tertulis nama Kui Hun Ceng Kongcu ya tidak perlu bertanya tanya lagi," sahut pelayan itu.

"Terima kasih " kata Yok Sau Cun tersenyum.

Sekeluarnya dan pengmapan itu dia lang sung menuju arah selatan Sepanjang jalan dia melihat toko toko besar yang pmtunya terbentang lebar lebar Di jalanan banyak orang yang berlalu lalang Ada yang beriafan kaki ataupun mengendarai kuda Suasana ramai sekali Ternyata Yang Ciu bukan saja terkenal karena perbatasan yang penting tapi juga pemandangannya sangat indah.

Yok Sau Cun berhasil menemukan Ki Siang Hong, rupanya daerah ini merupakan daerah pemJktman mewah Berjalan tidak seberapa jauh. terlihat sebuah gedung besar dan tinggi Di depan pintu sebelah kin dan kanan terdapat dua buah patung singa yang besar.

Di atas undakan batu terpampang pintu besar yang berwarna hitam dan terbuat dan baja Di bagian tengah pintu tersebut terlihat sebuah gelang pengetuk pintu yang berwarna keemasan Di atasnya terpampang pula papan nama yang ditulis dengan tinta emas bertuliskan huruf Kui Hun Ceng. Persis seperti yang dikatakan pelayan penginapan tadi.

Yok Sau Cun menariknarik pakaiannya agar terlihat rapi Setelah itu dia berjalan ke arah pintu dan mengetuk gelang besar tadi Tidak berapa lama kemudian. kedua belah pintu terkuak sedikit Seorang pelayan tua keluar dan dalam dan memperhatikan Yok Sau Cun dan atas kepala sampai k bawah kaki.

"Siangkong mgin mencan siapa'?" sapanya.

Yok Sau Cun merangkapkan sepasang kepalan tangannya dengan sopan. "Cayhe Yok Sau Cun ingin bertemu dengan Hui loya cu ".

"Kedatangan Yok siangkong sungguh tidak tepat. Loya kami sedang keluar dan sampai sekarang belum kembali," sahut orang tua itu.

"Kalau Hui loya cu tidak ada di rumah, cayhe ingin memohon bertemu dengan siociamu. Harap Lao koanke melaporkan sebentar," kata Yok Sau Cun.

Mendengar Yok Sau Cun mgin berlemu dengan nonanya, orang tua itu menatapnya sekilas lagi.

"Siaocia keluarga kami sedang ke Bu Cing Sampai sekarang juga belum kembali," sahutnya.

Kali ini Yok Sau Cun benar-benar mulai jengkel Dia segera tertawa dingin.

"Apakah Lao koanke tidak bersedia menyamp.aikan kedatanganku ini'?" tanyanya ketus.

"Siangkong ingin bertemu dengan siocia kami, tapi siocia benar-benar tidak ada di rumah kau suruh aku bagaimana melaporkannya?' sahut orang tua itu tenang.

"Cayhe justru datang dan Bu Cing Siocia kalian sudah pulang sejak lima hari yang lalu Mengapa kau Lao koanke mengatakan bahwa dia masih belum kembali?".

Wajah orang tua itu memperlihatkan kesan terperanjat.

"Yok siangkong mengatakan bahwa siocia kami sudah pulang ke Sfni lima hari yang lalu?" tanyanya serius.

"Tidak salah," sahut Yok Sau Cun.

"Aneh sekali. Siocia kami benar-benar belum kembali," kata orang tua itu.

"Lao kdanke, kalau begitu harap kau sampaikan kepada Hui hujin bahwa Yok Sau Cun mohon bertemu ".

Orang tua itu tidak segera masuk ke dalam Dia malah bertanya kembali.

"Yok siangkong, tadi kau mengatakan bahwa kau baru 5aja datang dan Bu Cing?". "Tidak salah. Cayhe memang datang dan Tian Hua sanceng".

Mendengar kaiakata Tian Hua sanceng, tanpa terasa wajah orang tua itu langsung berubah.

"Rupanya Yok siangkong baru datang dari Tian Hua san ceng Silahkan masuk dan duduk di dalam " Selesai berkata, cepat cepat dia melebarkan pintu dan mempersilahkan Yok Sau Cun masuk ke dalam.

Tanpa sungkan lagi Yok Sau Cun masuk Orang tua itu merapatkan pintu gerbang kembali dan lalu menunjukkan]alan bagi Yok Sau Cun. Mereka memasuki ruangan kedua sebelah kin kemudian orang tua itu memper silahkan Yok Sau Cun masuk ke ruangan sebelah kanan di mana cuang tamu terletak.

"Yok siangkong harap tunggu seienak Hamba masuk dulu ke dalam dan melapor kan kepada hujin Bila hu|in kami mengijinkan, kami akan mempersilahkan siangkong masuk " katanya.

"Lao koanke, silahkan,' sahut Yok Sau Cun.

Orang tua itu langsung mengundurkan diri Kirakira sepeminuman teh kemudian orang tua itu keluar lagi dan menjura dalam-dalam.

"Lao hujin mempersilahkan Yok siang kong menuju ruangan belakang Harap siangkong ikut dengan hamba ".

Yok Sau Cun berdiri kemudian mengikutl orang tua itu langsung ke ruangan belakang. Di depan sebuah tirai orang tua itu menghentikan langkah kekinya T bphnya membungkuk penuh hormat.

"Lapor Lao hujin, Yok siangkong sudah sampai".

Tampak seorang gadis berpakaian hijau keluar dan berdiri di atas undakan batu. "Lao hujin mempersllakan Yok siangkong masuk," katanya dengan suara merdu.

Yok Sau Cun mendaki tiga tindak undakan batu tersebut Gadis berpakaian hijau sudah menyingkapkan tirai untuknya. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman.

"Yok siangkong, silahkan," katanya sekali lagi.

Yok Sau Cun melangkahkan kakinya ke daiam Dia melihat di tengahtengah cuangan terdapat sebuah kursi besar dengan ukiran yang indah Di atasnya duduk seorang wanita berusia kurang lebih hma puluh tahun Wajahnya putih bersih Kesan yang ditampilkan penuh belas kasih Kalau diperhatikan dengan seksama, ada beberapa bagian dan dirinya yang mirip dengan Hui Fei.

Ciong. Yok Sau Cun langsung tahu bahwa wanita yang ada di depannya ini adalah Hui hujin.

Di belakangnya berdiri seorang gadis berpakaian hijau Yok Sau Cun segera maju dua langkah dan membungkukkan tubuhnya dengan hormat.

"Cayhe Yok Sau Cun menemui hujin ".

Hui hujin memperhatikan Yok Sau Cun dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Saat itu dia juga membungkukkan tubuhnya sedikit dan mengangkat tangannya.

"Yok siangkong, silahkan duduk," katanya.

Ketika dia mengangkat tangannya, terli hatlah semacam kewibawaan dan keanggunan yang sulit diuraikan dengan kata-kata Tidak heran kalau Hui Feng Ciong juga ikut mempunyai keanggunan yang sama'.

Yok Sau Cun mundur satu langkah dan menjura dalam-dalam. "Terima kasih ".

Tanpa sungkan lagi dia duduk di atas sebuah kursi yang ada di sebelah kanan Hui hujin memperhatikan wajahnya yang tam pan Diam-diam dia memuji dalam hati bahwa selain tampan anak muda ini juga sangat sopan serta terpelajar.

Tepat pada saat itu, gadis berpakaian hijau yang tadi meryingkapkan tirai keluar lagi dengan sebuah baki di tangan Di atasnya terdapat seteko teh yang memancarkan bau harum serta sebuah cawannya Gadis itu meletakkan teko dan cawan tersebut di atas meja kecil di samping Yok Sau Cun.

"Yok Siangkong, silahkan minum teh " Gadis Itu menawarkan dengan suara merdu. Yok Sau Cun cepatcepat mengembangkan seulas senyuman.

"Terima kasih kouwnio," sahutnya. Wajah gadis itu menjadi merah seketika.

"Tidak perlu berterimakasih," katanya sambil mengundurkan diri dengan tergesa- gesa.

"Yok siangkong datang dan Tian Hua sanceng?" tanya Hui hujin. "Betul".

"Apakah toako yang menyuruh kau datang menemu] cuo hu (sebutan kepada suami di hadapan orang lain)'?" tanya Hui hujin kembali.

Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya.

"Betul. Cayhe menerima titipan dan Song loya cu agar menemui Hui hujin ".

"Aku baru dengar dari Hui Gi bahwa siau Ei telah kembali dari Bu Cing lima hari yang talu. Apakah benar ada kejadian seperti itu?".

Dia tidak menanyakan terlebih dahulu apa keperluan Yok Sau Cun datang ke Yang Ciu Hal ini dapat dimaklumi, karena sebagai seorang ibu, siapa yang tidak khawatirkan putrinya sendiri?.

"Betul Kalau dihitunghitung sudah ada lima hari Hui siocia kembali ke Yang Ciu " sahutYok Sau Cun.

Mendengar ucapannya, hati Hui hujin menjadi panik Sepasang alisnya bertaut erat Matanya menatap Yok Sau Cun lekat lekat.

"Apakah Yok siangkong saling mengenal dengan siau li?" tanyanya kembali. Mendapat pertanyaan seperti itu, wajah Yok Sau Cun langsung berubah merah padam Terpaksa dia menganggukkan kepalanya. "Betul,".

Melihat tampang anak muda itu diam diam Hui hujin berpikir.

"Anak ini ternyata sangat jujur Setelah merenung sejenak, dia bertanya lagi "DapatKah Yok siangkong menceritakan lebih terperinci kapan sebenarya Siau li berangkat pulang ke Yang Ciu?".

Yok Sau Cun mengingat-ingat sebentar.

"Kira-kira enam hari yang lalu Cayhe bersama Hui Siocia Song Bun Cun heng dan orang orang lainnya memeriksa sebuah gedung yang dicurigai sebagai tempat persinggahan komplotan penjahat Ketika berplsah, cayhe sempat mendengar Ciek congkoan mengatakan bahwa dari Yang Ciu telah datang orang yang menjemput Hui Siocia dan memintanya kembali segera Hari kedua yakni lima hari yang lalu, cayhe bergegas datang ke Tian Hua sanceng karena ada sedikit urusan Tapi cayhe tidak melihat Hui siocia lagi. Cayhe kira dia pasti sudah pulang ke Yang Ciu," sahutnya.

"Kalau Yok siangkong dan siau li saling mengenal, mengapa pada han kedua ketika datang ke Tian Hua sanceng dan tidak melihatnya, Yok Siangkong tidak menanyakan apa apa?" tanya Hui hujin.

Wajah Yok Sau Cun yang tampan merah padam kembali. Dia jadi satah tingkah mendapat pertanyaan seperti itu.

"Pada saat itu cayhe .. tidak menanyakan Belakangan setelah ada terjadi semacam peristiwa, cayhe lupa menanyakan lagi".

Dari nada ucapan Yok Sau Cun, Hui hujin tahu bahwa anak muda itu merasatidak enak hati karena ia bertanya macammacam Pasti karena malu Kemungkinan besar dia diamdiam menyukai Hui Fei Ciong Entah bagaimana riwayat hidup anak muda ini'? Bagaimana ilmu silatnya?.

Meskipun dalam hatinya tersirat berbagai macam pertanyaan, tapi Hui hujin tidak menampakkannya secara menyolok. Tlbatiba matanya membelalak Dia seperti terperanjat msngmgat akan sesuatu yang diucapkan oleh Yok Sau Cun tadi.

"Yok Siangkong mengatakan bahwa belakangan timbul semacam kejadian Kejadian apa yang menimpa Tian Hua sanceng'?".

"Ada orang yang menyamar sebagai Song loya cu. ".

"Apa?" Hui hujin hampir hampir mengira telinganya salah dengar Matanya semakin membelalak "Kau bilang ada yang menyamar sebagai toako ku?".

Ternyata apa yang telah terjadi di Tian Hua sanceng, Hui hujin ini masih belum mengetahuinya. "Betul. Tapi akhirnya samaran itu terbongkar juga," sahut Yok Sau Cun.

"Aku sama sekali tidak tahu ada keJadian seperti itu," kata Hui hujin sambil menatap wajah Yok Sau Cun lekat-lekat. "Yok siangkong, bagaimana sebenarnya keJadian itu, dapatkah kau menjelaskannya secara mendetail".

Kalau diceritakan dari semula memang cukup panjang. Apabila Hui hujin ingin tahu kejadian yang sebenarnya maka cayhe harus memulai dari peristiwa Song loya cu terkena racun Sang kung ji tok ".

Tubuh Hui hujin tergetar Dia terkejut sekali. "Apa? Toako terkena racun Sang kung JI tok".

"Betul" Yok Sau Cun langsung menceritakan bagaimana dirinya ditipu oleh orang jahat untuk mengantarkan sepucuksurat beracun kepada Song toya cu dan bagaimana akhirnya dia berhasil mendapatkan obat penawarnya dan bergegas ke Tian Hua sanceng. Juga mengenai terbukanya samaran Long san it pei yang menyamar sebagai Song loya cu Serta bagaimana mereka akhirnya berhasilkan menyelamatkan Song loya cu dari sebuah goa di daerah Tai Hok Hong Dia menceritakan semuanya dengan hati-hati Hanya saja dia tidak mengatakan bahwa ialah yang telah menolong Song Ceng San.

Hui hujin mendengarkan dengan terkesima, WaJahnya bahkan berubah beberapa kali Sampai Yok Sau Cun mengakhiri ceritanya, dia baru menarik nafas paniang.

"Komplotan penjahat ini sebetulnya dan golongan mana?. Sungguh besar sekali nyali mereka sampai berani mengutik toakoku . ".

Dan kejadian yang menimpa Tian Hua sanceng, mau tidak mau hati Hui hujin menghubungkannya dengan Hui Fei Ciong yang belum kembali juga. Mana Hui Feng Ciong katanya sudah kernbalilima hari yang lalu, yakni hari pertama Tian Hua sanceng tertimpa kejadian tersebut. Hatinya semakin tegang.

"Siau li sampai sekarang belum kembali. Jangan-jangan telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan .. Aih, Cuo hu sungguh keterlaluan. Pergi sudah beberapa lama sampai sekarang belum pulang juga. ".

Hui hujin seperti sedang menggerutu seorang diri Tentu saja Yok Sau Cun tidak enak hati mengatakan apa-apa Tiba-tiba Hui hujin seperti teringat lagi sesuatu persoalan.

Sepasang alisnya terangkat.

"Toakoku meminta Yok siangkong datang ke tempat sejauh ini, entah untuk keperluan apa?" tanya Hui huJin selanjutnya.

"Cayhe mendapat perintah dari Song loya cu untuk mewakili Hui siocia membawa pulang sebatang pedang.".

Hui hujin merasa heran sekali. "Yok siangkong mewakili Siau Li membawa pulang sebatang pedang''.

"Betul" Yok Sau Cun segera mengeluarkan pedang yang disandang di bahunya dan meletakkannya di atas meja kecil Itulah Sit Kim Kiam yang terkenal "Pedang ini tanpa sengaja ditemukan Hui siocia di daerah Cin Ciu Menurut kabar selentmgan pedang ini adalah peninggalan putri Lam Song Man Siau Kuang yakni Man Cen Ku Terbuat dan bahan yang istimewa di mana pedang ini dapatmenyedot berbagai macam logam Itu lah sebabnya banyak orang yang menamakannya Sit Kim kiam Ayah dan putri keluarga Man sangat gigih melawan tentara Kim. Man Cen Ku menggunakan pedang ini sebagai senjata Ket!ka terjadi pertempuran besar-besaran pedang ini terjatuh ke dalam sungai di bawah jembatan Yang ci kio Barubaru ini ditemukan oteh seorang nelayan tanpa sengaja Lalu entah bagaimana akhirnya berhasil didapatkan oleh Hui siocia Benta ini dengan cepat tersebar di seluruh kalangan dunia kangouw Sementara ini banyak orang yang mengincarnya Song loya cu khawatir apabila Hui siocia kembali ke Yang Ciu dan membawa serta pedang ini akan menjadi bahaya bagi dirinya Oleh karena itu, sengaja Song toya cu meminta Hui siocia menyimpannya di Tian Hua sanceng. Setelah dirubah sedemikian rupa oleh Song loya cu sehingga keasliannya tidak terlihat lagi, cayhe diminta mengantarkan pedang ini ke sini.

Dengan demiKian tidak menarik perhatian komplotan penjahat '.

Semakin mendengarkan keterangan Yok Sau Cun hati Hui huJin semakin cemas. Sekarang dia curiga putrinya yang tidak pulang juga ada hubungannya dengan pedang pusaka ini Berpikir demikian tanpa sadar Hui hujin mengeluarkan suara keluhan Dia seperti mengingat sesuatu hal yang penting.

"Yok siangkong tadi mengatakan bahwa enam hari yang lalu kalian memeriksa sebuah gedung yang diduga tempat persinggahan komplotan penjahat Kemudian kau mendengar Ciek congkoan mengatakan bahwa dari Yang Ciu telah datang orang yang ingin menjemput Siau li Pada hari kedua ketika kau bergegas datang lagi ke Tian Hua sanceng, siau li sudah tidak tampak lagi Kau menduga dia sudah kembali ke Yang Ciu Kalau begitu, maksud Yok siang kong Oari Kui Hun ceng telah datang orang yang mgm menjemput Hui Siocia?".

"Betul " Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya "Cayhe memang mendengar Ciek Congkoan berkata demikian Tapi apakah benar ada yang datang dan Yang Ciu, cayhe tidak tahu.".

"Kami tidak pernah mengutus orang menjemput Siau li" kata Hui hujin kembali.

"Tapi, Ciek Congkoan tidak mungkin berdustakan ?" sahut Yok Sau Cun ikut merasa penasaran.

Hui hujin menggelengkan kepalanya.

"Tidak Orang tua itu sangat dipercayai oteh toako " Selesai berkata, dia berteriak dengan gugup. "Siau Yan, cepat panggil Hui Gi masuk kemari'".

Gadis berpakaian hijau yang berdiri di depan tirai segera mengiakan Kemudian terdengar langkah kakinya yang berjalan dengan tergesa-gesa. Tidak berapa lama kemudian dari luar tirai terdengar lagi suara gadis itu. "Lapor hujin, Hui Gi sudah datang ".

"Cepat suruh dia masuk kemari ' kata Hui hujin.

Tirai disingkapkan, Hui Gi melangkah masuk dengan tergopoh-gopoh Dia segera membungkukkan tubuhnya dengan hormat.

"Lao hujin memanggil budak tua Entah ada perintah apa?".

"Apakah dalam keluarga kita ada orang yang pergi ke Bu Cing dalam beberapa hari ini'?" tanya Hui hujin.

"Tidak ada Lao hujin tidak rnemerintahkan orang ke Bu Cing Bagaimana orang kita berani kesana ?" sahut Hui Gi.

"Tapi enam hari yang lalu, terang terangan ada orang kita yang pergi kesana . Ciek Congkoan tidak mungkin satah mengenati orang kita bukan?" kata Hui hujin.

"Enam hari yang lalu Hui Gi berusaha mengingat-ingat. Orang-orang keluarga kita semuanya lengkap Tidak ada satu pun yang berkurang Kecuali Ong Si yang bertugas menggunting rumput di taman belakang Delapan hari yang lalu dia minta cuti karena ibunya sakit Malah dia meminjam satu bulan gaji dengan bagian pembayaran Sampai sekarang belum kembali".

Wajah Hui hujin berubah hebat.

"Apakah Ciek congkoan kenal dengan Ong Si'?" tanyanya.

"Lao hujin masa lupa, tahun lalu Ciek congkoan datang ke Kui Hun ceng kita Dia bertemu dengan Ong Si, bahkan memuji hasil kerjanya yang bagus Akhlrnya Ciek congkoan malah membawa pulang beberapa pot anggrek yang ditanam oleh Ong Si '.

Terdemar suara keluhan dan mulut Hui huJin.

"Apakah kau masih mengingat siapa yang memperkenalkan Ong Si kerja di sini?". "Rasanya loya cu sendiri yang membawanya dariSian li bio," sahut Hui Gi. "Sudah berapa lama dia bekerja di sini?".

"Sudah hampir dua tahun, dia datang pada musim semi tahun lalu.". "Pasti dia'"seru Hu hujin.

"Lao hujin ".

Hui hujm mengibaskan tangannya. "Kau boleh keluar sekarang Di sini tidak ada urusanmu lagi," katanya. Hui Gi memberi hormat sekali lagi.

"Budak tua mengundurkan diri. Dia membahkkan tubuhnya dan mernnggalkan tempat itu.

Sepasang alis Hui hujin kembali bertaut erat. Dia menatap Yok Sau Cun sekilas,.

"Kalau begitu, ternyata memang ada orang yang mengincar pedang Sit Kim kiam Kemungkinan di perjalanan terjadi apa-apa dengan dirinya ..".

Yok Sau Cun merenung sejenak, tiba-tiba dia bertanya.

"Mohon tanya kepada Hui huJin, entah sudah berapa lama Hui loya cu pergi dari Kui Hun ceng?".

Mendengar pertanyaannya yang seperti curiga akan sesuatu, Hui hujin menjadi tertegun seJenak.

"Cuo hu pergi sudah kurang satu setengah bulan Beberapa tahun terakhir ini, biasanya dia jarang keluar pnitu Seandainya pergi, juga tidak pernah berkeliaran sampai demikian lama Eh, Yok siangkong menanyakan kepergian cuo hu sebenarnya karena apa?".

"Satu bulan yang lalu, cayhe pernah melihat Hui loya cu di Kwa Ciu Kalau begitu sejak di Kwa Ciu, Hui loya cu belum pernah kembali ke Kui Hun Ceng.

Mungkinkah. ".

Hui hujin dapat mendengar nada suaranya yang seperti menduga akan sesuatu Sinar matanya semakin tajam.

"Yok siangkong, bila ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, silahkan katakan saja terus terang ".

Yok Sau Cun merenung sejenak.

"Hui hujin tadi sudah mendengar cerita tentang diri cayhe yang ditipu kaum penjahat untuk mengantarkan sepucuksurat beracun kepada Song loya cu bukan'?".

Hui hujin penasaran ingin mendengarkan kelaniutan kata-katanya Oleh karena ttu dia hanya mengangguk kecil tanpa berkata apa apa.

"Isi suat itu justru menyatakan bahwa Hui siocia harus mernbawa Sit Kim kian agar ditukarkan dengan diri Hui loya cu ".

"Apa'?" Tubuh Hui hujin bergetar Suaranya meniadi parau "Dalamsurat beracun itu ditulis bahwa Siau li harus menukar pedang Sit Kim kiam dengan diri ayahnya Kalau begitu, cuo hu sudah terjatuh ke tangan para penjahat itu?'. "Pada waktu itu, penjelasan yang dibenkan oleh Song loya cu adalah menganggap para penjahat itu hanya menggertak saja, maksud mereka agar Song loya cu begitu terkejutnya sehingga tidak sempat berjagajaga terhadap racun yang ditebarkan di atas surat tersebut Maka Song loya cu tidak percaya kata kata daiam surat itu. ".

"Sedangkan toako saja bisa digotong keluar dan Tian Hua sanceng tanpa menyadari apa apa,' malah ditukarnya dengan orang palsu. Hal ini membuktikan kehebatan mereka dalam merencanakan sesuatu Pasiti Cuo cuo hu juga dapat terpedaya oleh mereka," kata Hui hujin.

Meskipun hatinya cemas memikirkan suami dan putrinya, namun cara otaknya bekerja masih demikian tenang Hui hujin memang seorang wanita yang mengagumkan.

'Apa yang Hui hujin katakan memang tepat Ketika itu. berdasarkan nama besar Hui loya cu siapa pun tidak ada yang percaya bahwa dia bisa tertangkap oleh para penjahat Tetapi tsrnyata Hui loya cubelum juga pulang kemari Apalagi pihak Kui Hun Ceng tidakmengirim utusan untuk menyambut Hui siocia, sedangkan Ciek congkoan terangterangan mengatakan ada orang pihak Kui Hun Ceng yang telah datang.

Sekarang Hui siocia juga belum kembali. Dari semua keterangan ini. kalau dipikirkan baikbaik, memang sangat mencurigakan".

Biasanya Hui hujin merupakan orang yang berotak dingin Tetapi masalah ini menyangkut diri suami dan putrinya. Apalagi setelah mengetahui bahwa Tian Hua sanceng telah diselusupi oleh mata-mata Bahkan telah terjadi peristiwa yang mengerikan Untuk sesaat dirinya panik sekali Hampir saja dia menguraikan air mata di hadapan Yok Sau Cun.

"Mereka ayah dan anak pasti mengalami sesuatu yang tidak diinginkan Sekarang apa yang harus kuperbuaP" gumamnya seorang diri. Tiba-tiba matanya membelalak "Yok siangkong, kau mengatakan telah mellhat cuo hu di Kwa Ciu dengan siapa dia pada saat itu?".

"Tidak dengan siapa-siapa Rasanya kedatangan Hui loya cu ke Kwa Ciu juga demi pedang Sit Kim kiam tersebut.".

"Hal ini semakin membingungkan Mengapa ketika berangkat, dia sama sekali tidak mengungkit masalah ini denganku? Eh, Yok siangkon, ketika melihat cuo hu di Kwa Ciu, bagaimana gerak-geriknya?".

"Karena Sit Klm kiam adalah senjata tajam yang tiada duanya, Hui loya cu tidak' ingin pedang pusaka itu terjatuh ke tangan orang jahat Oleh karena itu barulah dia mengunlukkan diri " Kemudian dia menceritakan kejadian yang dialaminya pada sebuah kedai bakmi sepintas selalu.

Hui hujin mendengarkan sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Hek houw sm Cao Kuang Tu sudah terang bukan tandingan cuo hu, tapi Jumlah mereka banyak Sepasang tangan mana mungkin mengalahkan empat pasang tangan " kata Hui hujin sambil menarik nafas panjang.

Bibir wanita setengah baya itu bergerakgerak. dia seperti masih ingin mengubapkan apa-apa, tlba tiba dari luar berkumandang suara seruan Siau Yan.

"Lapor Lao hujin, Siau Cui sudah kembali.".

Siau Cui tentu saja merupakan pelayan yang selalu mendampmgi Hui Fei Ciong, Kalau Hui Fei Ciong menghilang, tentu dia akan ikut menghilang. Sekarang tiba-tiba dia kembali, bukankah merupakan suatu kabar baik yang tidak terduga-duga?".

"Cepat suruh dia masuk cepati" seru Hui hujin gugup.

Tirai bergerak gerak, tubuh Siau Cui yang langsing menghambur masuk, dia langsung menuju ke hadapan Hui huJin dan menjatuhkan diri berlutut di atas lantai.

"Lao hujin, celaka! Siocia ratapnya tersendat-sendat. Jantung Hui huiin terasa berdebar-debar dengan keras.

"Siau Cui, cepat katakan' Apa yang terjadi dengan siocia?" tanyanya cemas.

"Siocia dan budak telah diculik oleh kaum penjahat. Hari ini salah seorang dan para penjahat yang kemungkinan kepalanya memerintahkan agar budak dilepaskan pulang ke rumah supaya bisa mengantarkan surat kepada Lao hujin".

Hui hujin seperti merasakan adanya beban berat yang baru saja dilepaskan aan pundaknya. Apabila penjahat tersebut membiarkan Siau Cui pulang untuk mengantarkan surat, pasti belum terjadi apa apa pada putrinya.

"Siau Cui, kau berdiri dulu dan jelaskan perlahan-lahan " katanya dengan suara lembut.

Slau Cui mengiakan Dia langsung berdiri dan pada saat itulah dia baru melihat Yok Sau Cun yang duduk di atas kursi. Tanpa sadar waJahnya berseri-seri.

"Kapan Yok siangkong datang kemari?" tanyanya,.

Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

"Siau Cui kouwnio, yang penting soal sioclamu, slapa yang menculik kalian dan sekarang di mana dia?".

"Tidak tahu Budak benar-benar tidak tahu ".

Hui hujm melihat keakraban antara Siau Cul dengan Yok Sau Cun, apalagi kecemasan anak muda itu terhadap keadaan putrinya. Diamdiam hatinya semakm senang.

"Siau Cui, bukankah kau bersamasama dengan siocia, mengapa kau bisa tidak tahu sama sekali?" tanya nyonya itu seperti menyalahkan.

"Budak dan siocia samasama dikurung dalam sebuah ruangan yang tidak ada penerangannya sama sekali Hari ini mereka menutup mata budak dengan secarik kain hitam lalu membawaku dengan kereta sampai di depan pintu gerbang kota Setelah itu barulah kam hitam itu dilepaskan dan mereka menyuruhku beiialan lurus untuk kembali ke sini".

Mendengar ceritanya yang tidak berujung pangkal itu tanpa terasa hati Hui hujin semakin bingung Tapi dia memaklumi perasaan Siau Cui yang mungkin masih dalam keadaan terkejut.

"Apakah kalian sempat bertemu dengan loya?" tanyanya kemudian. "Tidak Apakah loya sudah oerangkat untuk menolong kami'?".

"Lebih baik kau ceritakan dulu bagaimana kalian bisa sampai diculik oleh komplotan penjahat itu? Jelaskan dengan seksama biar aku bisa mempertimbangkannya,' kata Hui hujin selanjutnya.

Siau Cui segera mengiakan.

"Hari itu Ong Si tiba-tiba muncui di Tian Hua sanceng dan mengatakan bahwa dia mendapat perintah dan loya untuk menjemput siocia pulang. ".

Hui hujin langsung mendengus dingin. "Hm ,. Ternyata memang dia.".

"Kami langsung naik perahu. Tidak lama kemudian kami tidak sadar lagi.. ".

"Tentu komplotan penjahat itu telah menaruh sesuatu dalam air teh kalian. Benar- benar orang yang tidak tahu mati'" gerutu hui hujin.

"Ketika sadar kembali, kami sudah berada dalam sebuah ruangan yang gelap gulita. Sampai hari ini, salah seorang dan mereka mengatakan bahwa budak boleh dilepaskan pulang Mereka lalu menutup mata budak dengan secank kain hitam dan dinaikkan ke atas kereta Setelah melalui perjalanan kurang lebih setengah harian, barulah budak dilepaskan Ketika tahu budak sudah sampai di pintu gerbang sebelah timur, tanpa menunda waktu lagi budak cepat cepat pulang kemari".

"Tadi kau mengatakan bahwa mereka menyuruhmu pulang untuk mengantarkan sepucuk surat?" tanya Hui hujin.

"Ong Si yang mengatakannya Budak disuruh pulang dan lapor kepada hujin, apabila ingin siocia kembali dengan selamat maka kita harus memberikan Sit Kim kiam , Pasti tidak akan terjadi apa-apa pada siocia Maksud mereka ingin kita menukar pedang tersebut dengan diri siocia,...".

"Hm . Pedang ditukarkan dengan sandera Apakah mereka tidak mengatakan bagaimana cara kita menukarnya dan di mana kita harus menukarnya?" tanya Hui hujin kembali.

"Ong Si mengatakan bahwa besok malam kentungan pertama, budak harus membawa pedang ke taman lama Lui Tang Setelah mereka melihat pedang pusaka itu, maka siocia akan segera dilepaskan," kata Siau Cui selanjutnya.

Hui hujin marah sekali.

"Nyali mereka sungguh besar Berani benar memaksa menukarkan pedang dengan siau Li. Aku akan pergi melihat sebetulnya kaleng rombeng dari mana mereka itu?" serunya kesal.

Siau Cui terkejut sekali.

"Lao hujin, jangan sekali-sekali kau menampakkan diri .'". "Mengapa?".

"Siocia berada dalam genggaman mereka Dengan datangnya Lao hujin mereka mungkin menjadi marah. Kalau sampai. . ".

"Kalau Hui hujin mempercayai cayhe, biar besok malam cayhe saja yang menerttam Siau Cui kouwnio pergi ke tempat yang dijanjikan. Entah bagaimana pendapat hujin?" kata Yok Sau Cun menawarkan diri.

Hui hujin meliriknya sekilas.

"Yok siangkong datang darl tempat yang jauh, mana enak aku merepotkan dengan persoalan pnbadi kami'?".

"Hujin jangan berkata begitu. Komplotan penjahat ini sungguh licik. Terangterangan mereka menculik Hui sioeia untuk ditukarkan dengan Cen Ku kiam Seandainya cayhe tidak mengenal Hui siocia atau hujin sekalipun, cayhe juga tidak bisa ikut campur tangap setelah mengetahui adanya peristiwa ini Apaiagi cayhe mendapat perintah dari Song loya' cu untuk mengantarkan Sit Kim kiam kemari Sedangkan Sit Kim kiam ini adalah benda pusaka yang tiada duanya. Apabila terjatuh ke tangan orang jahat, akibatnya pasti sudah dapat dibayangkan. Lagipula cayhe sudah bertemu dengan Hui siocia beberapa kali, hubungan kami sudah cukup dekat Mana ada alasan untuk tidak menolongnya?" sahut Yok Sau Cun panjang lebar.

Hui hujin melihat pemuda di hadapannya ini sangat bijak dan gagah pula.

Tampaknya ilmu silat anak muda ini hasil didikan tokoh terkenal. Kalau tidak, toako pasti tidak menyuruhnya mengantarkan Sit Kim kiam ke yang Ciu ini, pikirnya dalam hati.

"Betul, hujin Yok siangkong adalah sahabat siocia Malah siocia pernah mengundangnya berkunjung ke Yang Ciu ini,"tukas Siau Cui ikut membenarkan. Mendengar ucapannya, Hui hujin langsung mengerti Jangan-jangan toako menyuruhnya mengantarkan pedang ke Kui Hun Ceng memang sudah direncanakan sejak semula.

Membawa pikiran seperli itu, tanpa sadar Hui hujin tersenyum.

"Keberanian Yok siangkong membela ke luarga kami, aku merasa terharu sekali Te tapi siau li berada dalam genggaman komplotan penjahat itu, sedangkan yang mereka inginkan adalah pedang pusaka tersebut.

Menurut pendapatku, lebih baik kita serahkan saja pedang Sit Kim kiam itu. Yang penting siau li dapat kembali dengan selamat Harap Yok siangkong simpan kembali pedang tersebut Terpaksa merepotkan Yok siangkong besok malam agar pergi ke taman lama Lui Tang bersama Siau Cui untuk menukarnya dengan siau li.".

"Cayhe menurut perintah," sahut Yok Sau Cun Dia mengambil kembali Sit Kim kiam 'yang diletakkan di atas meja kecil tadi dan .disampirkannya kembali di atas bahu "Para penjahat itu telah menentukan waktunya besok malam kentungan pertama Berarti masih ada waktu satu setengah hari Kemung;kinan kaki tangan mereka telah tersebar di 'kota Yang Ciu Cayhe ingin menggunakan waktu satu hari lebih ini untuk mencoba menyelidiki Siapa tahu cayhe berhasil mendapatkan sedikit petunjuk.

Sekarang cayhe mohon diri saja" Yok Sau Cun segera berdiri. Hui hujin langsung menggerakkan tangannya menahan.

"Harap Yok siangkong tunggu dulu. Kau datang dari jauh sebagai tamu. Seandainya harus pergi juga, setidaknya biarkan kami menjamu dulu Yok siangkong sebagai tuan rumah yang baik.".

"Betul, Yok siangkong " Tukas Siau Cui "Selesai makan baru pergi juga masih ada waktu Sekarang juga budak akan ke dapur dan menyuruh tukang masak menyiapkan beberapa macam hidangan." Selesai berkata, dia langsung menghambur keluar.

"Yok siangkong, silahkan duduk kembati Kau dan siau li merupakan sahabat Dengan demikian tidak dapat dianggap orang luar Di dalam rumah setiap hari sudah ada hi dangan yang tersedia, sama sekali tidak me repotkan Kalau kau masih sungkan juga, berarti Yok siangkong sendjn yang meng anggap kami orang asing," kata Hui hujin selanjutnya.

Mendengar desakan itu, Yok Sau Cun tidak enak hati lagi menolak. Terpaksa dia duduk kembali di tempatnya semula.

"Kalau Lao hujin berkata demikian, cayhe terpaksa tidak sungkansungkan lagi" Bari saja selesai berkata, tiba-tiba Yok Sau Cur teringat batu giok yang dititipkan oleh Song loya cu yang mana harus diserahkan langsung ke tangan Hui hujin Dia sendm hampir saja melupakan masalah itu.

"Hui hujin, ada sesuatu yang hampir terfupakan oleh cayhe". Hui hujin menatapnya dengan heran. "Apa itu?".

Yok Sau Cun segera mengeluarkan se buah bungkusan kain dan balik sakunya dan menyodorkannya ke hadapan Hui hujin.

"Sebelum berangkat ke Kui Hun Ceng ini, Song loya cu menitipkan batu giok ini dalam ruangan perpustakaan dan berpesan wanti-wanti agar cayhe menyerahkannya langsung ke tangan Hui hujin Karena mencemaskan masalah menghilangnya Hui siocia, cayhe hampir saja melupakannya".

Hui hujin tertegun mendengar keterangan Yok Sau Cun Dia melirik sekilas ke arah bungkusan kain di tangannya.

'Apakah toako menyuruh Yok siangkong menyerahkannya langsung kepadaku?". "Betul," sahut Yok Sau Cun.