Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 19

 
Jilid 19

Hui huJin menyadari dirinya telah kelepasan bicara Cepat cepat dihiburnya putri kesayangan itu.

"Meskipun luka Yok siangkong cukup parah, tetapi kalau Gi pek pek sudah datang, dengan tangannya yang ajaib, masa Yok 'siangkong tidak dapat disembuhkan'? Kau tidak perlu terlalu cemas ".

Baru saja ucapannya selesai, terhhat pintu kamar terbuka dan Siau Cui menghambur ke dalam.

"Lao hujin, siocia, Gi Ji loya cu sudah datang" teriaknya Tampak tangannya memanggul sebuah kotak persegi berwarna merah.

Mendengar ucapannya, wajah Hui hujin langsung berseri-seri. "Cepat undang dia masuk," sahutnya.

Dan luar berkumandang suara tawa seseorang yang terkekeh kekeh.

"Lohu sudah masuk ke dalam," Ucapannya selesai, dan luar melangkah masuk seorang laki-laki berusia lanjut yang mengenakan pakaian longgar dan panjang Orang itu langsLing menjura dalam-dalam "Tadi dengar Hui Gi bilang bahwa ada seorang siangkong terluka parah Te so (ipar) meng undang hengte datang malam ini juga Tentunya luka yang didenta anak muda itu tidak ringan.".

Orang ini tinggi kurus. Kulit tubuhnya pucat Di bawah dagunya menjuntai jenggot panjang yang warnanya sudah memutih.

Suaranya nyanng dan lantang Langkah kakihya nngan Dia adalah saudara ke,dua dan Wi Yang sam kiat yang terkenai, Gi Hua To atau nama aslinya Gi Ceng Lam.

Hui Hujin cepatcepat membalas penghormatannya.

"Tengah malam membangunkan Ji pek justru karena luka yang diderita Yok siangkong ini parah sekali Harap Ji pek memeriksanya sebentar," sahutnya.

Hui Fei Cin yang melihat kedatangan orang tua itu segera menghambur ke sisinya dan menarik lengan baju orang tua i u dengan manja.

"Ji Pek pek coba kau lihat, apakah ke adaannya sangat gawat Mengapa sejak tadi dia masih pingsan terus?" tanyanya beruntun.

Gi Hua To menatap Hui Fei Cin sekiias Bibirnya mengembangkan senyuman. "Siau Cin, kau jangan cemas Biar Gi pek pek memeriksanya dulu '.

"Coba lihat kau ini, cemas tidak karuan Ji pek bergegas datang dengan menempuh perjalanan sejauh tiga puluh li Seharusnya kau membiarkan Ji pek beristirahat sejenak," gerutu Hui hujin.

Seorang pelayan masuk membawa teko teh dengan cawannya di atas sebuah baki Gi Hua To mengeluselus jenggotnya yang panjang Wajahnya selalu tersenyum.

"Tidak apa-apa Kalau luka yang Yok siangkong derita ini sedemikian parah, memang sebaiknya Lohu periksa sebentar," Dia tidak membiarkan Hui huJin menukas ucapannya "Siapa orangnya yang melukai pemuda ini?".

"Hue leng sen bu " sahut Hui hujin.

"Hue leng senbu''" Gi Hua To maiu meng hampiri Dia menolehkan kepalanya dan bertanya "Mengapa dia bisa berbentrok dengan Cu Lang sian dan Kong Tong pai'?".

"Persoalan ini bila diceritakan cukup panJang Labih baik Ji pek memeriksanya dulu Nanti baru kami ceritakan perlahan lahan ".

"Apakah te so pernah mencekokinya obal Pat pao ci giok tan?" tanya Gi Hua To kem bali.

"Sudah Kira-kira setengah kentungan yang lalu " tukas Hui Fei Ciong.

"Ji pek pek Pat pao ci giok tan katanya dapat meng hidupkan orang yang sudah sekarat Mengapa Yok siangkong yang sudah diminumkan obat itu masih belum terlihat reaksinya?".

Gi Hua To tidak menyahut Dia meng ulurkan tangannya untuk menyingkapkan pakaian Yok Sau Cun dan memperhatikannya beberapa saat Wajahnya menyiratkan sinar terkejut.

"Luka ini terJadi akibat Hue Yan toi" serunya dengan suara parau. Hui Fei Cin berdiri di sampingnya dan ikut memperhatikan. "Apakah Hue Yan to itu semacam senjata rahasia" tanyanya. "Hue Yan to adalah sejems tenaga dalam yang mengandung unsur api dan dapat melukai orang dan jarak jauh Meskipun kehebatannya tidak dapat menandingi Tai yang sinkang tetapi luka yang diakibatkannya lebih keii dan dapat membunuh orang dengan cepat Apabila terserang ilmu ini bukan saja ketajamannya menyerupai pisau serta dapat mengoyakkan pakaian luar hingga ke dalam tybuh, juga dapat melukai isi perut lawan Dan luar yang terlihat hanya guratan luka seperti terbakar Tidak mudah terlihat oleh mata biasa Tetapi unsur api.

yang terkandung di daiamnya lebih kuat sehmgga dapat membakar hangus isi perut lawannya Dan sudah pasti orang yang terserang dalam jarak dekat akan mati seketika," sahut Gi HuaTo.

Tanpa terasa lagi air mata Hui Fei Cin mengalir dengan deras.

'Ji pek pek, bagaimana menurut pendapatmu tentang luka Yok siangkong ini, apakah dia masih bisa tertolong?".

"Yang lohu katakan tadi adalah kehebatan Hue Yan to. Sedangkan Yok siangkong im terluka di tangan Hue leng sen bu, tentu saja masih bisa tertolong ".

"Mengapa derrnkian'?" tanya Hui Fei Cin.

"Hue Yan to adalah semacam ilmu yang paling hebal di dalam perguruan Hue bun Tapi ilmu ini mengandung unsur Yang, orang yang mempelajari ilmu ini seharusnya me fatih dulu ilmu Sau Yang smkang (pengurangan tenaga Yang) Sam yang smkang (Tiga unsur Yang) dan Tai yang smkang (llmu tenaga matahan) baru boleh naik ke tahap selanjutnya Sedangkan menurut kabar yang pernah lohu dengar, Tai yang sm kang sudah lama menghilang dari dunia Bulim Hanya mempelajari Sam yang sinkang langsung melatih Hue Yan to akan mengurangi kedahsyatannya Apalagi orang yang mengerahkan ilmu ini, Hue leng senbu, melancarkannya di maiam han Perempuan yang melatih Hue Yan to sebetulnya kurang cocok Karena dalam tubuhnya lebih banyak terkandung unsur tm Apa lagi dia me nyerang Yok siangkong ini di malam han, di mana atmosfir bumi sedang dipengaruhi unsur im juga. Oleh karena itu mungkin masih ada setitik harapan baginya ".

Hui Fei Cin yang mendengar Gi Hua To mengatakan bahwa Yok Sau Cun hanya tinggal setitik harapan, tangsung merasa lemas Dia langsung menghambur ke dalam pelukan Hui Hujin dan menangis tersedu sedu.

"Ibu '" Suaranya tersendat-sendat sehingga tidak sanggup meneruskan kata-katanya.

HUi Hujin memeluknya eraterat Dibelainya rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang Dia menahan rasa pilu di hatinya.

"Anakku, raut wajah Yok siangkong sangat tampan Bentuk dagu maupun hidungnya bagus Bukan tampang orang yang pendek umur. Dia pasti sanggup melewati cobaan ini Ji pek pekmu juga pasti akan meng obatinya sampai sembuh Kau jangan menangis terus Perhatikan kesehatanmu sendiri ".

Gi Hua To meraba denyut nadi di pergelangan tangan Yok Sau Cun Kemudian dia juga meneliti warna kulit tubuh anak muda itu Setelah itu diperiksanya dengan seksama kelima panca indera Yok Sau Cun Akhirnya dia menempelkan telinganya di dada anak muda itu untuk mendengar denyut jantungnya Selama itu dia tidak berbicara sepatah kata pun.

Hui Hujin dan putnnya sama sekali tidak berani mengganggu Apa lagi Hui Fei Cin Dia menatap anak muda tersebut dengan wajah berduka. Air matanya masih berderai Betapa berharapnya dia agar Ji pek peknya mengatakan Lukanyatidak seberapa parah Tetapi Gi Hua To mengatupkan mulutnya rapatrapat Sepasang alisnya bertaut ketat Dia tidak mengatakan apa-apa.

Hui Hujin tidak dapat menahan perasaan hatinya yang khawatir. "Ji pek bagaimana'' Apakah Yok siangkong masih bisa tertolong?". Gi Hua To mengangkat sepasang pundaknya.

"Keadaaanya masih sulit diraba. Orang yang terkena serangan Hue Yan to sembiian di antara sepuluhnya, ," Sebetulnya dla ingin mengatakan Sembilan di antara sepuluh tidak tertolong lagi. tetapi melihat kekhawatiran ibu dan anak itu, tanpa sadar dia tertegun Suatu ingatan melintas dibenaknya Dla menghentikan ucapannya dan merenung sejenak Kemudian dia baru melanjutkan kembali "Sembilan di antara sepuluhnya mengalami hal yang beda Luka mereka terlihat parah di dalam namun ringan di luar. Tetapi Yok siangkong ini justru terbalik Tampaknya luka yang dideritanya justru parah di luar ringan di dalam. Kemungkinan besar ketika tenaga dalam Hue Yan to Hue leng sen bu baru mengenai dirj anak muda ini, dia sudah menariknya kembali sehingga urat dalam tubuhnya tidak sampai terbakar.".

"Ji pek pek, maksudmu luka yang Yok siangkong alami tidak terlalu parah?" tanya Hui Fei Cin penasaran.

"Kalau ditilik dan keadaannya, sulit dikatakan Seharusnya isi perut Yok siangkong ini tidak terhantam tenaga yang keras Tetapi jantungnya berdetak lemah Pernafasannya juga kurang lancar Seperti seseorang yang darahnya mengalir dan arah yang ber lawanan".

"Darahnya mengalir dan arah yang ber lawanan? Berbahayakah keadaan seperti yang Ji pek pek katakan itu'" tanya Hui Fei Cin.

"Kalau darah mengalir dan arah yang ber lawanan, kemungkinan isi perutnya juga ikut terluka Tapi lohu hanya mengambil kesim pulan dan keadaannya ketika terkena se rangan tersebut," sahut Gi Hua To.

"Ji pek tadi mengatakan bahwa hantaman telapak tangan Hue leng senbu tidak se berapa keras Bukankah hal ir» berarti bahwa luka yang dialami Yok Siangkong ini tidak terlalu parah?" tanya Hui Hujin.

"Tidak salah," sahut Si Hua To llmu Hue Yan to tidak dapat disamakan dengan ilmu lainnya Justru karena dia turun tangan tidak terlalu keras, maka Yok Siangkong ini masih mempunyai setitik harapan Kalau Hue leng senbu mengerahkan segenap tenaganya, lohu yakin saat itu juga jiwa bocah ini sudah melayang ".

"Ji pek kaiau begitu dia masih bisa tertolong'?" tanya Hui hujin kembali. "Sulit . sulit" Gi Hua To menggelengkan kepalanya perlahan Kemudian dia

mengulurkan tiga jari tangannya ke atas "Dalam dunia ini hanya ada tiga cara untuk menolong orang yang terluka akibat serangan Hue Yan to ".

"Apa ketiga cara itu'? tanya Hui hujin.

"Yang pertama tentu saja kembali ke asalnya Hue leng sen bu mempunyai semacam obat yang dmamakan Hue leng tan Obat ini khusus untuk menyembuhkan luka racun akibat Hue Yan to Tetapi kalau dia sampai hati melukai Yok siangkong, tentu dia tidak sudi mengeluarkan obat itu untuk menyembuhkannya".

'Bagaimana dengan cara yang kedua?" lanya Hui Hujin.

"Pak hai Ping hun san atau Bubuk penyebar hawa dingin dan lautan utara Obat ini juga merupakan salah satu obat yang khusus dibuat untuk menyembuhkan berbagai jenis luka akibat racun api Orang yang terserang Tai yang sinkang sekalipun, masih bisa disembuhkan dengan obat im. Namun selain jaraknya yang terlalu jauh dan memerlukan waktu yang lama dalam perjalanan, belum tentu pihak perguruan itu bersedia menyumbangkan obat langka ini untuk kita".

"Kedua macam obat ini sama sutitnya un tuk didapatkan Ji pek. tadi kau mengatakan seluruhnya ada tiga cara. Bagaimana de ngan yang terakhir itu?" tanya Hui hujin.

"Kecuali kedua macam obat itu, cara ketiga untuk menolongnya hanya dengan Jarum emas .".

Hui hujin dapat merasakan bahwa kata kata yang diucapkan Ci Hua To masih ada kelanjutannya. Tetapi dia seperti ada ganjalan hati sehingga berhenti di tengah jalan.

"Kalau memang tidak ada cara lain lagi terpaksa memohon pertolongan Ji pek untuk mengobatmya dengan jarum emas," kata Hui hujin.

Gi Hua To menggelengkan kepalanya.

"Mengobati dengan cara menusukkan jarum emas melalui jalan darah, memang dapat mengurangi racun api di dalam tubuhnya Otomatis jiwanya dapat dipertahankan.

Tetapi, aih Dengan cara demikian, hawa murninya akan membuyar Seluruh tenaga dalamnya akan musnah dan mengalir keluar tanpa dapat dibendung Dia akan menjadi manusia biasa serta tidak bisa belajar silat lagi seumur hidupnya ".

Mendengar ucapan Gi Hua To, tanpa sadar tubuh Hui Fei Cin tergetar Air matanya mengalir dengan deras.

"Ibu, hal ini mana boleh terjadi Ji pek pek, aku mohon kepadamu cobalah pikirkan cara yang lain," ratapnya pilu.

Tentu saja Gi Hua To juga dapat melihat adanya hubungan antara Yok siangkong ini dengan keponakannya. Dia menggelengkan kepata perlahan-lahan.

"Meskipun ada obat mujarab, tapi keduanya sulit didapatkan Satu-satunya jalan hanya mengurangi racua dengan tusukan jarum emas ".

Hui hujin merenung sekian lama Akhirnya dia mengambil keputusan.

"Aku akan mencan Hue leng sen bu Yang dnnginkannya adalah Sit Kim kiam Kalau aku membawa Sit Kim kiam untuk ditukarkan dengan Hue leng tan, tidak mungkin dia menolaknya.

Mendengar ucapan ibunya kesedihan Hui Fei Cin agak berkurang. "Ibu, aku juga ikut!".

"Te so, kau ingin menemui Hue leng senbu? Sit Kim kiam ditukarkan dengan Hue Leng tan? Sebetulnya apa yang terjadi?' tanya Gi Hua To penasaran.

Hui hujin langsung mencentakan bagaimana Hue leng senbu menculik Hui Fei Cin dan memintanya menyerahkan Sit Kim kiam Kebetulan Yok Sau Cun datang dan Bu Cing atas perintah Song loya cu untuk mengan tarkan pedang tersebut dan bagaimana anak muda itu berkeras mewakilinya menemui Hue leng senbu sampai terjadi pertarungan di antara mereka.

Gi Hua To mendengarkan dengan penuh perhatian Wajah.nya. agak berubah setelah centa itu selesai.

"Kong Tong pai benar benar menghina kita Di daerah Wi Yang pai dia berani menculik orang dan dijadikan sebagai jaminan Benar-benar tidak memandang sebelah mata terhadap Wi Yang Pai kita. Mari, lohu temani kau menemui wanita itu'" seru Gi Hua To marah.

"Ji pek harap jangan mengumbar amarah Sekarang Yok siangkong sedang terluka parah Kita memerlukan Hue Leng tannya Yang terutama saat ini adalah menolongnya Lebih baik kita serahkan saja Sit Kim kiam untuk ditukarkan dengan Hue Leng tan Mengenai hutang piutang ini. pihak Kong Tong pai yang memulainya terlebih dahulu Tunggu sampai Cuo hu pulang baru kita minta keadilan dan mereka ".

Gi Hua To menganggukkan kepalanya berulang kali.

'Untuk sementara ini memang hanya satu pilihan kita Baiklah Urusan ini jangan ditun da lagi Kita berangkat sekarang juga" Hui hujin segera melepaskan Sit Kim kiam dari pinggang Yok Sau Cun Kemudian dia membalikkan tubuhnya.

"Fei Cin, kau jangan ikut Luka yang di denta Yok siangkong demikian parah Lebih baik kau di rumah menjaganya," katanya ke pada Hui Fei Cin. Hui Fei Cin menolehkan kepalanya memandang ke arah Yok Sau Cun yang terbaring di atas tempat tidur Sepasang matanya terpejam rapat Nafasnya semakin melemah Air mata gadis itu mengalir semakjn deras Dia mengusapnya dengan sehelai sapu ta ngan yang dikeluarkan dan selipan ikat ping gangnya Dia merasa ucapan ibunya memang benar Oleh karena itu dia menganggukkan kepalanya.

"Ji pek, mari kita berangkat." ajak Hu hujin.

Tangan Gi Hua To mengelus-elus jenggot nya semban metangkah keluar bersama Hu hujin. Hui Fei Cin menjaga Yok Sau Cur seorang diri. Kepalanya tetap ditundukkan Air matanya masih juga mengalir Siau Cu masuk dengan teh hangat di atas baki.

"Siocia. minumlah teh hangat ini." katany dengan suara berbisik. Hui Fei Cin sama sekali tidak mendongakkan wajahnya. "Letakkan saja di atas meja," sahutnya lirih.

"Siocia ".

Hui Fei Cin tidak memberinya kesempatan untuk berbicara lebih lanjut. "Kau keluar saja Hatiku sedang resah ".

Siau Cui tidak berani berkata apa-apa lagi Diam-diam dia mengundurkan diri dan kamar itu Hui Fei Cin mengangkat cawan teh dan meminumnya seteguk Tiba-tiba dan luar jendela terdengar suara.

"Plok!" Dan segans smar meluncur masuk mengarah ke tempat tidur di mana Yok Sau Cun terbaring.

Hui Fei Cing terkejut sekali Dia segera mengawaskan penglihatannya, yang meluncur masuk melalui jendela rupanya sebatang piau yang berkilauan Untung saja timpukan lawan tidak tepat sehingga melesat kira kira tiga cun dari tenggorokan Yok Sau Cun dan menancap di tiang kayu tempat tidur.

Hui Fei Cin menjadi panik Dia langsung berdiri dan menyambar pedang pusakanya.

"Siapa'?" teriaknya lantang Sepasang kakinya menutul, dengan jurus Hung Yan Cuang lian (Burung camar menembus tirai) dia menerobos keluar lewat jendela.

Di luar jendela terdapat sebuah taman kecil Disana ditanam berbaggi macam pohon dan bunga. Dahan dan dedaunan tum buh subur Ketika Hui Fei Cin menerobos lewat jendela, dia melihat bayangan sesosok tubuh yang melesat ke atas tembok dan menghilang di batiknya.

Mana mungkin Hui Fei Cin sudi melepaskan orang itu begitu saja Kakinya menghentak. tubuhnya mencelat melewati tembok taman dan secepat kilat dia mengejar Matanya segera mengedar. Tampak bayangan orang itu sudah melesat melalui dua atap bangunan bertingkat ke arah timur. Hui Fei Cin menghimpun hawa murninya lalu dengan mengerahkan ginkang dia melesat ke depan Kemudian dia mengikuti gerakan orang itu yang mencelat ke atas atap Bayangan itu sudah melayang turun kembali dan sedang berlari di tanah kosong.

Hui Fei Cin mengejar dengan ketat Dia tidak mau ketinggalan oleh bayangan tersebut Dengan demikian terjadilah pengejaran yang seru Bayangan itu rupanya sangat cerdik Dia selalu menyelinap di celah yang gelap kemudian muncul fagi di bagian yang lain.

Kurang lebih tiga li sudah ditempuh oleh Hui Fei Cin Tempat itu tidak jauh dankota Hui Fei Cin sadar bahwa akan sulit baginya untuk mengeJar orang itu apabila dia menujukota karena disana terdapat banyak rumah panduduk yang dapat dijadikan tempat persembunyian Dipercepatnya langkah kakinya Akhirnya jarak mereka tinggal empat tima depa.

"Kau masih belum mau berhenti''" bentak Hui Fei Cin kesal.

Bayangan yang ada di depan mendengar suara bentakannya Tidak terduga orang itu benar-benar menghentikan tangkah kakinya Kemudian dia membalikkan tubuh menatap Hui Fei Cin.

"Apakah anda memanggil aku? tanya orang itu.

Sekarang Hui Fei Cin baru melihat jelas orang tersebut Tubuhnya kurus kecil Tetapi karena hari masih gelap, dia tidak dapat melihat jelas raut wajahnya Dia tertawa dingin.

'Di tempat mi hanya ada kau seorang Kalau bukan kau yang dipanggil, siapa lagi?". Bayangan kurus kecil itu agak tertegun mendengar ucapan Hui Fei Cin.

"Rasanya aku tidak pernah mengenalmu, buat apa kau memanggil aku?' tanyanya keheranan.

"Buat apa aku memanggilmu? Huh' Jangan pura pura bodoh. Hayo katakan' Dari mana kau tadi'?" bentak Hui Fei Cin.

"Dari mana aku tadi, apa hubungannya denganmu'?" Bayangan kurus kecil itu malah membalikkan pertanyaan Hui Fei Cin.

Pedang di tangan Hui Fei Cin langsung diangkat ke atas dan menuding bayangan kurus kecil itu.

"Tentu saja ada hubungannya denganku Siapa yang menyuruh kau mencelakai Yok siangkong? Kalau kau mengatakannya terus terang, aku akan mengampuni jiwamu'".

Bayangan kurus kecil itu tampak terkejut sekali.

"Apa yang kau katakan"? Mencelakai Yok siangkong? Aku sama sekali tidak mengenal orang yang bernama Yok siangkong Mengapa aku harus mencelakainya?" sahutnya.

"Masih coba mungkir? Terang terangan ladi kau menyelinap keluar dan Kui Hun Ceng Sejak tadi aku mengejarmu, mana mungkin salah?".

Mendengar ucapan Hui Fei Cin, bayangan "kurus kecii itu semakin terkejut Cepatcepat dia merangkapkan kepalan tangannya menura dalam dalam.

"Kui Hun Ceng. Kau. Tentunya Toasiocia dan Kui Hun Ceng Siaute masuk ke kota karena abang di rumah sedang sakit keras dan disuruh Ibu membelikan obat Siaute memang pernah belajar ilmu silat kasaran untuk menjaga diri Jadi lannya juga agak cepat Mungkin hat yang membuat Toa siocia salah paham Barusan Siaute keluar darijalan raya supaya bisa cepat cepat sampai ke rumah. Kalau Toa siocia masih tidak percaya, lihatlah bungkusan obat di tangan Siaute ini tentu Toa siocia salah mengejar orang," sahut bayangan kurus kecil itu panjang lebar.

Dia mengangkat bungkusan di tangannya tinggi-tinggi Ternyata memang sebuah ungkusan berbentuk persegi Sekali lihat aja sudah ketahuan bahwa memang benar ungkusan obat Hui Fei Cin juga tahu kalau di dekat ujung jalan Ki Siang Hong ada se buah toko obat yang bernama Tiau Sou Tong Tampaknya ucapan bayangan kurus kecil ini tidak seperti orang yang berdusta Hui Fei Cin menarik nafas panjang Pedang nya ditarik kembali.

"Pergilah. " katanya tersipu-sipu.

Tampaknya bayangan tubuh yang kurus kecil itu gembira sekali mendengar ijin Hui Fei Cin Sekali lagi dia meniura dalam-dalam.

"Terima kasih, Toa siocia Abang Siaute sedang sakit parah Sekarang tentu sedang menantikan kedatangan Siaute yang disuruh membeli obat Siaute terpaksa mohon diri " Selesai berkata, dia membalikkan tubuh lalu meninggalkan tempat tersebut dengan bungkusan obal di tangannya.

Hui Fei Cin melihat bayangan ilu menutulkan sepasang kakinya, tiba-tiba tubuh nya metesat bagai terbang. Tujuannya ke arah kota. Dalam waktu sekejap mata ba yangannya sudah menghitang dalam kegelapan malam!.

ilmu silat orang ini cukup tinggi Tidak disangka kalau dia adalah penduduk sekitar kota ini pikir Hui Fei Cin dalam hati.

Setelah terjadinya halangan seperti ini, orang yang membokong Yok Sau Cun pasti sudah kabur entah kemana Bagaimana Hui Fei Cin bisa mengejarnya lagi"? Tangan gadis itu masih menggenggam pedangnya erat-erat Akhirnya dia mengambil keputusan untuk kembali ke Kui Hun Ceng.

Saat itu kirakira kentungan keempat. Di depan gedung rumahnya masih gelap gulita. Dengan perasaan berkecamuk, Hui Fei Cin menghambur lewat pintu gerbang Dia melihat Hui Gi berdiri termangu mangu di depan pintu Mungkinkah dia sedang menunggu kedatangan seseorang? Hui Fei Cin menghentikan langkah kakinya. "Apakah Ibu sudah kembali?" tanyanya cepat.

Hui Gi tetap berdiri tanpa menyahut sepatah kata pun.

"Lao koanke, ada apa dengan dirimu'"' tanya Hui Fei Cin sekali lagi Hui Gi masih juga berdiri termangu-mangu Dia seperti tidak mendengar perItanyaan Hui Fei Cin Gadis itu terkejut sekali. Dia menatapnya dengan teliti.

"Rupanya dia tertotok oleh seseorang Lao koanke Hui Gi mengikuti Tia sejak kecil ilmu silatnya bahkan jauh lebih tinggi daripada diriku sendiri. Siapa yang sanggup menotoknya begitu saja?" Hati Hui Fei Cin bertanya-tanya.

Membawa pikiran seperti itu, Hui Fei Cin langsung mengulurkan tangannya dan menepuk dua tempat jalan darah di tubuh Hu Gi Orang tua itu mengeluarkan suara keluhan Kedua tangannya langsung dapat di gerakkan Sepasang matanya mengejap kejap Kemudian dia mengedarkan pandangannya.

"Aneh'" Tiba-tiba dia berseru.

"Lao koanke, bagaimana perasaanmu?".

Mata Hui Gi segera beralih kepada Hui Fe Cin.

"Rupanya Toa siocia yang membebaskai jalan darah Budak tua Aih kalau d ceritakan sungguh memalukan Budak tu benarbenar telah dikerJai orang Tibatib. dibokong tetapi sama sekalf tidak sempi melihat siapa yang turun tangan," katanya penasaran.

"Kau tidak melihat orangnya?" tanya Hui Fei Cin.

Hui Gi menggelengkan kepalanya dengan tersipu-sipu.

"Betul Ketika Loa hujin dan Gi Jin loya cu pergi, mereka berpesan agar menjaga pintu gerbang. Budak tua mengantarkan Lao hujin berangkat Setelah mereka agak jauh, Budak tua membalikkan tubuh dengan maksud kembali ke dalam Tiba-tiba kesadaran Budak tua hilang dan tidak ingat apa-apa lagi".

Hm Fei cin merenung sekian lama. Hui Gi melihat tangan siocianya menggenggam pedang Dia merasa heran.

"Apakah Toa siocia menemukan sesuatu?".

"Aku pergi mengejar seseorang Baru kembali aku melihat kau berdiri termangu- mangu di depan pintu," sahut Hui Fei Cin.

Hui Gi terkejut sekali.

"Apakah Toa siocia berhasil mengejar orang itu?".

"Aku salah mengejar orang Dia masuk ke kota untuk membeli obat abangnya yang sedang sakit keras Terpaksa aku melepaskannya ". Sebuah ingatan terlintas di benak Hui Gi.

"Cepat Toa slocia masuk ke dalam Budak tua akan memeriksa sekitar tempat ini Jangan sampai terperangkap jebakan musuh ..''.

Wajah Hui Fei Cin menjadi pucat mendengar perkataan Hui Gi.

"Eh?" Gadis itu juga tersadar seketika Cepat-cepat dia menganggukkan kepalanya "Aku masuk dulu ke dalam.".

Hui Fei Cin langsung menghambur ke dalam rumah. Di bagian belakang di mana terletak kamar tamu masih terlihat adanya pe nerangan Suasanyatetaptenang seperti semula. Hati Hui Fei Cin agak lega melihat keadaan itu Langkah kakinya diperingan Dia menerobos masuk melalui jendela yang sama. Begitu sampai di dalam, hatinya langsung ciut.

Suasana dalam kamar sunyi sekali Lentera minyak masih menyala Demikian juga lentera yang tergantung di atas. Siau Cui duduk di depan tempat tidur dengan kepala tertunduk Dia tampaknya sedang terkantuk kantuk Hanya Yok Sau Cun yang terluka parah dan tadinya berbaring di atas tempat tidur bahkan tidak sadarkan diri, tidak terlihat bayangannya lagi. Bahkan sebatang pisau yang disambit oleh orang tadi juga sudah lenyap tidak berbekas.

Yok Sau Cun sedang terluka parah Tidak mungkin dia tiba-tiba sadarkan diri dan meninggalkan tempat itu tanpa pesan sedikit pun Hanya satu Jawaban yang sudah pasti Dia telah diculik oleh seseorang.

Temyata orang itu menggunakan siasat Memancing harimau meninggalkan sarang.

Hui Fei Cin cepat menghambur ke depan Siau Cui dan memanggilnya keraskeras . "Siau Cui ! Siau Cui !".

Rupanya Siau Cui bukan sedang terkantuk-kantuk, tetapi jalan darahnya juga telah tertotok oleh seseorang Hui Fei Cin merasa terkejut juga panik Cepatcepat dia menepuk punggung gadis itu agar jalan darahnya lancar kembali.

"Siau Cui, kemana yok siangkong?" tanyanya panic.

Siau Cui bagai tersentak bangun dari mimpinya Dia mengucek kucek matanya. "Siocia, apa yang kau katakan?".

"Aku sedang bertanya kepadamu Siapa yang menculik Yok siangkong'?".

"Bukankah Yok siangkong terbaring di atas tempat tidur'?" Siau Cui memalingkan wajahnya Tanpa sadar matanya terbelalak mulutnya terbuka lebar "Dia kok bisa hilang'?".

"Apakah kau tidak tahu siapa yang me notok jalan darahmu'?" tanya Hui Fei Cin semakin panasaran.

"Budak benarbenar tidak tahu Budak tadi mendengar suara bentakan Siocia maka cepatcepat datang untuk melihatapa yang terjadi. Tetapi siocia sudah melesat keluar melalui jendela Sedangkan Yok siangkong ditinggal sendirian di dalam kamar ini Oleh karena itu, Budak tidak berani menyusul Tiba-tiba, Budak tidak tahu apa apa lagi Seperti orang yang tertidur pulas ".

"Kau telah ditotok oleh seseorang Apakah kau tidak sempat melihat tampang orang itu'?" tanya Hui Fei Cin.

Mendapat teguran seperti itu, Siau Cui ketakutan sekali.

"Budak memang bersalah Budak pantas mendapat hukuman mati." sahutnya gugup.

"Sudahlah Orang yang datang itu ilmunya tinggi sekali Dengan mengandalkan ilmu silatmu yang demikian rendah, tentu saja kau tidak dapat melihatnya. Aih.. Mengapa Ibu masih belum pulang juga? Benar benar membuat orang bingung ".

"Siocia, menurut pendapat Budak, orang yang menculik Yok siangkong pasti Hue leng senbu Lao hujin belum kembali Mereka pasti masih ada di Sian Li bio Mengapa kita tidak menyusul Lao hujin saja dan meminta kembali Yok siangkong'?" kata Siau Cui memberikan saran.

Hui Fei Cin menganggukkan kepalanya berkalikali.

"Apa yang kau katakan memang benar. Man kita berangkat" sahut gadis itu sambil membalikkan tubuh dan keluar dan kamar.

Siau Cui meraba pedang pendeknya yang terselip di pinggang Ternyata masih ada Cepatcepat dia menyusul Hui Fei Cin dan belakang Majikan dan budak berduaan melangkah dengan cepat Hati mereka sedang kalut Baru sampai di pmtu kedua, mereka bertemu dengan Hui Gi.

Hui Gi heran mehhat kedua orang itu melangkah dengan tergesa-gesa Dia segera membungkukkan tubuhnya dengan hormat ke arah Hui Fei Cin.

"Toa siocia, apakah kau mau pergi? Budak tua sudah mencari ke mana mana Na mun tidak menemukan apa pun ".

"Kami akan menyusul ibu ke Sian Li bio Yok siangkong telah diculik orang," sahut Hui Fei Cin.

Hui Gi terkejut sekali mendengar keterangan itu.

"Yok siangkong diculik orang? Siapa kirakira orangnya yang melakukan hal itu?".

"Tidak perlu ditanyakan lagi Sudah pasti hasil perbuatan Hue ieng senbu Dia menggunakan kesempatan ketika ibu dan Gi Ji pek pek tidak ada dan menyuruh orang memancing aku keluar dan rumah Kemudian secara diam diam seorang tokoh yang berilmu tinggi menyelinap masuk lalu menotok jalan darahmu dan Siau CLH Kecuali Kong Tong pai, siapa yang mempunyai nyali sebesar itu mengganggu Kui Hun Ceng?' sahut Hui Fei Cing jengkel.

"Apa yang Toa siocia katakan memang benar. Tetapi Lao hujin belum pulang Kalau menurut pendapat Budak tua, apabila Kong Tong pai berani menyelundup ke Kui Hun Ceng menculik Yok siangkong, mereka pasti sudah mempunyai rencana yang matang. Kalau Toa siocia datang ke sana dengan tergesa gesa, mungkin bisa menemui bahaya Seandainya benar, bukankah urusan ini bertambah runyam? Maksud budak tua, lebih baik tunggu sampai Loa hujin dan Gi Ji loya cu kembali Kita adakan persiapan yang sempurna baru kemudian mengambil tindakan ".

"Tidak Menolong orang seperti mema damkan kebakaran Ibu dan Gi pek pek sekarang masih ada di Sian Li bio Kalau kita menyusul secepatnya pasti bisa berjumpa dengan mereka Setelah itu aku akan menceritakan apa yang telah terjadi dan meminta kepada Ibu agar mendesak Hue leng sengbu mengembafikan Yok siangkong ".

"Fei ji. apa yang terjadi di Kui Hun Ceng'?" Angin berhembus suara ucapan selesai, orangnya pun tiba Hui hujin dan Gi Hua To melayang turun tepat di hadapan ketiga orang itu.

"Ibu " sapa Hui Fei Cin gugup "Yok siangkong telah diculik orang'". Tentu saja Hui hujin terkejut sekali. Matanya sampai terbelalak.

"Bagaimana Yok siangkong bisa diculik orang? Siapa yang datang ke Kui Hun Ceng?" tanyanya beruntun.

"Anak juga tidak tahu Kemungkinan Hue leng senbu yang menculiknya," sahut Hui Fei Cin.

Hui hujin heran mendengar keterangannya.

"Bukannya kau menemani Yok siangkong, mengapa kau tidak melihat siapa-siapa?".

"Mereka memancing anak dengan siasat Memancing harimau meninggalkan gunung1".

"Apakah Siau Cui juga tidak melihat siapasiapa?" tanya Hui hujin penasaran.

"Siau Cui ditotok sehingga tertidur Lao loanke juga mengalami hal yang sama " sa hut Hui Fei Cin.

Hui hutin langsung tertegun.

"Bisa ada kejadian seperti itu'" serunya aneh.

Gi Hua To mengangkat tangannya mengelus-elus jenggot di bawah dagunya yang panjang. "Siau Cin, ceritakan perlahan-lahan Mulal dari kejadian yang kau alami, biar lohu dan ibumu bisa mendengarkan dengan seksama," katanya.

"Lebih baik kita masuk dulu ke dalam," ajak Hui hujin.

Beramai-ramai mereka masuk ke ruangan dalam Hui Fei Cin kemudian menceritakan seluruh peristiwa yang dialaminya dengan terperinci Setelah ceritanya selesai, Hui hujin mendengus marah.

"Tidak salah lagi Itulah sebabnya malam ini Juga mereka sudah kabur semuanya ". "Ibu, siapa yang kabur malam malam?" tanya Hui Fei Cin.

"Siapa lagi kalau bukan Hui ieng senbu Cu leng Sian beserta komplotannya?" Nada Hui hujin terdengar marah sekali "Ibu dan Gi pek pek bergegas ke Sian Li bio Kami tidak menemukan apa apa Di sana tinggal sebuah bangunan yang kosong Rupanya mereka ke Kui Hun Ceng untuk menculik Yok siangkong.

Mendengar keterangan itu, hati Hui Fei Cin panik sekaii.

"Ibu, apa yang harus kita lakukan?" Dia mencemaskan keadaan Yok Sau Cun, hampir saja air matanya mengaiir lagi.

Hui hujin tertawa dingin.

"Hwesio lari, kuilnya pasti masih ada Masa kita takut Kong Tong pai akan memin dahkan pusat partai mereka?".

Gi Hua To menggelengkan kepalanya perlahan-lahan.

"Hue leng senbu tidak mempunyai alasan untuk menculik Yok siangkong," katanya.

"Kecuali Hue leng senbu Cu Leng Sian Siapa lagi? Pertama tama dia menculik Fei ji Sekarang dia malah menculik Yok siang kong Perbuatan Kong Tong pai ini sungguh sudah kelewat batas'" gerutu Hui hujin.

"Ibu, menurut pendapat anak, mereka pasti belum lari seberapa jauh Kalau kita menyusul dengan cepat, kemungkinan masih bisa kecandak," tukas Hui Fef Cin.

Hui hujin menarik nafas panjang.

"Kalau ditilik dan cara mereka menculik Yok siangkong yang demikian misterius Mungkin mereka telah mempunyai persiapan sebelumnya Coba bayangkan Mereka bahkan tidak meninggalkan jejak sedikit pun Bahkan tidak ada satu pun dari orang mereka yang terlihat oleh kalian Sekarang Yok siangkong sudah terjatuh dalam genggaman mereka, mungkin saja mereka sudah menyiapkan jebakan yang lain agar kita kembali kecewa Lagi pula Yang Ciu merupakan kota yang dapat menembus ke utara ataupun selatan Di mana pun mereka biaa bersernbunyi Biarpun orang kita banyak, tapi tidak mungkin kita mengejar secara terang-terangan .". Kelopak mata Hui Fei Cin mulai memerah.

"Yok siangkong telah diculik oleh mereka Apakah kita harus membiarkannya begitu saja"?" teriak gadis itu kesal.

Hui hujin melinknya sekilas Tentu saia dia mengerti bagaimana khawatirnya hati putn kesayangannya itu Dia tertawa sumbang.

"Kapan Ibu pernah mengatakan akan membiarkan begitu saja? Tetapi saat ini han masih belum terang Lagipula urusan mengejar mereka, Ibu harus merundingkannya dulu dengan Gi pek pek Setelah itu kita baru bisa mengambil keputusan. Yok siangkong diculik orang dalam Kui Hun Ceng kita, kecuali Wi Yang pai tidak memperdulikan nama baiknya lagi di duma kangouw, kalau tidak, urusan ini harus diselesaikan dengan tuntas".

Kedua jan tangan Gi Hua To terus mencabut-cabut jenggotnya yang panjang.

"Maksud le so, merencanakan dengan lohu apakah sebaiknya menyebarkan Cu tek lengci (Lencana bambu penyebar berita) agar anggota Wi Yang pai dapat dikerahkan untuk mencari kabar tentang mereka?'.

"Cuo hu pergi sudah beberapa han Sampai sekarang belum kembali juga Tentu saja dia tidak tahu bahwa telah terjadi sesuatu dalam Kui Hun Ceng Maksudku, dengan cara yang sama, kita dapat mengabarkan kepada cuo hu Kedua, Cu Leng Sian meninggalkan Sian Li bio malammalam Dalam beberapa han ini, biar bagaimana cepatnya mereka menempuh perjalanan, pasti belum keluar dan wilayah Kiang Wei Tentu saja anggota kita juga bisa menyelidiki jejak mereka Justru karena Cuo hu tidak ada maka urusan ini terpaksa merepotkan Ji pek ".

Wi Yang sam kiat merupakan saudara seperguruan Yang paling besar Si Ce Hu, selama hidupnya lebih mementing'kan keaga maan Dia selalu mengenakan pakaian tosu Rumahnya di wilayah Wi Lam Orang-orang menyebutnya Wi Lam cu Loji, alau saudara seperguruan yang kedua, bukan lain dari Gi Hua To yang nama aslinya Gi Lam Ceng. Sedangkan Losam lalah Wi Yang taihiap Hui Kln Siau. Dialah yang menjadi ahli waris Wi Yang pai Sedangkan lotoa dan lo jl menjadi Huhoat. Katakala Hu hoat Ini di dalam setiap partai mempunyai kedudukan yang berbeda. Ada lagi yang hanya menggunakannya sebagai sebutan untuh tohoh yang lebih tua. Atau tokoh yang leblh penting. Seumpamanya murid para Huhoat, biasanya dipilih oleh Ciang bunjin dari muridmurid yang berbakat, tetapi kedutlukan Hu hoat dalam Wi Yang pai tidak sama. Kedudukan ini sangat tinggi bahkan lebih tinggi dari pada tianglo dalam partai laln Dalam Wi Yang pai sama sekali tidak ada tiangto Huhoat dalam partai ini dapat mengambil keputusan apa pun tatkata Ciang bunjin sedang ada di tempat.

Anggota Wi Yang pai tersebar di seluruh Kiang Wei. Untuk menurunkan perintah Ciang bunjln, disebarkan Cu tek leng ci. Sekarang Wi Yang taihiap Hui Kln Siau tidak ada di tempat. Apabila terjadi sesuatu dalam partai dan harus menyebarkan Cu tek leng ci, tentu saja Gi Hua To yang harus ber tanggung jawab.

"Apa yang teso katakan memang kenyata an, tampaknya kita terpaksa menyebarkan Cu tek leng ci," kata Gi Hua To dengan nada berat. Hui Fei Cin merasa khawatir terus.

"Ibu, apabila kita sudah menyebarkan Cu tek leng ci, apak h kita pasti dapat menemukan mereka?".

Hui hujin tertawa sumbang.

"Anak, kau jangan khawatir Di antara su ngai telaga, dari utara sampai selatan, ter sebar anggota Wi Yang pai kita Kekuatan dan ilmu silat kita tidak kafah dengan pihah Kong Tong pai Boleh jadi Hu leng sen bL memiliki ilmu silat yang tinggi sekali Tapi kalau hanya ingin menemukan mereka, tentu bukan hal yang sulit Coba kau pikirkan baik baik, rombongan orang seperti Cu Leng sian tentu akan menarik perhatian orang banyak Bagaimana mereka dapat meloloskan diri dan penglihatan dan pendengaran anggota Wi Yang pai? Yang aku khawatirkan justru " Tiba-tiba dia menarik nafas panjang dan menghentikan kata-katanya.

Tentu saja Hui Fei Cin menjadi penasaran. Dia langsung mendesak Ibunya. "Ibu, justru apa"? Mengapa kau tidak rnengatakannya terus terang'?".

Hui hujin mendongakkan wajahnya. Matanya menerawang di kejauhan.

"Yang Ibu khawatirkan justru [uka yang Yok siangkong derita. Sekarang dia malah dlculik oleh Cung Leng sian Entah bagatmana keadaannya?".

Sebagai seorang ibu yang penuh penger tian Hui hujin tahu perasaan anaknya terhadap Yok Sau Cun Otomatis dirinya juga ikut ikutan khawatir keadaan calon mantu nya Sepasang matanya menyorotkan sinar kepedihan.

Mendengar ucapan ibunya, hati Hui Fei Cin bertambah cemas Waiahnya tampak sedih sekali "Lalu apa yang harus kita lakukan?" Belum apa-apa dia sudah panik memikirkan Yok Sau Cun.

Gi Hua To mafah tertawa terkekehkekeh melihat kecemasan mereka.

"Lihat kalian ibu dan anak Begitu paniknya sampai otak jadi beku Bukankah kesedihan kalian ini terlalu berlebihan Yok siangkong dilukai oleh serangan Hue Yan tonya Hue leng senbu. Sekarang dia justru djculik oleh orang yang sama. Kalau dia berani menculik anak muda itu. masa dia tida, memperdulikan mati hidupnya?".

Bibir Hui hujin tampak bergerak. Dia seperti ingin menyahut ucapan Gi Hua To. Tapi orang tua itu tidak memberinya kesempatan untuk menukas.

"Kita baru saja kembalj dari Sian Li bio Di sana kita tidak bertemu dengan Cu Leng Sian. Untuk menolong Yok siangkong, kita tarpaksa menggunakan cara menusuk de ngan jarum emas. Dengan demikian racun datam apinya dapat berkurang. Tetapi Yok siangkong juga tidak berlatih ilmu silat lagi seumur hidupnya Sekarang dia diculik oleh Cu Leng Sian, kemungkinan dari bencana dia malah mendapat keberuntungan," kata Gi Hua To selanjutnya.

Kata-katanya itu hanya semacam ucapan pelipur lara Tetapi katau direnungkan baikbaik, bukan tidak ada kemungkinannya Mendengar kata-kata itu, Hui hujin meng anggukkan kepalanya berkali-Kali.

Hui Fei Cin justru mencibirkan bibirnya dengan gaya mengejek.

"Hue leng senbu sengaja menculik Yok siangkong. Mana mungkin dia mengandung maksud baik?" gerutunya.

Tepat pada saat itu, dua orang pelayan masuk ke dalam ruangan dengan membawa nasi dan empat macam hidangan. Semuanya disusun rapi di atas meja. Siau Cui membungkukkan tubuhnya dengan hormat.

"Gi Ji loya cu, Lao hujin, siocia. silahkan makan," katanya sopan. Hui hujin tersenyum simpul.

"Malah Siau Cut yang dapat berpikir panjang Kita sudah berkutat sepanjang malam Tentu semua sudah merasa lapar. Ji pek, silakan duduk '.

"Baik. baik. Setelah sarapan, han juga sudah terang Nanti kita suruh Hui Gi utus beberapa orang murid kita yang ada disini funtuk menyebarkan Cu tek leng ci," sahut orang tua itu sambil kemudian melangkah lebar menuju meja makan.

Hui hu|in dan Hui Fal Cin duduk berdampingan. Sedangkan Gi Hua To mengambil tempat di seberang mereka agar dapat berbincang bincang secara berhadapan Siau.

Cui dan kedua pelayan tadi segera menyendokkan nasi ke dalam mangkuk mereka masing-masing.

Tepat pada saat itu, tampak seorang pelayan yang lain masuk ke dalam ruangan dengan langkah tergopohgopoh Dia langsung menjura di hadapan Hui hujin.

"Lapor Lao Hujin, Lao loanke menyuruh hamba masuk memberi laporan bahwa di depan pintu datang seorang pemuda dengan dandanan pelajar yang katanya ingin menyampaikan surat untuk Yok siangkong Sebetufnya dia sudah mau pergi, tetapi Lao koanke sedang mencarj jafan untuk menahannya Harap Lao hujin cepat keluar dan melihat. ".

Tampaknya orang itu berlari sekencangkencangnya ke dalam rumah. Nalasnya masih tersengafsengal Cara bicaranya pun tersendat-sendat.

"Mengantarkan surat untuk Yok siangkong?" Hui hujin langsung curiga "Siapa orang ini'?".

"Hamba juga tidak tahu. Lebih baik Lao hujin keluar dan lihat sendiri. Gi Hua To langsung berdiri dan tempat duduknya. "Kedatangan orang ini sungguh mencurigakan Mengapa dia tidak datang lebih awal atau lebih lambat apabila ingin mengantarkan surat untuk Yok siangkong Mengapa justru tengah malam begini. Bahkan matahari saja betum terbit. Lebih baik kita lihat sendiri ".

Di bagian timur baru terlihat segurat garis merah. Suasana di sekitar KU! Hun Ceng masih gelap gulita Tibattba di depan gedung kediaman Wi Yang tayhiap terdengar suara ringkikkan kuda.

Justru karena nngkikkan kuda itu terdengar sampai di dalam gedung maka Lao koanke Hui Gi langsung tahu orang yang menunggang kuda tersebut menuju ke Kui Hun Ceng. Oleh karena itu juga, dia tidak menunggu sampai tamu itu mengetuk pintu, dia telah menantikan kedatangannya di pintu gerbang.

Ternyata suara nngkikkan kuda berhenti di depan Kui Hun Ceng. Kemudian lerdengar suara ketukan pintu sebanyak dua kali.

"Apakah ada orang di dalam?" Disusul suara teriakan pendatang itu.

Mendengar nada suaranya yang bening dan nyaring. Hui Gi segera dapat menduga bahwa usia orang ini masih muda sekali Malah kemungkinan besar seorang bocah cilik. Dia segera membuka pintu dan melangkah keluar.

Apa yang diduganya hampir tepat Di atas undakan batu depan pintu gerbang berdiri seorang pemuda berdandanan su seng Dia mengenakan pakaian berwarna hijau Wajahnya putih bersih Sepasang alis dan matanya sangat indah. Tampahnya seorang pemuda yang berasal dari keluarga berada Gayanya lemah lembut seperti orang yang akan terbang terhempas angin kencang Tubuhnya sudah kurus kecil lagi. Usianya paling banter antara enam belas atau tujuh belas tahun.

Hui Gi langsung menyambutnya dengar bibir tersenyum. "Siangkong ingin mBncari siapa''" tanyanya ramah.

Pelajar itu merangkapkan sepasang kepalannya dan menjura dalam-dalam. "Numpang tanya kepada lao koanke, apa kah di sini gedung keluarga Hui?".

'Siangkong im sungguh aneh Apakah dia tidak melihat tulisan Kui Hun Ceng yang begitu besar di depan pintu?' pikir Hui Gi dalam hatinya Tetapi dia tidak menunjukkan keheranannya dari luar Hui Gi tetap tersenyum ramah.

"Betul," sahutnya.

"Kalau begitu, ini merupakan kediaman Wi Yang taihiap?' tanya pelajar itu kembali.

'Mengapa dia menanyakan sampai demikian terpennci? Apakah dia takut kalau sampai salah alamat?. "Betul Numpang tanya, siangkong ini ada urusan apa mengunjungi rumah loya kami ini".

Pelaiar itu seakan merasa lega mendengar ucapan Hui Gt Dia segera menjura sekali lagi.

"Cayhe ingin mohon kepada Lao koanke. Apakah di sini ada seorang tamu yang bernama Yok siangkong?".

Mendengar pertanyaan tamu ini tentang Yok siangkong, hati Hu Gi semakin curiga.

"Entah siapa nama lengkap Yok siangkong yang siangkong maksudkan'?" D'ra memang sengaja mengajukan pertanyaan seperti itu.

Wajah pelajar itu merah padam seketika. "Namanya Yok Sau Cun ".

Wajah Hui Gi sengaja dibuat berseri-seri.

"Oh . . Ada, ada Rupanya siangkong ini teman Yok siangkong Mari masuk ke dalam," ajaknya ramah.

Tampak pelajar itu agak gugup mendapat undangan dari Hui Gi. Cepat-cepat dia menggoyangkan tangannya.

"Tidak usah Cayhe ada urusan penting harus cepat-cepat keluarkota Di sini ada sepucuksurat yang sangat penting Harap Lao koanke serahkan kepada Yok siangkong.".

Setelah itu, dia mengeluarkan sepucuk surat yang direkatkan rapatrapat dari balik pakaiannya Dia menyodorkannya kepada Hui Gi.

Meskipun Hui Gi adalah seorang kepala pelayan di Kui Hun Ceng, tetapi pengalamannya dalam dunia kangouw sudah luas sekali Barusan dia mengundang tamu ini masuk ke dalam rumah tetapi ditolak langsung dan tampang tamu ini seperti panik Mimik wajahnya ini langsung membangkitkan rasa curiga Hui Gi Hal seperti ini mana dapat mengelabui mala tuanya?.

Oleh karena itu, dia tidak mengulurkan tangannya menyambut surat yang disodorkan pelajar tersebut Hui Gi malah mundur satu langkah dan secara diam diam sebelah tangannya yang ada di belakang mernberi isyarat kepada salah seorang pelayan Sementara itu, dia membungkukkan tubuhnya dengan hormat.

"Siangkong dan Yok siangkong merupakansahabat Kalau begituseharusnyasiangkong bertemu langsung dengannya," kata orang tua itu selanjutnya.

Pelajar jtu masih juga mengibaskan tangannya.

"Tidak perlu Apa yang ingin cayhe katakan, semuanya sudah tertuang di dalam su rat tersebut".

"Terus terang saja, biarpun hamba ber sedia mengantarkansurat ini ke dalam belum tentu Yok siangkong dapat membaca nya saat mi," kata Hui Gi.

"Oh?" Tampaknya pelajar itu sama sekali tidak merasa aneh alas ucapan yang dikatakan oleh Hui Gi "Katau dia tidak bisa membacanya, orang lain yang membacakan juga sama saja ".

Hui Gi tertawa dingin di dalam hati Mendengar nada suaranya, tampaknya pelaja ini sudah tahu kalau Yok siangkong sedang terluka parah dan ttdak sadarkan diri Oleh karena itu, dia bisa mengatakan bahwa apabila Yok Sau Cun tidak bisa membaca surat itu, orang lain yang membacakan juga sama saja Hati Hui Gi jadi bertanya tanya Entah dan mana datangnya pelajar ini?.

Dia tetap tidak mengulurkan tangan me nyambulsurat tersebut Malah matanya menatap pelajar itu berkalikali Bibirnya sengaja mengembangkan seulas senyuman.

"Boiehkah hambatahu apashesiangkong ini?" tanyanya sopan.

Pela|ar itu melthat Hui Gi belum juga bersedia menenmasurat itu Diam diam dia mulai panic.

"Cayhe masih ada urusan penting. Harap Lao koanke cepat antarkansurat ini ke dalam Nama serta she cayhe sudah tertulis di dalamsurat ".

Hu Gi seperti sengaja menahan tarnu itu Kembali dia mengembangkan seulas senyuman.

"Memang siangkong sudah menutis nama di dalamsurat Tetapi apabila hamba mengantarkannya ke dalam dan dttanyakan oleh Lao hujin, coba pikirkan jawaban apa yang harus hamba benkan kepada majikan hamba itu?".

Tampaknya pela[ar itu kewalahan menghadapi pertanyaan Hui Gi Dia memandangnya dengan tatapan kurang sabar.

"Baiklah Cayhe she Tio." sahutnya apa boleh buat. Hui Gi cepat cepat menjura kepadanya.

"Rupanya Tio siangkong " Dia memang sengaja mengulur waktu.

"Sekarang Lao koanke sudah bisa mengantarkansurat ini ke dalam bukan?' kata pelajar itu.

Pada saat itu, Hui Gi sudah mendengar langkah kaki yang mendatangi dari belakang tubuhnya Maka dari itu, dia baru mengulurkan tangan menyambutsurat yang disodorkan pelajar tersebut.

"Terima kasih, Lao koanke. Cayhe mohon diri," kata pelajar itu Baru saja dia membalikkan tubuhnya, Hui Gi kembali mengajukan pertanyaan kepadanya.

"Siangkong, mohon tanya sebentar Apakahsurat ini harus hamba serahkan langsung kepada Yok siangkong atau hamba serahkan saja kepada Lao hujin'?".

"Terserah Kalau tidak. Lao koanke serahkan kepada Lao hujin juga sama saja," sahut pelajar itu.

Hui Gi langsung tersenyum simpul.

"Harap siangkong tunggu sebentar Lao hujm kami sudah keluar sendiri," katanya.

Pelajar itu mendongakkan wajahnya Dia melihat Hui hujin melangkah keluar dan pintu gerbang. Di belakangnya mengikuti se orang laki-laki berusia lanjut yang tubuhnya kurus sekati Dia juga melihat Hui Fei Cin Diamdiam hatinya mengeluh.

Celaka! Aku terkena jebakan orang tua itu'.

Tapi semuanya sudah terlanjur. Terpaksa dia mengeraskan hatinya dan membalikkan tubuhnya kembali Hui Gi yang memegangsurat di tangan segera membungkuk dengan hormat.

"Lapor kepada Lao hujin Tio siangkong ini mempunyai sepucuksurat untuk Yok siangkong, tapi hamba disuruh menyerahkannya kepada Lao hujin," katanya melaporkan.

Hui hujin segera mengulurkan tangannya untuk menyambutsurat tersebut Tetapi Gi Hua To sudah mencegahnya.

"Te so harap tunggu dulu Hui Gi, berikansurat itu kepada lohu," katanya.

Hui Gi mengiakan Dengan dua belah tangan dia menyodorkansurat itu kepada Gi Hua To Sejak keluar dari dalam, Hui hujin terus memandangi pelajar tersebut. Dia merasa entah di mana pecnah melihat orang ini.

Tampaknya tidak asing tetapi untuk sesaat dia tidak bisa mengingatnya.

"Tecnyata Tio siangkong ini sahabat Yok siangkong Mengapa tidak diundang ke dalam agar bisa berbincang bincang dengan leluasa'".

Pelajar itu merangkapkan sepasang tangannya dan menjura.

"Hu|in tidak perlu sungkan Cayhe masih ada urusan penting Dan sekarang juga harus bergegas ke luarkota Maka dan itu, cayhe ingin mohon diri " Dia menjura sekali lagi Kemudian membalikkan tubuhnya.

"Siau hengte, harap berhenti sebentar".

Sementara mereka bercakap cakap, Gi Hua To membuka sampul surat dengan hatihati Ternyata di dalam sampul tidak ada suratnya sama sekali Gi Hua To membalik kan sampul sural dan menuangkan isinya ke telapak tangan Dari sampul surat tersebut keluar tiga butir pil berwarna merah dan besarnya hanya seperti butir beras.

Pelajar itu mendengar suara bentakan Gi Hua To, tanpa sadar sepasang alisnya langsung bertaut erat Otomatis langkahnya juga berhenti Gi Hua To mengulurkan tangannya yang mengenggam tiga butir obat berwarna merah itu.

"Siau hengte, obat apa yang ada di dalam sampu! ini'?" tanyanya dengan mata menyelidik.

Hui hujin terkejut mendengar pertanyaan Gi Hua To.

"Apakah siangkong ini sengaja mengantarkan obat untuk Yok siangkong?". Wajah pelajar itu berubah merah padam seketika.

"Obat penyembuh luka," sahutnya lirih.

"Bagaimana siangkong bisa tahu kalau Yok siangkong sedang terluka?' tanya Hui hujin curiga.

"Cayhe dengar kabar dari orang lain ".

Yok Sau Cun terluka pada kentungan pertama malam tadi Sekarang fajar baru mulai menyingsing 'Dengar kabar dari orang lain' yang dikatakannya sudah pasti dusta Mata Hui hu|in menatapnya lekat lekat.

"Siangkong ini dengan Yok siangkong baru saling kenal atau merupakan sahabat lama?" tanya Hui hujin kembali.

"Cayhe sengaja datang untuk mengantakan obat bagi Yok siangkong Semua ini adalah maksud cayhe yang baik Tetapi tampaknya hujin menafuh kecurigaan yang besar Cayhe tidak dapat berkata apa apa lagi Sekarang juga cayhe mohop diri " Dia men jura kepada Hui hujin kemudian membalikkan tubuhnya dengan maksud meninggalkan tempat itu.

Tetapak tangan Gi Hua To masih menggenggam ketiga butir pil obat tersebut Dia mendekatkannya ke hidung dan mengendusnya berkalikali Wajahnya menyiratkan sinar terkejut.

"Siau hengte, dan mana kau mendapatkan obat ini?" tanyanya heran. Ketika itu si pelajar sudah membalikkan tubuh dan mulai melangkah.

"Tiga butir obat itu dapat menolong jiwa Yok siangkong Bukan racun Mengapa ditanyakan dari mana asalnya? Apakah kau kira aku dapat dengan cara mencun?" Nada suaranya seperti kurang senang.

Tepat pada saat itu, Siau Cui juga sudah keluar dan dalam rumah Dia berdiri di samping Hui Fei Cin Ketika dia melihat pelajar itu, mulutnya mengeluarkan seruan terkejut.

"Lao hujin, jangan biarkan dia pergi.

Orang itu adalah putriHue leng senbu, Cu Kiau Kiau1" teriaknya panik. Mendengar perkalaan Siau Cui, Hui hujin langsung tertegun".

"Dia . Cu Kiau Kiau'? Kau tidak salah lihai".

"Hamba tidak mungkm salah lihat Tadi malam Yok siangkong berhasil meringkusnya Kami berjalan dan Lui Tang sampai ke Siang Li bio Selama itu hamba terus mengikuti dan belakang Bayangan punggungnya itu, sekali lihat sa|a hamba sudah bisa mengenali," sahut Siau Cui yakin.

Hui hujin langsung tertawa dingin.

"Siangkong, tunggu dulu Rupanya kau merupakan samaran Cu Kiau Kiau kouwnio!".

Mimik wajah pelajar itu menunjukkan rasa terkejut Tanpa terasa langkah kakinya menjadi terhenti.

"Apa maksud ucapan hujin ini? Untuk apa cayhe harus menyamar'?".

"Masih mencoba mengelak Memangnya kau bukan Cu Kiau Kiau'? Sudah terang kau bermaksud jahat Mungkin kau kira dengan cara begini kau bisa meracuni Yok siangkong agar lebih cepat mati'" tuding Siau Cui kesal.

"Tutup mulut!" bentak pelajar itu Saking marahnya orang ini sarripai wajahnya merah padam seperti kepiting rebus "Budak busuk, apa yang kau ocehkan? Yok Sau Cun terluka parah Hanya obat ini yang dapat menolong jiwanya Bagaimana kau bisa irengatakan bahwa obat itu racun adanya?".

"Mungkinkah kau mengandung maksud baik?" sindir Siau Cui sambil mendengus dingin.

Hui Fei Cin tangsung menghambur ke sampmg pelajar tersebut.

"Kalau begitu, mengapa kau bisa mengan tarkan obat ke sini? Apa hubunganmu de ngan Yok siangkong?" bentaknya keras.

"Hal ini bukan urusanmui" sahut pelajar tersebut. "Aku justru ingin menanyakan " kata Hui Fei Cin. Hui hujin menatap pelajar itu lekat-lekat.

"Kau memang Cu Kiau Kiau Tidak usah berpurapura lagi'" katanya sinis. Gi Hua To tertawa terkekeh-kekeh.

"Tidak salah lagi Tiga butir Hue Leng tan ini, kalau bukan putri kesayangan Cu Leng Sian, rasanya di dunia Bulim tidak ada orang kedua yang sanggup mengambilnya.".

Mendengar ucapan Gi Hua To, sekali lagi Hui hujin tertegun.

"Obat yang kau masukkan dalam sampul ltu benar-benar Hue Leng tan'?" tanyanya heran.

Yang membuatnya bingung justru mengapa putnHue leng senbu bisa mengantarkan obat mujarab itu ke Kui Hun Ceng? Tentu sa]a semua ini bukan atas prakarsa.

e leng senbu Kalau begitu dia.

'Tidak salah," sahut Gi Hua To "Begitu mengendus baunya saja, lohu sudah tahu kalau obat ini memang Hue Leng tan Segala macam obatobatan di kolong langit im masih belum sanggup mengelabui hidung lohu ".

Pela|ar itu langsung membusungkan dadanya sambil tertawa dingin.

'Tidak salah Obat yang aku antarkan memang Hue Leng tan' Yok siangkong terserang oleh ilmu Hue Yan to Hanya obat ini yang dapat mengobatinya!".

Rupanya dia memang mengandung niat baik'.

'Ternyata kau memang Cu Kiau Kiau!" seru Hui Fei Cin. "Kalau benar, kenapa'?" tanya pelajar tersebut.

"Bagus sekali'" bentak Hui Fei Cin sambil menggerakkan pergelangan tangannya Pedang panjangnya dihunus sehmgga terdengar suara berdenting nyanng "Cu Kiau Kiau! Dengar orang bilang biasanya kau sangat sombong dan menganggap dirimu paling hebat Mari! Nonamu justru ingin sekali mengenal kedahsyatan ilmu Kong Tong pai!".

Umumnya sifat perempuan lebih sabar Tapi kalau' sudah menyangkut orang yang dikasihinya sedikit pun mereka tidak sudi mengalah Cu Kiau Kiau menatap wajah Hui Fei Cin yang datar Ketika keluar Hui Fei Cin memang sudah mengenakan kembali topeng kulit wajahnya, diamdiam dia merasa gadis itu sungguh tidak tahu diri Mana mungkin Yok Sau Cun menyukai seorang gadis yang wajahnya selalu kaku dan hampir tidak pernah tersenyum.

"Apakah kau kira kau pantas?" tanyanya angkuh.

Dua orang gadis berdiri berhadapan dengan tangan masing masing menggenggam pedang Tampaknya mereka sudah siap untuk memulai pertarungan Hui hujin segera mengibaskan tangannya.

"Fei ji, jangan sembarangan Ibu masih ada pertanyaan yang ingin diajukan ke padanya." matanya beralih kepada Cu Kiau Kiau "Cu kouwnio sengaja mengantarkan tiga butir obat Hue leng tan ini, rasanya pasti bukan gagasan ibumu bukan?".

Kalau bukan ideHue leng san bu, sama artmya bahwa Cu Kiau Kiau mendapatkan obat itu dengan cara mencuri.

Cu Kiau Kiau mecupakan seorang gadis yang tidak pernah takut kepada siapa pun Tetapi bagaimana pun dia teriahir sebagai seorang gadis yang mempunyai batasbatas tertentu Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan Hui hujin?.

Wajah Cu Kiau Kiau menjadi merah padam mendengar pertanyaan tersebut.

"Hujin tidak perlu banyak tanya Luka yang Yok Sau Cun denta tidak ringan Hanya obat im yang dapat menolongnya Cu Kiau Kiau tidak ada maksud mencelakainya Hujin bisa percaya syukur Tidak percaya juga tidak apa-apa. Kata-kata yang ingin kuucapkan semuanya sudah dicetuskan Aku masih harus melanjutkan perjalanan yang jauh. Tidak ada waktu untuk menemani lagi, maaf." Dia bergegas ingin meninggalkan tempat tersebut Mimik wajahnya pun menunjukkan bahwa dia sedang mencemaskan sesuatu.

"Tentu saja aku percaya sepenuhnya maksud baikmu Tetapi ketiga butir obat ini, rasanya tidak diperlukan lagi," sahut Hui hujin tiba-tiba.

Sebetulnya Cu Kiau Kiau sudah melangkah meninggalkan tempat tersebut. Mendengar keterangan Hui hujin, tubuhnya langsung bergetar Wa|ahnya berubah hebat. "A . apa yang terjadi dengannya?" Pertanyaan ini diajukan dengan nada suara yang tidakterkira gugupnya Juga mengandung perhatian yang besar sekali Pada waktu yang sama, dirinya seperli terjatuh ke dalam jurang yang terjal. Sepasang kakinya langsung [nenJadi lemas. Hampir saja dia tidak kuat berdiri Tanpa sadar dia tergeletak mundur satu langkah.

Hui hujin memandangnya dengan dingin. "Apakah Cu kouwnio tidak tahu kalau Yok siangkong telah diculik oleh seseorang?" sindirnya tajam.

Pertamatama Cu Kiau Kiau menderigar Hui hujin mengatakan bahwa ketiga butir obat Hue leng tan yang dibawanya tidak ada gunanya lagi, pikirannya langsung tersirat sesuatu yang buruk Dia mengira luka Yok Sau Cun sedemikian parah sehingga tidak tertolong lag< Sekarang dia mendengar bahwa Yok Sau Cun diculik oleh seseorang. Beban hatinya menjadi agak berkurang. Dia mengangkat wajahnya menatap Hui hujin.

"Entah siapa yang menculik Yok siangkong?". Hui hujin tertawa dingin.

"Cu Kiau Kiau, kau tidak perlu berpurapura lagi. Ibumu menyuruh orang menculik Yok Sau Cun, mungkinkah kau tidak tahu sama sekali?".

Cu Kiau Kiau langsung tertegun. "Ibu yang menculiknya rasanya tidak mungkin.". Hui Fei Cin mendengus marah.

"Menculik orang adalah keahlian orang Kong Tong pai kalian. Apanya yang tidak mungkin?" sindirnya tajam.

Sepasang alis Cu Kiau Kiau segera terangkat ke atas.

"Hui Fei Cin, mengapa kau berkata demikian?" teriaknya marah.

"Apakah kata-kataku salah?" lanya Hui Fei Cin dengan nada suara yang tidak kalah keras.

Cu Kiau Kiau menatap pipinya yang montok dan wajahnya yang kaku Diamdiam tertawa dingin dalam hati.

"Aku malas berdebat dengan orang sepertimu. Aku akan pergi sekarang'" Tentu saja dia tidak percaya ibunya yang menculik Yok Sau Cun Tetapi setelah mengetahui anak muda itu diculik orang, dia mgin segera pulang dan menanyakan hal ini kep da ibunya.

Hui Fei Cin tertawa dingin.

"Kau ingin kabur?" bentak gadis itu garang. Cu Kiau Kiau melink Hu hujin sekilas.

"Kalau begitu tampaknya kalian bermak sud menahan diriku?" tanyanya dingin.

Gi Hua To menyimpan ketiga butirHue leng tan tadi baik baik. Dia tertawa terkekeh kekeh.

"Untuk sementara terpaksa menyusahkan nona Dengan cara ini ibumu baru bersedia mengembalikan Yok siangkong," katanya.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang lantang dan berat berkumandang memenuhi sekitar tempat tersebut.

"Gi Ceng Lam nyalimu sungguh besar!" Suara itu berkumandang dan kejauhan Tetapi ucapan itu selesai diucapkan, tampak setitik bayangan hitam yang ternyata sebuah tandu dengan kecepatan tinggi meluncur ke tempat tersebut Dalam waktu sekejap mata, tahu tahu sudah sampai di depan Kui Hun Ceng.

Tandu berwarna hitam im digotong oleh empat orang wanita berusia setengah baya Di belakangnya menginngi Yu huhoat Cian Poa Teng dan Kong Tong pai beserta delapan orang laki-laki berpakaian hijau.

Baru saia tandu itu berhenti, Cu Kiau Kiau sudah melesat ke depannya. "Ibu " teriaknya menyapa.