Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 20

 
Jilid 20

Dua orang wanita menyingkapkan tirai tandu tersebut Terlihat wajahHue leng senbu yang diselimuti hawa amarah.

"Kiau Kiau, nyalimu juga tampaknya semakin lama semakin membesar!" bentaknya garang.

Cu Kiau Kiau tidak berani bersuara Gi Hua To segera merangkapkan sepasang kepalan tangannya menjura dalam-dalam Mulutnya tetap tertawa terkekeh-kekeh.

"Lao siu dan te so berkunjung ke Sian LI bio kira kira pada kentungan keempat tadi Ternyata rombongan Sen bu sudah tidalada disana Sekarang tibe tiba kalian malat" yang berkunjung ke tempat ini. Kami mohor maaf karena tidak menyambut dan Jauh, katanya.

"Aku datang kemari untuk mencarl putn ku Kalian tidak bermaksud menahannya bukan ?" tanyaHue leng senbu datar.

"Sebetulnya memang ada niat seperti itu Kong Tong pai menculik orang sekali lagi Kami terpaksa menahan putrimu hanya de ngan maksud mengadakan pertukaran yan^ seimbang," kata Hui hujin.

"Menculik orang?' Mengadakan pertukaran? Apa maksudmu?" tanyaHue leng senbii dengan suara melengking.

"Apakah Yok siangkong bukan dicuhh oleh orang-orang Senbu?" sindir Hui hujin.

"Yok siangkong?" tampaknyaHue leng senbu agak tertegun mendengar ucapan itu "Apakah Yok Sau Cun yang kalian maksudkan?".

"Memang Yok Sau Cun," tukas Gi Hua To.

"Meskipun Yok Sau Cun terkena serangan Hue Yan to milikku. Tapi aku hanya marah karena dirinya yang masih muda sudah sesumbar itu Maka aku sekedar memberinya pelajaran Sama sekali tidak ada niat mencelakainya. Dengan sebutir Hue Leng tan, dia pasti akan sembuh Palingpaling harus beristirahat selama seratus han Kapan aku pernah menculiknya?" sahut Hue teng senbu dengan suara tegas.

"Kata yang enak sekali didengarkan," Hui hujin tertawa dingin "Setelah terkena seranganmu, Yok siangkong terus tidak sadarkan diri. Siapa lagi yang berani menyelinap ke dalam Kui Hun Ceng untuk menculiknya selain kalian orang-orang Kong Tong pai ..? Cu Leng Sian, kau juga termasuk seorang tokoh yang mempunyai nama di dunia kangouw. Kalau sudah berani menculik Yok siangkong, mengapa tidak berani mengakuinya'?".

Saking marahnya Hue leng sen bu tampak rambutnya sampai berdiri legak.

"Hanya sebuah Kui Hun Ceng masih belum pantas dipandang sebelah mata oleh aku, Hue leng senbu Tetapi aku sama sekali tidak menculik Yok Sau Cun Hal ini perlu kalian ketahui dengan jelas!" sahutnya kesal.

Mendengar ucapannya yang serius, tanpa sadar Gi Hua To mengulurkan tangan mengelus lenggotnya berkali-kali.

"Kalau begitu, sungguh mengherankan'" gumamnya seperti kepada diri sendiri. "Ji pek, apakah kau percaya dengan kata-katanya? Kalau bukan mereka yang

menculik Yok siangkong, siapa lagi yang mempunyai kemampuan seperti itu?" tukas Hui hujin.

Hue leng sen bu mendengus marah.

"Orangnya berada di dalam Kui Hun ceng Kalau dia memang diculik orang, masa kalian tidak ada yang melihat siapa yang melakukannya. Tidak tahu sama sekali?".

Belum sempat Hui hujin menyahut, Gi Hua To sudah menukas.

"Kejadian yang sebenarnya begini karena luka Yok siangkong sangat parah dan hanya dapat disembuhkan oleh Hue Leng tan . ".

"Bukankah aku sudah menyuruh siau li mengantarkan Hue Leng tan ke sini?" tukas Hue lang sebu.

Hue Leng tan terangterangan dicun oleh Cu Kiau Kiau dan bukan dia yang menyuruh gadis Itu mengantarkannya Tetapi kata katanya itu dapat dimaklumi Tentu saja dia berusaha menyelamatkan wajah putnnya sendiri.

"Pada saat lao siu dan te so berangkat ke Sian li bio Di dalam Kui hun ceng hanya tersisa keponakan Hui seorang Ternyata dia dijebak oleh lawan dengan siasat Memancing hanmau meninggalkan gunung Lao koanke dan budak Siau Cui tertotok jalan darahnya Ketika lao siu kembali lagi kesini, ternyata Yok siangkong telah diculik orang ".

Hue leng senbu mengeluarkan suara tertawa yang mengandung kemarahan . "Lalu bagaimana menghubungkan penculikan ini dengan diriku?.

"Yok siangkong baru pertama kali berkunjung ke Yang Ciu. Kecuali urusan siau li, yang mana membuat Hue leng senbu ma rah, dia tidak pernah bentrokan dengan siapa pun. Apalagi tokoh dunia kangouw yang belakangan ada di Yang Ciu hanya rom bongan Hue leng senbu saja Kecuali engkau, rasanya masih belum ada orang yang mempunyai nyali sebesar itu berani mengganggu Kui Hun Ceng," sahut Hui hujin.

"Kau kira semua orang takut dengan kebesaran nama Kui Hun ceng?" sindir Hue leng senbu.

"Takut atau tidak bukan urusan yang kita bicarakan sekarang Tapi menurut fakta yang terpapar di depan mata. Hanya engkau yang mempunyai kemungkinan melakukan hal tersebut. Kalau kau mengatakan bahwa bukan engkau yang menculik Yok siangkong, siapa yang bisa mempercayai kata-katamu'?". Mendengar ucapan Hui hujin, kemarahan Hue leng senbu semakin meluap. Dia tertawa lantang.

"Baiklah Anggap sa|a aku yang mencuUk Yok Sau Cun Lalu, apa yang hendak kalian lakukan?" tantangnya.

'lbu, Yok Siangkong kan bukan diculik oleh Ibu'" tukas Cu Kiau Kiau.

"Kalau memang ibu yang menculik, me mangnya kenapa'?" kata Hue leng senbu saking jengkelnya.

"Akhirnya kau mengaku juga," sindir Hui hujin.

Hue leng sen bu tertawa terbahak-bahak. 'Hal ini karena kalian terlalu memaksa. Kalian membuatku marah Jangan kata hanya menculik Membakar rata Kui Hun ceng, aku pun berani melakukannya".

"Tiba tiba terdengar sebuah suara yang bening dan jernih menyahut ucapan Hue leng senbu "Tokoh hebat dari mana yang menaruh dendam demikian dalam dengan orang she Hui sehingga hendak meratakan Kui Hun ceng menjadi tanah?".

Wajah Hui Fei Cin langsung berseriseri. "Tia sudah pulang'" serunya gembira. Kepala setiap orang menoleh ke asal suara tadi Di bawah cahaya fajar yang baru menymgsing terlihat dua sosok bayangan melesat menghampiri Orang yang di depan berdandanan tosu Di depan dadanya teclihat jenggot putih yang menjuntai panjang.

Wajahnya kemerah merahan Tampangnya penuh welas asih.

Yang berbicara merupakan orang yang di belakangnya Dia mengenakan pakaian berwarna hijau Alisnya panjang dan enak di lihat Jenggotnya juga menjuntai namun masih berwarna hitam pekat.

Kedua orang ini merupakan anggota Wi Yang sam kiat yang sudah terkenal Yang berdandan tosu adalah lotoa yang dipanggil Wi Lam cu Dan yang di belakangnya bukan lain dan pada Wi Yang taihiap Hui Kin Siau yang merupakan orang ketiga dan Wi Yang sam kiat.

Gi Hua To segera menyongsong kehadiran mereka Senyuman di bibirnya merekah. "Toa suheng juga sudah datang ".

Hue leng senbu tetap duduk di dalam tandu Wajahnya tetap dingin dan datar.

"Apakah Hui taihiap yang baru datang itu? Barusan aku yang mengucapkan kata kata ingin meratakan Kui Hun ceng menjadi ta nah," katanya mengakui.

Hui taihiap telah sampai di depan pintu gerbang Kui Hun ceng Matanya melink ke dalam tandu. Dia agak terpana melihat siapa yang ada di dalamnya. "Rupanya Hue leng sen bu yang datang Entah apa kesalahan cayhe sehingga membuat Sen bu demikian marah'? Bahkan sampai perlu Senbu berkunjung sendiri ke Kui Hun ceng?" tanyanya bingung.

Biasanya Hue leng sen bu tidak pernah memandang sebelah mata pada siapa pun Tapi yang ada di hadapannya sekarang adalah Wi Yang sam kiat yang namanya sudah nnenggetarkan dunia Bulim Apalagi Wi Lam cu yang namanya menjulang berkal ilmu Tai kit hun jiu (Tangan sakti laksana awan) Dia sudah diakui sebagai jago nomor satu di daerah Kiang Wei Apabila urusan hari ini diperpanjang sehmgga semakin genting. Mungkin dia sendiri tidak sanggup melawan ketiga orang itu.

Hatinya agak khawatir tetapi wajahnya tetap kaku dan dingin Sedikit pun tidak tersirat perasaan gentar diluarnya.

"Mengapa kau tidak tanyakan saja kepada istnmu'?' tanyanya ketus.

Wi Lam cu mengangkat sepasang alisnya Dia menolehkan kepalanya kepada Gi Hua To.

"Loji, apa sebetulnya yang telah teijadi?" tanyanya serius.

Gi Hua To langsung menceritakan sekali lagi peristiwa yang telah terjadi Wi Lam cu mendengarkan dengan seksama Kemudian dia merangkapkan sepasang tangannya dan menjura kepada Hue leng senbu.

"Mungkin telah tefjadi kesalahpahaman dalam masalah ini Bukankah Hue ]eng sen bu sudah mengatakan bahwa dia tidak men culik Yok siangkong? Sen bu adalah seorang tokoh yang disegam dalam dunia Bulim Tentu saja kata-katanya benar," kata Wi Lam cu.

"Memang aku yang menculiknya Aku ingin tahu apa yang akan kalian perbuat”. sahut Hue leng senbu dengan nada tajam.

Wi Lam cu tersenyum simpul.

"Senbu jangan mengikuti hawa emosi 01 dalam dada Di antara partai kita selama ini befum pernah terjadi perselisihan apa apa Untuk apa Senbu berkeras hati memikul tanggung jawab sehingga merusak hubung an kita?".

"Kalian yang memaksa aku berbuat demikian Seumur hidup ini aku belum pernah merasa takut kepada siapa pun Seandainya merusak hubungan pun, aku juga tidak perdyli'" sahut Hue leng sen bu ketus.

Wi Lam cu memperdengarkan suara tertawa yang ringan.

"Senbu berkecimpung di dunia kangouw kali ini, dengan kekuatan yang cukup besar. Tentu saja tidak memandang sebelah mata terhadap Wi Yang pai kami Tetapi setiap masalah harus dilihat awal dan akibatnya Seandainya ada orang lain yang menculik Yok siangkong itu pasti Sen bu tidak demikian bodoh untuk mengakui dan memikul tanggung jawab atas perbuatan orang lain yang tidak ternama Kalau saja urusan ini tersebar luas di dunia kangouw, bukankan Senbu sendiri yang akan menjadi bahan tertawaan'?".

Hue leng sen bu marah sekali.

"Siapa orang dunia kangouw yang berani menertawakan aku?". Sekali lagi Wi Lam cu menjura dalam dalam.

"Meskipun Wi Yang pai hanya sebuah partai di wilayah kecil Tetapi dunia kangouw masih menghargainya sebagai salah satu partai yang cukup terkemuka Tidak ada orang yang berani sembarangan mengeluar kan hinaan Kami juga tidak takut menghadapi urusan apa pun Namun kami mengharapkan pengertian Senbu dalam masalah ini," katanya dengan nada berwibawa.

Sikap Wi Lam cu biasanya paling sabar di antara Wi Yang sam kiat Dia paling segan bentrokan dengan siapa pun Tetapi kata-kata yang diucapkannya barusan benar benar tegas. Hue leng senbu mendengus dingin.

"Baiklah Memandang engkau Wi Lam cu, sekali lagi aku tegaskan bahwa bukan pihak Kong Tong pai yang menculik Yok Sau Cun'" Selesai berkata, dia mengibaskan tangannya kepada anak buahnya "Mari kita berangkat'".

Dua di antara empat pelayan wanitanya segera menutup kembali tirai tandu Selelah itu mereka langsung berangkat meninggalkan tempat tersebut Hui Km Siau merangkapkan sepasang tangannya dan menjura.

"Sen bu, selamat jalan Maafkan orang she Hui yang tidak dapat mengantar lebih jauh lagi," katanya sebagai basa basi.

Cu Kiau Kiau tadi datang dengan menunggang kuda. Sekarang dia bergegas loncat ke atas kuda dan mengikuti belakang tandu Cian Poa Teng beserta delapan orang laki- laki berpakaian hijau yang bertindak sebagai pengawal ikut melesat pergi.

Gi Hua To baru maju satu langkah dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat. "Mengapa Toa suheng ikut turun gunung kali ini?" tanyanya.

Wajah Wi Lam cu menjadi serius. "Keadaan dunia kangouw sudah semakin kacau. Dimana-mana terjadi kerusuhan. Apalagi tidak lama lagi akan diadakan pertemuan Ce po tan goan. Hal ini lebih penting lagi. Dengar-dengar setiap partai besar telah mengirim utusannya untuk menghadiri pertemuan tersebut. Ciang bunjin juga sudah menerima undangan yang serupa. Oleh karena itu, dia sengaja menemui Qi heng agar dapat merundingkan masalah ini," sahutnya.

Semua orang kembali ke dalam rumah. Hui Kin Siau mengajak kedua suhengnya masuk ke ruang perpustakaan untuk berbincang-bincang. Sedangkan Hui Fei Cin mangikuti ibunya ke ruangan betakang.

"Ibu, anak ingin pergl mencari Yok siangkong," katanya tiba tiba. "Sekarang ini kita tidak mempunyai petunjuk sama sekali. Kemana kau hendak mencarinya'?" tanya Hui hujin.

"Anak dan Siau Cui akan menyamar lalu masuk ke dalamkota Mungkln kita bisa mendapatkan sedikit petunjuk Siapa tahukan '?".

Hui huJin tahu sifat anaknya sangat keras „ Apa yang diinginkannya pasti akan dilaks sanakannya meskipun dilarang.

"Ayahmu sudah pulang Pasti dla bisa menemukan jalan untuk mencari jejak Yok slangkong. Adatmu selamanya keras sekali Baiklah, boleh saja apabila kau ingin mengajaK Siau Cui berjalanjalan di luaran Tetapi jangan pergi terlalu jauh," kata wanita itu akhirnya.

Wajah Hui Fei Cin langsung berseri-seri mendengar ucapan ibunya.

"Ibu sudah setuju. Sekarang juga anak akan mengganti pakaian. Siau Cui, hayo ikut aku!" katanya.

Tidak lama kemudian, Hui Fei Cin dan Siau Cui sudah menyamar dengan dandanan dua orang pemuda Yang satu sebagal pelajar. yang satu lagi menyamar sebagai bocah yang membawakan buku bagi tuan mudanya Dengan menyelinap, mereka meninggalkan Kui Hun Ceng Hui hujin hanya dapat menggelengkan kepalanya menyaksikan kenekatan putnnya itu.

Bintang dan rembulan enggan menampakkan diri Mereka bagai putri pingitan yang malumalu dan mengmtip dari balik tirai Langit gelap Dari jalanan yang menembus antara Yang Ciu dan Cin ciu tampak beberapa sosok bayangan tubuh manusia.

Mereka sedang berlarilan dengan cepat menuju Cin ciu.

Meskipun langit gelap dan rembulan menyembunyikan diri, tetapi batu-batu kenkil di sepanjang jalan yang berwarna putih bercahaya berkilauan dan dapat dijadikan petunjuk jalan. Pada jaman dahulu, batas antara suatu perkampungan dengan perkampungan lainnya, ditaburi bebatuan putih di sapanjang jalan. Jadi meskipun hari gelap. Batu putih itu dapat dibuat patokan bahwa kita sudah mencapai perkampungan yang lain. Apabila jalanan telah mencapai tanah biasa, itu berarti bahwa kita sudah memasuki perhampungan tersebut dan keluarnya kita akan menemukan bebatuan putih kembali.

Beberapa sosok bayangan yang sedang berlari itu merupakan tokoh Butim yang berilmu tinggi Di daerah perbukitan saja mereka dapat larl dengan cepat, sedangkan jalanan bebatuan ini sedemikian rata, dapat dibayangkan kecepatan mereka. Tidak berapa lama kemudian, mereka sudah melesat di dekat kota Cin Ciu.

Dua orang yang berlari paling depan berpakaian hitam. Mereka menghentikan langkah kakinya tanpa sadar. Beberapa orang yang mengikuti dari betakang, otomatis mengikuti gerakan mereka. Begitu berhenti, baru dapat terlihat Jelas bahwa jumfah semuanya ada empat orang. Seluruhnya berpakaian hitam dan apabila diperhatikan dari bentuk tubuh mereka, tidak diragukan lagi kalau keempatnya adalah wanita.

Orang yang becjalan paling depan memifiki bentuk tubuh paling indah. Pinggangnya langsing sekaii Saat ini dia membalikkan tubuh dan bertanya dengan suara rendah.

"Hu momo, kau sudah menggendongnya begttu lama apakah kau sudah merasa letih?".

Orang kedua yang bentuk tubuhnya lebih pendek dan agak gemuk Rambutnya sudah memutih Tetapi waktu itu, rambutnya sudah ditutupi selendang hitam sehingga tidak terlihat Kedua tangannya sedang menggendong seseorang. Terdengar dia tetawa kecil”.

"Ji siocia benar-benar menganggap Lao pocu sudah tua sampai delapan puluh tahunan. Beban seringan ini, biarpun ditambah satu lagi masih belum bisa melelahkan aku, Lao pocu.".

Ji siocia yang bertubuh tinggi semampai dan berpinggang langsing melink sekilas kearah orang dalam gendongan nenek itu.

"Hu momo, kau hacus berhati-hati Dia .".

Orang yang dipanggil Hu momo tidak memberi kesempatan kepada Ji siocia untuk berkata lebih lanjut.

"Ji siocia tidak usah khawatir Lao pocu sendiri mempLJnyai pertimbangan, tidak mungkin menyakiti Yok siangkong sedikit pun juga.".

Ji siocia hanya berdehem sedikit, dia titiak berkata apa-apa lagi. Tubuhnya membalik dengan perlahan. Tidak tampak dia melakukan gerakan apa-apa, tahu-tahu tubuhnya sudah melesat di udara melintasi tembok kota.

Vu momo yang bertubuh gemuk pendek merutulkan sepasang kakinya Tangannya merggendong seseorang, namun gerakannya amat nngan. Gerakannya lebih mirip anal panah yang meluncur dan melayang meievati tembok kota kemudian nsendarat turunlaksana selembar daun.

Dua orang gadis berpakaian hitam segera meigkuti gerakan mereka Gerakan mereka juga sangat ringan Hal ini membuktikan bahwa keempat orang itu rnemiliki ilmu yang cukup tinggi.

Ji siocia mengibaskan tangannya kepada orang orang yang mengikutt dari belakang Oia melesat terlebih dahulu di depan Orang yang lam mengikulinya dengan ketat Sebentar saja mereka sudah menghilang dalam kegelapan malam.

Cin Ciu, merupakan wilayah penting dalam jalur perjalanan menuju ke utara ataupun selatan Meskipun kotanya sendiri tidak seramai Yang Ciu, tapi suasananya juga sangat ramai Saat itu kurang lebih kentungan ketiga Di daerah yang agak ramai masih terlihat adanya penerangan seperti lentera.

Empat sosok bayangan sangat cepat menyelmap di antara celahcelah gelap rumah penduduk Dalam sekejap mata, mereka sudah sampai di jalan Nan Kuang dan menyelusup ke dalam gang yang berada di belakang jalan lersebut.

Setelah melintasi sederetan atap rumah penduduk, mereka melayang turun di taman bagian belakang pengmapan Tiang An Di sana merupakan halaman lerbuka yang mempunyai dua deretan kamar Di depan setiap kamar terdapal beberapa pot bungabungaan yang indah Suasananya sangat tenang.

Tiga buah kamar yang berada di bagian ujung sudah diborong oleh Ji siocia Ketika Ji siocia melayang turun di lempat tersebut tampak dua sosok bayangan langsing yang lain segera menyongsongnya. Mereka lang sung membungkukkan tubuhnya ketika berhenti di depan Ji Siocia.

"Ji siocia sudah kembali?' sapa salah satunya. Ji siocia mengibaskan tangannya.

"Cepat masuk dan nyalakan lenlera'" perintahnya.

Ketika sedang berbicara, Hu momo dan dua orang lainnya juga sampai di tempat tersebut Dua orang gadis yang ladi menyambutnya sudah masuk ke dalam kamar dan sekCJap mata terlihat sinar yang cukup terang.

Ji siocia berjalan di dspan Hu momo yang menggendong orang mengikuti dari belakang Mereka masuk ke dalam kamar Hu momo segera meletakkan orang yang digendongnya di alas tempat tidur Karena di dalam kamar sudah ada penerangan, maka terlihai waiah mereka masing masing ditutupi sehelai cadar hilam yang tipis Itulah sebabnya wajah mereka tidak dapat terlihat jelas.

Selelah masuk ke dalam kamar, Ji siocia segera mengulurkan tangannya menarik cadar penutup wajahnya Tindakannya segera dnkutioleh Hu momo dan kedua gadis yang lainnya Coba tebak siapa kira kira orang yang dipanggil Ji siocia itu? Tidak bukan tidak lain dan pada Tiong Hui Ciong yang berwajah dingin dan datar.

Hu momo adalah Hu toanio Sedangkan yang lainnya adalah empat gadis pelayan Tiong Hui Ciong yakni Cun Hong, Sia Ho, Ciu Suang, Tung Soat Biasanya Tiong Hui

,Ciong sangat dingin dan kaku Tapi saat ini dia melihat Cun le nya sedang plngsan Wajahnya merah padam seperti daging yang diletakkan di atas bara api Wajah gadis itu langsung menyiratkan kesedihan yang dalam Oia menolehkan kepalanya dan me'merintahkan.

"Cun Hong, cepat ambilkan sebaskom air!".

Cun Hong segera mengiakan Dengan langkah tergesa-gesa dia keluar dan kamar itu dan mengambilkan sebaskom air Dalam sekejap mata dia masuk kembali lalu mele takkan baskom berisi air di samping Tiong Hui Ciong. Tiong Hui Ciong mengambil sebuah han duk kecil yang direndam datam air lalu diperasnya Digunakannya handuk tersebut untuk membasuh wajah Yok Sau Cun Wajah dan kenmg pemuda itu panas membara bagaikan api Tiong Hui Ciong tidak befani membasuh wajah anak muda ilu lamalama, karena dia takut luka yang didenta anak muda itu akan tambah parah apabila terkena air.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah benda bulat yang tampaknya dari lilin Dia me mencet benda tersebut dan di dalamnya terlihat sebutir pil yang terbungkus kapas Begitu lilln tadi hancur, orang di dalam ruangan tersebut bisa mengendus bau dan harum menyegarkan.

Dengan halihati Tiong Hui Ciong membuka kapas pembungkusnya Pil itu berwarna hitam pekat namun agak berkilau dan besarnya seperti buah lengkeng. Dia melihat muiut Yok Sau Cun yang terkatup rapat. Hatinya menjadi serba salah' Jangan kata obat itu sebesar buah lengkeng, meskipun lebih kecil tetapi dengan mulut tertutup rapat seperti itu bagaimana dia bisa mencekokinya.

Hu toanio memperhatikan obat yang dipegang oleh Tiong Hui Ciong.

"Ji siocia apakah itu Soat son wan yang diramu oleh Lao sin sian (Dewa tua) kita?". Tiong Hui Ciong menganggukkan kepalanya.

"Betul Obat ini diramu oleh kakekku dari seratus macam lebih tumbuhan Seperti Soat lian ci (Biji teratai salju) Soat som (Jinsom yang tertanam di bawah timbunan salju dan biasanya sangat langka karena berumur ratusan tahun) Maka jadilah Soat som wan ini. Sekarang sisanya hanya sembilan butir. Kami kakak beradik mendapat bagian seorang satu butir" Dia melirik lagi ke arah Yok Sau Cun yang terbanng di atas tempat tidur. "la terserang Hue Yan to nya Hue leng senbu Racun api sudah menjalar ke hati. Kecuali Hue Leng tan milik Hue leng senbu, hanya Soat som wan ini yang dapat rnenghilangkan racun api di dalam tubuhnya ".

Hu toanio mengedipkan matanya kepada empat pelayan Tiong Hui Ciong.

"Harap kalian berempat keluar sebentar Lao pocu ada perkataan yang ingin disampaikan kepada Ji siocia," katanya.

"Entah urusan apa yang ingin toamo katakan sehingga kita empat bersaudara tidak boleh mendengarkannya?" tanya Cun Hong.

Hu toanio tersenyum simpul. "Rahasia tidak boleh disebarkan ".

"Hu morno ada perkataan yang ingin disampaikan, kalian keluarlah sebentar," kata Tiong Hui Ciong.

Cun Hong memindahkan baskom bensi air ke atas meja Kemudian dia mengajak ketiga saudaranya keluar dan kamar tersebut. "Hu momo, kalau memang ada yang ingin kau sampaikari, katakanlah sekarang," kata Tiong Hui Ciong setelah keempat pelayan nya meninggalkan kamar itu.

"Yok siangkong sedang lidak sadarkan diri Mulutnya terkatup rapat Pasti demikian pula giginya Mungkin tidak mudah mencekekkan obat itu kepadanya," kata Hu toanio dengan nada suara rendah.

'Lalu bagaimana baiknya?" tanya Tiong Hui Ciong.

"Terpaksa obal itu digigit sampai hancur kemudian mendorongnya dengan hawa murni. Hanya dengan cara itu obat itu baru 'bisa tertelan dan memperlihatkan reaksinya ".

Tiong Hui Ciong mengerli apa yang dimaksudkan oleh Hu toamo Wajahnya menjadi merah padam seketika Dia juga merasa agak bimbang.

"Ini ".

'Bukankah Ji siocia sudah mengangkat saudara dengannya? Yang harus dilakukan saat ini adalah menolong jiwanya Seorang cici menolong jiwa adiknya mecupakan kewanban Dan itu merupakan satusatunya jalan," kata Hu toanio kembali dengan nada berbisik.

Wajah Tiong Hui Ciong semakin merah. Dia irierasa jengah sekali. "Bukannya aku tidak sudi, tetapi aku iTierasa agak takut.. ".

Hu Toanio tersenyum simpul.

"Apa yang perlu ditakutkan? Asal kau tidak menganggapnya sebagai seorang laki laki, maka kau tidak akan merasa takut lagi ".

Sikap Tiong Hm Ciong selama ini dmgin dan keras Mana pernah dia msngenal arti kata takuP Tetapi kali ini dia merasa malu sekali. Mengingat bahwa di.a harus merrcekoki Yok Sau Cun obat dengan cara mulut saling bertempelan, hatinya jadi berdebar tiada menentu Tampaknya dia menjadi serba salah.

"lni. ".

"Malam ini Ji siocia sudah mengerahkan segala macam akal dan lenaga untuk menculik Yok siangkong dari Kui Hun ceng Semua ini demi menyelamatkan selembar nya wa Yok siangkong agar tangan sampai Gi Hua To bocah tua itu menusuknya dengan jarum emas Apabila hal ilu terjadi makaYok siangkong akan cacat seumur hidup Sekarang kita sudah berhasil membawanya ke man Ji siocia, mengapa kau malah meniadi ragu'5" kata Hu toanio selanjulnya.

Tiong Hui Ciong masih merenung Hu toanio menurunkan nada suaranya sehingga menyerupai bisikan. 'Lao pocu keluar sebentar Ji siocia jangan ragu lagi " Tanpa menunggu jawaban dari Tiong Hui Ciong, nenek tua itu langsung melangkah keluar. "Hu momo.. " Tiong Hui Ciong berteriak memanggil.

Hu toanio sudah sampai di depan pintu, dia membalikkan tubuhnya menatap gadis itu sekilas.

"Menolong orang seperti memadamkan kebakaran Lebih baik Lao pocu keluar saja," kalanya sambil melangkah keluar dan msrapatkan pintunya kembali.

Tiong Hui Ciong mengerti nenek itu takut dirinya merasa malu maka sengaja keluar dan kamar tersebut Sekarang di dalam kamar hanya linggal dia berdua dengan Yok Sau Cun Dia msrasa seluruh tubuhnya ikut panas membara.

Dia menoteh kepada Yok Sau Cun Mata pemuda itu masih terpejam rapat Rona walahnya merah sekali Bibirnya kering sampai kuhtnya mengelupas Hatinya merasa tidak tega Dia tidak memperdulikan lagi batas antara lakflaki dan perempuan.

Ditelannya obat Soat Som wan ke dalam mulut kemudian dikunyahnya hingga hancur. Setelah itu dia berJalan ke arah tempat tidur dan membungkukkan tubuhnya Tangannya memegang kedua pipi Yok Sau Cun Kepalanya sendiri ditundukkan sedemikian rupa agar bibirnya dapat menempel di bibir Yok Sau Cun Setelah itu lidahnya mendorong obat yang sudah hancur tadi supaya dapat dimasukkan ke dalam mulut anak muda tersebut Kemudian dia menyalurkan hawa murninya membantu agar obat itu dapat turun ke dalam perut lewat kerongkongan Setelah selesai baru dia menegakkan tubuhnya kembali.

Seumur hidup dia belum pernah demikian mesra dengan seorang pemuda Bahkan du duk berdampingan sambil berpegangan saja tidak. Meskipun keadaan Yok Sau Cun sedang tidak sadarkan diri, perasaannya tetap terlena dan pikirannya agak melayang- layang Di dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan yang sulit diuraikan Dia menatap Yok Sau Cun lekat-lekat.

"Adik Cun, semoga kau tidak menyianyiakan perasaan cici ini.. ".

Tiba-tiba pintu kamar terbuka Hu toanio melongokkan kepalanya. Wajahnya langsung mengenput karena tersenyum lebar ' "Ji siocia, apakah obatnya sudah diberiKan kepada Yok siangkong?".

Wajah Tiong Hui Ciong langsung merah padam Namun dia menganggukkan kepalanya Hu toanio segera menyelinap ke dalam.

"Bagus. Ji siocia sudah berkutat sepanjang malam Sekarang lebih baik istirahat sejenak Di sini biar Loa pocu saJa yang menjaga," katanya kemudian.

Tiong Hui Ciong menoleh kepada Yok Sau Cun. "Aku tidak lelah " sahutnya.

Tentu saja Hu toanio mengerti perasaannya Meskipun obat Soat Som wan sudah dicekokkan kepada pemuda itu, namun dia masih belum menyadarkan diri Bagaimanapun Ji siocia tidak bisa tenang sebelum melihat hasilnya.

Aih., inilah anehnya sikap para gadis. Pada harihan biasa, Ji siocia sangat kaku dan dmgin. Sepertmya para pemuda di dunia im tidak satu pun yang menarik perhatiannya Tetapi begitu bertemu dengan kekasih pujaan hati, sifatnya berubah lembut seperti air Dia berubah menjadi seorang gadis yang lemah dan bermuram durja.

Sebetulnya hal ini tidak patut diherankan. Pemuda tampan dan gagah seperti Yok Sau Cun memang sulit ditemui.

Seandainya usiaku lima puiuh tahun lebih muda dari sekarang, mungkin aku juga akan jatuh hati sampai lupa makan dan lupa tidur, pikir Hu toanio dalam hati.

Bibir Hu toanio yang sudah mulai ber keriput mengulumkan seulas senyuman Cepatcepat dja menarik sebuah kursi dan meletakkannya di samping tempat tidur.

"Ji siocia, kalau begitu, duduklah di siru," katanya.

Oia paham sekali sifat Ji siocianya Di depan orang lam, dia tidak mungkin duduk di atas tempat tidur. Seandainya dia berbuat demikian, bukankah terlalu menyolok sekali kelihatannya?.

"Terima kasih," sahut Tiong Hui Ciong.

Dia duduk di atas kursi yang disediakan oleh Hu toanio. Sepasang matanya yang in dah sama sekali tidak berkedip menatap wa|ah Yok Sau Cun Pemuda itu meminum Soat Som wan. Obat ini merupakan penawar racun yang sangat mujarab. Ternyata tidak sampai sepemmum teh, reaksinya sudah terlihat Kedua pipinya yang tadi merah padam seperti kepitmg rebus mulai mereda Setelah lewal sejenak lagi, matanya muiai bergerakgerak dan akhirnya membuka.

Hati Tiong Hui Ciong gembira sekali melihat keadaannya Dia langsung berdiri dan menyapanya dengan lembut.

"Adik Cun, kau sudah sadar !".

Sekali lihat saJa, Yok Sau Cun sudah tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah Tiong Hui Ciong Oia menegakkan tubuhnya dan berusaha untuk bangkit. Siapa nyana begitu dia bergerak, serangkum rasa sakit yang tidak terkatakan langsung menyerang Dia tidak sanggup duduk. Mulutnya mengeluarkan suara keluhan dan wajahnya menjadi pucat Oi keningnya terlihat kenngat dingin bercucuran.

Perlu diketahui bahwa derita luka yang dialami Yok Sau Cun adalah karena serangan Hue Yan to yang dikuasai Hue leng senbu Sedangkan Hue Yan to merupakan salah satu ilmu yang paling hebat dalam Heu bun (Perguruan api) Selain tenaga dalam yang mengandung unsur api dapat membakar tubuh lawan, ilmu ini juga termasuk ilmu telapak tangan yang hebat.

Coba bayangkan saja, ilmu ini dinamakan Hue Yan To, berarti serangan telapak tangan ini mempunyai ketajaman seperti sebilah pisau dan sangat tajam dan dapat melukai isi perut lawannya.

Oleh karena itu, orang yagn terkena se rangan Hue Yan to akan mengalami dua macam luka Yang pertama sudah pasti luka bakar karena itmu ini memang mengandung unsur api Yang kedua luka seperti sayatan pisau karena ilmu ini juga mengandung ketajaman seperti pisau.

Hui huJin sudah memberi obat Pat pao ci giok tan kepada Yok Sau Cun Obat ini merupakan penyembuh luka yang sangat mujarab dari Wi Yang pai Meskipun luka yang didenta karena unsur api Hue Yan to tidak dapat disembuhkan namun dapat mengurangi rasa sakit akibat ketajaman telapak tangan Hue lang senbu. Seharusnya obat ini sangat tepat dibenkan kepada pemuda tersebut.

Harus disayangkan cara pemberiannya yang salah Hui hujin membuka mulut Yok Sau Cun lalu memasukkan obat itu begitu saja Dia tidak menyalurkan hawa murni un tuk membantu obat itu turun ke dalam perut. Pada saat itu dada Yok Sau Cun panas seperti bara Maka dia jatuh tidak sadarkan diri Jadi obat yang diberikan oleh Hui hujin hanya berhenti di kerongkongannya saja dan tentunya obat itu tidak dapat memberikan reaksi yang memuaskan.

Sampai Tiong Hui Ciong perintahnya ,Soat Som wan Dia menyalurkan hawa murninya langsung ke mulut Yok Sau Cun Dengan demikian Pat poa ci giok tan ikut meluncur turun ke dalam perutnya.

Di dalam Soat Som wan terkandung Soat lian yang berusia nbuan tahun Soat Som yang berusia ratusan tahun Sernuanya tumbuh di daerah beriklim dingin Memang me|fupakan obat yang tepat untuk menyembuh^an luka akibat racun api atau Tai Yang sinkang sekalipun Bagaikan api yang tersiram air, pasti akan memperlihatkan reaksinya perlahan-lahan lalu akhirnya padam.

Pingsannya Yok Sau Cun justru akibat bagian dalam tubuhnya terbakar hebat Begitu panasnya sehingga dia tidak sanggup menahan dan tidak sadarkan diri Ketika hawa panasnya berkurang, otomatis dirinya tersadar kembali Tetapi bukan berarti bahwalukanyasudah sembuh. Palingtidak luka akibat racun api didalam tubuhnya masih belum pudar semua Demikian pula dengan luka bekas hantaman telapak tangan yang menggetarkan isi perutnya.

Soat Som wan memang obat untuk menyembuhkan racun api, tetapi bagian dalam yang sudah terbakar akibat panasnya tidak dap^at disembuhkan dalam waktu singkat Begitujuga Pat pao ci giok tan, obat ini untuk menyembLihkan luka luar maupun dalam Tetapi lebih berkhasiat untuk luka luar Jadi isi perut Yok Sau Cun yang sudah tergetar tidak mudah disembuhkan oleh obat ini.

Yok Sau Cun hanya sempat mengangkat kepalanya lalu terkulai kembali Lagipula walahnya berubah menjadi pucat bagaikan se lembar kertas, kenngat dingin menetes deras dari keningnya Kali ini, Tiong HU! Ciong yang melihat keadaannya meniadi panik sekali.

"Adik Cun, bagaimana keadaanmu'?" tanyanya cemas. Sebelah tangan Yok Sau Cun mendekap di depan dadanya Mulutnya masih juga mengerang. Nafasnya lemah sekali.

"Tidak apa-apa Ciong cici, apakah kau yang menyelamatkan Siaute?" Suaranya diucapkan dengan susah payah Tentunya dia berdusta mengatakan dirinyatidak apa- apa. Dia hanya tidak sampai hati membuat Tiong Hui Ciong semakin khawatir.

Tiong Hui Ciong teringat kembali kejadian tadi. Wajahnya meniadi merah padam. Dia menganggukkan kepalanya sedikit.

"Lukamu cukup parah, baru saja tersadar, lebih baik kau rebah saja dan jangan banyak bergerak. Apakah lukamu sakit sekali?".

Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya dengan lemah.

"Siaute terkena serangan Hue Tan tonya Hue leng senbu Mungkin tulang dan urat nadi di bagian dada telah tergetar putus . ".

"Jadi kau terluka oleh Hue Yan to. Aikh, aku sudah mengatakan kepadamu supaya jangan menyalahi orang itu, kau justru tidak mendengar nasehat cici. Sekarang kau jangan bicara dulu Biar cici periksa lukamu sebentar," kata Tiong Hui Ciong.

Sekarang dia tidak memperdulikan rasa malu lagi Dia langsung duduk di samping tempat tidur dan perlahan-lahan menying kapkan pakaian Yok Sau Cun Matanya me neliti dengan seksama Tampak di bagian dadanya yang putih bersih terdapat bekas luka yang panjangnya kirakira setangah cun dan agak lebar Warna kulit daerah terluka sudah berubah meriJadi ungu kehitam hitaman.

Hati Tiong Hui Cfong terkejut sekali Matanya mulai mengembang air.  "Teganya dia turun tangan sejahat ini kepadamu." gumamnya dengan suara lirih.

Tiong Hui Ciong mengulurkan jemannya yang lentik dan indah lalu menekan di pinggang luka Yok Sau Cun.

"Kalau ditekan seperti ini sakit tidak?".

Perhatiannya begitu dalam Kasih sayang tersirat nyata Persis seperti seorang istn yang mengkhawatirkan keadaan suaminya Hu toanio yang menyaksikan semuanya diamdiam menganggukkan kepala Dia be1 narbenar tidak menyangka Ji siocia bisa begitu lembut dan jatuh cinta sedalam ini.

"Tidak, tidak sakit Tadi siaute berusaha untuk duduk maka rasa sakit yang tidak terkirakan Apakah tulang dan urat nadi siaute telah tergetar putus semua?" Suara Yok Sau Cun masih demikian lemah sehingga kata-katanya hampir tidak terdengar kecuali oleh Tiong Hui Ciong yang duduk di sampingnya.

Mendengar pertanyaannya yang lucu, tanpa sadar Tiong Hui Ciong tertawa ter bahak-bahak. "Kau benar-benar seperti bocah cilik Kalau tulang nadimu sudah putus, ditekan sep.erti ini masa kau tidak menjerit kesakitan".

'Tetapi siaute tadi merasa dada ini sakit Sekali dan tidak ada tenaga sama sekali," kata Yok Sau Cun selanjutnya.

Hu toanio maju satu langkah dan menukas dengan ucapan pemuda itu.

'Ji siocia Lao pocu pernah mendengar bahwa Sost Som wan bukan saja dapat menyembuhkan luka akibat racun api, tetapi juga bisa membantu memulihkan kesehatan. Meskipun racun api dalam tubuh Yok siangkong sudah pudar tetapi luka dalamnya masih belum Rasanya memerlukan waktu yang cukup lama untuk sembuh seperti sedia kala.".

Sepasang alis Tiong Hui Ciong bertaut erat.

"Memang betul. Dia bukan saja terbakar oleh Hue Yan to, tetapi isi perutnya juga tarhantam oleh ketajaman ilmu tersebut Kalau dilihat dari luar memang tampak hanya bagian kulitnya sa|a yang terluka namun kenyataannya luka dalam yang didenla adik Cun tidak kalah parahnya Lagipula ilmu Hue Yan to ini sangat istimewa Luka yang diakibalkan tidak dapat disamakan dengan luka hantaman telapak tangan lainnya.

Kalau yang laln masih bisa diobati dengan saluran hawa murni diri sendiri, tetapi Hue Yan to tidak. Paling tidak membutuhkan waktu'kurang lebih setengah bulan baru dapat disembuhkan .".

"Itulah, namun Lao pocu tenngat suatu cara yang mungkin dapat menyembuhkan luka Yok siangkong lebih cepat dan pada sekarang," tukas Hu toanio.

Tiong Hui Ciong langsung berserisen mendengar keterangan Hu toanio. "Benarkah'?".

"Tentu saja benar." Hu toanio tersenyum simpul. "Memangnya Lao pocu mempunyaf beberapa buah batok kepala sehingga berani mendustai Ji siocia?".

Tiong Hui Ciong mendelikkan matanya pura-pura marah.

"Kalau begitu, cepat katakan. Cara apa yang dapat menyembuhkannya lebih cepat dari pada sekarang?".

Sekali lagi Hu toamo tersenyum simpul.

"Ji Siocia, coba kau pikirkan, Soat Som wan merupakan obat dewa yang sangat berkhasiat .".

Tiong Hui Ciong mulai tidak sabar.

"Hu momo, sudah . Jangan cerita panjang lebar mengenai Soet Som wan lagi. Cepat kau behtahu cara untuk menyembuhkan luka Yok siaute agar lebih cepat pulih. Sekarang bukan waktunya mainmain," tukasnya kesal.

"Maksud Lao pocu, Yok siangkong kan sudah minum Soat Som wan, mengapa lukanya bisa sembuh demikian lambaP Hal ini disebabkan luka akibar racun api yang dideritanya terlalu parah sehingga hawa murni dalam tubuhnya menjadi tersumbat.

Lagi pula dia tidak mempunyai tenaga untuk me nyalurkan hawa murnt tersebut supaya lu kanya lebih cepat pulih," sahut Hu toanio cepat-cepat.

Tiong Hui Ciong menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Pengalaman Hu momo memang luas Aku sendiri tidak terpikirkan masalah itu ".

"Ji siocia memandang Lao pocu terlalu tinggi," sahut Hu toanio merasa bangga mendengar pujian tersebut "Oleh karena itu pula, menurut pendapat Lao pocu, kalau saja urat nadi dalam tubuh Yok siangkong dapat tertembus dan seluruh peredaran da rahnya dapat berialan tentu hawa murninya juga dapat disalurkan sendiri Dengan de mikian Soat Som wan juga lebih cepat bereaksi Tentu saja iukanya juga akan sembuh dalam waktu singkat".

Tiong Hui Ciong agak tertegun mende ngar keterangannya.

"Aku tidak tenngat akan hal ini Dengan hawa murni yang aku miliki aku dapat membantunya menembus dua belas urat darah penting M.emang merupakan cara penyem buhan luka dalam yang paling bagus Apalagi dia sudah menelan Soat Som wan pemberian Kakek, tentu lukanya akan segera sembuh," Tiong Hui Ciong memandang ke arah Hu toamo "Baik Hu momo, aku akan membantunya sekarang juga Harap kau jaga di luar".

Hu toanio tertawa lebar.

"Masa perlu Ji siocia ingatkan? Hu toamo akan menjaga dengan baik Siapa pun tidak boieh mendekati kamar Ini satu langkah pun!" Selesai berkata, dia langsung berjalan ke luar.

Tiong Hui Ciong menoleh ke arah Yok Sau Cun Rupanya ketika dia berbincangbin cang dengan Hu toanio tadi, rupanya Yok Sau Cun sudah tertidur dengan pulas. Wa jahnya tidak merah lagi, malah berubah pu cat pasi Nafasnya masih lemahsekali Tiong Hui Ciong tidak sampai hati melihat keadaan itu.

Cepatcepat dia melepaskan sepatunya yang mungil lalu naik ke atas tempat tidur Dia duduk dengan posisi bersila Diamdiam dia menyalurkan Iwekangnya ke bagian telapak tangan dan kemudian diulurkannya ke depan dengan gerakan larnbat. Dengan hati-hati dia membalikkan tubuh Yok Sau Cun kemudian sepasang telapak tangannya menempel di bagian punggung. Setelah itu dia mengalihkan tenaga dalamnya agar masuk ke tubuh pemuda itu.

Siapa sangka ketika dia menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Yok Sau Cun, tiba- tiba hawa murni pemuda itu berbalik menyerang kepadanya Tentu saja Tiong Hui Ciong terkejut sekali. Meskipun luka yang dideritanya cukup parah, tapi toh tidak mungkin sampai aliran darahnya mengalir terbalik. Mungkinkah te naga sakti Hue Yan to telah membalikkan urat nadi dalam tubuhnya?.

Tetapi justru karena aliran darahnya mengalir dengan cara terbalik, Tiong Hui Ciong tertebihlebih harus menembus urat nadinya. Meskipun tenaga tolakan dalam tubuh Yok Sau Cun semakin kuat, tetapi Tiong Hui Ciong tidak menarik kembali telapak tangannya.

Perlahan-lahan dia menarik nafas dalam-dalam Kemudian dia menambahkan beberapa bagian tenaga dan menyalurkannya ke dalam tubuh Yok Sau Cun. Dengan mengikuti urat nadi pemuda ttu, dia memaksakan nya untuk menerobos masuk.

Perlu diketahui bahwa Tiong Hui Ciong adalah cucu Soat san lojin Si Leng Sou llmu silatnya sangat tinggi. Apalagi Soat san pai memang terkenal dalam ilmu iwekangnnya Gadis itu sudah terhitung jago kelas satu di dunia kangouw.

Dengan saluran tenaga dalamnya, ternyata dalam waktu yang singkat salah satu urat nadi Yok Sau Cun sudah tertembus. Tatapi tepat pada saat itu juga, tubuh Yok Sau Cun menggetar hebat Mulutnya me ngeluarkan suara jentan yang mengenkan kemudian jatuh tidak sadarkan diri.

Tiang hjui Ciong terkejut sekali Cepatcepat dia menghentikan saluran tenaga dalamnya.

"Adik Cun bagaimana keadaanmu?" tanyanya hati-hati.

Wajah Yok Sau Cun pucat seperli selembar kertas Sepasang matanya terpejam rapat. Nafasnya perlahan namun agak tersengalsengal Mana mungkin dia bisa menyahut pertanyaan Tiong Hui Ciong?.

Tiong Hui Ciong langsung memeluknya.

erat-erat Air matanya mengaiir dengan deras Kilauannya bagai mutiara yang indah setetes demi setetes jatuh di atas waiah Yok Sau Cun.

"Adik Cun, sadarlah kau sadarlah'" penggilnya berulang ulang.

Hu toanio yang mendengar suara pang gilannya segera merasakan bahwa telah ter jadi sesuatu yang tidak beres Tergesa gesa dia menghambur masuk ke dalam kamar.

"Siocia, ada apa?" tanyanya panic.

Tiong Hui Ciong mengusap air matanya Dia meluruskan pinggangnya dengan susah payah.

"Aliran darahnya terbalik Seluruh urat nadinya tertutup rapat Jangan-jangan.

"Apakah dengan tenaga dalam Ji siocia yang demikian tinggi tetap tidak sanggup menembus urat nadinya agar jalan darahnya menjadi normal kembali?" tanya Ha toanio kurang percaya.

Tiong Hui Ciong menggelengkan kepalanya.

"Tenaga dalamku yang cetek ini hanya dapat mengikuti jalan nadinya Memang ada satu uratnya yang tertembus Tetapi seluruh urat nadinya sudah mengatup dan aliran darahnya terbalik. Harus ada seseorang yang mempunyai tenaga Iwekang tinggi sekali untuk membantunya Aku sendiri tidak mempunyai kesanggupan seperti itu..." sahutnya sedih.

Mendengar keterangan itu, Hu toamo menjadi tertegun llmu silat yang dimiliki Ji siocia, di dalam dunia kangouw sudah sulit dicari tandingannya. Namun dia mengaku masih tidak sanggup menembus urat nadi Yok Sau Cun Siapa lagi yang sanggup melakukannya?.

Hu toanio melihat kegugupan Ji siocianya Ingin sekali dia perintahkan saran agar kesedihan gadis ttu agak berkurang. Namun untuk sesaat dia sendiri tidak tahu apa yang harus dicetuskan agar dapat menotong Yok Sau Cun Dia mendengar Tiong Hui Ciong menggumam seorang diri.

'Andaikata kita mencari Toa ci dan Toa cihu rasanya tidak ada gunanya juga " Tiba- tiba gadis itu menolehkan kepalanya "Eh'? Hu toanio, tanggal berapa sekarang?".

Hu toanio bingung mendengar pertanyaan itu, namun dia menyahut juga. "Bulan dua belas tanggal satu ".

"Waktu apa sekarang?".

Hu toanio melangkah ke pintu dan melongokkan kepalanya menatap langit. "Hampir kentungan kelima," sahutnya.

"Bagus!" kataTiong Hui Ciong "Sekarang Juga kau suruh Yu Kim Piau menyiapkan kereta kuda ".

Hu Toanio mengiakan lalu keluar dengan tergesa gesa Pada saat itu, di ufuk timur mulai terlihat guratan putih kemerahan Langlt perlahan lahan mulai memperlihatkan cahaya terang Kaiau langit sebelah timur sudah memancarkan sinar keputihan secara keseluruhannya, maka cahaya mentan pun akan menerobos lewat jendela.

Tiong Hui Ciong menatap Yok Sau Cun yang nafasnya semakin lemah Hatinya se makin ciut. Wajahnya berubah kelam Dia mengambil selimut dan membungkus tubuh pemuda itu Dengan kedua belah tangan dia memeluknya erat-erat Diangkatnya tubuh Yok Sau Cun dan melangkah keluar perlahan-lahan.

Dalam waktu yang bersamaan, Hu toanic menahambur ke arahnya.

"Ji siocia, kereta sudah disiapkan'" Dia melihat Ji siocia menggendong Yok Sau Cun Cepatcepat dia mengulurkan tangan dan berkata "Ji siocia, biar Lao pocu saja yang menggendongnya'".

Tiong Hui Ciong tidak menyerahkan Yok Sau Cun kepadanya Malah dia memeluknya lebih erat Seakan ada orang yang hendak merebut adik Cun dari tangannya. Kepalanya menunduk dalam-dalam.

"Kau bayar ongkos penginapan kita. Setelah itu kita harus melakukan perjalanan secepatnyai".

Keempat gadis pelayan yang sehanhari nya sangat lincah dan cenwis itu tidak ada satu pun yang berani membuka mulut Hu toanio segera melunaskan ongkos penginapan mereka Sedangkan Yu Kim Piau sudah menyiapkan kereta kuda Kereta kuda itu indah sekali Yu Kim Piau menghentikannya di depan pintu penginapan.

Tiong Hui Ciong dan keempat gadis pe layannya sudah naik ke atas kereta Menunggu sampai Hu toanio kembali dan ikut masuk, Yu Kim Piau segera menjalankan kereta tersebut.

"Toanio, ke mana tujuan siocia?” tanyanya. Hu toanio menatap Tiong Hui Ciong sekilas.

"Ji siocia, ke mana tujuan kita'?" tanyanya hati hati.

Tiong Hui Ciong tetap menundukkan k palanya Wajahnya hampir menempel dengan wajah Yok Sau Cun Dia sudah melupakan rasa malunya Yang dikhawatirkannya hanya luka Yok Sau Cun Aliran darah berbalik sebetulnya merupakan suatu hal yang paling ditakuti oleh orang yang belajar ilmu silat Tiong Hui Ciong tidaktahu apakah dia sanggup mempertahankan diri sampai di tujuan?.

Hatinya terasa hancur Dia hanya ingin memeluk Yok Sau Cun erat-erat Seakan dengan cara demikian nyawa anak muda ilu dapat diperpanjang Seluruh hati dan perhatiannya ada pada diri pemuda tersebut Pikirannya seperti tercurah pada kehidupan Yok Sou Cun sehingga ucapan Hu toanio tidak terdengar olehnya.

Melihat keadaannya, diamdiam Hu toanio menggelengkan kepala Ji Siocia sudah sepanjang malam tidak tidur Sekarang pikirannya demikian tertekan Apakah dia sanggup mempertahankan dirinya? Bagaimana katau gadis itu sendiri yang jatuh tidak sadarkan diri dalam perjalanan'? Hu toanio memang berpikir demikian, tapi dia melihat tabiat siocianya yang keras 'Dia tidak berani mengatakan apa apa Dia hanya mengedipkan matanya perintah isyarat kepada Cun Hong.

Cun Hong duduk di sebelah Tiong Hui Ciong.

"Ji siocia, toanio menanyakan ke mana tujuan kita?" tanyanya dengan suara rendah. Tiba tiba Tiong Hui Ciong mendongakkan kepalanya.

"Pat Kong san harus cepat Sebelum han gelap kita sudah harus ada di sana " sahut nya. Hu toanio tidak tahu apa dia pergi ke Pat Kong san Namun dia melongokkan kepalanya melalui tirai kereta dan berkata kepada Yu Kim Piau.

"Yu Kim Piau siocia berpesan agar menuju Pat Kong san Semakin cepat semakin baik Sebelum matahari terbenam kita sudah harus sampai di tempat tujuan ".

Yu Kim Piau mengiakan Dia melontarkan pecut di tangan sehingga menimbulkan suara menggelegar.

'Tar' Tar!".

Keempat ekor kudanya seperti mendapat isyarat. Kaki mereka segera berpacu dan lan sekencangnya.

Kudakuda itu merupakan jenis kuda pilihan Yang mengendarainya adalah seorang tokoh persilatan yang sudah ahli Otomatis perjalanan ini semakin cepat Pada tengah hari mereka pun tidak berhenti untuk beristirahat.

Tiong Hui Ciong yang duduk memeluk Yok Sau Cun dalam kereta, masih merasa kurang cepat Tetapi sebelum matahari terbenam, mereka sampai juga di tempat tujuan. Yu Kim Piau menarik tali kendali dan kereta pun berhenti perlahan lahan.

Sudah sehan penuh Tiong Hui Ciong tidak mengisi perutnya. Dia hanya duduk da lam kereta dan memeluk Yok Sau Cun terus menerus Dia bahkan tidak mengendurkan pegangannya sama sekali Ketika kereta itu berhenti perlahan-lahan, dia baru mengangkat wajahnya.

"Apakah kita sudah sampai?" "Betul Sudah sampai," sahut Hu toanio. "Sekarang waktu apa?" tanya Tiong Hui Ciong kembali.

"Sebentar lagi matahan terbenam," sahut Hu toanio.

Tiong Hui Ciong menarik nafas panjang. "Untung saja kita tidak terlambat" Kereta itu berhenti di depan hutan yang terletak di sisi gunung Cuaca sangat dingin tetapi Yu Kim Piau berkalikali mengangkat tangan menghapus keringat yang menetes Hal ini membuktikan bahwa dia sudah bekerja keras Setelah itu dia baru meloncat turun dan membuka tirai kereta tersebut.

Cun Hong, Sia Ho Ciu Suang dan Tung Soat berempat yang pertamatama turun dari kereta.

"Ji siocia, sudah sepanjang malam kau tidak makan apa-apa Siar Loa pocu saja yang menggendong Yok siangkong," kata Hu toanio menawarkan diri "Tidak'" Tiong Hui Ciong hanya menyahut sepatah 'tidak' kemudian metoncat turun dan kereta dengan Yok Sau Cun dalam gendongannya Setelah Jtu dia berjalan menuiu puncak gunung Hu toanio memandang keempat gadis pelayannya sekilas. Kemudian dengan langkah lambat dia mengikuti di belakang Tiong Hui Ciong.

Tiba-tiba gadis itu menolehkan kepalanya. "Kalian tunggu saja aku di sini!".

Hu toanio terpaksa mengiakan Dia menghentikan langkah kakinya dan memandang Tiong Hui Ciong yang meiangkah seorang diri dengan menyeret kakinya yang diganduti beban berat. Perlahan-lahan dia mendaki ke atas gunung.

Pat Kong san, pada zaman dahulu di sana terdapat sebuah kuil yang dibangun oleh Wei lam ong, Liu An. Itulah sebabnya kuil tersebut dinamakan Liu An bio. Dewa yang disembah di sana adalah Pat Kong (Delapan dewa). Menucut legenda, Pat kong dapat mengubah tanah menjadi emas. Suatu hari, Pat kong menanam emas di tempat itu kemudian mengendarai awan naik ke langit. Kemudian gunung itu pun dinamakan Pat kong san.

Ribuan tahun telah berlalu, Liu An bio sudah hancur Tetapi di depan kuil ada sebatang pohon Kui yang tua. Begitu besarnya sehingga beberapa orang yang bergandengan tangan baru dapat memeluknya. Kayu pohon itu sudah kering saking tuanya. Namun daunnya masih tumbuh lebat Bahkan hampir menutupi seluruh rantingnya. Kalau dipandang dari jauh seperti sebatang payung raksasa.

Di bawah pohon Kui itu terdapat sebuah balu yang sangat besar Permukaannya sangat licin Menurut centa. jaman dahulu Kisar Cia An pernah bermain catur di atas balu tersebut Bahkan di permukaannya masih ada bekas tanda catur hanya saja sekarang sudah demikian samar sehingga hampir tidak teriihat.

Pada saat itu, langil mulai menggelap Tipng Hui Ciong memeluk Yok Sau Cun yang masih tidak sadarkan diri Dia terus mendaki ke atas gunung TuJuannya justru pohon Kui yang tua tersebut. Tetapi kirakira jaraknya sudah kurang lebih delapan sembilan depa dari batu besar pipih tersebut, dia menghen tikan langkahnya.

Di sana Tiong Hui Ciong menekuk sepasang lututnya dan menjatuhkan diri ber lutut Angin di atas gunung menderuderu Suasana di sana sangat mencekam Pada saat malam hampir menjelang dan cuaca dingin. dia memeluk Yok Sau 'Cun sambil berlutut Tidak ada orang yang tahu apa yang dilakukannya? Seandamya dia datang untuk bersembahyang bagi kesembuhan Yok Sau Cun, rasanya mustahil Karena kuil itu sudah lama hancur.

Tiong Hui Ciong adalah seorang pendekar wanita yang terkenal cerdas di duma kangouw. Tidak mungkin dia berlutut di sana tanpa sebab musabab Apalagi dia datang dan tempat yang jauhnya ratusan li Sedangkan sepasang tangannya menggendong Yok Sau Cun namun wajahnya menunjukkan ketulusan hati dan sikapnya sangat khusyu.

Pepatah mengatakan Menghormati Dewa seperti Dewa ada di hadapanmu Begitulah tampang Tiong Hui Ciong saat ini Angin menerpa rambutnya sehingga acakacakan namun dia sama sekali tidak memperdulikannya Dia pun tidak melepaskan pelukannya pada diri Yok Sau Cun agar tangannya dapat merapikan rambutnya Dia laksana se buah palung yang tidak dapat bergerak sama sekali. Waklu berlalu tanpa memmbulkan suara Tiong Hui Ciong terus berlutut tanpa me ngenal rasa letih Saat itu sudah kentungan pertama Tiba tiba di bawah pohon Kui yang tua terdengar suara Pluk' Trang' Seperti ada benda yang terbuat dari besi dengan beban yang berat jatuh di atas batu yang besar tersebut.

Tiong Hui Ciong tetap berlutut Dia bahkan tidak mendongakkan wajahnya sama sekali.

"Akhirnya berhasil juga aku menunggu Yang datang ini pasti Jit Kong Oey Kong Tu'" katanya dalam hati.

Hanya kendi arahnya yang terbuat dari logam campuran yang dapat menimbulkan suara seperti itu. Dia tentu meletakkannya di atas pecmukaan batu besar di bawah pohon Kui tersebut.

Meskipun hatinya sudah dapat menduga, tatapi Tiong Hui Ciong tidak melirik sedikitpun Kemudian teiinganya mendengar suara orang tua yang terbatukbatuk. Lalu suara Plup! pasti dia sedang membuka kendi araknya. Dugaan Tiong Hui Ciong memang tidak salah. Sebab tidak lama setelah itu dia menangkap suara Glek! glek' beberapa kali Jit kong Oey Kong Tu pasti sedang meneguk araknya. Kira kira sepuluh tegukan orang itu baru berhenti.

Tiba-tiba orang tua itu tertawa terbahakbahak. Sebentar kemudian terdengar lagi suara menggelegak tadi Dia memmum araknya seteguh lagi. Satelah itu tangannya terangkat dan dia mengenngkan sisa arak di bibir dengan ujung lengan bajunya.

"Malam ini, Ha... ha.. ha... Lechu pasti merupakan orang yang pertama sampai di sini," katanya seorang diri Seielah itu dia terbahak-bahak kembali.

Namun, ketika dia masih tertawa terbahakbahak itulah. terdengar suara cekikikan suara lainnya.

"Jit heng (Abang nomor tujuh), jangan membual Hengta justru datang lebih awal daripadamu'".

Suara orang ini rada parau, asal suaranya dan atas pohon Kui. Ketika dia mengucapkan kata-kata yang terakhir, orangnya pun sudah melayang turun dari atas pohon dan mendarat di samping Jit Kong Oey Kong Tu.

Yang ini pasti Pat Kong, Tio Kong Kian pikir Tiong Hui Ciong dalam hati. Jit Korig Oey Kong Tu tertawa terkekeh-kekeh.

"Lucu! Kalau kau baru datang, mengaku sajalah! Toh tidak apa-apa. Buat apa menempelkan emas di wajah sendiri dan mengatakan bahwa kau yang datang lebih awal?" sahutnya.

Terdengar suara sahutan Pat Kong Tio Kong Kian yang parau. "Mengapa Hengta harus menempelkan emas di wajah sendiri? Bagaimana kau bisa tahu kalau aku memang datang lebih awal?.

Biar aku perintahtahukan kepadamu aku sudah datang sejak tadi Karena tidak me lihat seorang pun maka aku tidur dulu di atas pohon Justru suara balukmu yang membuat aku terjaga".

Bagaimana aku bisa lahu kalau kau memang datang terlambat dan melihat aku sedang m.inum arak di sini, oleh karena itu kau pasti sengaja bersembunyi di alas pohon dan purapura bahwa kau sudah datang sejak tadi Siapa juga bisa mengatakan demikian? Aku juga bisa mengatakan bahwa aku sudah dalang sejak tadi dan telah menghabiskan sekendi arak lalu turun ke kota membeli arak lagi lalu kembah ke sini '?".

"Siapa yang datang lebih awal dan siapa yang datang belakangan merupakan kenyataan, mengapa harus malu mengakumya?" sahut Pat Kong tidak mau kalah.

Kedua orang ini, yang satu menyahut yang lain mendebat, tidak ada yang bersedia mengalah Padahal yang dimasalahkan hanya siapa yang datang terlebih dahulu ke tempat itu.

Terdengar suara Jit Kong yang mulai marah.

'Lohu datang dari Tian Hong san Perjalanannya memang lebih jauh dan tempat mu Tapi sudah terang aku yang sampai ter lebih dahulu'" katanya kesal.

"Sudahlah Hengte juga datang dari Kiu Sian Yang Memangnya lebih dekat dari padamu? Lagipula siapa yang tahu kalau kau berangkat ke sini tadi pagi"" sahut Pat Kong.

Jit Kong Oey Kong Tu tertawa terbahak-bahak.

'lni yang dinamakan tidak ditanya mengaku sendiri Rupanya kau bukan berangkat tadi pagi" sindirnya dengan nada gembira.

Ternyata mereka sudah mengadakan per janjian bahwa harus berangkat dan kediaman masing masing pagi ini dan Nhat siapa yang sampai duluan Dengan demikian dapat dibuktikan gerakan kaki siapa yang lebih cepat Dan tentu saja hal mi juga dapat membedakan ilmu siapa yang lebih tinggi.

Benar juga kata pepatah yang mengalakan 'Tiga generasi selalu mementingkan nama' Orang seperti Jit Kong dan Pat Kong yang kedudukannya sudah sedemikian tmggi dan telah meninggalkan dunia kangouw sedemikian lama sa|a masih mementingkan sebuah 'nama' " pikir Tiong Hui Ciong dalam hati.

Terdengar kembali sahutan dan Pat Kong. "Siapa yang berangkat lebih dahulu?".

"Tentu saja tidak ada siapa pun yang berangkat lebih dahulu. Bukankah yang penting siapa yang sampai lebih dahulu?" sahut Jit Kong.

"Apabila Jit heng masih tidah percaya, hengte mempunyai seorang saksi," kata pal Kong dengan nada bangga.

"Siapa saksimu?" tanya Jit Kong Oey Kong Tu penasaran.

Pat Kong mengulurkan tangannya menunjuk ke arah Tiong Hui Ciong.

"Coba lihet, bukankah di sana ada seorang gadis Dia adalah saksi bagi hengte!".

Pandangan Jit Kong beralih kepada Tiong Hui Ciong. Mimik wajahnya menyiratkan perasaan hatinya yang keheranan.

"Untuk apa budak perempuan itu datang ke tempat ini?" tanyanya seperti kepada diri sendiri.

Pat Kong Tio Kong Kian tersenyum simpul.

"Tentu sa|a dia datang keman untuk menjadi saksi bagi hengte," sahutnya sembarangan.

"Jangan main-main Coba kau perhatikan, tangannya sedang menggendong seseorang," kata Jit Kong.

Pat Kong ikut tertank mendengar keterangan Jit Kong Dia juga memperhatikan Tiong Hui Ciong lekat-lekat.

"Tampaknya dia juga sedang menangis," sahutnya. "Tidak Dia sedang mengalirkan air mata," kata Jit Kong.

"Menangis dengan mengalirkan air mata, apa bedanya'?" tanya Pat Kong tidak mau kalah.

"Tidak, tidak Besar sekali perbedaannya. Menangis itu mengeluarkan suara, mengalirkan air mata tidak ' sahut Jit Kong.

"Kalau tidak menangis, bagaimana bisa mengalirkan air mata'?" tanya Pat Kong. "Kadangkadang tertawa juga bisa mengeluarkan air mata," sahut Jit Kong.

"Kalau begitu, Jit heng bermaksud mengatakan bahwa budak perempuan ini sedang tertawa?" tanya Pat Kong.

"Tidak. Aku mengatakan bahwa dia sedang mengalirkan air mata ".

Kedua orang ini seakan sudah ditakdirkan untuk berdebat setiap kali bertemu Hanya karena yang satu kukuh mengatakan bahwa Tiong Hui Ciong sedang menangis dan yang lainnya mengatakan bahwa dia sedang mengalirkan air mata maka keduanya langsung ribut lagi.

"Baik Coba kita tanyakan mengapa dia harus menangis?" kata Pat Kong akhirnya.

"Lebih baik lohu yang menanyakan me ngapa dia harus mengalirkan air mata?" sa hut Jit Kong masih tidak sudi mengalah.

Tiong HLH Ciong paham sekali adat kedua orang ini Apabila kau sendiri yang me mohon sesuatu kepada mereka maka per cuma saja Harus menunggu sampai mereka yang membuka mulut menawarkan sendiri.

Kemudian terdengar suara teriakan Pat Kong Tio Kong Kian. "Hei, gadis ciiik, mengapa kau menangis di tempat mi?".

"Budak perempuan, mengapa kau keman dan mengalirkan air mata'?" tanya Jit Kong tidak mau ketinggalan.

Tiong Hui Ciong ttdak menyahut. Dia bahkan tidak mendongakkan wajahnya sekali pun.

"Tampaknya dia tidak mendengar suara kita?" kata Pat Kong.

"Bukan Dia kan sedang mengalirkan air mata, tentu saja tidak dapat mendengar kata kata yang kita ucapkan," tukas Jit Kong.

"Angin begini kencang Tentunya dia tidak dapat mendengar," kata pat Kong kembali.

"Kalakata yang kita ucapkan, biar hujan badai juga tidak bisa menutupi Mana mungkin dia tidak mendengar? Tentu karena dia memang tidak ingin melayam kita," sahut Jit Kong.

Tubuh Pat Kong langsung melesat Sekejap mata dia sudah sampai di samping Tiong Hui Ciong.

"Budak perempuan !".

Jit Kong tidak mau ketinggalan, sebentar saja dia sudah menghambur hadapan Tiong Hui Ciong.

"Gadis cilik mengapa kau berlutut di tempat ini?". Hati Tiong Hui Ciong gembira sekali.

Tampaknya adik Cun bisa tertolong kali ini — pikirnya.

Namun dia tetap tidak mendongakkan kepalanya. Hanya menggeleng dengan perlahan.

"Siapa yang kau gendong itu'?" tanya pal Kong kembali. "Masih perlu bertanya, sudah tentu orang yang paling dekat dengannya'" tukas Jit Kong.

"Dia adalah adikku," sahut Tiong Hui Ciong lirih.

"Lohu sudah bilang orang yang paling dekat dengannya. Tidak salah bukan?" kata Jit Kong tidak mau kalah. Padahal yang dimaksudkan sebagai orang paling dekat, maksudnya kekasih Tetapi mendengar sahutan Tiong Hui Ciong, kata-katanya tetap kukuh.

"Hengte kan tidak mengatakan bahwa dia bukan sanak saudaranya'?" sahut Pat Kong Kemudian dia" menolehkan kepalanya kembali dan mengajukan pertanyaan "Kenapa adikmu itu?".

Jit Kong Oey Kong Tu memperhatikan Yok Sau Cun yang dibuntal dengan selimut. "Tampaknya sakit adikmu itu parah juga " katanya.

Air mata Tiong lluj Ciong mengalir semakin deras. "Dia bukan sakit," sahutnya lirih.

Pat Kong segera mempertajam pendengarannya. "Tampaknya dia sesak napas ".

Jit Kong ikutikutan mempertajam pendengarannya. "Dia bukan sesak nafas, tetapi nafasnya lemah sekali". Kali ini Tiong Hui Ciong mendongakkan kepalanya.

"Bolehkan kalian jangan berteriakteriak? Adikku akan terganggu Padahal dia tidak tertolong lagl '" Suaranya sangat ketus.

"Penyakit apa yang adikmu denta itu?" tanya Pat Kong penasaran.

Semakin kau meminta mereka agar jangan ribut, mereka justru semakin ingin tahu Diamdiam hati Tiong Hui Ciong menjadi gembira Tetapi di luarnya dia sengaja memperlihatkan mimik wajahnya yang marah.

"Aku sudah bilang, adikku bukannya sakil Kalian jangan banyak tanya lagi'".

"Nona cilik, mengapa kau mengatakan adikmu tidak tertolong lagi?" tanya pat Kong dengan suara rendah.

"Adikku terluka parah di dalam Ahran da rahnya membalik. Tidak ada orang yang dapat menolongnya lagi. Aku membawanya ke puncak gunung ini untuk.. .' Meskipun dia sengaja memancing keingintahuan kedua orang tersebut, tetapi mengfngat kata katanya 'membawa ke puncak gunung tanpa sadar kesedihan kembaii memenuhi hatinya Air matanya mengahr semakin deras Dia tidak malu lagi menangis tersedu- sedu.

Mendengar ucapannya Jit Kong malah tertawa terbahak-bahak.

"Jit heng, perbuatanmu ini sungguh keterlaluan Nona cilik ini sedang menangis tersedusedu, masa kau tertawa demikian gembira?" tegur Pat Kong Tio Kong Kian.

Jit Kong langsung menghentikan suara tawanya.

"Apakah kau tidak mendengar ucapannya tadi? Adiknya terluka parah di dalam jalan darahnya membalik dan tidak bisa tertolong lagi?".

"Masa hengte tidak mendengar?". "Mana mungkin adiknya bisa mati?".

'Nona cilik itu sendiri yang mengatakan bahwa adiknya tidak tertolong lagi," sahut Pat Kong.

Sekali lagi Jit Kong tertawa terbahak-bahak.

"Setelah bertemu dengan kita, mana mungkin dia bisa mati?". Pat Kong tertegun sejenak,.

'Maksud Jit heng, kita akan menolongnya'?".

"Dugaanmu memang benar Menolong nyawa orang, pahalanya besar sekali Aku ingat dulu kita berdelapan di atas Pat Kong san ini mengangkat tali persaudaraan. Sekarang yang masih terslsa hanya tiga orang Sekalikali berbuat baik toh tidak ada salahnya," sahut Jit Kong dengan wajah termenung.

Pat Kong Tio Kong Kian menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Apa yang dikatakan Jit heng memang benar Selama ini kita terlalu mementingkan diri sendiri. Sudah setua ini berbuat sedikit kebaikan tidak ada salahnya. Kita tolong j'iwa bocah ini, sama artinya kita telah membangun pagoda bertingkat tujuh ".

Jit Kongsegera membungkukkan tubuhnya.

"Budak perempuan, cepat bangun, adikmu sekarang bisa tertolong!" katanya. "Betul!" tukas Pat Kong "Adikmu bertemu dengan kami, dijamin tidak akan mati". Tiong Hui Ciong masih juga menggeleng kan kepalanya.

"Tidak Aku tidak percaya Tabib mengatakan bahwa tidak ada orang yang dapal menolong adikku lagi!" sahutnya keras kepala. Dia matah memeluk Yok Sau Cun se makin eral Dia tetap berlutut dan tidak mau berdiri.

'Lohu mengatakan adikmu bisa terlolong, pasti akan terlolong. Mengapa kau tidak percaya ucapanku'? Malah percaya perkataan seorang tabib yang tolol dan tidak mengerti apa-apa?" kata Jit Kong.

"Aku mempeccayai kata-katanya justru karena dia adalah seorang tabib," sahut Ti ng Hui Ciong.

"Kami dua bersaudara malah lebih pandai danpada tabibmu itu," tukas Pat Kong.

"Kalian bohongi Kahan bukan tabib' Tidak mungkin dapat menyefamatkan adikku!" sahut Tiong Hui Ciong dengan suara keras.

"Siapa yang bilang kami bukan tabib?" tanya Jit Kong. "Bukan juga harus bilang iya'" tukas Pat Kong.

Kedua orang itu sekarang matah saling mendukung Yang satu menggarukgaruk kepalanya yang tidak gatal Yang satunya lagi celingakcelinguk kebingungan Kemudian seperti sudah bersepakat, mereka mengulurkan tangan serentak Satu memegangi bagian kepala Yok Sau Cun dan yang satunya lagi mernegangi bagian kaki Dengan setengah memaksa mereka merebut Yok Sau Cun dan tangan Tiong Hui Ciong.

Tiong Hut Ciong memang sengaja naik ke puncak gunung ini untuk bertemu dengan mereka Otomatis dia tidak memberontak kelika kedua kakek itu merebul Yok Sau Cun dari pelukannya Kenyataannya, meskipun itmu silat yang di miliki Tiong Hui Ciong sangat tinggi dan di dunia kangouw sudah larang ada landingannya, namun di hadapan anggota Pat Kong irn dia masih belum sanggup apabila hendak berebutan Yok Sau Cun dengan mereka.

Jit Kong dan Pat Kong sekali gerak langsung berhasil merebut Yok Sau Cun dan tangan Tiong Hui Ciong. Keduanya langsung menutulkan kaki dan melesatkan tubuhnya Mereka menggotong Yok Sau Cun tanpa menggetarkan tubuh pemuda itu sedikit pun Seperti menggotongnya dengan tandu saja Dalam sekejap mata mereka sudah sampai di bawah pohon Kui dan keduanya mengambil posisi berhadapan lalu meletakkan Yok Sau Cun di atas batu tersebut.

Dengan panik Tiong Hui, Ciong melompal berdiri.

"Kalian lepaskan adikku Kalian tidak boleh mencelakamya..!" teriaknya seperti orang yang gugup sekali.

Dia purapura melangkah ingin mencegah tindakan kedua orang tersebut. Jit Kong segera menolehkan kepalanya.

"Budak perempuan, kau tenanglah sedikit. Tidak usah khawatir Kami tidak ber maksud mencetakai adikmu Malah kami akan menolongnya ' Selesai berkata, jari ta ngannya menuding ke arah Tiong Hui Ciong yang sedang melangkah menghampin. Tentu saja Tiong Hui Ciong tidak berani melangkah lebarlebac. Sebab pada dasarnya dia memang hanya berpurapura, Dia tidak ingin rahasianya terbongkar Namun ketika jaraknya dengan batu besar itu kirakira masih ada tiga depa. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya seperti kesemutan dan tahu-tahu dia berdiri tegak tanpa bergerak lagi.

Meskipun dia berdiri di sana tanpa bergerak, namun hatinya mengerti sekali. Jit Kong pasti tidak ingin merasa terganggu sehingga melancarkan jari tangannya untuk menotok diri Tiong Hui Ciong Usahanya kali ini sama sekali tidak sia-sia.

Dengan adanya kedua orang tua yang mempunyai tenaga dalam sakti ini untuk membantu Yok Sau Cun membalikkan kembali aiiran darahnya, dia pasti bisa tertolong. Jit Kong berdiri di bagian kepala Yok Sau Cun.

"Lao Pat, tampaknya luka yang diderita bocah ini tidak nngan Tampaknya isi perutnya telah tergetar sehingga berpindah tempat. Itulah sebabnya aiiran darah dalam tubuhnya jadi membalik." kata Jit Kong.

"Kalau begitu, kita harus menggunakan cara memijit terlebih dahulu untuk menembus urat nadinya agar posisi isi perutnya dapat kembah seperti semula," sahut Pat Kong.

"Tidak. Kita tidak boleh menggunakan cara memijit. Tetapi menyalurkan tenaga da lam mendorong urat nadi yang mengatup Dengan demikian jalan darahnya bisa normal kembali. Ini merupakan pengobalan dengan mengerahkan hawa murni".

Pat Kong Tio Kong Kian menggelengkan kepalanya.

"Kata-kata Jit heng ini tidak dapat di setujui oleh hengte Isi perutnya sudah berubah posisi Apabila kita tidak membanlunya^ mengembalikan pada posisi semula, meskipun seluruh urat nadi di tubuhnya dapat tertsmbus, tetap saja aliran darahnya akan terbalik".

"Kalau urat nadinya belum tertembus, jalan darahnya tetap membalik, bagaimana kau bisa mengembalikan posisi isi perutnya?" tanya Jit Kong berkeras.

Kedua orang ini tangsung berdebat lagi Tidak ada yang mau mengalah Tiong Hui Ciong baru saja tertotok jalan darahnya Tubuhnya memang tidak dapat bergerak, tetapi telinganya dapat mendengar dengan jelas. Hatinya menjadi panik melihat keadaan kedua orang itu Tanpa sadar dia berteriak....

"Adikku sudah meminum obat Soat Som Wan milik Soat san lo sin sian. Tetapi karena jalan darahnya terbalik, obat itu tidak dapat bereaksi dengan sempurna Kalau kalian memang ingin menolong adikku, maka yang penting hanya menembus urat nadinya dengan demikian aliran darahnya akan normal kembali dan otomatis lukanya bisa sembuh ".

Wajah Jit Kong langsung berseri-seri.

"Rupanya adikmu sudah menelan obat mujarab dan Inkong kita Aneh sekali. Seharusnya luka yang diderita bocah ini sudah sembuh sejak tadi Mengapa aliran darahnya malah membalik?".

"Jit heng justru tidak mengerti Sebelumnya aliran darah bocah ini memang sudah terbalik. Obat Soat Som wan dan Inkong kita juga harus ada yang membantu agar dapat bergerak ke seluruh tubuh Dengan demikian baru obat itu dapat menunjukkan reaksinya," sahut Pat Kong.

"Itulah sebabnya kita harus mengobati dia dengan menyalurkan hawa murni Lau Pat, coba lihat, apa yang kukatakan tadi tidak salahkan '? Mari kita turun tangan serentak.

Kau menyalurkan dan Pak hue kiat dan lohu dari Yung Coan kiat Dengan demikian kemungkinan seluruh urat nadi penting bocah ini dapat tertembus ".

"Baiklah kita mulai saja sekarang ".

Jit Kong Oey Kong Tu dan Pat Kong Tio Kong Kian tidak banyak bicara lagi, Kedua nya segera mengulurkan tangan dan menekan di urat nadi yang mereka sebutkan tadi Perlahan-lahan hawa murni kedua orang itu dihimpun ke arah telapak tangarf lalu disalurkan ke dalam tubuh Yok Sau Cun.

Perlu diketahui bahwa tenaga dalam kedua orang ini sangat tinggi Apalagi mereka menyalurkan dari dua arah yang berlawanan, tentu saja alirannya menjadi sangat deras di dalam tubuh pemuda tersebut.

Yok Sau Cun sedang tidak sadarkan diri Tetapi tiba tiba tubuhnya bergetar Jit Kong terus mengalirkan hawa murninya ke dalam tubuh pemuda itu.

"Kita harus mengedarkan hawa murni di dalam tubuhnya sebanyak beberapa kali Jangan satu kali saja Sekarang lohu akan menyalurkan dari urat nadi sebelah kiri kau salurkan lewat urat nadi sebelah kanan ".

Demi menolong jiwa anak muda itu, Pat Kong terpaksa mendengarkan kata-katanya. Dia langsung menganggukkan kepala.

"Baiklah!" sahutnya.

Jit Kong langsung memindahkan telapak tangannya. Jari tangannya yang telunjuk dan tengah langsung menekan pergelangan tangan Yok Sau Cun dan menyalurkan hawa murninya Demikian pula Pat Kong. Dia tidak beram ayal lagi Hawa murninya langsung disalurkan pada pergelangan tangan Yok Sau Cun yang satunya lagi Dua aliran hawa murni bergerak dan dua tempat ke dalam tubuh Yok Sau Cun.

Tubuh anak muda itu semakin menggetar. Semakin lama semakin hebat Tubuhnya bagai terhempas-hempas di atas permukaan batu tersebut Tampaknya dia hampir tidak dapat mempertahankan diri.

Meskipun Tiong Hui Ciong dalam keadaan tertotok Tetapi mata telinga dan mulutnya masih bisa bergerak Dia melihat dengan jelas apa yang sedang teriadi Hatinya menjadi gelisah Dia merasakan sesuatu yang tidak beres. Dengan bantuan hawa murni kedua orang tua yang tenaga dalamnya sudah sedemikian tinggi, seharusnya tubuh Yok Sau Cun malah menjadi tenang Bukan terhempas-hempas seperti itu.

Baru saja dia ingin mengemukakan pendapatnya, tiba tiba dan atas permukaan batu tersebut terdengar suara Hoakkk! Dada Yok Sau Cun seperti bergemuruh kemudian segumpal darah segar muncrat dan mulutnya.

Tiong Hui Ciong terkejut sekali Tanpa sadar mulutnya menjent Hampir saja dia jatuh tidak sadarkan diri melihat keadaan itu Keadaan seperti ini dilihatnya dengan jelas Tampaknya aliran tenaga dalam dan hawa murni Jit Kong dan Pat Kong bukan saja metancarkan aliran darahnya tetapi membuat lukanya semakin parah.