Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 04

 
Jilid 04

Song Cen San sangat tekun berlatih. Pada usia delapanbelas tahun, ilmunya sudah sangat tinggi Namun dia tidak menyombongkan diri Sampai usia limapuluhan, teman- teman di dunia kangouw memilihnya sebagai Bu lim Bengcu Pada saat yang sama dia mendapat julukan 'Bulim it kiam' (Jago pedang nomor satu di Bulim). Tahun itu bulan kesembilan. Song loya cu kebetulan merayakan hari jadinya yang kelimapuluh. Ciang bun pn dari delapan partai besar dan tokoh-tokoh besar di dunia kangouw semua berdatangan ke Bucing (tempat tinggalnya yang lama). Maksudnya tentu saja untuk mengucapkan selamat kepada orang tua itu.

Sehan sebelum parayaan ulang tahunnya, ada orang tua yang mohon bertemu dengannya Karena dia sedang menjamu para Ciang bun jin dan delapan partai besar, maka para penjaga tidak berani mengganggu Lagipula tampang orang tua itu tidak seperti tokoh persilatan, maka mereka tidak melaporkan kedatangannya kepada song Ceng San.

Pada han kedua saat pesta sedang berlangsung, orang tua itu datang lagi. Kali ini para penjaga juga tidak memperdulikannya Orang tua itu mengeluarkan secarik kertas dan balik bajunya yang lusuh dan menyerahkan kepada salah satu dari penjaga tersebut.

"Kalau Cu jin saudara memang keberatan untuk bertemu Tolong serahkan kertas im kepadanya. Kebetulan para ketua dari delapan partai besar sedang berkumpul Biarlah mereka mempertimbangkan bersama Tiga hari kemudian aku akan datang lagi," tanya.

Pengawal itu mendengar nada bicaranya yang seakan sangat mendesak, dia tidak berani berayal lagi Kertas itu segera dibawa masuk dan diserahkan kepada Song Ceng San Laki-laki yang saat itu menjabat sebagai Bulim Bengcu sangat terkejut Ternyata kertas itu bensi seratus jurus ilmu silat yang digambarkan dengan jelas Bahkan hampir delapan bagiannya, Song Ceng San malah belum pernah lihat seumur hidup ini Jurus-

|urus itu sangat aneh dan hebat Di atasnya terdapat sebaris tulisan yang ditinggalkan oleh orang tua itu.

"Apakah Bulim it kiam dapat memecahkan jurus-Jurus ini?".

Song Ceng San berjalan mundar mandir di dalam ruangan. Otaknya terus bekerja, Diantara seratur jurus yang digambarkan orang tua itu, dia paling-paling hanya dapat memecahkan dua puluh jurus saja Para Ciang bun jin yang melihat Song Ceng San bejalan hilir mudik dengan secarik kertas di tangan dan kening berkerut seperti kemasukan setan, lantas tidak dapat menahan hati dan bertanya.

Song Ceng San menceritakan tentang permohonan bertemu dan surat yang ditinggalkan orang tua Itu. Setelah Ku, dia memaparkan kertas tersebut agar dilihat oleh tokoh-tokoh besar itu.

Sebagai orang yang berlatih ilmu sitat, apabila menemukan jurus yang aneh dan belum pernah diiihat selamanya, tentu akan tertarik Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk menutup diri selama dua han dan merundingkan bersama cara pemecahan lurus-jurus tersebut.

Dua hari kemudian, mereka ternyata ha nya dapat memecahkan delapan puluh jurus. Hal itu sebetulnya sangat memalukan Delapan orang Ciang bun jin partai terkemuka di Bulim beserta Bulim Bengcu masih tidak sanggup memecahkan seratus Jurus yang diberikan orang tak dikenal. Mereka sudah memeras otak dengan sekuat tenaga. Tapt duapuluh jurus yang terakhir memang terlalu aneh. Mereka menganggap memang tidak ada cara pemecahannya.

Sampai pada saat hari ketiga, mereka sudah menunggu sejak pagi. Tapi orang tua itu ternyata tidak muncul. Begitu juga hari-hari selanjutnya. Delapanpuluh jurus yang dibenkan orang tua itu akhirnya menjadi ilmu simpanan delapan partai besar.

Kurang lebih satu bulan kemudian, pagi-pagi sekali Song Ceng San sudah bangun Dia merasa bahwa kertas bensi ilmu silal yang aneh itu telah dikutak-katik oieh seseorang. Song Ceng San tergopoh-gopoh melihatnya. Pada bagian keduapuluh jurus yang tidak dapat mereka pecahkan tefah bertuliskan cara-cara mengimbanginya Dibagian bawahnya juga terbaca sederel tulisan tangan yang rapi....

"Seratus jurus ilmu pedang, harap digunakan untuk kebaikan, bukan untuk dipamerkan.".

Dalam seratus jurus ilmu pedang yang ditinggalkan orang tua itu, sudah ada delapan puluh jurus yang Song Ceng San pecahkan bersama-sama delapan Ketua partai terkemuka Yang benar-benar menjadi miliknya adalah duapuluh jurus yang tersisa itu Tetapi jurus-jurus itu memang sulit sekali dan tidak ada orang lain yang dapat memecahkannya.

Akhirnya, setelah merenungkan sekian lama kejadian tersebut. Mereka yakin orang tua yang memohon bertemu dengan Song Ceng San adalah seorang tokoh paling aneh pada tigapuluh tahun yang lalu dan sudah lama menghilang dari dunia persilatan, yaitu Tian San Yisu.

Song Ceng San membangun sebuah perkampungan di kaki bukit Kuan Cang Fong dan diberi nama Tian Hua san ceng Maksudnya untuk mengenangkan Tian San Yisu dan Huasan pai yang menjadikan dirinya seperti sekarang, Bagi Song Ceng San.

Seseorang tidak boleh seperti 'kacang yang lupa pada kulitnya'.

Kejadian itu adalah penstiwa duapuluh tahun yang lalu Penulis mengungkapkannya kembali karena kelanjutan cerita ini nanti ada hubungannya dengan peristiwa tersebut.

.

Kita kembali lagi kepada Yok Sau Cun yang sedang menuju perkampungan Tian Hua san ceng. Tukang perahu yang rakitnya disewa oleh pemuda itu berkali-kali mengingatkan bahwa perkampungan itu terletak di bagian selatan Letaknya di tengah- tengah perkebunan buah.

Yok Sau Cun mengikuti peturijuk tukang perahu tersebut Setelah mencapai pulau tersebut, dia segera mengambil arah Selatan. Setelah menikung satu kali putaran, Tian Hua san ceng yang besar dan megah sudah terlihat di depan mata Yok Seu Cun membenarkan pakaiannya agar terlihat lebih rapi Selanjutnya dia menembus perkebunan buah yang disebutkan tukang perahu tadi Di sana ada jalan setapak yang merupakan ta nah merah Dengan berjalan lurus, dia sudah hampir mencapai Tian Hua san ceng. Di depan perkampungan terlihat dua buah pintu gerbang berwarna hitam. Pintu tertutup. rapat Di atasnya terlihat empat huruf besar berwarna hijau dan bertuliskan TIAN HUA SANG CENG.

Pada saat itu, matahari hampir terbenam Yok Sau Cun tidak berani menunda lebih lama tagi. Dia menaiki tangga batu di depan pintu sebanyak tiga tindak. Baru saja tangannya terulur untuk mengetuk pintu tersebut, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, yang ringan, disusul dengan suara seseorang yang menegurnya.

"Siangkong hendak mencari siapa?".

Dengan terperanjat. Yok Sau Cun membalikkan tubuhnya. Tampak seseorang dengan pakaian seperti seorang pengurus rumah tangga berdiri menghadapinya. Mata orang itu menatapnya dengan penuh selidik Melihat gerakannya yang cepat dan tidak menimbulkan suara, dapat dibayangkan itmunya cukup tinggi. Sungguh di tangan seorang perwira tidak ada prajurit yang lemah. Yok Sau Cun kagum sekali. Dia melambaikan tangannya beberapa kali....

"Cayhe Yok Sau Cun. Sengaja datang untuk mengunjungi Song loya cu," katanya. Pengurus rumah tangga itu tersenyum.

"Harap Siangkong maafkan. Lo cengcu (Kepala perkampungan) sudah lama tidak menerima tamu lagi," sahutnya sopan.

Song Ceng San memang tidak malu disebut Bulim Toalo. Seorang pengurus rumah tangganya bersikap demikian terpelajar dan pandai menghormati tamu.

"Tentang itu cayhe mengerti. Cayhe datang dari jauh karena ada urusan penting yang mohon penjelasan. Apalagi di tengah jalan tadi, cayhe bertemu dengan seseorang yang terluka parah Dia menitipkan sepucuk surat rahasia. Kata orang itu, isi surat rahasia ini penting sekali. Cayhe harus menyerahkannya sebelum matahari terbenam. Dan harus diserahkan kepada Song loya cu. Oleh karena itu. cayhe tergesa-gesa mengejar waktu. Untung saja belum terlambat Harap Koan laporkan sebentar kepada Song loya cu mengingat pentingnya persoalan ini" kata Yok Sau Cun.

Pengurus rumah tangga itu tampak ter peranjat mendengar keterangan tersebut Dia merenung sejenak....

"Seandainya urusan yang Siangkong bawa demikian penting, hamba akan laporkan dulu kepada Cong koan. Harap Siangkong menunggu sebentar," sahutnya.

"Maaf karena telah merepotkan Koan ke," kata Yok Sau Cun.

Pengurus rumah tangga itu memutar tubuhnya dan meninggalkan tempat itu Yok Sau Cun segera menyadan bahwa selain pintu depan, gedung itu masih mempunyai pintu rahasia lainnya.

Tidak lama kemudian, terlihat kedua belah pintu gerbang itu terbuka. Pengurus rumah tangga tadi keluar lagi ditemani oleh seorang berusia lanjut dengan alis mata tebel dan berwajah panjang. Orang tua itu menatap sekilas kepada Yok Sau Cun, lalu membungkuk dengan sikap hormat.

"Lao siu bernama Ciek Ban Cing Siangkong datang dari jauh, kami tidak menyambut segera. Harap maafkan. Silahkan masuk," katanya.

Sebelum Yok Sau Cun sempat mengatakan apaapa. Pengurus rumah tangga sudah mendahuluinya.

"Ini adalah cong koan perkampungan kami Kalau Yok Siangkong ada urusan apa- apa, silahkan rundingkan dengan orang tua ini".

Yok Sau Cun segera menjura dengan sopan.

"Rupanya Ciek Cong koan Cayhe sudah lama mendengar namamu," sahutnya.

Ciek Ban Cing segera membalas penghormatan pemuda itu ^ulutnya segera mengucapkan terima kasih berkali-kali. Kemudian dia mengulurkan tangannya sebagai tanda menyilahkan.

"Di sini bukan tempat yang sesuai untuk berbicara. Silahkan Siangkong masuk ke dalam," ajaknya.

"Ciek Ban Cing bertindak sebagai petunjuk jalan Yok Sau Cun mengikuti di b&lakangnya. Mereka melewati sebuah lorohg panjang Kemudian menuju ke sebuah ruangan di sebelah timur Di tengah-tengah ruangan besar itu ada sebuah kamar tamu yang agak kecil. Ciek Ban Cing mempersilahkan Yok Sau Cun menuju kamar tamu tersebut.

"Silahkan duduk," katanya.

Kedua orang itu duduk berseberangan.

Seorang bocah dengan dandanan pelayan mengantarkan sebuah teko dengan dua buah cawan.

"Yok Siangkong, silahkan minum," kata Ciek Ban Cing.

Yok Sau Cun melihat hari sudah hampir gelap. Dia mulai panik. Laki-laki setengah baya berpakaian hijau itu berpesan wanti-wanti bahwa surat rahasia tersebut harus disampaikan kepada Song loya cu sebelum matahari terbenam Kalau sampai terlambat, akan terjadi hal yang mengerikan Dia segera menjura kepada Ciek Ban Cing. .

"Ciek Cong koan harap maafkan. Cayhe datang dan tempat yang jauh karena ada urusan penting yang harus segera disampaikan kepada Song loya cu," katanya Ciek Ban Cing adalah seorang yang sudah banyak pengalaman. Sejak tadi dia sudah melihat gerak gerik Yok Sau Cun yang serba salah Dia tersenyum lebar.

"Lao siu tadi sudah mendengar dari anak buahku. KatanyaYok Siangkong datang dari jauh memohon bertemu dengan Lo ceng cu. Masih ada sebuah surat rahasia yang harus diserahkan kepada befiau langsung Tetapi Lo ceng cu sudah lama tidak menenma tamu lagi Ada urusan apa, Yok Siangkong bicarakan dengan Lao siu sama saja," katanya tenang.

Perasaan berat tersirat di wajah Yok Sau Cun.

"Ada suatu hal yang perlu Ciek Cong koan ketahui. Cayhe datang dari ;auh karena ada urusan pnbadi Hanya dengan bertemu langsung dengan Song loya cu baru dapat diselesaikan Mengenai surat rahasia itu, cayhe rn?nerima titipan dan seseorang Ketika menuju ke tempat ini, orang yang mengantarkan surat itu dibokong seseorang di tengah jalan Tubuhnya mendapatkan luka parah. Dia mengatakan bahwa surat ini penting sekali Lagipulamenyangkut keselamatan dunia Bulim Surat tersebut harus disampaikan sebelum matahan terbenam Dan ha rus diserahkan langsung ke tangan Song loya cu Oleh karena itu, cayhe memburu waktu Sekarang hari sudah mulai getap " sahutnya cemas.

Mata Ciek Ban Cing menyiratkan sinar terkejut. "Ternyata ada kejadian sepenting itu.".

katanya Dia merenung seienak Kemudian dia tersenyum kembali "Yok Siangkong sudah sampai di Tian Hua san ceng. Berarti tidak mengingkari ianji Namun kalau Lao siu boleh bertanya, siapakah yang menginm surat kepada Lo ceng cu? Dan siapa pengantar surat yang dibokong orang itu?" tanyanya.

"Mengenai hal ini, cayhe sendiri tidak jelas Di surat itu tidak tercantum nama penginmnya Kemungkinan besar di dalam surat tersebut ada diterangkan seseorang yang dikenal baik oleh Song loya cu. Sedangkan pengantar surat itu, cayhe juga sudah menanyakan Oia mengaku she Yu Katanya Song loya cu mungkin tidak mengenal siapa dirinya," sahut Yok Sau Cun.

Bola mata Ciek Ban Cing berputaran Dia mendengarkan cerita Yok Sau Cun dengan penuh perhatian.

"Dapatkah Yok Siangkong menjelaskan keadaan orang yang bertemu di jalan tadi?" tanyanya.

"Yok Sau Cun mengangkat cawannya dan meminum seteguk. Kemudian dia menuturkan kembeli perjumpaannya dengan laki-laki setengah baya itu Semuanya dijelaskan tanpa ketinggalan sedikit pun.

Ciek Ban Cing mengelus jenggotnya be berapa kali.

"Di tempat seperti itu . Bagaimana dia bisa dibokong seseorang?" gumamnya seorang diri. Tiba tiba dia mendesah, "Ah .." Kepalanya pun terangguk-angguk.

"Dapatkah Yok Siangkong perlihatkan surat rahasia itu kepada Lao siu'?" tanyanya. "Seandainya Ciek Cong koan hendak melihat, cayhe tentu tidak keberatan Namun cayhe mendapat titipan dan orang bahwa surat mi harus diserahkan langsung ke ta ngan Song loya cu," kata Yok Sau Cun.

Dia segera mengeiuarkan bungkusan kain tersebut dan menyerahkannya dengan kedua belah tangan Ciek Ban Cing menenma bungkusan ilu Dia membukanya Ternyata memang sepucuk surat rahasia Tulisan tangan di permukaan tersebut sangat rapi dan bertenaga Tampaknya orang yang me nuhs mempunyai ilmu yang tidak rendah Ciek Ban Cmg membalikkan surat itu beberapa kali Rasanya tidak ada yang mencuri gakan. Dia membungkus kembali kain pe nutup surat tersebut dan menyerahkannya kembali ke tangan Yok Sau Cun.

"Kalau pengantar surat she Yu mengatakan bahwa urusan ini demikian serius, maka Lao siu juga tidak berani mengambil keputusan Lebih baik Lao siu masuk ke da lam melaporkan kepada Lo ceng cu tentang surat ini. Sementara Yok Siangkong sifahkan minum dulu sambil menunggu kembalinya Lao siu," katanya.

Yok Sau Cun memasukkan kembali bung kusan tersebut ke balik pakaiannya. "Terima kasih atas bantuan Ciek Cong koan," sahutnya.

"Soal kecil Jangan sungkan " Ciek Ban Cing segera bangkit dan tempat duduk dan masuk ke dalam.

Han mulai gelap Seorang pelayan menyalakan penerangan di pintu depan Yok Sau Cun duduk sendirian Dia menunggu beberapa lama Belum tampak Ciek Cong koan kembali membentahukan hasil laporannya Dia mengangkat kembali cawannya dan minum seteguk Belum lagi dia meletakkan cawannya kembali, terdengar suara langkah kaki yang nngan menuju ruangan di mana dia berada.

Yok Sau Cun tergopoh-gopoh meletakkan cawannya dan berdiri dengan sikap sopan Teriihat bayangan parijang seseorang me nembus lewat cahaya rembulan, disusul de ngan kakinyayang melangkah masuk. Untuk sesaat kedua orang itu saling bertatapan K.ejutan yang tidak disangka-sangka.

Ternyata orang itu adalah pemuda yang bertemu dengannya di lyar kota Tan Yang di sebuah rumah pertstirahatan dan pernah mendesaknya bergebrak karena dia menumpang perahu sang piaumoi (adik sepupu).

Yok Sau Cun sama sekali tidak mengira bahwa dia akan bertemu dengan pemuda berbeju biru itu di tempat tersebut Untuk sesaat dia tidak tahu apa yang harus di katakana.

Pemuda itu Juga menatap Yok Sau Cun dengan gaya angkuh Sebetulnya dia luga terkejut metihatnya Hanya saja'dia pandai menutupi perasaannya Dia bahkan tertawa dingin.

"Yok heng pasti datang keman untuk bertemu dengan Piaumoi Bagus sekali Per tarungan kita tadi belum selesai, lebih baik kita lanjutkan lagi sekarang," katanya.

Yok Sau Cun mendengar nada bicaranya, segera tahu pemuda itu tentu mengira kedatangannya adalah untuk menemui sang piaumoi. Hatinya segera mengerti. Ternyata pemuda itu sedang cemburu kepadanya. Tidak heran hari ini dia sengaja mengajaknya bertemu di luar kota Tan yang Apapun yang dijeiaskannya, pemuda itu tetap tidak mau mengerti. Mendapat pikiran demikian, diam-diam Yok Sau Cun merasa lucu dalam hati Dia segera melambaikan tangannya berulang-ulang.

"Hengtai jangan salah paham. Cayhe sebetulnya. ".

Pemuda itu mana mungkin membiarkan Yok Sau Cun berbicara banyak Mukanya dingin sekali.

"Yok heng tidak usah banyak bicara Man kita ke ruangan dalam," katanya datar.

"Cnng!!" Tsrdengar sebuah suara yang nyanng. Pedang pemuda itu telah terhunus di tangan. Kakinya menutul ke tanah, dengan gerakan kilat tubuhnya sudah melayang keluar Justru pada saat dia melayang, hampir saja dia berbenturan dengan seseorang yang sedang melangkah masuk.

Orang itu adalah Cong koan keluarga Song, Ciek Ban Cing. Dia melihat pemuda berbaju biru itu melesat dengan pedang di tangan. Wajahnya menghijau. Dia segera menahan langkah kakinya dan bertanya dengan nada terkejut.

"Kongcu, apa yang kau lakukan?".

Begitu mendengar kata 'kongcu' Yok Sau Cun langsung mendesah.

"Ternyata pemuda berbaju biru ini adalah putra tunggal Song loya cu Tidak heran ilmu pedangnya demikian tinggi," pikirnya dalam hati.

Pemuda berbaju biru itu memang putra tunggal Song Ceng San Namanya Song Bun Cun Loya cu sampai usia lima puluh lebih baru mendapat seorang keturunan Setiap han selalu disayang dan dimanja, putra tunggal keluarga terkemuka mana yana tidak menjadi sombong mendapat perlakuan demikian?.

Wajah Song Bun Cun merah padam.

"Ciek Cong koan, kau tidak perlu ikut campur. Aku ingin mengadu kepandaian de ngan Yok heng ini," katanya.

Ciek Ban Cing segara menggoyangkan tangannya dengan panic.

"Kongcu jangan begitu Lo ceng cu sedang menanti di taman belakang Lao siu dipenntahkan mengundang Yok Siangkong," sahutnya.

Song Bun Cing segera terpana mendengar keterangan itu. "Tia ingin bertemu dengannya?" tanyanya kurang percaya. "Betul," sahut Ciek Ban Cing. Dia tergopoh gopoh menghampin Yok Sau Cun dan berkata "Mari, Yok Siangkong. Lo ceng cu sudah menunggu di taman belakang Lao siu akan menunjukkan jalan," ajaknya.

"Baik," sahut Yok Sau Cun Kemudian dia membalikkan tubuh ke arah pemuda berbaju biru itu dan menjura dengan hormat "Semuanya hanya salah paham Harap Hengtai jangan menyimpan dalam hati".

Sinar mata Song Bun Cun menyirstkan cahaya yang janggal.

"Kalau memang Tia ingin bertemu, silahkan Yok heng masuk saja," sahutnya datar. Tanpa menoleh lagi, dia segera memnggalkan Yok Sau Cun Ciek Ban Cing hanya menarik nafas melihat sikap kongcunya. Dia menatap ke arah Yok Sau Cun sekilas.

"Yok Siangkong, silahkan," katanya sambil mendahului berjalan di muka. Yok Sau Cun mengikuti di belakangnya Mereka melalui sebuah kondor yang mempunyai tirai penghalang dengan tembok berbentuk bulat seperti rembulan Bau harum segera menerpa hidung Yok Sau Cun Terlihat dua bilah papan panjang tergantung di kin kanan Di atasnya berpuluh puluh pot dengan bunga berwarna warni.

Ciu Lan! Setiap kali mehhat bunga Lan hua, dia pasti akan tenngat kepada Ciok Ciu Lan Entah di mana dia sekarang?.

Ciek Ban Cing mengaiaknya menctaki tangga yang terbuat dan batu Di atasnya terdapat berbagai bunga berwarna ungu. Di samping bungabunga itu ada sebuah jen- dela besar dengan tirai berwarna kuning Sungguh paduan warna yang manis sekali Yok Sau Cun kurang begitu tahu nama nama bunga Namun dia senang melihat warnanya yang menyejukkan hati.

Di tengah tengah taman itu ada sebuah kursi yang terbuat dari bahan kayu jati. Seorang laki-laki yang sudah berusia lanjut duduk di kursi itu Pakaiannya berwarna putih penuh sulaman. Celananya berwarna hijau muda Potongan tubuhnya sedang- sedang saja Wajahnya putih bersih Alisnyapanjang dan rambutnya sudah memutih Bahkan ada seuntai jenggot yang berwarna putih pula. Kelihatannya dia seorang yang mudah bergaul. Hanya sepasang matanya yang menyorotkan sinar tajam dan tidak boleh dianggap enteng.

Tentunya tidak salah lagi kalau orang tua itu adalah Bulim Toalo Song Ceng San! Yok Sau Cun mengikuti Ciek Ban Cing berjalan ke hadapan orang tua itu Cong koan tersebut menekuk sebelah lutut dan membungkukkan tubuhnya dengan penuh hormat.

"Lapor Lo ceng cu, Yok Siangkong sudah tiba " katanya.

Yok Sau Cun maju beberapa langkah. Dia menjura dengan sikap tak katah hormat. "Boan seng (Aku yang muda) Yok Sau Cun, menemui Song loya cu '.

Penampilannya persis seperti seorang pelajar Tidak ada tampang seorang yang mengerti ilmu silat Song Ceng San memperhatikannya dengan seksama Tampaknya anak muda ini sangat tenang, seperti sebuah pohon yang kokoh. Tidak seperti Bun Cun. Terkadang di hadapannya sendiri juga masih memperhhatkan beberapa bagian sikap angkuh, pikirnya dalam hati. Tanpa terasa dia menganggukkan kepala berkali- kali. Kemudian dia berdiri dan tersenyum lebar.

"Yok Siangkong datang dari jauh sebagai tamu Lohu terlambat menyambutmu Silahkan duduk," katanya. Suaranya sangat lembut dan enak didengar Yok Sau Cun sempat terpana sesaat Kemudian dia tersadar dan segera duduk.

"Terima kasih," sahutnya.

"Lao siu dengar dan Ciek cong koan bahwa kedatangan. Yok Siangkong karena ada sesuatu urusan pribadi Dan di tengah jalan telah mendapat titipansurat untuk disampaikan kepada Lohu Benarkah?" tanya Song Ceng San.

"Betul," sahut Yok Sau Cun sopan. Di te ngah jalan Boan seng bertemu dengan seseorang yang terluka parah Dia mengatakan bahwa ada sepucuksurat rahasia yang harus disampaikan kepada Song loya cu sebelum matahari terbenam." Dia segera mengeluarkan bungkusan kain yang berisisurat tersebut dan kemudian menyerahkannya ke tangan Song Ceng San "Orang she Yu itu juga berpesan wantiwanti kalausurat ini harus diserahkan langsung ke tangan Song loya cu Isinya menyangkut keselamatan dunia Bulim. Harap Loya cu segera membacanya".

Ciek Ban Cing segera menyambutnya dan menyerahkan kepada Song Ceng San.

"Ternyata ada urusan yang demikian gawat. Lohu sudah meninggalkan duma ramai dan tidak mendengar kabar tentang dunia Bulim selama duapuluh tahun lebih," katanya.

Kain psmbungkus surat itu dibukanya Kemudian tangan kanannya membalikkannya beberapa kali Setelah itu dia merobek kertas surat tersebut Matanya memperhatikan dengan seksama. Tiba-tiba mulutnya memperdengarkan seruan terkejut Sebuah sinar putih memenuhi depan matanya Secepat kilat tangannya menghantam kertas surat itu sejauh tiga depa dan menancap di i sebatang pohon Namun pada saat yang hampir bersamaan, tangan kanannya juga terkulai ke bewah.

Peristiwa ini terjadinya begitu cepat. Yok Sau Cun terperanjat.

"Lo ceng cu, apakah kau menemukan sesuatu yang janggal?" tanya Ciek Ban Cing dengan wajah cemas.

Dalam sekejap Song Ceng San dapat menenangkan perasaannya.

"Di dalam surat terdapat racun," katanya datar. Tidak heran tangan kanannya yang memegang kertas surat itu menjadi lunglai.

Yok Sau Cun terkejut sekali.

"Di dalam surat terdapat racun''" katanya berbarengan dengan Ciek Ban Cing Cong koan itu segera menaiapnya dengan tajam Tangan kanannya dikembangkan di depan dada dan bersiap untuk melancarian serangan. "Manusia she Yok! Kau !".

Song Ceng San mengangkal tangan krnnya dan mencegah Ciek Ban Cing . "Mungkin kejadian inl tidak adahubungan dengan dirinya".

Ciek Ban Cing mengiakan Tangan yang sudah dipersiapkan untuk menyerang Yok Sau Cun ditariknya kembali. Dia mendongakkan kepalanya dengan tatapan pilu. "Lo ceng cu..." panggilnya.

"Urusan masih belum terang. Cepat ambilkan Pat pao kei tok tan (sejenis obat)." bentak Song Ceng San.

Tubuh Ciek Ban Cing tergetar Dia memandang dengan wajah pucat. "Apakah racun itu jahat sekali?" tanyanya.

Song Ceng San tertawa datar.

"Apabila mereka ingin mencelakai Lohu, mana mungkin menggunakan racun yang nngan?" sahutnya.

"Betul. Betui" Kenngat dingin telah membasahi kening Ciek cong koan Kata-

katanya belum selesai, orangnya sudah melayang pergi secepat kilat.

Yok Sau Cun yang sejak tadi mendengar nada pembicaraan kedua orang itu, dapat merasakan bahwa racun yang mengenai diri Song loya cu agaknya sangat hebat.

Hatinya ketakutan sekali Dia memandang Song Ceng San dengan panik. "Loya cu, ini... ini. ".

Song Ceng San melinknya sekilas "Lohu sama sekali tidak berniat menyalahkan dirimu Tapi kalau mendengar kisah yang kau tuturkan kepada Ciek Cong koan, tampaknya masih ada bagian yang kau sembunyikan Lebih baik kau jelaskan sekali lagi bagaimana kau bisa bertemu dengan orang itu?" katanya.

Yok Sau Cun memang hanya menceritakan peristiwa dia menemukan laki-laki setengah baya yang terluka itu. Sedangkan bagian depannya tidak dituturkannya sama sekali Tanpa terasa wajahnya merah padam.

"Boan seng bukan bermaksud menutupi. Tapi apa yang boan seng alami sebelumnya tidak ada kaitan dengan urusan ini maka boan seng merasatidak perlu menceritakannya." Keadaan sudah terlanjur seperti ini, Yok Sau Cun terpaksa menceritakan dari awal bagaimana dia menumpang perahu Hui Fei Cin untuk menyeberangi sungai dan ak hirnya timbul pertikaian dengan Song Bun Cun. Serta begaimana laki-laki setengah baya itu membantu dirinya mengalihkan perhatian pemuda itu. D»a menjelaskan semuanya dengan lengkap tanpa ada sesuatu pun yang disembunyikan. Song Ceng San mengelus jenggotnya dan menarik nafas panjang.

"Anak ini, Lohu sudah bosan menasehatinya Benar-benar keterlaluan. Beraninya dia mencan kenbutan di luar tanpa sepengetahuan lohu'" katanya kesal.

"Song heng hanya salah paham .." sahut Yok Sau Cun.

"Hm . Salah paham'" kata Song Ceng dengan nada marah. "Seumpamanya salah paham, dia juga harus memben kesempatan kepada orang iain untuk menjelaskannya.

Yok Sau Cun melanjutkan kisahnya tentang bagaimana orang itu membantunya secara sembunyi-sembunyi dan dikejar oleh Song Bun Cun. Juga bagaimana la menemukan orang itu tergeletak dengan luka parah di atas tumpukan jerami. Tiba tiba Song Ceng San tertawa terbahak-bahak.

"Orang itu dapat menggetarkan pedang Bun Cun dan jarak jauh Dengan demikian dapat dibayangkan sampai di mana tingginya ilmu silat yang dia miliki Bagaimana mungkin dapat dibokong orang sampai tergeletak di atas tumpukan jerami?" katanya.

Yok Sau Cun terpana.

"Boan seng melihat sendiri bahwa orang itu memang terluka parah. Dia merintih terus menerus. Wajahnya juga pucat sekali," sahutnya.

"Sebuah peranan yang sempurna Apalagi Yok Siangkong baru pertama kali terjun ke dalam dunia kongouw. Dan sama sekali belum mempunyai pengaiaman. Dengan demikian, Yok Siangkong percaya begitu saja kepadanya Lagipula dia dengan cerdik menolong dirimu lebih dahulu Kemudian baru menitipkan surat Kau pasti tidak akan menaruh cunga apaapa Kebetulan kau memang akan berkun|ung ke tempat kediaman Lohu, tentu tidak keberatan mengulurkan ta ngan memben bantuan Ini benar-benar sebuah pelajaran yang berharga buat kalian kaum muda," kata Song Ceng San.

Yok Sau Cun setengah percaya, setelah menyesali kebodohannya. "Kalau begitu, lukanya hanya berpurapura..." gumamnya.

"Tentu saja palsu Dia melihat kau seperti seorang pelajar Tidak ada kesan licik seorang yang sudah biasa berkecimpung dalam dunia kangouw Dengan meminta dirimu yang mengantarkan surat ini, Lohu pasti tidak akan curiga ".

Yok Sau Cun merasa sedih sekaligus terpukul.

"Semuanya karena kebodohan boan seng Tidak bisa membedakan yang benar dan yang palsu. Malah memaksa Song loya cu membaca surat tersebut Kemana boan seng harus meletakkan muka ini?".

"Dalam hal ini kau tak perlu menyesali dirimu ." kata-katanya belum setesai Terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa memasuki ruangan. Ciek Ban Cing membawa sebuah botol kumala di tangannya Dia meletakkannya di atas meja kemudian menuangkan secangkir air hangat Dibukanya botol obat tersebut dan mengambii tiga butir untuk diserahftan kepada Song Ceng San. "Sepuluh butir," kata Song loya cu.

"Pat pao kei tok tan adalah obat yang sangat mujarab. Biarpun ]enis racun yang paling ganas, tiga butir saja sudah cukup Lo ceng cu. ".

"Betul," tukas Song Ceng San "Pat pao kei tan ini adalah pemberian Tongbun yang terkenal paling hebat dalam meracik racun.

Tapi racun yang terdapat dalam surat ini jangan dianggap enteng Kaiau Lohu tidak cepat-cepat menutup jalan darah penting di bagian lengan lalu menggunakan Iwekang yang telah Lohu pelajari selama berpuluh tahun untuk menghantamnya, mungkin sekarang sudah tidak dapat duduk seperti ini lagi Mana mungkin bisa menghilangkan racun tersebut kalau tidak meminum sepuluh butir Pat pao tan'?".

Ciek Ban Cing mengiakan. Dia segera mengambil lagi tujuh butir obat tersebut dan diasongkannya ke tangan Song Ceng San Orang tua itu meneguknya sekaligus Kedua matanya dipejamkan. Sepatah kata pun tidak diucapkan lagi.

Ciek Ban Cing tidak berani bergerak Dia tetap berdiri di samping Song Ceng San Yok Sau Cun menjaga di bawah tangga batu Matanya memandang orang tua itu tanpa berkedip Hatinya tegang sekali Bagaimana pun dia yang bertanggungjawab atas kejadian iniTaman itu menjadi sunyi senyap.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa menyerbu masuk Tam pak Song Bun Cun dengan wajah cemas memasuki tempat itu. Matanya jelalatan.

"Aku dengar Tia terkena racun jahat, bocah ini yang " Dia menaiki tangga batu dan langsung menghunus pedangnya.

"Bun ji. Jangan berlaku kasar'" kata Song Ceng San dengan mata tetap terpejam. "Bagaimana aku yang sebagai ayah mengajar kau seharihan'? Jadi orang harus berakal sehat Lagipula penstiwa keracunan Tia tidak ada sangkut pautnya dengan Yok Siangkong Dia hanya kebetulan terpilih sebagai pengantar Kedatangannya dari jauh adalah sebagai tamu Bagaimana kau demikian tidak sopan?".

Song Bun Cun yang melihat ayahnya masih sadar, tidak berani mengatakan apa-apa lagi Dia terpaksa menjawab sepatah "lya" saja.

D| belakang Song Bun Cun mengikuti dua orang gadis Mereka adalah Hui Fei Cin dan pelayannya Siau cui Tentu saja Hui Fei Cin tidak mengenakan cadar lagi sekarang Meskipun mukanya datar namun matahya seper ti sebuah bola knsta! yang jernih Dengan gerakan cepat mengerling ke arah Yok Sau Cun sekilas Kemudian dengan langkah tergesa-gesa dia menghampiri Song Ceng San.

"Paman .. Apakah kau orang tua sudah baik?" tanyanya lembut.

Song Ceng San membuka kedua matanya dan menganggukkan kepala. Bibirnya tersenyum. "Hampir pulih Meskipun racun di dalam surat ini sangat jahat, tapi hilangnya juga sangat cepat" Dia berhenti sejenak "Oh. Apakah ayahmu sudah menuju Kwa Cin".

"Tia pergi kemana, keponakan sama sekali tidak tahu Bagaimana paman bisa tahu?" tanya Hui Fei Cin.

Song Ceng Sao menunjuk ke arah surat yang menancap di pohon. "Surat itu yang mengatakan," sahutnya.

"Apakah dalam surat itu ada mengungkap tentang Tia?" Dia bergegas melangkahkan kaki untuk mengambil surat tersebut.

"Tunggu dulu!" cegah Song Cen San "Mungkin masih ada sisa racun di dalamsurat itu. Kau tidak boleh menyentuhnya.

Hui Fei Cin menghentikan langkah kakinya. Dia membalikkan tubuh dan bertanya:. “Apa katasurat itu?".

"Mereka ingin kau menukar ayahmu dengan Cen Ku Kiam," sahut Song Ceng San menjelaskan.

"Rupanya Cen Ku kiam sudah dimiliki gadis itu," pikir Yok Sau Cun dalam hati. Hui Fei Cin terkejut mendengar keterangan itu.

"Mereka ingin aku membawa Cen Ku kiam untuk ditukar dengan Tia'? apa yang terjadi dengan ayahku'?" tanyanya cemas.

"Mereka ingin menurunkan tangan jahat kepada lohu Maka pertama-tama mereka menyebutkan tentang ayahmu supaya per hatian Lohu terpecah Urusan ini tidak boleh dipercaya begitu saja. Rasanyatidak mudah terjatuh ke tangan orang," kata Song Ceng San menenangkannya.

"Tidak Kalau Tia tidak terjatuh dalam tangan mereka Tidak mungkin mereka berani mengancam," sahut Hui Fei Cin sendu.

"Anak, apakah kata-kata paman pun kau tidak percaya lagi?".

Yok Sau Cun teringat peristiwa semalam Manusia yang memakai pakaian hijau dan mendapat panggilan Ho cong au bo kt dan Houw jiau Sun menyapa pendekar yang juga berpakaian hijau sebagai Wi Yang taihiap Kemudian Hek Houw Sin menyapanya sebagai Hui heng! Hui Fei Cing juga she Hui Apakah laki laki setengah baya yang memakai baju hijau adalah ayahnya? Yok Sau Cun terkejut. Dia segera menjura dalam dalam. "Cayhe numpang bertanya, apakah ayah Hui siocia yang disebut Wi Yang taihiap'?". Mata Hui Fei Cin menyorotkan sinar terperanjat.

'Bagaimana Yok Siangkong bisa tahu?.".

"Semalam di Kwa ciu, cayhe melihat seorang laki-laki setengah baya berpakaian hijau. Ada orang yang memanggilnya Wi Yang taihiap, juga ada lagi beberapa orang yang menyebutnya Hui taihiap Oleh karena itu, cayhe merasa penasaran dan bertanya " sahut Yok Sau Cun.

Hui Fei Cin mendesah.

"Ah . Yang kau katakan adaiah ayahku.

Dia orang tua ternyata sudah sampai di Kwa ciu Eh. Yok Siangkong, kau melihat ayahku bersama siapa ketika itu?".

"Ketika cayhe meninggalkan rumah makan, dia orang tua sedang bergebrak dengan Hek Houw sin," jawab Yok Sau Cun.

"Hek Houw sin?".

"Paman, siapa Hek Houw sin itu?" Pertanyaannya beralih kepada Song Ceng San. Sebeium Song Ceng San sempat menjawab, Ciek Ban Cing sudah menukas. "Piau siocia, Hek Houw Sin Cao Kuang Tu, di dalam dunia kangouw golongan

hitam, juga merupakan seorang yang bernama besar Tapi kalau dibandmgkan dengan Ko loya tentu masih terpaut jauh ".

"Paman apakah yang dikatakan Ciek Cong koan benar adanya?" Hanya Hui Fei Cin penasaran.

Song Ceng San tertawa lebar.

"Betul Dibanding ayahmu, Hek Houw Sin Cao kuang Tu masih kalah setingkat," sahutnya.

Hui Fei Cin baru merasa lega. Dia ikut tersenyum Wajahnya menoleh kepada Yok Sau Cun....

"Yok Siangkong, di mana kau lihat ayahku bergebrak dengan Hek Houw Sin? Kapan terjadinya? Dapatkah kau jelaskan lebihterpennci?" tanyanya beruntun seperti petasan banting.

Gadis itu memang aneh. Meskipun mulutnya memperdengarkan suara tertawa yang merdu. Namun mimik mukanya tetap datar Tentu saja Yok Sau Cun tidak memperhatikan hal itu Dia langsung menceritakan ke Jadian yang ditemuinya di rumah makan keci! tadi matam Hanya bagian Be hua niocu Ciok Lan yang mengajaknya keluar dari rumah makan dan kemudian memberikan pedang lentur kepadanya dilewatkan.

"Be hua popo Ciok sam ku juga muncul di Kwa ciu Kedatangan mereka delapan ba gian demi Cen Ku kiam juga," kata Song Ceng San Kemudian dia menolehkan kepalanya "Hui Ji, mungkin ayahmu masih belum tahu bahwa Cen Ku kiam telah berhasil kau dapatkan Dia bergegas menuju Kwa ciu pasti karena takut pedang tersebut terjatuh ke tangan golongan Hek to. Oleh sebab itu dia bermaksud mencegahnya".

"Kalau bukan paman yang mengatakan aku juga tidak menyangka kalau pedang yang kutemukan secara kebetulan itu adalah Cen Ku kiam," kata Hui Fei Cin sambil tertawa.

"Anak, sekarang kau sudah tenang bukan? Sejak tadi Lohu sudah mengatakan bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada ayahmu.".

"Tetapisurat itu. ".

"SiJrat itu hanya menggertak saja," kata Song Ceng San.

Dia mengangkat cawan tehnya dan meneguk sampai kering Dia menoleh kembah ke arah Yok Sau Cun.

"Yok Siangkong tadi mengatakan bahwa ada urusan pnbadi yang hendak dirundmgkan dengan Lohu. Kau datang dari tempat yang jauh Rasanya bukan urusan biasa bukan? Mengapa tidak kau jelaskan sekarang?".

"Baik." Yok Sau Cun berdiri dan membungkuk dengan hormat. "Boan seng ada satu persoalan yang ingin meminta pertolongandari Song loyacu ".

Hui Fei Cin memandangnya dengan seksama Dia seakan menaruh perhatian besar terhadap persoalan Yok Sau Cun.

"Yok Siangkong, silahkan duduk. Lohu memang sudah dua puluh tahun lebih tidak mencampuri urusan dunia. Namun pertemuan ktta dapat dikatakan jodoh juga. Kalau kau memang mempunyai ganjalan hati, silahkan ungkapkan. Jangan ragu Lohu senang bisa membantu," kata Song Ceng San.

"Terima kasih Song loya cu." Yok Sau Cun menjura sekali lagi baru duduk di tempatnya semula. "Tapi apa yang boan seng mohonkan pertolongan Song loya cu, bukanlah persoalan boan seng sendiri," sahutnya.

"Oh.." Song Cong San merasa heran. "Jadi persoalan siapa?" tanyanya serius. "Persoalan suhu boan seng," sahut Yok Sau Cun.

Song Ceng San menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Siapakah suhu Yok Siangkong'?". "Cia su menyebut dirinya Bubeng lojm.".

"Bubeng lojin^ Lohu belum pecnah mendengar nama ini. Entah apa nama dan she suhumu yang mulia?" tanyanya bingung.

Wajah Yok Sau Cau merah padam. Dia merasa malu. "Boan seng sendiri tidak tahu siapa namanya".

Song Ceng San melihat Ydk Sau Cun adalah seorang pemuda yang juJur. Oleh sebab ilu, diatidak merasa heran ketika pemuda itu menjawab 'tidak tahu”.

"Kalau begitu, ada persoalan apa sehmgga Yok Siangkong ingin bertemu Lohu dari tempat yang demikian jauh?" tanyanya.

Wajah Yok Sau Cun semakin merah mendapat pertanyaan seperti itu.

"Centanya begini... Pada usia boan seng memasuki enam tahun, ada orang tua dengan dandanan seperti pelajar dan berpakaian lusuh menghadap ayah Dia bersedia menjadi guru boan seng Ayah kasihan melihatnya sehingga menenma orang tua itu Sejak itu, dia tinggal di rumah dan mengajarkan boan seng membaca dan menulis ..".

Song Ceng San mendengarkan dengan tampang tertarik. "Apakah orang tua itu yang disebut Bubeng lojin?".

"Betul Selain mengajarkan membaca dan mfinulis, Cia su juga menyuruh boan seng duduk melatih pernafasan " sahut Yok Sgu Cun.

"Itu adalah semacam ilmu mengatur pernafasan," kata Song Ceng San.

"Betul Belakangan boan seng baru tahu bahwa yang diajarkan oleh Cia su adalah Iwekang Pada waktu yang sama, boan seng juga diajarkan ilmu tinju dan pedang. Perlahan-lahan boan seng tumbuh besar Sering boan seng melihat orang tua itu menatap langit merenung Tidak jarang menarik nafas berkali-kali. Alis matanya berkerut kerut. Boan seng mencoba menanyakan hal ini kepada Cia su, namun orang tua itu selalu menggelengkan kepala tanpa menjawab ".

"Dia pasti ada kesulitan yang tidak dapat diuraikan " tukas Hui Fei Cin.

"Cayhe juga mempunyai pendapat yang sama." Sahut Yok Sau Cun. Kemudian dia melanjutkan kembali "Sampai musim semi awat tahun ini Orang tua itu tiba-tiba mohon diri. Sebeiumnya dia berpesan agar boan seng menemuinya tiga hari sebelum tiongciu Tempatnya di Hun tai Disana ada sebuah gua di bagian selatan yang bernama Ceng siau tong.".

"Dia menetap di rumahmu se!ama empat belas tahun?" tanya Song Ceng San. "Betul". "Kalau begitu, dia sama sekali tidak mempunyai sanak keluarga?". "Kemungkinan besar," sahut Yok Sau Cun.

"Apakah tiga hari sebelum tiongciu, Yok Siangkong datang ke Hun tai untuk bertemu dengan orang tua itu?" tanya Hui Fei Cin.

"Yok heng justru baru datang dari Hun tai," tukas Sorig Bun Cun yang sejak tadi diam saja.

"Kalian semua jangan banyak bicara. Duduklah. Dengarkan cerita Yok Siangkong," kata Song Ceng San.

"Untuk memenuhi janji itu, boan seng melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa. Untung saja tiga hari sebelum tiongciu, boan seng sudah sampai Cia su sudah mengganti pakaiannya dengan dandanan tosu Orang tua itu duduk di atas batu berbentuk bundar " Sampai disitu, wajah Yok Sau Cun tiba-tiba berubah murunQ. "Tentu saja Cia su senang sekali berjumpa dengan boan seng Tapi boan seng dapat melihat bahwa orang tua itu kurus banyak sekali. Wajahnya juga tampak pucat Boan seng segera menanyakan apakah badannya sedang tidak enak? Cia su hanya tertawa- tawa. Dia mengatakan bahwa ketika di rumah boan seng, dia sudah merasa bahwa penyakit lamanya kambuh kembafi. Oleh sebab itu, dia mencan tempat yang tenang untuk melewati hari. Boan seng mencoba menanyakan apa penyakit tersebut, namun Cia su tidak mau mengatakannya. Meiihat keadaannya yang lemas dan tidak bertenaga, boan seng menduga kalau Cia su mengalami Cao hue jit mo jAtiran darah terbalik karena salah dalam melatih suatu ilmu). Cia su mengatakan bahwa masih ada dua persoaian lagi yang mengganjai di hatinya. Tadinya dia ingin menitipkan persoalan itu kepada boan seng, namun sekarang tidak usah dikatakan lagi juga tidak apa, katanya".

"Suhumu tidak mau mengatakan karena takut merepotkan Yok Siangkong?" tanya Song Ceng San.

"Cia su mengatakan bahwa diri boan seng sendiri harus diperhatikan Meskipun Cia su tidak bersedia mengatakan, boan seng tetap memohon dengan harapan, Cia su akan menjelaskannya.".

"Apakah dia menceritakan persoalannya?" tanya Song Ceng San.

"Setelah boan seng memohon dengan susah payah, akhirnya Cia su bersedia mengemukakan satu persoalan saja. Dia mengatakan bahwa pada enam belas tahun yang lalu dia tanpa diduga kehilangan putra tunggalnya Cia su sudah mencari ke pelosok dunia namun tidak menemukan juga," sahut Yok Sau Cun.

"Berapa usia putra tunggal suhumu sekarang?" tanya Song Ceng San.

"Menurut cerita Cia su, ketika menghilang usia anak itu baru dua belas tahun," sahut Yok Sau Cun. "Apakah suhu pernah menjelaskan, siapa anaknya itu'?" tanya Song Ceng San.

"Cia su tidak mengatakan Hanya pernah mengucapkan secara sambil lalu bahwa anaknya itu mempunyai tahi lalat merah di alis kanan," sahut Yok Sau Cun..

"Ah.." Song Ceng San mendesah. "Lalu apa persoalannya yang kedua?".

"Boan seng menanyakan persoalan keduaitu Ciasu hanya menggelengkan kepala sambil menarik nalas Dia tidak ingin mengatakannya, hanya menatap diriku dengan mata terharu dan berucap" Suhu sangat terhibur mengetahui muridku mempunyai niat baik Kalau kau dapat bertemu dengan putra suhu yang mempunyai tahi laiat warna merah di alis sebelah kanan, katakan agar pada sepuluh tahun yang akan datang supaya datang ke pesisir daerah selatan untuk bertemu denganku Seandamya dia tidak berhasil menemukan aku, berarti suhu sudah tidak berada di dunia manusia lagi. Asal kau dapat memenuhi permintaan yang satu ini, suhu sudah cukup puas Mengenai persoatan yang satu lagi Aih Masa lalu bagaikan asap di udara Suhu juga tidak ingin mengungkitnya kembali".

"Kalau suhumu memang tidak menjelaskan, bagaimana Yok Siangkong bisa mencan Lohu'?" tanya Song Ceng San.

Hui Fei Cin tampak terperanjat.

"Paman kalau mendengar nada bicara kau orang tua, rasanya paman seperti sudah tahu persoalan kedua itu?" tanyanya.

"Boan seng kemudian memohon diri ke pada Cia su Ketika menuruni gunung tersebut, ada orang tua yang meminta boan seng berhenti ".

"Ah ? Song Ceng San semakin tertank dengan cerita itu.

"Siapa orang tua itu?" tanya Hui Fei Cin tanpa dapat menahan diri.

"Cayhe tiak mengenalnya. Cayhe membalikkan tubuh dan menjura Cayhe baru saja bermaksud menanyakan ada urusan apa sehingga dia menghentikan langkah cayhe, orang tua itu tertawa lebar Dia mengatakan bahwa persoalan kedua Cia su, dia sudah tahu Cayhe terpana Lalu bergegas menanyakan mengapa Lao cang tidak mengatakan lebih jelas?" Orang tua itu menjawab "Lohu menunjukkan sebuah jaian terang untukmu Asalkan kau datang Bu cing dan bertemu dengan Song Ceng San loya cu, maka permintaan kedua suhumu akan segera terkabulkan ".

Song Bu Cun mendengus dingin.

"Seenaknya dia menyebut nama ayahku begitu saja,'' katanya sinis. Song Ceng San melinknya sekilas Bibirnya tersenyum.

"Ayah memang bernama Song Ceng San Sedangkan nama memang gunanya agar mudah dipanggil orang. Mungkin saja dia adalah seorang kenafan lama ayah. Belum tentu tidak pantas bukan?" kata Song Ceng San tenang. Dia lalu menoleh ke arah Yok Sau Cun.

"Apakah kau masin ingat bagaimana rupa orang tua yang kau temui itu'?".

"orang tua itu berusia sekitar tujuh puluhan tahun Rambut dan alisnya sudah memulih Di dagunya terdapat jenggot yang tipis Wajahnya seperti anakanak Pakaiannya seperti seorang pelayan Tangannya meng genggam sebatang rotan," sahut Yok Sau Cun.

Wajah Song Ceng San menunjukkan rasa terkejut, dia mengelus jenggotnya dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

"Orang tua itu mengatakan bahwa dia juga mengetahui persoalan Cia su yang pertama," lanjut Yok Sau Cun.

Sekali lagi Song Ceng San mendesah Ah ".

"Boan seng bertanya kembali pada orang tua itu Kalau Lao cang mengetahui persoalan Cia su yang pertama, tolong jelaskan bagaimana cara boan seng menyelesaikannya?" orang tua itu menyahut "Aku orang tua mempunyai beberapa patah syair. Ingat baik-baik "Lima keluar bunga bermekaran. Enam keluar betecbangan. Pemandangan Ban San indah menggidikkan. Mendongakkan kepafa menatap tempat tinggal dewata. Sej'ak itu kekasih hati tidak ingin pulang ke fumah " Mulutnya membaca syair tersebut. Kakinya melangkah. Hati boan seng masih ada beberapa pertanyaan. Oleh karena itu, boan seng segera mengei'arnya Cara |alan orang tua itu tidak cepat, namun bagaimana pun boan seng mencoba menyusulnya, te tap tidak tercandak juga. Tampak orang tua itu membelok di balik sebuah bukit Boan seng mempercepat langkah. Ketika sampai di belokan itu, orang tua tersebut sudah tidak kelihatan lagi," kata Yok Sau Cun.

Song Ceng San meliriknya sekilas. Kepalanya manggut-manggut.

"Setelah mendengar perkataan orang tua itu, kau bergegas datang mencari Lohu?" tanyanya.

"Cia su tidak bersedia mengatakannya. Menurut orang tua itu, asal ada sepatah kata dan Song loya Cu maka permintaan Cia su yang kedua akan terkabul. Oleh karena itu, tanpa memperdulikan hal lainnya, boan seng segera kemari memohon Song Loya Cu," sahut Yok Sau Cun.

Song Cen San kembali menganggukkan kepalanya. "Lohu akan mengabulkan," katanya.

Wajah Yok Sau Cun berseri seketika.

"Song loya cu, kau sudah mengabulkan. Apakah kau orang tua tahu apa keinginan kedua dalam hati Cia su?".

"Lohu tahu," sahut Song Ceng San tegas. "Song loya cu, apa sebetulnya permintaan kedua Cia su? Dapatkah Song loya cu memberitahukan kepada boan seng?".

"Kalau suhumu tidak berkata apa-apa Aku juga tidak perlu menjelaskannya," sahiit Song Ceng San.

"Kalau begitu, Song loya cu }uga sudah tahu siapa Cia su adanya?" tanya Yok Sau Cun.

Wajah Song Ceng San agak berubah mendapat pertanyaan tersebut.

"Lohu hanya mengatakan bahwa Lohu akan membantunya menyelesaikan satu persoalan," sahutnya.

"Maksud Song loya cu . .".

"Enambelas tahun yang lalu, Lohu pernah berjanji kepada suhumu Asalkan dia sanggup menenma dua puluh jurus ilmu pedangku, maka aku akan mernbantunya menangani sesuatu.".

Dia mcmpunyai dua puluh jurus ilmu pedang yang merupakan rahasia Tian san. Tidak ada orang di dunia ini yang sanggup memecahkannya. Seandainya harus menerima dua puluh jurus ilmu padang tersebut, tampaknya sulit mencapai keberhasilan Yok Sau Cun terdiam mendengarkan keterangan itu.

"Kata-kata Lohu im, biarpun enambetas tahun kemudian, masih tetap berlaku," lanjutnya.

"Maksud Song loya cu . Kalau ingin permintaan Cia su dikabulkan. maka harus sanggup menenma dua puluh jurus ilmu pedang Loya dulu?" tanya Yok Sau Cun. "Tidak salah Kalau suhumu datang sendiri, dia juga harus sanggup menerima dua puluh jurus ilmu pedang lohu dulu " Yok Sau Cun bangkit dan menjura. "Song loya cu, demi keinginan Cia su.

Meskipun tidak tahu diri, Boan seng bcr sedia mencoba".

"Ha , ha ha . " Song Ceng San tertawa terbahak bahak "Maksud Lohu kalau yang datang suhumu sendiri, maka ia harus sanggup menenma duapuluh jurus ilmu pedangku Karena sekarang kau yang mewakili suhumu, maka aku hanya memberi satu jurus sebagai bahan ujian," katanya.

Yok Sau Cun terpana.

"Maksud Song loya cu asal boan seng sanggup menerima satu jurus saja ilmu pedangmu, maka kau akan mengabulkan keinginan Cia su?" tanyanya.

Bagaimanapun, Yok Sau Cun belum pernah menginjakkan kaki di dunia kangouw Dia mana tahu bahwa Song Cen San sejak duapuluh tahun yang lalu telah mendapat julukan "Bulim it kiam' Satu jurus pedangnya bahkan masih jauh lebih lihai dibandingkan seratus Jurus atau seribu |urus kaum keroco. Hui Fei Cin memandang Yok Sau Cun dengan hati khawatir.

"Yok Siangkong. ilmu pedang paman sa ngat tinggi Kau jangan ...".

"Hui ji, Kau tidak perlu mencemaskan Yok Siangkong Mana mungkin Ku hu melukainya?" tukas Song Ceng San tersenyum.

Hui Fei Cin tidak berani berkata apa-apa lagi Yok Sau Cun menjura dalam-dalam.

"Boan seng tahu ilmu silat boan seng sangat rendah Kalau dibandingkan dengan Song loya cu bagai bumi dan langit Tapi demi memenuhi keinginan Cia su, Boan seng bertekad mencoba ".

"Bagus sekali Apakah Yok Siangkong tidak berbekal pedang?". "Boan seng membawanya," sahut Yok Sau Cun.

'Bagus Keluarkanlah'" kata Song Ceng San.

Yok Sau Cun mengeluarkan bola pedang tersebut dan balik pakaiannya Sekali dihentakkan pedang itu mengulur menjadi panjang Pedang lentur semacam itu tidak memerlukan banyak tenaga Bila digoyangkan, hanya mirip seutas tali saja. Namun cukup sekali lihat saja, orang pasti akan mengetahui bahwa pedang itu terbuat dari bahan besi yang lunak dan langka.

Mata Song Ceng San memperhatikan dengan seksama.

"Dan mana Yok Siangkong mendapatkan pedang itu?" tanyanya Yok Sau Cun tahu Song Ceng San mengenali pedang itu Wajahnya merah padam seketika.

"Seorang teman boan seng yang memberikan." sahutnya. Mulut Song Ceng San mendesah sekilas.

"Yok Siangkong berkelana di dunia kangouw, lebih baik jangan menggunakan pedang tersebut.

Yok Sau Cun tidak mengerli apa yang dimaksudkan olehnya Dia mengira pedangnya itu terlalu tajam sehingga mudah melukai lawan, maka dia menjawab dengan sopan.

"Boan seng akan mengingatnya dalam hati".

Sementara itu beberapa orang pelayan sedang menyiapkan sumpit dan mangkok di atas meja Sekali lihat saja, Yok Sau Cun sudah tahu mereka sedang menyiapkan makanan Memang waktu itu hari Sudah mulai gelap Sudah waktunya makan malam Ciek Cong koan sudah mengikuti Song Ceng San berpuluh tahun, hal seperti itu tidak perlu diberitahukan lagi.

Song Ceng san melambaikan tangannya sambil tersenyum. "Kalian bawakan sebatang sumpit untuk Lohu " katanya.

Ciek Cong koan tentu tahu maksud hati Song Ceng san Dia segera menjumput sebatang sumpit dan menyodorkannya kepada Lo qeng cu itu Song Ceng San menyambutnya Dia tersenyum kepada Yok sau Cun.

"Lohu sudah dua puluhan tahun tidak menggunakan pedang Kita bertanding dengan sebatang sumpit ini saja Sesudah itu sudah waktunya untuk makan makan ".

"Loya cu menggunakan sebatang sumpit itu sebagai pengganti pedang?' tanya Yok Sau Cun terkejut.

"Kalau Lohu tidak memegang apa-apa, tentu Yok Siangkong tidak akan mengeluarkan pedang Sekarang kita sudah boleh mulai" kata Song Ceng San.

"Apakah Loya cu ingin bergebrak di tempat ini juga?' tanya Yok Sau Cun terpana. Song Ceng San tetap duduk di tempatnya semula.

'BetuI Silahkan Yok Siangkong menyerang lebih dahulu " katanya.

Yok Sau Cun melihat Song Ceng San tetap duduk di tempatnya semula Bahkan berdiri pun tidak. Dia merasa pihak lawannya dirugikan olehnya.

"Song loya cu. .".

"Silahkan Yok Siangkong menyerang LOhu," tukas Song Ceng San.

"Ku ku telah memintamu menyerang. Kau tidak perlu ragu lagi" kata Hul Fei Cin.

"Apa yang dikatakan HUI ji memang tidak salah. Yok Siangkong tidak perlu ragu Namun Lohu masih perlu mempenngatkan dirimu Kau hanya mempunyai kesempatan satu jurus sa|a Keluarkanlah ilmu andalanmu Maksud Lohu, kau hanya perfu menenma satu jurus seranganku Sedangkan dirimu bebas melancarkan berapa jurus semaumu Asalkan kau sanggup menenma satu jurus dan Lohu, berarti kau sudah meraih kemenangan.".

Setelah mengucapkan silahkan sekali lagi Dia duduk dengan tenang.

"Boan seng terpaksa menuruti perintah Namun sebeiumnya ada sesuatu hal yang perlu boan seng kemukakan Pedang lentur.

Ini memang sangat lemas, tapl tajamnya tidak terkira. " kata Yok Sau Cun sambil membungkuk dengan sopan.

"Lohu tahu. Pedangmu itu berasal darl Bo liang pai daerah Hun lam Terbuat dari bahan besi lunak yang langka Yok Siangkong tidak perlu ragu Silahkan mulai melancarkan serangan," sahut Song Ceng San. 'Kalau Song loya cu sudah mempunyai pikiran demikian, buat apa aku merasa sungkan lagi?" pikir Yok Sau Cun dalam hati. Kakinya segera mundur satu tindak Tubuhnya ditsgakkan Tenaga dalam disalurkan ke bagian tangan yang menggenggam pedang Pergelangan tangannya memutar Pedang lemas itu menjadi kaku seketika Kemudian diangkat ke atas Kedua jari telunjuk dan jari manis tangan kinnya diacungkan sejajar dengan pedang.

"Boan seng mulai menyerang!" serunya.

Pedang panjang ditusukkan ke depan Kedua jan tangan |uga ikut bergerak serentak Sasarannya bahu Song Ceng San. Dia tidak mengarahkan sasarannya ke dada lawan Tapi ke bagian bahu Maksudnya untuk berlaku normal kepada orang yang lebih tua.

Sebetulnya jurus yang satu ini harusnya ditujukan ke dada lawan. Karena yang dilancarkannya adalah salah satu Jurus Butong liong gi kiam hoat yang bernama Tian tao cung ho. llmu pedang perguruan Bu long memang mempunyai daya serangan yang kuat Perubahannya mengejutkan Dia menggunakan jurus ini karena melihat Song Ceng San yang menghadapinya dengan duduk. Dengan demikian, dia lebih sulit mencapai dirinya. Dan memang jurus ini paling sesuai.

Hal ini juga merupakan sikap yang dijunjung tinggi oleh negara Hanya seorang yang terpelajar baru memikirkan adat istiadat. Kalau digantikan orang kasar yang biasanya berkecimpung di duma persilatan, tentu tidak akan mengalah satu tindak pun.

Song Ceng San memperhatikan sikap Yok Sau Cun dengan seksama Diamdiam dia memuji dalam hati.

"Anak muda ini mempunyai jiwa yang besar Meskipun kedudukannya tidak mengun tungkan, namun dia tetap mengalah terhadap yang tua Kalau saja sikapnya itu tidak berubah, pasti di kelak kemudian hari, dia akan menjadi seorang tokoh yang terkemuka".

Wajahnya mengembangkan senyuman lebar.

"Yok Siangkong, jurusi ini kau lancarkan demi suhumu Jangan sungkan lagi, Silahkan keluarkan segenap kemampuanmu.".

Pedang Yok Sau Cun sedang meluncur ditengah jalan, ketika dia mendengar Jurus ini kau iancarkan demi suhumu' Di benaknya segera terbayang wajah murung dan keluh kesah gurunya selama ini Dia berkata dalam had "BetuI Kedatanganku han ini justru untuk memenuhl Cia su," Gerakan pedangnya segera berubah Jurus Tian ho tao cung dan Bu long pai segera ditariknya kembali Serangan berganti dengan sebuah Jurus dari Kong tong pai yaitu Go gue pue hua Bunga betebaran di bulan lima pedangnya laksana lima kuntum bunga yang bertaburan di udara.

Tangan Song Ceng San terangkat Segera terdengar Trang' Trang! Trang! Trang! Trangi sebanyaklima kali Serangan Yok Sau Cun berhasil dihentikan olehnya Setiap tutulan sumpitnya tepat di bagian tengah pedang pemuda itu Sedikit pun tidak bergeser. Jurus yang dikerahkan Yok Sau Cun adalah Go gue pue hua dan Kong long paj Sekali dilancarkan akan berbentuk lima bunga yang memenuhi angkasa Kecepatannya tidak usah dikatakan lagi Namun, cara Song Ceng San menutui pedang lemasnya tadi, semuanya bertitik pada tubuh pedang. Dengan demikian dapat dibuktikan bahwa ilmu pedang orang tua itu sudah mencapai puncaknya.

Tangan Yok Sau Cun yang memegang pedang terasa linu Getaran dan tubuh pedang menyusup sampai ke tulang pergelangan tangannya Seperti arus hstrik yang menialar Hatinya tercekat Tapi dia teringat katakata yang dlucapkan Song Ceng San barusan, bahwa kedatangannya ini untuk memenuhi keinginan gurunya Kalau saja dia bisa menahan satu Jurus orang tua itu. Lagi pula dia bebas mengerahkan berapa jurus saja. Hatinya menjadi lebih mantap. Pada saat itu, terdengar suara tenakan dari Song Ceng San.

"Yok Siangkong, hati-hati!".

Yok Sau Cun yang merasa didepan matanya ada salitik sinar putih. Berkelebat di depan bola matanya. Tentu saja itu adalah sumpit yang berada dalam genggaman Song loya cu. Dia seperti melihat sinar pedang', juga dapat merasakan hawa pedang dari sumpit tersebut. Namun dia tidak tahu bagaimana menghindarkannya?".

Untuk sesaat, dia kelabakan. Pedangnya diangkat secara asatasalan untuk menangkis Perlu diketahui bahwa gerakan yang dilatihnya sejak kecil Juga merupakan ilmu andalan suhunya, Bubeng lojin, bila ingin melepaskan diri dan serangan yang berbahaya. Dia mana tahu kalau ilmu Song Ceng San sudah mencapai taraf di mana benda apa pun yang ada di tangannya dapat berubah menjadi sebatang pedang.

Gerakannya memang dapat menghindarkan diri dari serangan manapun yang sangat berbehaya. Namun bagaimana mungkin menahan serangan sumpit yang seperti pedang itu'' Untung sa|a reaksinya cepat. Tubuhnya memutar dan merubah gerakannya menjadi Loan po hong kiam sut dari Go bi pai. Sinar pedang bagai kipas yang besar. Tanpa disengaja, pedangnya membentur sumpit di tangan Song Ceng San Dengan kekuatan twekangnya saat ini, mana mungkin dia sanggup menahan tenaga Song Ceng San. Namun telinganya menangkap suara Trang yang nyaring. Tanpa mengetahui apa sababnya, tubuh Yok Sau Cun malayang sejauh dua depa. Kemudian terjatuh di tanah pedang lentur yang ada ditangannya ternyata tertabas setengah Cun oleh sumpit tadi.

Sumpit di tangan Song Ceng San masih utuh tanpa somplak sedikit pun. Namun orang yang duduk di alas kursi itu justru gemetar seluruh tubuhnya.

"Sungguh racun yang keji," katanya dengan susah payah.

Sumpit di tangannya terjatuh ke tanah Lengan kanannya juga ikut terkulai separti orang lumpuh. Pada saat itu, siapa pun yang menatap keadaan Song Ceng San segera berubah wajahnya Ciek Ban Cing terperanjat sekali. Langkah kakinya seperti anak panah yang meluncur, rneneriang ke arah Yok Sau Cun.

"Bocah busuk! Ternyata kau menggunakan racun untuk membokong Lo ceng cu," bentaknya.

Song Bun Cun yang mendengar bahwa Yok Sau Cun menggunakan racun, wajahnya segera menghijau. Dia juga ikut menerjang. .

"Manusia she Yok Aku ingin mencincang tubuhmu'" teriaknya Sekali pergelangan tangannya memutar Pedangnya sudah terhunus.

Meskipun Hui Fei Cin tidak mengatakan apa-apa. Tapi hatinya lebih sedih dan semua orang itu. Kalau saja perkataan itu didengarnya dari mulut orang lain, bagaimana pun dia tidak akan percaya. Tapi matanya sendiri telah menyaksikan, bahkan pamannya juga menyatakan sendiri, tentu tidak salah lagi'.

Di dalam hatinya, dia menganggap Yok Sau Cun sebagai laki-laki satusatunyayang dapat mengerti isi hatinya Perasaannya hampir tercurahkan kepada pemuda itu Dia sama sekali tidak menyangka kalau Yok Sau Cun dapat berbuat sekeji itu Sengaja menaburkan racun ketika sedang bertarung dengan pamannya Hatinya hancur seketika. Matanya membasah. Dia memaki dirinya sendiri yang begitu bodoh Menganggap seonggok sampah laksana emas permata.

Yok Sau Cun tampaknya masih belum tahu kalau pedangnya sudah tertebas sedikit. Dia masfh terkutai di atas tanah dengan wajah pucat pasi Sedangkan Ciek Ban Cing dan Song Bun Cun sudah berhenti di depannya.

Pedang Song Bun Cun sudah diarahkan pada leher Yok Sau Cun Ciek Cong koan segera mencegahnya.

"Kongcu, jangan membunuhnya!".

"Ciek Congkoan, kau jangan turut campur Bagaimana pun aku harus membunuhnya!" tenak Song Bun Cun gusar.

"Kongcu, jangan marah dulu Kalau dia bisa menaburkan racun di pedangnya, pasti dia juga membawa obat penawar. Jangan sampai dia terdesak sehmgga membuang obat penawar itu Kita harus mendapatkannya dulu," bisik Ciek Ban Cing. Dia kemudian menoleh ke arah Yok Sau Cun. Kakinya maju satu langkah.

"Bocah, keluarkan obat penawar! Mungkin nyawamu masih bisa diampuni," katanya tajam.

Yok Sau Cun menatapnya dengan kebingungan .

"Ciek Cong koan Cayhe belum pernah menggunakan racun. Bagaimana cayhe bisa menaburkan racun kepada Song loya cu?" sahutnya lirih.

Wajah Ciek Ban Cing segera berubah membesi.

"Bocah busuki Masih berani mungkir? Kalau kau masih tidak mau mengeluarkan obat penawar itu, maka telapak tangan ini akan menghantam pecah batok kepalamu!" bentaknya marah. Song Ceng San menarik natas perlahanlahan. Tubuhnya hampir tidak bertenaga. "Ciek Cong koan, apa yang kalian lakukan?" tanyanya lirih.

"Lapor Lo ceng cu, bocah ini berani menyebarkan racun, di balik pakaiannya pasti ada obat penawar," sahut Ciek Ban Cing.

“Sembarangan!" Song Ceng San mendengus dingin "Kau telah mengikuti aku sekian lama, bagaimana masih tidak bisa membedakan mana yang benar? Cepat mundur dan bangunkan Yok Siangkong," bentaknya.

Ciek Ban Cing tampaknya kurang puas. "Lo ceng cu. Kau .".

"Ciek Cong koan, aku memenntahkan engkau membangunkan Yok Siangkong Apakah kau masih belum mendengar dengan jelas?" Wajah Song Ceng San tersirat hawa amarah.

Ciek Ban Cing tidak berani membantah lagi Dia mundur setindak. "Yok Siangkong, Lo ceng cu mempersilahkan kau berdiri" katanya.

Yok Sau Cun menggulung kembali pedang lenturnya Dia segera bangkit.

"Bun Cun, mengapa kau tidak lekas minta maaf kepada Yok Siangkong'?" kata Song Ceng San menoleh kepada putranya.

"Dia menaburkan racun kepada Tia. Mengapa aku ...". Song Ceng San menarik nafas sekali lagi.

"Kapan ayah pernah berkata bahwa Yok Siangkong yang menebarkan racun? Tadi, setelah menelan pil pemberian Tong bun, aku mengira racun sudah dapat dipunahkan Siapa tahu ketika mengumpulkan hawa murni. aku merasa ada sesuatu kelainan pada dmku. Bukan saja racun itu belum punah, malah mulai membuyarkan tenaga dalamku.".

Wajah Ciek Ban Cing menyiratkan rasa terkejut yang tidak terkatakan. "Apakah Lo Ceng terkena racun pembuyar tenaga?".

"Tidak salah. Lohu pernah mendengar Lo tangke dari partai Tong bun mengatakan bahwa Pat pao tan dapat memunahkan segala jenis racun, kecuali racun pembuyar tenaga Racun itu tidak dapat dipulihkan dengan Pat pao tan," sahut Song Ceng San dengan waiah murung.

"Apakah dengan tenaga dalam setinggi paman masih belum sanggup mendesak racun tersebut keluar dari tubuh?" tanya Hui Fei Cin. Song Ceng San mengelus jenggotnya sambil tertawa getir.

"Kau ini masih kekanakkanakan. Racun pembuyar tenaga justru diciptakan khusus untuk orang yang mempunyai iwekang tingkat tinggi Racun itu adalah sejenis racun yang tidak bewarna atau pun berbau Begitu masuk ke tubuh manusia tangsung menyatu dengan darah. Hawa murni akan buyar seketika. Membuat tenagamu makin femah tanpa terasa. Kecuali perguruan yang mempelajari ilmu racun, dt dunia ini tidak ada orang yang bisa menyembuhkannya.".

"Tia, anak akan mencari obat pemunah itu sekarang juga!" kata Song Bun Cun.

"Tahukah kau siapa yang mencelakal ayahmu ini? Mereka sudah merencanakan siasat ini dengan matang. Sengaja menyuruh Yok S'angkong mengantarkan surat berisi racun. Hal ini membuktikan bahwa mereka tidak mau menunjukkan muka aslinya Tetapi rencana tetap dapat berjalan lancar Bagaimana kau bisa mencari orang- orang ilu?" tanya Song Ceng San.

Yok Sau Cun segera menjura kepada Song Ceng San.

"Song loya cu, Boan seng diperalat orang |ahat untuk mengantarkan surat itu. Loya cu sama sekali tidak mencurigai boan seng berkomplot dengan mereka. Bagaimana pun boan seng yang mengantarkan surat itu sehingga Loya cu celaka. Boan seng sulit menjelaskan kesalahan ini, lagipula hati ini makin tidak tenang. Boan seng ingin mohon diri Sampal ke ujung langit, sarang naga atau pun kandang harimau, Boan seng berjanji akan mencari obat pemunah itu. Dengan demikian Boan seng baru dapat menjelaskan kebersihan diri Harap Song loya cu baikbalk menjaga diri." Selesai beckata, dia membungkuk sekali lagi kemudian membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.

Hui Fei Cin yang melihat Yok Sau Cun hendak pergi, bermaksud mencegah "Yok Siangkong, tunggu dufu!" serunya Song Ceng San memandangi bayangan punggungnya Dia menggelengkan kepala dengan lemah.

Biarkanlah dia pergi. Bocah ini baru ber kelana di dunia ramai, namun budi pekertinya sangat tinggi Karena Lohu terkena racun jahat itu, hatinya merasa tidak tentram Bagaimana pun dia tidak akan menetap febih lama di sini Kita menahannya pun percuma," katanya.

Yok Sau Cun meninggalkan Tian Hua san ceng Dia bergegas kembali ke tepi telaga Meskipun nan gelap, namun di daerah sekitar itu masih ramai.

Desa kecil itu bernama Hu kian Karena letaknya di tepi telaga, maka banyak orang yang hilir mudik. Kebanyakan mereka benstirahat satu dua malam di desa tersebut Pada waktu itu, masih ada beberapa kedai bakmi yang buka.

Yok Sau Cun memilih sebuah kedai yang terletak di muka |alan Setelah menghabiskan semangkok bakmi dan membayaf makanannya itu. Dia bertanya kepada pelayan kedai tersebut. "Saudara, apakah di sini ada rumah penginapan?". Pelayan itu segera menebarkan senyumnya.

"Kek kuan Tamu yang terhormat, kita di sini tidak memiliki rumah penginapan Kalau tuan hendak beristirahat barang semalam penduduk desa ini rata rata mempunyai kamar tamu yang dapat disewa Tuan tidak mengenat jalan di desa ini, biar siaujin yang mengantar," sahutnya,.

"Merepotkan saudara," kata Yok Sau Cun Tidak apa-apa Mari ikut dengan siaujin," sahut pelayan itu sambil tertawa semakin lebar.

Yok Sau Gun mengikuti di belakang pelayan tersebut Kegelapan menyebar di se panjang jalan Setelah melewati sebuah gang yang sempit, sampailan mereka di de pan rumah dengan atap rumbia rendah. Pelayan ttu menghentikan langkah kakinya. Dia membalikkan tubuh dan memandang Yok Sau Cun.

"Tuan harap menunggu sebentar, Siaujin akan memanggil pintu," katanya Dia membalikkan tubuh dan maju selangkah serta mengetuk pintu itu beberapa kali. Tidak lama kemudian, terdengar suara seorang perempuan tua menyahut dari sebelah dalam.

"Siapa di luar?".

"Hu toanio Nyonya Huj, aku adalah palayan kedai bakmi. Ada seorang tuan yang ingin bermalam," kata pelayan itu.

Hu toanio yang mendengar ada tamu yang ingin bermalam menjaAab dengan tergesa-gesa. "Baik baik.. .".

"Kreet!" Pintu rumah itu segera terbuka.

Dari dalam muncul seorang perempuan tua dengan rambut yang telah memutih Tangannya membawa sebuah wadah lilin yang menyata. Waiahnya tersenyum. "Tuan, silahkan masuk dan duduk di dalam," sapanya.

"Tuan silahkan, Siaujin mohon diri," kata pelayan itu.

Yok Sau Cun merogoh kepingan uang perak dari balik sakunya dan dibenkan kepada pelayan itu.

"Terima kasih atas bantuanmu ".

Pelayan itu menerima uang persen dari Yok Sau Cun dan membungkukkan tubuhnya berkali-kali. Kemudian dia baru membalikkan tubuh dan pergi.

Yok Sau Cun mengikuti nenek tua itu masuk ke dalam rumah Setelah menutup pintu kembeli, nenek tua itu meletakkan lilinnya di atas meja. Wajahnya tetap memperfihatkan senyuman.

"Tuan, silahkan duduk. Lao pocu akan menyeduh teh untukmu". "Lao popo tidak usah repot Cayhe mengganggu di larut malam, rasanya tidak enak Cayhe hanya mencari tempat untuk beristirahat saia," sahut Yok Sau Cun.

"Tuan, silahkan duduk saja. Di sini jarang ada tamu yang datang Masak air toh tidak memakan waktu lama," katanya. Dengan punggung membungkuk, dia melangkah masuk ke dalam. Tidak lama kemudian, nenek itu keluar kembali dengan tangan membawa sebaskom air.

"Tuan, silahkan cuci muka," katanya.

"Malam-malam merepotkan Lao popo, Cayhe sungguh merasa malu," sahut Yok Sau Cun.

"Kek kuan jangan sungkan Desa kami sedang tidak ada tamu sekarang Pada akhir musim gugur seperti ini, cuaca mulai dingin Tamu yang berpesiar ke telaga sedikit sekali Tamutamu yang menginap pun hampir tidak ada Berlainan dengan musim semi, pada saat itu kami sibuk setengah mati," kata nenek itu tersenyum lebar.

Sembari mencuci muka, Yok Sau Cun bertenya sambil lalu. "Selain Lao popo, siapa lagi yang tinggal disini?".

Hanya aku lao pocu dengan si kakek dua Pekerjaan kakek mendayung perahu, kaiau senja hari sudah letih sekali. Sekembafi ke rumah langsung tertidur pulas. Namanya orang miskin. Untung saja kadangkadang ada tamu yang menyewa kamar sehingga kebutuhan rumah tangga masih bisa diatasi," kata nenek itu sambil menarik nafas panjang.

Setelah Yok Sau Cun selesai membasuh muka, nenek itu mengambil baskom jtu dan masuk kembali ke belakang Kemudian dia keluar lagi dengan sebuah teko dan cangkir Diletakkannya di atas meja.

"Silahkan minum teh, Tuan." katanya. Dia berjalan menuju kamar yang terletak di sebelah timur dan membukakan pintunya.

"Tempat tidur tuan adaiah kamar ini. Semua selimut dan sarung kasur selalu lao pocu cuci dengan bersih. Tuan jangan khawatir Silahkan istirahat dengan tenang. Lao pocu permisi tidur tebih dahulu," katanya.

Yok Seu Cun berdiri dengan sikap sopan.

"Lao popo istirahat saja, Cayhe tidak ada keperluan apa-apa lagi".

Nenek tua itu berusaha meluruskan punggungnya yang bungkuk dan berjalan dengan langkah terseok-seok. Yok Sau Cun memandanginya sampai menghilang ke ruangan dalam Dia merasa agak haus setelah perjalanan yang cukup meletihkan. Diambilnya cangkir di atas meja dan mengisinya dengan air teh dari teko Teh itu baru saja diseduh. Uapnya masih mengepul. Daun teh dan gunung di sekitar telaga Tai hu sangat terkenal Teh itu masih memancarkan semacam keharuman yang menyegarkan. Perlahanlahan Yok Sau Cun mennnumnya seteguk Pikirannya terus membayangkan cara terbaik untuk memperoleh obat penawar racun pembuyar tenaga Pengusutan ini masih tertutup awan gelap Satu-satunya orang yang dapat dijadikan pegangan adalah laki-laki setengah baya yang pura-pura terluka dan memintanya mengantarkan surat kepada Song Ceng San Tapi apa yang dikatakannya semua hanyalah dusta belaka Apakah dia benar benar she Yu atau sem barang menyebut salah satu she yang terlin tas di benaknya saat itu? Taruh kata dia benar she Yu, dia tidak tahu siapa nama kepanjangannya Dunia ini luas sekali Bagaimana dia dapat menemukannya? Ada satu hal jagi Di dalam surat tersebut, dikatakan bahwa Hui Fei Cin harus membawa Cen Ku kiam untuk ditukarkan dengan nyawa ayahnya Meskipun Song Ceng San menganggap katakata dalam surat itu hanya gertakan saja, tapi menurut Yok Sau Cun, itu juga sebuah gans yang peclu di telusuri.

Dia sendiri pernah mendapat keterangan dari Be hua niocu, Ciok Ciu Lan bahwa kedatangannya Hek Houw Sin Cao Kuang Tu dan anak buahnya, Ho con au bo ki serta Houw jiau Sun Bo Hai adatah untuk Cen Ku kiam Dengan demikian, selain untuk manusia she Yu, dia juga perlu mendatangi Kwa ciu sekali lagi Mungkin sa|a Houwjiau Sun masih menjadi Lao pan kedai makan di kola itu.

Setelah mengambail keputusan Yok Sau Cun segergi mengenngkan isi cangkirnya Dia merasa mulai mengantuk Dimasukinya kamar yang ditunjuk oleh Lao popo tadi Tanpa sempat mengganti pakaian lagi, dia langsung tertidur dengan pulas.

Entah berapa lama sudah berlalu. Yok Sau Cun membalikkan tubuhnya Dalam keadaan setengah sadar, dia terbangun Kepalanya terasa pusing sekali. Mulutnya juga terasa pahit dan kering.

Tidak! Dia merasa seperti rebah di atas sebongkah es. Tubuhnya menggigil Dia tidak tahu di mana dia berada saat itu Dia ingin membuka mata untuk melihatlihat. Namun kelopak matanya terasa l?erat Dia menggunakan tangan untuk mengucek mata itu ber kalikali. Dengan susah payah dia berusaha memandang ke sekitarnya. Semuanya gelap. Seperti malam hari di tengah hutan. Hatinya menjadi terkejut seketika.

Dia merasa sudah tertidur lama sekali Mengapa hari masih belum terang juga? Perlahanlahan dia mencoba untuk duduk. Tubuhnya lemas tidak bertenaga. Dia juga teringat bahwa dirinya sudah meninggalkan Tian Hua san ceng, natk rakit sampai ke desa Hu kian lalu makan semangkok bakmi di sebuah kedai kecil. Kemudian pelayan kedai bakmi itu mengantarkannya ke sebuah rumah kecil untuk beristirahat. Nenek tua pemilik rumah itu menyediakan sebuah teko berisi teh. Dia duduk seorang diri sambil menikmati teh itu. Setelah itu, mungkin karena hari sudah terlalu larut maka dia masuk ke kamar untuk beristirahat.

Seingatnya, dia belum meninggafkan rumah nenek itu Kalau begitu, seharusnya dia masih tertidur di kamar tersebut Mengapa sekarang dia bisa tidur di atas lantai? Untuk sesaat, Yok Sau Cun dapat merasakan sesuatu yang janggal. Dia memang belum berpengalaman dalam dunia kangouw, tapi bukan berarti dia tidak menaruh kecungaan sama sekali terhadap segala sesuatu.