Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 05

 
Jilid 05

Diam-diam dia mencoba mengatur hawa murni dalam tubuhnya Terasa ada sesuatu yang menghambat jalan darahnya Yok Sau Cun segera sadar bahwa beberapa jalan darahnya sudah tertotok.

Sekali lagi dia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya Semuanya seperti biasa saja. Hatinya menjadi curiga. Entah siapa yang menotok jalan darahnya? Mungkinkah nenek tua itu? Mungkinkah rumahnya itu adalah sebuah tempat perkumpulan golongan hitam? Pikirannya terus bekerja, namun matanya dipejamkan. Dia berusaha berkonsentrasi Dengan mengumpulkan semua kemampuannya dia berusaha melihat sekitarnya Sekarang dia mulai bisa melihat sedikit-sedikit.

Tempat itu tetap sebuah rumah yang kecil. Selain keempat sisi tembok, tidak ada perabotan lain yang terlihat Di tembok sebelah kiri terdapat sebuah jendela yang tertutup rapat Yok Sau Gun melangkah dengan hati-hati dan meraba dinding bagian itu Terasa hawa dmgin menempel di telapak tangannya. Dia segera sadar bahwa jendela yang dilihatnya merupakan sebuah pintu kecil terbuat dan besi.

Di manakah dirinya sekarang? Pintu basi! Tampaknya dia sudah terkurung dalam ruang bawah tanah oleh seseorang Yok Sau Cun yakin, tempat itu bukan penjara desa setempat Dirinya toh tidak melakukan kesalahan apa-apa Buat apa mereka mengurungnya? Yok Sau Cun berdiri terpaku untuk sesaat Tiba-tiba dia ingat di balik pakaiannya ada pedang lentur pembenan Ciok Ciu Lan Pedang itu sangat tajam Dapat menebas berbagai macam senjata tajam Entah kalau digunakan untuk menebas pintu besi ini,.

Begitu pikiran itu melintas, dia segera mengulurkan tangan untuk mengambil gulungan pedang tersebut. Namun hatinya menjadi tercekat Jangan kata pedang lentur. Sedangkan daun emas yang selalu diselipkan di ikat pinggang dan beberapa tail uang peraknya lenyap entah kemana Sudah jelas sudah diambil oleh orang-orang yang mengurungnya.

Yok Sau Cun kesal sekali.

"Tempat ini pasti markas orang-orang jahat," pikirnya dalam hati.

Tepat pada saat itu, dari luar berkuman dang suara gemerincing rantai dan gembok Perlahan-lahan pintu itu terbuka Disusul dengan seberkas cahaya yang redup. Tampak seorang laki laki berpakaian hitam masuk dengan langkah tergesa-gesa.

"Apakah kau bernama Yok Sau Cun?" tanyanya.

"Tidak salah Tempat apakah ini' Yok Sau Cun balik bertanya pada orang itu. "Kau tidak perlu tahu," sahut laki-laki berpakaian hitam itu. Dia mengeluarkan

secarik kain hitam dan balik pakaiannya dan dilambai-lambaikannya di hadapan Yok Sau Cun.

"Aku akan menutup matamu kemudian kau baru boleh keluar," katanya. "Mengapa harus menutup mataku baru boleh keluar dari tempat ini?". "Ini merupakan peraturan," sahut laki-laki itu dingin Yok Sau Cun bermaksud bertanya lagi, namun laki-laki itu dingin. "Tiong kouwnio sedang menunggu di atas. Cepat tutup matamu.".

Yok Sau Cun terpaksa membiarkan matanya diikat oleh kain hitam itu. "Siapa Tiong kouwnio?" tanyanya.

"Setatah sampai di atas, kau akan tahu sendiri. Sekarang kau boleh ikut aku keluar," kata laki-laki itu.

Sekali ini tangan Yok Sau Cun ditariknya. Mata pemuda itu tertutup oleh sehelai kain hitam. Tentu saja dia tidak dapat melihat apa-apa Tetapi dengan mengikuti takilaki itu, dia dapat merasakan bahwa mereka menuju ke atas. Setelah berjalan kurang lebih tiga puluh langkah. Kaki laki-laki berpakaian hitam itu berhenti.

"Apakah sudah sampai?" tanya Yok Sau Cun.

Laki-laki itu tidak menjawab. Justru terdengar sebuah suara nyanng dari bibir seorang perempuan.

"Apakah dia yang bernama Yok Sau Cun'?". "Betul." Terdengar sahutan dari mulut laki-laki itu.

Yok Sau Cun dapat mendengar dengan jelas Jawaban 'Betul' laki-laki itu diucap dengan nada hormat Tentu kedudukan perempuan itu lebih tinggi dan yang laki-laki Dari suaranya, Yok Sau Cun tahu kalau umur perempuan itu masih belia, karena ada sedikit nada kekanakkanakan.

"Bagus Kau boleh menyerahkannya kepadaku " Terdengar suara gadis itu kembali. "Baik" kembali terdengar sahutan dan laki-laki itu.

"Yok Sau Gun Sekarang kau ikut aku," kata gadis itu Kemudian terasa sebuah tangan yang halus menariknya.

Yok Sau Cun menurut kemauan gadis tersebut Secara sambil lalu dia bertanya. "Apakah kau yang disebut Tiong kouwnio?".

Terdengar suara tawa yang ringan. "Aku'? Bukan " sahutnya.

"Cayhe ingin numpang bertanya. Tempat apakah ini sebetulnya?". "Aku tidak dapat mengatakannya kepadamu," sahut suara lembut itu.

"Kalau begilu, apakah aku boleh mengetahui bagaimanacaranyaaku bisasampai ke tempat ini''" tanya Yok Sau Cun dengan maksud menyelidik. "Aduh Cerewet amat kau . Aku tidak tahu apa-apa Nanti setelah bertemu dengan Tiong kouwmo, kau bertanya juga masih belum terlambat," sahut suara lembut itu.

"Cayhe tidak pernah mengenal Tiong kouwmo Apakah dia merupakan Tiong kouwnio ya Tiong Kouwnio Dia punya beberapa pertanyaan yang ingin diajukan kepadamu tukas gadis itu dengan nada kesal.

"Apa yang ingin ditanyakan kepadaku?" tanya Yok Sau Cun. "Apa yang ingin ditanyakannya, mana aku tahu?".

Langkah kakinya dipercepat. Yok Sau Cun merasa bahwa paling setidaknya mereka melewati dua buah tikungan Dia dapat merasakan dan tarikan tangan gadis itu.

Jalanan itu semuanya panjang sekali pasti rumah ini sangat besar. Ketika mereka melewati satu ruangan lagi Langkah kaki gadis itu berubah menjadi lambat. Yok Sau Cun tahu mereka segera sampai di tujuan.

Setelah berJalan kurang lebihlima tindak Tangan lembut yang menariknya terlepas Terdengar sebuah suara membisik di tell nganya.

"Sudah sampai Sekarang kau boleh melepaskan kain hitarn yang menutupi matamu.".

Yok Sau Cun segera menuruti katakata nya Begitu kain hitam itu terlepas Sorot matahari yang terang menyilaukan matanya Untuk sesaat dia tidak sanggup melihat apa-apa Sejenak kemudian, dia baru mulai membiasakan dirinya kembali Di hadapannya berdiri seorang gadis yang mengenakan rok pendek berwarna ungu.

"Kau tunggu sebentar," kata gadis itu.

Tampaknya gadis itu masih kecil sekali Usianya paling paling enambelas tahunan Wajahnya masih kekanakkanakan Yok Sau Cun memperhatikan tempatnya berdiri Tempat itu adalah sebuah ruangan kecil. Di dalamnya terdapatlima pot kembang yang berisi hiasan kuning Di sampingnya menghias tirai yang menjuntai ke bawah.

Sementara itu, gadis yang mengenakan rok pendek berwarna ungu itu membungkukkan badannya dengan hormat.

"Lapor Tiong kouwnio, Yok Sau Cun telah dibawa keman," katanya Dari dalam berkumandang sebuah suara dengan nada dingin.

"Silahkan,".

Gadis itu membalikkan tubuhnya.

Tiong kouwnio menyuruh kau masuk ke datani," katanya.

Dia menyingkapkan tirai untuk Yok Sau Cun Pemudaitujuga tidaksungkan lagi Dia melangkahkan kaki dengan tindakan lebar Kamar itu sangat bersih dan rapi Di tengahtengahnya terdapat sebuah meja bundar Di sekelilmgnya terdapat beberapa buah kursi. Di bagian dalam. duduk seorang gadis yang kirakira berusia duapuluh tiga tahun. Alisnya bagus namun agak tipis Dia tidak memupurkan bedak sama sekali Wajahnya dingin dan kaku.

Melihat Yok Sau Cun melangkah masuk, dia segera berdirii Bibirnya mengembangkan seulas senyuman tipis.

"Yok Sauhiap, silahkan duduk," sapanya.

Sauhiap artinya pendekar muda Yok Sau Cun menjura penuh hormat. "Nona tentunya Tiong kouwnio'?" tanyanya.

Kepala gadis itu mengangguk kecil.

"Anak buahku telah berlaku kurang sopan terhadap Yok sauhiap Harap jangan menyimpan di hati," katanya.

"ini yang dinamakan pertama menghina kemudian mengangkat Kalian mengurung aku di ruang bawah tanah Sekarang toh mengaku sendiri." kata Yok Sau Cun dalam hati.

"Perkataan kouwnio baik sekali Mungkin ini hanya sekedar salah pengertian," sahutnya sambil menggoyangkan tangan.

"Yok Siangkong silahkan duduk Aku ada Deberapa partanyaan yang mohon Jawaban dari Sauhiap," kata katanya sangat manis namun penuh pengalaman.

Yok Sau Cun duduk di hadapannya.

"Tiong kowunio ingin bertanya soal apa? Cayhe bersedia mendengarkan.".

Gadis cilik yang tadinya mengantarnya Kembaii lagi dengan sebuah baki berisi tako dan cangkir Teko yang berisi teh itu memancarkan bau harum.

"Yok Sauhiap, silahkan minum," katanya.

Kepala Tiong kouwnio menoleh kepada gadis itu. "Ambilkan barangbarang milik Yok Sauhiap," perintahnya.

Gadis itu mengiakan Dia membalikkan tubuh dan pergi. Tidak lama kemudian, dia sudan kembali lagi dengan berbagai macam barang ditangannya Diletakkannya barangbarang itu di alas meja Ada gulungan pedang, sebungkus daun emas dan beberapa tail uang perak. Sekali lihal saja, Yok Sau Cun mengenali barangbarang tersebut adalah miliknya.

Tiong kouwnio menunjuk ke atas meja.

"Yok Sau Cun, periksalah Apakah semua itu milikmu? Kurang atau tidak'? Kalau sudah cukup, harap disimpan kembali," katanya.

Yok Sau Cun mengambil barangbarang itu dan menyehpkan ke balik pakaiannya. "Tidak... Semuanya sudah lengkap," sahutnya.

Aku tidak tahu bahwa Yok Sauhiap ada lah orang kepercayaan Hong Lo Cianpwe.

Kalau ada hal-hal yang kurang menyenangkan Harap Yok Sauhiap sudi memaafkan," kata Tiong kouwnio dengan sikap normal.

Ini adalah untuk kedua kalinya dia meminta maaf kepada Yok Sau Cun Kedengarannya lembut sekali Fasti dia sudah terbiasa menampilkan wajah dingin dan kaku Sehingga meskipun bibirnya tersenyum namun mimik wajahnya tetap datar Tetapi tetap begitu mempesona dan cantik jelita'.

Yok Sau cun sama sekali tidak tahu siapa Tiong 'Lo cianpwe' yang dimaksudkan olehnya? Mulutnya hanya berdehem sekenanya.

"Aku dengar Yok Sauhiap baru datang dari Ma cik san?" tanya gadis itu lebih lanjut. "Tidak salah Cayhe memang baru datang dan Ma cik san ".

Matanya yang bening menatap Yok Sau Cun sekilas.

'Apakah Yok Sauhiap sudah bertemu dengan Song loya cu?" tanyanya.

Hati Yok Sau Cun tergetar Diamdiam dia berpikir "Apakah manusia she Yu yang memperalat diriku sekelomplotan dengan orang-orang ini? Kalau tidak, bagaimana dia bisa tahu bahwa aku baru kembali dari Ma cik san?".

Dia mendongakkan wajahnya dan berusaha setenang mungkin.

"Sudah. . Tapi Song loya cu dicejakai oleh orang jahat," Yok Sau Cun sengaja menghentikan katakatanya.

"Song loya cu dicelakai orang? Mengapa aku lidak mendengar ada kejadian seperti ini?" tanya Tiong kouwmo heran.

Dalam hati Yok Sau Cun memaki gadis itu yang dianggapnya pandai bersandiwara.

'Song loya cu hanya sedikit lengah sehingga terserang racun Namun dia mempunyai obat pemunah racun yang amat mufarab, yaitu Pat paotan dari perguruan Tong bun Setelah menenggak obat itu, tentu tidak ada bahaya lagi. Bagaimana orang luar bisa tahu?" sahutnya.

Tiong kouwnio merapikan rambut di keningnya. Dia tetap menatap ke arah pemuda itu. "Aku hanya sekedar bertanya. Tetapi aku ingin mencari berita seseorang dari Yok Sauhiap," katanya.

"Siapa yang ingin ditanyakan Tiong'Kouwnio?" tanya Yok San Cun.

"Keponakan luar dari Song loya cu Juga merupakan putri tunggal dan Wi Yang tayhiap, Hui Fei Cin kouwnio " kata gadis itu.

"Cayhe tidak terlalu kenal dengan Hui kouwnio itu," sahut Yok San Cun.

"Selama di Tian Hua san ceng, apakah Yok Sauhiap pernah mendengar kabar tentang pedang yang didapatkan Hui kouwnio?" tanya gadis itu kembali.

Yok San Cun purapura tidak mengerti. Dia menampilkan kesan keheranan.

"Cayhe tidak pernah mendengar mereka mengatakan. Bagaimana sebetulnya jalan cerita tentang mendapatkan pedang itu?".

Tiong kouwnio tertawa merdu.

"Yang didapatkannya sudah pasti Cen Ku kiam. Apakah Yok Sauhiap benarbenar tidak tahu?".

"Cayhe memang tidak tahu," sahut Yok Sau Cun.

Gadis itu kembali tertawa renyah. Tatapan matanya memberi kesan kurang percaya.

"Di hadapan orang sendiri, tidak perlu berdusta Apakah kedatangan Yok Sauhiap bukan karena Cen Ku kiam?".

Yok Sau Cun termangumangu. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Mata Tiong kouwmo mengawasinya dengan tajam.

"Malam hari itu Yok Sauhiap menumpang di atas perahu Huj kouwnio Kalau tidak salah, sikapnya terhadapmu boleh juga Mungkinkah dari tutur bicaranya Yok Sauhiap tidak dapat menangkap apa apa?" lanjutnya.

Hati Yok Sau Cun tercekat.

"Apakah Tiong Kouwnio sangat jelas mengenai diri cayhe," sindirnya.

"Aku juga hanya mendengar kabar angin. Apa yang kuketahui tidak terlalu banyak," kata Tiong kouwnio.

"Cayhe juga punya pertanyaan yang ingin dia|ukan.".

"Silahkan Yok Sauhiap kemukakan saja," sahut Tiong kouwnio. Mata Yok Sau Cun terangkat sedikit. "Apakah Tiong kouwnio ini ..".

Gadis itu tidak membiarkan Yok Sau Cun bertanya lebih lanjut Dia tersenyum lebar. "Apakah Yok Sauhiap masih belum Jelas?" sahutnya.

"Oh.." Yok Sau Cun menyahut sekenanya. Sebetulnya dalam hati, dia semakin bingung. Dan nada bicara gadis itu, dia seakan mengira Yok Sau Cun sudah tahu siapa dirinya.

Tidak salah lagi! Tadi dia mengatakan bahwa Yok Sau Cun adaiah orang keper cayaan Hong lo cianpwe Mungkin dia sudah salah mengenali orang Sedangkan Yok Sau Cun sendiri fuga tidak menyangkal Dia malah membiarkan saja Siapa tahu dengan cara demikian dia bisa melacak asa! usul gadis itu'?.

Perlahanlahan Tiong kouwnio bangkit dan tempat duduknya.

"Selamanya kami sangat menghormati partai kalian Kalau Yok Sauhiap memang tidak tahu menahu tentang Cen Ku kiam, aku juga tidak perlu banyak bertanya [agi. Yok Sauhiap silahkan minum. Nanti aku akan menyuruh orang mengantar kau keluar dari sini," katanya. 

Yok Sau Cun juga ikut berdiri. Dia membungkuk dengan hormat. "Tidak perlu merepotkan. Cayhe mohon diri saja," sahutnya.

Gadis itu tersenyum datar.

"Setelah mmum teh, toh masih belum terlambat untuk keluar," katanya.

Begitu gadis itu mengungkapkan tentang minum teh' Yok Sau Cun baru teringat. Bukankah setelah minum teh suguhan nenek tua itu kemarin malam, dia langsung tertidur dan tidak sadarkan diri? Tentu di dalam teh ada obat biusnya. Hatinya tercekat Dia buruburu menyahut.

"Terima kasih Cayhe tidak mgin mengganggu lebih lama.".

Dia langsung melangkah keluar ruangan. Namun Tiong kouwnio menghadang di depannya.

"Yok Sauhiap harap berhenti, kau sudah tahu asal usul kami. Seharusnya kau tahu juga perbuatan kami Apa yang kami lakukan selalu terselubung. Tidak boleh ada orang luar yang tahu. Kalau Yok Sauhiap tidak mau meminum teh ini, bagaimana aku dapat mengijinkan kau keluar dari sini?" katanya.

Perkataan ini sama juga artinya telah menyatakan dengan terang.

"Apakah maksud Tiong kouwnio ingin membius cayhe dulu baru diantarkan keluar?" tanya Yok Sau Cun. Wajah gadis itu menampilkan perasaan menyesalnya.

"Yok Sauhiap adalah orang yang penuh pengertian Gerakgenk kami, untuk sementara masih belum boleh diketahui orang Aku terpaksa berbuat demikian Memandang kerja sama pihak kna. aku masih mengharapkan kebesaran jiwa anda ".

Tiong kouwnio tidak membiarkan Yok Sau Cun berkata lebih lanjut Dia mengangkat tangannya ke alas Dengan gerakan secepat kilat. dia menotok jalan darah tidur pemuda itu.

• *.

•.

Kejadian itu seperti sebuah mimpi panjang.

Tidak! Kalau mimpi tentu hanya bayangan samara-samar yang tenngat. Sedangkan mimpi yang satu mi lain sekali. Yok Sau Cun ingat sekali, bahkan sampai hal-hal yang terkecil.

Sekarang. dia merasa ada percikan dingin di wajahnya, Pikirannya perlahanlahan tersadar Dia masih rebah dr atas tempat tidur Pakaiannya pun belum diganti. Begitu juga sepatunya Matanya langsung menangkap kelambu berwarna biru dengan bungabunga kecil. Bukankah dia masih berada di kamar tidur yang disewanya kemarin malam?.

Pada saat itu, kelambu telah disingkap oleh seseorang Sesosok bayangan bertubuh langsing sedang berbisik dengan suara rendah di samping telinganya.

"Yok Siangkong, cepat bangun'".

Yok Sau Cun masih terbayang gadis bergaun pendek tadi. Pikirannya masih bingung. Mulutnya mengeluarkan suara 'oh .. Tubuhnya segera membalik. Lalu bangun dan duduk.

“Siapa kau?".

Dan kejauhan terdengar suara kokokan ayam jago Setidaknya sekarang sudah kentungan kelima. Namun dalam kamar masih gelap gulita.

"Aku adalah Siau cui Sengaja datang ke mari untuk menolongmu," kata bayangan langsing tersebut.

Rupanya rasa dingin di wajahnya adalah perbuatan gadis itu yang mencipratkan air agar dia tersadar.

"Siau cui kouwnio, bagaimana kau bisa datang ke mari?" tanyanya heran.

Dia turun dari tempat tidur Siau cui mundur selangkah Dan menyahut dengan suara berbisik.

"Ciek Congkoan menduga orang-orang jahat itu pasti tidak akan melepaskankan Yok Siangkong Oleh karena itu, dia memmta Song bu jAnak buah Song loya cuj mengikuti secara diamdiam Siocia juga segiera mengutus aku mengmtil di belakangnya. Ketika orang jahat itu membawa Yok Siangkong pergi. Song bu dan aku mengikuti secara diamdiam sampai ke Wi su kan. Song bu puiang untuk memben laporan. Sedangkan aku bersembunyi di sekitar tempat itu tanpa bergerak karena takut kepergok. Kemudian, entah mengapa mereka mengantarkan Yok Siangkong kembali lagi. Aku lalu mengambil air dan memercikkannya ke wajah Siangkong. Tempat ini adalah kediaman Hu pocu yang sekomplotan dengan orang-orang Hu Lekas kau ikut aku keluar," katanya paniang lebar.

Siau cui segera metangkah mendekati Jendela. Tiba-tiba terdengar seruan terperanjat dari mulutnya.

"Waktu aku masuk tadi, terangterangan jendela ini masih kubiarkan dalam keadaan tidak terkunci. Entah siapa yang menutupnya dari luar?".

Tiba-tiba terdengar suara parau perennpuan tua berkumandang dan luar.

"Yok Siangkong baru bangun tidur Tentu saja jendela harus ditutup supaya tidak masuk angin".

Pintu kamar Hu terbuka Nenek tua Hu toamo berdiri dengan bibir mengembangkan seulas senyuman licik.

"Ah. ." Siau cui terparanjat Kakinya mundur dua langkah dan pedang pendek yang terselip di pinggangnya segera dikeluarkan.

"Siau kownio, jangan takut. Lao pocu beritahukan kepadamu. Kami baru tahu kalau Yok Siangkong adalah orang sendiri Maka kami mengantarnya pulang kembali.

Sedangkan Song bu yang diutus Ciek Cong koan, dalam perjalanan sudah dibereskan oleh orang kami. Sekarang tinggal kau seorang diri Lebih baik letakkan seniata itu secara baikbaik Dengan memandan'g waJah Yok Sauhiap, kami tidak akan menyulitkan dirimu.".

Siau cui membalikkan tubuh dan memandang Yok Sau Cun. "Yok Siangkong . " Wajahnya menampilkan perasaan takut.

"Lao popo. Mengapa kau mengoceh yang tidaktidak'? Siapa yang kau katakan orang sendiri?" tanya Yok Sau Cun marah Dia mengerti perasaan Siau cui yang salah paham.

"Yok Siangkong Budak ini tidak boleh dilepaskan. Mulutnya berseru lantang Pedang pendek diacungkan. Tubuhnya menerjang.

"Gerakan bagus" kata Hu toa hio. Bayangan melesat Pedang pendek Siau cui luput dan sasaran Tangan nenek itu terulur. Tanpa sempat berkelit, pergelangan tangan Siau GUI berhasil dicengkeramnya.

Kamar itu memang kurang luas Kedua orang itu bergebrak dalam kamar sesempit ini Yok Sau Cun tidak menemukan akal untuk menenang keluar, dia berteriak dengan panic.

"Siau cui kouwnio, mundurlah'".

Hu toa nio memang ticik Dia mengerti maksud Yok Sau Cun Tangannya segera berpindah ke bahu Siau cui.

"Budak busuk' Kalau kau berani bergerak sedikit saja, maka lao pocu akan mematahkan lenganmu yang indah inil" ancamnya. Cekalan tangannya diperkuat Siau cui sampai mengaduh kesakitan.

"Lao popo! Lepaskan dia1" bentak Yok Sau Cun.

Belum lagi nenek itu menyahut dari arah belakangnya terdengar suara seseorang.

"Hu pocu . Yok Siangkong menyuruhmu lepaskan gadis itu. Kalau kau masih tidak mau menurut, maka telapak tangan ini akan menggetarkan jantungmu sehmgga pecah ".

Nenek itu merasa ada sesuatu yang lunak dan nangat menempel di punggungnya. Hatinya tercekat sekali.

"Slapa kau?" tanyanya dengan suara lirih.

Pandangan Yok Sau Cun terhalang oleh nenek tua dan Siau cui. Namun sekali dengar saJa, dia dapat mengenali siapa orang itu.

"Ciok kouwnio " panggilnya dengan nada nang.

Tiba-tiba dan arah luar terdengar suara siulan Disusul dengan bentakan Ciok Ciu Lan Lalu Trangi Trang' Bunyi benturan sentata.

Hu toanio tertawa tergelakgelak Dia melesat sambit menarik lengan baju Siau cui Begitu kedua orang itu pergi, Yok Sau Cun juga menenang ketuar Di ruang tamu terlihat pintu masuk telah terbentang lebar Sinar matahan menyorot menusuk mata Yok Sau Cun Rupanya telah terang tanah!.

Di dalam ruangan itu sendiri tidak begitu terang. Hanya remangremangsaJa Bayangan Hu toanio dan Siau cui sudah tidak kelihatan. Samarsamar Yok Sau Cun melihat ada dua orang yang sedang berdiri berhadapan.

Yang satunya tentu Ciok Ciu Lan. Ketika dia menempelkan telapak tangannya di belakang Hu toa nio, ada orang lain yang membokongnya dan belakangnya juga Orang itu menyerang dengan tangan kosong, namun karena tenaga yang terpancar dari telapak tangan itu sangat kuat, Ciok Ciu Lan tidak berani menyambutnya dengan kekerasan Tubuhnya bergeser, dalam waktu yang bersamaan, dia melemparkan beberapa senjata rahasia ke arah orang tersebut, namun berhasil disampok jatuh.

Sekarang mereka berdiri berhadapan. Siapa pun tidak ada yang bergerak Namun ketika Yok Sau Cun sampai di pintu depan, sebuah telapak tangan yang memmbulkan angin keras menyambutnya Pemuda nu tidak sempat berkelit lagi. Dalam keadaan panik dia mengulurkan kedua telapak tangannya dan menyambut hantaman lawan dengan kekerasan Jurus yang digunakannya adalah Tong bun ki houw jMenghadang hanmau didepan pintuj Meskipun kedua telapak direntangkan dalam waktu yang bersamaan, namun tenaganya jadi berkurang karena terbagi dua Oleh karena itu, ketika telapak tangan mereka saling beradu, tenaga Yok Sau Cun yang tersalur hanya lima bagian. Dia terdesak mundur satu langkah.

pada saat yang bersamaan, Ciok Ciu Lan segera bertindak Dengan cepat, dia menerjang ke arah orang tersebut.

"Budak pulang ke rumahf" teriak orang itu tiba-tiba. Tangan kanannya ditarik kembali. Disusul dengan telapak tangan kin diangsurkan ke depan dan menyambut serangan Ciok Ciu Lan.

Gadis itu melancarkan dua serangan berturut-turut, namun ketika telapak mereka saling beradu, tubuh Ciok Ciu Lan tergetar mundur dan berdiri dengan terhuyung- huyung.

Yok Sau Cun mendengar orang itu berteriak 'Budak pulang ke rumah' berdiri dengan termangumangu Dia merasa suara itu tidak asing di telinganya Matanya segera celingukan Sayangnya ruangan itu terlalu gelap sehingga dia tidak dapat melihat dengan jelas Dia hanya tahu bahwa bentuk badan orang itu sedang-sedang saja Wajahnya tidak tampak. Begitu melancarkan sekali serangan terhadap Ciok Ciu Lan, tubuhnya segera melayang keluar dan pintu belakang. Sebetulnya serangan orang tad! Ditujukan kepada Yok Sau Cun Dalam keadaan panik, Ciok Ciu Lan menerjang ke arahnya. Dengan demikian dia yangterpukul mundur Yok Sau Cun sekall lihat sudah mengetahui kalau Ciok Ciu Lan masih betum sanggup menandingi orang itu.

Pada saat itu, dia bermaksud mengejar orang tadi. Tapi pandangannya menatap ke arah Ciok Ciu Lan yang berdiri dengan tubuh sempoyongan. Dia segera menghampinnya.

"Ciok kouwnio... apakah kau terluka?" tanyanya cemas.

Ciok Ciu Lan menenangkan dirinya sesaat Dia menarik nafas panjang. "Lumayan. Aku tidak apa-apa," sahutnya.

"Kalau tidak apa-apa syukurlah. Mari kita kejar orang itu." kata Yok Sau Cun sambil mendahului gadis nu melayang keluar.

Asal saja ayam sudah berkokok, hari pun segera terang benderang. Di belakang rumah itu terdapat lumbung padi yang rendah Banyak rumputrumput yang berserakan. Ketika Yok Sau Cun sampai di tempat itu, bayangan laki-laki yang bertubuh sedang sudah tidak kelihatan Lebihlebih si nenek tua dan Siau cui.

Ciok Ciu Lan takut Yok Sau Cun menemukan hal yang tidak dungmkan Dia segera mengikuti di belakangnya Dengan keheranan dia melihat Yok Sau Cun sedang berdiri dengan wa]ah termangumangu.

"Apakah mereka sudah kabur?" tanyanya.

Yok Sau Cun tidak menjawab. Dia seperti sedang berkata kepada dirinya sendiri. "Pasti dia tidak salah lagi. Pasti dial".

Mata Ciok Ciu Lan jelalatan kesana kemari. "Siapa yang kau maksudkan?" tanyanya bingung.

"Manusia she Yu " sahut Yok Sau Cun sambil membalikkan tubuh. Ciok Ciu Lan makin tidak mengerti.

"Siapa manusia she Yu?".

Yok Sau Cun menarik nafas paniang.

"Cerita ini sangat panjang Oh Ya .. ciok kouwnio . bagaimana kau juga bisa ada di tempat ini?".

Pipi Ciok Ciu Lan terlihat rona merah.

"Buat apa kau tanya bagaimana aku bisa datang ke tempat ini? Orang..." Dia malu mengakui bahwa sebetulnya dia mengikuti Yok Sau Cun Matanya mengerling ke arah pemuda itu sekilas. "Semalam kau menyewa kamar di rumah Hu toanio Tadinya aku tidak tahu kalau Hu toanio ini adalah pentolan golongan hitam yang sangat terkenal di wilayah Kiang pak. Julukannya Pok hua popo jNenek penepuk bungaj. Kemudian setelah kau tertidur, aku kira tidak akan terjadi apa-apa lagi, maka aku pun pergi mencari rumah penduduk lainnya untuk beristirahat...".

"Rupanya semalam Ciok kouwnio sudah melihat cayhe. Mengapa kau tidak menyapa saja?" tanya Yok Sau Cun.

Ciok Ciu Lan tidak memperdulikan kata-katanya.

"Sampai tadi, aku seperti sedang bermim pi Dalam mimpi itu aku mendengar perca kapan laki-laki dan perempuan Terdengar laki-laki itu berkata. 'Siau cui, cepat kau tolong Yok siangkong Aku akan pulang memberi laporan' Mendengar katakata itu aku tersentak bangun. Rupanya aku bukan bermimpi Aku juga tahu bahwa telah terjadi sesuatu dengan dirimu Aku mengintil di belakang Siau cui, ternyata kau sudah diantar kembali oleh Hu toanio Kisah selanjutnya kau sudah tahu sendiri ". "Sekarang Siau cui pasti dibawa lakifaki she Yu itu ke Wi su kan, di mana aku juga disekap tadi malam Menolong jiwa seseorang lebih penting Man kita pergi'" ajaknya.

Ciok Ciu Lan menatapnya dengan heran.

"Apskah markas mereka terletak di Wi su kan? Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" Tadi malam dia menyewa kamar di rumah penduduk yang lain Apa yang terjadi pada diri Yok Sau Cun tentu sa|a belum diketahumya.

Yok Sau Cun mencentakan bagaimana dia bertemu dengan laki-laki she Yu yang purapura terluka, lalu dititipkan surat rahasia untuk diantarkan kepada Song loya cu Dia juga mencentakan bahwa orang tua itu terkena racun jahat Lalu bagaimana dirinya dibius dan dibawa ke markas mereka Gadis yang bernama Tiong kouwnio ternyata salah.

mengenatinya sebagia orang kepercayaan Hong locianpwe Oleh sebab itu, tengah malam itu juga dia diantar kembali.

Ciok Ciu Lan terkejut sekali.

"Ternyata tadi malam kau sudah diculik mereka lalu dikembalikan lagi Untung saja mereka salah mengenali orang. Kalau tidak. kemana aku. ." katakatanya tidak dilanjutkan.

Sebetulnya dia ingin mengatakan 'kemana aku dapat menemukan dirimu'?' Dia segera mengalihkan bahan pembicaraan "Yok Siangkong Menurut ceritamu tadi, kau dibius dulu baru dibawa pergi, tenlu demikian Juga ketika diantar kembali Bagaimana kau bisa tahu kalau markas orang-orang jahat itu berada di wilayah Wi su kan?'.

Yok Sau Cun tersipu-sipu.

"Harap Ciok kouwnio jangan menertawakan Sebetulnya sejak kecil Cia su melatih cayhe ilmu meiancarkan jalan darah Jadi cayhe tidak khawatir kalau tertotok orang.".

"Jadi dia tidak berhasil menotok Yok Siangkong," kata Ciok Ciu Lan. "Baiklah. Kita sudah boleh berangkat sekarang," ujar Yok Sau Cun.

"Tidak boleh jadi Sekarang hari sudah pagi. Kalau kita kesana saat ini, pasti tidak bisa turun tangan menofong orang Dalam keadaan terang seperti ini, kita toh tidak mungkin memanjat tembok rumah orang?" kata Ciok Ciu Lan mengmgatkan.

"Menolong jiwa orang seperti memadamkan kebakaran Kita tidak perlu memanjat tembok. Kita terangterangan sa|a datang meminta orang ".

Mata Ciok Ciu Lan berkedip kedip Dia mengerling sekilas kepada Yok Sau Cun Bibirnya mencibir.

"Tampaknya kau sangat memperhatikan gadis itu," sindirnya. Wajah Yok Sau Cun merah padam men dengar katakatanya.

"Ciok kauwnio mana boleh berkata begitu Jangan kata kedatangan Siau cui kouwnio adalah untuk menolong aku, andai kata tidak, kita juga tetap harus menolongnya.

Apalagi orang-orang itu sangat kejam," sahutnya. Ciok Ciu Lan merasa malu sendiri.

"Aku hanya bergurau. Mengapa begitu saja kau sudah marah""'. "Tidak Cayhe sama sekali tidak marah.".

Ciok Ciu Lan merapikan rambutnya yang tertiup angin.

"Kalau kau sudah bertekad mendatangi mereka secara terangterangan Man' Aku temani kau ke sana. Meskipun sarang naga ataupun kandang harimau, kita bikin mereka kucar kacir!" katanya.

Yok Sau Cun menatap ke alas langit Matahan sudah tinggi sekali Dia menganggukkan kepalanya.

"Baik, kita berangkat sekarang juga ".

Kedua orang itu jalan bennngan Mereka langsung menuju Wi su kan Tempat yang mereka lalui adalah jalan raya Pagi nan seperti ini sangat rarnai Para pelayan toko sudah mulai menurunkan cantang Yok Sau Cun dan Be hua mocu, Ciok Ciu Lan tidak berani mengerahkan ginkang karena takut menarik perhatian penduduk setempat.

Mereka terpaksa berjalan dengan langkah lebar.

Jarak antara Hu kian dan Wi su kan kurang lebih dua puluh li. Kira-kira tengah hari baru bisa sampai di tujuan.

Wi su kan tidak dapat disebut kota kecil.

Baru masuk kota itu saja sudah terlihat banyak gedung-gedung mewah. Yok Sau Cun mengaJak Ciok Ciu Lan melewati beberapa gang sempit, Sampai ke ujung tenggara, terlihat sebuah rumah besar dengan tembok tinggi mengelilinginya. Keadaannya seperti sebuah benteng yang tertutup.

Kedua orang itu melalui sebuah padang rumput yang luas, kemudi.an menuju pintu masuk Pintu gerbang itu terbuat dari besi yang kokoh. Pada saat itu, keadaannya sedang tertutup rapat.

Yok Sau Cun tidak perduli. Dia maju selangkah dan menggedor pintu itu dengan keras.

"Bum Bum! Bum".

Tidak terdengar sahutan dan sebelah datarn. Yok Sau Cun rnenungu sesaat Tidak ada orang yang rnernbukakan pintu tersebut. Dia rnenggedor lagi beberapa kali Mulutnya bertenak lantang.

"Apakah ada orang di dalam?".

Kali ini terdengar langkah kaki yang berat mendatangi dengan tergopohgopoh. Kedua belah pintu best berwarna hitam pekat itupun terkuak sedikit. Dari dalam muncul seorang.

laki-laki berusia lanjut. Wajahnya beriubanglubang seperti bekas penyakit cacar Dia memperhatikan Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan.

"Siangkong hendak mencan siapa?" tanyanya dengan suara parau.

Wajah orang tua itu sudah berkenput. Rambutnya sudah berubah putih. Begitu juga jenggotnya. Punggungnya bungkuk. Persis seperti kakekkakek yang sudah pantas dimasukkan dalam rumah jompo.

"Lao cang... Cayhe Yok Sau Cun Cayhe ingin bertemu dengan Tiong kouwnio," sapanya sopan.

"Mungkin Siangkong salah alamat Lao cujin kami she Cin Bukan she Tiong," sahut orang tua itu.

"Cayhe tidak tahu apakah majikanmu she Cin atau bukan Cayhe ingin mencari Tiong kouwnio. Dia mengenakan rok pendek berwarna...".

"Siangkong pasti salah alamat. Majikan rumah ini beserta keluarganya sedang keluar kota Di sini hanya aku seorang diri. Mana ada yang bernama Tiong kouwnio?" tukas orang tua itu.

"Semalam cayhe sempat berbincangbincang dengan Tiong kouwnio di taman bunga. Tiong kouwnio sendiri yang menyuruh anak buahnya mengantarkan cayhe pulang.

Bagaimana bisa keliru?" Yok Sau Cun tetap berkeras.

"Kalau aku bilang tidak ada, pasti tidak ada. Buat apa aku berbohong kepadamu?" seru orang tua itu kesal Dia tidak memperdulikan Yok Sau Cun Pintu gerbang itu hampir dirapatkannya kembali Yok Sau Cun menahan sebetah tangannya di pintu gerbang itu.

"Tunggu dulu," katanya.

Mata orang tua itu menyorotkan sinar kemarahan. "Apa lagi yang Siangkong ingin tanyakan?".

"Kalau Lao koan ke tidak bersedia melaporkan kedatangan kami Biar kami masuk sendiri ke dalam," kata Yok Sau Cun. Kakinya langsung maju dua langkah.

"Aku lihat Siangkong ini seperti seorang pelajar. Siapa tahu demikian tidak tahu aturan? Aku sudah mengatakan berkali-kali Di sini cuma ada aku orang tua sendirian. Tidak ada orang lainnya Mengapa Siangkong tetap memaksa juga?" bentaknya kesal.

Ciok Ciu Lan memperhatikan sepasang mata orang tua itu Tampaknya biasabiasa saja Tidak seperti orang yang pernah belajar iimu siiat, hatinya menjadi cunga Dia menarik lengan baju Yok Sau Cun dan bertanya dengan suara rendah. "Apakah Yok Siangkong tidak salah mengenali tempat?".

"Cayhe mengingatnya dengan jelas. Sudah tidak salah lagi," sahut Yok Sau Cun. "Siangkong ini past! salah alamat." Orang tua itu tetap pada pendiriannya.

"Yok Siangkong memastikan tempat ini yang didatanginya semalam. Fasti tidak salah lagi." Dia menoleh kembali kepada pemuda itu. "Yok Siangkong Kita masuk ke dalam dan memeriksa sendiri.".

Tubuh orang itu bergetar karena menahan marah. "Tengah han bolong kalian berani. ".

Ciok Ciu Lan tidak memberi kesempatan kepada orang tua itu untuk bicara lebih lanjut.

"Kami hanya ingin mencari seseorang. Mengapa kau begitu panik?" Tangannya bergerak dengan cepat. Urat nadi bagian leher orang itu telah tertotok. Dia menutup kembah pintu gerbang tersebut.

"Yok Siangkong, mari kita masuk," katanya.

Yok Sau Cun memperhatikan orang tua yang sudah jatuh terkulai itu. "Apakah Ciok kouwnio menotok jalan darahnya?".

"Kalau tidak, bagaimana mungkin dia akan membiarkan kita masuk ke daiam?" sahut Ciok Ciu Lan sambil tersenyum.

Mereka segera masuk ke dalam. Pertamatama mereka melewati halaman depan yang berbatu. Oi kedua tepinya terdapat berbagai tanaman hijau Di hadapan mereka ada sebuah pendopo berpintu tinggi. Di atasnya terdapat papan besar dengan huruf-huruf indah "Su li coan cia" (Rumah kaum pelajar) Yok Sau Cun tersenyum smis melihat tulisan tersebut Pintu itu juga berwarna hitam dan terbuat dari bahan besi Yok Sau Cun mendorongnya. Mereka melangkah lagi ke dalam. Sekarang mereka berada di sebuah ruangan besar yang kemungkinan besar di gunakan sebagai ruang tamu Di sudut kiri terdapat sebuah meja sembahyang. Yok Sau Cun menunjuk ke sebelah kanan. Ciok Ciu Lan mengikutinya Tempat itu adalah sebuah iorong panjang Mereka berjalan terus Sekarang mereka sampai ke pusat rumah itu. Di kiri kanan terdapat beberapa kamar tidur.

Yok Sau Cun tidak masuk ke dalam salah satu kamar itu, tapi dia mengambil jalan sebelah kanan dan belok ke sebuah ruangan yang berukuran sedang. Dari sana mereka menikung lagi ke kiri Dia berhenti di depan sebuah taman.

Tempat itu tadinya sangat rapi dan bersih. Bahkan ada beberapa bangku kayu yang biasa digunakan untuk duduk di sore hari. Tapi apa yang dilihat Yok Sau Gun sangat berlainan Tempat itu berubah menjadi kotor dan berdebu Tidak ada sebuah bangku pun yang menghiasi taman itu. Bahkan tirai yang menjuntai di depan koridor pun tidak terlihat lagi Yok Sau Cun ingat kemarin ada lima pot kembang berisi bunga knsan yang tergantung di kedua sisi taman itu Sekarang semuanya menghilang bagai gaib.

Giok Ciu Lan mengikuti di belakang Yok Sau Cun Dia melihat pemuda itu melongok ke kanan kiri Seakan ada sesuatu yang dicannya Tapi sejak tadi ia tidak berkata apaapa Clok Ciu Lan tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.

"Yok Siangkong, apa yang kau cari?" tanyanya.

"Aku bukan sedang mencari sesuatu Kemarin malam, terangterangan dayang cHik itu membawa cayhe kemari. Kain penutup mata cayhe juga dibuka di sini Di taman mi juga terdapat potpot berisi bunga knsan kuning," kata Yok Sau Cun menjelaskan.

"Tampaknya ruangan ini sudah lama tidak pernah digunakan pemiliknya," ujar Ciok Ciu Lan .

Yok Sau Cun tertawa dingin.

"Seandainya ruangan ini sudah lama tidak dipergunakan, pasti rumputrumput yang ada di taman sudah tinggi dan serabutan," katanya.

Ciok Ciu Lan ikut tertawa.

"Apakah kau menduga mereka sengaja mengatur semua ini?".

"Rumputrumput yang rapi itu paling sulit disembunyikan Sedangkan kotoran dan debu mudah sekali Asalkan kita mengambil pasir halus atau tanah merah lalu diulaskan di atas meja dan sekitar ruangan, tentu sudah jauh berlainan,' kaTa Yok Sau Cun.

Ciok Ciu Lan menganggukkan kepalanya beberapa kali.

"Yok Siangkong, sungguh tidak terduga, baru dua hari kita tidak bertemu. Pengalamanmu tentang dunia kangouw sudah |auh bertambah," katanya.

Dia memandang Yok Sau Cun sambii ter senyum Tiba-tiba ada sesuatu yang melintas di benaknya.

"Man kita selidiki lagi rumah ini".

Yok Sau Cun berjalan di depan Dia menunjuk ke dinding sebelah kiri. "Tadinya di sini ada sebuah lukisan Di depan kondor Juga ada tirai yang menjuntai.".

Mereka melangkah ke dalam Kemarin malam ada sebuah jendela besar yang dapat menembus cahaya Sekarang jendela itu juga masih ada. Namun sudah kotor dan berdebu Sedangkan meja dan kursi di mana dia duduk bersama Tiong kouwnio sudah menghilang entah kemana Ruangan itu kosong melompong. Seakan apa yang dialaminya hanya dalam mimpi Tapi Yok Sau Cun berani memastikan bahwa ruangan ini adalah tempat di mana dia berada tadi malam.

Ciok Ciu Lan memperhatikan seluruh ruangan itu dengan seksama. "Yok Siangkong, apakah kau menemukan sesuatu''" tanyanya.

Yok Sau Cun menggoyangkan tangannya.

"Segala perabotan yang ada pun sudah menghilang Apa lagi yang dapat cayhe te mukan?".

Ciok Ciu Lan tersenyum manis.

"Aku justru menemukan dua hal .." sahutnya.

Meskipun warna kulitnya agak kehitaman, namun apabila dia tersenyum, dua deret giginya yang putih bersih ditambah lagi bola maianya yang bening membuat wajahnya menjadi rupawan dan mempesona.

"Apa yang kau temukan''" tanya Yok Sau Cun. Ciok Ciu Lan meluruskan jari telunjuknya.

"Pertama, ketika aku masuk ke dalam ru mah ini, aku melihat hanya ruangan depan dan sini yang terdapat banyak debu dan kotoran, iya bukan?".

"Tidak salah," sahut Yok Sau Cun.

"Ini yang dikatakan menutupi kebenaran," kata Ciok Ciu Lan. "Hal kedua”.

'Kedua kaiau ruangan ini sudah lama tidak pernah digunakan, ketika kita masuk tadi, pasti akan tercium bau apek. Tapi yang kita ternui tidak demikian, bukan? Aku justru menciurn bau harum bedak yang san r," sahut Ciok Ciu Lan tersenyum.

'Kau mencium bau harum?" tanya Yok Sau Cun.

"Betul. Bau harum itu sangat samar Namun aku dapat merasakannya Itu adalah bau haiurn dari bedak pupur buatan Hang ciu yang sangat terkenal Hal ini membuktikan bahwa orang terakhir yang berada dalam ruangan ini adalah seorang gadis Pupur yang dipakainya adalah pupur buatan Hang ciu Lagipula waktunya pasti belum berapa lama," kata Ciok Ciu Lan.

'Ciok kouwnio, apa yang kau katakan me mang tidak salah. Waktu aku duduk bersamanya tadi malam, aku sempat mencium bau harum yang terpancar dari dirinya," sahut Yok Sau Cun.

Mata Ciok Ciu Lan menatapnya penuh arti. Bibirnya mencibir lagi. "Jarak duduk kalian pasti sangat dekat," katanya.

"Tempat duduk kami hanya dihalangi sebuah meja bundar," sahut Yok Sau Cun tanpa merasa ada udang di balik batu dalam pernyataan gadis ini.

"Cantikkah dia"?" tanya Ciok Ciu Lan de ngan gaya acuh tak acuh. Rasa hangat menjalar di pipi Yok Sau Cun.

"Apa yang dimaksud Ciok kouwnio?".

"Aku toh hanya bertanya apakah dia ter masuk gadis yang cantik? Memangnya tidak boleh'?"'sahut Ciok Ciu Lan dengan bibir bersungut-sungut.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berjalan ke ruangan di mana mereka berada Tampaknya bukan satu orang saja.

"Ada orang datang " kata Yok Sau Cun.

"Lebih bagus kalau ada yang datang Bukankah kita ingin mencan Tiong kouwnio'?" sahut Ciok Ciu Lan.

Perkataannya baru selesai, seseorang te lah menerJang masuk seperti banteng yang sedang mengamuk Orang itu mengenakan pakaian berwarna biru langit. Ketika melihat Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan Dia tampak terpana.

"Rupanya Yok heng ada di sini" Suaranya datar dan kaku.

Yok Sau Cun melihat orang yang datang adalah Song Bun Cun. Dia segera menyapa dengan ramah.

"Ternyata Song heng.".

Sinar mata Song Bun Cun menatapnya tajam Bibirnya tersenyum mengejek. 'Kalian menebarkan debu di ruangan mi, apakah telah bernJal kabur?".

Yok Sau Cun terpana mendengar katakatanya.

"Song heng salah paham. Cayhe dan Ciok kouwnio juga baru datang ".

"Ha. . ha. ha " Song Bun Cun tertawa terbahakbahak Bola matanya berputar pertama dia memandana Ciok Ciu Lan, kemudian beralih kepada Yok Sau Cun Tatapannya berhenti pada din anak muda itu.

"Manusia she Yok. Kau sungguh pandai memainkan perananmu Dengan sengaja kau meracuni ayahku. Kemudian memutarbalikkan persoalan dan mengarang cerita yang dapat diterima akal sehingga ayahku mempercayaimu. Tanpa mendapat kesulitan apa- apa kau diijinkan meninggalkan Tian Hua san ceng Sekarang kedokmu telah terbuka. Apalagi yang ingin kau katakan?".

Yok Sau Cun makm bingung mendengar tuduhan pemuda itu. "Bagaimana Song heng bisa mempunyai pikiran seperti itu? Cahye ".

"Tidak usan banyak bicara Keluarkan pedangmu" bentak Song Bun Cun tanpa memberi kesempatan kepada Yok Sau Cun untuk menjelaskan.

"Aih.. semua inj hanya salah paham Bagaimana cayhe harus menjelaskan supaya Song heng mau mengerti".

Song Bun Cun menghunus pedangnya Dia memandang Yok Sau Cun dengan pandangan dingin.

"Biar bagaimana caramu menjelaskannya, aku juga tidak akan percaya lagi Lebjh baik kau keluarkan pedangmu dan duel dengan Kongcumu ini".

"Biarpun harus bertarung, kau juga mesti memberi kesempatan kepada Yok Siangkong untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya," kata Ciok Ciu Lan kesal.

Song Bun Gun mengerlingnya sekilas. "Siapa kau?" tanyanya datar.

"Aku adalah aku Manusia di kolong langit mi diciptakan justru"untuk membereskan persoalan sesamanya. Bagaimanapun di dunia mi masih ada peraturan!" seru Ciok Ciu Lan sambii mendelik.

'Ciok kouwnio, Song heng adalah putra tunggal Song loya cu dari Tian Hua san ceng " kata Yok Sau Cun menerangkan.

Ada apa kalau memang orang dan Tian Hua san ceng Meskipun putra kaisar saat ini juga harus mengerti etiket" sahut Ciok Ciu Lan garang.

Song Bun Cun tertawa tergelak gelak "Terhadap orang kasar seperti kalian, buat apa pakai etiket segala macam?" sindirnya.

Pedang di tangannya digetarkan Dia berkata lebih lanjut "Manusia she Yok Kalau kau masih tidak mau mengeluarkan pedangmu jangan salahkan kalau Kongcumu tidak segansegan lagi". Mata Yok Sau Cun mulai membara. "Song heng selalu mendesak aku Sebe. tulnya ada dendam apa di antara kita?" tanyanya lantang.

"Dendam apa? Kau meraeuni ayahku ".

"Tutup mulut'" Yok Sau Cun benar benar marah sekarang "Ketika pert'ama kali Song heng mengundang aku ke rumah penstirahatan di perbatasan kota, apakah karena aku meraeuni ayahmu juga? Apalagi pens tiwa racun itu cayhe sudah menerangkan bahwa cayhe hanya diperalat orang Bahkan cayhe sudah mengucapkan sumpah bahwa meskipun harus menenang sarang naga ataupun kandang hanmau cayhe tetap akan mencari obat pemunah itu sampai dapat Kedatangan Song heng ini sepertinya ingin mengambil nyawa cayhe baru puas SebetuI nya antara kita ada permusuhan apa?".

"Karena perbuatan busukmu telah terbongkar Kongcu harus membunuhmu. Tidak boleh tidak" sahut Song Bun Cun.

"perbuatan busuk apa yang tetah terbongkar? Coba jelaskan". Terdengar suara seseorang menukas pembicaraan mereka. "Kongcu, serahkan saja dia kepada Lao siu ".

Terlihat seorang laki-laki tua bertubuh tinggi besar masuk ke dalam ruangan tersebut Siapa lagi kalau bukan Cong koan dan Tian Hua san ceng, Ciek Ban Cing. Di belakangnya masih adaenam orang laki-laki berpakaian pengawal dengan pedang panjang di tangan masing masing Begitu masuk, mereka segera menyebar menjadi dua baris dengan tiga orang di kin kanan.

Bola mata Ciek Ban Cing melirik kesekitar ruangan itu dan berhenti pada diri Yok Sau Cun.

"Manusia she Yok, apakah keu masih tidak mau mengakui bahwa engkau memang sengaja datang ke Tian Hua san ceng untuk meracuni Lo ceng cu kami?" tanyanya garang.

"Ciek Cong koan juga menuduh cayhe sengaja meracuni Song loya cu Apakah ada buktinya?" tanya Yok Sau Cun.

"Kalau Lao siu tidak mempunyai bukti, mana mungkin menuduh langsung?" sahut Ciek Ban Cing sambil tertawa sumbang.

"Mengapa Ciek Cong koan tidak mengatakannya saja biar cayhe tahu?".

"Tadi malam kau menginap di rumah Hu toanio Kemudian mereka membiusmu dan membawa kau pergi ke suatu tempat. Menjelang subuh mereka mengantarkan kau kembali bukan?" tanya Ciek Ban Cing.

"Tidak salah," sahut Yok Sau Cun. "Kalau kau bukan komplotan mereka, mana mungkin mereka akan melepaskan dirimu" tanya Ciek Ban Cing.

"Hal itu karena mereka salah menduga cayhe sebagai orang kepercayaan seseorang yang mereka sebut Hong Lo cianpwe Oleh karena itu mereka segera melepaskan din cayhe kembali," sahut Yok Sau Cun.

"Lao siu telah mengikuti Lo ceng cu selama berpuluh tahun Hampir seluruh dunia pernah dijelajahl Lao siu Apakah sepatah dua patah katamu itu dapat menipu Lao siu?' tanyanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Bagaimana dugaan Ciek Cong koan sen din'?" tanya Yok Sau Cun.

"pada saat itu Hu toanio belum tahu asal usulmu Melihat kau datang dan Tian Hua san ceng, dia sengaja membiusmu dan membawamu ke tsmpat ini pada tengah malam Tetapi pemimpin pergerakan itu sendiri tahu siapa dirimu, malah meminta engkau meneruskan sandiwara yang telah kau perankan Mereka mengantar kau kembali supaya menjadi matamata bagi mereka," sahut Ciek Ban Cing.

Hati Yok Sau Cun panas sekali. Dia tertawa dingin.

"Apa yang dikatakan Ciek Cong koan hanya berdasarkan dugaan saia Apakah masih ada bukti lain yang tebih konkret?".

"Tentu saja Lao siu masih ada bukti lainnya Yaitu perkataan yang keluar dari mulut Hu toanio sendiri bahwa kau adalah orang sendiri. Apakah aku hanya mengada-ada?".

"Dari siapa kau dengar centa itu?" tanya Yok Sau Cun.

"Kau tidak perlu tanya siapa yang mengatakannya Lao siu hanya mgin tahu apakah benar Hu toanio pernah mengucapkan katakata itu?".

"Tidak salah. Hu toanio memang pernah mengatakannya.".

Yok Sau Cun terdiam sesaat Dia mengerti urusan sudah semakin runyam.

Waktu itu Siau cui kouwnio sedang menyadarkan aku, namun ketahuan oleh Hu toanio Dia sengaja mengucapkan katakata.

itu di depan Siau cui kouwnio. Mana boleh dipercaya begitu saja?" sahut Yok Sau Cun.

"Kalau katakata Hu toanio tidak dapat dipercaya, lalu katakatamu memang bisa dipercaya?" tanya Ciek Ban Cing ketus "Apalagi kami bernasil menemukan dirimu di tempat ini".

"Cayhe dan Ciok kouwnio justru datang untuk menolong Siau cui yang dibawa oleh Hu toanio.".

"Orang dan Tian Hua san ceng tidak perlu dikhawatirkan kalian berdua," kata Ciek Ban Cing.

Ciok Ciu Lan tidak dapat menahan kekesalannya lagi.

"Yok Siangkong kalau orang tidak membutuhkan perhatian kita. iebih baik kita pergi saja," katanya.

Mata Ciek Ban Cing tajam menusuk. "Pergi? Apakah kalian pikir begitu mudah?". Ciok Ciu Lan mencibirkan bibirnya,.

"Apa yang kalian kehendaki?".

'Kalian berdua Iebih baik ikut Lao siu kembati ke Tian Hua san ceng untuk diadili" sahut Ciek Ban Cing.

Yok Sau Cun berusaha keras mehahan hatinya yang sudah marah sekali. "Bagaimana kalau cayhe tidak mau ikuf?" tanyanya dingin.

"Keputusan itu bukan di tangan kalian," sahut Ciek Ban Cing. Yok Sau Cun merasakan seakan dadanya hampir meledak. "Keturunan Yok tidak Terima dihina orang!" teriaknya.

"Kalau kau sudah Lao siu lumpuhkan nanti, lihat apa kau masih bisa berkeras?" kata Ciek Ban Cing garang Begitu perkataannya setesai, tangan kanannya segera terulur Lima jannya berbentuk cakar, mencengkeram ke arah dada Yok Sau Cun.

"Yok Siangkong, hati hati' Kirn ka sin adalah jago nomor satu dari perguruan Eng jiau buni" tenak Ciok Ciu Lan cemas.

Rupanya julukan Ciek Ban Cing adalah Kirn Ka sin (Dewa berjari emas).

"Tidak apaapa Cayhe tidak perduli seberapa tinggi ilmunya itu,' sahut Yok Sau Cun sambil menggeser tubuhnya menghindari serangan tersebut.

"Kalau tidak perduli, mengapa kau tidak membalas” teriak Ciek Ban Cing Sekali lagi jannya direntangkan dan menerjang ke arah bahu pemuda itu.

Kali mi Yok Sau Cun tidak sungkan lagi Dia segera mengeluarkan pedang lentuylya Tubuhnya mencelat setinggi satu depa Serangan Ciek Ban Cing luput lagi Namun dengan kecepatan yang sulit diuraikan dia memutar tubuhnya dan mengambil posisi setengah jongkok Bagaikan seekor harimau yang siap menerkam kedua kakmya dihentakkan, tubuhnya menerjang Yok Sau Cun Pemuda itu kelabakan Dia menjatuhkan din nya tiarap di atas tanah Dengan gaya seekor ular melata dia menyelusup ke depan. Terkaman Ciek Ban Cing melewati arah kepalanya Yok Sau Cun menekuk kedua lututnya dan sekali loncat dia sudah berdiri kembali.

Gulungan pedang masih tergenggam di tangannya Dia merasa kurang sopan mela wan orang tua dengan senjata tajam, sedangkan Ciek Ban Cing sendiri hanya bertangan kosong.

Ciek Ban Cing semakin penasaran Dia menjulurkan tangan untuk menangkap pergelangan tangan Yok Sau Cun. Dia sudah berhasil menyentuh tangan itu, ketika Yok Sau Cun menendang dadanya dengan kekuatan penuh Untung saja dia berhasil mundur satu langkah sebelum tendangan itu sampaj Tapi dengan demikian ia juga tidak berhasil memegang pergelangan tangan Yok Sau Cun Hatinya sempat tercekat. Dia tahu tipuan yang digunakan Yok Sau Cun tadi adalah sebuah jurus dari Butong pai yang bernama Kung ciok san bue (Burung merak mengibaskan ekor) "Apakah pemuda ini murid Butong pai'?" pikirnya dalam hati.

Tapi dia tidak ingin berpikir lebih lantut Kini dia merentangkan kembali kedua tangannya serta mengkepakkepak Gerakan tubuhnya cepat bukan main seperti seekor burung elang di angkasa Yok Sau Cun mengeluarkan serangan kaget Dia segera mengerahkan ginkangnya untuk menghindarkan diri Kedua orang itu saling menyerang dengan hebat Ciek Ban Cing mendapat kenyataan bahwa Yok Sau Cun bukan saja dapat bergerak cepat namun ilmu silatnya juga campur aduk. Jurus yang digunakannya berlainan terus. Kadangkadang dia menyerang dengan Jurus Siaulim pai. Kadang dia berkelit dengan jurus Hua san pai. Lalu Kong to tong pal Pat kua, bahkan ada beberapa jurus dari golongan hitam seperti Mo kauw Namun jurus itu sudah banyak mengalami perubahan sehingga tidak begitu keJi dan ganas.

Pada saat itu, Yok Sau Cun baru sadar bahwa apa yang dikatakan suhunya memang benar "Belajar ilmu silat bukan hanya penting menyerang sa|a Yang terutama ia lah bagaimana mengelakkan diri dan serangan lawan Suhu mengajarkan berbagai macam cara menangkis dan meloloskan diri dalam keadaaan terancam, sedangkan bagaimana kau membalasnya, hal itu akan terlatih sendiri bila kau senng melakukan pertarungan Asa! kau bisa menguasai dengan baik semua ajaran Suhu ini, maka kau tidak usah ragu lagi menginjakkan kaki dalam dunia Kangouw".

Yok Sau Cun justru mengandalkan dmu mengelakkan diri ini untuk melawan Houw jiau Sun. Song Bun Cun bahkan Song C«ng San Dansekarang melawan Ciek Ban Ong Orang tua yang satu ini sudah lama mengikuti Song Ceng San llmu silatyang dimilikinya saat mi, boleh dikatakan sLidah termasuk jago kelas satu datam duma Bulim Yok Sau Cun dapat mengimbangmya sudah termasuk lumayan Apalagi dia kalah dalam pengalaman.

Ciek Ban Cing meloncat ke depan dan sekali melompat tubuhnya melambung ke alas dan menyerang Yok Sau Cun dengan terkaman kedua kaki depan yang kuat Yok Sau Cun yang sejak .tadi waspada cepat mengeiak dan menyusup di bawah perut laki-laki itu. Tubrukan yang luput itu membuat Ciek Ban Cing semakin marah Dia menggereng keras Tubuhnya memutar bagai angin puyuh Yok Sau Cun merasa matanya berkunang Dia segera mengumpulkan hawa murni dalam tubuhnya dan memejamkan mata Dia mempertaJam pendengaran nya Ciek Ban Cing masih dengan gerakan memutar menyapu ke arahnya Yok Sau Cun membuka matanya seketika Dia metesat ke kin sebanyak lima langkah Tubuhnya membalik. Tinju sebelah kanannya dihantamkan kepada Ciek Ban Cing dengan nekat. Sungguh tidak sangka kalau cara berkelahi yang asalasalan itu malah membawa hasil.

"Duk!!!!" Tubuh Ciek Ban Cing berputar beberapa kali kemudian berubah fadi lambat. Ketika akhirnya terhenti, kakinya masih tidak dapat berdiri dengan mantap. Gerakannya masih limbung, dia menatap Yok Sau Cun dengan terpesona Dia tahu, seandai nya Yok Sau Cun bermaksud jahat Pasti dadanya yang akan terhantam dan dia tentu sudah terluka dalam Namun sasaran pemuda itu hanya mengenai bahunya dan hanya memmbulkan sedikit rasa sakit.

"Manusia she Yok Jurus tadi hebat sekali Dengan kata lain Lao siu mengaku kalah denganmu ".

"Kalau kau memang mengaku kalah, biarkan kami pergi dan sini," kata Ciok Ciu Lan.

"Katakata Lao siu masih betum selesai Meskipun kalah. Lao siu belum mau sudah Apalagi hal irn menyangkut keselamatan Lao ceng cu," sahut Ciek Ban Cing.

Ciok Ciu Lan kesal sekali Matanya merah membara.

"Ciek Ban Cing, apakah kau masih mem punyai rasa malu'?" teriaknya.

"Apa pun yang kouwnio katakan, tetap tidak akan mecubah keputusan mi." Dia menenangkan perasaannya sesaat Kakinya kembali memasang kudakuda untuk menyerang.

"Ciok kouwnio, biarkan Ciek Congkoan bertarung sampai puas," kata Yok Sau Cun.

Dia menanti sambil berdiri dengan tenang Melihat tubuh lawannya mulai bergerak, matanya memandang dengan awas Beberapa kali pertarungan telah membuat pengalamannya bertambah Otaknya juga berpikir lebih cepat. Sekarang dia segera dapat terpikir jurus apa yang akan digunakannya untuk menangkis serangan lawan Sekarang telapak tangan Ciek Ban Cing difulurkan keduaduanya Dia tidak menggunakan jurus cakar elangnya lagi Mungkin inilah Jurus andalannya selama mi. Yok Sau Cun mengerahkan smkana dan menyambut serangan itu dengan kekerasan.

"Blam'i'" Keduanya termundur beberapa langkah Memang Yok Sau Cun masih kalah sedikit dalam hal Iwekang, namun dia lebih meraih keuntungan dari usianya Dia masih muda Daya tahannya dalam pertempuran lebih kuat dibandingkan dengan Ciek Ban.

Cing Dia termundur sejauh empat langkah, sedangkan Ciek Ban Cing hanya dua langkah. Tetapi nafasnya masih tersengal sengal Yok Sau Cun sendiri sudah mulai kembali seperti biasa. Keduanya terhenti sejenak.

Tiba-tiba mata Ciek Ban Cing bersmar terang.

"Coba kau terima lagi beberapa serangan Lao siu mi'" teriaknya. Tadi dia dilawan dengan kekerasan oleh pemuda itu, ternyata Iwekangnya cukup tinggi Ciek Ban Cing lebih berhatihati seka rang Dia tahu sulit mengalahkan Yok Sau Cun, tapi rasa setianya kepada Song Lao ceng cu mengharuskan dirinya mengadu jiwa dengan anak muda tersebut Sekarang tenaga dalam yang sudah dilatihnya selama berpuluh tahun dihimpun pada kedua tetapak. Dengan seruan lantang, dia meneriang Terlihat kedua tangannya bergerak cepat Sekaligus delapan jurus dikeluarkannya Jurus ini sangat hebat Angin yang ditimbulkan oleh kedua telapak itu menerbitkan suara menderuderu Dapat dibayangkan betapa kuat tenaga yang terkandung di dalamnya.

Dia adalah seorang tokoh dalam dunia Bulim. Berpuluh tahun pula dia menyertai Song loya cu Tentunya kirn Ka sin bukan hanya sekedar nama kosong seperti apa yang terlihat sekarang. Yok Sau Cun dibuatnya kalang kabut Dia bagaikan seeker cacing kepanasan yang menggeliat geliat Hatinya bingung seksli menghadapi serangan yang gencar itu Dia tahu kalau tidak cepatcepat mencan jalan pemecahannya, dia pasti akan segera terhantam oleh telapak tangan laki-laki itu Pikirannya dipusatkan kepada lawan Sambil berkelit ke sana ke man, otaknya bekerja Tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya. Dia ingat langkah ajaib yang diajarkan oleh gurunya itu Siapa tahu bisa dipakai untuk menyelamatkan diri'? Kakinya segera mundur tiga langkah Dengan penuh keyakinan dia mulai mengatur langkah pertama Tampaknya hatinya jauh lebih tenang sekarang Dia meneruskan gerakannya tanpa perduli kemana pun lawan menyerangnya.

Mata Ciek Ban Cing bersinar aneh Sambil menyerang, dia memperhatikan gerakan yang dilakukan anak muda itu. Hatinya tergetar Serangannya menjadi perlahan .

"Kau adalah ".

"Ciek Cong koan, tidak perlu banyak bicara dengannya," kata Song Bun Cun dengan nada tidak sabar.

Siapa tahu, Ciek Ban Cing malah menarik kembali telapak tangannya.

"Kongcu, Lao siu sedang berpikir, kalau Lao ceng cu sudah melepaskan Yok Siang kong, tentu pandangannya tidak akan salah Lebih baik biarkan saja dia pergi," sahutnya.

Ciok Ciu Lan terpana Nada bicara Ciek Ban Cing tiba tiba saja berubah Otaknya memang sangat cerdas Diamdiam dia ber pikir dalam hati.

"Ciek Ban Cing tadi hanya mengatakan dua patah "Kau adalah " Kata kata selanjutnya tidak sempat diteruskan. Sekarang nada bicaranya menjadi lunak. Mungkinkah dia sudah mengenali asalusul Yok Siangkong'"'.

Wajah Song Bun Cun berubah kaku Dia memandang Ciek Ban Cing dengan dingin. Bibirnya menyunggingkan senyum meng ejek.

"Ciek Congkoan, sekian lama bertarung toh belum kelihatan hasilnya Lebih baik kau mundur dan biarkan kongcu yang membereskannya". "Kongcu, setelah dipikirpikir, kita tidak boleh menyalahgunakan perkataan yang sudah dmcapkan oleh Lao ceng cu ".

"Tidak usah banyak bicara lag;," kata Song Bun Cun sambjl mengangkat tangannya 'Sudan terang dia sekomplotan dengan manusia jahat itu Masa kita harus membiarkan dia pergi begitu saja?".

Wajah Ciek Ban Cing memperlihatkan perasaan serba salah. "Hal ini masih belum pasti bukan?".

Song Bun Cun tidak memperduhkannya [agi Dia rnaju beberapa langkah Pedangnya diangkat ke atas dan ditudingkan kepada Yok Sau Cun.

"Urusan kita di rumah peristirahatan itu juga belum selesai Sekarang kita teruskan dan lihat siapa di antara kita yang ilmunya lebih tinggi Lihat pedangi" bentaknya sambij langsung menyerang.

Yok Sau Cun mundur beberapa langkah. "Song heng .." panggilnya.

"Manusia she Yok, tidak perlu mengoceh lagi Kecuali bila kau bersedia menyerah dan membiarkan kami membawa kau dan nona itu pulang ke Tian Hua san ceng," kata Song Bun Cun.

Yok Sau Cun hilang kesabarannya. Dia tertawa dingin.

"Song heng, kalau cayhe sudah menemukan obat pemunah itu, dengan sendirinya akan cayhe antarkan ke Tian Hua san ceng Tidak ada seorang pun yang dapat memaksa cayhe Sedangkan cayhe tidak mungkin me nyerah Perlu Song heng ketahui, cayhe hanya enggan bergebrak dengan Song heng karena memandang wajah Song loya cu, sama sekali bukan karena takuti' serunya.

Song Bun Cun tertawa terbahak-bahak.

"Bagus sekali kata kata mutiaramu Tidak ingin bergebrak dengan Kongcu, tapi juga tidak mau menyerah Kalau kau keluar dari sini dengan merangkak seperti seekor anjing, mungkin Kongcu akan membiarkannya.".

"Kongcu .!" panggil Ciek Ban Cing yang merasa perkataan Kongcunya sungguh tidak sopan.

Yok Sau Cun menatapnya dengan mata merah membara. Kesabarannya sudah habis sama sekali.

"Song Bun Cun! Jangan menghina sampai keterlaluan!'' teriaknya.

"Cringji!'" Pedang lenturnya dihentakkan. Kaku seperti sebatang pinsil besi Ciok Ciu Lan terkejut melihat pedang itu. "Yok Siangkong Bagaimana pedangmu bisa putus ujungnya?".

Yok Sau Cun sama sekali tidak tahu bahwa Song foya cu berhasil menebas pedangnya tempo hari Ha! itu disebabkan dirinya yang melayang dan jatuh terduduk Dia tidak sempat metihatnya dan langsung memasukkannya kembali ke balik pakaian Sampai saat mi baru digunakannya lagi Dia sendiri terkejut mendengar katakata Ciok Ciu Lan.

"Kemungkinan besar pedang ini tertebas ketika cayhe bertandmg dengan Song loya cu Cayhe merasa tidak enak telah merusak Ran pedang pusaka Ciok kouwnio," sahut Yok Sau Cun sambil tertunduk dengan wajah tersipu sipu.

Wajah Ciok Ciu Lan juga merah padarn.