Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 11

 
Jilid 11

"Kalau Yok toako sampai menggunakan dua jurus, anggaplah kami kalah Kami akan segera meninggalkan tempat ini," kata Ciok Ciu Lan.

Suo Yi Hu tersenyum tipis.

"Seandainya Yok sauhlap dapat meringkus hengte dalam satu jurus Hengte akan mencari akai untuk mengundang kalian ke Ce po tan goan." Sahutnya.

"Jangan sampai kau ingkar janji," kata Ciok Ciu Lan.

"Apa yang hengte katakan, selamanya tidak pernah ditarik kembali!". "Yok toako, cepat ke sana!" tenak Ciok Ciu Lan.

Yok Sau Cun akhirnya menuruti permintan Ciok Ciu Lan.

"Kalau cayhe dapat menngkusmu dalam satu jurus berarti sudah masuk hitungan?" tanyanya.

'Tidak salah," sahut Suo Yi Hu.

"Apakah kau sudah siap?" tanya Yok Sau Cun kembali.

"Yok sauhlap boleh turun tangan sekarang," sahut Suo Yi Hu.

Tangan kanan Yok Sau Cun terjulur ke depan Sekali gerak, pergelangan tangan Suo Yi Hu telah tercengkeram olehnya,.

"Bukankah cayhs sudah berhasil meringkusmu?" katanya.

Mimpi pun Suo Yi Hu tidak pernah mengira kalau tanpa disadan tagi, dirinya dapat dicengkeram begitu mudah oleh Yok Sau Cun Hatmya tercekat Dia mengerahkan tenaganya untuk memberontak Dia sama sekali tidak menyangka kalau di situlah letak keistimewaan ilmu Yok Sau Cun Begitu tangannya menarik, Yok Sau Cun segera memuntir dan membantingnya terpental sampai jauh.

Suo Yi Hu merasa tulang di tubuhnya ngilu semua Dengan susah payah, dia bangkit berdiri Di wajahnya masih tersirat rasa kurang percaya.

"Yok sauhiap, jurus ini memang hebat sekali. Tapi hengte masih ingin mencoba sekali lagi.".

Kecuali Song Bun Cun yang memang sudah tahu, siapa pun yang ada di ruangan itu adalah tokoh tingkat tinggi, tapi mereka tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana Yok Sau Cun melakukan gerakannya Tentu mereka pun kurang percaya, mereka menduga hal itu adalah kebetulan karena perhatian Suo Yi Hu sedang terpecah, maka dia baru berhasil meringkusnya dalam satu jurus. "Apakah kau hendak mengingkan janji'?" tariak Ciok Ciu Lan.

"Apa yang hengte janjikan, tentu akan ditepati Tapi perasaan hengte masih belum puas, sengaja meminta a|aran dan Yok sauhiap sekali lagi," sahut Suo Yi Hu dengan mata mendelik.

"Yok toako, kita toh mengharapkan dua lembar undangan darinya. Biarlatr dia mencoba sekali lagi," kata Ciok Ciu Lan.

"Baik, bersiaplah!" seru Yok Sau Cun. Sekali ini Suo Yi Hu sudah mempersiapkan diri dengan baik Dia menganggukkan kepalanya dua kali.

"Silahkan " Sahutnya.

Baru saja perkataannya selesai, dia merasa pergetangan tangannya meniadi kencang Sekali lagi Yok Sau Cun berhasil menngkus pergelangan tangannya dan membantingnya terpental sampai Jauh Suo Yi Hu tidak melihat apa yang diiakukan oleh Yok Sau Cun, tahutahu tubuhnya sudah terpelanting Jatuh di atas tanah Dia bergegas bangkit kembali Ditepuktepuknya debu yang menempel di baju Matanya bersinar tajam. Mulutnya memperdengarkan suara tertawa terkekehkekeh "Gerakan tangan yang bagus. Ternyata Yok sauhiap memiliki ilmu yang mengejutkan Tidak perlu hengte mencari jalan, majikan kami pasti senang menyambut kedatangan kalian".

Dua kali Yok Sau Cun menggunakan gerakan ajaib dan membanting Long san it pei Suo Yi Hu. Bu Cu taisu, Hui Hung i su dan yang lainnya memandang dengan wajah terpesona Mereka mendengar pemuda itu.

mengakui bahwa Suhunya bernama Bubeng lojin. Di dunia Bulim sama sekali belum pernah terdengar ada kociu bernama demikian!.

"Kapan kau akan mengirimkan undangan itu'?" tanya Ciok Ciu Lan.

"Harap Liong wi datang saja pada waktunya. Hengte akan menyambut di luar Ce po tan goan," sahut Suo Yi Hu sambil tertawa kering.

"Terjma kasih kalau begitu " kata Ciok Ciu Lan.

"Kouwnio tidak perlu sungkan " sahut Suo Yi Hu tersipu Dia menoleh kepada Bu Cu taisu "Bagaimana hasil perundingan taisu sekalian?".

"Pinceng setuju," sahut Bu Cu taisu.

"Taisu menjamin hengte aman menmggalkan tempat ini," kata Suo Yi Hu.

"Sicu tidak usah khawatir Karena pinceng sudah menyetujUl, siapa pun tidak akan menghalangi kepergian Sicu'" sahut Bu Cu taisu sambil merangkapkan kedua belah tangannya.

"Apa yang dikatakan taisu, tentu hengte percaya penuh," kata Suo Yi Hu tersenyum datar. Dia segera mendekati Su Po Hin dan.

Ciek Ban Cing Dia menepuk mereka masmgmastng satu kali dengan periahan, ternyata totokan mereka terbuka seketika.

Su Po Hin meraung keras Pedangnya segera dihunus.

"Su toheng harap jangan sembrono Pinceng sudah setuju Suo Lao sicu menmggalkan tempat ini Biarlah dia pergi," kata Bu Cu taisu.

Suo Yi Hu menjura kepada setiap tamu yang hadir.

"Cuwi taihiap hengte mohon diri" Dia segera membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat ini dengan langkah lebar.

"Suo Yi Hu kali ini kami membiarkan hatimu senang Seandainya kau bertemu lagi dengan Kongcu, jangan harap kau dapat meloloskan diri" tenak Song Bun Cun lantang.

Suo Yi Hu sudah sampai di pintu penghubung dia menolehkan kepalanya' "Urusan nanti, kelak kita bicarakan lagi!" sahutnya Suaranya perlahanlahan menghilang seiring orangnya.

Song Bun Cun menggertakkan gerahamnya. "Manusia. ".

Orang ini sangat pandai menutup diri Menurut penglihatan pinceng, ilmunya lebih tinggi dan yang ditunjukkannya tadi," tukas Bu Cu taisu.

"Apa yang dikatakan taisu memang benar Selama im Long san it pei merajalela di daerah barat daya Jarang sekali menginjak tanah Tionggoan Ilmunya memang sangat tinggi Menurut pinto, gerakan dan serangan yang dilancarkannya sangat aneh Kalau kita melawannya satu per satu, mungkin tidak dapat menahan dirinya Kalau kita menghadapinya beramairamai, dia hanya seorang anak buah majikan mereka Tindakan taisu melepaskan dirinya memang tepat" kata Kan Si Tong.

"Majikannya menyembunyikan diri di belakang layar Entah siapa dia? Sedangkan cia hu.. .".

"Sau ceng cu tidak perlu cemas Kalau dilihat dari keadaan Cao Kuang Tu dan Long san it pei yang bersedia bertekuk lutut di bawah kakinya majikan ini tentu mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dan mereka. Song loya cu memang ditawan oleh mereka, tapi kita diundang agar menghadiri pertemuan pada bulan satu tanggal delapan Meskipun ada maksud tertentu tapi mereka tidak akan berani memmbulkan kemarahan kaum Bulim. Mereka hanya ingin menunjukkan kekuasan dengan menawan bengcu Menurut pendapat pinto, tentu tidak akan terfadi apa apa pada diri leng cun," kata Wi Ting sin tiaw.

"Apa yang dikatakan beng hang memang tidak salah Tadi Suo Yi Hu mengatakan bahwa bengcu sekarang menjadi tamu agung majikan mereka dan pasti akan nadir dalam pertemuan di Ce po toan goan Tentunya dia tidak berdusta Harap Sau cengcu sabar sedikit Apabila waktu perjanjian sudah sampai, kita pasti akan bertemu dengan bengcu. Nanti baru kita perhitungkan segalanya," sahut Hui Hung i su mendukung.

"Waktu antara pertemuan dengan sekarang masih ada satu bulan lebih, sedangkan majikan mereka pandai menutupi diri Bukan saja kita tidak tahu apa-apa tentang Orang ini, bengcu pun berada di tangan mereka Menurut pinto, mereka pasti mempunyai rencana terselubung Kita dan delapan partai besar harus mempersiapkan diri Jangan sampai terperangkap dalam siasat keji musuh," sambung Kan Si Tong.

"Pinceng mendapat perintah dari Ciang bunjin untuk datantg Ke Tian Hua san ceng karena mendapatsurat dan Bengcu Ternyata bengcu malah ditawan oleh komplotan penjahat. Mereka mengundang kita menghadiri pertemuan di Ce po tan goan bulan satu tanggat delapan Urusan ini besar sekali. Pinceng harus segera kembali ke Siaulim si dan melaporkan kejadian ini Cuwi toheng sekalian rasanya juga harus kembali ke tempat masing masing dan mencentakan apa yang tecjadi pada Ciang bunjin kalian Tapi apa yang dikatakan Kan To heng tadi bahwa kita harus mempersiapkan diri benar sekati Oleh karena itu, Pinceng mempunyai sedikit pikiran Entah bagaimana pendapat toheng sekalian?" kata Bu Cu taisu sambil merangkapkan sepasang tangannya.

"Silahkan taisu kemukakan," sahut Wi Ting sin tiaw.

"Menurut pendapat pinceng pertemuan di Ce po tan goan pasti menyangkut bengcu dan delapan, partai esar Kita semua harus segera kembali dan meminta Ciang bunjin masing masing. Kemudian kita harus menen.tukan suatu tempat sebelum bulan satu tanggal delapan, di mana kita bisa rundingkan persoalan ini," kata Bu Cu taisu.

"Apakah taisu sudah mempunyai rencana tertentu?" tanya Wi Ting sin tiaw.

"Harap Cuwi toheng segera kembali ke tempat masing masing Perjalanan adayang iauh juga ada yang dekat Bahk lagi tentu perlu waktu Menurut pinceng kitatetapkan jangka waktu satu bulan, yaitu sekitar per tengahan bulan duabelas harus sudah berkumpuf kembalt," sahut Bu Cu taisu.

"Di mana tempatnya'?" tanya Kan Si Tong.

"Sute pinceng, Tong Sit Cong tinggal di Lam ning. Jaraknya dengan Oey san kirakira dua hari perjalanan Lagipula tempatnya juga tepat bagi toheng sekalian Apakah kalian setuju?".

Wi Ting sin tiaw tertawa lebar.

"Bagus sekali Tong sit Cong Tong laoko dengan kita semua adalah kenalan lama. Membuat pertemuan di rumah keluarga Tong sesuai sekali Siapa pun tidak ada yang dirugikan," sahutnya.

"Baiklah kita tetapkan demikian saja " kata Hui Hung i su. Bu Cu taisu bangkit dari tempat duduknya.

"Kalau Cuwi sekalian sudah setuju, pinceng ingin mohon diri sekarang." UJarnya. Hui Hung i su mengikuti tindakannya.

"Pinto juga ingin mohon diri" katanya.

"Totiang, taisu harap tunggu sebentar Hidangan telah disediakan. Karena kejadian tadii kita semua jadi lupa Man kita mengisi perut dulu Setelah itu baru kembali ke tempat masingmasing toh belum terlambat," cegah Ciek Ban Cing.

"pinceng rasa tidak perlu Bengcu menghilang Kompiotan penjahat membuat perjanjian dengan kita Urusan ini besar sekali Pinceng ingin kembali ke Siaulim si selekasnya, supaya dapat melaporkan kepada Ciang bunjin Tidak dapat menunda lebih lama Iagi Sau cengcu harap jaga diri pinceng mohon diri " Dia merangkapkan kedua tangannya dan menyebut nama Buddha, setelah itu meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.

Hui Hung i su, Kan Si long, Beng Ta Jin dan Su Po Hin juga ingin cepat cepat kembali ke partai masingmasing Mereka menolak ajakan Ciek Ban Cing dengan halus dan mohon diri.

Song Bun Cun lalu bangkit dari kursinya dan menoleh kepada Yok Sau Cun dan Ciok CILI Lan.

"Yok heng dan Ciok kouwmo harap tunggu di sini sebentar Silahkan duduk sa|a Hengte ada sedikit urusan, sebentar akan kembali iagi," katanya.

Yok Sau Cun mengiakan Song Bun Cun melangkah keluar untuk mengantarkan para tamu itu sampai halaman depan Kemudian dia kembali lagi.

Di ruangan kecil, sebelah luar kamar Song loya cu sudah disiapkan berbagai hidangan Di atas mejajuga dinyalakan filin merah yang besar Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan diajak Ciek Ban Cing duduk di ruang tamu tersebut. Song Bun Cun masuk dengan tergesa gesa.

"Yok heng Ciok kouwnio silahkan Hidangan tentunya hampir dmgin Di antara kita tidak usah banyak peradatan, kalian juga tidak perlu sungkan Man man! Ciek Congkoan, kau juga ikut duduk," katanya.

Mereka duduk berkeliling Di samping meja sudah ada seorang gadis pelayan berpakaian hijau Tangannya memegang sebuah teko perak Dia menuangkan arak ke dalam cawan empat orang tersebut Sesaat kemudian Ciek Ban Cing mengangkat cawannya.

"Yok Siangkong, Ciok kouwnio, silahkan minum," katanya.

"Aku tidak bisa minum arak Ciek Congkoan, kau minum saja dengan Yok Sau Cun,' sahut Ciok Ciu Lan. Ciek Ban Cing juga tidak memaksa Dia menyodorkan cawan sebagai penghormat an, kemudian Yok Sau Cun fuga menyodor kan kepada Song Bun Cun Mereka menikmati hidangan sambil berbincangbincang.

"Yok Siangkong Ciok kouwnio, apa pendapat kalian tentang kejadian tadi?" tanya Ciek Ban Cing.

"Cayhe baru pertama kali berkelana di dunia kangouw Hanya saja cayhe menduga bahwa komplotan penjahat itu sudah mempunyai rencana yang keji Mereka tampaknya ingin mengacaukan dunia Bulim Kemungkinan besar tidak lama lagi dunia Bulirn akan mengalami perubahan yang hebat, tapi cayhe belum dapat memastikan Mohon petunjuk dan Ciek Congkoan," sahut Yok Sau Cun.

"Yok Siangkong terlalu sungkan/' kata Ciek Ban Cing.

"Ucapan Yok taoko 'sudah mempunyai rencana keji' memang betul. Kalau ditinjau dari kejadian malam ini, Hek Houw sin dan Long san it pei sa|a seharusnya sutit me lotoskan diri Seandainya mereka tidak mempersiapkan matangmatang sebelumnya, mungkinkah mereka dapat keluar dari Tian Hua san ceng dengan begitu mudah?" tukas Ciok Ciu Lan.

Song Bun Cun terpana.

"Apakah ada sesuatu yang menJadi pikiran Ciok kouwnio?" tanyanya. "Tentu sajasurat undangan Ce po tan goan Kalau tidak adasurat tersebut dan

menghilangnya Song loya eu, apakah Bu Cu taisu sekalian mau meiepaskan Suo Yi Hu begitu saja? Justru dengan menghilangnya Song joya cu dan surat undangan Ce po tan goan yang waktunya tidak lama lagi, mereka harus segera kembali ke partai masing masing untuk melaporkan kejadian ini Tentunya butuh waktu yang tidak sedikit untuk pulang pergi Mana sempat lagi mereka menghiraukan urusan kecil yang lain?" kata Ciok Ciu Lan.

Ciek Ban Cing menganggukkan kepalanya berkalikali mendengar keterangan gadis itu.

"Ciok kouwnio sungguh teliti. Apa yang dikatakan memang tidak salah.".

"Ciek Congkoan terlalu memandang tinggi diriku Apakah Ciek Congkoan punya ren cana lain?" tanya Ciok Ciu Lan.

Ciek Ban Cing terpana.

"Bagaimana Ciok kouwnio tahu kalau Lao siu sudah mempunyai rencana tertentu?". Ciok Ciu Lan tersenyum manis.

"Song loya cu ditawan orang jahat Perasaan Sau Ceng cu dan Ciek Congkoan tentu sedang gundah, mana mungkin bisa menikmati arak seperti sekarang? Tentunya sudah mempunyai rencana tertentu atau menunggu kabar dad seseorang," sahutnya. Ciek Ban Cing menarik nafas perlahan-lahan.

"Ciok kouwnio sangat cerdas, dapat menduga kejadian seperti dewi Lao siu memang mempunyai sedikit rencana," katanya.

"Cia hu ditawan oleh komplotan penjahat Hati hengte kalut sekali. Setelah bertemu dengan tokoh dari delapan partai besar, juga tidak menghasilkan apa apa. Setiap persoalan harus memmta petunjuk orang lain Tapi rasanya sulit membuka mulut untuk memohon bantuan Yok heng " lanjut Song Bun Cun.

Yok Sau Cun mengerti apa yang dimaksudkannya.

"Keadaan Song loya cu sekarang sangat mernbahayakan. Menolong orang seperti memadamkan api. Kalau tenaga cayhe memang diperlukan, silahkan Song heng katakan saja Meskipun gunung pisau lautan golok, cayhe tidak akan menolak ".

Song Bun Cun sangat terharu mendengar ucapan Yok Sau Cun.

"Maksud hati Yok heng mulia sekali. Tenmalah hormat hengte," katanya sambil berdiri dan membungkuk dalam-dalam.

Yok Sau Cun menggeser dengan tergopoh-gopoh.

"Song heng jangan begitu Entah bagaimana rencana Song heng, katakan saja agar cayhe mengerti," sahutnya kelabakan.

"Sekarang masih terlalu pagi untuk dibicarakan Yok Siangkong, Ciok kouwnio, silahkan dahar dulUi nanti baru kita bicarakan lagi," tukas Ciek Ban Cing.

Yok Sau Cun memandangya dengan heran Dia merasa perkataan Ciek Ban Cing " itu seperti setengahsetengah. Hatinya menjadi penasaran, baru saja dia ingin bertanya, CtOk Ciu Lan mencondongkan kepalanya ke dekat telinga pemuda itu dan berbisik: "Ciek Congkoan takut kalau dinding ini bertelmga Kau tidak usah banyak tanya lagi ".

Yok Sau Cun mengedarkan pandangan nya Di dalarn ruangan itu hanya terdapat gadis pelayan itu saja Diamdiam hatinya berpikir "Tampaknya Ciek Congkoan tidak dapat mempercayai siapa pun dalam Tian Hua san ceng ini".

Ciek Ban Cing meneguk beberapa cawan arak Tiba tiba dia tertawa-tawa.

"Harap Yok Siangkong ketahui, Lao siu sudah tahu tempat pertemuan komplotan penjahat itu. Tentunya Lao cengcu juga ada di tempat itu . " katanya menjelaskan.

"Oh. " Yok Sau Cun terpana. "Sekarang waktu masih terlatu pagi, biar kita makan mmum sampai puas dulu," lanjut Ciek Ban Cing.

"Kapan Ciek Congkoan bermaksud mulai bergerak'1" tanya Yok Sau Cun.

"Di sini tidak ada orang luar. Bolehlah Lao siu katakan Rencana Lao siu kita mulai bergerak pada kentungan kedua Komptotan itu tentu tidak akan menduga Labih bagus lagi kalau kita bikin mereka kocarkacir" Dia meneguk kembali araknya Setelah itu menoteh kepada pelayan yang berdiri di samping. "Cun Bwe Tuangkan arak lagi!" perintahnya.

Pelayan baju hijau itu mengiakan Dengan teko perak di tangan, dia menuangkan arak bagi Yok Sau Cun, kemudian ke cawan Ciek Ban Cing. Tidak ada sisa lagi untuk Song Bun Cun.

"Biar budak mengambilnya lagi di bagian dapur," katanya dengan tubuh membungkuk.

Ciek Ban Cing mengibaskan tangannya. "Cepat ambil!" perintahnya.

Gadis pelayan mengiakan sekali lagi Dengan teko perak di tangan, dia mengundurkan diri. Ciek Ban Cing menunggu sampal gadis itu pergi. Dia segera berdiri dan mengikuti di belakangnya.

Tidak lama kemudian, terlihat laki-laki itu masuk kembali dengan iangkah lebar Dia duduk di tempatnya semula Song Bun Cun menatap ke arahnya Ciek Ban Cing menganggukkan kepalanya perlahan Dalam pandangan Yok Sau Cun, mereka seakan sedang mengisyaratkan sesuatu. Diamdiam dia berpikir: "Tampaknya ada sesuatu y ng disembunyikan oleh mereka berdua ".

Gadis pelayan itu masuk kembali dengan teko berisi arak di tangan. Dia mengisi ketiga cawan Yok Sau Cun, Ciek Ban Cing dan Song Bun Cun sampai penuh Kemudian berdiri laii di samping. "Tiba-tiba pandangan Ciek Ban Cing menatap tajam kepadanya.

"Cun Bwe, sudah berapa lama kau datang ke Tian Hua san ceng'?" tanya laki-laki itu dengan nada menyelidik.

"Budak sudah hampir dua tahun di sini," sahutnya lirih.

"Oh," Tangan Ciek Ban Cing mengeluselus jenggotnya. "Siapa yang mengajak kau ke man?" tanyanya kembali.

"Coa mo mo yang bekerja sebagai p nyala api di dapur," sahutnya.

"Apakah kau pernah belajar membaca atau menulis?" tanya Ciek Congkoan sekali lagi. "Buat apa Congkoan menanyakan hal ini?" Gayanya dibuat seperti gadis yang kemalu-maluan.

"Kalau kau pernah sekolah, Lao siu ada suatu urusan yang akan ditugaskan kepadamu," kata Ciek Ban Ging.

Kepala Cun Bwe tetap tertunduk.

"Budak pernah sekolah beberapa tahun," sahutnya.

Dia mengaku pernah sekolah beberapa tahun Hal ini berarti dia bersedia melakukan tugas yang akan diberikan oleh Ciek Cong koan.

"Bagus sekali!" kata Ciek Ban Cing Dia mengeluarkan selembar kertas dari balik saku bajunya Kertas itu lusuh sekali Tampaknya pernah di remasremas Dia menyodorkannya ke hadapan Cun Bwe.

"Coba kau lihat, apa yang tertulis di dalamnya?".

Cun Bwe tidak menyambutnya. Dia memang tidak perlu melakukan hal itu, karena apa yang tertulis dalam kerlas itu, dia sudah tahu Apa sebabnya"? Sebab, ketfka dia melewati lorong panjang Dengan tergesa-gesa, dia menulis beberapa huruf di atas kertas itu dan secara diamdiam menyelipkannya ke tangan Song Hok Seng yang bertugas sebagai penjaga pintu Dia yakin Song Hok Seng sudah berhasil dibeli olehnya, dengan demikian tidak mungkin dia berkhianal Fasti tindakannya sendiri yang menimbulkan kecurigaan Ciek Ban Cing.

Pada saat itu, terlihat wajah Cun Bwe perlahanlahan berubah. Dia mundur dua langkah Ciek Ban Cing segera bangkit Dia tertawa terbahak-bahak.

"Budak kecil. Tadinya lao siu mengira kau hanya seorang pengirim berita, tidak disangka kau memang diutus ke Tian Hua san ceng untuk menjadi pimpinan penyetundup. Hampir saja lao siu salah lihat," katanya. Cun Bwe tertawa dingin. "Bukankah sudah agak terlambat bahwa kau baru tahu sekarang?" sindirnya tajam Matanya mendelik, dadanya dibusungkan Tidak ada kesan takut sama sekali pada wajahnya.

Song Bun Cun ikut berdiri. "Ciek Congkoan, apa yang tertulis dalam kertas itu?" tanyanya.

Ciek Ban Cing menyodorkan kertas tersebut kepada majikan mudanya.

"Lao siu sama sekali tidak menyangka kalau Song Hok Seng yang sudah belasan tahun mengabdi di Tian Hua san ceng juga bisa dibeli oleh komplotan penjahat. Kertas ini, Lao siu dapat dari orang itu/' sahutnya.

Song Bun Cun menerima kertas itu dan membacanya sekilas Di dalamnya terlihat tulisan yang cukup rapi 'Jejak sudah ketahuan, mundurkan diri sebelum kentungan kedua. Jelas sudah bahwa umpan Ciek Ban Cing sudah kena. Song Bun Cun marah sekali Dia mendengus dingin Pedang panjangnya dihunus.

"Budak busuk' Katakan, di mana tempat persembunyian komplotan itu'?" bentaknya garang.

"Bukankah Ciek Congkoan sudah mengetahuinya?" sindir Cun Bwe. Ciek Ban Cing tertawa terbahak bahak.

"Kalau Lao siu tidak mengaku demikian, mana mungkin kedokmu akan terbongkar?" sahutnya.

"Ciek Congkoan tampaknya cerdas se kali, tapi tempat persembunyian kami toh tidak dapat diduga olehmu Urusan budak di sini juga sudah selesai Malam ini juga aku akan pergi," kata Cun Bwe tajam.

"Apakah kau bisa meninggaikan tempat ini sekarang," tanya Ciek Ban Cing ctengan nada mengejek.

Cun Bwe menatap Ciek Ban Cing sekilas Dia tersenyum dingin.

"Apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya "Apakah kau ingin memaksa aku mengata kan tempat ditawannya Song loya cu?" lan jutnya setelah Ciek Ban Cing tidak menyahut.

"Tampaknya kau juia tidak kalah cerdas," sindir Ciek Ban Cing.

"Apakah Ciek Congkoan yakin dapat mengalahkan aku'?" tanya Cun Bwe kembali.

"Kalau kau tidak percaya, mengapa tidak mencoba saja Lihat apakah lao siu sanggup menngkusmu atau tidak''" sahut Ciek Ban Cing tenang.

"Ciek Congkoan, blar aku yang hadapi budak busuk ini" kata Song Bun Cun sambil rnaju ke depan dua langkah.

"Tidak perlu Kongcu turun tangan, lao s|u sendiri sudah cukup menngkusnya," sahut Ciek Ban Cing.

"Baiklah, kalau kau memang ingin turun tangan Silahkan buka serangan!" tantang Cun Bwe.

Ciek Ban Cing mendengus satu kali Kakinya maju satu tangkah Tangan kanan diangkat ke atas Lima jarinya setengah terkatup. Sasarannya pergelangan tangan kanan Cun Bwe.

Gadis itu dengan lemahgemulai melenggokkan tubuhnya Kakinya bergeser setengah langkah Tangan kanannya ditarik ke belakang, kemudian dengan cepat men cengkeram ke arah jantung Ciek Ban Cing Serangannya ini datangnya tiba-tiba Ciek Ban Cing sampai kelabakan Cakarnya ditarik kembali. Cakar kiri menggantikan kedudukannya. Serangannya ini penuh perubahan yang tidak terduga Juga merupakan salah satu ilmu andalannya Tampaknya Cun Bwe tidak menemukan cara mengimbangi nya. Dengan gerakan secepat kilat, dia melesat ke pintu penghubung.

"Kembali!" bentak Song Bun Cun Pedangnya diangkat ke atas, lalu ditudingkan ke Cun Bwe dan menghadang jalannya Cun Bwe tertawa dingin. "Kau ingin main keroyok'? Silahkan," sindirnya.

Mata Ciek Ban Cing mendelik Smarnya tajam Dia marah sekali.

"Budak busuk, mulutmu selalu mengoceh yang bukan-bukan!" bentaknya. Kedua tangannya lalu direntangkan Tubuhnya yang tinggi besar mencelat ke atas Telapak tangan kanan dikembangkan, tangan kiri ditekuk membentuk cakar, dia menerjang ke arah Cun Bwe Bukan saja masing-masing tangan mengeluarkan jurus yang berlainan, tenaganya juga luar biasa. Telapak tangannya menimbulkan suara menggelegar. Di belakang telapak ini, cakar kin setahap demi setahap majU dengan membawa berpuluh bayangan. Seakan ingin merobekrobek tybuh Cun Bwe.

"Mengapa harus meraungraung? Ada kepandaian apa, silahkan ketuarkan saja," kata Cun Bwe.

Setiap ucapannya selalu angkuh dan sombong Dapat dipastikan dia sengaja memanaskan hati lawannya Sedangkan penampilannya sendiri tetap kaku dan dingin. Dengan gerakan yang manis, sekali lagi dia berhasil melupufkan diri dari gerakan Ciek Ban Cing.

Dia tidak mau kalah, tangannya diputar seperti angin puyuh. Setiap serangan yang dilakukannya selalu menggunakan jurus yang anehaneh Tampaknya dia menguasai segala macam ilmu Baik telapak, tendangan ataupun tinju Cara menahan dirinya juga sangat istimewa. Belasan jurus telah berlalu, kedudukan mereka masih seimbang. Hati Ciek Ban Cing panas sekali. Meskipun lawannya terlihat agak kewalahan, tapi toh setiap kali serangannya gagal terus.

Yok Sau Cun memperhatikan gerakan Cun Bwe dengan seksama Dia merasakan ilmu silat Cun Bwe hampir mirip dengan ge rakan kesmpat pelayan Tiong Hui Ciong Hatinya jadi tercekat.

"Meskipun ilmu silat CIek Congkoan sangat tinggi, tenaga dalamnya jauh lebih kuat, tapi jurus Cun Bwe aneh sekali Apabila per tarungan ini diteruskan kemungkinan besar Ciek Ban Cing tetap tidak berhasil menngkus Cun Bwe," pikirnya dalam hati Dia ms noleh kepada Ciok Ciu lan.

"Ilmu lalu yang digunakan budak itu sangat mirip dengan keempat pelayan Tiong Hui Ciong. Lebih baik aku yang meringkus nya saja, agar tidak makan banyak waktu Bagaimana pendapatmu?" tanyanya.

Hati Ciok Ciu lan terasa hangat mendengar pertanyaannya Untuk turun tangan saja, dia selalu menanyakan pendapatnya lebih dahulu Dia tersenyum manis.

"Song Kongcu memang meminta bantu an. Sudah seharusnya kau turun tangan me ringkus budak itu," sahutnya.

Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya 'Apa yang kau katakan memang benar," katanya.

Perlahanlahan dia bangkit dari tempat duduknya. 'Ciek Congkoan harap berhenti!" erunya.

Mendengar seruan Yok Sau Cun, Ciek Ban Cing segera menarik kembali serangannya Dia membalikkan tubuh dan memandang ke arah pemuda itu.

"Yok Siangkong, apakah ada petunjuk untuk Lao slu'?" tanyanya.

Tepat pada saat itu Cun Bwe tidak menyianyiakan peluang yang terdapat di depan mata Dia segera melesat dengan mak sud ngacir secara diamdiam Song Bun Cun memang se|ak tadi memperhatikan gerakgerik Cun Bwe Namun karena tenakan Yok Sau Cun, perhatiannyajadi terpencar. Begitu dia tersadar, Cun Bwe sudah sampai di depan pintu Dia segera mengejarnya, tapi tidak sempat lagi Tepat pada saat itu.

"Kau tidak bisa kabur'" Terdengar sebuah suara yang merdu menyambut Cun Bwe.

Gadis itu tidak menyangka ada seseorang yang menghadangnya di depan pintu Pikirannya terpusat untuk melarikan diri. Begitu sesosok bayangan berkelebat di depan matanya, dia terdesak mundur beberapa langkah Orang yang menghadangnya, ternyata Ciok Ciu Lan Dia berdiri di depan pintu dengan bibir tersenyum.

"Sejak semula aku sudah menduga Begitu Yok toako memanggil Ciek Congkoan, perhatian mereka pasti akan terpencar dan kau tentu akan menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri ".

Wajah Cun Bwe merah padam.

"Beranikah kau berduel denganku'"' tantangnya.

Ciok Ciu Lan tetap tersenyum tapi kali ini datar sekali.

"Kau tidak perlu cemas. Nanti ada orang yang akan berduel denganmu ". "Siapa yang kau maksudkan?" tanya Cun Bwe garang.

"Cayhe!" tukas Yok Sau Cun. Cun Bwe memandangnya sekilas.

"Apakah kau yang bernama Yok Sau Cun?"tanyanya.

"Tidak salah Rupanya nona juga tahu nama orang kecil seperti cayhe,". Cun Bwe tertawa dingin. "Kalau semua orang tahu namamu, maka waktu itu kematianmu hampirtibal" katanya ketus.

Ciok Ciu Lan marah sekali Tangannya menuding di depan hidung Cun Bwe. "Budak busuk! Kau berani menyumpah Yok toakoku'".

Serangkum angm menerpa, langsung menyambar ke arah mulut kecit gadis pelayan itu Cun Bwe memalingkan ke alanya untuk mengelit Terdengar suara.

"Crep!" Sebuah senjata rahasia yang tepat menancap di dinding merah jambu be lakang kepalanya. Senjata rahasia yang ditimpukkan oleh Ciok Ciu Lan ternyata sebuah anak panah kecil sepanjang kirakira tiga cun.

Cun Bwe melirik panah kecil itu sekilas. Bibirnya tersenyum dingin.

"Apayang aku katakan adalah kenyataan. Kalau kau memang mengkhawatirkan dirinya, sebaiknya kau membujuk dia untuk meninggalkan dunia kangouw sekarang juga Tentu dirinya akan selamat," sahutnya.

Yok Sau Cun tertawa tefbahak bahak.

"Perkataan kouwnio ini mungkin karena takut cayhe mencan garaiara dengan pihak kalian!" tenaknya lantang.

"Tidak tahu malu! Sedangkan Bulim toalo Song loya cu dan delapan partai besar saja, tidak dipandang sebelah mata oleh majikan kami Apalagi bocah ingusan seperti eng kau Apa yang kukatakan adalah demi kebaikan dirimu sendiri Percaya atau tidak, terserah," sahut Cun Bwe.

"Aku selamanya tidak percaya takhyul" kata Yok Sau Cun sambil mendekatinya "Tentang urusan malam ini apabila kouwnio tidak mau menyerah secara baikbaik, cayhe akan turun tangan ".

"Kau ingin bergebrak dengan aku?" Se pasang matanya menatap Yok Sau Cun dengan tajam "Bagus sekati!" serunya Tiba-tiba kedua tangannya dipentangkan Telapak tangan kanannya menyambar ke depan Terlihat berpuluh puluh bayangan menyebar dan telapaknya itu Kecepatannya luar biasa. Namun, begitu tangan Yok Sau Cun terangkat Tanpa sempat disadarinya per gelangan tangannya telah berhasil dicengkeram oleh pemuda itu Dia terkejut sekali.

"Lepaskan aku!" teriak Cun Bwe. Yok Sau Cun tertawa dingin.

"Cayhe sudah pernah mengatakan bahwa akan meringkusmu," katanya Tepat pada saat itu, terdengar sebuah suara serak berseru "Yok Sau Cun, lepaskan dia!".

Yok Sau Cun memalingkan kepalanya. Terlihat seorang nenek tua dengan wajah penuh kenput dan rambut putih Dia sendiri dekat pintu dengan tangan menempe! d[ be[akang punggung Ciok Ciu Lan Bibirnya menyunggingkan senyuman licik Matanya menatap tajam kepada Yok Sau Cun.

Rupanya Ciok Ciu Lan sejak tadi ttdak bergeser dan pintu penghubung Dia sama sekali tidak menyangka kalau ada seseorang yang akan mengancamnya dari belakang.

Ciek Ban Cing mendongakkan kepalanya Dia mendengus dingin. "Cu mo mo, rupanya kau!".

Cu mo mo tidak meladeni [akijaki itu. Ternyata dia adalah nenek yang bertugas sebagai penyala api di dapur Tian hua san ceng.

"Manusia she Yok Kalau kau masih tidak mau melepaskan cengkeramanmu, asal tanganku ini dihantam ke punggung Ciok couwnio, maka jantungnya akan putus seketikal" ancamnya.

Ciok Ciu Lan tertawa lebar "Pokoknya aku tidak akan rugi Kalau kau menggetarkan jantungku sampai putus, maka Yok toako juga akan membunuh budak itu," katanya tenang.

Cu mo mo mendengus dmgin Kedua jari tangannya memencet salah satu urat nadi di bagian punggung. Ciok Ciu Lan menjerit kesakitan.

"Bocah cilik, aku terpaksa menyusahkan dirimu sebentar".

Ciek Ban Cing berdiri tidak jauh dan mereka Ketika Cu mo mo sedang bicara, dia segera mengulurkan tangannya menyerang nenek tua itu.

"Ciek Congkoan, kita belum pernah mengadu kepandaian!" kata Cu mo mo. Sebentar saja mereka sudah terlibat pertarungan yang seru YOk Sau Cun memandang sampai terkesima. Tanpa disangkasangka, Cun Bwe menghentakkan diri melepaskan cengkeramannya "Plak!" Pipi kanan Yok Sau Cun ditempelengnya satu kali.

Yok Sau Cun terkejut sekali. Lima jari tangan membekas nyata di pipinya. "Budak cilik, kau barani memuku! orang?" bentaknya.

Cun Bwe mengibasngibaskan pergelangan tangannya yang sudah terlepas. "Siapa suruh tenagamu begitu iemah'?" ejeknya.

Wajah Yok Sau Cun merah padam Dia marah sekali Wajahnya didongakkan.

"Song heng, terimalah'" Tangannya terulur dengan cepat Belum lagi Cun Bwe menyadan apa yang teriadi, tubuhnya sudah terlempar jauh.

Song Bun Cun majU satu langkah Kedua tangannya direntangkan untuk menyambut tubuh Cun Bwe. Sekaligus ditotoknya tiga jalan darahnya Sementara itu pertarungan antara Ciek Ban Cing dengan Cu mo mo semakin seru saja Pertamatama nenek itu masih mencoba menghindar terus, namun akhirnya dia menJadi marah karena Ciek Ban Cing selalu mendesaknya.

"Ciek Ban Cing, apakah kau kira aku tidak berani menyambut seranganmu?" bentaknya nyaring.

Ketika telapak tangan Ciek Ban Cing sudah dekat sekali kepadanya, dia menyam butnya dengan kekerasan.

"Blam!!!" Keduanya tertolak ke belakang satu langkah. Ciek Ban Cing terkesiap.

"Kepandaian nenek jahat ini rupanya demikian tinggi Dia sudah tama sekali bekerja di Tian Hua san ceng, selama ini aku tidak pernah mencurigainya Entah berasal dari golongan mana komplotan mereka itu," pikirnya dalam hati.

Cu mo mo menegakkan tubuhnya yang terhuyung huyung tadi Dia mengeluarkan sebuah rantai panjang dari balik bajunya.dan dengan kecepatan kitet melesat ke samping Ciok Ciu Lan dan mengalungi lehernya de ngan rantai itu.

"Apakah kau mgin melihat nona ini mail lebih dahulu?" ancamnya Ciek Ban Cing tidak berani gegabah Ciok Ciu Lan sudah banyak membantu mereka Dia tidak dapat mengorbankan nyawa gadis itu begitu saja.

"Apa yang kau inginkan?".

Sepasang mata nenek itu bersinar tajam.

"Aku mgin kalian rnembebaskan Cun Bwe," katanya.

"Baik kami akan melepaskan Cun Bwe Tapi kau harus melepaskan Ciok kouwnio fuga " sahut Ciek Ban Cing.

"Aku tidak mengingmkan nyawanya. Tapi tempat ini adalah Tian Hua san ceng Lao pocu Ingin meminta dia mengantarkan kami keluar dari sini tanpa diganggu," kata Cu mo mo sambi! tertawa dingin. Song Bun Cun marah sekali.

"Cu mo mo, kau jangan terlatu menghina!" priaknya.

"Kalian yang memaksa aku berbuat seperli ini Kalau tempat ini bukan Tian Hua san peng, aku boleh segera melepaskannya Kita mengambil jalan sendiri sendiri Tapi di datarn Tian Hua san ceng, aku terpaksa rnehyusahkan nona ini sebentar" kata Cu mo mo tenang. 

'Kau tepaskan Ciok kouwnio, aku menarnin tidak akan ada yang berani menganggurnu," sahut Song Bun Cun.

"Dunia kangouw banyak keticikan, Lao po u rnernpunyai jaminan di sini untuk apa lendapat jarninan dari Sau cengcu lagi?" sahut Cu mo mo. Song Bun Cun berang sekali.

"Kalau demikian, berarti kau tidak mempercayai Kongcumu?".

"Sama, sarna Kalian juga belum tentu mempercayai aku," sahut Cu mo mo tenang sekali "Ciek Congkoan, bagaimana? Apakah kalian bersedia melepaskan Cun Bwe?".

"Ciek Congkoan, lepaskan saja Cun Bwe kouwnio!" kata Yok Sau Cun.

"Kafau Yok Siangkong sudah setuju maka kami pun akan melepaskan Cun Bwe, tapi " Matanya mengerhng sekilas "Cu pocu, coba kau katakan lebih dahulu, sampal di mana baru kau hendak melepaskan Ciok kouwnio," tanya Ciek Ban Cing.

Cu mo mo acuh tak acuh.

"Begini saja, terpaksa menyusahkan nona ini sebentar Antarlah kami naik perahu " sahutnya.

Ciek Ban Cing menganggukkan kepalanya bebarapa kali. "Kita pastikan demikian saja," katanya.

"Bagus. Tapi kau harus melepaskan Cun Bwe lebih dahulu," sahut Cu mo mo tersenyum lebar.

"Kongcu, kita lepaskan Cun Bwe lebih dahulu," kata Ciek Ban Cing sambil menunjuk kepada gadis itu.

Terpaksa Song Bun Cun menganggukkan kepalanya Tangannya yang menggenggam pedang diangkat Dia menggunakan ujung pedang untuk membebaskan jalan darah Cun Bwe Begitu totokannya terlepas, dengan sekuat tenaga dia bangkit dan berdiri.

Tangannya dikibaskibaskan ke anak rambut yang acakacakan Matanya mendelik ke arah Yok Sau Cun.

"Yok Sau Cun, ingat. Urusan kita belum selesail" tenaknya.

"Kapan saja nona bersedia, cayhe akan melayani," sahut Yok Sau Cun. Cun Bwe menolehkan kepalanya kepada Cu mo mo.

"Cu mo mo, mari kita pergi'" serunya.

"Kouwnio harap jalan lebih dutu, Lao po cu akan menyusul di belakang," sahut nenek tua itu Cun Bwe tidak mengatakan apa-apa lag! Dia segera melangkah keluar.

Cu mo mo mendorong tubun Ciok Ciu Lan dan mengikuti di belakangnya Song Bun Cun memandang kepergian mereka dengan wajah merah padam Dia jengkel sekali Pedangnya digenggam erat erat Dia berjalan paling dulu menginngi mereka YokSau Cun dan Ciek Ban Cing juga ikut keluarTapi karena Ciok Ciu Lan masih di bawah genggaman Cu mo mo, mereka tidak berani terlalu dekat Jarak antara mereka kirakira tujuh delapan depa.

Di setiap pelosok Tian Hua san ceng masih tersebar para penjaga Mereka melihat Cu mo mo berja|an dengan tangan kiri memegang sebuah rantai panjang, sedangkan tangan kanannya mengginng seorang nona Dan Cun Bwe berjalan di depan mereka dengan langkah tergesa-gesa.

Di bagian belakang, ada lagi Sau ceng su Ciek Congkoan, ada tamu yang bernama Yok Sau Cun Langkah mereka juga tergopoh gopoh Untuk sesaat, mereka tidak habis mengerti apa yang terjadi di dalam Tian Hua san ceng Tapi tidak ada seorang pun yancfberani menghadang mereka.

Tidak lama kemudian, Cun Bwe dan Cu mo mo sudah hampir sampai di tepi telaga Cun Bwe menepuk tangannya tiga kali Daiam kegelapan, terdengar suara sahutan.

tepukan juga sebanyak tiga kali Rupanya gadis itu telah menaruh .kaki tangannya di sekifar tempat itu Tiga kali tepukan tangan tadi pasti merupakan isyarat yang mengan dung arti bagi mereka.

Benar saja! Di antara pepohonan yang nmbun yang terdapat di sekitar telaga, meluncur keluar sebuah perahu kecil dengan kecepatan tinggt yang sedang melaju ke arah mereka Cun Bwe yang meloncat duluan Cu mo mo meletakkan Ciol< Ciu lan di atas tanah Sekah hentak tubuhnya melesat ke atas perahu dan mendarat tanpa suara sedikit pun Dan sini saja sudah dapat di bayangkan sampai di mana ketinggalan gmkang nenek tua itu Perahu itu segera meluncur pergi.

Ketika Ciek Ban Cing Yok Sau Cun dan Song Bun Cun sampai di tempat itu perahu kecil itu sudah jauh sekali Di bawah kabut yang tebal. terlihat Cu mo mo berdiri di atas perahu dengan tangan dilambaikan.

Yok Sau Cun segera menghampiri Ciok Ciu Lan dan membungkuk di sismya Dia menepuk satu kali bagian belakang punggung gadis itu agar totokannya terlepas.

Ciok Ciu Lan segera berdiri tegak Matanya terbelalak Tangannya mengusap kening rambutnya.

"Yok toako, apakah mereka sudah jauh?" tanyanya. Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya.

"Komplotan penjahat itu rupanya sudah menyediakan perahu kecil supaya dapat minggat setiap saat ".

Song Bun Cun menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.

"Sungguh menjengkelkan Dengan mata lebar kita menyaksikan mereka pergi begitu saja Nama Tian Hua san cem tentu akan turun pamornya.

Ciek Ban Cing mendekatinya sambil tersenyum. "Kongcu, mereka sudah pergi, kesal pun tidak ada gunanya Lebih baik kita kembali dulu ke san ceng dan merundingkan pel soaian ini," kata Ciek Ban Cing dengan nada membujuk.

'Apakah kita harus menyerah begitu saja'?" tanya Song Bun Cun.

"Tentu sa|a tidak Tapi di sini bukan tern pat yang sesuai untuk berbicara Lebih baik.

Kembali dulu ke rumah dan membuat rencana yang jitu," sahut Ciek Ban Cing sambi! menarik lengan majikan mudanya.

"Song Kongcu, apa yang diKatakan Ciek Congkoan memang benar Komplotan penjahat itu licik sekali Lagipula sudah sejak lama menyetusup ke dalam Tian Hua san ceng Di manamana terdapat orangorang mereka. Untuk menghadapi mereka, kita harus mempunyai persiapan yang matang. Setelah mengetahui sampai di mana kekuatan [awan, kita baru memifiki kemungkinan untuk menang. Ciek Congkoan telah mengikuti Song loya cu selama berpuluh tahun Pengetahuan dan pengalamannya sangat banyak Tentunya dia sudah mempunyai seniata untuk menemukan musuh.

Sekarang kita kembali dulu ke rumah " Ciok Ciu Lan yang berdiri di samping ikut membuiuk.

Song Bun Cun tidak berkata apa apa. Mereka kembali Ke dalam san ceng. Para pelayan sejak tadi sudah membersinkan meja Malah ada teko teh baru yang tersedia di atasnya.

"Apakah Ciek Congkoan sudah merenca nakan sesuatu?" tanya Song Bun Cun dengan nada tak sabar.

Ciek Ban Cing tersenyumsenyum.

"Sau cengcu jangan panik Lao siu memang mempunyai rencana Mungkin tidak lama lagi, kita bisa mendapat kabar," katanya.

"Kejadian tadi, tampaknya sudah dalam dugaan Ciek Congkoan," sahut Yok Sau Cun.

"Biar lao siu katakan kepada Yok Siangkong. Penyamaran Suo Yi Hu atas diri Lao cengcu sudah terbongkar oleh Ciok kouwnio Tapi perasaan lou siu selalu mengang gap kalau Suo Yi Hu bukan permmpin yang [nenyelusupkan matatnata ke Tian Hua san Ceng Kecurigaan Lao siu jatuh pada Cun Bwe yang selalu melayani Lao cengcu Cuma sa|a belutn ada bukti yang menguat kan. Oleh karena itu, Lao siu sengaja meng umpannya dengan harapan akan mengetahLii siapa ya'ng mendalangi semua ini Tetapi Lao siu satna sekali tidak menyangka bahwa gadis itu sendiri yang mendalangi kejadian di Tian Hua san Ceng, dengan ini dapat dibuktikan kalau kedudukannya tinggi sekali dalam komplotan mereka Mungkin lebih tinggi dari Long san it pei atau pun cao Kuang Tu Lebih-lebih lagi Lao siu tidak menyangka kalau Cu mo mo yang sudah bekena begitu lama di Tian Hua san Ceng juga termasuk komplotan mereka.

Bukan itu saja, ilmunya bahkan tidak dibawah Lao siu. Maka dan itulah, kita berhasil dikelabui olehnya" kata Ciek Ban Cing menjelaskan. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Yok Sau Cun. Ciek Ban Cing merenung seJenak.

"Bukankah Ciek Congkoan tadi mengatakan bahwa sebentar lagi akan ada berita yang datang Mengapa kau demikian tergesa-gesa?" tukas Ciok Ciu Lan.

Tadinya Song Bun Cun ingin menanyakan persoatan itu kepada Ciek Ban Cing sampai jelas. Mendengar kata-kata Ciok Ciu Lan, dia mengurungkan niatnya Dia mengangkat cawan teh yang ada di hadapannya dan minum seteguk.

Terlihat Ciek Ban Cing mengerutkan keningnya.

"Adasesuatu hal yang mengganggu pikiran Lao siu... " katanya. "Urusan apa?" tanya Song Bun Cun.

"Ku loya, maksudku adalah Wi Yang taihiap, kemarin mengirimsurat dan meminta agar Piau siocia segera kembali. Mungkinkahsurat itu palsu juga?".

Hati Yok Sau Cun tercekat. Song Bun Cun bertanya dengan cemas. "Apakah ada yang dicurigai oleh Ciek Congkoan?".

"Ketika Piau siocia bergerak kemann, komplotan penjahat sudah menyusup ke dalam Tian Hua san Ceng, kedok mereka belurn terbongkar, bisa jadi " Tiba-tiba dla mengeluarkan seruan terkejut "Ssandainya surat itu tidak palsu, tapi Ku loya meminta piau siocia untuk kembali Kui Hun san ceng (gedung keluarga Hui) Apakah ada kemungkinan kalau di sana telah terjadi hal yang diluar dugaan?".

Baru saja perkataannya selesai, tampak seorang pengawal dengan baju menyelam masuk dengan tergopoh-gopoh.

"Lapor Ciek Congkoan ".

Ciek Bang Cing tidak menunggu sampai ucapannya selesai Dia segera bangkit dan menghampin orang itu Mereka keluar dan ruangan Tidak beberapa lama kemudian, terlihat Ciek Ban Cing masuk kembali seorang diri Mata Song Bun Cun menatapnya dengan pandangan menyelidik.

"Ciek Congkoan, pengawal tadi tampaknya tergesa gesa sekali Apa yang teriadi?" tanyanya.

Ciek Ban Cing duduk kembali di tempatnya semula Dia meneguk teh darl cawannya.

"Tadi Lao siu merninta mereka menyiapkan perahu Dia masuk untuk melaporkan bahwa perahu itu sudah siap," sahutnya santai. "Sekarang baru menyiapkan perahu? Bagaimana mungkin kita bisa mengejar Cun Bwe dan Cu mo mo?" tanya Song Bun Cun Ciek Ban Cing mengelus elus jenggotnya "Nenek jahat dan Cun Bwe sudah jauh sekali Tidak mungkin lagi mengejar mereka tapi Lao siu yakin mereka tentu mempunyai tempat pemberhentian yang tidak terlalu jauh Asal kita dapat menemukan mereka, kemungkinan untuk menolong Lao cengcu pun semakin besar" sahutnya.

"Apakah Ciek Congkoan sudah mempunyai dugaan di mana terppat pemberhentian mereka'?" tanya Song Bun Cun.

"Sekarang masih belum dapat dipastikan Tapi tidak tama lagi tentu kita akan tahu" Nada suaranya seakan yakin sekali.

"Jadi, kapan kita mulai bergerak'?" tanya Song Bun Cun kembali.

Ciek Ban Cing meletakkan kembali cawannya di atas meja. Dia berdiri. "Sekarang kita sudah harus mulai bergerak," sahutnya.

Ucapannya itu sungguh di luar dugaan Song Bun Cun dan Yok Sau Cun Merekaikut berdiri.

"Sekarang juga?" tanya Song Bun Cun heran. Ciok Ciu Lan tertawa merdu.

"Sejak semula aku sudah menduga kalau Ciek Congkoan sudah mengatur segalanya ".

"Lao siu akan menjadi penunjuk jalan" sahut Ciek Ban Cing sambil tertawa lebar.

Song Bun Cun, Ciok Ciu Lan dan Yok Sau Cun mengikuti di belakangnya Mereka ke luar dari Tian Hua san Ceng Dengan cepat mereka sudah sampai di tepi telaga Terlihat sebuah perahu kecil tertambat di tepi telaga tersebut. Dua orang pengawal duduk dibagian depan dan belakang perahu itu.

Ciek Ban Cing menghentikan langkahnya.

"Kongcu, Yok Siangkong, Ciok kouwnio, silahkan naik ke atas perahu ".

"Ciek Congkoan, apakah kita tidak perlu membawa beberapa orang pengawal'?" tanya Song Bun Cun.

"Terlalu banyak orang akan memukul rumput mengejutkan ular. Kita berempat sudah lebih dan cukup," kata Ciek Ban Cing dengan suara linh. Song Bun Cun mengangkat tangannya.

"Badan perahu sangat kecil Mudah sekali tergoncang Lebih baik Ciok kouwnio saja yang naik lebih dahutu," katanya. "Kalau begitu aku tidak sungkan lagi," sahut Ciok Ciu Lan sambil meloncat ke dalam perahu.

Ketiga orang yang lainnya juga mengikuti di belakangnya Perahu itu sangat kecil. Bagian tengahnya juga tidak seberapa lebar, hanya cukup untuk tempat duduk keempat orang itu. Kedua pengawal itu tidak menunggu perintah lagi, mereka segera mendayung dengan cepat ke tengah telaga Tentu saja, Song Bun Cun dapat melihat bahwa Ciek Congkoan sudah mengatur segalanya Cuma dia tidak menjelaskan saja.

"Ciek Congkoan, di dalam San ceng klta banyak matamata Setiap orang ada kemungkman komplotan kaum penjahat itu. Kau menutup mulut se|ak tadi. Sekarang kita sudah sampai di tengah telaga Seharusnya kau sudah boleh menjelaskan rencanamu," kata Song Bun Cun. 

"Sebentar lagi kita akan sampai Tanpa perlu Lao siu mengatakan, kongcu juga akan tahu sentiiri," sahut Ciek Ban Cing sambil tertawa Rupanya dia masih tidak mau mengatakan apaapa Justru semakin mulutnya tertutup, urusan ini semakin membingungkan.

Song Bun Cun ikut tertawa.

"Baiklah. Seandainya Ciek Congkoan , memang sudah mempunyai persiapan yang matang, kami akan menurut saja," katanya.

Wajah Ciek Ban Cing tersipu-sipu.

"Harap Kongcu maafkan Karena urusan ini terlalu besar pengaruhnya, kita harus menyembunyikan jeiak Gerakan kita malam ini mungkin akan menemui berbagai hambatan," sahutnya.

Song Bun Cun tahu bahwa Ciek Ban Cing merasa tidak enak hati.

"Sejak semula aku sudah mengatakan bahwa segalanya terserah kepadamu. Aku tidak akan menanyakan apaapa lagi," katanya maklum.

Ombak menghempas perahu kecil itu maju ke depan Langit dan laut tidak berbeda Kabut berselimut Tampaknya perkiraan bahwa tujuan perahu itu adalah tepi te laga Tai hu, salah besar. Perahu kecil itu hanya mengitan tepian Ma cik san Tentu saja, meskipun disebut tepian, tapi jaraknya paling tidak satu li Dengan demikian, tidak akan kepergok oleh orangorang yang ada di dermaga.

Sekarang mereka melintasi karangkarang yang besar LBJU perahu mulai melambat Song Bun Cun kebingungan Peranan apa yang sedang dimainkan oleh Ciek Congkoan? Bukankah ini Tai Hok Hong atau bagian sebelah barat Ma cik san Sedangkan Tian Hua sang Ceng terletak di bagian tirnur gunung itu. Mengapa harus memUtar demikian jauh hanya untuk mencapai Tai Hok Hong?.

Perahu kecil itu perlahanlahan berhenti di depan sebuah goa batu Salah satu pengawal itu turun dari perahu dan menambalkannya dj sebatang pohon yang agak besar. "Mulai dari sekarang, tidak boleh ada yang membuka suara," kata Ciek Ban Cing dengan suara lirih. Dia memben isyarat dengan tangan agar semua turun dan perahu tersebut.

Song Bun Cun, Ciok Ciu Lan dan Yok Sau Cun menuruti apa yang diperintahkan oleh Ciek Ban Cing. Mereka menoleh ke betakang. Laki-laki itu sendiri belum turun dan perahu Dia berjalan ke bagian buntan Di bukanya sebuah kotak kayu Tangannya menggendong sesuatu yang berwarna hitam pekat Kakinya menutul dan mencelat ke atas permukaan.

Karena hari gelap sekali, dari atas der maga, siapa pun tidak dapat melihat dengan jetas barang apa yang ada di gendongan CieK Ban Cing. Sampai iakilaki naik ke atas, mereka baru tahu bahwa sesuatu yang hitam pekat itu ternyata seekor anjing pelacak.

Sekarang mereka baru mengerti Tentunya sebelum Cun Bwe dan Cu mo mo meninggalkan Tian Hua san Ceng, Ciek Ban Cing sudah mempunyai rencana tertentu. Dia rnemerintahkan salah satu pengawal Tian Hua san ceng untuk rnenyamar sebagal nelayan dan menggunakan sebuah perahu kecil serta menanti di tempat yang tidak terlalu jauh dari telaga tersebut dengan perahu. Cun Bwe dan Cu mo mo sudah menyiapkan perahu untuk melarikan diri. Semua itu sudah dalam perhitungan Ciek Ban Cing. Andaikan mereka hendak menyusupkan kaki tangan, Juga harus naik perahu menuju perkampungan itu. Sebagian besar penduduk disana kebanyakan rnencari nafkah sebagai nelayan, maka rnereka tidak akan menaruh curiga metihat sebuah perahu kecjl hilir mudik df telaga itu Apalagi mereka tidak tahu kalau tindak tanduk mereka telah diawasi oleh Ciek Ban Cing.

Berdasarkan penyelidikan anak buah Ciek Ban Cing, dapat djketahui bahwa tempat pemberhentian komplotan penjahat itu adalah Tai Hok Hong Mereka tinggal melacak daerah sekitar itu Untuk menghindarkan pengintaian musuh, Ciek Ban Cing senga|a menyuruh kedua pengawal itu memutar sampai jauh sekali.

Karena tempat pemberhentian mereka su dah diketahui pekerjaan selanjutnya adalah menemukan markas mereka. Oleh sebab itu,l Ciek Ban Cing sengaja membawa anjing pe, lacak Indera penciuman anjing sangat tajam. Asal dia sudah terlatih dengan baik, maka dia segera akan menelusuri jejak dari bau itu Dengan mengikutinya, tentu markas dia segera akan menelusuri jejak dan bau itu Dengan mengikutmya, tentu markas orang jahat itu akan berhasil ditemukan.

Tidak ada seorang pun yang membuka suara. Di dalam hati mereka tegang sekali Seluruh pertanyaan akan terjawab sebentar lagi Apalagi Ciek Ban Cing sudah member pesan bahwa sampai di tempat ini tidak ads yang boleh bicara.

Ciek Ban Cing menundukkan tubuhnya Belum sampai di tanah, anjing itu sudah me loncat turun. Tanpa disuruh lagi, dia segeri berlari mengikuti bau itu. Tampaknya an|inc itu memang sudah terlatih. Meskipun dia ber lari sambil mengendusendus, tapi dia tidal menimbulkan suara sedikit pun Bahkan se telah berlan' beberapa fama dia menghetikan langkahnya seakan menunggu kedatangan mereka. Ciek Ban Cing juga tidak mengatakan apaapa Dta hanya memberi isyarat dengan tangan agar mereka mengikutinya. Gmkang keempat orang itu sangat tinggi. Tentu saja tidak perlu anjing itu menunggu, mereka selalu mengintil rapat Oteh sebab itu, lan anjing itu makin lama makin cepat Perjalanan di pegunungan itu cukup sempit Batubatu berserakan di sepan|ang jalan, belum lagi ilalang yang tumbuh tinggi Setelah berlan kirakira lima li, di kejauhan teriihat sebuah tembok besar berwarna merah.

Siau hek anjing yang bernama Siau hek (anjtng itu) berlari sambil mengendus ke« sanake mari Mereka melewati hutan kecil lalu menembus sampai di depan pintu kuil Tembok merah yang terlihat tadi ternyata adalah sebuah kuil. Pada waktu itu, kirakira sudah hampir kentungan ketiga Di tengah pegunungan pada tengah malam, tentu saja pintu kuil itu tertutup rapat Siau hek berlari sampai di depan pmtu kuil dan menggarukgaruk kayunya. Mulutnya mengeluarkan suara gonggongan seakan ingin mendobrak pintu kayu itu.

Ciek Ban Cing takut dia mengejutkan orang di dalam Dengan tergopoh-gopoh dia menepuk perlahan kepala anjing itu dua kali. Bibirnya seperti mengucapkan sesuatu Siau hek seakan mengerti apa yang dimaksudkan oleh laki-laki itu Dia mengibas- ngibaskan ekornya dan tidak menggaruk pintu kayu tersebut lagi Muiutnya juga tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Ciek Ban Cing menggendong Siau hek sambil memben isyarat kepada tiga rekan nya yang lain agar meloncati tembok besar itu. Dia mulai dutu, sedangkan yang lain mengikuti gerakannya. Setelah itu, dia rnenurunkan kembali Siau hek ke atas tanah Anjing itu kembali mendengus dan berlari menuju beranda depan kuil tersebut Ciek Ban Cing bernyali besar dan banyak pengalaman Dia bertindak sebagai pemimpin, yang lainnya hanya menuruti apa yang dilakukannya.

Tepat pada saat itu, terdengar sebuah suara yang berat menyapa "Entah apa tujuan empat sicu ini datang ke kuil kecil pada tengah malam begini?".

Ciek Ban Cingtidak menduga di atas batu butat pendopo itu bersembunyi seseorang Hatinya tercekat Dengan cepat dia menolehkan kepalanya. Tampakdi samping se belah kin batu besar, berdiri seorang hwesio linggi besar Kedua tangannya dirangkapkan di depan dada. Sepasang matanya bersinar Datam kegelapan seperti dua ekor kunangkunang sedang menarinari. Ciek Ban Cing segera menjura dalam-dalam.

"Lao siu adaiah Ciek Ban Cing Entah apa nama sebutan toa suhu ini?".

Jejaknya sudah ketahuan Dengan nama besar seperti Kim ka sin. dla tidak dapat berbohong. Hwesio berpakaian abuabu itu lerpana sesaat.

"Rupanya sicu adalah Ciek Congkoan dari Tian Hua san ceng Pinceng Kong Beng Maaf kalau tadi berlaku kurang sopan," sahutnya. Dia trdak menunggu sampai Ciek Ban Cing bicara. Kedua tangannya dirangkapkannya sekali lagi.

"Entah ada keperluan apa Clek Congkoan datang ke kuil kecil ini?". "Lao siu sedang mengejar dua orang jahat," kata Ciek Ban Cing. "Entah siapa yang sedang dikejar oleh Ciek Congkoan?".

Ciek Ban Cing mengelus us jenggotnya. Wajahnya tampak serius,.

"Lao siu toh sudah msngejar sampai keman, rasanya tidak perlu sungkan lagi" Dia berhenti sejenak untuk membasahi ke rongkongannya yang kering "Lao siu sedang mengejar seorang pelayan dan penyala api di dapur kami.".

Kong Beng mengerutkan keningnya.

"Mungkin Ciek Congkoan salah alamat Kuil ini adalah tempat suci. Mana mungkin menyembunyikan budak yang melarikan diri?".

"Lao siu mengejar sepanjang perjalanan Tidak mungkin salah alamat Apakah kepala kuil suhu ada di tempaP" tanya Ciek Ban Cing.

Wajah Kong Beng berubah kaku dan dingin.

"Di kuil ini hanya ada pinceng seorang!" sahutnya ketus. Ciok Ciu Lan mendengarkan suara tawa yang merdu.

"Taisu tampaknya sudah mengetahui kedatangan kaml sehingga menanti di depan kuil," katanya.

Ucapan inl dikeluarkan untuk memperingati Clek Ban Cing bahwa hwesio ini tidak dapat dlpercaya. Kong Beng bukan saja terpana. Untuk sesaat dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia menenangkan hatinya sejenak. ..

"Apa maksud perkataan li sicu ini? Apakah kalian ingin menggeledah kuil pinceng?" tanyanya garang.

Ciek Ban Cing menjura sambil tertawa lebar.

"Tidak salah. Lao siu memang bermaksud demikian," sahutnya. Kong Beng mendengus dingin.

"Tian Hua san Ceng adalah tempat tinggal bengcu yang dipilih kawanan Bulim. Hal im karena selamanya Song loya cu paling menghargai keadilan Ciek Congkoan datang tengah malam ke kuil pinceng ini. Tanpa bukti apa pun hendak menggeledah "Mengrnjak yang lemah dengan kekuasaan. Bagaimana kalau benta ini tersebar di dunia tuar, apakah tidak akan menjadi buah bibir orang banyak?".

"Apabila tanpa bukti, Lao siu juga tidak berani gegabah," sahut Ciek Ban Cing tenang.

Sekilas terlihat hawa kemarahan di mata Kong Beng. Sejenak kemudian lenyap tak berbekas Nyata sekali dia ssorang yang pandai mengendalikan perasaannya. "Kuil ini kecil sekah Lagipula hanya ada pinceng seorang di sini. Tidak mungkin da pat melawan Tian Hua san ceng yang besat dan ternama di kolong Jagad Tetapi di mana pun hacus ada etiket Kalau Ciek Congkoan berkeras hendak menggeledah kuil inii pinceng tentu tidak sanggup melarang Tempat ini kecil sekali. Siiahkan, kalau Ciek Congkoan hendak menggetedahnya Tetapi kalau tidak menemukan apaapa, bagaimana Ciek Congkoan akan memmta maaf kepada pin ceng?".

"Tentu saja Lao siu akan menjura dalam-dalam dan memohon pengampunan taisu," sahut Ciek Ban Cing tegas.

"Tai hu kun bio, meskipun tidak besar, namun merupakan tempat suci Ciek Congkoan mencoreng arang di muka pinceng, walaupun terjun ke sungai Huang ho juga tidak akan bersih untuk selamanya. Untuk apa menjura sambil memohon pengampunan pinceng?".

'Tentunya taisu bukan sedang memperpanjang waktu bukan?" sindir Ciok Ciu Lan.

"Perkataan li sicu salah besar Ciek Congkoan menduga kuil pinceng menyembunyjkan anak gadis Kalau urusan ini sampai tersebar di luaran. Dosa apa pun tidak seberat yang satu ini. Seandainya Ciek Congkoan tidak membiarkan urusan ini sampai terang, bagaimana pinceng dapat mengijinkan dia menggeledah kml ini'?" sahut Kong Beng.

'Apa maksud taisu sebenarnya'?" tanya Ciek Ban Cing.

"Apabila Ciek Congkoan berhasil menemukan orang yang dicari Pinceng bersedia dihukum apa saja Sebatiknya, apabila Ciek Congkoan tidak menemukan apaapa.

Persoalannya sederhana sekali ..".

Tampaknya dia sengaja menghentikan kata-katanya agar mereka penasaran. "Ada kata-kata apa saja, silahkan taisu ketuarkan saja," kata Song Bun Cun. Kong Beng melirik Song Bun Cun sekilas,.

"Siapa sicu ini?" tanyanya.

Sau cengcu dari Tian Hua san ceng," sahut Ciek Ban Cing.

"Bagus sekali Ada majikan muda dari Tian Hua san ceng di sini, maka urusan jadi lebih mudah diselesaikan. Menurut penglihatan pinceng, kedatangan Kongcu ini pasti atas ajakan Ciek Congkoan. Apabila orang yang buron itu tidak berhasil ditemukan, pinceng minta sepasang mata Ciek Congkoan ditinggalkan di sini sebagai tanda terima kasih Tai hu Kun. Tidak berlebihan bukan?" kata Kong Beng sambil tersenyum lebar.

Ciok Ciu Lan mendengus satu kali.

"Taisu adalah jut ke lang (Orang yang sudah menyucikan diri). Mengapa bicara sekeji itu'?" sindirnya. "Omitohud!" Kong Beng merangkapkan sepasang tangannya.

"Menuduh kuil yang suci menyembunyikan kaum perempuan, apakah itu tidak lebih keji'?".

"Baiklah. Lao siu terima persyaratan taisu'" kata Ciek Ban Cing.

"Apakah Ciek Congkoan tidak akan menyesal'?" tanya Kong Beng dangan bibir menyunggingkan senyuman licik.

"Siapa memang Ciek Ban Cing'? Kata-kata yang sudah Lao siu ucapkan, selamanya tidak pernah disesali!" sahut Ciek Ban Cing tegas.

Kong Beng mundur selangkah. Tangannya dirangkapkan dj depan dada.

"Ucapan seorang laki-laki sejati, kuda tercepat pun tidak sanggup menyandaknya Ciek Congkoan, silahkan.".

"Ciek Congkoan .." panggil Song Bun Cun dengan iflaksud mencegah.

"Kongcu tidak perlu mengatakan apaapa lagi Cari kedua orang itu lebih penting," sahut Ciek Ban Cing. Dia menggapaikan tangannya Siau hek segera berlan masuk ke ruangan dalam Semestinya dia ingin meneriang sedari tadi, tapi karena Ciek Ban Cing menghentikan langkah kakinya, jadi dia ikut berhenti juga. Sekarang dia melihat Ciek Ban Cing menggapaikan tangannya Dengan ekor digoyanggoyangkan dia berlari ke dalam.

"Rupanya Ciek Congkoan membawa seekor binatang sebagai penunjukJalan'" kata Kong Beng ketus.

Ciek Ban Cing tidak memperdulikan dirinya. Langkahnya diperlebar dan mengikuti kemana Siau hek pergi Song Bun Cun, Ciok Ciu Lan dan Song Bun Cun juga mengikuti di belakangnya. Kong Beng berada di urutan terakhir.

Siau hek mendengus sambil mencaricari. Dia tidak pernah berhenti. Setelah melewati pendopo belakang, mereka sampai di halaman besar yang terdapat sebuah sumur di tengahtengahnya. Di sana ada sederetan rumah kecil yang biasa digunakan sebagai gudang penyimpanan kayu bakar dan dapur.

Di bagian barat sumur ada sebuah pintu kayu Pintu itu digembok dengan sebuah rantai besi. Tampaknya pintu itu sudah lama tidak pernah dibuka orang, karena rantai dan gemboknya sudah karatan Siau hek berlari menuju pintu kayu tersebut dan menggarukgaruk dengan kuku jarinya.

Ciek Ban Cing menghentikan langkah kakinya Dia menoleh ke belakang. "Taisu, di luar pintu ini tempat apa?" tanyanya.

"Di situlah terletak pegunungan di belakang kuil," sahut Kong Beng. "Mohon taisu mambukanya sebentar," kata Ciek Ban Cing.

"Bukankah Ciek Congkoan hendak menggeledah kuil pinceng? Lewat pintu ini merupakan Tai Hok Hong. Batas kuil pinceng hanya sampai di sini," sahut Kong Beng acuh tak acuh.

"Tolong bukakan agar lao siu dapat melihatnya sendiri!" kata Ciek Congkoan berkeras.

Kong Beng tertawa seram.

"Kemungkinan Ciek Congkoan tidak blsa melihatnya lagi'" sahutnya. "Mengapa?" tanya Ciek Ban Cing.

"Bukankah pmceng tadi sudah mengataKannya dengan jelas? Belakang gunung bukan batas kuil ini lagi. Ciek Congkoan tidak berhasil menemukan orang yang dicari Bukankah sepasang matanya sudah seharusnya diserahkan kepada pinceng^" sahut Kong Beng sinis.

Ciek Ban Cing marah sekali.

"Apakah taisu tidak bersedia mernbuka pintu ini?".

"Bukankah Ciek Congkoan sendiri yang ingin menglngkar janJi'?" sahut Kong Beng tak mau kalah gertak.

"Benarkah gunung di belakang ini tidak termasuk witayah kuil taisu?" tanya Song Bun Cun.

"Bukanl" sahut Kong Beng.

"Bagaimana kalau buronan itu melarikan diri dari tempat ini'?" tanya Ciok Ciu Lan,.

"Gunung di belakang kuil ini tidak ada jalan tembus ke manamana," sahut Kong Beng santai.

Ciok Ciu Lan tertawa dingin.

"Kalau benar gunung di belakang im tidak ada jalan tembus. Untuk apa dibuat sebuah pintu serta dirantai ketat seperti ini? Seandainya buntu, toh kuil kalian sudah membuat pintu kayu ini, berarti masih termasuk witayah Taihu Kun bio. Taisu tidak bersedia membuka pmtu, tentunya ada yang disembunyikan bukan?" sindirnya.

"Buat apa pinceng menyembunyikan sesuatu? Pintu ini sudah lama tidak pernah dibuka, katau cuwi memaksa ingin melihat, putuskan saja rantai gembok itu," sahut Kong Beng sambil mendengus.

Ciek Ban Cing tidak berkata apa apa lagi. Tangannya diputar rantai gembok itu putus seketika Di tangannya terdapat kotoran-kotoran karat dan rantai tersebut Dia sama sekali tidak msmperdulikan Siau hek langsung berlari ke dalam.

Di luar pintu terdapat sebuah tanah yang luas. Rumput-rumput tinggi tumbuh dengan liar Ternyata memang sudah di luar batas Tai hu Kun bio, kecuafi sebuah bukit tinggi bertanah merah yang tampaknya licin sekali Meskipun orang mempunyai ginkang tinggi pasti susah untuk mendakinya Di hadapan bukit itu, terdapat dua buah tembok batu yang panjang dan rendah Kemungkinan besar digunakan sebagai tempat benstirahat orangorang kuil.