Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 09

 
Jilid 09

"Sekarang totokan Yok Siangkong dipindahkan pada bagian tulang pinggul Tiong kouwnio. Dan Tiong kouwnio harus menotok bagian pusar nona Ciok itu." Seng mia lo kembaii memberikan petunjuknya. Setelah beberapa lama, terdengar suara Seng mia lo kembaii "Sudanselesai Sekarang kalian boleh berdiri".

Yok Sau Cun segera bangkit dari tanah. Dia memandang tukang ramal itu. "Lao cang, apakah hanya demikian saja'?" tanyanya.

Begitu totokan ian Yok Sau Cun lepas dan tubuhnya. Tiong Hui Ciong merasakan hawa panas itu pun menyurut seketika Dia merasa malu sekali Wajahnya merah padam Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia segera bangkit dan berjalan keluar.

"Selamat jalan, Tiong kouwnio." kata Seng mia lo Dia menoleh kepada Yok Sau Cun. "Jangan kau lihat wajahnya begitu kaku, sebetulnya hati gadis itu penuh kehangatan ".

Yok Sau Cun tenngat kembaii tindak tanduknya kepada gadis itu tadi Wajahnya jadi merah Beketika Dia segera mengalihkan pokok pembicaraan.

"Lao cang, adik cayhe .".

"Tidak usah cemas,' kata Seng mia lo sambit menarik tangan pemuda itu dan mengajaknya duduk di atas tanah. '"Adik Siangkong hanya terkena serangan Ce sat ciang Dengan bantuan ilmu Kim heng ciang dan Tiong kouwnio, sekarang masalahnya sudah selesai Biarkan dta tidur semalaman. Esok pagi tentu semua penderitaannya sudah tidak terasa lagi".

Yok Sau Cun merasa terima kasih sekali atas bantuan tukang ramal itu Dia berdiri dan menjura beberapa kali.

"Terima kasih, Lao cang Seandainya malam mi ...".

Tangan Seng mia lo memberi tanda agar dia jangan berkata lagi.

"Kita tidak usah sating berterima kasih. Rasanya risih mendengar katakata itu Lagipula Lao kokomu ini juga hanya menerima perintah orang lain.".

Yok Sau Cun terpana.

"Menerima perintah dari orang lain? Siapa?" tanyanya heran. Seng mia lo mengangkat bahunya Dia tersenyum tipis.

"Selain Suhu, siapa lagi di duma ini yang dapat memerintah aku'?".

"Entah Cianpwe mana yang menjadi Suhu Lao cang?" tanya Yok Sau Cun.

"Siau hengie, bolehkah jangan sedikitsedikit memanggil aku Lao cang''' Makin lama aku merasa semakin tua saja," sahut Seng mia lo sambil tertawa cekikikkan. Ketiga jar'r tangannya kembali meraba hidungnyayang pesek. Entah bagimana, tiba tiba saja hidung itu terlepas dan jatuh ke tanah, Seng mia lo menjerit seakan terkejut.

"Celaka' Hidungku copot'" serunya.

Tadinya Yok Sau Cun tidak memperhatikan apa yang dimaksudkan. Keadaan dalam kuil itu memang sangat gelap Setelah melihat dengan seksama, dta baru menyadari bahwa hidung pesek Seng mia lo itu palsu. Dia sempat menoleh kepada tukang ramal itu. Sekilas sempat dilihatnya sebuah hidung vang mancung, tapi dengan cepat Seng mia lo memungut kembali hidung palsunya dan memasangkan ketempatnya semula.

"Rupanya Lao cang sedang menyamar, tetapi. .".

"Ssssttt!!'" Seng mia lo meletakkan Jari telunjuk di ujung bibirnya Dia berkata dengan nada barbisik "Di luar masih ada seseorang. Biar aku mengusirnya dulu baru kita berbicara lagi" Tanpa memberi kesempatan kepada Yok Sau Cun untuk bertanya, dia segera melangkah keluar dari kuil tersebut.

"Si mulut emas ini sungguh aneh Entah siapa dia sebenarnya?" kata Yok Sau Cun dalam hati. Tidak lama kemudian, terlihat Seng mia |o telah masuk kembali.

"Tadi aku meminta Hun Bu Pao menjaga di luar Sekarang aku sudah menyuruh dia pergi," katanya.

"Lao cang...".

"Lao cang lagi panggil aku Lao koko sudah cukup," tukas Seng mia lo.

"Kalau memang demtkian kemauanmu, baiklah cayhe akan panggil kau Lao koko saja," sahut Yok Sau Cun.

Seng mia lo tertawa lebar.

"Begitu kedengarannya lebih enak,'.

"Lao koko tadi mengatakan bahwa mendapat perintah dan Suhu Apakah maksud nya untuk menolong adik cayhe'?" tanya Yok Sau Cun.

"Menolong nona itu, sebetulnya hanya kebetulan saja. Suhu menyuruh aku mencan mu," sahut Seng mia lo.

"Mencarl aku?" tanya Yok Sau Cun kebingungan "Ada keperluan apa prang tua itu mencan aku'?".

"Siau hengte, apakah kita dulu pernah saling kenal?". "Rasanya tidak'" sahut Yok Sau Cun.

"Apakah aku mengenal engkau?". "Tentu saja kau juga tidak kenal cayhe," sahut Yok Sau Cun.

"Nah, kau tidak mengenal aku, aku |uga tidak pernah mengenal engkau Apakah kau masih belum mengerti?" tanya Seng mia lo.

"Kalau demikian, Suhu Lao koko can cayhe tentu ada keperluan penting," sahut Yok Sau Cun.

"Kau memang cerdas. Betul aku mendapat perintah dan Suhu untuk mencarimu. Dia mengutus aku untuk mengajarkan sejurus ilmu silat kepadamu' kata Seng mia lo tersenyum.

Kata-kata itu sungguh di luar dugaan Yok Sau Cun Suhu Lao koko im mengutusnya untuk mengajarkan sejurus ilmu silat. Mengapa dia harus mengafarkan ilmu silatnya kepadaku? Yok Sau Cun benar-benar heran. Dia ingin menanyakan hal tersebut kepada Seng mia lo. Tapi betum sempat dia membuka mulut, tukang ramal itu sudah memberi isyarat agar jangan memotong perkataannya.

"Bukankah siau hengte ingin menyempurnakan sebuah keinginan Suhumu?". Yok Sau Cun terpana. "Bagaimana Lao koko bisa tahu?" tanya Yok Sau Cun. "Tentu saja Suhu Lao koko yang membentahukan," sahut Seng mia lo.

Tiba-tiba saja Yok Sau Cun teringat ketika dia berpisah dengan suhunya, di tengah jalan dia bertemu dengan orang tua yang rambutnya sudah memutih semua. Dia sendiri datang ke Tian Hua san ceng juga atas petunjuk orang tua tersebut. Hatinya segera tergerak.

"Suhu Lao koko itu, apakah orang tua yang berusia sekitar tujuh puluhan? Rambutnya sudah memutih, wajahnya seperti anak-anak, di dagunya terdapat jenggot hatus dan tangannya memegang sebuah tongkat rotan?" tanyanya.

"Betul, betul. Tepat sekali," sahut Seng mia lo "Aku sudah mengatakan bahwa kau past! akan mengenallnya Bukankah sekarang kau sudah teringat kembali?".

"Cayhe dan orang tua itu hanya pernah bertemu satu kali. Sama sekali belum mengenal dengan baik," kata Yok Sau Cun.

"Kau dan aku juga tadinya tidak saling mengenal Ini yang dinamakan It hue seng, liong hue suk, pertama masih asing, pertemuan kedua tambah akrab.".

"Mengapa Suhumu ingin mengajarkan seJurus ilmu silat kepada cayhe?".

"Aih ..." Seng mia lo menarik nafas panjang "Untuk memenuhl keinginan Suhumu, hanya dapat dikabulkan oleh Song Ceng San, sedangkan syaratnya adatah kau harus sanggup menenma satu jurus ilmu pedangnya Betul tidak'".

Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya. "Bukankah hal ini sudah jelas? Suhu Lao kokomu ini sengaja mengutus aku mengajarkan sejurus ilmu silat kepadamu Asa! kau sudah berhasil mempelajannya, diJamin kau akan sanggup menerima serangannya itu," kata tukang ramal itu sambil tersenyum lebar.

Yok Sau Cun menggelengkan kepalanya dengan sedih.

"Tidak ada gunanya Song loya cu sekarang sedang sakit Dia terserang racun jahat," sahutnya.

"Soal kecil. Lao koko punya obat pemunah racun," kata Seng mia lo. Sekali lagi Yok Sau Cun menggelengkan kepalanya.

"Obat biasa percuma juga. Song loya cu terserang racun pembuyar tenaga" sahutnya. 'Obat milik Lao koko justru untuk memunahkan racun pembuyar tenaga.".

Wajah Yok Sau Cun cerah seketika mendengar keterangan itu.

"Benarkah obat Lao koko adalah untuk memunahkan racun pembuyar tenaga? Kau tidak bohong?" tanyanya beruntun.

"Dalam separuh hidupku, memang aku lebih banyak berkelana di duma kangouw. Pekerjaan meramal adalah permainan menipu. Tapi kau adalah Lao koko punya siau hengte. Coba kau pikir, mana boleh kakak mem bohongi adiknya?".

Seng mia !o segera merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil Dia menyodorkan kehadapan Yok Sau Cun.

"Lihat.. . Bukankah ini obat pemunah racun pembuyar tenaga'?". "Lao koko ternyata tidak berbohong," sahut Yok Sau Cun riang. Seng mia lo tertawa sumbang.

"Sebetulnya bukan kepunyaan Lao koko. Dia berhenti sejenak. "Biarlah Lao koko mengaku terus terang Lao koko merogohnya dari saku orang lain.".

"Merogoh dari saku oran' lain'?" tanya Yok Sau Cun bingung.

"Sebetulnya obat ini kepunyaan Tiong kouwnio. Tadi secara diamdiam aku mengambil dari saku bajunya " sahut Seng mia lo sambil tertawa cekikikan,.

"Begini baru jelas. Cayhe sedang berpikir, Lao koko tidak pernah menggunakan racun, bagaimana bisa mempunyai obat pemunah?".

Seng mia lo menyerahkan obat itu kepada Yok Sau Cun.

"Siau hengte, sebaiknya kau serahkan obat pemunah racun ini supaya dapat diminum oleh Song loya cu, kemudian kau memmta bertandmg sekali lagi. Asa! kau dapat menenma satu jurus ilmu pedangnya. Bukankah permintaan Suhumu akan terkabul?".

Yok Sau Cun menerima botol obat itu dan menyimpannya baik-baik Terima kasih, Lao koko," katanya.

'Mari! Sekarang Lao koko akan mengajarkan kau satu jurus ilmu silat." Dia segera berdiri Tangannya memegang pedang kayu. Dia menggapai kepada Yok Seu Cun agar mendekatinya. "Lihat baikbaik Lao koko akan memberi contoh kepadamu".

Pedang kayu di tangannya terulur lurus ke depan Sinar pedang membuat bayangan- bayangan Pergelangan tangannya diputar setengah melingkar. Dengan cepat ditarik kembali.

"Hanya begitu saja'?" tanya Yok Sau Cun termangu-mangu. Mata Seng mia lo yang sipit melotot.

"Begitu saja? Coba kau mainkan agar aku lihat" Dia segera menyodorkan pedang kayunya kepada Yok Sau Cun Pemuda itu kurang percaya, tapi dia menerima juga pedang yang disodorkan tukang ramal tersebut Dia mengikuti gerakan yang dilakukan Seng mia lo tadi.

"Begini bukan?" tanyanya.

Seng mia lo mengerutkan keningnya sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Hm . . Masih beda jauh masih beda jauh".

"Entah bagian mana yang salah?" tanyai Yok Sau Cun.

"Persis seperti orang menirukan gambar Misalnya sama-sama gambar pemandangan laut, yang kau gambar hanya mirip laut saja.

Sedangkan gambar yang dibuat orang lain begitu hidup. Kita seperti melihat laut Sungguhan dengan kapal berlayar di tengahnya. Mengertikah kau? Apa yang kau gambarkan memang mirip, tapi tidak cukup hidup," sahut Seng mia lo.

Yok Sau Cun terpana. Dia segera menJura dalam-dalam.

"Apa yang Lao koko katakan memang benar. Cayhe belum paham betul, harap Lao koko bersedia menjelaskan lebih terperinci," katanya.

Seng mia lo tersenyum lebar. Dia menganggukkan kepalanya.

"Tentu aku akan menjelaskannya. Tadi kau sudah lihat cara gerakan yang aku lakuhan, bahkan kau sudah menirunya hampir benar. Sekarang kita duduk dan berbincang-bincang," katanya sembari menarik tangan Yok Sau Cun duduk di tanah.

Dengan suara berbisik, dia menjelaskan sekali lagi secara lengkap. Dia mengulangi beberapa kali dan kadang-kadang menanyakan pemuda itu kalau ada bagian yang belum dipahaminya Juga mengenai perubahanperubahan ilmu tersebut. Yok Sau Cun pernah diajari Suhunya berbagai macam ilmu dari segala partai besar di dunia Bulim Dengan cepat dia dapat mencernakan semua itmuitmu itu. Tentu dapat diperkirakan sampai di mana kecerdasan otaknya Tetapi, setelah mendengar keterangan dan Seng mia lo tentang ilmu yang diajarkannya ini, dia baru sadar bahwa sejurus ilmu yang kelihatannya begitu sederhana, ternyata dapat mengalami begitu banyak perubahan. Dan sekian banyaknya ilmu silat berbagai perguruan yang dipelajari oleh Yok Sau Cun, dia merasa tidak ada satu pun yang lebih ajaib dari yang satu ini.

Yok Sau Cun bertekad mengingatnya dengan seksama Dalam waktu dekat la sudah harus menguasainya Dengan niat yang besar, dia segera mencurahkan perhatian sepenuhnya terhadap apa yang dikatakan oleh Seng mia lo.

Tukang ramal itu telah selesai mengurai kan semua pelajaran tentang jurus itu. Dia memandang ke arah Yok Sau Cun dengan tatapan menyelidik.

"Siau hengte, apakah kau sudah mengingat semuanya''". "Cayhe sudah hapal luar kepala," sahut Yok Sau Cun.

"Apakah kau sudah dapat memainkannya dengan balk'?" tanya Seng mia lo.

"Cayhe belum berani mengatakan dapat. Hanya apa yang telah Lao koko ajarkan, akan cayhe pelajari dengan tekun," sahutnya.

"Bagus sekali!" Seng mia lo menguap lebar. "Kafau siau hengte memang sudah mengingatnya baik baik, maka pelajarilah sendiri. Lao koko sudah mulai mengantuk, ingin istirahat sejenak." Dia meletakkan pedang kayunya di atas tanah. Tanpa memperdulikan Yok Sau Cun lagi, dia segera membalikkan tubuh dan berjalan ke balik patung pemujaan.

Yok Sau Cun pun ikut berdiri Dia memungut pedang kayu yang diletakkan oleh Seng mia lo tadi Dia berjalan keluar dari kuil tersebut dan berlatih seorang diri di samping sumur Dia memamkan itmu itu sambil mengingat-ingat apa yang dikatakan oteh tukang ramal tersebut.

Dengan giat dia berlatih Semakin lama dia semakin merasakan kesulitan dalam mempelajari ilmu itu. Satiap gerak tangan atau kakinya berganti haluan, ia selalu merasakan ada sesuatu yang menghalangmya, sehingga ia tidak sanggup meneruskan dan harus mengulang dari muta. Namun Yok Sau Cun tidak putus asa Dia tetap melanJutkan latihannya Entah berapa sudah berlalu, permainan makin matang. Satu demi satu penghalang dapat dilewatinya. Dia mulai paham apa yang harus dilakukan Rupanya ilmu yang diajarkan Seng mia lo itu memang memerlukan konsentrasi penuh. Asai pikiran terpusat pada ilmu itu saja, rnaka yang mempelajarinya akan dapat memainkan dengan baik Perubahan ilmu itu sendiri seperti tidak ada habishabisnya. Dia semakin kagum terhadap orang tua berwajah anak-anak yang menJadi suhu Seng mia lo Tepat pada saat itu, terdengar suara tertawa tukang ramal itu. "Siau hengte, sudah cukup Sudah cukup Waktu sudah larut sekali, lebih baik kau istirahat saja," katanya.

Yok Sau Cun menyimpan kembali pedang kayu yang dipakainya.

"Terima kasih atas petunjuk yang diberikan Lao koko. Cayhe sangat bodoh. Belajar selama satu kentungan lebih, juga belum terlihat hasil yang memuaskan," sahutnya sambil menjura.

Seng mia lo tersenyum sembari memeluk tangan.

"Siau hengte, Lao koko harus mengakui mata Suhu orang tua memang tidak salah. Ilmu silat ini, ternyata dapat kau pahami dalam waktu yang singkat. Teringat Lao koko sendiri waktu diajarkan oteh Suhu, sampai tiga hari tiga malam, baru mulai mengerti sedikitsedikit Suhu sampai mencak-mencak karena marah. Hampir saja Suhu menyuruh Lao koko berhenti berlatih. Sedangkan kau hanya memerlukan satu kentungan lebih, sudah hampir matang keseluruhannya".

"Kalau bukan petunjuk yang berharga dari Lao koko, belum tentu cayhe mengerti meskipun dalam sepuluh han," sahut Yok Sau Cun merendahkan diri.

"Man, kau juga butuh istirahat," kata Seng mia lo.

Malam berlalu dengan cepat. Fajar telah menyingsing. Telinga Yok Sau Cun menangkap sebuah suara yang merdu.

"Eh. Bagaimana aku bias tidur ditempat ini?".

Yok Sau Cun membuka kedua matanya. Hari sudah terang. Ciok Ciu Lan berdiri di sampingnya. Wajahnya yang hitam manis menyiratkan sedikit rona merah. Ada dua buah lekukan berupa lesung pipit di kedua pipinya Matanya bersmar bening Ada kesan kebingungan tersirat dari sepasang bola mata itu.

"Yok Siangkong, tempat apakah ini?" tanyanya. Yok Sau Cun bangkit dan menegakkan tubuhnya. "Ciok kouwnio, apakah lukamu sudah sembuh?".

Dia tidak menjawab pertanyaan Ciok Ciu Lan, malah dia balik bertanya Gadis itu me mandangnya dengan heran.

"Luka? Aku baik-baik saja," sahutnya.

"Syukurlah kalau sudah baik," kata Yo Sau Cun. Dia menolehkan wajahnya dan celingukan kesana kemari "Eh, dimana Lao koko? Kemana dia?" Dia segera melangkah '"keluar dengan maksud mencari Seng mia lo. Ciok Ciu Lan melepaskan Jubah luar yang 'dipakai Yok Sau Cun untuk menyelimutinya tadi malam Disodorkannya jubah itu kepada si pemuda. "Pakailah. Cuaca pagi sangat dingin, nanti kau masuk angin.".

Yok Sau Cun menyambut jubah itu. Dia cepatcepat mengenakannya dan benalan

^keluar dengan langkah lebar Dia memperhatikan keadaan sekitar situ. Tidak tampak bayangan Seng mia lo.

"Rupanya dia sudah pergi," gumamnya seorang diri.

Ciok Ciu Lan yang mengikuti di belakangnya tambah bingung. "Siapa Yok Siangkong mahsudkan?" tanyanya.

"Ingatkah kau tukang ramal yang kita temui kemarin siang yang julukannya si mulut emas?".

"Tentu saja ingat Untuk apa kau menyebutnyebut namanya?".

"Untung saja kemarin malam ada dia disinii. Laki-laki itu ternyata mempunyai ilmu yang tinggi. Dia berhasil melumpuhkan Tiong kouwnio dan memaksanya mengobati, dirimu. Kalau tidak, celakalah," kata Yok Sau Cun.

"Eh...!" seru Ciok Ciu Lan. "Aku teringat sekarang. Tadi malam aku bertarung dengan Yu Kim Piau Dia berhasil melukai aku dengan Ce sat ciang. Kemudian .. kemudjan aku tidak ingat apa-apa lagi.".

"Pada saat itu kau sudah tidak sadarkan diri. Kadua matamu terpejam rapat Wajahmu barwarna hijau menakutkan Aku menggendongmu meninggalkan tempat itu Aku sendjri tidak tahu harus berbuat apa. .".

Ciok Ciu Lan yang mendengar Yok Sau Cun mengatakan 'aku menggendongmu' tanpa sadar wajahnya jadi merah padam Dja menundukkan kepalanya.

"Kamudian aku teringat kata-kata tukang ramal itu. Apabila kau menemui kesulitan maka kau harus mengambil arah barat. Wak tu itu aku benar-benar kebingungan.

Secara serampangan aku menuruti kata-katanya ". Ciok Ciu Lan tertawa geli.

"Lalu?" tanyanya.

Yok Sau Cun menceritahan kembali apa yang terjadi tadi malam Namun ada bebeTapa bagian yang ditutupinya Misalnya, Seng mia to meminta dia menotok tujuh jalan darah bagian peka Tiong kouwnio Dia hanya mengatakan bahwa Seng mia lo memaksa gadis itu menyembuhkannya. Tentu saja Ciok Ciu Lan percaya penuh. Dia tidak curiga apa-apa.

"Kalau begitu, ilmu kepandaian Seng mia !o memang sangat tinggi Dia sengaja menyamar sebagai tukang ramai pinggir jalan. Sayang sekali dia pergi secara diamdiam. Aku belum sempat ber rima kasih kepadanya.". "Sebetulnya dia ditugaskan Suhunya untuk mencari aku.". "Siapakah Suhunya? Untuk apa mencarimu?" tanya Ciok Ciu Lan.

"Tidak tahu." Sekali lagi Yok Sau Cun menceritakan kejadian ketika la berpisah dengan suhunya, di mana dia bertemu dengan orang tua yang memberi petunjuk supaya dia datang ke Tian Hua san ceng dan mencari Song loya cu Seng mia lo adalah murid orang tua itu. Dia mengatakan bahwa dirinya ditugaskan mengajarkan sejurus ilmu silat kepadanya Kejadian ini semua dicentakan olehnya tanpa menutupi sedikit pun.

Wajah Ciok Ciu Lan menunjukkan keriangan hatinya. "Apakah kau sudah berhasil mempelajari ilmu itu?" tanyanya. Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya.

"Hanya dapat dikatakan baru bisa Belum mendalami sepenuhnya". "Apakah kau tahu nama orang tua itu? tanya Ciok Ciu Lan. "TIdak tahu " sahut Yok Sau Cun.

"Kalau begitu, bagaimana dengan Seng mia lo si Mulut Emas? Apakah kau me nanyakan siapa nama aslinya?".

Yok Sau Cun terpana mendengar perta nyaan itu. "Cayhe tidak menanyakannya".

Ciok Ciu Lan mengerlingnya sekilas Mulutnya cemberut.

"Bagaimana kau ini'? panggil orang Lao koko segala, sedangkan namanya pun tida ditanyakan? Apakah tidak terlalu ceroboh gerutunya.

Yok Sau Cun menundukkan kepatany dengan tersipusipu.

"Aih, cayhe benar-benar ceroboh Aku selalu menganggap Mulut emas sebagai namanya Sungguh keterlaluan " sahutnya.

"Cepat basuh mukamu Kita harus segera berangkat, toh kau sudah mendapatkan obat pemunah racun pembuyar tenaga, lebih baik kita antarkan sekarang juga," kata Ciok Ciu Lan.

"Tetapt ilmu jurus yang diajarkan oleh Seng mia lo, cayhe belum melatihnya sampai matang,' sahut Yok Sau Cun.

"Kirakira berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk melatihnya sampai cukup

»empurna?" tanya Ciok Ciu Lan. "Sulit dipastikan Mungkin satu, dua atau bisa juga tiga hari ".

"Bagaimana kalau setengah hari saja? Nah, lekas kau berlatih Aku akan keluar untuk melihat lihat desa sekitar sini Fasti ada rumah petani Mudah-mudahan ada daging atau sayuran yang dapat kubeli".

“Kau.. ".

"Tidak apa-apa. Aku hanya pergi sebenar Nanti juga kembali," sahut Ciok Ciu Lan mengerti kecemasan pemuda itu.

Harap hati-hati" kata Yok Sau Cun mengingatkan. Ciok Ciu Lan geli melihat sikap pemuda itu.

"Aku sudah ikut Jbu berkelana di dunia kangouw sejak kecil Mana mungkin bisa hilang begitu saja?" sahutnya.

Yok Sau Cun terpaksa menganggukkan kepalanya Ciok Ciu Lan segera membalikkan tubuh dan meninggalkan kuil tersebut Pemuda itu memandanginya sampai meng hilang di tikungan jalan. Dia menuju surnui yang terdapat di halaman depan.

Dibasuhnya muka sampai bersih. Kemudian dia mengeluarRan pedang lentur pemberian Ciok Ciu Lan dan mulai berlatih.

Pada dasarnya o+ak Yok Sau Cun me mang cerdik. Tadi malam dia sudah mutat paham ilmu itu, sekarang dia tinggal meng ulanginya kembali. Namun hetika dia meng ulang beberapa kali, dia menyadari bahwa ada beberapa perubahan baru lagi yang di temukannya. Sekali lagi dia mengulangi ju rus itu, kembali ada beberapa perubahai baru yang didapatkannya Pokoknya ilm silat yang diajarkan oleh Seng mia lo i sangat ajaib Perubahan demi perubahan terjadi tanpa habishabisnya. Yang penting pikiran tidak boleh bercabang dan harus konsentrasi penuh. Seakan ilmu itu msmbuat perasaannya tidak pernah dapat menamatkan pelajaran jtu karena setiap saat ilmu tersebut akan membuat ia merasa seperti memasuki dunia baru. Yok Sau Cun terlena dalam latihannya. Dia sampai lupa waktu Tahutahu keringat telah membasahi seluruh tubuhnya. Dan dia menghentikan latihan tersebut. Tangannya mengusap keringat yang masih menetes Pedang lenturnya digulung kembali Dia baru sadar bahwa entah sejak kapan Ciok Ciu Lan duduk dj batu dan memandanginya Di sampingnya terdapat sebuah keranjang. Tanpa sadar dia ter tawa.

"Ciok kouwmo, cepat banar kau kembaii," katanya.

Gadis itu ikut tersenyum dengan iembut. Dikeluarkannya sebuah sapu tangan dari saku bajunya dan disodorkan ke hadapan pemuda itu.

"Cepat keringkan keringatmu Sudah waktunya untuk istirahat".

Yok Sau Cun menghapus keringatnya dengan sapu tangan yang diberikan oleh Ciok Ciu Lan. Hidungnya mencium serangkum hawa yang harum Dia menjadi tidak enak hati. "Tubuh cayhe penuh kenngat Tentu sapu tangan Ciok kouwnio menjadi bau asam Sungguh tidak enak. Biar cayhe cuci dulu sampai bersih," katanya.

Ciok Ciu Lan segera merampas sapu tangan tersebut dari tangan Yok Sau Cun dan memasukkannya kembali ke dalam saku.

"Siapa yang suruh kau cuci? Hari sudah siang. Nasi dan sayuran tentunya sudah dingin Man kita makan dulu " a|ak gadis itu.

"Sudah siang'?" Dengan bingung Yok Sau Cun menatap ke atas langit. Siapa yang bilang bukan, sekarang pasti sudah lewat dan tengah han, karena matahari sudah lewat dari batas kepala "Ternyata sudah siang hari, aku mengira masih pagi saja " Ciok Ciu Lan mencibirkan bibirnya. "Aku sudah berjalan sejauh tiga li, baru berhasil menemukan rumah seorang petani. Kubeli seekor ayam lalu memmjam panel mereka untuk memasak nasi. Setelah itu merebus ayam kembaii ke sini, sudah tengah han Kulihat kau berlatih dengan sepenuh hati Aku tidak berani mengganggunw. Aku duduk di tangga batu ini kira kira setengah jam. Coba kau hitung, kirakira sudah pukul berapa saat ini?" tanyanya.

"Mengapa kau tidak memanggi! cayhe?" "Meskipun ilmu pedangku masih cetek sekali Namun aku bisa melihat bahwa kau tadi sedang memusatkan perhatian penuh pada latihanmu Aku takut mengacaukan pikiranmu Lagipula, obat pemunah itu sudah kau dapatkan. Lebih baik selekasnya kita serahkan pada Song loya cu Setelah sampai di Tian Hua san ceng kau tidak mungkin berlatih lagi Oleh karena itu, waktumu tidak banyak Paling baik kalau bisa berhasil secepatnya," kata Giok Ciu Lan.

Dia membuka keranjang yang terletak disampingnya. Dikeluarkannya dua buah mangkok dan dua pasang sumpit. Seekor ayam rebus yang gemuk. Betasan butir telur dan semangkok sayuran. Disendoknya nasi ke dalam sebuah mangkok dan disodorkannya kepada Yok Sau Cun.

"Terima kasih, Ciok kouwnio,'' kata pemuda itu.

Ciok Ciu Lan juga menyendokkan semangkok nasi untuk dirinya sendiri. "Bukankah aku juga perlu makan? Untuk apa berterinna kasih?".

Perut Yok Sau Cun memang sudah lapar sekali Keduanya makan dengan cepat Setelah selesai, Ciok Ciu Lan merapikan kembali sumpit dan mangkok bekas pakai itu. Dimasukkannya kembali ke dalam keranjang.

"Apakah kau masih harus mengembalikan semua ini?" tanya Yok Sau Cun. "Tidak pertu Aku memberi mereka lima tail uang perak Semuanya sudah dihitung.

Kalau latihanmu masih belum cukup matang, sisanya masih cukup untuk makan kita ma lam nanti," sahut Ciok Ciu Lan.

"Ciok kouwnio sungguh sigap. Semua sudah diperkirakan dengan matang ilmu ini mungkin perlu setengah hari latihannya sudah cukup.".

Tidak perlu tergesa-gesa Ilmu pedang Song loya cu sudah diakui kehebatannya 'oleh delapan partai besar. Untuk menerima 'satu jurus ilmu pedangnya, tidak semutfah [yang diperkirakan Persoalan ini menyangxut keinginan hati Suhumu selama berpuluh Tflhun. Kau tidak boleh menganggap remeh. Seandainya ilmu itu sudah kau kuasai Tidak ada salahnya berlatih lagi sampai sempurna Oengan demikian berarti kau tidak menyia-nyiakan harapan Suhumu. Menurut pendapatku, lebih baik kita tinggal semalam lagi di tempat ini. Besok kita berangkat juga masih keburu," sahut Ciok Ciu Lan.

Yok Sau Cun menjura dalam dalam.

"Apa yang Ciok kouwnio katakan memang tepat. Kau sungguh memahami diriku," katanya.

Wajah Ciok Ciu Lan merah padam. Dia memandang Yok Sau Cun dengan lembut dan bertanya dengan suara lirih.

"Benarkah aku begitu memahami dirimu?.

“Mengapa kau masih selalu memanggil aku dengan panggilan Ciok kouwnio'?". Yok Sau Cun termangu-mangu mendengar pertanyaan itu.

"Lalu aku harus memanggil apa?".

"Seng mia lo baru mengenalmu selama satu han, Kau sudah memanggilnya Lao koko bukan?" tanya Ciok Ciu Lan.

"Betul. Seng mia lo tidak mengijinkan aku memanggilnya Lao cang, dia mengharuskan aku memanggilnya Lao koko," sahut Yok Sau Cun.

Ciok Ciu Lan mengerlingnya sekilas Bibir nya cemberut.

"Kita berkelana di dunia kangouw ber samasama Kau sedikitsedikit memanggil aku Ciok kouwnio Menyebut dirimu sendiri cayhe Di dengar orang hal ini akan terasa aneh," gerutunya.

"Tadi malam cayhe mengatakan pada Seng mia lo bahwa kau adalah adikku. sebetulnya aku harus memanggil kau cici” kata Yok Sau Cun.

Wajah Ciok Ciu Lan semakin merah.

"Tidak. Kau lebih besar dari aku," sahut nya dengan suara rendah.

Yok Sau Cun memperhatikan Ciok Ciu Lan Hatinya diamdiam berpikir.

"Tampaknya kau sudah berusia duapuiuh tiga atau empat tahun. Usiaku sekarang baru duapuiuh Berarti kau lebih besar empat tahunan. Bagaimana bisa lebih kecil dariku?".

Dia merasa heran sekaligus curiga.

"Kau lebih kecil darl aku'?" tanyanya kurang percaya. Ciok ciu Lan menajamkan ujung bibirnya.

"Biar kuberitahukan kepadamu. Wajahku sekarang sedang menyamar Ibuku yang menyuruh Katanya, kalau seorang gadis muda berkelana di dunia kangouw akan cenderung menarik perhatian orang banyak Oleh karena itu, sengaja dibuat supaya tampak lebih tua Usiaku sekarang sembilan beas tahun Sedangkan kau dua puluh Bu kankan aku lebih kecil setahun?".

"flupanya yang sekarang ini bukan wajah aslimu Jadi, bagaimana rupamu sebenar nya?" tanya Yok Sau Cun.

"Siapa bilang ini bukan wajah asliku Aku 'nenggunakan semacam obat, seperti kaum 'wrempuan biasa menghias dirinya. Beda nya obat ini membuat muka lebih gelap sehingga terlihat lebih tua Aku toh tidak menggunakan topeng, bagaimana bisa merubah wajah asli'?" sahut Ciok Ciu Lan.

Yok Sau Gun sangat tertank dengan keterangan itu.

"Lalu, apa yang terjadi kalau obat itu dihapus nanti'?" tanyanya.

"Dbat penyamaran ini terbuat dari bahan obatobatan khusus. Kalau mencuci rpuka dengan cara biasa, penyamaran ini tidak akan terhapus Ada obat khususnya untuk menghapus penyamaran ini Warnanya macammacann, ada warna yang dapat membuat orangnya menjadi terlihat muda Ada yang dapat terlihat tua Jenis terakhirlah yang kupakai.".

Yok Sau Gun meneliti wajah Ciok Ciu Lan semakin lama. "Mengapa aku tidak tahu kalau ka sedang menyamar?" tanyanya.

"Sudahfah Apa yang kau lihat? Aku me mang buruk rupa sejak dulu!" sahut Ciok Ciu Lan dengan mata mendelik "Sekarang aku .sudah mengatakan secaraterusterang Ter serah, apakah kau menghendaki aku seba gai adikmu atau mungkin aku tidak pantas?'.

"Cayhe memang tidak mempunyai saudara satu pun. Ada gadis cantik seperti Ciok kouwnio yang bersedia menjadi adik cayhe, mimpi pun cayhe tidak berani Mana mungkin cayhe menolak?" kata Yok Sau Cun.

Mata Ciok Ciu Lan bersinar terang.

"Kalau begitu, mulai sekarang aku akan memanggilmu Toako, dan kau boleh memanggilku Ciu Lan saja," sahutnya.

Yok Sau Cun segera menggenggam tangan gadis itu. "Bagaimana kalau aku memanggilmu Lan moay saja?" tanyanya.

Ciok Ciu Lan membiarkan tangannya di genggam oleh pemuda itu Dua rona merah terlihat di sepasang pipinya yang berlesung pipit.

"Terserah toako," sahutnya lirih Untuk sesaat, keduanya terdiam Masinginasing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Akhirnya Ciok Ciu Lan menarik tangannya kembali.

"Kau harus mulai berlatih lagi," katanya.

Sore han, Yok Sau Cun sudah merasa lelah karena berlatih iagi selama setengah hari. llmu yang diajarkan oleh Seng mia lo telah dipahaminya secara menyeluruh.

Keduanya makan malam sekedar mengisi perut saja. Karena merasa pelajarannya hampir sempurna, Yok Sau Cun berlatih kembali Ciok Ciu Lan tetap duduk di tangga batu dan memperhatikannya tanpa berge rak. Hatinya terasa hangat, seakan tidak me rasa lelah sama sekali.

Sampal hampir kentungan kedua, Yok Sau Cun tambah dalam memahami ilmu itu Dia berhenti dan menyimpan kembali pedang lenturnya Ruangan dalam kuil, sudah dibersihkan Ciok Ciu Lan sejak sore hari Mereka masinginasmg memilih tempat di sudut yang berlaioan dan duduk bersemedi.

Hari kedua, mereka meninggalkan kuil itu dan menuju Tai hu Sampal di Tian Hua san ceng. hari sudah hampir malam.

Keadaan di Tian Hua san ceng hari ini berlainan dengan biasanya Kedua belah pintu besi terpentang lebar Bahkan ada dua orang pelayan yang menjaga di luar seperti sedang bersiapsiap menyambut tamu agung.

Tian Hua san ceng adalah tempat tinggal Song Ceng San yang pernah menjabat sebagai Bulim bengcu Biasanya jarang ada tamu yang berkunjung, karena semua orang tahu, bahwa setelah berusia lanjut, Song loya cu ingin hidup dalam kedamaian Dia tidak mencampuri lagi urusan duniawi Orang tua itu juga tidak menerima tamu dari luar Dengan demikian, tamu yang datang }uga hanya terhitung keluarga sendiri.

Keadaan seperti hari ini, di mana ada dua penjaga yang menunggu di luar pintu gerbang sangat mengherankan Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan melangkah ke depan pintu tersebut. Saiah satu dan dua penjaga segera menyambutnya.

"Mohon tanya liong wi dari perguruan mana Biar Siau jin melaporkan ke dalam," katanya.

Yok Sau Cun terpana mendengar pertanyaan itu.

"Kami bukan dari perguruan apa pun. Kedatangan kami adalah untuk menyambangi Song loya cu. Harap koan ke bersedia me laporkan," sahutnya. Penjaga itu mengerling mereka sekilas.

"Kalau liong wi memang bukan murid dari delapan pertai besar. harap maafkan, Lao ceng cu tidak menerima," katanya.

Yok Sau Cun tertawa-tawa.

"Cayhe tahu Harap koan ke laporkan saja kepada Sau ceng cu atau Ciek Congkoan, bahwa Yok Sau Cun mohon bertemu Mereka tentu sudah mengerti".

Mendengar nada bicara Yok Sau Cun, penjaga itu tidak berani ayal lagi Tampaknya pemuda ini kenal baik dengan Sau ceng cu dan Ciek Congkoan. Dia segera menjura dalamdalam.

"Kalau memang demikian, liong wi harap tunggu sebentar. Siau jin akan masuk ke dalam dan melaporkan,' sahutnya.

Dia segera membalikkan tubuh dan berlari ke dalam Tidak lama kemudian, dia kembali lagi dengan diiringi Ciek Ban Cing Dari jauh lakilaki itu sudah menjura penuh hormat.

"Siangkong menunggu terlalu lama. Lao siu tidak segera menyambut, harap maafkan," katanya.

Yok Sau Cun cepat-cepat membalas penghormatannya.

.

"Ciek Congkoan terlalu sungkan, Kata-kata 'tidak segera menyambut, tidak berani cayhe terima''.

Ciek Ban Cing mengibaskan tangannya dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam.

"Yok Siangkong menyempatkan diri datang ke Tian Hua san ceng, tentunya ada keperluan penting.".

"Beberapa han yang lalu, cayhe pernah mengatakan di hadapan Song loya cu, bahwa cayhe bersumpah untuk mencarikan obat penawar baginya. Cayhe ingin membuktikan kebersihan diri sendiri Hari ini cayhe sengaja datang untuk mengantarkan obat penawar racun tersebut" kata Yok Sau Cun.

Wajah Ciek Ban Cing berseri sen mendengar keterangan pemuda itu.

"Apakah Yok Siangkong berhasil mendapatkan obat penawar racun pembuyar tenaga?" tanyanya.

"Tidak salah Akhirnya cayhe berhasil mendapatkan obat penawar racun tersebut," sahutYok Sau Cun. Ciek Ban Cing dengan gembira memandang keluar.

"Bagus sekali Terima kasih kepada Thian, Penyakit Lao ceng cu dua han terakhir ini sering kambuh Hampir saja tidak dapal bangk't dari tempattidurnya Tenaganya se| makin melemah Untung saja Yok Siangkong segera datang mengantarkan obat itu," katanya.

"Cayhe juga merasa senang," sahut Yok Sau Gun.

"Dan mana Yok Siangkong memperoleh obat tersebut?" tanyanya.

"Cayhe mendapatkannya dart Tiong kouwnio" Mereka telah sampai pada pintu kedua. Ciek Ban Cing mengajak mereka me nyusuri lorong panjang Mereka berjalan te rus menuju bagian belakang.

Tempat ini adalah ruangan khusus untuk menerima tamu Tata ruangannya sangat indah Meskipun han belum terlalu gelap, namun di sekitar ruangan itu telah dinyalakan empat buah lilin besar pada setiap sudutnya Di dalam ruang tamu sudah duduk tiga orang tamu. Melihat kedatangan Ciek Ban Cing yang mengiringi Yok Sau Gun dan Ciok Ciu Lan, mereka segera berdiri menyambut.

Yok Sau Cun segera membalas penghormatan mereka dengan menjura dalamdailam Terlihat seorang lakilaki berusia limaIpuluh tahun ke atas dengan pakaian tojin.

Wajahnya bersin dan runcing Janggutnya berwarna hitam Pakaiannya berwarna abuabu Di punggungnya terselip sebatang pedang panjang.

Yang kedua, berusia dibawah limapuluh tahun Bentuk tubuhnya sedangsedang saja Keningnya lebar. Wajahnya persegi. Kalau tertawa, wajannya penuh keriput Di pinggangnya juga terselip sebatang pedang panjang Sedangkan yang ketiga, lakifaki berusia empatpuluh tahunan. Wajahnya bersih tanpa kumis ataupun jenggot Dia memakai jubah panjang berwarna biru Juga punggungnya menyampir sebatang pedang panjang.

Diamdiam Yok Sau Cun berpikir dalam hati.

"Tampaknya ketiga orang ini mempunyai kepandaian yang tinggi Entah dari golongan mana saja?".

Ciek Ban Cing juga menjura sambil tertawa "Yok Siangkong dan kouwnio ini silahkan duduk dulu. Sebentar lagi Kongcu kami akan keluar Sekarang Lao siu mohon diri," katanya.

"Ciek Congkoan, silahkan!" sahut Yok Sau Cun segera.

Ciek Ban Cing mengundurkan diri. Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan duduk di sudut ketiga orang tadi. Seorang pelayan masuk dan mengantarkan sebuah teko dan dua buah cawan Tamu kedua yang berwajah persegi menoieh ke arah mereka.

"Kiong wi pasti murid dari salah satu delapan partai besar. Mohon tanya siapa nama besar Liong wi?" tanyanya. "Cayhe Yok Sau Cun, dan ini adik angkat cayhe, Ciok Ciu Lan. Kami bukan murid dan delapan partai besar Mohon tanya Lao cang adalah. ".

Laki laki setengah baya berwajah persegi itu tampaknya terpana mengetahui mereka bukan berasal dari delapan partai besar. Dia tertawa lebar.

"Biar Lao siu perkenalkan " Dia menunjuk ke arah tojm berpakaian abuabu dan lakilaki berwajah bersih tadi "Yang ini adalah saudara Kan Si Tong dari Patkwa pai Sedangkan yang ini adalah Su Po Hin dari Butong pai Lao siu sendiri bernama Beng Ta Jin dan Liok Hap Bun,".

Yok Sau Cun yang mendengar ketiga, orang itu berasal dan delapan partai besar. segera timbul rasa hormatnya. Dia segera menjura sambil berkata: "Cayhe sudah lama mendengar nama besar ketiga Siansing," katanya.

Dia belum pernah berkelana di dalam dunia kangouw. tentu sa]a dia tidak tahu siapa ketiga orang itu. Hanya mendengar bahwa mereka berasal dari golongan delapan partai besar saja, maka timbul rasa hormatnya. Berbeda dengan Ciok Ciu Lan. Gadis itu sempat terperanjat karena dia tahu bahwa ketiga tamu itu adalah tokoh penting dalam partai masinginasing. Yang disebut Kan Si Tong tadi adalah sute dari Cang bun jin Patkwa bun. llmunya yang terkenal adalah Patkwa kiam hoat. Sekali dilancarkan dapat merobohkan delapan orang sekaligus Perubahannya mengejutkan. pernah tersiar berita bahwa dengan sebatang pedangnya, dia pernah mengalahkan Gi San Pat Kwai (Delapan orang aneh dan Gi San). Namanya sudah cukup lama menggetarkan dunia Bulim. Apabila kawanan golongan hitam bertemu dengannya, meskipun mengandalkan banyak anak buah, tetap tidak berani mencari gara-gara.

Beng Ta Jin, yang julukannya Wi Ting sm tiaw (Rajawali sakti dari Wi Ting) merupakan sute dari Ciang bunjin Liok Hap Bun Cuang Cun Ceng Orang tua itu sudah lama menutup diri dan tidak mencampuri lagi urusan dunia Walaupun namanya tetap disebut sebagai Ciang bun jia Liok Hap Bun, tapi sebenarnya semua kepentingan partai itu ditangani oleh Beng Ta Jin Yang terakhir adalah Su Po Hin.

Dia adatah sute dan wakil ketua Butong pai. Meskipun usianya masih relate muda, tapi kedudukannya di Butong pai sangat dihormati. Ketika dia masuk perguruan itu, tidak lama kemudian, Ciang bunjm Butong pai menuiup diri. llmu silatnya adalah hasil ajaran Suheng tertua. Giok Cin Cu. Begitu terjun ke dunia kangouw, langsung mendapat gelar Yu Liong kiam kek (Pendekar Pedang Naga Berkeliling).

Ketiga orang itu dapat nadir di Tian Hua san ceng secara bersamaan, rasanya bukan kebetulan belaka Tepat pada saat itu, terlihattirai disibakkan Tangan Ciek Congkoan member! isyarat nnempersilahkan.

"Taisu silahkan masuk," katanya.

Terlihat seorang biksu tua bertubuh tinggi besar, beralis panjang, matanya menyiratkan sinar welas asih Tangannya menggeng gam sebuah ruyung panjang yang terbuat dari besi. Kan Si Tong Wi Ting sin tiauw Beng Ta jin, Yu Long kiam kek Su Po hin bertiga segera berdiri Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan mengikuti tindakan mereka. Ruyung taisu itu dikempitkan di ketiak Kedua kepalan tangannya didekapkan di depan dada Tubuhnya membungkuk.

"Omitohud! Toheng sekalian sudah sampai lebih dulu. Silahkan duduk," katanya dengan suara lembut Sinar matanya mengerling ke arah Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan. "Liong wi sicu adalah. .".

Sebelum Yok Sau Cun sempat menjawab, Wi Ting sin tiaw sudah tertawa lebar dan memperkenalkan "Kedua saudara ini adalah Yong Siangkong dan Ciok kouwnio," Dia menolehkan kepalanya "Yok Siangkong mungkin belum kenal, ini adalah kepala Lo Han long dan Siaulim sj, Bu Cu taisu.".

Mendengar bahwa orang tua itu adalah kepala Lo Han long dari siau lim si, Yok Sau Cun segera menjura dalam-dalam.

"Cayhe sudah lama mendengar nama be sar Lao Suhu Hari ini bisa bertemu di Tian Hua san ceng, benar-benar merupakan re jeki cayhe," katanya Sebetulnya dia memang sudah sering mendengar nama besar Siaulim pai Sedangkan nama Bu Cu taisu sendiri baru hari ini didengarnya.

Bu Cu taisu segera membungkukkan tubuhnya.

"Yok sicu terlalu memuji Pinceng tidak berani menerima. Silahkan duduk," sahutnya.

Wi Ting sin tiaw mengalah. Dia memben tempat duduknya kepada Bu Cu taisu Dia sendiri pindah ke bagian seberang Seorang pelayan kembali masuk dan membawakan teko berisi teh,.

"Sudah puluhan tahun tidak bertemu dengan taisu, bukan saja wajahnya tidak berubah, bahkan semakin cerah bercahaya Dapat dipastikan bahwa taisu sudah mencapai kedamaian hidup dan tidak ada ha! Yang dipusingkan lagi," kata Kan Si Tong.

"Toheng juga demikian. Penampilanmu semakin berwibawa. Sedangkan Pinceng sejak kecil sudah menjadi hwesio Setiap hari memukul tambur. Setelah sekian lama, sekarang sudah menjadi hwesio tua Tapi pekerjaan memukul tambur masih dilakukan setiap hari. Bagaimana dapat dibandingkan dengan toheng?" sahutnya sambil tersenyum.

Diamdiam Yok Sau Cun berpikir dalam hati "Ternyata hwesio tua ini gemar bergurau ".

Tiba-tiba terlihat Song Bun Cun masuk dengan tergesa-gesa Dia member; hormat dengan menjura kepada Kan Si Tong, Wi ting sin tiaw, Su Po Hin dan Bu Cu taisu.

"Boanpwe tidak tahu taisu, dan totiang sekalian berkunjung Sedangkan Cia hu sedang kurang sehat, sehingga tidak dapat menyambut sendiri. Seandainya ada yang kurang memuaskan, harap tatsu dan totiang sekalian maafkan," katanya sambil membungkukkan tubuh. Bu Cu taisu dan para tamu yang lain segera membalas penghormatan itu. "Sau Cengcu terlalu sungkan," sahut mereka serentak.

"Bengcu sedang kurang sehat, apakah tidak mengkhawatirkan keadaannya?" tanya Bu Cu taisu.

Song loya cu pernah menjabat sebagai Bulim bengcu Meskipun sekarang tidak lagi. tapi kawankawan di bulim masih menyebutnya dengan panggiian tersebut.

"Terima kasih atas perhatian taisu Cia hu hanya masuk angin saja," sahut Song Bu Cun.

Sebelumnya, Yok Sau Cun mendengar dan Ciek Congkoan, bahwa penyakit keracunan Song loya cu sering kambuh akhirakhir ini Bahkan hampir tidak dapat bangkit dari tempat tidur Sebetulnya dia ingin mengatakan bahwa dirinya teiah berhasil mendapatkan obat penawar Tetapi Song Bun Cun mengatakan pada para tamu itu bahwa penyakit ayahnya hanya masuk angin. Dia merasa tidak enak untuk membuka suara.

"Apakah Sau Cengcu tahu, apa maksud Bengcu memangil kami sekalian?" tanya Kan Si Tong.

"Rupanya kedatangan mereka atas undangan Song !oya cu," kata Yok Sau Cun dalam hati, Tetapi, tampaknya Song Bun Cu terpana mendengar pertanyaan itu.

"Maksud Kan totiang... kedatangan totiang sekalian adalah atas undangan Cia hu?".

"Betul," tukas Wi Ting sin tiaw "Di dalam surat itu, Bengcu bahkan menegaskan bahwa kedatangan kami tidak boleh lewat sore hari ini Hengte menduga tentunya ada urusan yang sangat penting, maka bergegas datang ke sini.".

"Aneh sekali," kata Song Bun Cun.

Bu Cu taisu dan ketiga tamu yang lain adalah orangorang yang sudah banyak pengaiaman daiam dunia kangouw. Mendengar kata-kata 'aneh sekaii' dari Song Bun Cun, perasaan was was mereka langsung terbangkit 'Aneh sekali' yang diucapkan oleh Song Bun Cun bukankah menandakan bahwa dia tidak mengetahui kejadian ini?.

"Entah kapan Bengcu ingin menernui kami," tanya Su Po Hin.

Seandainya Sau Cengcu tidak tahu tentang surat undangan yang mereka terima, kemungkinan besar karena usianya muda sehmgga ja dianggap belum dapat diandalkan sepenuhnya Hanya dengan bertemu langsung Bengcu sendiri, persoalannya baru bisa dijelaskan. Song Bun Cun merenung sejenak. Dia mendongakkan wajahnya.

"Apakah surat yang dikinmkan oleh Cia hu, ada dibawa oleh para totiang tidak?" tanyanya. Bu Cu taisu juga dapat merasakan nada bicara Song Bun Cun yang aneh.

"Surat undangan Bengcu disampaikan oleh orang Tian Hua san ceng sendiri. Yang menenmanya suheng Pinceng. Di dalamnya dikatakan bahwa Pinceng harus segera datang Surat ini ada Pinceng bawa Harap Sau Cengcu memeriksanya " Dia mengambil surat tersebut dan lengan bajunya yang longgar Diserahkannya kepada Song Bun Cun Pemuda itu menenmanya dan membacanya dengan seksama. Di luarnya tertufis' Ditujukan kepada Bu Wi taisu pribadi. Dengan huruf yang tertulis sangat rapi. Dan dia dapat mengenali bahwa tulisan itu memang tulisan ayahnya. Di bawahnya terdapat beberapa tulisan berupa nama sang pengirim Tian Hua san ceng Sampul surat itu juga seperti yang biasa dipakal ayahnya Hatinya semakin curiga.

Dikeluarkannya surat itu dari sarnpulnya.

"Surat ini ditujukan kepada Bu Wi taisu. Sudah lama tidak ber|umpa. Karena ada sesuatu yang mendesak dan perlu dirundingkan, maka cayhe sengaia mengutus orang untuk memanggil taisu sekalian datang ke Tian Hua san ceng pada tanggal delapan belas bulan ini. Lebih baik sebelum matahari terbenam. Harap dipenuhi. Tertanda Song Ceng Sang ! Tulisan tangan seorang ayah, tentunya Song Bun Cun sebagai anak akan menge; nali Surat itu ternyata memang asli tulisan ayahnya Tapi kapan ayahnya mengirim su rat ke Siaulim si? Juga Butong pai Liok hap pai, dan Patkwa pai'?

Beberapa orang ini pasfi undangan ayahnya juga Mengapa dirinya sendiri sama sekali tidak mengetahui persoalan ini'?.

Di wa]ah Song Bun Cun yang tampan, terlihat kesan kebingungan. "Ternyata memang tulisan Cia hu," katanya.

Surat itu masih tergenggam di tangannya, dia menoleh ke arah luar. "Song heng, cepat panggil Ciek Congkoan!".

Terdengar sahutan mengiakan dari luar Tidak lama kemudian, tampak Ciek Ban Cing memasuki ruangan tersebut.

"Apakah Kongcu memanggil Lao siu?" tanyanya.

"Ciek Congkoan, apakah Cia hu akhirakhir ini ada mengutus orang mengantarkan surat untuk beberapa partai besar di Bulim?".

"Tidak ada. Loya cu sudah lama tidak berhubungan dengan para partai besar dunia Bulim," sahut Ciek Ban Cing.

"Juga tidak ada surat untuk ketua Siaulim si?" tanya Song Bun Gun. Ciek Ban Cing tertawa lebar.

"Loya cu sudah beberapa tahun tidak pernah mencampuri urusan dunia luar Seandamya ada surat yang harus diantarkan, biasanya Kongcu yang diberi tugas tersebut. Kalau sampai Kongcu tidak tahu, berarti tidak ada surat yang keluar." sahutnya.

Song Bun Cun menyodorkan surat yang diperolehnya dari Bu Cu taisu dan diserahkan kepada Ciek Ban Cing.

"Coba kau lihat surat ini. Apakah orang dari Tian Hua san ceng yang mengantarkannya?".

Ciek Ban Cing menerima surat itu dan diliriknya sekilas Wajahnya berubah seketika. Dia mendongakkan kepalanya.

"Tampaknya surat ini memang ditulis oleh Loya cu sendiri," katanya. "Betul," sahut Song Bun Cun.

"Tapi, menurut Lao siu, surat ini bukan ditulis oleh Loya cu Dan pasti juga bukan orang Tian Hua san ceng yang mengantarkannya," kata Ciek Ban Cing dengan alis berkerut.

"Maksud Ciek Congkoan, ada yang memalsukan tulisan Cia hu?" tanya Song Bun Cun terpana.

"Loa siu menjabat sebagai Congkoan di Tian Hua san ceng ini sudah duapuluh tahun lebih Selama ini, Lao siu tidak pernah melihat Loya cu menggerakkan pitnya.

Lagipula para pekerja di san ceng ini tidak banyak. Urusan besar kecil, semua harus metewati Lao siu Beiakangan ini semua penghuni Tian Hua san ceng tidak ada yang keluar pintu Satu pun tidak ada Surat ini, pasti bukan diantar oleh orang kami. Kalau memang tidak ada yang mengantarkan surat ini, pastt juga bukan Loya cu yang menulisnya. Bukankah hal ini sudah jelas?" sahut Ciek Ban Cing.

Wajah Song Bun Cun berubah hebat.

"Jadi, siapa yang memalsukan surat ini?" tanyanya.

Kan Si Tong, Wi Ting sin tiaw dan Su Po Hin juga mendengar surat yang mereka tenma palsu. Dengan waktu yang bersamaan, mereka mengeluarkan surat dari balik saku masing-masing.

"Kaiau begitu, setiap surat yang ditenma oleh kami juga palsu semuanya," kata Wi Ting sin tiaw.

"OmitohucP Orang ini sengaja memalsukan surat Bengcu dan mengundang Pinceng sekalian datang ke Tian Hua san ceng, entah mengandung maksud apa?" tanya Bu Cu taisu sambil merangkapkan tangannya.

"Menurut pendapat Lao siu, urusan ini terlalu janggal dan tiba-tiba Kongcu seharus nya mengajak para tamu ini masuk ke dalam dan menanyakan pendapat Lao ceng cu sen diri," kata Ciek Ban Cing.

Song Bun Cun meliriknya sekilas. "Tapi, Cia hu. ..".

"Delapan partai besar dengan Tian Hua san ceng sudah seperti keluarga sendiri Peristiwa Loya cu yang keracunan, juga tidak perlu ditutupi lagi," tukas Ciek Ban Cing.

Tubuh Bu Cu taisu bergetar karena terperanjat mendengar keterangan itu. "Ciek Lao sicu, apa yang kau katakan? Bengcu keracunan?".

Wi Ting sin tiaw, Su Po Hin dan Kan St Tong juga terkejut Mereka menoieh ke arah Ciek Ban Cing.

"Apa yang dikatakan oleh Ciek Congkoan memang benar Ceritakanlah" kata Song Bun Cun sambil menganggukkan kepalanya.

Ciek Ban Cing mengiakan Dia memulai ceritanya dan peristiwa lakilaki setengah baya yang terluka dan memtipkansurat lewat Yok Sau Cun. Bagaimana Song loya cu bisa keracunan sampai kejadian mereka bersamasama menyeiidiki gedung besar di Wi Su Kan Dan yang menitipkansurat ternyata adalah Ce sat ciu Yu Kim Piau.

Majikannya adalah Tiong kouwnio yang misterius Semua diceritakannya secara lengkap.

Bu Cu taysu merangkapkan kedua tangannya.

"Omitohud! Badai bencana muiai menerpa Buddha weias asih! Semoga kita semua diben jalan untuk menghindarkan bencana besar dan dunia Bulim dapat tenang kemba!i," katanya.

Kan Si Tong merasa ucapan Bu Cu taysu mengandung maksud tertentu. "Apakah taisu sudah mengetahui sebelumnya?".

"Orang tua memang iebih peka. Kaiau toheng sudah menduga Pinceng Iebih enak mengatakannya Di dalam biara Siaulim ada sebuah pandopo yang dinamakan Cian Hok Tong (Pendopo seribu Buddha). Di dalamnya terdapatlima ratus Lohan. Tempat itu juga disebut Lo Han long Biasanya murid murid kuil kami berlatih silat di ruangan tersebut dengan bimbingan Pinceng atau para sute Sebagaimana biasanya, b<la sudah Ie lah beriatih, masinginasing kembali ke kamar untuk beristirahat Sebelum tidur, Pinceng pasti memeriksanya sekali lagi Saat itu adalah musim Tiong ciu tahun ini.

Pinceng baru melangkahkan kaki ke dalam Cian Hok si. Pinceng mendengar suara seseorang yang sedang bergumam sendirian Dia mengatakan 'Lo nan, ya Lo han Kalian sedang menghadapi bencana yang sulit dihindari! Pinceng terpana mendengar ucapannya. Setelah agak dekat, Pinceng melihat seorang tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua Kalian tentunya tahu, pada harihari tertentu, Cian Hok si memang digunakan unluk orangorang yang hendak bersembahyang Tapi malam larul seperti saat itu, bagaimana bisa ada orang yang datang? Pinceng tidak dapat menahan diri Pinceng menyapa orang tua itu Dan mana datangnya Lao sicu ini? Mengapa bisa ada di tempat ini?" Orang tua itu tersenyum Lohu sedang melihatlihat Kebetulan masuk ke Cian Hok si ini Kalau taisu memang keberatan atas  kunjunganku, biarlah Lohu mohon diri sekarang," katanya Setelah itu, dia langsung membalikkan tubuh dengan maksud hendak barlalu Pinceng cepatcepat mencegahnya "Lao sicu, harap tunggu sebentar. Orang tua itu menolehkan kepalanya dan berkata "Taisu, harap sampaikan kepada ketua Siaulim si. Ingat, ketika seluruh permukaan gunung tertutup salju, maka berarti bencana akan menyelimuti dunia kangouw Bertindaklah bijaksana dan waspadai" Saat Pin ceng mengejar sampai halaman depan tidak terlihat seorang pun Pinceng segera me laporkan kejadian ini kepada Toa suheng Setelah mendengar cerita Pinceng, Toa suheng menduga bahwa orang tua itu adalah salah satu tokoh sakli di Bulim Dia sengaja datang untuk mempenngatkan Mungkinkah ada sesuatu hal yang genting akan terjadi di Siaulim si? Belum sampai satu bulan kejadian itu berlalu, kami sudah menenma surat dan Bengcu," kata Bu Cu taysu.

"Dan Bengcu terserang racun jahat pula,' sambung Su po Hin.

"Ciek Congkoan, dalamsurat Yu Kirn Piau ada diungkit soal Wi Yang taihiap Entah bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Beng Ta Jin.

"Ku toya baikbalk saja Kemarin datang sepucuksurat yang ismya mengatakan bahwa Piau siocia sudah dijemput pulang," sa hutCiek Ban Cing.

"Rupanya Hui kouwnio dan Siau cui sudah kembali ke Yang ciu," kata Yok Sau Cun dalam hati.

"Dalam perjalanan menuju ke tempat ini, pinto juga merasakan adanya firasat tak enak tentang duma kangouw Meskipun pinto tidak dapat mengemukakan alasannya, namun tetap merasa ada sesustu yang tidak beres Mendengar keterangan katian sekarang, tampaknya memang akan terjadt hal yang mengejutkan," lanjut Kan Si Tong.

"Ketika permukaan seluruh guhung ditutupi salju, maka berarti bencana akan menyelimuti dunia kangouw Enlah apa yang dimaksudkan pada baris pertama itu'?" gumam Su Po Hin.

Tiba-tiba Yok Sau Cun tenngat kembali peristiwa bertemunya dengan orang tua yang menjadi suhu Seng mia lo ketika baru berpisah dengan gurunya sendiri. Dia menanyakan keinginan gurunya yang pertama yaitu menemukan putranya yang menghi!ang enambelas tahun yang lalu, di mana anak itu mempunyai tanda tahi lalat merah di atas alisnya, orang tua itu ada menyebut beberapa bait syair Kalau sekarang dibandingkan dengan kata kata 'ketika seluruh permukaan gunung dilutupi saiju, berarti bencana akan menyelimuti dunia kangouw', tampaknya kedua syair itu ada hubungannya.

Terdengar seruan terkejut dari mulut Kan Si Tong.

"Ah Jangantangan yang dimainkan oleh perempuan itu adalah Cen Tian kim (Harpa penggetar langit)'?". Wi ting sin tiaw juga mengeluh "Seandainya kata-kata 'ketika seluruh permukaan gunung ditutupi saljU' adalah dia, maka dunia kangouw benar-benar sedang menghadapi bencana besar".

"Omitohudi' Bu cu taisu merangkapkan kedua tangannya dan menyebut nama Buddha "Tokoh sakti dan Suat san (Gunung salju) sudah menyucikan diri Rasanya sudah belasan tahun, dia tidak mencampuri urusan dunia ramai Dia sedang berusaha mencapai kesempurnaan dan sudah tawar terhadap segala macam keributan dunia Tidak mungkin dia kembali lagi dan membuat kekacauan.".

Yok Sau Cun lidak tahu siapa yang dimaksudkan oleh mereka Dia juga tidak enak hati untuk bertanya.

"Apakah yang taisu maksudkan adalah Suat san suan leng sou (orang tua gentayangan dan Soat san)?" tanya Su Po Hin.

Bu Cu taisu merapatkan kedua tangannya dan menyebut nama Buddha Dia lidak ber kata apa-apa Yok Sau Cun melihat mimik wajah tamutamu itu menjadi kelam Seakan mereka enggan menyebutkan nama Suan leng sou, hatinya menjadi heran Tanpa dapat menahan diri dia bertanya "Entah orang macam apa yang bernama Suat san suan leng sou itu?".

Ciek Ban Cing mendekati Song Bun Cun dan berbisik 'Kongcu, Yok Siangkong da tang keman khusus mengantarkan obat pemunah racun Apakah lebih baik mengun dangnya masuk ke dalam dan mehhat ke adaan Lao cengcu'?" tanyanya.

Song Bun Cun senang sekali mendengar keterangan itu Dia segera menghampin pemuda itu dan menjura dalam-dalam.

"Yok heng ternyata sangat memegang janji. Baru beberapa han, sudah mengantarkan obat bagi Cia hu. Sebelumnya hengte mengucapkan terima kasih tebih dahulu En tah Yok heng dapat dan mana obat itu?".

"Ceritanya cukup panjang Yok Sau Cun menuturkan kembali peristiwa terlukanya Cfok Ciu Lan o!eh Ce sat ciang Dia menggendong gadis itu menuiu sebuah kuil kosong, di mana d<a bertemu dengan Seng mia io dan mendapat bantuannya Dia mengatakan bahwa gadis itu dipaksa oleh Seng mia Io menyembuhkan Ciok Ciu Lan dan mengeluarkan obat pemunah racun pembuyar tenaga, setelah itu baru melepaskannya.

"Kim heng ciang adalah ilmu simpanan Ciong lam pai Bagaimana gadis itu bisa mempelajarinya?" tanya Kan Si Tong.

"Mudah sekali kapankapan kalau kita bertemu dengan liok To yu, kita bisa menanyakannya," sahut Wi ting sin tiaw.

Song Bun Cun memberi isyarat dengan tangan sebagai tanda mempersilahkan ke pada para tamu itu. "Cuwi danpwe bukan orang luar. Lebih baik kita bersamasama menemui Cia hu agar urusan ini jangan tertunda lagi," katanya.

Mereka membiarkan Bu Cu taisu berjalan di depan sebagai kepala Dengan diiringi oleh Song Bun Cun mereka masuk ke ruangan dalam Setelah melewati sebuah koridor panjang. Mereka sampai di satu ruangan yang jendelanya tertutup rapat. penerangannya remangremang Di tengahtengah ada sebuah tempat tidur besar Song Ceng San rebah di atasnya Tubuhnya ditutupi oleh sehelai selimut tipis Ketika mereka masuk ke dalam ruangan itu masih terdengar suara keluhan dari mulut orang tua itu Tampaknya dia sangat menderita.

Tokoh yang biasa dihormati dan pernah menjabat sebagai Bulim bengcu, ternyata tidak berbeda dengan orang biasa saat ini. Bibirnya terus merintih Tidak salah apa yang dikatakan orang banyak bahwa 'seorang pahlawan hanya takut penyakit melandanya'.

Song Bun Cun meringankan langkah kakinya Dia mendekati pembaringan. "Tia apakah kau belum tidur?" sapanya.

"Bun ji, ada urusan apa?" tanya orang tua itu lirih.

"Lapor kepada Tia, Bu Cu taisu dan Siaulim, si, Kan To tiang dari Patkwa bun, Beng Cianpwe dan Liok hap bun, dan Su taihiap Su Po Hin dan Butong pai datang menjenguk kau orang tua," sahut Song Bun Cun.

Meskipun racun di tubuhnya sedang kambuh, tapi pikiran Song Ceng San masih jelas. Setelah mengeluh satu kali, dia menggapaikan tangannya dengan susah payah.

"Cepat antar ke dalam," katanya.

"Tia, beberapa Cianpwe ini sudah ada di dajam kamar," sahut Song Bun Cun perlahan.

"Bun ji, cepat papah ayah bangun supaya bisa duduk bersandar. Dengan berbanng seperti ini, mana mungkin aku bisa menernui tamu?" kata Song Ceng San tergesa- gesa.

"Bengcu sedang tidak sehat Jangan banyak bergerak. Lebih baik rebahan saja" sahut Bu Cu Taisu.

"Apa yang dikatakan Bu Cu taisu memang benar Deiapan partai besar, semuanya sudah seperti kefuarga Bengcu jangan sungkan," sambung Kan Si Tong.

"Pikiran Lao siu masih terang Bun ji, lekas papah aku agar bisa duduk tegak. Beberapa toheng ini sudah bertahuntahun tidak per nah berjumpa Mana boleh berbincang sambil berbanng?" kata Song Ceng San.

Song Bun Cun mengiakan. Terpaksa dia memapah ayahnya agar duduk Sebelah tangannya meraih sebuah bantal yang lalu diletakkan di belakang punggung Song Ceng San sebagai tumpuan "Suara lakilaki itu agak serak Bola matanya menatap tamutamu itu satu per satu.

"Cuwi silahkan duduk Karena kurang hatihati, Lao siu terkena siasat licik orang jahat. Sungguh merapotkan toheng sekahan sampai datang menengok sejauh ini," kata Song Ceng San Rupanya dia tidak tahu mengapa tamutamu itu dapat berkumpul di rumahnya Song Bun Cun segera mendekati ayahnya.

"Tia, Bu Cu taisu sekaiian datang kemari karena ada orang yang memalsukansurat ayah " bisiknya.

Song Ceng San terpana.

"Siapa yang memalsukansurat ayah? Apa tujuannya?".

"Anak juga baru saja mengetahuinya. Sampai sekarang anak belum dapat menduga maksud orang tersebut" Dia menolehkan kepalanya dan menggapai Ciek Ban Cing "Ciek Congkoan, kemarikansurat itu agar ayah dapat melihatnya ".

Ciek Ban Cing mengiakan Baru saja tangannya merogoh surat pemberian Bu Cu Taisu dari balik saku bajunya.

"Tidak usah dilihat lagi Bun JI, cepat ajak taisu sekalian duduk Beberapa toheng ini sangat jarang datang ke Tian Hua san ceng Ban Cirrg, pesankan pada bagian dapur agar menyediakan beberapa macam hidangan yang sesual Dengan araknya sekalian, kemudian antarkan ke kamar ini," tukas Song loyacu.

Sekali lagi Ciek Ban Cing mengiakan Dia meletakkansurat tadi di alas meja dan keluar dari kamar tersebut.

"Tia, Yok heng sudah mendapatkan obat penawar racun Dia khusus dstang untuk mengantarkan obat Bagaimana kalau Tia minum sekarang saja'?" kata Sau ceng cu.

Song Ceng San agak terpana. "Oh ..".

"Song loya cu, untung saja boan seng dapat menepati janji Akhirnya obat penawar racun ini berhasil didapatkan juga," kata Yok Sau Cun.

Mata Song Ceng San mengerling Dia melihat botol obat di tangan pemuda itu Orang tua itu termangumangu sejenak.

"Bagaimana kau mendapatkan obat penawar itu?"tanyanya. Song Bun Cun menyambut botol obat tersebut.

"Tia, Yok heng mendapatkannya dari Tiong kouwnio. Lebih baik Tia segera meminumnya agar racun dalam tubuh dapat punah selekasnya," tukasnya. Song Ceng San menerima botol obat itu dar, tangan anaknya, dia memperhatikan beberapa lama Kepalanya manggut-manggut.

"Budi Yok sauhiap akan Lao siu ingat selamanya".

"Ucapan Song ioya cu terlalu berat. Boan seng diperalat oleh orang jahat mengantarkan surat beracun. Song loya cu sama sekali tidak menyalahkan boan seng, padahal persoalan ini memang terjadi karena diri boan seng. Sebetulnya hati ini sangat malu. Upaya mencari obat penawar racun hanya sekedar memperlihatkan ketulusan hati boan seng," sahut Yok Sau Cun sopan.

Kembali Song Ceng San menganggukanggukkan kepalanya.

"Yok sauhiap ternyata seorang yang dapat membedakan budi dan dendam Benar- benar jarang ditemui orang seperti Yok sauhiap," katanya.

Song Bun Cun menuangkan secawan air hangat dan disodorkannya kepada orang tua itu, Song Ceng San segera membuka botol obat itu dan dituangkannya ke dalam telapak tangan. Dia meneguknya sekaligus kemudian menerima cawan air dari tangan Song Bun Cun lalu diminumnya. Botol obat yang sudah kosong itu disimpannya di balik bantal. Perlahanlahan matanya dipe|amkan Tepat pada saat itu, terlihat tirai penghubung disingkapkan Ciek Ban Cing masuk dengan tergesa-gesa.

"Kongcu, Liok totiang dari Ciong lam pai datang berkunjung," katanya. Dia menolehkan kepalanya. "Liok totiang, silahkan masuk.".

Betum sempat Song Bun Cun menyambut di depan ruangan Terlihat seorang totiang dengan pakaian hijau dan rambut hitam pekat melangkah masuk. Tamu yang datang memang Ciong lam Hui hung i su (Pendekar pelangi terbang) Liok Hui Peng Song Bun Cun segera menyambutnya dan menjura penuh hormat.

"Cayhe terlambat menyambut kedatangan Liok totiang, harap maafkan.". Hui Hung I su segera membalas penghormatan itu. Dia tertawa santai.

"Sau ceng cu tidak perlu sungkan. Pinto mendengar Bu Cu taisu,Kan toheng, Beng toheng, Su taihiap semua sudah sampai lebih dahulu dan sekarang berada di dalam kamar Bengcu. Tanpa memperdulikan peradatan lagj, Pinto meminta Ciek Congkoan menunJuk jalan " Dia menjura kepada setiap orang yang ada di kamar itu, kemudian menoleh kepada Song Ceng San yang terbanng di atas tempat tidur "Dia lalu bertanya kepada Song Bun Cun.

"Apa yang terjadi dengan Bengcu?".

"Cia hu terserang racun jahat. Barusan sudah meminum obat penawarnya," sahut Song Bun Cun.

"Sau cengcu, Bengcu baru saja minum obat Tentu butuh istirahat Lebik baik kita berbincang di luar saja," kata Bu Cu taisu menganjurkan. "Taisu harap duduk saja Lao cengcu sudah menelan obat penawar Pada umumnya, setelah menelan obat penawar, sebentar lagi akan pulih seperti biasa Tadi Lao cengcu memesan kepada Lao siu agar meminta bagian dapur menyiapkan hidangan dan dibawa ke kamar ini. Mungkin lebih santai kalau berbincangbincang di tempat ini Maksud Lao siu, cuwi tidak perlu sungkan lagi" Baru saJa perkataannya selesai, terlihat seorang dayang perempuan masuk mengantarkan berbagai macam masakan dan arak.

Wi Ting sin tiaw duduk berdekatan dengan Hui Hung i su Dia bergeser sedikit agar dapat berbisikan dengannya.

"Kebetulan Ciok heng datang kemari.Ada satu persoalan yang ingin hengte tanyakan ".

"Entah apa yang ingin diketahui oleh Beng heng'?" tanya rekannya.

"Hengte ingin mengajukan suatu pertanyaan Mohon penJelasan dari Uok heng Di dalam partai Ciong lam pai, bukankah ada suatu ilmu istimewa yang dinamakan Kirn heng ciang?".

Semua tamu yang ada di ruangan itu berkepandaian tinggi Meskipun tanya jawab kedua orang itu dilakukan dengan suara rendah, tapi mereka dapat menangkapnya Begitu juga Yok sau Cun, mendengar kata-kata 'Kirn heng ciang', dia segera memusatkan perhatian.

"Tidak salah Kirn heng ciang memang ilmu simpanan partai kami Entah bagaimana Beng heng...".

Wi Ting sin tiaw tidak memben kesempatan kepada Hui Hung i su untuk melanjut kan kata-katanya.

"Apakah toheng pernah berlatih ilmu itu'"' tukasnya.

"Pinto belum pernah berlatih ilmu itu," sahut Ciok Hui Peng.

"Bagaimana dengan Tai ka totiang?" tanya Wi Ting sin tiaw kembali Tai ka totiang adalah ciang bunjin dari Ciong lam pal. (Tai ka berarti ketua satu dan ketua dua atau wakilnya).

"Kedua suheng juga belum pernah mempelajari itmu itu." sahut Hui Hong i su yakin.

"Aneh sekali," gumam Wi Ting sin tiaw. "llmu Kirn Heng dang adalah itmu simpanan partai mereka, tapi muridnya sendiri tidak ada yang mempelajan. Bukankah aneh?.

"Hal itu karena Kim Heng ciang ddalah suatu ilmu tingkat tinggl. Juga sangat sulit dipelafari Ketika sedang berlatih, konsentrasi harus penuh dan caranya harus tepat. Apabila terjadi sedikit kesalahan saja, maka orang yang berlatih ilmu tersebut akan mati seketika Setelah berhasil, lain lagi hasifnya. Apabila diserang kepada orang yang Iwe kangnya tidak tinggi sekali, juga akan menyebabkan kematian Oleh karena itu, sucouw kami melarang generasi selanjutnya mempelaJan ilmu tersebut," sahut Hui Hung i su.

"Apakah toheng tahu bahwa ada orang yang telah berhasil mempelajari ilmu ini," tanya Wi Ting sin tiaw.

"Ada orang yang berhasil mempelajarinya'?" Tubuh Hui Hung i su tergetar Dia menganggukkan kepalanya beberapa kali "Kalau begitu, tampaknya memang sudah ada yang berhasil mempelaJari ilmu tersebut ".

Wi Ting sin tiaw merasa nada bicaranya rada aneh. "Jadi toheng sudah tahu?" tanyanya.

"Pinto sama sekali tidak tahu. Tapi rasanya memang ada kemungkinan," sahut Hui Hung i su sambil menggelengkan kepalanya.

"Apa maksud toheng sebenarnya?" tanya Wi Ting sin tiaw.

"Para tamu yang hadir di sini, semua orang sendiri. Pinto juga tidak ingin menutupi lagi. Kitab ilmu Kim Heng ciang dari partai kami, sudah hilang sejak lama," sahut Hui Hung i su sambil menarik nafas panJang.

Kan Si Tong terkejut mendengar keterangan itu. Meskipun Ciong Lam pai terletak jauh di daerah barat, tapi selama ratusan tahun, muridmund yang menonjol banyak menggetarkan dunia kangouw. Dalam urutan delapan partai besar sendiri, hanya Ciong lam pai yang tidak pernah susut namanya setelah Siaulim si dan Butong pai Bagaimana kitab pusaka mereka bisa hilang'? Apakah ada kemungkinan telah digondol orang?.

Wi Ting sin tiaw Juga seorang yang sudah banyak pengalaman di dunia kangouw. Apa yang terpikir olehnya persis dengan kan Si Tong. Namun dia tidak enak menanyakannya Tangannya mengelus elus janggutnya dan mengeluarkan suara terkejut.

Hui Hung i su tidak menanti sampai Wi Ting sin Haw menanyakannya Dia segera menjelaskan apa yang terjadi.

"Karena sucouw kami tefah melarang generasi selanjutnya mempelajari ilmu Kirn heng dang, maka kitab tersebut disimpan dalam sebuah kotak besi dan diletakkan dalam goa sucouw kami Dua puluh tahun yang lalu, suatu han, salah seorang murid perguruan kami melihat kedua belah pintu gerbang goa sucouw yang sekaligus merupakan tempat penyimpanan abu para leluhur, kami terpentang lebar Dia segera masuk dan melaporkan keiadian itu Ji suheng dan pinto serta beberapa murid lainnya bergegas memeriksa. Tapi, yang hilang hanya kitab Kirn heng dang tersebut Tanpa perlu dikatakan, tentunya kitab itu telah dicun oleh seseorang." Suaranya terdengar gegetun.

"Kim heng ciang adalah sebuah ilmu yang sulit dipelajari. Kalau tidak salah, memerlukan dua atau tigapuluh tahun untuk melatihnya agar matang Jika dihitung sampai sekarang, Ciong lam pai kehilangan kitab tersebut juga ada duapuluh tahun Maka dari itu, seandainya Beng toheng mengatakan ada yang mempelajannya, memang kemungkinannya ada," lanjutnya kepada Beng Ta Jin. Tepat pada saat itu, terdengar hembusan nafas dan Song Ceng San.

"Sungguh-sungguh obat yang manJur," katanya.