Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 10

 
Jilid 10

Semua orang menoleh kepadanya Tampak Song loya cu sudah bangun dan membuka kedua matanya. Mendengar nada bicaranya, mereka segera mengetahui bahwa racun yang terdapat dalam tubuh orang tua itu sudah punah Wajah Song bun Gun cerah seketika.

"Tia. apakah tubuhmu sudah sehat?" tanyanya.

Song Ceng San menganggukkan kepalanya sambil tertawa lebar.

"Hm, kita harus bertenma kasih kepada Yok Sauhtap Obat mi sungguh manjur Bun fi, cepat papah aku turun," katanya.

Melihat rona wajahnya, tampak penyakitnya memang sudah puhh. Hanya suaranya yang agak serak Apabila suaranya hendak pulih seperti biasai maka perlu waktu yang cukup tama Song Bun Cun membantu ayahnya turun dan pembaringan.

"Omitohud! Buddha welas asih Racun yang terdapat dalam tubuh Bengcu dapat dipulihkan, sungguh suatu hal yang menggembirakan," kata Bu Cu taisu sambil merangkapkan kedua tangannya.

Hui Hung i su, Kan Si Tong, Beng Ta Jin, Su Po Hin sekalian seg.era bangkit dan memberi selamat dengan menjura Song Ceng San mengucapkan terima kasih kepada me reka. Dia menoleh kepada Yok Sau Cun.

"Budi Yok Sauhlap tidak akan Lao siu lupakan selamanya," katanya. Pemuda itu juga ikut berdiri.

"Ucapan terima kasih Song loya cu, tidak berani boan seng menenma. Boan seng melakukannya juga demi permintaan Cia su Harap Song loya cu akan menepati janji, boan seng sudah merasa cukup senang,' sahutnya.

Song Ceng San tampak terpana. "Siapa suhumu?" tanyanya.

Yok Sau Cun berdiri keheranan mendengar pertanyaan itu.

"Cia su adalah Bubeng lojin Hari itu boan seng sudah menceritakan semuanya kepada Song loya cu Tampaknya kalian adalah sahabat lama".

"Oh.." Song Ceng San mengeluselus jenggotnya. Kepalanya teranggukangguk. "Lao siu berhubungan dengan suhumu selama berpuluh tahun. Tentunya mengenal baik. Apa yang Lao sui harus katakan tentang suhumu?".

Yok Sau Cun makin bingung. Diamdiam dia berpikir dalam hati "Terangterangan kau sendiri yang menyatakan tahu tentang suhu Mengapa baru baik dari racun pembuyar tenaga, segalanya malah menjadi lupa?" Tapi, dia menjura sekali lagi kepada Song loya cu.

"Cia su tidak mau mengatakannya. Boan seng dengan sendirinyafuga tidak tahu apa kemgman suhu Ada orang tua yang memberi petunjuk kepada boan seng agar menemui Song loya cu. Dia mengatakan bahwa keinginan suhu, hanya perlu sepatah kata dari engkau orang tua Waktu itu Song loya cu sudah menyetujuinya .".

"Oh..." Tampaknya Song Ceng San sudah teringat kembali "Lao siu memang pernah menyetujuinya Baiklah, kau boleh kembali ke tempat suhumu dan melaporkan kepadanya. Pokoknya Lao siu sudah mengabulkan permintaanmu ".

Sekali lagi Yok Sau Gun terpana. Dia memandang tajam kepada Song Ceng San.

"Terima kasih kepada Song foya cu. Tapi untuk memenuhi permintaan Cia su, boan seng harus dapat menenm satu jurus ilmu pedang Song loya cu ".

"Apakah suhumu yang mengatakan hal ini?" tanya Song Ceng San. Yok Sau Cun termanggu manggu.

"Kau orang tua sendiri yang mengatakannya. Untuk memenuhi permintaan Cia su, maka boan seng harus sanggup menerima satu jurus ilmu pedangmu. Kata-kata ini pernah Song loya cu ucapkan enambelas tahun yang lalu kepada suhu. Selamanya syarat itu tidak dapat diubah Karena kedatangan boan seng mewakili suhu, maka boan seng yang harus menerinia sejurus ilmu pedang itu".

Sinar mata Song Ceng San memperhatikan anak muda itu. Sebelah tanganny mengeluselus jenggot, sedangkan kepalanya manggut-manggut.

"Tidak salah, Lao siu memang pernah mengatakan hal itu.".

"Boan seng memberanikan diri. Harap Song loya cu bersedia memberi kesempatan sekali lagi," kata Yok Sau Cun.

"Yok Sauhiap mewakili guru memohon bantuan Lao siu Tapi kau harus tahu, sulit sekali menghindarkan diri dari sejurus ilmu pedang Lao siu," sahut Song Ceng San tenang.

"Untuk memenuhi permintaan Cia su, mati pun boan seng rela," kata Yok Sau Cun tegas.

Song Ceng San tertawa terkekeh-kekeh.

"Yok Sauhiap sengaja mengantarkan obat penawar untuk Lao siu Mungkinkah aku orang tua tega melukaimu?". "Kalau begitu, harap Song loya cu mutai sekarang juga.". "Apakah kau ingin bertanding di sini'?" tanya Song Ceng San.

"Pertama kali kita bertarung juga di dalam rumah ini," sahut Yok Sau Gun.

"Baik," kata Song Ceng San Dia menolehkan kepalanya dan memanggil Ciek Ban Cing, "Ban Cing, ambil pedang lao siu ".

Song Bun Gun yang berdiri di sampingya terkejut.

"Tia, pertarungan antara kau orang tua dengan Yok heng hanya semacam ujian saja. Mengapa harus menggunakan pedang?" tanyanya.

Song Ceng San mengulapkan tangannya. Bibirnya tersenyum. "Anak, apakah kau meminta ayahmu jangan menggunakan pedang?". Yok Sau Cun makin tidak mengerti melihat sikap orang tua itu.

"Tia, han itu kau hanya menggunakan se batang sumpit untuk bertarung dengan Yok heng Bahkan kau berhasil mematahkan ujung pedangnya," kata Song Bun Cun ikut bingung.

"Tidak salah, tidak salah Hari itu ayah memang hanya menggunakan sebatang sumpit dan berhasil mematahkan ujung pedang Yok Sauhiap. Tapi, sekarang tenaga ayah masih belum pulih betul Mungkin...".

Ciok Ciu Lan yang duduk di samping Yok Sau Cun sedari tadi diam saja Tiba-tiba dia membuka suara. "Apa yang dikatakan oleh Song loya cu memang tidak salah Jangan kata tenaganya memang belum pulih. Seandainya menggunakan sebatang pedang pun, kekuatannya akan seperti dua orang yang berlainan," tukasnya.

Yok Sau Cun melirik ke arahnya. Entah apa maksud ucapannya itu? Sinar mata Song Bun Cun menatap gadis itu dingin.

"Apa maksud perkataan kouwnio ini?" tanyanya ketus. , Ciok Ciu Lan tertawa lebar.

"Sau cengcu, Ciek Congkoan, serta para . Cianpyve yang hadir di sini Aku memberanikan diri untuk menanyakan satu hal Apabila seseorang terkena racun pembuyar tenaga. dan sudah pulih kembali, apakah ia akan kehilangan ingatannya sehingga semua tidak tenngat kembali'"'.

Pengalaman Song Bun Cun dalam dunia kangouw masih cetek Dia tidak tahu arah pertanyaan Ciok Ciu Lan Dia hanya merasa pertanyaan itu rada aneh. Berbeda dengan Ciek Ban Cing Dia mengikuti Song Ceng San sudah berpuluh tahun. Pengalamannya juga jauh lebih banyak. Hatinya tergerak.

"Lao siutidak mengerti penggunaan racun. Tapi kalau ditinjau dari biasanya Selain racun penghilang ingatan, rasanya racun yang lain tidak mempunyai pengaruh seperti itu. Mungkin kalau racun itu sedang kambuh, orangnya akan jatuh tidak sadarkan diri. Namun setalah meminum obat penawar. Keadaannya akan kembali seperti biasa," sahutnya.

"Terima kasih, Ciek Congkoan Apa yang kau katakan sudah cukup jelas. Kalau menurut pendapat Ciek Congkoan, apakah racun dalam tubuh Song loya cu sudah hilang semuanya?" tanya Ciok Ciu Lan kembali.

"Tadi Lao cengcu sudah menyatakan tiahwa kesehatannya sudah pulih Tentu saja racun itu sudah hilang semua," sahut Ciek Ban Cing.

"Kalau begitu, mengapa Song loya cu tidak ingat lagi pembicaraannya dengan Yok Toako hari itu? Seakan semuanya sudah terlupakan, mengapa kelakuannya bisa seperti dua orang yang berlaman?" Dua kali dia mengatakan 'dua orang yang berlainan', bahkan nada suaranya sengaja ditekankan pada bait tersebut seakan sengaja menarik perhatian orang-orang yang hadir.

Wajah Ciek Ban Cing agak berubah. Tapi bagaimana pun, dia adalah orang yang sudah berpengalaman Sebentar saja dia sudah kembali seperti biasa. Sedangkan di mata Song Ceng San terlihat sekelebatan sinar yang garang.

"Kapan Lao siu melupakan kejadian hari itu?" tanyanya sinis. Ciok Ciu Lan tertawa-tawa.

"Loya cu selalu menunggu orang yang mengemukakan lebih dahulu, baru teringat kembali, betul kan? Misalnya, pertama kau menanyakan siapa suhu Yok Toako?

Kedua kali, kau menanyakan apa permintaan suhu Yok Toako? Ketiga kali, terangterangan kau sendiri yang membuat penentuan bahwa Yok Toako harus sanggup menerima satu jurus Hmu pedangmu dahulu, baru dapat mengabufkan permintaan Suhunya Kau malah menganggap penentuan itu dikatakan oleh suhu Yok Toako Keempat kali, hari itu kau menggunakan sebatang sumpit Lrntuk bertanding dengan Yok Toako, kau malah berhasil mematahkan Ujung pedangnya Sekarang kau menanyakan kepada putramu, apakah kau tidak perlu menggunakan pedang?

Berdasarkan empat kesalahan itu, bukan saja kau orang tua seperti tidak tahu apa yang telah terjadi. Bahkan bagaikan dua orang yang berlainan," katanya.

"Tentang persoalan ini, mungkin saja Lao siu ada yang terlupa. Kouwnio sepertinya menghitungnya satu per satu," sahut Song Ceng San sambil menampilkan senyuman lebar.

Ciok Ciu Lan ikut tersenyum.

"Kalau loya cu berkata demikian, anggap saja aku, gadis cilik ini sudah lancang mulut Sebetulnya aku hanya mengingatkan para tamu yang hadir Aku ingat ketika kecil, ibu sering menuturkan sebuah centa Ada seekor sngala tua Dia memakai kulit harimau dan berkeliling di hutanhutan Banyak bi natang buas yang mengira bahwa itu benar-benar seekor harimau ". "Tutup mulut'" bentak Song Bun Cun marah "Apa maksud perkataan kouwnio ini'?" tanyanya.

"Aku hanya menyatakan sebuah kiasan saja. Kalau kau memang tidak suka mendengarnya, baiklah . aku akan tutup mulut," sahut Ciok Ciu Lan.

"Ciok kouwnio, kau sungguh keterlaluan!" kata Song Bun Cun. Ciok Ciu Lan tersenyum tipis.

"Percaya atau tidak adalah hakmu sendiri. Apakah Sau cengcu tidak terpikir, ada seseorang yang memalsukan tulisan Song loya cu Sekarang ada .. Lebih aku tidak mengatakannya." Dia menoleh kepada Yok Sau Cun. "Yok Toako, mari kita pergi".

"Kau juga terlalu keras kepala. Kedatangan kita ke Tian Hua san ceng adalah untuk. mengantarkan obat penawar, dan ingin memohon bantuan Song loya cu agar permintaan suhuku dapat terpenuhi," gerutu Yok Sau Cun.

Yok Sau Cun mendengus, kemudian dia tertawa geli.

"Yok Toako, sayang sekali. Kau telah salah alamat. Meskipun Song loya cu ini mengucapkan berapa ratus kata, permintaan suhumu Juga tidak akan terpenuhi!" serunya lantang.

Belum sempat Yok Sau Gun menyahut, Ciek Ban Cing telah menghadang di depannya dengan wajah berubah.

"Ciok kouwnio, nyalimu sungguh besar. Di depan Loa cengcu berani memandang rendah Tian Hua san ceng. Apabila kau tidak menjelaskan kata-katamu tadi, Jangan harap dapat meninggalkan tempat ini!" bentaknya keras Ketika itu dia sedang membelakangi Song Ceng San, Song Bun Cun dan para tamu yang lamnya Meskipun mulutnya mengeluarkan suara bentakan, tapi matanya berkedip kepada Ciok Ciu Lan.

Tentu saja Ciok Ciu Lan merrgerti Dia tertawa lebar Baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu. Terlihat Song Ceng San mengibaskan tangannya.

"Bang Cing, kalian tidak boleh menyusahkan Ciok kouwnio. Kalau dia memang hendak pergi. Biarkan saja,' katanya.

'"Loa cengcu, Ciok kouwnio mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan di hadapan para tamu dari berbagai partai besar Bagaimana kita boleh membiarkan dia pergi tanpa penjelasan?" sahut Ciek Ban Cing.

"Sudahlah, sudahlahl" Sekali lagi Song Ceng San melambaikan tangannya "Biarkan dia pergi.".

"Song loya cu sungguh berjiwa besar. Tapi kalau aku tidak menerangkan maksud perkataanku, bukankah aku akan dianggap sembarangan mengoceh saja'?" kata Ciok Ciu Lan.

"Ciok kouwnio, Cia hu sudah tidak perdebatkan lagi masalah ini. Apa sebetulnya yang engkau inginkan'?" tanya Song Bun Cun garang.

Yok Sau Cun juga merasa Ciok Ciu Lan tidak benar Dia segera membuiuknya. "Ciu lan, kau jangan berkata apaapa lagi," katanya.

Ciok Ciu Lan tidak memperdulikannya Suaranya semakin lantang.

"Sau cengcu, aku memang orang yang tidak mengenal sopan santun. Tapi kalau aku pergi tanpa mengatakan sesuatu, takutnya Tian Hua san ceng akan mengalami keruntuhan di depan mata ".

Song Bun Cun benar-benar panas mendengar perkataannya.

"Dengan mengandalkan kepandaian kau, Ciok Ciu Lan dapat meruntuhkan kejayaan Tian Hua san ceng?" bentaknya sinis.

Yok Sau Cun tidak menyangka Ciok Ciu Lan begitu kurang ajar, dia tergesa-gesa berdiri dan menjura dalam-dalam.

"Loya cu, Song heng, harap memang cayhe. ".

"Rupanya Sau cengcu salah paham. Yang akan meruntuhkan keiayaan Tian Hua san ceng bukan aku, tetapi kemungkinan besar Song loya cu mi sendiri," tukas Ciok Ciu Lan Kali ini Song Ceng San tidak dapat menahan diri lagi.

"Bang Cing, Bun ji, mengapa kalian masih tidak mengusirnya dari sini?" bentaknya keras sambil memalingkan muka.

Ciok Ciu Lan tertawa dingin.

"Pasti ada maling yang tersinggung karena ucapanku, maka ingin diriku segera diusir dari sini".

"Cring!" Pedang Song Bun Cun telah terhunus dari sarungnya. Matanya mendeiik ke arah Ciok Ciu Lan.

"Ciok Ciu Lan, kalau kau masih mengoceh terus, Kongcumu akan membuat kau mandi darah di tempat ini!" katanya sinis.

Bu cu taisu segera mendekati kedua orang itu dan merangkapkan sepasang telapak tangannya.

"Omitohud! Biar Pinceng menjadi orang tengah Kesalahan ada di pihak Li sicu ini. Bengcu menganggap kau masih muda dan belum mengerti .".

Ciok Ciu Lan tertawa dingin. "Tampaknya Lao suhu yang sudah tua masih belum mengerti apaapa'" tukas gadis itu dengan berani.

"Bocah perempuan tidak tahu dirii Kau mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan terhadap Bengcu, sekarang kau masih menghina Bu Cu taisu Tampaknya kau memang tidak memandang sebelah mata kepada kami1" bentak Hul Hung isu lantang.

Pedang di tangan Song Bun Cun diulurkan ke depan Ciek Bun Cing segera menghalanginya.

"Sau cengcu tidak boleh menggerakkan pedang. Maksud Lao siu dia sengaja memfitnah Lao ceng cu di hadapan orang banyak Menurut peraturan dunia kangouw, maka dia harus menjelaskan semuanya agar terang Kalau dia tidak dapat mengemukakan alasan yang tepat, kita baru boleh turun tangan terhadapnya," kata Ciek Ban Cing sambil men|awil ujung lengan baju Song Bun Cun secara diamdiam, Hati pemuda itu terpana.

"Ciok Ciu Lan, kau anggap Tian Hua san ceng tempat apa sehingga kau boleh sembarangan mengoceh? Kalau kafi tidak menjelaskan semuanya di hadapan para tamu ini, tampaknya Yok Sauhiap juga tidak sanggup melindungi dirimu lagi," kata Ciek Ban Cing lantang.

"Apakah Ciek Congkoan benar-benar mgin aku mengatakannya?" tanya Ciok Ciu Lan santai.

"Ban cing, mengapa kau masih tidak menggiringnya keluar? Apakah harus lohu sendiri yang turun tangan'?" bentak Song Ceng San marah.

Ciok Ciu Lan meliriknya dengan ujung mata Bibirnyatersenyum mengejek. "Mengapa? Kau mulai ketakutan?" tanyanya.

Wajah Song Bun Cun merah padam ka rena marah Dadanya hampir meledak Tapi sekali lagi dia terpaksa menahan diri karena kedipan mata Ciek Ban Cing Song Bun Cun tahu congkoannya itu banyak pengalaman. Otaknya juga sangat cerdas Sekali lagi dia mengedipkan matanya sebagai isyarat, tentu mengandung maksud tertentu Karena itu, Song Bun Cun menggertakkan giginya dan menyabarkan diri.

Hui Hung i su bangkit dengan mata mendelik. "Budak cilik, kau. .!".

Wi Ting sin tiaw cepatcepat menarik Hui Hung i su agar duduk kembali.

"Harap toheng jangan marah Urusah ini biar diselesaikan oleh Ciek Congkoan," katanya. r Ciok Ciu Lan tertawa sumbang.

"Song toya cu, kau pernah menjabat sebagai Bulim bencu. Namamu menggetarkan dunia kangouw Di Bulim kau selatu dihormati dan disanjung. Kau disebut jago nomor satu. Sekarang kau menetap di Tin Hua san ceng dan menutup diri Selama mi kau jarang menenmatamu luar, bukan?" tanyanya.

Tiba-tiba nada suaranya berubah, sopan dan sangat menghormat Song Ceng San mengelus jenggotnya Mulutnya berdehem datar Ciok Ciu Lan tetap tersenyum lebar "Kalau memang Song loya cu ingin menenangkan diri dan dunia rarnai, apa lagi kau menetap di Tian Hua san ceng, mengapa kau harus mengenakan topeng kulit manusia'?" tanyanya.

Mendengar kata-kata Ciok Ciu Lan, wajah setiap orang yang ada di ruangan itu berubah seketika Bulim toa lo Song toya cu mengenakan topeng kulit manusia? Di an tara orangorang yang ada di ruangan itu, hanya Song Bun Cun dan Yok Sau Cun yang pengalamannya masih cetek. Sedangkan yang lainnya merupakan tokohtokoh yang sudah banyak makan asam garam Mereka segera mengerti apa yang dimaksud oleh Ciok Ciu Lan Seandainya Song Ceng San yang ada di hadapan mereka sekarang benar-benar mengenakan topeng kutit manusia, tentunya dapat dipastikan dia adalah Song loya cu patsu.

Tangan Song Ceng San kembali mengelus jenggotnya Matanya menatap tajam ke arah gadis itu.

"Budak cilik coba katakan, bagaimana kau bisa melihat kalau Lao Si mengenakan topeng kulit manusia?" tanyanya dengan suara berat.

Mendengar nada bicaranya, dia seakan sudah mengakui bahwa dia memang mengenakan topeng kulit manusia.

"Para tamu yang hadir adalah tokohtokoh dan sebagian delapan partai besar Dengan kedudukan seperti Song loya cu, tentu tidak ada yang menaruh curiga Berbeda dengan diriku Aku sudah mengikuti ibu berkelana di dunia kangouw sejak kecil, berbagai macam manusia sudah pernah ku ternui Tadi kau menuang obat penawar ke dalam telapak tanganmu, tindakanmu itu hanya purapura saja Obat itu sama sekali tidak kau minum Hatiku sudah langsung curiga Tepat pada saat itu, aku melihat kau mengangkat ta nganmu dan berbuat seakan kau sudah meminum obat itu Warna pada lehermu dan wajahmu sangat berbeda Hanya orang yang mengenakan topeng kulit manusia baru terlihat perbedaan warna kulit seperti itu..." Dia menarik nafas panjang baru kemudian melanjutkan kembali "Kemudian, berkalikali Kau lupa apa yang pernah kau ucapkan dengan Yok Toako. Kau bagai dua orang yang berlainan. Waktu itu aku segera mengetahui bahwa kau bukan Song loya cu yang sesungguhnya, tapi wajahmu mengenakan sehetai topeng kulit manusia yang dibuat serupa dengan Song Loya cu.".

Ciek Ban Cing menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Kalau soal ketelitian, memang kaum perempuan lebih cermat Sedangkan aku sen diri, meskipun merasa Lao cengcu agak aneh, tapi tidak terpikir sampai sejauh itu," katanya lirih.

Mendengar kata-kata itu, Song Ceng San segera tertawa terkekeh-kekeh Kepalanya manggut-manggut. "Bocah cilik, pandangan matamu memang tajam. Lao siu memang mengenakan topeng kulit manusia." Tangannya perlahanlahan diangkat. Dan bagian lehernya, dia menarik ke atas. Terlihat sehelai topeng kulit manusia terkelupas secara utuh Begitu topengnya terbuka, semua orang dapat melihat bahwa yang duduk di hadapan mereka me mang bukan Song loya cu. Alisnya pendek, matanya berbentuk segitiga Wajahnya kecil dan panjang Tampaknya berusia sekitarlima puluhan Bibirpya mengembang secarik senyuman dingin.

Tidak ada seorang pun yang pernah mengenalinya Bengcu berubah menjadi orang lain Tentu saja Bu Cu taisu dan semua yang hadir terpana Saking terkejutnya, mereka bangkit dari kursi serentak.

Mata Song Bun Cun mendelik besar. Pedang di tangannya diangkat Kakinya maju satu langkah.

"Kau... siapa engkau?" bentaknya.

Ciek Bang Cing segsra memegang tangan pemuda itu dan membujuknya. "Sau cengcu tenangkan hatimu" katanya.

Muka yang tipis dan panjang itu datar sekali. Senyumannya juga sangat dingin menggidikkan siapa pun yang memandangnya.

"Lohu adalah Suo Yi Hu Baru pertama kali mi berjumpa dengan kalian," ujarnya sambil menjura.

Ciok Ciu Lan tertawa dingin.

"Long san it pei (Sejenis binatang yang langka dengan kaki depan pendek dan biasanya selalu menumpu di belakang srigala sebagai penuntun jalan) adalah julukan yang diberikan orang padamu," katanya.

"Pandangan kouwnio ternyata amat luas. Sampai julukan Lohu pun, engkau tahu," sahut Suo Yi Hu.

Tampaknya selain Ciok Ciu Lan, tidak ada lagi yang tahu asal usul laki-laki yang menyamar Song Ceng San itu.

"Di mana ayahku?" tanya Song Bun Cun.

Suo Yi Hu mengeluselus jenggotnya de ngan tenang Bibirnya tersenyum senyum. "Harap sau cengcu jangan khawatir Song loya cu baikbaik saja ".

"Di mana Cia hu sekarang?" bentak Song Bun Cun sekali lagi.

"Song loya cu berada di kediaman majikan lohu Dia dianggap sebagai tamu agung," sahut Suo Yi Hu. Sinar mata Ciek Ban Cing seperti anak panah yang siap meluncur.

"Manusia she Suo. Sebetulnya rencana busuk apa yang akan kalian jalankan'? Lebih baik katakan saja terus terang." katanya lantang.

Suo Yi Hu tertawa sinis.

"Majikan lohu sangat mengagumi Song loya cu. Maka dan ttu sengaja mengajaknya menetap di tempat kami Tidak ada rencana busuk seperti yang kau duga " sahutnya.

"Baik Kalau begitu, tolong felaskan siapa majikanmu dan di mana tempat tinggalnya?" tanya Ciek Bun Cing sekali lagi.

"Tentang ini harap maafkan Ketika hengte datang kemari, majikan tidak memben pesan apaapa Hengte tidak berani mengatakannya," sahut Suo Yi Hu.

"Apakah saudara tahu tempat apakah ini?" tanya Ciek Ban Cing. Suo Yi Hu tertawa kering.

"Hengte datang ke sini bukan baru sehari dua han, bagaimana tidak tahu tempat apa ini?" sahutnya.

"Kalau tahu bagus. Matah ini seandainya kau tidak menjelaskan segalanya. jangan harap keluar dan tempat ini'" kata Ciek Ban Cing tajam.

Suo Yi Hu mengenakan kembali topeng kulit manusianya. Dia tertawa.

"Hengte sama sekali tidak berniat meninggalkan tempat ini," sahutnya. Dengan tenang dia merapikan topeng di wajahnya "Hengte.

menerima perintah dari majikan datang ke Tian Hua San ceng sebagai sandera. Satu hari Song loya cu tidak kembaii, hengte juga tidak akan pergi dari sini.".

Tampaknya dia sengaja mengenakan kembali topeng kulit manusia itu karena ingin melanjutkan peranannya sebagai Song Ceng san Song Bun Cun marahsekali Uraturat wajahnya bertonjolan Pedangnya ditudingkan ke depan.

"Manusia she Suo! Lekas buka kembali topengmu!" bentaknya. Suo Yi Hu meliriknya sekilas.

"Sau cengcu, hengte mendapat tugas menyamar sebagai Song loya cu Bukan karena kemauanku sendiri.".

"Manusia busuk! Seandainya kau masih belum mau melepaskan kedok wajahmu itu, jangan salahkan kongcumu segera turun tangan!" kata Song Bun Cun.

"Sebelum Song loya cu diantarkan kembali, kedudukan hengte pasti aman dan kuat. Tidak mungkin Sau Cengcu akan menusuk hengte untuk menyelesaikan persoalan bukan?" sahutnya sambil tersenyum simpul.

Song loya cu berada di bawah kekuasaan mereka, Meskipun sebesar apa kemarahan orangorang itu mereka tetap tidak berani membunuh Suo Yi Ku.

"Kongcu, harap sabarkan hati," kata Ciek Ban Cing,.

"Suruh orang itu melepaskan kedoknya lebih dahulu Nanti baru kita bicarakan lagi haj lainnya!" Tentu dia marah sekali melihat seseorang menyamar sebagai Song loya cu di hadapannya.

"Kadatangan hengte kali ini adalah untuk menjaga agar derajad Song loya cu agar tidak jatuh di mata orang luar Dengan adanya hengte yang menyamar sebagai dia, ten tu tidak akan ada yang menduga kalau Song loya cu sudah ditawan pihak musuh Seandainya Sau cengcu berkeras menyuruh hengte melepaskan kedok ini, aku past! akan menuruti perkataanmu," sahut Suo Yi Hu Dia segera melepaskan topeng kulit manusianya Wajahnyayang asli pun terlihat.

"Saudara Suo menyamar sebagai Beng cu untuk mengelabui kami Dengan demikian, surat undangan yang ditenma kelima partai kami juga buatan saudara Suo." kata Wi Ting sin tiaw.

"Hengte tidak mempunyai bakat seperti itu. Rasanya belum sanggup menirukan tulisan tangan Song loya cu, tapi hengte memang tahu urusan ini.".

"Omitohudi" seru Bu Cu taisu sambil merangkapkan tangannya. "Apakah majikan sicu yang memalsukansurat tersebut?" tanyanya.

"Baguslah kalau cuwi sudah tahu," sahut Suo Yi Hu dengan nada berat.

"Majikan sicu mengundang kami sekalian dengan memalsukan nama Song loya cu. Sebetulnya mengandung maksud apa?" tanya Kan Si Tong.

Suo Yi Hu cenger cengir.

"Tentang itu, hengte hanya mendengar sedikit," sahutnya. "Coba kau utarakan kepada kami," kata Su Po Hin.

"Majikan hengte mengundang kalian keman karena in gin mengumumkan suatu hal.." sahut Suo Yi Hu.

"Mengemukakan tentang apa?" tanya Su Po Hin.

"Hengte juga kurang jelas. Lebih baik cuwi tunggu sejenak Mungkin pengantarsurat sebentar lagi akan tiba di sini," sahut Suo Yi Hu.

"Bagus sekali' Manusia she Suo' Kau ingin lohu turun tangan atau menyerah secara baikbaik?" tanya Ciek Ban Cing. Suo Yi Hu tersenyum tipis.

"Hengte pernah mengatakan, selama Song loya cu masih di tangan majikan kami, maka keselamatan hengte juga akan terjamin," katanya.

Ciek Ban Cing mendengus dingin.

"Kau kira dengan adanya Lao cengcu kami di tangan majikanmu, maka kami tidak berani turun tangan? Kau sendiri yang mengatakan bahwa Song loya cu diperlakukan sebagai tamu agung di kediaman majikanmu. Sedangkan kau hanya seorang pesuruh yang diutus menyamar sebagai Lao cengcu kami Seandainya kami membunuh engkau, rasanya tidak mungkin majikanmu akan mence|akai tamu agungnya demi seorang keroco macam engkau," sahutnya tenang.

Suo Yi Hu terpana. Dia menganggukkan kepalanya. "Hengte memang tidak berpikir sejauh itu," katanya. Ciek Ban Cing tertawa sinis.

"Bukankah lebih baik kau menyerah saja?".

Suo Yi Hu mengerling sekilas kepada Ciek Ban Cing.

"Apakah Ciek Congkoan bermaksud ber gebrak dengan hengte?" tanyanya. "Lao siu akan meringkus dirimu " sahut Ciek Ban Cing datar.

"Apakah kau tahu siapa julukan hengte?". "Long san it pei".

"Tidaksalah " Keduajaritangannya meng garukgaruk bawah bibirnya yang berjenggot tipis "Tentunya kau tahu bahwa binatang pei selamanya tidak berjalan sendiri".

Ciek Ban Cing tertawa dingin.

"Maksudmu, akan ada orang yang me wakili dirimu turun tangan?".

Suo Yi Hu mengangkat bahunva dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. "Orang she Ciek ini akan meringkus diri mu terlebih dahulu, nanti kita lihat siapa

yang akan mewakili dirimu turun tangan," kata Ciek Ban Cing sambil berjalan dengan langkah lebar menghampin orang itu Baru saja perkataannya selesai lima jari tangannya segera terulur dengan kecepatan yang mengagumkan mencengkeram bahu Suo Yi Hu.

Cakarnya itu memang merupakan senjata andalannya Apalagi dia melakukan dengan kecepatan tinggi, namun, terlihat bayangan tubuh memutar Dengan mudah Suo Yi Hu melepaskan diri.

Tepat pada saat itu, tampak tirai penghubung disingkapkan Seorang pemuda berpakaian hijau menyerbu masuk. Dia menghadang di depan Ciek Ban Cing Kalau menilik dari pakaiannya, tentu dia adalah salah satu pelayan di Tian Hua san ceng Mata Ciek Ban Cing memperhatikannya sekilas Terlihat seorang pemuda berusia dua puluh delapan tahunan dengan wajah hitam dan bibirnya menyunggingkan senyuman tipis Matanya seperti burung elang Berhidung betet Raut mukanya kurus, membuat perasaan orang yang memandangnya menjadi tidak enak.

Mata Ciek Ban Cing menatap sekilas lagi orang itu dan atas sampai bawah. Semua pelayan atau tukang kebun di Tian Hua sang ceng dihapalnya betul Hanya yang satu ini belum pemah dilihatnya.

"Siapa kau?" bentaknya , "Apakah Ciek Congkoan tidak mengenal hamba?". "Kau bukan orang Tian Hua sang ceng'" kata Ciek Ban Cing tegas.

"lya," sahut orang berpakaian hij'au Ucapan 'iya' yang disebutkannya membingungkan setiap orang Apakah berarti bahwa dia adalah orang Tia Hua san ceng? Atau mengiakan bahwa dia memang bukan penghuni perkampungan itu?.

"Kau adalah komplotan manusia she Suo itu Kapan kau menyelinap ke dalam Tian Hua san ceng?" tanya Ciek Ban Cing.

"Dia memakai pakaian yang sama dengan semua pelayan atau pekerja di sini Hal ini membuktikan bahwa dia orang Tian Hua san ceng. Sedangkan semua orang Tian Hua san ceng, hanya dipilih oleh Ciek Cangkoan," sahut Suo Yi Hu.

Hati Ciek Ban Cing panas sekali.

"Bagus sekalii" bentaknya Tiba-tiba tangannya dikembangkan dan dihantamkan ke dada orang tadi.

Perlu diketahui bahwa Ciek Ban Cing adalah seorang tokoh kelas satu dari Eng Jiau bun Serangannya ini memang sengaja untuk mendesak lawan. Tenaga yang digunakannya sebanyak tujuh bagian. Sekali tangannya dikaluarkan, ssgera terasa angin menderu Meluncur dengan cepat ke depan. Karena jarak mereka sangat dekat, begitu serangan itu dikeluarkan, tiada orang yang akan menyangka, tapi mereka semua tahu sampai di mana kehebatan ilmu telapak tangan Ciek Ban Cing.

Manusia berpakaian hijau itu tidak mengatakan apaapa Dia juga tidak berusaha untuk menghindarkan diri Dengan gerakan yang sama, telapak tangannya dikembangkan dan menyambut serangan Ciek Ban Cing dengan kekerasan.

Dalam bentrokan ini, yang satu melancarkan serangan. sedang yang lain menyambut, tentu saja dengan cepat kedua telapak tangan itu beradu.

"Blam!!!" Tampaknya kedudukan mereka seimbang karena keduanya terdesak mundur satu langkah Ciek Ban ing sempat termangumangu. "Orang ini usianya masih sangat muda, namun kekuatan tenaga dalamnya tidak kalah dengan aku Dengan kepandaiannya sekarang, tampaknya dia bukan seorang bubeng cut (prajurit tanpa nama). Mengapa aku tidak pernah mendengar tentang orang ini di dunia kangouw?" pikirnya dalam hati. Dia segera mengembangkan telapak tangannya sekali lagi.

"Terimalah serangan lao siu ini!" teriaknya.

Kedua belah bahunya ditegakkan Bentuk tubuhnya yang memang tinggi bssar semakin mengembang Dia menggunakan sebuah jurus andalannya Tenaga dalamnya dikumpulkan sebanyak sepuluh bagian Tujuan serangannya adalah muka orang berpakaian hijau itu. Karena jarak mereka sekali ini agak berjauhan, dia sengaja memamerkan kekuatan telapak tangannya.

Laki-laki berpakaian hijau itu tetap tidak menyahut sepatah pun Lengan sebelah kirinya diulurkan dia menggerakkannya ke arah atas dan menyambut telapak tangan Ciek Ban Cing seperti semula Ciek Ban Cing jadi marah sekali.

"Sungguh seorang manusia yang tidak tahu arti kematian!" katanya Telapak kanannya masih menuju ke depan, kaki kirinya menendang mengarah ke bagian perut lawan.

Manusia berpakaian hijau itu tidak tampak panik, Lengan kinnya masih diarahkan ke atas. Melihat kedatangan tendangan kaki Ciek Ban Cing, tangan kanannya segera dikibaskan ke bawah Kecepatan mereka sama. Dalam waktu singkat, seluruh anggota tubuh mereka saling membentur.

"Blam! Blam'" Terdengar suara keras dua kali berturut-turut.

Kekuatan telapak tangan kiri manusia berpakaian hijau itu masih kalah sedikit dari Ciek Ban Cing, tubuhnya terpelanting ke tanah, tapi sebelumnya lengan kanannya sempat menangkis tendangan kaki lawan. llmu 'yang digunakannya adalah "Sua teng kio han" (Memantulkan suara di atas gunung). Semakin kuat serangan lawan, 4paka daya tangkisnya pun semakin Kuat. Apalagi tangkisan lengannya tadi tepat di bagian dalam paha Ciek Ban Cing. Tanpa dapat dicegah, tubuh Ciek Ban Cing terpental jauh. Dia hanya merasakan bagian dalam pahanya nyeri sekali Hampir saja dia tidak sanggup bangkit Song Bun Cun segera menghampiri dan memapahnya.

"Bagaimana keadaan Ciek Congkoan?" tanyanya. Ciek Ban Cing menggertak gigi.

"Tidak apaapa Lao siu hanya mengalami luka iuar yang tidak berarti".

Manusia berpakaian hijau itu juga sedang berusaha berdiri. Tubuhnya yang mendeprok di tanah ditumpu dengan kedua telapak tangannya Tenaganya disaiurkan dan sekali hentak, tubuhnya melesat ke arah luar Kebetulan dia lewat di samping Su Po Hin Pedang di tangannya segera bergerak, menuding ke arah leher laki-laki itu. "Apakah kau bermaksud kabur?" bentaknya.

Tepat pada saat itu, tirai penghubung bsrgoyang, sesosok bayangan hijau kembali menyerbu ke dalam ruangan. Yok Sau Cun dan Ciok Cm Lan sudah menepi ke bagian sudut Mereka berdiri bahu membahu.

"Tampaknya orang ini juga komplotan penjahat itu," kata Yok Sau Cun dengan nada lirih.

"Kemungkinan besar Tian Hua san ceng sudah dimasuki komplotan mereka," sahut Ciok Ciu Lan.

Wajah Suo Yi Hu mengembangkan senyuman licik Tangannya menjentik perlahan Tampak manusia berpakaian hijau yang datang belakangan berkelebat Pedangnya diputar Smarnya menyilaukan mata Dengan pesat menangkis pedang Su Po Hin yang terarah di ieher manusia berpakaian hijau yang pertama Seakan orang tersebut sudah menjadi tanggungannya.

Su Po Hin yang melihat kedatangan manusia berpakaian hijau yang kedua itu dengan sekali gerak sudah berhasil membebaskan kaki tangannya, menjadi marah seketika Pedangnya ditarik kembali.

"Apakah kau kira aku tidak berani membunuhmu?" bentaknya keras.

Tangan kin laki-laki itu masih menggantungkan pedangnya di udara Dia menatap Su Po Hin dengan pandangan dingin Mulut nya tidak berkata apa-apa.

Pedang di tangan Su Po Hin digetarkan.

"Su Po Hin tidak membunuh Bu Beng siau cut Laporkan namamu " katanya. Manusia berpakaian hijau itu tertawa dingin.

"Dengan mengandalkan Butong kiam hoat, kau masih betum sanggup membunuh aku. Buat apa melaporkan nama?" sahutnya ketus.

Sifat Su Po Hin memang rada angkuh Mendengar ucapan itu, hatinya panas sekali. Dia tertawa terbahak-bahak.

"Kalau begitu, cobalah Butong kiam noatku ini." Tenaknya.

Pedangnya yang lurus terulur kirakira tiga empat cun di hadapan manusia ber pakaian hijau. Pergelangan tangan digoncangkan, getarannya menimbulkan suara menggelegar dan menimbulkan segulungan sinar pedang.

Manusia berpakaian hijau itu menatap de ngan tenang.

"Bertarung dengan mengadu nyawa, buat apa harus memakai jurus anak kecil seperti itu?" sindirnya tajam. Tiba-tiba tangannya bergerak, kelebatan pedangnya menerjang ke daiam gulungan sinar pedang Su Po Hin Jurus ini, ternyata sangat hebat. Su Po Hin terkejut mendengar nada bicaranya yang seakan memandang remeh Butong kiam hoat. Dia semakin marah Tetapi pedang lawan sedang menuju lurus ke arahnya, dia tidak berani menganggap enteng lawannya itu Kakinya mundur setengah langkah, pedang panjang dihunjamkan ke depan dan membuat sebuah lingkaran.

llmu yang dimainkan manusia berpakaian hijau itu sangat istimewa. Dia tidak menghindar, tapi malah memasukkan pedangnya ke dalam lingkaran pedang Su Po Hin Gerakannya seakan sengaja diciptakan untuk mengimbangi Butong Kiam hoat Hampirnampir Su Po Hin tidak mempunyai kesempatan untuk membalas. Lawannya menyerang tiga kali, dia juga terdesak mundur tiga langkah.

Namun tardesaknya dia malah membawa keberuntungan Dia sempat berpikir dalam keadaan tenepit Cepatcepat dia mengatur nafasnya dan menenangkan hatinya Pergelangan tangannya diangkat LambaMam bat dia merubah gerakannya.

Su Po Hin adalah sute dari Butong Ji cu totiang. llmunya cukup lihai Meskipun dia senng berkelana di dunia kangouw, tap! kebanyakan menerima tugas dan suhengnya atau menolong orang yang kesusahan. Karena dia adalah sute dari Ciang bunjin Butong pai, maka para kawanan Bulim juga memandangnya dari sudut yang lain Dia selalu dihormati dan jarang bertarung dengan orang. Oleh sebab itu, pengalamannya dalam bertarung memang kurang banyak.

Dia sudah berusaha sekuat tenaga Pertamatama dia mulai dapat mengimbangi manusia berpakaian hijau itu, tetapi karena kurangnya pengalaman itulah berkalikali dia terkecoh. Setiap gerakan atau serangan yang dikeluarkan oleh manusia berpakaian hijau selalu diduga salah olehnya Beberapa kali dia mengira orang itu akan menusukkan pedangnya, tetapi setelah dekat tiba-tiba berubah menjadi tendangan. Su Po Hin merasa dipermainkan, dia berang sekali Apalagi ketika dia melihat baju bagian dadanya terkoyak sedikit oleh sabetan pedang manusia berpakaian hijau itu.

"Manusia [ahat, jangan kira aku manusia she Su takut kepadamu'" tenaknya sambil bersikap menerjang kembaii.

Manusia berpakaian hijau itu menarik kembaii pedangnya Dia mundur dua langkah, tatapan matanya memandang Su Po Hin dengan tajam.

"Yang tadi itu, hanya merupakan setitik pelajaran bagimu. Kalau aku memang bersungguhsungguh, yakin hari ini kau tidak bisa kembaii lagi ke Butong san untuk selamanya," sahutnya sinis Pedangnya sekali lagi berkelebat Sinarnya membuat mata menjadi silau. Su Po Hin kelabakan, Dia terdesak mundur dua langkah Tepat pada saat itu, kepala Song Bun Cun menoleh ke arah Suo Yi Hu Pandangannya dingin menusuk.

"Berapa banyak kaki tanganmu yang menyusup ke dalam Tian Hua sang ceng kami?" tanyanya sinis.

Suo Yi Hu tertawa lebar.

"Hengte menyehnap ke dalam kediaman Sau ceng cu memang harus menyediakan beberapa anak buah agar semua yang tidak diinginkan dapat terhindar Hai ini juga tidak merupakan kesalahan hengte bukan?" sahutnya.

Hawa pembunuhan perlahanlahan naik ke atas kepala Song Bun Cun. "Berapa jumtah keseluruhannya'? Suruh mereka keluar sekaligus!".

Suo Yi Hu mundur satu langkah ketika melihat pemuda itu mendekatinya. "Apa yang hendak Sau cengcu lakukan?" tanyanya.

Wajah Song Bun Cun kaku sekali. Kemarahannya telah sampai di puncak.

"Tadi Ciek Congkoan sudah mengingatkan diriku, bahwa membunuh dirimu sama sekali tidak membahayakan keselamatan cia hu Kalau kau memang masih mempunyai sisa kaki tangan di sini. Sekalian suruh mereka keluar Malam ini, pertama tama aku ingin membasmi penyelusup Tian Hua san ceng, termasuk dirimu Setelah itu... aku akan mencari majikan kalian. .!" katanya.

Kata-katanya diucapkan sepatah demi sepatah. Menimbulkan kekerasan hatinya. Suo Yi Hu berusaha menenangkan hatinya.

"Dengan membunuh hengte, sama sekali tidak menguntungkan Tian Hua san ceng," sahutnya.

"Meskipun membunuhmu tidak membawa keuntungan bagi Tian Hua san ceng, tapi setidaknya aku dapat mengunjukkan pada dunia Bulim, bahwa Tian Hua san ceng sama sekali tidak boleh dihina Siapa yang memasuki Tian Hua san ceng dengan cara menyelusup seperti ini, akan menerima kematian," sahutnya tegas.

"Kau terlalu gegabah, jangan lupa bahwa Song loya cu masih berada di tangan pihak kami," kata Suo Yi Hu.

"Majikanmu menawan Cia hu, kemungkinan besar karena ingin menguasai dunia persilatan. Nama Cia hu di dunia kangouw memang sudah tekenal. Majikanmu hanya ingin mengunjukkan kekuasaannya dengan menawan Cia hu. Tapi dia pasti akan memperlakukannya dengan baik. Sebagai manusia yang sedang mengembangkan sayapnya, dia tentu tidak berani menimbutkan kemarahan orang banyak. Beful tidak?" sahut Song Bun Cun.

Suo Yi Hu mengeiuselus jenggotnya yang tipis. Kepalanya manggut-manggut. "Tampaknya Sau cengcu telah memutuskan untuk membunuh hengte ".

"Tidak salah Aku membenkan kesempatan kepadamu " Dia menoleh kepada Ciek Ban Cing "Ciek Congkoan, pinjamkan pedangmu," katanya. Dia melihat Suo Yi Hu tidak membawa pedang Ciek Ban Cing segera mengiakan Dia mencabut pedangnya dan disodorkan kepada laki-laki itu. Suo Yi Hu menggelenggelengkan tangannya.

"Hengte tidak pernah menggunakan pedang, juga belum pernah bergebrak dengan siapa pun juga.".

"Kau tidak menggunakan pedang, aku memakai pedang Biarpun kau mengatakan belum pernah bergebrak dengan siapa Juga, aku tetap akan turun tangan," kata Song Bun Cun tegas.

Suo Yi Hu mengangkat bahunya, dia tertawa kering.

"Kalau Sau cengcu tetap ingin turun tangan, pedang ton ada di tanganmu. Apa yang bisa hengte katakan lagi?" sahutnya santai Dia masih tenang-tenang saja. Tarn paknya dia mengira Song Bun un tidak berani membunuhnya.

Tangan Song Bun Cun telah menggenggam pedang panjang. Hawa pembunuhan telah tersirat nyata.

"Bagus! Ini permmtaanmu sendiri'" bentaknya Dia segera menggerakkan pedangnya. Serangannya ini sudah diperhitungkan Dia menyerang bagian kening Suo Yi Hu.

Permainan pedang Sau cengcu dari Tian Hua san ceng tentu dapat diperkirakan sampai di mana kehebatannya Meskipun di ruangan yang tidak berapa besar itu masih ada sepasang manusia yang sedang bertarung, tapi perhatian semua orang lebih tertuju pada Song Bun Cun dan Suo Yi Hu Karena merekalan pemeran utama malam Ini.

Apa yang dikatakan oleh Suo Yi Hu memang tidak salah. Dia tidak pernah bergebrak dengan siapa pun Dia tidak menangkis ataupun membalas serangan Song Bun Cun.

Juga tidak menghindar Seakan sedang menunggu kematian di tangan pemuda itu. Batok kepalanya bukan terbuat dari besi Seandainya dari besi pun dengan kekuatan dan kepandaian Song Bun Cun, meskipun tidak tarputus, tetap akan somplak sebagian besar.

Sinar pedang berkilauan. Jarak antara pedang itu dengan batok kepala laki-laki itu tinggal iima cun, tapi Suo Yi Hu masih tidak bergerak. Setiap mata yang ada di ruangan itu tertumpu padanya. Apakah Long san itpei datang ke Tian Hua san ceng memang untuk mengantarkan nyawanya?.

Limacun adalah jarak yang sangat dekat, tapi ketika jarak pedang itu tinggal satu cun, wajah Long san itpei Suo Yi Hu dipalingkan ke kin Tebasan pedang lewat persis di samping telinganya.

Dengan demikian, pedang Song Bun Cun telah luput dari sasarannya Menunggu sampai pedangnya ditarik kembali, kepala Suo Yi Hu sudah tegak seperti sedia kala Bagaimana menggambarkan kecepatan gerakannya?.

Dalam pandangan semua orang yang ada di ruangan itu, Suo Yi Hu sama sekali tidak bergerak Seakan pedang Song Bun Cun hanya numpang lewat di bagian kepalanya saja. Song Bun Cun mempunyai perkiraan sendiri Long san itpei mengaku belum pernah bergebrak dengan orang, tapi dia sanggup menghindarkan diri dari tebasannya dengan kecepatan seperti angin. Hal ini membuktikan ilmu silatnya sangat tinggi.

"Bagus!" serunya lantang.

Pedang kembali digerakkan, tapi meskipun dia menyerang sebanyaklima kali, hasitnya tetap sama. Ujung baju Suo Yi Hu tidak sempet tersenggol olehnya. Setiap kali serangannya sudah pasti akan mengenai tubuh orang itu, namun apa yang terjadi selalu di luar dugaan.

Orang yang hadir di dalam ruangan itu adalah tokohtokoh kelas tinggi, tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara Suo Yi Hu melepaskan diri Hanya Yok Sau Cun seorang yang dapat melihat dengan jelas. Dia memperhatikan sampai terpana. Terlihat juga wajahnya perlahanlahan berubah. Dia membisiki Ciok Clu Lan.

"Ternyata dia merupakan komplotan mereka.". Ciok Ciu Lan menolehkan wajahnya.

"Komplotan siapa yang kau maksudkan?" tanyanya.

"Cara menghmdarkan diri Suo Yi Hu ini, sama dengan keempat pel.ayan Tiong Hui Ciong ...".

Baru saja perkataannya selesai, terdengar seruan Suo Yi Hu "Sau cengcu, harap berhenti!".

Song Bun Cun menarik kembali pedangnya. "Apa yang ingin kau katakan?".

"Tampaknya Sau cengcu memang bermat membunuh hengte Baru beberapajurustadi saja sudah menunjukkan begitu banyak perubahan, kalau dilanfutkan, hengte tentu akan terluka di bawah pedangmu," kata Suo Yi Hu.

Song Bun Cun tertawa dingin.

"Jadi, kau berniat merubah keputusanmu dan akan menggunakan pedang?" tanyanya.

"Hengte selamanya tidak pernah menggunakan pedang," sahut Suo Yi Hu sambil tersenyum.

"Jadi, apa yang kau inginkan?" tanya Song Bun Cun.

"Hengte bermaksud meminta bantuan seseorang," sahut Suo Yi Hu tenang.

"Aku pernah mengatakan, kalau kau memang masih memiliki kaki tangan, panggil saja sekalian," kata Song Bun Cun.

Kening Suo Yi Hu berkerut Wajahnya lucu sekali Dibilang tertawa, bukan Dibilang bukan tertawa, bibirnya mengembangkan senyuman.

"Hengte bermaksud meminta bantuan dari kelompok delapan partai besar sahut nya Matanya segera mengerling ke arah Bu Cu taisu dan rekanrekannya Dia memperhatikan mereka satu per satu.

Sebetulnya di ruangan itu ada lima orang tokoh delapan partai besar, tapi Su Po Hin sedang bertarung dengan manusia berpakaian hijau Yang tertinggal adalah Bu Cu taisu dan Siaulim si Kan Si Tong dari pat kwa bun, Wi Ting sin tiaw dan Liok hap bun, Hui Hung i su dari Ciong lam pai.

"Manusia she Suo, apa yang kau ocehkan?" tanya Song Bun Cun garang.

"Apakah Sau cengcu tidak percaya?" Matanya segera terhenti pada diri Hui Hung i su "Liok Hui Peng, kau saja'" serunya.

"Apakah kau hendak bergebrak dengan pinto'?" tanya Hui Hung i su "Hengte ingin meminta bantuanmu," sahut Suo Yi Hu.

Song Bun Cun mendengar nada bicaranya begitu serius, mau tak mau timbul rasa curiga dalam hatinya.

"Apakah kau ingin meminta pinto melawan Sau cengcu?" t nya Hui Hung i su sambil tersenyum,.

Suo Yi Hu menganggukkan kepalanya. "Memang itu maksud hengte!" sahutnya tegas. Tawa Hui Hung i su semakin lebar.

"Manusia she Suo, apakah kau bukan sedang bermimpi?" tanyanya. Suo Yi Hu tersenyum kecil Namun wajannya serius.

"Hengte baikbaik saja. Bagaimana dapat dikatakan sedang bermimpi?". Hui Hung i su mengangkat bahunya.

"Kalau begitu, pastj pinto salah dengar” katanya.

"Pendengaran toheng sangat tajam. Lagj pula belum terlalu tua untuk dikatakan pi.kun Mana mungkin bisa salah dengar?" sahut Suo Yi Hu.

"Baiklah. .. Apabila saudara Suo bukan sedang bermimpi, dan pinto juga tidak salah dengar Harap Suo katakan sekali lagi agar pinto lebih jelas," Kata Hui Hung i su.

"Tadi hengte mengatakan bahwa ingin merrnnta bantuan toheng untuk menyambut beberapa jurus dan Sau cengcu," sahut Suo Yi Hu. "Perkataan saudara mi, entah terpikir dari mana?" tanya Hui Hung i su geli. "Hengte tidak perlu berpikir Ini adalah sebuah perintah," sahut Suo Yi Hu tegas.

"Penr'tah?" Hampir sa]a Hui Hung i su mengira telinganya salah dengar kali mi Dia menatap ke arah Suo Yi Hu dengan mata terbelalak. "Kau memben perintah kepada pinto?" tanyanya sekali lagi.

"Betult" Suo Yi Hu mengangukkan kepalanya dengan wajah serius 'Yang hengte maksudkan memang engkau.".

"Dengan latar belakang apa pinto harus menuruti perintahmu?" tanya Hui Hung i su garang.

"Tahukah toheng ini perintah dari siapa?".

Hui Hung i su melihat wajah orang sangat serius, hatinya semakin curiga. "Perintah dari siapa?" tanyanya.

Bibir Suo Yi Hu tersenyum mengejek.

Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah lencana batu kumala dan balik saku bajunya. Lencana itu dikelilingi emas. dia menimangnimangnya dalam genggaman Wajah Hui Hung i su berubah seketika melihat lencana giok itu.

"Toheng pasti mengenali lencana ini?" sindir Suo Yi Hu ketus.

Tentu saja Hui Hung i su mengenalinya Lencana itu hanya bofeh dimiliki oleh Ciang bunjin dan Ciong Lam pai Siapa yang melihat lencana itu bagaikan bertemu ketuanya sendiri.

Yok Sau Cun melihat Suo Yi Hu mengeluarkan sebuah lencana giok dan balik saku bajunya Dia juga melihat perubahan wajah Hui Hung i su ketfka melihat lencana tersebut Dengan penasaran dia bertanya kepada Ciok Ciu Lan.

"Enuh lencana apa yang ada di tangan manusia she Suo itu?".

"Te.ntunya sebuah lencana yang dapat memben perintah kepada Hui Hung i su," sahut gadis itu lirih.

Hui Hung i su termangu-mangu sesaat. "Bagaimana lencana Clang bunjin Ciong. lam pai bisa berada di tanganmu?" tanyanya.

"Bukankah dengan lencana ini hengte dapat memberi perintah kepada toheng?" Suo Yi Hu tertawa lebar. "Terlebih dahulu Pinto ingin mengetahui dari mana kau mendapatkan lencana tersebut?" tanya Hui Hung i su.

Suo Yi Hu mendengus dingin Wajahnya tidak menunjukkan perasaan apa pun.

"Hengte mendengar bahwa Ciong lam pai mempunyai lencana sebagai tanda bagi para ketuanya Siapa pun yang melihat lencana ini, seperti bertemu dengan Clang bunjin nya sendiri Entah benar tidak berita ter sebut?".

Hui Hung i su tentu saja tidak dapat mungkir.

"Tidak salah'" sahutnya Suo Yi Hu tertawa sinis "Kalau memang demikian toheng tidak perlu menanyakan lagi dari mana hengte mendapatkan lencana giok ini" katanya.

Hui Hung i su tidak dapat berkata apa-apa.

"Lencana Clang bunjm ada di sini Berarti toheng sedang berhadapan dengan ketuamu sendiri. Hengle memenntahkan engkau bertarung dengan Sau cengcu Apakah kau berani tidak menuruti perintah ini?" tanya Suo Yi Hu ketus.

Hui Hung i su menjadi serba salah.

Wajah Suo Yi Hu berubah kereng Lencana di tangannya diangkat tinggi-tinggi.

"Liok Hui Peng! Nyalimu sungguh besar Apakah kau sengaja meremehkan lencana ketuamu sendiri?" Perlu diketahui bahwa dengan meremehkan lencana tersebut, sama saja dengan menghina ketuanya sendiri.

Hui Hung i su bingung sekali. Dia tidak tahu harus berbuat apa. "Pinto. ".

Tepat pada saat itu terdengar seruan Ctok Ciu Lan. "Uok totiang, kau jangan tertipu!".

Suo Yi Hu menolehkan kepalanya.

"Bocah busuk, kau berani banyak mulut?" bentaknya. Ciok Ciu Lan mencibirkan bibirnya.

"Mengapa aku tidak boleh bicara? Hm, Bocah busuk Apakah ibumu tadmya bukan seorang bocah busuk yang tumbuh besar menjadi perempuan busuk?".

Hawa pembunuhan tarlihat di mata Suo Yi Hu Namun sebentar saja dia sudah tenang kembali.

"Kalau kau berani melawan Lohu, jangan salahkan kalau kau tidak dapat keluar dari tempat ini," katanya datar. "Kau tidak usah sesumbar, kalau aku takut urusan, tentu tidak akan berkelana di dunia kangouw," sahut Ciok Ciu Lan sinis.

"Bagus!" sahut Suo Yi Hu sambil menolehkan kepalanya kembali "Liok Hui Peng, apakah kau sudah. mempertimbangkan baik-baik'?".

"Liok totiang, apakah kau mengira bahwa lencana yang ada di tangannya itu asli?" teriak Ciok Ciu Lan tak mau kalah gertak.

Hawa amarah semakin terlihat di mata Suo Yi Hu.

"Ini adalah lencana Ciong lam pai, bagaimana bisa palsu?" katanya.

"Kau menyamar sebagai Song loya cu, kalau bukan aku yang membongkar kedokmu, mereka sampai saat ini pasti mengira kau adalah orang tua itu Pihak kalian juga memalsukan tulisan tangan Song loya cu, sampai Song Sau cengcu dan Ciek Cong koan sendiri tidak dapat membedakannya. Komplotan pemalsu seperti kalian apa pun sanggup dilakukan. Mungkinkah tencana Ciong lam pai itu asli?" sahut Ciok Ciu Lan dengan berani.

"Dengan ucapanmu itu saja, kau sudah pantas mati!" kata Suo Yi Hu. Hui Hung i su tertawa terbahak-bahak.

"Manusia jahat, kau berani mempermainkan Liok toya" bentaknya Terdengar suara gemerincing yang disusul sinar berkilauan. Pedang panjang telah terhunus dari sarungnya. Begitu digerakkan, segera meluncur ke arah talapak tangan Suo Yi Hu yang sedang menggenggam lencana itu.

Pergelangan tangan Suo Yi Hu ditarik ke belakang, lencana itu dimasukkan kembali ke balik bajunya.

"Liok Hui Peng, ingat. Menghina lencana ketua, hukumannya adalah mati dengan lima tusukan pedangi" teriaknya.

"Bagus sekali! Liok toya akan menunjukkan lebih dahulu bagaimana kelima tusukan pedang tersebut!" bentak Hui Hu i su.

Ciong lam kiam hoat sangat terkenal di dunia. Bulim. Sebagai tokoh tingkat tinggi partai itu, tentunya ilmu Hui Hung i su sangat hebat Gerakan tubuhnya memutar di udara, membuat mata berkunang-kunang. Rupanya ilmu yang istimewa inilah yang membuat dirinya mendapat julukan Hui Hung i su. Suo Yi Hu mulai tampak kebingungan Tapi seperti tadi juga dia tetap tidak berhasil menyentuh orang ini. Hui Hung i su terpana. Terang-terangan pedangnya sudah sampai di depan dada Suo Yi Hu. Entah bagaimana dia bisa melepaskan diri?.

Tepat pada saat itu, terlihat tirai penghubung kembali tersingkap. Seseorang dengan pakaian hitam dan bertubuh tinggi besar memasuki ruangan tersebut, Melihat dari penampilannya ketika melangkah dengan dada membusung, dapat dipastikan yang datang ini bukan bubeng siau cut!.

Begitu masuk ke dalam ruangan, matanya segera menyapu para tamu yang nadir Kemudian beralih ke arena pertempuran.

"Berhenti!" Bentakannya ini bagaikan geledek yang menyambar Gemanya memenuhi seluruh ruangan.

Hui Hung i su tidak tahu siapa orang itu. Kelima serangannya baru saja diselesaikan, pedangnya ditarik kembafi. Suo Yi Hu sendiri baru berhasil menyelinap dari balik sinar pedang Hui Hung i su. Dia menarik napas panjang.

"Kedatangan Cao heng sungguh tepat Kalau saja tertambat beberapa saat, paling tidak di tubuh hengte terdapatlima tusukan pedang," katanya.

Manusia berpakaian hitam yang baru masuk tadi adalah Hek houw sin Cao Kuang Tu. Dia tectawa lebar.

"Suo heng terlalu merendah," sahutnya.

Sementara Hu, manusia berpakalan hijau dan Su Po Hin yang sedang bertarung sedang sampai pada puncaknya Tiba-tiba terlihat bayangan tubuh berketebat, dengan cepat melesat lewat tirai penghubung dan pergi,.

Wi Ting Sin tiaw terpesona.

"Gerakan apa yang digunakannya?" gumamnya seorang diri.

Su Po Hin telah bertarung sebanyak tiga ratus jurus dengan manusia berpakaian hijau itu Seluruh ilmu Butong pai yang dikuasainya telah dikeluarkan, Bukan saja dia tidak mampu menyentuh orang itu, bahkan tubuhnya sendiri sudah penuh iuka bekas sayatan pedang lawan Dia belum pernah dipermalukan seperti malam ini Kamarahannya meluap dalam hati. Dia sampai tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Saat itu, dia melihat manusia berpakaian hijau Itu melepaskan dirinya dan meninggalkan ternpat Itu. Setelah termangu-mangu sesaat, .

"Manusia jahat, kau hendak lari ke mana?" bentaknya. Tubuhnya segera melesat dengan maksud mengejar.

"Berhenti!" bentak Hek Houw sin, Telapak tangannya dihantemkan ke depan Julukannya adalah Hek Houw sin, Serangannya Ini tidak kalah dari seekof harimau Suara telapak tangannya membuat ruangan itu seperti bergetar Su Po Hin tidak tehu siapa orang itu Untung saja dia tidak menganggap remeh. Tubuhnya berkelit kelabakan dengan susah payah dia berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut.

Dia menenangkan hatinya sesaat Pedangnya ditudingkan ke depan Matanya menatap Cao Kuang Tu dengan seksama.

"Siapa kau? Beraniberanian membokong aku," tanyanya. Hek Houw Sin tertawa sinis.

"Siapa aku? Pulanglah ke Butong san dan tanyakan pada Giok Cin cu, dia tentu akan tahu," sahutnya.

"Aku meminta kau mengatakannya sendiri!" Pedang di tangannya digetarkan Maksudnya ingin melindungi diri.

"Su toheng adalah tokoh pentmg di Butong pai, mengapa begitu cepat marah? Kedatangan cao heng bukan untuk bergebrak denganmu!" tukas Suo Yi Hu.

"Apa maksudnya datang ke tempat ini" tanya Su Po Hin ketus.

Hek Houw sin mendongakkan wajahnya dengan angkuh. Dia tidak melihat ke arah Su Po Hm sekilas pun.

"Kaum keroco tidak tahu apa apa Buat apa kau ladeni dia'?" katanya. "Apakah kau kira pedang pusakaku kurang tajam?" bentak Su Po Hin marah.

Wi Ting sin tiaw segera menghampin dan membujuknya. "Su toheng harap tenangkan hati Biar kita dengar dulu maksud kedatangannya.".

"Omitohud!" sambung Bu Cu taisu samhil merangkapkan kedua tangannya "Apa yang dikatakan Beng heng memang benar Apabjla soal kecil tidak dapat dipadamkan, maka akan terjadi urusan yang besar, Biar kita dengar dulu kata-kata Cao lao siou baru kita' ambi[ keputusan," katanya.

Karena memandang wajah kedua rekannya, Su Po Hin menyarungkan kembali pedangnya dengan tampang enggan. Ciek Ban Cing mengerling ke arah Hek Houw sin sekilas.

"Tadi Suo laoko mengatakan bahwa orang yang mengantarkansurat sebentar lagi akan tiba, Orang yang mengantarkansurat ini, kemungkman besar adalah Cao laoko?".

Hek Houw sin membalikkan tubuh dan menjura dengan membungkukkan badannya. "Sudah lama tidak bertemu dengan Ciok heng," katanya.

"Sudah lama tidak bertemu, Cao laoko, Nama Cao iaoko menggetarkan dunia kangouw berkumandang sampai selatan dan utara Selamanya tidak tunduk di bawah perintah siapa saja Bagaimana tiba-tiba bisa menemukan seorang majikan'?" tahya Ciek Ban Cing sambil bales menjura.

"Ha., ha ha ,'' Hak Houw ain tartawa terbahak-bahak, "Tiga puluh tahun yang lalu, Ciek taoko sudah mendapatjulukan KIm ka sin. Kebesaran nama Ciek laoko tidak di bawah hengte Bukankah sekarang juga meniadi Congkoan dl TIan Hua sang ceng?" sindirnya tajam. 

"Majikan yang hengte ikuti adalah bengcu yang disegani oleh para partai besar, juga disebut Bulim toalo. Hengte dapat melayani majikan Tian Hua san ceng, merupakan rszeki besar," sahut Ciek Ban Cing.

"Betul!" kata Hek Houw sin sambil membelai jenggotnya "Tanpa kayu yang bagus, tidak akan terbangun rumah yang kokoh Majikan yang dnkuti hengte dan Ciek laoko, tentunya tokoh besar yang menggetarkan dunia Bulim.".

Mali Wi Ting sin tiaw targetar.

"Mendengar nada suaranya, kemungkinan besar ada sekomplotan rahasia yang akan mengacau dunia kangouw tidak lama lagi," pikirnya dalam hati Begitu ingatan itu melintas di benaknya, dia tidak dapat menahan diri untuk mengajukan pertanyaan.

"Siapakah majikan Cao laoko? Bolehkan kami mengetahuinya?".

"Untuk sementara ini, majikan hengte belum mau membuka identitasnya Dengan demikian, hengte juga tidak berani menjelaskan," sahut Hek Houw sin.

"Majikan Cao lao sicu memalsukan tulisan tangan bengcu dan mengundang pinceng , sekalian ke man, tentunya mengandung maksud tertentu Tadi Suo Lao sicu pernah mengatakan bahwa orang yang mengantarkan surat akan segera tiba Seandainya Cao lao sicu adalah pengantar surat itu, pinceng sekalian sedang menunggu kabar yang dibawa," kata Bu Cu taisu.

Hek Houw sin tertawa lebar.

"Perkataan taisu memang tidak salah. Kedatangan hengte adalah mendapat perintah dan majikan untuk mengantarkansurat ." D mengeluarkan beberapa surat undangan bersampul merah dan dibagibagikannya kepada Bu Cu taisu dari siaulim si Hui Hung i su dari dong lam pai Kan Si Tong dari Pat kwa bun, Wi Ting sin tiaw Beng Ta Jin dan Liok hap bun, Yu Liong kiam kek Su Po Hin dari Butong pai, dan Song Bun Cun.

Bu Cu taisu menerimasurat tersebut dan menarik sebuah kertas undangan dan datamnya. Di kertas itu tertulis.

Yang terhormat Bu Cu Tai su dari Siau lim si, harap pada bulan satu yang akan datang (tanggal delapan) berkunjung ke Ce po tan goan di Oey san.

Di bagian bawahnya tidak tertulis nama penginm, hanya sebuah cap kecil berwarna emas yang agak pudar. Tent.unya sudah lama tidak terpakai.

Bu Cu taisu mendongakkan wajahnya "Dalamsurat yang diantarkan oleh Cao laosicu kepada pinceng, tertulis agar pada bulan satu tanggal delapan berkunjung ke Ce po tan goan di Oey san. Entah pertemuan apa yang diselenggarakan?" Pertanyaan itu memang ada di benak semua tamu yang lain.

"Harap taisu maafkan Hengte hanya bertindak sebagai pengantar Kalau dalamsurat memang tidak dinyatakan apa-apa, hengte juga tidak dapat menjeiaskannya," sahut Hek hauw sin Dia segera merangkapkan kedua belah kepalannya dan menjura. "Suratsudah hengte antarkan, sekarang hengte mohon diri" Dia menoleh kepada Suo Yi Hu "Suoheng tampaknya juga sudah harus pergi".

Long san itpei Suo Yi Hu segera menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Betul, betul Hengte juga ingin mohon diri " katanya.

"Tunggu sebentari" seru Song Bun Cun. Dia lalu menghampiri Suo Yi Hu. "Manusia she Suo, di mana kalian menawan da hu?" tanyanya ketus.

Hek Houw sin menjura dalam-dalam.

"Sau cengcu tidak usah khawatir. Song loya cu sekarang berada di kediaman maIikan kami sebagai tamu. Bulan satu di Ce po tan goan, leng cun akan hadir. Disana kalian bisa bertemu," katanya.

"Aku ingin kalian mengantarkan aku sekarang Juga'" sahut Song Bun Cun.

"Tanpa pesan dan majikan hengte tidak berani mengambil keputusan” kata Hek Houw sin.

"Kalau begitu, lebih baik kau tinggal saja di sini'" sahut Sau cengcu. Hek Houw sin tertawa terbahak-bahak.

"Dengan mengandalkan kepandaian Sau cengcu, rasanya masih belum sanggup menahan hengte," katanya.

"Lebih baik hengte jalan dulu " tukas Long san itpei Sambil mengangkat bahunya. dia bermaksud melangkah keluar.

"Apakah kau bisa pergi begitu saja?" bentak Ciek Ban Cing Dia maju safu langkah Kelima jannya dikembangkan dan meluncur mencengkeram bahu Suo Yi Hu.

Ciek Ban Cing adalah tokoh kelas tinggi dan Eng jiau bun Serangannya itu; tentu menggunakan jurus andalan perguruan tersebut yang selama ini telah diakui kehebatannya di dunia kangouw Gerakannya memiliki sembiian kali perubahan Meski bagaimana kau menangkis atau menghindar, tetap sulit melepaskan diri dan cakar mautnya itu. Siapa sangka ketika kelima jarinya hampir mencapal bahu Suo Yi Hu, tiba-tiba nnulutnya mengeluarkan seruan terkejut. Tubuhnya yang tinggi besar jatuh lunglai di atas tanah seketika.

Tempat di mana Su Po Hin berdirj tidak jauh dan pintu Dia tidak sempat menghunus pedangnya Tangan kanannya berputar, telapak tangan dikembangkan menyerang ke arah Suo Yi Hu.

'Mengapa Su toheng juga ingin menyulitkan hengte?" tanyanya sambil tertawa getir. Tangannya diangkat dan menyambut telapak Su Po Hin Dia menolehkan kepalanya dan berseru "Cao heng, kau boleh jaian lebih dahulu". Hek Houw sin tertawa lebar.

'Baik, baik Kau tentunya takut kalau aku tidak dapat menahan diri dan menerjang mereka " sahutnya Dia langsung melangkah mendekati pintu keluar.

Pedang Song Bun Cun menghadang jalannya.

"Sebelum memben penjelasan tentang cia hu, jangan harap pergi begitu saja!" katanya ketus.

"Sau cengcu, ada apa apa kita rundingkan baikbaik," sahut Suo Yi Hu panik Kedua jari tangannya menJepit pedang Song Bun Cun secepat kilat.

Wi Ting sin tiaw berdiri dekat Su Po Hin. Dia melihat rekannya itu menghantamkan telapak tangannya kepada Suo Yi Hu Setelah itu tidak bergerak sama sekali. Hatinya merasa heran,.

"Su toheng, apa yang terjadi'?" serunya.

Su Po Hin tetap berdiri terpaku dia bahkan tidak menyahut. Tiba-tiba Suo Yi Hu tertawa terkekeh-kekeh.

"Menjawab pertanyaan Beng taihia? Kemungkinan besar karena kurang hatihati hengte telah menotok jaian darah Su taihiap," sahutnya sinis.

Wi Ting sin tiaw mendengus dingin Dia metancarkan telapak tangannya ke arah Su Po Hin dengan maksud membebaskan to tokannya. Namun rskannya itu tetap tidak bergeming sama sekali. Hanya matanya saja yang melirik ke arahnya Di wajahnya terlihat penderitaan. 

Hatinya tercekat Dia menoleh lagi kepada Ciek Ban Cing yang terkulai di tanah Congkoan itu juga sama saja Tidak bergerak sama sekali Saat itu Song Bun Cun juga sedang berusaha membebaskan jalan darahnya yang tertotok Bu Cu Taisu menghampin pemuda itu.

Sau cengcu, harap jangan dicoba lagi. Tampaknya Ciek Lao sicu terkena totokan khusus yang disebut Hok tao ciu hoat. Tidak dapat dibebaskan dengan cara biasa," katanya.

"Apakah taisu bisa membebaskannya?" tanya Song Bun Cun.

Bu Cu taisu menggelengkan kepalanya. 'Pinceng juga hanya menduga saja. Hok tao ciu hoat, adalah semacam ilmu totokan aneh dan aliran sesat. Tentu saja pinceng tidak mengerti cara membebaskannya." Wi Ting sin tiaw menghampiri Suo Yi Hu. "Manusia she Suo Ilmu apa yang kau gunakan untuk menotok mereka?" bentaknya keras.

Suo Yi Hu mundur satu langkah "Apa yang dikatakan taisu memang benar Ilmu yang hengte gunakan adalah Hok tao ciu hoat" sahutnya.

Hui Hung i su mendengus dingin 'Apakah kau kira tidak ada yang dapat membebaskan totokan Hok tao ciu hoatmu?".

"llmu itu memang tidak istimewa Tetapi setiap partai mempunyai ilmu khususnya masingmasing Hengte rasa tidak begitu mudah membebaskannya dari totokan tersebut, kalau tidak percaya silahkan mencoba," sahut Suo Yi Hu.

"Pinto ingin menotoklima jalan darah pentingmu, coba lihat apa yang ak n kau lakukan?" kata Hui Hung i su ketus.

"Kalau begitu, terpaksa kita tukar satu nyawa hengte dengan nyawa mereka berdua," sahut Suo Yi Hu tertawa getir.

"Maksud Suo lao sicu kalau membebaskan totokan mereka hams dengan syarat tertentu'?" tanya Bu Cu taisu.

"Perkataan taisu terla'u diberatberatkan Apabita hengte ingin membebaskan totokan mereka berdua, sama sekali tidak ada syarat apa-apa Hanya sepatah kata dari taisu saja," sahut Suo Yi Hu tenang.

"Apa yang harus pinceng katakan kepada sicu?" tanya Bu Cu taisu.

"Suratundangan yang diantarkan oleh cao Kuang Tu sudah kalian tefima, kaia Suo Yi Hu.

"Tentu saja sudah kami terima." "Apakah kalian akan memenuhi perjanjian itu?" tanya Suo Yi Hu.

"Di dalamsurat undangan tertera stempel emas milik bengcu Entah palsu tidaknya. delapan partai besar sudah menerima undangan tersebut Sampal saatnya tentu akan hadir." sahut Bu Cu taisu.

Suo Yi Hu menarik nafas panjang 'Benar sekali Song loya cu adalah tamu undangan majikan kami Dapat dipastikan sampai waktunya, Song loya cu juga akan hadir di tempat itu dan bertemu dengan kalian Hengte menyamar sebagai orang tua itu adalah karena menenma perintah dari majikan. Rasanya tidak perlu menahan hengte di sini lagi".

Wi Ting sin tiaw mendengus dingin 'Kau ingin Bu Cu taisu mengabulkan kau pergi dan tempat ini?".

"Betul. Bu Cu taisu adalah orang yang benbadat Dengan lafar belakang Siaulim si. dia semakin dihormati perkataannya begaikan sebongkah emas Asalkan Bu Cu taisu mengabulkan hengte akan membebaskan totokan kedua orang itu," sahut Suo Yi Hu.

Bu Cu taisu mengedarkan pandangannya kepada setiap orang. "Bagaimana pendapat para toheng?" tanyanya,. "Totokan yang terdapat pada tubuh Su taihiap dan Ciek Congkoan sangat berba haya, bila dalam kurun waktu dua belas kentungan masih befum dibebaskan, kalau tidak mati, past! akan cacat seumur hidup," tukas Suo Yi Hu.

Ciok du Lan mendekati Yok Sau Cun dan berbisik.

"Yok toako. kita tidak mempunyai undangan Ce po tan goan, bagaimana kalay kita minta dua lembar darinya?".

"Undangan itu khusus disebarkan untuk delapan partai besar Kita toh bukan termasuk golongan itu," sahut Yok Sau Cun.

"Tidakkah kau dengac apa yang dikatakan long san it pei tadi? Song loya cu juga akan hadir dalam pertemuan itu. Kau tentu harus pergi, baru dapat bertennu dengannya " Ber kata sampai di situ, dia tidak menunggu Yok Sau Cun menyahut Dia ssegera bertenak lan tang.

"Hei, Suo Yi Hu Kami tidak mempunyai undangan Ce po tan goan. Bagaimana kalau kau membenkan dua fembar kepada kami?".

"Undangan tersebut hanya disebarkan berdasarkan keputusan majikan kami Lagipula kalian sudah melihat sendih bahwa yang mengantarkan undangan itu adaiah Cao Kuang Tu. Hengte tentu tidak dapat berbuat apa-apa kalau nama Liong wi tidak tercantum di dalamnya," sahut Suo Yi Hu.

"Kalau begitu, kami juga tidak setuju kau meninggalkan tempat ini'" kata Ciok Ciu Lan.

"Hengte mempunyai nyawa Su taihiap dan Ciek Congkoan sebagai jaminan Kalian setuju atau tidak, sama sekali bukan persoalan," sahut Suo Yi Hu.

Ciok Ciu Lan mendengus sambil mengejek.

"Hm. Kau anggap kami tidak sanggup, menngkusmu?" sindirnya ketus Dia

menolehkan kepaianya kepada Yok Sau Cun.

"Yok toako, dekati orang itu agar matanya terbuka Ringkus dia dengan satu jurus Nanti setelah dia melepaskan totokan Su to tiang dan Ciek Congkoan Kita baru menunggunya di depan pintu," katanya.

Yok Sau Cun masih tidak mengerti. Ciok Ciu Lan kesai melihatnya. "Yok toako, cepat ke sana'' serunya sekali lagi.

Suo Yi Hu melirik Yok Sau Cun sekilas.

"Kalau Yok Sauhlap dapat meringkus hengte dalam satu jurus. Rasanya aku masih kurang peccaya." Tentu saja dia ttdak percaya. Sedangkan tokoh kelas satu dari Eng jiau bun seperti Ciek Ban Cing saja tidak dipandangnya sebelah mata, apa lagi seorang bocah kemarin sore yang masih bau air susu ibunya?.